Anda di halaman 1dari 83

Latar Belakang

Sistem reproduksi atau genetalia baik pria ataupun wanita terdiri dari 2 bagian, yaitu
genetalia interna dan genetalia eksterna.
Sistem reproduksi laki-laki atau sistem kelamin laki-laki terdiri dari sejumlah organ seks
yang merupakan bagian dari proses reproduksi manusia. Pada laki-laki, organ-organ
reproduksi ini terletak di luar tubuh manusia, sekitar panggul wilayah.
Organ utama pada laki-laki adalah penis dan testis yang memproduksi air mani dan
sperma, yang sebagai bagian dari hubungan seks pupuk sebuah ovum dalam wanita tubuh dan
ovum dibuahi ( zigot ) secara bertahap berkembang menjadi janin, yang kemudian lahir
sebagai anak.
Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon
gondaotr opin / steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus – hipofisis – adrenal –
ovarium.
Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh
siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakan organ reproduksi wanita?
2. Bagaimanakah organ reproduksi pria?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan organ reproduksi wanita.
2. Menjelaskan organ reproduksi pria.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Reproduksi Wanita


Terdiri alat / organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga
panggul. Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan
fetus, kelahiran.

Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon


gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus – hipofisis–adrenal–
ovarium. Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ ekstragenital yang juga dipengaruhi
oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.

1. Genitalia Eksterna

a. Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons
pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum,
kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
b. Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.
c. Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung
pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri
berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu
(pada commisura posterior).
d. Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
e. Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus
clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan
penis pada pria.
Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut
saraf, sangat sensitif.
f. Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora.
Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum,
introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri.
Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
g. Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis
bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan
sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen
dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk
fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada
wanita pernah melahirkan/ para.
Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total
lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.
h. Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian
kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut
fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan
kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel
skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan
untuk kopulasi (persetubuhan).
Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam
secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior
dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.
i. Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis
(m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda,
m.constrictor urethra).
Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar
jalan lahir dan mencegah ruptur.

2. Genitalia Interna

a. Uterus (rahim)

Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama
kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat
persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi
konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri. Dinding
rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu :
- Lapisan serosa (lapisan peritoneum), di luar
- Lapisan otot (lapisan miometrium)di tengah
- Lapisan mukosa (endometrium) di dalam.
Fungsi utama uterus :
1) Setiap bulan berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan adanya perubahan dan
pelepasan dari endometrium
2) Tempat janin tumbuh dan berkembang
3) Tempat melekatnya plasenta
4) Pada kehamilan, persalinan dan nifas mengadakan kontraksi untuk lancarnya persalinan dan
kembalinya uterus pada saat involusi.
1) Serviks uteri (mulut rahim)

Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding
dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan
jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu
portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina)
dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah
cavum).

Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil,


setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang.
Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa
serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat
(musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir
serviks dipengaruhi siklus haid.

2) Corpus uteri (batang/badan rahim)

Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum
latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga
lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam
lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus
haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan
fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.

Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama
pertumbuhan dan perkembangan wanita.

3) Ligamenta penyangga uterus

Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale,


ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum,
ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina.

a) Ligamentum Latum
Terletak di kanan kiri uterus meluas sampai dinding rongga panggul dan dasar panggul,
seolah-olah menggantung pada tuba. Ruangan antar kedua lembar dari lipatan ini terisi oleh
jaringan yang longgar disebut parametrium dimana berjalan arteria, vena uterina pembuluh
limpa dan ureter.
b) Ligamentum Rotundum (Ligamentum Teres Uteri)
Terdapat pada bagian atas lateral dari uterus, kaudal dari insersi tuba, kedua ligamen ini
melelui kanalis inguinalis kebagian kranial labium mayus. Terdiri dari jaringan otot polos dan
jaringan ikat ligamen. Ligamen ini menahan uterus dalam antefleksi. Pada saat hamil
mengalami hypertrophi dan dapat diraba dengan pemeriksaan luar.
c) Ligamentum Infundibulo Pelvikum ( Ligamen suspensorium)
Ada 2 buah kiri kanan dari infundibulum dan ovarium, ligamen ini menggantungkan uterus
pada dinding panggul. Antara sudut tuba dan ovarium terdapat ligamentum ovarii propium.
d) Ligamentum Kardinale ( lateral pelvic ligament/Mackenrodt’s ligament)
Terdapat di kiri kanan dari serviks setinggi ostium internum ke dinding panggul. Ligamen ini
membantu mempertahankan uterus tetap pada posisi tengah (menghalangi pergerakan ke
kanan ke kiri) dan mencegah prolap.
e) Ligamentum Sakro Uterinum
Terdapat di kiri kanan dari serviks sebelah belakang ke sakrum mengelilingi rektum.
f) Ligamentum Vesiko Uterinum
Dari uterus ke kandung kencing
4) Vaskularisasi uterus

Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica
cabang aorta abdominalis.
a) Arteri uterina
Berasal dari arteria hypogastrica yang melalui ligamentum latum menuju ke sisi uterus kira-
kira setinggi OUI dan memberi darah pada uterus dan bagian atas vagina dan mengadakan
anastomose dengan arteria ovarica.
b) Arteri ovarica
Berasal dari aorta masuk ke ligamen latum melalui ligamen infundibulo pelvicum dan
memberi darah pada ovarium, tuba dan fundus uteri.
Darah dari uterus dialirkan melalui vena uterina dan vena ovarica yang sejalan dengan
arterinya hanya vena ovarica kiri tidak masuk langsung ke dalam vena cava inferior, tetapi
melalui vena renalis sinistra.
b. Salping / Tuba Falopii

Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan,
panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.

Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta
mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis,
serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding
yang berbeda-beda pada setiap bagiannya.
1) Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer
gamet.
2) Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil
ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
3) Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan
permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi “menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari
permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.
4) Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).

c. Ovarium

Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-
kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf.
Terdiri dari korteks dan medula. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan
folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di
korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen
oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan
dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap”
ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.

Fungsi ovarium adalah :


1. Mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron
2. Mengeluarkan telur setiap bulan
Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum
infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta
abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

d. Vagina
Adalah liang atau saluran yang menghubungkan vulva dan rahim, terletak diantara
kandung kencing dan rectum. Dinding depan vagina panjangnya 7-9 cm dan dinding
belakang 9-11 cm. dinding vagina berlipat-lipat yang berjalan sirkuler dan disebut rugae,
sedangkan ditengahnya ada bagian yang lebih keras disebut kolumna rugarum. Dinding
vagina terdiri dari 3 lapisan yaitu : lapisan mukosa yang merupakan kulit, lapisan otot dan
lapisan jaringan ikat. Berbatasan dengan serviks membentuk ruangan lengkung, antara lain
forniks lateral kanan kiri, forniks anterior dan posterior.
Bagian dari serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Suplai darah vagina
diperoleh dari arteria uterina, arteria vesikalis inferior, arteria hemoroidalis mediana san
arteria pudendus interna. Fungsi penting vagina adalah :
- Saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dan sekret lain dari rahim
- Alat untuk bersenggama
- Jalan lahir pada waktu bersalin

B. Sistem Reproduksi Pria


Sistem reproduksi pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon
pada pria. Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi
luar.
1. Organ Reproduksi Dalam

Organ reproduksi dalam pria terdiri dari:

a. Testis

Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum).
Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan
kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan
otot polos. testis adalah sepasang struktur oval , agak gepeng dengan panjang 4 cm sampai 5
cm (1,5 inci sampai 2 inci) dan berdiameter 2,5 cm (1 inci).
Fungsi testis, terdiri dari :
1) Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di Tubulus seminiferus.
2) Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstial.
Bersama dengan epididimis, testis berada dalam kantung skrotum. Dinding yang
memisahkan testis dengan epididimis disebut tunica vaginalis. Tunica vaginalis dibentuk dari
peritoneum abdominalis yang mengadakan migrasi kedalam skrotum saat berkembangnya
genitalia interna pria.
1) Turnika albuginca adalah kapsul jaringan ikat yang membungkus testis dan merentang ke
arah dalam untuk membaginya menjadi sekitar 250 lobulus.
2) Tubulus seminiferus, tempat berlangsungnya spermatogenesis, terlilit dalam lobulus.
epitelium germinal khusus yang melapisi tubulus seminiferus mengandung sel-sel batang
(spermatogonia) yang kemudian menjadi sperma: sel-sel Sertoli yang menompang dan
memberi nutrisi sperma yang sedang berkembang : dan sel-sel interstisial (leydig), yang
memiliki fungsi endokrin.
b. Saluran Pengeluaran

Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas
deferens, saluran ejakulasi dan uretra.

1) Epididimis

Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari


testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai
tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju
vas deferens.

2) Vas Deferens

Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang
mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis dengan panjang sekitar 45 cm dan
dimulai dari ujung bawah epididimis kemudian naik sepanjang aspek posterior testis.

Setelah meninggalkan bagian belakang testis, vas deferen melewati chorda spermatica
menuju kedalam abdomen. Setelah menyilang ureter, vas deferen menuju ke duktus vesikula
seminalis.. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam
kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari
epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).

3) Saluran Ejakulasi

Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen


dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.

4) Uretra

Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra
berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk
membuang urin dari kantung kemih.

c. Kelenjar Asesoris

Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah


kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berfungsi untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma. Kelenjar asesoris
merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar
Cowper.

1) Vesikula seminalis

Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-
lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat
makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
2) Kelenjar prostat

prostat
Latar Belakang
Sistem reproduksi atau genetalia baik pria ataupun wanita terdiri dari 2 bagian, yaitu
genetalia interna dan genetalia eksterna.
Sistem reproduksi laki-laki atau sistem kelamin laki-laki terdiri dari sejumlah organ seks
yang merupakan bagian dari proses reproduksi manusia. Pada laki-laki, organ-organ
reproduksi ini terletak di luar tubuh manusia, sekitar panggul wilayah.
Organ utama pada laki-laki adalah penis dan testis yang memproduksi air mani dan
sperma, yang sebagai bagian dari hubungan seks pupuk sebuah ovum dalam wanita tubuh dan
ovum dibuahi ( zigot ) secara bertahap berkembang menjadi janin, yang kemudian lahir
sebagai anak.
Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon
gondaotr opin / steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus – hipofisis – adrenal –
ovarium.
Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh
siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakan organ reproduksi wanita?
2. Bagaimanakah organ reproduksi pria?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan organ reproduksi wanita.
2. Menjelaskan organ reproduksi pria.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Reproduksi Wanita


Terdiri alat / organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga
panggul. Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan
fetus, kelahiran.
Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon
gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus – hipofisis–adrenal–
ovarium. Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ ekstragenital yang juga dipengaruhi
oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.

1. Genitalia Eksterna

a. Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons
pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum,
kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
b. Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.
c. Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung
pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri
berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu
(pada commisura posterior).
d. Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
e. Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus
clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan
penis pada pria.
Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut
saraf, sangat sensitif.
f. Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora.
Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum,
introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri.
Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
g. Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis
bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan
sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen
dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk
fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada
wanita pernah melahirkan/ para.
Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total
lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.
h. Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian
kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut
fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan
kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel
skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan
untuk kopulasi (persetubuhan).
Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam
secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior
dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.
i. Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis
(m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda,
m.constrictor urethra).
Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar
jalan lahir dan mencegah ruptur.

2. Genitalia Interna

a. Uterus (rahim)

Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama
kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat
persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi
konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri. Dinding
rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu :
- Lapisan serosa (lapisan peritoneum), di luar
- Lapisan otot (lapisan miometrium)di tengah
- Lapisan mukosa (endometrium) di dalam.
Fungsi utama uterus :
1) Setiap bulan berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan adanya perubahan dan
pelepasan dari endometrium
2) Tempat janin tumbuh dan berkembang
3) Tempat melekatnya plasenta
4) Pada kehamilan, persalinan dan nifas mengadakan kontraksi untuk lancarnya persalinan dan
kembalinya uterus pada saat involusi.

1) Serviks uteri (mulut rahim)

Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding
dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan
jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu
portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina)
dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah
cavum).

Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil,


setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang.
Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa
serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat
(musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir
serviks dipengaruhi siklus haid.

2) Corpus uteri (batang/badan rahim)

Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum
latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga
lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam
lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus
haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan
fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.

Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama
pertumbuhan dan perkembangan wanita.

3) Ligamenta penyangga uterus

Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale,


ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum,
ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina.
a) Ligamentum Latum
Terletak di kanan kiri uterus meluas sampai dinding rongga panggul dan dasar panggul,
seolah-olah menggantung pada tuba. Ruangan antar kedua lembar dari lipatan ini terisi oleh
jaringan yang longgar disebut parametrium dimana berjalan arteria, vena uterina pembuluh
limpa dan ureter.
b) Ligamentum Rotundum (Ligamentum Teres Uteri)
Terdapat pada bagian atas lateral dari uterus, kaudal dari insersi tuba, kedua ligamen ini
melelui kanalis inguinalis kebagian kranial labium mayus. Terdiri dari jaringan otot polos dan
jaringan ikat ligamen. Ligamen ini menahan uterus dalam antefleksi. Pada saat hamil
mengalami hypertrophi dan dapat diraba dengan pemeriksaan luar.
c) Ligamentum Infundibulo Pelvikum ( Ligamen suspensorium)
Ada 2 buah kiri kanan dari infundibulum dan ovarium, ligamen ini menggantungkan uterus
pada dinding panggul. Antara sudut tuba dan ovarium terdapat ligamentum ovarii propium.
d) Ligamentum Kardinale ( lateral pelvic ligament/Mackenrodt’s ligament)
Terdapat di kiri kanan dari serviks setinggi ostium internum ke dinding panggul. Ligamen ini
membantu mempertahankan uterus tetap pada posisi tengah (menghalangi pergerakan ke
kanan ke kiri) dan mencegah prolap.
e) Ligamentum Sakro Uterinum
Terdapat di kiri kanan dari serviks sebelah belakang ke sakrum mengelilingi rektum.
f) Ligamentum Vesiko Uterinum
Dari uterus ke kandung kencing
4) Vaskularisasi uterus

Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica
cabang aorta abdominalis.
a) Arteri uterina
Berasal dari arteria hypogastrica yang melalui ligamentum latum menuju ke sisi uterus kira-
kira setinggi OUI dan memberi darah pada uterus dan bagian atas vagina dan mengadakan
anastomose dengan arteria ovarica.
b) Arteri ovarica
Berasal dari aorta masuk ke ligamen latum melalui ligamen infundibulo pelvicum dan
memberi darah pada ovarium, tuba dan fundus uteri.
Darah dari uterus dialirkan melalui vena uterina dan vena ovarica yang sejalan dengan
arterinya hanya vena ovarica kiri tidak masuk langsung ke dalam vena cava inferior, tetapi
melalui vena renalis sinistra.
b. Salping / Tuba Falopii

Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan,
panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.

Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta
mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis,
serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding
yang berbeda-beda pada setiap bagiannya.
1) Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer
gamet.
2) Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil
ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
3) Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan
permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi “menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari
permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.
4) Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).

c. Ovarium

Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-
kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf.
Terdiri dari korteks dan medula. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan
folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di
korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen
oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan
dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap”
ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.
Fungsi ovarium adalah :
1. Mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron
2. Mengeluarkan telur setiap bulan
Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum
infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta
abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

d. Vagina
Adalah liang atau saluran yang menghubungkan vulva dan rahim, terletak diantara
kandung kencing dan rectum. Dinding depan vagina panjangnya 7-9 cm dan dinding
belakang 9-11 cm. dinding vagina berlipat-lipat yang berjalan sirkuler dan disebut rugae,
sedangkan ditengahnya ada bagian yang lebih keras disebut kolumna rugarum. Dinding
vagina terdiri dari 3 lapisan yaitu : lapisan mukosa yang merupakan kulit, lapisan otot dan
lapisan jaringan ikat. Berbatasan dengan serviks membentuk ruangan lengkung, antara lain
forniks lateral kanan kiri, forniks anterior dan posterior.
Bagian dari serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Suplai darah vagina
diperoleh dari arteria uterina, arteria vesikalis inferior, arteria hemoroidalis mediana san
arteria pudendus interna. Fungsi penting vagina adalah :
- Saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dan sekret lain dari rahim
- Alat untuk bersenggama
- Jalan lahir pada waktu bersalin

B. Sistem Reproduksi Pria


Sistem reproduksi pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon
pada pria. Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi
luar.
1. Organ Reproduksi Dalam

Organ reproduksi dalam pria terdiri dari:

a. Testis

Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum).
Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan
kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan
otot polos. testis adalah sepasang struktur oval , agak gepeng dengan panjang 4 cm sampai 5
cm (1,5 inci sampai 2 inci) dan berdiameter 2,5 cm (1 inci).
Fungsi testis, terdiri dari :
1) Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di Tubulus seminiferus.
2) Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstial.
Bersama dengan epididimis, testis berada dalam kantung skrotum. Dinding yang
memisahkan testis dengan epididimis disebut tunica vaginalis. Tunica vaginalis dibentuk dari
peritoneum abdominalis yang mengadakan migrasi kedalam skrotum saat berkembangnya
genitalia interna pria.
1) Turnika albuginca adalah kapsul jaringan ikat yang membungkus testis dan merentang ke
arah dalam untuk membaginya menjadi sekitar 250 lobulus.
2) Tubulus seminiferus, tempat berlangsungnya spermatogenesis, terlilit dalam lobulus.
epitelium germinal khusus yang melapisi tubulus seminiferus mengandung sel-sel batang
(spermatogonia) yang kemudian menjadi sperma: sel-sel Sertoli yang menompang dan
memberi nutrisi sperma yang sedang berkembang : dan sel-sel interstisial (leydig), yang
memiliki fungsi endokrin.
b. Saluran Pengeluaran

Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas
deferens, saluran ejakulasi dan uretra.

1) Epididimis

Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari


testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai
tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju
vas deferens.

2) Vas Deferens

Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang
mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis dengan panjang sekitar 45 cm dan
dimulai dari ujung bawah epididimis kemudian naik sepanjang aspek posterior testis.

Setelah meninggalkan bagian belakang testis, vas deferen melewati chorda spermatica
menuju kedalam abdomen. Setelah menyilang ureter, vas deferen menuju ke duktus vesikula
seminalis.. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam
kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari
epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).

3) Saluran Ejakulasi

Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen


dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.

4) Uretra

Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra
berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk
membuang urin dari kantung kemih.

c. Kelenjar Asesoris

Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah


kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berfungsi untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma. Kelenjar asesoris
merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar
Cowper.

1) Vesikula seminalis

Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-
lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat
makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.

2) Kelenjar prostat

prostat
perubahan - perubahan pada bayi
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Bayi baru lahir / new born ( Inggris ) / neonatus (Latin ) adalah Bayi yang baru
dilahirkan sampai dengan umur 4 minggu.BBL normal Bayi yang baru dilahirkan pada
kehamilan cukup bulan, BB bayi antara 2500 gram sampai dengan 4000 gram dan tanpa
tanda asfiksia dan penyakit penyerta lainya. Neonatal Dini adalah BBL sampai dengan usia
1 minggu,sedangkan neonatal lanjut adalah BBL dari usia 8 hari sampai dengan usia 28 hari.
Sebagai akibat perubahan lingkungan dalam uterus ke luar uterus, maka bayi
menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanik dan termik.Hasil rangsangan tersebut
membuat bayi akan mengalami perubahan-perubahan fisiologis dan cenderung akan
beradaptasi. Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut Periode Transisi.
Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem
tubuh.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang
perubahan-perubahan fisiologis dan adaptasi yang terjadi pada bayi baru lahir.
2.Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“BAYI BARU LAHIR,NEONATUS,BAYI BALITA,DAN ANAK PRA SEKOLAH”.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Sistem apa saja yang mengalami perubahan pada saat bayi baru lahir?
2. Bagaimana bayi beradaptasi terhadap kehidupannya di luar uterus?

BAB II
PEMBAHASAN
A. SISTEM PERNAFASAN
Perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna
(dalam kandungan Ibu)yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke
lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu. Bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui
sistem sirkulasi pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk
mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit.
Dua faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi :
1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang
pusat pernafasan di otak.
2. Tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan
yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.Interaksi antara sistem
pernafasan, kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat menimbulkan pernafasan yang teratur
dan berkesinambungan.

Rangsangan untuk grk pernafasan :


• Tekanan mekanik dr thoraks
• Pe Pa O2 & ke Pa CO2
• Rangsangan dingin pd daerah muka
Upaya pernafasan pertama seorang bayi, berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru-
paru dan mengembangkan jaringan alveolus dalam paru-paru untuk pertama kali.

B. SISTEM PEREDARAN DARAH


Sistem sirkulasi darah terdiri dari jantung, dan serangkaian pembuluh yaitu arteri,
kapiler dan vena. Sistem ini berguna untuk membagikan bahan nutrisi, oksigen dan hormon
ke seluruh bagian tubuh kemudian mengangkut limbah metabolisme sel tubuh.
Terjadi perubahan besar, yaitu :
 Penutupan foramen ovale pd atrium jantung
 Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru2& aorta
 Denyut jantung BBL rata2 140 dtk/mnt dan volume darah pada BBL berkisar 80 – 110
ml/kg

C. SISTEM GASTROINTESTINAL
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar
dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan
(pengunyahan,penelanan, dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang dari
mulai mulut (oris) sampai anus. Bayi Baru Lahir (BBL, newborns) harus memulai untuk
memasukkan, mencerna dan mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana plasenta telah
melakukan fungsi ini (Gorrie, et al., 1998).
Usus bayi baru lahir relative tidak matur. Sistem otot yang menyusun organ tersebut
lebih tipis dan kurang efisien dibandingkan pada orang dewasa sehingga gelombang
peristaltic tidak dapat diprediksikan. Lipatan dan vili dinding usus belum erkembang
sempurna. Sel epitel yang melapisi usus halus bayi baru lahir tidak berganti dengan cepat
sehingga meningkatkan absorbs yang paling efektif. Awal pemberian makan oral
menstimulasi lapisan usus agar matur dengan meningkatkan pergantian sel yang cepat dan
produk enzimmikrovilus, seperti amylase, tripsin, dan lipase pancreas.

Kapasitas lambung BBL 30 – 90 ml. Pengosongan lambung antara 2 – 4 jam setelah


pemberian makanan. Dipengaruhi oleh:
• Waktu dan volume makanan
• Jenis dan suhu makanan
• Stres fisik.

D. SISTEM METABOLISME DAN PANGATURAN SUHU

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami
stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang
suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit,
pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat
untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu
meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, bayi harus
menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas.
Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini
akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin.
Kehilangan panas pd BBL dpt tjd mll 4 cara a/l :
• Konveksi : Proses hilangnya panas tubuh melalui kontak dengan udara yang dingin di
sekitarnya.
• Radiasi :Proses hilangnya panas tubuh bila bayi diletakkan dekat dengan benda-benda
yang lebih rendah suhunya dari suhu tubuhnya.
• Evaporasi : Proses hilangnya panas tubuh bila bayi berada dalam keadaan basah.
• Konduksi : Proses hilangnya panas tubuh melalui kontak langsung dengan benda-
benda yang mempunyai suhu lebih rendah .

E. SISTEM GINJAL
Pada BBL, hampir semua massa yang teraba di abdomen berasal dari ginjal. Fungsi
ginjal yang mirip dengan fungsi orang dewasa belum terbentuk pada tahun kedua kehidupan.
BBL memiliki rentang keseimbangan kimia dan rentang keamanan yang kecil. Infeksi, diare
atau pola makan yang tidak teratur secara cepat dapat menimbulkan asidosis dan
ketidakseimbangan cairan, seperti dehidrasi atau edema.
Ketidaknormalan ginjal juga membatasi kemampuan BBL untuk mengekskresi
obat.Sejumlah kecil urine terdapat dalam kandung kemih saat lahir, tetapi bayi baru lahir ada
yang tidak mengeluarkan urine selama 12 sampai 24 jam. Berkemih sering terjadi setelah
periode ini. Berkemih enam sampai 10 kali dengan warna urine pucat menunjukkan masukan
cairan yang cukup. Umumnya, bayi yang cukup bulan mengeluarkan urine 15 sampai 60 ml
per kilogram per hari.

Ginjal sudah berfungsi, tetapi belum sempurna.


BBL harus BAK dalam 24 jam pertama, jumlah urin 20 – 30 ml/hr dan meningkat
menjadi 100 – 200 ml/hr pada akhir minggu pertama.

F. SISTEM HATI
Liver BBL blm matur untuk membentuk glukosa sehingga BBL mudah terkena hipoglikemi
Neonatus telah memiliki kapasitas fungsional untuk mengubah bilirubin, namun sebagian
besar BBL ada yang mengalami hiperbilirubinemia fisiologis.

Liver bayi mempunyai peranan yg ptg dlm hal :


• penyimpanan zat besi
• metabolisme KH
• konjugasi bilirubin
• koagulasi

G. SISTEM NEUROLOGI

Perubahan Fisiologis Sistem Neurologis pada Bayi Baru LahirPada saat lahir sistem
saraf belum terintegrasi sempurna namun sudah cukup berkembang untuk bertahan dalam
kehidupan ekstra uterin. Fungsi tubuh dan respon-respon yangdiberikan sebagian besar
dilakukan oleh pusat yang lebih rendah dari otak dan reflek-reflek dalam medulla spinalis.
BBL baru dapat menjalankan fungsi pada tingkat batang otak.Kontrol saraf dari pusat yang
lebih tinggi secara bertahap berkembang, membuat perilaku yang kompleks dan bertujuan.
(Hamilton, 1995).
Kebanyakan fungsi neurologis berupa reflek primitif. Evaluasi reflek primitif dan
tonus otot merupakan pengkajian perilaku saraf (neuro behavioral) pada neonatus. BBL
memiliki banyak reflek yang primitif. (Bobak, 2005).
Pertumbuhan otak sangat cepat dan membutuhkan glukosa dan O2 yg adekuat.
Refleks pada BBL:
1. Refleks Moro / Peluk
2. Refleks rooting
3. Refleks menghisap & menelan
4. Refleks batuk & bersin
5. Refleks grasping
6. Refleks stepping
7. Refleks neck tonis
8. Refleks babinski

H. SISTEM IMUNOLOGI
Imunologi: ilmu yang mempelajari tentang sistem imun/kekebalan tubuh. Pengenalan,
memori, serta kespesifikan terhadap benda asing merupakan inti imunologi. konsep dasar
respon imun merupakan reaksi terhadap sesuatu yang asing. Imunoglobulin (antibodi) , yang
membentuk sekitar 20% dari semua protein dalam plasma darah. Selain di plasma darah,
imunoglobulin juga ditemukan di dalam air mata, air liur, sekresi mukosa saluran napas,
cerna dan kemih-kelamin, serta kolostrum.
RESPON IMUN
Tahap:
1. Deteksi dan mengenali benda asing
2. Komunikasi dengan sel lain untuk berespons
3. Rekruitmen bantuan dan koordinasi respons
4. Destruksi atau supresi penginvasi Advertisements

Sistem imunitas BBL belum matang, rentan berbagai infeksi dan alergi Sedangkan
sistem imunitas yang telah matang akan memberikan kekebalan alami dan kekebalan didapat
pada tubuh Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yg mencegah atau
meminimalkan infeksi. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah
atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
 Perlindungan oleh kulit membran mukosa
 Fungsi saringan saluran napas
 Pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
 Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
JURNAL
ADABTASI FISIOLOGI SISTEM KARDIOVASKULER PADA
TRANSISI FETAL NEONATUS

Sesaat sebelum lahir dan selama persalinan, produksi cairan paru berkurang. Paru-
paru yang terisi oleh cairan dan oksigen di produksi oleh plasenta. Pembuluh darah yang
memproduksi dan mengaliri paru-paru akan mengalami resistensi vaskular pulmonal tinggi
(tahanan vaskular pulmonal tinggi), sehingga sebagian besar darah dari sisi kanan jantung
melewati paru-paru dan mengalir melalui duktus arteriosus menuju aorta. Pada masa
persalinan dan selama bayi menuruni jalan lahir, dada bayi terperas serta sejumlah cairan
paru keluar dari trakea. Sejumlah stimulan di antara nya yaitu, suhu, kimia, dan sentuhan
memulai terjadi nya pernafasan pada nayi baru lahir. ini juga dipengaruhi oleh kadar kortisol,
ADH (hormon antidiuretik), TSH, hormon penstimulasi tiroid dan katekolamin serum akan
meningkat dengan cepat. Bayi mulai bernafas yang pertama kali biasanya terjadi dalam
beberapa detik setelah lahir dan memerlukan tekanan intratoraks.
Udara yang masuk kedalam paru akan disertai dengan meningkatnya tegangan
oksigen arterial. Sedangkan aliran darah arteri pulmonalis akan meningkat dan restensi
vaskular polmonal akan turun. Sirkulasi plasental akan menghilangkan penjepitan pada tali
pusat dan memiliki resistensi yang rendah. Peningkatan resistensi vaskular perifer dan
peningkatan tekanan darah sistemik sebagai penyebab hilangnya sirkulasi plasental.
Penurunan resistensi vaskular pulmonal serta meningkatnya resistensi vaskular sistemik
berakibat terjadinya penutupan fungsional duktus arteriosus.

