Anda di halaman 1dari 5

FINANCIAL DISTRESS

MAKALAH MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN

Nama Dosen Pengampu

Dr. H. Agus Purwanto, Msi., Akt.

disusun oleh

Bintang Nugraheka 12030117210002

Dede Ahmad Nursalam 12030117210005

Cynthia Budianto 12030117210013

Kelvin Stefanus 12030117210017

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Profesi Pendidikan Akuntansi

Universitas Diponegoro

Semarang

2018
Financial Distress

Financial distress atau yang dikenal sebagai kesulitan keuangan adalah situasi dimana aliran
uang kas operasional perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban saat ini, seperti kredit
perdagangan atau biaya bunga, dan perusahaan terpaksa mengambil tindakan korektif atau
dengan kata lain, financial distress lebih menekankan pada ketidakmampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban yang bersifat jangka pendek (Wruck, 1990).
Financial distress juga dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan perusahaan dalam
membayar hutang secara umum, baik jangka pendek maupun jangka panjang, serta
ketidakmapuan aset perusahaan dalam menutupi kewajiban perusahaan (Black’s Law
Dictionary).
Ada 2 cara dalam melihat financial distress yaitu dari sisi stock atau sisi flows. Dari sisi stock,
lebih menekankan pada negative net worth perusahaan sedangkan dari sisi flows lebih
menekankan pada ketidakmampuan perusahaan dalam membayar hutang baik jangka pendek
maupun jangka panjang.
Jika perusahaan mengalami indikasi terjadinya financial distress, perusahaan dapat
dimungkinkan untuk melakukan 7 hal berikut ini dengan membuat kesepakatan atas pembayaran
hutangnya kepada kreditor.
No Tindakan Kategori
1 Menjual aset utama perusahaan
Asset
2 Merger dengan perusahaan lain
restructuring
3 Mengurangi belanja modal untuk penelitian dan pengembangan
4 Menerbitkan saham atau obligasi baru
5 Negosiasi dengan bank atau kreditor lainnya Financial
6 Mengkonversi hutang menjadi ekuitas restructuring
7 Mengajukan permohonan kepailitan
* adapun manfaat dilakukannya asset restructuring, yaitu
a Perusahaan menjual aset yang tidak berkaitan dengan bisnis utama perusahaan
b Perusahaan memiliki struktur organisasi baru yang lebih ramping dan dapat fokus pada
strategi baru yang sesuai dengan core business perusahaan (hasil kegiatan asset
restructuring)
Perusahaan yang tidak mendapat ataupun tidak memilih untuk tidak membuat kesepakatan atas
pembayaran hutang kepada kreditor maka memiliki 2 pilihan yaitu melakukan likuidasi atau
reorganisasi. Perusahaan yang melakukan likuidasi berarti perusahaan tersebut memutuskan
untuk menghentikan kegiatan operasi perusahaan dengan menjual aset perusahaan secara
menyeluruh dan hasil penjualan tersebut dibagikan kepada kreditur untuk pembayaran hutang
sedangkan jika masih ada sisa hasil penjualan akan diberikan kepada pemegang saham
perusahaan. Lain halnya jika perusahaan memutuskan untuk melakukan reorganisasi yaitu
perusahaan tetap mempertahankan kelangsungan hidup usahanya dengan menerbitkan efek baru
untuk menggantikan efek lama. Proses likuidasi cenderung ke arah asset restructuring
sedangkan proses reorganisasi lebih cenderung ke arah financial restructuring. Meskipun beda
kategori restructuring namun baik likuidasi maupun reorganisasi dilakukan melalui mekanisme
kebangkrutan atau bankruptcy.
Kebangkrutan atau bankruptcy adalah upaya hukum yang permohonannya dapat dilakukan
sendiri atau secara voluntary oleh perusahaan maupun secara involuntary melalui kreditor
.
LIKUIDASI

