Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang
berjudul “PEMERIKSAAN PAP SMEAR DAN IVA”.

Makalah ini disusun agar pembaca mengetahui definisi, tujuan,


manfaat, faktor yang mempengaruhi, syarat, dls mengenai pemeriksaan Pap
Smear dan IVA. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Aamiin.

Gorontalo, Maret 2018


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pemeriksaan Pap Smear dan IVA


2.2 Tujuan Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
2.3 Manfaat Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
2.5 Syarat pendeteksian Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
2.6 Prosedur penatalaksanaan Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
2.7 Kendala Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
2.8 Pemeriksaan Tambahan

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Serviks/leher rahim adalah organ yang menghubungkan rahim dan
vagina. Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita
dan menjadi penyebab lebih dari 250.000 kematian pada tahun 2005. Kurang
lebih 80% kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Penularan
penyakit kanker ini dapat melalui hubungan seksual, ditemukan lebih tinggi
pada perempuan yang mulai berhubungan seksual sebelum usia 16 tahun
(Bustan, 2007). Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama kanker
pada wanita di negara berkembang. Setiap tahun diperkirakan terdapat
500.000 kasus kanker serviks baru diseluruh dunia, dan 77% diantaranya
berada dinegara berkembang .
Pada tahap prakanker sering tidak menimbulkan gejala. Adapun
berbagai deteksi dini kanker serviks adalah Pap Smear dan IVA. Pap
smear adalah suatu tes yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-
tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-
sel leher rahim (Fitria, 2007).
IVA adalah pemeriksaan sederhana untuk mendeteksi leher rahim
(serviks) dengan cara melihat langsung ( dengan mata telanjang ) leher
rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3 sapai
dengan 5%. Dengan cara ini kita dapat mendeteksi kanker Rahim sedini
mungkin, (Wijaya Delia, 2010 dan Sukaca E. Bertiani, 2009).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi dari Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?
1.2.2 Apa tujuan Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?
1.2.3 Apa manfaat Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?
1.2.4 Apa saja faktor yang mempengaruhi Pemeriksaan Pap Smear dan
IVA?
1.2.5 Apa syarat Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?
1.2.6 Apa saja prosedur Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?
1.2.7 Apa kendala pada Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi dari Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
1.3.2 Untuk mengetahui tujuan Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
1.3.3 Untuk mengetahui manfaat Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
1.3.4 Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi Pemeriksaan Pap
Smear dan IVA
1.3.5 Untuk mengetahui syarat Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
1.3.6 Untuk mengetahui prosedur Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
1.3.7 Untuk mengetahui kendala pada Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pemeriksaan Pap Smear dan IVA


 Pemeriksaan Pap Smear
Pap smear adalah suatu tes yang aman dan murah dan telah
dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-
kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim (Fitria, 2007).
Pap smear adalah ilmu yang mempelajari sel-sel yang lepas
dari sistem alat kandungan wanita (Lestadi, 2009).
Tes Pap adalah suatu metode deteksi dini terhadap lesi pra
kanker dengan cara mengambil spesimen berupa sel-sel ekskoliatif
dari daerah serviks. Tes Pap merupakan salah satu metode deteksi
dini kanker serviks.
 Pemeriksaan IVA
Tes IVA merupakan pemeriksaan skrining untuk deteksi dini
kanker serviks. Prosedur pemeriksaan yaitu dengan memasukkan
spekulum ke dalam vagina, agar mulut rahim (serviks) dapat di
periksa secara langsung.
IVA merupakan salah satu cara deteksi dini kanker serviks
yang mempunyai kelebihan yaitu kesederhanaan teknik dan
kemampuan memberikan hasil yang segera. IVA bisa dilakukan
oleh semua tenaga kesehatan, yang telah mendapatkan pelatihan
(Depkes RI, 2007).
IVA adalah pemeriksaan serviks secara visual menggunakan
asam cuka dengan mata telanjang untuk mendeteksi abnormalitas
setelah pengolesan asam cuka 3-5% (Depkes RI, 2007).
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) adalah suatu metode
deteksi dini terhadap lesi pra kanker dengan mengaplikasikan asam
asetat 3-5 % pada daerah sambungan skuamo kolumnar (SSK).
IVA adalah pemeriksaan sederhana untuk mendeteksi leher
rahim ( serviks ) dengan cara melihat langsung ( dengan mata
telanjang ) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan
asam asetat 3 sapai dengan 5%. Dengan cara ini kita dapat
mendeteksi kanker Rahim sedini mungkin, (Wijaya Delia, 2010
dan Sukaca E. Bertiani, 2009).
2.2 Tujuan Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
Menurut Sukaca 2009:
a. Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan
pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan
b. Mencoba menemukan sel-sel yang tidak normal dan dapat
berkembang menjadi kanker serviks.
c. Alat untuk mendeteksi adanya gejala pra kanker leher rahim bagi
seseorang yang belum menderita kanker.
d. Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel kanker
leher rahim.
e. Mengetahui tingkat berapa keganasan serviks.

