Anda di halaman 1dari 14

Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 155

GAMBARAN AGRESIVITAS PADA REMAJA LAKI-LAKI SISWA SMA


NEGERI DI DKI JAKARTA

Susi Fitri1
Meithy Intan Rukia Luawo2
Dewi Puspasari3

Abstrak
Agresivitas remaja laki-laki adalah persoalan menyangkut perilaku baik fisik maupun lisan
yang menyakiti, merusak baik secara fisik, psikis dan benda- benda yang ada di sekitarnya yang
berkaitan dengan 4 aspek yakni aspek agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan
yang dialami oleh remaja dengan rentang usia 15 – 18 tahun yang sedang menempuh pendidikan
di Sekolah Menengah Atas (SMA). Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran mengenai
agresivitas pada remaja laki-laki di SMA Negeri DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode
survey dengan populasi penelitian diambil 20% dari kecamatan di lima wilayah DKI Jakarta
dengan teknik sampel adalah Gugus Bertahap Ganda (Multistages Random Sampling) dan sampel
yang digunakan sebanyak 523 remaja laki-laki. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini
merupakan instrumen adaptasi The Aggression Questionare yang terdiri dari 29 butir yang
didapat dari 4 aspek yang merujuk pada teori yang dikembangkan oleh Buss&Perry (1992). Skala
yang digunakan pada penelitian ini ialah skala likert dengan pilihan jawaban dari sangat tidak
sesuai sampai sangat sesuai. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa remaja laki-
laki memiliki tingkat agresivitas yang tinggi pada kategori sedang, aspek yang dominan dalam
gambaran agresivitas remaja ini adalah aspek permusuhan dengan persentase 77.3%.

Kata kunci: agresivitas, remaja laki-laki

AGGRESSIVENESS ON TEENAGE BOYS IN PUBLIC HIGH SCHOOL


STUDENTS IN DKI JAKARTA
Abstract
Aggressiveness of teenage boys is a matter concerning the behavior of both physical
and verbal hurt, damaging both physically, psychic and objects in the surrounding areas
related to four aspects those are the aspects of physical aggression, verbal aggression,
anger, and hostility that is experienced by teenager aged 15-18 years who are studying in
public high school. The purpose of this research to obtain a snapshot of the aggressiveness
on teenage boys high schools in DKI Jakarta. This study used survey method with the
study population was taken 20% of districts in five areas of Jakarta with engineering
samples are Phased Double Cluster (Multistages Random Sampling) and samples
that used as many as 523 teenage boys. The questionnaire that is used in this study
is an adaptation of The Aggression Questionare instrument consisting of 29 items
were obtained from four aspects referring to the theory developed by Buss and Perry
(1992). The scale used in this researchis the likert scale with a choice of answers from not
very appropriate to suit. From these results it can be concluded that the boys have a

1
Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, susi.fitri.kuliah@gmail.com
2
Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, meithy_intan@yahoo.com
3
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, dewi.puspasari.kuliah@gmail.com

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


156 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

high level of aggressiveness in the medium category, the dominant aspect in this teenage
description of aggressiveness is the aspect of hostility with a percentage of 77.3%.
Keywords: agression, male teenager

PENDAHULUAN melakukan agresi relasi (agresi terselubung,


misalnya menyebarkan gosip atau rumor
Maskulin merupakan sebuah bentuk tentang anak lain yang menjadi sasaran supaya
konstruksi kelelakian terhadap gender teman-temannya menolak atau membencinya,
yang mencakup berbagai aspek karateristik mengeluarkan anak dari kelompoknya (Aidul,
individu seperti, karakter atau kepribadian, 2011).
perilaku peranan, okupasi, penampilan fisik,
ekspresi verbal maupun non verbal ataupun Studi pendahuluan yang dilakukan
orientasi seksual (Darwin, 1999). Laki-laki peneliti pada 30 remaja laki-laki siswa SMA
tidak dilahirkan begitu saja dengan sifat Negeri 67 Jakarta, terlihat bahwa rata-rata siswa
maskulinnya secara alami, maskulinitas laki-laki memiliki kecenderungan melakukan
dibentuk oleh kebudayaan. Menurut Barker, agresi verbal seperti menghina, mengumpat
hal yang menentukan sifat perempuan dan laki- kata-kata kasar kepada sesama teman
laki adalah kebudayaan (Sya’ran, 2007). menjadi hal biasa diantara mereka. Terlihat
sesekali mendorong dan memukul teman juga
Agresif merupakan salah satu sifat dilakukan oleh beberapa siswa laki-laki. Hal
yang menunjukan maskulinitas seorang laki- ini menunjukan bahwa siswa laki-laki memiliki
laki. Agresivitas didefinisikan sebagai: a) kecenderungan melakukan agresivitas pada
kecenderungan habitual (yang dibiasakan) sesama laki-laki teman sebayanya.
untuk memamerkan permusuhan; b) pernyataan
diri secara tegas, penonjolan diri, penuntutan Peristiwa- peristiwa yang berkaitan
atau paksaan diri, pengejaran dengan penuh dengan agresivitas remaja yang dimuat di media
semangat suatu cita-cita dan, c) dominasi sosial, massa, baik media cetak maupun elektronik
kekuasaan sosial, khususnya yang diterapkan antara lain berita mengenai tawuran pelajar.
secara ekstrim (Chaplin, 2002). Tomada Tawuran pelajar beberapa waktu terakhir
& Schneider pada tahun 1997 melakukan kembali mengemuka seolah menampar wajah
penelitian mendasarkan pada pilihan nominasi banyak pihak. Sepanjang Januari hingga Juli
dari teman-teman sebaya dan guru. Hasilnya 2015 terjadi kasus tawuran di wilayah Provinsi
menunjukan anak laki-laki memperoleh skor DKI Jakarta mencapai 63 kejadian. Dari jumlah
yang lebih tinggi pada overt aggression (agresi tersebut, kasus tawuran tertinggi ada di Jakarta
fisik maupun verbal yang secara langsung Timur yang mencapai 26 kasus. Berdasarkan
dialami oleh korban) maupun relational data milik Polda Metro Jaya, sebanyak 26
aggression (agresi terselubung; bergosip, kasus tawuran terjadi di Jakarta Timur, 8 kasus
menolak berteman, dan mengeluarkan anggota di Jakarta Pusat, 13 kasus di Jakarta Selatan, 2
kelompok) (Dayakisni & Yuniarsi, 2008). kasus di Jakarta Utara, dan 8 kasus di Jakarta
Barat (Kasus Tawuran Tertinggi Terjadi di
Senada dengan penelitian Tomada Jakarta Timur, 2015)
& Schneider, pada penelitian Imaniar Aidul
tahun 2011 dalam penelitiannya menggunakan Remaja cenderung memiliki sifat
subjek siswa kelas X SMA Muhammadiyah agresi. Secara psikologis, siswa – siswa sekolah
15 Jakarta Barat, menunjukan bahwa laki- menengah tingkat atas sedang mengalami
laki dinilai lebih sering melakukan agresif masa remaja. Masa remaja adalah suatu tahap
fisik dan agresif verbal, sementara perempuan kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak
lebih dinominasikan untuk secara langsung mantap. Selain itu masa remaja merupakan

