Anda di halaman 1dari 56

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 0

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 1


KATA
PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas semua rahmat dan kuasa-NYA,
sehingga Aplikasi Database Akses Pangan dan Modul Aplikasi Database Akses
Pangan pada Bidang Analisis Akses Pangan, Pusat Distribusi Pangan BKP
Anggaran 2010 ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah di
tetapkan.

Modul Aplikasi Database Akses Pangan ini berisi tentang uraian latar
belakang kegiatan, kajian analisis akses pangan dan database, indikator
analisis akses pangan serta aplikasi database akses pangan. Uraian-uraian ini
diwujudkan dalam bentuk narasi ilmiah, tabel, diagram, dan gambar. Modul
Aplikasi Database Akses Pangan ini merupakan salah satu tahapan akhir
sekaligus merupakan sebagai petunjuk/pedoman dalam penggunaan Operasi
Sistem Aplikasi Database Akses Pangan yang berbasis Microsoft Acces.

Penyusun menyadari bahwa materi dalam Aplikasi Database Akses


Pangan maupun Modul Aplikasi Database Akses Pangan ini mungkin masih
terdapat kekurangan yang perlu dibenahi dan disempurnakan. Oleh karena
itu, kami mengharapkan masukan, kritik dan saran untuk menunjang
kelengkapan materi, untuk pengembangan lebih lanjut.

Jakarta, Desember 2010

Pusat Distribusi Pangan

PUSAT i DISTRIBUSI PANGAN, BKP 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Tujuan ........................................................................................... 2
1.3 Sasaran .......................................................................................... 2
1.4 Sistematika Modul ........................................................................ 3

BAB II KAJIAN AKSES PANGAN DAN DATABASE ........................................ 5


2.1 Konsep Akses Pangan .................................................................... 5
2.2 Indikator Analisis Akses Pangan .................................................... 7
2.2.1 Indikator Akses Pangan ...................................................... 7
2.2.2 Range Indikator Individu, Indeks Indikator Komposit dan
Pengkategorian .................................................................. 8
2.3 Database Microsoft Access ........................................................... 10
2.3.1 Sekilas Tentang Database .................................................. 10
2.3.2 Struktur Database Dalam Microsoft Access ...................... 11

BAB III INDIKATOR ANALISIS AKSES PANGAN ........................................... 15


3.1 Indikator Fisik ................................................................................ 15
3.1.1 Ketersediaan Pangan ......................................................... 15
3.1.1.1 Konsumsi Normatif .............................................. 15
3.1.1.2 Produksi Netto Pangan Pokok ............................. 18
3.1.1.3 Rasio Konsumsi Normatif .................................... 19
3.1.1.4 Penghitungan Indeks Menggunakan MS-Excel .... 20

PUSAT iiDISTRIBUSI PANGAN, BKP 3


3.1.2 Infrastruktur ...................................................................... 21
3.1.2.1 Persentase Desa Yang Tidak Bisa Dilalui
Kendaraan Roda 4 ................................................ 21
3.1.2.2 Persentase Desa Yang Tidak Mempunyai Pasar
dan Jarak Terdekat Ke Pasar Minimum 3 Km ...... 21
3.2 Indikator Ekonomi ......................................................................... 22
3.2.1 Persentase Penduduk Yang Hidup Dibawah Garis
Kemiskinan ......................................................................... 23
3.2.2 Persentase Penduduk Yang Bekerja Kurang dari 36 Jam
Per Minggu ........................................................................ 23
3.2.3 PDRB Ekonomi Kerakyatan Perkapitan .............................. 24
3.3 Indikator Sosial .............................................................................. 26
3.3.1 Persentase Penduduk Yang Tidak Tamat SD ...................... 26
3.4 Indeks Komposit (Gabungan) Analisis Akses Pangan .................... 27

BAB IV APLIKASI DATABASE AKSES PANGAN ............................................ 29


4.1 Struktur Database Akses Pangan .................................................. 30
4.1.1 Tabel Pada Aplikasi Database Akses Pangan ..................... 30
4.1.2 Query Pada Aplikasi Database Akses Pangan .................... 32
4.1.3 Relationship Pada Aplikasi Database Akses Pangan .......... 33
4.1.4 Form Pada Aplikasi Database Akses Pangan ...................... 34
4.1.5 Report Pada Aplikasi Database Akses Pangan ................... 35
4.2 Menjalankan Program Microsoft Access 2007 ............................. 36
4.3 Menjalankan Aplikasi Database Akses Pangan ............................. 38
4.3.1 Input Data Komoditas Pangan ........................................... 39
4.3.2 Input Data Akses fisik/Infrastruktur ................................... 41
4.3.3 Input Data Akses Ekonomi ................................................. 44
4.3.4 Input Data Akses Sosial ...................................................... 46
4.3.5 Menampilkan Laporan Data .............................................. 48

PUSATiiiDISTRIBUSI PANGAN, BKP 4


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akses pangan adalah kemampuan rumah tangga baik secara ekonomi,
fisik maupun sosial untuk mendapatkan pangan yang cukup secara tetap dari
cadangan pangan sendiri, produksi rumah tangga, pembelian di pasar, barter,
pinjaman atau bantuan pangan.

Untuk menjamin akses pangan yang cukup dari waktu ke waktu,


khususnya di daerah rawan pangan perlu dilakukan analisis untuk
mengetahui tingkat aksesibilitas yang ada saat ini dan masalah yang dihadapi
masyarakat di daerah rawan yang bersangkutan. Mengingat masalah akses
pangan dapat disebabkan oleh alasan yang berbeda-beda tersebut, maka
untuk dapat mengatasinya dengan efektif, kita harus mampu menganalisis
penyebab utama, penyebab sekunder, maupun penyebab lainnya. Adapun
kegiatan analisis akses pangan meliputi pengkajian, perumusan kebijakan,
pemantauan dan pemantapan analisis akses pangan.

Dalam rangka pemantapan analisis akses pangan, diperlukan informasi


situasi dan kondisi yang bersifat terkini (up to date), tepat waktu (timely),
konsisten (consistent), dan relevan, serta dapat di akses bagi pihak yang
berkepentingan.

Permasalahan yang dihadapi dalam proses analisis akses pangan adalah


tersebarnya berbagai jenis data dan informasi pada unit kerja lingkup Badan
Ketahanan Pangan dan data lintas sektor yang sulit untuk dikompilasi. Oleh
karena itu, diperlukan rancangan model sistem pengolahan data analisis
akses pangan yang terintegrasi disesuaikan dengan analisis akses pangan

PUSAT 1DISTRIBUSI PANGAN, BKP 5


hingga dapat dijadikan acuan bagi aparat ketahanan pangan baik di pusat
maupun daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Sehingga mempermudah
dalam melakukan pengumpulan, analisis mapun pelaporan data analisis akses
pangan.

1.2 Tujuan
Pembuatan Aplikasi Database Akses Pangan bertujuan :

a) Memberikan pengenalan terhadap peserta untuk memahami tentang


konsep dan indikator-indikator yang digunakan dalam metode analisis
akses pangan;

b) Memberikan pengenalan terhadap peserta untuk memahami tentang


manajemen data dan informasi untuk dasar analisis akses pangan;

c) Memberikan penjelasan tentang memasukkan (entry) data indikator


analisis akses pangan untuk dapat diolah dan dianalisis sehingga
menghasilkan informasi terjadinya penurunan akses pangan di suatu
wilayah;

d) Memberikan pembelajaran bagaimana memulai pengembangan analisis


akses pangan.

1.3 Sasaran
Sasaran dari penyusunan Aplikasi Database Akses Pangan maupun buku
panduan (modul) aplikasi database akses pangan adalah sebagai berikut:
a. Memahami dan mengerti tentang konsep dan indikator-indikator yang
digunakan dalam metode analisis akses pangan;
b. Memahami pentingnya analisis akses pangan dalam mengidentifikasi
lokasi dan rumah tangga yang mengalami masalah akses pangan;

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 62


c. Memahami cara pengumpulan data dan kompilasi serta bagaimana
menganalisis situasi akses pangan si suatu wilayah;
d. Memahami pentingnya kompilasi data sebagai informasi dasar dalam
perkembangan analisis akses pangan;
e. Memahami dan mengerti tentang teknik menstrukturisasi data indikator
akses pangan;
f. Memahami dan mengerti cara entry, mengolah dan menganalisis data
akses pangan;
g. Mampu menjadi fasilitator dalam training modul aplikasi database akses
pangan ini kepada peserta tingkat kabupaten dan kota;
h. Memberikan pelatihan bagi aparat pemerintah daerah dalam
mengumpulkan data, mengentry data dan mengolah data indikator akses
pangan;
i. Meningkatkan kemampuan aparat pemerintah daerah dalam melakukan
analisis akses pangan.