2.3 Manfaat Pemeriksaan Pap Smear dan IVA


Untuk mendeteksi secara dini potensi kanker serviks (kanker mulut
rahim. Semakin cepat terdeteksi, semakin mudah diobati. Dengan
demikian para wanita/ ibu akan terhindar dari kematian akibat ganasnya
kanker rahim. Menurut Lestadi 2009:
a. Evaluasi sitohormonal
Penilaian hormonal pada seorang wanita dapat dievaluasi melalui
pemeriksaan pap smear yang bahan pemeriksaanya adalah secret
vagina yang berasal dari dinding lateral vagina sepertiga bagian atas.
b. Mendiagnosis peradangan
Peradangan pada vagina dan servik pada umumnya dapat didiagnosa
dengan pemeriksaan pap smear . Baik peradangan akut maupun kronis.
Sebagian besar akan memberi gambaran perubahan sel yang khas pada
sediaan pap smear sesuai dengan organisme penyebabnya. Walaupun
kadang-kadang ada pula organisme yang tidak menimbulkan reaksi
yang khas pada sediaan pap smear.
c. Identifikasi organisme penyebab peradangan
Dalam vagina ditemukan beberapa macam organisme/kuman yang
sebagian merupakan flora normal vagina yang bermanfaat bagi organ
tersebut. Pada umumnya organisme penyebab peradangan pada vagina
dan serviks, sulit diidentifikasi dengan pap smear, sehingga
berdasarkan perubahan yang ada pada sel tersebut, dapat diperkirakan
organisme penyebabnya.
d. Mendiagnosis kelainan prakanker (displasia) leher rahim dan
kanker leher rahim dini atau lanjut (karsinoma/invasif)
Pap smear paling banyak dikenal dan digunakan adalah sebagai alat
pemeriksaan untuk mendiagnosis lesi prakanker atau kanker leher
rahim.Pap smaer yang semula dinyatakan hanya sebagai alat skrining
deteksi kanker mulut rahim, kini telah diakui sebagai alat diagnostik
prakanker dan kanker leher rahim yang ampuh dengan ketepatan
diagnostik yang tinggi, yaitu 96% terapi didiagnostik sitologi tidak
dapat mengantikan diagnostik histopatologik sebagai alat pemasti
diagnosis. Hal itu berarti setiap diagnosik sitology kanker leher rahim
harus di konfirmasi dengan pemeriksaan histopatologi jaringan biobsi
leher rahim, sebelum dilakukan tindakan sebelumya.
e. Memantau hasil terapi
Memantau hasil terapi hormonal, misalnya infertilitas atau gangguan
endokrin. Memantau hasil terapi radiasi pada kasus kanker leher rahim
yang telah diobati dengan radiasi, memantau adanya kekambuhan pada
kasus kanker yang telah dioperasi, memantau hasil terapi lesi
prakanker atau kanker leher rahim yang telah diobati dengan
elekrokauter kriosurgeri, atau konisasi
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
Menurut Fitria (2007):
a. Umur
Perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim paling sering ditemukan
pada usia 35-55 tahun dan memiliki resiko 2-3 kali lipat untuk
menderita kanker leher rahim. Semakin tua umur seseorang akan
mengalami proses kemunduran, sebenarnya proses kemunduran itu
tidak terjadi pada suatu alat saja, tetapi pada seluruh organ tubuh.
Semua bagian tubuh mengalami kemunduran, sehingga pada usia
lebih lama kemungkinan jatuh sakit (Fitria, 2007).
b. Sosial ekonomi
Golongan sosial ekonomi yang rendah sering kali terjadi keganasan
pada sel-sel mulut rahim, hal ini karena ketidakmampuan melakukan
pap smear secara rutin (Fitria, 2007).
c. Paritas
Paritas adalah seseorang yang sudah pernah melahirkan bayi yang
dapat hidup. Paritas dengan jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak
persalinan terlampau dekat mempunyai resiko terhadap timbulnya
perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim. Jika jumlah anak
menyebabkan perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim
yang dapat berkembang pada keganasan (Fitria, 2007).
d. Usia wanita saat nikah
Usia menikah <20 tahun mempunyai resiko lebih besar mengalami
perubahan sel-sel mulut rahim. Hal ini karena pada saat usia muda
sel-sel rahim masih belum matang, maka sel-sel tersebut tidak rentan
terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh sperma dan segala macam
perubahanya, jika belum matang, bisa saja ketika ada rangsangan sel
yang tumbuh tidak seimbang dan sel yang mati, sehingga kelebihan
sel ini bisa merubah sifat menjadi sel kanker (Fitria, 2007).
2.5 Syarat pendeteksian Pemeriksaan Pap Smear dan IVA
 Pemeriksaan Pap Smear
Hal-hal yang penting yang harus diperhatikan saat melakukan
pap smear menurut (Sukaca, 2009) yaitu:
a. Pengambilan dimulai minimal dua minggu setelah dan
sebelum menstruasi sebelumnya.
b. Pasien harus memberikan sejujur-jujurnya kepada petugas
mengenai aktivitas seksualnya.
c. Tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 1 hari
sebelum pengambialn bahan pemeriksaan.
d. Pembilasan vagina dengan bahan kimia tidak boleh
dilakukan dalam 24 jam sebelumnya.
e. Hindarilah pemakaian obat-obatan yang tidak menunjang
pemeriksaan pap smear.
 Pemeriksaan IVA
a. Sudah pernah melakukan hubungan seksual
b. Tidak sedang datang bulan/haid
c. Tidak sedang hamil
d. 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual

2.6 Prosedur penatalaksanaan Pemeriksaan Pap Smear dan IVA


 Pemeriksaan Pap Smear
(Romauli dan Vindari, 2011) yaitu:
1. Persiapan pasien
 Melakukan informent concent.
 Menyiapkan lingkungan sekitar klien, tempat tidur
ginekologi dan lampu sorot.
 Menganjurkan klien membuka pakaian bagian bawah.
 Menganjurkan klien berbaring ditempat tidur ginekologi
dengan posisi litotomi.
2. Pesiapan alat
 Menyiapkan perlengkapan/bahan yang diperlukan seperti
hanscun, speculum cocor bebek, spatula ayre yang telah
dimodifikasi, lidi kapas atau cytobrush, kaca objek glass,
botol khusus berisi alkohol 95%, cytocrep atau hair spray,
tampon tang, kasa steril pada tempatnya, formuler
permintaan pemeriksaan sitologi pap smear, lampu sorot,
waskom berisi larutan klorin 0,5%, tempat sampah, tempat
tidur ginekologi, sampiran.
 Menyusun perlengkapa/bahan secara ergonomis.
3. Pelaksanaan
 Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir
dengan metode tujuh langkah dan mengeringkan dengan
handuk kering dan bersih.
 Mengunakan hanscun steril.
 Melakukan vulva higyene.
 Memperhatikan vulva dan vagina apakah ada tanda-tanda
infeksi.
 Memasang speculum dalam vagina.
 Masukkan spatula ayre kedalam mulut rahim, dengan ujung
spatula yang berbentuk lonjong, apus sekret dari seluruh
permukaan porsio serviks dengan sedikit tekanan dengan
mengerakkan spatel ayre searah jarum jam, diputar
melingkar 360O.
 Ulaskan secret yang telah diperoleh pada kaca object glass
secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
 Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cara:
a. Fiksasi Basah
Fiksasi basah dibuat setelah sediaan diambil,
sewaktu secret masih segar dimasukkan kedalam
alkohol 95%. Setelah difiksasi selama 30 menit,
sediaan dapat diangkat dan dikeringkan serta dikirim
dalam keadaan kering terfiksasi atau dapat pula sediaan
dikirim dalam keadaan terendam cairan fiksasi didalam
botol.
b. Fiksasi Kering
Fiksasi kering dibuat setelah sediaan selesai
diambil, sewaktu secret masih seger disemprotkan
cytocrep atau hair spray pada object glass yang
mengandung asupan secret tersebut dengan jarak 10-15
cm dari kaca object glass, sebanyak 2-4 kali
semprotkan. Kemudian keringkan sediaan dengan
membiarkannya diudara terbuka selama 5-10 menit.
Setelah kering sediaan siap dikirimkan ke laboratorium
sitologi untuk diperiksa bersamaan dengan formulir
permintaan.
 Bersihkan porsio dan dinding vagina dengan kasa steril
dengan menggunakan tampon tang.
 Keluarkan speculum dari vagina secara perlahan-lahan.
 Beritahu ibu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan.
Rapikan ibu dan rendam alat-alat dan melepaskan sarung
tangan (merendam dalam larutan clorin 0,5%).
 Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan
metode tujuh langkah.
 Temui klien kembali.
 Mencatat hasil tindakan dalam status.
 Pemeriksaan IVA
1. Pasien berada di atas tempat tidur pemeriksaan dalam
posisi litotomi.
2. Pemeriksa duduk di depan vulva, dengan sumber cahaya
terang berupa lampu sorot di belakang pemeriksa.
3. Visualisasi serviks dengan spekulum cocor bebek kering
tanpa pelumas.
4. Setelah serviks terlihat jelas, dengan sumber cahaya terang
dari belakang pemeriksa, serviks dipulas dengan asam
asetat 3-5%. Ditunggu selama 1-2 menit. Dilihat perubahan
pada serviks dengan mata telanjang.
5. Pada lesi prakanker akan terlihat warna bercak putih yang
disebut acetowhite pada daerah transformasi (IVA positif).
Jika tidak terlihat bercak putih pada daerah transformasi
disebut IVA negatif.

