Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

KELAS VII SMP NEGERI 14 LUBUKLINGGAU TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Boby Engga Putra Damara1, Fadli2, Drajat Friansah3


STKIP-PGRI Lubuklinggau
Email: bobbyengga32@gmail.com

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Hubungan Minat Belajar dengan Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 14 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2014/2015.
Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adalah kurangnya minat belajar
siswa terhadap pelajaran matematika. Permasalahan dalam penelitian ini adalah
apakah ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar dengan hasil
belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 14 Lubuklinggau Tahun Pelajaran
2014/2015. Populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 14
Lubuklinggau dan sebagai sampel seluruh populasi yang berjumlah 105 orang.
Pengambilan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan angket. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan teknik korelasi product moment dengan uji
signifikannya menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh
koefisien korelasi sebesar 0,201 dan hasil uji-t pada taraf kepercayaan ( = 0,05)
diperoleh thitung = 2,061 dan ttabel = 1,986. Dengan demikian H0 ditolak sehingga
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara minat
belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 14
Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015. Besarnya kontribusi minat belajar
dengan hasil belajar sebesar 4,04%. Hubungan antara minat belajar dengan hasil
belajar ternyata positif dan signifikan.

Kata kunci : Minat belajar, pembelajaran matematika, hasil belajar.

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan,
karena dimanapun dan kapanpun di dunia terdapat pendidikan. Pendidikan pada
hakikatnya merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri.
Pendidikan atau belajar harus mendorong manusia untuk terlibat dalam proses
kearah yang lebih baik, mengembangkan kepercayaan diri, mengembangkan rasa
ingin tahu serta meningkatkan pengetahuan dalam keterampilan yang dimiliki.
Pendidikan memegang peranan penting dalam mencerdasakan kehidupan
bangsa. Hal ini dapat dilihat dari kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin
pesat dan semakin menuntut sumber daya manusia maka mutu pendidikan
harus lebih ditingkatkan.
Setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya menginginkan anaknya
berprestasi yang baik. Namun untuk mencapai hal itu bukanlah suatu hal yang

1
Mahasiswa STKIP-PGRI Lubuklinggau
2,3
Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau
mudah. Karena keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor
antara lain faktor internal dan faktor ekstrnal. Faktor internal ialah faktor yang
timbul dari dalam diri anak itu sendiri, seperti kesehatan, mental, tingkat
kecerdasaan, minat dan sebagainya. Faktor eksternal ialah faktor yang datang
dari luar diri anak, seperti kebersihan rumah, udara, lingkungan, keluarga,
masyarakat, teman, guru, media, sarana dan prasarana belajar.
Sudah disadari baik oleh guru, siswa dan orang tua dalam belajar di
sekolah, inteligensi (kemampuan intelektual) memerankan peranan penting,
karena itelegensi diakui ikut menentukan keberhasilan belajar seseorang, maka
orang tersebut seperti M. Dalyono (dalam Djamarah, 2011: 194) misalnya secara
tegas mengatakan bahwa seseorang yang memiliki itelegensi baik (IQ-nya tinggi)
umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya, orang
yang itelegensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar,
lambat berpikir, sehingga prestasi belajarnya pun rendah. Meskipun peranan
inteligensi sedemikian besar namun perlu diingat bahwa faktor-faktor lain pun
tetap berpengaruh. Di antara faktor tersebut adalah Minat.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di SMP Negeri 14
Lubuklinggau terdapat fakta bahwa minat siswa dalam belajar matematika
menurun. Perkembangan teknologi elektronik merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi turunnya minat siswa dalam belajar matematika, hal ini dapat
dilihat dari kebiasaan siswa yang bermain handpone ketika proses belajar
mengajar berlangsung. Turunnya minat belajar siswa ini akan berdampak pada
hasil belajar siswa, hal itu dikarenakan minat mempunyai peranan yang sangat
penting dalam kegiatan belajar. Bila seorang siswa tidak memiliki minat dan
perhatian yang besar terhadap objek yang dipelajari maka sulit diharapkan siswa
tersebut akan tekun dan memperoleh hasil yang baik dari belajarnya. Sebaliknya,
apabila siswa tersebut belajar dengan minat dan perhatian besar terhadap objek
yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh baik. Seperti yang diungkapkan
(Usman Efendi dan Juhaya S Praja, 2012: 117) bahwa belajar dengan minat akan
lebih baik dari pada belajar tanpa minat.
