Anda di halaman 1dari 120

R

ISSN : 2086 – 809X


-------------------------------------------------
------------------------------------------------

R
Volume 4 Issue 1, Mei 2015

EPERTORIUM
Jurnal Ilmiah Hukum
Kenotariatan
-------------------------------------------------------------------------

Program Studi Magister Kenotariatan Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI)
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kota Palembang
Volume issue Halaman Palembang ISSN:
REPERTORIUM
4 1 1-112 Mei 2015 2086-809X
Volume: 4 Issue 1, Mei 2015
-------------------------------------------------
-------------------------------------------------
-----

R
EPERTORIUM
Jurnal Ilmiah Hukum
Kenotariatan
-------------------------------------------------
-------------------------------------------------
-------
Volume Issue Halaman Palembang ISSN:
REPERTORIUM
4 1 112 Mei 2015 2086-809X

Program Studi Magister Kenotariatan Pengurus Daerah


Ikatan Notaris Indonesia (INI)
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kota Palembang
Kenotariatan Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesi
DEWAN REDAKSI

REPERTORIUM
Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan
ISSN: 2086-809X

Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya


dan
Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kota Palembang
Ikatan Alumni (IKA) Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universiats Sriwijaya

Keputusan Dekan FH Universitas Sriwijaya Nomor: 001/SK-FH/2009 Tanggal: 11 Januari 2010

Pembina:
Prof. Amzulian Rifai, S.H., LLM., Ph.D. (Dekan FH Universitas Sriwijaya).

Penanggung Jawab Umum:


Saut P. Panjaitan, S.H., M.Hum. (Ketua P.S. M.Kn FH Universitas Sriwijaya).

Ketua Penyunting:
Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum.

Sekretaris Penyunting:
Mada Apriandi Zuhir, S.H., MCL.

Penyunting Ahli:
Prof. Dr. Joni Emirzon, S.H., M.Hum. (Koordinator/FH Universitas Sriwijaya).
Prof. Dr. Sri Rezeki Hartono, S.H.(Mitra Bestari/FH Universitas Diponegoro).
Prof. Dr. Veronica Komalawati, S.H., M.H. (Mitra Bestari/FH Universitas Padjadjaran).
Prof. Dr. Sugito, S.H., M.H. (Mitra Bestari/FH Universitas Gadjah Mada).
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H. (Mitra Bestari/FH Universitas Sumatera Utara).

Penyunting Pelaksana:
Dr. Happy Warsito, S.H., M.Sc., H. Amrullah Arpan, S.H., S.U., Dr. Firman Muntaqo, S.H., M.Hum.,
Notaris H. Kms. Abdullah Hamid, S.H., Sp.N., M.H.,
Notaris H. Achmad Syarifudin, S.H., Sp.N., Notaris Herman Andriansyah, S.H., Sp.N.

Administrasi dan Sirkulasi:


Tri Cahya Putri, S.Kom.
Widi Widodo

Redaksi/Tata Usaha:
Kampus FH Unsri Palembang, Telp./Fax. 0711-352034,
e-mail: repertorium_mkn_fhunsri_@yahoo.co.id, Mobile: 0819.333.99726.
website :http.www.notariat.fh.unsri.ac.id

REPERTORIUM Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan , diterbitkan oleh Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun, pada bulan Mei dan Oktober,
sebagai media komunikasi dan pengembangan ilmu. Redaksi menerima naskah artikel laporan penelitian dan
artikel konseptual yang harus relevan dengan visi dan misi redaksi serta mengacu kepada Pedoman Sistematika
dan Teknis Penulisan yang telah ditentukan. Redaksi berhak mengubah naskah sepanjang tidak mengubah
substansi isinya.

ii
PENGANTAR REDAKSI

Puji dan syukur kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, karena berkat ridho-
Nya jualah Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium” Volume 4 Issue 1,
Mei 2015 ini telah dapat diterbitkan sesuai dengan harapan segenap civitas
akademica Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya, Pengurus Ikatan Mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan Pengurus Wilayah Ikatan Notaris
Indonesia Suamtera Selatan.

Penamaan berkala, kelembagaan penerbit, penyuntingan, penampilan, gaya


penulisan, substansi isi, keberkalaan dan kewajiban pasca terbit telah diupayakan
sesuai dengan Pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik
Indonesia dan dinyatakan berlaku sejak 2 Oktober 2009 berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2009.

Artikel ilmiah yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Repertorium
Volume 4 ini, diklasifikasikan dan dikelompokkan berdasarkan topik dengan
memperhatikan kepentingan pengembangan ilmu dan praktik hukum
kenotariatan pada khususnya serta ilmu dan praktik hukum bisnis pada
umumnya. Artikel Topik Utama menampilkan artikel-artikel hasil konversi Tesis
mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya.

Akhirnya, Redaksi Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium”


menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam penerbitan Volume keempat ini. Tidak lupa pula, Redaksi
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca yang
budiman guna meningkatkan kualitas Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan
“Repertorium” ini untuk volume berikutnya. Selamat membaca.

iii
DAFTAR ISI

DEWAN REDAKSI............................................................................................................................ii
PENGANTAR REDAKSI.................................................................................................................iii
DAFTAR ISI......................................................................................................................................iv

1. Pelaksanaan Hak Waris Adat Anak Perempuan Pada Masyarakat Marga (Lama) Rambang Kapak
Tengah Kota Prabumulih Di Dalam Hukum Kewarisan Islam
Astuti Maryulaini , Joni Emirzon, Abdullah Gofar, Herman Adriansyah 1

2. Kewenangan Notaris Dalam Pembuatan Akta Wasiat Untuk Anak Piara Dalam Hukum Islam Dan
Pengangkatan Anak Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Ade Kusuma, Abdullah Gofar, Elmadiantini 15

3. Kewenangan Notaris Dalam Membuat Akta Otentik Akad Pembiayaan Mudharabah Berdasarkan
Hukum Islam
Ahmad Febry, Abdullah Gofar, Achmad Syarifudin 29

4. Kewenangan Notaris Sebagai Pejabat Lelang Kelas Ii Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 93/Pmk.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang
Amir Hakim Hasyim, Febrian, Herman Andreij Adriansyah 41

5. Analisis Hukum Tentang Wewenang Notaris Dalam Pembuatan Akta Ikrar Wakaf
Ari Latif Pratama, Ridwan, Elmadiantini 59

6. Kekuatan Pembuktian Surat Pengakuan Hak Atas Tanah Yang Diketahui Oleh Lurah Dan Camat
Hana Wastuti Poetri 77

7. Perbuatan Hukum Direksi Mewakili Perseroan Terbatas Dalam Pengikatan Kredit di Bank Dengan
Penjaminan Aset Perusahaan
Muawanah, Firman Muntaqo, Arfianna Novera, KMS. Abdullah Hamid 97

PEDOMAN SISTEMATIKA DAN TEKNIK PENULISAN 110

iv
PELAKSANAAN HAK WARIS ADAT ANAK PEREMPUAN
PADA MASYARAKAT MARGA (LAMA) RAMBANG KAPAK TENGAH KOTA
PRABUMULIH DI DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM1

Oleh :

ASTUTI MARYULAINI2, JONI EMIRZON, ABDULLAH GOFAR, HERMAN


ADRIANSYAH,

Abstract : This thesis entitled “THE IMPLEMENTATION OF THE INDIGENOUS


INHERITANCE RIGHTS OF DAUHGTERS IN THE (OLD) ETHNIC OF THE
RAMBANG KAPAK TENGAH IN PRABUMULIH BASED ON THE ISLAMIC
INHERITNANCE LAW” was aimed at examining the inheritance rights of daughters
seen from Islamic inheritance law and explaining the legal requirements of the Islamic
inheritance law functioning as its legal cover; cause of parental injustice by gift all of the
treasures to the sons and none to the daughters; see the role of notaries in issuing the
certificate of bequests. The theory used is the theory of justice, legal protection theory,
theory of Receptio in Complexu, Theory of Receptie a Contrario. This is an empirical
study that uses a statutory approach, historical approach, philosophical approach. The
data in this research consists of primary legal materials, legal materials and secondary
and tertiary legal materials sourced from the legislations. The data were collected by
identifying and inventorying existing legal materials relevant to the legal issues. The data
were structured, described, and systematized based on the analysis of legal materials by
means of analysis and interpretation of the law. Deductive and inductive logic is used to
draw conclusions. It can be concluded that the customary law of inheritance daughters of
the (old) ethnic of the Central Rambang Kapak in Prabumulih is not in accordance with
the system of Islamic inheritance law, especially regarding the division of property
inheritance for sons and daughters which are not based on the division of 2:1 (two equals
to one) as stipulated in the QS. An-Nisaa verse 11 and chapter 176 compilation of Islamic
law. The Compilation of Islamic law in the case of inheritance can be a source of law for
the (old) ethnic of Rambang Kapak Tengah in Prabumulih in order to protect the
inheritance rights of daughters. Notaries’ role on the issuing of bequest certificates in the
(old) ethnic of Rambang Kapak Tengah in Prabumulih is in conformity with the provisions

1
Artikel ini adalah ringkasan Tesis yang berjudul “Pelaksanaan Hak Waris Adat Anak Perempuan
Masyarakat Marga (lama) Rambang Kapak Tengah Kota Prabumulih Di Dalam hukum Kewarisan Islam”, di
bawah bimbingan Joni Emirzon, Abdullah Gofar, Herman Adriansyah, pada Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang, 2013.
2
Penulis adalah Alumnus Program Studi Mangister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya, Tahun kelulusan 2013

1
of the notaries’ law number 30 of 2004, but the implementation of the Article 15 (2)e that
contains a notary obligation to provide legal counseling to their clients has given less
effective impact for (old) ethnic of the Rambang Kapak Tengah in Prabumulih.

Keywords, Daughters,Islamic Inheritance Law

A. Pendahuluan mengenyampingkan anak perempuan


Di Indonesia Hukum Kewarisan sebagai ahli waris yang sah didalam
yang berlaku dan hidup dalam masyarakat hukum kewarisan Islam.
umumnya ada 3 macam yaitu: 1) Hukum
Kewarisan Adat, 2) Hukum Kewarisan Pengalihan harta yang umumnya
Islam, 3) Hukum Kewarisan Perdata terjadi di dalam pelaksanaan pada
Barat. masyarakat Indonesia ada 3 tiga) macam
yaitu:(1) pewarisan, proses pewarisan
Pada masyarakat Marga (lama) yaitu pengalihan harta dari pewaris
Rambang Kapak Tengah di mana kepada ahli waris dikarenakan
mayoritas penduduknya beragama Islam meninggalnya pewaris (orang yang
hukum yang berlaku dan hidup di bidang meninggalkan harta), (2) hibah adalah
kewarisan saat ini adalah hukum pengalihan harta dari seseorang kepada
kewarisan adat. Hukum kewarisan adat orang lain selagi ia masih hidup dan (3)
yang berlaku pada masyarakat Marga wasiat sebagaimana dikutip oleh Drs.
(lama) Rambang Kapak Tengah tersebut Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi K.
dipengaruhi oleh bentuk kekerabatan Lubis mengemukakan pengertian wasiat
yang hidup dan berlaku pada masyarakat adalah pemberian seseorang kepada orang
adatnya yaitu sisitem kekerabatan lain baik berupa manfaat piutang ataupun
patrilinial, yaitu sistem kekerabatan manfaat untuk dimilik oleh orang yang
berdasarkan pertalian keturunan diberikan wasiat setelah orang yang
kebapakan yang menarik garis berwasiat meninggal.4
keturunannya dari pihak laki-laki keatas.3
Pola pengalihan harta dari orang
Sistem kekerabatan pada tua kepada anak pada masyarakat Marga
masyarakat Marga (lama) Rambang (lama) Rambang Kapak Tengah saat ini
Kapak Tengah yang berbentuk patrilineal juga banyak dilakukan dengan cara hibah
mempengaruhi bentuk perkawinan pada karena dianggap lebih bermanfaat bila
masyarkatnya, yaitu bentuk perkawinan dibandingkan dengan meninggalkan
jujur, yang mengakibatkan pelaksanaan warisan., Umumnya hibah orang tua
kewarisan orang tua kepada anak hanya kepada anak dilakukan pada saat anak-
dapat di nikmati oleh anak laki-laki dan anak akan memulai hidup baru sesudah
3
Zainuddin Ali.2008. Pelaksanaan
4
Hukum Waris di Indonesia. Jakarta: Sinar Suhrawardi K. Lubis. 2007.Hukum
Grafika.hlm. 25 waris Islam. Jakarta : Sinar Grafika. hlm. 44.

1
menikah (mentas). Hibah yang diberikan pemberi hibah misalnya anak laki-laki
orang tua kepada anak didalam kehidupan saja, maka harus mendapatkan
masyarakat Marga (lama) Rambang persetujuan dari kedua anaknya yang lain
Kapak Tengah, umumnya hanya dan istri pemberi hibah.
diberikan kepada anak laki-laki dengan Di dalam pelaksanaan hibah
mengenyampingkan hak anak perempuan. dalam masyarakat marga (lama)
Hibah yang diberikan umumnya Rambang Kapak Tengah umumnya
berupa barang tidak bergerak seperti pemberian persetujuan oleh ahli waris
tanah dan rumah, . Sesuai dengan Pasal anak perempuan kepada anak laki-laki
15 ayat 2 Undang-Undang Jabatan yang menerima hibah tidak pernah
Notaris (UUJN) menyebutkan: mendapatkan pertentangan dikarenakan
(f) Notaris berwenang membuat akta hukum kewarisan adat yang berlaku pada
yang berkaitan dengan pertanahan marga (lama) Rambang Kapak Tengah
Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 merujuk kepada sistem kekerabatan
ayat 2 (f) Undang-Undang Jabatan patrilineal. Dilihat dari sistem hukum
Notaris (UUJN) tersebut diatas pemberian kewarisan Islam pemberian hibah kepada
hibah dari orang tua kepada anak anak laki-laki dengan
biasanya dilakukan dihadapan Notaris. mengenyampingkan anak perempuan
Di dalam ketentuan Pasal 211
sebagai ahli waris yang sah adalah
Kompilasi Hukum Islam menyebutkan
bertentangan dengan azas-azas keadilan
hibah dari orang tua kepada anak dapat
yang dianut dalam sistem hukum
dihitung sebagai warisan.
kewarisan Islam.
Melihat ketentuan isi Pasal 211
Kompilasi Hukum Islam tersebut B. Metode Penelitian
pemberian hibah dari orang tua kepada Penelitian ini merupakan
anak sebenarnya merupakan bagian penelitian empiris bersifat eksploratoris,
pendahuluan dari pembagian warisan adalah metode penelitian mengumpulkan
kepada anak setelah orang tua meninggal bahan-bahan dengan penelitian
kelak. kepustakaan (library Research) dan
Di dalam pelaksanaannya proses penelitain lapangan atau (Field
hibah dari orang tua kepada anak Research).
dihadapan Notaris biasanya ditentukan Penelitian ini menggunakan 3
syarat-syarat diantaranya adanya (tiga) pendekatan penelitian yang dapat
persetujuan dari para ahli waris, yaitu dijadikan pendukung dalam upaya
syarat persetujuan dari keluarga si memahami, menganalisa,
pemberi hibah misalnya si pemberi hibah mendeskripsikan secara menyeluruh
mempunyai anak 3 (Tiga) orang anak, 1 mengenai permasalahan hukum yang
(Satu) laki-laki dan 2 (Dua) orang anak akan diteliti dalam penelitian hukum ini.
perempuan maka apabila hibah yang akan 1. Pendekatan perundang-undangan
diberikan hanya kepada salah satu anak

2
Pendekatan perundang-undangan Penelitian ini menggunakan teori
adalah suatu pendekatan penelitian yang keadilan yang menggali dari
dilakukan dengan cara mengidentifikasi Perlindungan hukum dan teori lingkar
dan mengkaji berbagai aturan-aturan Konsentrasi yang menggali dari ayat-ayat
hukum yang berlaku dan saling terhubung Al Quran dan pendapat-pendapat sarjana
dengan permasalahan yang di bahas muslim.
dalam tesis ini, Kompilasi Hukum Waris Teori keadilan dirujuk dari Q.S An
Islam, dan asas-asas dalam masalah Nisa : 135 dan QS Al Maidah : 8, prinsip
kewarisan sebagai hukum positif dan asas perlindungan hukum dirujuk dari Q.S Al
yang hidup di Indonesia, yang berisi Isra : 70 sedangkan dalam penerapannya
tentang aturan-aturan dan asas-asas dipakai Pasal-Pasal dalam Kompilasi
kewarisan Hukum Islam yaitu Pasal 174 dan Pasal
2. Pendekatan filsafat 176.
Pendekatan filasafat digunakan Ada beberapa asas-asas hukum
untuk mengkaji asas-asas hukum yang kewarisan dalam konsep hukum waris
terkandung dalam hukum kewarisan Islam yaitu sebagai berikut :
Islam terutama yang diatur dalam 1. Ijbari
Kompilasi Hukum Islam Pasal 176 dan
211. Asas Ijbari yang terdapat dalam
Pendekatan filsafat akan hukum kewarisan Islam mengandung arti
mengupas isu hukum (legal issue) dalam pengalihan harta dari seseorang yang
penelitian empiris bersifat eksploratoris meninggal dunia kepada ahli warisnya
dan mengupasnya secara mendalam. berlaku dengan sendirinya menurut
3. Pendekatan sejarah ketetapan Allah tanpa digantungkan
Pendekatan sejarah adalah kepada kehendak pewaris atau ahli
pendekatan dengan menelaah faktor- warisnya. 5
faktor Masyarakat Adat Marga (lama) 2. Asas Bilateral
Rambang Kapak Tengah memakai
Hukum Waris Adat dilihat dari sejarah Asas bilateral dalam hukum
hukum dari wilayah teritorial, dasar yang kewarisan berarti seseorang menerima
membentuk keturunan masyarakat hukum hak atau bagian warisan dari kedua belah
dan sistem kekerabatan Marga (lama) pihak; dari kerabat keturunan laki-laki
Rambang Kapak Tengah, Pengaruh dan kerabat keturunan perempuan.6
agama dan hukum Negara dalam 5
Ibid. hlm 53. Dikutip dari Amir,
eksistensi masyarakat Marga (lama) Syarifuddin mengemukakan bahwa “kata Ijbari
berarti kewajiban (compulsary), yaitu kewajiban
Rambang Kapak Tengah, dimana melakukan sesuatu. Unsur kewajiban itu terlihat
sebagian besar masyarakat adat tersebut dalam perpindahan harta pewaris kepada ahli
warisnya sesuai jumlah yang diwajibkan oleh
beragama Islam.
Allah dalam Al-Quran Surah An-Nisa’ ayat
C. Kerangka Teori dan Konseptual. 11,12,176, dan 33”
6
Ibid. hlm 54

3
3. Asas Individual Hak secara umum, yaitu suatu
kewenangan atau kekuasaan yang
Asas individual dalam hukum diberikan oleh hukum. Didalam Pasal 1
kewarisan Islam adalah setiap ahliwaris angka 1 Undang-Undang no 39 Tahun
(secara individual) berhak atas bagian 1999 menyebutkan arti Hak Asasi
yang didapatnya tanpa terikat kepada ahli Manusia yaitu hak yang melekat pada
waris lainnya.7 hakekat dan keberadaan manusia sebagai
4. Keadilan berimbang makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan
Asas keadilan berimbang dalam merupakan anugerahnya yang wajib
hukum kewarisan Islam berarti dihormati. Dijunjung tinggi dan
keseimbangan antara hak yang diperoleh dilindungi oleh negara, hukum,
dengan keperluan dan kegunaan dalam pemerintah, dan setiap orang, demi
melaksanakan kewajiban. Perkataan adil kehormatan serta perlindungan harkat dan
banyak disebut dalam Al-Quran yang martabat manusia..
kedudukannya sangat penting dalam
2.Waris
sistem hukum Islam, termasuk hukum Istilah ini dipakai untuk
kewarisan. Di dalam sistem ajaran agama menunjukkan orang yang mendapat harta
Islam, keadilan itu adalah titik tolak, warisan, yang terdiri dari ahli waris yaitu
proses, dan tujuan segala tindakan mereka yang berhak menerima warisan
manusia.8 dan bukan ahli waris, tetapi kewarisan
5. akibat kematian juga dari harta warisan. Jadi waris yang
Asas akibat kematian dalam ahli waris ialah orang yang berhak
hukum kewarisan Islam berarti kewarisan mewarisi. Sedangkan yang bukan ahli
ada kalau ada yang meninggal dunia, waris adalah orang yang kewarisan. 10
kewarisan ada sebagai akibat dari
3.Adat
meninggalnya seseorang9. Adat adalah merupakan
Guna mencegah ketidakjelasan pencerminan daripada kepribadian
dan salah pengertian tentang berbagai sesuatu bangsa, merupakan salah satu
terminology dalam penelitian ini, maka penjelmaan daripada jiwa bangsa yang
perlu dijabarkan beberapa konsep-konsep bersangkutan, dari abad ke abad. 11
sebagai berikut :
4.Masyarakat
Masyarakat adalah sejumlah
1. Hak individu yang merupakan satu kesatuan
7 10
Suhrawardi K. Lubis dan Komis .Hilman Hadikusuma. 1990. Hukum
Simanjuntak. Hukum Waris Islam. 2009. Jakarta : Waris Adat, Jakarta : Citra Aditya Bakti.hlm 13
Sinar Grafika, hlm 40. 11
Surojo Wignjodipuro.1976. Pengantar
8
.Ibid. hlm. 58 dan Asas-asas Hukum Adat, Bandung : alumni,
9
Ibid.hlm.58 hlm 1.

4
golongan yang berhubungan tetap dan Hukum kewarisan menurut
mempunyai kepentingan yang sama, Kompilasi Hukum Islam Pasal 171 a
seperti : sekolah, keluarga, perkumpulan, adalah ketentuan yang mengatur tentang
negara. pemindahan hak pemilikan harta
peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan
5. Marga siapa-siapa yang berhak menjadi ahli
Kata Marga ini pertamakali
waris dan berapa bagiannya masing-
didapat ialah dalam piagam sultan-sultan
masing.
Palembang, sejak tahun 1760 M. Marga
ini berasal dari serikat dusun baik atas
D. Temuan dan Analisis
dasar susunan masyarakat geneaologis 1. Perlindungan Hukum dan Hak
maupun teritorial, berdasarkan keturunan Waris Adat Anak Perempuan
atau tempat dilahirkan, dibesarkan, hidup Masyarakat Marga (lama)
dan berpencaharian dan meninggal di Rambang Kapak Tengah dalam
tempat itu.12 Hukum Kewarisan Islam.
Marga menurut Indische
Staatsregeling I.G.O.B. STB 1938 NO Ayat Al Qur’an yang
490 JO 681 yaitu masyarakat hukum adat mencerminkan prinsip-prinsip pengakuan
berfungsi sebagai kesatuan wilayah dan perlindungan Hukum yaitu Surat Al-
Pemerintah terdepan dalam rangka Isra/17:70 yang berbunyi sebagai berikut:
Pemerintahan Hindia Belanda dan Dan sesungguhnya Kami telah
merupakan Badan Hukum Indonesia.13 memuliakan anak-anak Adam Kami
Pemerintah mengeluarkan tebarkan mereka di darat dan di laut
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 serta Kami anugrahi mereka rezeki
tentang Pemerintahan Desa, Undang- yang baik-baik dan Kami lebihkan
Undang ini hanya mengatur Desa dari mereka dengan kelebihan yang
segi pemerintahan saja dan tidak sempurna daripada kebanyakan
mengatur perihal adat istiadat, menindak makhluk yang telah Kami ciptakan.14
lanjuti Undang-Undang ini Gubernur
Sumatera Selatan akhirnya mengeluarkan Ayat tersebut diatas dengan jelas
Surat Keputusan Gubernur Tingkat I mengekspresikan kemuliaan manusia
Sumatera Selatan Nomor 142 Tahun 1983 yang di dalam teks Al Qur’an disebut
yang kemudian menghapus tentang karamah (kemuliaan). Mohammad Hasbi
Marga. Ash-Shiddieqy membagi karamah itu
kedalam tiga kategori yaitu: (1)
6. Hukum Kewarisan Islam kemuliaan pribadi, (2) kemuliaan
14
Muhammad Tahir Azhary.2003. Negara
12
Ibid Hukum suatu Studi tentang Prinsip-prinsipnya
13
. HAW. Widjaja , 2002. Pemerintahan Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya
Desa/Marga, Suatu Telaah Administrasi Negara, Pada Periode Negara Madinah dan Masa
Jakarta :Rajawali pers. hlm 25. Kini.Jakarta : Kencana Prenada Group.hlm.130

5
masyarakat, (3) kemuliaan politik.15 seperenam, sesudah wasiat yang
Dalam kategori pertama, manusia diwasiatkannya atau hutang ; ibu
dilindungi baik pribadinya maupun bapak kamu dari anak-anak kamu
hartanya. Dalam kategori kedua tidak kamu tahu manakah diantara
nomokrasi Islam meletakkan hak-hak mereka yang lebih dekat kepada
politik dan menjamin hak-hak itu kamu tentang kemanfaatannya,
sepenuhnya bagi setiap warga Negara, ketentuan dari Allah; bahwa
karena kedudukannya yang didalam Al- sesungguhnya Allah itu adalah
Qur’an disebut “khalifah Tuhan di mengetahui lagi bijaksana”
bumi”16
Ayat-ayat Al Qur’an yang Dari uraian dan penjelasan Q.S An
mengatur tentang Hukum Kewarisan Nisaa 11 tentang pembagian besarnya
adalah Q.S An Nisaa ayat 7, 11, 12, 33, warisan untuk anak laki-laki dan
dan 176. Tetapi yang mengatur tentang perempuan di atas sangat tegas mengatur
pembagian warisan untuk bagian anak kewajiban untuk memberikan bagian
laki-laki dan perempuan secara khusus anak laki-laki dua kali bagian anak
diatur dalam Q.S An Nisaa ayat 11. perempuan.
Q.S An Nisaa ayat 11 berbunyi : Pada Kompilasi Hukum Islam
“ Allah menentukan mengenai anak- tentang Hukum Kewarisan yang
anakmu adalah bagi anak laki-laki mengatur tentang besarnya bagian
sebanyak bagian dua orang anak menyebutkan :
perempuan, jika anak-anak kamu itu Pasal 176
hanya anak perempuan saja diatas “Anak perempuan bila ia hanya
dua orang mereka mendapat dua seorang ia mendapat separoh bagian,
pertiga bagian harta peninggalan dan bila dua orang atau lebih mereka
jika anak perempuan itu hanya bersama-sama mendapat dua pertiga
seorang saja maka baginya seperdua ; bagian, dan apabila anak perempuan
dan bagi ibu bapaknya bagi masing- bersama-sama dengan anak laki-laki,
masing dari keduanya seperenam maka bagian anak laki-laki adalah
harta peninggalan jika ada baginya dua berbanding satu”.
anak (walad), maka jika tidak ada
Pada aktualisasi ajaran Islam
baginya anak dan mewarisinya ibu
pembagian harta warisan untuk anak
bapaknya maka ibunya sepertiga,
laki-laki dan anak perempuan yang jelas-
maka jika ada bagian saudara
jelas merupakan asas kewarisan Islam,
(ikhwatun) maka bagi ibunya
dalam pelaksanaannya pada berbagai
15
Ibid . hlm.131. mengutip dari Ahmad
masyarakat adat muslim, diterapkan
Syafii Maarif. Islam dan Masalah Kenegaraan: berbeda-beda. bukan karena tipisnya
Studi tentang Percaturan dalam Konstituante keIslaman tetapi lebih disebabkan
(Jakarta:LP3ES,1985).hlm.169
16
Ibid pertimbangan budaya, dan struktur sosial

6
dan budaya kita yang penuh keragaman, Kesesuaian dan kesejiwaan hukum
sehingga menyebabkan hukum faraidl dengan Al-Quran lah yang dikehendaki
belum sepenuhnya diberlakukan. dengan cara ini manusia akan mencapai
Demikian juga pada masyarakat kesejahteraannya.18
muslim Marga (lama) Rambang Kapak Di dalam ayat-ayat Al-Quran ada
Tengah, pembagian harta warisan 2 : 1 tiga sifat sebagai berikut :
(dua berbanding satu) untuk anak laki- 1. Ayat-Ayat Muhkam, yaitu ayat-ayat
laki dan perempuan dalam pelaksanaan yang ditulis dalam Al-Quran dapat
hukum faraidlnya secara utuh belum langsung dipahami oleh umat Islam.
dapat diterapkan. Pembagian harta 2. Ayat Al-Quran yang mengambil
warisan untuk anak perempuan justru model garis besar memerlukan
sama sekali di kesampingkan, jadi penerangan dan penjelasan dalam
tidaklah heran bila kita lihat dan kaji pelaksanaannya.
3. Ibarat dan Isyarat, penjelasan Al-
secara kacamata hukum faraidl apalagi di
Quran tentang hukum yang bercorak
lihat dari prinsip keadilan, penerapan
“Ibarat dan Isyarat” memberikan
pembagian harta warisan yang
beberapa maksud, tersurat dan
mengenyampingkan anak perempuan,
tersirat.19
adalah melanggar asas keadilan.
Sumber-sumber hukum Islam Ayat-ayat Al-Quran yang bersifat
secara keseluruhan ada tiga, yaitu Al- Muhkam dapat dicontohkan pada surat
Qur’an, al- Sunnah dan Ijma sahabat. An-Nisaa ayat 11-12 mengenai kewarisan
Namun yang disepakati para ulama hanya yang mempunyai penjelasan sempurna,
dua yaitu Al-Qur’an dan al Sunnah, penunjukannya jelas tidak bisa dipahami
karena ijma’ sahabat hanya dirujuk oleh dengan pemahaman lain dan tidak dapat
para ulama suni, sementara ulama Syi’ah ditafsirkan dengan pendapat yang
menolaknya.17 berbeda-beda. Hukum tersebut bersifat
Al-Quran sebagai sumber dari
universal berlaku sepanjang zaman dan di
segala sumber hukum Islam di muka
tempat manapun juga.
bumi ini sebenarnya sudah sejak
Kompilasi hukum waris Islam
diturunkan wajib menjadi pedoman dan
terutama Pasal 176 dibuat dengan
tuntunan dalam berperilaku kehidupan di
berdasarkan aturan dalam Al-Quran
dunia. Penentangan dan perlawanan
terutama surat An-Nisaa ayat 11-12 yang
terhadap Al-Quran merupakan
isinya tidak ditafsirkan berbeda karena
pengingkaran terhadap-Nya.
Hukum dan Undang-Undang termasuk ayat Al-Quran yang bersifat
buatan umat Islam tidak boleh menyalahi Muhkam.
kaedah-kaedah hukum Al-Quran.
18
Fathurrahman Djamil,. tahun
17
Dede Rosyada, tahun 1999, Hukum 1997.Filsafat Hukum Islam. Jakarta : Logos
Islam dan Pranata Sosial. Jakarta : Raja Grafindo wacana ilmu dan pemikiran.hlm. 83.
19
Persada.hlm.31 Ibid hlm. 86

7
Kompilasi hukum Islam dibuat Masyarakat Marga (lama)
dengan tujuan supaya masyarakat muslim Rambang Kapak Tengah yang
yang mempunyai pendapat berbeda menikahkan anak laki-laki biasanya
tentang pembagian kewarisan adat yang dalam bentuk perkawinan jujur atau
sebagian besar condong bersifat perkawinan untuk menegakkan jurai
patrilineal diharapkan akan lebih keluarga asal (orang tua), artinya
mempedomani ketentuan dalam Al-Quran pengantin laki-laki memboyong
yaitu surat An-Nisaa ayat 11-12 karena pengantin perempuan ikut dalam
telah dituangkan dalam hukum positif, kekerabatan keluarga orang tua. Hlm ini
artinya ada campur tangan Negara untuk dikarenakan anak laki-laki harus menjadi
menerapkannya dalam tata kehidupan “penegak jurai” atau penerus keturunan
bernegara masyarakat muslim Indonesia. pihak orang tua, dan berakibat menjadi
2. Penyebab Adanya Ketidakadilan ahli waris orang tua sebagai pewaris pada
Pemberian Hibah Seluruh Harta saat orang tua meninggal dunia.
Orang Tua Hanya Kepada Anak Pasal 211 Kompilasi Hukum
Laki-Laki Pada Masyarakat Marga Islam (KHI) menyebutkan bahwa hibah
(lama) Rambang Kapak Tengah. yang diberikan kepada anak dari orang
tua dapat diperhitungkan sebagai warisan,
a. Faktor-faktor Penyebab artinya pada masyarakat Marga (lama)
Pemberian Hibah Hanya Rambang Kapak Tengah biasa
Kepada Anak Laki-Laki. memberikan hibah kepada anak laki-laki
dikarenakan anak laki-laki dianggap
Dalam Pasal 64 Kompilasi sebagai penegak jurai dari kerabat orang
Hukum Adat Kabupaten Muara Enim tua mereka, hubungannya dengan hibah
menyebutkan : dikarenakan sesuai Pasal 211 Kompilasi
Pembagian harta warisan Hukum Islam (KHI) hibah orang tua pada
dilaksanakan dengan memperhatikan anak dapat diperhitungkan sebagai
bentuk perkawinan pewaris, yaitu kawin warisan.
jujur/kawin tambik anak/kawin Melihat uraian Pasal 211
bebas/kawin tunggu tubang. Kompilasi Hukum Islam, Pasal 64
Kompilasi Hukum adat dan Pasal 65
Dalam Pasal 65 Kompilasi Hukum Adat Kompilasi Hukum adat Muara Enim bila
Kabupaten Muara Enim menyebutkan : kita hubungkan dengan penyebab hibah
Apabila bentuk perkawinannya
pada masyarakat Marga (lama) Rambang
kawin jujur, maka pewarisnya adalah
Kapak Tengah di utamakan hanya kepada
orang tua laki-laki dan ahli warisnya
anak laki-laki dikarenakan pandangan
semua anak kandung laki-laki atau anak
yang hidup pada masyarakat ini
kandung laki-laki tertua dan atau
menjadikan anak laki-laki sebagai
berdasarkan hasil musyawarah mufakat.

