Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep biasa dikenal dengan rancangan dasar pembelajaran. Secara
sederhana, proses belajar dapat dikatakan sebagai proses yang menjadi kan individu
yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi terampil.
Pada hakikatnya, belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang
ada disekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan
kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga
merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. (Sudjana, 1989:
28). Sedangkan menurut Gagne (1984) belajar merupakan suatu proses di mana
suatu organisma berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian
tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu proses, perubahan prilaku,
dan pengalaman.
Dalam belajar ada yang dinamakan proses pembelajaran. Proses pembelajaran
disini merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh seorang guru atau pendidik
untuk membelajarkan siswa yang belajar. Sebenarnya, peran guru dalam
pembelajaran sangat luas, guru sebagai pengajar, sebagai pembimbing, sebagai
ilmuwan, dan sebagai pribadi. Oleh karena itu, guru hendaknya berperan dalam
memfasilitasi agar terjadi proses mental emosional siswa tersebut sehingga
kemajuan belajar dapat dicapai.
Banyak hal yang menjadi landasan atau tumpuan pada konsep belajar, mulai
dari landasan filsafat, psikologi, sosiologi, komunikasi, dan bahkan teknologi.
Landasan-landasan yang sepertinya sudah tidak asing tersebut berkaitan erat
dengan pembelajaran karena digunakan sebagai tumpuan dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran.
Kemudian hal lain yang menjadi konsep dasar belajar ialah proses
pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran tersbut di awali dengan tahap
persiapan, kemudian penyampaian, latihan, penampilan hasil. Dalam kegiatan

1
proses persiapan ini menyangkut kegiatan penyususan rencana pembelajaran yang
akan diselenggarakan. Kemudian proses penyampaian disini merupakan peran guru
untuk mentransfer ilmunya kepada siswa, namun juga proses penyampaian di sini
menggambarkan dinamika kegiatan belajar siswa yang dibuat sedinamis mungkin
oleh seorang pendidik. Latihan, proses latihan merupakan proses belajar dengan
pengulangan. Artinya siswa dituntut untuk menggunakan pengalaman belajar yang
sudah didapat secara keseluruhan dalam proses pembelajaran yang sudah
dilakukan. Selanjutnya adalah penampilan hasil, Nilai setiap program belajar
terungkap hanya dalam tahap ini. Bahwa tahap ini merupakan satu kesatuan dengan
keseluruhan proses belajar. Tujuan tahap penampilan hasil ini adalah untuk
memastikan bahwa pembelajaran tetap melekat dan berhasil diterapkan.
Setelah mengalami proses pembelajaran ada yang dinamakan hasil belajar
sebagai suatu yang ditentukan oleh usaha sesorang dalam melaksanakan kegiatan
dalam hal ini belajar. Pada dasarnya, hasil belajar ini ditandai dengan adanya
perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang meliputi segi kognitif, afektif,
maupun psikomotorik. Dan hasil belajar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
dalam mencapai tujuannya Baik itu faktor internal maupun faktor eksternal.
Dimana faktor internal adalah faktor yang berasal dari salam diri siswa seperti
faktor fisiologis, psikologis, kematangan baik fisik maupun psikis. Dan faktor
eksternal adalah faktor yang berasal dari luar siswa seperti lingkungan. Faktor
faktor itulah yang baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat
mempengaruhi hasil belajar yang dimaksud.

a. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang sudah penulis uraikan tersebut di atas, maka
dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Apakah pengertian dari konsep?
2. Apakah pengertian dari prinsip?
3. Apakah pengertian prosedur desain pembelajaran?

2
b. Batasan Masalah
Dalam hal ini penulis membatasi masalah pada pengertian konsep, prinsip dan
prosedur desain pembelajaran.

c. Tujuan Penulisan
1. Memahami pengertian dari konsep.
2. Memahami pengertian dari prinsip?
3. Memahami pengertian prosedur desain pembelajaran?

