Anda di halaman 1dari 18

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN

A. UMUM

1. Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan ini terdiri dari pengumpulan dan analisa data sekunder, dimana data data
yang terkumpul minimum terdiri dari :

1. Peta lokasi yang sementara dilaksanakan


2. Peta rupa bumi
3. Kondisi lokasi baik itu letak geografis, pencapaian iklim, hidrologi dan kemiringan
lahan.

2. Penelitian Lapangan

Dilakukan untuk mengetahui keadaan di lapangan yang sebenarnya dan


mengkorelasikannya dengan hasil data sekunder, dimana hasil penelitian ini akan
diplotkan kedalam peta tata ruang dilapangan.
Pekerjaan ini mencakup pekerjaan:

1. Pengukuran untuk mengetahui evaluasi dari kemiringan lahan dalam lokasi yang
kondisinya berbukit dan jarak jalur pipa yang akan dipergunakan.
2. data hasil pengukuran dipakai untuk menentukan :
a. titik letak bak intake, dimana bak ini diperlukan sebanyak 1 buah untuk
menampung air yang berasal dari mata air. Bak intake ini diletakkan pada puncak
ketinggian mengingat sarana air bersih ini menggunakan system perpipaan gaya
gravitasi yang terbuat dasi pasangan batu.
b. Titik letak bak Penampung ( reservoir ) yang dibutuhkan sebanyak 1 buah setelah
Pemasangan Bak Intake.
c. Jalur pipa di distribusikan dari bak intake ke bak penampung selanjutnya ke
perkampungan dan ke fasilitas umum. Bahan pipa yang digunakan adalah pipa Gip
4inch medium B, PVC S.12,5 dia 3 & 2 inch.
d. Pekerjaan jembatan pipa bila ada jalur pipa yang memotong alur sungai dengan
menggunakan pipa GIV medium B.
e. Pekerjaan Hidran Umum
f. Pekerjaan Box Wash out
g. Pekerjaan finising, meliputi pengetesan jaringan, pengecetan bak penampung &
pembersihan sisa pekerjaan.
h. Pipa yang telah tersambung telebih dahulu dites, maksudnya untuk mengetahui
apabila ada kebocoran.

3. Uraian syarat-syarat dan gambar kerja

Uraian syarat-syarat teknis spesifikasi dan gambar kerja digunakan sebagai pedoman
dasar dalam pelaksanaan pekerjaan ini, serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari uraian dan syarat-syarat ini.

Jika dalam gambar terdapat kekurangan kejelasan atau perbedaan-perbedaaan,


kontraktor diwajibkan menanyakan kepada direksi serta membuat gambar-gambar
pelengkap atas petunjuk-petunjuk direksi dan disahkan oleh pimpinan proyek.

Tidak dibenarkan samasekali bahwa kontraktor untuk memperbaiki sendiri hal-hal


tersebut di atas. Akibat kelalaian kontraktor dalam hal ini sepenuhnya menjadi tanggung
jawab kontraktor.

4. Pengamanan

Setelah kontraktor mendapatkan batas-batas daerah kerja dan lain sebagainya


maka kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala yang ada di daerahnya mengenai
:
a. Kehilangan clan kerusakan dan bahan yang ada di lokasi pekerjaan
b. Kecelakaan dan keselamatan kerja sepenuhnya merupakan tanggung jawab
kontraktor.
5. Rencana Kerja

Sebelum dimulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, kontraktor harus bersama-sama


dengan direksi mendiskusikan rencana kerja dan rencana waktu pelaksanaan setelah
pelulusan pekerjaan.
Dua hari sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus memberi tahu Direksi agar
petugas setempat dapat diberi tahu akan adanya kegiatan. pelaksanaan.
Kontraktor harus menyerahkan secara rinci :

a. Jadwal pelaksanaan proyek sesuai persyaratan kontrak.