Minat merupakan landasan penting bagi seseorang untuk melakukan
kegiatan dengan baik. Sebagai suatu aspek kejiwaan minat bukan saja dapat
mempengaruhi tingkah laku seseorang, tapi juga dapat mendorong orang untuk
tetap melakukan dan memperoleh sesuatu. Hal itu sejalan dengan yang
dikatakan oleh (Nasution, 2012: 82) bahwa pelajaran akan berjalan lancar apabila
ada minat. Anak-anak malas, tidak belajar, gagal karena tidak ada minat.
Berdasarkan pandangan dari para ahli di atas, dapat dijelaskan bahwa
siswa yang memiliki minat dengan siswa tidak memiliki minat dalam belajar akan
terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut tampak jelas dengan ketekunan yang
terus menerus. Siswa yang memiliki minat maka ia akan terus tekun ketika
belajar sedangkan siswa yang tidak memiliki minat walau pun ia mau untuk
belajar akan tetapi ia tidak terus untuk tekun dalam belajar. Begitu pula dalam
proses belajar mengajar dalam mata pelajaran matematika. Tinggi rendahnya
minat belajar siswa dalam mata pelajaran matematika tentunya akan
memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dicapai siswa.
Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang materinya
dipandang paling sulit oleh sebagian siswa, sehingga di sekolah guru sering
terjebak menggunakan metode pembelajaran yang digunakan lebih mengarah
kepada metode ceramah. Padahal guru dituntut agar dapat mengupayakan
lingkungan belajar yang kondusif dengan metode dan media yang bervariasi.
Karena itu jika terjadi kebosanan pada siswa maka akan berpengaruh kepada
minat siswa untuk mengikuti proses belajar. Demikian juga pembelajaran
matematika yang seperti ini cukup kontektual dari sisi kebutuhan siswa untuk
belajar mengembangkan dirinya sementara belajar berangkat dari kebutuhan
siswa akan mudah membangkitkan minat siswa terhadap mata pelajaran
tersebut, sehingga mereka dapat meraih prestasi yang lebih optimal ketika siswa
tidak lagi merasa berminat untuk mengikuti pelajaran ini, tentunya hal ini akan
memberikan dampak pada tinggi rendahnya prestasi pembelajaran siswa di
bidang mata pelajaran matematika.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan judul Hubungan Minat Belajar Dengan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 14 Lubuklinggau Tahun Pelajaran
2014/2015.
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada
tidaknya hubungan positif yang signifikan antara minat belajar dengan hasil
belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 14 Lubuklinggau Tahun Pelajaran
2014/2015.
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat: (1) Bagi siswa, sebagai
upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika,
(2) Bagi guru, sebagai bahan masukan bagi guru matematika agar dapat
memberikan motivasi terhadap minat siswa dalam pembelajaran matematika,
(3) Bagi sekolah, sebagai masukan bagi sekolah untuk diharapkan dari hasil
penelitian ini agar berupaya meningkatkan minat belajar siswa misalnya dengan
memberikan inovasi dalam kegiatan belajar mengajar, dan (4) Bagi peneliti,
melalui ini peneliti dapat mengetahui secara langsung permasalahan
pembelajaran matematika dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan
masukan bagi pihak lain yang melakukan penelitian sejenis.

DASAR TEORI
Berikut ini adalah beberapa deskripsi teori yang digunakan dalam
penelitian ini. Beberapa teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Menurut Slameto (2013: 2) Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang positif melalui latihan atau pengalaman, sebagai
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2009: 22). Menurut A. J.
