Anda di halaman 1dari 2

Discussion

13% kejadian kambuh dalam penelitian ini dengan 45 pasien dari satu pusat konsisten sesuai dengan
penelitian lainnya. Cassinatet al. melaporkan tingkat kekambuhan 14,6% dari 260 pasien dengan APL
pada sebuah studi multisenter di Prancis. Selain itu, Karimet al. pada sebuah penelitian dengan 26
pasien, menemukan tingkat relaps 11,5% pada molekuler dan sistem saraf pusat (SSP). Dalam analisis
berpasangan dari studi PETHEMA LPA-2005 dan IC-APL-2006, tingkat relaps masing-masing adalah 7,4%
dan 5%. Tanpa relap system saraf pusat terdeteksi. Semua kelompok risiko PETHEMA / GruppoItaliano
Malattie Ematologiche Maligne dell'Adulto (GIMEMA) direpresentasikan pasien yang kambuh dengan
proporsi yang sama dengan penelitian lainnya. Satu-satunya pasien dengan risiko rendah untuk kambuh
memiliki variasi PML bcr3 yang dianggap sebagai faktor prognostik yang buruk.

Hasil penelitian ini konsisten dengan data yang dipublikasikan mengenai usia dan jenis kelamin dari
pasien APL yang relaps. Kedua tipe morfologi lainnya (M3 dan M3v) ditemukan di antara pasien yang
relaps. Dalam satu dari tiga kasus relaps hematologi, terjadi perubahan morfologi dari varian (M3v)
menjadi tipe klasik (M3). Perubahan morfologi pada APL relaps bukan kejadian langka, dan sel leukemia
dapat menunjukkan karakteristik morfologi yang bervariasi pada saat kambuh, yang dapat
menyebabkan misdiagnosis sebagai jenis leukemia myeloid akut yang berbeda seperti yang ditunjukkan
oleh Yoshii et al. Penulis ini merekomendasikan sebuah pendekatan komprehensif. diagnosis dan
penatalaksanaan yang tepat terhadap APL yang kambuh.

Kejadian keseluruhan DS dilaporkan dalam rangkaian seri LPA dari 7,8% sampai 48% . Pada seri ini , satu
kasus, dengan DS selama perawatan awal, mengalami relaps hematologi namun masih hidup. Kelompok
APL Eropa melaporkan peningkatan risiko relaps terlepas dari jumlah sel darah putih pada pasien yang
mengalami DS. Thépot et al. mengatakan bahwa durasi pengobatan dengan ATRA kurang dari 21 hari
selama fase induksi berkaitan dengan tingkat kekambuhan leukemia yang lebih tinggi. Dalam penelitian
ini, pasien rawat inap yang relaps diobati dengan ATRA lebih dari 21 hari dengan rata-rata 30 hari. Tidak
ada kasus resistansi terhadap ATRA yang diidentifikasi karena semua pasien yang diobati mengalami
remisi.

Penelitian saat ini telah menunjukkan tingkat relaps hematologis yang tinggi dibandingkan dengan
relaps molekuler. Dalam penelitian ini , tiga kasus relaps bersifat molekuler dan tiga hematologis.
Pemantauan molekuler transkripsi PML-RARa berguna untuk mengantisipasi relaps hematologis secara
yang jelas. Dengan protokol IC-APL2006 yang merekomendasikan tes setiap tiga bulan selama
sekurangnya dua tahun setelah menyelesaikan pengobatan. Pendekatan ini penting karena sebagian
besar relaps dalam penelitian ini terjadi selama periode ini dengan median 44,5 bulan. Dalam hal ini,
dua kasus relaps hematologis dalam seri ini tidak mengikuti protokol pemantauan secara ketat.
Meskipun sampel yang dianalisis per pasien lebih banyak daripada yang dilaporkan oleh Cassinat dkk.,
yang lebih ketat.

Anjuran modalitas terapi dalam pengaturan penyelamatan untuk pasien APL mencakup
penatalaksanaan dengan ATRA, ATO, atau keduanya, kemoterapi sitotoksik, SCT alogenik and
pendaftaran dalam uji klinis. Pasien yang diobati dengan kemoterapi memiliki kelangsungan hidup yang
lebih rendah dibandingkan dengan yang disertai SCT. Auto-SCT harus dilakukan saat pasien mencapai
MR, namun dapat meningkatkan risiko relaps baru. Pasien dengan auto-SCT memiliki tingkat
kelangsungan hidup dan bebas penyakit yang lebih tinggi daripada mereka yang menjalani SCT alogenik.
SCT Alogenik diindikasikan saat pasien tidak mencapai respons molekuler setelah konsolidasi. Pasien-
pasien ini memiliki remisi yang lebih lama dan tanpa kejadian relaps baru, namun tingkat kematian yang
lebih tinggi karena Grave versus Host Disease (GVHD).

Protokol untuk pasien yang kambuh termasuk ATRA dan Idarubicin plus ATO diikuti oleh auto-SCT,
setelah konfirmasi MR. Empat pasien tidak menerima anthracycline karena kondisi klinis, termasuk satu
pasien yang mengalami serangan jantung pada saat didiagnosis kambuh.

Protokol IC-APL 2006 yang digunakan dalam pada penelitian ini secara signifikan mengurangi tingkat
mortalitas dini dan memperbaiki kelangsungan hidup pasien APL, melampaui semua pasien kontrol.
Peningkatan pengetahuan tentang outcome pasien yang diobati yang mengalami kekambuhan sangat
penting untuk memahami patofisiologi APL dan untuk meningkatkan kelangsungan hidup. Dalam dunia
nyata dari sistem pengiriman layanan kesehatan, biaya dan ketersediaan menjadi masalah bagi pasien
rawat jalan dan dokter, dan menunjukkan pentingnya hasil dari satu sentral. Penelitian ini adalah yang
pertama melaporkan relaps molekul dan hematologis pada kohort pasien APL Brasil yang dikirim ke
protokol IC-APL 2006.

Conclusion

Tidak ada perbedaan dalam variabel klinis-biologis antara pasien dengan atau tanpa relaps. Data dari
penelitian ini juga menunjukkan efikasi protokol pengobatan yang digunakan untuk APL dan pentingnya
pemantauan yang berkepanjangan dengan menggunakan metode molekular untuk mendeteksi relaps
lebih awal guna meningkatkan kesesuaian subkelompok pasien ini.

Conflict of Interest

Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

Ucapan Terimakasih

Penelitian ini didukung oleh American Society of Hema-tology dan Fundac¸ão de Amparo à Ciência e
Tecnologia doEstado de Pernambuco-FACEPE. Penulis berterima kasih kepada UlissesRamos
Montarroyos untuk mendapatkan dukungan statistik.