Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PEMBAHASAN

A. Tanggung Jawab Hukum dan Etik Dalam Pelayanan Kesehatan


Hubungan hukum dan etik dalam pelayanan kesehatan. Perkembangan teknologi
telah berdampak pada banyak area pelayanan kesehatan, menurut Yacobalis, S. dalam
Sumijatun (2010), dikatakan bahwa sedikitnya ada tiga bidang dalam teknologi medis
yang berdampak terhadap hidup dan kehidupan manusia, yaitu dampak biomedik,
dampak sosial ekonomi, dan dampak bioetika. Dampak-dampak tersebut dapat
berpengaruh positif maupun negative. Dampak biomedik menyangkut manfaat dan
mudarat teknologi terhadap fisik dan fisiologi klien. Manfaat yang jelas adalah
bertambah cepat dan tepatnya diagnosis dan terapi, tetapi hal lain yang harus
diwaspadai adalah tidak semua teknologi yang ditawarkan sudah lama diuji-coba,
apalagi terhadap dampak jangka panjangnya. Dampak ekonomi adalah menjadi
bertambahnya biaya yang harus dibayar oleh klien, sehingga semakin sulit terjangkau
oleh masyarakat kelas bawah. Dampak bioetika sampai saat ini masih didiskusikan,
misalnya teknologi medis yang memperpanjang “hidup vegetative” dengan alat-alat
pengganti fungsi jantung dan paru. Dilema etik yang muncul adalah apakah alat-alat
tersebut dimaksudkan untuk memperpanjang usia klien atau menunda kematian klien
yang secara wajar memang sudah seharusnya terjadi.
Munculnya hubungan hukum dan etik dalam pelayanan kesehatan menjadi jelas,
karena tugas hukum adalah menjamin keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Oleh karena itu dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan, dikatakan bahwa “penyelenggaraan pembangunan kesehatan
meliputi upaya kesehatan dan sumber dayanya harus dilakukan secara terpadu dan
berkesinambungan guna mencapai hasil yang optimal.” Upaya kesehatan yang
semula dititikberatkan pada upaya penyembuhan penderita, secara berangsur-angsur
berkembang ke arah keterpaduan upaya kesehatan yang menyeluruh. Oleh karena itu
pembangunan kesehatan yang menyangkut upaya peningkatan kesehatan (promotive),
pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan
kesehatan (rehabilitatif) harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan, serta dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat.

3
Untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum untuk meningkatkan,
mengarahkan, dan memberi dasar bagi pembangunan kesehatan, diperlukan perangkat
hukum kesehatan yang dinamis. Perangkat hukum tersebut hendaknya dapat
menjangkau perkembangan yang makin kompleks yang akan terjadi dalam kurun
waktu mendatang. Untuk itu dalam UU ini diatur tentang:
1. Asas dan tujuan yang menjadi landasan dan memberi arah pembangunan
kesehatan yang dilaksanakan melalui upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi orang, sehingga terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosilanya.
2. Hak dan kewajiban setiap orang untuk memperoleh derajar kesehatan yang
optimal serta wajib untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan.
3. Tugas dan tanggung jawab pemerintah pada dasarnya adalah mengatur, membina,
dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan, serta menggerakan peran serta
masyrakat.
4. Upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan melalui pendekatan peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, penyembuhan penyait, dan pemulihan kesehatan.
5. Sumber daya kesehatan sebagai pendukung penyelenggaraan upaya kesehatan
harus tetep memperhatikan golongan masyarakat yang kurang mampu dan
semata-mata tidak mencari keuntungan.
6. Ketentuan pidana untuk melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan
kesehatan bila terjadi pelanggaran terhadap undang-undang ini.

Undang-undang ini hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok, sedangkan yang
bersifat teknis dan operasional diatur dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan
Pelaksanaan lainnya.
Selain oleh aturan hukum, profesi kesehatan juga diatur oleh kode etik
profesi (etika profesi). Namun demikian, menurut Dr. Siswanto Pabidang, masalah
etika dan hukum kadangkala masih dicampur baurkan, sehingga pengertiannya
menjadi kabur. Seseorang yang melanggar etika dapat saja melanggar hukum dan
tentu saja seseorang yang melanggar hukum akan melanggar pula etika. Oleh
karena itu, menurut Samil yang mengutip pernyataan Davis & Smith, bahwa ada
hubungan antara hukum dan etik, yaitu:

4
1. Sesuai etik dan sesuai hukum;
2. Bertentangan dengan etik dan bertentangan dengan hukum;
3. Sesuai dengan etik tetapi bertentangan dengan hukum dan;
4. Bertentangan dengan etik tetapi sesuai dengan hukum.