b. Alat yang akan digunakan clan spesifikasi alai.
c. Bahan utama yang harus disediakan sesuai dengan spesifikasi yang diusulkan dalam
penawaran.
d. Tenaga ahli dan tenaga terampil yang berpengalaman yang dipekerjakan.
e. Tenaga kerja yang akan dipekerjakan.
f. Rencana secara rinci tentang cara yang akan diusulkan untuk pelaksanaan
dilapangan yang berhubungan dengan kontruksi. Rencana kerja ini akan
dipakai oleh Direksi sebagai dasar untuk menentukan segala sesuatu yang
berhubungan, dengan keterlambatan pekerjaan clan prestasi kontraktor.
g. Contoh Bahan
Kontraktor harus menyampaikan contoh bahan kepada Direksi dengan mutu bahan
yang diusulkan pemakaiannya. Bila tidak sesuai sebagaimana contoh yang
disetujui, kontraktor harus mengeluarkan bahan tersebut dari lapangan clan harus
menggantinya dengan yang ditentukan.
h. Jaminan akan bahan / material yang akan dipakai. Bahan / material yang ditawarkan
sesuai jumlah yang diberikan harus dipenuhi dalam pelaksanaan pekerjaan
sebenarnya. Jika menyimpang maka kontraktor harus menggantinya sesuai dengan
penawaran.
6. Pembersihan Lapangan
Kontraktor harus mengusahakan agar lapangan tetap bersih, ticlak ada sisa-sisa material
atau sampah yang berserakan. Setelah penyempurnaan pekerjaan maka segala bahan-
bahan sisa , sampah-sampah dan kontruksi sementara harus dikeluarkan dari
lapangan sehingga keadaan lapangan kembali seperti ke keadaan semula.

7. Laporan Foto Lapangan dan Sebagainya

Kontraktor harus membuat foto pelaksanaan pekerjaan dimulai dari persiapan


mobilisasi bahan, tiap-tiap pekerjaan yang sedang clikerjakan maupun yang telah selesai
dikerjakan, sedangkan laporan foto kemajuan bulanan dilakukan sesuai dengan
persyaratan kontrak.

Laporan Kemajuan Pekerjaan


Laporan harian, minguan dan bulanan tentang tentang kemajuan pekerjaan harus dibuat
oleh kontraktor. Laporan tersebut harus menggambarkan banyaknya pekerjaan yang
telah diselesaikan, bahan yang dipakai sebelumya, bahan di dalam gudang, jumlah
pegawai dan pekerja yang melaksanakan pekejaaan lapangan dan jumlah akumulatif
semua kegiatan yang telah diselesaikan atau sedang dilaksanakan yang hasil akhirya
dihitung dalam bobot presentase terhadap seluruh kegiatan.
Bersamaan dengan penyampaian laporan mingguan rencana kerja yang akan
dilaksanakan dalam minggu berikutnya juga disampaikan secara resmi kepada pemberi
tugas.

8. Gambar dan Buku Persyaratan di Lapangan


Dilapangan Kontraktor harus menyimpan dengan baik sate salinan semua gambar, buku
persyaratan, catatan tambahan ( agenda ), gambar yang disetujui. Perintah perubahan
lainnya, dalam keadan baik Berta ditandatangani dengan catatan tersebuat juga
tersedia untuk Direksi.

9. Gambar Sesuai Pelaksanaan


Kontraktor harus membuat ghambar-gambar ABD ( As Build Drawing ) sesuai
pelaksanaan memenuhi pasal yanberkaitan dalam hal tersebut dari persuaratan
umum kontraktor dalam rangkap 6 ( enam ).
Gambar-gambar sesuai dengan pelaksanaan untuk kontrak ini harus dibuat dengan
menggunakan peta-peta yang ditentukan oleh Direksi. Kontraktor harus
mengunakan tanda-tanda dan ketebalan garis menurut lampiran yang terkait dari
dokumen ini.

