Anda di halaman 1dari 14

Modul P1:

Programmable Logic
Controller
(PLC)
MODUL P1
Programmable Logic Controller (PLC)

I. Tujuan Praktikum
1. Praktikan mampu memahami komponen-komponen PLC dan memahami addressing
Input/Output PLC
2. Praktikan mampu memahami dan mengimplementasikan PLC sebagai Safety
Instrumented System.

II. Teori Penunjang


2.1.Programmable Logic Controller (PLC)
PLC merupakan bentuk khusus dari mikroprosesor berbasis controller yang menggunakan
memori untuk menyimpan instruksi dan menjalankan fungsi seperti logika, sekuensial, timer,
perhitungan (counting) dan aritmatika sebagai pengontrol mesin dan proses. PLC didesain agar
mudah dioperasikan oleh operator atau teknisi yang mungkin memiliki pengetahuan yang
terbatas dalam bahasa pemrograman dan komputer. Istilah logic digunakan karena secara garis
besar program menerapkan logika dan operasi switch, contohnya jika input A atau B berada
dalam posisi on maka switch C akan on dan seterusnya. Devais input, berupa sensor seperti
switch, devais output dalam sistem yang dikontrol berupa motor, valve dll. dihubungkan ke
PLC. Operator atau teknisi memasukkan instruksi sekuensial ke dalam memori dari PLC.
Controller kemudian memonitor input dan output mengacu pada program atau instruksi ini dan
membawa aturan kontrol yang telah diinputkan sebelumnya [1].
PLC memliki beberapa kelebihan yakni dapat digunakan untuk desain kontrol PID,
memodifikasi sistem kontrol dan sebagai safety instrumented system. Sehingga PLC ini
didesain untuk tahan terhadap vibrasi, temperature, kelembaban dan noise. Memiliki interface
untuk input dan output yang terdapat di dalam kontroler. Dan mudah untuk diprogram dan
memiliki Bahasa pemrograman yang mudah dipahami dimana secara garis besar program
dijalankan dengan logika dan operasi switching. PLC yang digunakan dalam praktikum ini
adalah PLC Schneider TM221ME16R.
PLC memiliki beberapa bagian-bagian penting. Adapun bagian-bagian dari PLC adalah
sebagai berikut.
a. Central Processing Unit (CPU)
CPU merupakan bagian yang berisi mikroprosesor dan mampu mengartikan sinyal
input dan digunakan sebagai aksi kontrol, mengacu pada program yang tersimpan pada
memori. CPU ini berfungsi untuk melakukan komunikasi dengan PC atau console dan
interkoneksi pada setiap bagian PLC.
Gambar 1. Central Processing Unit (CPU)

b. Power Supply Unit (PSU)


PSU digunakan untuk memberikan tegangan pada PLC. Tegangan AC akan dikonversi
menjadi tegangan untuk masukan pada PLC yakni sebesar 24 Volt DC. PSU tidak
digunakan untuk memberikan daya secara langsung ke input maupun output, yang berarti
input dan output murni merupakan saklar atau switch. Jadi user harus menyediakan sendiri
PSU untuk input dan output pada PLC. Dengan demikian maka PLC tidak akan mudah
rusak.

Gambar 2. Power Supply Unit (PSU)

c. Modul Input dan Ouput


Modul input dan output berfungsi sebagai media penerima informasi dan komunikasi
untuk prosesor dari perangkat luar (external devices). Perangkat luar ini seperti sensor,
switch, valve, motor, pompa dan lain-lain. Modul ini terpasang secara tidak permanen atau
dapat dilepas dan dipasang kembali sesuai dengan kebutuhan user.
Gambar 3. Modul Input dan Output

d. Unit Memori
Unit memori memiliki fungsi sebagai media penyimpanan program yang dapat
digunakan untuk aksi kontrol yang dijalankan oleh mikroprosesor dan data yang tersimpan
dari input untuk proses, begitu juga output sebagai aksi dari input yang telah diberikan.

