Anda di halaman 1dari 33

A.

PERATURAN PRAKTEK
1. Tata Tertib
a. Tidak dibenarkan memakai sandal, sepatu sandal, dan sejenisnya.
b. Tas dan barang-barang yang digunakan selama praktek harus disimpan
ditempat yang telah disediakan.
c. Dilarang melakukan praktek tanpa seizin instruktur (asisten) yang
bersangkutan.
d. Selama berada dilaboratorium dilarang merokok makan, dan minum.
e. Praktek harus menjaga keamanan dan ketenangan selama berada
dilaboratorium.
f. Diwajibkan memakai savety selama berada dalam laboratorium dan tidak
dibenarkan berambut gonrong.
g. Apabila dalam pelaksanaanya belum diatur maka akan dilakukan
perubahan sebagaimana mestinya.
2. Kehadiran
a. Praktek yang tidak mengikuti satu kali praktek dianggap gagal dan harus
mengulang pada semester berikutnya.
b. Waktu pelaksanaan praktek diatur dengan jadwal yang ditentukan
kemudian.
c. Praktek harus menyerahkan formulir kehadiran kepada asisten pada setiap
melakukan praktek.
3. Pemakaian Alat
a. Sebelum melakukan praktek periksa kelengkapan alat.
b. Pemakaian alat harus seizin asisten.
c. Kerusakan alat atau kehilang peralatan menjadi tanggung jawab kelompok
peserta pratikan.
d. Setiap akhir praktek alat-alat yang digunakan harus dibersihkan kemudian
disimpan pada tempat yang telah ditentukan.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 1
e. Sebelum meninggalakan laboratorium, pratikan harus melaoprkan pada
asisten untuk dilakukan kros chek terhadap alat yang dipinjam dan
dipakai.
4. Tugas dan Laporan
a. Laporan praktek diisi pada logbook yang telah disediakan.
b. Sebelum dan sesudah praktek akan diadakan response dan ujian akhir
praktek. Adapun waktu dan tempat ditentukan kemudian.
c. Setiap praktek harus mengumpulkan dan mengisisi logbook praktek secara
perorangan setelah seluruh praktek diselesaikan.
5. Penilaian
Sistem penilaian mengikuti atauran sebagai berikut :
a. Nilai kehadiran = 35 %
b. Nilai laporan = 30 %
c. Nilai ujian (seminar) = 35 %

B. KESELAMATAN KERJA
1. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja merupakan unsur utama dalam proses produksi
terutama proses pembubutan logam, karena dalam proses ini akan berhadapan
dengan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi diantaranya :
a. Terkena percikan geram-geram dari benda kerja
b. Terkena putaran dari mesin bubut

2. Ketentuan dan Procedural Keselamatan


a. Pastikan keadaan lingkungan kerja dan peralatannya siap untuk dipakai,
dan periksa kembali peralatan sebelum bekerja.
b. Pakailah pakaian kerja dengan alat pelindung diri sesuai dengan standar.
c. Bekerja sesuai dengan petunjuk yang telah disiapkan.
d. Tanyakan pada asisten anda, bila kurang jelas atau pahami dalam
bekerja.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 2
e. Berhati-hatilah dalam menggunakan alat-alat perlengkapan serta posisi
dalam bekerja.
f. Jauhkan bahan-bahan yang mudah terbakar dari tempat anda bekerja.
g. Usahakan benda kerja yang akan difrais, dalam keadaan bersih bebas dari
air, oli, dan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan percikan api atau
ledakan.
h. Jaga jarak aman anda tempat proses memfrais
i. Gunakan selalu alat-alat pelindung seperti helm, , jacket (katel pack),
sarung tangan, kacamata pelindung
j. Tidak diperkenankan memegang benda kerja pada saat mesin dalam
kondisi ON.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Mesin milling ditemukan oleh Eli Whitney tahun 1818. Mesin milling ini
melakukan operasi produksi suku cadang duplikat yang pertama dengan
pengendalian secara mekanik arah dan gerakan potong dari perkakas mata
potong jamak yang berputar. Mesin Milling melepaskan logam ketika benda
kerja dihantarkan terhadap suatu pemotong yang berputar. Pemotong milling
satu deretan mata potong pada kelilingnya yang masing-masing berlaku sebagai
pemotong tersendiri pada daur putaran. Benda kerja dipegang pada meja yang
mengendalikannya, antaranya terdapat pemotong mesin milling tersebut.
Mesin milling adalah mesin yang paling mampu melakukan banyak tugas
dari segala mesin perkakas. Permukaan yang datar maupun yang berlekuk dapat
dimesin dengan penyelesaian dan ketelitian. Pemotong sudut , celah, roda gigi,
dan ceruk dapat digunakan dengan berbagai pemotong. Pahat gurdi, peluas
lubang, dan bor dapat dipegang dalam soket arbor dengan melepaskan
pemotong dan arbor, karena semua gerakan meja mempunyai penyetelan
mikrometer, maka lubang dan pemotongan yang lain dapat diberi jarak secara
cepat.
Operasi pada umumnya dilakukan oleh ketam, gurdi, mesin pemotong roda
gigi, dan mesin pelubang dapat dilakukan pada mesin milling. Mesin ini
membuat penyelesaian dan lubang yang lebih baik sampai pada batas ketelitian
yang jauh lebih baik dari pada mesin sekrap. Pemotong berat dapat diambil
tanpa banyak merugikan pada penyelesaian atau ketepatannya.

