Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

KEBIJAKAN PENGELOLAAN, PENATAAN, PEMULIHAN,


PEMANFAATAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP

Penyusun :
Aina Zeni Pratami (P07133114003)
Dyah Ajeng Rizki Nugraheni (P07133114015)
Indah Wijayanti (P07133114025)
Tiara Annisa (P07133114037)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN YOGYAKARTA


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2014
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah tentang
Kebijakan Pengelolaan, Penataan, Pemulihan dan Pemanfaatan Pengendalian Lingkungan
Hidup dengan baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Ekologi
Lingkungan.
Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan
bantuan dari berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan
lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin
memberi saran dan kritik kepada kami, sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.
Pada bagian akhir penyusun mengharapkan semoga dari makalah tentang Kebijakan
Pengelolaan, Penataan, Pemulihan dan Pemanfaatan Pengendalian Lingkungan Hidup dapat
diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi bagi pembaca.

Bantul, 3 November 2014

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki
banyak akan kekayaan alamnya yang sangat beragam, meliputi tanah, air, dan ada lagi
yang lebih terkenal saat ini yaitu tanah galian yang biasa di sebut oleh banyak pengusaha
sebagai pertambangan. Mulai dari tambang emas, tembaga, perak, minyak , batu bara, gas
bumi, industri semen dan masih banyak lagi yang lainya. Dalam rangka menuju tahap
industrialisasi di indonesia, menjadi bagian untuk pelaksanaan pembangunan, dengan
tujuan pemenuhan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat, serta untuk cadagan
pembangunan masa yang akan datang. Tak lepas dari itu semua tentunya banyak dampak
yang di timbulkan dari kegiatan penambangan tersebut. Untuk itu pelu adanya kaidah
dasar yang menjadi landasan untuk pembangunan dan melindungi linkungan hidup.
Kewenangan dan tugas pemerintah untuk melindungi sumber insani di negara
indonesia demi kesejahteraan bersama. Berdasarkan UU.No.23/1997 di jelaskan bahwa
lingkunagan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan
makhluk hidup, diantaranya manusia beserta perilakunya,yang dapat mempengarui
kelagsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia itu sendiri, dan makhluk hidup lainya.
Lingkungan hidup di indonesia mempunyai sebuah sistem yang meliputi lingkungan
sosial , lingkungan alam, lingkungan buatan dari ke tiga sistem tersebut saling berkaitan
atau saling mempengaruai atara satu sistem dengan sistem yang lainya. Ketahanan dai
masing-masing subsitem akan berpengaruh pada kondisi keseimbangan lingkungan hidup
itu sendiri. Demi ntuk menjamin kelangsungan lingkungan hidup kondisi inilah yang
perlu di jaga dengan tujuan mampu memberikan peningkatan kualitas kehidupan semua
makhluk yang ada di dalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa definisi dari lingkungan hidup?

2) Bagaimana kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di indonesia?

3) Bagaimana penataan lingkungan hidup?

4) Bagaimana pemulihan lingkungan hidup?

5) Bagaimana cara pemanfaatan pengendalian lingkungan hidup?

1.3 Tujuan Penulisan


1) Mengetahui definisi dari lingkungan hidup.

2) Mengetahui kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di indonesia.

3) Mengetahui penataan lingkungan hidup.

4) Mengetahui pemulihan lingkungan hidup.

5) Mengetahui pemanfaatan pengendalian lingkungan hidup.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Lingkungan Hidup


Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan
makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakuknya, yang mempengaruhi
kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UU. No.
23/1997). Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidaklah mengenal batas wilayah baik
wilayah negara maupun wilayah administratif, akan tetapi jika lingkungan hidup dikaitkan
dengan pengelolaannya maka harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaan tersebut.
Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu sistem yang terdiri dari lingkungan sosial
(sociosystem), lingkungan buatan (technosystem) dan lingkungan alam (ecosystem) dimana
ke-tiga sub sistem ini saling berinteraksi (saling mempengaruhi). Ketahanan masing-masing
subsistem ini akan meningkatkan kondisi seimbang dan ketahanan lingkungan hidup, dimana
kondisi ini akan memberikan jaminan suatu yang berkelanjutan yang tentunya akan
memberikan peningkatan kualitas hidup setiap makhluk hidup di dalamnya.