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 157

masa yang rawan oleh pengaruh- pengaruh (senjata atau kesaktian).


negatif seperti narkoba, kriminal, dan kejahatan 3. Be a Sturdy Oak: Kelelakian membutuh-
seks. kan rasionalitas, kekuatan, dan kemandi-
rian. Seorang laki-laki harus tetap bertin-
Secara tradisional masa remaja dak kalem dalam berbagai situasi, tidak
dianggap sebagai periode “ badai dan tekanan”, menunjukkan emosi, dan tidak memun-
suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi jukkan kelemahannya.
sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar 4. Give ‘Em Hell: Laki-laki harus mempu-
(Hurlock, 1980). Berdasarkan beberapa nyai aura keberanian dan agresif, serta
penjelasan yang dikemukakan di atas, terlihat harus mampu mengambil risiko walaupun
bahwa agresivitas identik dengan laki-laki. alasan dan rasa takut menginginkan seba-
Agresivitas remaja laki-laki menjadi penting liknya.
untuk diteliti karena dengan mengetahui
gambaran hasil mengenai sejauh mana tingkat Definisi Agresivitas
agresivitas yang dimiliki remaja laki-laki
tersebut, dapat dijadikan acuan guru BK di Perilaku agresif adalah luapan emosi
sekolah untuk menangani siswa yang telah atas reaksi terhadap kegagalan individu yang
memiliki tingkat agresivitas tinggi sehingga ditujukan dalam bentuk perusakan terhadap
diharapkan tingkat agresivitas dalam diri siswa orang atau benda dengan unsure kesengajaan
dapat dihilangkan. yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal)
ACUAN TEORITIK dan perilaku nonverbal (Schneider, 1964).
Dollard & Miller menjelaskan bahwa
Definisi Maskulinitas agresi merupakan hasil dari frustari karena
terhalangnya suatu tujuan, bukan karena insting
Maskulin merupakan sebuah bentuk mati (Hidayat, 2011).
konstruksi kelelakian terhadap gender yang
mencakup berbagai aspek karateristik individu Tujuan Agresivitas
seperti, karakter atau kepribadian, perilaku
peranan, okupasi, penampilan fisik, ekspresi Berkowitz menyebutkan beberapa
verbal maupun non verbal ataupun orientasi tujuan agresi selain melukai (non-injurious
seksual (Darwin, 1999). goal) (Abdul, 2014):
1. Coercion: Agresi boleh jadi hanyalah per-
Karateristik Maskulinitas ilaku kasar yang tujuannya bukan untuk
melukai. Menurut Patterson &Tedeschi,
Brannon mengidentifikasi 4 komponen tujuan utama coercion untuk mengubah
maskulin tradisional (Kimmel & Aronson, perilaku orang lain atau menghentikan
2003), yaitu sebagai berikut: perilaku orang lain yang tidak sesuai
1. No Sissy Stuff: Seorang laki-laki sejati ha- dengan apa yang diharapkan(Berkowitz,
rus menghindari perilaku atau karakteris- 1993).
tik yang berasosiasi dengan perempuan. 2. Power and Dominance: Perilaku agre-
2. Be a Big Wheel: Maskulinitas dapat di- si kadang ditujukan untuk meningkatkan
ukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan pen- dan menunjukan kekuasaan dan dominasi.
gaguman dari orang lain. Seseorang harus Bagi orang yang menganggap penting dan
mempunyai kekayaan, ketenaran, dan sta- ingin memelihara kekuasaan dan domi-
tus yang sangat lelaki. Atau dalam mas- nasinya kekerasan kadang menjadi salah
yarakat Jawa: seorang laki-laki dikatakan satu cara untuk menunjukannya.
sukses jika berhasil memiliki garwo (is- 3. Impression Management: Perilaku agresi
tri), bondo (harta), turonggo (kendaraan), kadang ditunjukan dalam rangka mencip-
kukiro (burung peliharaan), dan pusoko takan kesan. Orang yang konsep dirinya