8
penerus keturunan keluarga (penegak merupakan suatu perintah yang wajib
jurai). diikuti oleh segenap umatnya.21
Fakta tentang adat kebiasaan pada Artinya sebagai umat muslim yang cerdas
masyarakat garis patrilineal dalam hlm ini sudah selayaknya masyarakat adat Marga
masyarakat Marga (lama) Rambang (lama) Rambang Kapak Tengah
Kapak Tengah yang biasa memberi hibah mematuhi pedoman Hukum Islam yang
sebagai warisan kepada anak laki-laki kita junjung tinggi yaitu Al Qur’an dan
dengan mengenyampingkan anak Sunnah Rasullullah.
perempuan melihat dari syarat-syarat urf b. Peran Notaris dalam
atau adat yang diuraikan pada tulisan Pembuatan Akta Hibah Pada
diatas kita lihat sangat bertentangan Masyarakat Marga (lama)
dengan syariat hukum Islam dan sudah Rambang Kapak Tengah
sepantasnya tidak usah dipelihara lagi,
karena bertentangan dengan Al Quran dan Sesuai dengan Pasal 15 ayat (1)
Hadits Rasullullah. Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor
Hal ini didasarkan kepada ketentuan Al- 30 Tahun 2004, tugas dan kewenangan
Qur’an Surat Al Maaidah/5:8 yang Notaris adalah :
berbunyi sebagai berikut: 1) Notaris berwenang membuat akta
Dan janganlah kebencianmu otentik mengenai semua perbuatan,
terhadap suatu kaum, mendorong kamu perjanjian, dan ketetapan yang
untuk berlaku tidak adil, Berlaku adillah, diharuskan oleh perundang-
karena berlaku adil itu lebih dekat kepada Undangan dan/ atau yang
taqwa.20 dikehendaki oleh yang
Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu berkepentingan untuk dinyatakan
Abbas r.a, bahwa nabi Muhammad SAW dalam akta otentik, menjamin
bersabda, yang artinya berbunyi sebagai kepastian tanggal pembuatan akta
berikut : menyimpan akta, memberikan
“Persamakanlah diantara anak- grosse salinan dan kutipan akta
anakmu didalam pemberian, semuanya itu sepanjang pembuatan
Seandainya aku hendak melebihkan akta-akta itu tidak juga ditugaskan
seseorang, tentulah aku lebihkan dan dikecualikan kepada pejabat
anak-anak perempuan” lain atau orang lain yang ditetapkan
oleh Undang-Undang.
Dari kalimat “persamakanlah”
dapat dipahamkan, bahwa hlm ini Jadi sesuai dengan bunyi Pasal 15
ayat (1) UUJN Nomor 30 Tahun 2004
tersebut tugas dan kewenangan Notaris
20 21
Faturrahman Djamil, 1997. Filsafat Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi K.
Hukum Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Lubis. 2004 Perjanjian Dalam Islam.Jakarta;
Hlm.73 Sinar Grafika, hlm.119. . Hukum

9
adalah membuat akta otentik termasuk Tanda Penduduk (KTP), Akta
didalamnya membuat akta hibah. Kelahiran (apabila penerima hibah
Hibah orang tua kepada anak adalah anak dari pemberi hibah)
umumnya di berikan berupa tanah atau dan Kartu Keluarga.
rumah. Hibah hak atas tanah merupakan 2. Para pihak menghadap pada Notaris
suatu bentuk perjanjian yang muncul dari untuk penandatangan akta hibah.
kebutuhan hukum yang berkembang dari 3. Notaris meminta kepada pemberi
masyarakat. Pengaturan mengenai hibah hibah untuk menunjukkan surat
hak atas tanah tidak diatur secara khusus persetujuan dari keluarga dari si
dalam suatu Undang-Undang atau pemberi hibah bahwa mereka
peraturan lainnya. Hibah adalah suatu menyetujui pemberi hibah akan
perjanjian dengan mana si penghibah, di menghibahkan tanahnya atau
waktu hidupnya, dengan cuma-cuma dan rumahnya kepada penerima hibah.
4. Notaris meminta kepada pemberi
tidak dapat ditarik kembali menyerahkan
hibah untuk menunjukkan sertifikat
suatu benda guna keperluan si penerima
tanah yang dihibahkan (bila
hibah yang menerima penyerahan itu
tanahnya sudah bersertifikat), Pajak
(Pasal 1666 Kitab Undang-Undang
Bumi dan Bangunan (PBB) tahun
Hukum Perdata). Perjanjian hibah
terbaru dan Bea Perolehan Hak
merupakan implementasi dari asas
Tanah dan Bangunan (BPHTB).
kebebasan berkontrak, yakni para pihak
5. Semua poin-poin yang terdapat
secara bebas dapat menentukan
pada isi akta disepakati oleh para
kemauannya.
pihak dan para pihak
Para pihak yang telah sepakat atas
menandatangani akta hibah.
hibah hak atas tanah menghadap kepada
Notaris untuk dibuatkan akta otentik Dalam poin persetujuan para
berupa akta hibah pihak seperti anak-anak yang lain (anak-
Akta hibah yang dibuat anak yang tidak diberikan hibah ) dari si
masyarakat umumnya dan tidak pemberi hibah tampaknya kebiasaan
terkecuali kepada masyarakat Marga masyarakat Marga (lama) Rambang
(lama) Rambang Kapak Tengah Kapak Tengah bagi anak-anak perempuan
ditetapkan syarat-syarat oleh Notaris sebagai ahli waris yang sah sangat
seperti berikut :22 terbuka dalam memberikan tanda tangan
1. Notaris meminta kepada para sebagai persetujuan pemberian hibah
penghadap untuk dapat kepada saudara yang diberi hibah
menunjukkan identitas diri masing- (biasanya hanya anak laki-laki).23 Karena
masing para penghadap yaitu Kartu dalam pemikiran Masyarakat Marga
22
Transkripsi hasil wawancara dengan
23
Mohammad Isnaeni, Notaris di Palembang pada Transkripsi hasil wawancara dengan
tanggal 14 Maret 2013 responden ibu Hajjah Ernawati Kelurahan
Prabumulih pada tanggal 15 Desember 2012

10
(lama) Rambang Kapak Tengah
khususnya ini anak perempuan sebagai E. Penutup
ahli waris yang sah bagi si pemberi hibah
sepertinya sudah terdoktrin dalam pola Berdasarkan temuan dan analisis
pikir mereka bahwa memang hanya anak yang telah diuraikan di atas. Maka dapat
laki-laki yang berhak menerima hibah diambil suatu kesimpulan dan dapat
sebagai warisan dari orang tua mereka diajukan saran-saran, sebagai berikut :
(menurut ketentuan Pasal 211 Kompilasi Kesimpulan
1. Hak waris adat anak perempuan
Hukum Islam). Sedangkan mereka
masyarakat Marga (lama) Rambang
sebagai anak perempuan sama sekali
Kapak Tengah sebagai umat muslim
tidak berhak atas hibah. Hlm ini
tidak sesuai dengan Hukum Waris
disebabkan stigma berfikir yang
Islam dalam hal ini hukum Faraidl
dipengaruhi oleh perilaku hukum adat
terutama mengenai pembagian waris
setempat secara turun temurun, tanpa ada
untuk besarnya bagian anak laki-laki
usaha untuk meninggalkan perilaku yang
dan perempuan tidak berdasarkan
tidak berdasar sama sekali kalau dilihat
pembagian 2 : 1 (dua berbanding
dari persfektif Hukum Islam yang nyata-
satu) sebagaimana diatur dalam Q.S
nyata mereka mengaku sebagai muslim
An Nisaa’ ayat 11 maupun Kompilasi
yang berpedoman kepada Al-Quran dan
Hukum Islam (KHI) Pasal 176
Hadits dalam tatanan berkehidupan di
mengenai kewarisan. Hal ini
dunia.
melanggar prinsip keadilan bagi hak
Dalam Undang Undang Jabatan
waris adat anak perempuan dilihat
Notaris Nomor 30 Tahun 2004 Pasal 15
dari hukum kewarisan Islam.
ayat (2)e yang berbunyi:
Kompilasi Hukum Islam (KHI) dapat
(2) Notaris berwenang pula :
menjadi sumber hukum yang pasti
e. Memberikan penyuluhan hukum
bagi Pengadilan Agama sekaligus
sehubungan dengan pembuatan
menjadi pedoman atau patokan
akta ;
hukum Kewarisan bagi masyarakat
muslim Indonesia, khususnya
Artinya menurut ketentuan Pasal tersebut masyarakat Marga (lama) Rambang
diatas sebaiknya sebelum pelaksanaan Kapak Tengah dengan tujuan untuk
adanya persetujuan pembuatan akta melindungi hak waris adat anak
hibah oleh para pihak yang perempuan supaya mempunyai
berkepentingan, Notaris hendaknya kesatuan pandang dalam menerapkan
memberikan penyuluhan hukum tentang pembagian warisan sesuai dengan
kedudukan hak waris anak baik anak laki- agama yang dianut yaitu agama
laki maupun perempuan sebagai ahli Islam.
waris yang sah.

11
2. Dikaitkan dengan pemberian hibah sektor-sektor terkait, seperti dari
dari orang tua kepada anak yang pihak Kementerian Agama yang
dapat diperhitungkan sebagai warisan dalam pelaksanaannya di Kecamatan
sebagaimana diatur dalam Pasal 211 dilimpahkan kepada Kantor Urusan
Kompilasi Hukum Islam terdapat Agama di masing-masing
ketidak adilan dalam pelaksanaan Kecamatan, Pemerintah Kota
pada masyarakat Marga (lama) Prabumulih yang dalam hal ini
Rambang Kapak Tengah, orang tua dilimpahkan kepada Kecamatan
tetap mengenyampingkan pemberian melalui seksi terkait dalam bidang
hibah kepada anak perempuan dan penyuluhan hukum kepada
hanya memberikan kepada anak laki- masyarakat , bermitra dengan Tim
laki, hlm ini disebabkan karena pada Penggerak PKK Kecamatan atau
masyarakat Marga (lama) Rambang Desa.
Kapak Tengah menarik garis 2. Pembuatan akta hibah oleh Notaris
keturunan Patrilineal (garis keturunan juga memberi peluang untuk dapat
ayah), garis keturunan patrilineal memberikan penyuluhan hukum
melaksanakan sistem perkawinan waris Islam bagi para pihak yang
jujur yaitu anak laki-laki sebagai datang menghadap kepada Notaris
penegak jurai keluarga (penerus walaupun objek penyuluhan
keturunan) dan anak perempuan yang hukumnya hanya pada orang-orang
sudah menikah ikut garis kekerabatan tertentu saja, hanya kepada para
suami. Hal ini bertentangan dengan pihak yang datang menghadap saja,
prinsip keadilan hukum kewarisan tetapi bila dijalankan secara tegas,
Islam karena anak perempuan adalah cara ini cukup efektif untuk memberi
ahli waris yang sah dalam hukum pembelajaran bagi para pihak yang
kewarisan Islam. Berkaitan dengan tidak mengindahkan Hukum Waris
peran Notaris dalam pembuatan akta Islam.
hibah selama ini sudah sesuai 3. Kompilasi Hukum Waris Islam
prosedur tetapi kurang agresif dalam belum ada suatu Unifikasi Hukum
memberikan penyuluhan hukum dan kodifikasi hukum, mengingat
kepada para pihak masyarakat Marga sebagian besar di Indonesia
(lama) Rambang Kapak Tengah, agar masyarakat muslim adalah sebagai
lebih mempedomani Pasal 211 penduduk mayoritas diharapkan
Kompilasi Hukum Islam dalam kedepan akan semakin menyadari
pelaksanaan hibah. wajibnya seorang muslim
Saran mempedomani Hukum Waris Islam
1. Ada penyuluhan hukum tentang yang bersumber dari Al Qur’an dan
hukum kewarisan Islam, penyuluhan Sunnah Rasul dan akan
wawasan gender oleh berbagai menginspirasi para pembuat

12
kebijakan hukum di Indonesia untuk Nomor 1 Tahun 1991 Tanggal 10
menjadikan Kompilasi Hukum Waris Juni 1991 untuk menyebarluaskan
Islam sebagai Undang-Undang yang Kompilasi Hukum Islam.
wajib dan harus dipatuhi, Republik Indonesia. Undang-Undang
sebagaimana Undang-Undang No 1 Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Tahun 1974 tentang perkawinan. Jabatan Notaris LN. No.101, 2004
TLN No. 700.

b. Buku :
Ali, Zainuddin. 2008. Pelaksanaan
Hukum Waris di Indonesia..
Jakarta: Sinar Grafika
Djamil, Faturrahman.1997. Filsafat
Hukum Islam, Jakarta: Logos
Wacana Ilmu
Hadikusuma, Hilman 1990. Hukum
Waris Adat, Jakarta : Citra Aditya
Bakti.
K. Lubis, Suhrawardi dan Komis
Simanjuntak. 2009 Hukum Waris
Islam, Jakarta : Sinar Grafika
Pasaribu, Chairuman dan Suhrawardi K.
Lubis. 2004.Hukum Perjanjian
Dalam
Islam, Jakarta: Sinar Grafika.
Rosyada, Dede.1999.Hukum Islam dan
Pranata Sosial. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
DAFTAR PUSTAKA Tahir Azhari, Muhammad.2003. Negara
Hukum Suatu Studi Tentang
a. Peraturan Perundang-Undangan : Prinsip-prinsipnya Dilihat Dari
Kitab Undang- Undang Hukum Perdata Segi Hukum Islam,
(Burgerlijk Wetboek), Implementasinya Pada Periode
Diterjemahkan oleh R. Subekti Negara Madinah Dan Masa Kini.
dan T. Tjitrosudibyo. Cet.8. Jakarta: Kencana Prenada Media
Jakarta : Pradnya Paramitha, 1976. Group.
Republik Indonesia. Keputusan Menteri Widjaja, HAW.2002. Pemerintahan
Agama Nomor. 154 Tahun 1991 Desa/Marga, Suatu Telaah
tentang Pelaksanaan Instruksi Administrasi Negara, Jakarta
Presiden Republik Indonesia :Rajawali pers.

13
Wignjodipuro, Surojo.1976. Pengantar
dan Asas-asas Hukum Adat, Bandung :
Alumni.

14
KEWENANGAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA WASIAT UNTUK
ANAK PIARA DALAM HUKUM ISLAM DAN PENGANGKATAN ANAK
DALAM KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

Oleh :
ADE KUSUMA, ABDULLAH GOFAR, ELMADIANTINI

Abstract : Notaries as the public officials have the authority by law to make an
authentic deed which is one of them is testamentary deed. The implementation
conception will be a legacy to adopted children in accordance with Islamic law and
the Civil Codex Book which have differences. Problems, How the authority of a
Notary as a public official in the testamentary deed to the foster children in Islamic
Law and the adoption of Children in Civil Codex Book and Islamic Law, and How to
put the position of adopted children as the receivers of testamentary which is
reviewed from the terms of the Civil Codex Book, Islamic Law in protecting parts of
the absolute rights of the other heirs. This legal research is a normative law
research which analyzes a legal enforceability. It is implemented by examining the
legal materials, such as the studies of the law principles, positive law, rules of law,
and rules of legal norms. This study used two approaches in the study of law,
namely: Statue Approach, Historical Approach, Conceptual Approach, and
Comparative Law Approach. The results showed that the implementation
conception of testamentary which is the legacy under Islamic law can be made in
writing and verbally. Meanwhile according to the Civil Codex Book the form is only
in writing. The equality between Civil Law and Islamic Law recognizes the children
adoption however with a different purpose. Adoption which is done by someone
else should be done officially in order to expect the Notary to disseminate to the
public in making a testamentary through Notary’s deed and Ministry of Justice and
Human Rights can improve their services in order to facilitate the Notaries in
requesting the data of the testamentary list to help the Notaries in creating
testamentary deed.

Keywords: Notaries, Authentic Deed, Testamentary Deed, Adopted Children

A. Pendahuluan Konsep wasiat harta dalam


1. Latar Belakang Islam ditujukan kepada kerabat jauh
Pengertian Notaris menurut Pasal atau kerabat yang tidak mendapat hak
1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 peroleh waris dan juga terhadap orang
tahun 2014 tentang Perubahan Atas lain termasuk juga terhadap anak angkat
Undang –undang Nomor 30 tahun 2004 atau anak piara25. Dalam Hukum Islam,
tentang Jabatan Notaris (selanjutnya Anak piara adalah anak orang lain atau
disebut UUJN 2014), Notaris adalah anggota kerabat sendiri yang diambil
pejabat umum yang berwenang untuk dan dipelihara atas dasar rasa belas
membuat akta autentik dan kewenangan kasihan. Anak piara diambil setelah
lainnya sebagaimana yang dimaksud anak piara mampu membedakan antara
dalam undang-undang ini.24 orang tua kandung dengan orang tua
24
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 (1).
tentang Perubahan Atas Undang –undang 25
Fahmi Al Amruzi.2014. Rekonstruksi
Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Wasiat Wajibah dalam Kompilasi Huku m Islam.
LN Nomor 117 TLN Nomor 4432. Pasal 1 ayat Aswaja Pressindo: Yogyakarta.. Hlm.80

15
piaranya. Pengambilan anak piara tidak atau anak angkat, tetapi KUHPerdata
dilakukan secara terang (di hadapan mengatur mengenai pengakuan anak
fungsionaris hukum), dan tidak ada luar kawin yang diatur dalam Buku I
ritual atau upacara adat seperti pada bab XII bagian ketiga Pasal 280 sampai
pengangkatan anak.26 Pasal 289 Kitab Undang-Undang
Anak angkat menurut Kompilasi Hukum Perdata.
Hukum Islam Pasal 171 huruf (H) Kewenangan Notaris dalam
adalah anak yang dalam hal pembuatan akta wasiat29 tidak boleh
pemeliharaan untuk hidupnya sehari- melanggar bagian mutlak ahli waris
hari, biaya pendidikan dan sebagainya lainnya, menurut KUH Perdata seorang
beralih tanggung jawabnya dari orang pewaris tidak diperbolehkan membuat
tua asal kepada orang tua angkatnya wasiat melebihi bagian mutlak yang
berdasarkan putusan pengadilan. harus diterima oleh para ahli waris
Wasiat bukan saja dikenal dalam legitimaris. Terdapat wasiat yang isinya
hukum Islam, tetapi juga dikenal dalam melanggar legitieme portie30 ahli waris
hukum perdata barat dengan istilah karena pada pembuatan wasiat tersebut,
testamen. Testamen adalah suatu Notaris hanya mencatat kehendak
pernyataan dari seseorang tantang apa pewaris dan tidak mencantumkan
yang dikehendakinya setelah ia keseluruhan harta kekayaannya. Untuk
27
meninggal dunia. Suatu pernyataan Legitieme portie harus dituntut oleh
kemauan terakhir yang keluar dari suatu para ahli waris legitimaris karena
pihak saja (eenzijdig) dan setiap waktu 29
Akta wasiat tergolong kedalam
dapat ditarik kembali oleh yang golongan akta yang dibuat dihadapan
membuatnya. Penarikan kembali (teeroverstaan) Notaris atau yang dinamakan
“akta partij” (partij akten). Akta yang dibuat
(herroepen), boleh secara tegas dihadapan Notaris (akta partij) dapat berisikan
(uitdrukkelijk) atau secara diam-diam suatu cerita dari apa yang terjadi karena
(stillzwijgend).28 perbuatan yang dilakukan oleh pihak lain
dihadapan Notaris. Artinya yang diterangkan
Dalam Kitab Undang-undang atau diceritakan oleh pihak lain kepada Notaris
Hukum Perdata tidak diatur secara tegas dalam menjalankan jabatannya dan untuk
ketentuan mengenai masalah adopsi keperluan pihak lain tersebut sengaja datang di
hadapan Notaris dan memberikan keterangan
atau melakukan perbuatan itu dihadapan
26
Dominikus Rato.2011.Hukum tersebut agar keterangan atau perbuatan itu di
Perkawinan dan Waris Adat (Sistem konstantir oleh Notaris didalam suatu akta
Kekerabatan, Bentuk Perkawinan dan Pola otentik. Suharjono.1995. Sekilas Tinjauan Akta
Pewarisan Adat di Indonesia).Laksbang Justitia. Menurut Hukum. Varia Peradilan 123. hlm.23.
Hlm.167 30
Menurut Pasal 913 KUHPerdata,
27
Lihat Pasal 875 KUHPerdata Legitimie Portie adalah sesuatu bagian dari
28
Subekti.1984.Pokok-pokok Hukum harta peninggalan yang harus diberikan kepada
Perdata. Jakarta : Pradnya Paramita.Hlm.106. waris, garis lurus menurut ketentuan undang-
(lihat juga Pasal 875 KUHPerdata menentukan undang, terhadap mana si yang meninggal tak
sebagai berikut. Adapun yang dinamakan surat diperbolehkan menetapkan sesuatu, baik selaku
wasiat atau testament ialah suatu akta yang pemberian antara yang masih hidup, maupun
memuat pernyataan seseorang tentang apa selaku wasiat. R.Subekti dan
yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia Tjitrosudibio.2001.Kitab Undang-Undang
meninggal dunia, dan yang olehnya dapat Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek). Jakarta :
dicabut kembali.) Pradnya Paramitha.

16
wasiat akan tetap berlaku apabila para C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
ahli waris tidak menuntut bagian 1. Tujuan
mutlaknya sendiri. Maka dapat Adapun tujuan penelitian ini
dijelaskan bahwa Notaris mempunyai adalah:
peranan yang sangat penting dalam 1. Untuk menjelaskan
pembuatan akta wasiat tersebut, bukan kewenangan Notaris sebagai
hanya sebagai pembuat akta saja tetapi pejabat umum dalam pembuatan
notaris harus mengerti hukum yang akta wasiat untuk anak piara
berlaku bagi setiap golongan penduduk dalam Hukum Islam dan
serta bagian yang akan diterima, jangan pengangkatan Anak dalam Kitab
sampai akta yang dibuat oleh Notaris Undang-undang Hukum Perdata.
tersebut dapat merugikan pihak lain.31 2. Untuk menjelaskan
Berdasarkan uraian tersebut, bagaimana menempatkan
maka penulis mengangkat permasalahan kedudukan anak angkat sebagai
dalam penyusunan tesis dengan judul : penerima wasiat menurut Kitab
Kewenangan Notaris Dalam Pembuatan Undang-Undang Hukum Perdata
Akta Wasiat Terhadap Anak Angkat dan anak piara menurut Hukum
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Islam dalam melindungi bagian
Perdata Dan Hukum Islam. mutlak hak para ahli waris lain.

B. Perumusan Masalah 2. Manfaat Penelitian


Berdasarkan uraian dalam latar Adapun manfaat yang didapat dari
belakang di atas, ada beberapa penelitian ini adalah:
permasalahan yang dibahas dalam tesis 1) Secara teoritik hasil penelitian
ini, yaitu : ini, diharapkan dapat
1. Bagaimana kewenangan Notaris memberikan sumbangan
sebagai pejabat umum dalam pemikiran dan ilmu pengetahuan
pembuatan akta wasiat untuk anak yang lebih luas lagi dibidang
piara dalam Hukum Islam dan ilmu hukum khususnya baik
pengangkatan Anak dalam Kitab Kitab Undang-undang Hukum
Undang-undang Hukum Perdata? Perdata dan Hukum Islam
2. Bagaimana menempatkan mengenai pembuatan akta wasiat
kedudukan anak angkat sebagai yang dilakukan oleh Notaris.
penerima wasiat menurut Kitab 2) Secara praktis hasil penelitian ini
Undang-Undang Hukum Perdata diharapkan dapat bermanfaat
dan anak piara menurut Hukum dalam memberikan pemikiran
Islam dalam melindungi bagian lain berupa ilmu-ilmu baik bagi
mutlak hak para ahli waris lain? masyarakat sendiri ataupun
mahasiswa hukum serta
31
Irma Devita Purnamasari.2014.Kiat- kalangan Notaris dalam
Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami pemahaman yang berkaitan
Masalah Hukum Waris.Bandung: Penerbit Kaifa. dengan pembuatan akta wasiat
hlm. 64-65

17
untuk anak angkat yang
dilakukan oleh Notaris menurut E. Metode Penelitian
Kitab Undang-undang Hukum 1. Jenis Penelitian
Perdata dan anak piara menurut Jenis penelitian ini adalah
Hukum Islam. penelitian Hukum Normatif. Penelitian
hukum normatif merupakan penelitian
D. Kerangka Konseptual kepustakaan atau studi dokumen yang
1. Teori Kewenangan dilakukan atau ditujukan hanya pada
Teori kewenangan ini peraturan-peraturan yang tertulis atau
dikemukakan dengan tujuan untuk badan hukum yang lain.34 Penelitian
membahas dan menganalisa masalah semacam ini akan menggambarkan,
tentang kewenangan Notaris dalam menelaah, menjelaskan serta
pembuatan akta wasiat terhadap anak menganalisis permasalahan mengenai
angkat. Kewenangan merupakan suatu konsep pembuatan akta wasiat yang
tindakan hukum yang diatur dan dibuat oleh Notaris terhadap anak
diberikan kepada suatu jabatan angkat ditinjau dari Kitab Undang-
berdasarkan peraturan perundang- Undang Hukum Perdata dan Hukum
undangan yang berlaku yang mengatur Islam.
jabatan yang bersangkutan.32
2. Teori Jabatan 2.Teknik Pendekatan
Menurut Logemann, jabatan a. Pendekatan Perundang-
adalah lingkungan pekerjaan tetap undangan
yang digaris batasi dan yang Penelitian ini melakukan
disediakan untuk ditempati oleh pendekatan perundang-undangan
pemangku jabatan yang ditunjuk dan (statute approach) yaitu
disediakan untuk diwakili oleh mereka pendekatan dengan menggunakan
sebagai pribadi. Berdasarkan hukum legislasi dan regulasi35, yang
tata negara jabatanlah yang dibebani dititik beratkan pada ketentuan
dengan kewajiban, yang berwenang yang terdapat dalam Undang-
untuk melakukan perbuatan hukum. undang Hukum Perdata tentang
Hak dan kewajiban berjalan terus, wasiat bagi anak angkat, Hukum
tidak terpengaruh dengan pergantian Islam tentang wasiat bagi anak
pejabat.33 angkat, dan Undang-undang
Jabatan Notaris dan peraturan
perundang-undangan yang terkait
lainnya.

32
Habib Adjie. 2009. Hukum Notaris 34
Soerjono Soekanto, Sri
Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU no.30 Mamudji.1985. Penelitian Hukum Normatif
tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, cet. Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta:CV Rajawali.
Kedua. Bandung: PT Refika Aditama. Hlm. 77. Hlm.23
33
Ridwan HR. 2006. Hukum Administrasi 35
Peter Mahmud
Negara. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Marzuki.2014.Penelitian Hukum, Edisi
hlm.79. Revisi.Jakarta : Prenadamedia. Hlm.137.

18
b. Pendekatan Sejarah 1.1Bahan Hukum Primer, yaitu
Pendekatan yang bahan-bahan hukum yang
dilakukan dengan menelaah latar mengikat, yakni:
belakang apa yang dipelajari dari a. Staatblad Nomor 23 Tahun
perkembangan isu hukum apa 1847 tentang Burgerlijk
yang dihadapi dalam rangka Wetboek voor Indonesia
pelacakan lembaga hukum dari (BW) atau Kitab Undang-
waktu ke waktu.36 Undang Hukum Perdata.
b. Undang-undang Nomor 1
c. Pendekatan Konseptual Tahun 1974 tentang
Pendekatan yang dilakukan Perkawinan.
manakala penelitian tidak c. Instruksi Presiden Nomor 1
beranjak dari peraturan hukum Tahun 1991 tentang
yang ada, apabila penelitian tidak Kompilasi Hukum Islam.
menemukan pengertian yang ia d. Undang-undang Nomor 23
cari dalam peraturan perundang- Tahun 2002 tentang
undangan maka seseorang peneliti Perlindungan Anak.
harus mencari dari pandangan- e. Peraturan Pemerintah Nomor
pandangan sarjana hukum dan 54 Tahun 2007 tentang
doktrin-doktrin yang berkembang Pelaksanaan Pengangkatan
dalam ilmu hukum.37 Anak.
f. Undang-undang Nomor 2
d. Pendekatan Perbandingan Tahun 2014 tentang
Hukum Perubahan Atas Undang-
Menurut Gutteridge, Undang Nomor 30 Tahun
Perbandingan hukum merupakan 2004 tentang Jabatan Notaris.
suatu metode studi dan penelitian 3.2 Bahan Hukum Sekunder, yang
hukum.” Pendekatan memberikan penjelasan
perbandingan merupakan salah mengenai bahan hukum primer,
satu cara yang digunakan dalam seperti: hasil-hasil penelitian,
penelitian normatif untuk karya ilmiah dari kalangan
membandingkan salah satu hukum yang berkaitan dengan
sistem hukum yang satu dengan Peranan Notaris dalam
sistem hukum yang lain. Dalam Pembuatan Akta Wasiat
hal ini ialah sistem hukum perdata terhadap Anak Angkat ditinjau
barat (KUHPerdata) dan hukum dari Kitab Undang-Undang
Islam.38 Hukum Perdata dan Hukum
3. Sumber Bahan Hukum Islam.
36
3.3 Bahan Hukum tersier
Ibid. Hlm.166.
37
Ibid. Hlm. 177. (penunjang), di luar bahan
38
Gutteridge dalam Peter Mahmud hukum primer dan sekunder
Marzuki. 2006. Penelitian Hukum. Jakarta: seperti kamus, ensiklopedia
Kencana Prenada Media Group. Hlm.172

19
yang berkaitan dengan Peranan Perdata tentang Wasiat terhadap Anak
Notaris dalam Pembuatan Akta Angkat dan Hukum Islam tentang
Wasiat terhadap Anak Angkat Wasiat Anak Angkat.
ditinjau dari Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata dan B. Pembahasan
Hukum Islam.
A. Kewenangan Notaris Sebagai
2. Teknik Pengumpulan Bahan Pejabat Umum Dalam
Hukum Pembuatan Akta Wasiat Untuk
Pengumpulan sumber Bahan Anak Piara Dalam Hukum
Hukum yang digunakan dalam Islam dan Pengangkatan Anak
penelitian ini adalah: Studi Dokumen Dalam Kitab Undang-undang
seperti Kitab Undang-Undang Hukum Hukum Perdata
Perdata dan Hukum Islam, untuk 1. Notaris Sebagai Pelaksana
mengumpulkan data sekunder guna Peraturan Perundang-
mempelajari kaitannya dengan undangan
permasalahan yang diajukan. Bahan
Hukum ini diperoleh melalui studi Berdasarkan ketentuan
kepustakaan dengan cara menyeleksi, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
dan mengklasifikasikan bahan-bahan tentang Perubahan Atas Undang-
hukum relevan. Studi dokumentasi Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
dilakukan melalui penelusuran Jabatan Notaris Pasal 1 ayat (1) Notaris
kepustakaan (library research). adalah pejabat umum yang berwenang
3. Teknik Analisis Bahan Hukum untuk membuat akta autentik dan
Mengingat sifat penelitian kewenangan lainnya sebagaimana
maupun objek penelitian, maka semua dimaksud dalam Undang-Undang ini.
bahan hukum yang diperoleh akan Memperhatikan pengertian Notaris
dianalisis secara deskriftif kualitatif, tersebut, dapat dijelaskan bahwa Notaris
dengan cara mengumpulkan Bahan adalah:
Hukum dipisah-pisahkan menurut a) Pejabat Umum
kategori masing-masing dan kemudian Pemberian kualifikasi Notaris
dideskripsikan dalam uraian yang sebagai Pejabat Umum berkaitan
mendalam sehingga diperoleh jawaban dengan wewenang Notaris. Menurut
terhadap permasalahan dalam Pasal 15 Undang-Undang
penelitian. Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun
4. Teknik Penarikan Kesimpulan 2004 tentang Jabatan Notaris bahwa
Penalaran Hukum secara Notaris berwenang membuat akta
Deduktif, dilakukan dengan autentik, sepanjang pembuatan akta-
menempatkan nilai-nilai, asas-asas dan akta tersebut tidak ditugaskan atau
norma-norma hukum positif khusunya dikecualikan kepada pejabat atau orang
dalam Kitab Undang-Undang Hukum lain. Berdasarkan pengertian diatas,

20
bahwa Notaris berwenang membuat berhubungan dengan Notaris disebutkan
akta sepanjang dikehendaki oleh para dalam banyak ayat di dalam Al-Quran,
pihak atau menurut aturan hukum wajib baik secara eksplisit maupun implisit.
dibuat dalam bentuk akta autentik. Beberapa ayat yang mengelaborasi
Pembuatan akta tersebut harus tentang Notaris, diantaranya :40
berdasarkan aturan hukum yang 1. QS. Al-Baqarah (2) ayat 282
berkaitan dengan prosedur pembuatan 2. QS. Al-‘Alaq (96) ayat 4
akta Notaris. Seperti Notaris sebagai 3. QS. Al-Qalam (68) ayat 1-2
Pejabat Umum dalam pembuatan akta 3. Kewenangan Notaris dalam
wasiat. Pembuatan Akta Wasiat
b) Berwenang membuat akta Untuk Anak Piara dalam
otentik Hukum Islam.
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang
Jabatan Notaris menyatakan bahwa Hukum waris Islam bersumber pada
Notaris merupakan satu-satunya pejabat Al-Quran, hadis, dan ijtihad dari para
umum yang berwenang untuk membuat ulama yang mengatur tentang hukum
akta autentik, kecuali undang-undang waris. Pengaturan mengenai wasiat
menugaskan atau mengecualikan dalam Islam, terdapat dalam QS. Al-
kepada pejabat lain atau orang lain. Baqarah (2) ayat 180:41
Pejabat umum yang dimaksud oleh
Pasal 1868 KUH Perdata hanyalah
Notaris, karena hingga tidak ada
satupun undang-undang yang mengatur
tentang pejabat umum selain Undang- Artinya:
Undang Jabatan Notaris. Otentisitas
suatu akta menurut Pasal 1868 KUH “Diwajibkan atas kamu apabila
Perdata adalah jika akta tersebut dibuat maut hendak menjemput seseorang
dalam bentuk yang ditentukan oleh diantara kamu, jika dia
undang-undang dan dibuat oleh pejabat meninggalkan harta, berwasiat
umum yang berwenang, berdasarkan untuk kedua orang tua dak karib
undang-undang yang mengaturnya. Jadi kerabat dengan cara yang baik,
pejabat umum yang memenuhi syarat (sebagai) kewajiban bagi orang-
sebagaimana disebutkan dalam Pasal orang yang bertakwa”
1868 KUH Perdata hanyalah Notaris.39
2. Kewenangan Notaris dalam Hadis yang berhubungan dengan
Pembuatan Akta Wasiat hukum waris, yaitu:42
Menurut Perspektif Islam 40
Ustad Adil. 2011. Mengenal Notaris
Sumber hukum dalam perspektif Syari’ah. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.
Hlm.21
Islam, yakni ayat-ayat yang 41
Hasbi ash-Shiddieqy.1990.Filsafat
Hukum Islam, cetakan ke-4. Jakarta : Bulan
39
Husni Thamrin. 2010. Pembuatan Bintang. hlm.95.
Akta Pertanahan Oleh Notaris. Yogyakarta : 42
F. Satriyo Wicaksono.2011.Hukum
LaksBank PresSindo, .Hlm 75. Waris.Jakarta: Visimedia. Hlm.127

21
HR. Bukhari dan Muslim “1/3 Ashabah bilghairi46, Ashabah
adalah banyak atu besar (untuk ma’al ghairi47.
pelaksana wasiat) jika kamu c) dzul Arhaam48 yaitu semua orang
meninggalkan ahli warismu yang bukan dzul faraa/idh dan
dalam keadaan yang cukup bukan ashabah, terdiri atas
adalah lebih baik daripada orang yang termasuk anggota-
meninggalkan mereka dalam anggota keluarga patrilineal
keadaan miskin yang meminta- pihak menantu laki-laki atau
minta kepada orang banyak.” anggota-anggota keluarga pihak
Ahli waris adalah seseorang atau ayah dan ibu.
beberapa orang yang berhak mendapat Aturan hukum wasiat secara
bagian dari harta peninggalan. lengkap dari rukun dan syarat wasiat,
Golongan ahli waris di dalam hukum batas maksimal dan berlakunya wasiat
Islam dibedakan 3 (tiga) golongan, karena kematian diatur dalam buku II
yaitu:43 bidang Kewarisan bab V tentang wasiat
a) dzul faraa’idh yaitu Ahli waris dari Pasal 194 sampai dengan Pasal 209
menurut Al-Quran atau yang Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang
sudah ditentukan di dalam Al- wasiat wajibah terhadap orang tua
Quran. angkat dan anak angkat.
b) Ashabah44 menurut ajaran Orang yang akan meninggalkan
kewarisan patrilineal sjafi,i wasiat, dapat dilaksanakan dengan tiga
adalah golongan ahli waris yang cara menurut Pasal 195 KHI, yaitu:49
mendapat bagian terbuka atau Wasiat dilakukan secara lisan dihadapan
bagian sisa. Apabila ada pewaris dua orang saksi, atau tertulis dihadapan
yang meninggal tidak dua orang saksi, atau dihadapan saksi.
mempunyai ahli waris dzul 1) Wasiat hanya diper bolehkan
faraa,idh (ahli waris yang sebanyak-banyaknya sepertiga
mendapat bagian tertentu), maka dari harta warisan kecuali
harta peninggalan diwarisi oleh
ashabah. Ahli waris ashabah 46
Ashabah bilghairi yaitu ashabah
dibagi menjadi tiga golongan dengan sebab orang lain, yakni seorang wanita
yaitu Ashabah binafsihi45, yang menjadi ashabah karena ditarik oleh
seorang laki-laki. Ibid.
47
Ashabah ma’al ghairi yaitu saudara
perempuan yang mewaris bersama keturunan
dari pewaris. Eman Suparman.2007. Hukum
Waris Indonesia (Dalam Perspektif Islam, Adat,
43
Ibid.Hlm.17-20 dan BW). Bandung : PT Refika Aditama. Ibid.
44
Ashabah dalam bahasa Arab bearti 48
dzul Arhaam yaitu orang yang
“Anak lelaki dan kaum kerabat dari pihak mempunyai hubungan darah dengan pewaris
bapak” melalui pihak wanita saja. Eman
45
Ashabah binafsihi yaitu ashabah- Suparman.2007. Hukum Waris Indonesia
ashabah yang berhak mendapat semua harta (Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW).
atau semua sisa. Eman Suparman.2007. Hukum Bandung : PT Refika Aditama. Ibid.
Waris Indonesia (Dalam Perspektif Islam, Adat, 49
Lihat Pasal 195 Kompilasi Hukum
dan BW). Bandung : PT Refika Aditama. hlm.19 Islam

22
apabila semua ahli waris oleh orang lain. Pada Kitab Undang-
menyetujui. undang Hukum Perdata, telah diatur
2) Wasiat kepada ahli waris berlaku secara jelas mengenai prosedur
bila disetujui oleh semua ahli pembuatan wasiat untuk orang lain agar
waris. kehendak terakhirnya tersebut dapat
3) Pernyataan persetujuan pada dijamin keamanannya dengan meminta
ayat (2) dan (3) Pasal ini dibuat bantuan kepada Notaris.
secara lisan di hadapan dua Prosedur formal untuk
orang saksi atau tertulis di pembuatan akta wasiat ada beberapa
hadapan dua orang saksi di macam, antara lain:51
hadapan Notaris. 1. Wasiat Olographis, diatur dalam
Menurut Hukum Islam, wasiat Pasal 932 Kitab Undang-undang
tidak harus dibuat dalam suatu akta Hukum Perdata (KUH Perdata).
autentik. Bentuk wasiat dalam Hukum 2. Wasiat Rahasia, perbedaan
Islam dapat dilakukan secara lisan wasiat rahasia dengan wasiat
maupun tertulis, apabila wasiat lainnya adalah: Wasiat dapat
dilakukan secara lisan maka harus ditulis oleh orang lain/tidak
diucapkan sendiri oleh pewasiat di perlu ditulis sendiri asalkan
hadapan 2 (dua) orang saksi dan tidak ditandatangani oleh pewaris.
perlu untuk dilakukan secara tertulis 3. Wasiat Umum, akta
karena wasiat secara lisan dianggap sah tersebut tidak tertutup seperti
apabila unsur dan syaratnya sudah wasiat rahasia atau olografis.
terpenuhi. Jika wasiat dilakukan secara Ketentuan yang terdapat dalam
tertulis maka isi wasiat seluruhnya KUH Perdata yang berisi membatasi
harus ditulis sendiri oleh pewasiat seseorang pembuatan wasiat agar tidak
dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang merugikan ahli waris menurut undang-
saksi. undang antara lain dapat dijelaskan dari
4. Kewenangan Notaris dalam substansi Pasal 881 ayat (2), yaitu:
Pembuatan Akta Wasiat untuk “Dengan sesuatu pengangkatan waris
Anak Angkat dalam Kitab atau pemberian hibah, pihak yang
Undang-undang Hukum Perdata. mewariskan atau pewaris tidak boleh
Dalam Hukum Perdata Barat, merugikan para ahli warisnya yang
wasiat dikenal dengan istilah testamen. berhak atas sesuatu bagian mutlak”52
Pasal 875 Kitab Undang-undang Menurut pasal 915 KUH Perdata
Hukum Perdata menjelaskan testamen jumlah legitime portienya selalu
adalah suatu pernyataan dari seseorang separuh dari bagiannya sebagai ahli
tantang apa yang dikehendakinya
51
setelah ia meninggal dunia.50 Pewaris
http://notarisgracegiovani.com/index.php/15-
yang akan membuat wasiat, harus
wasiat-dan-prosedurnya diakses pada Tanggal
dengan kesadaran sendiri berdasarkan 29 Juli 2015
kehendaknya dan tanpa dipengaruhi 52
Eman Suparman.2007. Hukum Waris
Indonesia, dalam Perspektif Islam, Adat, dan
50
Lihat Pasal 875 KUH Perdata BW. Bandung : PT Refika Aditama. hlm.31