* Lissauer, Tom and Avroy Fanaroff.2009.At a Glance NEONATOLOGI.Jakarta:


Erlangga.32-33

FUNGSI HATI
Setelah terjadi perubahan sistem kardiovaskuler, hati bayi mendapatkan perfusi darah
dalam jumlah banyak. Hati bayi dapat mengubah glukosa menjadi glikogen seperti yang
terjadi pada orang dewasa, akan tetapi enzimnya bersifat imatur(belum berfungsi dengan
baik). Yang paling penting adalah hati dapat melakukan konjugasi bilirubin. Oleh karena itu
terjadi ikterus (kekuningan) fisiologik pada 6 hari pertama setelah bayi lahir.
Glikogen disimpan didalam hati disiapkan 8 minggu terakhir kehidupan bayi diluar
rahim. Kemudian glikogen bermobilisasi untuk memenuhi kebutuhan energi bayi. Bayi yang
prematur menyimpan glikogen dalam jumlah yang relatif sedikit oleh karena itu dapat timbul
hipoglikemia. Pada beberapa hari berikutnya neonatus mendapatkan energi dari makanan.
Kemudian makanan tersebut dioksidasi menjadi lemak yang disimpan pada jaringan adiposa.

* Dasar-dasar Obstetri dan Genekologi Edisi 6

Oleh Derek Llewellyn-Jones

PERUBAHAN GASTROINTESTINALKAN
Pada persimpangan esofagus bagian bawah dan stomatch tersebut, spincter jantung
tidak lengkap. Kapasitas dari perut bayi sendiri cukup terbatas, kurang dari 30cc
Usus bayi baru lahr relatif belum matang. Otot-otot yang mendasari sifatnya tipis dan kurang
efisien dibandingkan pada orang dewasa, menyebabkan gelombang peristaltik terduga. Pada
Lipatan dan vili dari dinding usus tidak sepenuhnya dikembangkan. Sel-sel epitel yang
melapisi usus bayi kecil tidak memiliki pergantian sel yang cepat yang dapat melakukan
penyerapan yang efektif. Awal atau di mana saja menyusui dapat merangsang lapisan sel usus
untuk memproduksi microvillous enzim amilase, tripsin, dan lipase pankreas. Ketidak
matangan epitel usus mempengaruhi kemampuan usus untuk melindungi diri dari substantasi
berbahaya. Cadangan totes saluran gastrointetinal merupakan bagian sistem kekebalan tubuh
atau sebagai sistem pertahanan tubuh. yang terdapat pada saluran pencernaan adalah
hambatan kimia, Peningkatan keasaman, enzim pencernaan yang memecah molekul besar,
dan sekretorik IgA yang melapisi usus kecil. Pada masa awal bayi, bayi menghadapi tugas
"penutupan usus", pada proses ini, epithekiak atau usus Menjadi kedap antigen. Sebelum
penutupan usus, bayi rentan terhadap infeksi bakteri / virus dan mati untuk stimulasi alergi
melalui penyerapan usus atau molekul besar. Menyusui akan mempromosikan usus dalam
penutupan nya karena biedt sejumlah besar sekresi IgA dan meningkatkan enzim usus
poliferaton.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Sebagai seorang bidan harus mampu memahami tentang beberapa adaptasi atau
perubahan fisiologi bayi baru lahir (BBL). Hal ini sebagai dasar dalam memberikan asuhan
kebidanan yang tepat. Setelah lahir, BBL harus mampu beradaptasi dari keadaan yang sangat
tergantung (plasenta) menjadi mandiri secara fisiologi. Setelah lahir, bayi harus mendapatkan
oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri, mendapatkan nutrisi per oral untuk
mempertahankan kadar gula darah yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap
penyakit /infeksi.

B. Saran
Dengan di susunnya makalah ini mahasiswa dapat menjelaskan perubahan-perubahan
fisiologi dan adaptasi pada bayi baru lahir.
Makalah Adaptasi Neonatus

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat-saat dan jam pertama kehidupan di luar rahim merupakan salah satu siklus
kehidupan. Pada saat bayi dilahirkan beralih ketergantungan pada ibu menuju kemandirian
fisiologi. Proses perubahan yang komplek ini dikenal sebagai periode transisi.Adaftasi
fisiologis BBL adalah sangat berguna bagi bayi untuk menjaga kelangsungan hidupnya diluar
uterus. Artinya nantinya bayi harus dapat melaksanakan sendiri segala kegiatan untuk
mempertahankan kehidupannya.

Bayi baru lahir harus memenuhi sejumlah tugas perkembangan untuk memperoleh
dan mempertahankan eksistensi fisik dan terpisan dari ibunya. Perubahan fisiologis dan
psikososial yang besar terjadi pada saat bayi lahir. Hal ini memungkinkan transisi dari
lingkungan intrauterin (selama kehamilan) ke lingkungan ekstrauterin (sesudah lahir).
Perubahan ini menjadi dasar pertumbuhan dan perkembangan kemudian hari. (Bobak, 2005)

B. Tujuan :
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Sistem
Reproduksi yang berjudul ” Adaptasi Neonatal ”.

Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui mengenai adaptasi
pada bayi baru lahir lebih dalam lagi agar dapat menambah pengetahuan penulis ataupun
pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
A. Definisi
Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berumur 0-28 hari (Bobak, 2005).
Menurut Laila, 2008, bayi baru lahir normal adalah individu baru yang lahir di dunia, dalam
keadaannya yang terbatas, maka individu baru ini sanganlah membutuhkan perawatan dari
orang lain

B. Adaptasi Bayi Baru Lahir


Bayi akan mengalami adaptasi sehingga yang semula bersifat bergantung kemudian
menjadi mandiri secara fisiologis karena:
a. Mendapatkan oksigen melalui system sirkulasi pernapasannya yang baru
b. Mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang cukup
c. Dapat mengatur suhu tubuh
d. Dapat melawan setiap penyakit dan infeksi
Sebelum diatur oleh tubuh bayi sendiri, fungsi tersebut dilakukan oleh placenta yang
kemudian masuk keperiode transisi. Periode transisi terjadi segera setelah lahir dan dapat
berlangsung hingga 1 bulan atau lebih (untuk beberapa system). Transisi yang paling nyata
dan cepat adalah system pernapasan dan sirkulasi, system termogulasi, dan system
metabolisme glukosa.

1. System Pernapasan
Paru berasal dari titik tumbuh yang terdapat difaring, bercabang dan kemudian bercabang
kembali membentuk percabangan bronkus. Seiring waktu, pada usia 8 bulan bronkiolus dan
alveoulus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti
gerakan napas sepanjang trimester I dan III. Ketidakmatangan paru akan mengurangi peluang
kelangsungan hidup bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu karena keterbatasan
permukaan alveolus, ketidakmatangan system kapiler paru dan tidak cukupnya jumlah
surfaktan.
Napas yang pertama dipengaruhi oleh 2 faktor yang berperan pada rangsangan napas bayi:
a. Hipoksia yang berperan pada rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat
pernapasan di otak.
b. Tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru selama persalinan yang
merangsang masuknya udara kedalam paru secara mekanis.
Upaya bernapas pertama seorang bayi adalah untuk mengeluarkan cairan dalam paru dan
mengembangkan jaringan alveolus paru. Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat cukup
surfaktan dan aliran darah ke paru. Produksi surfaktan dimulai pada usia 20 minggu
kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru matang sekitar 30-40 minggu
kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan dan membantu menstabilkan
dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir penapasan.
Surfaktan adalah lipoprotein yang dihasilkan oleh sel tipe II pneumosit yang melapisi
alveolus. Surfakatan memengaruhi pengembangan alveolus dan menjaganya tidak kolaps saat
ekskresi. Sindrom distress pernapasan pada bayi sering kali terjadi karena defisiensi
surfaktan. Gambaran surfaktan pada cairan amnion menunjukan pematangan fungsional paru.
Sintesis dan sekresi surfaktan dipengaruhi oleh hormone kortisol dan glukosteroid lain.
Terapi glukosteroid pada wanita hamil untuk memengaruhi pematangan paru hanya efektif
pada minggu ke 29-33. Pada usia gestasi <34 minggu produksi surfaktan kurang. Sehingga
ketika bayi lahir dan bernapas alveolus menjadi kolaps (hyaline membrane disease). Cairan
pada paru tidak keluar seluruhnya, misalnya pada kelahiran dengan bedah sesar, yang dapat
menyebabkan asfiksia berat (wet lung syndrome).
Oksigenasi yang memadai merupakan factor yang sangat penting dalam mempertahankan
kecukupan pertukaran udara. Untuk menciptakan sirkulasi yang baik guna mendukung
kehidupan luar rahim terjadi dua perubahan besar yaitu penutupan foramen ovale pada atrium
jantung dan penutupan duktus arteriosus antara arteri pulmonary dan aorta.
Oksigen menyebabkan system pembuluh darah mengubah tekanan dengan cara
mengurangi atau meningkatkan resistensinya sehingga mengubah aliran darah, hak ini
menyebabkan kematian dini bayi baru lahir yang berkaitan dengan oksigen (asfiksia). Dua
peristiwa yang mengubah tekanan dalam pembuluh darah:
a. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium
kanan menurun karena berkurang aliran darah ke atrium kanan tersebut.
b. Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru dan meningkatkan tekanan
atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya
system pembuluh darah paru (menurunnya resistensi pembuluh darah paru).
Napas pertama sangat memerlukan tekanan yang sangat tinggi untuk memasukan
udara ke alveolus yang penuh air. Napas ke 2-4 tekanannya lebih rendah. Surfaktan
merendahkan tegangan didalam alveoli dan mencegah kolaps paru setelah ekspirasi.
Surfaktan diproduksi pada kehamilan 20 minggu dan sampai meningkat sampai usia 30-34
minggu.
Rangsangan untuk bernapas berasal dari:
a. Kompresi toraks janin pada proses kelahiran sedikit mendesak cairan dari saluran
pernapasan, sehingga memperluas ruangan untuk masuknya udara dan mempercepat
pengeluaran air dari alveolus.
b. Rangsangan fisik ketika penanganan bayi selama persalinan dan kontak dengan permukaan
yang relative kasar diyakini merangsang pernapasan secara reflek dari kulit.
c. Rangsangan berupa dingin, gravitasi, nyeri, cahaya, atau suara.
Upaya napas akan mengeluarkan cairan dalam paru dan mengembangkann jaringan
alveolus paru untuk pertama kali (surfaktan dan aliran darah ke paru ). Pernapasan normal
memiliki frekuensi rata-rata 40 kali/menit, interval frekuensi 30-60 kali/menit. Jenis
pernapasan adalah diafragma, abdomen, dan pernapasan hidung.

2. System Peredaran Darah


Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung

b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.

Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh.
Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi
/meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.

Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah

1) Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium
kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan
tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri.
Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-
paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.

2) Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan
tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan
terbukanya system pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan
peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan peningkatan tekanan
atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada
atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup.

Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara
fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan
anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.

Peningkatan aliran darah paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan
menghilangkan cairan paru. Peningkatan aliran darah paru akan mendorong peningkatan
sirkulasi limfe dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
3. Sistem Metabolisme Dan Pengaturan Suhu
Dilingkungan yang dingin pengaturan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan
usaha utama seseorang bayi yang dengan kedinginan untuk mendapatkan usaha untuk
mendapatkan panas tubuhhnya. Pengaturan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil
penggunaan lemak cokelat untuk memproduksi panas. Timbunan lemak cokelat terdapat di
seluruh tubuh dan mampu meningkatkan suhu 100%. Untuk membakar lemak cokelat,
glukosa harus digunakan guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi
panas.
Mekanisme terjadinya hipotermia dimulai dari asupan makanan yang kurang, lemak
cokelat belum berkembang (26 minggu), permukaan tubuh lebih luas, lemak subkutan sedikit,
dan respons vasomotor kurang efektif. Mekanisme hilangnya panas terjadi melalui:
a. Konveksi: Kehilangan panas karena udara yang mengalir (mis kipas angin, aliran ac,
jendela terbuka)
b. Konduksi: Kehilangan panas karena menempel pada benda dingin (mis, stetoskop,
timbangan dll)
c. Radiasi: kehilangan panas bayi karena diruang lebih dingin dari suhu tubuh bayi.
Pencegahannya dengan mengatur suhu ruangan agar cukup hangat, menyelimuti bayi
terutama kepalanya (area terluas)
d. Evaporasi: kehilangan panas karena tubuh bayi yang basah (menguap bersama air yang
menempal di tubuh bayi). Pencegahannya dengan segera mengeringkan bayi.
Dampak hipotermia pada bayi dapat menimbulkan hipoksia, hipoglikemia, asodosis
metabolik, syok, DIC, atau kematian. Sedangkan hipertermia dapat menyebabkan apnea,
dehidrasi, asidosis metabolik, syok, kerusakan otak, atau kematian.
Kehilangan berat badan awal dapat terjadi 10 hari pertama sebesar 10% dari berat badan
awal. Selanjutnya peningkatan berat badan 25 g sehari selama bulan pertama yang berlipat
dua kali pada 5 bulan, dan berlipat tiga pada akhir tahun pertama.
Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan menurun dalam waktu cepat (1-2 jam).
Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. Melalui penggunaan air susu ibu (ASI). Bayi baru lahir sehat harus didorong menyusu ASI
secepat mungkin setelah lahir.
b. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenolisis)
c. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis)
Gejala hipoglikemia mungkin tidak jelas dan tidak khas dan dapat meliputi kejang, haus,
sianosis, apnea, menangis, lemah, letargi, lunglai, dan menolak makanan.
4. Sistem Gastrointestinal
Kebutuhan nutrisi dan kalori janin terpenuhi langsung dari ibu melalui plasenta,
sehingga gerakan ususnya tidak aktif dan tidak memerlukan enzim pencernaan, dan
kolonisasi bakteri di usus negatif. Setelah lahir gerakan usus mulai aktif, sehingga
memerlukan enzim pencernaan, dan kolonisasi bakteri di usus posistif. Syarat pemberian
minum adalah sirkulasi baik, bising usus positif, tidak ada kembung, pasasemekonium
posistif, tidak ada muntah dan sesak napas.