Romiszowski (dalam Djamarah 2012: 26) Hasil belajar merupakan keluaran
(outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan (inputs). Masukan dari
sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya
adalah perbuatan atau kinerja (performance). Sedangkan menurut Mudjiono
(2009: 20) Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil dari seseorang siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar yang diukur dari kemampuan siswa
tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
3. Menurut Slameto (2013: 180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa
keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.Suatu
minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan
bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya. Siswa yang
memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan
perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.Menurut Charles yang
dikutip oleh Slameto dideskripsikan sebagai berikut: Pada awalnya sebelum
terlibat di dalam suatu aktivitas, siswa mempunyai perhatian terhadap
adanya perhatian, menimbulkan keinginan untuk terlibat di dalam aktivitas
(Slameto, 2013: 72). Minat kemudian mulai memberikan daya tarik yang ada
atau ada pengalaman yang menyenangkan dengan hal-hal tersebut. Menurut
Crow dan Crow, ada tiga faktor yang menimbulkan minat yaitu Faktor yang
timbul dari dalam diri individu, faktor motif sosial dan faktor emosional yang
ketiganya mendorong timbulnya minat, (Johny Killis, 1988: 26). Pendapat
tersebut sejalan dengan yang dikemukakan Sudarsono (1980: 12), faktor-
faktor yang menimbulkan minat dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Faktor kebutuhan dari dalam. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan
yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
b. Faktor motif sosial. Timbulnya minat dalam diri seseorang dapat didorong
oleh motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan,
penghargaan dari lingkungan dimana ia berada.
c. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang
dalam menaruh perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau objek tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat diketahui aspek
adanya minat pada seseorang dari beberapa hal, antara lain adanya perasaan
rasa suka, adanya peningkatan perhatian, adanya keaktifan pada pelajaran
tersebut dan adanya intensitas belajar pada pelajaran tersebut.

METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitin ini adalah deskriptif
korelasional yaitu untuk membuat gambaran/fakta-fakta yang berhubungan
dengan objek yang akan diteliti dan mencari hubungannya, menurut Sugiyono
(2013: 8) digambarkan sebagai berikut:
X Y
Keterangan :
X : Skor minat belajar siswa
Y : Skor hasil belajar siswa
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 14
Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015, yang berjumlah 105 orang. Sebagai
sampel pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 14
Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan teknik dokumentasi dan angket. Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik dokumentasi dan angket.
Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data nilai
hasil belajar siswa pada pelajaran matematika, dokumen ini berupa daftar nilai
Ujian Akhir Semester (UAS) matematika semester dua kelas VII SMP Negeri 14
Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015. Angket dalam penelitian ini digunakan
untuk mengumpulkan data tentang minat belajar matematika. Angket diberikan
langsung kepada siswa yang menjadi objek dalam penelitian ini. Adapun model
angket yang digunakan adalah model angket skala likert dengan empat alternatif
jawaban yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
Responden tinggal memilih sesuai dengan apa yang ada dihati dan sesuai dengan
pendiriannya atau keadaan sebenarnya. Angket minat belajar siswa disusun
berdasarkan kajian teori yang kemudian dijabarkan kedalam indikator-indikator.
Selanjutnya indikator-indikator tersebut dituangkan dalam butir-butir item.
Jumlah item minat belajar matematika ada 38 pernyataan yang telah dilakukan
uji coba.
