Anda di halaman 1dari 14

Epidural Hemorragie Sebagai Akibat Cidera pada Kepala

Jordy Agnios

102015087

B7

Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510

Email korespondensi: jordy.2015fk87@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Sistem saraf pada manusia megatur aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, sistem saraf ini
sangatlah penting bagi manusia. Sistem daraf ini dibagi menjadi dua, yakni sistem saraf pusat
dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat meliputi otak dan batang otak (medulla oblongata),
sedangkan sistem saraf tepi meliputi medulla spinalis. Keduanya dilindungi oleh tulang dan
meninges. Otak terbagi lagi menjadi beberapa bagian dan memiliki sistem perdarahannya, serta
jalur sarafnya sendiri. Sistem saraf ini pada dasarnya berfungsi sebagai jaringan penghantar
informasi dan respon di seluruh tubuh kita yang disusun oleh satuan sel neuron. Neuron terbagi
lagi menjadi tiga bagian yang memiliki peran tertentu dalam serangkaian proses penghantaran
informasi berupa impuls. Bagian-bagian saraf ini menempati tempat khusus, baik pada otak
maupun medulla spinalis, yang disokong oleh sel glia.
Abstract
Nervous system of human being coordinates human activity. That is why nervous system is
vital to human life. Nervous system is divided into central nervous system and peripheral
nervous system. Central nervous system includes brain and brain stems, while peripheral
nervous system includes spinal cord. Both are protected by bones and menings. Brain is divided
into several parts and have its own vascularisation system, also its own nervous pathways.
Nervous system basically is the tissues that acts in delivering informatio and responses through
the body that is constructed of neurons. Neuron is also divided into three parts, which function
is specific in order to deliver nervous information or impulse. Each part takes place in certain
area, both in brain and spinal cord, that is supported by glial cell.
Pendahuluan

Sistem saraf manusia terbagi atas sistem saraf tepi dan sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi
meliputi semua serabut saraf yang berada di luar otak atau sumsum belakang.1 Sedangkan
sistem saraf pusat meliputi bagian yang mengatur kerja saraf tepi yang terdapat di otak, batang
otak, dan sumsum belakang, yang terletak di dalam cavitas cranii.1,2 Otak itu sendiri terdiri dari
2 bagian besar, yaitu otak besar dan otak kecil. Di dalam kepala otak dibungkus oleh 3 selaput
otak (meningen). Yang paling luar adalah selaput otak keras atau dura mater. Di lapisan
bawahnya terdapat selaput otak lunak, yang terdiri dari lapisan arachnoid dan lapisan pia mater.
Lapisan pia mater melekat sangat erat dan mengikuti lekukan permukaan otak. Antara kedua
lapisan terakhir ini terdapat lapisan subarachnoid (subarachnoid space) yang mengandung
cairan otak (cerebrospinal fluid, LCS).1 Otak dilanjutkan sebagai medulla spinalis setelah
meialui foramen magnum.2

Baik sistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi, secara histologis, dibentuk oleh sistem saraf
yang dibentuk oleh jejaring yang tersusun atas miliaran sel saraf (neuron), yang kesemuanya
ditunjang oleh sejumlah besar sel glia. Neuron berespons terhadap perubahan lingkungan
(stimulus) dengan mengubah gradien ion yang terdapat di antara permukaan membran dalam
dan luar. Setiap neuron memiliki ratusan hubungan dengan neuron lain, dan membentuk sistem
yang sangat kompleks untuk pengolahan informasi dan pembangkitan respons.3 Melalui
respons inilah manusia beraktivitas dan bertahan hidup.