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


158 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

sebagai orang kuat ataupun berani sering- b. Narsisme dan ancaman ego juga men-
kali menggunakan agresi untuk memper- jadi salah satu penyebab timbulnya
teguh kesan yang ingin diciptakannya. agresi, dimana ini telah diteliti oleh
(Gusman dan Baumeter, 1988) . Hasil-
Faktor-Faktor Penyebab Munculnya nya individu yang narsis memiliki
Perilaku Agresif tingkat agresivitas lebih tinggi. Hal
ini dikarenakan dirinya merasa teran-
Menurut Sarwono dan Meinarno, cam jika ada individu lain yang mem-
pertanyakan dirinya. Mereka bereaksi
menjelaskan penyebab timbulnya agresi pada
dengan tingkat agresi yang tinggi terh-
individu (Sarwono & Meinarno, 2009), antara adap umpan balik dari orang lain yang
lain: mengancam ego mereka yang besar.
1. Faktor Sosial Maka, kemudian yang terwujud adalah
tingkah laku agresif.
Frustrasi, terhambatnya atau terce-
gahnya upaya mencapai tujuan kerap men- c. Perbedaan jenis kelamin, sering di un-
jadi penyebab agresi. Menurut Bushman, gkapkan bahwa laki-laki lebih agresif
dari pada perempuan.
dkk kondisi ini menjadi mungkin dengan
pemikiran bahwa agresi yang dilakukan in-
dividu tadi dapat mengurangi marah yang ia 3. Kebudayaan
alami. Penyebab timbulnya agresi
adalah faktor kebudayaan. Lingkungan
geografis, seperti pesisir atau pantai
Agresi tidak selalu muncul karena
frustrasi. Hukuman verbal atau fisik juga menunjukan karakter lebih keras
menjadi salah satu penyebab agresi. Con- daripada masyarakat yang hidup di
tohnya kasus pemukulan 7 siswa terhadap pedalaman. Nilai dan norma yang
kepala sekolah yang terjadi di SMK Mu- mendasari sikap dan tingkah laku di
hammadiyah 1 Kabupaten Bantul, Yogya- masyarakat juga berpengaruh terhadap
karta. Pemukulan ini terjadi karena kekece- agresivitas satu kelompok.
waan salah seorang siswa yang tidak naik
kelas sehiingga siswa tersebut menjadi frus- 4. Situasional
trasi (Kompas, 2008). Menyepelekan dan
merendahkan sebagai ekspresi sikap arogan Penelitian terkait dengan
atau sombong, predictor yang kuat bagi cuaca dan tingkah laku menyebutkan
munculnya agresi. bahwa ketidaknyamanan akibat panas
menyebabkan kerusuhan dan bentuk-
2. Faktor Personal bentuk agresi lainnya. Hal yang paling
sering muncul ketika udara panas adalah
Faktor personal ini meliputi: timbulnya rasa tidak nyaman yang berujung
pada meningkatnya agresi sosial.
a. Pola tingkah laku berdasarkan keprib-
adian. Individu dengan pola tingkah 5. Sumberdaya
laku A cenderung lebih agresif daripa-
da individu dengan pola tingkah laku Daya dukung alam terhadap
B. Menurut Fieldman, Tipe A identik
kebutuhan individu tak selamanya
dengan karakter terburu-buru, kom-
petitif, tingkah laku yang ditunjukkan mencukupi. Oleh karena itu, dibutuhkan
oleh individu tipe B adalah bersikap upaya lebih untuk memenuhi kebutuhan
sabar, kooperatif, nonkompetisi, dan tersebut. Diawali dengan tawar-menawar,
non agresif (Feldman, Papalia, & Old, jika tidak mencapai kata sepakat, maka akan
2008). terbuka dua kemungkinan besar, pertama

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 159

mencari sumber pemenuhan kebutuhan lain, mengendalikan amarah.


kedua mengambil paksa dari pihak yang 4. Hostility (Permusuhan), merupakan
memilikinya. perilaku agresi yang covert (tidak
terlihat). Hostility terdiri dari dua bagian,
6. Media Massa yaitu resentment (kemarahan,dendam,
kebencian, kesebalan) seperti cemburu
Tayangan dari televisi berpotesi dan iri terhadap orang lain, dan suspicion
besar diimitasi oleh penontonnya. Beberapa seperti ketidakpercayaan, kekhawatiran,
penelitian tentang televisi dan kekerasan dan proyeksi dari rasa permusuhan orang
lebih banyak dilakukan baik di dalam lain.
negeri maupun diluar negeri secara teoritis
penjelasan dari kajian ini mengarah pada Definisi Remaja laki-laki Sekolah
teori belajar sosial. Menengah Atas

