Anda di halaman 1dari 2

Tempat lesi terbanyak berada pada ekstremitas bawah, yang mana ini berhubungan dengan

temuan klinis pada penelitian ini, seperti eritema induratum bazin, yang membutuhkan kondisi
defisiensi sirkulasi pada tungkai saat emergensi.5
Sepertiga pasien yang mengalami tuberculosis kutis dihubungkan dengan tuberculosis
ekstra kutis, dan kelenjar limfe menjadi area yang paling dipengaruhi, ini sejalan dengan penelitian
oleh Bhuto et al. (22,2%).48 Akan tetapi, penelitian lain menemukan frekuensi yang lebih tinggi
yang dilakukan oleh Terranova et al (80,7%)40 dan Thakur et al (52,4%)39. Hasil ini menampakkan
bahwa perlunya peneitian lebih lanjut pada focus lain pada kasus tuberculosis kutis ini, dimana
ada kemungkinan lain mengenai morbiditas, mortalitas yang diakibatkan oleh penyakit ini.45
Pada kebanyakan kasus, PPD positif, basiloskopi negative dan pemeriksaan kultur yang
sama dengan temuan klinis yang sering ditemukan seperti tuberculosis pausibasiler. Thakur et al39
mengambil 42 pasien yang diperiksa PPD, kebanyakan dari mereka menjadi reactor dan juga
dilanjutkan dengan biopsy untuk mencari lesi histopatologis dengan hasil tidak ada bukti dari basil.
Hasil ini konsisten dengan bentuk atau tipe predominant seperti scrofuloderma.
Kebanyakan pasien yang dimasukkan pada penelitian histopatologi, lesi kutan
menggambarkan keberadaan granulomatosa kronis, yang merupakan temuan karakteristik
terbanyak. Data ini didapatkan dari penelitian yang dilakukan di Negara-negara Asia dan Spanyol.
32,35,37-39,46,48-50

Kebanyakan pasien pada penelitian ini mendapatkan terapi dasar dengan respon yang baik,
sejalan dengan data yang didapat oleh Ranawaka et al46 dan Varshney et al32. Tetapi, beberapa
pasien hanya mendapatkan monoterapi dengan isoniazid atau terapi desensitisasi. Belakangan,
prosedur ini tidak direkomendasikan dikarenakan akan terjadi kemungkinan resistensi obat.
Tambahan, terapi ini terkadang tidak adekuat pada hal yang berhubungan dengan kulit, walaupun
terapi ini telah digunakan pada beberapa pasien saat diobservasi pada penelitian Brown et al 51dan
Chong et al43
Pada kesimpulan, penelitian ini menemukan 0,44% manifestasi dari tuberculosis kutis dan
0,3% diantara penyakit kulit. Eritema induratum bazin merupakan kasus yang paling banyak, yang
menyerang ekstremitas bawah dan kebanyakan mengenai wanita paruh baya. Ada keterlibatan
ekstra kutan tuberculosis pada sepertiga individu. Berdasarkan tes PPD, kebanyakan pasien
reactor, dimana basiloskopi negative dihampir semua tes histopatologi.
Dari keterbatasan penelitian ini, bisa diobservasi bahwa pemeriksaan untuk megkonfirmasi
dari diagnosis cukup kurang, terutama oleh karena kurangnya data yang berhubungan dengan
kultur basil dan tes PCR pada fragmen kulit. Tambahan, pengumpulan data hanya dari satu pusat
kesehatan, yang merupakan sampel yang kecil, walaupun ini berdasarkan referensi untuk
tuberculosis di Republik Espiro Santo.
Penelitian ini menyediakan data epidemiologi dari tuberculosis kutis di Republik Espiro
Santo, yang hasilnya memiliki pravalensi tinggi dari tuberculosis di Brazil, identifikasi temuan
klinis yang paling sering dijumpai, yang dapat memperlihatkan literature data nasional dan
menjadi panggilan perhatian bagi tenaga professional kesehatan yang diharapkan agar mereka
dapat meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit yang sering diabaikan keberadaan nya di
dunia ini.