1.2.Tujuan Praktikum
MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)
FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 4
1 . Tujuan umum
a. Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta cara
pengoperasiannya
b. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan tentang mesin-mesin
perkakas
2.Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengerti tahapan yang harus dilakukan dalam
membuat roda gigi;
b. Melatih mahasiswa agar terampil dan teliti dalam mengerjakan benda
kerjadengan mesin frais;
c. Mahasiswa dapat mempergunakan alat alat-alat yang berhubungan
dengan mesin frais dengan benar;
d. Mahasiswa mampu membuat roda gigi dengan mesin frais.

1.3.Manfaat Praktikum
Setelah mengikuti praktek di Laboratorium mahasiswa diharapkan :
a.Mampu mengoprasikan dan menggunakan mesin frais
b.Mampu merencanakan dan menganalisis dalam pembuatan benda kerja
c.Mahasiswa dapat lebih disiplin dan kerjasama.

1.4.Metode Praktikum
Metodelogi yanng akan di lakukan dan di pergunakan dalam melakukan
praktikum proses produksi ini adalah sebagai berikut :
a. Studi Pustaka
Bersamaan di laksanakan praktek, dilakukan juga suatu studi kepustakaan
yang berkaitan dengan teori-teori yang akan di gunakan dalam proses
praktek.
b. Studi Lapangan
Para peserta praktek mengadakan studi pada obyek yang berhubungan
dengan masalah yang akan di kerjakan, yaitu memfrais.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 5
1.5.Sistematika Penulisan

Di dalam memudahkan memahami pokok bahasan, maka penulisan laporan ini


disusun menurut sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, metode praktek, sistematika
penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Berisi tentang teori-teori dari berbagai literatur yang di gunakan sebagai dasar
untuk menentukan model/cara pemecahan masalahnnya.
BAB III : PEMBAHASAN
Berisi tentang langkah-lanngkah dalam pembuatan rencana kerja, yang meliputi
peralatan, bahan bakunya, gambar benda kerja, dan tahapan-tahapan
pengerjaannya.
BAB IV : ANALISIS DATA DAN PERHITUNGAN
Berisi tentang pembahasan tentang analisi dan perhitungan yang dilakukan
berdasarkan rumus-rumus dan data yang digunakan dalam praktikum.
BAB V : PENUTUP
Pada bab ini berisi tentang Kesimpulan dan Saran dari hasil Praktikum

BAB II

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 6
TEORI DASAR

2.1. Landasan Teori


Mesin frais (mesin milling) adalah jenis mesin pemotong yang melakukan
pemotongan logam dengan cutting tool bergigi banyak (Multiple Tooth
Cutting Tool) yang disebut milling cutter/pisau frais. Ada banyak jenis dari
mesin milling, diantaranya mesin milling horizontal, vertikal, universal dll
dengan bentuk konstruksi dan fungsi yang berbeda. Milling cutter dipasang
pada arbor dan diputar oleh mekanisme gerak mesin dengan menggunakan
motor listrik. Pada praktikum proses produksi kali ini menggunakan mesin
milling horizontal dan vertical
Adapun prinsip kerja dari mesin milling ini adalah :
a. Main drive
Fungsi utama dari main drive adalah untuk menggerakkan spindle yang
terletak pada arbor. Putaran dari motor listrik diteruskan ke speed gearbox
dan diteruskan ke spindle melalui mekanisme belt. Putaran spindle akan
menggerakkan arbor dan memutar milling cutter.
b. Feed drive
Gerakan ini adalah gerakan pemakanan benda kerja terhadap milling
cutter. Dengan memutar Table Transverse Handwheel untuk
menggerakkan table kearah longitudinal, maka benda kerja akan
terpotong oleh milling cutter.