Remaja didefinisikan sebagai suatu


Bentuk-bentuk Perilaku Agresif periode perkembangan dari transisi antara
masa anak-anak dan dewasa, yang diikuti
Buss & Perry merumuskan agresivitas
oleh perubahan biologis, kognitif, dan
menjadi empat bentuk(Buss & Perry, 1992),
sosioemosional (Santrock, 1998). Menurut
sebagai berikut:
Konopka, remaja laki-laki di SMA adalah
1. Physical Aggression (Agresif Fisik),
mereka dengan usia rata-rata 15 – 18 tahun
perilaku agresi yang dapat diobservasi
termasuk pada fase remaja madya (Yusuf,
(terlihat/overt), Physical Aggression
2012).
adalah kecenderungan individu untuk
melakukan serangan secara fisik untuk Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
mengekspresikan kemarahan atau Remaja
agresi. Bentuk serangan fisik tersebut
dapat berupa memukul, mendorong, 1. Lingkungan Keluarga
menendang, mencubit dan lain
sebagainya. a. Keberfungsian Keluarga, keluarga
2. Verbal Aggression (Agresif Verbal), memiliki peran yang sangat penting
perilaku agresi yang dapat diobservasi dalam upaya mengembangkan pribadi
anak. Keluarga juga dipandang
(terlihat/overt). Verbal Aggression
sebagai institusi yang dpat memenuhi
adalah kecenderungan untuk menyerang kebutuhan insani (manusiawi). Fungsi
orang lain yang dapat merugikan dan dasar keluarga adalah memberikan rasa
menyakitkan kepada individu lain memiliki, rasa aman, kasih sayang dan
secara verbal, yaitu melalui kata-kata mengembangkan hubungan yang baik di
atau penolakan. Bentuk serangan verbal antara anggota keluarga.
seperti cacian, ancaman, mengumpat,
b. Kelas Sosial dan Status Ekonomi,
atau penolakan. pengaruh status sosial ekonomi terhadap
3. Anger (Kemarahan), beberapa bentuk kepribadian remaja adalah orangtua
anger adalah perasaan marah, kesal dari status ekonomi rendah cenderung
dan bagaimana cara mengontrol lebih menekankan kepatuhan kepada
hal tersebut. Termasuk didalamnya figur-figur yang mempunyai otoritas;
irrtability (sifat lekas marah), yaitu kelas menengah dan atas cenderung
mengenai tempramental, kecenderungan menekankan kepada pengembangkan
untuk cepat marah, dan kesulitan untuk inisiatif, keingintahuan dan kreativitas
anak (Sarwono, 2012).

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


160 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

2. Lingkungan Sekolah Aspek kepribadian remaja yang


berkembang dalam pengalamannya bergaul
Hurlock mengemukakan bahwa dengan teman sebaya, adalah:
sekolah merupakan faktor penentu bagi
perkembangan kepribadian anak (siswa) a. Social cognition: kemampuan untuk
baik dalam cara berpikir, bersikap maupun memikirkan tentang pikiran, perasaan,
cara berprilaku (Yusuf, 2012). motif dan tingkah laku dirinya dan
orang lain. Kemampuan ini berpengaruh
Sekolah yang sehat, didefiniskan terhadap minatnya untuk bergaul atau
membentuk persahabat degan teman
sebagai kemampuan sekolah untuk
sebayanya (Sigelman & Shaffer, 1995).
berkembang, atau berubah dalam cara-cara
yang produktif. Miles membagi sekolah b. Konformitas (conformity): terjadi apabila
yang sehat menjadi tiga bidang (Yusuf, individu mengadopsi sikap atau perilaku
2012), yaitu: orang lain karena merasa didesak oleh
orang lain (baik desakan nyata atau
a. Task Accomplistment (Penyelesaian hanya bayangan saja) (Santrock J. W.,
tugas), yang menyangkut:a) alasan 2007). Desakan untuk conforms pada
yang jelas, dapat diterima, dapat dicapai teman-teman sebaya cenderung sangat
dan tujuan yang tepat, b) relatif lancar kuat selama masa remaja.
dalam berkomunikasi, baik sevara
horizontal maupun vertikal ,dan c)
Keinginan remaja untuk di terima
penyamaan kekuatan yang optimal,
gaya yang mempengaruhi kolaborasi, ditengah-tengah kelompoknya dan tidak
dan didasarkan pada kompetensi dan dikeluarkan oleh kelompoknya ditentukan
pemecahan masalah. oleh tingkat kekuatan tekanan yang diberikan
kelompok pada remaja, untuk mencapai
b. Integrasi Internal, yang menyangkut: a) tujuan tersebut maka remaja akan berusaha
pemanfaatan sumber daya yang penuh,
untuk konformitis dalam segala hal agar dapat
b) identitas sekolah yang cukup jelas
dan menarik sehingga para personelnya diterima ditengah-tengah kelompok (Hurlock,
merasa menyatu dengan skolah, dan c) 1999).
para personel memiliki semangat kerja
yang tinggi, merasa senang dan merasa Keterkaitan antara konformitas dengan
memiliki sekolah. perilaku agresif pada remaja, secara khusus
kelompok teman sebaya berperan penting
c. Saling beradaptasi antar sekolah bagi dalam timbulnya sikap agresif. Dilihat
dengan lingkungan, yaitu menyangkut:
a) inovatif, kecenderungan untuk juga dari beberapa kasus tawuran yang terjadi
berkembang dan berubah setiap saat, hal tersebut akibat dari ajakan teman-teman
b) otonomi, kemampuan untuk berbuat, sebayanya.
bertindak berdasarkan kekuatan
sendiri, c) adaptasi, baik disekolah Tugas Perkembangan Remaja
dan lingkungan yang terjadi secara
berkesinambungan, selama terjadinya Havighurst mengemukakan bahwa
kontak antara sekolah dengan lingkungan setiap individu pada setiap tahapan usia
tersebut, dan d) ketepatan memecahkan mempunyai tujuan untuk mencapai suatu
masalah, kemampuan sekolah untuk kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap
mendetesi masalah yang munculnya tak dan fungsi tertentu, sesuai dengan kebutuhan
dapat dielakkan. pribadi yang timbul dari dalam dirinya sendiri
dan tuntutan yang datang dari masyarakat di
3. Kelompok Teman Sebaya sekitanya (Sarwono, 2012).

Secara rinci, Havighurst (Sarwono,

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 161

2012) menjelaskan tugas perkembangan itu: yang mewakili DKI Jakarta.