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Konsep
Setelah mengerti tentang belajar dan pembelajaran sekarang kita akan
membahas mengenai konsep belajar dan konsep pembelajaran. Secara umum
konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok
objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff , mendefinisikan konsep sebagai
berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, (2) suatu
pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang berasal dari cara
seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui
pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
Pada tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa
objek atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep
merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan
objek atau kejadian tertentu.
Pada konsep pembelajaran terkandung lima unsur utama yakni, kata interaksi
yang mengandung arti pengaruh timbal balik, saling mempengaruhi satu sama lain.
Peserta didik sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis
pendidikan tertentu. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur,
fasilitator dan sebutan lain sesuai kekhususannya, serta berpartisipasi aktif dalam
menyelenggarakan pendidikan.
Sumber belajar segala sesuatu yang dapat digunakan oleh peserta didik dan
pendidik dalam proses belajar dan pembelajaran, berupa sumber belajara tertulis/
cetakan, terekam, tersiar, jaringan, dan lingkungan (alam sosial, budaya dan
spritual). Lingkungan belajar adalah lingkungan yang menjadi latar terjadinya
proses belajar seperti di kelas, perpustakaan, sekolah, tempat kursus, warnet,
keluarga, masyarakat dan alam semesta (Ocha, 2011).

4
Konsep itu sendiri merupakan suatu fakta dan keadaan yang memiliki ciri/unsur
tertentu yang membentuk suatu pengertian dan makna. Hilgard dan Bower, dalam
buku Theories of Learning. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku
seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya
yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak
dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau
keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan
sebagainya). Sedangkan konsep pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu
sistem atau proses membelajarkan subyek didik/ pembelajar yang direncanakan
atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek
didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan
efisien (Fauzan, 2011).
Ada banyak sekali konsep pembelajaran yang diterapkan khususnya di
Indonesia. Salah satunya konsep pembelajaran konstekstual yang dipandang
sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran. Konsep
pembelajaran yang konstekstual ini merupakan pembelajaran aktif antara guru dan
siswa. Dan di dalam konsep pembelajaran konstekstual ada unsur-unsurnya (Mifta,
2010).
1. Constructivisme
Belajar adalah proses aktif mengonstruksi pengetahuan dari abstraksi
pengalaman alami maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial
untuk mencari makna dengan memproses informasi sehingga dirasakan masuk akal
sesuai dengan kerangka berpikir yang dimiliki. Belajar berarti menyediakan kondisi
agar memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya. Kegiatan
belajar dikemas menjadi proses mengonstruksi pengetahu-an, bukan menerima
pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang diketahui peserta didik. Peserta
didik menemukan ide dan pengetahuan (konsep, prinsip) baru, menerapkan ide-ide,
kemudian peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai
kompetensi dan memberikan kepuasan atas penemuannya itu (Mifta, 2010).