Gambar 4. Memori PLC

2.2.Ladder Diagram
Salah satu metode pemrograman PLC yang sangat umum digunakan adalah yang
didasarkan pada penggunaan diagram tangga (ladder diagram). Menuliskan sebuah program,
dengan demikian menjadi sama halnya dengan menggambarkan sebuah rangkaian pensaklaran.
Diagram-diagram tangga terdiri dari dua garis vertical yang merepresentasikan rel-rel daya.
Komponen-komponen rangkaian disambungka sebagai garis-garis horizontal, yaitu anak-anak
tangga, di antara kedua garis vertical ini

Gambar 5. Rangkaian untuk menghidupkan dan mematikan sebuah motor


Dalam menggambarkan sebuah diagram tangga, diterapkan beberapa kaidah tertentu, antara
lain adalah sebagai berikut.
1. Garis-garis vertical diagram merepresentasikan rel-rel daya, di mana di antara
keduanya komponen-komponen rangkaian tersambung.
2. Tiap-tiap anak tangga mendefinisikan sebuah operasi di dalam proses kontrol.
3. Sebuah diagram tangga dibaca dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah, anak tangga
teratas dibaca dari kiri ke kanan. Berikutnya anak tangga kedua dibaca dari kiri ke
kanan dan demikian seterusnya. Ketika PLC sedang berada dalam keadaan bekerja,
PLC membaca seluruh program tangga dari awal hingga akhir, anak tangga terakhir
pada program ditandai dengan jelas, dan kemudian memulai kembali dari awal.
Prosedur membaca semua anak tangga program ini disebut sebagai sebuah siklus.

Gambar 6. Membaca sebuah ladder diagram

4. Tiap-tiap anak tangga harus dimulai dengan sebuah input atau sejumlah input harus
berakhir dengan setidaknya sebuah output. Istilah input digunakan bagi sebuah langkah
kontrol, seperti misalnya menutup kontak sebuah saklar, yang berperan sebagai input
ke sebuah PLC. Istilah output digunakan untuk sebuah perangkat yang tersambung ke
output sebuah PLC, misalnya sebuah motor.
5. Perangkat-perangkat listrik ditampilkan dalam kondisi normalnya. Dengan demikian,
sebuah saklar yang dalam keadaan nomralnya terbuka hingga suatu objek menutupnya,
diperlihatkan sebagai terbuka pada diagram tangga. Sebuah saklar yang dalam keadaan
normalnya tertutup diperlihatkan sebagai tertutup.
6. Sebuah perangkat tertentu dapat digambarkan pada lebih dari satu anak tangga. Sebagai
contoh kita dapat memiliki sebuah relay yang menyalakan satu buah perangkat listrik
atau lebih. Huruf-huruf dan/atau nomor-nomor dipergunakan untuk memberi label bagi
perangkat tersebut pada tiap-tiap situasi kontrol yang dihadapinya.
7. Input-input dan output-output seluruhnya diidentifikasikan smelalui alamat-alamatnya,
notasi yang dipergunakan bergantung paad pabrikan PLC, yang bersangkutan. Alamat-
alamat ini mengindikasikan lokasi input atau output di dalam memori PLC

Gambar 7. Simbol-simbol dasar

Gambar 7 memperlihatkan simbol-simbol baku yang digunakan perangkat-perangkat input


dan output. Perhatikan bahwa input direpresentasikan oleh hanya dua simbol, yaitu untuk
kontak yang secara normal terbuka dan untuk kontak yang secara normal tertutup. Hal ini
berlaku untuk perangkat input apapun yang tersambung ke PLC. Proses yang dilaksanakan oleh
perangkat input adalah sama halnya dengan membuka atau menutup sebuah saklar. Output-
output direpresentasikan oleh hanya satu simbol, terlepas dari apapun perangkat output yang
disambungkan ke PLC.
Untuk mengilustrasikan penggambaran anak tangga dari sebuah diagram tangga,
perhatikan suatu situasi dimana bekerjanya sebuah perangkat ouput, misalnya sebuah motor,
ditentukan oleh diaktifkannya sebuah saklar picu yang normalnya terbuka menjadi tertutup.
Dengan demikian input berupa saklar picu dan output adalah motor. Gambar 4
memperlihatakan diagaram tangga yang relevan.