1. Menerima kondisi fisik dan
menggunakannya secara efektif Penelitian ini menggunakan kuesioner
2. Menerima hubungan yang lebih yang dikembangkan oleh Buss&Perry (1992)
matang dengan teman sebaya dari jenis tentang agresivitas yang kemudian di adaptasi
kelamin mana pun. oleh peneliti dengan perubahan seperlunya
3. Menerima peran jenis kelamin masing- berdasarkan kebutuhan penelitian.
masing
4. Berusaha melepaskan diri dari HASIL PENELITIAN
ketergantungan emosi terhadap
orangtua dan orang dewasa lainnya. Berdasarkan penyebaran insturmen
5. Mempersiapkan karier ekonomi the Aggression Questionare yang berisi 29
6. Mempersiapkan perkawinan dan butir pernyataan dari total 523 responden,
kehidupan berkeluarga diperoleh hasil sebanyak 55 responden (10.5%)
7. Merencanakan tingkah laku sosial memiliki agresivitas rendah, 448 responden
yang bertanggung jawab (85.7%) memiliki tingkat agresivitas pada
8. Mencapai sistem nilai dan etika tertentu kategori sedang dan 20 responden (3.8%)
sebagai pedoman tingkah lakunya. memiliki tingkat agresivitas yang tinggi. Dapat
disimpulkan bahwa mayoritas remaja laki-
Dengan kata lain remaja dituntut laki siswa SMA Negeri DKI Jakarta memiliki
untuk belajar hal baru dalam memasuki tahap tingkat agresivitas sedang cenderung tinggi.
dewasa. Tuntutan ini biasanya menimbulkan Hasil secara rinci disajikan pada Tabel 1
kebingungan bagi remaja. Hal ini dikarenakan berikut:
tugas perkembangan diatas juga ditentukan
oleh tiga faktor lain yaitu kematangan fisik, Rentang
desakan dari masyarakat dan motivasi dalam Kategori F P
Skor
diri (Jensen, 1985)
x<68 Rendah 55 10,5%
METODE PENELITIAN
68<x<106 Sedang 448 85,7%
Penelitian ini bertujuan untuk 106<x Tinggi 20 3,8%
mengetahui gambaran mengenai agresivitas Jumlah 523 100%
pada remaja laki-laki di SMA Negeri DKI
Jakarta. Metode yang digunakan dalam Tabel 1 Kategorisasi Hasil Penelitian
penelitian ini adalah metode survey yang
bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif adalah 1. Gambaran Agresivitas Remaja Laki-
penelitian yang bertujuan untuk menerangkan Laki ditinjau dari Jenjang Kelas.
suatu fenomena yang sedang terjadi (Rahmat &
Badrujaman, 2007). Misalnya pada penelitian
Secara keseluruhan, gambaran
ini akan tingkat agresivitas remaja laki-laki
agresivitas remaja laki-laki siswa SMA
SMA melalui penelitian deskriptif.
Negeri DKI Jakarta dapat dijabarkan
Pada penelitian ini, yang menjadi berdasar data per-jenjang kelas seperti
populasi adalah remaja laki-laki siswa SMA dalam Tabel 2 berikut:
Negeri di DKI Jakarta. Teknik pengambilan
sampel yang digunakan adalah Gugus
Kategorisasi
Bertahap Ganda (dua atau lebih) Multistages Kelas Jumlah
Tinggi Sedang Rendah
Random Sampling. Sehingga, dengan teknik
X F 12 201% 27 240
pengambilan sampling ini diperoleh total
P 5% 83,75 11,25% 100%
sampel penelitian 523 siswa sebagai responden

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


162 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

XI F 7 216 23 246 Kategorisasi


Wilayah DKI Jumlah
P 2,8% 87,8% 9,4% 100% Tinggi Sedang Rendah
XII F 1 31 5 37 Jak-Bar F 7 97 6 110
P 2,7% 83,8% 13,5% 100% P 6,4% 88,2% 5,4% 100%
Jak-Pus F 6 74 7 87
P 6,9% 85,1% 8% 100%
Tabel 2 Gambaran Agresivitas Remaja
Jak-Tim F 2 100 18 120
Laki-laki Siswa SMA Negeri DKI Jakarta Per-
jenjang Kelas P 1,7% 83,3% 15% 100%
Jak-Sel F 2 82 11 95
Dapat disimpulkan bahwa baik P 21% 86,3% 11,6% 100%
kelas X, XI dan XII memilki persentase Jak-Ut F 3 95 13 111
tingkat agresivitas dengan kategori sedang. P 2,7% 85,6% 11,7% 100%
Artinya, remaja laki-laki siswa SMA Negeri
di DKI Jakarta memiliki tingkat agresivitas
dengan kategori sedang. Perbandingan Tabel 3 Gambaran Agresivitas Remaja
persentase berdasarkan jenjang kelas dapat Laki-laki Siswa SMA Negeri Per-Wilayah DKI
Jakarta
divisualisasikan dalam Grafik 1:
Dari setiap wilayah kota di-DKI
Jakarta menunjukan gambaran agresivitas
yang sedang sebagai persentase paling
tinggi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan
bahwa mayoritas remaja laki-laki siswa
SMAN di DKI Jakarta memiliki agresivitas
yang sedang. Dapat diketahui di wilayah
Jakarta Pusat memiliki tingkat agresivitas
yang tinggi di bandingkan dengan wilayah
Gambar 1 Perbandingan Persentase lainnya dengan persentase 6.9%. Hal ini
Berdasarkan Jenjang Kelas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan
Neta S Pane (Ketua Presidium Indonesia
2. Gambaran agresivitas Remaja Laki-laki Police Watch (IPW)) sejumlah wilayah di
ditinjau dari wilayah. DKI Jakarta masih rawat tindak kriminalitas,
menurutnya Jakarta Pusat memiliki
Secara Keseluruhan, gambaran kriminalitas tinggi. Kemiskinan dan faktor
agresivitas remaja laki-laki siswa SMA lingkungan menjadi hal pemicu tindak
Negeri DKI Jakarta dapat dijabarkan per kriminal (Alfian, 2016). Sejalan dengan
sekolah seperti dalam Tabel 3 berikut: pendapat Neta, berdasarkan data Pemprov
DKI Jakarta mengenai kawasan rawan
konflik Provinsi DKI Jakarta, menyebutkan
bahwa pada wilayah Jakarta Pusat penyebab
timbulnya konflik dikarenakan rumah tangga
miskin dan tingkat kepadatan penduduk
yang tinggi jika dibandingkan dengan luas
wilayah Jakarta Pusat (Ratiyono, 2016).
kemudian wilayah Jakarta Barat memiliki
agresivitas yang sedang dengan persentase
tertinggi yaitu 88.2%, pada wilayah Jakarta
Timur memiliki gambaran agresivitas yang
rendah dengan persentase tertinggi sebesar