1.4 Sistematika Modul

Sistematika penyusunan Modul Aplikasi Database Akses Pangan adalah


sebagai berikut :

a) Pendahuluan
Pada bab pendahuluan berisi penjelasan latar belakang, tujuan, sasaran
dan sistematika penyusunan Modul Aplikasi Database Akses Pangan;
b) Kajian Analisis Akses Pangan
Pada bab ini berisi penjelasan mengenai konsep akses pangan, indikator
analisis akses pangan serta penjelasan dari database Microsoft Access.
c) Indikator Analisis Akses Pangan
Pada bab indikator analisis akses pangan menjelaskan semua indikator
yang mempengaruhi aksesibilitas pangan suatu wilayah meliputi indikator
fisik (ketersediaan pangan dan infrastruktur), indikator ekonomi (PDRB
Ekonomi kerakyatan, persentase penduduk miskin dan jam kerja yang ≥

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 37


36 jam per minggu) serta indikator sosial (persentase penduduk yang
tidak tama SD).
d) Aplikasi Database Akses Pangan
Berisi penjelasan mengenai struktur database akses pangan, bekerja
dengan Operasi Microsoft Access serta penjelasan menjalankan aplikasi
database akses pangan yang berbasis Microsoft Acces.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 84


BAB II
KAJIAN
AKSES PANGAN DAN DATABASE

2.1 Konsep Akses Pangan


Akses pangan merupakan aspek kritis dalam perwujudan ketahanan
pangan karena merupakan salah satu pilar ketahanan pangan selain
ketersediaan dan pemanfaatan pangan. Permasalahan akses pangan
terutama yang berakibat pada keadaan yang bersifat kronis di Indonesia
merupakan hal penting yang memerlukan perhatian. Pencegahan dan
penanggulangan masalah tersebut memerlukan pemantauan, analisis dan
evaluasi faktor-faktor penyebabnya, dilanjutkan dengan perumusan strategi
dan penyusunan program sebagai landasan kebijakan yang dioperasionalkan
dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan masalah.

Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan koordinasi dan


keterpaduan program dengan instansi terkait dalam rangka memfasilitasi
kegiatan sangat diperlukan, terlebih lagi dalam hal analisis akses pangan yang
merupakan modal dasar dalam melaksanakan intervensi pencegahan dan
penanggulangan kerawanan pangan di Indonesia.

Dengan data dan informasi yang berasal dari identifikasi lapangan dan
pemetaan daerah setempat akan menjadi bahan yang sangat berharga dalam
mendukung perbaikan aksesibilitas pangan masyarakat ke depan.
Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan suatu aplikasi database sebagai
salah satu sarana pendukung jejaring informasi yang tersebar menjadi satu
kesatuan data untuk kemudian dilakukan proses pengolahan sampai dengan
analisis hingga menjadi informasi yang akurat, tepat waktu dan dapat

PUSAT 5DISTRIBUSI PANGAN, BKP 9


dipertanggungjawabkan sebagai pegangan dalam penanganan operasional
kebijakan analisis akses pangan di lapangan.

Modul Aplikasi Database Akses Pangan ini masih bersifat ringkas, namun
diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pengelolaan kegiatan Analisis
Akses Pangan. Kritik dan saran dari berbagai pihak senantiasa kami harapkan
untuk lebih menyempurnakan modul ini, semoga dapat bermanfaat bagi
pihak-pihak yang menggunakan.

Sumber : Pedoman Analisis Akses Pangan, 2009

Gambar 2.1 Konsep Analisis Akses Pangan

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 10


6
2.2 Indikator Analisis Akses Pangan
2.2.1 Indikator Akses Pangan
a. Indikator Fisik mencakup :
a) Ketersediaan pangan pokok (padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar,)
 Rasio konsumsi normatif terhadap ketersediaan bersih
pangan pokok (padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dalam ton
GKG, PK, dll).
b) Infrastruktur :
 Persentase desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda
empat;
 Persentase desa yang tidak mempunyai pasar dan jarak
terdekat ke pasar lebih dari (minimum) 3 km;
b. Indikator ekonomi dilihat dari daya beli pangan (ukuran kemampuan
masyarakat rata-rata penduduk dalam membeli pangan). Indikator
ekonomi meliputi :
1) Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan;
2) Persentase penduduk yang bekerja kurang dari 36 jam per
minggu;
3) Nilai Product Domestic Regional Bruto (PDRB) ekonomi
kerakyatan per kapita.
c. Indikator sosial mencakup :
Persentase penduduk yang tidak tamat sekolah dasar (SD).

Adapun perbedaan antara indikator akses pangan pedesaan dan perkotaan


adalah : indikator pedesaan mencakup indikator fisik, ekonomi dan sosial,
sedangkan indikator perkotaan mencakup indikator ekonomi dan sosial
(minus indikator fisik).

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 7


11
2.2.2 Range Indikator Individu, Indeks Indikator Komposit dan
Pengkategorian
Dalam rangka melakukan pengolahan data indikator tahunan akses
pangan pedesaan diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Untuk melihat tingkatan dari setiap indikator (secara individu) maka
dibuat ranges yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang berkompeten. Nilai
ranges berkisar antara 0 – 100%. Kecuali untuk ketersediaan pangan
nilainya <0.5 - >1.5. (Ranges dan tingkatan kondisi akses pangan secara
individu dapat dilihat pada Tabel 1.)

b) Berdasarkan ranges yang telah ditetapkan dilakukan pengkategorian


mulai dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi (kategori
menggunakan istilah kondisi akses pangan).

c) Untuk mengetahui kondisi akses pangan maka semua indikator individu


dikompositkan/digabung. Caranya adalah dengan mengindeks setiap
indikator individu. Kemudian indeks setiap indikator dirata-rata sehingga
diperoleh indeks gabungan (indeks akses pangan komposit). Nilai indeks
berkisar antara 0 – 1 dimana semakin mendekati 0 berarti akses pangan
semakin tinggi/baik, sebaliknya jika semakin mendekati 1 maka akses
pangan semakin rendah/buruk.

d) Kondisi akses pangan dibagi dalam 6 tingkatan mulai dari sangat rendah –
rendah – cukup rendah – cukup tinggi – tinggi – sangat tinggi berdasarkan
nilai indeks komposit.

Tabel 2.1 Ranges Indikator Analisis Akses Pangan


Kondisi Akses
Kategori Indikator Ranges
Pangan
1. Akses 1. Rasio Konsumsi 1. > = 1.5 Sangat Rendah
Fisik normatif per kapita 2. 1.25 - < 1.5 Rendah
terhadap ketersediaan 3. 1 - < 1.25 Cukup Rendah
bersih serealia dan 4. 0.75 - < 1 Cukup Tinggi

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 12


8
Kondisi Akses
Kategori Indikator Ranges
Pangan
umbi2an (padi, jagung, 5. 0.5 - < 0.75 Tinggi
ubi kayu, ubi jalar) 6. < 0.5 Sangat Tinggi
2. Persentase desa yang 1. > = 30 % Sangat Rendah
tidak dapat dilalui 2. 25 % - < 30 % Rendah
kendaraan roda empat 3. 20 % - < 25 % Cukup Rendah
4. 15 % - < 20 % Cukup Tinggi
5. 10 % - < 15 % Tinggi
6. < 10 % Sangat Tinggi
3. Persentase desa yang 1. > = 62,5 % Sangat Rendah
tidak memiliki pasar dan 2. 50 % - < 62,5 % Rendah
jarak terdekat ke pasar 3. 37,5 % - < 50 % Cukup Rendah
> 3 km 4. 25 % - < 37,5 % Cukup Tinggi
5. 12,5 % - < 25 % Tinggi
6. < 12,5 % Sangat Tinggi
2. Akses 4. Persentase penduduk 1. > = 35 % Sangat Rendah
Ekonom hidup di bawah garis 2. 25 % - < 35 % Rendah
i kemiskinan 3. 20 % - < 25 % Cukup Rendah
4. 15 % - < 20 % Cukup Tinggi
5. 10 % - < 15 % Tinggi
6. < 10 % Sangat Tinggi
5. Persentase penduduk 1. > = 50 % Sangat Rendah
yang bekerja < 36 jam 2. 40 % - < 50 % Rendah
per minggu 3. 30 % - < 40 % Cukup Rendah
4. 20 % - < 30 % Cukup Tinggi
5. 10 % - < 20 % Tinggi
6. < 10 % Sangat Tinggi
6. Product Domestic 1. < 365 $ Sangat Rendah
Regional Bruto (PDRB) 2. 365 $ - < 730 $ Rendah
ekonomi kerakyatan per 3. 730 $ - < 1095 $ Cukup Rendah
kapita 4. 1095 $ - < 1460 $ Cukup Tinggi
5. 1460 $ - < 2190 $ Tinggi
6. > = 2190 $ Sangat Tinggi

