Anda di halaman 1dari 17

UJI AKTIVITAS KATALIS CLAY TERMODIFIKASI CU DALAM REAKSI

HIDRORENGKAH SENYAWA 1-OKTADEKANOL

Wiwit Puji Lestari


Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Jember

ABSTRAK
Telah dilakukan uji aktivitas katalis clay dan clay termodifikasi Cu terhadap
perengkahan senyawa 1-oktadekanol. Katalis dibuat dibuat dengan metode impregnasi
basah dilanjutkan dengan reduksi H2 dan oksidasi O2 pada suhu 500oC selama 2 jam.
karakterisasi katalis meliputi penentuan rasio Si/Al, kandungan logam Cu dalam katalis
menggunakan X-Ray Fluoresence (XRF), struktur kristal katalis dengan X-Ray
Diffraction (XRD), keasaman katalis dengan FTIR Piridin, dan luas permukaan katalis
dengan BET. Proses perengkahan dilakukan dalam reaktor flow fixed bed pada
temperatur 400oC. Katalis dimasukkan dan dipanaskan dalam tabung reaktor, umpan
dimasukkan dan dipanaskan pada tabung terpisah sampai berubah menjadi uap sambil
dialiri gas H2. Cairan hasil perengkahan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan
GC-MS. Hasil karakterisasi menunjukkan penurunan rasio Si/Al dari katalis clay
menjadi clay termodifikasi Cu, sedangkan % kandungan Cu dalam katalis meningkat
sebesar 7.39%. Struktur kristal kedua katalis hampir sama, namun muncul beberapa
puncak baru yang menunjukkan bahwa logam Cu berhasil dimodifikasikan. Keasaman
katalis muncul pada daerah 1638,6 dan 1627,03 cm-1 yang menunjukkan jenis asam
bronsted. Luas permukaan dan volume pori katalis mengalami kenaikan walau sangat
kecil yaitu berturut-turut 45.719 dan 0.009. Aktivitas katalis baik katalis clay dan clay
termodifikasi Cu kurang baik, dimana produk yang dihasilkan >C12 lebih banyak
daripada C6-C12.

Kata Kunci: 1-oktadekanol, clay, clay termodifikasi Cu, perengkahan


TEST ACTIVITY CLAY CODE CLAYED IN CODE IN HYDROCATED
HYDROGENCY COMPOUND 1-OKTADEKANOL

Wiwit Puji Lestari


Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Jember
University

Abstract
Clay catalyst activity and clay modified Cu have been subjected to cracking of 1-
octadecanol compound. The catalyst was prepared by wet impregnation method
followed by H2 reduction and oxidation of O2 at 500oC for 2 hours. Characterization of
the catalyst includes determination of Si/Al ratio, Cu metal content in catalyst using X-
Ray Fluoresence (XRF), crystal structure of catalyst with X-Ray Diffraction (XRD),
acidity of catalyst with FTIR Pyridine, and catalyst surface area with BET. The process
of cracking is carried out in the fixed bed bed reactor at 400 ° C. The catalyst is inserted
and heated in the reactor tube, the feed is fed and heated in a separate tube until it is
turned into vapor while heated with gas H2. The cracked liquid was then analyzed using
GC-MS. The characterization results showed a decrease of Si/Al ratio from clay
catalyst to Cu modified clay, while Cu content in catalyst increased by 7.39%. The
crystal structure of the two catalysts is almost identical, but several new peaks show
that Cu metal is modified. The acidity of the catalysts appeared in the 1638.6 and
1627.03 cm-1 regions indicating the type of bronsted acid. The surface area and pore
volume of the catalyst have increased very small, ie 45.719 and 0.009, respectively.
The catalyst activity of both the clay catalyst and the modified Cu clay is poor, whereby
the product produced >C12 is more than C6-C12.

