Anda di halaman 1dari 25

Nama : Aan Dwi Putri Amalia

Nim / Kelas : 151001048 / 3B

TUGAS INDIVIDU
1. Konsep Dasar Keperawatan Gerontik
a) Pengertian
 Ilmu + Keperawatan + Gerontik
 Ilmu : pengetahuan dan sesuatu yang dapat dipelajari
 Keperawatan : konsisten terhadap hasil lokakarya nasional keperawatan 1983
 Gerontik : gerontologi + geriatrik
 Gerontologi
Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas/menangani tentang proses
penuaan/masalah yang timbul pada orang yang berusia lanjut.
Gerontologi : Ilmu yang mempelajari seluruh aspek menua (Kozier,
1987)
Gerontologi : Ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai
faktor-faktor menyangkut lansia (Nugroho, 2000)
Gerontologi : Cabang ilmu yg mempelajari proses menua dan mslh
yg mungkin terjadi pd lansia (Miller, 1990)
 Geriatrik
Dari bahasa Greek geron“orang yg berusia lanjut”

Geriatrik berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada orang
yang berusia lanjut.
Studi ilmiah tentang proses penuaan dan masalah yang terjadi pada lansia:
aspek bio-psiko-sosio-ekonomi

 Keperawatan Gerontik : suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada


ilmu dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan
kultural yang holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pada
tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
b) Lingkup,Peran(fungsi) Dan Tanggung Jawab Keperawatan gerontik

 Lingkup askep gerontik meliputi:


1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan
2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan
3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan
 Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai
berikut:
1. Sebagai Care Giver /pemberi asuhan langsung
2. Sebagai Pendidik klien lansia
3. Sebagai Motivator
4. Sebagai Advokasi
5. Sebagai Konselor

Sedangkan , Menurut Eliopoulous tahun 2005, fungsi perawat gerontologi adalah:


1. Guide Persons of all ages toward a healthy aging process (Membimbing orang
pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat).
2. Eliminate ageism (Menghilangkan perasaan takut tua).
3. Respect the tight of older adults and ensure other do the same ( Menghormati
hak orang dewasa yang lebih tua dan memastikan yang lain melakukan hal
yang sama).
4. Overse and promote the quality of service delivery (Memantau dan
mendorong kualitas pelayanan).
5. Notice and reduce risks to health and well being ( Memerhatikan serta
mengurangi risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan).
6. Teach and support caregives (Mendidik dan mendorong pemberi pelayanan
kesehatan).
7. Open channels for continued growth ( Membuka kesempatan untuk
pertumbuhan selanjutnya).
8. Listern and support (Mendengarkan dan memberi dukungan).
9. Offer optimism, encourgement and hope (Memberikan semangat, dukungan
dan harapan).
10. Generate, support, use and participate in research (Menghasilkan, mendukung,
menggunakan, dan berpatisipasi dalam penelitian).
11. Implement restorative and rehabilititative measures (Melakukan perawatan
restoratif dan rehabilitatif).
12. Coordinate and managed care (Mengoordinasi dan mengatur perawatan).
13. Asses, plan, implement and evaluate care in an individualized, holistic maner (
Mengkaji, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi perawatan
individu dan perawatan secara menyeluruh).
14. Link services with needs (Memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan).
15. Nurtuere futue gerontological nurses for advancement of the speciality
(Membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli dibidangnya).
16. Understand the unique physical, emotical, social, spritual aspect of each other
(Saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, sosial dan spritual).
17. Recognize and encourge the appropriate management of ethical concern
(Mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan tempatnya
bekerja).
18. Support and comfort through the dying process (Memberikan dukungan dan
kenyamanan dalam menghapi proses kematian).
19. Educate to promote self care and optimal independence (Mengajarkan untuk
meningkatkan perawatan mandiri dan kebebasan yang optimal).
 Tanggung jawab Perawat Gerontik
1. Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal
2. Membantu klien lansia untuk memelihara kesehatannya
3. Membantu klien lansia menerima kondisinya
4. Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi
sampai dengan meninggal.
 Sifat Pelayanan Gerontik
1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri)
2. Interdependent
3. Humanistik (secara manusiawi)
4. Holistik (secara keseluruhan)
 Model Pemberian Keperawatan Profesional
1. Model Asuhan
2. Model Manajerial berkaitan pada pengaturan/manajemen Model asuhan
yang sesuai masih dalam penelitian. Diterima sementara ini “Ad an
Adaptation Model of Nursing” (Sister Calista Roy)
c) Pengertian lansia (Aging)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005,636) arti dari kata lanjut usia
adalah sudah berumur tua. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43
Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia pada
Bab I Pasal 1 Ayat 3, istilah lansia diartikan sebagai berikut: “Lanjut Usia adalah
seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas”. Usia yang
dijadikan patokan untuk lansia berbeda-beda, umumnya berkisar antara 60-65 tahun.
 Batasan Lansia

a. DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut:


1. kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS
2. kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM
3. kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM

b. Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu:


1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun
2. Usia Tua : 75 - 89 tahun
3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun

c. Prof. DR. Ny. Sumiati Ahmad Muhammad :