Refleks gumoh dan refleks batuk sudah terbentuk baik saat lahir. Kemampuan bayi
untuk menelan dan mencerna makanan selain susu masih terbatas. Hubungan antara esofagus
dan lambung masih belum sempurna (gumoh) dan kapasitas lambung masih terbatas (30 cc)

Dua sampai tiga hari pertama kolon berisi mekonium yang lunak, berwarna hijau
kecoklatan, yang berasal dari saluran usus dan tersusun atas, mukus dan sel epidermis. Warna
yang khas berasal dari pigmen empedu. Beberapa jam sebelum lahir usus masih steril, tetapi
setelah itu bakteri menyerbu masuk. Pada hari ke-3 atau ke-4 mekonium menghilang.
5. Sistem Ginjal
Janin membuang toksin dan homeostatis cairan/elektrolit melalui plasenta. Setelah
lahir ginjal berperan dalam homeostatis cairan/elektrolit. Lebih dari 90% bayi berkemih dalah
usia 24 jam, dan memproduksi urine 1-2 ml/jam. Pematangan ginjal berkembang sampai usia
gestasi 36 minggu.

6. Sistem Hati
Fungsi hati adalah metabolisme karbohidrat, protein, lemak, dan asam empedu. Hati
juga memiliki fungsi ekskresi (aliran empedu) dan detoksifikasi obat/toksin.

Bila menemukan bayi kuning lebih dari 2 minggu dan feses berbentuk dempul ada
kemungkinan terjadi atresia bilier yang memerlukan operasi segera sebelum usia 8 minggu.
Bilirubin saat lahir antara 1,8-2,8 mg/dl yang dapat meningkat sampai 5 pada hari ke-3 atau
ke-4 karena maturitas sel hati.

7. Sistem Neurologi
Bayi telah dapat melihat dan mendengar sejak baru lahir sehingga membutuhkan
stimulasi suaran dan penglihatan. Setelah lahir jumlah dan ukuran sel saraf tidak bertambah.
Pembentukan sinaps terjadi secara progesif sejak lahir sampai usia 2 tahun. Mielinisasi
(perkembangan serabut mielin) terjadi sejak janin 6 bulan sampai dewasa. Golden period
mulai trimester III sampai usia 2 tahun pertambahan lingkar kepala (saat lahir kira-kira 36
cm, usia 6 bulan 44 cm, usia 1 tahun 47 cm, usia 2 tahun 49 vm, 5 tahun 51, dewasa 56 cm).
Saat lahir bobot otak 25% dari berat dewasa, usia 6 bulan hampir 50%, usia 2 tahun 75%,usia
5 tahun 90%, usia 10 tahun 1000%.

8. Sistem Imunologi
Sel fagosit, granulosit, monosit mulai berkembang sejak usia gestasi 4 bulan. Setelah
lahir imunitas neonatus cukup bulan lebih rendah dari orang dewasa. Usia 3-12 bulan adalah
keadaan imunodefisiensi sementara sehingga bayi mudah terkena infeksi. Neonatus kurang
bulan memiliki kulit yang masih rapuh, membran mukosa yang mudah cedera, pertahanan
tubuh lebih rendah sehingga berisiko menglami infeksi yang lebih besar.
Perubahan beberapa kekebalan alami meliputi perlindungan oleh kulit, membran
mukosa, fungsi jaringan saluran napas, pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus, dan
perlindungan kimia oleh asam lambung.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Jelas bahwa orangtua harus melakukan banyak penyesuaian dengan lahirnya anak mereka.
Tetapi bayi yang baru lahir juga dipaksa menjalani peralihan dari lingkungan yang ideal di
dalam rahim kedunia di luar kandungan ibunya, dunia yang jelas lebih keras dan bervariasi.
Adaptasi bayi yang baru lahir diantaranya adalah :
a. System Pernapasan
b. System Peredaran Darah
c. Sistem Metabolisme Dan Pengaturan Suhu
d. Sistem Gastrointestinal
e. Sistem Ginjal
f. Sistem Hati
g. Sistem Neurologi
h. Sistem Imunologi
Terlepas dari apakah bayi anda lahir melalui persalinan alami atau pembedahan caesar, ia
telah mengalami suatu pengalaman fisik yang sangat berat dan melelahkan. Ia memerlukan
waktu untuk menyesuaikan diri dengan dunia barunya, dan sebenarnya sebagai respon
terhadap keletihan dari proses kelahiran,

B. Saran

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat
berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Deslidel, Hajjah. 2011. Asuhan Neonates Bayi Dan Balita. Jakarta : EGC
Perpustakaan nasional : Katalog dalam terbitan (KDT). 2001. Bayi Anda Tahun Pertama : Tip
Bergambar Perawatan Bayi Tahap Demi Tahap. Jakarta : Arcan
BAYI BARU LAHIR
BAYI BARU LAHIR

A. PENDAHULUAN

Bayi baru lahir harus memenuhi sejumlah tugas perkembangan untuk memperoleh dan
mempertahankan eksistensi fisik secara terpisah dari ibunya.perubahan biologis besar yang
terjadi saat bayi lahir memungkinkan transisi dari lingkungan intrauterin ke ekstrauterin.
Perubahan ini menjadi dasar pertumbuhan dan perkembangan di kemudian hari.

B. KARAKTERISTIK BIOLOGIS

Saat dilahirkan bayi memiliki kompetensi prilaku dan kesiapan interaksi sosial karena
sistem fisiologi dan anatomi telah mencapai tingkat perkembangan dan fungsi yang
memungkinkan pada masa kehamilan.
Periode neonatal yang berlangsung sejak bayi lahir sampai usia 28 hari, merupakan waktu
berlangsungnya perubahan fisik pada bayi baru lahir secara dramatis.

C. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA BAYI BARU LAHIR

1. Sistem Kardiovaskuler
Dengan berkembangnya paru-paru tekanan oksigen di dalam alveoli meningkat sebaliknya
tekanan karbon dioksida turun. Hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-
pembuluh darah paru. Sehingga aliran darah ke alat tersebut meningkat ini menyebabkan
darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosus menutup. Dengan
menciutnya arteria dan vena umbilikalis dan kemudian dipotongnya tali pusat, aliran darah
dari plasenta melalui vena cava inferior dan foramen ovale ke atrium kiri terhenti. Dengan
diterimanya darah oleh atrium kiri dari paru-paru tekanan di atrium kiri menjadi lebih
tinggi dari pada tekanan di atrium kanan menyebabkan foramen ovale

menutup. Sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan
ibu.

Bunyi dan Denyut jantung


Frekuensi denyut jantung bayi rata-rata 140 kali/menit saat lahir dengan variasi berkisar
antara 120 dan 160 kali/menit.Frekunsi saat bayi tidur berbeda dengan saat bayi bangun.
Aritmia sinus (denyut jantung yang tidak teratur)pada usia ini dapat dipersepsikan sebagai
fenomena fisiologis dan sebagai indikasi fungsi jantung yang baik (Lowrey 1986).
Bunyi jantung bayi setelah lahir mencerminkan suatu rangkaian kerja pompa jantung.
Bunyi jantung selama periode neonatal bernada tinggi (high pitch) ,lebih cepat (short in
duration),dan memiliki intensitas yang lebil besar dari jantung orang dewasa.

Volume dan Tekanan Darah

Tekanan darah sistolik bayi baru lahir adalah 78 dan tekanan diastolik rata-rata adalah
42.tekanan darah sistolik bayi sering menurun (15 mmHg) selama satu jam pertama
setelah lahir. Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80 sampai 110 ml/kg selama
beberapa hari pertama dan meningkat dua kali lipat pada akhir tahun pertama. Secara
proporsional , bayi baru lahir memiliki volume darah sekitar 10 % lebih besar dan memiliki
jumlah sel darah merah hampir 20% lebih banyak dari pada orang dewasa.akan tetapi
darah bayi baru lahir mengandung volume plasma sekitar 20% lebih kecil bila dibandingkan
dengan kilogram berat badan orang dewasa. Bayi prematur memiliki volume darah yang
relatif lebih besar daripada bayi baru lahir cukup bulan. Hal ini disebabkan bayi prematur
memiliki proporsi volume darah yang lebih besar, bukan jumlah sel darah merah yang lebih
banyak.

2. Sistem pernapasan
Pernapasan pertama pada bayi terjadi normal dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran.
Penyesuaian paling kritis yang harus dialami bayi baru lahir ialah penyesuaian pernapasan.
Paru-paru bayi cukup bulan mengandung sekitar 20 ml cairan /kg (Blackburn, loper,
1992).Tarikan napas pertama terjadi disebabkan oleh refleks yang dipicu oleh perubahan
tekanan, pendinginan, bunyi, cahaya dan sensasi lain yang berkaitan dengan proses
kelahiran. Selain itu kemoreseptor di aorta dan badan karotid menginisiatifkan reflek
neurologis ketika tekanan oksigen arteri menurun dari 80 menjadi 50 mmHg, tekanan
karbon dioksida arteri meningkat dari 40 menjadi 70 mmHg dan pH arteri menurun sampai
dibawah 7,35. Apabila perubahan yang terjadi sangat ekstrim depresi pernapasan dapat
terjadi. Pola pernapasan tertentu menjadi karakteristik bayi baru lahir yang cukup bulan.
Setelah pernapasasn mulai berfungsi , napas bayi menjadi dangkal dan tidak
teratur,bervariasi dari 30 sampai 60 kali permenit, disertai apneu singkat (kurang dari 15
detik).
Bayi baru lahir biasanya bernapas melalui hidung. Respon bayi terhadap obstruksi hidung
ialah membuka mulut untuk mempertahankan jalan napas.
Lingkaran dada berukuran kurang lebih 30-33 cm saat bayi lahir. Auskultasi dada bayi baru
lahir akan menghasilkan bunyi napas yang bersih dan keras dan bunyi terdengar sangat
dekat karena jaringan pada dinding dada masih tipis

3. Sistem metabolisme
Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan,mencerna,memetabolisme dan mengabsorbsi
protein dan karbohidrat sederhana,serta mengemulsi lemak.
Kecuali amilase pankres,karakteristik enzim dan cairan pencernaan,bahkan sudah
ditemukan pada bayi yang berat badan lahirnya rendah.
Pada bayi baru lahir dengan hidrasi yang adekuat membran mukosa mulutnya lembab dan
berwarna merah muda. Umumnya,membran mukosa tidak pucat atau sianosis.Pengeluran
air liur sering terlihat selama beberapa jam pertama setelah kelahiran. Kista retensi yakni
derah kecil berwarna putih(mutiara epstein),dapat ditemukan pada tepi gusi dan pada
pertemuan antara palatum durum dan oalatum mole.

Suatu mekanisme khusus,yang terdapat pada bayi baru lahir normal dengan lebih dari 1500
gram,mengkoordinasi reflek pernapasan,reflek mengisap dan reflek menelan yang
diperlukan pada pemberian makan pada bayi.
Kapasitas lambung bervariasi dari 30-90 ml tergantung pada ukuran bayi. Regurgitasi dapat
terlihat pada periode neonatal . Spinter kardia dan kontrol saraf lambung masih belum
matang.

Pencernaan
Keasaman lambung bayi baru lahir umumnya sama dengan keasaman lambung orang
dewasa,tetapi akan menurun dalam satu minggu dan tetap rendah selama 2 sampai 3
bulan. Penurunan keasaman lambung ini dapat menimbulkan “kolik.”bayi yang mengalami
kolik tidak dapat tidur, menangis dan tampak distres diantara waktu makan. Gejala
seperti ini akan hilang setelah bayi berusia 3 bulan.. pencernaan dan absorbsi nutrien
lebih lanjut berlangsung di usus halus.
Kemampuan bayi baru lahir untuk mencerna karbohidrat lemak dan protein diatur oleh
beberapa enzim tertentu. Kebanyakan enzim ini telah berfungsi saat bayi lahir, kecuali
enzim amilse yanag diproduksi oleh kelenjar saliva setelah 3 bulan dan oleh pankreas pada
usia sekitar 6 bulan. Enzim ini diperlukan untuk mengubah karbohidrat menjadi maltosa.
Pengecualian lain adalah enzim lipase.

4. Sistem Ginjal
Pada bulan ke empat kehidupan janin,ginjal mulai terbentuk.Di dalam rahim, urin sudah
terbentuk dan di ekskresi ke dalam cairan amniotik.
Biasanya sejumlah kecil urin terdapat dalam kandung kemih bayi saat lahir, tetapi bayi
baru lahir mungkin tidak mengeluarkan urin selama 12 jam sampai 24 jam. Berkemih
sering terjadi setelah periode ini.berkemih 6-10 kali dengan warna urin
pucat,menunjukkan masukan cairan yang cukup. Umumnya,bayi cukup bulan
mengeluarkan urin 15-50 ml/kg/hari.

5. Sistem Hepatika
Hati dan kandungan empedu di bentuk pada minggu ke empat kehamilan. Pada bayi baru
lahir, hati dapat di palpasi sekitar satu cm di bawah batas kanan iga karena hati besar dan
menempati sekitar 40% rongga abdomen.