Selanjutnya data minat siswa diambil melalui pemberian angket berisi 38
butir pertanyaan/pernyataan sesuai dengan indikator. Untuk mengetahui tinggi
rendahnya minat siswa, metode yang digunakan adalah rata-rata nilai menurut
Arikunto (2010:78) yaitu cara membandingkan nilai yang didapat siswa dengan
kriteria pada tabel 1 berikut ini:
Tabel 1
Kriteria Tingkat Minat Belajar
Skor Minat Tingkat Minat
81 100 Sangat Tinggi
61 80 Tinggi
41 60 Cukup
21 40 Rendah
0 20 Sangat Rendah
Sumber Arikunto (2010:78)
Hipotesis yang dikaji dalam penelitian ini adalah Ada hubungan positif
yang signifikan antara minat belajr dengan hasil belajar matematika siswa kelas
VII SMP Negeri 14 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2014/2015.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dalam proses penelitian yang dilaksanakan di kelas VII SMP Negeri 14
Lubuklinggau ini peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif korelasional.
Deskripsi Statistik Hasil Penelitian
Angket Minat Belajar Matematika
Nilai analisis persentase minat belajar matematika pada pernyataan
positif dapat dilihat pada tabel 2 yaitu:
Tabel 2
Analisis Persentase Minat Belajar Pada Pernyataan Positif
Siswa PernyataanPositif Persentase (%)
SS 896 47,41
S 801 42,38
TS 178 9,42
STS 15 0,79
Jumlah 1890 100
Berdasarkan tabel 2 dapat diungkapkan bahwa siswa yang menjawab
sangat setuju (SS) pada pernyataan positif sebesar 47,41 %, siswa yang
menjawab setuju (S) pada pernyataan positif sebesar 42,38 %, siswa yang
menjawab tidak setuju (TS) pada pernyataan positif sebesar 9,42 %, dan siswa
yang menjawab sangat tidak setuju (STS) pada pernyataan positif sebesar 0,79 %.
Nilai analisis persentase minat belajar matematika pada pernyataan
negatif dapat dilihat pada tabel 3 yaitu:
Tabel 3
Analisis Persentase Minat Belajar Pada Pernyataan Negatif
Siswa Pernyataan Negatif Persentase (%)
STS 713 33,95
TS 1052 50,10
S 282 13,43
SS 53 2,52
Jumlah 2100 100
Berdasarkan tabel 3 dapat diungkapkan bahwa siswa yang menjawab
sangat setuju (SS) pada pernyataan negatif sebesar 2,52 %, siswa yang menjawab
setuju (S) pada pernyataan negatif sebesar 13,43 %, siswa yang menjawab tidak
setuju (TS) pada pernyataan negatif sebesar 50,10 %, dan siswa yang menjawab
sangat tidak setuju (STS) pada pernyataan positif sebesar 33,95 %.
Dari nilai analisis minat belajar matematika dapat diungkapkan analisis
jawaban responden mengenai beberapa item pernyataan yang mengukur adanya
minat belajar siswa dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa kelas VII SMP
Negeri 14 Lubuklinggau pada mata pelajaran matematika tergolong tinggi
dengan rata-rata nilai jawaban responden angketnya sebesar 78,43.
Nilai analisis persentase aspek rasa suka dengan indikator pernyataan
menyukai pelajaran matematika, senang jika guru rajin masuk, menyenangkan
jika tidak mengikuti pelajaran, mempunyai motivasi intrinsik, dan merasa mudah
mempelajari matematika. Ada delapan item penyataan dalam aspek rasa suka
yaitu nomer 1, 2, 13, 19, 20, 21, 32, 36. Jumlah nilai jawaban responden untuk
delapan item tersebut adalah 314 + 388 + 118 + 20 = 2324. Skor idealnya = 4 x 8 x
105 = 3360. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh persentase jawaban
responden terhadap indikator aspek rasa suka dalam mengukur adanya variabel
minat belajar siswa sebesar 69,17%. Hal ini membuktikan bahwa indikator aspek
rasa suka tinggi konstribusinya dalam menunjukkan adanya minat belajar siswa.