2.2 Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Kebijakan pemerintah merupakan suatu hal yang akan di lakukan maupun tidak di
lakukan pemerintah dengan tujuan tertentu, demi kpentingan bersama dan merupakan bagian dari
keputusan pemerintah itu sndiri. Dalam kepustakaan internasional biasa di sebut publik policy.
Kebijakan publik ini akan tetap terus berlangsung, selagi pemerintah suatu negara masih ada
untuk mengatur suatu keidupan bersama. Berdasarkan yang tertuang dalam konsep demokarasi
modern, kebijakan dari pemerintah atau negara, bukan hanya berisi tentang argumentasi maupun
suatu pendapat para aparatur wakil rakyat belaka, namun opini dari publik atau biasa di sebut
publik opinion.

Hal itu tidak kalah penting dalam mempertimbangkan pengambilan kebijakan


pemerrintah. Dalam setiap pengabilan kebijakan harus senantiasa berorientasi pada publik.
(Islami. 2003). Berdasarkan jenisnya kebijakan pemerintah atau publik policy, di bedakan
menjadi dua jenis yaitu, kebijakan yang berbentuk peraturan pemerintah yang tertulis seperti
halnya peraturan perundangan, dan peraturan pemerintah yang tidak tertulis yang di sepakati
bersama, ialah berbentuk konvensi. (Nugroho, 2002). Kebijakan pemerintah
meliputi suatu program kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah di rencanakan
(pleaning) sebelumnya. Sehingga perumusan suatu kebijakan mempunyai nilai (value) perbedaan
serta persmaan dalam pengambilan keputusan. Dengan demkian pembentukan kebijakan dapat
dilakukan melalui pemilihan alternatif yang sifatnya berlangsung secara terus-
menerus, (Tjokroamidjojo, 1981).

Meskipun di Indonesia telah banyak kebijakan yang telah di cetuskan, namun program
dan rencana serta, peran dari berbagai pihak ternyata masih saja muncul permaslahan terkait
dengan sumber daya alam, dan lingkungan hidup belum juga berakhir atau bisa di katakan tetap
terjadi. Sehubungan dengan hal demikian, kementrian Lingkungan Hidup telah mendorong untuk
menyempurnakan kebijakan, progran serta rencana yang ada.Dalam menyusun kebijakan ini
digunakan perangkat Kajian Lingkungan Strategis (KLS) terhadap kebijakan, rencana dan
program yang telah ada dan terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Secara substansial, KLS merupakan suatu upaya sistematis dan logis dalam memberikan landasan
bagi terwujudnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan
melalui proses pengambilan keputusan yang berwawasan lingkungan. Dari beberapa kebijakan
pemerintah di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup, terdapat kebijakan di bidang air
dan energi, yang dapat dipedomani dan disinergikan dengan kebijakan-kebijakan pembangunan
lingkungan hidup di daerah.

Adapun pokok-pokok kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
bidang air adalah:
1. Kebijakan pelestarian air perlu menempatkan sub sistem produksi air, distribusi air, dan
konsumsi air dalam satu kesatuan yang meyeluruh dan terkait untuk menuju pada pencapaian
pola keseimbangan antar sub sistem tersebut.

2. Kebijakan sub sistem Produksi Air, meliputi (1) Konservasi ekosistem DAS dan sumber air
untuk menjamin pasokan air; (2) Mencegah dan memulihkan kerusakan lingkungan terutama
pada ekosistem DAS, (3) Mengendalikan pencemaran untuk menjaga dan meningkatkan
mutu air; (4) Optimalisasi pemanfaatan air hujan.