1. Masa setengah umur : 45-60 th
2. Masa lansia / senium : 65 th ke atas
d. Dra. Ny. Josmasdani dengan 4 fase :
1. Fase iuventus : 25-40 th
2. Fase verilitas : 40-50 th
3. Fase frasenium : 55-65 th
4. Fase senium : 65-tutup usia
e. UU no.13 tahun 1998 :
Lansia pada seseorang berusia 60 tahun ke atas
Usia digolongkan atas 3:
1. Usia biologis
Usia yang menunjuk pada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam
keadaan hidup.
2. Usia psikologis
Menunjuk pada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-
penyesuaian pada situasi yang dihadapinya.
3. Usia sosial
Usia yang menunjuk pada peran-peran yang diharapkan / diberikan masyarakat
kepada seseorang sehubungan dengan usianya.
 Tipe Kepribadian Lansia
Tipe kepribadian lansia meliputi :
1. Tipe Konstruktif
Integritas baik, menikmati hidup,toleran, humoris dimulai dari masa
muda, tenang dan mantap sampai tua.
2. Tipe Independen
Kecenderungan mengalami post power syndrom, apalagi jika masa
lansia tidak diberi kegiatan yang dapat memberikan otonomi.
3. Tipe Dependen
Sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, pasif, tahu diri, tidak punya
inisiatif, masih dapat diterima masyarakat.
4. Tipe Defensif
Menolak bantuan, emosional, kompulsif aktif, menolak tua dan tidak
menyenangi pensiun.
5. Tipe Bermusuhan/Hostile Personality
Merasa tidak puas dengan kehidupannya, selalu mengeluh dan curiga,
menjadi tua tidak ada yang dianggap baik, takut mati dan irihati dengan
yang muda
6. Tipe Menyalahkan Diri Sendiri/ Selfhater
a. Tidak ambisi
b. Menyalahkan diri sendiri
c. Penurunan sosek
d. Pengalaman buruk dalam perkawinan
e. Merasa cukup
f. Menerima proses menua

 Mitos-Mitos Lansia & Kenyatannya

1. Kedamaian & ketenangan:


 Menikmati hasil kerja

 Mampu melewati rintangan

Kenyataan: stress, depresi, kemiskinan, gangguan fisik

2. Konservatisme

 Tidak kreatif

 Menolak inovasi

 Berorientasi ke masa silam

 Keras kepala & cerewet

 Susah berubah

 Kembali masa kanak-kanak

Kenyataan: tidak semua lansia bersikap dan berpikiran demikian

3. Berpenyakit

 mengalami degenerasi dan penyakit yang menyertai

Kenyataan: saat ini sudah bisa diobati

4. Senilitas

 Dipandang masa pikun

Kenyataan: Tidak semua lansia ditandai dengan kerusakan otak

5. Aseksualitas

 Menurunnya dorongan seksual

Kenyataannya: berjalan biasa tapi frekuensi menurun sesuai dengan penurunan fungsi

5. Tidak Produktif

 Ketergantungan

Kenyataannya: tidak sedikit lansia yang mengalami kematangan mental dan material

 Klasifikasi lansia

Tipe lansia bergantung pada :


a. Caracter
b. Hystory
c. Environment
d. Physic
e. Mental
f. Social
g. Economic
2. Teori-teori Penuaan
Definisi Menua
1. Menua (aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita
(Santoso 2009)
2. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa
sehat menjadi seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar
cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai
penyakit dan kematian (Setiati, Harimurti, & R, 2009).
3. Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan dengan
waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua
adalah fase akhir dari rentang kehidupan (Fatimah, 2010).
4. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-
lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan tersebut
(Wahjudi,2008).
5. Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi Didalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses Sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi Dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses Alamiah, yang berarti seseorang
telah melalui tiga tahap Kehidupannya, yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap
ini berbeda, Baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua
berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai
Dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong,
Pendengaran kurang jelas, pengelihatan semakin memburuk, gerakan Lambat
dan figurtubuh yang tidak proporsional (nugroho, 2006).
Kesimpulan
Menua adalah suatau proses perubahan yang terjadi secara peralahan-lahan
melalui tiga tahap kehidupan yaitu anak , dewasa dan tua. Baik secara biologis
maupun psikologis. Yang berakhir dengan kematian.

Proses Terjadinya Penuaan :


