Anda di halaman 1dari 8

PERUBAHAN FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa
gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus
menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di luar
rahim (ekstrauterin).

Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan
interna (dalam kandungan ibu) yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (oksigen dan
nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya
memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya.

A. Perubahan Sistem Pernapasan

Pada saat bayi lahir, dinding alveoli disatukan oleh tegangan permukaan cairan kental
yang melapisinya. Diperlukan lebih dari 25 mmHg tekanan negatif untuk melawan pengaruh
tegangan permukaan tersebut dan untuk membuka alveoli untuk pertama kalinya. Untungnya
pernapasan bayi baru lahir yang pertamakali sangat kuat, biasanya mampu menimbulkan tekanan
negatif sebesar 50 mmHg dalam ruang intrapleura.

Pada bayi baru lahir, kekuatan otot – otot pernapasan dan kemampuan diafragma untuk
bergerak, secara langsung mempengaruhi kekuatan setiap inspirasi dan ekpirasi. Bayi yang baru
lahir yang sehat mengatur sendiri usaha bernapas sehingga mencapai keseimbangan yang tepat
antar-oksigen, karbon dioksida, dan kapasitas residu fungsional. Frekuensi napas pada bayi baru
lahir yang normal adalah 40 kali permenit dengan rentang 30 – 60 kali permenit (pernapasan
diafragma dan abdomen) apabila frekuensi secara konsisten lebih dari 60 kali per menit, dengan
atau tanpa cuping hidung, suara dengkur atau retraksi dinding dada, jelas merupakan respon
abnormal pada 2 jam setelah kelahiran.

Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut :

1. Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasi mekanik)

2. Penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 merangsang kemoreseptor yang terletak di


sinus karotikus (stimulasi mekanik).

3. Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di salam uterus (stimulasi
sensorik).

4. Refleks deflasi Hering Breur.

Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :

1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
2) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru - paru secara mekanis.
Interaksi antara sistem pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan
pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk
kehidupan.

3) Penimbunan karbondioksida (CO2). Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam
darah dan akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan
pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat
gerakan pernapasan janin.

4) Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.

B. Perubahan Pada Sistem Sirkulasi

Aliran darah fetal bermula dari vena umbilikalis, akibat tahanan pembuluh paru yang
besar (lebih tinggi dibanding tahanan vaskular sistemik) hanya 10% dari keluaran ventrikel
kanan yang sampai paru, sedangkan sisanya (90%) terjadi shunting kanan ke kiri melalui duktus
arteriosus bottali.

Pada waktu bayi lahir, terjadi pelepasan dari plasenta secara mendadak (saat umbilical
cord dipotong/dijepit), tekanan atrium kanan menjadi rendah,tahanan pembuluh darah sistemik
(SVR) naik dan pada saat yang sama paru mengembang,tahanan vaskular paru menyebabkan
penutupan foramen ovale, setelah beberapa minggu,aliran darah di duktus arteriosus bottali
berbalik dari kiri ke kanan. Kejadian ini disebut sirkulasi transisi. Penutupan duktus arteriosus
secara fisiologis terjadi pada umur bayi 10-25 jam yang di sebabkan kontraksi otot polos pada
akhir atreri pulmonalis dan secara anatomis pada usia 2-3 minggu.

Pada neonatus, reaksi pembuluh darah masih sangat kurang sehingga keadaan kehilangan
darah, dehidrasi,dan kelebihan volume juga sangat kurang untuk di toleransi. Manajemen cairan
pada neonatus harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Tekanan sistolik merupakan indikator
yang baik untuk menilai sirkulasi volume darah dan dipergunakan sebagai parameter yang
adekuat terhadap penggantian volume. Otoregulasi aliran darah otak pada bayi baru lahir tetap
terpelihara normal pada tekanan sistemik antara 60-130 mmHg. Frekuensi nadi bayi rata-rata
120x/menit dengan tekanan darah sekitar 80/60 mmHg.
Adaptasi ke kehidupan ekstrauterin

a. Setelah anak lahir anak bernapas untuk pertama kalinya.maka, terjadilah penurunan
tekanan dalam arteri pulmonalis sehingga banyak darah yang mengalir ke paru-paru.