23
waris menurut Undang-undang. Begitu adalah hanya berlaku bagi masyarakat
pula jumlah legitime portie bagi anak- Tionghoa. Pembahasan mengenai
anak yang lahir di luar perkawinan yang kedudukan anak angkat didalam
telah diakui oleh Hakim, adalah keluarga selanjutnya akan diuraikan
separuh dari bagiannya sebagai ahli dengan berpedoman pada apa yang
waris menurut Undang-undang (pasal termuat dalam Pasal 5 sampai dengan
916 KUH Perdata). Pasal 15 Staatsblad Nomor 129 Tahun
1917. Kedudukan anak
B. Menempatkan Kedudukan Anak angkat terdapat pada Pasal 12
Angkat Sebagai Penerima Wasiat menyamakan seorang anak dengan anak
Menurut Kitab Undang-undang yang sah53 dari perkawinan orang yang
Hukum Perdata dan Anak Piara mengangkat.
Menurut Hukum Islam Dalam Secara Hukum, anak angkat
Melindungi Bagian Mutlak Hak memperoleh nama dari bapak angkat,
Para Ahli Waris Lain. dijadikan sebagai anak yang dilahirkan
dari perkawinan orang tua angkat, dan
1. Kedudukan Anak Angkat menjadi ahli waris orangtua angkat.
Sebagai Penerima Wasiat Terputuslah segala hubungan perdata
Menurut Kitab Undang- yang berpangkal pada keturunan karena
undang Hukum Perdata kelahiran, antara orang tua kandung dan
dalam Melindungi Bagian anak. Anak angkat berhak mewarisi
Mutlak Hak Para Ahli Waris harta orangtua angkatnya dengan bagian
Lain. yang sama besarnya dengan bagian anak
Didalam KUH Perdata tidak sah.54
terdapat istilah anak adopsi atau anak Mengenai siapa saja yang
angkat. Pengaturan mengenai anak berhak mendapatkan warisan maka
angkat hanya dapat ditemukan di dalam KUH Perdata menggolongkan ahli
Staatsblad Nomor 129 Tahun 1917 waris menjadi 4 golongan, yaitu :
yang menjadi pelengkap dari KUH 1. Ahli Waris Golongan I;
Perdata, karena di dalam KUH Perdata Ahli waris golongan I terdiri
tidak ada aturan yang mengatur atas Suami atau istri yang hidup
mengenai anak angkat, maka lahirnya lebih lama dan anak- anak atau
Staatsblad tersebut adalah untuk sekalian keturunannya.
melengkapi kekosongan hukum yang 2. Ahli Waris Golongan II;
mengatur mengenai permasalahan
mengenai anak angkat. Aturan tersebut 53
Lihat juga pengertian mengenai anak
menjadi acuan bagi pengangkatan anak sah menurut Pasal 250 Kitab Undang-undang
atau pengadopsian anak bagi Hukum Perdata yaitu Tiap-tiap anak yang
dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang
masyarakat yang tunduk pada KUH
perkawinan, memperoleh si suami sebagai
Perdata. bapaknya.
Adapun adopsi yang diatur 54
Op.Cit. hlm.121
dalam ketentuan Staatsblad tersebut Soepomo.1983.Bab-Bab Tentang
Hukum Adat.Jakarta: Pradnya Paramita.hlm.101

24
Golongan ini terdiri atas orang
tua, saudara laki-laki atau 2. Kedudukan Anak Piara
perempuan dan keturunannya. sebagai Penerima Wasiat
3. Ahli Waris Golongan III; Menurut Hukum Islam dalam
Golongan ini terdiri atas Melindungi Bagian Mutlak
keluarga sedarah dalam garis Hak Para Ahli Waris Lain.
lurus keatas sesudah orang tua, Kedudukan anak angkat
baik dari pihak ayah maupun menurut KHI adalah tetap sebagai anak
dari garis ibu. yang sah berdasarkan putusan
4. Ahli Waris Golongan IV; pengadilan dengan tidak memutuskan
Menurut Pasal 858 ayat 1 KUH hubungan nasab atau darah dengan
Perdata, dalam hal tidak adanya orang tua kandungnya, dikarenakan
saudara (golongan II) dan prinsip pemeliharaan anak atau
saudara dalam salah satu garis pengangkatan anak menurut KHI adalah
lurus keatas (golongan III). merupakan manifestasi keimanan yang
Pengertian sanak saudara dalam terwujud dalam bentuk memelihara
garis yang lain ini adalah para anak orang lain sebagai anak dalam
paman dan bibi, serta sekalian bentuk pengasuhan anak dengan
keturunan mereka yang telah memelihara segala keperluan dan
meninggal dunia lebih dahulu kebutuhan hidupnya.
dari pewarisl.55 Anak piara berhak mendapatkan
Apabila dalam pembagaian bagian harta peninggalan dari orang tua
warisan terdapat suatu wasiat maka angkatnya apabila telah meninggal
wasiat harus dijalankan terlebih dahulu dunia. Pada Pasal 209 ayat (2)
kemudian sisanya diberikan kepada ahli menjelaskan bahwa anak angkat atau
waris berdasarkan undang-undang56. anak piara dapat menerima wasiat
Ketentuan yang terdapat dalam KUH wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari
Perdata yang berisi membatasi harta warisan orang tua angkatnya.
seseorang pembuatan wasiat agar tidak
merugikan ahli waris menurut undang-
undang antara lain dapat dijelaskan dari
substansi Pasal 881 ayat (2), yaitu: C. Penutup
“Dengan sesuatu pengangkatan waris 1. Kesimpulan
atau pemberian hibah, pihak yang Berdasarkan hasil penelitian
mewariskan atau pewaris tidak boleh mengenai permasalahan yang telah
merugikan para ahli warisnya yang diuraikan dalam bab sebelumnya pada
berhak atas sesuatu bagian mutlak”57 tesis ini, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
55
Ibid.258
56
1. Wasiat yang dibuat oleh pewasiat
Lihat Pasal 874 Kitab Undang-undang
Hukum Perdata. menurut Hukum Islam maupun
57
Eman Suparman.2007. Hukum Waris Hukum Perdata hendaknya dilakukan
Indonesia, dalam Perspektif Islam, Adat, dan secara tertulis dihadapan Notaris dan
BW. Bandung : PT Refika Aditama. hlm.31

25
dihadiri oleh dua orang saksi agar wajibah yang besarnya 1/3 dari
wasiat yang telah dibuat tersebut harta warisan anak atau orang
mempunyai kepastian hukum dan tua angkatnya.
dapat menjadi alat bukti yang kuat Hukum Perdata berdasarkan
apabila terjadi perselisihan Staatsblad Tahun 1917 Nomor
dikemudian hari. 129 menjelaskan bahwa anak
2. Perbandingan hak waris anak piara angkat putus hubungan perdata
dalam Hukum islam dan dengan orang tua kandung dan
pengangkatan anak (adopsi) dalam beralih kepada orang tua angkat
Kitab Undang-Undang Hukum Anak angkat berkedudukan
Perdata (KUHPer) terhadap harta sebagai pewaris penuh orang tua
warisan mempunyai persamaan dan angkat dan terhadap orang tua
perbedaannya, yaitu: kandung tidak lagi mendapatkan
a. Persamaan antara Hukum warisan sebagaimana ketentuan
Perdata dan Hukum islam Staats Blad Tahun 1917 Nomor
mengakui adanya pengangkatan 129 pasal 14 yang menyatakan
anak tetapi dengan tujuan yang bahwa: “Karena berlangsungnya
berbeda. Dalam hal suatu pengangkatan, terputuslah
pemeliharaan anak angkat, segala hubungan perdata yang
tanggung jawab pendidikan, dan berpangkal pada keturunan
mendapatkan kasih sayang harus karena kelahiran antara anak
diberikan oleh orang tua angkat yang diangkat dengan
kepada anak angkatnya seperti kedudukan orang tuanya dan
memberikan kasih sayang pada keluarga kandung dan semua
anak kandungnya. keluarganya yang sedarah”.
b. Perbedaan menurut Hukum Dalam pembagaian warisan
Islam, tidak memutuskan apabila terdapat suatu wasiat
hubungan darah antara anak maka wasiat harus dijalankan
angkat dengan orang tua terlebih dahulu kemudian
kandung. Anak angkat tetap sisanya diberikan kepada ahli
berkedudukan sebagai pewaris waris berdasarkan undang-
dari orang tua kandung dan undang. Ketentuan yang terdapat
terhadap orang tua angkat diberi dalam KUH Perdata yang berisi
wasiat wajibah dari harta membatasi seseorang pembuatan
peninggalan anak angkat. Orang wasiat agar tidak merugikan ahli
tua angkat tidak berhak menjadi waris menurut undang-undang
wali dalam pernikahan anak antara lain dapat dijelaskan dari
angkatnya. substansi Pasal 881 ayat (2),
Dalam Hukum Islam anak yaitu: “Dengan sesuatu
angkat atau orang tua angkat pengangkatan waris atau
memperoleh harta warisan pemberian hibah, pihak yang
dengan jalan wasiat yaitu wasiat mewariskan atau pewaris tidak

26
boleh merugikan para ahli
warisnya yang berhak atas
sesuatu bagian mutlak”
2. Saran
1. Pengangkatan anak yang
dilakukan orang lain hendaknya
dilakukan secara resmi tidak
hanya sampai pada tahap Notaris
saja tetapi harus didaftarkan ke
Pengadilan Negeri agar
kedudukan anak angkat
mempunyai kekuatan hukum.
Pengangkatan anak yang
dilakukan dengan mendaftarkan
ke Pengadilan Negeri dapat
memberikan jaminan kepada anak
tersebut, baik untuk kelanjutan
hidupnya dan kedudukan waris
dalam keluarga yang mengangkat.
2. Diharapkan kepada Notaris untuk
melakukan sosialisasi kepada
masyarakat, khususnya bagi
masyarakat beragama Islam dalam
pembuatan wasiat hendaknya
menggunakan akta Notaris. Untuk
menjamin kepastian hukum dan
melindungi bagian mutlak hak
para ahli waris lain.
3. Kementerian Hukum dan Ham
(KEMENKUMHAM) diharapkan
untuk dapat meningkatkan
pelayanan kepada Notaris,
terutama dalam hal Notaris
meminta data daftar wasiat yang
telah dilaporkan secara online
kepada Kemenkumham, yang
selama ini Notaris masih meminta
data tersebut secara manual
dengan mengirimkan surat dan
memakan waktu cukup lama.

27
DAFTAR PUSTAKA (Burgerlijk Wetboek). Jakarta :
Pradnya Paramitha.
Dominikus Rato.2011.Hukum Soepomo.1983.Bab-Bab Tentang Hukum
Perkawinan dan Waris Adat (Sistem Adat.Jakarta: Pradnya Paramita.
Kekerabatan, Bentuk Perkawinan Soerjono Soekanto, Sri Mamudji.1985.
dan Pola Pewarisan Adat di Penelitian Hukum Normatif Suatu
Indonesia).Laksbang Justitia. Tinjauan Singkat. Jakarta:CV
Eman Suparman.2007. Hukum Waris Rajawali.
Indonesia, dalam Perspektif Islam, Subekti. 1984. Pokok-pokok Hukum
Adat, dan BW. Bandung : PT Refika Perdata. Jakarta : Pradnya
Aditama. Paramita.
Fahmi Al Amruzi.2014. Rekonstruksi Suharjono.1995. Sekilas Tinjauan Akta
Wasiat Wajibah dalam Kompilasi Menurut Hukum. Varia Peradilan
Huku m Islam. Aswaja Pressindo: 123.
Yogyakarta. Ustad Adil. 2011. Mengenal Notaris
F. Satriyo Wicaksono. 2011. Hukum Syari’ah. Bandung : PT Citra
Waris. Jakarta: Visimedia. Aditya Bakti.
Gutteridge dalam Peter Mahmud
Marzuki. 2006. Penelitian Hukum. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014
Jakarta: Kencana Prenada Media tentang Perubahan Atas Undang –
Group. undang Nomor 30 tahun 2004
Habib Adjie. 2009. Hukum Notaris tentang Jabatan Notaris, LN Nomor
Indonesia Tafsir Tematik Terhadap 117 TLN Nomor 4432.
UU no.30 tahun 2004 Tentang Kompilasi Hukum Islam
Jabatan Notaris, cet. Kedua. KUHPerdata
Bandung: PT Refika Aditama.
Husni Thamrin. 2010. Pembuatan Akta
Pertanahan Oleh Notaris. http://notarisgracegiovani.com/index.php/
Yogyakarta : LaksBank PresSindo. 15-wasiat-dan-prosedurnya diakses
Hasbi ash-Shiddieqy.1990.Filsafat pada Tanggal 29 Juli 201
Hukum Islam, cetakan ke-4.
Jakarta : Bulan Bintang.
Irma Devita Purnamasari.2014.Kiat-Kiat
Cerdas, Mudah, dan Bijak
Memahami Masalah Hukum
Waris.Bandung: Penerbit Kaifa.
Peter Mahmud Marzuki.2014.Penelitian
Hukum, Edisi Revisi.Jakarta :
Prenadamedia.
Ridwan HR. 2006. Hukum Administrasi
Negara. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.
R.Subekti dan Tjitrosudibio.2001.Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata
KEWENANGAN NOTARIS DALAM MEMBUAT AKTA OTENTIK AKAD
PEMBIAYAAN MUDHARABAH BERDASARKAN HUKUM ISLAM58

Ahmad Febry59 , Abdullah Gofar, Achmad Syarifudin

Abstract : Indonesian economic Islam system has been well known by published The
Statute Number 21 on 2008 about Syariat Banks. During on its doing of banking enrole
-- the contract between credditure and debiture like mudharabah lease act – must need
the notary justify as authentical act for legal security the whole parties. This research
patternized about the notary’s enrole on making its authentical act of mudharabah lease
based on Islamic law contract, the comparison acts between KUH Perdata and Islamic
law contract, and the notary opportunity by making its mudharabah lease contract at
Islamic banking practice. This research is normative based on legal security theory, law
connectivity theory, and maslahat theory. This research use legal prime, secunder,
tersier, and conceptual approach, historical approach, statute approach, and comparative
approach methods. The final conclusion on this research is that the notary justify as
authentical act of mudharabah lease based on Islamic law written in Al-Quran Al-
Baqarah 282. The comparison act between KUH Perdata and Islamic law is the
similarity of its established contract, the legal of conditional act, the freedom of
contract, and the consensus principle. Then the notary opportunity by making its
mudharabah lease contract at Islamic practical banks has many opportunities that can be
measured by industrical activity growth and Islamic economical principle.

Keywords : Notary, Authentical Minute, Mudharabah Lease Contract.

58
Artikel ini merupakan ringkasan Tesis yang berjudul : Kewenangan Notaris dalam Membuat Akta
Otentik Akad Pembiayaan Mudharabah Berdasarkan Hukum Islam. Ditulis oleh Ahmad Febry.
Pembimbing I: Dr. H. Abdullah Gofar, S.H., M.H. Pembimbing II : H. Achmad Syarifudin, S.H., Sp.N.
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.
59
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
Angkatan 2013.

29
A. PENDAHULUAN akad bagi hasil antara pemilik modal
1. Latar Belakang disebut dengan shahibul mal dengan
Berdasarkan Badan Pusat pihak pengelola disebut sebagai
Statistik Indonesia (BPS) pada tahun mudharib, untuk melakukan
2010, tercatat sebanyak 207.176.162 aktivitas produktif dengan syarat
penduduk Indonesia memeluk bahwa keuntungan yang dihasilkan
Agama Islam, jika dihitung akan dibagi menurut kesepakatan
persentasenya jumlah 207.176.162 yang ditentukan sebelumnya dalam
tersebut setara dengan 87,18% dari akad61 yang disebut dengan nisbah.
total penduduk Indonesia.60 Secara prinsip akad
Dominasi tersebut tentulah sangat mudharabah terbagi menjadi dua
mempengaruhi interaksi masyarakat jenis yaitu mudharabah mutlaqah
dari segala aspek. Dengan besarnya dan mudharabah muqayyadah.Pada
jumlah penduduk Islam di Indonesia mudharabah mutlaqah, pemilik
beberapa kebijakan publik diatur modal tidak memberikan
oleh Pemerintah Indonesia selaras persyaratan kepada pengelola untuk
dengan ajaran Agama Islam. melakukan jenis usaha tertentu.62
Salah satu kebijakan publik Jadi, jenis usaha yang akan
yang diselaraskan dengan ajaran dijalankan oleh pengelola modal
Agama Islam adalah Undang- atau mudharib secara mutlak
Undang Nomor 21 tahun 2008 diputuskan secara mandiri dan tidak
tentang Perbankan Syariah, ada intervensi dari pemilik modal
didalamnya mengatur segala sesuatu dengan batasan tidak boleh
yang menyangkut tentang Bank dilakukannya pengalihan modal
Umum Syariah dan Unit Usaha kepada pihak lain tanpa seizin
Syariah, mencakup kelembagaan, pemilik modal. Sedangkan pada
kegiatan usaha, serta cara dan proses jenis mudharabah muqayyadah,
dalam melaksanakan kegiatan pemilik modal mensyaratkan kepada
usahanya. Dalam proses pengelola modal untuk melakukan
pelaksanaanya perbankan syariah ini jenis usaha tertentu pada tempat dan
juga tidak terlepas dari pembuatan waktu tertentu sehingga terikat atau
akad/kontrak dengan para terbatas.
nasabahnya ataupun dengan badan Dalam praktik perbankan,
atau lembaga yang bekerja sama mudharabah mutlaqah biasa
dengannya. diaplikasikan dalam produk
Salah satu produk perjanjian tabungan dan investasi. Sedangka
syariah yang ditawarkan perbankan mudharabah muqayyadah
syariah di Indonesia kepada nasabah
yaitu akad pembiayaan
mudharabah. Sebagai suatu bentuk
61
perjanjian, mudharabah merupakan Ascarya. 2011. Akad dan Produk Bank Syariah.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Hlm.60.
60
Data Badan Badan Pusat Statistik Tahun 2010. 62
Ibid. Hlm. 65.

30
diaplikasikan untuk investasi terikat mendorong kebutuhan akan pelayanan
dan pembiayaan modal kerja.63 dari pejabat umum dalam bidang
Akad mudharabah terdapat pembuatan alat bukti guna menjamin
beberapa syarat khusus yang harus kepastian hukum tersebut,66 khususnya
dipenuhi, yaitu : notaris. Keterlibatan notaris dalam
1) Modal harus berupa uang yang membuat akta otentik akad pembiayaan
jelas dan diketahui jumlahnya mudharabah bertujuan memberikan
bersifat tunai dan diserahkan kepastian hukum dan perlindungan
kepada mitra kerja; hukum bagi hubungan-hubungan
2) Keuntungan harus jelas hukum yang tercipta dari perbuatan
ukurannya dalam pembagian hukum masyarakat dalam interaksi
yang disepakati kedua belah sosial.
pihak.64 Maka dari itu, bagi masyarakat yang
Keuntungan yang diperoleh bagi melakukan suatu perjanjian yang dalam
pemilik modal (shahibul mal) dan pengaturannya lebih memilih
pengelola modal (mudharib) ditentukan berdasarkan hukum Islam seperti akad
dengan adanya kesepakatan angka pembiayaan mudharabah dalam
nisbah, sepeti dibagi 50:50, 60:40, kegiatan perbankan syariah, maka perlu
70:30, atau proporsi lain yang ditemukan relevansi antara hukum
disepakati. Faktor-faktor yang Islam yang secara khusus mengatur
menentukan tingkat nisbah adalah tentang perbuatan hukum masyarakat
resiko, nilai tambah dari kerja dan dengan kewenangan notaris sebagai
usaha, serta tanggungan.65 Jadi, angka pejabat umum yang membuat akta
nisbah merupakan suatu angka rasional otentik guna memberikan kepastian
yang disepakati bersama dengan hukum. Sehingga tidak terjadi
mempertimbangkan kegiatan usaha kekeliruan dalam penerapan hukum,
yang akan dibiayai dari berbagai sisi. baik secara formil dan materil.
Dengan keberadaan akad
pembiayaan mudharabah dalam 2. Permasalahan
praktek perbankan syariah diatas telah Dengan diuraikannya latar
menunjukan bahwa kebutuhan hukum belakang di atas, maka penulis
masyarakat di Indonesia mulai menyimpulkan tiga permasalahan, yaitu
beragam. Terhadap perbuatan- sebagai berikut :
perbuatan hukum yang dilakukan 1) Bagaimana alas hak notaris dalam
masyarakat dibutuhkan kepastian membuat akta otentik akad
hukum guna melindungi hak hukum pembiayaan mudharabah menurut
masyarakat dan tercapainya rasa hukum Islam?
keadilan. Meningkatnya tuntutan
masyarakat akan kepastian hukum juga

63
Ibid. Hlm.67. 66
Herlien Budiono. 2013. Dasar Teknik Pembuatan
64
Ibid. Akta Notaris. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
65
Ibid. Hlm. 1.

31
2) Bagaimana perbandingan perjanjian mendaftar dalam buku
menurut KUH Perdata dengan akad khusus;
menurut hukum Islam ? c. Membuat copy dari asli
3) Bagaimana prospek notaris dalam surat-surat dibawah tangan
membuat akta otentik akad berupa salinan yang
pembiayaan mudharabah dalam membuat uraian
praktek perbankan syariah ? sebagaimana ditulis dan
digambarkan dalam surat
B. KERANGKA KONSEPTUAL yang bersangkutan;
1. Kewenangan Notaris d. Melakukan pengesahan
Kewenangan notaris sebagai kecocokan fotocopy dengan
pejabat umum untuk membuat akta surat aslinya;
otentik diatur dalam Undang e. Memberikan penyuluhan
Undang Nomor 30 Tahun 2004 hukum sehubungan dengan
Tentang Jabatan Notaris, pada Pasal pembuatan akta;
15, yakni : f. Membuat akta berkaitan
1) Notaris berwenang membuata dengan pertanahan; atau
akta otentik mengenai semua g. Membuat akta risalah lelang.
perbuatan, perjanjian dan 3) Selain kewenangan
ketetapan yang diharuskan oleh sebagaimana yang dimaksud
peraturan perundang-undangan pada ayat (1) dan ayat (2),
dan/atau yang dikehendaki oleh notaris mempunyai kewenangan
yang berkepentingan untuk lain yang diatur dalam
dinyatakan dalam akta otentik, peraturan perundang-undangan.
menjamin kepastian tanggal 2. Akta Otentik.
pembuatan akta, memberikan Dalam Pasal 1868 Kitab
grosse, salinan dan kutipan Undang Undang Hukum Perdata
akta, semuanya itu sepanjang telah dijelaskan bahwa akta otentik
pembuatan akta-akta itu tidak adalah suatu akta yang dibuat dalam
juga ditugaskan atau bentuk yang ditentukan dalam
dikevualikan kepada jabatan undang-undang oleh atau dihadapan
lain atau orang lain yang pejabat umum yang berwenang
ditetapkan oleh undang-undang; untuk itu ditempat akta itu dibuat.
2) Notaris berwenang pula : Begitu halnya dengan akta notaris
a. Mengesahkan tanda tangan sebagai akta otentik yang
dan menetapkan kepastian mempunyai kekuatan pembuktian
tanggal surat dibawah tangan yang sempurna, sehingga tidak perlu
dengan mendaftar dalam dibuktikan atau ditambah dengan alat
buku khusus; bukti lainnya, jika ada orang/pihak
b. Membukukan surat-surat yang menilai atau menyatakan
dibawah tangan dengan bahwa akta tersebut tidak benar,
maka orang/pihak yang menilai atau

32
menyatakan tidak benar tersebut
wajib membuktikan penilaian atau
pernyataannya sesuai aturan hukum
yang berlaku.67
3. Perjanjian
Perjanjian berdasarkan Kitab
Undang Undang Hukum Perdata,
dijelaskan dalam Pasal 1313 Bab II
Buku Ketiga Kitab Undang Undang
Hukum Perdata, yakni : “Suatu
perjanjian adalah suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu
orang lain atau lebih”.68 Dari pasal
tersebut perjanjian merupakan
perbuatan hukum antara dua pihak
atau lebih yang saling mengikatkan
diri atas kehendaknya sendiri dan
mempunyai akibat hukum bagi para
pihak yang membuat perjanjian
tersebut.
Sedangkan dalam hukum Islam,
perjanjian dikenal dengan istilah
akad. Hal tersebut dapat dilihat
dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah
ayat (1), yaitu :

67
Syafran Sofyan. Notaris “Openbare Ambteren”.
http://www.jimlyschool.com/ read/analisis/ 384 /
notaris-openbare-amtbtenaren-syafran-sofyan/ > 30
Mei 2014.
68
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio. 1995. Kitab
Undang Undang Hukum Perdata, Edisi Revisi.
Jakarta : Pradnya Paramita. Hlm. 338.

33
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu
binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan
tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya
Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.

Pengertian akad menurut ulama terminologis, menurut Pasal 20 ayat


fikih (Syafi’i, Maliki, dan Hambali) (1) Kompilasi Hukum Ekonomi
dibagi menjadi dua pengertian. Syariah, akad adalah kesepakatan
Berdasarkan pengertian umum akad dalam suatu perjanjian antara dua
adalah sesuatu yang dikerjakan pihak atau lebih untuk melakukan
seseorang berdasarkan keinginan atau tidak melakukan perbuatan
sendiri seperti wakaf, talak, dan hukum tertentu.
pembebasan atau sesuatu yang
pembentukan membutuhkan 4. Pembiayaan Mudharabah.
keinginan dua orang seperti jual Dalam penjelasan Pasal 19
beli, perwakilan, dan gadai. ayat (1) huruf c Undang Undang
Sedangkan pengertian secara khusus Nomor 21 Tahun 2008 Tentang
akad adalah perikatan yang Perbankan Syariah, bahwa yang
ditetapkan dengan adanya ijab qabul dimaksud dengan akad mudharabah
berdasarkan ketentuan syara yang dalam pembiayaan adalah akad kerja
berdampak pada objeknya.69 sama suatu usaha antara pihak
pertama (shahibul maal atau bank
Secara etimologis, akad syariah) yang menyediakan seluruh
berarti perikatan, perjanjian, atau modal dan pihak kedua (mudharib
pemufakatan sebagai suatu perbuatan atau nasabah) yang bertindak selaku
seseorang atau lebih yang pengelola dana dengan membagi
mengikatkan dirinya terhadap keuntungan usaha sesuai dengan
70
seorang lain. Sedangkan secara kesepakatan yang dituangkan dalam
akad, sedangkan kerugian
69
Rachmat Syafe’i. 2001. Fiqh Muamalah. ditanggung sepenuhnya oleh bank
Bandung : Pustaka Setia. Hlm. 43. syariah, kecuali jika pihak kedua
70
Ibid. Hlm. 146.

34
melakukan kesalahan yang Jenis penelitian yang dilakukan
disengaja, lalai, atau menyalahi ialah penelitian hukum normatif dengan
perjanjian. Secara prinsip menggunakan metode pendekatan
mudharabah terbagi dalam dua jenis konseptual, pendekatan sejarah,
yaitu :71 pendekatan perundang-undangan, dan
pendekatan perbandingan. Bahan hukum
1) Mudharabah Mutlaqah yaitu yang digunakan yaitu bahan hukum
akad kerja sama dimana primer, sekunder, dan tersier yang
mudharib diberikan kekuasaan dikumpulkan dan diolah melalui studi
penuh untuk mengelola modal kepustakaan. Penarikan kesimpulan
usaha dari shahibul maal dengan dalam penelitian ini menggunakan
tidak dibatasinya tujuan, jenis, logika berfikir deduktif.
dan tempat usaha.
D. Temuan dan analisa.
2) Mudharabah Muqayyadah yaitu
akad kerja sama dimana 1. ALAS HAK NOTARIS
shahibul maal menetapkan DALAM MEMBUAT AKTA
syarat tertentu yang harus OTENTIK AKAD
dipatuhi oleh mudharib baik PEMBIAYAAN
mengenai tujuan, jenis, dan MUDHARABAH
tempat usaha. BERDASARKAN HUKUM
ISLAM.
Pembagian hasil usaha atau
keuntungan antara shahibul maal dengan Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat
mudharib atas hasil usaha yang 282 menjadi dasar hukum
diperoleh dengan akad mudharabah kewenangan notaris dalam presfektif
dilakukan atas dasar nisbah. Nisbah hukum Islam. Al-Qur’an telah
merupakan persentasi bagi hasil masing- mengatur secara tegas terhadap
masing pihak dari keuntungan yang fungsi dan tugas seorang juru tulis,
didapat, misalnya ; 50:50, 60:40, atau dalam hal ini notaris, yang
70:30 yang disepakati sebelumnya. melakukan pencatatan akta-akta
Angka nisbah merupakan angka hasil otentik setiap perjanjian.
dari negosiasi antara shahibul maal Kewenangan notaris dalam
dengan mudharib atas dasar membuat akta otentik akad
mempertimbangkan potensi dari pembiayaan mudharabah telah
kegiatan usaha yang akan dibiayai. sesuai dengan kaidah fiqh bahwa
dalam hal muamalah didasarkan
C. Metode penelitan. pada asas kebolehan kecuali
terdapat dalil yang melarangnya.
71
Rachmadi Usman. 2009. Produk dan Akad
Hal ini sejalan dengan Pasal 15 ayat
Perbankan Syariah di Indonesia : Implementasi dan (1) Undang Undang Nomor 30
Aspek Hukum. Bandung : Citra Aditya. Hlm. 210- Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
211.

35
bahwa notaris berwenang membuat dengan yang diatur dalam
akta otentik mengenai semua hukum Islam, yaitu sighat al-
perbuatan dan perjanjian yang aqd atau kesepakatan, al-
ditetapkan oleh peraturan aqidain atau para pihak yang
perundang-undangan dan atau mampu melakukan akad, mahal
dikehendaki oleh yang al-aqd atau suatu objek yang
berkepentingan untuk dinyatakan diperjanjikan, dan maudhu al-
dalam akta otentik. aqd atau tujuan akad yang
tidak dilarang.
2. PERBANDINGAN
PERJANJIAN MENURUT 3) Dalam hal asas kebebasan
KUH PERDATA DENGAN berkontrak dan asas
AKAD MENURUT HUKUM konsensualitas dalam KUH
ISLAM. Perdata, dikenal juga dua asas
yang serupa dalam hukum Islam,
Perbandingan perjanjian yaitu asas Al-Hurriyah yaitu
menurut KUH Perdata dengsan segala sesuatu boleh kecuali yang
akad menurut hukum Islam dapat dilarang atau diharamkan, dan
dilihat dari persamaan dan asas Ar-Ridha’iyah yaitu adanya
perbedaannya. Adapun persamaan kesepakatan atau sukarela antara
perjanjian menurut KUH Perdata para pihak.
dengan akad menurut hukum
Islam, antara lain : Sedangkan perbedaan
yang relevan dan signifikan
1) Secara garis besar terbentuknya antara perjanjian menurut KUH
perjanjian baik menurut KUH Perdata dan akad menurut hukum
Perdata maupun akad dalam Islam, antara lain :
hukum Islam yaitu adanya
pertemuan kehendak berupa 1) Berdasarkan sumbernya,
kesepakatan antara pihak yang perjanjian menurut KUH Perdata
satu dengan pihak yang lainnya bersumber pada hukum tertulis
yang saling mengikatkan diri yang sangat dipengaruhi oleh
untuk melakukan sesuatu atau pandangan hidup atau daya fikir
tidak melakukan sesuatu dan manusia pembuatnya yang sangat
berdampak pada objek subjektif, sedangkan akad
perjanjian. menurut hukum Islam bersumber
2) Syarat sah perjanjian dalam pada Al-Qur’an dan Hadits yang
Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu memiliki unsur ketuhanan.
kesepakatan, kecakapan
bertindak, suatu hal tertentu, 2) Secara substansi, perjanjian
dan adanya kausa yang halal. menurut KUH Perdata hanya
Syarat sah tersebut serupa mengatur hubungan manusia

36
dengan manusia dan manusia Prospek notaris dalam
dengan benda, sedangkan akad pembuatan akta otentik akad
menurut hukum Islam mengatur pembiayaan mudharabah dalam
hubungan manusia dengan Allah praktek perbankan syariah tidak
SWT, manusia dengan manusia, terlepas dari beberapa faktor yang
dan manusia dengan benda. mempengaruhi yaitu antara lain;
dominasi penduduk beragama islam
3) Berdasarkan motifnya, perjanjian di Indonesia mencapai 87%;
menurut KUH Perdata bertujuan terdapatnya regulasi pembiayaan
meningkatkan harta kekayaan mudharabah di dalam hukum
duniawi saja atau bersifat nasional (UU No. 21/2008, PBI No.
materialisme, sedangkan akad 7/46/PBI/2005 tentang
menurut hukum Islam penghimpunan dan penyaluran dana
meningkatkan dan menjaga harta bank syariah, Fatwa MUI No.
kekayaan dalam bentuk ibadah 7/DSN-MUI/IV/2000 tentang akad
kepada Allah SWT. mudharabah); dan pesatnya
pertumbuhan pembiayaan
4) Perjanjian menurut KUH Perdata mudharabah pada bank syariah yang
dianggap sah apabila tidak disalurkan kepada setiap kegiatan
bertentangan dengan undang- usaha produktif yang menggunakan
undang, sedangkan akad menurut prinsip syariah kepada nasabah
hukum Islam dianggap sah perbankan syariah.
apabila tidak bertentangan
dengan syariah yang bersumber Dengan bekembang dan
dari Al-Qur’an dan Hadits. meningkatnya pertumbuhan
pembiayaan mudharabah, maka
5) Dalam hal mencari keuntungan,
akan meningkat pula kebutuhan
perjanjian menurut KUH Perdata
masyarakat akan kepastian hukum
memperbolehkan diterapkannya
dalam melakukan akad pembiayaan
prinsip bunga, sedangkan akad
mudharabah. Tentu saja hal tersebut
menurut Islam melarang
menjadi peluang yang baik bagi
diterapkannya prinsip bunga atau
notaris sebagai pejabat yang
yang lebih dikenal dalam syariah
berwenang sekaligus sebagai mitra
dengan istilah riba
perbankan dalam memberikan
jaminan kepastian hukum dalam
3. PROSPEK NOTARIS DALAM
bentuk akta otentik atas akad
MEMBUAT AKTA OTENTIK
pembiayaan mudharabah yang
AKAD PEMBIAYAAN
dilakukan oleh pihak bank syariah
MUDHARABAH DALAM
dengan nasabah. Serta sebagai salah
PRAKTEK PERBANKAN
satu faktor penunjang dalam lalu
SYARIAH.
lintas kegiatan industri dan

37
perekonomian yang menggunakan
prinsip syariah. a. Persamaan perjanjian
menurut KUH Perdata
dengan akad menurut hukum
E. PENUTUP. Islam terletak pada
terbentuknya perjanjian yang
1. Kesimpulan. merupakan pertemuan
kehendak para pihak untuk
Berdasarkan pembahasan dalam saling mengikatkan diri yang
penelitian tesis ini, maka dapat berdampak pada objek
diambil kesimpulan sebagai perjanjian, syarat sah
jawaban dari permasalahan, perjanjian, dan asas
sebagai berikut : kebebasan berkontrak dan
asas konsensualitas.
1) Dalam hukum
Islam, alas hak b. Perbedaan perjanjian
notaris yang menurut KUH Perdata
menjadi dasar dengan akad menurut hukum
kewenangannya Islam terletak pada sumber
dapat membuat hukum, peristilahan,
akta otentik akad ruang lingkup substansi
pembiayaan perjanjian, tujuan
mudharabah perjanjian, dan prinsip bunga
sekaligus sebagai dan bagi hasil.
saksi dengan
tujuan 3) Prospek notaris dalam
memberikan membuat akad pembiayaan
jaminan mudharabah dalam praktek
kepastian hukum perbankan syariah
bagi para pihak mempunyai peluang yang
yang baik diukur dari
membuatnya berkembangnya kegiatan
terdapat dalam industri dan perekonomian
Al-Quran surat yang menggunakan prinsip
Al-Baqarah ayat syariah
282. 2. Saran.

2)Perbandingan perjanjian Berdasarkan pembahasan dalam


menurut KUH Perdata dengan penulisan tesis ini, maka penulis
akad menurut hukum Islam mengemukakan saran sebagai
dapat dlihat dari persamaan berikut :
dan perbedaannya, yaitu :

38
1) Diperlukannya suatu peraturan
dalam hukum nasional yang
mengatur secara harmonis tentang
kewenangan notaris dalam
membuat akta otentik, baik
berdasarkan hukum Islam maupun
berdasarkan hukum perdata barat.
DAFTAR PUSTAKA
2) Diselenggarakannya suatu
pendidikan dan pelatihan yang A. Buku.
terstruktur kepada para notaris
untuk memahami baik secara teori Ascarya. 2011. Akad dan Produk
maupun praktik terhadap hukum Bank Syariah. Jakarta : PT. Raja
perjanjian syariah oleh Ikatan Grafindo Persada.
Notaris Indonesia bekerja sama
dengan Kementerian Agama, Budiono, Herlien. 2013. Dasar
Majelis Ulama Indonesia, dan Teknik Pembuatan Akta Notaris.
Perguruan Tinggi Islam, serta Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
lembaga-lembaga yang terkait.
Subekti, R dan Tjitrosudibio, R.
3) Dengan pemahaman tentang 1995. Kitab Undang Undang Hukum
perekonomian syariah, notaris Perdata, Edisi Revisi. Jakarta :
sebagai pejabat yang berwenang Pradnya Paramita.
dalam pembuatan akta otentik
guna memberikan kepastian Syafe’I, Rachmat. 2001. Fiqh
hukum diharapkan dapat Muamalah. Bandung : Pustaka Setia.
menunjang lalu lintas kegiatan
industri dan perekonomian yang Usman, Rachmadi. 2009. Produk
menggunakan prinsip syariah, dan Akad Perbankan Syariah di
serta untuk kepentingan Indonesia : Implementasi dan Aspek
pembuktian. Hukum. Bandung : Citra Aditya.

B. Peraturan Perundang-
undangan.

Kitab Undang Undang Hukum


Perdata.

Undang Undang Nomor 2 Tahun


2014 Tentang Perubahan Undang

39
Undang Nomor 30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris.

Undang Undang Nomor 21 Tahun


2008 Tentang Perbankan Syariah.

Peraturan Mahkamah Agung


Nomor 2 Tahun 2008 Tentang
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

Fatwa DSN-MUI Nomor


7/DSNMUI/IV/2000 Tentang
Mudharabah.

