Anda di halaman 1dari 39

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

LAPORAN KASUS
“ DIARE AKUT DEHIDRASI SEDANG ”
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo

Diajukan Kepada :

Pembimbing : dr. Galuh Ramaningrum, Sp.A

Disusun Oleh :

Harits Hammam Adhadi H2A011023

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak


FAKULTAS KEDOKTERAN – UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo
2017

1
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN ANAK

LAPORAN KASUS

“ DIARE AKUT DEHIDRASI SEDANG ”

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

di Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo

Disusun Oleh:
Harits Hammam Adhadi H2A011023

Telah disetujui oleh Pembimbing:

Nama pembimbing Tanda Tangan

dr. Galuh Ramaningrum, Sp.A .............................

2
BAB I
PENDAHULUAN

Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak


normal dan cair. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, diare diartikan
sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan
frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi
buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1
bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali.1 Penyakit diare merupakan
masalah serius di berbagai tempat di seluruh dunia, dan sering bertumpang tindih
dengan malnutrisi. Diare mengakibatkan kehilangan sejumlah besar air dan
elektrolit, terutama natrium dan kalium, dan komplikasi yang paling sering adalah
asidosis metabolik berat.2 Dalam berbagai hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT), diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab
kematian bayi di Indonesia. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi saluran
cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan
reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan
elektrolit dan keseimbangan asam basa.3
Penyakit Diare merupakan penyebab kesakitan dan kematian di Negara
berkembang terutama akibat dehidrasi dan berujung kepada syok. Di Indonesia
penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, karena
tingginya angka kesakitan dan angka kematian terutama pada balita. Berdasarkan
SDKI tahun 2002 didapatkan insidens diare sebesar 11 %, 55 % dari kejadian diare
terjadi pada golongan balita dengan angka kematian diare pada balita sebesar 2,5
per 1000 balita. Berdasarkan data riskesdas 2013, Insiden dan period prevalence
diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3,5 persen dan 7,0 persen.

BAB II

3
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama anak : An. R
Umur : 8 bulan
Tanggal lahir : 18 April 2016
Agama : Islam
Alamat : Borobudur Utara XIV RT 10
No RM : 513295
Tgl masuk RS : 3 Januari 2017
Jaminan Kesehatan : BPJS Mandiri

Nama bapak : Tn. S


Umur : 32 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SLTP
Alamat : Borobudur Utara XIV RT 10

Nama ibu : Ny. T


Umur : 34 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMK
Alamat : Borobudur Utara XIV RT 10

II. ANAMNESIS
4
Anamnesis dilakukan secara Alloanamnesa dari Ibu Pasien pada tanggal 3
Januari 2017 pukul 19.00 WIB di Bangsal Melati RSUD Tugurejo Semarang.
a. Keluhan Utama : BAB cair terus menerus
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
6 hari SMRS ibu pasien mengeluh anaknya mulai panas. Panas
dirasakan naik turun, lebih terasa panas saat malam hari. Selain itu, ibu
pasien juga mengeluh anaknya mulai batuk tapi hanya kadang kadang saja.
Keluhan mual dan muntah tidak ada, ruam di tubuh tidak ada, BAB dan
BAK tidak ada keluhan. Anak tersebut juga masih mau makan dan minum.
4 hari SMRS ibu pasien mengeluh anaknya demam tinggi, kejang (-),
mimisan (-), ruam (-), pasien masih batuk tapi jarang, mual dan muntah
tidak ada, BAB dan BAK tidak ada keluhan, makan dan minum masih mau.
Kemudian ibu pasien membawa anaknya berobat ke klinik dokter. Pasien
diberi obat,tetapi lupa obatnya apa saja.
1 hari SMRS ibu pasien mengeluh anaknya BAB cair > 5x pada hari
itu, BAB tidak ada lendir dan darah, BAB keluar seperti keran, berbau
biasa, bau amis (-), seperti air cucian beras (-). Selain itu pasien juga
mengeluh anaknya muntah – muntah terus menerus. Anaknya muntah
setiap kali di kasih makan, lebih dari 5 kali, muntah berisi cairan dan
makanan yang dimakan. Makan sudah berkurang karena setiap makan
anaknya muntah, minum seperti kehausan. Riwayat ganti susu (-) dan
demam (-)
HRMS anaknya masih diare dan muntah – muntah, kemudian paginya
anaknya dibawa ke klinik dokter lagi, pasien diberi obat dan pulang.
Sorenya pasien merasa keluhan anaknya tidak berkurang sehingga dia
membawa anaknya berobat ke IGD RSUD Tugu, pasien tidak membawa
obat yang didapat dari klinik dokter.

c. Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat penyakit serupa : disangkal
5
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat pengobatan TB : disangkal
Riwayat rawat inap : disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat alergi : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat pengobatan TBC : disangkal
Riwayat merokok : ayah

e. Riwayat Sosial Ekonomi:


Pasien tinggal bersama kakak perempuan dan kedua orangtuanya.
Lingkungan sekitar pasien dikatakan cukup bersih dan tidak ada tetangga
yang menderita keluhan serupa. Sumber air berasal dari PAM. Ayah pasien
bekerja swasta, ibu pasien hanya sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan
sekitar 5 – 6 juta/bulan. Biaya perawatan di RS menggunakan jaminan
kesehatan BPJS mandiri. Kesan: keadaan social cukup dan ekonomi cukup.
f. Data Khusus
1. Riwayat Kehamilan/Pre Natal :
An.R adalah anak kedua dari Ny.T. selama hamil ibu rutin
memeriksakan kehamilanya di bidan. Saat hamil, pasien tidak memiliki
tekanan darah tinggi atau penyakit gula selama kehamilan. Ibu pasien
tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu, alkohol, maupun rokok
selama kehamilan. Suntik tetanus toksoid (TT) sebanyak tiga kali.
Kehamilan cukup bulan (37 minggu).

2. Riwayat persalinan/natal:

6
An. R lahir di Rumah Sakit dengan operasi SC atas indikasi partus
tak maju dan riwayat SC pada anak pertama. Lahir langsung menangis
kuat dengan berat lahir 2,8 kg dan panjang badan 48 cm.
3. Riwayat pasca persalinan/ post natal:
Perdarahan pasca lahir disangkal.
4. Riwayat Imunisasi :
Usia Imunisasi
0 bulan Hepatitis B, Polio
1 bulan BCG
2 bulan Hepatitis B, DPT, Polio
4 bulan Hepatitis B, DPT, Polio
6 bulan Hepatitis B, DPT, Polio
9 bulan Campak ( belum )
Kesan : Imunisasi sesuai usia

5. Riwayat makan dan minum :


ASI : Masih sampai sekarang
Susu Formula : Usia 6 bulan
MP-ASI : Ditambah bubur tim semenjak usia 6 bulan
6. Riwayat perkembangan anak:
Umur Perkembangan
0-3 bulan Motorik Kasar : mengakat kepala
Motorik Halus : menggerakan kepala
Bahasa : mengoceh
Sosial : tersenyum pada ibu
3-6 bulan Motorik Kasar : telungkup
Motorik Halus : mengangkat kepala
Bahasa : mengeluarkan suara bila senang
Sosial : tersenyum saat bermain
6-9 bulan Motorik Kasar : duduk