3. Akses 7. Persentase penduduk 1. > = 50 % Sangat Rendah


Sosial yang tidak tamat 2. 40 % - < 50 % Rendah
pendidikan dasar (SD) 3. 30 % - < 40 % Cukup Rendah
4. 20 % - < 30 % Cukup Tinggi
5. 10 % - < 20 % Tinggi
6. < 10 % Sangat Tinggi

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 13


9
Adapun range indeks akses pangan komposit adalah sebagai berikut :
>= 0,80 akses pangan sangat rendah = prioritas 1
0,64 - < 0,8 akses pangan rendah = prioritas 2
0,48 - < 0,64 akses pangan cukup rendah = prioritas 3
0,32 - < 0,48 akses pangan cukup tinggi = prioritas 4
0,16 - < 0,32 akses pangan tinggi = prioritas 5
<0,16 akses pangan sangat tinggi = prioritas 6
Setelah diperoleh angka indeks untuk penetapan posisinya dalam wilayah
provinsi/kabupaten setempat, kemudian dicari penyebab dari besaran
nilai/kekuatannya dalam bentuk sharing untuk menjadikan akses pangan
rendah, hal ini dapat juga di cross check dengan indikator individu yang
rangenya dalam kategori tinggi/sangat tinggi.

Untuk pemetaan pada tingkat provinsi (atau level yang lebih rendah),
kita tidak bisa begitu saja menggunakan range yang ditetapkan untuk
pemetaan nasional, karena bisa saja range tersebut tidak sesuai dengan
distribusi data (nilai minimum-maksimum) dan kondisi lokal. Dan tidak ada
aturan yang kaku dalam penentuan range indikator individu.

2.3 Database Microsoft Access


2.3.1 Sekilas Tentang Database
Pengertian database yang paling sederhana adalah kumpulan dari tabel,
dimana suatu tabel merepresentasikan suatu entitas tertentu. Suatu entitas
terdiri atas beberapa atribut:
 Tabel mewakili entitas suatu database;
 Atribut-atribut pada suatu tabel database disebut Field atau Kolom;
 Isi dari masing-masing atribut atau field disebut Record atau Baris.
Sedangkan pengertian database pada MS Access adalah sekumpulan objek
yang terdiri dari Tabel, Query, Form, Report, Pages, Macro dan Module. Objek
tersebut ditampung dalam suatu wadah atau database. Di dalam MS Access

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 14


10
sebuah database disimpan dalam satu file berektensi mdb. Jadi dalam Access
satu file mewakili atau merepresentasikan satu database, di mana satu
database ini bisa terdiri atas beberapa Tabel, Query, Report, Macro dan
Modul.

2.3.2 Struktur Database Dalam Microsoft Access


Berdasarkan pengertian database pada MS Access di atas diketahui
bahwa sebuah database disimpan dalam satu file berektensi mdb. Dimana
Access satu file mewakili atau merepresentasikan satu database, yang terdiri:

a) Tabel
Tabel merupakan salah satu objek dalam database MS Access, dengan
struktur tabel terdiri dari nama kolom, tipe data dan keterangan
mengenai kolom. Suatu tabel terdiri dari kumpulan field dan record. Field
merupakan atribut tabel, sedangkan record merupakan isi tabel. Masing-
masing record menggambarkan atribut-atribut yang dimiliki oleh sutu
objek tertentu.

Field atau Kolom

Record
/ Baris

Gambar 2.2 Tampilan Tabel Database MS Access

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 15


11
Untuk membedakan antara satu objek dengan objek yang lain (antara
record yang satu dengan record yang lain) diperlukan satu atribut (field).
Atribut atau field yang digunakan untuk membedakan antara record yang
satu dengan record yang lain di sebut primery key. Field yang akan
digunakan sebagai primery key harus unique atau tidak berulang-ulang.
Tabel-tabel yang ada dikumpulkan dalam satu container atau wadah.
Wadah inilah yang sering disebut database. Jadi dalam satu database
terdiri atas beberapa tabel.
b) Query
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Query bertujuan untuk
menyeleksi atau memilih sejumlah data dari semua data yang ada pada
suatu database. Pemelihan atau penyeleksian data ini didasarkan pada
kriteria tertentu, kriteria tersebut bisa berupa wilayah, tahun, maupun
indikator tertentu. Query berfungsi untuk mengolah data yang ada
menjadi suatu informasi yang diinginkan.

Gambar 2.3 Tampilan Query Database MS Access

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 16


12
Query merupakan suatu tabel virtual, artinya data yang ada dalam suatu
query bisa diperlukan sebagaimana data yang ada pada tabel, namun
secara fisik data tersebut tidak tersimpan dalam satu tabel tertentu.
Query bisa berasal dari tabel, bisa juga berasal dari dua tabel, atau
bahkan bisa lebih. Fungsi Query dalam database MS Access meliputi 1)
query berdasarkan group by dan aggregate function; 2) query
berdasarkan pengurutan data (order by); 3) query berdasarkan krieria
data (having dan where); 4) query berdasarkan seleksi lebih dari satu
tabel; 5) query berdasarkan seleksi dengan sub query; 6) query
berdasarkan union/gabungan; 7) query berdasarkan join/inner join; 8)
query berdasarkan query dan built-in function.
c) Form
Salah satu ciri yang menonjol dalam Pemrograman Berorientasi Objek
adalah pengkapsulan, artinya bahwa objek merupakan kumpulan dari:
Property yaitu data yang terdapat pada objek yang dimaksud, misalnya
panjang, lebar dan warna objek.
Method yaitu berisi prosedur atau program yang akan dijalankan atau
dilaksanakan, misalnya membuat fasilitas simpan. Pada bagian ini
berisi script atau program untuk menentukan prosedur simpan.
Ivent yaitu suatu kejadian yang memicu atau mengakibatkan suatu
methode yang sudah dibuat bisa dilaksanakan. Misalnya methode
simpan, terdapat pada ivent ‘On Click’, artinya methode simpan itu
akan dijalankan bilamana terjadi ivent atau kejadian di ‘Clik’ oleh user.
Objek Form dalam database MS Acces terdiri dari Form Entri dan Form
Pelaporan. Form Entri merupakan sarana seorang user untuk
memasukkan data (entri data). Lebih jelasnya dapat lihat ilustrasi fungsi
form dalam suatu database MS Access pada Gambar 2.4.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 17


13
d) Report
Report adalah sarana untuk menampilkan informasi yang telah dibuat
dalam format tertentu. Report dalam MS Access dapat dibuat
berdasarkan query telah dibuat, bahkan bisa dibuat dari tabel tapi tidak
dianjurkan.

Gambar 2.4 Tampilan Form Database MS Access

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 18


14
BAB III
INDIKATOR
ANALISIS AKSES PANGAN

3.1 Indikator Fisik


Untuk menggambarkan kondisi akses pangan secara fisik, dapat dilihat
dari ketersediaan pangan (konsumsi normatif terhadap ketersediaan pangan
pokok (padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar) dan infrastruktur yang terdiri dari
persentase desa yang tidak bisa dilalui roda empat serta yang tidak
mempunyai pasar dan jarak terdekat ke pasar minimum 3 km.

3.1.1 Ketersediaan Pangan


3.1.1.1 Konsumsi Normatif

Ketersediaan pangan dapat dilihat dari konsumsi normatif terhadap


pangan pokok padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Ketersediaan pangan
sebagian besar berasal dari produksi. Dalam hal ini, ketersediaan pangan
terbatas pada produksi bersih (netto) dari padi, jagung, umbi-umbian (ubi
kayu dan ubi jalar) yang merupakan pangan pokok utama yang dikonsumsi
oleh masyarakat Indonesia yang dapat menunjukkan tingkat
keswasembadaan pangan.