C. Sumber dari Internet.

http://www.jimlyschool.com/notari
s-openbare-amtbtenaren-syafran-
sofyan/. Syafran Sofyan. Notaris
“Openbare Ambteren”. > 30 Mei
2014

40
KEWENANGAN NOTARIS SEBAGAI PEJABAT LELANG KELAS II
BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 93/PMK.06/2010
TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN LELANG72

Oleh :
73,
AMIR HAKIM HASYIM FEBRIAN, HERMAN ANDREIJ ADRIANSYAH

Abstract : A Notary is a Public Official which is authorized to make authentic deeds by


the Notary Occupation Act.A Notary can double as a Land Deed Officer (PPAT) which
is authorized to make authentic deeds regarding certain legal actions on the land right.
The PPAT’s authority is to make the Transfer of Right deed, the Imposition of Right
deed such as the Power of Attorney’s Mortgage Right Imposing (SKMHT), and the
imposition of Mortgage Right Deed (APHT) in a Credit Agreement between a Debtor
and creditors (in this case Banks or Non-Bank Financing Institutions). A Notary can
also double as a Second Class Auction Officer (hereinafter referred to as a Notary PL-2)
all at once making a minutes of auction deed as it is stipulated in UUJN Article 15
Paragraph (2) Point g. First class auction officer is a special position which is given by
the Ministry of Finance cq. Directorate General of State Finance cq. Service Office of
State Property and Auction. An Auction or a Public Sales is an open to public sales of
goods at a increased or a decreased written and/or oral price quote in order to achieve
the highest price and was preceded by the auction’s announcement. The First Class and
Second class Auction Officer’s authority is regulated in the Finance Minister’s
Regulation (PMK) Number 93/PMK.06/2010 regarding the Implementation Guideline
for auction, where there are three classifications on auction, which are the execution
auction, the mandatory non-execution auction and the voluntary non-execution auction.
Within the mandatory execution auction there is the Execution auction Article 6 of the
Mortgage Right Law (UUHT) classification. However, the UUHT auction authority
should only be held by a First Class Auction officer from the Ministry of Finance.
Notary PL-2 is not given the authority over the UUHT execution auction, eventhough
the notary as the PPAT also gave the birth of the Mortgage right on the mortgage right
burdened land right certificate and issued the mortgage right certificate (SHT).
Certificate are the two formal requirements that ougth to be met by creditors in the
implementation petition of the Article 6 UUHT execution auction.

Keywords: second class auction Officer, Auction, Notary

72
Artikel ini merupakan ringkasan tesis yang berjudul : Kewenangan Notaris
Sebagai Pejabat Lelang Kelas II Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
93/PMK.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. Ditulis oleh Amir Hakim
Hasyim, SH. Pembimbing I : Dr. Febrian, S.H, M.S., Pembimbing II : Herman Andreij
Adriansyah, S.H.,M.H., Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya
Palembang.
73
Penulis adalah Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya
Palembang Angkatan 2012.

41
A. PENDAHULUAN Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan
1. Latar Belakang (UUHT) atas tanah beserta benda-
Notaris adalah Pejabat Umum atau benda yang berkaitan dengan tanah.
Pejabat Publik yang mempunyai Notaris juga dapat merangkap
kewenangan berdasarkan Undang- sebagai Pejabat Lelang Kelas II
Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang (Notaris PL-2) dan membuat akta
Jabatan Notaris (UUJN). Notaris risalah lelang sebagaimana diatur pada
berwenang membuat Akta autentik UUJN Pasal 15 Ayat (2) huruf g.
mengenai semua perbuatan, perjanjian, Lelang atau Penjualan di muka umum
dan penetapan yang diharuskan oleh
adalah penjualan barang yang terbuka
peraturan perundang-undangan.74
untuk umum dengan penawaran harga
Notaris dapat merangkap jabatan
secara tertulis dan/atau lisan yang
sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah
semakin meningkat atau menurun
(PPAT) dalam lingkup wilayah
untuk mencapai harga tertinggi, yang
jabatannya sebagaimana diatur pada
didahului dengan Pengumuman
UUJN Pasal 15 Ayat (2) huruf f. PPAT
Lelang.77
adalah pejabat umum yang diberi
Pelaksanaan Lelang ini diatur
wewenang untuk membuat akta-akta
dalam Peraturan Menteri Keuangan
otentik mengenai perbuatan hukum
Republik Indonesia Nomor
tertentu mengenai hak atas tanah.75
93/PMK.06/2010 (PMK
Kewenangan PPAT adalah membuat
No.93/PMK.06/2010) tentang Petunjuk
akta Peralihan Hak, akta Pembebanan
Pelaksanaan Lelang. Pejabat Lelang78
Hak seperti Surat Kuasa Membebankan
(PL) adalah orang yang berdasarkan
Hak Tanggungan (SKMHT) dan Akta
peraturan perundang-undangan diberi
Pembebanan Hak Tanggungan (APHT)
wewenang khusus untuk melaksanakan
dalam sebuah Perjanjian Kredit (PK)
penjualan barang secara lelang. Pejabat
antara Debitur dengan Kreditur (dalam
lelang terdiri atas79 :
76
hal ini Bank). Hak Tanggungan (HT)
1. Pejabat Lelang Kelas I (PL-1),
diatur dalam Undang-Undang Nomor 4
yaitu Pejabat Lelang pegawai
74
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 77
Tentang Jabatan Notaris, Pasal 3 ayat (1) Wikiapbn, Sebuah Ensiklopedia
75 Kementerian Keuangan,
http://www.wikiapbn.org/lelang/
http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_Tanggungan (14
(12 Mei 2015)
Maret 2015) 78
76
http://legalbanking.wordpress.com/materi- PMK No.93/PMK.06/2010, Petunjuk
hukum/perjanjian-kredit-dan-pengakuan- Pelaksanaan Lelang, Pasal 1 Ayat (14)
79
hutang/ (14 Maret 2015) Wikiapbn, Ibid
42
Ditjen Kekayaan Negara yang dengan melalui parate eksekusi lewat
berwenang melaksanakan semua pelelangan umum melalui KPKNL dan
jenis lelang, yaitu Lelang dilaksanakan oleh PL-1.
Eksekusi, noneksekusi wajib, dan Frekuensi pelaksanaan lelang yang
noneksekusi sukarela. dilakukan oleh Kementerian Keuangan
2. Pejabat Lelang Kelas II (PL-2), cq. DJKN cq. KPKNL wilayah
yaitu Pejabat Lelang swasta yang Palembang sepanjang tahun 2013 dan
hanya berwenang melaksanakan 2014 cukup tinggi. Menurut data
Lelang noneksekusi sukarela. KPKNL Palembang dalam kurun

Pelaksanaan lelang eksekusi, waktu 2 tahun tersebut tingkat


noneksekusi wajib, dan keberhasilan penjualan lelang eksekusi
noneksekusi sukarela dilakukan
HT yang dilaksanakan PL-1 hanya
oleh PL-1 pada kantor operasional
Direktorat Jenderal Kekayaan 10%.82 Dengan demikian 90%
Negara (DJKN) melalui Kantor permohonan lelang yang diajukan oleh
Pelayanan Kekayaan Negara
(KPKNL) dan para PL-1 (state Kreditur tidak laku terjual. Kegagalan
auctioneer) yang berstatus PNS PL-1 memaksimalkan penjualan objek
dan berkedudukan di KPKNL80
dan lelang noneksekusi sukarela HT tentu bisa berdampak pada Sistem
menjadi kewajiban PL-2 (private Tata kelola Pemerintahan yang Baik
auctioneer),81 yang berasal dari
unsur swasta dan memiliki kantor (Good Governance) pada Kementerian
tempat kedudukan sendiri sesuai Keuangan cq. DJKN.
dengan wilayah jabatannya
Ketentuan PMK
masing-masing.
Kewenangan Notaris PL-2 sama No.93/PMK.06/2010 yang hanya
dengan kewenangan PL-2 lain yang memberikan kewenangan penanganan
hanya diberikan wewenang untuk Lelang Eksekusi HT kepada PL-1
lelang noneksekusi sukarela. Didalam membuat peranan PL-2 yang berasal
Pasal 5 PMK No. 93/PMK.06/2010, dari Notaris menjadi kurang maksimal
UUHT termasuk dalam kategori lelang dan cenderung diskriminatif, sebab
eksekusi. Eksekusi obyek HT dengan lahirnya akta HT merupakan perbuatan
penjualan barang jaminan dilakukan hukum yang dibuat oleh Notaris
80
Tim Dit Lelang, Para Pelaku sebagai PPAT atas kesepakatan Para
Lelang Swasta dan Upaya Pihak, yaitu Kreditur dan Debitur.
Pengembangan Lelang
Noneksekusi Sukarela, Media Kekayaan Negara
Edisi No. 14 Tahun IV / 2013, Hal. 15 82
Wawancara di KPKNL dengan Pejabat Lelang
81
Ibid Kelas 1, Octarissa, SH, 6 Januari 2015.
43
Selain itu filosofi dari Lelang Eksekusi Sebagai Pejabat Lelang
HT adalah setingkat dengan jual-beli Kelas II ?
yang dilakukan oleh Notaris atas tanah 5) Bagaimanakah kendala
dan bangunan. Notaris akan praktek Pelaksanaan Lelang
mengeluarkan dokumen Akta Jual Beli Eksekusi Hak Tanggungan
(AJB) yang membuktikan ada yang hanya dilaksanakan
peralihan hak dari pemilik sebagai
oleh Pejabat Lelang Kelas I ?
penjual kepada pembeli sebagai
pemilik baru. Begitu juga dengan
B. KERANGKA TEORI
Lelang Eksekusi HT, dimana PL-1
Dalam negara hukum, segala perilaku
akan mengeluarkan dokumen Risalah
dan sikap tindak pemerintah maupun
Lelang yang kedudukan hukumnya
warga negara harus berpedoman
sama dengan AJB sebagai syarat Balik 83
(behoorlijk) pada hukum. Hukumlah
Nama di Badan Pertanahan Nasional yang pertama-tama dianggap sebagai
(BPN). Berdasarkan uraian isu hukum pemimpin dalam penyelenggaraan
yang ditemukan sebagaimana tersebut kehidupan bersama, bukan orang. “The
di atas, Penulis tertarik untuk rule of law, and not a man”, orang dapat
melakukan penelitian tesis dengan saja berganti tetapi hukum sebagai satu
judul kesatuan sistem diharapkan tetap tegak

“KEWENANGAN NOTARIS sebagai pedoman hidup bersama. Hukum


SEBAGAI PEJABAT LELANG tidak boleh boleh hanya diciptakan
KELAS II BERDASARKAN sendiri oleh penguasa, dan pelaksanaan
PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR : serta penegakannya juga tidak boleh
93/PMK.06/2010 TENTANG hanya didasarkan atas interpretasi
PETUNJUK PELAKSANAAN
sepihak oleh mereka yang berkuasa.84
LELANG”
83
Konsep Negara Hukum Indonesia
2. Rumusan Masalah seyogianya dibedakan dengan konsep ‘rechtsstaat’
dan ‘rule of law’. Pembedaan ini relevan ketika jiwa
Berdasarkan latar belakang yang dan substansi pelaksanaan berjalan sesuai dengan
telah diuraikan diatas, maka hasrat dan falsafah suatu bangsa ; dan jika
permasalahan yang dikaji dalam pemahaman itu diletakkan kepada negara Indonesia,
maka pertanyaannya adalah Negara Hukum
penelitian tesis ini, yaitu : Indonesia yang seperti apa yang dimaksudkan dalam
4) Bagaimanakah karakteristik konstitusi negara.
84
Jimly Asshidiqie, 2005, Reformasi menuju
kewenangan antara Pejabat Indonesia Baru, Agenda Restrukturisasi Organisasi
Negara, Pembaruan Hukum , dan Keberdayaan
Lelang Kelas I dan Notaris Masyarakat Madani.
44
Dalam masyarakat, hukum berfungsi Undang.87 Menurut E.Utrecht ; karena
menciptakan ketertiban serta menjamin diwakili pejabat, jabatan itu berjalan.
kepastian hukum, yang dapat terwujud
Pihak yang menjalankan hak dan
dalam perilaku masyarakat, termasuk
kewajiban yang didukung oleh jabatan
perilaku pejabat dalam melaksanakan
tugasnya sendiri,85 dilakukan dengan ialah pejabat. Jabatan bertindak dengan
cara tertentu dan bisa diperhitungkan perantaraan pejabatnya.88
(predictable) dalam hubungan antara Notaris sebagai pejabat umum yang
yang satu dengan yang lainnya lewat berwenang membuat akta otentik
kaidah-kaidah hukumnya, yang dapat
mengenai semua perbuatan, perjanjian
tertulis dan/ atau tidak tertulis. 86 Notaris
dan ketetapan yang diharuskan oleh
merupakan salah satu pejabat yang
peraturan perundang-undangan dan atau
mengemban tujuan untuk mewujudkan
kepastian hukum dalam masyarakat yang dikehendaki oleh para pihak yang
tersebut. berkepentingan untuk dinyatakan dalam
Dengan demikian, penelitian ini akan akta autentik. Tujuannya adalah sebagai
menggunakan beberapa teori untuk alat bukti yang kuat jika suatu saat
menganalisa secara komprehensif tentang terjadi perselisihan antara para pihak
kompetensi Notaris sebagai Pejabat atau ada gugatan secara perdata maupun
Umum maupun sebagai PL-2, guna tuntutan secara pidana dari pihak lain.
menemukan suatu kesimpulan yang
menjawab permasalahan, yaitu : 2. Teori Kewenangan

1. Teori Jabatan Secara alamiah manusia sebagai


mahluk sosial memiliki keinginan untuk
Pengertian pejabat adalah pimpinan
diakui ekstensinya sekecil apapun dalam
dan anggota lembaga tinggi negara
suatu komunitasnya, dan salah satu
sebagaimana dimaksudkan dalam
faktor yang mendukung keberadaan
Undang-Undang Dasar 1945 dan Pejabat ekstensi tersebut adalah memiliki
Negara yang ditentukan oleh Undang- kewenangan.89 Secara pengertian bebas
87
http:www.theceli.com/dokumen/jurnal/jimly/j014 (7
http://www.sjdih.depkeu.go.id/fulltext/1999/43TAH
Maret 2015)
85 UN~1999UU.htm (12 Juni 2015)
Mochtar Kusumaatmadja dan Arif Sidharta. 88
E.Utrecht dalam Ridwan. HR. 2006 Hukum
2000. Pengantar Ilmu Hukum. Suatu Pengenalan Administrasi Negara. Jakarta : PT. Raja
Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum. Grafindo Persada. Hlm.79.
89
Buku I. Bandung : Alumni. Hlm. 107.
86
Ibid. Hlm.76. http://www.negarahukum.com/hukum/peng
45
kewenangan adalah hak seorang wewenang tersebut
individu untuk melakukan sesuatu sepenuhnya menjadi
tindakan dengan batas-batas tertentu dan tanggung jawab si penerima
diakui oleh individu lain dalam suatu wewenang itu.
kelompok tertentu. 2 Melalui Mandat ; yaitu
Di Indonesia belum ada secara tegas
perolehan wewenang dalam
aturan yang membatasi atau memberikan
bentuk perwakilan. Pemberi
kriteria besar tanggung jawab pejabat,
mandat disebut mandans
baik dalam doktrin maupun ketentuan
sedangkan penerima mandat
praktek. Secara teoritis dengan mengikut
doktrin hukum administrasi Negeri disebut mandataris.
Belanda, perolehan wewenang dapat
diperoleh dari tiga bentuk (Marcus 3. Teori Manfaat
Lucman 1992), yaitu :90 Penelitian menggunakan beberapa
1 Melalui Atribusi ; yaitu perolehan teori untuk menganalisa secara
wewenang yang peroleh dari komprehensif tentang keadilan bagi
pembentuk undang-undang orisinil
yang berupa Pembentuk UUD Notaris PL-2 dalam kewenangan
Parlemen, Mahkota dan Pembentuk pelaksanaan lelang eksekusi hak
undang-undang dalam arti materiil
tanggungan, guna menemukan suatu
atau yang diwakilkan.
kesimpulan yang menjawab
1 Melalui Delegasi ; yaitu
permasalahan yaitu :
perolehan wewenang yang
(1) Teori Utilitarianisme
diperoleh dengan cara
Teori Utilitarianisme dikemukakan
penyerahan wewenang dari
oleh Jeremy Bentham melihat fungsi
pejabat yang satu kepada
hukum untuk memelihara kebaikan dan
pejabat yang lain. Tanggung
mencegah kejahatan, memandang bahwa
jawab terhadap segala
kepentingan masyarakat dan individu
sesuatu yang berkaitan
harus diperhatikan pada semua yang
dengan pelaksanaan
diambil pemerintah.
ertian-kewenangan.html (12 Juni 2015)
90
Rum Riyanto S, Kewenangan Pejabat
Demikian pula dengan perundang-
Administrasi di Indonesia, Widyaiswara Utama undangan itu. Undang-undang yang
BDK Malang.
http://www.bppk.depkeu.go.id/publikasi/artikel/150- banyak memberikan kebahagiaan pada
artikel-keuangan-umum/20230-kewenangan-
pejabat-adminstrasi-di-indonesia (12 Juni 2015)
46
sebagian besar masyarakat akan dinilai ketidakseimbangan antara perbedaan
91
sebagai undang-undang yang baik. unsur sistem hukum, dapat dilakukan
Berdasarkan pada teori dengan cara menghilangkan
Utilitarianisme, akan dilakukan analisa ketidakseimbangan dan melakukan
terhadap Pasal 1 ayat (16) dalam PMK penyesuaian atas unsur sistem hukum
No.93/PMK.06/2010 yang yang berbeda itu.
memungkinkan Notaris PL-2 dalam
melaksanakan jabatannya dengan 4. Teori Demokrasi
diberikan kewenangan dalam Good governance, atau Tata Kelola
pelaksanaan lelang eksekusi HT, apakah Pemerintahan yang Baik esensinya
bisa memberi manfaat yang adalah pemerintahan yang

menghasilkan keuntungan dan mengikutsertakan semua lapisan

kebahagiaan pada sebanyak mungkin masyarakat dalam rancang bangun

orang / masyarakat. pembangunan, transparan, dan

2 Teori Fungsi Hukum bertanggung jawab, efektif dan adil,

Teori fungsi hukum dari Rudolf serta menjamin terlaksananya supremasi


Stammler mengemukakan bahwa tujuan hukum. Good Governance juga harus
atau fungsi hukum adalah harmonisasi dapat menjamin bahwa prioritas di
berbagai maksud, tujuan, dan bidang politik, sosial, ekonomi, serta
kepentingan antara individu dengan pertahanan dan keamanan didasarkan
individu dan antara individu dengan pada konsensus masyarakat;
masyarakat. Prinsip-prinsip hukum yang memperhatikan kepentingan rakyat
adil mencakup harmonisasi antara banyak; mendukung visi strategis
maksud dan tujuan serta kepentingan pemimpin; dan masyarakat yang mampu
perseorangan, dan maksud dan tujuan melihat jauh ke depan dari suatu
serta kepentingan umum.92 Usaha untuk pemerintahan yang baik dan berorientasi
melakukan harmonisasi sistem hukum pada pembangunan untuk semua
berkenaan dengan terjadinya (kelayakan sosial). Pelaksanaan Good
91
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, 2004. Governance bukanlah suatu proses yang
Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum. Bandung :
PT. Citra Aditya Bakti. Hlm.64. sederhana, tetapi membutuhkan adanya
92
Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik komitmen dan sejumlah ketentuan yang
Sudrajat. 2009. Hukum Administrasi Negara Dan
Kebijakan Pelayanan Publik. Bandung : Nuansa. dapat dijadikan sebagai pedomanatau
Hlm.215.
47
landasan bagi semua pihak yang terlibat dengan pasal lain dalam peraturan
(stakeholders), khususnya pemerintah. perundang-undangan baik secara
Untuk itu, pemahaman yang vertikal maupun horizontal. Penelitian
komprehensif terhadap karakteristik ini menggunakan empat metode

Good Governance tampaknya tidak bisa pendekatan penelitian dalam ilmu

ditawar lagi. hukum, yaitu Pendekatan Filsafat


(philosophi approach), yaitu
5. Teori Perikatan pendekatan filsafat akan menganalisa

Istilah hukum perjanjian atau kontrak issue hukum (legal issue) dalam
merupakan terjemahan dari bahasa penelitian normatif dan
Inggris yaitu contract law, sedangkan menganalisanya secara mendalam.96
dalam bahasa Belanda disebut dengan Pendekatan Perundang-Undangan
istilah overeenscomsrecht.93 Suatu (statue approach), yaitu pendekatan
perjanjian adalah suatu peristiwa dimana yang dilakukan dengan
seseorang berjanji kepada seorang lain mengindentifikasi serta membahas
atau dimana dua orang itu saling berjanji peraturan perundang-undangan yang
94
untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari berlaku, yang terkait dengan pokok
peristiwa ini, timbul suatu hubungan permasalahan. Pendekatan Konseptual
antara dua orang tersebut yang (conceptual approach), yaitu
dinamakan perikatan. pendekatan ini digunakan untuk
memahami pandang-pandangan yang
C. METODE PENELITIAN ada hubungannya dengan pembelian
Jenis penelitian ini adalah penelitian sementara obyek hak tanggungan oleh
hukum normatif yang dilakukan bank dalam lelang eksekusi hak
dengan cara meneliti bahan-bahan tanggungan. Pendekatan Historis
hukum, seperti penelitian terhadap (historical approach), yaitu sejarah
asas-asas hukum, kaidah-kaidah hukum hukum berusaha mengenali dan
serta perundang-undangan,95 yang memahami secara sistematis proses-
menghubungkan antara satu pasal proses terbentuknya hukum, faktor-
93
Salim H.S, “Hukum Kontrak: Teori & faktor yang menyebabkan dan
Teknik Penyusunan Kontrak,” Cet. II, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2004), hal. 3
sebagainya serta memberikan
94
Subekti, “Hukum Perjanjian,” Cet. XII,
(Jakarta: PT. Intermasa, 1990), hal. 1 96
95
Pedoman Penulisan Tesis dalam Soejono Sunarjati Hartono. 1994. Penelitian Hukum
Soekanto. 1984. Metode Penelitian Hukum. di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Bandung.
Jakarta. Universitas Indoensia. Hlm. 9-10 Alumni. hlm 139.
48
tambahan pengetahuan yang berharga operasional PL-2 berasal dari perurugi.98
untuk memahami fenomena Seperti yang dijelaskan pada Bab
97
masyarakat. Pendahuluan, bahwa frekuensi lelang
eksekusi HT cukup tinggi, namun tingkat
Penarikan kesimpulan dengan metode
keberhasilan penjualan yang dilakukan
deduktif yang diinteraksikan dengan oleh PL-1 sangat rendah (sekitar 10%).
metode induktif. Menurut Peneliti, salah satu unsur
kurang maksimalnya penjualan objek
D. TEMUAN DAN ANALISIS lelang HT karena PMK

1. Karakteristik Kewenangan Antara No.93/PMK.06/2010 memberikan


Pejabat Lelang Kelas I Dan Notaris kewenangan yang terlalu luas bagi PL-1
Sebagai Pejabat Lelang Kelas II
dalam menangani lelang, sedangkan di
(a) Kewenangan PL-1 dalam Lelang
Eksekusi Hak Tanggungan lain Pihak ruang lingkup kerja Notaris
PL-2 mempunyai kapabilitas yang cukup
PL-1 adalah Pejabat Pemerintah yang
berkompeten untuk membantu
secara Atribusi diangkat khusus sebagai
penyelesaian hutang debitur melalui
Pejabat Lelang atau dengan kata lain PL-
lelang eksekusi HT.
1 adalah Penerima Uang Kas Negara
Menurut Peneliti, terdapat lembaga
yang ditugaskan sebagai Pejabat Lelang.
Sedangkan PL-2 merupakan Pejabat lain non-pemerintah seperti Badan

Negara selain PL-1 yang diberi tugas Arbitrase nasional Indonesia (BANI)

tambahan sebagai Pejabat Lelang atau yang merupakan tempat penyelesaian

dengan kata lain PL-2 adalah orang- para pihak yang bersengketa. Tidak
orang yang khusus diangkat sebagai semua pelaksanaan putusan didominasi
Pejabat Lelang. PL-1 memiliki wilayah oleh penyelenggara negara atau pejabat
kerja lebih luas atas pelaksanaan lelang negara. Legitimasi penyelesaian
eksekusi, lelang noneksekusi wajib dan permasalahan hukum saat ini bisa
lelang noneksekusi sukarela. PL-1 diselesaikan oleh BANI. BANI adalah
mendapat Gaji dari Pemerintah dan suatu badan yang dibentuk oleh
operasional kantor dibiayai oleh pemerintah Indonesia guna penegakan
Pemerintah, sedangkan biaya hukum di Indonesia dalam penyelesaian

98
Perurugi adalah insentif dari bagian bea
lelang yang diberikan kepada Pejabat Lelang Kelas II
97
Ibid. hlm 145. dan Superintenden dalam rangka pelaksanaan lelang.
49
sengketa atau beda pendapat yang terjadi lelang eksekusi HT sehingga secara tak
diberbagai sektor perdagangan, industri langsung Notaris PL-2 merupakan
dan keuangan, melalui arbitrase dan bagian atau tulang punggung bagi
bentuk-bentuk alternatif penyelesaian Kementerian Keuangan cq. DJKN cq.
sengketa lainnya antara lain di bidang- KPKNL dalam memaksimalkan
bidang korporasi, asuransi, lembaga penyelesaian kredit bermasalah.
keuangan, pabrikasi, hak kekayaan
intelektual, lisensi, waralaba, konstruksi, E. Notaris PL-2 Sebagai Penunjang
pelayaran/ maritim, lingkungan hidup, Good Governance pada
penginderaan jarak jauh, dan lain-lain Kementerian Keuangan cq.
dalam lingkup peraturan perundang- Direktorat Jenderal Kekayaan

undangan dan kebiasaan internasional.99 Negara

Badan ini bertindak secara otonom Notaris diberikan kewenangan

dan independen dalam penegakan rangkap jabatan sebagai PPAT dan PL-2

hukum dan keadilan. Pengadilan Negeri karena dianggap memiliki standar


kelayakan seperti promosi jabatan di
tidak berwenang untuk mengadili
Pemerintahan, yaitu memenuhi unsur
sengketa para pihak yang telah terikat
kompetensi, kualifikasi, pendidikan dan
dalam perjanjian arbitrase. Penyelesaian
latihan, rekam jejak jabatan, dan
sengketa melalui arbitrase adalah suatu
integritas serta persyaratan lain yang
cara untuk menyelesaikan sengketa atau
dibutuhkan untuk menduduki jabatan
beda pendapat perdata oleh para pihak
tinggi.100 Notaris ditunjuk sebagai PL-2
melalui alternatif penyelesaian sengketa
karena Notaris memiliki pemahaman,
berdasar itikad baik dan
pengetahuan dan keahlian hukum yang
mengesampingkan penyelesaian secara
baik terutama dalam bidang Hukum
litigasi di Pengadilan Negeri.
Perdata. Kapasitas Notaris diberi
Dengan demikian, seperti halnya
kewenangan rangkap jabatan sebagai
kelembagaan BANI, perlu diciptakan Pejabat Lelang merupakan
formulasi baru atas pelaksanaan lelang pendelegasian pemerintah dalam
eksekusi HT, yaitu Notaris PL-2 100
Peraturan Menteri Pendayagunaan
sebaiknya dilibatkan dalam pelaksanaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik
Indonesia Nomor 13 Tahun 2014, Tentang Tata
Cara Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi di
99
http://id.wikipedia.org/wiki/ Badan Lingkungan Instansi Pemerintah Bagian
Arbitrase Nasional Indonesia (12 Juni 2015) Menimbang, Huruf a.
50
menunjang sistem tata kelola Pemerintah dasar pengetahuan yang relatif lebih
yang baik sehingga hasil yang baik ketimbang calon-calon PL-2
diharapkan menjadi lebih efektif dan lainnya.
efisien. Namun demikian Notaris PL-2 Kementerian Keuangan mempunyai
standarisasi dalam penilaian Good
tidak diberikan kewenangan yang sama
Governance yaitu “Indeks Kepuasan
seperti PL-1 dalam lelang eksekusi Pengguna Layanan” (IKPL). Setiap
khususnya HT. Di dalam Pasal 3 huruf f tahun IKPL diberikan oleh Kementerian
Keuangan atas Kinerja Direktorat
UUJN disebutkan bahwa Syarat untuk Jenderal dibawahnya seperti DJKN,
dapat diangkat menjadi Notaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,
Direktorat Jenderal Pajak dan lainnya.
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Dengan demikian, berkaitan dengan
adalah : telah menjalani magang atau syarat pengetahuan lelang yang cukup,
sudah saatnya Kementerian Keuangan
nyata-nyata telah bekerja sebagai memaksimalkan peranan Pejabat Lelang
karyawan Notaris dalam waktu paling yang berasal dari luar pegawai DJKN
(dalam hal ini khusus Notaris PL-2). Hal
singkat 24 (dua puluh empat) bulan
ini bertujuan agar penjualan objek lelang
berturut-turut pada kantor Notaris atas HT bisa lebih meningkat dan juga ikut
prakarsa sendiri atau atas rekomendasi meningkatkan performa Good
Governance DJKN. Kemampuan calon
Organisasi Notaris setelah lulus strata Notaris PL-2 sangat memadai dari sisi
dua kenotariatan.101 Substansi pasal ini teori lelang, meskipun diklat yang
diselenggarakan DJKN juga banyak dari
mempertegas kompetensi Notaris PL-2 sisi praktek. Namun dengan tujuan
dalam lelang eksekusi HT, sebab dalam memberikan performa yang baik kepada
DJKN cq KPKNL dan Kreditur sebagai
masa magang 24 bulan tersebut, Notaris pemohon lelang, maka selayaknya
telah memiliki kemampuan yang sama Notaris PL-2 diberi kewenangan yang
sama dengan PL-1 untuk lelang eksekusi
baik sebagai notaris maupun sebagai
HT.
PPAT. Selain masa magang tersebut,
Diklat Pejabat Lelang juga memberikan 4) Kendala Praktek Lelang
pengetahuan kepada calon Pejabat Eksekusi Hak Tanggungan Yang
Lelang hal-hal yang berhubungan Dilaksanakan Oleh Pejabat
dengan pelaksanaan lelang termasuk Pejabat Lelang Kelas I
nilai objek yang akan dilelang. Pasca ← Kendala Atas Kepastian
penyelesaian praktek magang sebagai, Hukum dan Perlindungan
calon Notaris PL-2 telah mempunyai Hukum Bagi Pelaku
Lelang Eksekusi Hak
101
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
Tentang Jabatan Notaris, Pasal 3 Huruf f Tanggungan (Penjual –
51
Pembeli – Pejabat Lelang penduduk Indonesia yang memiliki
Kelas I) kemampuan daya beli cukup besar,
Ditinjau dari kecendrungan para pebisnis lelang yang jumlahnya
statistik tahun 2013-2014, lelang meningkat, perusahaan multinasional
eksekusi HT kurang menunjukkan dan regional yang beroperasi di
hasil yang maksimal baik dari segi Indonesia juga semakin banyak.
frekuensi lelang dan juga hasil lelang. Keseluruhannya merupakan potential
Seharusnya potensi lelang eksekusi buyers yang sangat besar. Untuk
HT hingga saat ini bisa menjadi mendorong supply dan demand
primadona untuk mendukung kinerja tersebut, diperlukan sosialisasi dan
pada Kementerian Keuangan cq promosi, agar mereka melakukan
DJKN. Besarnya non-performing transaksi dengan cara lelang khususnya
loan atau kredit bermasalah102 (suatu untuk objek HT.
keadaan dimana nasabah sudah tidak
Menurut Direktorat Jenderal
sanggup membayar sebagian atau
Kekayaan Negara terdapat kendala atas
seluruh kewajibannya kepada bank
lelang eksekusi HT kurang maksimal
seperti yang telah diperjanjikan) di
penanganannya.103 Kendala yang
kalangan perbankan memberi indikasi
dimaksud adalah pada awalnya, lelang
besarnya potensi lelang eksekusi HT
lebih banyak dimanfaatkan untuk
atas agunan nasabah bank yang
kepentingan penegakan hukum.
dimohonkan atau berdasarkan fiat
Misalnya dalam pelaksanaan putusan
eksekusi Pengadilan Negeri.
eksekusi pengadilan dalam perkara
Apabila seluruh potensi di atas dapat
perdata, dimana barang yang dijual
direalisasikan, maka hal tersebut
dalam kondisi apa adanya. Kondisi
merupakan supply (penawaran) objek
semacam ini berlangsung terus-
lelang yang besar. Sementara itu,
menerus, sehingga membentuk
demand (permintaan) di Indonesia juga
stereotip pada masyarakat seolah-olah
cukup besar. Hal menunjukkan jumlah
barang yang dilelang adalah barang
102
Nurul Fitria dan Raina Linda Sari, Analisis
yang bermasalah, barang yang rusak,
Kebijakan Pemberian Kredit dan Pengaruh “Non atau barang yang tidak diurus. Padahal
Performing Loan to Deposit Ratio” pada PT. Bank
103
Rakyat Indonesia (Persero), TBK cabang Rantau, Direktorat Lelang, Sales Means Auction :
Aceh Taming (Periode 2007-2011), Jurnal Ekonomi Suatu Keniscayaan, Media Kekayaan Negara, Edisi
dan Keuangan, Vol.1, No.1, Desember 2012, Hal. 90 No. 06 Tahun II/ 2011, Hal. 7
52
lelang sebenarnya merupakan institusi waktu empat semester dan
pasar yang dapat dimanfaatkan oleh dengan kecakapan yang
siapa saja yang akan menjual barang dimiliki, Notaris PL-2
atau membeli barang yang kualitasnya diyakini mampu membantu
juga baik. Kreditur dalam rangka
penyelesaian Kredit
6) Kewenangan khusus Notaris Bermasalah bersama PL-1.
sebagai Pejabat Lelang kelas II ← Pasca tamat dari Magister
dalam Lelang Eksekusi Hak Kenotariatan, Notaris PL-2
Tanggungan memperoleh ilmu dan
Berdasarkan penjelasan diatas, manfaat saat mengikuti
seharusnya Pemerintah cq. magang selama 24 (dua
Kementerian Keuangan memberikan puluh empat) bulan sebagai
kebijakan publik agar Notaris PL-2 syarat penempatan Notaris.
juga dilibatkan dalam pelaksanaan Dan sepanjang waktu
lelang eksekusi HT. Kebijakan ini tersebut, calon Notaris
bisa berdampak lebih baik, dengan yang bersangkutan bisa
alasan-alasan sebagai berikut : dipastikan mendapat ilmu
← Dengan kompetensi yang praktek pengikatan suatu
dimiliki seorang Notaris akad kredit di tempat
sebagai PPAT yang magangnya antara Pihak
melahirkan Hak Debitur dan Kreditur.
Tanggungan, Notaris PL-2 1 Jaringan yang dimiliki Notaris
seharusnya juga diberikan sebagai PPAT sangat luas. Pada
kewenangan melaksanakan saat menandatangani Akad Kredit,
lelang eksekusi khususnya Notaris sebagai PPAT berhadapan
dalam pelaksanaan lelang langsung sekaligus bisa mengenal
eksekusi HT seperti halnya Debitur serta asal usulnya Di sisi
PL-1. lain, sebelum pelaksanaan lelang,
← Saat berstatus sebagai PL-1 hanya memverifikasi berkas
Mahasiswa Magister dokumen persyaratan formil atas
Kenotariatan selama kurun permohonan kreditur,
53
2 Dalam PP Nomor 1 Tahun 2013 debitur yang telah
(tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis melaksanakan akad-kredit.
Penerimaan Negara Bukan Pajak 6. Calon pembeli objek lelang
Yang Berlaku Pada Kementerian HT tidak terlalu banyak
Keuangan), Notaris PL-2 berstatus terbebani oleh biaya yang
swasta (tidak dibiayai negara), ditetapkan dalam PP Nomor
dikenakan tarif yang PL-2 lebih 1 Tahun 2013, sebab bea
kecil daripada PL-1. lelang diluar PPh dan Bea

Dengan demikian, bayangkan apabila Perolehan Pajak Atas Tanah

Lelang Objek Hak Tanggungan yang dan Bangunan (BPHTB)

terdapat PMK No.93/PMK.06/2010, yang dilaksanakan PL-1,

kewenangan pelaksanaan lelangnya juga dikenakan tambahan pajak

diberikan kepada Notaris PL-2, sebesar 1,5% untuk penjual

kemungkinan keberhasilan perlunasan dan 2% untuk pembeli.

NPL (Non Peforming Loan) juga bisa


lebih maksimal. Hal ini diprediksi sebab D. KESIMPULAN DAN SARAN
sebelum lahirnya HT, pada saat semasa
F. Kesimpulan
kuliah dan sebelum melaksanakan
Dari hasil penelitian diatas
fungsinya sebagai Pejabat Umum,
Kewenangan Notaris PL-2 dalam PMK.
Notaris PL-2 sudah mendapat banyak
No. 93/PMK.06/2010 hanya berwenang
data-base dari sesama notaris yang juga
dalam Lelang Noneksekusi Sukarela,
merangkap jabatan sebagai PPAT.
maka diperoleh kesimpulan sebagai
Dengan kata lain :
berikut :
4. Notaris sebagai PPAT
2 Peraturan Menteri
mempunyai jaringan atas
Keuangan
APHT yang telah terbit oleh
No.93/PMK.06/2010 hanya
sesama PPAT dan Kreditur
memberi kewenangan untuk
yang mengucurkan kredit.
PL-1 untuk melaksanakan
5. Notaris sebagai PPAT juga
lelang eksekusi wajib,
memiliki data-base atas
lelang noneksekusi wajib
dan noneksekusi sukarela,
54
sedangkan PL-2 yang 2 Dengan kecakapan yang dimiliki,
berasal dari Notaris tidak Notaris PL-2 seharusnya juga diberikan
memiliki kewenangan yang kewenangan melaksanakan lelang
luas khususnya untuk lelang eksekusi HT sebab secara historis saat
eksekusi HT, dengan berstatus sebagai Mahasiswa Magister
demikian hasil yang Kenotariatan hingga fase magang selama
diperoleh dari lelang kurun waktu empat tahun, sisi akademis
eksekusi HT kurang yang dimiliki seorang Notaris PL-2
maksimal. sangat berkompeten untuk menangani
3 Notaris PL-2 punya lelang eksekusi HT.
kemampuan dan 3 Pemerintah melalui Peraturan
kecakapan yang sama Menteri Keuangan sebaiknya membuat
dengan PL-1 karena pertimbangan bahwa Notaris PL-2 juga
Notaris PL-2 memenuhi diberikan kewenangan agar turut
standar kelayakan seperti dilibatkan dalam lelang eksekusi
kelayakan bagi promosi khususnya lelang eksekusi HT agar
jabatan di Pemerintahan, hasil yang diharapkan oleh pihak
yaitu unsur kompetensi, kreditur atau lembaga pembiayaan bisa
kualifikasi, pendidikan lebih maksimal.
dan latihan, rekam jejak
jabatan, dan integritas
serta persyaratan lain yang
dibutuhkan untuk turut
diberikan seperti PL-1.