2.7 Kendala Pemeriksaan Pap Smear dan IVA


 Pemeriksaan Pap Smear
(Romauli dan Vindari. 2011)
Dilakukan diatas hanya 5% perempuan di Indonesia yang
bersedia melakukan pemeriksaan pap smear banyak kendala.
Hal tersebut terjadi antara lain:
a. Kurangnya tenaga terlatih untuk pengambilan sediaan.
b. Tidak tersedianya peralatan dan bahan untuk pengambilan
sediaan.
c. Tidak tersedianya sarana pengiriman sediaan.
d. Tidak tersedianya laboratorium pemprosesan sediaan serta
tenaga ahli sitologi.
 Pemeriksaan IVA
Tidak tercakupnnya golongan wanita yang mempunyai risiko dan
teknik pengambilan sampel, berkaitan dengan strategi program
skrining, serta peningkatan kemampuan laboratorium dan juga
keengganan wanita diperiksa karena malu, keraguan akan
pentingnya pemeriksaan, kurangnya pengetahuan tentang
pentingnya pemeriksaan, takut terhadap kenyataan hasil
pemeriksaan dan kurangnya dorongan keluarga terutama suami.
2.8 Pemeriksaan Tambahan
1. Pemeriksaan LBC (Liquid Based Cytology)
Sitologi berbasis cairan (LBC) dikenal juga dengan Thin Prep
atau monolaye adalah sebuah metode baru dalam menyiapkan sampel
untuk pemeriksaan sitologi serviks. Berbeda dengan persiapan
konvensional 'Pap', LBC melibatkan pembuatan suspensi sel dari
sampel dan ini digunakan untuk menghasilkan lapisan sel-sel tipis
pada slide. (Karnon, et al., 2004). LBC merupakan pemeriksaan Pap
smear berbasis cairan.
Pemeriksaan sitologi berbasis cairan diperkenalkan pada
awal tahun 1990 oleh perusahaan Amerika yang bernama
CYTYC, produk tes saring kanker serviks yang dinamakan
ThinPrep. Dikutip dari (Arbyn et al., 2008), saat ini sudah
tersedia 2 sistem berbasis cairan secara komersial yaitu ThinPrep
dan SurePath yang disetujui oleh U.S. Food and Drug
Administration. LBC hadir untuk memperbaiki kualitas slide pada
Pap smear konvensional sehingga memudahkan Dokter Patologi
Anatomi untuk membaca dan menginterpretasi spesimen.
 Tujuan
Tujuan metode ini adalah mengurangi hasil negatif palsu dari
pemeriksaan Tes Paps konvensional dengan cara optimalisasi
teknik koleksi dan preparasi sel. Pada pemeriksaan metode ini sel
dikoleksi dengan sikat khusus yang dicelupkan ke dalam tabung
yang sudah berisi larutan fiksasi.
 Keuntungan
Keuntungan penggunaan teknik monolayer ini adalah sel
abnormal lebih terbesar dan mudah dikenali. Latar belakang
bersih, sel tersebar merata tidak bertumpuk-tumpuk,
sensitivitas lebih baik, waktu untuk interpretasi cepat, sam-pel
memuaskan (5.000 – 8.000 sel per gelas objek), serta sisa