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan straight liquidation (versi
Amerika Serikat).
(i) Permohonan, baik yang diajukan secara voluntary oleh perusahaan maupun secara
involuntary oleh kreditor, diajukan ke Pengadilan Federal. Kurator (bankruptcy trustee)
ditunjuk oleh kreditor bertugas melakukan likuidasi aset perusahaan dengan mengambil
alih aset perusahaan. Setelah aset dilikuidasi dan dikurangi dengan pembayaran biaya
administrasi maka hasil likuidasi tersebut dibagikan kepada kreditor dan jika masih
terdapat sisa hasil likuidasi maka akan diberikan ke pemegang saham.
(ii) Setelah perusahaan ditetapkan secara resmi telah mengalami kebangkrutan maka proses
likuidasi dapat diproses dengan pembagian hasil likuidasi diurutkan berdasarkan prioritas
atau absolute priority rule (APR) berikut ini.
a. Beban administrasi atas proses likuidasi
b. Klaim tanpa jaminan (unsecured claims) yang terjadi setelah pengajuan
permohonan involuntary bankruptcy
c. Upah, gaji, dan komisi
d. Iuran kepada dana pensiun yang terjadi dalam 180 hari sebelum tanggal
pengajuan permohonan kebangkrutan
e. Klaim dari konsumen
f. Klaim pajak
g. Klaim kreditor (dengan jaminan maupun tanpa jaminan)
h. Klaim pemegang saham preferen
i. Klaim pemegang saham biasa

REORGANISASI

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan reorganisasi (versi Amerika
Serikat).
(i) Permohonan dapat diajukan oleh perusahaan (voluntary petition) atau oleh 3 atau lebih
kreditor (dapat diajukan 1 kreditor jika jumlah kreditor kurang dari 12). Permohonan
kebangkrutan oleh kreditor (involuntary petition) harus disertai keterangan bahwa
perusahaan tidak membayar hutangnya. Pada umumnya Hakim Federal menerima
permohonan dan menetapkan waktu untuk menyampaikan bukti dari klaim kreditor dan
pemegang saham. Umumnya, perusahaan masih tetap beroperasi.
(ii) Waktu mempersiapkan proses reorganisasi adalah 120 hari. Setelah diajukan proses
reorganisasi maka perusahaan diberi waktu 180 hari untuk meminta persetujuan terhadap
rencana proses reorganisasi.
(iii)Kreditor dianggap menerima proses reorganisasi jika 2/3 dari kelompok (berdasarkan
jumlah kredit) dan1/2 dari kelompok (berdasarkan jumlah kreditor) menyetujui rencana
proses reorganisasi.
(iv) Rencana proses reorganisasi akan diserahkan ke pengadilan apabila telah disetujui oleh
kreditor
(v) Pembayaran dalam bentuk kas, aset, properti, dan efek dapat dilakukan kepada kreditor
serta pemegang saham, termasuk penerbitan efek baru.

WHICH ONE IS BETTER


“PRIVATE WORKOUT” ATAU “FORMAL BANKRUPTCY”

Persamaan :
(a) Sama-sama menerbitkan efek baru untuk ditukarkan dengan efek lama (senior debt
diganti dengan junior debt atau junior debt diganti dengan equity)
(b) Top management sama-sama mengalami penurunan gaji bahkan mungkin kehilangan
jabatan

Perbedaan :
No Private Workout Formal Bankruptcy
Berdasarkan data historis,
Financial restructuring baru mulai dilakukan
1 financial restructuring dilakukan
dengan skema formal bankruptcy
dengan skema private workout
Perusahaan yang bangkit dari Perusahaan yang bangkit dari financial
2 financial restructuring mengalami restructuring tidak mengalami kenaikan harga
kenaikan harga saham yang tinggi saham yang signifikan
Direct cost yang dikeluarkan
3 Direct cost yang dikeluarkan mahal
murah
Marginal Firm