3) Saran
Dengan demikian, setelah
memperoleh kesimpulan sebagai
jawaban atas
permasalahan, maka dikemukakan saran
sebagai berikut :

55
DAFTAR PUSTAKA Bandung : PT. Citra Aditya
Bakti.
BUKU
Mochtar Kusumaatmadja dan
Chidir Ali, 1990, Badan Hukum. Arif Sidharta. 2000.
Cetakan ke II. Bandung : Pengantar Ilmu Hukum.
Alumni. Suatu Pengenalan Pertama
Ruang Lingkup Berlakunya
Gatot Supramono, Perbankan Ilmu Hukum. Buku I.
dan Masalah Kredit Suatu Bandung : Alumni.
Tinjauan Yuridis, (Jakarta :
Djambatan, 1995). Salim H.S, “Hukum Kontrak:
Teori & Teknik Penyusunan
Habib Adjie, Hak Tanggungan Kontrak,” Cet. II, (Jakarta:
Sebagai Lembaga Jaminan Sinar Grafika, 2004).
Atas Tanah, Cet I,
(Bandung: CV. Mandar Soejono Soekanto, Metode
Maju, 2000). Penelitian Hukum. Jakarta.
Universitas Indoensia, 1984
------------------, Hukum Notaris
Indonesia, Tafsir Tematik Subekti, “Hukum Perjanjian,”
Terhadap UU No.30 Tahun Cet. XII, (Jakarta: PT.
2004 Tentang Jabatan Intermasa, 1990).
Notaris.
Sunarjati Hartono. 1994.
------------------, Meneropong Penelitian Hukum di
Khasanah Notaris dan PPAT Indonesia Pada Akhir
Indonesia, PT. Citra Aditya Abad Ke-20. Bandung.
Bakti, Bandung, 2009. Alumni. 1994
------------------, Sanksi Perdata Utrecht, E/Djindang, Moh Saleh,
dan Administratif Terhadap Pengantar Hukum
Notaris Sebagai Pejabat Administrasi Negara
Publik, (Bandung: Refika Indonesia, Jakarta : Ichtiar
Aditama, 2009). baru, 1990.
Herowati Poesoko, Parate PERATURAN PERUNDANG-
Executie Obyek Hak UNDANGAN
Tanggungan,
(Yogyakarta : Laksbang Undang-Undang Dasar Tahun
Pressindo, cetakan II,
1945
2008).
Undang-Undang No. 2 Tahun
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi,
2014 tentang Jabatan Notaris
2004. Dasar-dasar Filsafat
dan Teori Hukum.

56
Undang-Undang No. 30 Tahun Noneksekusi Sukarela, ,
2004 tentang Jabatan Notaris Media Kekayaan Negara
Edisi No. 14 Tahun IV / 2013.
Undang-Undang No. 5 Tahun
1999 tentang Komisi Pengawas Neil E. Prayoga, Lelang Barang
Persaingan Usaha Milik Negara Dalam Rangka
Meningkatkan Akuntabilitas
Kitab Undang-Undang Hukum Aset Negara, Media
Perdata. Kitab Undang- Kekayaan Negara, Edisi No.
Undang Hukum Dagang. 02 Tahun I/ 2010.
Vendu Reglement Staatsblad
1908:189 Tentang
Peraturan Lelang ,
Peraturan Penjualan di JURNAL / PRESS
Muka Umum di
Indonesia. Sutan Remy Sjahdeni, Hak
Tanggungan, Asas-Asas,
Peraturan Menteri Keuangan Ketentuan-ketentuan Pokok
(PMK) Nomor dan Masalah-masalah yang
93/PMK.06/2010 Dihadapi oleh Perbankan,
Tentang Petunjuk (Airlangga University, Press,
Pelaksanaan Lelang. 1996).

Undang-Undang Nomor 4 Nurul Fitria dan Raina Linda


Tahun 1996 Tentang Hak Sari, Analisis Kebijakan
Tanggungan. Pemberian Kredit dan
Pengaruh “Non Performing
Peraturan Pemerintah No. 1 Loan to Deposit Ratio” pada
Tahun 2013 Tentang Jenis dan PT. Bank Rakyat Indonesia
Tarif Atas Jenis Penerimaan (Persero), TBK cabang
Negara Bukan Pajak yang Rantau, Aceh Taming
Berlaku Pada Kementerian (Periode 2007-2011), Jurnal
Keuangan Ekonomi dan Keuangan,
Vol.1, No.1, Desember 2012.
MAJALAH
INTERNET
Maria Samdjono, Hak Jaminan
dan Kepailitan I: Hak http:www.theceli.com/dokumen
Tanggungan dan Asas /jurnal/jimly/j014
Pemisahan Horisontal,
Nomor 1 , ( Majalah Hukum http://www.sjdih.depkeu.go.id/
Nasional, 2000).
http://www.hukumonline.com/kl
Tim Dit Lelang, Para Pelaku inik/detail/
Lelang Swasta dan Upaya
Pengembangan Lelang
57
http://www.negarahukum.com/
hukum/

http://www.bppk.depkeu.go.id/p
ublikasi/artikel/

http://knkg-
indonesia.com/home/news/

http://medialelang.blogspot.co
m/

http://id.wikipedia.org/

http://www.jimlyschool.com/rea
d/analisis/

https://www.djkn.kemenkeu.go.
id/

WAWANCARA

Wawancara di KPKNL
Palembang dengan Pejabat
Lelang Kelas I

58
ANALISIS HUKUM TENTANG WEWENANG NOTARIS
DALAM PEMBUATAN AKTA IKRAR WAKAF
Oleh :

ARI LATIF PRATAMA104, RIDWAN, ELMADIANTINI

Abstract : Government Regulation No. 42 year 2006 was on the implementation of


Law No.41 year 2004 on waqf / endownment. According to the regulation, waqif
could make the pledge deed of waqf (AIW) both before the notary and the Office of
Religious Affair. The problem was whether all the notaries had authorization to make
the the pledge deed of waqf (AIW) based on the regulation for pledge deed officer of
waqf (PPAIW). This study was a normative study which analyzed a legal
enforceability and was conducted by examining law materials, such as research on
the principles of law, rule of law, and legal norm. This study used two approaches:
statue approach and historical approach. The result showed that the authority of
notary in making the pledge deed of waqf (AIW) was authorized in Goverment
Regulation No. 42 year 2006 article 37. This authority did not contradict to the
authority of notary as regulated in Government Regulation No. 2 year 2014 article
15 concerning to the amandment of law no. 30 year 2004 on notary. However, not all
notaries could be appointed as deed officer of waqf (PPAIW). There were three basic
requirements for becoming PPAIW: 1) a moslem, 2) trustworthy, and 3) having
certificateof competency in waqf issued by the Ministry of Religious Affair. It was
associated with the waqf/endowment itself as a religious charity. Furthermore, if
there is a dispute about it, the Ministry of Religious Affair who always handle the
case of moslems will solve it. The role of notary as PPAIW is as a party who gives
legal certainty, collects authentic information about waqf, and provides services to
the community. It was suggested this information should be socialized and a notary
should be appointed as PPAIW. Howeever, cooperation among the Ministry of
Religious Affair, Indonesian Waqf Board, National Land Agency, Islamic Financial
Institution, Professional Association of Notary, and the Land Deed Officer is needed.

104
Mahasiswa Progaram Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
Palembang, NIM. 0218132005050

59
A. Pendahuluan dan ayat (3) tidak menutup
kesempatan bagi Wakif untuk
membuat Akta Ikrar Wakaf di
Pejabat Pembuat Akta Ikrar
Wakaf (PPAIW) merupakan salah satu hadapan Notaris.
pilar penting dalam perwakafan nasional. (5) Persyaratan Notaris sebagai
PPAIW menurut ketentuan umum Pembuat Akta Ikrar Wakaf
Undang-undang nomor 41 tahun 2004 ditetapkan oleh Menteri.
tentang wakaf adalah pejabat yang
berwenang yang ditetapkan oleh Menteri Dari gambaran Pasal 37
Agama untuk membuat Akta Ikrar Wakaf Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun
(AIW)105. PPAIW berkewajiban 2006 diatas, secara jelas dinyatakan
menerima ikrar dari wakif dan siapa sajakah yang dapat ditunjuk
menyerahkannya kepada nadzir serta sebagai PPAIW, adapun dapat
melakukan pengawasan untuk diterangkan disini bahwa seorang Kepala
kelestarian perwakafan, yang diangkat KUA dan/atau pejabat yang
dan diberhentikan oleh Menteri menyelenggarakan urusan wakaf dapat
106
Agama. menjadi PPAIW untuk harta benda
Berdasarkan Pasal 37 Peraturan wakaf yang tidak bergerak dan PPAIW
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 harta benda wakaf bergerak selain uang.
tentang Pelaksanaan Undang-Undang Sedangkan untuk PPAIW harta benda
Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, wakaf bergerak berupa uang yaitu
menyebutkan lembaga atau siapa sajakah Pejabat Lembaga Keuangan Syariah
yang berhak menjadi Pejabat Pembuat paling rendah setingkat Kepala Seksi
Akta Ikrar Wakaf : LKS yang ditunjuk oleh Menteri.
(1) PPAIW harta benda wakaf tidak Pada pasal 37 Peraturan
bergerak berupa tanah adalah Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006
Kepala KUA khususnya ayat (4) dan (5),
(2) PPAIW harta benda wakaf menyebutkan secara jelas :
bergerak selain uang adalah (4) Ketentuan sebagaimana
Kepala KUA dan/atau pejabat dimaksud pada ayat (1), ayat (2)
lain yang ditunjuk oleh Menteri. dan ayat (3) tidak menutup
(3) PPAIW harta benda wakaf kesempatan bagi Wakif untuk
bergerak berupa uang adalah membuat Akta Ikrar Wakaf di
Pejabat Lembaga Keuangan hadapan Notaris.
Syariah paling rendah setingkat (5) Persyaratan Notaris sebagai
Kepala Seksi LKS yang ditunjuk Pembuat Akta Ikrar Wakaf
oleh Menteri. ditetapkan oleh Menteri.
(4) Ketentuan sebagaimana
Adanya peluang bagi Notaris
dimaksud pada ayat (1), ayat (2) untuk ditunjuk sebagai PPAIW untuk
harta benda bergerak, harta benda tidak
105
Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor bergerak uang dan bukan uang,
40 Tahun 2004 tentang Wakaf walaupun dalam prakteknya nanti
106
Rachmadi Usman.2013. Hukum Notaris yang akan ditunjuk sebagai
Perwakafan di Indonesia. Jakarta: Sinar
Grafika.Hlm.70
PPAIW harus terlebih dahulu memenuhi
60
syarat yang ditetapkan oleh Menteri Notaris sebagai Pejabat Pembuat Akta
Agama Republik Indonesia. Ikrar Wakaf ditetapkan oleh menteri.
Notaris107 dikualifikasikan Berdasarkan Pasal 37 ayat (4)
108
sebagai pejabat umum akan tetapi dan (5) Peraturan Pemerintah Nomor 42
pemberian kualifikasi sebagai pejabat Tahun 2006 telah memberikan
umum tidak hanya kepada Notaris saja, kesempatan atau peluang bagi Notaris
tetapi juga diberikan kepada Pejabat Indonesia untuk menjadi pembuat akta
Pembuat Akta Tanah (PPAT)109, Pejabat ikrar wakaf. Maksud dari kesempatan
Lelang110 dan tidak menutup atau peluang disini kemungkinan adalah
kemungkinan kepada Notaris untuk Notaris dapat memberikan pelayanan
menjadi Pejabat Pembuat Akta Ikrar pembuatan akta ikrar wakaf, asalkan
Wakaf (PPAIW). Berdasarkan Pasal 37 telah memenuhi syarat yang ditetapkan
ayat (4) dan (5) Peraturan Pemerintah oleh Menteri Agama Republik Indonesia.
Nomor 42 Tahun 2006 sebagaimana Dengan demikian tidak setiap notaris
telah dikutip sebelumnya, disimpulkan dapat menjadi pembuat akta ikrar wakaf
bahwa tidak menutup kesempatan bagi ini, namun notaris-notaris yang telah
wakif untuk membuat Akta Ikrar Wakaf memenuhi ketentuan yang ditetapkan
di hadapan Notaris dan Persyaratan oleh Menteri Agama Republik Indonesia
107 yang dapat ditunjuk sebagai pembuat
Menurut Abdul Ghofur Abshori, Notaris
merupakan suatu profesi mulia (officium nobile)akta ikrar wakaf.
karena sangat erat hubungannya dengan Pasal 37 ayat (3) dan (4)
kemanusiaan. Akta yang dibuat oleh Notaris Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun
menjadi alas hukum atas status harta benda, hak,
dan kewajiban seseorang Kekeliruan atas akta 2006, juga memberikan kesempatan bagi
Notaris dapat menyebabkan tercabutnya hakpara wakif untuk dapat membuat akta
seseorang atau terbebaninya seseorang atas suatu ikrar wakafnya dihadapan Notaris, dan
kewajiban; Abdul Ghofur Anshori.2009. Lembaga
Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan
tidak harus dihadapan KUA. Dengan
Etika, Yogyakarta : UII Press. Hlm.25. perkataan lain kewenangan membuat
108
Istilah pejabat umum merupakanakta ikrar wakaf tidak hanya
terhemahan dari istilah Openbare Amtbtenaren
kewenangan dari Kantor Urusan Agama
yang terdapat dalam Art 1 dalam Reglement op het
Notaris Ambt in Indonesia (Ord.Van Jan. 1860) (KUA) melainkan juga dapat diserahkan
S.1860-3, diterjemahkan menjadi pejabat umum kepada Notaris yang telah memenuhi
oleh G.H.S Lumban Tobing, sebagaimana tersebut syarat. Hal ini akan sangat baik bagi
dalam pengantar buku , Peraturan Jabatan
Notaris.Jakarta:Erlangga.1983 dan Pasal 1868 KUA maupun Notaris dalam pelayanan
Burgelijk Wetboek (BW) diterjemahkan oleh istilah kepada wakif, akan ada persaingan sehat
Openbare Amtbtenaren diterjemahkan menjadidiantara keduanya.
pejabat umum oleh R.Soebekti dan
R.Tjitrosudibio.1983.Kitab Undang-undang Hukum
B. Kerangka Konseptual
Perdata.Jakarta:Pradnya Paramit. 1. Teori Utilitarianisme
109
Pasal 1 angka (4) UU Nomor 4 Tahun
1996, dan pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah Menurut Jerremy Bentham
Nomor 37 Tahun 1998. bahwa undang-undang yang banyak
110
Pasal 1 ayat (2) Keputusan Menteri memberikan kebahagiaan pada bagian
Keuangan Republik Indonesia Nomor
338/KMK.01/2000 terbesar masyarakat akan dinilai sebagai
61
undang-undang yang baik111. Menurut Logemann; jabatan
Berdasarkan pada Teori Utilitarianisme, adalah lingkungan pekerjaan tetap yang
dilakukan analisa terhadap pasal 37 digaris batasi dan yang disediakan untuk
ditempati oleh pemangku jabatan yang
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun
ditunjuk dan disediakan untuk diwakili
2006 Tentang Pelaksanaan Undang- oleh mereka sebagai pribadi.
Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Berdasarkan hukum tata negara
Wakaf yang memungkinkan Notaris jabatanlah yang dibebani dengan
sebagai pejabat negara untuk membuat kewajiban, yang berwenang untuk
akta ikrar wakaf dikaitkan dengan melakukan perbuatan hukum. Hak dan
ketentuan yang berlaku bagi Pejabat kewajiban berjalan terus, tidak
terpengaruh dengan pergantian
Pembuat Akta Ikrar Wakaf
pejabat.113
Menurut E.Ultrecht; karena
2. Teori Kepastian Hukum diwakili pejabat, jabatan itu berjalan.
Pihak yang menjalankan hak dan
Menurut Gustav Radbruch, ada kewajiban yang didukung oleh jabatan
dua macam pengertian kepastian hukum, ialah pejabat. Jabatan bertindak dengan
yaitu kepastian oleh karena hukum dan perantara pejabatnya.114
kepastian dalam atau dari hukum. 4. Teori Wewenang
Hukum yang berhasil menjamin banyak
kepastian dalam Perhubungan- Teori wewenang ini
perhubungan kemasyarkatan adalah dikemukakan dengan tujuan untuk
hukum yang berguna. Kepastian oleh membahas dan menganalisa masalah
karena hukum memberikan dua tugas tentang kewenangan Notaris dalam
hukum yang lain, yaitu menjamin pembuatan akta ikrar wakaf.
keadilan serta hukum harus tetap Kewenangan merupakan suatu tindakan
berguna Sedangkan kepastian dalam hukum yang diatur dan diberikan kepada
hukum, tercapai apabila hukum itu suatu jabatan berdasarkan peraturan
sebanyak-banyaknya undang-undang, perundang-undangan yang berlaku yang
dalam undang-undang tersebut tidak ada mengatur jabatan yang bersangkutan.115
ketentuan-ketentuan yang bertentangan
(undang-undang,berdasarkan suatu C. Metode Penelitian
sistem yang logis dan praktis), undang-
undang itu dibuat berdasarkan, Tulisan ini merupakan Penelitian
rechtswerkelijkheid (keadaan hukum hukum normatif yang menganalisis suatu
yang sungguh-sungguh) dan dalam keberlakuan hukum. Dilakukan dengan
undang-undang tersebut tidak terdapat meneliti bahan-bahan hukum, seperti
istilah istilah yang dapat ditafsirkan penelitian terhadap asas-asas hukum,
secara berlain-lainan.112 hukum postitif, aturan hukum, dan
3. Teori Jabatan kaedah-kaedah hukum. Penelitian ini
113
Ridwan HR. 2006. Hukum Administrasi
Negara. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. hlm.79.
111
Lili Rasjidi dan Ira Thania114 Ibid.
Rasjidi.2004.Dasar-Dasar Filsafat dan Teori 115 Habib Adjie. 2009. Hukum Notaris
Hukum.Bandung : PT. Citra Aditya Bakti. Hlm.64. Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU no.30 tahun
112
E.Ultrech.1957. Pengantar Dalam Hukum 2004 Tentang Jabatan Notaris, cet. Kedua. Bandung:
Indonesia. Jakarta :Ichtiar. hlm.22-23 PT Refika Aditama. Hlm. 77.
62
menggunakan dua pendekatan dalam diangkat oleh pemerintah yang
penelitian hukum, yaitu: Pendekatan memperoleh kewenangan secara
Perundang-undangang (Statue atributif116 dari Negara. Pelayanan
Approach), dan Pendekatan Sejarah tersebut dalam hubungan hukum yang
(Historical Approach). terjadi antara para pihak yang digunakan
Analisis terhadap bahan-bahan sebagai alat bukti berupa dokumen-
hukum, yang berupa Undang-Undang dokumen hukum yang sah yang
Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan memiliki kekuatan pembuktian yang
Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun sempurna.
2004 tentang Jabatan Notaris, Undang- Keberadaan Notaris dilandasi
Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang atas kebutuhan akan suatu alat bukti
Wakaf, Peraturan Pemerintah Nomor 42 yang mengikat berupa dokumen selain
Tahun 2006 tentang Pelaksanaan alat bukti saksi. Adanya alat bukti berupa
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 dokumen dan mengikat, sesuai dengan
tentang Wakaf dan Peraturan Menteri perkembangan masyarakat. perjanjian-
Agama Nomor 73 Tahun 2013 tentang perjanjian yang dilaksanakan dalam
Tata Cara Perwakafan Benda Tidak hubungan anggota masyarakat semakin
Bergerak dan Benda Bergerak Selain rumit dan kompleks.
Uang. Maka semua bahan hukum yang Notaris adalah seorang pejabat
diperoleh akan dianalisa secara deskriftif negara/pejabat umum dan mewakili
kualitatif. kekuasaan umum negara yang diangkat
Analisa dilakukan dengan oleh negara untuk melakukan tugas-
menggunakan penafsiran hukum berupa tugas Negara dalam pelayanan hukum
penafsiran otentik (resmi) dari kepada masyarakat demi tercapainya
pembentuk undang-undang dan kepastian hukum, ketertiban dan
penafsiran sistematis dengan cara perlindungan hukum, sebagai pejabat
mengaitkan isi norma pengaturan hukum pembuat akta otentik dalam hal hukum
yang satu dengan yang lain. Bahan keperdataan untuk kepentingan
hukum yang telah dianalisis akan pembuktian atau sebagai alat bukti
diorganisir sesuai dengan topik dan tertulis yang terkuat dan terpenuh, dalam
permasalahan penelitian, dan atas dasar arti apa yang dinyatakan dalam akta
itu ditarik kesimpulan secara deduktif notaris harus diterima, kecuali pihak
yang berkepentingan dapat membuktikan
D. Temuan dan Analisis hal yang sebaliknya secara memuaskan
dihadapan persidangan pengadilan,
sebagaimana tercantum dalam
1. Kewenangan Notaris Membuat penjelasan umum Undang-Undang
Akta Ikrar Wakaf Dikaikan Jabatan Notaris.
dengan Ketentuan Yang Berlaku Berdasarkan ketentuan Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Bagi Pejabat Pembuat Akta Ikrar
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor
Wakaf 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
a) Notaris Sebagai Pelaksana
Peraturan Perundang- 116
Atribusi merupakan pemberian
Undangan kewenangan secara langsung oleh peraturan
perundang-undangan formal. DianaHalim
Notaris bertindak sebagai Koentjro.2004.Hukum Administrasi Negara.Bogor :
pelayan masyarakat sebagai pejabat yang Ghalia Indonesia. Hlm.27.
63
Pasal 1 ayat (1) Notaris adalah pejabat 3. QS. Al-Qalam (68) : 1-2
umum yang berwenang untuk membuat Surah ini dinamai Al-Qalam
akta otentik dan kewenangan lainnya (pena) menandai betapa
sebagaimana dimaksud dalam Undang-
pentingnya catatan (Pena) dalam
Undang ini.
perspektif islam dan bahkan
b) Notaris Ditinjau Dari Al- catatan itu bisa dapat dijadikan
Qur’an dan Hadis alat bukti yang kuat, sampai-
sampai Allah berani bersumpah
Sumber hukum dalam dengan “pena” tatkala saksi tidak
perspektif Al-Quran mengenai ayat-ayat ada, catatkanlah (bukti tulisan)
yang berhubungan dengan Notaris
sebagai pengganti bukti yang
disebutkan dalam banyak ayat di dalam
Al-Quran, baik secara eksplisit maupun otentik.
implisit. Beberapa ayat yang
mengelaborasi tentang Notaris, Demikianlah secara tegas bahwa
diantaranya :117 Al-quran menguak secara jelas tentang
1. QS. Al-Baqarah (2) : 282 fungsi dan tugas seorang juru tulis atau
Dalam ayat ini Allah Notaris dalam hal pencatatan akta-akta
memerintahkan bahwa dalam otentik dan dokumen-dokumen penting.
transaksi utang piutang tercatat, Manurut Abdullah Faqih
di mana tugas dan wewenang bahwa: 118

pencatat harus professional dan “Apabila Notaris menjadi saksi


benar sesuai dengan tuntutan sesuai dengan kode etiknya dan
ilahi. juga apabila menjadi saksi
terhadap transaksi-transaksi yang
sesuai dengan syari’ah, serta
terhadap kegiatan ekonomi yang
dibolehkan secara hukum, juga
2. QS. Al-‘Alaq (96) : 4 menjadi saksi terhadap lembaga-
Melalui Wahyu yang pertama lembaga keuangan syari’ah,
kali turun, tuhan secara eksplisit maka kesaksiannya pun sah dan
telah mengajarkan hambanya halal secara hukum. Demikian
dengan pena, disini dapat apabila Notaris menjadi saksi
dipahami bahwa posisi para terhadp transaksi-transaksi yang
pencatat / Notaris sebagai haram, atau pada kegiatan
pencatat akta otentik sangat ekonomi yang ribawi atau
dibutuhkan dan sangat urgen menjadi saksi pada perbankan
karena catatan adalah tanda bukti konvensional maka kesaksiannya
kuat dalam segala urusan. pun menjadi haram dan sama

118
Abdullah Faqih dalam
117
Ustad Adil. 2011. Mengenal Notaris http://www.islamweb.net diakses pada 12
Syari’ah. Bandung : PT Citra Aditya Bakti. Hlm.21 Desember 2014.
64
sekali tidak ada keraguan secara
hukum” Kepastian, ketertiban dan
perlindungan hukum menuntut, antara
Pendapar Abdullah Faqih ini lain, bahwa lalu lintas hukum menuntut,
mempertegas bahwa Notaris yang antara lain, bahwa lalu lintas hukum
membuat akta otentik, maka harus dalam kehidupan masyarakat
menganalisis terlebih dahulu apakah memerlukan adanya alat bukti yang
perjanjian dengan penghadapnya (klien) menentukan dengan jelas hak dan
itu sesuai dengan konsep syari’ah kewajiban seseorang sebagai subjek
ataupun tidak, karena akan hukum dalam masyarakat. Akta otentik
mempengaruhi pada produk yang sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh
dihasilkannya. Apabila mengandung mempunyai peranan penting dalam
riba dan menjadi haram, produknya pun setiap hubungan hukum dalam
menjadi haram, sebaliknya apabila kehidupan masyarakat, baik bisnis,
sesuai dengan konsep syari’ah, perbankan, pertanahan, perwakafan,
produknya pun menjadi halal. kegiatan sosial, dan lain-lain122. Semua
Argumen diatas bukan tanpa kegiatan tersebut Al-Quran terlebih
alasan, melainkan bersumber dari Hadis dahulu menjamin tentang hak seseorang
Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam atau dalam istilah ushul fiqh maqashid
Muslim dan Jabir r.a : as-syari’ah, menjaga agama, jiwa,
“Rasulullah melaknat terhadap keturunan, akal dan harta123 termasuk
pemakan riba, yang mewakilinya, didalamnya bahwa islam menjamin
yang mencatatnya (Notarisnya), tentang hak harta seseorang dengan
dan Penghadap saksinya, mereka sepenuhnya tatkala ditemukan bukti
itu sama-sama mendapatkan otentik bahwa harta tersebut adalah
dosa”119 sebagai miliknya.

Bahkan menurut Abdullah Faqih, c) Prasyarat Notaris sebagai


mereka (baik pemakan, yang PPAIW
mewakilinya, yang mencatatnya maupun Pejabat Pembuat Akta Ikrar
yang menjadi saksinya terhadap Wakaf (PPAIW) menurut Ketentuan
transaksi ribawi) adalah mereka yang Umum Undang-undangNomor 41 Tahun
bekerja sama dalam dosa dan 2004 tentang Wakaf adalah pejabat
permusuhan.120 Pendapat ini diperkuat berwenang yang ditetapkan oleh Menteri
oleh Firman Allah dalam QS. Al- Agama Republik Indonesia untuk
Ma’idah (5) : 2 yang berbunyi : membuat Akta Ikrar Wakaf124. Pejabat
“Dan tolong menolonglah kamu yang diberikan tugas dan kewenangan
dalam mengerjakan kebajikan
dan takwa, dan jangan tolong
Jakarta : PT Syaamil Cipta Media.
menolong dalam berbuat dosa 122
Tim Penelitian Hukum Kantor Wilayah
dan permusuhan”.121 Departemen Hukum dan HAM DKI Jakarta.2009.
Laporan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Hukum.
119
Hadis Riwayat Muslim dari Jabir r.a dalam Jakarta : Kanwil kumham DKI Jakarta. Hlm.1-2
Ustad Adil. 2011. Mengenal Notaris Syari’ah. 123 A. Kadir.2010. Hukum Bisnis Syariah dalam
Bandung : PT Citra Aditya Bakti. Hlm.23 Al-Quran. Jakarta : Amzah. Hlm 122
120
Abdullah Faqih.Op.Cit.
121
Departemen Agama Republik124 Pasal 1 butir 6 Undang-Undang Nomor 41
Indonesia.2005. Al-Wuran dan Terjemahannya.Tahun 2004 tentang Wakaf
65
yang sah menurut hukum untuk (1) Notaris ditetapkan menjadi
membuat akta ikrar wakaf. PPAIW dengan Keputusan
Menteri.
Pejabat Pembuat Akta Ikrar
(2) Persyaratan notaris untuk dapat
Wakaf (PPAIW) merupakan salah satu
pilar penting dalam perwakafan nasional. ditetapkan menjadi PPAIW
PPAIW menurut ketentuan umum sebagai berikut:
Undang-undang nomor 41 tahun 2004 a. beragama Islam;
tentang wakaf adalah pejabat yang b. amanah; dan
berwenang yang ditetapkan oleh Menteri c. memiliki sertifikat
Agama untuk membuat Akta Ikrar Wakaf kompetensi di bidang
(AIW) .125 PPAIW diberikan tugas dan
perwakafan yang diterbitkan
kewenangan yang sah menurut hukum
untuk membuat AIW. Pejabat Pembuat oleh Kementerian Agama.
Akta Ikrar Wakaf berstatus sebagai (3) Notaris sebagaimana dimaksud
petugas pemerintah yang diangkat pada ayat (2) huruf c, dapat
berdasarkan peraturan yang berlaku, diangkatmenjadi PPAIW setelah
berkewajiban menerima ikrar dari wakif mengajukan permohonan kepada
dan menyerahkannya kepada nadzir serta Menteri.
melakukan pengawasan untuk
kelestarian perwakafan, yang diangkat
d) Analisa Syarat Notaris Sebaga
dan diberhentikan oleh Menteri
PPAIW Berdasarkan Pasal 27
Agama.126
Peraturan Menteri Agama
Dalam Peraturan Menteri Agama
Nomor 73 Tahun 2013
Nomor 73 Tahun 2013 tentang Tata Cara Salah satu syarat yang ditentukan
Perwakafan Benda Tidak Bergerak dan oleh Menteri Agama kepada Notaris
Benda Bergerak Selain Uang, bahwa yang memohon untuk menjadi PPAIW
untuk melaksanakan ketentuan Pasal 37 adalah beragama Islam, menurut penulis
ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor hal itu dikarenakan lembaga wakaf
42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan merupakan sebuah lembaga keagamaan
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 dalam Islam. maka Notaris sebagai
tentang Wakaf, pemerintah menetapkan PPAIW yang mengeluarkan Akta Ikrar
Peraturan Menteri Agama tentang Tata Wakaf haruslah beragama Islam ,
Cara Perwakafan Benda Tidak Bergerak hal ini terkait dengan masalah-masalah
dan Benda Bergerak Selain Uang. perwakafan dalam praktik yang menjadi
Prasyarat Notaris sebagai Pejabat alasan untuk terjadinya sengketa wakaf
Pembuat Akta Ikrar Wakaf diatur dialam dikemudian hari.
pasal 27 Peraturan Menteri Agama 73 Undang-Undang Nomor 50
Tahun 2013 tentang Tata Cara Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua
Perwakafan Benda Tidak Bergerak dan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
Benda Bergerak Selain Uang, yaitu : 1989 tentang Peradilan Agama memiliki
hubungan yang erat dengan Undang-
125
Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang
40 Tahun 2004 tentang Wakaf
126 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor
Rachmadi Usman, op.cit.,Hlm.70
66
30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris memeriksa, memutus, dan
jo Peraturan Menteri Agama Nomor 73 menyelesaikan perkara ditingkat pertama
Tahun 2013 tentang Tata Cara antara orang-orang yang beragama Islam
Perwakafan Benda Tidak Bergerak dan di Bidang : Wakaf127
Benda Bergerak merupakan Peraturan Dari pasal-pasal diatas telah
Perundang-undangan yang menguatkan dinyatakan secara terang bahwa negara
kepastian hukum bagi Notaris sebagai telah menetapkan peraturan dimana
Pejabat Pencatat Akta Ikrar Wakaf penyelesaian sengketa mengenai wakaf
termasuk Syarat yang harus dimiliki oleh masuk didalam yurisdiksi pengadilan
Notaris yang ingin menjadi PPAIW. agama, dimana pengadilan agama
Pasal 62 Undang-Undang Nomor merupakan peradilan bagi orang-orang
41 Tahun 2004 tentang Wakaf yang beragama islam. Tentunya subjek
menegaskan bahwa penyelesaian hukum dan objek hukum yang harus
sengketa perwakafan ditempuh melalui dibawa dalam persidangan tersebut
musyawarah untuk mufakat. Apabila haruslah yang sesuai dengan tuntunan
penyelesaian sengketa melalui agama islam. Apabila Subjek Hukum
musyawarah tidak berhasil, sengketa dimana salah satu pihak bukanlah orang
dapat diselesaikan melalui mediasi, yabf beragama islam tentu akan
arbitrase, atau pengadilan. Selanjutnya bertentangan dengan ketentuan yang ada.
disebutkan dalam penjelasannya, bahwa Dapat diberikan contoh, apabila
yang dimaksud dengan mediasi adalah A menggugat B berkenaan dengan tanah
penyelesaian sengketa dengan bantuan wakaf, sedang diketahui C (tidak
pihak ketiga (mediator) yang disepakati beragama islam) merupakan notaris
oleh pihak yang bersengketa. Dalam hal pencatat akta wakaf, berakibat C tidak
mediasi tidak berhasil menyelesaikan dapat dijadikan salah satu pihak yang
sengketa, maka sengketa tersebut dapat dapat digugat karena peradilan agama
dibawa kepada badan arbitrase syariah. khusus untuk orang yang beragama
Dalam hal badan arbitrase syariah tidak islam. Oleh karena itulah dengan adanya
berhasil menyelesaikan sengketa, maka
sengketa tersebut dapat dibawa ke 127
Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7
pengadilan agama dan/atau mahkamah Tahun 1989 sebagaimana telah diamandemen
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006
syariah. tentang Peradilan Agama, yang menyebutkan
Undang-Undang Nomor 50 Tahin “Pengadilan Agama bertugas dan memeriksa,
2009 tentang Perubahan Kedua Atas memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di
tingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Islam, di bidang :
tentang Peradilan Agama, khususnya a. perkawinan ;
b. waris ;
Pasal 1 ayat (1) menyatakan : “Peradilan
c. wasiat;
Agama adalah peradilan bagi orang- d. hibah;
orang yang beragama Islam” jo Pasal 49 e. wakaf;
f. zakat;
huruf (e) menyatakan :“Pengadilan g. infaq;
agama bertugas dan berwenang h. shadaqah;
i. ekonomi syari’ah
67
kepastian hukum ini Notaris yang kenotariatan yang pengembanannya
seharusnya mencatat Akta Wakaf ini dihayati sebagai panggilan hidup
adalah orang yang beragama Islam. bersumber pada semangat pengabdian
Dari kedua alasan diatas terhadap sesama manusia demi
diperoleh kesimpulan bahwa alasan kepentingan umum serta berakar dalam
dibuatnya syarat “beragama islam” penghormatan terhadap martabat
merupakan syarat yang telah dibuat manusia pada umumnya dan martabat
dengan mempertimbangkan hal-hal Notaris pada khususnya.128
khusus dalam ajaran agama islam yang Di dalam pasal 16 ayat (1) huruf
didalamnya menggariskan mengenai a UU Nomor 2 tahun 2014 tentang
wakaf itu sendiri. Tujuan dari kehidupan Perubahan Atas UU Nomor 30 tahun
itu sendiri menurut islam adalah untuk 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN)
terealisasinya kemaslahatan hidup bagi disebutkan bahwa, “dalam menjalankan
manusia yang dicapai dengan menjaga jabatannya, Notaris wajib bertindak
agama, akal, harta dan keturunan yang amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak
bila dihubungkan dengan pencatatatan memihak, dan menjaga kepentingan
wakaf itu sendiri, yang dapat pihak yang terkait dengan perbuatan
melaksanakan hal ini adalah orang yang hukum.
beragama islam, khususnya mengenai Berdasarkan hal tersebut diatas
menjaga agama yang diperlukan untuk maka Amanah sebagai salah satu syarat
mengatur dan menata hubungan manusia untuk menjadi seorang PPAIW adalah
dengan Tuhannya dan mengelola mutlak harus dipenuhi oleh seorang
hubungan antar manusia di mana dengan Notaris. Karena Jabatan yang dipangku
hukum itu Allah bermaksud untuk Notaris adalah jabatan kepercayaan dan
membangun dan menetapkan agama amanah ,justru oleh karena itu seseorang
dalam jiwa manusia dengan cara bersedia mempercayakan sesuatu
mengikuti hukum syariah dan menjauhi kepadanya. Sebagai seorang
perilaku dan perkataan yang dilarang kepercayaan, Notaris berkewajiban
syariah. untuk merahasiakan semua apa yang
Oleh sebab itu syarat utama bagi diberitahukan kepadanya selaku Notaris
seorang Notaris untuk menjadi PPAIW sekaligus PPAIW.129
haruslah beragama Islam karena Posisi Notaris sebagai PPAIW
menyangkut kompetensi pengadilan secara administratif sangat penting dan
yaitu Pengadilan Agama. strategis, yaitu untuk kepentingan
pengamanan harta benda wakaf dari sisi
Syarat Kedua Notaris untuk
hukum, khususnya dari sengketa dan
menjadi PPAIW yaitu amanah. perbuatan pihak ketiga yang tidak
Mendasarkan pada nilai moral dan nilai bertanggung jawab130 untuk itu PPAIW
etika Notaris, maka pengembanan
128
Herlien Budiono. 2007, Notaris dan Kode
jabatan Notaris adalah pelayanan kepada
Etiknya, Upgrading dan Refreshing Course Nasional
masyarakat (klien) secara mandiri dan Ikatan Notaris Indonesia, Medan, hal. 3.
tidak memihak dalam bidang 129
G.H.S. Lumban Tobing, Op.Cit, hal. 117.
130
Kementerian Agama RI.Op.Cit. hlm.8
68
harus selalu bertindak amanah dalam perwakafan nasional. Jika merujuk pada
menjalankan jabatannya. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004
tentang Wakaf, dijelaskan tugas-tugas
2. Peran Notaris Selaku Pejabat
langsung PPAIW dapat dijabarkan
Pembuat Akta Ikrar Wakaf
sebagai berikut :
Terdapat tiga hal pokok yang 1. Sebelum pelaksanaan ikrar wakaf
melekat dalam diri Notaris sebagai dari calon wakif, PPAIW harus
PPAIW, yaitu peran, tugas, dan dapat memastikan terbentuknya
wewenang. Meskipun ketiganya dapat Majelis Ikrar Wakaf yang terdiri
dipisahkan dalam pengertiannya masing dati Wakif, Nazhir, mauquf alaih,
masing, namun antara satu dengan yang dua orang saksi,dan PPAIW itu
lain saling terkait dan tidak dapat saling sendiri.
menafikan. 2. Meneliti kelengkapan persyaratan
Peran Notaris sebagai PPAIW administrasi perwakafan dan
dapat disebutkan sebagai berikut:131 keadaan fisik benda wakaf
a. Sebagai pihak yang memberikan 3. Menyaksikan pelaksanaan Ikrar
kepastian hukum dalam Wakaf (pernyataan kehendak
pengamanan dan meminimalisir Wakif) di hadapan Majelis Ikrar
persengketaan, perselisihan, dan Wakaf.
penghilangan harta benda wakaf 4. Mengesahkan AIW yang telah
dari pihak-pihak yang tidak clitandatangani oleh Wakif,
bertanggung jawab. Nazhir, 2 (dua) orang saksi,
b. Sebagai basis informasi dan data dan/atau Mauquf alaih.
perwakafan nasional yang akurat 5. Membuat berita acara serah
dan lengkap di tingkat kecamatan terima harta benda wakaf dari
seluruh Indonesia yang dapat Wakif kepada Nazhir beserta
dijadikan pedoman penjelasan tentang keadaan serta
dalampemetaan pemberdayaan rincian harta benda wakaf yang
dan pengembangan wakaf ditandatangani oleh Wakif dan
c. Sebagai pihak yang memberikan Nazhir,
pelayanan, baik administratif 6. Mengesahkan Nazhir, balk
maupun pembimhingan bagi perseorangan, badan hukum,
kepentingan perwakafan maupun organisasi.
masyarakat sesuai dengan 7. Menyampaikan salinan AIW
koridor hukumyang berlaku. kepada: Wakif; Nazhir; Mauquf
alaih;Kantor Pertanahan
Tugas PPAIW bersifat lebih kabupaten/kota dalam hal benda
operasional terhadap pelayanan wakaf berupa tanah; dan instansi
131
berwenang lainnya dalam hal
Hasil Wawancara dengan Drs.H.Iskandar,
S.H,M.H. Kepala Seksi Pemberdayaan Wakaf Kantor benda wakaf berupa benda tidak
Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera
Selatan. Pada tanggal 13 januari 2015
69
bergerak selain tanah atau benda tetap, mengundurkan diri, atau
bergerak selain uang. diberhentikan oleh BWI.
8. Membuat Akta Pengganti Akta 13. Menginventarisasi data tanah
Ikrar Wakaf (APAIW) wakaf, baik yang sudah ber-
berdasarkan permohonan sertifikat maupun masih dalam
masyarakat atau saksi yang proses di BPN Kabupaten.
mengetahui keberadaan benda 14. Ikut membantu penyelesaian bila
wakaf, atau pihak yang telah terjadi masalah yang berkaitan
diitentukan oleh peraturan dengan pensertifikatan tanah
perundang-undangan. wakaf
9. Atas namaNazhir,PPAIW Dalam terminologi hukum,
wajibmenyampaikan APAIW wewenang seorang pejabat seperti
beserta dokumen pelengkap PPAIW, melekat pada peran dan
lainnya kepada kepala Kantor tugasnya sebagai manifestasi dalam
Pertanahan Kabupaten/Kota menjalankan dan mengoptimalkan
setempat dalam rangka fungsinya. Sebagaimana tugas PPAIW,
pendaftaran wakaf tanah yang Peraturan perundangundangan wakaf
bersangkutan dalam jangka juga tidak secara rinci menyebut tentang
waktu paling lama 30 (tiga wewenangnya secara langsung.Namun,
puluh) hari sejak wewenangnya dapat digali dari beberapa
penandatanganan APAIW klausul yang menyangkut pengaturan
10. Penyerahan kelengkapan tentang PPAIW.
adminstrasi pelaksanaan wakaf Beberapa wewenang Notaris
kepada Badan Pertanahan sebagai PPAIW pada umumnya sama
Kabupaten/Kota dan instansi dengan PPAIW pada umumnya (sebagai
terkait bertujuan untuk mengurus kepala KUA) yang dapat dijabarkan
diterbitkannya sertifikat wakaf sebagai berikut:132
atas benda dimaksud yang 1. Memeriksa keabsahan
menjadi otoritas Badan administrasi sebagai persyaratan
Pertanahan Kabupaten/Kota dan/ dilaksanakannya Ikrar Wakaf dan
atau instansi terkait. penerbitan Akta Ikrar Wakaf,
11. PPAlW atas nama Menteri meliputi kepemilikan harta benda
Agama dan Badan Wakaf yang akan diwakafkan, identitas
Indonesia (BWI) wajib mendaftar calon Wakif, Nazhir, dan saksi-
Nazhir di lingkup wilayah saksi, serta hal-hal lain yang
tugasnya. dianggap perlu,
12. Memproses penggantian Nazhir 2. Menolak pelaksanaan ikrar wakaf
lama yang berhenti karena yang akan dilaksanakan oleh
kedudukannya yang disebabkan Wakif jika persyaratan
meninggal dunia, berhalangan administrasi dan ketentuan
132
Ibid.
70
hukumnya belum terpenuhi Nomor 2 Tahun 2014 tentang
sebagaimana peraturan Perubahan Atas Undang-undang
perundangan yang berlaku, Nomor 30 Tahun 2004 tentang
seperti harta benda yang akan Jabatan Notaris tetapi tidak
diwakafkan masih menjadi semua Notaris dapat diangkat
sengketa. menjadi Pejabat Pembuat Akta
3. Memberikan masukan atau atensi Ikrar Wakaf (PPAIW). Syarat
kepada calon Wakif, calon utama seorang Notaris untuk
Nazhir,dan calon saksi-saksi pada menjadi PPAIW haruslah
saat pelaksanaan Ikrar Wakaf beragama Islam,amanah serta
dalam rangka untuk memenuhi memiliki sertifikat kompetensi
persyaratan dan perbaikan wakaf, dibidang Perwakafan yang
baik menyangkut rencana diterbitkan oleh Kementerian
pengelolaan maupun Agama. Hal ini terkait dengan
peruntukannya (mauquf alaih) dengan wakaf itu sendiri sebagai
agar lebih memberi manfaat perbuatan amal dalam Agama
untuk kebajikan umum. Islam bagi umat beragama Islam
4. PPAIW berhak mengusulkan dan disisi lain jika terjadi
penggantian Nazhir, baik atas sengketa tentang wakaf maka
inisiatif sendiri atau usul Wakif penyelesaiannya dilakukan oleh
atau ahli warisnya apabila Nazhir Pengadilan Agama yang
dalam jangka waktu 1 (satu) kompetensinya menangani
tahun sejak AIW dibuat tidak perkara-perkara bagi orang yang
melaksanakan tugasnya dengan beragama Islam.
baik.
5. Memediasi jika terjadi konflik
2. Bagi Notaris yang diangkat
antara Nazhir dengan anggota
sebagai PPAIW mempunyai
Nazhir lainnya, antara Nazhir
peran, yaitu :
dengan Wakif, antara Nazhir a. Sebagai pihak yang
dengan masyarakat atau pihak- memberikan kepastian
pihak lain terkait. hukum dalam pengamanan
dan meminimalisir
E. Kesimpulan
persengketaan, perselisihan,
1. Kewenangan Notaris dalam
dan penghilangan harta
membuat Akta Ikrar Wakaf
benda wakaf dari pihak-
(AIW) telah diberikan oleh Pasal
pihak yang tidak
37 PP No. 42 Tahun 2006.
bertanggung jawab.
Kewenangan ini tidak b. Sebagai salah satu pejabat
bertentangan dengan kewenangan yang menghimpun informasi
Notaris sebagaimana diatur secara otentik tentang
dalam Pasal 15 Undang-undang perwakafan sehingga dapat
71
menjadi basis dalam mengikuti pendidikan
pemetaan dan khusus perwakafan dan
pengembangan wakaf. dinyatakan lulus, siap untuk
c. Sebagai pihak yang ditetapkan menjadi PPAIW
oleh Menteri Agama.
memberikan pelayanan, baik
b. Sistem dan desain Notaris
administratif maupun sebagai PPAIW yang
pembimbing kepada membuat Akta Ikrar Wakaf
masyarakat mengenai Tanah harus memperjelas
perwakafan untuk kedudukan dan hubungan
kepentingan perwakafan serta pembagian
masyarakat sesuai dengan kewenangan antara Notaris
sebagai PPAIW dalam
koridor hukum yang berlaku.
membuat Akta Ikrar Wakaf
dengan Kepala KUA,
F. Saran Pejabat yang
menyelenggarakan urusan
wakaf di tingkat
1. Agar kewenangan Notaris Kabupaten/Kota dan
sebagai PPAIW dalam Membuat Provinsi, Pejabat Lembaga
Keuangan Syariah dan
Akta Ikrar Wakaf dapat segera
Notaris, agar potensi
terlaksana dengan baik, konflik (benturan)
Peraturan Menteri Agama kewenangan diantara
tentang persyaratan Notaris mereka tidak menjadi nyata
sebagai PPAIW harus segera di dalam praktek
dilaksanakan.
2. Kementerian Agama, Badan
Wakaf Indonesia, Badan
Pertanahan Nasiona, Lembaga
Keuangan Syariah serta
organisasi profesi Notaris dan
PPAT harus segera melakukan
koordinasi dalam rangka
menyambut kehadiran Notaris
sebagai PPAIW, terutama dalam
hal :
a. mempersiapkan kemampuan
dan pengetahuan Notaris di
bidang perwakafan, antara
lain melalui sarana seminar,
diskusi, pelatihan bahkan
pendidikan khusus
perwakafan. Diharapkan
Notaris yang telah