5
2. Inquiry
Siklus inkuiri; observasi dimulai dengan bertanya, mengajukan hipotesis,
mengumpulkan data, dan menarik simpulan. Langkah-langkah inkuiri dengan
merumuskan masalah, melakukan observasi, analisis data, kemudian
mengomunikasikan hasilnya. Inquiri merupakan pembelajaran untuk dapat berpikir
nyata dan kritis dalam menyikapinya. Biasanya untuk inkuiri ini berbentuk kasus
untuk dianalisis berdasarkan teori yang ada (Mifta, 2010).
3. Questioning
Berguna bagi guru untuk: mendorong, membimbing dan menilai peserta didik;
menggali informasi tentang pemahaman, perhatian, dan pengetahuan peserta didik.
Berguna bagi peserta didik sebagai salah satu teknik dan strategi belajar. Jika
pertanyaan bagus maka akan memberikan rasa ingin tahu kepada peserta didik
(Mifta, 2010).
4. Learning Community
Dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif. Belajar dilakukan dalam
kelompok-kelompok kecil sehingga kemampuan sosial dan komunikasi
berkembang (Mifta, 2010).
5. Modelling
Berguna sebagai contoh yang baik yang dapat ditiru oleh peserta didik seperti
cara menggali informasi, demonstrasi, dan lain-lain. Pemodelan ini dapat dilakukan
oleh guru (sebagai teladan), peserta didik, dan tokoh lain (Mifta, 2010).
6. Reflection
Yaitu tentang cara berpikir apa yang baru dipelajari. Sehingga ada respon
terhadap kejadian, aktivitas/pengetahuan yang baru. Hasilnya nanti merupakan
konstruksi pengetahuan yang baru. Bentuknya dapat berupa kesan, catatan atau
hasil karya yang dapat memberikan imbal balik (Mifta, 2010).
7. Autentic Assesment
Yaitu menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Hal iuni berlangsung
selama proses pembelajaran secara terintegras. Pada unsur ini dapat dilakukan
melalui berbagai cara yaitu test dan non-test. Alternative bentuk yang dapat
dilakukan kinerja, observasi, portofolio, dan/atau jurnal (Mifta, 2010).

6
Seorang ahli yang bernama Rogers mengajukan konsep pembelajaran lain
daripada konsep pembelajaran konstektual yaitu “Student Centered Learning” yang
intinya sebagai berikut.
1. Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya.
2. Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat
memperkuat/menumbuhkan “self”nya.
3. Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan.
4. Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada
tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat
difasilitasi/ diakomodir (Mifta, 2010).
Dari kedua konsep tersebut memang tidak ada yang salah dalam pembelajaran.
Biasanya yang terjadi kekeliruan adalah pada saat prakteknya. Banyak pengajar
yang mempraktekkan sesuka dirinya sehingga jika dikatakan seorang pengajar itu
hanya menggunakan satu konsep, itu merupakan pernyataan yang salah. Banyak
para pengajar yang menggunakan kombinasi berbagai konsep. Hal ini agar
menunjang pembelajaran yang baik dan agar bisa di mengerti oleh siswanya dengan
baik. Ketika seorang pengajar menggunakan konsep terdiri hanya satu itupun
sebenarnya tidak salah, karena banyak sekali pengajar yang mengajar dengan
konsep sama tetapi terjadi perbedaan di teknik-teknik pembelajarannya. Maka
haruslah dimengerti untuk konsep ini bebas dilakukan oleh pengajar apakah
memilih satu atau dua konsep (Mifta, 2010).

B. Pengertian Prinsip
Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum ataupun
individual yang disajikan seseorang/kelompok sebagai pedoman untuk
berpikir/bertindak. Prinsip desain instruksional yang berhubungan dengan
penggunaan teori belajar antara lain :
a. untuk memahami proses belajar
b. mengetahui kondisi dan faktor yang mempengaruhi proses belajar
c. prediksi yang akurat tentang hasil yang diharapkan

7
d. meningkatkan performa sebagai pengajar yang efektif.
Prinsip desain instruksional (Suparman, 1997) antara lain :
a. Respon-respon baru diulang sebagai akibat dari respon
b. Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga dibawah
pengaruh kondisi atau tanda-tanda yang terdapat di lingkungan peserta didik
c. Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang
frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyengkan.
d. Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer
kepada situasi lain
e. Belajar menggeneralisasi dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu
yang kompleks
f. Status mental peserta didik untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi
perhatian dan ketakutan peserta didik selama belajar
g. Kegiatan belajar yang dibagikan menjadi langkah kecil dan disertai umpan balik
h. Kebutuhan memecah m ateri belajar yangkompleks
i. Keterampilan tingkat tinggi sepertiketerampilan memecahkan masalah
j. Belajar cenderungmenjadi cepat dan efisien serta menyenangkan bila peserta
didikdiberi informasi bahwa peserta didik enjadi lebih ampu dalam
keterampilan memecahkan masalah
k. Perkembangan dan kecepatan belajar peserta didik bervariasi
l. Dengan persiapan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan
menorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik.
Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengetengahkan tentang 7 (tujuh)
prinsip praktik pembelajaran yang baik yang dapat dijadikan sebagai panduan
dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, baik bagi guru, siswa, kepala
sekolah, pemerintah, maupun pihak lainnya yang terkait dengan pendidikan. Di
bawah ini akan dijelaskan mengenai prinsip pembelajaran tersebut.
1. Encourages Contact Between Students and Faculty
Frekuensi kontak antara guru dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas
merupakan faktor yang amat penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan
siswa dalam belajar. Dengan seringnya kontak antara guru-siswa ini, guru dapat