Gambar 8. Sebuah ladder diagram

2.3. Fungsi-fungsi Logika


Banyak situasi kontrol yang mengharuskan dilakukannya tindakan-tindakan pengontrolan
dilaksanakan ketika ketika suatu kombinasi dari kondisi-kondisi tertentu terpenuhi. Sehingga,
untuk sebuah mesin bor otomatis, terdapat suatu persyaratan yang menggariskan bahwa motor
bor harus dinyalakan ketika saklar-saklara limit telah diaktifkan yang mengindikasikan
keberadaan objek pemboran dan posisi mata bor telah berada pada permukaan objek tersebut.
Situasi semacam ini melibatkan fungsi logika agar sebuah output dapat dihasilkan.
2.3.1. Fungsi Logika AND
Gambar 9 memperlihatkan sebuah situasi di mana sebuah perangkat output tidak akan
menyala terkecuali jika kedua saklar normal-terbuka berada pada keadaan tertutup. Saklar A
dan saklar B keduanya harus tertutup, yang pada gilirannya menghasilkan sebuah kombinasi
logika AND.

Gambar 9. Rangkaian AND


Kita dapat memandang bahwa hal ini merepresentasikan sebuah sistem kontrol dengan dua
buah input A dan B (Gambar 10 a ). Hanya ketika A dan B ekduanya menyala output akan
dihasilkan. Sehingga, apabila kita menggunakan notasi 1 untuk mengindikasikan kondisi
‘hidup’ (on) dan notasi 0 untuk mengindikasikan kondisi ‘mati’ (off), kemudian agar terdapat
sebuah sinyal output 1 kita harus menjadikan A dan B berada dalam kondisi 1. Operasi
semacam ini dikatakan sebagai operasi yang dikendalikan oleh sebuah gerbang logika dan
hubungan antara input-input dengan sebuah gerbang logika dan output-outputnya ditabulasikan
dalam sebuah tabel yang dikenal dengan nama tabel kebenaran (truth table).

(A) ( B)
Gambar 10 (A) Gerbang Logika AND, (B) Truth table (tabel kebenaran)

2.3.2. Fungsi Logika OR


Gambar 11 (A) memperlihatkan sebuah situasi dimana sebuah perangkat output akan
menyala apabila saklar A atau saklar B, yang keduanya normal-terbuka, berada dalam kondisi
tertutup. Hal ini menggambarkan kombinasi logika OR (ATAU), dimana input A atau input B
keduanya harus ‘hidup’ untuk menghasilkan sebuah output.
(A) (B)

(C)
Gambar 11. (A) Rangkaian OR; (B) Truth Table (Tabel kebenaran); (C) Gerbang OR
Gambar 11 (C) memperlihatkan sebuah sistem gerbang logika OR pada sebuah diagram
tangga. Diagram tangga tersebut dimulai dengan ||, simbol kontak normal-terbuka yang diberi
label ‘input A’ untuk merepresentasikan saklar A dan tersambung secara parallel padanya
adalah ||, simbol kontak normal-terbuka yang diberi label ‘input B’ untuk merepresentasikan
saklar B. Input A atau input B harus berada dalam keadaan tertutup agar perangkat output dapat
menyala.
Contoh sebuah sistem kontrol berbasis-gerbang OR dapat dilihat pada sebuah ban berjalan
yang memindahkan produk-produk botolan ke dalam sebuah kemasan dimana sebuah pelat
pembelok (deflector) akan diaktifkan untuk membelokkan botol-botol ke dalam sebuah wadah
yang menampung barang-barang yang ditolak apabila berat botol yang bersangkutan berada di
luar suatu batas toleransi tertentu atau botol tersebut tidak memiliki tutup.

2.3.3. Fungsi Logika NOT


Gambar 12 (A) memperlihatkan sebuah rangkaian listrik yang dikontrol oleh sebuah saklar
normal-terbuka. Ketika terdapat sebuah input ke saklar, saklar akan membuka dan memutuskan
hubungan arus ke rangkaian. Kondisi ini mengilustrasikan fungsi gerbang logika NOT, dimana
akan terdapat sebuah output ketika tidak ada input dan tidak ada output ketika ketika terdapat
sebuah input. Gerbang logika ini terkadang disebut sebagai pembalik (intverter).
(A) (B) (C)
Gambar 12. (A) Rangkaian NOT; (B) Truth Table (Tabel Kebenaran); (C) Gerbang NOT

Gambar 12 (C) memperlihatkan sebuah sistem gerbang NOT pada sebuah diagram tangga.
Kontak input A diperlihatkan sebagai normal-tertutup. Kontak ini tersambung secara seri
dengan sebuah output O. ketika tidak terdapat input ke kontak input A, kontak ini berada dalam
keadaan tertutup sehingga dihasilkan sebuah output. Ketika terdapat sebuah input ke kontak
input A, kontak ini membuka dan akibatnya tidak dihasilkan output apapun.

