Anda di halaman 1dari 20

Bab 12

Konformitas dan Penyimpangan


KONFORMITAS

Konsep konformitas yang menjadi pokok bahasan bab ini berhubungan erat dengan

sosialisasi, sebab proses sosialisasi menghasilkan konformitas (conformity) konsep yang oleh

Jon M. Shepard didefenisikan sebagai “the type of social interaction in which an individual

behaves toward others in ways expected by the group” (1984:1115). Jadi konformitas merupakan

bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan

harapan kelompok. Mengapa para laki-laki cenderung berperilaku sesuai dengan apa yang di

harapkan dari laki-laki, dan perempuan berperilaku sesuai dengan harapan orang dari

perempuan? Kita berperilaku sebagai laki-laki atau perempuan karena identitas diri kita sebagai

laki-laki atau perempuan diberikan kepada kita melalui sosialisasi. Sosialisasi pun menjelaskan

mengapa seseorang dari anggota kelompok etnik Aceh berperilaku sebagai orang Aceh,

sedangkan seseorang dari kelompok etnik Sumba berperilaku sebagai orang sumba.

Sejak lahir orang tua kita berperilaku sesuai dengan jenis kelamin yang kita miliki.

Bayi perempuan dan bayi laki-laki diperlakukan berbeda; diberi pakaian berbeda; diberi mainan

berbeda (lihat Henslin, 1979). Anak perempuan diberi perlengkapan peribadi seperti pakaian,

alat tulis, alat rumah tangga (seperti handuk) yang berwarna “perempuan” (umumnya warna

lembut seperti merah jambu); Bagi anak laki-laki berlaku warna “laki-laki”, antara lain biru.

Anak laki-laki di harapkan aktif, kasar; anak perempuan diharapkan untuk pasif dan lembut.

Anak perempuan diharapkan bermain dengan mainan yang berbentuk boneka, prlengkapan

memasak atau menjahit; anak laki-laki bermain dengan mainan berbentuk perlengkapan perang
(senjata, tank, pesawat tempur), binatang buas. Melalui proses sosialisasi ini identitas diri jenis

kelamin seorang anak ditanamkan - - si anak konform terhadap peran sebagai anak perempuan

atau anak laki-laki sesuai dengan harapan masyarakat.

Pada umumnya kita cenderung bersifat konformis. Barbagai studi memperlihatkan

bahwa manusia mudah dipengaruhi orang lain. Salah satu diantaranya ialah studi Muzafer Sherif

(1996) yang antara lain dikutip oleh Zanden (1979). Dalam suatu eksperimen di Columbia

University (yang hasilnya dilaporkan pada tahun 1935) para subyek penelitian- - mahasiswa dua

universitas diminta memperkirakan jarak gerak suatu titik cahaya di layar dalam suatu ruang

gelap. Dikala eksperimen dilakukan dengan masing-masing subyek secara terpisah, jawaban-

jawaban yang diberikan cenderung berbeda satu dengan yang lain. Namun manakala eksperimen

dilakukan dengan beberapa orang subyek sekaligus dan para subyek di mungkinkan untuk saling

mempengaruhi, maka jawaban para subyek cenderung menjadi semakin sama. Dari eksperiman

ini Sherif menyimpulkan bahwa dalam situasi kelompok orang cenderung membentuk suatu

norma social (lihat Sherif, 1966:89-112). Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa, setelah

mengetahui pendapat orang lain, sejumlah individu yang semula memberikan pendapat sendiri

kemudian terdorong untuk menjalankan konformitas- -menyesuaikan diri dengan pendapat orang

lain, meskipun di antaranya ada juga yang tetap bertahan pada pendiriannya.

Berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-sehari mendukung temuan studi

tersebut. Pernahkah Anda, misalnya, memperhatikan jumlah uang yang tercantum dalam edaran

permintaan sumbangan-untuk berbagai keperluan seperti pembangunan tampat ibadah,

pemiliharaan asrama yatim piatu, pembiayaan parayaan 17 Agustus, atau uang duka bagi

keluarga yang sedang tertimpa musibah- - yang beredar dalam lingkungan social Anda?