Penyimpanan besi
Hati janin (yang berfungsi sebagai produksi hemoglobin setelah lahir) mulai menyimpan
besi sejak dalam kandungan.apabila ibu mendapat cukup asupan besi selama hamil, bayi
akan memiliki simpanan besi yang dapat bertahan sampai bulan ke 5 kehidupannya diluar
rahim

6. Sistem Imun
Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal kehidupan janin.namun, sel-
sel ini tidak aktif selama beberapa bulan.selama tiga bulan pertama kehidupan, bayi
dilindungi oleh kekebalan pasif yang diterima dari ibu. Barier alami, seperti keasaman
lambung atau produks pepsin dan tripsin, yang tetap mempertahankan kesterilan usus
halus, belum berkembang dengan baik sampai 3 atau 4 minggu (medici,1983).
7. Sistem Integumen
Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir, tetapi masih belum matang.
Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis. Kulit bayi sangat sensitif
dan dapat rusak dengan mudah. Bayi cukup bulan memiliki kulit kemerahan (merah
daging) beberapa jam setelah lahir, setelah itu warna kulit memucat menjadi warna
normal. kulit sering terlihat berbercak,terutama di daerah sekitar ekstemitas.
Bayi baru lahir yang sehat dan cukup bulan tampak gemuk. Lemak subkutan yang
berakumulasi selama trimester terakhir berfungsi menyekat bayi. Keadaan ini mungkin
disebabkan oleh retensi cairan. Edema wajah dan ekimosis (memar) dapat timbul akibat
presentasi muka atau kelahiran dengan forsep.petekie dapat timbul jika derah tersebut
ditekan.

Kaput Suksedaneum
Kaput suksedaneum ialah edema pada kulit kepala,yang ditemukan dini. Tekanan verteks
yang lama pada serviks menyebabkan pembuluh darah setempat mendapat
tekanan,sehingga memperlambat aliran balik vena. Aliran balik vena yang melambat
membuat cairan jaringan di kulit daerah kepala meningkat,sehingga terjadi
pembengkakan. tonjolan edema tersebut akan hilang secara spontan dalam tiga sampai
empat hari.

Kelenjar Lemak dan Kelenjar Keringat


Kelenjar keringat sudah ada saat bayi lahir,tetapi kelenjar ini tidak berespon terhadap
peningkatan suhu tubuh. Terjadi sedikit hiperplasia kelenjar sebasea (lemak) dan sekresi
sebum akibat pengaruh hormon saat hamil. Verniks kaseosa,suatu substansi seperti
keju,merupakan produk kelenjar sebasea. Walaupun kelenjar sebasea sudah terbentuk
dengan baik saat bayi lahir,tetapi kelenjar ini tidak terlalu aktif pada masa kanak-kanak.
Kelenjar-kelenjar ini mulai aktif pada saat produksi androgen meningkat,yakni sesaat
sebelum pubertas.

8. Sistem Reproduksi

Wanita
Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitif. Sel-sel ini mengandung
komplemen lengkap ova yang matur karena tidak terbentuk oogonia lagi setelah bayi
cukup bulan lahir. Korteks ovarium,yang terutama terdiri dari folikel
primordial,membentuk bagian ovarium yang lebih tebal pada bayi baru lahir daripada pada
orang dewasa. Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi lahir sampai dewasa
peningkatan kadar estrogen selama masa hamil,yang diikuti dengan penurunan setelah
bayi lahir,mengakibatkan pengeluaran suatu cairan mukoid atau pengeluaran bercak darah
melalui vagina. Pada bayi baru lahir cukup bulan,labia mayora dan minora menutupi
vestibulum. Pada bayi prematur,klitoris menonjol dan labia mayora kecil dan terbuka
.

Pria

Testis turun kedalam skrotum pada 90% bayi baru lahir laki-laki. Pada usia satu tahun
testis tidak turun berjumlah kurang dari 1%.
Prepusium yang ketat seringkali dijumpai pada bayi baru lahir. Muara uretra dapat
tertutup prepusium dan tidak dapat ditarik ke belakang selama tiga sampai empat tahun.
Sebagai respons terhadap estrogen ibu,ukuran genetalia eksterna bayi baru lahir cukup
bulan meningkat,begitu juga dengan pigmentasinya.

9. Sistem Neuromuskuler
Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat. Pertumbuhan ini
menjadi lebih bertahap selama sisa dekade pertama dan minimal selama masa remaja.
Otak memerlukan glukosa sebagai sumber energi dan suplai oksigen dalam jumlah besar
untuk proses metabolisme yang adekuat. Kebutuhan yang besar ini menandakan
diperlukannya suatu pengkajian cermat tentang kemampuan bayi dalam mempertahankan
kelancaran jalan napas dan juga pengkajian kondisi pernapasan yang membutuhkan
oksigen. Kebutuhan akan glukosa perlu dipantau dengan cermat pada bayi baru lahir yang
mungkin mengalami hipoglikemia.
Aktivitas motorik spontan dapat muncul dalam bentuk tremor sementara dimulut dan
didagu,terutama waktu menangis,dan pada ekstremitas terutama pada lengan dan tangan.
Tremor ini normal. Akan tetapi tremor persisten atau tremor yang mengenai seluruh tubuh
dapat mengenai indikasi kondisi yang patologis.
Kontrol neuromuskuler pada bayi baru lahir,walaupun masih sangat terbatas,dapat
ditemukan. Apabila bayi baru lahir diletakan diatas permukaan yang keras dan wajah
menghadap kebawah,bayi akan memutar kepalanya kesamping untuk mempertahankan
jalan napas.bayi berusaha mengangkat kepalanya supaya tetap sejajar dengan tubuhnya
bila kedua lengan bayi ditarik keatas hingga kepala terangkat.

DAFTAR PUSTAKA

o Bobak, et all ,1996 . KEPERAWATAN MATERNITAS,ed IV : jakarta,


Penerbit Buku Kedokteran EGC

o Latief Abdul,et all ,1985 . Ilmu Kesehatan Anak ,Jakarta ,


info medika jakarta
SISTEM REPRODUKSI "KONSEP DASAR
BAYI BARU LAHIR"

SISTEM REPRODUKSI

“KONSEP DASAR BAYI BARU LAHIR


FISIOLOGIS”

DI SUSUN OLEH :
ALAL FITROH
(1310711087)

SI KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
VETERAN JAKARTA
KONSEP DASAR BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS

A. PENGERTIAN

Bayi baru lahir adalah hasil konsepsi yang baru keluar dari rahim seorang ibu melalui jalan

kelahiran normal atau dengan bantuan alat tertentu sampai usia 1 bulan.

Bayi baru lahir fisiologis adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42 minggu dan berat badan lahir

2500-4000 gram. (Depkes RI, 2007)

B. CIRI-CIRI BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS

Ciri-ciri bayi normal antara lain (Depkes RI) :

1. Dilahirkan pada umur kehamilan antara 37-42 minggu

2. Berat lahir 2500-4000 gram

3. Panjang badan waktu lahir 48 – 51 cm

4. Warna kulit merah muda / pink

5. Kulit diliputi verniks caseosa

6. Lanugo tidak severapa lagi hanya pada bahu dan punggung

7. Pada dahi jelas perbatasan tumbuhnya rambut kepala

8. Bayi kelihatan montok karena jaringan lemak di bawah kulit cukup

9. Tulang rawan pada hidung dan telinga sudah tumbuh jelas

10. Kuku telah melewati ujung jari

11. Menangis kuat

12. Refleks menghisap baik

13. Pernapasan berlangsung baik (40-60 kali/menit)

14. Pergerakan anggota badan baik


15. Alat pencernaan mulai berfungsi sejak dalam kandungan ditandai dengan adanya / keluarnya

mekonium dalam 24 jam pertama

16. Alat perkemihan sudah berfungsi sejak dalam kandungan ditandai dengan keluarnya air kemih

setelah 6 jam pertama kehidupan

17. Pada bayi laki-laki testis sudah turun ke dalam skrotum dan pada bayi perempuan labia minora

ditutupi oleh labia mayora

18. Anus berlubang

C. PENILAIAN AWAL BAYI BARU LAHIR

Segera setelah bayi lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut

bawah ibu. Segera lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan:

o Apakah bayi cukup bulan ?

o Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium ?

o Apakah bayi menangis atau bernapas ?

o Apakah tonus otot bayi baik ?

Jika bayi cukup bulan dan atau air ketuban bercampur mekonium dan atau tidak menangis atau

tidak bernafas atau megap-megap dan atau tonus otot tidak baik lakukan langkah resusitasi. (APN.

2008)

Keadaan umum bayi dinilai setelah lahir dengan penggunaan nilai APGAR. Penilaian ini perlu

untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak. Yang dinilai ada 5 poin

o Appearance (warna kulit)

o Pulse rate (frekuensi nadi)

o Grimace (reaksi rangsangan)

o Activity (tonus otot)

o Respiratory (pernapasan).
Setiap penilaian deberi nilai 0, 1, dan 2. Bila dalam 2 menit nilai apgar tidak mencapai 7, maka

harus dilakukan tindakan resusitasi lebih lanjut, oleh karena bila bayi mendertita asfiksia lebih

dari 5 menit, kemungkinan terjadinya gejala-gejala neurologik lanjutan di kemudian hari lebih

besar. berhubungan dengan itu penilaian apgar selain pada umur 1 menit, juga pada umur 5

menit.

Tabel Nilai APGAR

Skor
Tanda
0 1 2

Sekuruh tubuh
Appearance Pucat Badan merah, ektrimitas biru
kemerahan

Pulse Tidak ada < 100 x/menit > 100 x/menit

Grimace Tidak ada Sedikit gerakan mimik/ menyeringai Batuk/ bersin

Activity Tidak ada Ekstrimitas dalam sedikit fleksi Gerakan aktif

Respiration Tidak ada Lemah/ tidak teratur Baik/ menangis

Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui apakah bayi tersebut normal atau asfiksia.

 Nilai Apgar 7-10 : Bayi normal

 Nilai Apgar 4-6 : asfiksia sedang ringan

 Nilai Apgar 0-3 : asfiksia berat

(Sarwono Prawirohardjo, 2009)

D. PENILAIAN BAYI UNTUK TANDA-TANDA KEGAWATAN


Semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda-tanda kegawatan yang menunjukkan suatu

penyakit.

Bayi baru lahir sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa tanda-tanda berikut:

a. Sulit minum

b. Sianosis sentral (lidah biru)

c. Perut kembung

d. Periode apneu

e. Kejang/periode kejang-kejang kecil

f. Merintih

g. Perdarahan

h. Sangat kuning

i. Berat badan lahir < 1500 gram

Penilaian Score Down

PENILAIAN 0 1 2

Frekuensi nafas <60x/menit 60-80x/menit >80x/menit

cyanosis Tidak ada Hilang dengan pemberian Tidak Hilang dengan

O2 pemberian O2

Retraksi Tidak ada Ringan Berat

Air Entry Tidak ada penurunan Penurunan ringan Penurunan berat

Merintih Tidak ada Dapat didengar dengan Terdengar tanpa

stetoscope stetoscope

Keterangan:
Skor< 4 : tidak ada gawat nafas

Skor 4-7 : gawat nafas

Skor> 7 : ancaman gagal nafas

E. PERUBAHAN-PERUBAHAN PADA BAYI BARU LAHIR

Sebagai akibat perubahan lingkungan dalam uterus ke luar uterus, maka bayi menerima

rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanik dan termik seperti:

a. Perubahan Metabolisme Karbohidrat

Pada waktu 2 jam setelah lahir, akan terjadi penurunan kadar gula dalam darah tali pusat yang

semula 65 mg/100 ml, bila terjadi gangguan perubahan glukosa menjadi glikogen sehingga tidak

dapat memenuhi kebutuhan neonatus maka kemungkinan besar bayi akan mengalami rangsangan

hipoglekemia.

b. Perubahan Suhu Tubuh

Sesaat sesudah bayi baru lahir, ia akan berada di tempat yang suhunya lebih rendah dari dalam

kandungan dan dalam keadaan basah. Pada suhu lingkungan yang tidak baik akan menyebabkan

bayi menderita hipertermi, hipotermi, atau trauma dingin (cold injury). Kehilangan panas dapat

dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan seeprti mengeringkan, membungkus badan dan

kepala, meletakkannya di tempat hangat seperti di pangkuan ibu, dalam inkubator, atau di bawah

sorotan lampu.

c. Perubahan Sistem Pernafasan

Pernafasan pertama bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan ini

terjadi akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa

rangsangan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam
mengakibatkan bahwa paru-paru, yang pada janin cukup bulan mengandung 80 sampai dengan

100 ml cairan, kehilangan 1/3 dari cairan ini. setelah lahir cairan yang hilang diganti dengan udara.

Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali ke bentuk semua.

d. Perubahan Sistem Sirkulasi

Dengan berkembangnya paru-paru tekanan oksigen di alveoli meningkat. Sebaliknya tekanan

karbondioksida menurun. Hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh

darah paru, sehingga aliran darah ke alat tersebut meningkat. Ini meyebabkan darah dari arteri

pulomonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosus menutup. Dengan menciutnya arteri dan

vena umbilikalis dan kemudian dipotongnya tali pusat, aliran darah dari plasenta melalui vena

cava inferior dari foramen ovale ke atrium kiri terhenti. Dengan diterimanya darah oleh atrium kiri

dari paru-paru, tekanan di atrium kiri menjadi lebih tinggi daripada tekanan di atrium kanan. Ini

menyebabkan foramen ovale menutup. Sirkulasi darah janin pun berubah menjadi sirkulasi yang

hidup di luar tubuh ibu.

(Sarwono Prawirohardjo cetakan kesembulan, 2007)

F. PENATALAKSANAAN AWAL PADA BAYI BARU LAHIR

1. Membersihkan jalan nafas

Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Bila bayi baru lahir segera menangis

spontan atau segera menangis, hindari melakukan penghisapan secara rutin pada jalan nafasnya

karena penghisapan pada jalan nafas yang tidak dilakukan secara hati-hati dapat menyebabkan

perlukaan pada jalan nafas hingga terjadi infeksi, serta dapat merangsang terjadinya gangguan

denyut jantung dan spasme (gerakan involuter dan tidak terkendali pada otot, gerakan tersebut

diluar kontrol otak). Pada laring dan tenggorokan bayi.

Bayi normal akan segera menangis segera setelah lahir. Apabila tidak langsung menangis maka

lakukan:
a. Letakkan bayi pada posisi telentang di tempat yang keras dan hangat.

b. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.

c. Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kassa

steril.

d. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2 – 3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan

kasar agar bayi segera menangis.

2. Memotong dan merawat tali pusat

Setelah bayi lahir, tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat

dengan pengikat steril. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan perawatan terbuka tanpa

dibubuhi apapun.