2.2. Jenis-jenis mesin frais


MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)
FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 7
Menurut desainnya mesin fris bisa dibedakan atas :

A.Jenis Tiang dan Lutut.

1. Fris Tangan : adalah jenis yang paling sederhana dari mesin fris yang
dioperasikan dengan tangan. Mesin ini digunakan terutama dalam
pekerjaan operasi fris ringan dan sederhana seperti; memotong alur, alur
pasak pendek, dan membuat celah.

2. Fris Datar ; mesin ini mirip dengan fris tangan hanya konstruksinya
lebih kuat dan dilengkapi dengan mekanisme hantaran daya untuk
mengendalikan gerakan meja.

3. Fris Universal : mesin universal adalah sebuah mesin ruang perkakas


yang konstruksi untuk pekerjaan yang teliti. Mesin ini mirip dengan fris
datar, hanya meja bisa berputar dan dilengkapi dengan indeks (kepala
pembagi), meja dapat berputar digunakan untuk memotong spiral.

Gambar.1. Frais Tiang dan Lutut

4. Fris Vertikal ; spindel pemotong mempunyai kedudukan vertikal,


perjalanan spindel aksial yang pendek untuk memudahkan pemfrisan
MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)
FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 8
(pemotongan) bertingkat. Juga dilengkapi dengan alat putar tambahan
(meja) sehingga bisa memfris alaur melingkar, kontinyu.

B.Mesin jenis Penyerut.


Mesin ini disebut penyerut karena kemiripannya dengan penyerut. Benda
kerja dibawah pada meja panjang dengan gerakan longitudinal, dan
hantaran pada pemotong putar. Gerakan meja variabel merupakan ciri
utamanya.

Gambar.2. Mesin Frais Penyerut

C.Jenis Landasan Tetap.


Mesin ini mempunyai konstruksi bangku dari benda cor yang kaku , berat
dan menyangga meja kerja yang mempunyai gerakan longitudinal, nama
simpleks, dupleks, dan tripleks menunjukkan bahwa mesin dilengkapi
dengan kepala spindel satu, dua dan tiga, dikendalikan secara otomatis.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 9
Gambar.3.Mesin Frais dufleks

D.Mesin Pusat Permesinan.


Pusat permesinan adalah mesin kontrol numrik yang dirancang untuk
produksi barang kecil sampai menengah. Mesin kontrol numerik yang
mempunyai kapasitas permesinan multi purpose (banyak kegunaan). Pusat
permesinan dapat memfris, menggurdi, mengebor, meluaskan lobang,
mengetap, dan membentuk keliling yang kesemuanya dalam sebuah
penyetelan. Operasional pusat permesinan meliputi menstart,
menghentikan mesin, memilih dan menukar pahat, melakukan
pembentukan keliling dua atau tiga dimensi, memdudukan sumbu pada
pergeseran yang cepat, menstart atau menghentikan spindel, mengarahkan
meja, mengalirkan dan menghentikan media pendingin.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 10
Gambar.4. Mesin Pusat Permesinan dengan tiga sumbu gerak

E. Mesin Khusus
1. Mesin Fris Meja Putar ; mesin meja putar adalah penyesuaian dari
mesin fris vertikal. Operasi mesin kontinyu dan cepat tetapi terbatas
pada pemfrisan permukaan datar saja

Gambar.5. Mesin frais meja putar

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 11
2. Fris planet ; digunakan untuk memfris bagian luar dan dalam dari
permukaan dan ulir pendek. Benda kerja diam dan gerakan memotong
dilakukan oleh pemotong.Pemotong dilakukan(dihantarkan ) secara
radial sampai kedalaman tertentu kemudian pemotong melakukan
gerakan planet didalam atau sekeliling benda kerja.