7
Motorik Halus : memungut kelerang
Bahasa : bersuara tanpa arti
Sosial : ciluk ba

Kesan Perkembangan sesuai umur

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 3 Januari 2017 pukul 19.30 WIB
di Bangsal Melati RSUD Tugurejo Semarang.
a. Keadaan Umum dan Tanda Vital
Keadaan umum : tampak lemas
Kesadaran : compos mentis
Hearth rate : 120 kali/menit, regular, teraba agak lemah
Respiratory rate : 24 kali/menit
Suhu : 36,8 0 C (aksiler)
BB : 6,4 kg
TB : 65 cm
b. Status Generalisata
1. Kepala : kesan mesocephal
2. Mata : konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
mata cekung (+/+), reflek cahaya direct (+/+), reflek
cahaya indirect (+/+), edem palpebra (-/-),
3. Hidung : nafas cuping (-), deformitas (-), sekret (-)
4. Telinga : serumen (-), nyeri mastoid (-), nyeri tragus (-)
5. Mulut : kering (-), sianosis (-), faring hiperemis (-),
tonsil T1-T1.
6. Leher : Pembesaran limfonodi (-), penggunaan otot tambahan (+)
7. Thorax
Pembesaran limfonodi axilla (-)
Pulmo Sinistra Dextra

8
Depan
1. Inspeksi Normochest Normochest,
Simetris statis-dinamis Simetris statis-dinamis
sinistra = dextra sinistra = dextra
diameter AP < lateral diameter AP < lateral
retraksi (-) substernal retraksi (-) substernal

2. Palpasi Pergerakan hemithorak Pergerakan hemithorak


sinistra = dextra sinistra = dextra
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Arcus costa normal Arcus costa normal

3. Perkusi Sonor di seluruh lapang Sonor di seluruh lapang


paru paru

4. Auskultasi
Suara dasar vesikuler (+) Suara dasar vesikuler (+)
Wheezing (-) ronki (-) Wheezing (-) ronki (-)
hantaran (-) hantaran (-)
Belakang
1. Inspeksi Normochest Normochest,
Simetris statis-dinamis Simetris statis-dinamis
sinistra = dextra sinistra = dextra
diameter AP < lateral diameter AP < lateral

2. Palpasi Pergerakan hemithorak Pergerakan hemithorak


sinistra = dextra sinistra = dextra
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)

3. Perkusi

9
Sonor di seluruh lapang Sonor di seluruh lapang
4. Auskultasi paru paru

Suara dasar vesikuler (+) Suara dasar vesikuler (+)


Wheezing (-) ronki (-) Wheezing (-) ronki (-)
hantaran (-) hantaran (-)

Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis (teraba tidak kuat angkat)
Perkusi : batas jantung dalam normal
Auskultasi : bunyi jantung I > II, reguler, bising (-)
8. Abdomen
Inspeksi : bentuk perut datar, massa (-)
Auskultasi : bising usus (+) meningkat
Perkusi : timpani seluruh regio abdomen
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, ginjal tidak teraba, lien
tidak teraba, turgor cukup
9. Ekstremitas
Superior Inferior
Akral hangat +/+ +/+
Oedem -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Capillary Refill < 2 detik/< 2 detik < 2 detik/< 2 detik

10. Pemeriksaan Antropometri


Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 8 bulan
Berat badan : 6,4 kg
Tinggi badan : 65 cm
Status Gizi menggunakan grafik CDC

10
- BB / U = _6,4_ x 100% = 72 %
8,8
- TB / U = _65_ x 100% = 92 %
70
- BB / TB = _6,4_ x 100% = 86,48 %
7,4
Kesan : Gizi kurang perawakan baik
IV. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah Rutin
Darah Rutin tanggal 3 Januari 2017
Jenis Hasil Satuan Nilai normal
Leukosit 16.24 103/ul 6.0 – 17
Eritrosit 4.90 106/ul 3.6 – 5.2
Hemoglobin L 9.90 g/dl 10.7 – 13.1
Hematokrit L 31.30 % 35 – 43
Trombosit 390 103/ul 217 – 497
MCV L 63.30 fL 74 – 102
MCH L 20.20 Pg 23 – 31
MCHC 32.90 g/dl 28 – 32
RDW H 17.60 % 11.5 – 14.5
Eosinofil L 0.02 103/ul 0.045 – 0.44
absolute
Basofil absolute 0.00 103/ul 0 – 0.2
Netrofil absolute 4.41 103/ul 1.8 – 8
Limfosit H 9.27 103/ul 0.9 – 5.2
absolute
Monosit absolute H 1.17 103/ul 0.16 – 1
Eosinofil L 0.10 % 2–4
Basofil 0.00 % 0–1
Neutrofil H 35.50 % 50 – 70
Limfosit 28.20 % 25 – 50
Monosit 2.00 % 1–6

11
2. FesesRutin
Makroskopis
- Warna : Putih Kekuningan
- Konsistensi : Cair
- Bau : khas
- Lendir : Positif
- Darah :-
Mikroskopis
- Sisa makanan :+
- Amoeba :-
- Telur cacing :-
- Leukosit : 0-1
- Eritrosit : 0-1
Clini Test :-
Sudan III :-

V. RESUME
Pasien datang ke IGD RSUD Tugu dengan keluhan BAB cair > 5x
dalam satu hari, BAB keluar seperti keran, berwarna kuning dan cair. Selain
itu pasien juga muntah – muntah dalam sehari lebih dari 5 kali. Muntah
setiap mau diberi makan, muntah berisi makanan dan minuman yang telah
dikonsumsi. Anak sulit makan karena muntah dan minum seperti orang
kehausan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum anak tampak
lemah, tekanan nadi cukup namun teraba agak lemah, mata kelihatan agak
cekung.
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan darah rutin dan
feses rutin. Darah rutin ditemukan hasil leukosit normal tinggi 16,24 103/ul,
serta ditemukan Hb yang sedikit turun 9,90 g/dl dengan MCV dan MCH

12
yang turun 63.30 fL dan 20.20 Pg. Pada pemeriksaan feses ditemukan lendir
dan leukosit serta eritrosit 0-1.

VI. DIAGNOSIS BANDING


1. Diare Akut Dehidrasi Sedang e.c
a. Infeksi ( Virus, bakteri, parasit )
- Enteral
- Parenteral
b. Non Infeksi
- Malabsorbsi
- Intoleransi Laktosa
- Defek anatomis
- Psikis
- Makanan

VII. DIAGNOSIS KERJA


1. Diagnosis Klinis : Diare Akut Dehidrasi Sedang e.c infeksi
bakteri
2. Diagnosis Tumbang : Gizi kurang perawakan baik
3. Diagnosis Gizi : gizi kurang
4. Diagnosis Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap sesuai umur

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Terapi
- Infus RL 6 tpm
- Injeksi cefotaxime 2 x 250 mg
- L – Bio 1 x 1 sachet
- Zinc 1 x 1 tablet
2. Monitoring
- Monitoring KU dan TTV
- Monitoring tanda dehidrasi, demam, muntah, dan BAB
13
- Monitoring hasil pemeriksaan penunjang
- Monitoring tumbuh kembang
3. Edukasi
- Bed Rest
- Minum yang banyak
- Cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui/memberi makan bayi,
sebelum dan sesudah memasak
- Lanjutkan dan edukasi ASI dan MPASI
- Kontrol ke dokter Spesialis anak untuk tumbuh kembang
- Edukasi pemberian oralit pada anak diare