Nilai analisis persentase aspek perhatian dengan indikator pernyataan
mempunyai catatan yang lengkap, perhatian yang maksimal, mempunyai buku
matematika, tidak merasa jenuh mengikuti pelajaran matematika, tidak pernah
membolos saat pelajaran matematika, mempersiapkan diri sebelum pelajaran
berlangsung, merasa penting belajar matematika, dan sering mempelajari
matematika sebelumnya. Ada enam belas item penyataan dalam aspek rasa suka
yaitu nomer 3, 4, 5, 6, 7, 14, 15, 17, 22, 23, 24, 25, 26, 33, 34, dan 37. Jumlah nilai
jawaban responden untuk enam belas item tersebut adalah 680 + 805 + 168 + 27
= 5498. Skor idealnya = 4 x 16 x 105 = 6720. Berdasarkan hasil perhitungan
diperoleh persentase jawaban responden terhadap indikator aspek perhatian
dalam mengukur adanya variabel minat belajar siswa sebesar 81,82%. Hal ini
membuktikan bahwa indikator aspek perhatian sangat tinggi konstribusinya
dalam menunjukkan adanya minat belajar siswa.
Nilai analisis persentase aspek keaktifan dengan indikator pernyataan
masuk tepat waktu saat pelajaran akan dimulai, bertanya jika kurang jelas,
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, dan mencatat penjelasan guru. Ada 8
item penyataan dalam aspek keaktifan yaitu nomer 8, 10, 11, 12, 27, 29, 30 dan
31. Jumlah nilai jawaban responden untuk delapan item tersebut adalah 389 +
384 + 60 + 7 = 2835. Skor idealnya = 4 x 8 x 105 = 3360. Berdasarkan hasil
perhitungan diperoleh persentase jawaban responden terhadap indikator aspek
keaktifan dalam mengukur adanya variabel minat belajar siswa sebesar 84,38%.
Hal ini membuktikan bahwa indikator aspek keaktifan sangat tinggi
konstribusinya dalam menunjukkan adanya minat belajar siswa.
Nilai analisis persentase aspek intensitas belajar dengan indikator
pernyataan mengulagi pelaaran yang telah diberikan, mengikuti kursus di luar
jam sekolah, dan mengikuti kegiatan ekstra yang berhubungan dengan
matematika. Ada 6 item penyataan dalam aspek keaktifan yaitu nomer 9, 16, 18,
28, 35, dan 38. Jumlah nilai jawaban responden untuk enam item tersebut
adalah 226 + 276 + 114 + 14 = 1974. Skor idealnya = 4 x 6 x 105 = 2520.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh persentase jawaban responden
terhadap indikator aspek intensitas belajar dalam mengukur adanya variabel
minat belajar siswa sebesar 78,33%. Hal ini membuktikan bahwa indikator aspek
intensitas belajar tinggi konstribusinya dalam menunjukkan adanya minat belajar
siswa.
Setelah perhitungan persentase jawaban responden terhadap aspek-
aspek pada angket minat belajar siswa dapat disimpulkan bahwa minat belajar
siswa tinggi untuk aspek intensitas belajar juga aspek rasa suka dan minat belajar
siswa sangat tinggi untuk aspek perhatian juga aspek keaktifan. Perbandingan
persentase jawaban responden siswa terhadap aspek minat belajar siswa dapat
dilihat pada grafik di bawah ini:
81,82% 84,38%
90 78,33%
80 69,17%
70
60
50
40 Persentase
30
20
10
0
Rasa Suka Perhatian Keaktifan Intensitas
Belajar

Grafik 1. Persentase Jawaban Responden Terhadap Aspek Minat Belajar


Berdasarkan data yang terkumpul, baik yang diperoleh melalui angket
berupa data tentang minat belajar maupun data yang diperoleh melalui
pemeriksaan dokumen yang berupa data hasil belajar matematika siswa,
dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment.
Dari hasil perhitungan diperoleh besarnya korelasi antara kedua variabel
yang diuji (rxy) adalah 0,201. Nilai tersebut menunjukkan bahwa antara variabel
minat belajar dengan variabel hasil belajar pada mata pelajaran matematika
memiliki korelasi yang positif. Dengan melihat harga r tersebut maka dapat
diinterprestasikan bahwa korelasi tersebut rendah.