3. Mesin Profil ; digunakan untuk mengukir dan membentuk profil. Mesin


profil tangan adalah jenis yang paling sederhana yang mempunyai
pemotong putar, gerakannya dikendalikan oleh gerakan tangan dari
meja.

4. Mesin duplikat ; pembuatan die atau cetakan besar yang digunakan


untuk spatbor, atap, dan panel mobil banyak menggunakan mesin fris
duplikat. Mesin ini memproduksi komponen dari sebuah model dengan
ukuran pas. Model atau pola yang ditiru biasanya dibuat dari bahan kayu
keras, plaster paris, lilin, atau bahan yang mudah dikerjakan.

Gambar.6. Mesin frais Duflikat

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 12
2.3. Bagian-Bagian Utama Mesin Frais.
Pada dasarnya mesin frais (milling) mempunyai bagian-bagian sebagai
berikut :
1. Base
Base adalah bagian yang menahan seluruh mesin, didalamnya terdapat
bagian penting mesin seperti speed gear box dan sistem pelumas.

Gambar 7. Bagian utama mesin milling horisontal

2. Saddle
Saddle terletak antara knee dan table. Saddle berfungsi untuk
menggerakkan benda kerja pada table secara transversal.
3. Table
Table terletak diatas saddle, dan mempunyai fungsi sebagai tempat benda
kerja. Table dapat digerakkan ke rarah longitudinal
4. Knee
Knee atau lutut adalah tempat kedudukan saddle dan knee dapat
digerakkan kearah vertikal (naik/turun) dengan diatur oleh poros berulir
yang menopangnya.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 13
5. Over arm
Merupakan penopang ujung poros frais yang secara umum ditemukan pada
mesin milling horizontal. Bagian ini menentukan penyetelan posisi arbor pada
maksimum panjang arbor tersebut dan mengklemnya pada posisi yang
diinginkan. Overarm terletak diatas base secara horisontal.
6. Spindle
Spindle menyediakan tenaga bagi putaran pisau frais dengan menyalurkannya
ke arbor. Spindle merupakan poros utama mesin milling.
7. Arbor
Arbor adalah tempat kedudukan pahat / pisau frais.
8. Gear box
Gear box merupakan sistem transmisi yang berfungsi untuk mengatur
kecepatan putar pahat.
9. Index dividing head
Merupakan alat yang digunakan untuk memutar / membagi benda kerja
melalui besar sudut tertentu,sehingga menghasilkan pemotongan dengan
jarak yang sama.

2.4. Klasifikasi Proses Frais

Proses frais dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis. Klasifikasi ini


berdasarkan jenis pisau, arah penyayatan, dan posisi relative pisau terhadap
benda kerja.

Gambar 8. Klasifikasi proses frais:


a) frais peripheral, b) frais muka, c) frais jari.
MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)
FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 14
a. Frais peripheral (slab milling)
Proses frais ini disebut juga slab milling, permukaan yang difrais dihasilkan
oleh gigi yang terletak pada permukaan luar badan alat potongnya. Sumbu
dari putaran pisau biasanya pada bidang yang sejajar dengan permukaan
benda kerja yang disayat.
b. Frais muka (face milling)
Pada frais muka, pisau dipasang pada spindle yang memiliki sumbu putar
tegak lurus terhadappermukaan benda kerja. Permukaaan hasil proses frais
dihasilkan dari hasil penyayatan oleh ujung dan selubung pisau.
c. Frais jari (end milling)
Pisau pada proses frais ini biasanya berputar pada sumbu yang tegak lurus
permukaan benda kerja. Pisau dapat digerakkan menyudut untuk
menghasilkan permukaan menyudut. Gigi potong pada pisau terletak pada
selubung pisau dan ujung badan pisau.

2.5.Para Meter Yang Dapat Diatur Pada Mesin Frais.