IX. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : dubia ad bonam
Quo ad Sanam : dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam

X. FOLLOW UP
Tanggal Catatan
4/1/2017 S: Diare (+) 4 – 5 x cair, muntah (-)
O: Keadaan umum: tampak sesak
Hearth Rate : 128x/ menit
Respiratory rate: 26x/ menit
Suhu: 370C
BB : 6,4 kg
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : otot bantu nafas (-), pembesaran KGB (-)
Thorax:
Cor : BJ1 > BJ2, reguler, bising (-)
Pulmo : SDV(+/+), ronchi (-/-), wheezing (-/-)

14
Abdomen: datar, bising usus (+) meningkat, timpani, nyeri tekan (-)
A: DADS
P: - Infus RL 6 tpm
- Injeksi Cefotaxime 2 x 250 mg
- L- Bio 1 x 1 sachet
- Zinc 1 x 1

5/1/2017 S: Membaik, diare 2x ampas, muntah (-)


O: Keadaan umum: baik
Hearth Rate : 118x/ menit
Respiratory rate: 24x/ menit
Suhu: 36,50C
BB : 6,4 kg
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : otot bantu nafas (-), pembesaran KGB (-)
Thorax:
Cor : BJ1 > BJ2, reguler, bising (-)
Pulmo : SDV(+/+), ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: datar, bising usus (+) normal, timpani, nyeri tekan (-)
A: DADS
P: - Infus RL 6 tpm
- Injeksi Cefotaxime 2 x 250 mg
- L- Bio 1 x 1 sachet
- Zinc 1 x 1

6/1/2017 S: Membaik, diare 1x ampas, muntah (-)


Keadaan umum: baik
O: Hearth Rate : 118x/ menit
Respiratory rate: 24x/ menit

15
Suhu: 36,50C
BB : 6,4 kg
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : otot bantu nafas (-), pembesaran KGB (-)
Thorax:
Cor : BJ1 > BJ2, reguler, bising (-)
Pulmo : SDV(+/+), ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: datar, bising usus (+) normal, timpani, nyeri tekan (-)
A: DADS
P: - Infus RL 6 tpm
- Injeksi Cefotaxime 2 x 250 mg
- L- Bio 1 x 1 sachet
- Zinc 1 x 1

7/1/2016 S: Membaik, diare 1x ampas, muntah (-)


Keadaan umum: baik
O: Hearth Rate : 118x/ menit
Respiratory rate: 24x/ menit
Suhu: 36,50C
BB : 6,4 kg
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : otot bantu nafas (-), pembesaran KGB (-)
Thorax:
Cor : BJ1 > BJ2, reguler, bising (-)
Pulmo : SDV(+/+), ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: datar, bising usus (+) normal, timpani, nyeri tekan (-)
A: DADS
P: - Infus RL 6 tpm

16
- Injeksi Cefotaxime 2 x 250 mg
- L- Bio 1 x 1 sachet
- Zinc 1 x 1
- Pasien diizinkan pulang

17
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi1,2
Diare adalah buang air besar yang cair atau lebih lunak yang biasanya
minimal 3 kali dalam 24 jam. Seringkali perubahan konsistensi kotoran lebih
penting dibandingkan frekuensi buang air besar.
. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan makanan
kurang dapat mengakibatkan kurang gizi.2 Menurut American Academy of
Pediatrics (AAP) diare merupakan peningkatan frekuensi dan/atau perubahan
konsistensi, dapat disertai atau tanpa gejala dan tanda seperti mual, muntah,
demam atau sakit perut yang berlangsung selama 3 – 7 hari.
B. Faktor Resiko3
Banyak faktor yang menimbulkan penyakit diare antara lain faktor
lingkungan, faktor balita, faktor ibu, dan faktor sosiodemografis. Dari beberapa
faktor tersebut. Faktor risiko yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yaitu
sarana air bersih dan jamban. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa faktor risiko
yang paling rentan menyebabkan penyakit diare adalah faktor lingkungan.
Faktor risiko penyebab diare menurut faktor ibu ada beberapa aspek. Dari
beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil yang bermakna pada
aspek pengetahuan, perilaku dan higiene ibu. Pada aspek perilaku ibu
menunjukkan bahwa perilaku hidup bersih yang dilakukan ibu mempunyai
hubungan yang bermakna dalam mencegah terjadinya penyakit diare pada bayi
dan anak. Salah satu perilaku hidup bersih yang umum dilakukan ibu adalah
mencuci tangan sebelum memberikan makan pada anaknya. Pada aspek
pengetahuan ibu, rendahnya pengetahuan ibu mengenai hidup sehat merupakan
faktor risiko yang menyebabkan penyakit diare pada bayi dan anak. Dari
beberapa aspek yang diteliti status gizi memiliki faktor risiko yang signifikan
dalam menyebabkan penyakit diare pada bayi dan anak, rendahnya status gizi
pada bayi dan anak merupakan faktor risiko yang rentan untuk menyebabkan
penyakit diare. Bila dilihat dari faktor sosial ekonomi dimana aspek yang diteliti
18
meliputi jumlah anak dalam keluarga, pendidikan bapak, jenis pekerjaan bapak,
pendapatan keluarga, kepemilikan barang, jumlah anggota keluarga dan status
sosial ekonomi keluarga. Suatu penelitian menunjukkan rendahnya status sosial
ekonomi keluarga merupakan salah satu faktor risiko penyebab penyakit diare
pada keluarga. Kejadian diare lebih sering muncul pada bayi dan anak yang
status ekonomi keluarganya rendah. Departemen Kesehatan menyebutkan
bahwa kualitas air minum yang buruk menyebabkan 300 kasus diare per 1000
penduduk. Air minum yang terkontaminasi oleh bakteri Escheria coli dapat
menyebabkan penyakit dan data terakhir dari departemen kesehatan yang
mengatakan bahwa sanitasi yang buruk merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan terjadinya penyakit diare
C. Etiologi1,4
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi infeksi bakteri, virus
dan parasit. Infeksi bakteri dapat disebabkan oleh Vibrio, E.coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia dan Aeromonas. Infeksi
virus dapat disebabkan oleh Enterovirus (Virus ECHO, Coxsackie,
Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.
Sedangkan infestasi parasit dapat disebabkan oleh cacing (Ascaris,
Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba histolytica,
Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (Candida albicans).
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan,
seperti otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia,
ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan
anak berumur dibawah 2 tahun.
2. Faktor malabsorbsi
Dapat akibat malabsorbsi karbohidrat seperti disakarida (intoleransi
laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa

19
dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah
intoleransi laktosa. Dapat pula akibat malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas. Walaupun jarang, dapat
menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.
D. Klasifikasi5,6
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, yaitu1:
1. Etiologi
a. Infeksi
Penyebab diare akibat infeksi tergolong menjadi virus, bakteri, dan
parasit. Dua tipe dasar diare akut infeksi adalah inflamasi dan non-
inflamasi.
b. Non-infeksi
Penyebab diare non-infeksi antara lain kesulitan makan, defek
anatomis, malabsorpsi, endokrinopati, keracunan makanan, neoplasma,
dan lain-lain (seperti inflammatory bowel disease dan gangguan motilitas
usus).
2. Mekanisme
a. Sekresi
Keadaan ini terjadi ketika sistem transport pada epithelial intestinal
berada pada fase aktif yang disebabkan oleh secretagogue. Osmolalitas
feses diketahui berdasarkan elektrolit dan ion gap dengan nilai
100mOsm/kg atau kurang. Nilai ion gap diketahui berdasarkan
𝐼𝑜𝑛 gap = 𝑜𝑠𝑚𝑜𝑙𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑓𝑒𝑠𝑒𝑠 − [(𝑁𝑎 𝑓𝑒𝑠𝑒𝑠 + 𝐾 𝑓𝑒𝑠𝑒𝑠)𝑥2]
b. Osmotik
Mekanisme ini terjadi setelah masuknya zat kurang diserap akibat
zat tersebut memang sulit diserap atau tidak diabsorpsi dengan baik karena
gangguan pada usus halus. Karbohidrat yang tidak terabsorpsi akan
difermentasi oleh bakteri di kolon sehingga terbentuk asam lemak rantai
pendek. Meskipun asam lemak rantai pendek dapat diserap di kolon dan
digunakan sebagai energy, asam lemak tetap menyebabkan peningkatan
20
tekanan osmotik di lumen. Osmolalitas feses tidak dapat diterangkan
berdasarkan elektrolit pada feses dan nilai anion gap lebih dari 100 mOsm.
3. Lama/durasi
a. Diare akut :
Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
b. Diare kronik
Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non
infeksi
c. Diare persisten
Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi infeksi
E. Patogenesis7
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang
berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga
timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik
usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
4. Eksudatif
Akibat inflamasi, neksoris dan kerusakan mukosa kolon. Feses dapat
mengandung komponen diare gangguan sekresi oleh karena pelepasan
prostaglandin dari sel radang. Feses mengandung PMN, darah (dalam bentuk
21
mikroskopis maupun makroskopis). Diare tipe eksudatif biasanya disebabkan
infeksi bakteri (Campylobacter, Salmonella, Shigella, Yersinia, E coli invasif,
Vibrio parahemoliticus), parasit kolon, penyakit kronik, iskemi intestinal,
agen kemoterapi kanker.
5. Penurunan permukaan absorpsi
Biasanya disebabkan tindakan bedah yang menyebabkan berkurangnya
permukaan absorpsi untuk hasil pencernaan karbohidrat dan lemak serta
cairan dan elekrtolit. Bisa juga muncul spontan dari fistula enteroenterik,
khususnya gastrokolik.
Patogenesis diare akut dimulai dari masuknya jasad renik yang masih
hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung.
Jasad renik tersebut akan berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus
dan mengeluarkan toksin (toksin diaregenik). Akibat toksin tersebut terjadi
hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Selanjutnya, sebagai akibat diare akan terjadi dehidrasi akibat kehilangan
air dan elektrolit, gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan
kurang, pengeluaran bertambah), diikuti hipoglikemia hingga gangguan
sirkulasi darah.
F. Patofisiologi
Diare akut akibat infeksi (gastroenteritis) terutama dilakukan secara fekal
oral. Hal ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi
tinja ditambah dengan ekskresi yang buruk, makanan yang tidak matang, bahkan
yang disajikan tanpa dimasak penularannya transmisi orang ke orang melalui
aerosolisasi (Norwalk, rotavirus), tangan yang terkontaminasi (Clostridium
difficille), atau melalui aktivitas seksual. Faktor penentu terjadinya diare akut
adalah faktor penyebab (agent) dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu
adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme, yaitu faktor
daya tahan tubuh atau lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman
lambung, motilitas lambung, imunitas juga mencakup lingkungan mikroflora
usus. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain daya

22
penetrasi, yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang
mempengaruhi sekresi cairan di usus serta daya lekat kuman.
Mikroorganisme tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat
menginduksi diare patogenesis diare disebabkan infeksi bakteri terbagi dua yaitu
:
1. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)
Bakteri masuk kedalam makanan atau minuman yang tercemar oleh
bakteri tersebut. Bakteri kemudian tertelan dan masuk kedalam lambung,
didalam lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung, namun bila
jumlah bakteri terlalu banyak maka akan ada yang lolos kedalam usus 12 jari
(duodenum). Di dalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga
jumlahnya mencapai 100 juta koloni atau lebih per ml cairan usus. Dengan
memproduksi enzim muicinase bakteri berhasil mencairkan lapisan lendir
yang menutupi permukaan sel epitel usus sehingga bakteri dapat masuk ke
dalam membrane (dinding sel epitel). Di dalam membran bakteri
mengeluarkan toksin yang disebut sub unit A dan sub unit B. Sub unit B
melekat di dalam membrane dari sub unit A dan akan bersentuhan dengan
membrane sel serta mengeluarkan cAMP (cyclic Adenosin Monophospate).
cAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus di bagian kripta vili dan
menghambat absorbsi cairan di bagian kripta vili, tanpa menimbulkan
kerusakan sel epitel tersebut. Sebagai akibat adanya rangsangan sekresi cairan
dan hambatan absorbsi cairan tersebut, volume cairan didalam lumen usus
akan bertambah banyak. Cairan ini akan menyebabkan dinding usus
menggelembung dan tegang dan sebagai reaksi dinding usus akan megadakan
kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk
mengalirkan cairan ke bawah atau ke usus besar. Dalam keadaan normal usus
besar akan meningkatkan kemampuannya untuk menyerap cairan yang
bertambah banyak, tetapi tentu saja ada batasannya. Bila jumlah cairan
meningkat sampai dengan 4500 ml (4,5 liter), masih belum terjadi diare,
tetapi bila jumlah tersebut melampaui kapasitasnya menyerap, maka akan
terjadi diare.
23
2. Bakteri enteroinvasif
Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan
ulserasi, dan bersifat sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur
lendir dan darah.
G. Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaaan penunjang. Dalam menganamnesis pasien diare akut perlu
ditanyakan mengenai onset, lama gejala, frekuensi, serta kuantitas dan
karakteristik feses. Feses dapat mengandung darah atau mukus. Adanya demam
merupakan temuan diagnostik yang penting karena menandakan adanya infeksi
bakteri invasif virus enterik, atau suatu patogen sitotoksik seperti, C. difficile
dan E. histolytica.
Adanya feses yang berdarah mengarahkan kemungkinan infeksi oleh
patogen invasif dan yang melepaskan sitotoksin; infeksi EHEC bila tidak
terdapat leukosit pada feses; serta bukan infeksi virus atau bakteri yang
melepaskan enterotoksin. Muntah sering terjadi pada diare yang disebabkan oleh
infeksi virus atau toksin bakteri misalnya S. aureus. Tenesmus merupakan
penanda dari diare inflamasi. Walaupun demikian, tidaklah mudah untuk
mengenali patogen spesifik penyebab diare hanya berdasarkan gambaran
klinisnya semata karena beberapa patogen dapat menunjukkan gambaran klinis
yang sama.
Untuk mengidentifikasi penyebab diare diperlukan juga data tambahan
mengenai masa inkubasi, riwayat perjalanan sebelumnya, riwayat
mengkonsumsi makanan tertentu, risiko pekerjaan, penggunaan antibiotik dalam
2 bulan terakhir, riwayat perawatan, binatang peliharaan, serta risiko terinfeksi
HIV. Waktu timbulnya gejala setelah paparan terhadap makanan yang dicurigai
juga dapat mengarahkan penyebab infeksi, seperti berikut ini:
1. Gejala yang timbul dalam waktu < 6 jam kemungkinan disebabkan oleh
toksin bakteri Staphylococcus aureus atau Bacillus cereus.