Maraknya kasus dugaan malpraktik belakangan ini, menjadi peringatan dan


sekaligus sebagai dorongan untuk lebih memperbaiki kualitas pelayanan.
Melaksanakan tugas dengan berpegang pada janji profesi dan tekad untuk selalu
meningkatkan kualitas diri perlu untuk selalu dipelihara. Kerja sama yang
melibatkan segenap tim pelayanan kesehatan perlu dieratkan dengan kejelasan
dalam wewenang dan fungsinya. Oleh karena tanpa mengindahkan hal-hal yang
disebutkan tadi, maka konsekuensi hukum akan muncul tatkala terjadi
penyimpangan kewenangan atau karena kelalaian. Sebagai contoh umpamanya,
terlambat memberi pertolongan terhadap pasien yang seharusnya segera
mendapat pertolongan, merupakan salah satu bentuk kelalaian yang tidak boleh
terjadi.
Mengenai hal itu jelas dapat diketahui dari Pasal 54 ayat (1) Undang-
undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yaitu: “Tenaga kesehatan
yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat
dikenakan tindakan disiplin.” Selanjutnya dari penjelasan pasal tersebut dapat
diketahui bahwa tindakan disiplin berupa tindakan administratif, misalnya
pencabutan izin untuk jangka waktu tertentu atau hukuman lain sesuai dengan
kesalahan atau kelalaian yang dilakukan. Dari sudut hukum, profesi tenaga
kesehatan dapat diminta pertanggungjawaban berdasarkan hukum perdata, hukum
pidana, maupun hukum administrasi.

B. Tanggung Jawab Perdata Dalam Pelayanan Kesehatan


Hubungan hukum rumah sakit-pasien adalah sebuah hubungan perdata yang
menekankan pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing pihak
secara timbal balik. Rumah sakit berkewajiban untuk memenuhi hak-hak pasien dan
sebaliknya pasien berkewajiban memenuhi hak-hak rumah sakit. Sehubungan dengan
tanggung jawab hukum tenaga kesehatan dibidang hukum perdata ini, ada 2 bentuk
pertanggungjawaban tenaga kesehatan yang pokok yaitu pertanggungjawaban atas

5
kerugian yang disebabkan karena wanprestasi dan pertanggungjawaban atas kerugian
yang disebabkan karena perbuatan melawan hukum.
Meskipun pertanggung jawaban hukum rumah sakit terhadap pasien dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan lahir dari hubungan hukum perdata, tetapi dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan tersebut juga berimplikasi pada hukum adminstrasi
dan hukum pidana. Pada dasarnya pertanggungjawaban perdata bertujuan untuk
memperoleh kompensasi atas kerugian yang diderita selain untuk mencegah
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Tanggung jawab dari segi hukum perdata didasarkan pada ketentuan Pasal 1365
KUH Perdata “Apabila tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya
melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian pada pasien, maka tenaga
kesehatan tersebut dapat digugat oleh pasien atau keluarganya yang merasa
dirugikan.” Dan Pasal 1366 KUH Perdata “Setiap orang bertanggung jawab bukan
hanya kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hati.”
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat beberapa contoh mal praktik medis pada hukum
perdata:
1. Melakukan wanprestasi (pasal 1239 KUH Perdata)
2. Melalaikan pekerjaan sebagai penanggung jawab (pasal 1367 (3))

C. Tanggung Jawab Pidana Dalam Pelayanan Kesehatan


Implikasi hukum pidana hubungan hukum rumah sakit-pasien dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan adalah adanya perbuatan melanggar hukum
yang dilakukan oleh pihak rumah sakit yang memenuhi unsur-unsur perbuatan pidana
sebagaimana diatur dalam ketentuan-ketentuan pidana. Perbuatan pidana rumah sakit
terhadap pasien dapat berupa kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh dokter
atau tenaga kesehatan lainnya yang menyebabkan demage pada tubuh korban, dimana
kesalahan atau kelalaian tersebut merupakan suatu kesengajaan. Perbuatan pidana ini
akan melahirkan tanggung jawab pidana berupa denda dan pencabutan ijin
operasional rumah sakit.
Adapun dari segi hukum pidana juga seorang tenaga kesehatan dapat dikenai
ancaman Pasal 359 KUHP “Matinya orang lain, pidana penjara paling lama 5
tahun.”

6
Pasal 360 ayat 2 KUHP “Bila luka berat, pidana penjara paling lama 5 tahun
atau kurang paling 1 tahun.”
Pasal 361 KUHP “Bila dilakukan dalam menjalakan suatu jabatan atau
pencarian, pidana ditambah 1/3 dan dapat haknya untuk menjalankan pencarian
dicabut.”
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat beberapa contoh malpraktik medis pada hukum
pidana:
1. Menipu pasien (pasal 378 KUHP)
2. Pelanggaran kesopanan (pasal 290 (1), 294 (2), 285, dan 286 KUHP)
3. Pengguguran (pasal 299, 348, 349, 350 KUHP)
4. Rahasia jabatan bocor (pasal 322 KUHP)
5. Sengaja membiarkanpenderita tak-tertolong (pasal 340 KUHP)
6. Tidak memberi pertolongan kepada orang yang berada dalam bahay maut
(pasal 531 KUHP).