72
____________.2011.Merajut Pemikiran
DAFTAR PUSTAKA Dalam Dunia Notaris dan PPAT.
a. Buku : Bandung : AdityaBakti.
Abdurrahman. 2007. Kompilasi Hukum
Islam di Indonesia. Jakarta: Al-Alabij, Adijani. 1989. Perwakafan
Akademika Pressindo Tanah di Indonesia dalam Teori
Adiwinata, Saleh, A. Taloeki, H dan Praktek. Jakarta: Rajawali
Boerhanoeddin ST Batoeah. Pers.
1983. Kamus Istilah
Hukum Fockema Andreae Al-Hafidz bin Hajar al-‘Asqallani. Buluq
Belanda Indonesia.Jakarta : al-Maram min Abdillah
Binacipta. al-ahkam. Surabaya : Syarikah
Bungkul Indah
Adjie, Habib. 2007. Hukum Notaris
Indonesia, Tafsir Tematik Anshori, Abdul Ghofur. 2009. Lembaga
Terhadap UU No.30 Tahun 2004 Kenotariatan
Tentang Jabatan Indonesia.Yogyakarta : UII.
Notaris.Bandung : Refika
Aditama. ____________.2009. Lembaga
Kenotariatan Indonesia,
____________.2007.Hukum Notaris Perspektif Hukum dan Etika.
Indonesia. Surabaya : Refika Yogyakarta : UII Press.
Aditama.
Bagirmanan, 2004.Hukum Positif
____________.2008. Sanksi Perdata dan Indonesia.Yogyakarta : UII Press.
Administratif terhadap Notaris Baiquni, Abu A dan Fauziana, Eni.1995.
sebagai Pejabat Publik, Kamus Istilah Agama Islam.Surabaya :
Bandung : PT. Refika Aditama ARLOKA
Basyir, Ahmad Azhar.1987. Hukum Islam
____________.2009. Sekilas Dunia Tentang Wakaf, Ijarah,Syirkah.
Notaris dan PPAT Indonesia Bandung : Al-Ma’arif.
(Kumpulan Tulisan). Bandung :
Mandar Maju. Budiono, Herlien. 2007. Notaris dan
Kode Etiknya, Upgrading dan
____________.2011.Aspek Pertanggung Refreshing Course Nasional
jawaban Notaris dalam Ikatan Notaris Indonesia. Medan
Pembuatan Akta.
Bandung:CV Mandar Maju ____________.2013. Dasar Teknik
Pembuatan Akta Notaris. PT
Citra Aditya Bakti : Bandung.

73
Departemen Agama Republik Erwin, Muhamad dan Arpan,
Indonesia.1994. Al-qur’an dan Amrullah.2007.Filsafat Hukum
Terjemahannya. Yayasan Renungan untuk Mencerahkan
Penyelenggara Penterjemah Al- Kehidupan Manusia di bawah
qur’an. Jakarta : Dep. Agama RI. Sinar Keadilan. Palembang :
Universitas Sriwijaya.
____________.2005. Al-Quran dan
Terjemahannya. Jakarta : PT Fyzeel, Asaf A.A.1966. Pokok-Pokok
Syaamil Cipta Media Hukum Islam II. Jakarta: Tinta
Mas.
____________.2005.Paradigma Baru Hadjon, Philipus M. dan Djatmiati, Titiek
Wakaf di Indonesia. Jakarta : Sri. 2005. Argumentasi Hukum.
Direktorat Pengembangan Zakat Yogyakarta : University Press
dan Wakaf.
Hamami ,Taufiq.2003. Perwakafan Tanah
____________.2005.Wakaf Tunai dalam Dalam Politik Hukum Agraria
Perspektif Islam. Jakarta : Nasional. Cet. 1. Jakarta: Tatanusa
Direktorat Jendral Bimbingan Hasan, KN Sofian.2004.Hukum Islam.
Masyarakat Islam dan Jakarta: Literata Lintas Media
Penyelenggaraan Haji Direktorat Hisyam, M.1996.Penelitian Ilmu-Ilmu
Pengembangan Zakat dan Wakaf. Sosial, Asas-asas. Jakarta, FE UI.

Dewi, Santia dan Diradja, Fauwas. HR, Ridwan. 2006. Hukum Administrasi
2011.Panduan Teori dan Praktik Negara. Jakarta : PT. Raja
Notaris.Yogyakarta : Grafindo Persada.
Pustaka Yustisia.
Kadir,A.2010. Hukum Bisnis Syariah
Direktorat pengembangan Zakat dan dalam Al-Quran. Jakarta : Amzah
Wakaf dan Direktorat Bibingan
Masyarakat dan Penyelenggaraan Kementerian Agama RI.2013. Standar
Haji.2013. Standar Pelayanan Pelayanan Wakaf Bagi Pejabat
Wakaf bagi Pejabat Pembuat Pembuat Akta Ikrar Wakaf
Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). (PPAIW).Jakarta : Dikrektorat
Jendral Bimbingan Masyarakat
____________..2005. Paradigma Baru Islam Direktorat Pemberdayaan
Wakaf di Indonesia. Wakaf

E.Ultrech.1957. Pengantar Dalam Khosyi’ah, Siah. 2010. Wakaf dan


Hukum Indonesia. Jakarta Hibah. Bandung : Pustaka Setia.
:Ichtiar. Kie, Tan Thong.2011. Studi Notariat dan
Serba SerbiPraktek Notaris.

74
Jakarta : PT.Ichtiar Baru Van Rasjidi, Lili dan Thania, Ira Rasjidi.2004.
Hoeve Dasar-Dasar Filsafat dan Teori
Hukum.Bandung : PT. Citra
Koentjro, Diana Halim.2004. Hukum Aditya Bakti.
Administrasi Negara.Bogor : Ghalia
Indonesia Santoso, Didi.2000.Tanggung Jawab
Notaris dalam Pembuatan Akta yang
Lubis ,Solly. 1994. Filsafat Ilmu dan Memuat Dua Perbuatan Hukum. Tesis.
Penelitian. Bandung : Andar Magister
Maju. Kenotariatan.Undip.Semarang
Lubis, Suhardi K.2010. Wakaf dan
Pemberdayaan Umat. Jakarta : Setiawan ,Wawan. Kekuatan Hukum Akta
Sinar Grafika. Notaris Sebagai Alat Bukti. Varia
Peradilan 48. September 1989
Mahdi bin Ibrahim.1997.Amanah Dalam
Manajemen, penerjemah :Rahmad Sjaifurrachman dan Adjie, Habib.2011.
Abbas. Jakarta:Pustaka Al-Kausar. Aspek Pertanggungjawaban
Notaris dalam Pembuatan Akta.
Marzuki, Peter Mahmud. 2008. Pengantar Bandung:CV Mandar Maju.
Ilmu Hukum. Jakarta: Kencana
Pranada Media Group. Soekanto, Soerjono dan Mamudji,
Sri.1985. Penelitian Hukum
Mubarak, Jaih.2008.Wakaf Produktif. Normatif Suatu Tinjauan Singkat.
Bandung: Simbiosa Rekatama Jakarta : CV Rajawali.
Media.
Notodiseorjo, R.Soegpndo.1982.Hukum Soesanto, R.1982.Tugas Kewajiban dan
Notariat di Indonesia, Suatu Penjelasan. Hak-Hak Notaris, (Wakil Notaris
Jakarta : Rajawali Pers Sementara). Jakarta : Pradnya
Paramita.
Notodisoerjo,R.Soegondo.1982.Hukum
Notariat di Indonesia, Suatu Penjelasan. Subekti,R dan Tjitrosudibio.2001.Kitab
Jakarta: Rajawali. Undang-Undang Hukum Perdata
(Burgerlijk Wetboek), Jakarta :
Panjaitan, Saut P.1998. Dasar-Dasar Ilmu Pradnya Paramita
Hukum (Asas, Pengertian, dan
Sistematika). Palembang : ____________.2008.Kamus Hukum.
Universitas Sriwijaya. hlm.158- Jakarta: Pradnya Paramita
159
Suharjono. Varia Peradilan Tahun XI
Rahardjo, Satjipto.2006.Ilmu Hukum. Nomor 123, Sekilas Tinjauan Akta
Bandung : PT.Citra Aditya Bakti. Menurut Hukum, Desember 2005

75
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang
Suparman,Usman. 2008.Etika dan Pelaksanaan Undang-Undang
Tanggung Jawab Profesi Hukum di Nomor 41 Tahun 2004 tentang
Indonesia. Jakarta : Gaya Media Wakaf
Pratama Peraturan Menteri Agama Nomor 73
Tahun 2013 tentang Tata cara
Surayin. 2001. Kamus Umum Bahasa Perwakafan Benda Tidak
Indonesia. Bandung:Yrama Widya. Bergerak dan Benda Bergerak
Selain Uang
Thamrin,Husni. 2010. Pembuatan Akta
Pertanahan Oleh Notaris.
Yogyakarta : LaksBank PresSindo

Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan


dan Pengembangan Bahasa. 1990.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka
Tobing, G.H.S Lumban. 1999. Peraturan
Jabatan Notaris (Notaris Reglement).
Jakarta : Penerbit Erlangga
Usman, Rachmadi.2013. Hukum
Perwakafan di Indonesia.
Jakarta: Sinar Grafika.

Ustad Adil. 2011. Mengenal Notaris


Syari’ah. Bandung : PT Citra Aditya
Bakti.

Widjaya , I.G.Rai. 2002.Merancang Suatu


Kontrak Contract Drafting. Bekasi
Timur : Kesaint Blanc

b. Peraturan Perundang-undangan :
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2014
tentang Jabatan Notaris
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004
tentang Wakaf

76
KEKUATAN PEMBUKTIAN
SURAT PENGAKUAN HAK ATAS TANAH
YANG DIKETAHUI OLEH LURAH DAN CAMAT

Oleh :
HANA WASTUTI POETRI

Abstract : Thesis entitled “Strength of Evidence Letter Recognition of Rights (SPH)


known by the Village Heads” examine Letter Recognition of Rights (SPH) known by the
Village Heads is a form of the physical control of land. Therefore, as a form of
administration that has something to do with a verification tool which evidence is to
prove the possesion of a land.
The proof here is the physical possesion of a land recognized equivalent, by
decree of The Minister of Agrarian incurred as a village chief adjudication team. The
strength of Letter Recognition of Rights is seen from various evidence has been qualified
as evidence in accordance with those contained in the Civil Code of the Act (vide Article
1874 of the Civil Code), where the existence of a written statement, the witness, the
recognition of the parties and the elements contained in the evidence as well as the
strength of evidence under the hand.
The existence of A Letter Recognition of Rights as a deed under the hand is as
the basis for the issuance of certificates recognized in Government Regulation Number
24 of year 1997 on Land Registration, although the deed under the hand does not have
legal force but it can be used as the base in the issuance of certificates and can have the
power of legal evidence in court of law.

Keywords : Strength of Evidence, Letter Recognition of Land Rights, Village


Heads

A. Pendahulauan dasar untuk menjadi alas hak


1. Latar Belakang kepemilikan atas tanah133.
Di dalam masyarakat transaksi Pemberian dan penerbitan SPH
atau jual-beli hak atas tanah, terjadi dalam praktik pemerintahan di
juga pada transaksi atas jual beli Indonesia, didasarkan pada
atas Surat Pengakuan Hak (SPH) Peraturan Pemerintah Nomor 8
yang diketahui oleh Lurah dan Tahun 1953 tentang Penguasaan
Camat. Pengakuan terhadap SPH Tanah-Tanah Negara, yang
menjadikan SPH sebagai salah satu memberikan kewenangan
133
Aslan Noor, 2006, Konsep Hak Milik
Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Bandung,
Mandar Maju, hlm. 61-70

77
penguasaan atas tanah Negara tanah milik adat dengan
kepada Kementerian Dalam Negeri. kepemilikan berupa girik, dan
Atas dasar hal tersebut, maka Kutipan Leter C yang berada di
terhadap tanah-tanah yang dikuasai Kelurahan atau Desa merupakan
oleh Negara dapat diberikan bukti kepemilikan yang sah. Juga
penetapan peruntukannya kepada masih terjadinya peralihan hak
masyarakat. Dalam praktik seperti jual beli, hibah, kewarisan
penerbitan SPH, hal tersebut ataupun akta-akta yang belum
dikeluarkan oleh Pemerintah Desa didaftarkan di Kantor Pertanahan.135
cq. Kepala Desa. Hingga Tahun 2011, menurut
Dengan adanya Undang- Badan Pertanahan Nasional, jumlah
Undang Pokok Agraria yang bidang-bidang tanah di wilayah
ditindaklanjuti dengan adanya Negara Kesatuan Republik
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Indonesia saat ini tidak kurang dari
Tahun 1961 yang kemudian diganti 80 juta bidang. Apabila
dengan Peraturan Pemerintah mempertimbangkan pokok-pokok
Nomor 24 Tahun 1997 tentang tujuan dari UUPA, jelas bahwa
Pendaftaran Tanah, tidak mampu semestinya terhadap 80 juta bidang
lagi diterbitkan hak-hak yang tanah tersebut, telah dapat diberikan
tunduk kepada Kitab Undang- kepastian hukumnya bagi para
Undang Hukum Perdata ataupun pemilik bidang tanah yang
hak adat. Mengingat hukum adat bersangkutan.
setempat kecuali menerangkan Dengan demikian masih jauh
bahwa hak-hak tersebut merupakan lebih banyak bidang-bidang tanah di
hak adat. Mengingat pentingnya wilayah Indonesia ini yang belum
pendaftaran hak milik atas tanah memiliki kepastian hukum,
adat sebagai bukti kepemilikan hak termasuk persoalan mengenai SPH
atas tanah secara sah sesuai dengan yang terjadi di masyarakat. Hal ini
Pasal 23, Pasal 32, dan Pasal 38 menunjukkan bahwa betapa
Undang-Undang Pokok Agraria, besarnya beban yang ditanggung
maka diberikan suatu kewajiban oleh UUPA untuk mengentaskan
untuk mendaftarkan tanah adat ketidakpastian hukum mengenai
khususnya hak milik Adat.134 hak-hak atas tanah bagi para pemilik
Pasal 19 UUPA tanah di Indonesia.136
mengharuskan pemerintah untuk Ini berarti bahwa persoalan
mengadakan pendaftaran tanah di hukum atas SPH yang dimiliki oleh
seluruh wilayah Republik Indonesia, anggota masyarakat menjadi hal
dikarenakan masih minimnya penting, mengingat keberadaan SPH
pengetahuan. Mereka menganggap yang masih diakui oleh masyarakat
135
Aslan Noor, Op.Cit
134 136
Efendi Perangin, Op.Cit Aslan Noor, Op.Cit

78
dan pemerintah, mengingat multisektor (pertanian, industri,
pentingnya kedudukan hukum SPH pemerintahan, transmigrasi, dan
dalam proses pembuatan sertifikat lain-lain) yang menggunakan tanah
hak atas tanah, serta kekuatan tersebut, atau menjadi persoalan
hukum pembuktian SPH atas tanah kenegaraan yang multidimensi
dalam sengketa pertanahan. (budaya, politik, ekonomi, sosial,
Oleh karena itu, masalah dan hankam), sehingga bila akan
pertanahan yang muncul dari hak diselesaikan dengan pendekatan
atas tanah akan semakin banyak dan yang ditempuh oleh Pemerintah
beragam, dikarenakan belum seperti sekarang ini tidak cukup
terdaftarnya seluruh bidang tanah semata-mata bersifat yuridis teknis,
yang ada, sehingga belum tercipta tetapi juga menyangkut
kepastian hukum dan perlindungan pertimbangan sosial-ekonomi.139
hukum.137 Akibatnya, timbul Berdasarkan hal tersebut, maka
penguasaan dan pengusahaan atas transaksi atas jual beli Surat
bidang-bidang tanah oleh para pihak Pengakuan Hak (SPH) atas tanah
yang tidak sesuai dengan ketentuan mengandung 2 (dua) persoalan
hukum yang berlaku, seperti hukum, yakni :
pendudukan atau pengklaiman atas 1. Persoalan mengenai status
suatu bidang tanah oleh seseorang / hukum SPH atas tanah itu
kelompok orang yang belum tentu sendiri, yang sebenarnya bukan
berhak atas tanah yang merupakan bukti kepemilikan
bersangkutan, okupasi liar, serta atas tanah. Akan tetapi di dalam
tumpang tindih hak dan peruntukan tertib administrasi pemerintahan,
hak atas tanah.138 keberadaan SPH atas tanah
Terhadap permasalahan diakui keberadaannya untuk
pertanahan yang muncul dari dijadikan alas hak dalam proses
keadaan tersebut, maka yang terjadi pendaftaran tanah;
adalah benturan kepentingan antara 2. Persoalan mengenai kekuatan
para pihak pengguna dan atau hukum SPH atas tanah tersebut.
penguasa yang merasa berhak atas Hal ini berkaitan dengan
bidang tanah tertentu. kekuatan pembuktian secara
Tidak mengherankan bila akhir- hukum dalam hal terjadi sengketa
akhir ini muncul gejala bahwa hukum di pengadilan dengan
masalah pertanahan tidak hanya pihak lainnya baik perseorangan
disebabkan hal-hal yang bersifat maupun perusahaan.
yuridis, tetapi berkembang menjadi Melihat pada uraian yang
dikemukakan, maka kiranya menjadi
137
M. Yamin Lubis dan Abd. Rahim
139
Lubis, 2010, Hukum Pendaftaran Tanah (Edisi Lutfi I Nasution, 2002, dalam buku
Revisi). Bandung, Mandar Maju, hlm. 7. Menuju Keadilan Agraria 70 Tahun Gunawan
138
Ibid Wiradi, Bandung : Akatiga, halaman 216

79
relevan untuk melakukan pembahasan perundang-undangan, karena akan
mengenai persoalan hukum dibalik diteliti berbagai aturan hukum formal
keberadaan SPH atas tanah dan jual yang menjadi fokus utama.
beli SPH Atas Tanah yang dilakukan b. Pendekatan
dihadapan atau diketahui oleh Kepala Analitis
Desa dan Camat, guna dilakukan Penelitian menggunakan
pengkajian lebih lanjut. pendekatan hukum analitis terhadap
bahan hukum agar dapat mengetahui
B. Permasalahan makna yang terkandung di dalam
Berdasarkan uraian latar belakang peraturan perundang-undangan serta
tersebut, maka yang menjadi menganalisis istilah yang digunakan
permasalahan adalah sebagai berikut : dalam peraturan perundang-undangan
1. Bagaimana kekuatan pembuktian secara konseptual.
SPH atas Tanah sebagai alas hak 2. Jenis dan Sumber Bahan-
dalam proses pendaftaran tanah. Bahan Penelitian
2. Bagaimana kekuatan alat bukti Jenis dan sumber bahan-bahan hukum
SPH atas Tanah yang diketahui yang digunakan dalam tesis ini adalah
oleh Kepala Desa dan Camat. sebagai berikut :
a. Bahan Hukum Primer
C. Metode penelitian Bahan Hukum Primer adalah
Pendekatan dalam penelitian ini bahan-bahan yang isinya mengikat
dilakukan dengan metode penelitian karena dikeluarkan oleh pemerintah
hukum normatif, dengan penekanan dari yang sumbernya telah diatur dan
norma-norma hukum dengan mengkaji bersifat mengikat atau fakultatif,
peraturan perundang-undangan, bahan seperti peraturan perundang-
pustaka, serta sumber bahan hukum yang undangan, yurisprudensi, peraturan
ada.140 pemerintah, dan peraturan-peraturan
pelaksana, dalam penulisan terdiri
dari :
i. Norma dasar atau Kaidah
1. Pendekatan Penelitian dasar yaitu Pancasila dan
Penelitian ini menggunakan Undang-Undang Dasar 1945;
metode pendekatan dalam ilmu ii. Undang-Undang Nomor 5
hukum, yaitu : Tahun 1960 tentang Peraturan
a. Pendekatan Dasar Pokok-Pokok Agraria;
Perundang-undangan iii. Peraturan Pemerintah Nomor
Suatu penelitian hukum normatif 24 Tahun 1997, Tentang
wajib menggunakan pendekatan Pendaftaran Tanah;
140
iv. Peraturan Perundang-
Johnny Ibrahim. 2005. Teori dan
Metode Penelitian Normatif. Malang : undangan terkait lainnya.
Bayumedia Publishing, hal. 241.

80
diperoleh dari studi kepustakaan
(Library Research), dengan cara
membaca, menelaah serta
b. Bahan Hukum Sekunder menganalisa buku-buku, literatur-
Bahan hukum sekunder adalah literatur, dan peraturan perundang-
bahan-bahan yang isinya undangan.
memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, seperti buku- 4. Analisis Bahan-Bahan Penelitian
buku teks ilmiah yang ditulis para dan Pengambilan Kesimpulan
ahli hukum yang berpengaruh, hasil- Didalam penyusunan penelitian
hasil penelitian, dan ketentuan lain ini, bahan-bahan hukum diperoleh
yang memiliki keterkaitan secara akan diolah, dianalisa, dan
langsung dengan objek kajian disimpulkan dengan menggunakan
penelitian.141 metode induktif dan metode
deduktif. Metode induktif adalah
c. Bahan Hukum suatu cara untuk menarik
Tersier kesimpulan dari hal-hal khusus ke
Bahan hukum tersier adalah hal yang umum, sedangkan metode
bahan hukum penunjang yang deduktif adalah cara menarik
memberikan petunjuk dan kesimpulan dari hal-hal umum yang
penjelasan terhadap bahan hukum ke hal yang khusus.142
primer dan bahan hukum sekunder
seperti Koran, Majalah atau Jurnal,
Internet, Kamus Hukum, Kamus
Bahasa Indonesia dan sumber-
sumber hukum lainnya yang terkait.
Juga dapat berupa jurnal ilmu
hukum, laporan penelitian ilmu D. Pembahasan
hukum, artikel ilmiah hukum dan 1. KEKUATAN PEMBUKTIAN
bahan seminar, dan sebagainya yang SURAT PENGAKUAN HAK
ada relevansi dengan tema SEBAGAI ALAS HAK DALAM
penelitian ini. PROSES PENDAFTARAN
TANAH
Hak penguasaan atas
3. Teknik Pengumpulan dan
tanah berisikan serangkaian
Pengolahan Bahan-Bahan
wewenang, kewajiban dan/atau
Penelitian
larangan bagi pemegang haknya
Metode Penelitian yang
untuk berbuat sesuatu mengenai
digunakan dalam penelitian ini akan
diteliti bahan hukum sekunder, yang 142
M. Yamin Lubis dan Abd. Rahim
141
Soerjono Soekanto. 2008. Pengantar Lubis, 2010, Hukum Pendaftaran Tanah (Edisi
Penelitian Hukum. Jakarta : UI-Press. hlm. 52. Revisi). Bandung, Mandar Maju, hlm. 7.

81
tanah yang dihaki. “Sesuatu” Tuhan, perolehan dan
yang boleh, wajib dan/atau penguasaannya harus dirasakan
dilarang untuk diperbuat itulah adil bagi semua pihak, sehingga
yang merupakan tolok pembeda tidak boleh merugikan
antara berbagai hak penguasaan kepentingan orang lain dalam arti
atas tanah yang diatur dalam luas. Penguasaan tanah untuk diri
Hukum Tanah negara yang sendiri haruslah diletakkan dalam
bersangkutan143. Hak-hak rangka kesesuaian kebersamaan
penguasaan atas tanah dapat dengan pihak lain. Hak yang
diartikan sebagai lembaga dipunyai seseorang selalu
hukum, jika belum dihubungkan dikaitkan dengan kewajibannya.
dengan tanah dan subyek 3. Tanah di wilayah
tertentu. Hakhak penguasaan atas Indonesia merupakan kepunyaan
tanah dapat juga merupakan bersama seluruh bangsa
hubungan hukum konkret Indonesia (Pasal 1 ayat (2) dan
(subjektief recht), jika sudah (3)), hanya saja kewenangan
dihubungkan dengan tanah untuk mengaturnya diserahkan
tertentu dan subjek tertentu kepada negara. Tegasnya negara
sebagai pemegang haknya144. mengatur peruntukkan,
Dalam Undang-Undang Nomor 5 penggunaan, persediaan, dan
Tahun 1960 Tentang Peraturan pemeliharaan bumi, air dan ruang
Dasar Pokok-Pokok Agraria angkasa (Pasal 2).
(UUPA) telah digariskan prinsip- 4. Pengakuan terhadap hak
prinsip dasar tentang bagaimana ulayat dilakukan sepanjang
seharusnya penguasaan dan menurut kenyataannya masih ada
pemanfaatan terhadap tanah yang serta sesuai dengan kepentingan
ada di Indonesia, sebagai berikut. nasional dan negara, yang
1. Pasal 1 ayat (2) UUPA berdasarkan atas persatuan
berbunyi bahwa “Seluruh bumi, bangsa dan tidak bertentangan
air dan ruang angkasa, termasuk dengan undangundang dan
kekayaan alam yang terkandung peraturan-peraturan lain yang
di dalamnya dalam Wilayah lebih tinggi (Pasal 3).
Republik Indonesia sebagai 5. Selanjutnya dalam Pasal
karunia Tuhan Yang Maha Esa 9 ayat (2) dinyatakan bahwa
……” “tiap-tiap Warga Negara
Indonesia, baik laki-laki maupun
2. Selain memiliki nilai wanita mempunyai kesempatan
fisik, tanah juga mempunyai yang sama untuk memperoleh
kerohanian. Sebagai titipan sesuatu hak atas tanah serta
143
Boedi Harsono, op. cit., hlm. 262. untuk mendapatkan manfaat dan
144
Loc. cit.