24
2. Gejala yang timbul sesudah 6-24 jam kemungkinan disebabkan oleh toksin
bakteri Clostridium perfringens atau Bacillus cereus.
3. Gejala yang timbul lebih dari 16-72 jam mengarahkan infeksi oleh virus,
terutama bila muntah merupakan gejala yang paling prominen; atau
kontaminasi bakterial dari makanan oleh enterotoxigenic/enterohemorrhagic
E. coli, Norovirus, Vibrio, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
Giardia, Cyclospora, atau Cryptosporidium.
Berbagai patogen spesifik dapat menimbulkan diare akut. Berikut ini akan
dibahas secara garis besar :
Vibrio. Terdapat banyak spesies Vibrio yang menimbulkan diare di
negara-negara berkembang. Vibrio cholerae dapat menimbulkan diare
noninflamasi. Organisme ini termasuk koloni patogen klasik. V. cholerae
serogrup O1 dan O139 dapat menyebabkan deplesi volume yang cepat dan berat.
Tanpa rehidrasi yang cepat dan adekuat, syok hipovolemik dan kematian dapat
terjadi dalam 12-18 jam sesudah pertama kali timbul gejala. Feses biasanya
encer, jernih, disertai bercak-bercak mukus. Muntah biasa terjadi, tetapi jarang
terdapat demam. Vibrio nonkolera, seperti Vibrio parahemolyticus juga dapat
menyebabkan diare. V. cholerae O1, V. parahemolyticus, dan V. cholerae non-
O1 merupakan penyebab tersering pertama, ke-4, dan ke-7 dari diare yang
dirawat di rumah sakit di Indonesia, masing-masing sebesar 37,1%; 7,35; dan
2,4%.
Shigella. Shigella merupakan penyebab klasik diare inflamasi atau disentri
dan penyebab ke-2 tersering penyakit yang ditularkan melalui makanan
(foodborne disease) di Amerika Serikat, serta sampai saat ini masih menjadi
problem utama di pusat perawatan harian atau institusi. Di Indonesia, Shigella
spp merupakan penyebab tersering ke-2 dari diare yang dirawat di rumah sakit,
yakni sebesar 27,3%. Dari keseluruhan Shigella spp tersebut, 82,8% merupakan
S. flexneri; 15,0% adalah S. sonnei; dan 2,2% merupakan S. dysenteriae. Hanya
dibutuhkan 10 kuman untuk menginisiasi timbulnya penyakit ini dan penyebaran
dari orang ke orang amat mudah terjadi. Infeksi S. sonnei adalah yang teringan.
Paling sering terjadi di negara-negara industri. Infeksi S. flexneri akan
25
menimbulkan gejala disentri dan diare persisten. Paling sering terjadi di negara-
negara berkembang. S. dysenteriae tipe 1 (Sd1) menghasilkan toksin Shiga,
sehingga dapat menimbulkan epidemi diare berdarah (bloody diarrhea) dengan
case fatality rate yang tinggi di Asia, Afrika, dan Amerika Tengah. Infeksi
Shigella dapat menimbulkan komplikasi hemolytic-uremic syndrome (HUS) dan
thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP).
Salmonella. Salmonellosis merupakan penyebab utama foodborne disease
di Amerika Serikat. Di Indonesia, Salmonella spp merupakan penyebab tersering
ke-3 dari diare yang dirawat di rumah sakit, yakni sebesar 17,7%. Terdapat lebih
dari 2000 serotype Salmonella dan semuanya patogenik bagi manusia. Bayi dan
orang tua paling rentan terinfeksi. Hewan merupakan reservoir utama bagi
kuman ini. Gejala salmonellosis umumnya berupa diare noninflamasi. Akan
tetapi, dapat juga berupa diare inflamatif atau disentri (bloody diarrhea).
Campylobacter. Organisme ini dapat menimbulkan watery ataupun
bloody diarrhea. Meskipun jarang, Campylobacter juga dapat menimbulkan
sindrom Guillain-Barré. Infeksi asimtomatik sering terjadi di negara-negara
berkembang akibat kontak erat dengan hewan ternak. Campylobacter jejuni
merupakan penyebab tersering ke-6 dari diare yang dirawat di rumah sakit di
Indonesia, yakni sebesar 3,6%.
Escherichia coli diarrheogenic. Semua jenis E. coli diarrheogenic dapat
menimbulkan penyakit di negara-negara berkembang. Akan tetapi, infeksi
enterohemorrhagic E. coli (EHEC), termasuk E. coli O157:H7 lebih sering
terjadi di negara-negara industri. Enterotoxigenic E. coli (ETEC) dapat
menimbulkan diare pada wisatawan. Enteropathogenic E. coli (EPEC) jarang
menyerang orang dewasa. Enteroinvasive E. coli (EIEC) dapat menimbulkan
diare lendir dan berdarah, biasanya disertai demam. Enterohemorrhagic E. coli
(EHEC) dapat menimbulkan bloody diarrhea, dan Enteroaggregative E. coli
(EAggEC) dapat menimbulkan diare persisten pada pasien dengan human
immunodeficiency virus (HIV).
Enterohemorrhagic E. coli (EHEC), terutama Escherichia coli 0157:H7,
merupakan penyebab tersering kolitis infektif di negara-negara industri. EHEC
26
dapat memproduksi suatu sitotoksin, seperti verotoksin (Shiga-like toxin) yang
menyebabkan bloody diarrhea. EHEC dapat menimbulkan komplikasi HUS dan
TTP. Kolitis hemoragik berat dengan HUS dilaporkan terjadi pada 6–8% pasien.
Tidak mudah untuk mengidentifikasi kuman ini karena media agar MacConkey-
Sorbitol untuk membiakannya tidak tersedia di semua laboratorium. Selain itu,
laboratorium juga tidak secara rutin mengidentifikasi nonserogroup O157:H7
EHEC yang sama manifestasi klinisnya dengan serogrup O157:H7.
Virus. Virus merupakan merupakan penyebab utama diare akut di negara-
negara industri. Berbagai virus dapat menimbulkan diare akut pada manusia, di
antaranya rotavirus, human calicivirus, enteric adenovirus, astrovirus,
cytomegalovirus, coronavirus, dan herpes simplex virus. Rotavirus sering
menimbulkan diare pada bayi, namun relatif jarang pada anak-anak dan dewasa
karena telah mempunyai antibodi protektif. Rotavirus dapat menimbulkan
gastroenteritis berat. Hampir semua anak-anak di negara-negara industri dan
negara-negara berkembang telah terinfeksi pada usia 3–5 tahun. Human
calicivirus (HuCV) termasuk ke dalam famili Caliciviridae, terdiri dari norovirus
dan sapovirus. Sebelumnya dinamakan “Norwalk-like virus” dan “Sapporo-like
virus”. Norovirus merupakan penyebab tersering kejadian luar biasa
gastroenteritis pada semua kelompok umur. Sapovirus lebih sering mengenai
anak-anak. Beberapa serotype adenovirus juga dapat menimbulkan diare akut,
akan tetapi lebih sering pada anak-anak.
Parasit. Berbagai spesies protozoa dan cacing dapat menimbulkan diare
akut. Di negara-negara maju, parasit jarang menjadi penyebab diare akut, kecuali
pada wisatawan. Giardia intestinalis, Cryptosporidium parvum, Entamoeba
histolytica, dan Cyclospora cayetanensis paling sering menimbulkan diare akut
pada anak-anak.
Diare pada pasien immunocompromise. Individu dengan penyakit
immunocompromise, seperti limfoma, transplantasi sumsum tulang, atau infeksi
HIV berisiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi yang disebabkan oleh
patogen usus dibandingkan individu sehat. Diare dilaporkan terjadi pada 60%
dari pasien dengan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) di negara-
27
negara industri dan 95% pasien AIDS di negara-negara berkembang. Patogen
yang paling sering dijumpai adalah Cryptosporidium parvum, Isospora belli,
Cyclospora, Microsporidium, Salmonella enteritidis, Campylobacter, Shigella
spp, Mycobacterium avium complex, Cytomegalovirus, Herpes simplex, dan
Adenovirus. Prevalensi diare akibat berbagai patogen tersebut pada pasien AIDS
dilaporkan terus menurun dengan semakin luasnya pemberian terapi
antiretroviral, walaupun diare masih sering dijumpai pada kelompok pasien
tersebut. Infeksi oleh Cryptosporidium tampil sebagai penyakit diare dengan
dehidrasi berat, namun dapat sembuh sendiri pada pasien dengan hitung CD4
>150 sel/mm3 sama seperti pada individu dengan fungsi imun yang normal.
Sebaliknya, pada pasien HIV dengan fungsi imun yang lebih buruk terjadi
penyakit yang lebih berat dan tidak dapat mengalami remisi. Cyclospora dan
Microsporidium merupakan patogen usus kecil. Gambaran klinis diare yang
disebabkan oleh Cyclospora khas dengan lamanya yang rerata >3 minggu,
disertai rasa letih dan lemah yang kuat. Dehidrasi pada diare akibat infeksi
Microsporidium biasanya lebih ringan dibandingkan pada diare yang disebabkan
oleh Cryptosporidium. Gejala inflamasi, seperti perut kembung, kram, dan
banyak flatus biasa dijumpai. Microsporidium jarang menyebabkan diare pada
pejamu yang immunocompetent.
Diare Nosokomial. Diare nosokomial didefinisikan sebagai penyakit
diare dengan onset >72 jam sesudah masuk rumah sakit. Penyakit ini dapat
menambah lama perawatan di rumah sakit pada orang dewasa sampai >1
minggu, dan pada usia lanjut sampai >1 bulan. Insiden dan mortalitas tertinggi
dijumpai kelompok pasien yang berusia >70 tahun. Diare nosokomial dapat
disebabkan oleh infeksi ataupun noninfeksi. Akan tetapi, diare nosokomial lebih
sering disebabkan oleh penyebab noninfeksi yang multipel, seperti penggunaan
tube feeding atau obat-obatan yang dapat menimbulkan diare. Penyebab infeksi
tersering adalah Clostridium difficile. Kolitis pseudomembranosa hampir selalu
disebabkan oleh C. difficile. Organisme ini juga menjadi penyebab dari 20%
diare tanpa kolitis akibat pemakaian antibiotik. Kolitis pseudomembranosa
berkisar dari diare ringan-sedang hingga kolitis berat. Sebenarnya semua
28
antibiotik telah dihubungkan dengan infeksi C. difficile, akan tetapi penyebab
tersering adalah golongan penisilin berspektrum luas, cephalosporin, dan
clindamycin. Sebagian besar pasien mengalami gejala selagi masih memakai
antibiotik, tetapi diare dapat juga baru timbul 1-3 minggu sesudah antibiotik
dihentikan. Infeksi C. difficile juga dapat timbul pada pasien-pasien yang
mendapat kemoterapi.