1. Biologi
a. Teori “Genetic Clock”;
Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam
genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan
jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya
proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif
Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara
kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik
(teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam
menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor
lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah
umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur.
Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan
menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut.
b. Teori “Error”
Salah satu hipotesis yang yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah
hipotesis “Error Castastrophe” (Darmojo dan Martono, 1999). Menurut teori
tersebut menua diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan
sepanjang kehidupan manusia. Akibat kesalahan tersebut akan berakibat
kesalahan metabolisme yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel
secara perlahan.
c. Teori “Autoimun”
Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali
dirinya sendiri (Self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya
kelainan pada permukaan sel, maka hal ini akan mengakibatkan sistem imun
tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing
dan menghancurkannya Goldstein(1989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini
dibuktikan dengan makin bertambahnya prevalensi auto antibodi pada lansia
(Brocklehurst,1987 dikutif dari Darmojo dan Martono, 1999). Dipihak lain
sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada
proses menua, daya serangnya terhadap antigen menjadi menurun, sehingga
sel-sel patologis meningkat sesuai dengan menigkatnya umur (Suhana,1994
dikutif dari Nuryati, 1994)
d. Teori “Free Radical”
Penuaan dapat terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam
tubuh manusia. Radikal bebas dapat berupa : superoksida (O2), Radikal
Hidroksil (OH) dan Peroksida Hidrogen (H2O2). Radikal bebas sangat merusak
karena sangat reaktif , sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, dan asam
lemak tak jenuh. Menurut Oen (1993) yang dikutif dari Darmojo dan Martono
(1999) menyatakan bahwa makin tua umur makin banyak terbentuk radikal
bebas, sehingga poses pengrusakan terus terjadi , kerusakan organel sel makin
banyak akhirnya sel mati.
e. Wear &Tear Teori
Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak.
f. Teori kolagen
Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan kerusakan
jaringan dan melambatnya perbaikan sel jaringan.
2. Teori Sosiologi
a. Activity theory, ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara
langsung.
b. Teori kontinuitas, adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan
adanya suatu pola prilaku yang meningkatkan stress.
c. Disengagement Theory, putusnya hubungan dengan dunia luar seperti
hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan individu lain.
d. Teori Stratifikasi usia, karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan
mempercepat proses penuaan.
3. Teori Psikologis
a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, orang yang bisa mencapai aktualisasi
menurut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang
sempurna.
b. Teori Jung, terdapat tingkatan-tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam
perkembangan kehidupan.
c. Course of Human Life Theory, Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan
ada tingkat maksimumnya.
d. Development Task Theory, Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas
perkembangan sesuai dengan usianya.
 Penuaan Primer : perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti
DNA/RNA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA
tidak lagi mampu mengambil oksigen, sehingga membran sel menjadi kisut dan
akibat kurang mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan
imunologi dan mudah terjadi infeksi.
 Penuaan Skunder : proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis
dan sosial . Stress fisik, psikis, gaya hidup dan diit dapat mempercepat proses
menjadi tua.
Contoh diet, suka memakan oksidator, yaitu makanan yang hampir expired.
Gairah hidup yang dapat mempercepat proses menjadi tua dikaitkan dengan
kepribadian seseorang, misal: pada kepribadian tipe A yang tidak pernah puas
dengan apa yang diperolehnya.
Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah:
1. Perubahan Mikro
 Berkurangnya cairan dalam sel
 Berkurangnya besarnya sel
 Berkurangnya jumlah sel
2. Perubahan Makro
 Mengecilnya mandibula
 Menipisnya discus intervertebralis
 Erosi permukaan sendi-sendi
 Osteoporosis
 Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak
tetapi kemampuannya menurun)
 Emphysema Pulmonum
 Presbyopi
 Arterosklerosis
 Manopause pada wanita
 Demintia senilis
 Kulit tidak elastis
 Rambut memutih
Faktor Yang Mempengaruhi Penuaan
 Herediter / genetik
 Nutrisi
 Status kesehatan
 Pengalaman hidup
 Lingkungan
 Kemampuan koping
Faktor Penghambat Penuaan
 Antioksidan
 Koping yang baik
 Kondisi sosial yang baik
 Kepatuhan terhadap Agama
 Olah raga
 Meminimalkan obat
 Menghindari radiasi

3. Perubahan Bio-Psiko-Sosio-Kultural-Spiritual
1. Perubahan Biologis (fisik)
Menurut Nugroho (2000) Perubahan Fisik pada lansia adalah :
a. Sel
Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan
intra seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati,
jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.
b. Sistem Persyarafan
Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat
otak menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga
mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran,
mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu,
kurang sensitive terhadap sentuhan.
c. Sistem Penglihatan
Menurunnya lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih
suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis,
daya membedakan warna menurun.
d. Sistem Pendengaran
Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara
atau nada yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi
menyebabkan otosklerosis.
e. Sistem Cardiovaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku. Kemampuan jantung
menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan
sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh
darah perifer untuk oksigenasi. tekanan darah meninggi akibat
meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.
f. Sistem pengaturan temperatur tubuh
Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu
thermostat yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi
beberapa factor yang mempengaruhinya yang sering ditemukan antara
lain: Temperatur tubuh menurun, keterbatasan reflek menggigil dan
tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga aktifitas otot
menjadi rendah.
g. Sistem Respirasi
Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik
nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan
kedalaman nafas turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya
aktifitas silia), O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak
berganti.
h. Sistem Gastrointestinal
Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun,
pelebaran esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun,
waktu pengosongan menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul
konstipasi, fungsi absorbsi menurun.
i. Sistem urinaria
Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun
sampai 200 mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi
atrofi vulva, selaput lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan
disertai penurunan frekuensi seksual intercrouse berefek pada seks
sekunder.
j. Sistem Endokrin
Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH, FSH, LH),
penurunan sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen, progesterone,
dan testoteron juga.
k. Sistem Kulit
Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses
keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas
akibat penurunan cairan dan vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan
rapuh, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya, perubahan
pada bentuk sel epidermis.
l. System Muskuloskeletal
Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan
tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan
mengalami sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi
lamban, otot mudah kram dan tremor.
2. Perubahan psiko-sosial pada lansia
 Pensiun
 Kehilangan pekerjaan /kegiatan
 Kehilangan status
 Kehilangan finansial
 Kehilangan teman/ kenalan
 Meningkatnya biaya hidup
 Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik
 Merasakan sadar akan kematian
3. Perubahan psikologis
 Penurunan mood, perasaan dan afek (berdampak pada depresi dan bunuh
diri)
 Ganguan persepsi sensori (akibat penurunan fungsi sensorik)
 Gangguan pada proses pikir
 Penurunan kognisi
 Gangguan orientasi
 Daya ingat (penurunan daya ingat segera dan pendek)
5. Perubahan pada spiritual
 Agama dan kepercayaan lansia makin terintegrasi dalam kehidupannya.
 Mencari kebenaran sejati
 Menjauhkan diri dari hawa nafsu duniawi
 Melaksanakan amanah agama yang dianut
 Menuju penyempurnaan diri

4. Askep lansia dengan gangguan biologis


o Pengkajian
Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah keperawatan meliputi
aspek :
 Fisik
o Wawancara
o Pemeriksaan fisik : head to toe dan persistem
 Psikologis
 Sosial ekonomi
 Spiritual
o Diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul dalam penatalaksanaan untuk
menanggulangi gangguan biologis pada lansia, yaitu :

 Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. peningkatan produksi sputum,


penyempitan jalan napas.
o Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5x24 jam diharapkan
bersihan jalan napasklien efektif dengan kriteria hasil:
a) Klien menyatakan perasaan lega.
b) Keluarnya sputum/sekret.
c) Klien mampu melakukan batuk efektif dan menyatakan strategi
untuk menurunkan kekentalan sekresi.
o NIC :
Posisikn pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Buang secret dengan memotivasi pasien untuk melakukan batuk
atau menyedot lender
Intruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk efektif
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat expectorant,
antibiotika dll.
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
tidak mampu dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena
faktor biologis.
o Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5x24 jam diharapkan:
i. Asupan nutrisi tidak bermasalah
ii. Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah
iii. Energi tidak bermasalah
iv. Berat badan ideal
o NIC :
diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap
hari supaya mencapai dan mempertahankan berat badan sesuai
ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien
dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan
makanan dan kenaikan berat badan

5. Askep Lansia Menjelang Ajal


Konsep Kematian.
A. Pengertian Kematian
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari
kehidupan manusia (Buku Ajar Keperawatan Gerontik : 435).
Pengertian kematian / mati adalah apabila seseorang tidak teraba lagi denyut
nadinya tidak bernafas selama beberapa menit dan tidak menunjukan segala
refleks, serta tidak ada kegiatan otak (Nugroho: 153).
B. Penyebab Kematian
 Penyakit.
1. Keganasan (karsinoma hati, paru, mamae).
2. CVD (cerebrovascular disaese).
3. CRF (chronic renal failure (gagal ginjal) ).
4. Diabetes melitus (gangguan endokrin).
5. MCI (myocard infarct (gangguan kardiovaskuler) ).
6. COPD (chronic obstruction pulmonary disaese)
 Kecelakaan (hematoma epidural).
C. Ciri Atau Tanda Klien Lanjut Usia Menjelang Kematian
1. Gerakan dan pengindraan menghilang secara berangsur – angsur. Biasanya
dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki
2. Badan dingin dan lembab, terutama pada kaki, tangan dan ujung hidungnya
3. Kulit tampak pucat
4. Denyut nadi mulai tak teratur
5. Tekanan darah menurun
6. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
7. Pernafasan cepat dangkal dan tidak teratur.
D. Tanda –Tanda Meninggal Secara Klinis
Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui perubahan-
perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada tahun 1968, World Medical
Assembly, menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu :
1. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
2. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.
3. Tidak ada reflek.
4. Gambaran mendatar pada EKG.
E. Tahap Kematian
Tahap – tahap ini tidak selamanya bruntutan secara tetapi dapat saling tindih.
Kadang–kadang klien lanjut usia melalui suatu tahap tertentu untuk kemudian
kembali ketahap itu. Lama setiap tahap dapat bervariasi, mulai dari beberapa jam
sampai beberapa bulan. Apabila tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa
timbul kesan seolah – olah klien lanjut usia melompati satu tahap, kecuali jika
perawat memperhatikan seksama dan cermat (Nugroho : 2008).
1. Tahap Pertama ( Penolakan )
Tahap ini adalah tahap kejutan dan penolakan. Biasanya, sikap itu ditandai
dengan komentar “saya?tidak, itu tidak mungkin”. Selama tahap ini klien lanjut
usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang, kecuali
dirinya. Klien lanjut usia biasanya terpengaruh oleh sikap penolakannya
sehingga ia tidak memerhatikan fakta yang mungkin sedang dijelaskan
kepadanya oleh perawat. Ia bahkan menekan apa yg telah ia dengar atau
mungkin akan meminta pertolongan dari berbagai macam sumber profesional
dan nonprofesional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa mau
sudah diambang pintu.
2. Tahap kedua (marah)
Tahap ini ditandai oleh rasa marah dan emosi tidak terkendali. Klien lanjut usia
itu berkata “mengapa saya? ” sering kali klien lanjut usia akan selalu mencela
setiap orang dalam segala hal. Ia mudah marah terhadap perawat dan petugas
kesehatan lainya tentang apa yang mereka lakukan. Pada tahap ini, klien lanjut
usia lebih menganggap hal ini merupakan hikmah, daripada kutukan.
Kemarahan disini merupakan mekanisme pertahanan diri klien lanjut usia. Akan
tetapi, kemarahan yang sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dan kehidupan.
Pada saat ini, perawat kesehatan harus berhati – hati dalam memberi penilaian
sebagai reaksi yang normal terhadap kemtian yang perlu diungkapkan.
3. Tahap ketiga (tawar – menawar )
Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata , “ya, benar
aku, tapi...” kemarahan biasanya mereda dan klien lanjut usia biasanya dapat
menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi pada
dirinya. Akan tetapi, pada tahap tawar menawar ini banyak orang cenderung
untuk menyelesaikan urusan rumah tangga mereka sebelum mau tiba, dan akan
menyiapkan beberapa hal, misalnya klien lanjut usia mempunyai permintaan
terakhir untuk melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat
cucu terkecil, atau makan direstoran. Perawat dianjurkan memenuhi
permohonan itu karena membantu klien lanjut usia memasuki tahap berikutnya.
4. Tahap keempat (sedih/ depresi )
Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata “ya, benar
aku” hal ini biasanya merupakan saat yang menyedihkan karena lanjut usia
sedang dalam suaana berkabung. Di masa lampau, ia sudah kehilangan orang
yang dicintainya dan sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri. Bersamaan
dengan itu, dia harus meninggalkan semua hal menyenangkan yang telah
dinikmatinya. Selam tahap ini, klien lanjut usia cenderung tidak banyak bicara
dan sering menangis. Saatnya perawat duduk dengan tenang disamping klien
lanjut usia yang melalui masa sedihnya sebelum meninggal
5. Tahap kelima (menerima/ asertif)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian.menjelang saat ini, klien lanjut
usia telah membereskan segala urusan ysng belum selesesai dan mungkin tidak
ingin berbicara lagi karena sudah menyatakan segala sesuatunya. Tawar
menawar sudah lewat dan tibalah saat kedamaian dan ketenangan. Seseorang
mungkin saja lama ada dalam tahap menerima, tetapi bukan tahap pasrah yang
berarti kekalahan . Dengan kata lain pasrah terhadap maut tidak berarti
menerima maut.
F. Pengaruh Kematian
 Pengaruh kematian terhadap keluarga klien lanjut usia :
1. Bersikap kritis terhadap cara perawatan.
2. Keluarga dapat menerima kondisinya.
3. Terputusnya komunikasi dengan orang yang menjelang maut.
4. Penyesalan keluarga dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak
dapat mengatasi rasa sedih.
5. Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi.
6. Keluarga menolak diagnosis. Penolakan tersebut dapat memperbesar beban
emosi keluarga.
7. Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan.
 Pengaruh kematian terhadap tetangga / teman :