82
hasilnya baik bagi diri sendiri wewenang untuk memberikan
maupun keluarganya.” ijin membuka tanah yang luasnya
Pada zaman sebelum tidak lebih dari 2 Ha. Selanjutnya
UUPA maupun setelah UUPA, ketentuan tersebut telah diubah
pada awalnya tanah yang belum menjadi Peraturan Menteri
tergarap masih luas dan kegiatan Negara Agraria/Kepala Badan
pembangunanpun masih belum Pertanahan Nasional Nomor 3
begitu banyak dilakukan Tahun 1999 Tentang Pelimpahan
sedangkan desa dan kecamatan Kewenangan Pemberian Dan
membutuhkan biaya untuk Pembatalan Keputusan
pembangunan yang ada di Pemberian Hak Atas Tanah
wilayah tersebut sehingga baik Negara dan Peraturan Kepala
disengaja maupun tidak sengaja Badan Pertanahan Nasional
Aparat Desa, Kecamatan maupun Republik Indonesia Nomor 1
Kelurahan dengan mudah Tahun 2011 Tentang Pelimpahan
memberikan kesempatan kepada Kewenangan Pemberian Hak
masyarakat untuk membuka Atas Tanah Dan Kegiatan
hutan. Setelah demikian lama Pendaftaran Tanah Tertentu.
berjalan baru terasa hal tersebut Dalam hal kepemilikan
sangat merepotkan dan tidak tanah yang melebihi luas
adanya kepastian berapa luas maksimum yang telah ditetapkan
hutan yang sudah di buka pemerintah tak sedikit pemilik
sehingga mempunyai dampak tanah yang memiliki tanah
lain disamping untuk dengan luas yang melebihi dari
kemakmuran juga kadang kala ketentuan tersebut sehingga
dipergunakan untuk ekplorasi terkadang tanah yang seharusnya
hutan untuk kepentingan pribadi tidak boleh melebihi dari 10 Ha
dan ekonomi sehingga hutan- dapat dimiliki oleh pemilik tanah
hutan lindungpun dibuka dan hingga ratusan hektar dengan
diberikan ijin oleh Bupati, cara memisahkan perbagian dari
Kecamatan dan disetujui oleh bukti kepemilikannya, sebagai
Gubernur yang mengakibatkan contoh apabila seseorang
banyaknya pejabat-pejabat yang memiliki tanah seluas ratusan
terkena sanksi hukum dan sampai hektar maka orang tersebut akan
ke pengadilan. Sehingga oleh memiliki sekitar puluhan Surat
pemerintah berdasarkan Pasal 11 Pengakuan Hak yang dikeluarkan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Kepala Desa dengan
Nomor 6 tahun 1972 tentang pengetahuan Camat sebagai alas
Pelimpahan Wewenang haknya.
Pemberian Hak Atas Tanah, Peran serta pemerintah
kepada camat telah diberikan disini tidak terlepas dari
83
kewenangan yang diberikan oleh Pendaftaran Tanah146, terdapat
pemeritah pusat kepada alat bukti tertulis untuk dapat
pemerintah daerah dalam hal membuktikan kepemilikan atas
pengurusan tanah sebagaimana tanah yang dapat digunakan bagi
ternyata dalam rumusan Pasal 14 pendaftaran hak-hak lama dan
Undang-Undang Nomor 32 tahun merupakan dokumen yang
2004 tentang Pemerintah Daerah lengkap untuk kepentingan
menyebutkan bahwa urusan pendaftaran tanah antara lain:
wajib yang menjadi kewenangan grosse akta hak eigendom, surat
pemerintah daerah untuk tanda bukti hak milik yang
Kabupaten/Kota merupakan diterbitkan berdasarkan peraturan
urusan yang berskala swapraja yang bersangkutan,
Kabupaten/Kota diantaranya sertifikat hak milik yang
adalah pelayanan pertanahan145. diterbitkan berdasarkan Peraturan
Bagi yang memiliki tanah Menteri Agraria No. 9 Tahun
yang sudah lama atau yang 1959, surat keputusan pemberian
dikuasai sebelum 24 September hak milik dari pejabat yang
1960 diperlukan bukti berwenang baik sebelum atau
kepemilikan atau penguasaan sejak berlakunya UUPA, petuk
tanah dapat digunakan surat Pajak Bumi sebelum berlakunya
keterangan riwayat pemilikan/ PP No. 10 Tahun 1961, akta
penguasaan tanah sedangkan pemindahan hak yang dibuat di
tanah yang dikuasai dengan ganti bawah tangan yang dibubuhi
kerugian surat tanda buktinya kesaksian oleh Kepala Adat atau
adalah surat keterangan ganti Kepala Desa/Kelurahan yang
kerugian, surat pernyataan tidak dibuat sebelum berlakunya PP
bersengketa dan semua surat No. 24 Tahun 1997 tentang
tersebut di atas seperti tanda Pendaftaran Tanah dengan
letak batas (sepadan) dan disertai alas hak yang dialihkan,
peta/gambar (sceets kart) situasi akta pemindahan hak yang dibuat
merupakan suatu kesatuan, yang oleh PPAT, akta ikrar wakaf,
mana dapat dipergunakan risalah lelah yang dibuat oleh
sebagai alas dasar bukti Pejabat Lelang, surat
kepemilikan. penunjukan atau pembelian
Sebagaimana tercantum kavling tanah yang diambil
dalam penjelasan dari Pasal pemerintah, surat keterangan
24 Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 1997 tentang 146
Penjelasan Pasal 24 (m), lain-lain
bentuk alat pembuktian tertulis dengan nama
145
Arie Sukanti dan Markus Gunawan, apapun juga sebagaimana tercantum dalam Pasal
2009, Kewenangan Pemerintah Di Bidang II, Pasal IV dan Pasal VII ketentuan konversi
Pertanahan, Jakarta : Rajawali Pers, hlm. 11 UUPA

84
riwayat tanah yang dibuat oleh dikemudian hari hendak
Kantor Pelayanan Pajak Bumi menerbitkan Sertifikat, dan hal
dan Bangunan dengan disertai tersebut diakui dalam Peraturan
alas hak yang dialihkan. Pemerintah Nomor. 24 Tahun
Proses mendapatkan hak 1997 tentang Pendaftaran Tanah,
milik atas tanah seperti ini jika walaupun surat di bawah tangan
merujuk pada Undang-Undang tidak memiliki kekuatan hukum
Pokok Agraria, Surat Pengakuan akan tetapi untuk dapat
Hak Atas Tanah merupakan dijadikan sebagai alas hak dalam
proses awal atau alas hak untuk penerbitan Sertifikat dan dapat
mendapatkan sertifikat hak atas memiliki kekuatan pembuktian.
tanah. Namun dengan Dari sisi hukum hak yang
mengantongi Surat Pengakuan dimiliki oleh Surat Pengakuan
Hak tersebut masyarakat merasa Hak ini adalah Hak Preferen (hak
haknya sudah aman dan istimewa) dimana untuk
terlindungi, meskipun dalam membuktikan adanya Hak
prakteknya, penerbitan Surat Preferen tersebut kembali kepada
Pengakuan hak tersebut banyak bukti tulisan. Surat Pengakuan
hal negatif yang dijumpai. Surat Hak Atas Tanah merupakan surat
Pengakuan Hak ini diakui juga pernyataan sepihak dari penguasa
oleh pemerintah sebagai salah tanah yang diakui dan disetujui
satu bukti dalam pengajuan oleh sempadan dan diketahui
sertifikat bagi hak milik untuk oleh RT, desa, lurah. Surat
mendapatkan suatu hak Pengakuan Hak adalah surat
berdasarkan UUPA. dibawah tangan yang teregistrasi
Surat Pengakuan Hak dikantor lurah, kaitannya dengan
Atas Tanah merupakan alas hak pembuktian adalah dengan
yang banyak dipergunakan di seseorang mengakui tanah
berbagai daerah untuk mengisi tersebut maka ia baru
kekosongan hukum atas membuktikan ke khalayak ramai
pendaftaran tanah yang belum dengan adanya pengakuan dari
menjangkau ke daerah terpencil, sepadan dalam hal ini ia sudah
terdapat istilah yang berbeda membuktikan dalam hal materil,
tentang Surat Pengakuan Hak dalam artian formil belum.
Atas Tanah yang dahulunya Sehingga Surat Pengakuan Hak
dikuasai oleh seseorang dengan bisa saja mengalahkan sertifikat
diterbitkan surat oleh desa berupa karena dasar dari sertifikat adalah
ijin tebas tebang, untuk surat dasar. Kembali kepada
membuktikan mereka dapat pembuktian hak preferen dari
mengakui tanah tersebut serta Surat Pengakuan Hak ini yang
untuk keperluan penggarap bila benar berdasarkan hukum bisa
85
mengalahkan hak milik apabila sebagaimana dimaksud dalam
hak milik tersebut diperoleh Pasal 24 ayat (2); dan
secara melawan hukum, dengan 2) Surat keterangan yang
sistem publikasi yang diterapkan menyatakan bahwa bidang
di Indonesia yakni negatif tanah yang bersangkutan
bertendensi positif sertifikat belum besertifikat dari
merupakan alat bukti yang kuat Kantor Pertanahan, atau
sepanjang tidak dibuktikan untuk tanah yang terletak di
sebaliknya, karena tidak ada daerah yang jauh dari
kepastian hukum yang sempurna kedudukan Kantor
maka hanya bersifat sementara. Pertanahan, dari pemegang
Berdasarkan bukti hak yang bersangkutan
kepemilikan tanah yang dimiliki dengan dikuatkan oleh
oleh masyarakat yang berupa Kepala Desa/Kelurahan;
Surat Pengakuan Hak yang
diketahui oleh Kepala Desa yang Berdasarkan bukti
disahkan oleh Kecamatan kepemilikan tanah yang dimiliki
setempat berdasarkan Pasal 7 oleh masyarakat yang berupa
ayat (2), dan Pasal 39 Peraturan surat keterangan tanah yang
Pemerintah Nomor 24 Tahun diterbitkan oleh Kepala Desa
1997 tentang Pendaftaran Tanah, yang disahkan oleh Kecamatan
dapat dikategorikan sebagai alas setempat berdasarkan Pasal 7
hak yang diajukan sebagai ayat (2), dan Pasal 39 Peraturan
kelengkapan persyaratan Pemerintah Nomor 24 Tahun
permohonan hak atas tanah. 1997 tentang Pendaftaran Tanah,
Kewenangan Kepala dapat dikategorikan sebagai alas
Desa diatur di dalam ketentuan hak yang diajukan sebagai
Pasal 39 ayat (1) huruf b angka kelengkapan persyaratan
(1) dan angka (2) Peraturan permohonan hak atas tanah,46
Pemerintah tentang Pendaftaran oleh karena itu apabila terjadi
Tanah , disebutkan bahwa : kesalahan atau adanya cacat
Mengenai bidang tanah yang hukum dalam penerbitan alas hak
belum terdaftar, kepadanya tidak tersebut akan berakibat batal atau
disampaikan: tidak sahnya sertifikat yang
1) Surat bukti hak sebagaimana diterbitkan karena kesalahan
dimaksud dalam Pasal 24 prosedur penerbitan sertifikat.
ayat (1) atau surat keterangan Berdasarkan uraian di
Kepala Desa/Kelurahan yang atas maka dapat memperjelas
menyatakan bahwa yang bahwa walaupun Surat
bersangkutan menguasai Pengakuan Hak merupakan alat
bidang tanah tersebut bukti tertulis di bawah tangan
86
yang kekuatan pembuktiannya Hukum yang ditunjuk oleh
tidak sekuat akta otentik, namun Pemerintah.
karena Surat Pengakuan Hak b. Terjadinya Hak Milik
Atas Tanah tersebut merupakan Sesuai dengan Pasal 22
surat-surat yang dikategorikan Undang-Undang No. 5 tahun 1960,
alas hak atau data yuridis atas disebutkan bahwa terjadinya hak
tanah yang dijadikan syarat milik dikarenakan oleh 3 (tiga) hal
kelengkapan persyaratan yaitu karena hukum adat , karena
permohonan hak atas tanah penetapan pemerintah dan karena
sebagaimana diatur dalam ketentuan Undang-Undang.
ketentuan perundang-undangan a. Menurut ketentuan hukum
pertanahan, maka Surat adat yang akan diatur dengan
Pengakuan Hak tersebut PeraturanPemerintah.
merupakan dokumen yang sangat Peraturan Pemerintah yang
penting dalam proses penerbitan mengatur terjadinya hak milik
sertifikat hak atas tanah. menurut hukum adat sampai
sekarang belum terbit. Efendi
Perangin berpendapat bahwa
atas dasar ketentuan hukum
adat hak milik dapat terjadi
3. KEKUATAN ALAT BUKTI karena pertumbuhan tanah dan
SURAT PENGAKUAN HAK pembukaan tanah8.
ATAS TANAH YANG Pertumbuhan tanah di pinggir
DIKETAHUI OLEH KEPALA sungai atau laut menciptakan
DESA DAN CAMAT lidah tanah dan menurut
a. Subyek Hak Milik kebiasaannya menjadi milik
Sesuai dengan pasal 21 yang punya tanah yang
Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 berbatasan. Terjadinya hak
, disebutkan bahwa yang dapat milik dengan pembukaan
mempunyai hak milik adalah tanah memerlukan proses,
warga Negara Indonesia dan waktu lama serta penegasan
Badan-badan hukum yang di dan pengakuan dari
tunjuk oleh Pemerintah , pemerintah. Dengan
sebagaimana diatur dalam pembukaan tanah baru tercipta
Peraturan pemerintah No. 38 hak utama untuk menanami
Tahun 1963 tentang Penunjukkan tanah itu dan setelah tanah
Badan-Badan Hukum yang dapat ditanami baru tercipta hak
mempunyai Hak Milik Atas Tanah. pakai selanjutnya hak pakai
Jadi hak milik hanya dapat di lama kelamaan bisa
punyai oleh Warga Negara bertumbuh menjadi hak milik.
Indonesia (WNI) dan Badan
87
b. Menurut Ketentuan Undang- Kepala BPN No. 9 tahun
undang. 1999, Pemberian Hak atas
UUPA menganut unifikasi tanah adalah Penetapan
dalam bidang hukum Agraria, Pemerintah yang memberikan
hanya ada satu sistem hukum hak atas tanah Negara,
agraria yang berlaku diseluruh termasuk perpanjangan jangka
wilayah Republik Indonesia. waktu hak, pembaharuan hak,
UUPA tetap mengakui hak- perubahan hak, termasuk
hak ats tanah lama sebelum pemberian hak di atas Hak
berlakunya UUPA, namun Pengelolaan sedangkan tanah
hak-hak atas tanah Negara adalah tanah yang
dimaksudharus diubah atau dikuasai langsung oleh Negara
dikonversi menjadi hak-hak sebagaimana dimaksud dalam
atas tanah dalam UUPA. UUPA.
c. Penetapan Pemerintah.
Menurut Pasal 22 ayat (2) Hak Rangkaian Proses pemberian hak
milik terjadi karena penetapan atas tanah tidak hanya semata-mata
Pemerintah menurut cara dan melihat prosedurnya saja tetapi harus
syarat-syarat yang ditetapkan dikaji dari segi hukumnya. Penelitian
dengan Peraturan Pemerintah. data subyek pemohon. Obyek yang
Sebagai pelaksanaan dimohon serta surat bukti perolehan
ketentuan dimaksud oleh tanah sangat menentukan
Pemerintah telah dikeluarkan dalampenetapan pemberian hak.
Peraturan Menteri Dalam Sedang Menurut Boedi Harsono,
Negeri No. 6 Tahun 1972 proses terciptanya hak atas tanah
tentang Pelimpahan (termasuk hak milik), disebabkan
Wewenang Pemberian Hak oleh147 :
Atas Tanah yang sekarang 1. Terjadi karena hukum, yakni
diganti dengan Peraturan perubahan atau konversi hak-hak
Menteri Negara Agraria/ lama berdasarkan ketentuan-
Kepala BPN No.3 tahun 1999 ketentuan konversi.
dan Peraturan Menteri Dalam 2. Karena Pemberian Negara, seperti
Negeri No.5 Tahun1973 yang disebut dalam pasal 22
tentang Ketentuan-ketentuan Undang-Undang No. 5 tahun 1960.
mengenai Tata Cara Pemberian Hak dilakukan dengan
Pemberian Hak Atas Tanah penerbitan suatu surat keputusan
yang diganti dengan Peraturan pemberian hak oleh pejabat yang
Menteri Negara Agraria/ berwenang , diikuti dengan
Kepala BPN Nomor 9 tahun
1999. Sesuai dengan
147
ketentuan Pasal 1 PMNA/ Boedi Harsono, Op.Cit, hlm. 326

88
pendaftarannya pada Kantor Tanah yang diketahui kepala desa
Pertanahan Kabupaten/Kota. yang dikuatkan Camat yang
3. Terjadinya Hak Milik menurut menunjukan kepemilikan atau
Hukum adat, sesuai dengan pasal penguasaan atas tanah dan hak-hak
22 ayat 1. di atas tanah, yang ditetapkan oleh
Sertifikat Hak Atas Tanah sebagai Kepala Desa di mana tanah itu
bukti hak diatur dalam Pasal 19 berada yang dikuatkan oleh camat
ayat (2) menyatakan bahwa setempat149.
sertifikat adalah surat tanda bukti Berdasarkan ketentuan Pasal 76
hak atas tanah yang berlaku ayat (3) Peraturan Menteri Negara
sebagai alat pembuktian yang kuat. Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Sertifikat sebagai surat bukti tanda Nasional Nomor 3 Tahun 1997
hak, diterbitkan untuk kepentingan tentang Ketentuan Pelaksanaan
pemegang hak yang Peraturan Pemerintah Nomor 24
bersangkutan,sesuai dengan data Tahun 1997 tentang Pendaftaran
fisik yang ada dalam surat ukur Tanah (Permenag/Ka.BPN No.
dan data yuridis yang telah di 3/1997) mengatur lebih lanjut
daftar dalam buku tanah148. mengenai bukti-bukti mengenai
Fungsi Sertifikat Hak Atas kepemilikan tanah yang tidak
Tanah sebagai alat bukti yang kuat. tersedia tersebut, sesuai yang
Dalam Pasal 32 Ayat (1) PPNo. 24 tercantum pada Pasal 24 ayat (2)
Tahun 1997 disebut kan bahwa PP No. 24/1997. Surat Pengakuan
‘Sertifikat merupakan surat tanda Hak Atas Tanah dari Kepala Desa /
bukti hak yang berlaku sebagai alat Lurah / Camat yang biasanya
pembuktian yang kuat mengenai disebut SPH dan sekurang-
data fisik dan data yuridis yang kurangnya 2 (dua) orang saksi dan
termuat di dalamnya, sepanjang kesaksiannya.
data fisik dan data yuridis tersebut
sesuai dengan data yang ada dalam
surat ukur dan buku tanah. Artinya Keberadaan desa telah dikenal
bahwa semua keterangan yang lama dalam tatanan pemerintahan
tercantum di dalam sertifikat di Indonesia bahkan jauh sebelum
mempunyai kekuatan hukum dan Indonesia merdeka. Masyarakat di
harus di terima sebagai keterangan Indonesia secara tradisional dan
yang benar sepanjang tidak ada turun temurun hidup dalam suatu
bukti lain yang dapat kelompok masyarakat yang disebut
membuktikan sebaliknya. dengan desa.
Surat Pengakuan Hak adalah 149
, diakses dari
Surat Pernyataan Penguasaan http://www.kemitraan.or.id/uploads_file/ Surat
Keterangan Tanah,online tanggal 01
148
Boedi Harsono, Ibid, hlm. 500 September 2015 Jam 2:04 Wib
89
Desa adalah kesatuan Di dalam Peraturan Pemerintah
masyarakat hukum yang memiliki Nomor 24 Tahun 1997 tentang
kewenangan untuk mengatur dan Pendaftaran Tanah, kedudukan
mengurus kepentingan masyarakat Kepala Desa mempunyai tugas-
setempat berdasarkan asal-usul dan tugas strategis dalam membantu
adat-istiadat setempat yang diakui pelaksanaan penyelenggaran
dalam sistem Pemerintahan pendaftaran tanah, sebagaimana
Nasional dan berada di daerah diatur di dalam Pasal 7, Pasal 8,
Kabupaten150. Pemerintahan Desa Pasal 24, Pasal 26 ayat (2) dan
sendiri, menurut Momon Soetisna Pasal 39. Untuk lebih jelas berikut
Sendjaja dan Sjachran Basan, yaitu ini diuraikan bunyi pasal-pasal
: “Pemerintahan Desa adalah tersebut, sebagai berikut :
kegiatan dalam rangka Pasal 7, menyebutkan bahwa :
menyelenggarakan pemerintahan (1) PPAT sebagaimana
yang dilaksanakan oleh dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2)
151
Pemerintah Desa ”. diangkat dan diberhentikan oleh
Dalam Peraturan Pemerintah Menteri.
Republik Indonesia Nomor 72 (2) Untuk desa-desa dalam
Tahun 2005 tentang Desa wilayah yang terpencil Menteri
disebutkan bahwa: Pasal 1 angka dapat menunjuk PPAT Sementara.
5, berbunyi bahwa : Desa atau (3) Peraturan jabatan PPAT
yang disebut dengan nama lain, sebagaimana dimaksud pada ayat
selanjutnya disebut desa, adalah (1) diatur dengan Peraturan
kesatuan masyarakat hukum yang Pemerintah tersendiri.
memiliki batas-batas wilayah yang Pada ketentuan Pasal 7 di atas,
berwenang untuk mengatur dan dapat diketahui kedudukan kepada
mengurus kepentingan masyarakat desa terdapat pada ayat (2), pada
setempat, berdasarkan asal-usul penjelasan pasal disebutkan bahwa
dan adat istiadat setempat yang Untuk desa-desa dalam wilayah
diakui dan dihormati dalam sistem yang terpencil Kepala Badan
Pemerintahan Negara Kesatuan Pertanahan Nasional dapat
Republik Indonesia. menunjuk Kepala Desa sebagai
PPAT Sementara.
Pasal 8, menyebutkan bahwa :
(1) Dalam
150 melaksanakan Pendaftaran
Sri Sudaryatmi, Sukirno, TH., Sri
Kartini, 2000, Beberapa Aspek Hukum Adat, Tanah Sistematik, Kepala
Semarang : BadanPenerbit Undip,. hlm. 22. Kantor Pertanahan dibantu oleh
151
Momon Soetisna Sendjaja, Sjachran Panitia Ajudikasi yang dibentuk
Basan, 1983, Pokok-Pokok Pemerintahan di
Daerah dan Pemerintahan Desa, Bandung, oleh Menteri atau Pejabat yang
Alumni. hlm. 90. ditunjuk.
90
(2) Susunan Panitia Ajudkasi 6) Tugas dan wewenang
sebagaimana dimaksud pada Ketua dan anggota Panitia
ayat (1) terdiri dari: Ajudikasi diatur oleh Menteri.
a. Seorang Ketua Panitia, Pada ketentuan Pasal 8 di atas,
merangkap anggota yang dapat diketahui kedudukan kepada
dijabat oleh seorang pegawai desa terdapat pada ayat (2), pada
Badan Pertanahan Nasional; penjelasan pasal disebutkan bahwa
kepala desa dapat ditunjuk Sebagai
anggota Panitia Ajudikasi yaitu
b. Beberapa orang anggota pembantu pelaksana pendaftaran
yang terdiri dari: tanah.
1) Seorang pegawai Badan Pasal 24, menyebutkan bahwa :
Pertanahan Nasional yang (1) Untuk keperluan pendaftaran
mempunyai kemampuan hak, hak atas tanah yang berasal
pengetahuan di bidang dari konversi hak-hak lama
pendaftaran tanah; dibuktikan dengan alat-alat bukti
2) Seorang pegawai Badan mengenai adanya hak tersebut
Pertanahan Nasional yang berupa bukti-bukti tertulis,
mempunyai kemampuan keterangan saksi dan atau
pengetahuan di bidang hak-hak pernyataan yang bersangkutan
atas tanah; yang kadar kebenarannya oleh
3) Kepala Desa/Kelurahan Panitia Ajudikasi dalam
yang bersangkutan dan atau pendaftaran tanah secara
seorang Pamong Desa/Kelurahan sistematik atau oleh Kepala Kantor
yang ditunjuknya. Pertanahan dalam pendaftaran
tanah secara sporadik, dianggap
3) Keanggotaan Panitia cukup untuk mendaftar hak,
Ajudikasi dapat ditambah dengan pemegang hak dan hak-hak pihak
seorang anggota yang sangat lain yang membebaninya.
diperlukan dalam penilaian (2) Dalam hal tidak atau tidak lagi
kepastian data yuridis mengenai tersedia secara lengkap alat-alat
bidang-bidang tanah di wilayah pembuktian sebagaimana dimaksud
desa/kelurahan yang bersangkutan. pada ayat (1), pembukuan hak dapat
4) Dalam melaksanakan dilakukan berdasarkan kenyataan
tugasnya Panitia Ajudikasi dibantu penguasaan fisik bidang tanah yang
oleh satuan tugas pengukuran dan bersangkutan selama 20 (dua puluh)
pemetaan, satuan tugas pengumpul tahun atau lebih secara berturut-
data yuridis dan satuan tugas turut oleh pemohon pendaftaran dan
administrasi yang tugas, susunan pendahulu pendahulunya, dengan
dan kegiatannya diatur oleh syarat :
Menteri.
91
a. Penguasaan tersebut dilakukan sebenarnya pernah digarap ataupun
dengan itikad baik dan secara pembukaan atas tanah adat yang
terbuka oleh yang bersangkutan telah lama tetapi tidak mempunyai
sebagai yang berhak atas tanah, surat keterangan apapun. Sedangkan
serta diperkuat oleh kesaksian orang UUPA mewajibkan setiap tanah
yang dapat dipercaya. yang dikuasai oleh seseorang harus
b. Penguasaan tersebut baik sebelum mempunyai sertifikat maka untuk
maupun selama pengumuman mengatasinya sebagai alas hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal kepemilikannya untuk dimintakan
26 tidak dipermasalahkan oleh hak-hak berdasar UUPA
masyarakat hukum adat atau dikeluarkanlah Surat Pengakuan
desa/kelurahan yang bersangkutan Hak Atas Tanah yang didalamnya
ataupun pihak lainnya. terdapat mengenai Surat Riwayat
Kepemilikan Tanah dan lain-lain.
Pada ketentuan pasal 24 di atas, Kedudukan dari Surat
dapat diketahui bahwa tanah yang Pengakuan Hak Atas Tanah ini
dapat diterbitkan Surat Pengakuan dimuka hukum hanya sebagai surat
Hak adalah tanah yang alat keterangan hak untuk memohonkan
pembuktiannya sudah tidak tersedia hak atas tanah seperti yang diatur
secara lengkap (ayat 1) dan tanah dalam UUPA. Dan jika ada
yang penguasaan fisiknya sudah seseorang yang mempunyai tanah
lebih dari dua puluh tahun atau lebih garapan berdasarkan Surat
secara berturut-turut oleh pemohon Pengakuan Hak Atas Tanah dapat
pendaftaran hak milik atau pemilik saja mengajukan hak kepada Kantor
tanah tersebut. Badan Pertanahan karena Surat
Dari uraian di atas dapat Pengakuan Hak Atas Tanah tersebut
disimpulkan kedudukan Surat dapat dipergunakan sebagai alas hak
Pengakuan Hak Atas Tanah ini pengajuan permohonan. Hal ini
merupakan surat keterangan yang disebabkan lampiran dari Surat
menyatakan seseorang mengarap Pengakuan Hak Atas Tanah tersebut
Tanah Negara yang dikeluarkan oleh membuktikan tanah tersebut telah
pejabat daerah dan bukan digarap oleh pemilik dan dibenarkan
merupakan kepemilikan hak oleh para sempadan adalah benar
menurut UUPA. Karena Surat tanah yang digarap oleh pengarap,
Pengakuan Hak Atas Tanah ini terlebih lagi pernyataan pemilik dan
adalah untuk membuktikan sempadan yang kemudian diketahui
seseorang untuk membuka tanah oleh RT, RW, kepala desa, kelurahan
karena dilarangnya ijin tebas tebang dan diketahui oleh kepala
oleh kepala desa sedangkan kecamatan setempat.
masyarakat tetap memerlukannya Surat Pengakuan Hak Atas
untuk membuka hutan baru yang Tanah ini bukanlah merupakan Hak
92
Milik, Hak Pakai, ataupun hak-hak 1997 yang menetapkan bahwa
yang dimaksud dalam UUPA, Surat dalam hal tidak ada lagi tersedia
Pengakuan Hak Atas Tanah ini secara lengkap alat-alat pembuktian
adalah merupakan bentuk yang berdasarkan pembuktian,
Administratif terhadap penguasaan pembukuan hak dapat dilakukan
fisik tanah oleh karena itu sebagai kenyataan penguasaan fisik bidang
bentuk administrasi maka ini ada tanah yang bersangkutan selama 20
kaitan dengan suatu alat pembuktian tahun atau lebih secara berturut-
yang mana untuk membuktikan turut oleh pemohon pendaftaran dari
adanya penguasaan atas suatu tanah. pendahulu-pendahulunya dengan
Pembuktiannya disini merupakan syarat :
Penguasaan fisik tanah yang diakui a. Penguasaan tersebut dilakukan
sepadan, berdasarkan aturan menteri dengan itikad baik dan secara
agraria yang dikeluarkan Kepala terbuka oleh yang bersangkutan
Desa sebagai tim ajudikasi. sebagai yang berhak atas tanah serta
Kekuatan pembuktian dari Surat diperkuat oleh Kesaksian oleh orang
Pengakuan Hak Atas Tanah ini yang dapat dipercaya.
dilihat dari macam-macam alat bukti b. Penguasaan tersebut baik sebelum
telah memenuhi syarat sebagai alat maupun selama pengumuman tidak
bukti yang mana adanya keterangan dipermasalahkan oleh masyarakat
secara tertulis, adanya saksi, adanya hukum adat atau desa / kelurahan
pengakuan dari para pihak dan yang bersangkutan atau pihak
unsur-unsur lain yang terdapat lainnya. 152
dalam macam-macam alat bukti
sama halnya kekuatan pembuktian E. Penutup
dibawah tangan. Keberadaan Surat 1. Kesimpulan
Pengakuan Hak Atas Tanah sebagai Surat Pengakuan Hak (SPH) yang
surat di bawah tangan sebagai dasar dikeluarkan Kepala Desa diketahui
dalam penerbitan Sertifikat diakui Camat bukanlah merupakan Hak
dalam Peraturan Pemerintah Nomor. Milik, Hak Pakai, ataupun hak-hak
24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran yang dimaksud dalam UUPA, Surat
Tanah, walaupun surat di bawah Pengakuan Hak Atas Tanah ini
tangan tidak memiliki kekuatan adalah merupakan bentuk
hukum akan tetapi untuk dapat Administratif terhadap penguasaan
dijadikan sebagai alas hak dalam fisik tanah. Oleh karena itu sebagai
penerbitan Sertifikat dan dapat bentuk administrasi maka ini ada
memiliki kekuatan pembuktian kaitannya dengan pembuktian
maka surat di bawah tangan tersebut dimana untuk membuktikan adanya
harus memenuhi prosedur dan 152
Penjelasan Pasal 24 Peraturan
persyaratan yang ditentukan dalam Pemerintah Nomor. 24 Tahun 1997 tentang
Pasal 24 Ayat (2) PP No. 24 Tahun Pendaftaran tanah

93
penguasaan fisik atas suatu tanah kepastian hak terhadap obyek tanah
yang diakui sepadan, berdasarkan yang dimiliki masyarakat desa
SK Menteri Agraria yang berdasarkan Surat Pengakuan Hak
dikeluarkan Kepala Desa sebagai (SPH) yang diketahui Kepala Desa
tim ajudikasi. Kekuatan pembuktian atau Camat.
dari Surat Pengakuan Hak Atas
Tanah ini dilihat dari macam-macam DAFTAR PUSTAKA
alat bukti telah memenuhi syarat
sebagai alat bukti sesuai dengan a. Buku
yang tercantum dalam KUHPerdata Ibrahim, Johnny. 2005. Teori dan
tentang Akta (vide pasal 1874 Metode Penelitian
KUHPerdata), dimana adanya Normatif. Malang :
Bayumedia Publishing
keterangan secara tertulis, adanya
Momon Soetisna Sendjaja,
saksi, adanya pengakuan dari para Basan,Sjachran 1983,
pihak dan unsur yang terdapat dalam Pokok-Pokok
alat bukti sama halnya dengan Pemerintahan di Daerah
kekuatan pembuktian dibawah dan Pemerintahan Desa,
tangan. Keberadaan Surat Bandung
Pengakuan Hak Atas Tanah sebagai Noor, Aslan 2006, Konsep Hak
Milik Atas Tanah Bagi
Akta di bawah tangan adalah sebagai
Bangsa Indonesia,
dasar dalam penerbitan Sertifikat Bandung, Mandar Maju
diakui dalam Peraturan Pemerintah Parlindungan, A.P. 1982,
Nomor. 24 Tahun 1997 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pendaftaran Tanah. UUPA dan Tata Cara
PPAT, Bandung :Alumni
2. Saran Perangin,Efendi 1994, Hukum
Perlunya pembinaan dan sosialisasi Agraria Di Indonesia
secara terpadu dan terus menerus (Suatu Telaah Dari Sudut
tentang pendaftaran tanah khususnya Pandang Praktisi
tata cara penerbitan Sertifikat Hak Hukum), Jakarta, PT. Raja
Grafindo Persada
atas Tanah berdasarkan UUPA
Soekamto, Soerjono. 2008.
kepada masyarakat khususnya Pengantar Penelitian
Kepala Desa beserta perangkatnya Hukum. Jakarta : UI-
oleh Kantor Badan Pertanahan dan Press. hlm. 52.
Kantor Kecamatan untuk terciptanya Sudaryatmi Sri, Sukirno, TH., Sri
kepastian hukum tentang hak Kartini, 2000, Beberapa
kepemilikan atas tanah ditengah- Aspek Hukum Adat,
Semarang : Badan
tengah masyarakat dan perlu adanya Penerbit Undip
aturan dalam tata administrasi Sukanti Arie dan
pertanahan yang bisa menjadi Gunawan,Markus 2009,
payung hukum dalam memberikan
94
Kewenangan Pemerintah Pertanahan Nasional
Di Bidang Pertanahan, Nomor 3 Tahun 1997
Jakarta : Rajawali Pers, tentang Ketentuan
Pelaksanaan PP Nomor
hlm. 11
Peraturan Menteri Negara
Yamin M.Lubis dan Abd. Rahim Agraria/Kepala Badan
Lubis, 2010, Hukum Pertanahan Nasional
Pendaftaran Tanah (Edisi Nomor 3 Tahun 1999
Revisi). Bandung, Mandar tentang Pelimpahan
Maju Kewenangan Pemberian
Yamin M.Lubis dan Abd. Rahim dan Pembatalan
Keputusan Pemberian
Lubis, 2010, Hukum
Hak atas Tanah Negara
Pendaftaran Tanah (Edisi 24 Tahun 1997
Revisi). Bandung, Mandar Peraturan Pemerintah No. 8
Maju Tahun 1953 Tentang
1990, Konversi Hak-Hak Atas Penguasaan Tanah-Tanah
Tanah, Bandung : Negara
Mandar Maju c. Internet
1999, Pendaftaran Tanah di
Indonesia, Cet. 1, http://www.kemitraan.or.id/uploa
Bandung: CV. Mandar ds_file/ Surat Keterangan
Maju Tanah , online tanggal 01
b. Peraturan Perundang- September 2015 Jam 2:04
Undangan Wib
Undang-Undang Dasar 1945
Kitab Undang-Undang Hukum d. Makalah Karya Ilmiah dan
Perdata Jurnal
Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960 tentang Peraturan Basuki,Sunaryo 2002/2003,
Dasar Pokok-Pokok Hukum Tanah Nasional
Agraria Landasan Hukum
Peraturan Pemerintah Nomor 24
Penguasaan dan
Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah Penggunaan Tanah ,
Peraturan Presiden Nomor 10 Depok: Hukum
Tahun 2006 tentang Universitas Indonesia
Badan Pertanahan Sinaga,Binatar 24 September
Nasional 1992, Keberadaan Girik
Peraturan Menteri Agraria
Sebagai Surat Tanah,
Nomor 2 Tahun 1960
tentang Pelaksanaan dimuat dalam Jakarta :
Beberapa Ketentuan Harian Umum KOMPAS
UUPA
Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan

95
Perbuatan Hukum Direksi Mewakili Perseroan Terbatas
Dalam Pengikatan Kredit di Bank Dengan Penjaminan Aset Perusahaan

Oleh :153

MUAWANAH154, FIRMAN MUNTAQO, ARFIANNA NOVERA, KMS.


ABDULLAH HAMID

Abstrak : The Limited Company is called by “Ltd” or in bahasa “PT” as following of


right and obligation. The law correlation between PT and Bank result the law
correlation is “association”, Moreover the association rule by the book III the
Indonesian Civil Code. In the matter to get the credit in Bank, Ltd or “PT” as Debitor
in law management is associate credit in Bank, where as a Creditor need approving of
commissioner council and The General Meeting of Shareholders to guarantee most of
the company asset, as rules in passage 20 the Statute Number 40 in 2007 about Limited
Company. The problem in this thesis is How the Commissioner authority stand for
Limited Company to associate credit without approving Commissioner council and how
is giving approving to director to guarantee Ltd asset which the result more than 50 %.
The research used in this thesis is normative research, with analyze a management of
law with observing the law subject, such as the research of laws basic, positive law and
the law regulation. The result of this thesis is Director has authority stand for Limited
Company in associate credit in Bank should the approved by Commissioner council,
because the director authority limited by Statute Number 40 in 2007 about Limited
Company and Basic of Budget Limited Company. Giving of approving to Director in
credit association in the Bank created by 2 (two) ways are decision on The General
Meeting of Shareholders and trough by Circulair (Outside Meeting decision), That’s
ruled by Passage 9 the Statute number 40 in 2007 about Limited Company.

Keywords: Limited Company, Law Management, Law Correlation, Director,


Commissioner Council and The General Meeting of Shareholders

A. Pendahuluan (Bank), Debitur itu tidak hanya orang


perorangan pribadi saja, tetapi bisa
1. Latar Belakang juga Debitur tersebut adalah Badan
Hukum, misalnya Perseroan Terbatas
Pelaksanaan pengikatan (selanjutnya disebut PT). Menurut
kredit antara Debitur dan Kreditur Pasal 1 angka 1 Undang-undang
153
Artikel ini adalah ringkasan Tesis yang berjudul “Perbuatan Hukum Direksi Mewakili
Perseroan Terbatas Dalam Pengikatan Kredit Di Bank Dengan Penjaminan Aset Perusahaan” ,
yang ditulis oleh MUAWANAH dengan pembimbing Dr. Firman Muntaqo, SH, M.Hum, Arfianna
Novera, SH, M.Hum, dan H. Kms Abullah Hamid, SH, SpN, MH pada Program Studi Magister
Kenotariatan Universitas Sriwijaya.
154
Penulis adalah Mahasiswi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya, Palembang.

96
Nomor 40 Tahun 2007 Tentang untuk dan atas nama PT selaku
Perseroan Terbatas Lembaran Negara Debitur melakukan pengikatan
Republik Indonesia Tahun 2007 kredit atas fasilitas Kredit yang
Nomor 106 (selanjutnya disebut diterima oleh PT dari Bank
UUPT), yang menyatakan bahwa : selaku Kredtur, sehingga Direksi
“Perseroan Terbatas, yang yang berwenang
selanjutnya disebut Perseroan menandatangani akta-akta atau
adalah badan hukum yang surat-surat yang berkaitan
merupakan persekutuan modal, dengan pengikatan kredit
didirikan berdasarkan perjanjian, tersebut. Sehingga, disinilah
melakukan kegiatan usaha dengan letak kewenangan Direksi dalam
modal dasar yang seluruhnya melakukan pengikatan kredit di
terbagi dalam saham dan Bank.
memenuhi persyaratan yang Dalam mengurus harta
ditetapkan dalam Undang-undang kekayaan perseroan, Direksi
ini serta peraturan wajib meminta persetujuan
pelaksanaannya.” RUPS untuk mengalihkan
kekayaan tersebut atau untuk
PT merupakan subyek menjadikannya jaminan hutang.
hukum yang berbadan hukum, Kekayaan PT yang wajib
maka PT juga dapat melakukan mendapat persetujuan RUPS
perbuatan hukum, dalam hal ini adalah kekayaan perseroan yang
PT bertindak selaku Debitur jumlahnya melebihi dari 50 %
yang menerima kredit dari Bank jumlah kekayaan bersih PT, baik
(selaku Kreditur). PT yang akan dalam satu transaksi atau lebih,
melakukan perbuatan hukum baik yang berkaitan satu sama
menunjuk Direksi untuk lain maupun tidak. Transaksi itu
bertindak mewakili untuk dan adalah bentuk pengalihan
atas perseroan sesuai dengan kekayaan yang terjadi dalam
kewenangan Direksi itu sendiri. jangka waktu satu tahun buku
Kewenangan Direksi atau bisa juga jangka waktu
dalam melakukan pengikatan yang lebih lama sepanjang diatur
kredit di Bank harus sesuai dalam anggaran dasar PT. 156
dengan kewenangan dan Dari uraian dalam latar
tanggung jawabnya sebagai belakang tersebut, maka penulis
anggota Direksi dalam PT, baik tertarik melakukan penelitian
itu Direksi bertindak sendiri lebih lanjut yang akan
maupun dengan memberi kuasa dituangkan dalam bentuk Tesis
lagi kepada salah satu orang lain yang berjudul : “Perbuatan
untuk dan atas nama PT untuk Hukum Direksi Mewakili
melakukan perbuatan hukum Perseroan Terbatas Dalam
tersebut, hal ini sebagaimana Pengikatan Kredit Di Bank
telah diatur dalam Pasal 103
UUPT. 155 Direksi bertindak
nama Perseroan melakukan perbuatan
155
Pasal 103 Undang-undang hukum tertentu sebagaimana yang
Nomor 40 Tahun 2007 : “Direksi dapat diuraikan dalam Surat Kuasa.
156
memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) http://www.legalakses.com/Direksi/
orang karyawan Perseroan atau lebih diakses pada tanggal 9 Oktober 2014, 12.48
atau kepada orang lain untuk dan atas WIB.