Keywords: 1-octadecanol, clay, Cu-modified clay, cracking


Pendahuluan digunakan dalam industri kimia adalah
Hidrorengkah merupakan suatu katalis padat, seperti 𝛾-Al2O3, logam
cara yang digunakan untuk memecah terimpregnasi dalam zeolit, lempung
hidrokarbon rantai panjang menjadi terpilar dan sebagainya (Wijaya, 2002).
hidrokarbon rantai pendek. Proses Katalis clay atau lempung diyakini
perengkahan senyawa hidrokarbon merupakan material yang tepat untuk
dapat dilakukan secara langsung digunakan dalam proses perengkahan
dengan menggunakan suhu dan tekanan hidrokarbon. Kelebihan clay ini jika
yang tinggi tanpa menggunakan katalis. dibandingkan dengan zeolit yaitu antar
Namun, dalam pengerjaanya reaksi lapisannya terdapat kation-kation yang
hidrorengkah dengan metode berfungsi menyetimbangkan muatan
pemanasan dan tekanan tinggi negatif yang ada pada bidang lapisnya
membutuhkan waktu yang lama (Tan, 1982). Selain itu pengembanan
(Daryoso, 2012). Sedangkan logam pada clay dapat dilakukan
hidrorengkah yang menggunakan melalui pertukaran ion yang bermuatan
katalis menghasilkan reaksi lebih cepat, positif baik kecil maupun meruah
suhu dan tekanan yang digunakan juga (Darmawan, 2004). Clay memiliki
lebih rendah. Sehingga dalam setiap ukuran pori dan luas permukaan
proses perengkahan menggunakan spesifik lebih besar berturut-turut yaitu
katalis sangat menguntungkan (Setiadi 50,877 x 10-3 cm3/g dan 74,702 m2/g
dan Fitri, 2006). (Wijaya, 2002). Daerah antar lapisan
Katalis yang digunakan dalam clay jika dimasuki oleh gugus meruah
perengkahan hidrokarbon sebagian dan dilajutkan dengan kalsinasi akan
besar merupakan katalis heterogen membentuk tiang-tiang penyangga
(Setiadi dan Pertiwi, 2007). Hal ini lapisan (Darmawan, 2004). Sehingga,
dikarenakan penggunaan katalis clay yang terpilar atau termodifikasi
heterogen lebih stabil dalam suhu tinggi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai
dan lebih mudah dipisahkan dengan
produknya. Jenis katalis yang banyak
katalis atau sebagai pengemban katalis Montmorillonite, Cu/Al-PILCs,
pada proses hidrorengkah. Cu/SiO2, Cu/Al2O3 dan lain-lain (Pan et
Modifikasi clay akan al, 2007). Logam Cu yang dimodifikasi
meningkatkan sifat-sifat fisika-kimia dalam Al/Clay diyakini mampu
yang meliputi basal spacing, luas meningkatkan aktivitas katalisnya,
permukaan spesifik, porositas dan karena memiliki derajat keasaman dan
keasaman permukaan, serta stabilitas luas permukaan spesifik katalis
clay terutama stabilitas termalnya (Wulansari, 2004). Selain itu, logam Cu
menjadi lebih tinggi (Leonard, 1995). memiliki jari-jari atom kecil sehingga
Semakin baik sifat fisik dan kimia yang dapat terdifusi merata pada pori katalis
dimiliki clay termodifikasi maka yang dapat meningkatkan aktivitas dan
aktivitas katalitiknya akan semakin selektivitas katalis.
meningkat (Leonard, 1995). Menurut Berdasarkan uraian di atas, maka
Pirkanniemi dan Sillanpaa (2002), dalam usulan penelitian ini akan
logam transisi yang sering digunakan dilakukan hidrorengkah 1-oktadekanol
diantaranya Cr, Ag, V, Fe, Ti, Ce, Pd, (alkohol rantai panjang) menjadi
Cu dll. Pengembanan logam transisi ini hidrokarbon rantai pendek
dilakukan untuk menciptakan situs menggunakan katalis Clay
aktif setiap reaksi katalisis, selain itu termodifikasi. Aktivitas katalis akan
dapat memperluas permukaan katalis dipelajari pada proses hidrorengkah
(Setiadi dan Fitri, 2006). Jumlah sisi dengan kolom reaktor sistem flow fixed
aktif (active site) yang besar bed pada temperatur berbagai variasi.
menyebabkan kontak reaktan dengan Hasil hidrorengkah dianalisis dengan
katalis juga semakin besar, laju GC-MS untuk mengetahui struktur
pembentukan produk semakin cepat produk hidrogen.
(Anderson dan Boudart, 1981). Metode Penelitian
Beberapa katalis Cu yang Alat dan Bahan
dikembangkan untuk hidroksilasi Peralatan yang akan digunakan
benzena seperti Cu/Na- dalam penelitian ini antara lain : alat-
