Anda di halaman 1dari 2

Tradisi Adat Pernikahan Nias “taole mbawi”

Umumnya aktivitas adat yang paling penting dalam adat Nias adalah perkawinan. Pada masa
dahulu, perkawinan di Nias telah ditentukan dari sejak anak kecil/ditunangkan. Tidak
diperlukan persetujuan dari anak gadisnya, bahkan setelah ia dipertunangkan sampai hari
perkawinannya, si gadis tidak boleh sama sekali menampakkan diri kepada tunangannya dan
kaum kerabatnya, tradisi ini masih berlaku sampai sekarang di pedesaan Nias.

Perkawinan adalah kehidupan yang harus diteruskan di atas bumi ini. Perempuan dianggap
sebagai sumber kehidupan. Mengawini perempuan di Nias disebut juga “Mangai tanomo niha”
(mengambil benih manusia) yang terdapat pada pihak perempuan yang disebut dengan istilah
Uwu/Sibaya atau Ulu (artinya = paman/saudara ibu). Perempuan dilambangkan sebagai hulu
(kehidupan) dan laki laki disimbolkan sebagai hilir (kematian). Untuk memiliki kehidupan,
lelaki harus melawan arus sungai (manoso), disebut Soroi Tou, menuju hulu (pihak
perempuan) yang berada di atas (ngofi) tepian sungai kehidupan itu.

Dalam pernikahan selain tahap-tahap yang cukup njelimet kalau semua diikuti (ada banyak
tetua-tetua adat sekarang yang mulai menyederhanakan), ada satu tata cara yang menarik
untuk diperlihatkan, yaitu acara “Taole mbawi”, yang dalam bahasa Indonesia lebih kurang
berarti, “pemberian ikatan khusus pada punggung seekor babi”. Acara “Taole mbawi” hanya
dapat disaksikan pada acara pernikahan dan di rumah mempelai laki-laki.
Pernikahan dalam adat masyarakat Nias, yang disebut jujuran atau mas kawin adalah terdiri
dari beberapa ekor babi, beberapa juta uang dan beberapa karung beras. Jujuran ini bukan
untuk menjadi harta keluarga perempuan atau harta awal dari keluarga pengantin, semuanya
adalah sebagai kebutuhan yang dipergunakan pada setiap tahap yang dilalui.

Satu hari sebelum hari pernikahan, dan sebelum diberangkatkan dari rumah keluarga pria,
dilakukan acara adat oleh tetua-tetua adat dengan istilah “Famofanõ mbawi nisõbi” atau
pemberangkatan babi pengantin. Dan sebelum diberangkatkan dilakukan acara “Taole
mbawi”. Cara taole mbawi adalah dengan melilitkan tali yang sudah dipersiapkan pada badan
babi, dari ketiak sampai ke punggung babi dan menciptakan beberapa ikatan di punggung.
Setelah itu babi diberi makan yang terdiri dari nasi dan sebutir telur rebus. Sebelum
diberangkatkan maka salah seorang tetua adat memimpin doa. Baru setelah semua itu selesai
babi sudah boleh diberangkatkan menuju ke rumah mempelai perempuan.

Ketika ditanya makna dari semua acara “Taole mbawi” ini, tidak ada satu pun yang dapat
menjelaskan pengertiannya secara masuk akal. Hanya dikatakan bahwa, “dari dulu sejak
nenek moyang hal ini mereka telah lakukan, maka merupakan kesalahan kalau generasi
sekarang tidak melakukannya.”

Jadi peristiwa itu suatu tradisi yang turun temurun, dan semua takut “kena tulah” kalau
tidak melakukannya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya acara “Taole
mbawi” itu mengandung makna, untuk memperlihatkan perbedaan bahwa inilah jujuran babi
yang paling besar diantara jujuran yang lain. Kalau babinya besar maka suatu kebanggaan
tersendiri bagi mempelai pria bahwa ia dapat memberi yang terbaik sebagai bukti
kesungguhan hati untuk menikah dengan gadis pujaannya.

Demikian pula sebaliknya, merupakan kebanggaan bagi keluarga mempelai perempuan


bahwa ia dihargai dan dihormati oleh keluarga mempelai pria dan menambah status
kewibawaan di tengah masyarakat desanya sendiri bahwa menantunya bukanlah orang biasa
tetapi orang yang berkecukupan dan terpandang.

Pustaka

http://jadimanhutapea.blogspot.com/2010/11/nias-full-of-tradition-and-culture.html