3. Mempertahankan suhu tubuh bayi

Cegah terjadinya kehilangan panas dengan mengeringkan tubuh bayi dengan handuk atau kain

bersih kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering, dan bersih.

Tutupi bagian kepala bayi dengan topi dan anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya

serta jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir karena bayi baru lahir mudah

kehilangan panas tubuhnya.

4. Pemberian vitamin K

Kejadian perdarahan karena defisiensi Vitamin K pada bayi baru lahir dilaporkan cukup tinggi,

sekitar 0,25 – 0,5 %. Untuk mencegah terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir
normal dan cukup bulan perlu diberi Vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi

resiko tinggi diberi Vitamin K perenteral dengan dosis 0,5-1 mg IM.

5. Upaya profilaksis terhadap gangguan mata.

Pemberian obat tetes mata Eritromisin 0,5% atau Tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan

penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual). (Abdul Bari Saifuddin, 2009)

Tetes mata / salep antibiotik tersebut harus diberikan dalam waktu 1 jam pertama setelah

kelahiran. Upaya profilaksis untuk gangguan pada mata tidak akan efektif jika tidak diberikan

dalam 1 jam pertama kehidupannya.

Teknik pemberian profilaksis mata :

a. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir.

b. Jelaskan pada keluarganya tentang apa yang anda lakukan, yakinkan mereka bahwa obat

tersebut akan sangat menguntungkan bayi.

c. Berikan salep / teki mata dalam satu garis lurus, mulai dari bagian mata yang paling dekat

dengan hidung bayi menuju ke bagian luar mata.

d. Jangan biarkan ujung mulut tabung / salep atau tabung penetes menyentuh mata bayi.

e. Jangan menghapus salep / tetes mata bayi dan minta agar keluarganya tidak menghapus obat

tersebut.

6. Identifikasi

Apabila bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinannya mungkin lebih dari satu persalinan,

maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus

tetap di tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.


Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan pasien, di kamar

bersalin, dan di ruang rawat bayi. Alat yang digunakan hendaknya kebal air, dengan tepi yang

halus dan tidak mudah melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas. Pada alat identifikasi

harus tercantum: nama (bayi, nyonya), tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama

lengkap ibu. Di setiap tempat tidur harus di beri tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir

dan nomor identifikasi.

Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus dicetak di catatan yang tidak mudah hilang. Sidik

telapak kaki bayi harus dibuat oleh personil yang berpengalaman menerapkan car ini, dan dibuat

dalam catatan bayi. Bantalan sidik jari harus disimpan dalam ruangan bersuhu kamar. Ukurlah

berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut dan catat dalam rekam medik.

7. Mulai Pemberian ASI

Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir. Jika mungkin,

anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba untuk menyusukan bayinya segera setlah tali pusat

diklem dan dipotong berdukungan dan bantu ibu untuk menyusukan bayinya.

Keuntungan peberian ASI:

a. Merangsang produksi air susu ibu

b. Memperkuat reflek menghisab bayi

c. Mempromosikan keterikatan antara ibu dan bayinya

d. Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui kolostrum

e. Merangsang kontraksi uterus

Posisi untuk menyusui :


a. Ibu memeluk kepala dan tubuh bayi secara urus agar muka bayi menghadapi ke payudara ibu

dengan hidung di depan puting susu ibu.

b. Perut bayi menghadap ke perut ibu dan ibu harus menopang seluruh tubuh bayi tidak hanya

leher dan bahunya.

c. Dekatkan bayi ke payudara jika ia tampak siap untuk menghisap puting susu.

d. Membantu bayinya untuk menempelkan mulut bayi pada puting susu di payudaranya.

1) Dagu menyentuh payudara ibu.

2) Mulut terbuka lebar.

3) Mulut bayi menutupi sampai ke areola.

4) Bibir bayi bagian bawah melengkung keluar.

5) Bayi menghisap dengan perlahan dan dalam, serta kadang-kadang berhenti.

G. PEMANTAUAN PADA BAYI BARU LAHIR

Tujuan pemantauan pada bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau

tidak dan identifikasi masalah bayi barur lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan epnolong

persalinan setra tindak lanjut petugas kesehatan.

1. Dua jam pertama sesudah lahir

Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah lahir meliputi:

a. Kemampuan menghisap lemah atau kuat

b. Bayi tampak aktif dan lunglai

c. Bayi kemerahan atau biru


2. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya, penolong persalinan melakukan

pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak

lanjut, meliputi:

a. Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang bulan

b. Gangguan pernapasan

c. Hipotermi

d. Infeksi

e. Cacat bawaan dan trauma lahir

Yang perlu dipantau pada bayi baru lahir: ( Abdul Bari Saifuddin, 2009)

a. Kesadaran dan reaksi terhadap sekeliling

b. Keaktifan

c. Simetri

d. Kepala

e. Muka/wajah

f. Mata

g. Mulut

h. Leher, dada, abdomen

i. Punggung

j. Bahu, tangan, sendi, tungkai

k. Kuku dan kulit

l. Kelancaran menghisap dan pertanyaan

m. Tinja dan kemih

n. Refleks

o. Berat badan
DAFTAR PUSTAKA

 Depkes RI. 2007. Buku Acuan & Panduan Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi Menyusu Dini.

JNPK-KR: Jakarta

 Depkes RI. 2008. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. JNPK-KR: Jakarta

 Saifuddin, A. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPK-KR:

Jakarta.

 Prawirohardjo, s . 2009. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBP-SP

Adaptasi sistem reproduksi dan seksual.

Tanda-tanda adaptasi fisik seksual-reproduksi pada neonatus bisa tampak beberapa hari setelah lahir.
Uterus pada neonatus perempuan, yang sudah dirangsang oleh estrogen ibu selama hamil, bisa
mengeluarkan sedikit darah mukosa vagina (pseudomenstruasi) beberapa hari setelah lahir. Bayi baru lahir
baik wanita maupun laki-laki bisa menunjukkan pembesaran mammae sementara, sebagai akibat
rangsangan estrogen. Cairan, kadang-kadang disebut susu, bisa dikeluarkan dari putting susu neonatus.
Testis secara normal turun ke dalam kantong skrotum pada 90% neonatus laki yang fullterm pada saat
lahir.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada saat bayi, lahir terdapat berbagai macam perubahan fisiologis atau adaptasi fisiologis yang
bertujuan untuk memfasilitasi peyesuaian pada kehidupan ekstrauterin (diluar uterus). Pada masa
transisi dari intrauterin (dalam uterus) ke ekstrauterin (luar uterus) tersebut perlu pernafasan
spontan dan perubahan kardiovaskuler berserta perunbahan lain menjadi organ degan fungsi
independen (tidak lagi tergantung pada ibunya). Untuk itu, diperlukan pengetahuan dan
keterampilan yang baik untuk dapat menangani bayi yang mengalami kesulitan masa transisi ini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja perubahan fisiologis yang terjadi pada bayi baru lahir?

2. Bagaimana perubahan fisiologis sistem pernafasan dan peredaran darah pada bayi baru lahir

3. Bagaimana perubahan sistem fisiologis pengaturan tubuh, metabolisme glukosa, gastrointestinal,


dan kekebalan tubuh?

4. Bagaimana perubahan-perubahan fisiologis pada sistem pencernaan, ginjal dan sistem persyarafan?

C. Tujuan

a. Mahasiswa mampu menjelakan perubahan fisiologis pada bayi baru lahir

b. Mahasiswa dapat menjelakan perubahan pada sistem pernafasan, peredaran darah

c. Mampu menjelaskan sistem pengaturan tubuh, metabolisme glukosa, gastrointestinal, dan


kekebalan tubuh

d. Mahasiswa mampu menjelaskan perubahan fisiologis pada sistem pencernaan, ginjal dan sistem
persyarafan
BAB II

PEMBAHASAN

PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR

Perubahan fisiologis pada bayi baru lahir merupakan suatu proses adaptasi dengan lingkungan luar
atau di kenal dengan kehidupan ekstra uteri. Sebelum nya bayi cukup hanya beradaptasi dengan
kehidupan intra uteri. Perubahan fisiologis bayi baru lahir, diantaranya sebagai berikut :

A. Sistem Pernafasan

Perubahan sisitem ini di awali dari perkembangan organ paru itu sendiri dengan perkembangan
struktur bronkus, bronkiolus, serta alveolus yang terbentuk dalam proses kehamilan sehingga dapat
menentukan proses pematangan dalam sistem pernapasan. Proses perubahan bayi baru lahir adalah
dalam hal pernapasan yang dapat di pengaruhi oleh keadaan hipoksia pada akhir persalinan dan
rangsangan fisik ( lingkungan) yang merangsang pusat pernapasan medula oblongata di otak. Selain
itu juga jadi tekanan rongga dada karena kompresi paru selama persalinan,sehingga merangsang
masuknya udara ke dalam paru,kemudian timbulnya pernapasan dapat terjadi akibat interaksi
sistem pernapasan itu sendiri dengan sisitem kardiovaskuler dan susunan saraf pusat. Selain itu
adanya surfaktan dan upaya resfirasi dalam pernapasan dapat berfungsi untuk mengeluarkan cairan
dalam paru serta mengembangkan jaringan alveolus paru agar dapat berfungsi. Surfaktan tersebut
dapat mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu menstabilkan diding alveolus untuk
mencegah kolaps ( Betz dan Sowden, 2002 ).

a. Perkembangan paru-paru

Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang kemudian bercabang
kembali membentuk struktur percabangan bronkus, proses ini terus berlanjut sampai sekitar usia
8tahun, sampain jumlah bronkus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin
memperlihatkan adanya gerakan nafas selama trimester dua dan trimester tiga. Paru-paru yang
tidak matang akan mengurangi kelangsungan hudip BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini di sebabkan
karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidak matangan sistem kaviler, paru-paru yang tidak
tercukupinya jumlah surfaktan.

b. Awal adanya nafas

Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi adalah :


1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat
pernafasan di otak.

2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan, yang
merangsang masuknya udara, ke dalam paru-paru secara mekanis.

Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler, dan susunan saraf pusat menimbulkan
pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang di perlukan untuk kehidupan.

3. Penimbunan karbondioksida ( CO2)

Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang pernafasan.
Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan nafas janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan
menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.

4. Perubahan suhu

Keadaan dingin akan merangsang pernafasan.

c. Surfaktan dan upaya resfirasi untuk bernafas

Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :

1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru

2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali

Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan ( lemak lesitin/sfingomielin) yang cukup dan
aliran darah ke paru-paru. Produksi surfaktan di mulai pada 20 minggu kehamilan, yang jumlahnya
meningkat sampai paru-paru matang ( sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah
untuk mengurangi tekan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus
sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasaan.

Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang
menyebabkan sulit bernapas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak
oksigen dan glukosa. Bebagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi uyang sebelumnya
sudah terganggu.

d. Dari cairan menuju udara

Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat beyi melewati jalan lahir selama
persalinan, sekitar sepertiga cairan ini di peras keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang di lahirkan
secara SC kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah
dalam jangka waktu yang lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan nafas yang pertama udara
memenuhi ruangan trakhea dan brokus BBL. Sisa cairan di paru-paru di keluarkan dari paru-paru dan
di serap oleh pembuluh limpe dan darah.

e. Fungsi sistem pernafasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler

Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan
kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami
vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima
oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan
memperburuk hipoksia.

Peningkatan darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan akan
membantu menghilangkan cairan paru-paru dan akan merangsang perubahan sirkulasi janin
menjadi sirkulasi luar rahim.

B. Sistem Peredaran Darah

Pada sistem peredaran darah, terjadi perubahan fisiologis pada bayi baru lahir, yaitu setelah bayi itu
lahir akan terjadi proses pengantaran oksigen ke seluruh jaringan tubuh, maka terdapat
perubahan,yaitu penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan duktus ateriosus
anatara arteri paru dan aorta. Perubahan ini terjadi akibat adanya tekanan pada seluruh sistem
pembuluh darah,dimana oksigen dapat menyebabkan sistem pembuluh darah mengubah tenaga
dengan cara meningkatkan atau mengurangi resistensi. Perubahan tekanan sistem pembuluh darah
dapat terjadi saat tali pusat di potong, resistensinya akan meningkat dan tekanan atrium kanan akan
menurun karena suplai darah ke atrium kanan berkurang yang dapat menyebabkan volume dan
tekanan atrium kanan juga menurun. Proses tersebut membantu darah mengalami proses
oksigenasi ualng, pada saat terjadi pernafasan pertama dapat menurunkan resistensi dan
meningkatkan atrium kanan. Kemudian oksigen pada pernapasan pertama dapat menimbulkan
relaksi dan terbukanya sistem pembuluh darah paru yang dapat menurunkan resistensi pembuluh
darah paru. Terjadinya peningkatan sirkulasi paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan
tekanan pada atrium kanan, dengan meningkatkan tekanan pada atrium kanan akan terjadi
penurunan atrium kiri, foramen ovale akan menutup, atau dengan pernafasan kadar oksigen dalam
darah akan meningkat yang dapat menyebabkan duktus arteriosus mengalami kontriksi dan
menutup. Perubahan lain adalah menutupnya vena umbilikus, dutus venosus, dan arteri hipogastrika
dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah tali pusat di klem dan
penutupan jaringan fibrosa membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan ( Betz dan Sowden, 2002 ).

Perbedaan sirkulasi darah fetus dan bayi :

a. Sirkulasi darah fetus

1. Struktur tambahan pada sirkulasi fetus

a) Vena umbilikalis : membawa darah yang mengalami deoksigenasi darin plasenta ke permukaan
dalam hepar.

b) Ductus venosus : meninggalkan vena umbilikalis sebelum mencapai hepar dan mengalihkan
sebagian besar darah baru yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.

c) Foramen ovale : merupakan lubang yang memungkinkan darah lewat atrium dextra ke dalam
vebtriculue sinistra.

d) Ductus arteriosus: merupakan bypass yang terbentang dari ventriculuc dexter dan aorta desendens

e) Arteri hypogastrika: dua pembuluh darah yang mengembalikan darah dari vetus ke plasenta. Pada
fenikulus umbilicalis, arteri ini di kenal sebagai arteri umbilikalis. Di dalam tubuh fetus arteri tersebut
di kenal sebagai arteri hypogastika.