Parameter yang dapat secara langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang
mengoperasikan mesin frais. Seperti halnya pada mesin bubut, maka parameter
yang dimaksud adalah putaran spindle (n), gerak makan (f), dan kedalaman
potong (a). putaran spindle bisa secara langsung diatur dengan cara mengubah
posisi handle pengatur putaran mesin. Gerak makan bisa diatur dengan cara
mengatur handle pengatur gerak makan sesuai dengan tabel f yang ada pada
mesin. Gerak makan pada posisi frais ada dua macam yaitu gerak makan per
gigi (mm/gigi), dan gerak makan per putaran (mm/putaran). Kedalaman
potong diatur dengan cara menaikkan benda kerja, atau dengan cara
menurunkan pisau.
Putan spindle (n) ditentukan berdasarkan kecepatan potong. Kecepatan potong
ditentukan oleh kombinasi maerial pisau dan material benda kerja. Kecepatan
potong adalah jarak yang ditempuh oleh satu titik (dalam satuan meter) pada
selubung pisau dalam waktu satu menit. rumus kecepatan potong identik

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 15
dengan rumus kecepatan potong pada mesin bubut, pada proses frais besarnya
diameter yang digunakan adalah diameter pisau. Rumus kecepatan potong :
. .
=
1000

dimana:
v = kecepatan potong (m/menit)
d =diameter pisau(mm)
n = putaran benda kerja (putaran/

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 16
2.6. Rumus- Rumus yang digunakan :

1. Kecepatan Iris (V)


. .
V= (/
60

Dimana : n = kecepatan putaran permenit (rpm)


D = diameter alat (mm)
V = kecepatan iris (mm/detik)
= 3.14

2. Langkah (P)
.1000
P= ()
.

Dimana : P = langkah
f = hantaran benda kerja (m/menit)
z = jumlah gigi pisau yang digunakan (buah)
n = kecepatan putaran (mm/menit, rpm)

3. Kecepatan pelepasan logam (R)


R = d . w. f (mm3 / menit)
Dimana : d = kedalaman pemakanan (mm)
W = lebar pemakanan (mm)
f = hantaran benda kerja (mm/menit)

4. Jarak pemotongan (St)


St = L + d (D d) + 6 (mm)
Dimana : L = panjang pengerjaan (mm)

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 17
5. Waktu pemotongan tiap hantaran (T)
T = St / f (menit)

6. Jumlah pemotongan (X)


X= h/d (menit)

7. Waktu total pemotongan (t)


t= T.X (menit)

8. Kecepatan dorong (V)


V = z . n / 1000 (m/menit)

9. Ketebalan total rata-rata (m)


.1000
m =
.

10. Daya Sentrifugal (Fz)


Fz = m . V2 / r (newton)

Dimana ; Fz = daya sentrifugal (newton)


m = massa pisau yang berputar
r = radius pemotongan

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 18
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM DAN PERMESINAN

3.1 Pengerjaan Benda Kerja Dengan Mesin Frais

Beberapa variasi bentuk benda kerja bisa dikerjakan dengan mesin frais.
Perencanaan proses frais dibahas satu kesatuan dengan beberapa pengerjaan
proses frais.
a. Proses frais rata/datar
Prose frais rata/datar (dinamakan juga surface milling atau slab milling)
adalah proses frais dengan sumbu pisau parallel terhadap permukaan benda
kerja. Frais rata dilakukan dengan cara permukaan benda kerja dipasang
parallel terhadap permukaan meja mesin frais dan pisau frais dipasang pada
arbor mesin. Benda kerja dicekam dengan ragum biasa. Sebaiknya benda
kerja yang menonjol di atas ragum tidak terlalu tinggi agar benda kerja
tidak bergetar. Arbor dipasang horizontal didukung oleh spindle mesin dan
penahan arbor di sisi yang lain.

Gambar 9. Proses frais rata (surface/slab milling)

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 19
Gambar 10. Cara pencekaman benda kerja, bagian kanan pencekaman
yang
salah (incorrect) dan bagian kiri pencekaman yang benar (correct)

Pisau yang digunakan untuk proses pengasaran (rounghing) sebaiknya


dipilih pisau frais yang ukuran giginya relative besar, dengan kecepatan
potong dipilih yang minimal dari kecepatan potong yang diijinkan untuk
pasangan pisau dan benda kerja yang dikerjakan (tabel 1). Untuk proses
finishing pisau yang digunakan dipilih pisau yang memiliki gigi yang
relative kecil dengan kecepatan potong dipilih harga terbesar dari
kecepatan potong yang di ijinkan. Gerak makan per gigi ditentukan
benrdasarkan ketebalan beram yang diinginkan (direncanakan).
Tebal beram dapat dipilih berdasarkan benda kerja dan pisau yang
digunakan, mesin, sistem pencekaman, dan kecepatan potong. Tebal beram
untuk proses frais disarankan seperti pada tabel 2.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 20
Tabel 1. Kecepatan potong untuk proses frais untuk pasangan bend kerja
dan pisau HSS

a) Untuk pisau karbida harga kecepatan potong angka pada tabel dikalikan
2.
b) Apabila satuan kecepatan potong (cutting speed diubah menjadi
m/menit angka pada tabel dibagi 3,28).