alat gelas laboratorium, wadah plastik, dilarutkan ke dalam 10 mL akuademin
botol plastik, saringan 120 mesh, satu sambil diaduk hingga homogen,
set alat reaktor jenis fixed bed, neraca selanjutnya ditambahkan sampel
analitik, oven, X-Ray Fluoresence (katalis clay) sebanyak 10 gram.
(XRF), X-Ray Diffraction (XRD), Kemudian dipanaskan dan diuapkan
Fourier Transform Infra Red (FTIR) pada temperatur 90 oC (pada 1 atm)
piridin, Brunauer-Emmett-Teller sambil diaduk sehingga komponen air
(BET), GC-MS, pompa vakum, cawan secara perlahan-lahan akan teruapkan.
porselin dan termometer. Setelah komponen air teruapkan
Bahan yang diperlukan dalam kemudian sampel dimasukkan ke
penelitian ini antara lain : 1- dalam oven pada temperatur 120oC
oktadekanol, clay, CuSO4.5H2O, gas selama 2 jam dan dilanjutkan proses
O2, gas H2, akuademin. oksidasi dengan gas oksigen pada
Prosedur Penelitian temperatur 500 oC selama 2 jam dan
Preparasi Katalis reduksi pada temperatur 500 oC dengan
a. Preparsi Clay gas hidrogen sehingga diperoleh katalis
Sebanyak 50 g lempung dicuci Cu/Clay (Handoko, 2001).
dengan 1000 mL aquademin dan Selanjutnya clay termodifikasi
kemudian disaring. Residu yang Cu dikarakterisasi dengan melakukan
didapatkan dikeringkan dalam oven analisis kandungan logam dengan XRF,
pada temperatur 110°C selama 24 jam, keasaman dengan analisis adsorpsi-
kemudian digerus dan diayak dengan desorpsi N2 (FTIR Piridin), kristalinitas
ayakan 120 mesh (Wijaya, 2006). dengan XRD dan luas permukaan
dengan metode BET.
b. Preparasi Clay termodifikasi Cu Perengkahan Termal
Modifikasi Cu pada permukaan Sebanyak 10 mL 1-oktadekanol
katalis clay dilakukan dengan metode dimasukkan ke dalam kolom
impregnasi basah (wet impregnation). evaporator yang disusun pada alat
Garam CuSO4.5H2O sebanyak 1 gram hidrorengkah, kemudian dipanaskan
pada temperatur 375oC, 400oC dan Hasil dan Pembahasan
425oC selama 30 menit. Produk yang Karakteristik Katalis
dihasilkan ditampung dan dianalisis 4.1 Preparasi Katalis
dengan GC-MS. Preparasi awal clay Wuluhan
Uji Aktivitas yaitu dengan mencuci sebanyak 50 g
Katalis Cu diambil sebanyak 5 clay dengan 1000 mL aquademin dan
gram dan ditempatkan dalam kolom disaring. Setelah di saring, residu yang
reaktor sistem flow fixed bed kemudian tertinggal (clay) dipanaskan pada suhu
dipanaskan dengan menggunakan 110 ᵒC selama 24 jam. Fungsinya yaitu
variasi temperatur 375oC, 400oC dan menghilangkan kandungan air dalam
425oC. Gas hidrogen dengan laju alir 20 Clay. Kemudian clay yang sudah
mL/menit selanjutnya dialirkan kering dihaluskan dan dilanjutkan
melalui 10 mL senyawa umpan dengan pengayakan menggunakan
(minyak tanah) sehingga melewati 5 ayakan 120 mesh, sehingga diperoleh
gram katalis dalam kolom. Proses clay dengan ukuran partikel yang
dilakukan selama 30-60 menit dan seragam.
produk yang diperoleh dianalisis Tahap selanjutnya 10 gram
menggunakan GC-MS (Junaidi, 2012). clay ditambahkan 0.4 M CuSO4.5H2O.
Data hasil analisa dengan GC- Campuran selanjutnya dipanaskan pada
MS juga digunakan untuk menguji suhu 90 ᵒC disertai pengadukan sampai
aktivitas katalis yang merupakan volume akhir campuran menjadi
kemampuan suatu katalis untuk seperempat volume campuran awal.
mengkatalisis sesuatu. Uji aktivitas Setelah itu dipanaskan kembali dalam
dilakukan dengan membandingkan oven pada suhu 120 ᵒC selama 2 jam
produk hasil analisis GC-Ms tiap untuk menghilangkan kandungan air
katalis. dalam sampel. Hasil yang diperoleh
digerus dan diayak menggunakan
ayakan 120 mesh untuk mendapatkan
ukuran partikel katalis yang seragam.
Padatan selanjutnya dilakukan oksidasi termodifikasi Cu dianalisis
dan reduksi menggunakan gas O2 dan menggunakan X-Ray Fluorosence
H2 masing-masing selama 2 jam pada (XRF). Data hasil analisis XRF
suhu 300 ᵒC. terhadap katalis clay dan clay
4.2 Karakterisasi Katalis termodifikasi yang disajikan dalam
a. Kandungan logam dalam katalis Tabel 4.1.
Penentuan kandungan logam dalam
katalis baik clay maupun clay