97
Dengan Penjaminan Aset tidak hanya semata-mata
Perusahaan”. pengikatan suatu janji-janji antara
Debitur dan Bank saja, melainkan
2. Rumusan Masalah harus ada obyek jaminan yang
Bertitik tolak dari latar menjadi obyek jaminan kredit
belakang penelitian di atas, guna menjamin pelunasan hutang
maka permasalahan yang timbul Debitur kepada Bank.
adalah sebagai berikut : 2. Perseroan Terbatas Sebagai
1) Bagaimana kewenangan Debitur
Direksi mewakili perseroan Badan hukum PT dalam
terbatas dalam melakukan melakukan aktivitasnya diwakili
pengikatan kredit di Bank ? oleh pengurusnya (Direksi
dan/atau Komisaris). Hal inilah
2) Bagaimana akibat hukum
yang menjadi karakteristik PT
terhadap perbuatan Direksi sebagai subyek hukum. 157
melaksanakan pengikatan Kedudukan PT sebagai Debitur
kredit di Bank tanpa dalam hubungan perbankan,
persetujuan Dewan Komisaris bahwa untuk menjadi Debitur di
? Bank tidaklah hanya orang-
3) Bagaimana pemberian perorangan saja, melainkan badan
hukum yang disebut juga subyek
persetujuan kepada Direksi
hukum dapat menjadi Debitur di
dalam penjaminan aset Bank.
perseroan terbatas yang 3. Bank Sebagai Kreditur
jumlahnya melebihi 50 % Berdasarkan ketentuan Pasal
(lima puluh persen) ? 1132KUHPerdata dapat
disimpulkan bahwa kedudukan
B. Kerangka Konseptual pihak pemberi pinjaman dapat
Penelitian ini menggunakan dibedakan atas 2 (dua) golongan,
beberapa teori untuk menganalisa yaitu : 158
secara komprehensif, guna a. Yang mempunyai kedudukan
menemukan suatu kesimpulan yang berimbang sesuai dengan
menjawab permasalahan, yaitu : piutang masing-masing ; dan
1. Pengikatan Kredit Pada Bank b. Yang mempunyai kedudukan
Pengikatan kredit merupakan didahulukan dari pihak
bagian dari persyaratan pemberi pinjaman yang lain
administratif yang harus telah
selesai sebelum pencairan kredit 157
Chidir Ali, 1982, Yurisprudensi
didebetkan pada rekening Debitur.
Hukum Dagang, Bandung : Alumni,
Hal demikan merupakan salah hlm 310. Lihat juga : Sudargo
satu persyaratan administratif Gautama, 1995, Komentar Atas
yang ditetapkan dalam peraturan UUPT Tahun 1995 Nomor 1
intern Bank selain untuk Perbandingan Dengan Peraturan
mencegah hal-hal yang tidak Lama, Bandung : PT. Citra Aditya
Bakti, hlm 9.
diinginkan dikemudian hari juga 158
M. Bahsan, 2007, Hukum Jaminan
agar tertib administratif dalam dan Jaminan Kredit Perbankan
pengikata kredit. Pengikata kredit Indonesia, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, hlm 10.

98
berdasarkan suatu peraturan Direksi tertentu saja. 160 Perbuatan
perundang-undangan. hukum Direksi mewakili PT
Dalam praktek perbankan, pihak melahirkan suatu hubungan
pemberi jaminan disebut Kreditur hukum yaitu perikatan, dimana
dan pihak peminjam disebut perikatan itu bersumber dari
Debitur. Pihak pemberi pinjaman Perjanjian dan Undang-undang.
yang mempunyai kedudukan Perjanjian itulah yang merupakan
didahulukan lazim disebut sebagai perbuatan hukum dalam hal ini
Kreditor Preferen dan pihak yaitu mengenai Direksi yang
pemberi pinjaman yang mewakili PT dalam melakukan
mempunyai hak berimbang pengikata kredit.
disebut Kredit Konkuren. 5. Perjanjian Kredit Sebagai
Mengenai alasan yang sah untuk Dasar Pengikatan Kredit
didahulukan sebagaimana yang Bank menyadari pentingnya
tercantum dalam bagian akhir pembuatan perjanjian perjanjian
Pasal 1132 KUHPerdata adalah pengikatan jaminan kredit bagi
berdasarkan ketentuan dari kelengkapan pengamanan
peraturan perundang-undangan, pemberian kreditnya. Beberapa
antara lain berdasarkan ketentuan hal yang berlu diketahui
yang ditetapkan oleh Pasal 1333 berkaitan dengan perjanjian
KUHPerdata, yaitu dalam hal pokok dan perjanjian accesoir
jaminan utang yang diikat melalui sebagai berikut : 161
gadai dan hipotek. Kedudukan a. Tidak ada suatu perjanjian
sebagai Kreditur yang mempunyai accesoir bila sebelumnya
hak yang didahulukan juga tidak ada perjanjian pokok.
ditetapkan melalui Hak
Perjanjian pengikatan
Tanggungan dan Fidusia,
sebagaimana dalam Undang- jaminan utang dibuat karena
undang Nomor 4 Tahun 1996 adanya perjanjian pinjaman
Tentang Hak Tanggungan Atas uang. Perjanjian pengikatan
Tanah Beserta Benda-benda Yang obyek jaminan kredit dibuat
Berkaitan Dengan Tanah, dan berdasarkan perjanjian
Undang-undang Nomor 42 Tahun kredit yang telah
1999 Tentang Jaminan Fidusia. 159
ditandatagani oleh Bank dan
4. Perbuatan Hukum Direksi
Debitur ; dan
Bertindak Mewakili Perseroan
b. Bila perjanjian pokok
Terbatas
berakhir, maka perjanjia
Pada dasarnya, UUPT menganut
sistem perwakilan kolegial, yang accesoir harus diakhiri.
berarti tiap-tiap anggota Direksi Perjanjian pengikatan
berwenang mewakili perseroan. jaminan kredit harus
Namun demikian, tidak tertutup
160
kemungkinan dalam Anggaran Mulhadi, 2010, Hukum
Dasar ditetapkan bahwa hak Perusahaan : Bentuk-bentuk Badan
Usaha di Indonesia, Bogor : Ghalia
mewakili perseroan tersebut Indonesia, hlm 104.
dibatasi hanya oleh anggota 161
Abdulkadir Muhammad, 2000,
Hukum Perdata Indonesia, Bandung :
159
Ibid, hlm 11. PT. Citra Aditya Bakti, hlm 201.

99
diakhiri degan berakhirnya hukum, hukum positif, aturan
perjanjian kredit karena hukum dan kaidah-kaidah hukum.
163
pinjaman Debitur kepada Dalam tesis ini meliputi
ketentuan dalam KUHPerdata,
Bank telah dilunasinya dan
Undang-undang Nomor 10 Tahun
Perjanjian Kredit sudah 1998 Tentang Perubahan Atas
berakhir. Undang-undang Nomor 7 Tahun
6. Syarat Penjaminan Asset 1992 Tentang Perubahan, dan
Perseroan Undang-undang Nomor 40 Tahun
Harta kekayaan perseroan yang 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
dijadikan sebagai jaminan untuk
melunasi hutang Debitur yang D. Temuan dan Analisa
ditanggung oleh perseroan 1. Kewenangan Direksi
tersebut. Merujuk pada Mewakili Perseroan Terbatas
ketentuan Pasal 102 ayat (1) Dalam Pengikatan Jaminan
UUPT bahwa “Direksi wajib Kredit Di Bank
meminta persetujuan RUPS
Pasal 92 ayat (1) dan ayat
untuk mengalihkan kekayaan
(2) UUPT memahami Direksi
perseroan, atau menjadikan
berwenang dalam menjalankan
jaminan utang kekayaan
pengurusan perseroan dan
perseroan. Jadi, berdasarkan
kepentingan perseroan sesuai
ketentuan Pasal 102 ayat (1)
dengan maksud dan tujuan PT.
UUPT, bahwa apabila suatu
Selain pada UUT, wewenang
perseroan hendak memberikan
Direksi juga terdapat di dalam
Corporate Guarantee atau aset
anggaran dasar perseroan.
perseroan lainnya dengan
1.1. Pembatasan Kewenangan
menjaminkan lebih dari 50 %
(lima puluh persen) jumlah Direksi Ditinjau Dari
kekayaan bersih perseroan Undang-undang Nomor 40
dalam 1 (satu) transaksi atau Tahun 2007 Tentang
lebih, baik yang berkaitan satu Perseroan Terbatas
sama lain maupun tidak, maka Tugas dan tanggung
Direksi wajib meminta jawab Direksi serta
persetujuan RUPS. 162 wewenangnya ditetapkan oleh
Undang-undang, keberadaan
C. Metode Penelitian Direksi dalam suatu perseroan
Jenis penelitian yang juga diatur berdasarkan
bersifat normatif atau penelitian Undang-undang. Direksi yang
hukum normatif yaitu dengan memiliki kewenagan bertindak
menganalisis suatu keberlakuan untuk dan atas nama PT, ketika
hukum yang dilakukan dengan Direksi itu bertindak sendiri
meneliti bahan-bahan hukum, selain patuh pada UUPT juga
seperti penelitian terhadap asas-asas pada anggaran dasar PT, karena
anggaran dasar merupakan
162
Diana Kusumasari, Apakah identitas dari PT itu sendiri.
Corporate Guarantee Persetujuan
163
RUPS, Sumber : Soerjono Soekanto, 1984,
www.hukumonline.com, diakses pada 10 Metode Penelitian Hukum, Jakarta :
Oktober 2014, 00.30 WIB. Universitas Indonesia, hlm 9-10.

100
Wewenang Direksi berkepentingan tersebut ;
yang lazim terdapat di dalam e. Demikian pula apabila surat
anggaran dasar PT anatara lain, saham yang asli tadi hilang,
sebagai berikut : 164
maka dengan bukti yang
a. Apabila pengeluaran saham-
cukup serta jaminan-
saham telah jatuh tempo dan
jaminan yang dianggap
masih diperlukan
perlu, Direksi mempunyai
perpanjangan waktu, maka
wewenang untuk
Direksi diberi wewenang
memberikan duplikatnya ;
untuk memohonkan
f. Direksi mempunyai
perpanjangan waktu kepada
wewenang untuk menahan
Pemerintah, dalam hal ini
keuntungan-keuntungan atas
Menteri Kehakiman ;
saham dan melarang
b. Apabila dalam waktu 1
mengeluarkan suara atas
(satu) bulan setelah Direksi
saham tersebut, jika ternyata
memberitahukan
dalam suatu pemindahan
pengeluaran saham-saham
hak, tidak terpenuhi
tersebut tidak ada yang
kewajiban-kewajibannya ;
membelinya, maka Direksi
g. Direksi dan tanggung
dengan persetujuan
jawabnya sendiri diberi
komisaris mempunyai
kewenangan untuk
wewenang untuk menjual
mengangkat seorang kuasa
saham-saham itu kepada
atau lebih dengan syarat-
siapa saja ;
syarat dan kekuasaan yang
c. Direksi bersama-sama
ditentukan secara tertulis ;
dengan Dewan Komisaris
h. Direksi mempunyai
berwenang untuk
wewenang mewakili
menandatangani surat-surat
perseroan di muka dan di
saham ;
luar Pengadilan serta berhak
d. Bila ada surat saham yang
untuk melakukan perbuatan
rusak hingga tidak dapat
pengurusan dan pemilikan
dipakai lagi, maka Direksi
atau penguasaan (beheer en
berwenang untuk
beschkking) dengan batasan-
mengeluarkan duplikatnya
batasan tertentu ;
atas permintaan yang
i. Mempunyai wewenang
berkepentingan setelah
memimpin dan mengetuai
aslinya dimusnahkan oleh
RUPS ;
Direksi dihadapan yang
j. Mempunyai wewenang
164
untuk mengadakan Rapat
Munir Fuady,
2005, Perlindungan
Umum Luar Biasa
Pemegang Saham Minoritas, Pemegang Saham setiap
Bandung : CV. Utomo, hlm waktu bila dipandang perlu ;
126-127.

101
k. Mempunyai wewenang bertindak secara hati-hati dan
untuk menandatangani disertai itikad baik, semata-mata
Notulen rapat, jika Notulen untuk kepentingan dan tujuan
perseroan. Pelanggaran terhadap
tidak dibuat dengan proses
kedua prinsip tersebut dapat
verbal Notaris. membawa konsekuensi yang berat
Sehingga dapat bagi Direksi, karena Direksi dapat
disimpulkan bahwa besarnya dimintakan pertanggung
kewenangan Direksi itu tidak jawabannya secara pribadi.
berarti suatu kewenangan yang Suatu perbuatan hukum
tanpa batas, melainkan disini sangat bergantung dengan
kewenangan Direksi itu dipenuhi atau tidaknya
dibatasi oleh kewenangan kewenangan yang dimiliki oleh
bertindak secara intern, baik pihak yang memerlukan perbuatan
yang bersumber pada doktrin hukum tersebut. Kewenangan ini
hukum maupun pada peraturan digolongkan ke dalam
yang berlaku, termasuk kewenangan yang berdasarkan
anggaran dasar PT. pada : 166
1. Kapasitas diri sendiri sebagai
1.2. Tanggung Jawab dan individu pribadi ;
Kewenangan Direksi 2. Kapasitas sebagai pemegang
Mewakili Perseroan Terbatas kuasa yang bertindak untuk
Dalam Pengikatan Kredit di dan atas nama pemberi
Bank kuasa ;
Dalam menjalankan tugas Tanggung jawab
dan wewenangnya, Direksi harus Direksi mewakili PT dalam
bertolak dari landasan bahwa pengikatan kredit di Bank,
tugas dan kedudukan yang dimana Bank menjadi pihak
diperoleh oleh Direksi ketiga dalam hubungan
berdasarkan 2 prinsip dasar yaitu : hukum antara PT dan Direksi,
165
bahwa PT dan Direksi
a. Kepercayaan yang diberikan merupakan hubungan intern
perseroan kepadanya perseroan saja. Pihak ketiga
(fiduciary duty); yang berhubungan usaha
b. Prinsip yang merujuk pada dengan PT tetap sah dan
kemampuan serta kehati- dilindungi, misalnya terdapat
hatian tindakan Direksi (duty suatu ketentuan yang
disebutkan dalam anggaran
of skill and care).
dasar bahwa dalam
Kedua prinsip tersebut di melakukan suatu perbuatan
atas menuntut Direksi untuk hukum, seperti pengikatan
kredit di Bank yaitu
165
Chatamarrasjid menandatangani Perjanjian
Ais, 2000, Menyingkap Tabir
Kredit, maka terlebih dahulu
Perseroan (Piercing The
Corporate Veil) Kapita harus dengan persetujuan
Selekta Hukum Perusahaan tertulis yang dituangkan
Indonesia, Bandung : PT.
166
Citra Aditya Bakti, hlm 71. Ibid, hlm 118.

102
dalam Keputusan RUPS atau batal demi hukum, yang
Surat Persetujuan Komisaris. tentunya menimbulkan
kerugian bagi Bank sebagai
1.3. Aspek Hukum Dalam pemberi kredit.
Pengikatan Jaminan Kredit
Antara PT dan Bank 2. Akibat Hukum Perbuatan
Dalam pemberian Hukum Direksi Melaksanakan
kredit ada berbagai aspek Pengikatan Kredit di Bank
yang menjadi pertimbangan Tanpa Persetujuan Dewan
Bank dalam pemberian kredit Komisaris
kepada PT. Bank dalam hal 2.1. Akibat Hukum Perbuatan
ini sebagai pemberi kredit
Direksi Mewakili Perseroan
kepada Debitur / nasabahnya
akan menganalisis terlebih Terbatas Tanpa Persetujuan
dahulu mengenai berbagai Dewan Komisaris
aspek dari pemohon kredit Sepanjang perbuatan
tersebut. Setelah melakukan hukum pengikatan kredit di
analisis terhadap aspek-aspek Bank dapat dilakukan dengan
tersebut, maka Bank akan tanpa persetujuan Dewan
menyetujui atau menolak Komisaris sebagaimana yang
permohonan kredit. Jika Bank telah diatur dalam UUPT dan
menyetujuinya, maka calon anggaran dasar PT, serta
Debitur akan memperoleh sepanjang pihak lain dalam
offering letter atau surat perbuatan hukum tersebut
persetujuan prinsip bersyarat beritikad baik, maka tidak akan
dari Bank yang bersangkutan. menimbulkan akibat hukum bagi
Perjanjian dan pemufakatan Direksi dalam melakukan
kredit biasanya dituangkan perbuatan hukum tersebut.
dalam Surat Perjanjian Kredit
yang dilakukan antara 2.2. Pengikatan Kredit PT Dalam
pemberi dan penerima kredit. Pengikatan Kredit di Bank
167
Tanpa Persetujuan Dewan
Aspek legalitas Komisaris
perusahaan merupakan salah
a. Pengikatan Kredit PT Belum
satu bagian dari aspek hukum
yang terpenting dalam Status Badan Hukum
pemberian kredit, karena Pasal 14 ayat (1) UUPT
apabila pemahaman terhadap menyebutkan bahwa
aspek ini keliru, maka dapat “perbuatan hukum hanya boleh
mengakibatkan Perjanjian dilakukan oleh semua anggota
Kredit yang telah dibuat Direksi bersama-sama semua
dapat dibatalkan atau bahkan pendiri serta semua anggota
Dewan Komisaris dan mereka
167
Suryaputra N semua bertanggung jawab
Awangga, 2009, Cara Efektif secara renteng atas perbuatan
Menyusun dan Mengajukan hukum tersebut.”
Proposal Kredit, Perikatan yang lahir dari
Yoogyakarta : Zenith perbuatan hukum yang
Publisher, hlm 70.

103
dilakukan oleh semua anggota bahwa PT yang sudah
Direksi dan semua anggota bersatatus badan hukum, maka
Dewan Komisaris tersebut kewenangan untuk mewakili
merupakan perikatan PT dalam menandatangani
tanggung-menanggung atau Perjanjian Kredit dan hal-hal
tanggung renteng antara yang berkaitan dengan
pendiri perseroan, Direksi pengikatan kredit dapat dilihat
perseroan dan Dewan pada ketentuan anggaran dasar
Komisaris perseroan terhadap perseroan tersebut.
pihak ketiga, yang dalam hal 3. Pemberian Persetujuan
ini pihak ketiga tersebut adalah Kepada Direksi Dalam
Bank. Penjaminan Aset Perseroan
Makna tanggung renteng
Terbatas Yang Melebihi 50 %
ini tidaklah berarti pihak ketiga
dapat langsung mengambil (lima puluh persen)
pelunasannya dari para pendiri, 3.1. Bentuk Pemberian
anggota Direksi atau anggota Persetujuan Kepada Direksi
Dewan Komisaris PT dalam Dalam Melakukan
pendirian. Pelunasan kewajiban Pengikatan Kredit di Bank
pihak ketiga harus dipenuhi Ada 2 (dua) bentuk
terlebih dahulu dari harta pemberian persetujuan kepada
kekayaan PT (meskipun PT Direksi dalam melakukan
belum berbadan hukum). Jika perbuatan hukum, baik itu untuk
harta kekayaan PT tidak pengikatan kredit maupun
mencukupi, maka barulah perbuatan hukum lainnya,
dapat dituntut pemenuhannya yaitu :
dari para pendiri, anggota a. Melalui Keputusan
Direksi dan/atau Komisaris. 168
Rapat Umum Pemegang
b. Pengikatan Kredit PT Telah
Saham (RUPS)
Status Badan Hukum
Pada setiap
PT yang telah berstatus
penyelenggaraan RUPS
badan hukum artinya akta
wajib dibuat Risalah Rapat
pendiriannya harus mendapat
dengan dibubuhi tanda
pengesahan dari Menteri
tangan ketua rapat dan
Hukum dan Hak Asasi
paling sedikit satu orang
Manusia.
pemegang saham yang
Apabila PT hendak
ditunjuk dari dan oleh
melakukan perbuatan hukum
RUPS. Maksud pembuatan
dalam memperoleh pemberian
Risalah dengan
kredit dari Bank atau
penandatanganan tersebut
melakukan pengikatan kredit di
adalah untuk menjamin
Bank, maka menurut UUPT
kepastian dan kebenaran isi
168
Gunawan Widjaya, Risalah RUPS tersebut,
2008, 150 Tanya Jawab kalau Risalah RUPS
Tentang Perseroan
Terbatas – Seri
tersebut dibuat oleh Notaris,
Pemahaman Perseroan maka kewajiban untuk
Terbatas, Jakarta : Niaga menandatangani
Swadaya, hlm 14.

104
sebagaimana dimaksudkan semua pemegang saham
di atas tidak diperlukan. 169 ; dan
Melakukan b. Usul tersebut disetujui
pengikatan kredit dengan
secara tertulis oleh
hasil keputusan RUPS,
maka sebelumnya seluruh pemegang
menyelenggarakan RUPS saham.
terlebih dahulu dengan Persetujuan dari
membuat Risalah Rapat seluruh pemegang saham
yang ditandatangani oleh merupakan syarat mutlak
peserta yang hadir dalam keabsahan keputusan di luar
Rapat. RUPS. Dalam hal ini tidak
b. Melalui Sirkuler boleh ada satu pemegang
(keputusan di luar saham pun yang tidak
Rapat) setuju. Jika hal seperti ini
terjadi, maka
Pemberian
mengakibatkan circulair
persetujuan melalui
resolution tersebut tidak sah.
sirkuler ini merupakan 171
bentuk pemberian
persetujuan di luar Rapat
3.2. Pengikatan Kredit
dengan syarat semua
pemegang saham dengan Perseroan Terbatas di Bank
hak suara menyetujui Dengan Penjaminan Aset
secara tertulis, hal Perseroan Melebihi 50 %
demikian diatur dalam (lima puluh persen)
Pasal 19 UUPT. Pasal 102 ayat (1)
Mekanisme UUPT menyebutkan bahwa
pengambilan keputusan di “Direksi wajib meminta
luar RUPS secara fisik persetujuan RUPS untuk
dapat dilakukan dengan 2 mengalihkan kekayaan
cara, yaitu : 170 perseroan dan menjadikan
a. Mengirimkan secara jaminan utang perseroan yang
tertulis usul yang akan lebih dari 50% (lima puluh
diputuskan kepada persen) jumlah kekayaan bersih
perseroan dalam 1 transaksi
atau lebih, baik yang berkaitan
169
I.G. Rai satu sama lain maupun tidak”.
Widjaja, 2005, Hukum Kemudian ayat Pasal 102 ayat
Perseroan Terbatas (4) UUPT menyebutkan bahwa
Khusus Pemahaman Atas “perbuatan hukum
Undang-undang Nomor 1
Tahun 1995 Tentang sebagaimana dimaksud pada
Perseroan Terbatas, ayat (1) tanpa RUPS, tetap
Jakarta : Kesaint Blanc, mengikat sepanjang pihak lain
hlm 264. dalam perbuatan hukum
170
M. Yahya tersebut beritikad baik”.
Harahap, 2011, Hukum
Perseroan Terbatas,
Jakarta : Sinar Grafika,
171
hlm 341. Ibid.

105
Berdasarkan penjelasan
Pasal tersebut di atas, yang E. Penutup
dimaksud dengan “dalam satu 1. Kesimpuan
transaksi atau lebih, baik yang a. Direksi mempunyai
berkaitan satu sama lain
kewenangan mewakili untuk
maupun tidak” adalah satu
transaksi atau lebih yang secara dan atas nama PT dalam
kumulatif mengakibatkan pengikatan Kredit di Bank
dilampauinya ambang 50% harus dengan persetujuan
(lima puluh persen). Penilaian Dewan Komisaris ;
50 % (lima puluh persen) b. Akibat hukum yang
kekayaan bersih didasarkan ditimbulkan terhadap Direksi
pada nilai buku sesuai neraca
melaksanakan pengikatan
yang terakhir disahkan RUPS.
172 Kredit di Bank tanpa
Direksi wajib meminta persetujuan Dewan Komisaris,
persetujuan RUPS untuk sepanjang perbuatan hukum
mengalihkan kekayaan tersebut dilakukan dengan
perseroan atau mejadikan itikad baik, maka tidak akan
jaminan utang kekayaan menimbulkan akibat hukum
perseroan melebihi 50% (lima
bagi Direksi yang melakukan
puluh persen) jumlah kekayaan
bersih perseroan dalam satu perbuatan hukum tersebut ; dan
transaksi atau lebih, baik yang c. Pemberian persetujuan kepada
berkaitan satu sama lain/tidak. Direksi dalam melakukan
Perbuatan hukum untuk pengikatan kredit dapat
mengalihkan kekayaan dilakukan dengan 2 (dua) cara
perseroan atau menjadikan yaitu melalui keputusn Rapat
jaminan utang kekayaan
Umum Pemegang Saham
perseroan yang merupakan
lebih dari 50% (lima puluh (RUPS) dan Sirkuler (di luar
persen) tanpa persetujuan Rapat).
RUPS, tetap mengikat
perseroan sepanjang pihak lain 2. Saran
dalam perbuatan hukum a. Diharapkan penyempurnaan
tersebut beritikad baik. UUPT atau Undang-undang
Ketentuan kuorum kehadiran
khusu yang mengatur
dan/atau ketentuan tentang
pengambilan keputusan RUPS mengenai pengikatan kredit
berlaku juga bagi keputusan atas nama PT, dimana diatur
RUPS untuk menyetujui mengenai kewenangan Direksi
tindakan Direksi. 173 bertindak atas nama PT ;
172
Penjelasan Pasal 102 b. Dalam pelaksaaan pengikatan
ayat (1) Undang-undang Nomor kredit di Bank, sebaiknya tetap
40 Tahun 2007 Tentang
Perseroan Terbatas. Direksi, Komisaris Perseroan
173
Frans Satrio Terbatas, Jakarta : Visimedia,
Wicaksono, 2009, Tanggung hlm 83.
Jawab Pemegang Saham,

106
degan persetujuan Dewan Indonesia, Jakarta : PT. Raja
Komisaris ; dan Grafindo Persada.
c. Perlu aturan jelas mengenai
pemberian persetujuan kepada Fuady, Munir, 2005, Perlindungan
Direksi yang melakukan Pemegang Saham Minoritas,
penjaminan aset PT yang Bandung : CV. Utomo.
jumlahnya melebihi 50 % (lima
puluh persen) agar terjaminnya Gautama, Sudargo 1995, Komentar
kepastian hukum dan terdapat Atas UUPT Tahun 1995 Nomor
keseimbangan kepentingan 1 Perbandingan Dengan
antara kedua belah pihak (PT Peraturan Lama, Bandung : PT.
maupun Bank). Citra Aditya Bakti.

Harahap, M. Yahya, 2011, Hukum


Perseroan Terbatas, Jakarta : Sinar
Grafika.

Mulhadi, 2010, Hukum Perusahaan :


Bentuk-bentuk Badan Usaha di
Indonesia, Bogor : Ghalia
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Abdulkadir, 2000, Hukum
BUKU
Perdata Indonesia, Bandung :
PT. Citra Aditya Bakti.
Ais, Chatamarrasjid, 2000, Menyingkap
Tabir Perseroan (Piercing The
Soekanto, Soerjono Soekanto, 1984,
Corporate Veil) Kapita Selekta Hukum
Metode Penelitian Hukum,
Perusahaan Indonesia, Bandung : PT.
Jakarta : Universitas Indonesia.
Citra Aditya Bakti.
Wicaksono, Frans Satrio, 2009,
Ali, Chidir Ali, 1982, Yurisprudensi
Tanggung Jawab Pemegang
Hukum Dagang, Bandung : Alumni.
Saham, Direksi, Komisaris
Perseroan Terbatas, Jakarta :
Awangga, Suryaputra N, 2009, Cara
Visimedia.
Efektif Menyusun dan
Mengajukan Proposal Kredit,
Widjaya, Gunawan, 2008, 150 Tanya
Yoogyakarta : Zenith Publisher.
Jawab Tentang Perseroan
Terbatas – Seri Pemahaman
Perseroan Terbatas, Jakarta :
Bahsan, M 2007, Hukum Jaminan dan
Niaga Swadaya.
Jaminan Kredit Perbankan

107
Widjaja, I.G. Rai, 2005, Hukum
Perseroan Terbatas Khusus
Pemahaman Atas Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1995
Tentang Perseroan Terbatas,
Jakarta : Kesaint Blanc,

PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN

Kitab Undang-undang Hukum Perdata


Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas

INTERNET
Diana Kusumasari, Apakah Corporate
Guarantee Persetujuan RUPS, Sumber :
www.hukumonline.com, diakses pada 10
Oktober 2014, 00.30 WIB.

diakses
http://www.legalakses.com/Direksi/
pada tanggal 9 Oktober 2014, 12.48
WIB.

108
PEDOMAN SISTEMATIKA DAN TEKNIK PENULISAN

Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium”, yang diterbitkan oleh Program


Studi Magis- ter Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya bekerja sama
dengan Pengurus Wilayah Ikatan Notaris Indonesia Sumatera Selatan, menerima
sumbangan artikel ilmiah untuk dimuat dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Artikel harus orisinal, tidak mengandung unsur-unsur plagiasi, dan kaya akan
gagasan berdasarkan temuan-temuan yang dianalisis pada lapisan filsafat hukum,
teori hukum dan dogmatik hukum, yang bermuara pada kepentingan praktik
hukum di bidang kenotariatan pada khususnya dan hukum bisnis pada umumnya.
2. Artikel belum pernah diterbitkan dalam media lain.
3. Lebih dianjurkan kepada penyumbang artikel untuk membaca Jurnal Ilmiah
Hukum Kenotariatan “Repertorium” minimal 2 terbitan terakhir dan wajib
membaca Pedoman Sistematika dan Teknis Penulisan pada Jurnal Ilmiah Hukum
Kenotariatan “Repertorium”.
4. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan standar kaidah-kaidah
bahasa yang baik dan benar.
5. Artikel diketik dengan MS Words, huruf Times New Roman, font 12, spasi rangkap
di atas kertas kwarto (A4) sepanjang 20 s.d. 25 halaman.
6. Setiap artikel harus disertai abstrak dalam bahasa Inggris dan Indonesia (masing-
masing maksimal 200 kata) dan kata kunci dalam Bahasa Indonesia dan Inggris
(masing-masing maksimal 5 kata).
7. Artikel dapat merupakan artikel konseptual maupun artikel hasil penelitian hukum
di bidang kenotariatan pada khususnya atau hukum bisnis pada umumnya.
8. Artikel konseptual ditulis dengan sistematika, sebagai berikut:
a. Judul (maksimal 20 kata dalam Bahasa Indonesia dan 15 kata dalam Bahasa
Inggris).
b. Nama Penulis (ditulis tanpa gelar akademik). Penulis artikel harap
mencantumkan bio data singkat termasuk status pekerjaan/jabatan atau asal
instansi serta alamat e-mail, untuk memudahkan korespondesi dengan ilmuwan
lainnya, dan dicantumkan sebagaimana lampiran pada naskah artikel.
c. Abstrak (berisi uraian singkat latar belakang masalah, metode kajian,
kesimpulan dan saran, tidak lebih dari 200 kata dan hanya satu paragraf).
d. Kata kunci (tidak lebih dari 5 kata).
e. Pendahuluan (berisi uraian latar belakang masalah, rumusan masalah, dan
kerangka pemikiran hukum).
f. Pembahasan (langsung dibuat subjudul dan sub-sub judul sesuai dengan
rumusan masalah yang dibahas).
g. Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
h. Daftar Pustaka.
9. Artikel hasil penelitian ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
a. Judul (sama dengan ketentuan pada judul artikel konseptual).
b. Nama Peneliti (sama dengan ketentuan pada penulis artikel konseptual).
c. Abstrak (berisi uraian singkat latar belakang masalah, metode penelitian,
kesimpulan dan saran, tidak lebih dari 200 kata dan hanya satu paragraf).
d. Kata kunci (tidak lebih dari 5 kata).
e. Pendahuluan (berisi uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah).
f. Kerangka Teori dan Konseptual (menguraikan secara singkat teori-teori hukum
dan konsep- konsep hukum yang digunakan dalam penelitian).

110
g. Metode Penelitian (berisi kalimat singkat metode penelitian hukum yang
digunakan dalam penelitian).

h. Temuan dan Analisis (langsung dibuat subjudul dan sub-subjudul sesuai dengan
rumusan masalah yang dibahas).
i. Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran/rekomendasi.
j. Daftar Pustaka.
10. Uraian artikel ditulis secara sistematis dan tersusun menurut huruf dan/atau nomor.
Hindari uraian artikel dengan susunan kalimat yang mengalir.
11. Penulisan judul artikel, judul bagian, subjudul dan sub-subjudul dengan ketentuan,
sebagai berikut:
a. Judul artikel ditulis dengan huruf besar semua, tebal, di bagian atas tengah
artikel.
b. Judul bagian Pendahuluan, Kerangka Teori dan Konseptual, Metode Penelitian,
Temuan dan Analisis, Penutup (yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran atau
Rekomendasi) dan Daftar Pustaka ditulis dengan huruf besar untuk huruf
pertama saja sedangkan huruf berikutnya kecil, tebal, bernomor, rata tepi kiri.
c. Subjudul ditulis dengan huruf besar untuk huruf pertama saja sedangkan huruf
berikutnya kecil, tebal, bernomor, rata tepi kiri. d. Sub-sub judul ditulis dengan
huruf besar untuk huruf pertama saja sedangkan huruf berikutnya kecil, tebal,
rata tepi kiri.
12. Penulisan kutipan menggunakan footnote (catatan kaki) dengan tata cara penulisan
sebagai berikut:
a. Buku, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun terbit (diikuti titik), judul
buku (cetak miring, diikuti titik), tempat terbit (diikuti titik dua), penerbit
(diikuti titik), halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
b. Disertasi, Tesis, Skripsi, dan Hasil Penelitian lainnya, dimulai nama penulis
(diikuti titik), tahun (diikuti titik), judul disertasi, tesis, skripsi, dan hasil
penelitian lainnya (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan disertasi, tesis,
skripsi, atau hasil penelitian lainnya (dicetak miring, diikuti titik), nama
perguruan tinggi (diikuti titik), tempat perguruan tinggi (diikuti titik), dan
halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
c. Makalah, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun (diikuti titik), judul
makalah (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan makalah (dicetak miring,
diikuti titik), nama forum/semi- nar (diikuti titik), tempat, tanggal/bulan
(diikuti titik), dan halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
d. Artikel suatu Jurnal, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun (diikuti titik),
judul artikel (berikan tanda petik, diikuti titik), nama jurnal (cetak miring,
diikuti titik) volume, nomor, bulan (diikuti titik), halaman (disingkat hlm.)
yang dikutip.
e. Artikel bersumber dari internet, dimulai nama penulis (diikuti titik), judul
tulisan (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan artikel (cetak miring, diikuti
titik)), alamat website (tulis lengkap, diikuti titik), tanggal diakses.
f. Berita (news) yang penulisnya tidak diketahui yang bersumber dari internet,
dimulai sebutan anomim (diikuti titik), judul tulisan (diberikan tanda petik,
diikuti titik), tulisan berita (cetak miring, diikuti titik), alamat website (tulis
lengkap, diikuti titik), tanggal diakses.
g. Artikel bersumber dari surat khabar, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun
(diikuti titik), judul tulisan (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan artikel
111
(cetak miring, diikuti titik), tulisan artikel (cetak miring, diikuti titik), nama
surat kabar (cetak miring, diikuti titik), hari, tanggal/bulan/tahun (diikuti titik),
halaman (disingkat hlm.) yang dikutip. h. Berita yang penulisnya tidak
diketahui yang bersumber dari surat khabar, dimulai sebutan anonim (diikuti
titik), judul tulisan (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan berita (cetak
miring, diikuti titik), nama surat kabar (cetak miring, diikuti titik), hari, tanggal
(diikuti titik), halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
13. Daftar pustaka hendaknya dirujuk dari edisi terbaru, yang disusun secara alphabetis
dengan tata cara penulisan seperti angka 11 di atas, tetapi nama penulis dibalik yang
diantarai oleh tanda koma, serta tidak menggunakan halaman yang dikutip.

14. Artikel dalam bentuk hard copy (print out) rangkap 2, dan soft copy (compaq disc)
dapat diserahkan langsung atau dikirim ke alamat redaksi/tata usaha Jurnal Ilmiah
Hukum Kenotariatan “Repertorium”, dengan dilampiri biodata secukupnya.
Pengiriman artikel dalam bentuk file juga dapat dilakukan melalui e-mail ke alamat:
repertorium.notariat_fhunsri@yahoo.co.id
15. Semua naskah artikel akan ditelaah oleh penyunting ahli/mitra bestari (reviewers)
dan penyunting pelaksana yang ditujuk oleh Ketua Penyunting sesuai dengan
kompetensi keilmuan hukumnya masing-masing. Penulis artikel diberikan
kesempatan untuk melakukan perbaikan (revisi) naskah artikel berdasarkan
saran/rekomendasi dari penyunting ahli/mitra bestari (reviewers) dan penyunting
pelaksana. Kepastian pemuatan atau penolakan naskah artikel akan diberitahukan
kepada penulis naskah artikel.
16. Naskah artikel yang telah memenuhi ketentuan dapat dikirimkan ke alamat:
Redaksi/Tata Usaha Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium”, Kampus
Notariat FH Unsri Palembang, Jalan Srijaya Negara, Bukit Besar, Palembang, Telp.
0711-352034, Faks. 0711-350125, e-mail:
repertorium.notariat_fhunsri@yahoo.co.id, Contact Person : Saut P. Panjaitan (HP.
081933399726) dan Antonius Suhadi AR (HP. 081532505732).

112