Kemungkinan basar Anda akan menjumpai bahwa jumlah sumbangan yang diberikan para
dermawan cenderung mengumpul di sekitar suatu jumlah tertentu- - misalnya Rp1000, Rp5000,

atau Rp10000. Dalam memberikan uang sumbangan orang cendurung terpengaruh oleh jumlah

sumbangan yang sebelumnya telah diberikan oleh orang lain (teman, tetangga, atau kerabat), dan

jumlah penyumbang yang memberikan uang dalam jumlah jauh lebih kecil atau jauh lebih besar

dari pada jumlah rata-rata sumbangan biasanya relative kecil.

Konformitas pun terwujud di kala terjadi pengumpulan tanda tangan di kalangan

suatu kelompok untuk tujuan tertentu- -misalnya di kalangan dosen untuk mencari dukungan

bagi seorang calon dekan, di kalangan mahasiswa untuk menuntut penundaan kenaikan SPP, atau

di kalangan warga desa untuk menuntut ganti rugi yang mereka anggap layak bagi tanah milik

mereka yang dibebaskan. Seseorang akan lebih cenderung menandatangani suatu daftar tanda

tangan manakala pada daftar tersebut ia mejumpai nama orang yang dikenal dan dinilainya

sehaluan dengannya.

Kejadian sehari-hari di jalan raya pun sering menampilkan konformitas. Di kala

ada dugaan bahwa lampu lalu lintas mangalami kerusakan sehingga warna lampu tetap tidak

berubah atau dugaan bahwa suatu kemacetan disebabkan oleh kendaraan mogok atau kecelakaan,

misalnya, maka pelanggaran lalu lintas oleh pengemudi yang kendaraan bermotornya berada di

didepan sering segera diikuti oleh para pengemudi kendaraan di belakangnya.

PENYIMPANGAN

Penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap

sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi (James vander Zanden,1979).

Meskipun masyarakat telah berusaha agar setiap anggota berperilaku sesuai dengan

harapan masyarakat, namun dalam tiap masyarakat kita selalu menjumpai adanya anggota yang
menyimpang- -menjumpai adanya penyimpangan atau nonkonformitas. Kita pasti akan

menjumpai adanya anak perempuan yang berperilaku sebagai anak laki-laki- -lebih suka

berpakaian laki-laki, bergaul dengan anak laki-laki, bermain permainan “jantan” (sering disebut

tomboy); sebaliknya pun ada anak laki-laki yang berperilaku mirip dengan perilaku anak

perempuan- -lemah lembut, bergaya bicara seperti anak perempuan, bermain dengan anak

perempuan (sering disebut sissy)

Menurut kornblum (1989:202-204) di samping penyimpangan (deviance) dan

penyimpangan contoh yang disajikan kornblum mengenal institusi menyimpang

ini ialah, antara lain, kejahatan terorganisasi (organized crime). Dalam masyarakat kita,

misalnya, kita membaca dalam media masa mengenal komplotan pencuri kendaran bermotor- -

tentang adanya pihak yang mengorganisasikan dan melindungi berbagai pelaku jenis-jenis

kejahatan yang terkait dengan pencurian kendaraan bermotor: orang yang melakukan pencurian,

orang lain yang mengubah bentuk dan/atau warna kendaraan yang dicuri, orang lain lagi yang

mempersiapkan surat-surat kendaraan palsu, dan akhirnya fihak yang memasarkan kendaran

hasil kejahatan dan sebagainya (lihat TEMPO 28 April 1990). Bentuk institusi menyimpang lain

ialah, misalnya, berbagi kegiatan yang dilaporkan dalam media massa seperi arisan sks, sindikat

bordil, sindikat peredaran narkotika, dan sindikat pemalsu paspor.