Tabel 3. Gejala klinis diare berdasarkan sumber infeksi (Source: WHO guideline
practice guidelines)

Berdasarkan Kliegman, Marcdante dan Jenson (2006), dinyatakan bahwa


berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh, diare dapat
dibagi menjadi :
1. Diare tanpa dehidrasi
Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena
frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda
dehidrasi.

2. Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%)


Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih,
kadang-kadang muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang, nafsu

29
makan menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan nadi masih normal
atau takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam batas normal.
3. Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%)
Pada keadaan ini, penderita akan mengalami takikardi, kencing yang
kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan ubun-ubun
besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan mulut
serta kulit tampak kering, air mata berkurang dan masa pengisian kapiler
memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan pucat.
4. Diare dengan dehidrasi berat (>10%)
Pada keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh
dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi
yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak ada
penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak ada
produksi air mata, tidak mampu minum dan keadaannya mulai apatis,
kesadarannya menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang
(≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.
Pada pemeriksaan fisik perlu dinilai keadaan umum, kesadaran, berat
badan, temperatur, frekuensi nafas, denyut nadi, tekanan darah, turgor kulit,
kelopak mata, serta mukosa lidah. Selain itu, perlu dicari tanda-tanda dehidrasi
dan kontraksi volume ekstraseluler, seperti denyut nadi >90 kali/menit dan
lemah, hipotensi postural/ortostatik, lidah kering, kelopak mata cekung, serta
kulit yang dingin dan lembab. Pemeriksaan abdomen merupakan sesuatu yang
sangat penting pada kasus diare. Kualitas bising usus dan ada tidaknya distensi
abdomen serta nyeri tekan dapat membantu klinisi dalam menentukan etiologi.
Tanda-tanda peritonitis juga perlu dicari karena merupakan petunjuk adanya
infeksi oleh patogen enterik invasif.
Pada pasien yang mengalami dehidrasi, toksisitas atau diare yang
berlangsung selama beberapa hari, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang
seperti pemeriksaan darah tepi lengkap, kadar elektrolit, ureum dan creatinin,
feses lengkap dan terkadang ELISA untuk mendeteksi giardiasis dan tes serologi
amebiasis serta x-ray abdomen.
30
Pasien dengan kecurigaan infeksi virus biasanya akan memperlihatkan
jumlam dan hitung leukosit yang normal atau limfositosis. Pada infeksi bakteri,
terutama pada infeksi bakteri yang ivasif ke mukosa akan memperlihatkan
leukosistosis dengan tingakat blast yang lebih tinggi. Neutropenia dapat timbul
pada infeksi salmonella.
Pemeriksaan ureum dan creatinin diperiksa untuk menilai adanya
kekurangan volume cairan dan mineral pada tubuh. Pemeriksaan tinja dilakukan
unuk melihat adanya leukosit pada tinja yang kemungkinanan mengarahkan
kepada infeksi bakteri, adanya telur cacing dan parasit dewasa dengan hasil
meta-analisis tentang pemeriksaan ini menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas
hanya sebesar 70% dan 50%. Akan tetapi, adanya darah samar dan leukosit pada
feses mendukung diagnosis diare akibat infeksi bakteri. Pada pasien yang
mendapatkan pengobatan antibiotik dalam 3 bulan terakhir atau yang mengalami
diare di rumah sakit sebaiknya dilakukan pemeriksaan tinja untuk pengukuran
toksin Clostridium difficile. Kultur tinja untuk memastikan kausa diare namun
pemeriksaan ini biasanya hanya dikerjakan pada pasien diare > 72 jam, diare
akut setelah perawatan di rumah sakit, dan pasien dengan imunocompromised.
Pemeriksaan lain seperti endoskopi umumnya tidak dibutuhkan dalam
mendiagnosis diare akut. Akan tetapi, pemeriksaan ini dapat digunakan untuk:
1. Membedakan inflammatory bowel disease dari diare akibat infeksi.
2. Mendiagnosis infeksi C. difficile dan menemukan pseudomembran pada
pasien yang toksik sambil menunggu hasil pemeriksaan kultur jaringan.
Namun, saat ini pemeriksaan enzyme linked immunosorbent assays (ELISA)
dari feses untuk toksin A telah mempersingkat waktu untuk mendiagnosis
infeksi C. difficile dan mengurangi kebutuhan pemeriksaan endoskopi pada
kasus-kasus tersebut.
3. Mendiagnosis adanya infeksi oportunistik (seperti, cytomegalovirus) pada
pasien immunocompromise.
4. Mendiagnosis adanya iskemia pada pasien kolitis yang dicurigai namun
diagnosisnya masih belum jelas sesudah pemeriksaan klinis dan radiologis.