2.3.4. Fungsi Logika NAND


Umpamakan bahwa kita menyambungkan sebuah gerbang AND tepat sebelum sebuah
gerbang NOT (Gambar 9(A)). Fungsi gerbang NOT tersebut adalah membalikkan (inverting)
semua output yang dihasilkan oleh gerbang AND. Sebagai alternatifnya, yang akan
memberikan hasil yang persis sama, kita dapat menyambungkan sebuah gerbang NOT ke tiap-
tiap input dan selanjutnya menyambungkan semua gerbang NOT tersebut ke sebuah gerbang
OR (Gambar 9(B)). Sebuah tabel kebenaran yang sama berlaku bagi kedua kombinasi gerbang-
gerbang logika di atas, yaitu :

Gambar 13. Gerbang NAND


Kedua input, A dan B harus berada dalam keadaan 0 agar menghasilkan output 1. Akan
tetap terdapat sebuah output apabila input A atau input B tidak bernilai 1. Kombinasi kedua
gerbang ini dinamakan sebagai gerbang NAND. Gambar 9 memperlihatkan sebuah diagram
tangga yang mengimplementasikan sebuah gerbang NAND. Ketika input A dan input B
keduanya bernilai 1, atau salah satunya bernilai 0 dan yang lainnya bernilai 1 maka output yang
diberikan adalah 0. Ketika input A dan input B keduanya bernilai 0 maka output yang diberikan
adalah 1.

2.3.5. Fungsi Logika NOR


Umpamakan bahwa kita menyambungkan sebuah gerbang OR tepat di belakang sebuah
gerbang NOT. Fungsi gerbang NOT tersebut adalah membalikkan semua output yang
dihasilkan oleh gerbang OR. Sebagai alternatifnya, yang akan memberikan hasil yang persis
sama, kita dapat menyambungkan sebuah gerbang NOT ke tiap-tiap input dan selanjutnya
menyambungkan semua gerbang NOT tersebut ke sebuah gerbang AND. Tabel kebenaran
yang dihasilkan dari kombinasi ini adalah :

Gambar 14. Gerbang NOR


Kombinasi antara gerbang OR dan gerbang NOT dinamakan sebagai gerbang NOR. Akan
terdapat sebuah output apabila tidak satu pun diantara kedua input A dan B bernilai 1.

Gambar 15. Ladder Diagram Gerbang NOR


Gambar 15, memperlihatkan sebuah diagram tangga untuk sebuah sistem berbasis-gerban
NOR. Ketika input A dan input B belum diaktifkan, terdapat sebuah output 1. Ketika salah satu
diantara input A atau input B atau keduanya berada pada kondisi 1, terdapat sebuah output 0.
2.3.6. Fungsi Logika OR Eksklusif (XOR)
Sebuah gerbang OR menghasilkan output ketika salah satu atau kedua inputnya berada
dalam kondisi 1. Akan tetapi, pada situasi-situasi tertentu, dibutuhkan sebuah gerbang yang
dapat menghasilkan output ketika salah satu diantara kedua inputnya, tidak keduanya sekaligus,
bernilai 1.

Gambar 16. Gerbang XOR


Gerbang seperti ini disebut sebagai gerbang OR Eksklusif atau XOR. Salah satu cara untuk
mendapatkan gerbang semacam ini adalah dengan menggabungkan gerbang-gerbang NOT,
AND dan OR sebagaimana diperlihatkan pada gambar 16.