DEFINISI SOSIAL PENYIMPANGAN

Apakah Anda masih ingat pandangan Thomas mengenai defines situasi-khususnya

tentang definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat (moralitas, hukum)? Menurut para ahli

sosiologi penyimpangan bukan sesuatu yang melekat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan

diberi cirri penyimpangan melalui definisi social. Definisi tersebut dapat bersumber pada
kelompok yang berkuasa dalam masyarakat, atau pun pada masyarakat umum. Untuk

menjelaskan penentuan penyimpangan melalui definisi social, akan disajikan beberapa contoh.

Pada tahun 60-an sejumlah besar pemuda –pemudi Amerika meninggalkan rumah

orang tua mereka dan selanjutnya hidup mengembara atau hidup bersama tanpa nikah di

pemukiman tertentu dengan gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup keluarga Amerika pada

umumnya. Para muda-mudi ini dikenal dengan nama “hippies”. Salah satu cirri kaum prianya

ialah bahwa mereka membiarkan rambut mereka tumbuh sampai panjang.

Gaya rambut panjang ini kemudian ditiru oleh para pemuda dan mahasiswa

Amerika lain dan menjadi sumber perdebatan karena banyak pihak menganggap pemeliharaan

rambut panjang oleh laki-laki sebagai penyimpangan. Seorang pelatih olahraga sekolah lanjutan

di Amerika, misalnya, menganggap bahwa membiarkan rambut laki-laki memanjang merupakan

suatu perbuatan yang melawan tradisi Amerika, tidak mencerminkan kejantanan dan bahkan

bertentangan dengan ajaran kitab Injil (lihat Tony Simpson, 1973).

Masalah rambut panjang akhirnya sampai ke kawasan kita pula. Di akhir tahun 60-an,

misalnya, para petugas keamanan di Jakarta secara berkala melakukan razia di jalan-jalan raya

untuk menahan laki-laki berambut panjang, dan kadang-kadang bahkan melakukan pemotongan

paksa terhadap rambut panjang laki-laki yang sedang mengendarai kendaraan umum maupun

pribadi.

Pendefinisi pemeliharaan rambut panjang oleh laki-laki sebagai penyimpangan

dilakukan oleh para penguasa yang tidak menyukai kebiasaan laki-laki untuk berambut panjang

yang menurut mereka merupakan pengaruh negatif kebudayaan Barat, khususnya kebiasaan

kaum “hippies” di Amerika Serikat. Namun tidak ada sesuatu yang secara intrinstik terdapat
pada rambut panjang laki-laki yang membuatnya sebagai hal tercela atau berada di luar batas

toleransi. Di masa revolusi fisik kita, misalnya, para pemuda yang berjuang melawan Belanda

banyak yang berambut panjang, dan oleh warga masyarakat hal ini tidak di cela malainkan

dipuji. Agama Sikh mewajibkan kaum laki-laki di kalangan umatnya untuk tetap memelihara

rambutnya, dan pemotongan rambut dianggap sebagai pelanggaran ajaran agama.

Contoh lain mengenal makna konsep definisi sosial ialah situasi-situsi berikut ini:

apabila seorang perempuan menanggalkan semua pakaiannya sehingga berada dalam keadaan

bugil di hadpan sejumlah mahasiswa fakultas hukum yang sedang mengikuti kuliah dalam mata

ajaran hukum pidana, ia akan dianggap melakukan penyimpangan. Namun bila perbuatan yang

sama diakukan oleh seorang model perempuan di studio lukis di depan mahasiswa seni rupa

dalam rangka mata ajaran melukis tubuh manusia, perbuatan ini tidak dianggap sebagai

penyimpangan. Seorang laki-laki melakukan penyimpangan bilamana ia datang kesuatu pesta

ulang tahun dengan hanya mengenakan celana renang, sedangkan busana demikian di anggap

wajar apabila di kenakan di kolom renang. Kini banyak pemuda memakai perhiasan yang semula

hanya digunakan perempuan seperti kalung dan anting-anting; di masa lalu kebiasaaan ini akan

di anggap sebagai penyimapangan. Seorang prajurit yang menembak mati sejumlah besar musuh

dalam pertempuran dianggap sebagai pahlawan; namun bila hal yang sama dilakukan sebagai

orang sipil dalam masa damai ia akan di tuntut ke pengadilan dengan di tuduhan melakukan

pembunuhan. Dari contoh ini jelas bahwa tercela-tidaknya suatu perbuatan tidak melekat pada

perbuatan itu sendiri melainkan tergantung pada definisi social.

