Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 STATUS PASIEN


1. Identitas Pasien
Nama : An. D
Umur : 9 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : RT. 4 Olak Kemang
2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
Status Perkawinan : Belum menikah
Jumlah Anak :-
Jumlah Saudara : 3 saudara
Status Ekonomi Keluarga : Cukup
Kondisi Rumah : Rumah pasien merupakan rumah panggung
dengan luas ± 6 x 10 m yang dihuni oleh 3 orang yaitu pasien, ibu dan
ayah pasien. Rumah pasien disertai ventilasi di bagian depan dan samping
rumah. Pintu dan jendela rumah terdapat di depan, samping dan belakang
rumah. Terdapat 2 buah kamar dan tidak terdapat jendela pada kamar. Air
yang digunakan untuk minum, masak dan mandi dari PDAM, terdapat 1
buah wc/jamban di dalam rumah. Lingkungan sekitar rumah cukup padat.
Kondisi Lingkungan Keluarga: Baik
3. Aspek Psikologis Keluarga : Pasien tinggal bersama kedua orang tua
pasien.
4. Riwayat Penyakit Dahulu/penyakit keluarga :
Pasien belum pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya. Keluarga
pasien tidak ada yang memiliki keluhan/penyakit yang sama dengan
pasien.
5. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan mencret sejak 2 hari sebelum
berobat ke Puskemas, pasien BAB cair 3 kali dalam sehari, banyaknya ¼-
½ gelas belimbing setiap kali mencret dengan konsistensi cair dengan
sedikit ampas, lendir (+), darah (-), bau busuk(-). Muntah ada.
Ibu pasien mengaku pasien menjadi rewel, nafsu makan tidak
berkurang, pasien masih mau minum dengan lahap. Pasien juga demam,

1
panas naik turun dan tidak disertai menggigil dan tidak ada kejang.
keluhan batuk dan pilek disangkal.
Ibu pasien mengaku pasien buang air kecil biasa dengan warna
kuning jernih. Sehari-hari pasien makan seperti biasa, minum ASI dibantu
dengan susu formula, pasien sehari sebelumnya makan jajanan yang dibeli
ibu pasien di pasar. Riwayat ganti makanan (-), riwayat ganti susu (-).
6. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Tampak gelisah
Kesadaran : Compos mentis
2. Pengukuran Tanda Vital :
Nadi : 86x per menit, reguler, lemah
Suhu : 37,2°C
Respirasi : 22x/menit, reguler
BB : 7,8 kg
Riwayat kehamilan dan kelahiran :
Masa kehamilan : Cukup bulan
Partus : Lahir spontan
Tempat : Bidan
Ditolong oleh : Bidan
BBL : 2,7 Kg
PB : ibu lupa
Kepala :
Bentuk : Simetris, normocephal
Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, Refleks
Cahaya (+/+)
Telinga : Dalam Batas Normal
Hidung : Napas cuping hidung -/-, Sekret -/-, Epistaksis -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), Mukosa basah (+), lidah kotor(-)
Thoraks
Inspeksi : Simetris, retraksi (-)
Palpasi : Krepitasi (-)
Auskultasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, wheezing -/-
BJI dan II regular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, venektasi (-)
Palpasi : soepel, turgor kulit kembali lambat,
Hepar lien tidak teraba

2
Auskultasi : Bising usus (+) meningkat, metallic sound (-)
Ekstremitas : Akral hangat +/+, edema -/-
7. Laboratorium
Pemeriksaan Anjuran : Feses Rutin
8. Diagnosa Kerja
Gastroenteritis akut
9. Manajemen
a. Preventif
 Ibu lebih cermat dan selektif dalam memilih makanan untuk
anaknya
 Menggunakan air bersih yang telah dimasak
 Ibu menjaga kebersihan pasien dengan memotong kuku dan
mandi secara teratur
 Ibu dan pasien diharapkan mencuci tangan dengan sabun
sebelum menyentuh makanan dan sesudah buang air besar
serta setelah membersihkan BAB pasien
 Ibu dianjurkan mencuci peralatan untuk makanan dengan
bersih
 Mengawasi pasien saat bermain dan membersihkannya jika
kotor setelah bermain
 Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar
b. Promotif
 Edukasi mengenai pengaruh lingkungan terhadap penyakit
yang diderita pasien
 Menjaga kebersihan pasien dan kedua orang tuanya.
 Mencuci tangan setiap sesudah membersihkan BAB pasien.
 Makan makanan yang sehat dan bergizi
 Menggunakan air yang bersih untuk keperluan sehari-hari
c. Kuratif
1. Non farmakologi
 Minum air putih yang banyak
 Diet bubur + Susu formula dan ditambah buah-buahan seperti
pisang
 Oralit 3x1 sachet jika mencret dan muntah
 Kompres hangat
2. Farmakologi
 Paracetamol syrup 3x1 per oral jika demam
 Zink tab 20 mg 1x1 tab per oral
3. Tradisional :