3. Kebijakan konsumsi air yang hemat dan efisien untuk mendukung pelestarian air.
4. Kebijakan sub sistem distribusi air, meliputi (1) merencanakan peruntukan air permukaan
dan air tanah (2) meningkatkan infrastruktur yang memadai.

5. Kebijakan penataan ruang, meliputi (1) Menetapkan rencana tata ruang sesuai daya dukung
dan daya tampung lingkungan (2) Konsistensi pemanfaatan ruang; (3) pengawasan penataan
ruang, (4) Meningkatkan akses informasi.

6. Kebijakan kelembagaan, meliputi (1) membentuk lembaga pengelola air, (2) mekanisme
penyelesaian sengketa air (3) Valuasi ekonomi, (4) insentif ekonomi.

Pokok-pokok kebijakan sumber daya alam dan lingkungan hidup di bidang energi
adalah:
1. Kebijakan pencegahan pencemaran; Baku Mutu Limbah Cair penambangan batu bara, Baku
Mutu kualitas udara ambient dan emisi gas buang kendaraan bermotor, dan pelaksanaan
AMDAL pada setiap kegiatan penambangan.

2. Kebijakan produksi dan penyediaan energi yang ramah lingkungan.

3. Kebijakan penguatan security of supply, dengan upaya penyediaan bahan bakar campuran
BBM seperti gahosol, biodisel, dll.

4. Kebijakan pemanfaatan energi yang ramah lingkungan.

5. Kebijakan pemanfaatan energi tak terbarukan dengan efisien dan hemat.

6. Kebijakan pemenfaatan energi terbarukan, dengan dorongan investasi dan inovasi teknologi.

Dengan kondisi dan status lingkungan hidup di Indonesia, Pemerintah juga telah
menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional, dengan sasaran
yang ingin dicapai adalah membaiknya sistem pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan
hidup. Tujuannya untuk mencapai keseimbangan antara aspek pemanfaatan sumber daya
alam sebagai modal pertumbuhan ekonomi (kontribusi sektor perikanan, kehutanan,
pertambangan dan mineral terhadap PBD) dengan aspek perlindungan terhadap kelestarian
fungsi lingkungan hidup sebagai penopang sistem kehidupan secara luas. Adanya
keseimbangan tersebut berarti menjamin keberlanjutan pembangunan. Untuk itu,
pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable
development) di seluruh sektor, baik di pusat maupun di daerah, menjadi suatu keharusan.
Yang dimaksud dengan sustainable development adalah upaya memenuhi kebutuhan generasi
masa kini tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Seluruh kegiatannya
harus dilandasi tiga pilar pembangunan secara seimbang, yaitu menguntungkan secara
ekonomi (economically viable), diterima secara sosial (socially acceptable) dan ramah
lingkungan (environmentally sound). Prinsip tersebut harus dijabarkan dalam bentuk
instrumen kebijakan maupun investasi pembangunan jangka menengah di seluruh sektor dan
bidang yang terkait dengan sasaran pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup,

2.3 Penataan Lingkungan Hidup

Manusia sangat berperan dalam menjadikan lingkungan yang bersih, nyaman, indah, dan
rindang. Satu faktor yang paling utama adalah bersih. Bersih erat kaitannya dengan sehat. Salah satu
indikator bersih adalah sehat. Individu yang bersih adalah individu yang tidak memiliki kotoran yang
menempel pada dirinya sehingga relatif tidak ada kuman penyakit yang bersarang. Lingkungan yang
bersih adalah lingkungan yang tidak ada kotoran (sampah) berserakan, yang memiliki kondisi udara
banyak mengandung kadar oksigen yang tinggi.

Menciptakan keadaan nyaman bagi penghuninya. Menjaga kebersihan artinya menjaga


keadaan diri, lingkungan bebas dari penyakit. Lingkungan yang bersih menandakan sikap para
penghuninya yang taat dan patuh terhadap tatanan yang berlaku di masyarakat. Indah berhubungan
dengan estetika. Indah merupakan sesuatu yang sangat menarik yang menimbulkan rasa enak atau
nikmat hati. Nilai kebersihan dan keindahan menopang kehidupan masyarakat dalam bersikap.