Tabel 4.1 Data hasil analisis kandungan logam clay dan clay termodifikasi CuO
Clay Clay termodifikasi CuO
SiO2 47.04 35.73
Oksida
Al2O3 14.56 11.77
logam
CuO 0.05 9.30
Si 21.99 16.70
Logam Al 7.71 6.23
Cu 0.04 7.43

Tabel 4.1 menunjukan bahwa itu analisis menggunakan XRF ini juga
modifikasi Cu yang dilakukan pada dapat digunakan untuk mengatahui
katalis clay telah berhasil dilakukan. rasio Si/Al dalam katalis tersebut.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Rasio Si/Al digunakan untuk
peningkatan persentase oksida logam mengetahui sifat kepolaran suatu
CuO dam logam Cu yaitu secara katalis. Rasio Si/Al disajikan dalam
berturut-turut 9.25% dan 7.39%. Selain Gambar 4.1.
Rasio Si/Al

2.9
2.85
2.85
2.8
Rasio Si/Al
2.75
2.7 2.68

2.65
2.6
2.55
Clay Clay termodifikasi

Gambar 4.1 Rasio Si/Al antara clay dan clay termodifikasi CuO

Rasio Si/Al clay maupun clay Si/Al rendah katalis tersebut bersifat
termodifikasi Cu berdasarkan Gambar polar. Berdasarkan data tersebut maka
4.1 adalah 2.85 dan 2.68, masing- baik clay maupun clay termodifikasi
masing yang termasuk dalam rasio CuO dalam penelitian ini bersifat polar.
rendah. Hal tersebut sesuai dengan b. Struktur kristal katalis
pernyataan Sutarti dan Rachmawati Struktur kristal clay dan clay
(1994) rasionya tinggi jika suatu katalis termodifikasi Cu selanjutnya diuji
memiliki rasio Si/Al antara 10 sampai dengan menggunakan X-Ray
100 dan rendah jika rasionya kurang Diffraction atau XRD pada sudut 2θ =
dari 10. Menurut Hamdan (1992) 5-60ᵒ. Pola-pola difraksi dari kedua
katalis dengan rasio Si/Al tinggi katalis ditunjukkan dalam Gambar 4.2.
bersifat nonpolar, sebaliknya jika rasio
1600
Clay Cu/Clay
1400