sampel masih dapat dipakai untuk pemeriksaan HPV DNA dan
pemeriksaan lainnya.
 Kerugian
Kerugiannya adalah butuh waktu yang cukup lama untuk
pengolahan slide dan biaya yang lebih mahal.
 Cara pengambilan
Pengambilan sampel pada pemeriksaan sitologi berbasis
cairan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti pada
pemeriksaan sitologi biasa. Sampel sel tersebut terlebih dahulu
dicelupkan ke dalam cairan khusus dan diproses dengan alat
otomatis sebelum sampel tersebut diusapkan pada kaca benda.
Sample yang telah dicelupkan tersebut kemudian diwarnai dan
dilihat di bawah mikroskop oleh seorang Dokter ahli Patologi
Anatomi.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama kanker pada
wanita di negara berkembang. Adapun berbagai deteksi dini kanker
serviks adalah Pap Smear dan IVA. Pap smear adalah suatu tes yang
aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk
mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim
(Fitria, 2007). Tes IVA merupakan pemeriksaan skrining untuk deteksi
dini kanker serviks. Prosedur pemeriksaan yaitu dengan memasukkan
spekulum ke dalam vagina, agar mulut rahim (serviks) dapat di periksa
secara langsung. Ada juga pemeriksaan tambahan yaitu LBC (Liquid
Based Cytologi) yaitu pemeriksaan Pap smear berbasis cairan. LBC
hadir untuk memperbaiki kualitas slide pada Pap smear konvensional
sehingga memudahkan Dokter Patologi Anatomi untuk membaca
dan menginterpretasi spesimen.

3.2 Saran
Menyadari bahwa kami masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya kami akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan
tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak
yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Untuk saran bisa berisi
kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi
terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.
DAFTAR PUSTAKA

http://dinkes.inhukab.go.id/puskesmas-sipayung/2017/03/31/pelaksanaan-
pemeriksaan-iva diakses tanggal 24 Maret 2018

http://bidanshop.co.id/2010/03/iva-test.html diakses tanggal 24 Maret 2018

http://tes-dan-prosedur-iva.pdf diakses tanggal 24 Maret 2018

http://Pemeriksaan-pap-smear-dan-iva-ppt.pdf diakses tanggal 24 Maret 2018

http://papsmear-dan-iva.pdf diakses tanggal 24 Maret 2018

http://papsmear.pdf diakses tanggal 24 Maret 2018

Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 23 No. 2 Mei - Agustus 2015 : 54-60

http://Makalah-iva-test.pdf diakses tanggal 24 Maret 2018