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 163

15%. kategori sedang sebanyak 72.7% dan agresi


verbal dengan kategori tinggi sebanyak
21.8%, kemudian pada aspek permusuhan
3. Gambaran Agresivitas Remaja Laki-laki tingkat agresivitas terkategori sedang
Berdasarkan Aspek sebanyak 77.3% yang menjadi persentase
terbesar dari seluruh aspek agresivitas
Aspek agresivitas remaja laki-laki dan terkategori tinggi 15.1%. Sedangkan
siswa SMA Negeri di DKI Jakarta memiliki pada aspek kemarahan tingkat agresivitas
empat aspek yang aka diukur yaitu agresi fisik remaja laki-laki memiliki kecenderungan
(physical aggression), agresi verbal (verbal sedang hingga rendah dengan persentase
aggression), kemarahan (anger), dan sikap 67.9% terkategorisasi sedang dan
permusuhan (hostility). Secara keseluruhan 21.8% terkategorisasi rendah. Adapun
memiliki proporsi yang berbeda. Perbedaan perbandingan persentase di tiap-tiap aspek
terlihat dari jumlah butir dari setiap aspek divisualisasikan dalam grafik berikut:
yang berbeda sesuai dengan aspek masing-
masing aspek sehingga secara keseluruhan
pemetaan tingkat agresivitas remaja laki-
laki perlu dilakukan per Aspek untuk
memperoleh hasil yang menggambarkan
gambaran agresivitas, seperti dalam tabel 4
berikut:

Kategorisasi
Aspek Tinggi Sedang Rendah
F P F P F P
Agresi
86 16,1% 375 71% 61 11,7%
Fisik
Agresi
110 21% 350 72% 33 67%
Verbal
Kemarah
Grafik 2 Perbandingan Persentase
54 10,3% 355 57,9% 114 21% Berdasarkan Aspek Agresivitas
an
Permusuh KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN
70 15% 404 77,3% 40 75%
an SARAN

Kesimpulan
Tabel 4 Gambaran Agresivitas Remaja
Laki-laki Siswa SMA Negeri di DKI Jakarta Per-
Berdasarkan hasil penelitian gambaran
Aspek
agresvitas remaja laki-laki siswa SMA Negeri
Berdasarkan persentase di tiap- DKI Jakarta yang telah dipaparkan sebelumnya,
tiap aspek agresivitas remaja laki-laki, dapat disimpulkan bahwa:
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa 1. Berdasarkan hasil penelitian diatas
tiga dari empat aspek agresivitas memiliki gambaran agresivitas pada remaja
kecenderungan tingkat agresivitas sedang laki-laki siswa SMA Negeri di DKI
hingga tinggi pada aspek agresi fisik, agresi Jakarta terkategorisasi sedang dengan
verbal dan permusuhan dengan persentase persentase sebesar 85.7%.
pada agresi fisik yang sedang 71.9% dan 2. Gambaran agresivitas pada remaja
agresi fisik terkategorisasi tinggi sebanyak laki-laki siswa SMA Negeri di DKI
16.4%. persentase pada agresi verbal Jakarta setiap aspek menunjukan hasil
yang tinggi pada kategori sedang
Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016
164 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