1200
Intensitas (cps)

1000

800

600

400

200

0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
2 theta

Gambar 4.2 puncak difraksi clay dan clay termodifikasi Cu

Gambar 4.2 menunjukan digunakan baik clay maupun clay


puncak dengan intensitas tertinggi clay termodifikasi Cu memiliki jenis yang
dan clay termodifikasi Cu pada sudut sama yaitu jenis kaolin.
berturut-turut yaitu 2θ 26.6584° dan Proses pemilaran menggunakan
26.5677°. Hal tersebut sesuai penelitian agen pemilar dengan ukuran partikel
yang dilakukan Firda et all (2014) besar (Darmawan et all, 2005).
menunjukkan puncak maksimum Semakin besar ukuran partikel pemilar
ditunjukan pada sudut 2θ = 26.6289° bassal spacing akan meningkat.
dengan jarak spasi 3.34484Å Peningkatan bassal spacing clay dan
merupakan clay jenis kaolin. Sehingga clay termodifikasi Cu ditampilkan
bisa dikatakan bahwa katalis yang dalam Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Data Puncak tertinggi clay
Relative
Pos [ᵒ2Th.] d-spacing [Å] FWHM Left [ᵒ2Th.]
Intensity [%]
26.6584 3.34396 100 0.1338
Clay

27.754 3.21441 55.42 0.1338


23.641 3.76349 22.88 0.1338
26.5677 3.35517 100 0.0836
Cu/Clay

27.7334 3.21674 40.87 0.1004


23.6093 3.76847 16.45 0.1673

Tabel 4.2 menunjukan 55,0068° serta peningkatan yang


perbandingan karakteristik ditiga signifikan pada sudut 30,4285°. Data
puncak tertinggi antara clay dengan tersebut sesuai dengan penelitian
clay termodifikasi CuO. Struktur clay Kinanti dan Murwanti (2012),
dan clay termodifikasi Cu memiliki difraktogram CuO muncul pada 2θ 32,5
nilai bassal spacing yang mirip pada 3 dan 38,7°. Hal tersebut memperkuat
puncak utamanya. Hal tersebut modifikasi dengan CuO yang dilakukan
menunjukkan bahwa Cu yang telah berhasil.
dimodifikasikan tidak masuk dalam c. Luas permukaan katalis
struktur antar lapis clay. Namun, Analisis luas permukaan katalis
dimungkinkan Cu menempel pada dilakukan terhadap katalis clay dan clay
permukaan clay. Karena jika mengacu termodifikasi Cu. Kedua katalis
pada analisis unsur dengan XRF CuO tersebut dilakukan uji isotermal
berhasil dimodifikasikan pada struktur adsorpsi-desorpsi N2 untuk mengetahui
clay sebesar 9.30%. luas permukaan dan volume pori-pori
Selain itu muncul 4 puncak baru dari masing-masing katalis. Proses
pada clay termodifikasi Cu yaitu pada adsorpsi gas nitrogen yang terjadi
sudut 31,4705; 42,6062; 51,5909; dan bersifat reversibel yang memungkinkan
adanya desorpsi pada suhu yang sama pengujiannya disajikan dalam Gambar
yang melibatkan energi aktivasi. Hasil 4.4 dan Tabel 4.3.
45 0.16

Volume Pressure [cc/g]


0.15
Volume Pressure [cc/g]

43 0.14
0.13
41
0.12
39 0.11
0.1
37 0.09
0.08
35
0 0.1 0.2 0.3 0.4
0.05 0.15 0.25 0.35
Relative Pressure [P/Po]
Relative Pressure [P/Po]