TEORI MENGENAI PENYIMPANGAN

Mengapa orang melakukan penyimpangan? Dalam sosiologi di kenal berbagai teori

sosiologi untuk menjelaskan mengapa penyimpangan terjadi. Ada teori yang mencoba
menjelaskan penyimpangan dari segi mikrososisologi dengan mencari akar penyimpangan pada

interaksi social, dan ada yang menjelaskannya dari segi makrososiologi dengan mencari sumber

penyimpanagn pada struktur social. Di samping itu ada pula teori lain, seperti teori biologi

(antara lain teori Lombroso) dan teori psikologi (antara lain teori berlandaskan psikoanalisis

Freud), yang juga berupaya menjelaskan mengapa seseorang melakukan penyimpangan.

Teori differential association. Dalam mikrososiologi dikenal beberapa teori interaksi

untuk menjelaskan penyimpangan. Salah satu diantaranya ialah teori Differential Association

yang diciptakan oleh Edwin H. Sutherland. Menurut pandangan Sutherland penyimpangan

bersumber pada differential association-pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari

melalui proses alih budaya (cultural transmission). Melalui proses belajar ini, seseorang

mempelajari suatu deviant subculture- -suatu subkebudayaan menyimpang. Contoh yang

diajukan Sutherland ialah proses mengisap ganja (marihuana), tetapi proses yang sama berlaku

pula dalam mempelajari beraneka jenis perilaku menyimpang lainnya. Dalam laporan hasil

penelitiannya terhadap sejumlah pekerja seks di Minnesota, A.S., misalnya, Nanette J. Davis

mengemukakan bahwa:

Intimate association with sophisticated deviants. . . may provide an incentive to

learn the hustler role(“the girls told me about it -1 was such an avid

listener.”),and thus resolve the status anxiety by gaining prestige through

association with deviants, and later, experimentation in the deviant role

(1981:149).

Di sini digambarkan bahwa peran sebagai pekerja seks dapat dipelajari melalui

pergaulan intim dengan penyimpangan yang sudah berpengalaman. Pergaulan yang dianggap
mengangkat prestise seseorang itu kemudian diikuti dengan percobaan memerankan peran

penyimpangan tersebut- -peran sebagai pekerja seks.

Teori labeling. Teori interaksi untuk menjelaskan penyimpangan ialah teori Labeling

yang di pelopori Edwin M. Lemert. Menurut Lemert seseorang menjadi penyimpang karena

proses labeling- -pemberian julukan, cap, etiket, merek- -yang diberikan masyarakat kepadanya.

Mula-mula sesesorang melakukan penyimpangan, yang oleh Lemert dinamakan penyimpangan

primer (primary deviation). Akibat dilakukannya penyimpangan tersebut misalnya pencurian,

penipuan, pelanggaran susila, perilaku aneh lalu diberi cap pencuri, penipu, perempuan nakal,

orang gila. Sebagai tanggapan terhadap pemberian cap oleh orang lain maka si pelaku

penyimpang mendefenisikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi perbutan

penyimpangannya.

Suatu studi mengenai proses labaling ini pernah dilakukan Wiliam J. Chambliss

terhadap pelaku kenakalan remaja. Dalam penelitian selama dua tahun Chambilis mengamati

bahwa delapan orang siswa putih dari kluarga baik-baik dari kalangan kelas menengah terus-

menerus terlibat dalam kenakalan remaja, seperti melakukan perbuatan membolos dengan jalan

memakai lasan palsu untuk menipu guru,ngebut, melakukan pencurian. Namun kenakalan para

pemuda yag oleh Chamliss diberi julukan Saints ini kurang diketahui masyarakat, sehingga

mereka dianggap sebagai anak “baik-baik”. Mereka pun melakukan kenakalan dengan hati-hati

sehingga jarang ditindak polisi.