Sebagai indikator Ketersediaan Pangan digunakan proporsi konsumsi


normatif terhadap ketersediaan bersih padi, jagung dan umbi-umbian yang
layak dikonsumsi manusia. Konsumsi normatif adalah jumlah pangan yang
harus dikonsumsi per orang per hari untuk memperoleh kilo kalori energi.
Standar kebutuhan kalori per hari per kapita adalah 2.200 kkal dan untuk
mencapai 50% kebutuhan kalori dari serealia maka seseorang harus

PUSAT15DISTRIBUSI PANGAN, BKP 19


mengkonsumsi kurang lebih 300 gr serealia per hari. Atas perhitungan
tersebut maka dapat diketahui kondisi ketersediaan pangan di suatu daerah
(surplus, cukup atau defisit). Adapun penghitungan produksi netto pangan
pokok (serealia/biji-bijian) adalah sebagai berikut :

a) Padi

1) Ambil data produksi padi untuk seluruh kabupaten pada satu provinsi
(biasanya dalam bentuk GKG, jika dalam bentuk GKP dikonversi dulu
ke dalam GKG)
2) Kurangi dengan susut yang terdiri dari Bibit (s), Pakan (f), industri (i)
dan Tercecer (w) untuk mendapatkan data netto ketersediaan Padi
(Pnet). Nilai untuk bibit , pakan, industri dan tercecer adalah 0.90%,
0.44%, 0.56%, dan 5.40%
3) Untuk mendapat produksi beras (R), kalikan data netto padi dengan
Faktor Konversi (c) di masing-masing kabupaten dengan Faktor
Konversi beras secara nasional adalah 0,632 (atau 63,2%).
Maka, produksi beras dihitung sebagai berikut:
R = c * Pnet
di mana
Pnet = P * {1 – (s+f+i+w)}
4) Untuk mendapatkan produksi beras bersih (Rnet), kurangi dengan
susut beras (pakan (f), industri non makanan (i), dan tercecer (w)).
Nilai untuk susut beras adalah masing-masing 0.17%, 0.66%, dan
2.50%.
Maka, produksi beras bersih dihitung sebagai berikut:

Rnet = R * {1-(f+i+w)}
b) Jagung

1) Ambil data produksi jagung untuk seluruh kabupaten pada satu


provinsi (biasanya dalam bentuk PK)

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 20


16
2) Kurangi dengan susut yang terdiri dari Bibit (s), Pakan (f) dan Tercecer
(w) untuk mendapatkan produksi Jagung (M). Nilai untuk bibit ,
pakan, industri dan tercecer adalah 0.8 %, 6 %, dan 5 %.
3) Untuk mendapat produksi netto jagung yang dikonsumsi (Mnet),
kalikan data produksi jagung dengan Faktor Konversi (c), yaitu 60 %
Produksi Netto Jagung (Mnet) dihitung dengan cara sebagai berikut:
Mnet = M * c,
di mana, c (Faktor Konversi) = 0,6
4) Untuk memperoleh rasio konsumsi normatif maka kalori jagung harus
disetarakan/dikonversikan dengan kalori beras. Untuk itu produksi
netto jagung dikalikan dengan 0,77 sehingga kalorinya setara dengan
beras.

c) Ubi Kayu

Sama halnya dengan jagung, tidak semua produksi ubi kayu dikonsumsi
oleh manusia. Ubi kayu yang dikonsumsi adalah ubi kayu lepas kulit.
1) Ambil data produksi ubi kayu untuk seluruh kabupaten pada satu
provinsi (P)
2) Kurangi dengan susut yang terdiri dari Pakan (f) dan Tercecer (w)
untuk mendapatkan produksi ubi kayu
3) Nilai konversi untuk pakan dan tercecer masing-masing adalah 2 %
dan 13 %
4) Untuk mendapat produksi netto ubi kayu yang dikonsumsi (UK net),
kalikan data produksi ubi kayu dengan Faktor Konversi (c) ubi kayu
yaitu 28 %. :
UKnet = UK * c,
5) Untuk memperoleh rasio konsumsi normatif maka kalori ubi kayu
harus disetarakan/dikonversi dengan kalori beras. Untuk itu produksi
netto ubi kayu dikalikan dengan 0,3 sehingga kalorinya setara dengan
beras.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 21


17
d) Ubi Jalar

Sama halnya dengan ubi kayu, ubi jalar yang dikonsumsi adalah ubi jalar
lepas kulit.
1) Ambil data produksi ubi jalar untuk seluruh kabupaten pada satu
provinsi (P)
2) Kurangi dengan data Pakan (f) dan Tercecer (w) untuk mendapatkan
data produksi ubi jalar
3) Nilai konversi untuk pakan dan tercecer masing-masing adalah 2 %
dan 1%
4) Untuk mendapat produksi netto ubi jalar yang dikonsumsi (UJ net),
kalikan data produksi ubi jalar dengan Faktor Konversi (c) ubi jalar
yaitu 14 % :
UJnet = UJ * c,
5) Untuk memperoleh rasio konsumsi normatif maka kalori ubi jalar
harus disetarakan/dikonversi dengan kalori beras. Untuk itu produksi
netto ubi jalar dikalikan dengan 0,29 sehingga kalorinya setara dengan
beras.

3.1.1.2 Produksi Netto Pangan Pokok

Produksi Netto Pangan Pokok (Padi, Jagung, Ubi Kayu dan Ubi Jalar)
atau Pfood:
Pfood = Rnet + Mnet + UKnet + UJnet
Penghitungan Ketersediaan Pangan Biji-Bijian per Kapita per Hari
Gunakan data Total Populasi (tpop) kabupaten pada tahun yang sama dengan
data produksi pangan biji-bijian. Ketersediaan pangan biji-bijian per kapita
per hari (F) dihitung dengan cara sebagai berikut:
Pfood
F = --------------
tpop * 365
Satuan untuk perhitungan ini adalah dalam gram.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 22


18
3.1.1.3 Rasio Konsumsi Normatif

Rasio konsumsi normatif terhadap ketersediaan netto pangan serealia


per kapita per hari adalah merupakan petunjuk kecukupan pangan pada satu
wilayah. Konsumsi Normatif (Cnorm) didefinisikan sebagai jumlah pangan
serealia yang harus dikonsumsi oleh seseorang per hari untuk memperoleh
kilo kalori energi dari serealia. Pola konsumsi di Indonesia menunjukkan
bahwa rata-rata seseorang memperoleh 50% keperluan energi hariannya dari
serealia. Standar kebutuhan kalori per hari per kapita adalah 2,100 kkal, dan
untuk mencapai 50% kebutuhan kalori dari sereal, maka seseorang harus
mengkonsumsi kurang lebih 300 gr sereal per hari. Oleh sebab itu dalam
analisis ini, kita memakai 300 gr sebagai nilai konsumsi normatif (konsumsi
yang direkomendasikan). Perlu dijelaskan bahwa dalam analisis ini dipilih
penggunaan konsumsi normatif daripada penggunaan konsumsi aktual
sehari-hari.
Rasio Ketersediaan Pangan
Penghitungan Rasio Ketersediaan Pangan

Cnorm
IK = -----------------
F
Cnorm : Konsumsi Normatif (300g)
F : Ketersediaan Pangan Serealia
Jika nilai ‘IK’ lebih dari 1, maka daerah tersebut defisit pangan serealia, atau
kebutuhan konsumsi tidak bisa dipenuhi dari produksi bersih serealia (beras
dan jagung) yang tersedia di daerah tersebut. Dan bila nilai ‘IK’ kurang dari 1,
maka ini menunjukkan kondisi surplus pangan serealia di daerah tersebut.
Setelah itu, data ini harus diubah/dikonversi ke dalam suatu indeks, yang
menggunakan skala 0 sampai 1.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 23


19
Xij – Ximin
Indeks Xij = ----------------
Ximax – Ximin

dimana,

Xij = nilai ke – j dari indikator ke – I

‘min’ dan ‘max’ = nilai minimum dan maksimum dari indikator tersebut.

Kemampuan produksi suatu daerah dapat bervariasi dari tahun ke tahun


yang dipengaruhi berbagai faktor, maka disarankan untuk menggunakan data
rata-rata 3 tahun produksi untuk analisa ini. Dengan demikian memungkinkan
untuk mencakup fluktuasi produksi tahunan. Indeks ketersediaan pangan
(IAV) digunakan dalam penghitungan komposit akses pangan.

3.1.1.4 Penghitungan Indeks Menggunakan MS-Excel

Gunakan formula standarisasi seperti yang sudah dijelaskan


sebelumnya, yaitu dengan mengkonversi/merubah nilai semua indikator ke
dalam skala 0 –1. Lihat contoh di bawah ini. Pada Excel formula yang
digunakan untuk indikator pada cell AA6, dan untuk range data dari AA6
sampai dengan AA16 adalah sebagai berikut: (Y8-MIN(Y$8:Y$16)) /
(MAX(Y$8:Y$16)-MIN(Y$8:Y$16)).