1. Simpati dan dukungan moril.
2. Meremehkan / mencela kemampuan tim kesehatan
G. Pemenuhan kebutuhan klien menjelang kematian :
 Kebutuhan jasmaniah.
Kemampuan toleransi terhadap rasa sakit berbeda pada setiap orang. Tindakan
yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien lanjut usia ( mis., sering
mengubah posisi tidur, perawatan fisik, dan sebagainya ).
 Kebutuhan fisisologis.
1. Kebersihan Diri
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kerbersihan diri sebatas
kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut, mulut, badan dan
sebagainya.
2. Mengontrol Rasa Sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada klien dengan
sakit terminal, seperti morphin, heroin, dsbg. Pemberian obat ini diberikan
sesuai dengan tingkat toleransi nyeri yang dirasakan klien. Obat-obatan
lebih baik diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra Muskular atau
Subcutan, karena kondisi system sirkulasi sudah menurun.
3. Membebaskan Jalan Nafas
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih baik dan
pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan untuk membebaskan jalan nafas,
sedangkan bagi klien yang tida sadar, posisi yang baik adalah posisi sim
dengan dipasang drainase dari mulut dan pemberian oksigen.
4. Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk bergerak,
seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur untuk mencegah decubitus
dan dilakukan secara periodik, jika diperlukan dapat digunakan alat untuk
menyokong tubuh klien, karena tonus otot sudah menurun.
5. Nutrisi
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan peristaltik.
Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea dan merangsang
nafsu makan serta pemberian makanan tinggi kalori dan protein serta
vitamin. Karena terjadi tonus otot yang berkurang, terjadi dysphagia,
perawat perlu menguji reflek menelan klien sebelum diberikan makanan,
kalau perlu diberikan makanan cair atau Intra Vena atau Invus.
6. Eliminasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat terjadi
konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu diberikan untuk
mencegah konstipasi. Klien dengan inkontinensia dapat diberikan urinal,
pispot secara teratur atau dipasang duk yang diganjti setiap saat atau
dilakukan kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar
perineum, apabila terjadi lecet, harus diberikan salep.
7. Perubahan Sensori
Penglihatan menjadi kabur, klien biasanya menolak atau menghadapkan
kepala kearah lampu atau tempat terang. Klien masih dapat mendengar,
tetapi tidak dapat atau mampu merespon, perawat dan keluarga harus bicara
dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.
 Kebutuhan emosi.
Untuk menggambarkan ungkapan sikap dan perasaan klien lanjut usia dalam
menghadapi kematian.
a. Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat ( ketakutan
yang timbul akibat menyadari bahwa dirinya tidak mampu mencegah
kematian ).
b. Mengkaji hal yang diinginkan penderita selama mendampinginya.
Misalnya, lanjut usia ingin memperbincangkan tentang kehidupan di masa
lalu dan kemudian hari. Bila pembicaraan tersebut berkenaan, luangkan
waktu sejenak.
c. Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama terhadap klien.
 Kebutuhan sosial
Klien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi, dan untuk memenuhi
kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat melakukan :
a. Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk bertemu dengan
klien dan didiskusikan dengan keluarganya, misalnya: teman-teman dekat,
atau anggota keluarga lain.
b. Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya dan perlu
diisolasi.
c. Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan kunjungan
teman-teman terdekatnya, yaitu dengan memberikan klien untuk
membersihkan diri dan merapikan diri.
d. Meminta saudara atau teman-temannya untuk sering mengunjungi dan
mengajak orang lain dan membawa buku-buku bacaan bagi klien apabila
klien mampu membacanya.
 Kebutuhan spiritual
a. Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya dan rencana-
rencana klien selanjutnya menjelang kematian.
b. Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka agama dalam hal
untuk memenuhi kebutuhan spiritual.
c. Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan kebutuhan spiritual
sebatas kemampuannya.
H. Pertimbangan Khusus Dalam Perawatan :
 Tahap I ( penolakan dan rasa kesendirian ), mengenal atau mengetahui bahwa
proses ini umumnya terjadi karena menyadari akan datangnya kematian atau
ancaman maut.
a. Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk mempergunakan
caranya sendiri dalam menghadapi kematian sejauh tidak merusak.
b. Memfasilitasi klien lanjut usia dalam menghadapi kematian.
Luangkan waktu 10 menit sehari, baik dengan bercakap – cakap
maupun sekedar bersamanya.
 Tahap II ( marah ), mengenal atau memahami tingkah laku serta tanda –
tandanya.
a. Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk mengungkapkan
kemarahannya dengan kata – kata. Ingat, bahwa dalam benaknya
bergejolak pertanyaan, “ Mengapa hal ini terjadi pada diriku ? “.
b. Sering kali perasaan ini dialihkan kepada orang lain atau anda
sebagai cara klien lanjut usia bertingkah laku.
 Tahap III ( tawar – menawar ), menggambarkan proses seseorang yang
berusaha menawar waktu.
a. Klien lanjut usia akan mempergunakan ungkapan, seperti seandainya
“ Saya...“
b. Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk menghadapi
kematian dengan tawar – menawar.
c. Tanyakan kepentingan yang masih ia inginkan. Cara demikian
dapat menunjukan kemampuan perawat untuk mendengarkan
ungkapan perasaanya.
 Tahap IV ( depresi ), lanjut usia memahami bahwa tidak mungkin menolak
lagi kematian yang tidak dapat dihindarkan itu, dan kini kesedihan akan
kematian itu sudah membayanginya.
a. Jangan mencoba menyenangkan klien lanjut usia. Ingat bahwa
tindakan ini sebenarnya hanya memenuhi kebutuhan petugas. Jangan
takut menyaksikan klien lanjut usia atau keluarga menangis. Hal ini
merupakan ungkapan pengekspresian kesedihanya. Anda boleh saja
ikut berduka cita. “ Apakah saya akan mati ? “ Sebab sebetulnya
pertanyaan klien lanjut usia tersebut hanya sekadar mengisi dan
menghabiskan waktu untuk memperbincangkan perasaanya,
bukannya mencari jawaban. Biasanya klien lanjut usia menanyakan
sesuatu, ia sebenarnya sudah tahu jawabanya. Apakah anda merasa
akan meninggal dunia.
 Tahap V, membedakan antara sikap menerima kematian dan penyerahan
terhadap kematian yang akan terjadi.
a. Sikap menerima : klien lanjut usia telah menerima, dapat mengatakan
bahwa kematian akan tiba dan ia tak boleh menolak.
b. Sikap menyerah : sebenarnya klien lanjut usia tidak menghendaki
kematian ini terjadi, tetapi ia tahu bahwa hal itu akan terjadi. Klien
lanjut usia tidak merasa tenang dan damai.
c. Luangkan waktu untuk klien lanjut usia ( mungkin beberapa kali dalam
sehari ). Sikap keluarga akan berbeda dengan sikap klien lanjut usia.
Oleh karena itu, sediakan waktu untuk mendiskusiakan perasaan
mereka.
d. Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk mengarahkan
perhatianya sebanyak mungkin. Tindakan ini akan memberi
ketenangan dan perasan aman.