b. Ductus arteriosus tertutup satu sampai dua menit setelah anak bernapas
c. Dengan terguntingnya tali pusat, darah dalam vena cava inferior berkurang. Dengan
demikian, tekanan dalam atrium atau serambi kanan berkurang.

d. Sebaliknya, tekanan dalam atrium kiri bertambah sehingga menyebabkan penutupan


foramen ovale.

e. Sisa ductus arteri menjadi ligamentum arteriosus.

f. Sisa ductus venosus menjadi ligamentum teres hepatic.

g. Arteri umbilikal menjadi ligamentum pesikoumbilical lateral kiri dan kanan.

Pada umumnya bayi baru lahir (BBL) dilahirkan dengan nilai hemoglobin (Hb) yang
tinggi. Hemoglobin F adalah Hb yang dominan pada periode janin, namun akan lenyap pada satu
bulan pertama kehidupan. Selama beberapa hari pertama. nilai Hb akan meningkat sedangkan
volume plasma akan menurun, akibatnya hematokrit normal hanya pada 51 – 56% neonatus.
Pada saat kelahiran meningkat dari 3% manjadi 6%, pada minggu ke-7, sampai minggu ke-9
akan turun perlahan. Nilai Hb untuk bayi berusia 2 bulan rata-rata 12 g/dl.

Sedangkan darah merah BBL memiliki umur yang singkat, yaitu 80 hari , sedangkan sel
darah merah orang dewasa berumur 120 hari. Pergantian sel yang cepat ini menghasilkan lebih
banyak sampah metabolik akibat penghancuran sel termasuk bilirubin yang harus di
metabolisme. Muatan bilirubin yang berlebihan ini menyebabkan ikterus fisiologis yang terlihat
pada bayi baru lahir. Oleh karena itu, terdapat hitung retukulosit yang tinggi pada bayi baru lahir
yang mencerminkan pembentukan sel darah merah baru dalam jumlah besar.

Sel darah putih rata-rata pada bayi baru lahir memiliki rentang dari 10.000 hingga
30.000/mm. Peningkatan lebih lanjut dapat terjadi pada BBL normal selama 24 jam
pertama kehidupan. Pada saat menangis yang lama juga dapat menyebabkan hitung sel darah
putih mengandung granulosit dalam jumlah yang besar.
Perubahan yang terjadi pada saat lahir

1) Penghentian pasokan darah dari plasenta

2) Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru

3) Penutupan foramen ovale

4) Fibrosis

a) Vena umbilicalis

b) Ductus venosus
c) Arteriae hypogastrica

d) Ductus arteriosus

Sirkulasi Neonatal

a. Banyak perubahan dalam sirkulasi ketika kelahiran. Bertambahnya aliran darah pada
sirkulasi pulmonal terjadi akibat turunnya resisten pada sirkulasi pulmonal sehingga paru-
paru mengembang.

b. Tekanan arteri kiri meningkat,sedangkan arteri kanan berkurang mengakibatkan foramen


ovale tertutup.

c. Resisten sirkulasi sistemik lebih tinggi daripada resisten pulmonal dalam masa 24 jam.
Fungsi prostaglandin menyebabkan duktus arteriosus menutup.

d. Arteri-arteri umbilikus mengerut dan aliran darah ke plasenta berhenti.