31
H. Penatalaksanaan8
Tata laksana diare akut menurut WHO dilakukan sesuai dengan derajat
dehidrasi. Berdasarkan WHO, klasifikasinya adalah diare tanpa dehidrasi, diare
dengan dehidrasi ringan-sedang, dan diare dengan dehidrasi berat.
Tabel 3. Derajat Dehidrasi5

Setelah mengetahui diare dengan derajat dehidrasi, tata laksananya terbagi


menjadi rencana terapi A untuk diare tanpa dehidrasi, rencana terapi B untuk
diare dengan dehidrasi ringan-sedang, dan rencana terapi C untuk diare dengan
dehidrasi berat.
Tabel 4. Rehidrasi Cairan berdasarkan Derajat Dehidrasi6
Derajat Rehidrasi Penggantian Cairan
dehidrasi

Tanpa dehidrasi Tidak perlu 10 mg/kg BB tiap diare


Rencana terapi 2-5 mg/kg BB tiap muntah
A

Ringan-sedang CRO 75 ml/kg BB/3 jam Idem


Rencana terapi Enteral 20 ml/kg BB/jam (3
B jam)
Parenteral
175 ml/kgBB/hari (<10 kg)
200 ml/kgBB/hari (>10 kg)

32
Berat <1 tahun: 30 ml/kg/1 jam + Idem
Rencana terapi 70 ml/kg/5 jam
C >1 tahun: 30 ml/kg/ 1/2 jam
+ 70 ml/kg/2 1/2 jam

Lintas Diare merupakan singkatan dari Lima Langkah Tuntaskan Diare


yang terdiri dari5:
1. Berikan oralit
Oralit merupakan campuran garam elektrolit, yaitu natrium klorida,
kalium klorida, dan trisodium sitrat hidrat, serta glukosa anhidrat. Oralit
diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang
saat diare. Oralit disiapkan dengan memasukkan satu bungkus oralit ke dalam
satu gelas air matang dengan volume sekitar 200cc. Oralit diberikan sebanyak
50-100 cc setiap kali buang air besar pada anak kurang dari 1 tahun dan
sebanyak 100-200 cc setiap kali buang air besar pada anak lebih dari 1 tahun.
Terdapat oralit baru dan oralit lama, yaitu oralit WHO/UNICEF 2004
dan oralit WHO/UNICEF 1978. Perbedaannya terdapat pada tingkat
osmolaritasnya, yaitu oralit baru 245 mmol/L dan oralit lama 331 mmol/L.
Oralit baru dapat mengurangi volume tinja hingga 25%, mual-muntah hingga
30%, dan pemberian cairan intravena.
2. Berikan tablet zinc selama 10 hari berturut-turut
Zinc merupakan salah satu mikronutrien. Diare menyebabkan
penurunan zinc sehingga dibutuhkan suplementasi tambahan zinc. Zinc
diberikan satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut meskipun diare sudah
berhenti. Dosisnya adalah ½ tablet (10 mg) per hari untuk balita usia kurang
dari 6 bulan dan 1 tablet (20 mg) per hari untuk balita lebih dari sama dengan
6 bulan.
3. Teruskan ASI-makan
ASI dan makanan sesuai dengan usia anak harus tetap diteruskan untuk
mencegah kehilangan berat badan dan mengganti nutrisi yang hilang.
4. Berikan antibiotik secara selektif

33
Indikasi pada diare berdarah (disentri) dan kolera. Beri antibiotik
selama 5 hari yang masih sensitif terhadap shigella menurut pola setempat
(WHO) golongan Quinolon seperti Ciprofloxacin dengan dosis 30-50
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari. Pantau setelah 2 hari
pengobatan: demam, diare berkurang, darah dalam feses, peningkatan nafsu
makan. Pasien rawat jalan dengan antibiotik Sefalosporin generasi ke 3
seperti sefiksim 5mg/kgBB/hari per oral.
Pemeriksaan tinja dengan positif amebiasis berikan metronidazole 7,5
mg/kgBB dibagi 3 dosis, pada kasus giardiasis berikan metronidazole
5mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 5 hari.
5. Berikan nasihat pada ibu/keluarga
Orang tua diberikan nasihat agar segera membawa anaknya ke rumah
sakit apabila ditemukan demam, tinja berdarah, berulang, makan/minum
sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari

BAB IV
PEMBAHASAN

34
Pasien bayi laki – laki berusia 8 bulan datang bersama orang tuanya ke IGD
RSUD Tugu dengan keluhan BAB cair sehari > 5x. Dari anamnesis didapatkan
BAB cair > 5x tanpa lendir dan darah. BAB keluar seperti keran, berbau amis (-)
dan seperti cucian beras (-). Selain itu pasien juga muntah >5x, muntah berisi
makanan dan minuman yang dikonsumsi. Pasien juga mengkonsumsi makanan dan
susu yang sama seperti sebelumnya. Nafsu makan berkurang dan minum seperti
kehausan. Dari data anamnesis ini bisa disimpulkan anak tersebut menderita diare,
yaitu BAB cair dengan frekuensi >3x dalam satu hari. Dari anamnesis bisa
disimpulkan kemungkinan pasien mengalami diare yang disebabkan oleh factor
infeksi, karena tidak ada riwayat kelainan pada saluran cerna dan tidak pergantian
susu yang juga bisa menyebabkan diare. Faktor infeksi yang mungkin dialami
pasien adalah infeksi dari virus atau bakteri karena disini jumlah diare masih
diantara 5-10x perhari serta tidak ada lendir ataupun darah. Selain itu diare juga
tidak berbau amis atau busuk serta tidak seperti air cucian beras yang berarti infeksi
karena bakteri kolera dapat disingkirkan. Tanda – tanda dehidrasi yang bisa ditemui
pada anamnesis adalah anak tampak lemah dengan minum seperti orang kehausan
yang menandakan anak sedang mengalami dehidrasi sedang.
Dari pemeriksaan fisik dapat dicari tanda – tanda dehidrasi. Tanda – tanda
dehidrasi yang ditemukan pada pemeriksaan fisik adalah tanda dehidrasi sedang
yaitu anak kelihatan lemas, nadi teraba agak lemah, mata cekung, turgor masih baik
dan capirallary refill masih < 2 detik. Selain tanda dehidrasi didapatkan juga gizi
yang kurang pada anak tersebut dengan BB/U dan BB/TB 72% dan 86,48%.
Pada pemeriksaan penunjang darah rutin ditemukan anemia ringan yaitu Hb
9,90 g/dl dengan MCV dan MCH yang turun 63.30 fL dan 20.20 Pg yang
menandakan anemia mikrositik hiprokom yang kemungkinan bisa disebabkan oleh
defisiensi besi. Selain itu juga ditemukan leukosit yang meningkat menjadi normal
tinggi yaitu 16.24 103/ul. Leukosit yang meningkat menjadi normal tinggi ini
kemungkinan adanya infeksi bakteri pada pasien. Pada pemeriksaan feses
ditemukan lendir serta leukosit dan eritrosit 0-1. Hasil sudan III tes dan clini yang
negative menandakan tidaknya adanya gangguan malabsorbsi pada anak tersebut.

35
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat
ditegakkan diagnosis pada anak ini adalah diare akut dehidrasi sedang e.c infeksi
bakteri karena pada pemeriksaan darah rutin ditemukan leukosit yang meningkat
menjadi normal tinggi yang menandakan kemungkinan adanya infeksi yang
disebabkan oleh bakteri.
Pada penatalaksanaan dilakukan terapi sesuai Departemen Kesehatan RI
tahun 2011 yaitu rencana terapi B tentang penanganan diare dehidrasi ringan
sedang.
1. Cairan
Terapi cairan pada terapi B adalah menggunakan oralit pada 3 jam
pertama dengan rumus 75 ml x bb anak. Tetapi pada pasien ini, pasien
mengalami keluhan mual dan muntah setiap dimasukkan minuman atau
makanan sehingga pemberian oralit secara oral tidak dapat dilakukan. Untuk
mengganti cairan pada pasien ini dapat dilakukan dengan cara parenteral
(intravena). Pemberian cairan intravena dapat menggunakan RL, KaEN 3B
atau NaCl. Pada pasien ini diberikan RL karena RL merupakan cairan yang
paling fisiologis yang sesuai dengan cairan yang ada pada tubuh kita. Selain itu
pemberian KaEN 3B mungkin belum perlu diberikan karena disini anak masih
bisa diusahakan buat makan dan minum pelan – pelan.
Kebutuhan anak dengan berat 6,4 kg adalah 6,4 x 100 = 640 ml.
Kebutuhan cairan = 640 x 15 = 9600 = 6,6 = 7 tetes
24 x 60 1440
Pada pasien diberikan cairan RL dengan 6 tpm, ini masih sesuai dengan
hasil dari rumus diatas yang hasilnya 6,6 tetes permenit sehingga kita dapat
memberikan tetesan sekitar 6-7 tetes per menit.
2. Zinc
Pemberian zinc berguna untuk perbaikan epitelisasi usus. Dosis
pemberian zinc pada anak diare adalah berdasarkan umur. Pada kasus anak
berumur 8 bulan sehingga pemberian zinc 1 x 1 tablet pada anak tersebut sudah
sesuai teori yaitu pada anak berumur > 6 bulan diberikan zinc 20 mg atau 1
tablet per hari.
36
3. Nutrisi
Pemberian ASI dan makanan sesuai usia pada anak tetap dilanjutkan
untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang
hilang. Pada umur 8 bulan anak sudah bisa dikenalkan dengan finger food
seperti kentang rebus, ketela atau buah – buahan. Edukasi kepada orang tua
untuk tidak membatasi makan dan minum anaknya jika anaknya tersebut mau.
Frekuensi pemberian ASI dan makanan pada anak dapat dilakukan lebih sering
dengan porsi lebih sedikit biasanya bisa setiap 3 – 4 jam.
4. Antibiotik
Pemberian antibiotic pada diare harus sesuai dengan indikasi. Pada
pasien ini diberikan antibiotik karena berdasarkan hasil darah rutin terdapat
peningkatan leukosit menjadi normal tinggi. Hal ini bisa menandakan adanya
infeksi bakteri pada pasien tersebut sehingga perlu diberikan antibiotic.
Antibiotik lini pertama adalah golongan quinolone seperti ciprofloxacin
dengan dosis 30-50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari. Selain
golongan quinolone, dapat juga diberikan golongan sefalosporin golongan ke
3.
Pada pasien diberikan antibiotic sefalosporin generasi ke 3 yaitu
cefotaxime karena adanya keterbatasan obat di rumah sakit. Dosis cefotaksim
anak adalah 50 – 100 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2-4 dosis. Pada anak
diberikan cefotaksim 2 x 250 mg yang berarti dalam 1 hari anak mendapatkan
cefotaksim 500 mg. Hal ini masih dalam dosis yang dianjurkan yaitu masih di
rentang dosis anak dengan berat 6,4 kg yaitu 320 – 640 mg.
5. Edukasi
Orang tua diberikan nasihat agar segera membawa anaknya ke rumah
sakit apabila ditemukan demam, tinja berdarah, berulang, makan/minum
sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.
Selain itu, pada pasien ini juga diberikan terapi probiotik. Pemberian
probiotik bertujuan untuk menjaga keseimbangan flora normal di usus. Probiotik
berisi kumpulan bakteri-bakteri baik. Pada pasien diberi L- Bio yang berisi flora
normal yang ada di usus dan diharapkan dapat menjaga keseimbangan flora normal
37
di usus sehingga dapat menormalkan kembali fungsi saluran pencernaan. Dosis L-
bio pada anak kurang dari 2 tahun dapat diberikan 1 – 2 sachet per hari. Pada pasien
diberikan 1 x 1 sachet yang berarti masih termasuk dalam rentang dosis yang
dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hasan R, Alatas H, Ed. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 1985.
38
2. Behrman RE, Vaughn VC, Nelson WE, eds. Ilmu kesehatan anak nelson 1.
Alih bahasa : Siregar MR, Maulany RF, EGC. Jakarta : 1992 ; 266-7.

3. Wiku Adisasmito. Faktor risiko diare pada bayi dan balita di indonesia:
Systematic review penelitian akademik Bidang kesehatan masyarakat. Makara,
Kesehatan, Jun 2011 ;11(1): 1-10.

4. Mansjoer A, Suprohaita, Wahyu I, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II.


Jakarta: Media Eusculapius, 2000: 471.

5. Juffrie M, Soenarto SSY, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulayni NS, editor.


Buku Ajar Gastroentero-hepatologi. 3rd ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
2010; p. 87-118.

6. Marcdante KJ, et al. Nelson essentials of pediatrics. 6th ed. Philadelphia:


Saunders. 2011.

7. Suraatmadja S. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto,


2005: 1-15.

8. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan


Penyehatan Lingkungan. 2011

39