I. Hak Asasi Pasien Menjelang Ajal


Lanjut usia berhak untuk diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai ia mati.
Lanjut usia :
1. Berhak untuk tetap merasa mempunyai harapan, meskipun fokusnya dapat saja
berubah.
2. Berhak untuk dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus harapan,
walaupun dapat berubah.
3. Berhak untuk merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian yang sudah
mendekat dengan caranya sendiri.
4. Berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai
perawatannya.
5. Berhak untuk mengharapkan terus mendapat perhatian medis dan perawatan,
walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi tujuan memberi rasa
nyaman.
6. Berhak untuk tidak mati dalam kesepian.
7. Berhak untuk bebas dalam rasa nyeri.
8. Berhak untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan.
9. Berhak untuk tidak ditipu.
10. Berhak untuk mendapat bantuan dari dan untuk keluarganya dalam menerima
kematian.
11. Berhak untuk mati dengan tenang dan terhormat.
12. Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak di hakimi atas
keputusan yang mungkin saja bertentangan dengan orang lain.
13. Membicarakan dan memperluas pengalaman keagamaan dan kerohanian.
14. Berhak untuk mengharapkan bahwa kesucian tubuh manusia akan dihormati
sesudah mati.
J. Perawatan Paliatif Pada Lanjut Usia Menjelang Ajal
 Pengertian
Dalam memberi asuhan keperawatan kepada lanjut usia, yang menjadi
objek adalah pasien lanjut usia (core), disusul dengan aspek pengobatan medis
(cure), dan yang terakhir, perawatan dalam arti yang luas (care). Core, cure,
dan care merupakan tiga aspek yang saling berkaitan dan saling berpengaruh.
Kapanpun ajal menjemput, semua arang harus siap. Namun ternyata, semua
orang, termasuk lanjut usia, akan merasa syok berat saat dokter memvonis
bahwa penyakit yang dideritanya tidak bisa di sembuhkan atau tidak ada
harapan untuk sembuh. Pada kondisi ketika lanjut usia menderita sakit yang
telah berada pada stadium lanjut dan “cure” sudah tidak menjadi bagian yang
dominan, “care” menjadi bagian yang paling berperan. Salah satu alternatif
adalah perawatan paliatif.
Perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif untuk meringankan
beban penderita, terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Yang dimaksud
dengan tindakan aktif antara lain mengurangi /menghilangkan rasa nyeri dan
keluhan lain serta memperbaiki aspek psikologis, social, dan spiritual.
 Tujuan perawatan paliatif.
Tujuan perawatan paliatif adalah mencapai kualitas hidup maksimal
bagi si sakit (lanjut usia) dan keluarganya. Perawatan paliatif tidak hanya di
berikan kepada lanjut usia yang menjelang akhir hayatnya, tetapi juga
diberikan segera setelah di diangnosa oleh dokter bahwa lanjut usia tersebut
menderita penyakit yang tidak ada harapan untuk sembuh (mis, menderita
kanker). Sebagaian besar pasien lanjut usia, pada suatu waktu akan
menghadapi keadaan yang disebut “stadium paliatif”, yaitu kondisi ketika
pengobatan sudah tidak dapat menghasilkan kesembuhan. Biasanya dokter
memvonis pasien lanjut usia yang menderita penyakit yang mematikan (mis,
kanker, stroke, AIDS) juga mengalami penderitaan fisik, psikologis social,
kultural, dan spiritual.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang medis
dan keperawatan, memungkinkan di upayakan berbagai tindakan dan
pelayanan yang dapat mengurangi penderitaan pasien lanjut usia, sehingga
kualitas hidup di akhir kehidupannya tetap baik, tenang dan mengakhiri
hayatnya dalam keadaan iman dan kematian yang nyman. Diperlukan
pendekatan holistik yang dapat memperbaiki kualitas hidup klien lanjut usia.
Kualitas hidup adalah bebas dari segla sesuatu yang menimbulkan
gejala, nyeri, dan perasaan takut sehingga lebih menekankan rehabilitasi
daripada pengobatan agar dapat menikmati kesenangan selama akhir
hidupnya. Sesuai arti harfiahnya, paliatif bersifat meringankan, bukan
menyembuhkan. Jadi, perawtan paliatif diperlukan untuk meningkatkan
kualitas hidup dengan menumbuhkan semangatdan motivasi. Perawatan ini
merupakan pelayanan yang aktif dan menyeluruh yang dilakukan oleh satu tim
dari berbagai displin ilmu.
 Tim perawatan paliatif
Tim perawatan paliatif terdiri atas tim terintegrasi, antara lain dokter,
perawat, psikolog, ahli fisioterapi, pekerja social medis, ahli gizi, rohaniawan,
dan relawan. Perlu diingat bahwa tujuan perawatan paliatif adalah mengurangi
beban penderitaan lanjut usia. Penderitaan terjadi bila ada salah satu apek yang
tidak selaras, baik aspek fisik maupun psikis, peran dalam keluarga, masa
depan yang tidak jelas, gangguan kemampuan untuk menolong diri, dan
sebagainya.
Untuk memahami dna mengatasi hal tersebut, peran tim interdisplin
menjadi sangat penting / dominan. DR. Siti Annisa Nuhoni, Sp, RM dalam
makalahnya, Konsep perawatan paliatif pada pasien kanker, mengatakan
bahwa apa yang disebut sebagai gambaran klinis pasien tidak hanya gambaran
seseorang yag sakit terbaring di tempat tidur , tetapi merupakan cerminan
pasien sebagai individu dengan lingkungannya, keadaan rumah/tempat
tinggalnya , pekerjaannya, teman, hobi, kesedihan, dan ketakutan.
Keberhasilan keperawatan paliatif begantung pada kerjasama yang
elektif dan pendekatan interdisplin antara dokter, perawat, pekerja sosial
medis, rohaniawan, atau pemuka agama/relawan/dan anggota pelayanan lain
sesuai kebutuhan.
Tim ini tidak mudah tanpa adanya semangat kebersamaan dalam
memberi bantuan kepada pasien lanjut usia. Pemberi asuhan keperawatan pada
pasien harus bekerjasama secara profesional,ihlas, dan dengan hati yang
bersih. Perawatan paliatif lanjut usia bukan untuk intervensi yang bersifat
kritis. Perawatan paliatif adalah perawatan yang terencana.walaupun dapat
terjadi kondisi kritis dan kedaruratan medis yang tidak terduga, hal ini dapat
diantisipasi, bahkan dapat dicegah melalui ikatan kerja tim yang solid dan kuat
.
Bagan kepemimpinan pada perawatan paliatif tidak berbentuk kerucut ,
melainkan berbntuk lingkaran dengaan pasien sebagai titik sentral.
Kunci keberhasilan kerja interdisiplin bergantung pada tanggung jawab
setiap anggota tim , sesuai dengan kemahiran dan spesialisasinya, sehingga
setiap kali pemimpin berganti, tugas masing-masing tidak akan terganggu.