Simbol “$” ini digunakan agar nilai dari range tertentu suatu kelompok
data tidak berubah selama proses penghitungan. Seperti terlihat pada lembar
Excel di atas ini, Indeks IAV dihitung dengan menggunakan formula seperti
yang dijelaskan sebelumnya. Bila nilai dari satu cell sudah dihitung, copy dan
paste formula tersebut untuk cell-cell berikutnya (penghitungan indeks
berikutnya). Nilai Indeks keseluruhan akan secara otomatis dihitung oleh
excel.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 24


20
3.1.2 Infrastruktur
3.1.2.1 Persentase Desa Yang Tidak Bisa Dilalui Kendaraan Roda Empat

Salah satu indikator utama untuk melihat kondisi akses pangan dari
aspek fisik adalah infrastruktur jalan. Pertimbangannya mengingat bahwa
sarana tersebut paling penting untuk perhubungan/transportasi darat.
Sarana jalan memfasilitasi masyarakat menjadi dekat dengan pasar dan
fasilitas lain. Keterbelakangan infrastruktur menghalangi laju perkembangan
dari suatu wilayah. Akses jalan memberikan akses yang lebih baik ke pasar
bagi produsen, penjual, dan pembeli. Jalan memungkinkan orang untuk
mengakses pelayanan dasar lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dsb. yang
sangat penting untuk memperbaiki standar kehidupan. Karena itu, semakin
baik akses jalan di suatu wilayah, maka semakin baik pula aksesnya terhadap
pangan.

Dalam hal ini, persentase desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda
empat digunakan sebagai indikator yang mewakili akses/infrastruktur jalan.
Semakin besar persentase desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda
empat, maka semakin buruk aksesnya terhadap pangan. Jika persentase desa
yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat lebih besar dari 20 persen,
maka akses pangannya masuk dalam kategori rendah. Data jumlah desa yang
tidak dapat dilalui kendaraan roda empat diperoleh dari Buku Podes, BPS
tahun terakhir.

3.1.2.2 Persentase Desa Yang Tidak Mempunyai Pasar Dan Jarak Terdekat
Ke Pasar Minimum 3 Km

Pasar merupakan sarana untuk memperoleh segala macam kebutuhan


manusia termasuk pangan; sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli;
serta tempat berlangsungnya kegiatan jual beli. Karena itu, akses pasar dan
jarak terdekat ke pasar akan mempengaruhi tingkat akses pangan.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 25


21
Kepemilikan pasar suatu desa akan mempengaruhi rumah tangga/wilayah
dalam mengakses pangan. Jarak terdekat ke pasar lebih dari 3 km akan
mempengaruhi waktu tempuh ke pasar yang juga akan mempengaruhi dalam
mengakses pangan. Semakin sulit akses rumah tangga ke pasar maka
semakin rendah aksesnya terhadap pangan.

Sebagai indikator untuk melihat akses pasar adalah dengan melihat


persentase desa yang berjarak lebih dari 3 km dari pasar. Jika persentase
desa yang berjarak lebih dari 3 km dari pasar lebih dari 37,5 persen, maka
akses pangannya masuk dalam kategori rendah. Nilai persentase desa yang
tidak memiliki pasar dan jarak terdekat ke pasar lebih dari 3 km semakin
tinggi akan menunjukkan tingkat rendahnya akses pangan. Data jumlah desa
tanpa pasar dan memiliki jarak ke pasar > 3 km dari pasar diperoleh dari Buku
Podes, BPS tahun terakhir.

3.2 Indikator Ekonomi


Salah satu aspek yang mempengaruhi akses pangan adalah aspek
ekonomi, selain fisik dan sosial. Aspek ekonomi terkait dengan daya beli
masyarakat terhadap pangan. Meskipun secara fisik pangan tersedia namun
jika daya beli masyarakatnya rendah maka kemampuan masyarakat tersebut
untuk memperoleh pangan juga rendah (akses masyarakat terhadap pangan
rendah).

Untuk menggambarkan kondisi akses pangan dari aspek ekonomi,


digunakan indikator yang meliputi persentase penduduk yang hidup di bawah
garis kemiskinan, persentase penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam per
minggu, serta PDRB ekonomi kerakyatan per kapita.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 26


22
3.2.1 Persentase Penduduk Yang Hidup Dibawah Garis Kemiskinan
Akses pangan bergantung pada daya beli rumah tangga yang
merupakan fungsi dari akses terhadap mata pencaharian. Ini berarti akses
pangan terjamin seiring terjaminnya pendapatan dalam jangka panjang.
Dengan perkataan lain, keterjangkauan pangan bergantung pada
kesinambungan matapencaharian. Mereka yang tidak menikmati
kesinambungan dan kecukupan pendapatan akan tetap miskin. Jumlah orang
miskin mencerminkan kelompok yang tidak punya akses yang cukup terhadap
sumber nafkah yang produktif. Semakin besar jumlah orang miskin, semakin
rendah daya akses terhadap pangan dan semakin tinggi derajat kerawanan
pangan di wilayah tersebut. Jika persentasenya lebih dari 20 persen, maka
akses pangannya masuk dalam kategori rendah.

Indikator ini menunjukkan ketidakmampuan untuk mendapatkan


cukup pangan, karena rendahnya kemampuan daya beli atau hal ini
mencerminkan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti,
makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dll. BPS melalui survei tiga
tahunannya yang mencakup data konsumsi pangan dan non-pangan dan
berdasarkan konsumsi normatif 2,100 kkal per hari per kapita, dihitung
estimasi persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data
persentase penduduk miskin diperoleh dari Buku 2 Data dan Informasi
Kemiskinan BPS, tahun terakhir.

3.2.2 Persentase Penduduk Yang Bekerja Kurang Dari 36 Jam Per Minggu
Tidak memiliki pekerjaan yang memadai merupakan cerminan tekanan
ekonomi. Jika tidak ada sumber pendapatan yang memadai, maka ketahanan
pangan di rumah tangga tersebut akan beresiko. Untuk analisa akses pangan
ini dipakai indikator “persentase penduduk yang bekerja kurang dari 36 jam
per minggu” sebagai cerminan kondisi ekstrim dari tekanan ekonomi. Di
pilihnya persentase penduduk yang bekerja < 36 jam per minggu sebagai

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 27


23
salah satu indikator ekonomi pertimbangannya adalah karena dinilai lebih
signifikan/tajam menggambarkan tingkat pendapatan rumah tangga
dibandingkan jika menggunakan persentase penduduk yang bekerja < 15 jam
per minggu, terutama di daerah perkotaan. Sedangkan untuk di pedesaan,
jika menggunakan persentase penduduk yang bekerja < 15 jam per minggu,
yang terdata adalah pengangguran terselubung karena sebagian besar
penduduk pedesaan bekerja secara serabutan dengan upah seadanya.
Namun karena biaya hidup relatif rendah dan kebutuhan pangan diproduksi
sendiri oleh rumah tangga serta solidaritas kekerabatan masih tinggi, maka
kebutuhan pangan sehari-hari masih dapat teratasi dan akses pangannya
masih relatif baik.

Jika persentasenya lebih dari 30 persen, maka akses pangannya


masuk dalam kategori rendah. Data persentase persentase penduduk yang
bekerja kurang dari 36 jam per minggu diperoleh dari Buku 2 Data dan
Informasi Kemiskinan BPS, tahun terakhir.

3.2.3 PDRB Ekonomi Kerakyatan Per Kapita


Salah satu parameter atau indikator untuk mengukur/melihat daya
beli masyarakat adalah pendapatan penduduk. Karena data pendapatan tidak
tersedia maka sebagai pendekatan dapat menggunakan data pengeluaran
untuk pangan. Namun data pengeluaran untuk pangan yang tersedia di BPS
hanya sampai level provinsi. Sebagai alternatif, maka digunakan data Product
Domestic Regional Bruto (PDRB) per tahun atas dasar harga berlaku menurut
lapangan usaha, BPS tahun 2008. Data PDRB digunakan untuk mengetahui
kondisi ekonomi suatu wilayah (tingkat pertumbuhan ekonomi daerah,
pertumbuhan sektoral dan perkembangan ekonomi).

Mengingat data PDRB lebih bersifat kewilayahan (pendapatan untuk


daerah), sementara untuk mengukur tingkat akses pangan dilihat dari daya

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 28


24
beli atau pendapatan penduduk/rumah tangga, maka sebagai pendekatan
data PDRB yang digunakan hanya untuk sektor-sektor (lapangan usaha) yang
dikelola oleh masyarakat yang pemasukannya untuk masyarakat (PDRB
Ekonomi Kerakyatan). Untuk itu, maka lapangan usaha yang secara umum
dimiliki oleh Negara (BUMN) atau swasta tidak dimasukkan, yaitu sektor
Pertambangan dan Penggalian; Listrik, Gas dan Air Bersih, serta Keuangan
Persewaan dan Jasa Perusahaan. Agar diperoleh data per kapita maka data
PDRB tersebut dibagi dengan jumlah penduduk (PDRB per kapita ekonomi
kerakyatan). Dengan demikian, data PDRB per kapita ekonomi kerakyatan
per kapita dapat digunakan sebagai pendekatan untuk mengetahui tingkat
pendapatan penduduk di suatu wilayah.