(b)
(a)

Gambar 4.4 Isotermal N2 (a) Clay dan (b) Clay termodifikasi Cu

Tabel 4.3 Luas permukaan spesifik dan volume pori clay dan clay termodifiksi Cu

Jenis sampel Luas permukaan spesifik (m2/g) Volume Pori (cm3/g)

Clay 132.747 0.127

Clay termodifikasi Cu 178.466 0.136

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa Namun, karena peningkatan luas


modifikasi katalis clay yang dilakukan permukaan dan volume pori yang
dengan logam Cu meningkatkan luas sangat kecil tersebut menunjukkan
permukaan spesifik dan volume bahwa Cu terdistribusi pada permukaan
porinya jika dibandingkan dengan clay clay. Hal ini sesuai dengan hasil
tanpa modifikasi. Peningkatan tersebut karakterisasi berdasarkan XRD.
memperkuat pernyataan bahwa Cu d. Keasaman katalis
berhasil dimodifikasikan pada clay.
Uji keasaman katalis dilakukan dihasilkan dapat digunakan untuk
untuk mengetahui jenis situs asam yang mengetahui jenis situs asam lewis atau
ada dalam suatu katalis. Uji keasaman asam bronsted dalam suatu katalis.
katalis clay dan clay termodifikasi Cu Spektra inframerah clay dan clay
diukur dengan menggunakan analisis termodifikasi hasil pengujian
FTIR piridin. Hasil spektra yang ditunjukan dalam gambar 4.4.
120 Clay Cu/Clay

100

80
INTENSITAS (CPS)

60

40

20

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000

BILANGAN GELOMBAG

Gambar 4.4 puncak spektra katalis Clay dan puncak spektra katalis clay
termodifikasi Cu

Gambar 4.4 menunjukan bahwa yang menunjukkan bahwa puncak


munculnya puncak pada daerah daerah 1635,64 cm-1 merupakan puncak
bilangan gelombang 1638.6 dan sisi asam lewis. Sisi asam lewis
1627.03 cm-1 pada clay dan clay terbentuk dari ikatan koordinasi piridin
termodifikasi Cu, berturut-turut. melalui pemasangan elektron bebas
Puncak tersebut merupakan atom nitrogen dengan pusat sisi asam
puncakkhas dari sisi asam lewis lewis padatan (Fatimah et all, 2008).
material. Nilai tersebut sesuai dengan
hasil penelitian Santi dan Mega (2011)
4.2 Uji aktivitas Katalis dan berbau menyengat seperti minyak
bumi. Produk tersebut selanjutnya
Material clay dan clay
dilakukan analisis jenis senyawa
termodifikasi Cu dilakukan uji katalisis
dengan menggunakan kromatografi gas
hidrorengkah 1-oktadekanol. Proses
(GC-Ms). Kedua produk hasil
hidrorengkah dilakukan pada suhu 400
hidrorengkah masing-masing
ᵒC dibawah aliran gas H2 selama 2 jam.
mengandung fraksi hidrokarbon rantai
Produk hasil hidrorengkah
panjang, hidrokarbon rantai pendek,
menggunakan katalis clay dan clay
dan fraksi non-hidrokarbon. Hasilnya
termodifikasi Cu memiliki karakteristik
ditampilkan dalam tabel 4.3.
hampir sama, yaitu berwarna kuning

Tabel 4.3 Produk hasil hidrorengkah


Clay Cu/Clay
Hidrokarbon >C12 51,59% 58%
Hidrokarbon C6-C12 9,64% 6,25%
Non Hidrokarbon 1,17% 2,99%