Meningkatnya hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa besar minat
belajar dengan hasil belajar matematika. Besarnya hubungan itu ditentukan oleh
koefisien dengan menggunakan r2 x 100% = (0,201)2 x 100% = 0,040401 = 4,04%.
Dengan demikian hasil belajar matematika di SMP Negeri 14 Lubuklinggau,
sebesar 4,04% dipengaruhi faktor minat belajarnya sedangkan 95,96%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diamati dalam penelitian ini.
Untuk menguji kesignifikansi korelasi, maka dapat dihitung dengan uji t.
Dari hasil perhitungan diperoleh = 2,082, sedangkan ttabelpada taraf
signifikan 5% dan dk = 103 adalah 1,986 berarti thitung > ttabel(2,082> 1,986).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan
antara minat belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri
14 Lubuklinggau.

PEMBAHASAN
Berdasarkan data penelitian yang berhasil dikumpulkan, maka akan
diteliti apakah ada hubungan antara minat belajar (X) dengan hasil belajar
matematika(Y), dari data dikumpulkan tersebut kemudian dianalisis dan
dilakukan pembahasan mengenai hasil penelitian.
Menurut Syah (1988: 132) minat merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan
menimbulkan usaha gigih, serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi
tantangan. Jika seorang siswa memiliki rasa ingin belajar, ia akan cepat dapat
mengerti dan mengingatnya. Fungsi minat sangat besar dalam pencapaian hasil
belajar siswa. Mulai dari keinginan untuk melakukan aktivitas yang dilanjutkan
dengan mengarahkan aktivitas dilakukan sampai akhirnya mencapai tujuan yang
diharapkan bagi siswa maupun bagi orang tua siswa. Jika siswa memunyai minat
belajar yang kuat maka diharapkan belajar siswa akan baik.
Menurut Djaali (2008: 121) minat dapat diekspresikan melalui
pernyataan yang menunukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada
hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu
aktivitas. Jika dihubungkan dengan hasil penelitian dapat diketahui bahwa siswa
yang menjadi subjek penelitian ini memiliki kecenderungan menyukai pilihan
jawaban yang lebih dominan pada salah satu indikator dibandingkan indikator
pengukur minat belajar lainnya. Dibuktikan dari analisis deskriptif persentase 4
aspek dan 38 indikator dalam mengukur minat belajar. Indikator aspek rasa suka
sebesar 69,17%, perhatian sebesar 81,82%, keaktifan sebesar 84,38% dan
intensitas belajar 78,33%. Berdasarkan persentase jawaban responden terhadap
setiap indikator minat belajar tersebut dapat diketahui bahwa persentase
jawaban tertinggi untuk mengukur minat belajar siswa terdapat pada indikator
aspek keaktifan yaitu sebesar 84,38% dan persentase jawaban terendah terdapat
pada indikator aspek rasa suka yaitu sebesar 69,17%.
Berdasarkan lampiran analisis minat belajar indikator aspek rasa suka
dengan 8 item pernyataan dapat diungkapkan yaitu 88,57% siswa menyatakan
bahwa belajar matematika itu aktifitas yang menyenangkan, 91,43% siswa
merasa rugi jika tidak bisa mengikuti pelajaran matematika, pada saat guru
matematika mengajar 11,43% siswa tidak merasa termotivasi untuk belajar
matematika, 21,00% siswa menyatakan bahwa belajar matematika itu aktifitas
yang membosankan, 12,38% siswa merasa senang jika guru matematika sering
izin, 14,29% siswa merasa senang jika tidak bisa mengikuti pelajaran matematika,
87,14% siswa merasa termotivasi untuk belajar matematika, dan 30,47% siswa
yang menyatakan belaar matematika itu sulit.