10. Force Majeure


a. Yang dianggap sebagai Force Majeure adalah akibat-akibat dari kejadian di luar
kemampuan pemborong baik langsung maupun tidak langsung antara lain
malapetaka alam meliputi :
 Gempa Bumi
 B a nj i r
 Taufan
 Petir
 Kebakaran
 Sabotase
Kejadian-kejadian akibat termasuk yang timbul selama pelaksanaan berlangsung,
kontraktor diharuskan melapor mengajukan persoalannya kepada Direksi dalam
waktu paling lambat 3 x 24 Jam.
b. Jika waktu sebagaimana dinyatakan dalam ini telah dilampaui sedangkan
laporan belum juga disampaikan maka kontrakor kehilangan haknya untuk
mengajukan claim dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pasal ini.
c. Dalam hal ini untuk lancarnya pekerjaan haruslah ada kerjasama yang baik antara
Kontraktor, Konsultan Supervisi/Penyedia dan Direksi.

11. Kenaikan Harga


Harga borongan adalah harga coati ( fixed price ), baik harga kontrak maupun harga
satuannya.
Apabila selama masa pelaksanaan terjadi kenaikan harga untuk pekerjaan ini maka
tidak diadakan perhitungan Fluktuasi h arga. Kon trakto r sudah h aru s
memperhitungkan kenaikan harga dalam penawaranya.

12. Testing Dan Commissioning

1. Sebelum Testing dan Commisioning dilaksanakan pemborong wajib mengajukan


terlebih dahulu program Testing dan Commisioning.

2. Pemborong instalasi ini harus melakukan semua testing dan pengukuran yang
dianggap perlu dan atau yang diminta oleh Direksi / Konsultan Pengawas, apakah
keseluruhan instalasi dapat berfungsi dengan baik dan dapat memenuhi semua
persyaratan yang diminta.

3. Semua bahan, perlengkapan dan instalasi lain yang diperlukan untuk mengadakan
testing tersebut merupakan tanggung jawab Pemborong.

B. PEKERJAAN PEMBANGUNAN INTAKE

1. Pekerjaan Persiapan
a. Lokasi bangunan Intake harus dibersihkan dari segala ketoran yang dapat
mengganggu pelaksanaan pekerjaan konstruksi
b. Pembuangan kotoran harus harus ditempat yang sudah ditentukan, tidak
mengganggu pelaksanaan pekerjaan dan lingkungan.
c. Pengukuran batas siku dan peil bangunan harus dilakukan dengan benar. Pengukuran
dan hasil pengukuran harus dapat persetujuan dari Direksi/Supervisi. Ketinggian
bouwplank.
d. Bouwplank harus diikat ketinggiannya dari peil pokok yang sudah ditentukan oleh
Direksi/Supervisi. Ketinggian Bouwplank diberi dengan tanda cat warna merah.
e. Bouwplank harus dipasang dengan kuat sehingga tidak berubah kedudukannya.
f. Bahan patok bouwplank harus dari kayu yang kuat.

2. Pekerjaan Galian

a. Galian dibuat sesuai dengan gambar teknis/kondisi lapangan.


b. Dimensi galian mengikuti gambar teknis/kondisi lapangan,
c. Kemiringan galian harus diperhatikan stabilitas lereng sehingga galian tidak longsor.
d. Dasar galian harus dalam dan rata kecuali dinyatakan lain.
e. Tanah galian yang berkualitas tidak dapat digunakan sebagai tanah urug.
f. Tanah galian yang tidak dipakai harus dibuang ditempat yang sudah ditentukan
oleh Direksi/Supervisi sehingga tidak menganggu pelaksanaan pekerjaan dan
lingkungan.

3. Pasangan Batu Kali


a. Pasangan batu kali dimaksudkan sebagai dinding Intake, dimensi pondasi sesuai
dengan gambar tekhnis.
b. Pasangan batu kali menggunakan spesi campuran 1 : 3
c. Batu yang digunakan harus batu kali belah, atau batu gunung belah, kuat, bersih
tidak porous dan tidak retak.
d. Pasir yang digunakan sebagai campuran spesi harus pasir berkualitas baik, bersih dari
kotoran yang dapat merusak konstruksi dan berkadar Lumpur maksimum 5 %.
e. Air yang digunakan harus bersih dari segala kotoran yang dapat merusak konstruksi.
f. Semen yang digunakan harus jenis PC.
g. Batu yang dipasang harus dibasahi secara merata sampai jenuh sebelum dipasang.
h. Pemasangan batu kali harus dengan baik, Saling mengikat satu sama lain.
i. Pemasangan batu kali harus menghindari rongga-rongga yang terlalu banyak
diantara pasangan batu kali.