Pada sekolah menengah atas yang sama terdaftar pula enam orang siswa dari kalangan

kelas bawah yang oleh Chambliss diberi julukan roughnecks. Kenakalan yang dilakukan remaja

ini tidak banyak berbeda dengan kenakalan para Saints bermabuk-mabukan, berkelahi,

mengganggu gadis di jalan, namun masyarakat setempat menilai para roughnecks sebagai suatu
geng remaja yang bermasalah. Di sini perbuatan yang hamper serupa dinilai secara berlainan;

para Saints dinilai sebagai remaja yang baik dengan masa depan cerah sedangkan para

roughnecks dinilai sebagai remaja nakal bahkan penjahat remaja yang menuju ke dunia

kejahatan. Menurut Chambliss tanggapan komunitas memperkuat pola penyimpangan para

roughnecks. Akibatnya ialah bahwa sebagian basar dari mereka akhirnya memang terjerat dalam

dunia panyimpangan. Dengan penelitian ini Chambliss ingin membuktikan bahwa labeling

mendorong orang ke arah dunia penyimpangan.

Merton mengemukakan bahwa dalam struktur soial budaya dijumpai tujuan

sasaran atau kepentingan yang didefenisikan oleh kebudayaan yang sah bagi seluruh

ataupun sebagian anggota masyarakat. Tujuan budaya tersebut merupakan hal yang “pantas

di raih” selain itu, melalui institusi dan aturan struktur budaya mengatur dan pula cara

yang harus ditempuh untuk meraih tujuan budaya tersebut. Aturan tersebut bersifat

membatasi : cara tertentu seperti menipu atau memaksa, misalnya tidak di benarkan.

Hipotesis merton ialah bahwa perilaku menyimpang merupakan pencerminan tidak adanya

kaitan antara aspirasi yang ditetapkan kebudayaan dan cara yang dibenarkan struktur

sosial untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Merton struktur sosial menghasilkan

tekanan ke arah anomie ( strain toward anomie ) dan perilaku yang menyimpang.

Merton mengientifikasi lima tipe cara adaptasi individu terhadap situasi tertntu ;

empat di antara lima perilaku peran dalam menghadapi situasi tersebut merupakan perilaku

menyimpang.
Cara adaptasi pertama-- konformitas ( conformity)-- merupakan cara yang paling

banyak dilakukan. Di sini perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat, dan

mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.

SUATU TIPOLOGI CARA-CARA ADAPTASI INDIVIDU

Cara adpatasi tujuan budaya cara yang diinstitusiakan

I Conformity + +
II Innovation + -
III Ritualism - +
IV Retreatism - -
V Rebellion + +

Cara adaptasi kedua- inovasi (innovation) -- merupakan cara dalam mana perlaku

mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang paling dilarang

oleh masyarakat. Seperti kasus yang dilaporkan majalah D&R ( 16 novemer1996 ) :

seorang laki – laki yang buta huruf tetapi sejak kecil bercita- cita menjadi polisi

kemudian berhasil mencuri eragam kapten polisi lalu lintas dan denagan seragam tersebut

selama beberapa tahun membiayai hidupnya dengan jalan merampas kendaraan bermotor

di jalan raya dan kemudian menjualnya.

Dalam cara ketiga—ritualisme (ritualism)—perilaku sesorang telah meniggalkan

tujuan budaya namun masih tetap berpegang pada cara yang telah digariskan masyarakat.

Contohnya ialah seorang karyawan dari lapisan kelas menengah bawah yang tidak mau

mengerjar sukses karna sudah mersa puas dengan apa yang dia miliki, takut mengalami
kegagalan, atau khawatir mengalami kekecewaan. Karena adanya sikap demikian maka

usaha meraih sukses dipendam tetapi cara untuk meraih sukses tetap dipakai, meskipun

disertai sikap menahan diri.