Analisis persentase minat belajar indikator aspek perhatian dengan 16
item pernyataan dapat diungkapkan 6,61% siswa tidak mencatat apa yang ditulis
di papan tulis ketika guru menjelaskan pelajaran, 88,57% siswa sering mengobrol
dengan teman ketika guru menjelaskan pelajaran, 2,85% siswa tidak mempunyai
refrensi buku paket matematika, 34,29% siswa merasa jenuh ketika mengikuti
pelajaran karena pelajarannya terlalu monoton, 18,14% siswa sering izin keluar
ketika pelajaran berlangsung, 87,62% siswa sering mempelajari pelajaran
matematika sebelumnya di rumah, 10,48% siswa yang tidak mempersiapkan diri
sebelum pelajaran matematika berlangsung, 3,81% siswa yang menyatakan
belaar matematika itu sangat tidak penting, ketika guru menjelaskan pelajaran
91,43% siswa mencatat apa yang ditulis di papan tulis, 15,24% siswa sering
mengobrol dengan teman ketika guru menjelaskan pelajaran, 89,52%
mempunyai buku paket matematika, 7,62% siswa yang tidak bersemangat
mengikuti pelajaran, 7,61% siswa yang sering membolos saat pelajaran
matematika, 7,62% siswa yang tidak pernah mempelajari pelajaran matematika
sebelumnya di rumah, 14,29% siswa yang tidak pernah mempersiapkan diri
sebelum pelajaran matematika berlangsung, dan 84,71% siswa menyatakan
bahwa belajar matematika itu sangat penting.
Analisis minat belajar indikator aspek keaktifan dengan 8 item pernyataan
dapat diungkapkan 1,90% siswa yang selalu tidak tepat waktu setiap pelajaran
matematika, 9,52% siswa yang tidak bertanya kepada guru jika belum paham
tentang penjelasannya, 3,81% siswa tidak pernah mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru, 4,76% siswa tidak pernah mencatat penjelasan guru, 91,43%
siswa tepat waktu masuk kelas setiap pelajaran matematika, 89,52% siswa selalu
bertanya kepada guru jika belum mengerti tentang penjelasannya, dan 86,66%
siswa selalu mencatat penjelasan guru.
Analisis minat belajar indikator intensitas belajar dengan 6 item
pernyataan dapat diungkapkan bahwa 23,81% siswa tidak pernah meluangkan
waktu untuk mengulangi pelajaran yang telah dijelaskan oleh guru, 80,00% siswa
mengikuti kursus matematika di luar jam sekolah, karena senang dengan
matematika 77,04% siswa sering mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan
matematika baik di sekolah maupun di luar sekolah, 18,09% siswa setelah
pelajaran tidak pernah meluangkan waktu untuk mengulangi pelajaran yang
telah dijelaskan oleh guru, 20,95% siswa yang tidak pernah mengikuti kursus
matematika di luar jam sekolah, dan 16,19% siswa tidak menyukai matematika
dan tidak pernah mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan matematika baik
di sekolah maupun di luar sekolah.
Setelah data dianalisis secara sistematis, maka dari uji statistik diperoleh
thitung = 2,082 dan ttabel = 1,986. Dengan menggunakan taraf signifikan 5% dan
derajat kebebasan dk = (N-2), maka hipotesis yang digunakan dapat diterima
kebenarannya karena thitung > ttabel (2,082> 1,986).Hasil penelitian ini
menunjukkan adanya hubungan yang antara minat belajar dengan hasil belajar
matematika dengan signifikan koefisien korelasi r = 0,201. Dengan demikian,
maka dapat diinterprestasikan bahwa korelasi tersebut rendah. Perhitungan
korelasi tersebut menghasilkan angka positif (+) yang artinya memiliki hubungan
yang searah.
Hal ini kemungkinan siswa dalam mengisi angket tidak bersungguh-
sungguh dikarenakan adanya rasa takut pengisian angket, adanya rasa malas
membaca dalam pengisian angket dan adanya rasa tidak ketertarikan dalam
pengisian angket. Padahal sebelum angket disebarkan, siswa telah diberi
penjelasan oleh peneliti kalau angket ini tidak mempengaruhi terhadap nilai
siswa.