4. Instalasi Pipa Pada Intake


a. Jenis pipa yang digunakan pada intake terdiri dari pipa outlet, pipa screen, dan
pipa penguras.
b. Untuk outlet menggunakan pipa Steel standar SNI dia. 4 inch, pipa penguras
mengunakan Pipa Steel Standar SNI dia. 4 inch, dan Pipa Screen menggunakan
Pipa Steel standar SNI dia 4 inch.
c. Khusus untuk pipa screen diberi penyaring kotoran yang sesuai dengan gambar
yang telah ditentukan.
C. PEKERJAAN PEMBANGUNAN RESERVOIR

1. Pekerjaan Persiapan

a. Lokasi bangunan reservoir harus dibersihkan dari segala kotoran yang dapat
mengganggu pelaksanaan pekerjaan kontuksi dan diratakan minimal 2 meter dari
bangunan.
b. Pembuangan kotoran harus harus ditempat yang sudah ditentukan, tidak
menggangu pelaksanaan pekerjaan dan lingkungan.
c. Pengukuran batas siku dan peil bangunan harus dilakukan dengan benar.
Pengukuran dan hasil pemgukuran harus dapat persetujuan dari Direksi/Supervisi.
Ketinggian bouwplank.
d. Bouwplank harus diikat ketinggiannya dari peil pokok yang sudah ditentukan oleh
Direksi/Supervisi. Ketinggian Bouwplank diberi dengan tanda cat warna merah.
e. Bouwplank harus dipasang dengan kuat sehingga tidak berubah kedudukannya.
f. Bahan patok bouwplank harus dari kayu yang kuat.

2. Pekerjaan Galian

a. Galian dibuat sesuai dengan gambar teknis/kondisi lapangan.


b. Dimensi galian mengikuti gambar teknis/kondisi lapangan.
c. Kemiringan galian harus diperhatikan stabilitas lereng sehingga galian tidak longsor.
d. Dasar galian harus dalam dan rata kecuali dinyatakan lain.
e. Tanah galian yang berkualitas tidak dapat digunakan sebagai tanah urug.
f. Tanah galian yang tidalk dipakai harus dibuang ditempat yang sudah ditentukan oleh
Direksi/Supervisi sehingga tidak menganggu pelaksanaan pekerjaan dan lingkungan.

3. Pekerjaan Urugan Tanah

a. Tanah urug yang digunakan sebagai urungan tana harus berkualitas baik, bersih dari
kotoran yang dapat merusak kontruksi
b. Pembukaan tanah urungan harus datar clan rata
c. Pengurangan dilakukan selapis demi selapis dan dipadatkan. Ketebalan maksimum
setiap lapis 5 cm padat. Ketebalan urungan sesuai dengan gambar teknis.
d. Dimensi dan bentuk urungan harus dibuat sesuai dengan gambar teknis.

4. Pekerjaan Urungan Pasir

a. Pasir yang digunakan sebagai urungan pasir yang berkualitas baik, bersih dari
kotoran yang dapat merusak kontruksi dan berkadar Lumpur maksimum 20%.
b. Pengurungan dilakukan selapis demi selapis dan dipadatkan. Ketebalan maksimum
setiap lapis 5 cm padat. Ketebalan urungan sesuai dengan gambar teknis.

a. Beton yang digunakan adalah beton mutu K. 200.