2. Sistem sirkulasi fetus

a) Vena umbilikalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke permukaan dalam hepar.
Vena hepatika meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior.

b) Ductus venosus : adalah cabang-cabang dari vena umbilikalis dan mengalirkan sejumlah besar darah
yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.

c) Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dan ekstremitas inferior dan badan
fetus, menerima darah dari vena hepatica dan ductus venosus dan membawanya ke atrium
dextrum.

d) Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang mengalami oksigenasi dalam
ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sistra, dari sini darah melewati valvula mitralis ke
ventriculuc sinister dan kemudian melalui aorta asuk ke dalam cabang ascendensnya untuk
memasok darah bagi kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian hepar jantung dan
cerebelum menerima darah baru yang mengalami oksigenasi.
e) Vena cava superior : mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas superior ke atrium dextrum.
Daerah ini bersama sisa cairan yang di bawa vena cava inferior melalui valvula tricuspidalis masuk ke
dalam ventriculus.

f) Arteria pulmonaris: mengalirkan darah campuran ke paru-paru yang non fungsional, yang hanya
memerlukan nutrien sedikit .

g) Ductus arteriosus: mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventrikulus dexter ke dalam aorta
desenden untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas interior.

h) Arteria hipogastrika: merupkan lanjutan dari arteria iliaca interna, membawa darah kembali ke
plasenta dengan mengandung lebih banyak oksigen dan nutrien yang di pasok dari peredaran darah
maternal.

b. Perubahan pada saat lahir

1. Penghentian pasokan darah dari plasenta


2. Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru

3. Penutupan poramen oval

4. Fibrosis

a. Vena umbilicalis

b. Ductus venosus

c. Arteriae hypogastrica

d. Ductrus arteriosus

C. Sistem Pengaturan tubuh, Metabolisme Glukosa, Gastrointestinal, dan Kekebalan Tubuh

1. Sistem Pengaturan Tubuh

Ketika bayi lahir dan langsung berhubungan dunia luar ( lingkungan ) yang lebih dingin, maka dapat
menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit yang dapat mendinginkan darah bayi.pada saat
lingkungan dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa melalui mekanisme menggigil yang merupakan
cara untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya serta hasil penggunaan lemak coklat untuk
produksi panas. Adanya timbunan lemak tersebut menyebabkan panas tubuh meningkat, sehingga
terjadilah proses adaptasi. Dalam pembakaran lemak, agar menjadi panas, bayi menggunakan kadar
gluksa. Selanjutnya cadangan lemak tersebut akan habis dengan adanya stres dingin dan bila bayi
kedinginan akan mengalami proses hipoglikemia, hipoksia, dan asidosis.

2. Metabolisme Glukosa

Setelah tali pusat di ikat atau di klem, maka kadar glukosa akan di pertahankan oleh si bayi itu
sendiri serta mengalami penurunan waktu yang cepat 1-2 jam. Guna mengetahui atau memperbaiki
kondisi tersebut, maka di lakukan dengan menggunakan air susu ibu ( ASI), penggunaan cadangan
glikogen ( glikogenolisis), dan pembuataan glukosa dari sumber lain khususnya lemak
(glukoneogenesis). Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen dalam hati.

Koreksi penurunan kadar gula darah dapat di lakukan dengan 3 cara :

a. Melalui penggunaan ASI

b. Melalui penggunaan cadangan glikogen

c. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.

3. Sistem Gastrointestinal

Proses menghisap dan menelan sebelum lahir sudah di mulai. Refleks gumoh dan batuk sudah
terbentuk ketika bayi lahir.kemampuan menelan dan mencerna makananmasih terbatas, mengikat
hubungan esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang dapat menyebabkan gumoh
dan kapasitasnya sangat terbatas kurang lebih 30cc.

4. Sistem Kekebalan Tubuh

Perkembangan sistem imunitas pada bayi juga mengalami proses penyesuaian dengan
perlindugan oleh kulit membran mukosa, fungsi saluran nafas, pembentukan koloni mikroba oleh
kulit dan usus, serta perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung. Perkembangan kekebalan
alami pada tingkat sel oleh sel darah akan membuat terjadinya sistem kekebalan melalui pemberian
kolostrum dan lambat laun akan terjadi kekebalan sejalan dengan perkembangan usia ( Jane Ball,
1999).
Bayi dilahirkan dengan beberapa kemampuan melawan infeksi. Lini pertama dalam pertahanan
adalah: kulit dan membran mukosa yang melindungi dari invasi mikro-organisme. Lini kedua adalah
elemen sel pada sistem imunologi yang menghasilkan jenis-jenis sel yang mampu menyerang
fatogen seperti neurofil, monosit, ensinofil. Lini ke tiga adalah susunan spesifik dari antibodi ke
antigen, proses ini membutuhkan pemaparan dari agen asing sehingga anti body dapat di hasilkan.
Bayi umumnya tidak dapat mengahsilkan Ig ( ImunoGlobin) sendiri samapai usia 2 bulan. Bayi
menerima dari imun ibu yang berasal dari sirkulasi plasenta dan ASI. Bila ibu memiliki anti body
terhadap penyakit menular tertentu, anti body tersebut mengalir ke bayi melalui plasenta. Diantara
anti bodi tersebut mungkin adalah anti body terhadap gondok,difteri, dan campak. Imunitas pasif ini
berakhir dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan.

D. Sistem Pencernaan

Kemampuan bayi untuk mencerna, menyerap dan metabolisme bahan makanan sudah adekuat
tetapi terbatas pada fungsi-fungsi tertentu. Terdapat enzim untuk mengkatalisasi protein dan
karbohidrat sederhana ( Monosakarida dan Disakarida ) tetapi untuk karbohidrat kompleks yang
belum terdapat.

1. Mulut

Bibir bayi baru lahir harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris. Lidah tidak boleh
memanjang atau menjulur diantara bibir. Jaringan penunjang melekatkan ke sisi bawah lidah. Atap
dari mulut (langit-langit keras) harus tertutup, dan harus terdapat uvula (langit-langit lunak).
Kadang- kadang terdapat tonjolan putih kecil yang sepanjang langit-langit keras, yang di sebut “
Epsteins Pearls “, tempat menyatunya bagian langit-langit keras. Tonjolan tersebut akan hilang
sendirinya. Beberapa kelenjar saliva berfungsi pada saat lahir, kebanyakan belum mensekresi saliva
samapi dengan umur 2-3 bulan.

2. Lambung

Pada saat lahir, kapasitas lahir antara 30-60 ml dan meningkat dengan cepat sehingga pada hari ke
tiga dan keempat, kapasitanya mencapai 90ml. Bayi membutuhkan makan yang jumlahnya sedikit
tapi frekuensinya sering. Lambung bayi akan kosong dalam waktu 2-4 jam. Bayi di berikan susu
formula dari botol atau dengan ASI payu dara ibunya. Pada bayi yang di beri ASI, karena di berikan
ASI, maka bayi akan menghisap puting atau udara. Hal ini akan menimbulkan rasa kenyang yang
palsu karena lambung penuh. Maka harus di sendawakan sehingga bayi akan minum susu elbih
banyak.

3. Usus

Usus pada bayi jika di bandingkan dengan panjang tubuh bayi terlihat sangat panjang. Feses pertama
bayi adalah hitam kehijauan, tidak berbau, substansi yang kental/lengket yang di sebut mekonium.
Yang biasanya keluar dalam 24 jam pertama. Feses ini mengandung sejumlah cairan amnion, vernix,
sekresi saluran pencernaan, empedu, lanugo, dan zat sisa dari jaringan tubuh. Feses transisi yang
berwarna hijau kecoklatan keluar selama 2-3 hari. Feses pada bayi yang menyusu pada hari ke 4
adalah hijau kekuningan/kuning emas, berair atau encer, dan bereaksi terhadap asam. Feses dari
bayi yang menyusu formula, biasanyau berwarna kuning terang/kuning pucat, berbau, berbentuk
garing agak keras netral samapi sedikit alkali. Normalnya defekasi pertama dalam waktu 24 jam.

E. Sistem Ginjal dan Keseimbangan Cairan

Pengeluaran urine pada janin terjadi pada bulan ke empat. Sementara itu, pada saat lahir fungsi
ginjal bayi sebanding dengan 30% sampai 50% dari kapasitas dewasa dan belum cukup matur untuk
memekatkan urin. Artinya, pada semua bayi semua struktur ginjal sudah ada tetapi kemampuan
ginjal untuk mengosentrasikan urine dan mengatur kondisi cairan setra fluktuasi elektrolit belum
maksimal. Namun demikian, urin terkumpul dalam kandung kemih bayi biasanya dalam waktu 24
jam pertama kelahirannya. Volume pengeluaran urine total per 24 jam pada bayi baru lahir sampai
dengan akhir minggu pertama adalah sekita 200-300 ml, dengan frekunsi 2-6 kali hingga 20 kali/hari.
Penting untuk mencatat saat berkemih pertama kali bila terjadi anuria harus dilaporkan, karena hal
ini mungin menandakan anomali kongenital dari sistem perkemihan. Berat badan bayi biasanya
turun 5%-15% pada hari ke empat sampai ke lima. Hal ini salah satu peningkatan buang air besar,
pemasukan kurang dan metabolisme meningkat. Setelah hari kelima berat badab bayi biasanya
meningkat kembali.

Mengenai keseimbangan cairan dan elektrolit, terjadi pada volume total pada tubuh, volume
cairan ekstra sel pada masa transisi janin ke fase pasca lahir. Pada masa janin, cairan ekstraseluler
lebih banyak daripada cairan intraseluler. Namun, hal ini segera berganti pada pasca natal. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh karena pertumbuhan yang membutuhakan cairan ekstraseluler.

F. Sistem Adaptasi Perubahan Kulit

Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk pada saat lahir, tetapi masih belum matang . epidermis
dan Dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis. Verniks caseosa juga melapisi epidermis dan
berfungsi sebagai lapisan pelindung. Verniks caseosa berbentuk seperti keju yang di sekresi oleh
kelenjar sebasea dan sel-sel epitel. Pada saat lahir beberapa bayi di lapisi oleh verniks caseosa yang
tebal, sementara yang lainnya hanya tipis saja pada tubuhnya. Hilangnya pelindungnya yaitu verniks
caseosa meningkatkan deskumasi kulit ( pengelupasan ), verniks biasanya menghilang dalam 2-3
hari. Pada bayi baru lahir seringkali terdapat bintik putih khas terlihat di hidung, dahi dan pipi bayi
yang di sebut milia. Bintik ini menyumbat kelenjar sebasea yang belum berfungsi. Setelah sekitar 2
minggu, ketika kelenjar sebasea mulai bersekresi secara bertahap tersapu dan menghilang.

Rambut halus atau lanugo dapat terlihat pada wajah, bahu, dan punggung, dan biasanya
cenderung menghilang selama minggu pertama kehidupan. Pelepasan kulit ( deskuamasi ) secara
normal terjadi selama 2-4 minggu pertama kehidupan. Mungkin terlihat eritema toksikum ( ruam
kemerahan ) pada saat lahir, yang bertahan sampai beberapa hari. Ruam ini tidak menular dan
kebanyakan mengenai bayi yang sehat. Terdapat berbagai tanda lahir ( nevi ) yang bersifat
sementara ( biasanya di sebabkan pada saat lahir) maupun permanen ( biasanya karena kelainan
struktur pikmen, pembuluh darah, rambut atau jaringan lainnya).

Pada kulit dan sklera mata bayi mungkin di temukan warna kekuningan yang di sebut ikteri. Ikteri
di sebabkan karena billirubin bebas yang berlebihan dalam darah dan jaringan, sebagai akibatnya
pada sekitar hari ek dua atau ke tiga, terjadi hampir 60% hari ke 7 biasanyamenghilang. Ikteri ini di
sebabkan ikterik fisiologis atau ikterik neonatorum.

G. Sistem Persyarafan

Sistem persyarapan bayi cukup berkembang untuk bertahan hidup tetapi belum terintegrasi secara
sempurna. Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat di
prediksi selama priode bayi samapi awal masa kanak-kanak. Pada akhir tahun pertama,
pertumbuhan sereblum yang di mulai pada usia kehamilan pada sekitar 30 minggu, berakhir. Hal
inilah yang mungkin jadi penyebab mengapa otak rentan terhadap trauma nutrisi dan trauma lain
selama masa bayi. Fungsi tubuh dan respon-respon yang di berikan sebagian besar di lakukan oleh
pusat yang lebih rendah dari otak dan refleks-refleks dalam midula spinalis.
BAB III

PENUTUP

Perubahan sistem fisiologis pada bayi baru lahir dapat terjadi agar bayi dapat menyesuaikan
kehidupannya atau dirinya dari kehidupan intrauterin (dalam rahim) ke kehidupan ekstrauterin
(diluar rahim) sehingga bayi baru lahir dapat hidup sendiri dan tidak tergantung pada ibunya. Untuk
itu bayi memerlukan perubahan fisiologis atau adaptasi fisiologis pada dirinya. Untuk mencapai
perubahan-perubahan tersebut bayi barulahir memerlukan masa transisi. Pada masa transisi dari
kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin, maka di kemukakan sebagai berikut :

1. Kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin

a. Periode transisi mulai dari saat lahir sampai usia 6 jam

b. Menyangkut perubahan fisiologis banyak organ

c. Dimuai intrautein saat bayi siap untuk dilahirkan

d. Jam-jam pertama adalah fase stabilisasi pernafasan, kardiovaskuler dan suhu

e. Perlu pengamatan klinis yang ketat untuk mengenal yang mengalami kesulitan transisi

2. Janin mempersiapkan transisi sepanjang masa kehamilan dengan :

a. Penyimpanan glikogen

b. Pertambahan protein dan mineral

c. Deposisi lemak coklat

d. Kemampuan tergantung usia gestasi dan kualitas plasenta

3. Pada saat lahir


a. Fungsi plasenta/tali pusat selesai

b. Janin menjadi bayi yang bernafas sendiri

Adapun perubahan-perubahan fisiologis pada bayi baru lahir meliputi :

a. Perubahan pada sistem pernafasan, peredaran darah

b. Sistem pengaturan tubuh, metabolisme glukosa, gastrointestinal, dan kekebalan tubuh


c. Sistem pencernaan, ginjal dan sistem persyarafan

DAFTAR PUSTAKA

1. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta; Salemba
Medika
2. Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta; Trans Info Media
3. Rukiyah, Ai Yeyeh& Lia Yulianti. Asuhan neonatus, bayi dan anak balita. 2010. Jakarta; Trans Info
Media

4. Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta; Salemba Medika
Diposting oleh Endriyani Eli di 11/02/2013 06:59:00 AM

Reaksi:
EVI ROLICA SIAHAAN
Selasa, 03 Februari 2015

ADAPTASI BAYI SEGERA SETELAH LAHIR

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Saat-saat dan jam pertama kehidupan di luar rahim merupakan salah satu siklus kehidupan.
Pada saat bayi dilahirkan beralih ketergantungan pada ibu menuju kemandirian fisiologi. Proses
perubahan yang komplek ini dikenal sebagai periode transisi. Bidan harus selalu berupaya untuk
mengetahui periode transisi ini berlangsung sangat cepat. Adaftasi fisiologis BBL adalah sangat
berguna bagi bayi untuk menjaga kelangsungan hidupnya diluar uterus. Artinya nantinya bayi harus
dapat melaksanakan sendiri segala kegiatan untuk mempertahankan kehidupannya. Dalam hal ini
yang sangat perlu diperhatikan adalah bagaimana upaya untuk menjaga agar bayi tetap terjaga
kesehatannya. Yang utama adalah menjaga bayi agar tetap hangat, mampu melakukan pernafasan
dengan spontan dan bayi menyusu sendiri pada ibunya.