Dalam penentuan batasan ranges untuk PDRB diasumsikan


pendapatan minimum penduduk adalah 1 $ per hari. Penetapan nilai
minimum tersebut didasarkan pada standar pendapatan minimum yang
ditetapkan FAO sebesar 2 $ per hari, namun karena nilai tersebut relatif
tinggi jika diterapkan untuk tingkat pendapatan rata-rata penduduk Indonesia
maka diturunkan menjadi 1 $ per hari. Karena mengacu pada standar FAO
maka nilai rupiah PDRB dikonversi ke dalam bentuk dollar ($), dalam hal ini
diasumsikan nilai 1 dollar saat ini adalah Rp 9500,-. Semakin tinggi tingkat
pendapatan penduduknya, maka semakin baik kondisi akses pangannya. Jika
tingkat pendapatan penduduk lebih kecil dari 1095 $ per tahun, maka akses
pangannya termasuk dalam kategori rendah. Data diperoleh dari
Kabupaten/Kota Dalam Angka, BPS tahun terakhir.

Karena fokus analisis lebih kepada kondisi akses yang rendah, maka
pada indikator komposit indeks PDRB Ekonomi Kerakyatan di-invers sehingga
dapat menggambarkan bahwa indeks yang mendekati 1 berarti akses
pangannya semakin rendah.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 29


25
3.3 Indikator Sosial

Untuk menggambarkan kondisi akses pangan dari aspek sosial hanya


diwakili oleh persentase penduduk yang tidak tamat pendidikan dasar. Hal ini
disesuaikan dengan kondisi ketersediaan data yang ada.

3.3.1 Persentase Penduduk Yang Tidak Tamat Pendidikan Dasar (SD)

Ketidakmampuan menyelesaikan pendidikan dasar dapat dikatakan


sebagai akibat dari kemiskinan. Ini mencerminkan bahwa seseorang harus
meninggalkan bangku sekolah karena berbagai alasan. Isu kemiskinan dan
ketidakmampuan untuk memenuhi biaya pendidikan merupakan alasan
utama seseorang tidak menyelesaikan pendidikan. Alasan yang lain adalah
jauhnya jarak sekolah ke perumahan, yang menggambarkan fasilitas
infrastruktur yang tidak memadai.

Pendidikan merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi akses


pangan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar
kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan/pendapatan yang lebih baik,
sehingga semakin tinggi pula kemampuan daya belinya (semakin tinggi
aksesnya terhadap pangan). Jika persentase penduduk yang tidak tamat SD
lebih dari 30 persen, maka akses pangannya masuk dalam kategori rendah.
Data diperoleh dari Buku 2 data dan Informasi Kemiskinan tahun terakhir.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 30


26
3.4 Indeks Komposit (Gabungan) Akses Pangan

Indeks Komposit Akses Pangan dihitung dengan cara sebagai berikut:

IK = 1/7 (Iketers + Ijalan + Ipasar + Imiskin + Ibekerja+ IinversPDRB + ITTSD)

Range Indikator individu, Indeks Indikator Komposit dan Pengkategorian

Dalam rangka melakukan pengolahan data indikator tahunan akses pangan


diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Untuk melihat tingkatan dari setiap indikator (secara individu) maka


dibuat ranges yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang berkompeten. Nilai
ranges berkisar antara 0 – 100%. Kecuali untuk ketersediaan pangan
nilainya <0.5 - >= 1.5
b) Berdasarkan ranges yang telah ditetapkan dilakukan pengkategorian
mulai dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi (kategori
menggunakan istilah kondisi akses pangan).
c) Untuk mengetahui kondisi akses pangan maka semua indikator individu
dikompositkan/digabung. Caranya adalah dengan mengindeks setiap
indikator individu. Kemudian indeks setiap indikator dirata-rata sehingga
diperoleh indeks gabungan (indeks akses pangan komposit). Nilai indeks
berkisar antara 0 – 1 dimana semakin mendekati 0 berarti akses semakin
tinggi/baik, sebaliknya jika semakin mendekati 1 maka akses semakin
rendah/buruk.
d) Kondisi akses pangan dibagi dalam 6 tingkatan mulai dari sangat rendah –
rendah – cukup rendah – cukup tinggi – tinggi – sangat tinggi berdasarkan
nilai indeks komposit.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 31


27
Adapun range indeks akses pangan komposit adalah sebagai berikut :

>= 0,80 akses pangan sangat rendah = prioritas 1


0,64 - < 0,8 akses pangan rendah = prioritas 2
0,48 - < 0,64 akses pangan cukup rendah = prioritas 3
0,32 - < 0,48 akses pangan cukup tinggi = prioritas 4
0,16 - < 0,32 akses pangan tinggi = prioritas 5
<0,16 akses pangan sangat tinggi = prioritas 6

Setelah diperoleh angka indeks untuk penetapan posisinya dalam wilayah


provinsi/kabupaten setempat, kemudian dicari penyebab dari besaran
nilai/kekuatannya dalam bentuk sharing untuk menjadikan akses pangan
rendah, hal ini dapat juga di cross check dengan indikator individu yang
rangenya dalam kategori tinggi/sangat tinggi.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 32


28
BAB IV
APLIKASI
DATABASE AKSES PANGAN

Terstukturnya data akses pangan dilakukan untuk memudahkan dalam


mermberikan arahan terkait lokasi-lokasi dengan akses pangan yang rendah
termasuk faktor-faktor penyebabnya, sebagai bahan deteksi dini dan acuan
bagi upaya antisipasi dan mitigasi. Adapun tujuan utama pembuatan aplikasi
database akses pangan adalah : (1) Memudahkan dalam penstrukturan data
akses pangan; (2) Memudahkan dalam pemasukan data (data input) dan
penampilan data akses pangan; dan (3) Membantu mempermudah dalam
melakukan analisis akses pangan.

Aplikasi database akses pangan merupakan system yang dibangun untuk


mempermudah dalam pengolahan database akses pangan. Sistem ini
dikembangkan dengan Operasi Sistem Microsoft Access agar lebih mudah
dalam pengoperasiannya. System ini dibangun dengan tiga fungsi, yaitu
fungsi pemasukan data (data input) akses pangan, fungsi pencarian data
akses pangan dan fungsi pelaporan / penampilan data akses pangan.

System aplikasi database akses pangan yang dibangun dimaksudkan


untuk mempermudah dalam pengelolaan data / bank data, dimana selama ini
data akses pangan belum terwadahi dalam suatu system yang efisien
akibatnya sering terjadi kehilangan data atau kesulitan dalam pencarian.
Aplikasi database akses pangan yang dibangun dikelompokkan berdasarkan
indikator akses pangan maupun jenis datanya, hal ini untuk memperudah
pengentrian, pelaporan maupun analisis data akses pangan tersebut. Lebih
jelasnya mengenai kinerja dan fungsi dari aplikasi database akses pangan
akan dibahas pada sub bab berikut.

PUSAT29DISTRIBUSI PANGAN, BKP 33


4.1 Struktur Database Akses Pangan

Aplikasi Database Akses Pangan dikembangkan menggunakan bantuan


perangkat lunak (software) Microsoft Access, dimana sebuah aplikasi
database disimpan dalam satu file berektensi/format aacdb. Jadi dalam
Microsof Access satu file mewakili atau merepresentasikan satu database,
merupakan kumpulan dari objek yang terdiri dari Tabel, Query, Form, Report,
Page, Macro dan Module.

Struktur database akses pangan yang sudah dikembangkan belum


mencakup semua objek yang terdapat dalam Microsoft Access, objek yang
terdapat dalam Aplikasi Database Akses Pangan berupa Tabel, Query, Form
dan Report. Sehingga kedepan masih perlu penembangan lebih lanjut.
Berikut adalah struktur/objek yang membentuk Aplikasi Database Akses
Pangan yang telah dikembangkan.