dengan persentase sebagai berikut pada Siswa laki-laki kelas XI menjadi jenjang
aspek agresi fisik 71.9%, aspek agresi kelas dengan persentase agresivitas yang tinggi
verbal 72.7%, pada aspek kemarahan dibandingkan kelas X dan Kelas XII. Hal ini
memperoleh persentase sebesar 67.9% mungkin terjadi karena siswa kelas XI memiliki
dan pada aspek permusuhan 77.3%. kecenderungan menunjukan keberadaan diri
3. Aspek permusuhan menunjukan hasil kepada orang lain memungkinkan remaja laki-
yang tinggi pada kategori sedang laki melakukan tindakan agresi tersebut.
dengan persentase 77.3% yang
menjadikan aspek ini menjadi aspek Pada lima wilayah DKI Jakarta,
dengan persentase tertinggi. Artinnya, mayoritas tingkat agresivitas remaja perwilayah
remaja laki-laki menilai dirinya terkategorisasi sedang cenderung tinggi dengan
memiliki kecenderungan menyimpan persentase diatas 80%. Di wilayah Jakarta
dendam, kemarahan, kebencian, Pusat memiliki persentase kategori tertinggi
ketidakpercayaan, kekhawatiran, rasa dengan 6.9% jika di bandingkan dengan
permusuhan dengan orang lain. wilayah di DKI Jakarta lainnya. Hal ini sesuai
4. Remaja laki-laki kelas XI memiliki dengan pendapat yang dikemukakan Neta S
tingkat agresivitas yang tinggi pada Pane (Ketua Presidium Indonesia Police Watch
kategori sedang dengan persentase (IPW)) sejumlah wilayah di DKI Jakarta masih
87.8% lebih tinggi dibandingkan rawat tindak kriminalitas, menurutnya Jakarta
dengan kelas X dan kelas XII dari Pusat memiliki kriminalitas tinggi. Kemiskinan
jumlah responden per-jenjang kelas. dan faktor lingkungan menjadi hal pemicu
5. Dari lima wilayah di DKI Jakarta yang tindak kriminal (Alfian, 2016). Sejalan dengan
memiliki tingkat agresivitas tinggi pendapat Neta, berdasarkan data Pemprov
terdapat di wilayah Jakarta Pusat DKI Jakarta mengenai kawasan rawan
dengan persentase 6.9%, kemudian konflik Provinsi DKI Jakarta, menyebutkan
wilayah Jakarta selatan memiliki bahwa pada wilayah Jakarta Pusat penyebab
agresivitas yang sedang dengan timbulnya konflik dikarenakan rumah tangga
persentase tertinggi yaitu 86.3%, miskin dan tingkat kepadatan penduduk yang
pada wilayah Jakarta Timur memiliki tinggi jika dibandingkan dengan luas wilayah
gambaran agresivitas yang rendah Jakarta Pusat (Ratiyono, 2016).
dengan persentase tertinggi sebesar
15%. Saran
1. Bagi Pihak Sekolah, penelitian
Implikasi ini dapat menjadi bahan referensi
kepada sekolah untuk dilakukannya
Berdasarkan hasil penelitian yang pengarahan mengenai kecerdasan
telah dilaksanakan, terdapat beberapa hal yang emosional khususnya dalam
dapat dikaji dan dipelajari bersama mengenai melakukan pelatihan ESQ (Emotional
agresivitas remaja laki-laki siswa SMA Negeri Spiritual Quotient) kepada siswa yang
di DKI Jakarta. Tingkat agresivitas pada remaja memiliki tingkat agresivitas sedang
laki-laki siswa SMA Negeri di DKI Jakarta hingga tinggi.
yang memiliki kecenderungan tinggi ada pada 2. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
aspek permusuhan yang kemudian diikuti di Sekolah, penelitian ini kemungkinan
dengan agresi verbal. Permusuhan merupakan dapat menjadi referensi untuk
kecenderungan menyimpan dendam, memaksimalkan layanan responsif
kemarahan, kebencian, ketidakpercayaan, dalam bentuk; konseling individu
kekhawatiran, rasa permusuhan dengan orang dan konseling kelompok dengan
lain. pendekatan yang sesuai dengan
agresivitas dan memberikan layanan

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 165

dasar berupa bimbingan klasikal dan Feldman, R. D., Papalia, D. E., & Old, S. W. (2008).
juga parenting workshop kepada Human Development. Jakarta: Kencana.
orangtua siswa.
Hidayat, D. R. (2011). Teori dan Aplikasi Psikologi
3. Bagi Orangtua, dapat menciptakan
Kepribadian Dalam Konseling. Bogor:
lingkungan keluarga yang saling Ghalia Indonesia.
mendukung, berdialog mengenai
berbagai hal agar tumbuh kepercayaan Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan
pada diri anak untuk terbuka dan Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan.
orangtua dapat memberi masukan agar Jakarta: Erlangga.
anak tidak salah dalam mengambil
Hurlock, E. (1999). Psikologi Perkembangan:
keputusan. Suatu Pendekatan Sepanjang Ruang
4. Bagi Prgoram Studi Bimbingan dan Kehidpan Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
Konseling, hasil penelitian ini dapat
menjadi bahan untuk mengembangkan Jensen, J. C. (1985). Adolescence: Theories,
konten materi kuliah khususnya pada Research, Applications. St. Paul, San
pemberian tugas berkaitan dengan Fransisco: West Publishing Co.
agresivitas siswa agar sesuai dengan
Kasus Tawuran Tertinggi Terjadi di Jakarta Timur.
keadaan di Lapangan (Sekolah). (2015, Juli 27). Dipetik November 4, 2016,
5. Mahasiswa Program Studi dari www.beritasatu.com: http://www.
Bimbingan dan Konseling dapat beritasatu.com/megapolitan/294154-
menggunakan hasil penelitian ini kasus-tawuran-tertinggi-terjadi-di-
sebagai alternatif referensi untuk jakarta-timur.
dilakukannya penelitian selanjutnya
berupa bimbingan maupun konseling Rahmat, D., & Badrujaman, A. (2007). Diklat
Kuliah Metodologi Penelitian. Jakarta:
pada siswa yang memiliki tingkat
Jurusan BK FIP UNJ.
agresivitas yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA Ratiyono. (2016, Febuari). Dipetik Febuari 8,
Abdul, A. H. (2014). Psikologi Sosial: Integrasi 2017, dari www.jakarta.go.id.
Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan
Empirik. Jakaarta: PT Rajagrafindo Santrock, J. W. (1998). Adolescence (7th edition).
Persada. New Yorl: McGraw Hill.

Alfian, T. (2016, Januari 25). Jakarta Pusat Rawan Santrock, J. W. (2007). Psikologi Pendidikan Ed.
Kejahatan. Dipetik Febuari 8, 2017, 2. Jakarta: Prenada Media Grup.
dari www.harnas.com: http://m.harnas.
co/2016/01/25/jakarta-pusat-rawan- Sarwono, S. W. (2012). Prikologi Remaja. Jakarta:
kejahatan Rajawali Pers.