Menjaga kebersihan dan keindahan merupakan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Membudayakan hidup bersih dan keindahan harus menjadi sikap dan tingkah laku dalam kehidupan
bermasyarakat. Sikap dan sifat menjaga kebersihan merupakan langkah awal menuju kesuksesan.
Sebab dengan suasana bersih dan indah, akan menambah pikiran jernih dan tenang dalam bertindak.

Dengan menjaga kebersihan berarti menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kita, bersih di
sekolah, di kantin, di jalan, di rumah, di pasar, dan di mana pun. Tidak ada sampah-sampah yang
berserakan yang mempengaruhi keindahan.

Penataan lingkungan merupakan proses pengelompokan, pemanfaatan, dan pengendalian


lingkungan hidup sesuai dengan potensi dan fungsinya. Dalam Undang Undang nomor 24 tahun 1992
tentang Penataan Ruang, penataan ruang/lingkungan memiliki tujuan:

1. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan,


2. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budaya,

3. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.

Penataan lingkungan dilaksanakan secara terpadu, seimbang dan berdaya guna. Penataan
lingkungan hidup yang baik akan terpelihara kualitas lingkungan.

Berdasarkan fungsi utama kawasan, penataan lingkungan hidup dibagi menjadi 2, yaitu:

1. kawasan lindung, yaitu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Contoh: hutan
lindung, kawasan resapan air, kawasan cagar alam, dan sebagainya.

2. kawasan budi daya, yaitu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan
atas dasar kondisi dan potensi sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Contoh: lahan
budi daya jagung, kayu, sawah, dan lain-lain.

Berdasarkan kegiatan utamanya, penataan lingkungan hidup terdiri dari 3 kawasan, yaitu:

1. Kawasan perdesaan, adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk
pengelolaan sumber daya alam.

2. Kawasan perkotaan, adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian

3. Kawasan tertentu, adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis
yang penataan ruangnya diprioritaskan.

Konsep penataan lingkungan secara global berarti mencakup satu kesatuan wilayah. Menurut
Setyo Moersidik (Dosen Paskasarjana UI) kunci penataan lingkungan hidup untuk menjamin
keberlanjutan fungsi lingkungan hidup adalah pengelolaan lingkungan hidup. Prinsip penataan
berhubungan erat dengan konservasi Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, dan sumber daya
alam lainnya.

Salah satu sumber daya alam yaitu hutan sebagai salah satu bagian dari pelestarian lingkungan
hidup yang menjadi satu kesatuan ekosistem yang tidak mengenal batas wilayah pemerintahan.
Semakin kecil hutan dibagi-bagi, semakin besar pula potensi terganggunya ekosistem. Kerusakan
hutan juga mendorong timbulnya kekeringan, banjir, erosi, serta mengurangi keragaman hayati.
2.4 Pemulihan Lingkungan Hidup

Rangkaian kata "pemulihan lingkungan hidup" dapat kita lihat pada pasal 43, 46 dan
82, untuk lebih jelasnya dapat dilihat keterangan dibawah ini :

1. Pasal 43 ayat (2) huruf a dan b mengatur tentang dana jaminan pemulihan lingkungan
hidup dan dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan pemulihan
lingkungan hidup;
2. Pasal 46 mengatur tentang kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk
mengalokasikan anggaran pemulihan lingkungan hidup ;
3. Pasal 82 ayat (1) dan (2) mengatur tentang kewenangan Menteri, Gubernur, dan
Bupati/Walikota untuk memaksa penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
melakukan pemulihan lingkungan hidup akibat pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang dilakukannya, dan kewenangan untuk menunjuk fihak ke tiga
untuk melakukan pemulihan lingkungan hidup

Sedangkan rangkaian kata "pemulihan fungsi lingkungan hidup" dapat dilihat pada pasal
54 ayat (1), (2) dan (3), serta pasal 55 ayat (1) dan ayat (3), untuk lebih jelasnya dapat dilihat
sebagai berikut :