3
Ambil bawang merah secukupnya dan minyak kelapa. Hancurkan
bawang dan tambahkan sedikit minyak kelapa kemudian balurkan
ramuan ini di atas perut anak.
4.
Dinas Kesehatan Kota Jambi
Puskesmas Olak kemang
dr. Yuni SIP. G1A215030 STR 016/47/2016

Tanggal : 12 Juli 2016

R/ Oralit Sach No. V


S 3 d d 1 sach p. r. n
R/ Paracetamol syr btl No. I
S 3 d d 1 C p. r. n
R/ Zink Tab 10 mg No.X
S 1 d d 1 tab
Pro : An.D Umur : 9 bulan BB:7,8kg
Resep tidak boleh di tukar tanpa sepengetahuan dokter
Rehabilitasi
- Edukasi mengenai penyakit kepada ibu pasien
- Minum obat secara teratur
- Rehidrasi
- Makan makanan yang sehat dan bergizi
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
Obat yang diresepkan

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Diare akut pada anak adalah diare yang terjadi secara mendadak dan
berlangsung kurang dari 14 hari (kebanyakan kurang dari 7 hari) pada bayi atau
anak yang sebelumnya sehat. Ada juga yang memberi batasan diare akut pada
anak yaitu buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair
dan berlangsung kurang dari 1 minggu. 1,2,3,4

5
2.2 Epidemiologi
Diare akut merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan
mortalitas anak-anak di berbagai negara berkembang termasuk di Indonesia.
Terdapat 60 juta episode diare akut setiap tahunnya di Indonesia dimana 1-5 %
daripadanya akan menjadi diare kronik dan bila sampai terjadi dehidrasi berat
yang tidak segera ditolong, 50-60% diantaranya dapat meninggal dunia.3

Berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian diare antara lain :


 Faktor lingkungan
 Gizi
 Kependudukan
 Pendidikan
 Keadaan sosial ekonomi
 Perilaku masyarakat
Faktor lingkungan yang dimaksud adalah kebersihan lingkungan dan
perorangan seperti kebersihan puting susu, kebersihan botol dan dot susu, maupun
kebersihan air yang digunakan untuk mengolah susu dan makanan. Faktor gizi
misalnya adalah tidak diberikannya makanan tambahan meskipun anak telah
berusia 4-6 bulan. Faktor pendidikan yang utama adalah pengetahuan ibu tentang
masalah kesehatan.Faktor kependudukan menunjukkan bahwa insiden diare lebih
tinggi pada penduduk perkotaan yang padat dan miskin atau kumuh.Sedangkan
faktor perilaku orangtua dan masyarakat misalnya adalah kebiasaan ibu yang tidak
mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar atau
membuang tinja anak. Kesemua faktor di atas terkait erat dengan faktor ekonomi
masing-masing keluarga.2,5

2.3 Etiologi

Penyebab diare akut antara lain yaitu virus, bakteri, parasit, alergi susu sapi,
laktose defisiensi primer dan obat-obatan tertentu .Penyebab utama oleh virus
adalah Rotavirus (40-60%) sedangkan virus lainnya yaitu virus Norwalk,
Astrovirus, Calcivirus, Coronavirus, Minirotavirus dan virus bulat kecil.

6
Bakter-bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah Aeromonas
hydrophyla, Escherichia coli enteroaggregatife, E. coli enteroinvansife, E.
colihalemortagik, Plesiomonas shigelloides, Vibrio cholerae non-01, V.
Parahemolyticus, Yersina enterocolotica.