b. Bahan beton terdiri dari semen, pasir, Kerikil saring dan besi sebagai tulangan.
c. Semen yang digunakan harus semen jenis PC.
d. Pasir yang digunakan harus pasir yang berkualitas baik, bersih dari kotoran
yang dapat merusak kontruksi, berkualitas baik dan berkadar Lumpur maksimum 5%.
e. Kerikil Saring yang digunakan harus batu yang berkualitas baik, keras tidak porous,
bersih dari bahan-bahan yang dapat merusak konstruksi, dengan ukuran seragam
diameter antara 2-3 cm
f. Air yang digunakan harus air tawar, bersih dari segala ketoran yang dapat merusak
konstruksi.
g. Besi tulangan menggunakan besi yang memenuhi standar SLL, diameter tulangan
sesuai dengan gambar teknis.
h. Begesting dibuat dari papan kayu tebal 2cm atau triplek 6 mm.
i. Penyambungan papan begesting harus rapi kuat , tidak bocor dan bagian dalam harus
rata.
j. Begestng harus kuat menahan beban selama masa pekerjaan.
k. Pemasangan besi beton harus memenuhi syarat teknis dan mendapat persetujuan
dari Direksi/Supervisi.
l. Beton bertulang digunakan untuk plat dasar, dinding vertical, dinding penyekat dan
plat penutup
m. Beton tidak bertulang digunakan untuk lantai kerja
n. Permukaan beton pada bangunan reservoir diperhalus dengan cara acian.

D. PENGADAAN/PEMASANGAN PIPA DAN ACCESSORIES

1. Pekerjaan Persiapan.

a. Pemeriksaan patok-patok sepanjang jalur perpipaan oleh Kontraktor bersama


dengan Direksi/Supervisi. Apabila terdapat kesulitan menemukan patok-patok yang
hilang, patok pengganti segera dibuat dengan persetujuan Direksi/Supervisi.
b. Jalur pipa harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang dapat mengganggu
pelaksanaan pekerjaan.
c. Pembuangan ketoran harus ditempat yang sudah ditentukan, tidak mengganggu
pekerjaan.

2. Pekejaan Galian

a. Galian dibuat sesuai dengan gambar teknis/kondisi lapangan.


b. Dimensi galian mengikuti gambar teknis atau kondisi lapangan.
c. Kemiringan galian harus diperhatikan stabilitas lereng sehingga galian tidak longsor.
d. Galian dasar harus dalam dan rata kecuali dinyatakan lain.
e. Tanah galian yang berkualitas baik dapat digunakan sebagai tanah urug.
f. Tanah galian yang tidak terpakai harus dibuang ditempat yang sudah ditentukan oleh
Direksi/Supervisi sehingga tidak menggangu pelaksanaan dan pekerjaan dan
lingkungan.

3. Pekerjaan Urugan Tanah

a. Tanah urug yang digunakan sebagai tanah urungan harus tanah yang berkualitas
baik, bersih dari ketoran yang dapat merusak kontruksi.
b. Permukaan tanah urungan harus datar dan rata.
c. Pengurungan dilakukan selapis demi selapis dan dipadatkan. Ketebalan maksimum
setiap lapis 5 cm padat. Ketebalan urungan sesuai dengan gambar teknis.
d. Dimensi dan bentuk urungan harus dibuat sesuai dengan gambar teknis.

