Anda di halaman 1dari 2

Tugas Baca Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak

Pembimbing Dr. Melanie R. Mantu,Sp.A.M.Kes.

Yudia Mahardika 11 2015 203

1. Proses pembuatan vaksin

Tahapan produksi vaksin

 Inaktivasi - Ini melibatkan persiapan antigen


 Pemurnian - Antigen yang terisolasi dimurnikan
 Formulasi - Antigen yang dimurnikan dikombinasikan dengan bahan pembantu,
zat penstabil dan pengawet untuk membentuk persiapan vaksin akhir.
 Menghasilkan antigen dari mikroba
Produksi awal melibatkan generasi antigen dari mikroba. Untuk ini, virus atau mikroba
ditanam baik pada sel primer seperti telur ayam (misalnya influenza) atau pada sel atau
sel manusia berbudaya (misalnya Hepatitis A). Bakteri yang dengannya vaksin
dikembangkan dapat ditanam di bioreaktor (misalnya Haemophilus influenzae tipe b).
Antigen juga bisa menjadi toksin atau racun dari organisme (misalnya Difteri atau
tetanus) atau mungkin juga merupakan bagian dari mikroorganisme. Protein atau bagian
dari organisme dapat dihasilkan pada kultur ragi, bakteri, atau sel. Bakteri atau virus
dapat dilemahkan dengan menggunakan bahan kimia atau panas untuk membuat vaksin
(misalnya vaksin polio).

Isolasi antigen
Setelah antigen dihasilkan, ia diisolasi dari sel yang digunakan untuk membuatnya.
Untuk virus yang lemah atau dilemahkan tidak diperlukan pemurnian lebih lanjut. Protein
rekombinan memerlukan banyak operasi yang melibatkan ultrafiltrasi dan kromatografi
kolom untuk pemurnian sebelum siap untuk pemberian.
Adjuvant, stabilisator dan pengawet
Begitu antigen dikembangkan, vaksin diformulasikan dengan menambahkan bahan
pembantu, zat penstabil, dan pengawet. Peran adjuvant adalah untuk meningkatkan
respon imun antigen. Penstabil meningkatkan masa penyimpanan, dan pengawet
memungkinkan penggunaan botol multi dosis.
Sulit untuk mengembangkan dan memproduksi vaksin kombinasi karena kemungkinan
adanya inkompatibilitas dan interaksi antigen dan bahan lain dari vaksin.
Sumber : http://www.news-medical.net/health/Vaccine-Production.aspx

2. Kenapa vaksin dengue di beri di usia 9 tahun

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan vaksin ini memiliki hasil efikasi terbaik pada
anak usia 9-16 tahun, sedangkan apabila diberikan di bawah usia 9 tahun akan
meningkatkan resiko untuk dirawat karena infeksi dengue dan meningkatkan resiko
mendapatkan dengue yang berat, khususnya pada anak dengan kelompok usia 2-5 tahun.

Jadi, vaksin Dengue dapat diberikan pada anak usia 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan
jarak pemberian 6 bulan. Pemberian vaksin juga dapat dimulai kapan saja sejak anak
berusia 9 hingga 16 tahun.

Sumber : Dr. Siti Rayhani Fadhila, BMedSc


http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-tentang-vaksin-dengue