Tabel 2. Tebal beram per gigi untuk beberapa tipe pisau frais dan benda
kerja yang dikerjakan (satuan dalam inch).

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 21
Gambar 11. Beberapa variasi proses frais yang dilakukan pada mesin
frais.

Gambar 12. Beberapa proses frais: frais bentuk dan frais alur.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 22
b. Prose frais roda gigi
Proses frais sebenarnya sama dengan frais bentuk, tetapi karena bentuknya
spesifik, serta proses pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan
dibahas lebih detail. Dari informasi yang diperoleh dari gambar kerja,
untuk proses frais roda gigi diperoleh data tentang jumlah gigi, bentuk
profil gigi, modul, sudut tekan, dan dimensi bakar roda gigi.
Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi harus menyiapkan
perhitungan elemen dasar (putaran spindle, gerak makan, dan kedalaman
potong). Kepala pembagi digunakan sebagai pemegang bakal roda gigi
(dengan bantuan mandrel). Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang
memungkinkan operator mesin frais memutar benda kerja dengan sudut
tertentu.

Gambar 13. Proses frais roda gigi dengan mesin frais herisontal

Kepala pembagi (dividing head) digunakan sebagai alat untuk memutar


bakal roda gigi. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah
roda gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40. Dengan
demikian apabila engkol diputar satu kali, maka spindelnya berputar 1/40
kali. Untuk membagi putaran pada spindle sehingga bisa menghasilkan
putaran spindle selain 40 bagian, maka pada bagian engkol dilengkapi
dengan piringan pembagi dengan jumlah lubang tertentu, dengan demikian

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 23
putaran engkol bisa diatur (missal , 1/3, ,, 1/5 putaran). Pada piringan
pembagi diberi lubang jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu:

a) Tipe brown and shape:


- Piringan 1 dengan jumlah lubang: 15,16, 17, 18, 19, 20.
- Piringan 2 dengan jumlah lubang: 21, 23, 27, 29, 31, 33.
- Piringan 3 dengan jumlah lubang: 37, 39, 41, 43, 47, 49.

b) Tipe Cincinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi):


- Sisi pertama dengan jumlah lubang: 24, 25, 28, 30, 34, 37, 38, 39,
41, 42, 43.
- Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang: 46, 47, 49, 51, 53,
54, 57, 58, 59, 62, 66.
Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah. Pengaturan putaran engkol
pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (gambar 12).
1) Pilih piringan yang memiliki lubang 20, dengan cara sekrup
pengatur arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang
berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang dipilih (gambar 12c).

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 24
Gambar 14. Kepala pembagi dan pengoperasiannya

2) Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (gambar


12d).
3) Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no 1.
4) Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no 6
(telah dibahas oleh gunting).
5) Dengan demikian engkol berputar lingkaran dan benda kerja)
berputar dikali 1/40 sama dengan 1/60 putaran.
6) Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no 6.
7) Pemutaran engkol selanjutnya mengikuti bilah gunting.
Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi
involut) harus dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang akan
dibuat. Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat
dapat dilihat pada tabel 2. Penentuan elemen dasar proses frais gigi
tetap mengikuti rumus-rumus. Seangkan kedalaman potong ditentukan
berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau sesuai dengan modul
gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2,25 modul.
Tabel 3. Urutan nomer pisau frais gigi involut

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 25
3.2 Alat Dan Bahan Yang Digunakan
1.Mesin Friss digunakan untuk memfris benda kerja
2.Jangka Sorong digunakan untuk mengukur dimensi benda kerja
3.Center gauge / Dial Indikator digunakan untuk menyenterkan benda kerja.
4.Stop Watch digunakan untuk mengetahui waktu dalam proses pemakanan
5.Tachometer digunakan untuk mengukur putaran dari spindle
6.Mata pisau HSS (Hight Speed Steel), sebagai alat untuk pemakan benda kerja.
7.Kunci Pas, digunakan Untuk Mengencangkan Tool Post
8. Baja karbon rendah
9. Air pendingin/oli