B. TUJUAN

Makalah ini dibuat dengan tujuan :

1. Memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan 2

2. Mahasiswa diharapkan dapat mengerti asuhan bayi baru lahir dan mengerti perubahan bayi
baru lahir terhadap keadaan diluar uterus
 Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui gambaran secara umum tentang adaptasi fisiologis fetus dari kehidupan
intrauterine ke kehidupan ekstrauterin.

b. Untuk meningkatkan kemampuan bidan yang ingin menjadi bidan professional untuk berfikir kritis
dan untuk meningkatkan wawasan mahasiswi kebidanan tentang Transisi kehidupan Fetus dari
Intrauterine dan Ektrauterine.

 Tujuan Khusus
a. Untuk memahami apa itu adaptasi fisiologis fetus dari intrauterin ke ekstrauterin.

b.Untuk mengetahui apa saja perubahan fisiologis yang terjadi pada fetus dari intrauterin ke
ekstrauterin.

c. Untuk memahami tentang bayi baru lahir serta gangguan yang mungkin terjadi pada bayi baru
lahir.

C. MANFAAT

a) Mampu memahami apa itu adaptasi fisiologis fetus dari intrauterin ke ekstrauterin.
b) Mampu mengetahui apa saja perubahan fisiologis yang terjadi pada fetus dari intrauterin ke
ekstrauterin.
c) Mampu memahami tentang bayi baru lahir serta gangguan yang mungkin terjadi pada bayi baru
lahir.
BAB II

PEMBAHASAN
1. DEFINISI

Bayi baru lahir adalah bayi segera setelah lahir sampai dua puluh delapan hari. Pelayanan
kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan, melalui pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada ibu hamil. Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap
faktor-faktor yang memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan, seperti gizi yang
rendah, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan buruknya hygiene. Disamping itu perlu
dilakukan pula pembinaan kesehatan prenatal yang memadai dan penanggulangan faktor-faktor
yang menyebabkan kematian perinatal yang meliputi : 1) perdarahan, 2) hipertensi, 3) infeksi, 4)
kelahiran preterm/bayi berat lahir redah, 5) asfiksia dan 6) hipotermia ( Saifuddin, 2006 : 132 ).

A. PERUBAHAN SISTEM PERNAFASAN

Perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna
(dalam kandungan Ibu)yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke
lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu. Bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem
sirkulasi pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar
gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit.

Dua faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi :

1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat
pernafasan di otak.
2. Tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan yang
merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.Interaksi antara sistem pernafasan,
kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat menimbulkan pernafasan yang teratur dan
berkesinambungan.

Rangsangan untuk grk pernafasan :


• Tekanan mekanik dr thoraks
• Pe Pa O2 & ke Pa CO2
• Rangsangan dingin pd daerah muka
Upaya pernafasan pertama seorang bayi, berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru-
paru dan mengembangkan jaringan alveolus dalam paru-paru untuk pertama kali.

B. PERUBAHAN SISTEM PEREDARAN DARAH

Sistem sirkulasi darah terdiri dari jantung, dan serangkaian pembuluh yaitu arteri, kapiler
dan vena. Sistem ini berguna untuk membagikan bahan nutrisi, oksigen dan hormon ke seluruh
bagian tubuh kemudian mengangkut limbah metabolisme sel tubuh.

Terjadi perubahan besar, yaitu :

 Penutupan foramen ovale pd atrium jantung


 Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru2 & aorta
 Denyut jantung BBL rata2 140 dtk/mnt dan volume darah pada BBL berkisar 80 – 110 ml/kg

C. SISTEM METABOLISME DAN PANGATURAN SUHU

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress
dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih
tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pembentukan suhu tanpa
mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas
tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk
produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas
tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, bayi harus menggunakan glukosa guna
mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat
diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat
dengan adanya stress dingin.

Kehilangan panas pd BBL dpt tjd mll 4 cara a/l :

• Konveksi : Proses hilangnya panas tubuh melalui kontak dengan udara yang dingin di sekitarnya.
• Radiasi :Proses hilangnya panas tubuh bila bayi diletakkan dekat dengan benda-benda yang lebih
rendah suhunya dari suhu tubuhnya.
• Evaporasi : Proses hilangnya panas tubuh bila bayi berada dalam keadaan basah.
• Konduksi : Proses hilangnya panas tubuh melalui kontak langsung dengan benda-benda yang
mempunyai suhu lebih rendah .

D. SISTEM GINJAL

Pada BBL, hampir semua massa yang teraba di abdomen berasal dari ginjal. Fungsi ginjal
yang mirip dengan fungsi orang dewasa belum terbentuk pada tahun kedua kehidupan. BBL memiliki
rentang keseimbangan kimia dan rentang keamanan yang kecil. Infeksi, diare atau pola makan yang
tidak teratur secara cepat dapat menimbulkan asidosis dan ketidakseimbangan cairan, seperti
dehidrasi atau edema.
Ketidaknormalan ginjal juga membatasi kemampuan BBL untuk mengekskresi obat.Sejumlah
kecil urine terdapat dalam kandung kemih saat lahir, tetapi bayi baru lahir ada yang tidak
mengeluarkan urine selama 12 sampai 24 jam. Berkemih sering terjadi setelah periode ini. Berkemih
enam sampai 10 kali dengan warna urine pucat menunjukkan masukan cairan yang cukup.
Umumnya, bayi yang cukup bulan mengeluarkan urine 15 sampai 60 ml per kilogram per hari. Ginjal
sudah berfungsi, tetapi belum sempurna. BBL harus BAK dalam 24 jam pertama, jumlah urin 20 –
30 ml/hr dan meningkat menjadi 100 – 200 ml/hr pada akhir minggu pertama.

E.PERUBAHAN SISTEM REPRODUKSI


1. Wanita
Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitif. Sel-sel ini mengandung
komplemen lengkap ova yang matur karena tidak terbentuk oogonia lagi setelah bayi cukup bulan
lahir. Korteks ovarium,yang terutama terdiri dari folikel primordial,membentuk bagian ovarium yang
lebih tebal pada bayi baru lahir daripada pada orang dewasa. Jumlah ovum berkurang sekitar 90%
sejak bayi lahir sampai dewasa peningkatan kadar estrogen selama masa hamil,yang diikuti dengan
penurunan setelah bayi lahir,mengakibatkan pengeluaran suatu cairan mukoid atau pengeluaran
bercak darah melalui vagina. Pada bayi baru lahir cukup bulan,labia mayora dan minora menutupi
vestibulum. Pada bayi prematur,klitoris menonjol dan labia mayora kecil dan terbuka
2. Pria
Testis turun kedalam skrotum pada 90% bayi baru lahir laki-laki. Pada usia satu tahun testis
tidak turun berjumlah kurang dari 1%.
Prepusium yang ketat seringkali dijumpai pada bayi baru lahir. Muara uretra dapat tertutup
prepusium dan tidak dapat ditarik ke belakang selama tiga sampai empat tahun.
Sebagai respons terhadap estrogen ibu,ukuran genetalia eksterna bayi baru lahir cukup bulan
meningkat,begitu juga dengan pigmentasinya.

F. PERUBAHAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

Adapun perubahan sistem muskuloskeletal pada masa nifas meliputi :

 Dinding perut dan peritoneum


 Kulit abdomen
 Striae
 Perubahan ligament
 Simpisis pubis

1. Dinding perut dan peritoneum

Peritoneum adalah membran berkilau yang melapisi semua organ perut. Dengan mengeluarkan
cairan peritoneal, membran ini memungkinkan isi perut bergerak dengan lancar selama pengolahan
makanan di usus. Luas permukaan peritoneum sama besar dengan permukaan kulit, sekitar dua
meter persegi.
Dinding perut akan longgar pasca persalinan. Keadaan ini akan pulih kembali dalam 6 minggu.
Pada saat wanita asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdonimis, sehingga sebagian dari
dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fasia tipis, dan kulit.

2. Kulit Abdomen

Abdomen adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada
di antara thorax atau dada dan pelvis di hewan mamalia dan vertebrata lainnya. Pada arthropoda,
abdomen adalah bagian paling posterior tubuh, yang berada di belakang thorax atau cephalothorax
(sefalotoraks). Dalam bahasa Indonesia umum, sering pula disebut dengan perut. Bagian yang
ditutupi atau dilingkupi oleh abdomen disebut cavitas abdominalis atau rongga perut.
Selama masa kehamilan, kulit abdomen akan melebar, melonggar dan mengendur hingga
berbulan-bulan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat kembali normal kembali dalam beberapa
minggu pasca melahirkan dengan latihan post natal.

3. Striae

Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada dinding abdomen. Striae
pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang
samar. Tingkat diastasis muskulus trektus abdominis pada ibu post partum dapat dikaji melalui
keadaan umum, aktivitas, paritas, dan jarak kehamilan, sehingga dapat membantu menentukan
lama pengembalian tonis otot menjadi normal.

4. Perubahan Ligamen

Ligamen (ligamentum) adalah jaringan berbentuk pita yang tersusun dari serabut-serabut
liat yang mengikat tulang satu dengan tulang lain pada sendi
Setelah janin lahir, ligamen-ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu
kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligametum
rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi.

5. Simpisis pubis

Pemisahan simpisis pubis jarang terjadi. Namun demikian, hal ini dapat menyebabkan
mordibitas maternal. Gejala dari pemisahan simpisis pubis antara lain : nyeri tekan pada pubis
disertai peningkatan nyeri saat bergerak di tempat tidur ataupun waktu berjalan. Pemisahan simpisis
dapat dipalapasi. Gejala ii dapat menghilang setelah beberapa minggu atau bulan pasca meahirkan,
bahkan ada yang menetap.

H. PERUBAHAN SISTEM SYARAF

System persyarafan bayi cukup berkembang untuk bertahan hidup tetapi belum terintegrasi
secara sempurna. Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat
diprediksi selama periode bayi sampai awal masa kanak kanak. Pada akhir tahun pertama,
pertumbuhan sereblum yang dimulai pada usia kehamilan sekitar 30 minggu, berakhir. Hal ini lah yg
mungkin menjadi penyebab mengapa otak rentan terhadap trauma nutrisi dan trauma lain selama
masa bayi. Fungsi tubuh dan respon respon yang di berikan sebagian besar dilakukan oleh pusat
yang lebih rendah dari otak dan reflex reflex dalam medula spinalis.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapatasi bayi baru lahir (BBL) adalah penyesuaian diri individu (BBL) dari keadaan yang
sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis.

Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan
interna (dalam kandungan Ibu) yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke
lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan
bantuan orang lain untuk memenuhinya.

Periode adaptasi ini disebut sebagai periode transisi, yaitu dari kehidupan di dalam rahim ke
kehidupan di luar rahim. Periode ini berlagsung sampai 1 bulan atau lebih. Transisi yang paling nyata
dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam
kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.

Perubahan fisiologis yang terjadi pada bayi baru lahir meliputi : Perubahan sistim
pernapasan / respirasi, Perubahan pada sistem peredaran darah, Pengaturan Suhu, Metabolisme
Glukosa, Perubahan sistem gastrointestinal dan Sistem kekebalan tubuh/ imun.

B. Saran

1. Setelah memahami tentang bayi baru lahir tentunya bisa dilakukan penerapan yang baik untuk
dapat melakukan pemeriksaan yang spesifik pada bayi baru lahir sehingga dapat menetapkan
diagnosis yang benar agar dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif jika ditemukan adanya
masalah.

2. Semua tenaga kesehatan dapat bekerja sama untuk dapat memberikan perawatan yang benar
terkait dengan bayi baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA
1. Behrman,dkk.(2000).Ilmu kesehatan Anak Nelson Vol 3.Jakarta: EGC
2. Marimbi,H.(2010).Biologi Reproduksi.Yogyakarta:Nuha medika.
3. Dewi,L.Nanny Vivian.(2010).Asuhan Neonatal Bayi dan Bidan.Jakarta:Salemba Medika.
4. Wulandari,F.Ayu.(2011).Biologi Reproduksi.Jakarta:Salemba Medika.
5. Tuker,M.Susan.(1997).Pemantauan Janin Edisi 2.Jakarta:EGC
6. Dewi,S.N.(2012).Biologi Reproduksi.Yogyakarta:Pustaka Rihana.
7. Sadler.T.W.(1996).Embriologi Kedokteran Langman Edisi ke-3.Jakarta:EGC
8. Sudarti,dkk.(2012).Asuhan Kebidanan Neonatus,Bayi,dan Anak Balita.Yogyakarta:Nuha Medika
9. http://bidanlia.blogspot.com/2008/12/adaptasi-bayi-baru-lahir.html
10. http://bidandhila.blogspot.com/2009/01/perubahan-fisiologi-adaptasi-fisik-pada.html