4. Pekerjaan Perpipaan

a. Pipa yang digunakan harus 100% baru, tidak rusak dan tidak cacat.
b. Pipa-pipa air harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak ada hawa busuk yang
keluar dari pipa tersebut, tidak ada rongga-rongga udara, letaknya lurus dan rata.
c. Pipa-pipa panjang tak bersambung harus dipakai pada konstruksi saluran-saluran
pipa (sesuai dengan panjang pipa normalisasi), kecuali jika panjang yang dibutuhkan
tidak membutuhkan seluruh panjang.
d. Pipa-pipa harus dipasang sedemikian rupa hingga tidak banyak dilakukan tekanan-
tekanan.
e. Bahan pipa transmisi dan distribusi menggunakan pipa PVC Standar SNI dan pipa PVC
3 & 2 Inch yang memenuhi Standar SNI atau ISO.
f. Accessories yang dipasang harus memenuhi standar SNI dan ISO yang berlaku.
g. Sebelum dipasang bagian dalam pipa dan perlengkapan pipa harus dibersihkan dari
kotoran-kotoran yang menganggu.
h. Pemasangan pipa harus diperhatikan sudut kemiringan pipa sehingga dapat mengalir
dengan baik.
i. Penyambungan pipa menggunakan socket atau reducer. Pada percabangan
menggunakan tee atau tee cross sesuai dengan percabangan.
j. Pemotongan pipa harus menggunakan alat yang sesuai dengan jenis pipa. Hasil
pemotongan harus baik sesuai dengan maksud dan tujuan pemotongan.
k. Penyambungan pipa
 Sambungan dengan menggunakan lem
a) Penyambungan antara pipa PVC dan fitting mempergunakan sambungan
solvent cement atau lem berlaku untuk ukuran sesuai yang dipersyaratkan.
b) Semua pemotongan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda atau
peralatan lainnya yang sesuai sehingga hasil potongan sesuai standar.
c) Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas cutter dengan
reamer.
d) Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.
l. Elbow atau bend digunakan pada belokan vertical dan horizontal pipa.
m. Sudut belokan pipa harus tidak melebihi dari sudut belokan yang ditentukan oleh
pabrik.
l. Pemasangan accessories harus sesuai dengan gambar teknis. Kedudukan pipa harus
benar-benar pada peil yang telah ditentukan.
m. Pada saat pemasangan pipa, parit galian harus dalam, keadaan kering.
n. Semua ujung pipa yang terakhir harus ditutup dengan dop dan diperkuat dengan
o. Pemasangan Katup Udara dan Penanda Jaringan Pipa dilakukan di setiap maksimal
per 1000 m atau disesuaikan dengan kondisi di lapangan melalui persetujuan Direksi
dan Supervisor.
p. Jenis dan kualitas bahan
 Pipa-Pipa PVC :
- menggunakan pipa PVC S.12,5 dan produksi atau merk yang sudah mendapat
klasifikasi SNI / SII.
- fitting-fittingnya harus standart, dikeluarkan oleh pabrikan yang disetujui dan
sama dengan yang memproduksi pipa serta harus disambungkan dengan
memakai rubber ring joint sesuai instruksi pabrikan.
s. Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup, minimum 60 cm di
bawah tanah, di bawah pipa air minum.
t. Pemadatan dasar galian sekaligus membuang benda-benda keras.
u. Pipa yang telah tersambung dilettakan di atas dasar (dudukan).
v. Thrust Block dipasang di setiap perubahan arah pipa bawah tanah baik vertical
maupun horizontal.

E. PEKERJAAN PIPA PELINTAS

a. Letak pipa harus mendapat persetujuan dari Direksi/Supervisi.


b. Pipa pelintas dibangun pada pelintasan sungai atau saluran air.
c. Konstruksi pipa pelintas harus sesuai dengan gambar teknis.
d. Pekerjaan ini meliputi Pekerjaan Galian Tanah, Urugan Tanah Kembali, Pek. Beton
Pengikat Pipa GIP Ø 2" (Trush Block), Pekerjaan Bekisting Tiang (Trush Block), Pek.
Pembesian Beton, dan Pas pipa GIVØ 3" (casing pipa uantuk pipa PVC Ø 2")

F. PEKERJAAN HIDRAN UMUM

1. Pekerjaan Persiapan

a. Lokasi bangunan hidran Umum harus dibersihkan dari segala kotoran yang dapat
mengganggu pelaksanaan pekerjaan kontuksi dan diratakan minimal 2 meter dari
bangunan.

f. Pembuangan kotoran harus harus ditempat yang sudah ditentukan, tidak


menggangu pelaksanaan pekerjaan dan lingkungan.
g. Pengukuran batas siku dan peil bangunan harus dilakukan dengan benar.
Pengukuran dan hasil pemgukuran harus dapat persetujuan dari Direksi/Supervisi.
Ketinggian bouwplank.
h. Bouwplank harus diikat ketinggiannya dari peil pokok yang sudah ditentukan oleh
Direksi/Supervisi. Ketinggian Bouwplank diberi dengan tanda cat warna merah.
i. Bouwplank harus dipasang dengan kuat sehingga tidak berubah kedudukannya.
f. Bahan patok bouwplank harus dari kayu yang kuat.

g. Letak Hidra Umum disesuaikan dengan gambar rencana.