8
lebih meningkatkan kepedulian terhadap siswanya. Guru dapat membantu siswa
ketika melewati masa-masa sulitnya. Begitu juga, guru dapat berusaha memelihara
semangat belajar, meningkatkan komitmen intelektual siswa, mendorong mereka
untuk berpikir tentang nilai-nilai mereka sendiri serta membantu menyusun rencana
masa depannya (Mifta, 2010).
2. Develops Reciprocity and Cooperation Among Students
Upaya meningkatkan belajar siswa lebih baik dilakukan secara tim
dibandingkan melalui perpacuan individual (solo race). Belajar yang baik tak
ubahnya seperti bekerja yang baik, yakni kolaboratif dan sosial, bukan kompetitif
dan terisolasi. Melalui bekerja dengan orang lain, siswa dapat meningkatkan
keterlibatannya dalam belajar. Saling berbagi ide dan mereaksi atas tanggapan
orang lain dapat semakin mempertajam pemikiran dan memperdalam
pemahamannya tentang sesuatu (Mifta, 2010).
3. Encourages Active Learning
Belajar bukanlah seperti sedang menonton olahraga atau pertunjukkan film.
Siswa tidak hanya sekedar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru,
menghafal paket materi yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru.
Tetapi mereka harus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat
menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka harus menjadikan apa yang mereka
pelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri (Mifta, 2010).
4. Gives Prompt Feedback
Siswa membutuhkan umpan balik yang tepat dan memadai atas kinerjanya
sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajarinya.
Ketika hendak memulai belajar, siswa membutuhkan bantuan untuk menilai
pengetahuan dan kompetensi yang ada. Di kelas, siswa perlu sering diberi
kesempatan tampil dan menerima saran agar terjadi perbaikan. Dan pada bagian
akhir, siswa perlu diberikan kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah
dipelajari, apa yang masih perlu diketahui, dan bagaimana menilai dirinya sendiri
(Mifta, 2010).

9
5. Emphasizes Time on Task
Ada pernyataan waktu + energi = belajar. Memanfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya merupakan sesuatu yang sangat penting bagi siswa. Siswa
membutuhkan bantuan dalam mengelola waktu efektif belajarnya. Mengalokasikan
jumlah waktu yang realistis artinya sama dengan belajar yang efektif bagi siswa dan
pengajaran yang efektif bagi guru. Sekolah seyogyanya dapat mendefinisikan
ekspektasi waktu bagi para siswa, guru, kepala sekolah, dan staf lainnya untuk
membangun kinerja yang tinggi bagi semuanya (Mifta, 2010).
6. Communicates High Expectations
Berharap lebih dan Anda akan mendapatkan lebih. Harapan yang tinggi
merupakan hal penting bagi semua orang. Mengharapkan para siswa berkinerja atau
berprestasi baik pada gilirannya akan mendorong guru maupun sekolah bekerja
keras dan berusaha ekstra untuk dapat memenuhinya (Mifta, 2010).
7. Respects Diverse Talents and Ways of Learning
Ada banyak jalan untuk belajar. Para siswa datang dengan membawa bakat dan
gaya belajarnya masing-masing Ada yang kuat dalam matematika, tetapi lemah
dalam bahasa, ada yang mahir dalam praktik tetapi lemah dalam teori, dan
sebagainya. Dalam hal ini, siswa perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan
bakatnya dan belajar dengan cara kerja mereka masing-masing. Kemudian mereka
didorong untuk belajar dengan cara-cara baru, yang mungkin ini bukanlah hal
mudah bagi guru untuk melakukannya. Pada bagian lain, Arthur dan Gamson
mengatakan bahwa guru dan siswa memegang peran dan tanggung jawab penting
untuk meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi mereka tetap membutuhkan
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membentuk sebuah lingkungan
belajar yang kondusif bagi praktik pembelajaran yang baik (Mifta, 2010).
Setiap siswa juga memilki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru
dapat memberi pelajaran sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan
individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan
individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem
pendidikan kalsikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah
perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat

10
siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih
sama, demikian pula dengan pengetahuannya (Shvoong, 2011).

11
C. Pengertian Prosedur Desain Pembelajaran
Suatu bentuk pembaharuan sistem instruksional dan sistem pendidikan agar
prosedur yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta
perkembangan iptek. Tujuannya adalah meningkatkan produktifitas dan eksistensi
proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah sebuah kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara
sembarangan, tetapi harus mengikuti prosedur tertentu. Secara umum, prosedur
atau langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui 3 tahapan yaitu; (1) kegiatan
pendahuluan; (2) kegiatan inti; (3) kegiatan akhir dan tindak lanjut. Dapat
dijelaskan sebagai berikut.
1. Pendahuluan
Winataputra, mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan pendahuluan,
sebagai berikut.
1. Menciptakan kondisi awal pembelajaran; meliputi: membina keakraban,
menciptakan kesiapan belajar peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang
demokratis.
2. Apersepsi meliputi: kegiatan mengajukan pertanyaan untuk mengaitkan materi
yang akan dibelajarkan dengan materi atau pengetahuan yang telah dikuasai siswa
sebelumnya, memberikan komentar atas jawaban yang diberikan peserta didik dan
membangkitkan motivasi dan perhatian peserta didik untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran (Sudrajat, 2008).
Hal senada disampaikan oleh Depdiknas bahwa dalam kegiatan pendahuluan, perlu
dilakukan pemanasan dan apersepsi, didalamnya mencakup: (1) bahwa pelajaran
dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik; (2) motivasi
peserta didik ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi
peserta didik; dan (3) peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal
yang baru (Sudrajat, 2008).
1. Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan
pembelajaran atau proses untuk pencapaian kompetensi, yang dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk

12
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik, degan menggunakan metode yang disesuaikan dengan
karakteristik pesertadidikdan materi pelajaran Winataputra, mengemukakan hal-
hal yang dilakukan dalam kegiatan inti, yaitu; (1) menyampaikan tujuan yang ingin
dicapai, baik secara lisan maupun tulisan, (2) menyampaikan alternatif kegiatan
belajar yang akan ditempuh, dan (3) membahas materi (Sudrajat, 2008).
Depdiknas mengemukakan tiga bentuk kegiatan ini yaitu; (1) eksplorasi; (2)
konsolidasi pembelajaran, dan (3) pembentukan sikap dan perilaku. Dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a. Kegiatan eksplorasi merupakan usaha memperoleh atau mencari informasi baru.
Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi, yaitu; (a) memperkenalkan
materi/keterampilan baru, (b) mengaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah
ada pada peserta didik, (c) mencari metodologi yang paling tepat dalam
meningkatkan penerimaaan peserta didik akan materi baru tersebut (Sudrajat,
2008).
b. Konsolidasi merupakan merupakan negosiasi dalam rangka mencapai
pengetahuan baru. Dalam kegiatan konsolidasi pembelajaran yang perlu
diperhatikan adalah; (a) melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan
dan memahami materi ajar baru, (b) melibatkan peserta didik secara aktif dalam
pemecahan masalah, (c) meletakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan
antara materi pelajaran yang baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan
di dalam lingkungan, dan (d) mencari metodologi yang paling tepat sehingga materi
ajar dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik (Sudrajat, 2008).
c. Pembentukan sikap dan perilaku merupakan pemrosesan pengetahuan menjadi
nilai, sikap dan perilaku. Yang perlu diperhatikan dalam pembentukan sikap dan
perilaku, adalah : (a) peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau
pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari; (b) peserta didik
membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan
pengertian yang dipelajari; dan (c) cari metodologi yang paling tepat agar terjadi
perubahan sikap dan perilaku peserta didik (Sudrajat, 2008).