Struktur Tulang Cranium

Tengkorak (Cranium) disusun dari beberapa tulang yang saling bersendi pada sendi yang tidak
bergerak disebut sutura. Jaringan ikat di antara tulang-tulang disebut ligamentum suturale.
Mandibula merupakan perkecualian dari sistem ini, karena tulang ini berhubungan dengan
cranium melalui articulatio temporomandibularis yang bergerak. Tulang-tulang tengkorak
dapat dibedakan menjadi cranium dan tulang-tulang wajah. Calvaria adalah bagian atas dari
cranium, dan basis cranii adalah bagian paling bawah dari cranium. Tulang-tulang ini diliputi
pada permukaan luar oleh periosteum. Cranium terdiri dari tulang-tulang berikut, yakni os
frontal, os parietale, os occipitale, os temporale, os ethmoidale, dan os sphenoidale. Sedangkan
tulang-tulang wajah meliputi os zygomaticum, maxilla, os nasale, os lacrimale, vomer, os
palatinum, concha nasalis inferior, dan mandibula.2

Jaringan Saraf

Jaringan saraf merupakan salah satu dari empat jaringan dasar dalam tubuh, khusus menerima
informasi dari lingkungan luar dan dalam. Informasi ini diolah, dijadikan satu dan
dibandingkan dengan pengalaman yang disimpan dan/atau menentukan jawaban yang sesuai.4
Jaringan saraf berkembang dari lapisan embrional luar atau ektoderm. Dengan sinyal dari
notokord, struktur aksial di bawahnya, ekstoderm di sepanjang sisi mid-dorsal embrio menebal
membentuk lempeng saraf yang berepitel. Sisi lateral lempeng ini terlipat ke atas, tertekuk dan
tumbuh mendekat ke arah medial dan dalam beberapa hari menyatu membentuk tubus neuralis.
Sel-sel tubus neuralis menghasilkan keseluruhan SSP, yang meliputi neurory sel glia, se1
ependim dan sel epitel plexus choroideus.3
Sistem saraf terdiri dari jalinan komunikasi sel-sel saraf yang sangat rumit, yang menerima dan
menghantarkan impuls di sepanjang akson atau jalur saraf ke SSP untuk dianalisis,
diintegrasikan, diterjemahkan, dan ditanggapi. Pada akhirnya, respons yang sesuai terhadap
suatu rangsangan dari neuron SSP adalah aktivasi otot (rangka, polos, jantung) atau kelenjar
(endokrin atau eksokrin). Sel struktural dan fungsional jaringan saraf adalah neuron.5 Neuron
terdiri atas tiga bagian: badan sel, atau perikarion yang merupakan pusat trofik atau sintesis
untuk keseluruhan sel saraf dan juga menerima stimulus; dendrit, yaitu prosessus panjang yang
dikhususkan untuk menerima stimulus dari lingkungan, sel-sel epitel sensorik, atau dari neuron
lain; dan akson, yang merupakan suatu prosessus tunggal yang dikhususkan untuk menciptakan
atau menghantarkan impuls saraf ke sel-sel lain (sel saraf, sel otot, dan sel kelenjar).3 Badan
sel atau soma mengandung nukleus, nukleolus, berbagai organel, dan sitoplasma atau
perikarion. Dari badan sel muncul tonjolan-tonjolan sitoplasma yang disebut dendrit yang
membentuk percabangan dendritik. Neuron dikelilingi oleh sel penunjang yang lebih kecil dan
lebih banyak yaitu neuroglia. Sel-sel ini membentuk komponen nonneural dalam SSP.5

Berdasarkan jumlah dan prosessus yang terjulur dari badan sel, kebanyakan neuron dapat
digolongkan menjadi neuron multipolar, yang memiliki sebuah akson dan dua atau lebih
dendrit; neuron bipolar yang umumnya terdapat di retina, mukosa olfaktorius, ganglion
cochleare, dan ganglion vestibulare, dengan sebuah dendrit dan sebuah akson; dan neuron
pseudounipolar yang umum terdapat di ganglion spinale dan ganglion kranial, yang memiliki
sebuah prosessus yang bercabang di dekat perikarion dengan cabang panjang yang terjuiur ke
ujung perifer dan yang lain terjulur ke SSP. Neuron dapat juga diklasifikasikan berdasarkan
peran fungsionalnya, menjadi neuron motorik (eferen) mengendalikan organ efektor seperti
serabut otot dan kelenjar eksokrin dan endokrin; dan neuron sensorik (aferen) terlibat dalam
penerimaan stimuius sensorik dari lingkungan dan dari dalam tubuh. Interneuron membentuk
hubungan antar-neuron dan membentuk jejaring fungsional yang kompleks atau sirkuit.3