Sedangkan penyebab diare oleh parasit adalah Giardia lamblia, Entamoeba


histolytica, Isospora belli, Balantidium coli, Cryptosporodium, Capillaria
philipinensis, Fasiolopsisbuski, Sarcocystis suihominis, Strongiloides strecoralis,
dan Trichuris trichiura.2,4,5

2.4 Patogenesis

Virus

Beberapa jenis virus seperti Rotavirus, berkembang biak dalam epitel vili
usus halus, menyebabkan kerusakan sel epitel dan pemendekan vili.
Hilangnya sel-sel vili yang secara normal mempunyai fungsi absorbsi dan
penggantian sementara oleh sel epitel berbentuk kripta yang belum
matang, menyebabkan usus mensekresi air dan elekrolit. Kerusakan vili
dapat juga dihubungkan dengan hilangnya enzim disakaridase terutama
laktase. Penyembuhan terjadi bila vili mengalami regenerasi dan epitel
vilinya menjadi matang.

Bakteri

Penempelan di mukosa. Bakteri yang berkembang biak dalam usus halus
pertama-tama harus menempel mukosa untuk menghindarkan diri dari
penyapuan. Penempelan terjadi melalui antigen yang menyerupai rambut
getar, disebut pili atau fimbria yang melekat pada reseptor di permukaan
usus. Hal ini terjadi misalnya pada E. coli enterotoksigenik dan V.
Cholera01. Pada beberapa keadaan, penempelan di mukosa dihubungkan
dengan perubahan epitel usus yang menyebabkan pengurangan kapasitas

7
penyerapan atau menyebabkan sekresi cairan (misalnya infeksi E. coli
enteropatogenik atau enteroaggrerasi).

Toksin yang menyebabkan sekresi. E. coli enterotoksigenik, V. cholerae01
dan beberapa bakteri lain mengeluarkan toksin yang menghambat fungsi
sel epitel. Toksin ini mengurangi absorbsi natrium melalui vili dan
mungkin meningkatkan sekresi chlorida dari kripta, yang menyebabkan
sekresi air dan elektrolit. Penyembuhan terjadi bila sel yang sakit diganti
dengan sel yang sehat setelah 2-4 hari.

Invasi mukosa. Shigella, C. Jejuni, E. coli enteroinvasife dan Salmonella
dapat menyebabkan diare berdarah melalui invasi dan perusakan sel epitel
mukosa. Ini terjadi sebagian besar di colon dan bagian distal ileum. Invasi
mungkin diikuti dengan pembentukan mikroabses dan ulkus superfisial
yang menyebabkan adanya sel darah merah dan sel darah putih atau
terlihat adanya darah dalam tinja. Toksin yang dihasilkan oleh kuman ini
menyebabkan kerusakan jaringan dan kemungkinan juga sekresi air dan
elektrolit dari mukosa.3
Parasit

 Penempelan mukosa. G. Lamblia dan Cryptosporodium menempel


pada epitel usus halus dan menyebabkan pemendekan vili yang
kemungkinan menyebabkan diare.
 Invasi mukosa. E. histolytica menyebabkan diare dengan cara
menginvasi epitel mukosa di kolon atau ileum yang menyebabkan
mikroabses dan ulkus. Namun hal ini baru terjadi bila strainnya sangat
ganas.
2.5 Patofisiologi

Ada 2 prinsip mekanisme terjadinya diare yaitu sekretorik dan osmotik.

Diare sekretorik

Diare sekretorik disebabkan karena sekresi air dan elektrolit ke dalam usus
halus.Hal ini terjadi bila absorbsi natrium oleh vili gagal sedangkan sekresi
chlorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat.Hasil akhirnya adalah

8
sekresi cairan yang menebabkan kehilangan air dan elektrolit dari tubuh sebagai
tinja cair yang dapat menyebabkan dehidrasi.Pada diare infeksi perubahan ini
terjadi karena adanya rangsangan pada mukosa usus oleh toksin bakteri seperti
toksin E.coli dan V. cholerae 01 atau virus (Rotavirus).

Diare osmotik

Diare osmotik terjadi bila suatu bahan yang secara osmotik aktif dan sulit
diserap. Jika bahan semacam itu berupa larutan isotonik, air dan bahan yang larut
di dalamnya akan lewat tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare. Bila substansi
yang diabsorbsi dengan jelek berupa larutan hiprtonik, air dan beberapa elektrolit
akan pindah dari cairan ekstraseluler ke dalam lumen usus sampai osmolaritas dari
isi usus sama dengan cairan eksreaseluler dan darah. Hal in meningkatkan volume
tinja dan menyebabkan dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh.3

Pada diare akan terjadi kekurangan air (dehidrasi), gangguan keseimbangan


asam basa (asidosis metabolik), yang secara klinis berupa pernafasan kusmaull,
hipoglikemia, gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi.2,6