Dapat menerbitkan surat hutang “debtor in


possession” (DIP) untuk injeksi kas dalam
4 -
jangka pendek sehingga perusahaan
mendapatkan tax advantages serta tidak
kehilangan tax carry forwards (kompensasi
kerugian) akibat pengajuan kebangkrutan
Holdouts
5 -
Mengabaikan absolute priority rule
Complexity

Cocok bagi perusahaan yang memiliki struktur


6 -
modal yang kompleks, seperti memiliki jenis
hutang yang beragam sehingga proses
negosiasi dengan kreditor menjadi rumit
Lack of Information

7 - Perusahaan mengalami cash flow shortfall


sehingga tidak dapat diprediksi apakah hanya
sementara atau berkepanjangan.
PREPACKAGED BANKRUPTCY

Prepackaged bankruptcy adalah kombinasi antara private workout dengan legal bankruptcy.
Sebelum perusahaan mengajukan permohonan kebangkrutan, perusahaan sudah lebih dulu
melakukan pendekatan dengan kreditor dan membawa rencana proses reorganisasi perusahaan
untuk bernegosiasi dalam mencari kesepakatan atas rincian keuangan perusahaan
direstrukturisasi. Baik perusahaan dan kreditor menyiapkan dokumen administrasi yang
diperlukan sebelum mengajukan permohonan kebangkrutan. Permohonan tersebut dapat
dikatakan prepackaged karena pada saat perusahaan mengajukan permohonan ke pengadilan,
perusahaan juga melampirkan rencana proses reorganisasi yang lengkap dengan persetujuan dari
kreditor

PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN


MODEL Z-SCORE

Credit scoring model digunakan oleh calon kreditor untuk mengukur creditworthiness
(kelayakan kredit) dari calon debitor agar calon kreditor dapat mengelompokkan calon debitor
berdasarkan risiko kreditnya. Credit scoring model diharapkan dapat mengetahui seberapa besar
kemungkinan perusahaan calon debitor akan mengalami kebangkrutan. Credit scoring model
menggunakan sejumlah rasio dalam laporan keuangan dan menganalisis beberapa diskriminan
untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan manufaktur yang sahamnya diperdagangkan di
bursa (publicly traded manufacturing firms).

𝐸𝐵𝐼𝑇 𝑁𝑒𝑡 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝑒𝑞𝑢𝑡𝑖𝑡𝑦 𝐴𝑐𝑐𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑒𝑑 𝑟𝑒𝑡𝑎𝑖𝑛𝑒𝑑 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔𝑠
Z = 3,3 + 1,2 + 1,0 + 0,6 + 1,4
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝑑𝑒𝑏𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠

Keterangan :
 Z adalah indeks kebangkrutan
 Jika Z-score < 2,675 maka dapat diartikan bahwa peusahaan memiliki kemungkinan
sebesar 95% untuk mengalami kebangkrutan dalam waktu 1 tahun
 Jika Z-score antara 1,81-2,99 dapat dikategorikan sebagai grey area dimana perusahaan
diprediksi akan mengalami kebangkrutan jika Z-score < 1,81 dan perusahaan diprediksi
tidak akan mengalami kebangkrutan jika Z-score > 2,99
 Hanya diterapkan pada perusahaan manufaktur yang sahamnya diperdagangkan di Bursa
Efek Indonesia.

Berikut perhitungan Z-score untuk perusahaan non-publik dan bukan perusahaan manufaktur.

𝑁𝑒𝑡𝑤𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑐𝑐𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑒𝑑 𝑟𝑒𝑡𝑎𝑖𝑛𝑒𝑑 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔𝑠 𝐸𝐵𝐼𝑇 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦


Z = 6,56 + 3,26 + 1,05 + 6,72
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠

Keterangan :
 Z < 1,23 mengindikasikan perusahaan diprediksi akan bangkrut
 1,23 > Z < 2,90 adalah grey area
 Z > 2,90 mengindikasikan perusahaan diprediksi tidak akan bangkrut