Retreatism merupakan bentuk adaptasi berikutnya; dalam bentuk ini perilaku

seseorang tidak mengikuti tujuan budaya dan juga tidak mengikuti cara untuk meraih

tujuan budaya. Pola adaptasi ini menurut Merton dijumpai pada orang yang menderita

gangguan jiwa, pada gelandangan, pada pemabuk, dan pada pecandu obat bius.

Pemberontakan ( rebellion) merupakan bentuk adaptasi terakhir. Dalam pola adaptasi

orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan suatu

struktur sosial yang lain. Tujuan budaya yang ada dianggap sebagai penghalang bagi

tujuan yang didambakan. Dari sejarah kita menjumpai banyak sekali contoh mengenai

warga masyarakat yang menganut bentuk adaptasi ini : para pemimpin di bidang politik

yang dengan cara mereka sendiri yang berhasil memelopori penggulingan tatanan politik

yang ada dan menerapkan suatu tatanan politik yang baru ; para pemimpin di bidang

agama yang dengan cara mereka sendiri pula berhasil menggulingkan tatanan agama yang

ada dan menegakkan tatanan agama yang baru.


Dari kalangan perintis sosiologi kita pun menjumpai teori untuk menjelaskan

penyimpangan Durkheim, misalnya , menyatakan bahwa kejahatan meupakan suatu gejala

normal karena di jumpai dalam semua masyarakat.

Teori fungsi Durkheim, menurut Durkheim keseragaman dalam kesadaran moral

semua anggota masyarakat tidak dimungkinkan ; tiap individu berbeda satu dengan yang

lain karena dipengaruhi secara berlainan oleh berbagai faktor seperti faktor keturunan,

lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Durkheim bahkan berpangdangan kejahatan perlu

bagi masyarakat, karena dengan adanya kejahatan maka moralitas dan hukum dapat

berkembang secara normal.

Teori konflik. Penjelasan lain terhadap penyimpangan kita di kalangan penganut

teori konflik marx. Para penganut marx mengemukakan bahwa kejahatan terkait erat

dengan perkembangan kapitalisme. Menurut pandangan ini apa yang merupakan perilaku

menyimpang didefinisikan oleh kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi

kepentingan mereka sendiri. Para penganut teori marx mengatakan bahwa hukum

merupakan pencerminan kapentingan kelas yang berkuasa, dan bahwa sistem peradilan

pidana mencerminkan nilai dan kepentingan mereka.

TIPE-IIPE KEJAHATAN
Kejahatan yang tercantum dalam kitab undang- undang hukum pidana dan didata

serta dipantau aparat penegak hukum, seperti misalnya kejahatan terhadap jiwa orang

lain, panganiyayaan, perkosaan, pemerasan, pencurian dengan kekerasan, penipuan—

berbagai jenis kejahatan yang dalam literature dinamakan violet offenses maupun property

offenses . para ahli sosiologi sering membuat klarifikasi yang berbeda dengan klarifikasi

yang dianut masyarakat atau penegak hukum . Light, Keller dan Calhoun (1989)

membedakan antara kejahatan tanpa korban (crime without victims ), kejahatan

terorganisasi (organized crime ), kejahatan oleh orang terpandang dan berstatus tinggi

yang dinamakan kejahatan kerah putih ( white-collar crime) dan kejahatan yang dilakukan

atas nama perusahaan yaitu kejahatan korporat ( corporat crime ).

Menurut Light, Keller dan Calhoun tidak semua kejahatan mengakibatkan

mengakibatkan penderitaan pada korban sebagai tindak pidana oleh orang lain. Kejahatan

jenis ini, yang mereka namakan kejahatan tanpa korban ( victims crimes ), antara lain

meliputi perbuatan seperti berjudi, penyalahgunaan obat bius, bermabuk-mabukan dan

hubungan seks tidak sah yang dilakukan secara sukarela antara orang dewasa. Meskipun

tidak membawa korban namun perbuatan demikian digolongkan sebagai kejahatan karene

dianggap sebagai perbuatan tercela oleh masyarakat ataupun oleh kelompok yang

berkuasa. Namun Light, Keller dan Calhoun mengemukakan bahwa perbuatan demikian

membawa korban pula; pemabuk sering melakukan perbuatan yang membawa cedera

orang lain.
Kejahatan terorganisasi ( organized crime ) dirumuskan sebagai “ a self-perpetuating,

continuing conspiracy operating for profit or power, seeking to obtain immunity from the

law through fear and corruption” ( abadinsky, 1981 : 4, dikutip dalam Light, Keller dan