3.3.Langkah-langkah Kerja Pembuatan Roda Gigi


1. Siapkan bahan dan alat
2. Bahan dari baja AS diameter 2 inch dipotong dengan tebal 30 mm sebanyak
dua buah.
3. Proses dengan mesin bubut menjadi ukuran diameter 176 dan tebal 28 mm
untuk benda kerja I. Untuk benda kerja II jadikan diameter 160 dan tebal 28
mm.
4. Proses dengan mesin frais dengan terlebih dahulu hitung jumlah roda gigi
yang dibuat sesuai pada gambar kerja I dan II dengan menggunakan rumus-
rumus roda gigi.
5. Pasang benda kerja pada mandrel dan lakukan proses pengefraisan.
6. Untuk membuat alur-alur roda gigi sesuaikan jumlah gigi dan pisau modul.
7. Roda gigi yang telah dibuat dilanjutkan dengan proses finishing sebagai
tahap akhir.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 26
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PERHITUNGAN

4.1. Pengambilan Data


a. Data Yang Diperoleh
JENIS MESIN : Frais
TYPE : ..
DAYA ( P ) : .. kW
b. Bahan Yang Digunakan
Nama Bahan : Low Carbon Steel atau Esser
Koefisien bahan ( k ) : kg/mm
Konstanta Eksponen (m) : 0.75

Data-data pada pengerjaan kasar :


Putaran mesin (N) = rpm
MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)
FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 27
Hantaran benda kerja (f1) = mm/menit
Kedalaman pemotongan (h1) = mm
Kedalaman pemakanan (d1) = mm
Diameter pemotong (D) = mm
Lebar pemotongan (W) = mm
Panjang pengerjaan (L) = mm
Jumlah Gigi pisau (Z) = buah
Massa pisau (m) = kg
Radius pemotongan = m

Data-data pada pengerjaan halus :


Hantaran benda kerja (f1) = mm/menit
Kedalaman pemotongan (h1) = mm
Kedalaman pemakanan (d1) = mm

4.2. Rumus-rumus yang digunakan :

1. Kecepatan Iris (V)


. .
V= (/
60

Dimana : n = kecepatan putaran permenit (rpm)


D = diameter alat (mm)
V = kecepatan iris (mm/detik)
= 3.14

2. Langkah (P)

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 28
.1000
P= ()
.

Dimana : P = langkah
f = hantaran benda kerja (m/menit)
z = jumlah gigi pisau yang digunakan (buah)
n = kecepatan putaran (mm/menit, rpm)

3. Kecepatan pelepasan logam (R)


R = d . w. f (mm3 / menit)
Dimana : d = kedalaman pemakanan (mm)
W = lebar pemakanan (mm)
f = hantaran benda kerja (mm/menit)

4. Jarak pemotongan (St)


St = L + d (D d) + 6 (mm)
Dimana : L = panjang pengerjaan (mm)

5. Waktu pemotongan tiap hantaran (T)


T = St / f (menit)

6. Jumlah pemotongan (X)


X= h/d (menit)

7. Waktu total pemotongan (t)


t= T.X (menit)

8. Kecepatan dorong (V)

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 29
V = z . n / 1000 (m/menit)

9. Ketebalan total rata-rata (m)


.1000
m =
.

10. Daya Sentrifugal (Fz)


Fz = m . V2 / r (newton)

Dimana ; Fz = daya sentrifugal (newton)


m = massa pisau yang berputar
r = radius pemotongan

4.3.Rencana Kerja

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 30
BAB V
PENUTUP

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 31
5.1.Kesimpulan

5.2.Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 32
Alois Schonmetz, 1985. Pengerjaan Logam dengan Perkakas Tangan dan Mesin
Sederhana. Bandung: Angkasa.

Avrutin. S, tt, Fundamental of Milling Practice. Foreign Languages Publishing


House, Moscow.

B.H. Amstead, Bmbanag Priambodo. 1995. Teknologi Mekanik Jilid 2. Jakarta:


Erlangga.

Boothroyd, Geoffrey. 1981. Fundamental of Metal Machining and Machine


Tools. Singapore: Mc Mraw-Hill Book Co.

C. Van Terheijden, Harun. 1994. Alat-alat Perkakas 3. Bandung: Binacipta.

MODUL PRAKTEK PRODUKSI (FRISS)


FAKULTAS TEKNIK MESIN UHO
Page 33