2.6 Manifestasi Klinis

Awalnya anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan meningkat, nafsu


makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Gejala muntah dapat
terjadi sebelum dan/ sesudah diare. Bila telah banyak kehilangan air dan elektrolit
terjadilah dehidrasi.Berat badan turun.Pada bayi, ubun-ubun besar cekung.Tonus
dan turgor kulit berkurang. Selaput lendir bibir dan mulut kering.2,6

Cara praktis penatalaksanaan diare yaitu berdasarkan tipe klinis diare itu
sendiri. Terdapat 4 macam tipe klinis diare, dimana tiap macam menggambarkan
kelainan yang mendasari dan perubahan fisiologi yang berbeda-beda :

Diare cair akut (termasuk kolera) yang berlangsung beberapa jam
sampai dengan beberapa hari. Pada diare ini perlu diwaspadai bahaya
terjadinya dehidrasi, juga dapat terjadi penurunan berat badan apabila
intake makanan kurang.

9

Diare akut dengan pendarahan (disentri) , dimana pada diare ini bahaya
utamanya adalah kerusakan usus, sepsis, dan malnutrisi serta dehidrasi.

Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih), dimana
bahaya utamanya adalah malnutrisi dan infeksi non intestinal berat
serta dehidrasi.

Diare dengan malnutisi berat (marasmus atau kwashiorkor) dengan
bahaya utamanya antara lain infeksi sistemik berat, dehidrasi, gagal
jantung, dan defisiensi mineral dan vitamin.7,8
2.7 Pencegahan

Diare dapat dicegah dengan memperbaiki usaha multisektoral antara lain


sebagai berikut :
-
Meningkatkan sarana air besih dan sanitasi umum
-
Promosi pendidikan higiene
-
Pemberian ASI eksklusif
-
Meningkatkan ketrampilan mengasuh anak
-
Imunisasi pada anak : khususnya untuk membasmi campak
-
Menggunakan jamban /wc
-
Menjaga kebersihan makanan dan minuman
-
Mencuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh makanan
-
Mencuci peralatan makan.8

2.8 Penegakan Diagnosis

1. Anamnesis
a. Riwayat diare sekarang :
-
Sudah berapa lama diare berlangsung
-
Total diare dalam 24 jam, diperkirakan dari frekuensi diare dan
jumlah tinja
-
Keadaan klinis tinja (warna, konsistensi, ada lendir atau darah
tidak)
-
Muntah (frekuensi dan jumlah)

10
-
Demam
-
Buang air kecil terakhir
-
Anak lemah, rewel, rasa haus, kesadaran menurun
-
Jumlah cairan yang masuk selama diare
-
Tindakan yang telah diambil (diberi cairan, ASI, makanan, obat,
oralit)
-
Apakah ada yang menderita diare di sekitarnya
-
Riwayat bepergian ke daerah yang sedang terkena wabah diare
-
Kontak dengan orang yang sakit
-
Penggunaan antibiotik. 4, 6
b. Riwayat diare sebelumnya : kapan, berapa lama
c. Riwayat penyakit penyerta saat ini
d. Riwayat imunisasi : lengkap atau tidak.
e. Riwayat makanan sebelum diare : ASI, susu formula, makan makanan
yang tidak biasa.7
2.Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan tanda utama yaitu,


kesadaran, rasa haus, turgor kulit abdomen.Perhatikan juga tanda
tambahan, yaitu ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata cekung atau
tidak, ada atau tidaknya air mata, kering atau tidaknya mukosa mulut, bibir
dan lidah.Jangan lupa menimbang berat badan.Perhatikan pula ada
tidaknya pernafasan cuping hidung, retraksi interkostal, akral dingin,
perfusi jaringan serta derajat dehidrasinya.

Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut :

a. Tanpa dehidrasi (kehilangan caiaran < 5% berat badan)


-
Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan
-
Keadaan umum baik baik dan sadar
-
Tanda vital dalam batas normal
-
Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan bibir basah

11
-
Turgor abdomen baik, bising usus normal
-
Akral hangat
Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain
(tidak mau minum, muntah terus menerus, diare yang frekuen).

b. Dehidarasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)


- Apabila di dapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih
tanda tambahan
- Keadaan umum gelisah dan cengeng
- Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata
kurang, mukosa mulut dan bibir sedikit kering
- Turgor kurang
- Akral hangat
- Pasien harus rawat inap.
c. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
-
Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda
tambahan
-
Keadaan umum lemah, letargi tau koma
-
Ubun-ubun besar sangat cekung, mata sangat cekung, air mata
tidak ada, mukosa mulut dan bibir sangat kering
-
Turgor buruk
-
Akral dingin
-
Pasien harus rawat inap.4
Tabel 2.1 Penilaian dehidrasi menurut MTBS
3

Terdapat 2 atau lebih dari tanda-tanda


berikut ini :
 Letargis atau tidak sadar
 Mata cekung
 Tidak bisa minum atau malas Dehidrasi berat
minum
 Cubitan kulit perut kembalinya
sangat lambat
Terdapat 2 atau lebih tanda-tanda
berikut ini:

12
 Gelisah, rewel
 Mata cekung Dehidrasi ringan/sedang
 Haus, minum dengan lahap
 Cubitan kulit perut kembalinya
lambat

Tidak cukup tanda-tanda untuk


diklasifikasikan dehidrasi berat atau Tanpa dehidrasi
ringan/sedang

1. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaaan tinja
-
Makroskopis : bau, warna, lendir, darah , konsistensi
-
Mikroskopis: eritrosit, lekosit, bakteri, parasit
-
Kimia : PH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)
-
Biakan dan uji sensitivitas
b. Pemeriksaan darah : Darah lengkap, analisis gas darah dan elektrolit
(terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare
yang disertai kejang), kadar uerum dan kreatinin
darah.
c. Pemeriksaan urin : urin rutin.2
2.9 Penatalaksanaan

1. Atasi dehidrasi
 Tanpa dehidrasi
Cairan rumah tangga dan ASI diberikan semaunya, oralit
diberikan sesuai usia setiap kali buang air besar atau muntah
dengan dosis:

- < 1 tahun: 50-100 cc


- 1-5 tahun : 100-200 cc
- 5 tahun : semaunya.
 Dehidrasi ringan sedang
Rehidrasi dengan oralit 75 cc/kgBB dalam 3 jam pertama
dilanjutkan pemberian kehilangan cairan yang sedang

13
berlangsung sesuai umur seperti di atas setiap kali buang air
besar.

 Dehidrasi berat
Rehidrasi parenteral dengan cairan ringer laktat atau ringer asetat 100
cc/kgBB. Cara pemberian :

- < 1 tahun 30cc/kgBB dalam 1 jam pertama dilanjutkan 70


cc/kgBB dalam 5 jam berikutnya.
- 1 tahun : 30 cc/kgBB dalam ½ jam pertama dilanjutkan 70
cc/kgBB dalam 2 ½ jam berikutnya.
Minum diberikan jika pasien sudah mau minum 5 cc/kgBB
selama proses rehidrasi.

2. Pemakaian antibiotik
Bila ada indikasi seperti pada Shigella dan Cholera.Antibiotik
sesuai dengan hasil pemeriksaan penunjang.Sebagai pilihan adalah
kotrimoksazol, amoksisilin dan atau sesuai hasil uji sensitivitas.

3. Diet
Anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit
tapi sering, rendah serat, buah-buahan diberikan terutama pisang.

4. Jangan mengunakan spasmolitika


5. Koreksi elektrolit : koreksi bila terjadi hipernatremia, hiponatremia,
hiperkalemia atau hipokalemia.
6. Vitamin A
- 6 bulan – 1 tahun : 100.000 IU
- >1 tahun : 200.000 IU

7. Pendidikan orangtua : penyuluhan tentang penanganan diare dan cara-cara


pencegahan diare.4
Indikasi rawat inap :

Diare akut dengan dehidrasi berat

14

Diare akut dehidrasi ringan sedang dengan komplikasi

Usia < 6 bulan (usia yang mempunyai resiko tinggi mengalami
dehidrasi), buang air besar cair > dari 8 kali dalam 24 jam dan muntah
> dari 4 kali sehari.1

2.10 Pemantauan

1) Terapi
Setelah pemberian caiaran rehidrasi harus dinilai ulang derajat
dehidrasi, berat badan, gejala dan tanda dehidrasi.Jika masuh dehidrasi
maka dilakukan rehidrasi ulang sesuai dengan derajat dehidrasinya.Jika
setelah 3 hari pemberian antibiotik klinis dan laboratorium tidak ada
perubahan maka dipikirkan penggantian antibiotik sesuai hasil uji
sensitivitas.