Colhoun 1989: 189) . jadi yang dimaksudkan di sini ialah komplotan berkesinambungan

untuk memproleh uang atau kekuasan dengan jalan menghindari hukum melalui

penyebaran rasa takut atau melalui korupsi. Monopoli secara tidak sah atas jasa tertentu,

pemutaran uang hasil kejahatan dalam bentuk saham, penyediaan barang sacara melanggar

hukum seperti penjualan barang hasil kejahatan, penyediaan jasa secara melanggar hukum

seperti penyelenggaraan pelacuran, perjudian gelap, peminjaman uang dengan bunga

tinggi merupakan contoh perbuatan yang masuk dalam kategori organized crime ini.

Kejahatan terorganisasi transnasional ( transnational organized crime ) merupakan

kejahatan terorganisasi yang melampaui batas Negara yang dilakukan oleh organisasi-

organisasi dengan jaringan global. Menurut dokumen kantor PBB untuk pengendalian zat

dan pencegahan kejahatan ( UNODCCP). Kejahatan terorganisasi ini antara lain terdiri atas

penyeludupan dalam usaha legal atau rekening bank yang sah (money laundering),

perdagangan perempuan dan gadis di bawah umur untuk tujuan pelacuran ( sex slavery )

dan penyeludupan pekerja asing ke dalam suatu Negara.

White-collar crime ( kejahatan kerah putih ) merupakan suatu konsep yang

diperkenalkan oleh Sutherland dan mengcu pada kejahatan yang dilakukan oleh orang
terpandang atau orang berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Kejahatan yang

digolongkan dalam kategori ini antara lain meliputi penghindaran pajak, penggelapan uang

perusaahan, penipuan.

Kategori terakhir-- corporate crime-- merupakan jenis kegiatan yang dilakukan atas

nama organisasi formal dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian.

Karena tidak dilakukan oleh perseorangan melainkan oleh badan hukum, pelakunya tidak

dapat dipidana, Light. Keller membedakan empat jenis corporate crime: kejahatan terhadap

konsumen, kejahatan terhadap publik, kejahatan terhadap pemilik perusahaan, dan

kejahatan terhadap karyawan.

Salah satu contoh kejahatan terhadap konsumen ialah kasus biskuit tercemar racun

yang terjadi di Indonesia pada tahun 1989. Karena di lima pabrik biskuit di kota-kota

tanggerang , Palembang, mdan dan Pontianak bahan pemekar biskuit ammonium bikarbonat

tertukar dengan sodium nitrit yang beracun, maka sekurang-kurangnya 20 orang konsumen

biskuit yang berasal dari pabrik-pabrik terebut dinyatakan meninggal sedangkan rausab

korban memerlukan perawatan di rumah sakit ( tempo 4 november 1989, No, 36 Th. XIX

dan tempo 6 januari 199,no 45 th. XIX )

Kejahatan terhadap public pun sering terjadi. Contohnya eksterm ialah kcelakaan

di Bhopal, india, sewaktu pabrikbahan kimia mengeluarkan gas racun yang menewaskan
ribuan penduduk yang tinggal di sekitar pabrik. Dalam media massa kita pun sering

membaca mengenal kerugian yang diderita mesyarakat di sekitar pebrik karena limbah

yang dibuang mencemarkan lingkungan sekitarnya.

Kejahatan terhadap pemilik perusahaan yang di maksudkan Light, Keller dan

Calhoun ialah kegiatan memperkaya dii secara melawan hukum di pihak manajemen

perusahaan yang merugikan pemegang saham. Kegiatan demikian dimungkinkan karena

para pemegang saham cenderung kurang memahami aturan serta praktek yang berlaku di

dunia usaha.