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa material mempunyai kecenderungan


hidrorengkah 1-oktadekanol dengan bersifatpolar, sehingga akan
clay dan clay termodifikasi Cu berinteraksi dengan gugus polar 1-
menghasilkan produk yang paling oktadekanol (gugus –OH). Selain itu
banyak adalah hidrokarbon >C12 sisi keasaman lewis material cenderung
dibanding C6-C12. Tingginya produk lebih mudah menangkap pasangan
hidrokarbon >C12 menunjukkan bahwa elektron bebas dari atom oksigen 1-
interaksi antara 1-oktadekanol dengan oktadekanol. Dampaknya, pemutusan
katalis terjadi pada daerah polar. Hal ikatan lebih mungkin terjadi pada
tersebut mengacu pada rasio Si/Al gugus –OH dari 1-oktadekanol
rendah (<10) yang menyebabkan
dibandingkan pada daerah rantai dibanding clay. Semakin besar luas
karbon yang bersifat lebih non-polar. permukaan menunjukkan semakin
Fakta lain yang dapat diamati besar daerah polar pada material,
adalah tingginya hidrokarbon >C12 dan sehingga daerah kontak dengan 1-
rendahnya hidrokarbon C6-C12 pada oktadekanol semakin besar. Secara
clay termodifikasi Cu dibanding clay. hipotetik dapat digambarkan model
Hal tersebut juga diperkuat denga luas katalis hidrorengkah 1-oktadekanol
permukaan dan volume pori clay oleh clay termodifikasi Cu pada
termodifikasi Cu yang lebih besar Gambar 4.5.