C. Perubahan pada Sistem Gastrointestinal

Kamampuan absorpsi karbohidrat pada bayi baru lahir kurang efisien, sedangkan
absorpsi monosakarida (glukosa) telah efisien. Regurgitasi pada bayi baru lahir disebabkan oleh
sfingter jantung, sambungan esophagus bawah, dan lambung yang tidak sempurna. Kapasitas
lambung pada bayi baru lahir cukup bulan sangat terbatas, kurang dari 30cc. Hal ini di sebabkan
karena usus bayi baru lahir relatif tidak matur dan sistem otot yang menyusun organ tersebut
lebih tipis dan kurang efisien di bandingkan orang dewasa, sehingga gelombang peristaltiknya
sukar untuk di prediksi. Lipatan dan vili dinding usus belum berkembang sempurna. Sel epitel
yang melapisi usus halus bayi baru lahir tidak berganti dengan cepat sehingga meningkatkan
absorpsi. Awal pemberian makan oral menstimulasi lapisan usus agar matur dengan
meningkatkan pergantian sel yang cepat dan produksi enzim mikrovilus.

Pada awal kehidupan, bayi baru lahir menghadapi proses penutupan usus (permukaan
epitel usus menjadi tidak permeable terhadap antigen). Sebelum penutupan usus bayi akan rentan
terhadap infeksi virus / bakteri dan juga terhadap stimulasi allergen melalui penyerapan molekul-
molekul besar oleh usus. Kolon bayi baru lahir kurang efisien dalam menyimpan cairan daripada
kolon orang dewasa sehingga bayi cenderung mengalami kompilasi kehilangan cairan, misalnya
gangguan diare.

D. Perubahan imunitas
Pada kehamilan 8 minggu telah ditemukan limfosit, dengan tuanya kehamilan maka
limfosit juga banyak di temukan dalam ferifer dan terdapat pula limfe. Sel –sel limfoid
membentuk molekul immunoglobulin gamma G yang merupakan gabungan immunoglobulin
gamma A dan gamma M. Gamma G dibentuk paling banyak setelah 2 bulan bayi dilahirkan.
Gamma G globulin janin di dapat dari ibu melalui plasenta. Bila terjadi infeksi maka janin
mengadakan reaksi dengan plasmasitosis, penambahan penambahan folikel limfoid dan sintesis
gamma M immunoglobulin. Gamma A immunoglobulin telah dapat dibentuk pada kehamilan 2
bulan dan banyak ditemukan segera setelah lahir, khususnya sekret dari traktus
digestifus,respiratorus,kelenjar ludah,pancreas dan traktus urogenital.
Gamma M immunoglobulin meningkat segera setelah bayi dilahirkan setara dengan
keadaan flora normal dalam saluran pencernaan. Akan tetapi bayi hanya dilindungi oleh Gamma
G immunoglobulin dari ibu dan terbatas kadarnya juga kurangnya Gamma A immunoglobulin
yang menyebabkan neonatus berkemungkinan besar rentan infeksi dan sepsis.
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus
rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan
kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh
yang mencegah atau meminimalkan infeksi.
Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
a. perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. fungsi saringan saluran napas
c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung

E. Perubahan Sistem Ginjal

Biasanya sejumlah kecil urine terdapat pada kandung kemih bayi saat lahir tetapi bayi baru
lahir memungkinkan tidak mengeluarkan urine selama 12 - 24 jam. Berkemih sering terjadi selama
periode ini.Berkemih 6-10x dengan warna urine pucat menunjukan masukan cairan yan cukup.
Umumnya, bayi cukup bulan mengeluarkan urine 15 sampai 60 ml per kilogram /hari.
Ginjal janin mulai terbentuk pada kehamilan 12 minggu,dimana dalam kandung kemih
telah ada air kemih yang diekresi kedalam air ketuban.Pada bayi baru lahir,kapasitas kandung
kemih kira-kira 45 cc dan produksi air kemih rata-rata 0,05 – 0,10 cc permenit.Ginjal bayi baru
lahir menunjukkan penurunan aliran darah ginjal dan penurunan kecepatan filtrasi glomerulus.
Kondisi itu mudah meyebabkan retensi cairan dan intoksikasi air. Fungsi tubulus tidak matur
sehingga dapat menyebabkan kehilangan natrium dalam jumlah yang besar dan ketidak
seimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak mampu mengonsentrasikan urine yang baik yang
tercermin dalam berat urine ( 1,004 ) dan osmolitas urine yang rendah. Semua keterbatasan ginjal
ini lebih buruk pada bayi kurang bulan.
Bayi baru lahir mengekskresikan sedikit urine pada 48 jam pertama kehidupan, serinmgkali
hanya 30 hingga 60 ml, seharusnya tidak terdapat protein atau darah dalam urine bayi baru lahir.
Debris sel yang banyak dapat mengidentifikasi adanya cedera atau iritasi di dalam sistem ginjal.
Fungsi ginjal belum sempurna karena :
a. Jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa
b. Ketidakseimbangan luas permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal
c. Renal blood flow relative kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa

F. Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus neonatorum adalah keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir dengan
keadaan meningginya kadar bilirubun di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit,
konjungtiva,mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kucing.
Ikterus juga disebut sebagai keadaan hiperbilirubinemia (kadar bilirubin dalam darah lebih dari
12 mg/dl). Keadaan hiperbilirubinemia merupakan salah satu kegawatan pada BBL karena
bilirubin bersifat toksik pada semua jaringan terutama otak yang menyebabkan penyakit kern
icterus (ensefalopati bilirubin) yang pada akhirnya dapat mengganggu tumbuh kembang bayi.

Ikterus neonatorum dibedakan menjadi 2,yaitu :


a. Neonatorum Fisiologis
Keadaan hiperbirirubin karena faktor fisiologis merupakan gejala normal
dan sering dialami bayi baru lahir.Ikterus ini terjadi atau timbul pada hari ke-2 atau
ke-3 dan tampak jelas pada hari ke-5 sampai dengan ke-6 dan akan menghilang
pada hari ke-7 atau ke-10. kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih
daro 12 mg/dl dan pada BBLR tidak lebih dari 10 mg/dl, dan akan menghilang pada
hari ke-14. Bayi tampak biasa, minum baik dan berat badan naik biasa.
Penyebab ikterus neonatorum fisiologis diantaranya adalah organ hati yang
belum “matang” dalam memproses bilirubin, kurang protein Y dan Z dan enzim
glukoronyl tranferase yang belum cukup jumlahnya. Meskipun merupakan gejala
fisiologis, orang tua bayi harus tetap waspada karena keadaan fisiologis ini
sewaktu-waktu bisa berubah menjadi patologis terutama pada keadaan ikterus yang
disebabkan oleh karena penyakit atau infeksi.

b. Ikterus Neonatorum Patologis


Keadaan hiperbilirubin karena faktor penyakit atau infeksi. Ikterus
neonatorum patologis ini ditandai dengan :
1) Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan; serum bilirubin total lebih
dari 12 mg/dl.
2) Peningkatan kadar bilirubin 5 mg/dl atau lebih dalam 24 jam.
3) Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg% pada bayi kurang bulan
(BBLR) dan 12,5 mg% pada bayi cukup bulan.
4) Ikterus yang disertai proses hemolisis.
5) Bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl, atau kenaikan bilirubin serum 1
mg/dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari.
6) Ikterus menetap sesudah bayi berumur 10 hari (cukup bulan) dan lebih dari
14 hari pada BBLR.

G. Perubahan Sistem Termogulasi


Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami
stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan
rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang
jauh lebih dingin. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga
mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme
menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali
panas tubuhnya. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360C.Suhu normal
pada neonatus adalah 36,5–37.

H. Sistem Metabolisme
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan
penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar
glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat
(1 sampai 2 jam).
Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. melalui penggunaan ASI
b. melaui penggunaan cadangan glikogen
c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan membuat
glukosa dari glikogen (glikogenisasi). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan
glikogen yang cukup. Bayi yang sehat akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama
di hati, selama bulan-bulan terakhir dalam rahim.

Daftar Pustaka
http://www.academia.edu/8408269/perubahan_fisiologis_bayi_baru_lahir_dari_kehidupan_intra
uterin_ke_ekstrauterin