Kejahatan terhadap karyawan pun merupakan suatu bentuk kejahatan oleh

perusahaan. Dalam praktik ada pengusaha yang tidak memberikan alat pelindung memadai

bagi para karyawan sehuingga kesehatan para karyawan terancam. Karyawan pabrik

industry kimia, misalnya, dapat mengalami gangguan pernapasan karena menghirup gag-

gas beracun.

Gilddens (1989) menyebutkan jenis kejahatan lain lagi : government crime, yaitu

kesalahan moral oleh para pejabat pemerintah yang memebawa dampak mengerikan.

Coontoh yang disebutkan giddens ialah kamp-kamp konsentrisi di uni siovet di zaman

pemerintah stalin, dan holocaust ( epmbunuhan jutaan ornag yahudi oleh pemerintah nazi

jerman selama perang dunia ke 2). Dalam hubungan ini giddens menyebutkan piula

adanya instansi pemerintah yang justru melanggar berbagai hukum yang seharusnya
ditegakkan, dan terlibat dalam berbagai kejahatan seperti penganiayaan terhadap tahanan,

dengan sengaja menghilangkan barang bukti, dan menerima uang suap.

Dengan berkembangnya teknologi informasi, kini muncul suatu jenis kejahatan baru

yang dinamakan cybercrime, yaitu kejahatan berupa penyebarluasan vius computer melalui

internet dengan maksud mengubah ataupun merusak sistem informasi organisasi yang

bergabung dengan internet.

KONSEP PENTING
Governmental crime : kesalahan moral oleh para pejabat pemerintah yang

membawa dampak mengerikan ( Giddens )

Inovasi ( innovation ) : merupakan cara dalam mana perilaku mengikuti

tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat

(Merton).

Kejahatan kerah putih ( white-collar- crime ) : kejahatan yang dilakukan oleh orang

terpandang atau orang berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya ( Sutherland ).

Kejahatan korpat ( corporate crime ) : kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi

formal dengan tujuan menaikkan keuntungan dan menurunkan kerugian.

Kejahatan tanpa korban ( crimes without victims ) : bentuk kejahatan yang tidak

mengakibatkan penderitaan orang lain.


Kejahatan terorganisasi ( organized crime ) : komplotan berkesinambungan untuk

memperoleh uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum melalui penyebaran

rasa takut atau melalui korupsi ( abadinsky)

Konformitas ( conformity ) : bentuk interaksi yang ada di dalamnya seseorang berperilaku

terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok ( shepard ); cara adaptasi individu

dalam mana ( merton)

Pemberontakan ( rebellion ) : pola adaptasi dalam mana individu tidak lagi mengakui

struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan suatu struktur sosial lain ( Merton ).

Penyipangan ( deviation ) : perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai

hal yang tercela dan diluar batas toleransi (zanden )

Penyipangan primer ( primary deviation ) : suatu penyimpangan yang dilakukan umtuk

pertama kalinya (lemert).

Penyimpangan sekunder ( secondary deviation ) : penyimpangan yang merupakan

pengulangan dari penyimpangan sebelumnya (lemert)

Retreatism : pola adaptasi dalam mana perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan

budaya dan juga tidak mengikuti cara untuk meraih tujuan budaya ( Merton ).

Tekanan ke arah anomi ( strain toward anomie ) : tekanan struktur sosial yang

mendorong orang ke perilaku menyimpang (Merton )

Teori deifferential association : teori yang mengatakan bahwa penyimpangan dipelajari

melalui proses alih budaya, yaitu bersumber pada pergaulan yang berbeda ( Sutherland )
Teori konflik Mengenai penyimpangan : teori yang mengatakan bahwa apa yang

merupakan perilaku menyimpang didefinisikan oleh kelompok berkuasa untuk melindungi

kepentingan mereka sendiri.

Teori labeling : teori yang mengatakan bahwa sesorang menjadi penyimpang karena

proses pemberian julukan, cap, etiket, merk oleh masyarakat kepadanya ( Lemmert )
Nama kelompok:
Eka lestari
Diana handayani
Reni nasrianti