4.1.1 Tabel Pada Aplikasi Database Akses Pangan

Aplikasi Database Akses Pangan yang dikembangkan terdiri dari


beberapa table, diantaranya tabel propinsi, tabel kabupaten, tabel
ketersediaan, tabel komoditas, tabel jumlah desa, tabel PDRB ekonomi
kerakyatan, tabel desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda 4, tabel
jumlah penduduk, tabel penduduk tidak tamat SD, tabel desa dengan jarak
pasar lebih dari 3 km, tabel persentase jumlah miskin, dan tabel persentase
jam kerja kurang dari 36 jam perminggu. Dimana setiap tabel terbut memiliki
kolom (field) yang berbeda-beda. Berikut adalah kolom (field) masing-masing
tabel tersebut.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 34


30
Tabel 4.1 Struktur Database Akses Pangan

No Nama Tabel Nama Kolom / Field


1 Provinsi Nama Provinsi
Kode Provinsi (Primery Key)
2 Kabupaten/Kota Nama Kabupaten/Kota
Kode Kabupaten/Kota Primery Key)
Kode Provinsi
3 Komoditas Nama Komoditas
Kode Komoditas (Primery Key)
Satuan
4 Ketersediaan Kode Kabupaten/Kota
Kode Komoditas
Produksi
Tahun
5 Jumlah Desa Kode Kabupaten/Kota
Jumlah Desa/Kelurahan
6 PDRB Ekonomi Kerakyatan Kode Kabupaten/Kota
PDB Ekonomi Kerakyatan
Tahun
7 Persentase Desa Yang Tidak Kode Kabupaten/Kota
Dilalui Kendaraan Roda 4 Jumlah Desa Yang Dapat Dilalui
Kendaraan Roda 4
Jumlah Desa Yang Tidak Dapat Dilalui
Kendaraan Roda 4
Persentase Desa Yang Tidak Dapat Dilalui
Kendaraan Roda 4
Tahun
8 Persentase Desa dengan Jarak Kode Kabupaten/Kota
Pasar Lebih Dari 3 Km Jumlah Desa Yang dengan Jarak Pasar
Lebih dari 3 Km
Persentase Jumlah Desa Yang dengan
Jarak Pasar Lebih dari 3 Km
Tahun
9 Jumlah Penduduk Kode Kabupaten/Kota
Jumlah Penduduk
Tahun
10 Persentase Penduduk Miskin Kode Kabupaten/Kota
Jumlah Penduduk Miskin

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 35


31
No Nama Tabel Nama Kolom / Field
Persentase Jumlah Penduduk Miskin
Tahun
11 Persentase Jam Kerja ≥ 36 Jam Kode kabupaten/Kota
per Minggu Persentase Jam Kerja ≥ 36 Jam per
Minggu
Tahun
Sumber : Hasil Analisis

Masing-masing tabel diatas tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki


keterkaitan sesuai dengan indikatornya, misalnya tabel provinsi berhubungan
dengan tabel kabupaten/kota dan jumlah desa; tabel provinsi berhubungan
dengan tabel kabupaten/kota, tabel ketersediaan dan tabel komoditas dan
sebagianya.

4.1.2 Query Pada Aplikasi Database Akses Pangan


Fasilitas Query dalam Aplikasi Database Akses Pangan berfungsi untuk
menyeleksi atau memilih sejumlah data dari semua data yang ada dalam
system tersebut. Fungsi Query dalam aplikasi tersebut diantaranya:
a) Query berdasarkan pengurutan data
Query ini berfungsi untuk menyeleksi data berdasarkan pengurutan data
tertentu sesuai yang user inginkan, misalnya seleksi data akses pangan
berdasarkan urutan tahun, seleksi data berdasarkan urutan abjad dengan
bantuan order by artinya data diurutkan berdasarkan field/kolom
tertentu.
b) Query berdasarkan kriteria data
Query ini berfungsi untuk menyeleksi data berdasarkan kriteria data
tertentu, misalnya seleksi data berdasarkan kriteria nilai terendah atau
criteria nilai tertinggi, seleksi data dengan menbandingkan 2 nilai data.
Dimana data-data tersebut terdiri dari lebih dari satu tabel.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 36


32
c) Query berdasarkan seleksi lebih dari satu tabel
Query ini berfungsi untuk menyeleksi data berdasarkan seleksi lebih dari
satu tabel, misalnya seleksi data berdasarkan kriteria komoditas disuatu
wilayah dengan tahun tertentu, seleksi data penduduk miskin disuatu
wilayah dengan tahun tertentu dan sebagainya.
d) Query berdasarkan seleksi dengan sub query
Query ini berfungsi untuk menyeleksi data berdasarkan dari seleksi data
yang sudah ada, misalnya seleksi data berdasarkan kriteria komoditas
disuatu wilayah dengan tahun tertentu, seleksi data penduduk miskin
disuatu wilayah dengan tahun tertentu dan sebagainya.
e) Query berdasarkan union/gabungan
Query ini berfungsi untuk menyeleksi data berdasarkan penggabungan
dua query atau lebih menjadi satu kesatuan query.
f) Query berdasarkan join/inner join
Query ini bertujuan untuk mencari kesamaan data antara tabel yang satu
dengan tabel yang lain.

4.1.3 Relationship Pada Aplikasi Database Akses Pangan


Aplikasi Database Akses Pangan merupakan suatu wadah yang
merupakan kumpulan dari beberapa tabel yang saling berhubungan/relasi.
Relasi atau hubungan antar tabel dengan tabel yang lainnya ditentukan
berdasarkan aturan-aturan tertentu, relasi antar tabel sering disebut
Relationship. Jenis relasi dalam Aplikasi Database Akses Pangan yaitu relasi
satu kebanyak atau banyak ke satu dan relasi banyak ke banyak. Berikut
adalah skema relasi yang terdapat dalam system Aplikasi Database Akses
Pangan. Illustrasi relasi/hubungan antar tabel dapat dilihat pada Gambar 4.1
berikut.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 37


33
Gambar 4.1 Relasi / Hubungan Antar Tabel

4.1.4 Form Pada Aplikasi Database Akses Pangan


Form merupakan salah satu fasilitas dalam system database dalam
Operasi Microsoft Access, dimana form berfungsi untuk memasukkan
data/data input maupun berfungsi untuk menampilkan data oleh user. Dalam
Aplikasi Database Akses Pangan memiliki fasilitas form pengisian data,
diantaranya:
a) Form Komoditas Pangan
Berfungsi untuk pengisian data komoditas pangan yang meliputi data
provisni, kabupaten/kota, produksi komoditas dan tahun data.
b) Form Data Akses Fisik/Infrastruktur
Berfungsi untuk pengisian data akses fisik/infrastruktur yang meliputi
jumlah desa, jumlah desa yang dapat dilalui kendaraan roda 4, persentase
desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda 4, persentase desa yang
memiliki jarak pasar lebih dari 3 km serta data tahun.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 38


34
c) Form Data Akses Ekonomi
Bungsi untuk pengisian data akses ekonomi yang meliputi jumlah
penduduk, persentase penduduk miskin, persentase jam kerja selama
seminggu, PDRB ekonomi kerakyatan serta data tahun.
d) Form Data Sosial
Bungsi untuk pengisian data akses sosial yang meliputi data persentase
penduduk yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD)serta data tahun.

4.1.5 Report Pada Aplikasi Database Akses Pangan


Report adalah sarana untuk menampilkan informasi yang telah dibuat
dalam format tertentu. Report dalam MS Access dapat dibuat berdasarkan
query telah dibuat, bahkan bisa dibuat dari tabel tapi tidak dianjurkan.
Aplikasi Database Akses Pangan juga dilengkapi fasilitas report, ini bertujuan
sebagai bahan pelaporan atas semua data yang ada maupun terkait
kegunaan data dalam analisis akses pangan.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 39


35
4.2 Menjalankan Program Microsoft Access 2007
Buka program Microsoft Access 2007 dengan cara Klik 2 kali pada
dekstop atau melalui start klik program Microsoft Access 2007, seperti
terlihat pada gambar berikut.

Gambar 4.2 Tampilan Ikon Microsoft Access 2007 Dalam Dekstop

Setelah itu akan keluar program Microsoft Access 2007 seperti pada
Gambar 4.3, lalu klik more untuk mencari lokasi penyimpanan file database
dan kemudian membuka nama file database (Aplikasi Database Akses). Lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.4.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 40


36
Gambar 4.3 Mencari Lokasi File Aplikasi Database Akses Pangan

Gambar 4.4 Membuka File Aplikasi Database Akses Pangan

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 41


37
4.3 MENJALANKAN APLIKASI DATABASE AKSES PANGAN

Setelah file Aplikasi Database Akses Pangan dibuka maka akan muncul
tampilan (Swictboard) seperti terlihat pada Gambar 4.5. Kemudian klik
options lalu pilih menu enable to content, agar Aplikasi Database Akses
Pangan yang berbasis MS Access 2007 dapat bekerja dengan sempurna.