Ancaman pidana tersebut dikenakan kepada seseorang (termasuk tenaga


kesehatan) yang karena kelalaian atau kurang hati-hati menyebabkan orang lain
(pasien) cacat atau bahkan sampai meninggal dunia. Meski untuk mengetahui
ada tidaknya unsur kelalaian atau kekurang hati-hatian dalam tindakan seseorang
tersebut perlu dibuktikan menurut prosedur hukum pidana.
Selain itu kesalahan dapat dikenai pertanggungjawaban hukum pidana, harus
memenuhi 3 unsur berikut:
1. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada petindak, artinya keadaan jiwa
petindak harus normal.
2. Adanya hubungan batin antara petindak dengan perbuatannya yang dapat
berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).
3. Tidak adanya alasan penghapusan kesalahan atau pemaaf.
Menutur teori hukum pidana, kealpaan yang berarti kesalahan sebagai akibat
kurang hati-hati sehingga secara tidak sengaja mengakibatkan terjadinya sesuatu,
dapat dibagi menjadi 2 bentuk:
1. Kealpaan/kelalaian berat (culpa lata)
2. Kealpaan/kelalaian ringan (culpa levis)

7
D. Tanggung Jawab Hukum Administrasi Dalam Pelayanan Kesehatan
Implikasi hukum administrasi dalam hubungan hukum rumah sakit-pasien adalah
menyangkut kebijakan–kebijakan ( policy ) atau ketentuan-ketentuan yang merupakan
syarat adminsitrasi pelayanan kesehatan yang harus dipenuhi dalam rangka
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bermutu. Kebijakan atau ketentuan
hukum adminstrasi tersebut mengatur tata cara penyelenggaraan pelayanan
kesehatan yang layak dan pantas sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit,
standar operasional dan standar profesi.
Adapun tanggung jawab dari segi hukum administratif, tenaga kesehatan
dapat dikenai sanksi berupa pencabutan surat izin praktik apabila melakukan
tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya. Tindakan
administratif juga dapat dikenakan apabila seorang tenaga kesehatan:
1. Melalaikan kewajiban;
2. Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang
tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya maupun mengingat
sumpah sebagai tenaga kesehatan;
3. Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan;
4. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan undang-undang.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat beberapa contoh malpraktik medis pada hukum
administrasi:
1. Praktik Tanpa Izin
2. Melanggar wajib simpan rahasia jabatan kedokteran yang tidak dikenakan pasal
322 dan 122 KUHP

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Standar pelayanan medis ini merupakan hukum yang mengikat para pihak yang
berprofesi di bidang kesehatan, yaitu untuk mengatur pelayanan kesehatan dan mencegah

8
terjadinya kelalaian staff medis dalam melakukan tindakan medis. Menurut hukum yang
berlaku bahwa seorang dokter, perawat atau tenaga kesehatan lainya jika melakukan
penyimpangan kewenangan atau malpraktek maka bisa dikenai pasal:
 Munculnya hubungan hukum dan etik dalam pelayanan kesehatan menjadi jelas,
karena tugas hukum adalah menjamin keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Oleh karena itu dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan, dikatakan bahwa “penyelenggaraan pembangunan kesehatan
meliputi upaya kesehatan dan sumber dayanya harus dilakukan secara terpadu dan
berkesinambungan guna mencapai hasil yang optimal.”
 Pasal 54 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan,
yaitu: “Tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.
 Tanggung jawab dari segi hukum perdata didasarkan pada ketentuan Pasal 1365
KUH Perdata “Apabila tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya
melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian pada pasien, maka tenaga
kesehatan tersebut dapat digugat oleh pasien atau keluarganya yang merasa
dirugikan.” Dan Pasal 1366 KUH Perdata “Setiap orang bertanggung jawab bukan
hanya kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hati.”
 Hukum pidana dalam pelayanan kesehatan
Dari segi hukum pidana seorang tenaga kesehatan dapat dikenai ancaman Pasal
359 KUHP “Matinya orang lain, pidana penjara paling lama 5 tahun.”
 Adapun tanggung jawab dari segi hukum administratif, tenaga kesehatan dapat
dikenai sanksi berupa pencabutan surat izin praktik apabila melakukan
tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya.

B. Saran
 Pemahaman dan bekerja dengan kehati-hatian, kecermatan, menghindarkan
bekerja dengan ceroboh, adalah cara terbaik dalam melakukan praktek pelayanan
kesehatan sehingga dapat terhindar dari kelalaian/malpraktek.
 Standar profesi kedokteran dan standar kompetensi rumah sakit merupakan hal
penting untuk menghindarkan terjadinya kelalaian, maka perlunya pemberlakuan
standar praktek kedokteran Nasional dan terlegalisasi dengan jelas.
 Rumah Sakit sebagai institusi pengelola layanan praktek kedokteran dan tenaga
kesehatan harus memperjelas kedudukannya dan hubungannya dengan

9
pelaku/pemberi pelayanan keperawatan, sehingga dapat diperjelas bentuk
tanggung jawab dari masing-masing pihak.

10