Data nilai minat dengan hasil belajar matematika SMP Negeri 14
Lubuklinggau dapat dilihat pada tabel 4 yaitu:
Tabel 4
Data Nilai Minat dengan Hasil Belajar Matematika
Sampel Minat Belajar (X) Hasil Belajar (Y)
S 25 150 73
S 42 103 79
S 65 148 81
S 67 108 71
Berdasarkan tabel 4 dapat diungkapkan bahwa hasil penelitian ini
menunjukkan siswa mempunyai hasil belajar yang tinggi terhadap mata
pelajaran matematika, maka minat belajar matematikanya belum bisa dikatakan
akan lebih tinggi. Begitu juga sebaliknya, siswa yang mempunyai hasil belajar
yang rendah terhadap mata pelajaran matematika, maka minat belajar
matematikanya belum bisa dikatakan rendah.Dengan kata lain, untuk
mendapatkan hasil belajar matematika yang tinggi dapat ditempuh dengan cara
lain diluar penelitian ini, misalnya motivasi, bakat, intelegensi, kemampuan siswa
dan sebagaiannya terhadap mata pelajaran matematika. Hal ini dapat dimengerti
apabila minat belajar yang diinterprestasikan rendah belum bisa dikatakan
bahwa hasil belajar matematikanya tinggi. Besarnya pengaruh minat belajar
dengan hasil belajar matematika adalah 4,04% dan 95,96% dipengaruhi oleh
faktor lain.
Jadi hipotesis yang diajukan oleh peneliti dapat diterima kebenarannya
pada taraf kepercayaan 5%. Sehingga peneliti menyimpulkan ada hubungan yang
signifikan antara minat belajar dengan hasil belajar matematika. Tetapi minat
belajar bukan syarat yang mutlak untuk mengoptimalkan hasil belajar
matematika karena dimungkinkan ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi
hasil belajar matematika diluar penelitian ini, misalnya motivasi, bakat,
intelegensi, kemampuan siswa dan sebagainya.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan disimpulkan bahwa terdapatkorelasi
yang signifikan dan positif antara minat belajar dengan hasil belajar pada mata
pelajaran matematika siswa kelas VII SMP Negeri 14 tahun pelajaran 2014/2015.
Besarnya hubungan minat belajar dengan hasil belajar adalah 4,04% sedangkan
95,96% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diamati dalam penelitian
ini.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka penulis
mengemukakan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi guru dan calon guru hendaknya dapat digunakan sebagai masukan
dalam rangka melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika di sekolah
yang mengarah pada pencapaian hasil belajar matematika yang optimal
dengan memperhatikan minat belajar terhadap mata pelajaran matematika.
Untuk memantapkan hasil penelitian ini, perlu diadakan penelitian lebih
lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika
sebab hasil belajar matematika tidak hanya dipengaruhi oleh minat
dimungkinkan ada faktor lain yang mempengaruhinya hasil belajar
matematika.
2. Kepada guru matematika perlu diketahui bahwa minat belajar merupakan
kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar.
3. Minat belajar pada diri siswa dapat menjadi lemah, lemahnya minat atau
tiadanya minat belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Oleh karena itu
minat belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka


Cipta.
Crow dan Crow. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas. 2004. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata
Pelajaran Matematika. Sumatera Selatan: Depdiknas.
Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka
Cipta.
Efendi, U dan Juhaya S Praja. 1993. Pengantar Psikologi. Bandung: Angkasa.
Nasution, S. 1998. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung: Jemmars.
Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana. 2005. Metode Statistika.Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2011. Metodologi Kuantitatif dan Kualitatif R dan D. Bandung:
Alfabeta.
Syah, M. 1997. Psikologi Pendidikan dengan Pendeatan Baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.