Gambar 4.5 Tampilan Swictboard Aplikasi Database Akses Pangan

Dalam jendela swictboard tersebut terdapat Menu Utama yang terurai


menjadi beberapa menu/form entri data berdasarkan kriteria indikator akses
pangan. Kemudian kita masuk kedalam Sub Menu (form masing-masing
indikator) yang ada pada Menu Utama dengan klik tombol salah satu sub
menu tersebut. Maka akan muncul jendela sub menu yang akan menuju
kepada Form Entry tiap-tiap indikator.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 42


38
Sub Menu /
Form Input
Data Tiap
Indikator

Gambar 4.6 Menu Swictboard Aplikasi Database Akses Pangan

4.3.1 Input Data Komoditas Pangan


Langkah pertama yang dilakukan sebelum melakukan pengisian data
komoditas pangan yaitu menekan tombol Form Komoditas Pangan pada
menu utama Swictboard, seperti terlihat pada gambar 4.7. Kemudian akan
muncul form input data komoditas pangan, terlihat pada Gambar 4.8. Berikut
adalah langkah-langkahnya input data komoditas pangan:
a) Klik new (blank) record agar semua kotak entry data kosong;
b) Pilih nama propinsi dan kabupaten/kota sesuai data yang ingin
dimasukkan dengan cara menekan tanda dropdown;
c) Masukkan/input data produksi padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar serta data
tahun pada kotak aplikasi yang tersedia;

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 43


39
Klik ‘Form
Komoditas
Pangan’

Gambar 4.7 Lokasi Form Komoditas Pangan

Gambar 4.8 Form Input Data Komoditas Pangan

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 44


40
d) Jika ingin menyimpan data tersebut maka tekan tombol Entry Data,
kemudian lanjutkan dengan data yang lain sesuai data yang tersedia. Jika
tidak ingin menyimpan data tersebut tekan tombol Batal dan jika ingin
mengakhiri aplikasi tersebut tekan tombol Keluar. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 4.9.

b) Tombol Dropdown

c) Kotak untuk
mengisi /
input data.

a) Tombol New (Balnk) Record

Gambar 4.9 Fungsi Menu Pada Form Komoditas Pangan

4.3.2 Input Data Akses Fisik/Infrastruktur


Untuk melakukan input data akses fisik/infrastruktur dimulai dengan
menekan tombol Form Data Akses Fisik/Infrastruktur pada menu utama
Swictboard, seperti terlihat pada gambar 4.10. Setelah tombol Form Data
Akses Fisik/Infrastruktur diklik maka akan muncul form/layar input data
infrastruktur, terlihat pada Gambar 4.11.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 45


41
Klik ‘Form Data Akses
fisik / infrastrktur’

Gambar 4.10 Lokasi Form Data Akses Fisik/Infrastruktur

Sebelum mengisi/input data pada form komoditas pangan, berikut


adalah langkah-langkahnya:
a) Klik new (blank) record agar semua kotak entry data kosong;
b) Pilih nama propinsi dan kabupaten/kota sesuai data yang mau
dimasukkan dengan cara menekan tanda dropdown;
c) Masukkan/input data jumlah desa, jumlah desa yang dapat dilalui
kendaraan roda 4, persentase desa yang tidak dapat dilalui kendaraan
roda 4, persentase desa yang memiliki jarak pasar lebih dari 3 km serta
data tahun pada kotak aplikasi yang tersedia;
d) Jika ingin menyimpan data tersebut maka tekan tombol Entry Data,
kemudian lanjutkan dengan data yang lain sesuai data yang tersedia. Jika
tidak ingin menyimpan data tersebut tekan tombol Batal dan jika ingin
mengakhiri aplikasi tersebut tekan tombol Keluar. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 4.12.

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 46


42
Gambar 4.11 Form Input Data Infrastruktur

b) Tombol Dropdown

c) Kotak untuk
mengisi /
input data.

a) Tombol New (Balnk) Record

Gambar 4.12 Fungsi Menu Pada Form Infrastruktur

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 47


43
4.3.3 Input Data Akses Ekonomi
Langkah pertama yang dilakukan sebelum melakukan pengisian data
akses ekonomi pangan yaitu menekan tombol Form Data Akses Ekonomi
pada menu utama Swictboard, seperti terlihat pada gambar 4.13. Kemudian
akan muncul form input data akses ekonomi, terlihat pada Gambar 4.14.
Berikut adalah langkah-langkahnya input data akses ekonomi:
a) Klik new (blank) record agar semua kotak entry data kosong;
b) Pilih nama propinsi dan kabupaten/kota sesuai data yang ingin
dimasukkan dengan cara menekan tanda dropdown;
c) Masukkan/input data jumlah penduduk, persentase penduduk miskin,
persentase jam kerja selama seminggu, PDRB ekonomi kerakyatan serta
data tahun pada kotak aplikasi yang tersedia;
d) Untuk menyimpan data tersebut maka tekan tombol Entry Data,
kemudian lanjutkan dengan data yang lain. Jika tidak ingin menyimpan
data tersebut tekan tombol Batal dan untuk mengakhiri aplikasi tersebut
tekan tombol Keluar. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.15.

Klik ‘Form Data Akses


Ekonomi’

Gambar 4.13 Lokasi Form Data Akses Ekonomi


PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 48
44
Gambar 4.14 Form Input Data Akses Ekonomi

b) Tombol Dropdown

c) Kotak untuk
mengisi /
input data.

a) Tombol New (Balnk) Record

Gambar 4.15 Fungsi Menu Pada Form Akses Ekonomi

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 49


45
4.3.4 Input Data Akses Sosial
Untuk melakukan input data akses sosial dimulai dengan menekan
tombol Form Data Akses Sosial pada menu utama Swictboard, seperti
terlihat pada gambar 4.16. Setelah tombol Form Data Akses Sosial diklik maka
akan muncul form input data sosial, terlihat pada Gambar 4.17.

Klik ‘Form Data Akses


Sosial’

Gambar 4.16 Lokasi Form Data Akses Sosial

Sebelum mengisi/input data pada form komoditas pangan, berikut


adalah langkah-langkahnya:
a) Klik new (blank) record agar semua kotak entry data kosong;
b) Pilih nama propinsi dan kabupaten/kota sesuai data yang mau
dimasukkan dengan cara menekan tanda dropdown;
c) Masukkan/input data persentase penduduk yang tidak tamat Sekolah
Dasar (SD)serta data tahun pada kotak aplikasi yang tersedia;

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 50


46
d) Jika ingin menyimpan data tersebut maka tekan tombol Entry Data,
kemudian lanjutkan dengan data yang lain sesuai data yang tersedia. Jika
tidak ingin menyimpan data tersebut tekan tombol Batal dan jika ingin
mengakhiri aplikasi tersebut tekan tombol Keluar. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 4.18.

Gambar 4.17 Form Input Data

b) Tombol Dropdown

c) Kotak untuk mengisi / input data.

a) Tombol New (Balnk) Record

Gambar 4.18 Fungsi Menu Form Akses Sosial


PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 51
47
4.3.5 Menampilkan Laporan Data
Selain menu input data, Aplikasi Database Akses Pangan juga dilengkapi
dengan menu / fasilitas untuk menampilkan laporan data yang telah di input.
Hal ini bertujuan untuk mempermudah user dalam menggunakan data akses
pangan. Adapun untuk menampilkan pelaporan data akses pangan dilakukan
dengan menekan tombol pada Menu Laporan Data Akses pada jendela
Swictboard (lihat Gambar 4.19), kemudian akan muncul jendela/layar yang
menampilkan data akses pangan sesuai dengan indikator-indikator analisis
akses pangan seperti terlihat pada Gambar 4.20.

Klik ‘Form Laporan


Data Akses’

Gambar 4.19 Lokasi Form Laporan Data Akses

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 52


48
Gambar 4.20 Tampilan Laporan Aplikasi Database Akses Pangan

Fasilitas penampilan laporan data dalam Aplikasi Database Akses


Pangan yang tersedia baru sebatas data secara keseluruhan, belum terdapat
fasilitas untuk menampilkan data sesuai dengan keinginan user. Untuk
menyempurnakan aplikasi tersebut pada Tahun Anggaran 2011 akan aplikasi
akses pangan tersebut akan dikembangkan atau disempurnakan sehingga
akan lebih efektif dan efesien dalam pengoperasiaanya.

Apabila ingin mencetak laporan tersebut klik Menu file lalu pilih print,
berikut langkah-langkahnya :
 Klik Office Button
 Select / klik Menu Print
 Pada preview print and document klik print
 Klik OK

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 53


49
Gambar 4.21 Perintah Cetak Laporan Aplikasi Database Akses Pangan

PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 54


50
PUSAT DISTRIBUSI PANGAN, BKP 55