2) Tumbuh kembang
3) Timbang berat badan sebelum dan sesudah rehidrasi, 2 minggu setelah
sembuh dan seterusnya secara periodik sesuai umur. Jika anak mengalami
gizi buruk maka dikelola sesuai dengan SPM gizi buruk
Penderita dapat dipulangkan bila penderita tidak dehidrasi, keadaaan
umum dan tanda vital baik, sudah bisa makan dan minum.1

BAB III
ANALISA KASUS

Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar :


Penyakit ini mempunyai hubungan dengan keadaan rumah, yaitu
kebersihan rumah dan sarana air bersih serta ventilasi rumah. Rumah yang tidak
bersih dan sehat dapat menyebabkan kuman-kuman berkembang dengan baik
sehingga dapat menimbulkan penyakit. Terdapat hubungan antara penyakit pasien
dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar.

Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga :

15
Penyakit ini mempunyai hubungan dengan status ekonomi keluarga secara
tidak langsung, dimana status ekonomi cukup sehingga dapat memberikan
makanan yang sehat dan bergizi. Status ekonomi cukup dan latar pendidikan
keluarga pasien rendah. Terdapat hubungan antara keadaan keluarga dengan
penyakit yang diderita pasien.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar
Penyakit ini mempunyai hubungan dengan perilaku kesehatan dan
lingkungan sekitar seperti perilaku mencuci tangan sebelum menyentuh makanan,
sesudah BAB, ataupun setelah memegang sesuatu yang kotor, membersihkan
peralatan makan dengan air bersih, menjaga kebersihan makanan yang dikosumsi,
menggunakan air yang sehat dan bersih untuk keperluan sehari-hari serta menjaga
kebersihan diri dan rumah. Lingkungan sekitar mempunyai pengaruh yang kuat
pada penyakit ini seperti lingkungan sekitar rumah yang kotor atau terdapat
kandang ternak dekat dari rumah.
Ibu pasien mencuci tangan dengan sabun hanya sesudah BAB, sebelum
memberi makan pasien ibu hanya mencuci dengan air saja. Terdapat hubungan
antara perilaku dengan penyakit yang diderita pasien.

Analisis kemungkinan faktor risiko atau etiologi penyakit pada pasien :


Pada pasien ini dari anamnesis yang dilakukan terhadap berbagai faktor
yang bisa menyebabkan terjadinya penyakit ini didapatkan kesimpulan
kemungkinan penyakit yang diderita pasien mempunyai hubungan dengan
keadaan rumah pasien, perilaku pasien dan ibu pasien serta latar belakang
pendidikan ibu pasien sendiri.

Analisis untuk mengurangi paparan :


Ibu pasien diedukasi mengenai hubungan penyakit dengan lingkungan
sekitar terutama rumah sehingga dianjurkan untuk membersihkan rumah dan
lingkungan sekitar. Edukasi mengenai hidup sehat dengan mencuci tangan

16
sebelum menyentuh makanan dan setelah BAB serta setelah memegang sesuatu
yang kotor. Ibu pasien harus lebih menjaga kebersihan diri dan pasien dengan
mandi setiap hari, membersihkan pasien setelah bermain serta memotong kuku
pasien. Ibu pasien juga diharapkan untuk selektif dalam memilih makanan yang
dikosumsi anak yaitu makanan yang sehat dan bersih.

DAFTAR PUSTAKA

1. Armon, 2001. An evidence and consensus based guideline for acute diarrhoea
management. mk.armon@ntlworld.com
2. Aswitha, dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran; Gastroenterologi Anak. Media
Aesculapius. Jakarta, hal : 470 –471
3. Ditjen PPM & PLP, 1999. Buku Ajar Diare. Jakarta, hal : 8-10.
4. IDAI, 2004. Standar Pelayanan Medis. Badan Penerbit IDAI. Jakarta, hal : 49-52.
5. Irwanto, 2002. Ilmu Penyalit Anak; Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba
Medika. Jakarta, hal : 73 – 79.
6. Randy P Prescilla, MD, FAAP, 2006. Gastroenteritis. www.emedicinehealth.com

17
7. Subagyo, 2004. Standar Pelayanan Medis Kelompok Staf Medis Fungsional Anak
RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Surakarta, hal : 58-63.
8. WHO, 2004. Diarrhoea : Water, Sanitation and Hygiene Links to Health.

LAMPIRAN

18