13
2. Kegiatan Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Winataputra, mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan akhir
dan tindak lanjut pembelajaran, yaitu: (a) penilaian akhir; (b) analisis hasil penilaian
akhir; (c) tindak lanjut; (d) mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu
yang akan datang; dan (e) menutup kegiatan pembelajaran (Sudrajat, 2008).
Mulyasa mengemukakan dua kegiatan pokok pada akhir pembelajaran,
yaitu; (a) pemberian tugas dan (b) post tes. Sementara itu, Depdiknas (2003)
mengemukakan dalam kegiatan akhir perlu dilakukan penilaian formatif, dengan
memperhatikan hal-hal berikut; (a) kembangkan cara-cara untuk menilai hasil
pembelajaran peserta didik, (b) gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat
kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru,
dan (c) cari metodologi yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai (Sudrajat, 2008).

14
BAB III
PENUTUP

Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri


umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff ,
mendefinisikan konsep sebagai berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna
dan bermakna, (2) suatu pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang
berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-
benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum ataupun
individual yang disajikan seseorang/kelompok sebagai pedoman untuk
berpikir/bertindak. Prinsip desain instruksional yang berhubungan dengan
penggunaan teori belajar antara lain :
a. untuk memahami proses belajar
b. mengetahui kondisi dan faktor yang mempengaruhi proses belajar
c. prediksi yang akurat tentang hasil yang diharapkan
d. meningkatkan performa sebagai pengajar yang efektif.
Suatu bentuk pembaharuan sistem instruksional dan sistem pendidikan agar
prosedur yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta
perkembangan iptek. Tujuannya adalah meningkatkan produktifitas dan eksistensi
proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah sebuah kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara
sembarangan, tetapi harus mengikuti prosedur tertentu. Secara umum, prosedur
atau langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui 3 tahapan yaitu; (1) kegiatan
pendahuluan; (2) kegiatan inti; (3) kegiatan akhir dan tindak lanjut

15
DAFTAR PUSTAKA

http://andrimuktielektronation.blogspot.com/2011/12/konsep-prinsip-prosedur-
strategi-metode.html diakses 24/09/2013 at 16.29
http://muhammadwardani.blogspot.com/2013/02/konsep-prinsip-dan-prosedur-
desain.html
diakses 24/09/2013 at 16.27
Dewi Salma Prawiradilaga. 2008. Prinsip Disain Pembelajaran. Cetakan kedua.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Martinis Yamin. 2008. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta: GP Press.
Soeharto. 1988. Disain Instruksional: Sebuah Pendekatan Praktis untuk
Pendidikan Tehnologi dan Kejuruan. Jakarta: Debdikbud.
http://belajarbarengabqo.blogspot.com/2011/11/pertemuan-2-konsep-prinsip-dan-
prosedur.html diakses 24/09/2013 at 16.24
http://lytaechewez.blogspot.com/2011/11/penerapan-konsep-dan-prinsip.html
diakses
24/09/2013 at 18.56
http://opini.berita.upi.edu/2013/03/24/konsep-dasar-pembelajaran/ diakses
25/09/2013 at 23.02

16