Anda di halaman 1dari 4

A.

Pengertian Mawaris
Kata mawaris berasal dari kata waris (bahasa Arab) yang berarti mempusakai harta orang
yang sudah meninggal, atau membagi-bagikan harta peninggalan orang yang sudah meninggal
kepada ahli warisnya. Ahli waris adalah orang-orang yang mempunyai hak untuk mendapat
bagian dari harta peninggalan orang yang telah meninggal. Dalam islam terdapat ilmu faraid,
yaitu ilmu yang mempelajari tentang warisan dan perhitungannya. Dengan tujuan agar tidak
terjadi perselisihan atau perpecahan.
1. Ahli Waris
a. Ahli waris perempuan
1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki
3. Ibu
4. Nenek dari ibu
5. Nenek dari bapak
6. Saudara perempuan kandung
7. Saudara perempuan bapak
8. Saudara perempuan ibu
9. Istri
10. Wanita yang memerdekakan si pewaris
b. Ahli waris laki-laki
1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya
3. Bapak
4. Kakek dari bapak dan terus ke atas
5. Saudara laki-laki sekandung
6. Saudara laki-laki sebapak
7. Saudara laki-laki seibu
8. Anak laki-laki saudar laki-laki kandung
9. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak
10. Paman yang sekandung dengan bapak
11. Paman yang sebapak dengan bapak
12. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak
13. Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak
14. Suami
15. Laki-laki yang memerdekakan si pewaris
B. Ketentuan Tentang Harta dalam Mawaris

1. Zawil Furud
Adalah ahli waris yang perolehan harta warisannya sudah di tentukan oleh dalil al quran dan
hadist (Q.S Annisa;11, 12, dan 176).
1. Assabah
Adalah ahli waris yang bagian penerimaannya tidak ditentukan, tetapi menerima dan
menghabiskan sisanya.
a. Assabah Binafsih
yaitu asabah yang berhak mendapat semua harta atau semua sisa, diatur menurut susunan sebagai
berikut:
1. anak laki-laki
2. cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus kebawah
3. bapak
4. kakek
5. saudara laki-laki sekandung
6. saudara laki-laki sebapak
7. anak saudara laki-laki kandung
8. anak saudara laki-laki sebapak
9. paman yang sekandung sebapak
10. paman yang sebapak dengan bapak
11. anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak
13. anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak
b. Assabah Bilghair
Perempuan juga ada yang menjadi asabah dengan ketetapan sebagai berikut:
1. Anak laki-laki dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah dengan
ketentuan bahwa anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat perempuan
2.Cucu laki-laki dari anak laki-laki dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi
asabah
3.Saudara laki-laki sekandung juga dapat menarik saudaranya yang perempuan yang menjadi
asabah
4. Saudara laki-laki sebapak juga dapat menarik saudaranaya yang perempuan menjadi
asabah
c. Asabah Ma’alghair
asabah alghair disebut juga asabah bersama orang lain, yaitu sebagai berikut:
1. saudara perempuan sekandung apabila ahli warisnya saudara perempuan sekandung
dan anak perempuan atau saudara perempuan sekandung dan cucu perempuan, maka saudara
perempuan menjadi asabah ma’alghair.
2. saudara perempuan sebapak apabila ahli waris saudara perempuan sebapak dan anak
perempuan, atau saudara perempuan sebapak dan cucu perempuan, maka saudara
perempuan menjadi asabah ma’alghair.

2. Hijab dan Mahjub


Hijab (penghalang) yaitu ahli waris yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih
jauh sehingga ahli waris yang lebih jauh tidak dapat menerima, atau bisa menerima, tetapi
bagiannya menjadi berkurang. Hijab di bagi 2 yaitu :
 Hijab hirman, yaitu ahli waris yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh
sehingga ahli waris yang lebih jauh sama sekali tidak menerima bagian.
 Hijab nuqsan, yaitu ahli waris yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh
sehingga ahli waris yang lebih jauh bagiannya berkurang.
Mahjub (terhalang), yaitu ahli waris yang lebih jauh terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat
sehingga sama sekali tidak dapat menerima, tetapi bagiannya berkurang.
1. Batalnya Hak Menerima Waris

Sekalipun mempunyai hak menerima waris dari seseorang yang meninggal dunia, tetapi
hak itu dapat batal karena hal-hal sebagai berikut ini:
a. Tidak beragama islam
b. Murtad dari agama islam
c. Membunuh
d. Menjadi hamba

Pada saat jenazah dimakamkan, sebelum dilaksanakan pembagian warisan, pihak


keluarga atau ahli waris terledih dahulu harus menyelesaikan beberapa hal yang ada sangkut
pautnya dengan harta peninggalan, yaitu
1. Zakat
2. Hutang
3. Biaya perawatan
4. Membayar wasiat
5. Memenuhi nazar jenazah

A. Mawaris di Indonesia
Menurut hukum adat, harta peninggalan itu terdiri dari :
1. Harta peninggalan yang tidak dibagi
contoh: harta pustaka menurut adat Minangkabau
2. Harta benda yang dibagi
a. Harta yang diberikan oleh orang tua
b. Harta yang diwariskan sewaktu orang tua masih hidup
1. Hukum Adat yang Sesuai dengan Hukum Islam
a. Islam mengikut sertakan kaum wanita sebagai ahli waris sebagaimana kaum pria.
b. Islam membagi harta warisan kepada segenap ahli waris secara demokratis dan adil.
2. Hukum Adat yang Tidak Sesuai dengan Ajaran Islam
a. Anak angkat mendapatkan warisan
b. Perempuan lebih banyak dari laki-laki
c. Pembagian tanpa ada musyawarah

B. Hikmah Mawaris
1. Membawa keteraturan dan ketertiban harta benda
2. Menegakan nilai prikemanusiaan, kebersamaan, dan demokratis diantara manusia
3. Ikut memelihara ketentuan dari Allah yang terdapat dalam alquran
4. Menghindari perpacahan antar keluarga
5. Memelihara harta peninggalan dengan baik
6. Memperhatikan anak yatim
7. Anggota keluarga merasakan kepuasan sehingga dapat hidup dengan tenteram
8. Memahami tentang hak-hak waris