K. Asuhan keperawatan lansia menjelang ajal :


a) Pengkajian
Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk mengenal pasien dan
keluarganya. Siapa pasien itu dan bagimana kondisinya ? Rencana
pengobatan apa yang telah dilaksanakan ? Tindakan apa saja yang telah
diberikan ? Adakah bukti mengenai pengetahuannya, prognosisnya,
dan pada tahap proses kematian yang mana pasien berada ? Apakah ia
mengalami nyeri ? Apakah anggota keluarganya mengetahui
prognosisnya dan bagaimana reaksi mereka ? Filsafat apa yang dianut
oleh pasien dan keluarganya mengenai hidup dan mati. Pengkajian
keadaan, kebutuhan, dan masalah kesehatan atau keperawatan pasien
khususnya. Sikap pasien terhadap penyakitnya, antara lain apakah
pasien tabah terhadap penyakitnya, apakah pasien menyadari tentang
keadaannya ?
1) Perasaan takut
Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa nyeri yang tidak
terkendalikan yang begitu sering diasosiasikan dengan keadaan
sakit terminal, terutama apabila keadaan itu disebabkan oleh
penyakit yang ganas. Perawat harus menggunakan
pertimbangan yang sehat apabila sedang merawat orang sakit
terminal. Perawat harus mengendalikan rasa nyeri pasien
dengan cara yang tepat. Apabila orang berbicara tentang
perasaan takut mereka terhadap maut, respon mereka secara
tipikal mencakup perasaan takut tentang hal yang tidak jelas,
takut meninggalkan orang yang dicintai, kehilangan martabat,
urusan yang belum selesai, dan sebagainya. Dalam menghadapi
kematian ini, pada umumnya orang merasa takut dan cemas.
Ketakutan dan kecemasan terhadap kematian ini dapat membuat
pasien cemas dan stress.
2) Emosi
Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian,
antara lain mencela dan mudah marah.
3) Tanda vital
Perubahan fungsi tubuh sering kali tercermin pada suhu badan,
denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Mekanisme
fisiologis yang mengaturnya berkaitan satu sama lain. Setiap
perubahan yang berlainan dengan keadaan yang normal
dianggap sebagai indikasi yang penting untuk mengenali
keadaan kesehatan seseorang.
4) Kesadaran
Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai awas
waspada, yang merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat,
didengar, dialami, dan perasaan keseimbangan, nyeri, suhu,
raba, getar, gerak, gerak tekan, dan sikap, bersifat adekuat, yaitu
tepat dan sesuai ( Mahar Mardjono dan P. Sidharta, 1981.
5) Fungsi tubuh
Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap organ
mempunyai fungsi khusus.

b) Diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan


Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah :
 Ansietas berhubungan dengan keadaan penyakitnya.
o Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam,
diharapkan :
 Rasa cemas berkurang
o NIC :
 Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang

6. Penyakit yang dijumpai pada Lansia


 Tekanan darah tinggi
 DM
 Penyakit jantung
 Kanker
 Katarak
 Gloukoma
 Presbiakusis
 Presbiop
 Karies dan masalah gigi
Menurut “ The National Old People’s Welfare Council ”
Di Inggris mengemukakan bahwa penyakit atau gangguan umum pada usia lanjut
ada dua belas macam antara lain :
1. Depresi mental.
2. Gangguan pendengaran.
3. Bronkitis kronis.
4. Gangguan pada tungkai/sikap berjalan.
5. Gangguan pada koksa/sendi panggul.
6. Anemia.
7. Demensia.
8. Gangguan penglihatan.
9. Ansietas/kecemasan.
10. Dekompensasi kordis.
11. Diabetes melitus, osteomalisia, dan hipotiroidisme.
12. Gangguan pada defekasi.
Menurut Stieglitz (1945)
Dikemukakan adanya empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses
menua, antara lain :
1. Gangguan sirkulasi darah, seperti : hipertensi, kelaianan pembuluh darah,
gangguan pembuluh darah di otak (koroner), dan ginjal.
2. Gangguan metabolisme hormonal, seperti : diabetes militus, klimakterium,
dan ketidakseimbangan tiroid.
3. Gangguan pada persendian, seperti : osteoartritis, gout artritis, ataupun
penyakit kologen lainnya.
4. Berbagai macam neoplasma.

7. Komunikasi terapeutik pada lansia


Komunikasi keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, artinya
komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat saat melakukan intervensi
keperawatan yang harus mampu memberikan kasiat terapi dalam proses
penyembuhan pasien.
Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik pada lansia :
1. Empati
Pelayanan kesehatan harus memandang seorang lansia yang sakit dengan
pengertian, kasih sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami oleh
penderita tersebut. Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak
berlebihan, sehingga tidak memberi kesan over-protective dan belas kasihan.
2. Yang harus dan “jangan”
Yaitu keharusan untuk mengerjakan yang baik untuk penderita dan harus
menghindari tindakan yang menambah penderitaan bagi penderita. Terdapat
adagium primum non nocere (yang terpenting jangan membuat seseorang
menderita). Dalam pengertian ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat
untuk menghindari rasa nyeri, pemberian analgesic (kalau perlu dengan
devirat morfin) yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan, seperti: “yang
harus kakek lakukan adalah...” bukan kata “ kakek jangan…”.
3. Otonomi
Yaitu suatu prinsip bahwa seorang individu mempunyai hak untuk
menentukan nasibnya dan mengemukakan keinginanya sendiri. Hak tersebut
mempunyai batasan, akan tetapi dibidang geriatrik hal tersebut berdasar pada
keadaan, apakah penderita dapat membuat keputusan secara mendiri atau
bebas.
4. Keadilan
Yaitu prinsip pelayanan geriatrik harus memberikan perlakuan yang sama bagi
semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan seorang penderita secara
wajar dan tidak mengadakan perbedaan atas dasar karakteristik yang tidak
relevan.
5. Menjaga tingkat kebisingan minimum
Usahakan lingkungan tidak ribut sehingga akan memudahkan pelaksanaan
komunikasi terapeutik pada lansia.
6. Menjadi pendengar yang setia
Maksudnya adalah sediakanlah waktu beberapa menit untuk mendengarkan
keluhan dari klien.
7. Menjamin alat bantu berfungsi dengan baik
Ceklah alat bantu komunikasi yang digunakan oleh lansia sebelum memulai
kegiatan.
8. Jangan berbicara dengan kasar (keras)
Lansia sangat sensitif, ucapan yang kasar akan membuatnya menghentikan
komunikasi. Usahakan selalu menanyakan respon kepada klien tentang apa
yang sedang ia rasakan.
9. Gunakan kalimat pendek dan sederhana
Berbicaralah pada tingkat pemahaman klien sehingga klien mengerti tentang
pesan yang ingin disampaikan oleh perawat.
10. Beri kesempatan klien untuk mengenang
Luangkan waktu untuk pasien agar ia bisa mengingat hal-hal yang menjadi
keluhannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi dengan lansia :
1. Menunjukkan rasa hormat, seperti “bapak”, “ibu”, kecuali apabila sebelumnya
pasien telah meminta anda untuk memanggil panggilan kesukaannya.
2. Hindari menggunakan istilah yang merendahkan pasien
3. Pertahankan kontak mata dengan pasien
4. Pertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa dan mendengarkan adalah kunci
komunikasi efektif
5. Beri kesempatan pasien untuk menyampaikan perasaannya
6. Berbicara dengan pelan, jelas, tidak harus berteriak, menggunakan bahasa dan
kalimat yang sederhana.
7. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti pasien
8. Hindari kata-kata medis yang tidak dimengerti pasien
9. Menyederhanakan atau menuliskan instruksi
10. Mengenal dahulu kultur dan latar belakang budaya pasien
11. Mengurangi kebisingan saat berinteraksi, beri kenyamanan, dan beri
penerangan yang cukup saat berinteraksi.
12. Gunakan sentuhan lembut dengan sentuhan ringan di tangan, lengan, atau
bahu.
13. Jangan mengabaikan pasien saat berinteraksi.