2. Pekejaan Galian

d. Galian dibuat sesuai dengan gambar teknis/kondisi lapangan.


e. Dimensi galian mengikuti gambar teknis atau kondisi lapangan.
f. Kemiringan galian harus diperhatikan stabilitas lereng sehingga galian tidak longsor.
3. Pekerjaan Urugan Tanah

a. Tanah urug yang digunakan sebagai urungan tana harus berkualitas baik, bersih dari
kotoran yang dapat merusak kontruksi
b. Pembukaan tanah urungan harus datar clan rata
4. Pekerjaan Pas. Batu & Beton

a. Pekerjaan pasangan batu kali dengan komposisi campuran 1 SP : 4 PP


b. Pekerjaan Rabat Beton tanpa tulang dengan mutu beton f=74Mpa (K 100) slum 3-6
cm , w/c= 0,87
c. Pemasangan 1 m2 dinding bata merah (5x11x22) cm tebal 1/2 batu campuran
1SP:2PP
4. Pek. Hirdan Umum

a. Hidran Umum kapasitas 1000 liter sebanyak 4 Unit

b. Instalasi pipa pada hidran umum meliputi pemasangan , Pas. Pipa PVC S12,5 - Ø2"
Pas. Pipa PVC S12,5 - Ø3/4", Elbow PVC S12,5 - Ø2", Elbow PVC S12,5 - Ø3/4", Tee
PVC S12,5 - Ø2", Kran PVC S12,5 - Ø2", Kran PVC S12,5 - Ø3/4", Valve Socket PVC
S12,5 - Ø3/4",

c. Penutup box stop kran terbuat dari beton.

G. PEKERJAAN BOX WASH OUT

1. Pekejaan Galian

a. Galian dibuat sesuai dengan gambar teknis/kondisi lapangan.


b. Dimensi galian mengikuti gambar teknis atau kondisi lapangan.
2. Pekerjaan Urugan Tanah

a. Tanah urug yang digunakan sebagai urungan tana harus berkualitas baik, bersih dari
kotoran yang dapat merusak kontruksi
b. Pembukaan tanah urungan harus datar clan rata
4. Pekerjaan Pas. Batu & Beton

a. Pemasangan 1 m2 dinding bata merah (5x11x22) cm tebal 1/2 batu campuran


1SP:2PP
b. Pemasangan 1 m2 plesteran 1SP:2PP tebal 15mm
c. Pekerjaan beton mutu f' = 7,4 Mpa (K 100), slump (3-6) cm, w/c = 0,87

5. Pekerjaan Kran dan Penutup beton

a. Menggunakan Kran PVC S12,5 - Ø2"


b. Penutup box Stop kran (Plat Penutup Dari beton)