1. Pasal 54 ayat (1) mengatur tentang kewajiban untuk melakukan melakukan pemulihan
fungsi lingkungan hidup pada setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup ;
2. Pasal 54 ayat (2) mengatur tahapan pemulihan fungsi lingkungan hidup ;
3. Pasal 54 ayat (3) mengatur ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara pemulihan fungsi
lingkungan hidup ;

dan

1. Pasal 55 ayat (1) mengatur tentang kewajiban Pemegang izin lingkungan untuk
menyediakan dana penjaminan untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup.
2. Pasal 55 ayat (3) mengatur tentang kewenangan Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota menetapkan pihak ketiga untuk melakukan pemulihan fungsi
lingkungan hidup dengan menggunakan dana penjaminan
Selanjutnya informasi yang patut untuk ditambahkan disini adalah tahapan pemulihan
fungsi lingkungan hidup.Pemulihan fungsi lingkungan hidup dilakukan dengan tahapan:
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
b. remediasi;
c. rehabilitasi;
d. restorasi;
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.5 Pemanfaatan Pengendalian Lingkungan Hidup

Pengendalian memiliki definisi pengawasan atas kemajuan (tugas) dengan


membandingkan hasil dan sasaran secara teratur serta menyesuaikan usaha (kegiatan) dengan
hasil pengawasan. Oleh karnanya, perlu dibedakan pengendalian yang tersirat didalam definisi
Lingkungan Hidup dan Pengendalian yang menjadi obyek dari tulisan ini.
Pengendalian yang tersirat didalam pasal 1 UU tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup itu bersifat kausal. Maksudnya, pengendalian atas alam tersebut masih sangat
luas dan sangat abstrak. Manusia, benda, dan makhluk hidup yang mendiami alam secara luas
tanpa diakomodir mengendalikan alam, contoh paling sederhana adalah manusia primitive yang
masih bergantung dengan alam. Mereka percaya bahwa mereka tidak hanya satu-satunya
makhluk hidup yang menjaga alam, ada hewan, bahkan roh-roh yang dipercayai ada turut
mengendalikan alam. Oleh karna itu, pengendalian tersebut tidak ada yang mengakomodir, tidak
ada rencana jangka pendek atau rencana jangka panjang, hal ini juga disebut pengendalian pasif.
Berbeda halnya dengan pengendalian yang menjadi obyek tulisan ini, Pengendalian
yang dimaksud disini lebih sempit dari yang diatas. Pengendalian disini mematokkan manusia
sebagai pemegang kendali pertama, dan perlu dikerucutkan lagi, menjadi pemerintah yang
memegan kendali atas bumi, air, tanah dan udara indonesia. Manusia menjadi komando dalam
menyelenggarakan pengendalian lingkungan hidup.
Hal ini sangat memungkinkan karna manusia adalah kalifah di dunia ini. Oleh karna itu,
manusia berperan aktif, menentukan dan melaksanakan program pengendalian atas bumi,
menemukan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan memprediksikan hal-hal yang terkait
dengan pengendalian lingkungan hidup.
Indonesia sudah memiliki payung hukum tentang pengendalian lingkungan hidup, yaitu
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, adapula Undang-undang yang relevan terhadapnya, seperti Undang-Undang Tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, Undang-undang Pertambangan, Undang-undang perairan,
dan lain sebagainya. Relevansi dari undang-undang tersebut mampu meringankan pemerintah
dalam menyusun program jangka pendek atau jangka panjang untuk mengendalikan lingkungan.
Disamping itu, yang menjadi perhatian pemerintah dalam mengendalikan lingkungan
adalah dinamisasi dari lingkungan hidup itu sendiri. Apabila pemerintah hanya berdiri diatas
undang-undang, maka pengendalian atas lingkungan akan dirasa kurang efisien, karna sifatnya
statis .
Maka untuk menyeimbangi dinamisasi dan undang-undang yang bersifat statis pemerintah
dalam hal ini harus membuat sebuah gebrakan; mengampanyekan atau menyuarakan
pengendalian secara masal dan berkelanjutan kepada masyarakat umum, membentuk program
jangka panjang dan jangka pendek pengendalian lingkungan dari pemerintah pusat sampai
kabupaten/kota (dekonsentrasi), dan pengawasan secara berkala oleh pemerintah pusat.
Setelah mengampanyekan, membentuk program, dan melakukan pengawasan.
Lingkungan hidup yang terus berubah (dinamis) masih berada dalam pemantauan. Dengan kata
lain, manusia masih dapat mengedalikan lingkungan. Disamping itu, lingkungan hidup tentu tidak
dapat dilestarikan, manusia tidak mampu menghindari bencana alam dan lain sebagainya. Namun
manusia dapat melestarikan fungsi dari lingkungan hidup tersebut. Hal ini pula yang kemudian
menjadikan pemerintah berpikir seribu kali untuk melakukan suatu tindakan.
Seyogyanya pemerintah dalam melakukan tindakan harus berlandaskan kepada tiga prinsip; (1)
Kemaslahatan makhluk hidup, (2) Keanekaragaman Hayati, (3) Efektifitas dan Efisiensi
perbuatan. Yang dimaksudkan dari kemaslahatan makhluk hidup adalah berapa besar pengaruh
dari perbuatan tersebut untuk kemaslahatan makhluk hidup, jika itu menyakngkut dengan
kelangsungan hidup, kepentingan umum, dan profitable. Maka perbuatan tersebut harus
dilakukan. Yang dimaksud dengan keanekaragaman hayati adalah mempertanyakan, apakah
perbuatan atau tindakan tersebut mengurangi atau mengancam keanekaragaman hayati, jika tidak,
maka tindakan tersebut dapat dilakukan. Sedangkan efektifitas dan efisiensi dari perbuatan adalah
mempertanyakan, apakah perbuatan tersebut sangat efektif untuk memecahkan suatu masalah,
apakah cukup efisien.
Ketiga prinsip dasar tersebut bersifat semi-komulatif-wisdom, yaitu, ketiga-tiga prinsip
itu sekurang-kurangnya harus memenuhi dua prinsip. Setelah memilah-memilah tindakan yang
akan diambil, hal ini dapat mengurangi dampak buruk dari pengendalian lingkungan. Dan hal itu
menjadi sangat penting karna pengendalian lingkungan menjadi permasalahan abadi manusia.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Terjadinya kerusakan alam dengan campur tangan manusia, kerusakan yang