Berkowitz, R. A. (1993). Aggression: Its Causes, Sarwono, S. W., & Meinarno. (2009). Psikologi
Consequences, and Control. USA: Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
McGraw-Hill, Inc.
Schneider, A. A. (1964). Personal Adjustment and
Buss, A. H., & Perry, M. P. (1992). The Aggression Mental Health. New York: Holt, Rinchant
Questionare. Journal of Personality and & Winston.
Psychology , 452 - 459.
Sigelman, C. K., & Shaffer, D. R. (1995). Life Span
Chaplin, J. P. (2002). Kamus Lengkap Psikologi. human Development. California: brooks/
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Cole Publishing Company.

Dayakisni, T., & Yuniarsi, S. (2008). Psikologi Sya’ran, N. (2007). Maskulinitas dalam Iklan
Lintas Budaya. Malang: UMM Press. Gudang Garam: Analisis Semiotik atas
Iklan Gudang Garam. Yogyakarta.

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


166 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

Yusuf, S. L. (2012). Perkembangan Peserta Didik. semua pernyataan. Atas perhatian dan
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

Instrumen Agresivitas Remaja Identitas Diri


Laki-laki Nama : ____________________ Kelas
Tujuan Penelitian : M e m p e r o l e h : __________ Usia : ______ Tahun
informasi serta Petunjuk Pengisian Instrumen
data empiris
m e n g e n a i Bacalah setiap butir pernyataan dengan
g a m b a r a n teliti kemudian pilihlah salah satu dari 5
agresivitas pada alternatif jawaban yang sesuai dengan diri
remaja laki-laki di anda dengan memberikan tanda cek list
SMA Negeri DKI (√) pada kolom yang di sediakan.
Jakarta
STS : Bila pernyataan tersebut sangat
Dosen Pembimbing I : Dr. Susi Fitri tidak sesuai dengan diri anda
S.Pd., M.Si.,Kons
TS : Bila pernyataan tersebut tidak
Dosen Pembimbing II : Dra. Meithy Intan sesuai dengan diri anda
R.L., M. Pd
N : netral
Nama Peneliti : Dewi Puspasari
S : Bila pernyataan tersebut sesuai
Kontak : 081315192757 / dengan diri anda
dewi.puspasari.
SS : Bila pernyataan tersebut sangat
kuliah@gmail.
sesuai dengan diri anda
com

Instrumen ini merupakan alat


ukur yang digunakan untuk mengetahui
gambahwan agresivitas remaja laki-laki.
Anda diminta untuk mengisi instrumen
ini dengan sejujurnya sesuai dengan
keadaan diri sendiri. Tidak ada jawaban
yang benar atau salah, jawaban anda
akan dijaga kerahasiaannya dan
tidak akan mempengaruhi nilai anda
dalam pelajaran sekolah. Mohon
periksa kembali jawaban anda, sebelum
dikumpulkan. Pastikan anda menjawab

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan 167

No Pernyataan STS TS N S SS
Jika seseorang memukul saya, maka saya
1.
akan membalasnya.
Saya seseorang yang mudah marah tapi
2.
mudah untuk reda (tidak marah lagi)
Saat merasa kecewa, saya akan menunjuk-
3.
kan kejengkalan saya.
Terkadang, saya tidak bisa menahan keingi-
4.
nan diri saya untuk menyerang orang lain.
Saya merasa menjadi seseorang yang mu-
5.
dah termakan oleh rasa cemburu
6. Saya sulit dalam mengendalikan emosi.
Orang lain nampaknya mendapatkan kebe-
7.
runtungan (bernasib baik).
Beberapa teman saya menganggap saya
8.
adalah orang yang pemarah
Ada beberapa orang yang mendesak (me-
9. mancing emosi) saya terlalu parah sehing-
ga kami berkelahi.
Saya akan memberitahukan kepada teman
10. saya secara terang-terangan ketika saya ti-
dak setuju dengan mereka
Ketika saya rasa seseorang mengganggu
11. saya, saya akan katakan terus terang pada
mereka
Ketika seseorang baik kepada saya, saya
12.
menduga mereka ada maunya
Saya sering terlibat dalam pertengkaran
13.
lebih dari orang-orang pada umumnya.
Saya sering kali merasa tidak sependapat
14.
dengan orang lain.
15. Saya orang yang mudah marah
Saya mengetahui bahwa beberapa “teman”
16.
membicarakan saya dibelakang saya.

Terkadang saya merasa orang-orang men-


17.
ertawakan saya dibelakang saya.

Terkadang saya merasa saya telah mem-


18. perlakukan seseorang dengan tidak adil da-
lam hidup.
Saya akan memukul orang lain jika cend-
19.
erung menghasut.
Saya pernah mengancam orang yang saya
20.
kenal

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016


168 Pengaruh Metode The Six Thinking Hats Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Emo-

No Pernyataan STS TS N S SS
Saya akan terlibat dalam perdebatan keti-
21. ka orang-orang tidak sependapat dengan
saya.
Terkadang saya merasa seperti bom yang
22.
siap diledakkan.
Terkadang saya hilang kesabaran tanpa
23.
alasan yang jelas.

Teman-teman berkata bahwa saya orang


24.
yang agak membangkang.

Saya akan merusak sesuatu, jika saya san-


25.
gat marah

Jika saya terpaksa harus menggunakan ke-


26. kerasan untuk melindungi hak saya, maka
saya akan melakukannya.

Saya bertanya-tanya penyebab dari


27.
perasaan sedih yang saya rasakan

Saya pikir tidak ada alasan yang baik dalam


28.
memukul seseorang.
Saya curiga pada orang asing yang terlalu
29.
ramah

Terima Kasih 

Jika ada pertanyaan dan hal lain berkaitan dengan instrumen / penelitian ini dapat
menghubungi saya pada kontak diatas.

Insight : Jurnal Bimbingan Konseling Volume 5(2) Desember 2016