Gambar 4.5 model katalis hidrorengkah 1-oktadekanol oleh clay termodifikasi Cu

Kesimpulan kristal clay dan clay termodifikasi sama


Modifikasi dengan logam aktif yaitu jenis kaolin, namun muncul
mempengaruhi karakteristik suatu beberapa puncak baru yang
katalis. Kandungan logam Cu dalam menandakan Cu berhasil
clay termodifikasi meningkat dari dimodifikasikan; luas permukaan dan
0.04% menjadi 7,43%; penurunan volume pori katalis clay termodifikasi
Rasio Si/Al dari 2,85 menjadi 2,68 meningkat yaitu berturut-turut 45,719
yang membuat sifat clay termodifikasi m2/g dan 0.009 cm3/g; dan sifat asam
lebih polar dari pada clay; struktur yang dimiliki antara clay dan clay
termodifikasi Cu adalah asam lewis. Berpengemban Nikel. Jurnal
Uji aktivitas katalis clay termodifikasi Sains. JKSA Vol. 7 (1): 1-10
Cu menhasilkan produk Hidrokarbon Daryoso, K., Wahyuni, S., dan Saputro,
>C12 58%; hidrokarbon C6-C12 6,25%, S.H. 2012. Uji Aktivitas Katalis
dan non-hidrokarbon 2,99%. Ni-Mo/Zeolit pada Reaksi
Saran Hidrorengkah Fraksi Sampah
Perlu dikembangkan lagi Plastik (Polietilen). Indonesian
modifikasi katalis dengan metode yang Jurnal of Chemical Science.
lebih baik sehingga diperoleh ISSN 2252-6951. Vol. 1 (1): 50-
modifikasi katalis yang lebih baik. 54.
Perlu diteliti lebih lanjut mengenai Fatimah, Is, Rubiyanto, D., dan
modifikasi katalis sehingga diperoleh Huda,T. 2008. Peranan Katalis
produk hidrorengkah sesuai dengan TiO2/SiO2-Montmorillonit pada
yang diinginkan. ReaksiKonversi Sitronelal
menjadi Isopulegol. Jurnal
Daftar Pustaka Sain. Vol. 12 (2) : 83-89.
Anderson, J.R and Boundart, M. 1981.
Catalytic Activation of Firda, E., Bukit, N., dan Manalu, M.
Dioxygen. Springer-Verlag, 2014. Pengolahan Kaoli sebagai
Berlin. Bahan Pengisi Pada
Darmawan, A., Suseno,A., dan Termoplastik High Density
Purnomo, S. A. 2005. Sintesis Polyethylene. Jurnal Saintech.
Lempung Terpilar Titania. ISSN : 2086-9681. Vol. 06 (02)
Jurnal Sain Kimia. Vol. 8 (3) : : 78-84.
1-12. Hamdan, S. 1992. Introduction to
Darmawan, A. 2004. Hidrorengkah Zeolite: Synthesis,
Fraksi Berat Minyak Bumi Characterization, and
Menggunakan Katalis Lempung Modification. Malaysia:
Terpilar Aluminium
Universitas Teknologi Pan, J., Wang, C., Guo, S., Li, J., and
Malaysia. Yang, Z. 2008. Cu Supported
Handoko, P.H.D. 2001.“Modifikasi Over Al-Pillared Interlayer
Zeolit Alam dan Clays Catalysts for Direct
Karakterisasinya sebagai Hydroxylation of Benzene to
Katalis Perengkahan Asap Cair Phenol. Jurnal Sains. ISSN
Kayu Bengkirai”. Tidak 1566-7367. Vol. 9 (1): 176-181.
Diterbitkan. Tesis. Yogyakarta: Santi, D. dan Trisunaryanti, W. 2011.
Pasca Sarjana UGM. Preparasi, Karakterisasi dan Uji
Junaidi, Haliq Ferdia. 2012. “Uji Aktivitas Katalis
aktivitas dan Selektivitas NiOMoO/Zeolit Alam Aktif
Katalis Ni/H5NZA dalam dalam Reaksi Hidrorengkah
Proses Hidrorengkah Metil Minyak Kulit Jambu Mete
Ester Minyak Kelapa Sawit (Anacardium Occidentale).
(MEPO) Menjadi Senyawa Prosiding Seminar Nasional
Hidrokarbon Fraksi Pendek”. Kimia dan Pendidikan Kimia
Tidak Dipublikasikan. Skripsi. III, ISBN : 978-979-1533-85-0,
Jember. Universitas Jember. 330-336.
Kinanti, Citra A. A. Dan Murwani, Setiadi & Fitria, R. M. 2006. Proses
Irmina K. 2012. Pengamatan Katalitik Sintesis Hidrokarbon
Struktur CuO/CaF2 dengan Fraksi Bensin dari Minyak
Berbagai Loading Cu. Jurnal Sawit Menggunakan Katalis
Sains dan Seni ITS. ISSN: B2O3/Zeolit. Seminar Nasional
2301-928X. Vol. 1 (1) : C-10 MKICS. Universitas Indonesia.
–C13. 26-27 Juni 2006.
Leonard, V.I. 1995. Material Setiadi & Pertiwi, A. 2007. Preparasi
Chemistry an Emering dan Karakterisasi Zeolit Alam
Discipline. Washington: ACS. untuk Konversi senyawa ABE
menjadi Hidrokarbon.
Prosiding Konggres dan cureus. Seminar Nasional
Simposium Nasional Kedua Kimia dan Pendidikan Kimia,
MKICS, ISSN : 0216-4183, 1-4. 11 November 2006.
Sutarti, M. dan Rachmawati, M. 1994. Wijaya, Karna. 2002. Bahan Berlapis
Zeolit: Tinjauan Literatur. dan Berpori sebagai Bahan
Jakarta: Pusat Dokumentasi dan Multifungsi. Indonesian
Informasi LIPI. Journal of Chemistry. Vol. 2
Tan, K.H. 1982. Dasar Kimia Tanah (3): 142-154.
edisi pertama. Yogyakarta: Wulansari, D. 2004. “Studi Aktivitas
Gadjah Mada University Press. Katalis Ni/ZAAH5 pada
Wijaya, K., Tahir, I., dan M., Laily A. Konversi Minyak Goreng
2006. Preparasi dan Uji Jelantah menjadi Fraksi Bahan
Kualitatif Cu-Al2O3- Bakar Cair”. Tidak
Montmorillonit sebagai Bahan Dipublikasikan. Skripsi.
Antibakteri Stophylococcus Jember: Universitas Jember.