H. PEKERJAAN FINISHING

1. Pekerjaan Pengetesan Perpipaan dan Pembersihan Pipa

a. Pengujian pekerjaan instalasi seperti diuraikan dalam ayat-ayat berikut harus


dilaksanakan sebelum pekerjaan finishing dimulai :
 Pengujian dalam hal ini berlaku untuk keseluruhan instalasi sistem perpipaan.
 Pengujian jaringan instalasi :
1. Semua pipa-pipa serta saluran-saluran utama harus diuji hingga tekanan
hidroliknya 7 kg/cm2 atau sekurang-kurangnya 2 kali tekanan biasa untuk
pipa air bersih tanpa mengalami kebocoran. Air harus dipaksa memasuki
saluran-saluran utama dengan pompa dan dibiarkan mengalir dengan
tekanan yang ditentukan selama (empat) jam tanpa mengalami perubahan
tekanan. Pada prinsipnya pengujian dilakukan bagian demi bagian dari
panjang maksimum 100 m. Biaya pengetesan serta alat-alat yang diperlukan
adalah tanggung jawab pemborong / kontraktor.
2. Tidak boleh menutup bagian pipa atau fittingnya sebelum disetujui oleh
pengawas.
 Pengujian harus disaksikan oleh Direksi / Konsultan Pengawas dengan diketahui
oleh Pimpro atau yang mewakili.
 Pengujian dilakukan dengan menjalankan seluruh sistem atau peralatan yang
dipakai dalam sistem yang dimaksud.
 Pemborong / kontraktor harus membuat berita acara pengujian.
 Segala cacat yang ada harus diperbaiki oleh pemborong atas biaya sendiri, sampai
disetujui pemberi tugas / pengawas. Peralatan dan fasilitas untuk pengujian harus
disediakan oleh pelaksana.
b. Penimbunan kembali dari hasil galian tidak boleh dilakukan sebelum proses
pengetesan pipa dinyatakan selesai.
c. Pengetesan dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan sambungan dan mengetahui
kebocoran pada pipa dan sambungan pipa.
d. Pengetesan dilakukan bagian per bagian dari keseluruhan panjang pipa. Panjang
setiap bagian pipa tidak melebihi dari 100 M.
e. Pengetesan dilakukan dengan cara hidrostatis pressure test dan leakage test.
f. Bila pada saat pengetesan terjadi kerusakan pada perpipaan kontraktor diwajibkan
memperbaiki atas biaya kontraktor.
g. Bila pada saat pengetesan ditemukan hal-hal yang tidak memenuhi persyaratan,
kontraktor memperbaiki sehingga memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
h. Pengetesan harus disaksikan dan disetujui oleh Direksi/superfisi.
i. Setelah diyakini bahwa jaringan perpipaan sudah sempurna maka dilakukan
pembersihan pipa.
j. Air yang digunakan untuk pembersihan pipa harus benar-benar air bersih yang
mendapatkan persetujuan dari Direksi/Supervisi.
k. Ujung-ujung pipa dan lubang-lubang harus ditutup selama pemasangan, untuk
mencegah kotoran memasuki pipa.
2. Pengecetan Bak Penampung

1. Sebelum pekerjaan pengecetan dilaksanakan bidang permukaan yang akan dicat


harus dibersihkan terlebih dahulu dari cat-cat seperti kotoran-kotoran, karat besi
dan lainlain, kemudian dicat dasar terlebih dahulu, lalu dicat dengan warna
sesuai petunjuk dari direksi/pengawas lapangan
2. Warna dan bahan dari cat yang akan digunakan harus dikonsultasikan dengan pihak
direksi
3. Pekerjaan pengecetan harus dilakukan serapi mungkin serta memberi warna yang
merata

3. Pembersihan sisa pekerjaan

1. Kelebihan tanah urugan /galian yang telah terpakai lagi harus dibuang ketempat yang
lain ditentikan direksi/pengawas lapangan
2. Sisa-sisa material bekas pasangan dan lains ebagainya harus diangkut dan dibuang
jauh sehingga lokasi dimana pekerjaan dilaksanakan menjadi bersih /rapih dan hal
ini adalah tanggung jawab penyedia jasa Dan semua jenis sisa material pada
pekerjaan ini terdapat dipinggir jalanan segera disingkirkan dan dibersihkan
secepatnya agar tidak mengganggu arus lalu lintas dan pemandangan

I. PENYERAHAN PEKERJAAN

1. Setelah pekerjaan selesai seluruhnya dan kegiatan pengetesan telah seluruhnya


diselesaikan clan berhasil baik dapat dlakukan penyerahan pertama dengan berita
acara penyerahan pertama.

2. Setelah penyerahan pertama pemborong masih tetap diwajibkan untuk memelihara


Seluruh pekerjaan sampai dengan jangka waktu 180 ( seratus delapan puluh ) hari
setelah penyerahan pertama.
3. Pemborong diwajibkan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi di
dalam kurun waktu masa pemeliharaan.

4. Penyerahan terakhir pekerjaan baru dapat dilaksanakan setelah masa pemeliharaan


selesai dan seluruh jaringan pipa dan perlengkapan dinyatakan bekerja dengan baik
yang tertuang dalam berita acara penyerahan pekerjaan.

5. Berita acara penyerahan pekerjaan baik yang pertama atau yang terakhir harus
ditandatangani wakil pemborong dan Direksi/Supervisi.