ditimbulkan oleh manusia akan berdampak buruk bagi manusia itu sendiri. Dengan
penebangan hutan dapat menyebabkan populasi hutan tidak nyaman, dengan pembangungan
pemukiman pada daerah-daerah yang subur merupakan salah satu tuntutan kebutuhan akan
pangan dan penerapan intensifikasi pertanian dengan cara panca usaha tani, di satu sisi
meningkatkan produksi, sedangkan di sisi lain bersifat merugikan.
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan,
pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup.
Masuknya radiasi matahari yang kemudian terjebak di dalam atmosfir karena adanya gas
rumah kaca (efek rumah kaca). Gas rumah kaca tersebut akan meneruskan radiasi gelombang
panjang yang bersifat panas, sehingga suhu dipermukaan bumi akan naik dan menjadi
semakin panas dimana laju peningkatan panasnya.

3.2 Saran

Sebaiknya manusia harus menjaga lingkungan dengan mengelola lingkungan hidup


agar terhindar dari kerusakan alam. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu
dalam penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, pemanfaatan, dan
pengembangan lingkungan hidup. Dengan mengelola lingkungan hidup dengan baik, bumi
akan terhindar dari kerusakan alam yang menyebabkan efek rumah kaca.
Daftar Pustaka

makalah-pengelolaan-lingkungan-hidup.html
LINGKUNGAN HIDUP.html
Lingkungan Hidup Penataaan Lingkungan hidup.html