Gambar 17. Ladder Diagram XOR


Gambar 17 memperlihatkan sebuah diagram tangga untuk untuk sebuah sistem gerbang
XOR. Ketika input A dan input B tidak diaktifkan dua-duanya, output yang dihasilkan adalah
0. Ketika hanya input A saja yang diaktifkan, cabang anak tangga sebelah atas akan
menghasilkan ouput 1. Ketika hanya input B saja yang diaktifkan, cabang anak tangga sebelah
bawah akan menghasilkan output 1. Ketika kedua input A dan B diaktifkan, tidak ada output
yang dihasilkan. Dalam contoh gerbang logika ini, input A dan input B memiliki dua jenis
kontak di dalam rangkaian, kontak yang satu adalah normal-terbuka sedangkan kontak lainnya
adalah normal-tertutup. Dengan pemrograman PLC, tiap-tiap input dapat memiliki banyak
kontak sesuai dengan kebutuhannya.
III. Alat dan Metodologi Percobaan
3.1.Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum PLC ini adalah sebagai
berikut.
a. PLC Schneider TM221ME16R

Gambar 18. PLC Schneider TM221ME16R

b. Mixing Tank Plant

Gambar 19. MixingTank Plant


Keterangan :
Sensor A : Sensor High-High
Sensor B : Sensor High
Sensor C : Sensor Low
Sensor D : Sensor Low-Low
P1 : Pompa Out
P2 : Pompa In
Pada mixing tank plant, terdapat 2 tangki, dimana tangki 1 adalah tankgi yang dijaga
ketinggiannya. Sementara tangki 2 adalah dianggap sebagai tangki input dan output.
Ketinggian pada tangki 1 dijaga dengan input dari 2 sensor, yaitu sensor high dan low. Dalam
keadaan normal, air akan berada diantara sensor high dan low, serta mixer bekerja. Ketika
mengenai high sensor maka pompa 1 akan bekerja, dan ketika tidak mengenai low sensor maka
pompa 2 akan bekerja.
Sensor high-high dan low-low berfungsi untuk menjaga plant dari gangguan. Misalnya
saat pompa 1 maupun 2 tidak bisa berhenti, maka dibutuhkan kedua sensor ini untuk melakukan
aksi pengamanan. Dalam melakukan pengamanan dapat digunakan alternative shutdown
sistem.

c. SoMachine Basic
SoMachine Basic software adalah perangkat lunak dari Schneider untuk memrogram PLC
yang digunakan. SoMachine Basic memiliki beberapa bahasa dalam pemrogramannya, selain
dengan ladder diagram (LAD), SoMachine Basic juga menggunakan Instruction List (IL)
untuk bahasa pemrogramannya. Berikut merupakan tampilan dari software SoMachine Basic.

(a)

(b)
Gambar 20. (a) Loading Screen dari SoMachine Basic (b) Tampilan awal pada
SoMachine Basic
3.2.Prodesur Percobaan
a. Siapkan alat dan bahan
b. Wiring dan tentukan input/output mixing tank ke input dan output PLC Schneider
TM221ME16R
Tabel 1.1 Input dan Output PCT 17 ke PLC Schneider TM221ME16R
Mixing Tank Plant I/O PLC Schneider TM221ME16R

Saklar On

Sensor 1 HH

Sensor 2 H

Sensor 3 L

Sensor 4 LL

Indikator Lampu Hijau

Indikator Lampu Kuning

Indikator Lampu Merah

Pompa In

Pompa Out

Buzzer
c. Lakukan pemrograman pada SoMachine Basic dengan plant berjalan dalam
kondisi normal, yakni air yang mulanya berada diantara sensor high dan low akan
bergerak naik dan turun dengan menggunakan pompa in/out. Akan tetapi, level air
tidak melampaui sensor high dan low. Kondisi normal juga ditandai dengan
indikator lampu hijau dan mixer yang menyala.
d. Setelah itu berikan kondisi disturbance berupa pompa in/out yang tidak berhenti
meskipun level air telah mencapai sensor high atau low. Dalam kondisi ini
indikator lampu kuning menyala dan mixer mati.
e. Berikan aksi berupa shutdown sistem atau alarm ketika level air mencapai sensor
high-high atau low-low guna memberikan proteksi pada plant. Dalam kondisi ini
buzzer dan indikator lampu merah menyala selama 5 detik kemudian plant
berhenti secara total (shutdown).