Neuroglia adalah sel penunjang nonneural yang memiliki banyak percabangan di SSP dan
mengelilingi neuron, akson, dan dendrit. Sel ini tidak terangsang atau menghantarkan impuls,
tetapi secara morfologis dan fungsional berbeda dari neuron. Sel neuroglia dapat dibedakan
dari ukurannya yang jauh lebih kecil dan nukleus yang berwarna-gelap. SSP mengandung
neuroglia sekitar sepuluh kali lebih banyak daripada neuron. Empat jenis sel neuroglia adalah
astrosit (astrocytus), oligodendrosit (oligodendrocytus), mikroglia (microgliocytus), dan sel
ependimal (ependymocytus).5 Dalam susunan saraf pusat, terdapat astrosit dan
oligodendroglia, sedangkan di susunan saraf tepi adalah kapsula dan sel Schwann.
Oligodendroglia dan sel Schwann mempunyai kemampuan untuk membentuk selubung mielin
di sekeliling akson, yang dapat meningkatkan kecepatan konduksi suatu impuls sepanjang
akson. Daerah dimana selubung mielin dari satu sel Schwann (atau oligodendroglia) berakhir
dan daerah lanjutannya berawal lagi disebut sebagai nodus Ranvier. Selain itu, susunan saraf
pusat mempunyai mikroglia, makrofag yang berasal dari monosit dan sel ependim, yang
membatasi ventrikel otak dan kanalis sentralis medula spinalis.4

Dalam SSP, badan sel saraf hanya terdapat dalam substansia grisea; prosessus neuron terdapat
di substansia alba, tetapi tidak badan sel saraf.3 Saraf tepi terdiri atas bertas akson dan dendrit.
Setiap saraf dibungkus oleh epineurium. Berkas (fasikulus) akson dan dendrit dikelilingi oleh
beberapa lapisan sel-sel epiteloid yaitu perineurium, yang membentuk taut kedap (occluding
junction) satu sama lain. Perineurium terpisah dari unsurjaringan ikat oleh lamina basalis baik
sisi luar maupun sisi dalam. Setiap akson dan dendrit dilindungi oleh sel Schwann (sebagai
sekat dan pertahanan), selanjutnya dikelilingi oleh lamina basalis dan jala-jala serat retikulin
yang halus, membentuk endoneurium.4

Serebrum

Cerebrum adalah bagian terbesar otak dan terdiri dari dua hemisperium cerebri yang
dihubungkan oleh massa substantia alba yang disebut corpus callosum. Setiap hemisphere
terbentang dari os frontale sampai ke os occipitale, di atas fossa cranii anterior dan media; dan
di posterior, di atas tentorium cerebelli. Hemisphere dipisahkan oleh sebuah celah dalam, yaitu
fissura longitudinalis cerebri, di mana ke dalamnya menonjol falx cerebri.2 Permukaan otak
berlekuk-lekuk.akibat adanya tonjolan (gyrus) dan lekukan (sulcus) yang membantu
memperluas permukaan otak. Makin luas permukaan otak, makin luas pula lapisan luar (cortex)
otak sehingga makin banyak sel saraf yang dapat menempatinya. Pusat kesadaran tertinggi
manusia terdapat pada lapisan luar otak besar yang dinamakan cortex cerebri. Bagian kulit otak
ini berwarna lebih gelap dari lapisan di bawahnya sehingga dinamakan juga lapisan kelabu
(gray matter) karena banyak mengandung sel saraf.1

Sejumlah sulci yang besar membagi permukaan setiap hemisphere dalam lobus-lobus. Lobus-
lobus diberi nama sesuai dengan tulang tengkorak yang ada di atasnya. Lobus frontalis terletak
di depan sulcus centralis dan di atas sulcus lateralis. Lobus parietalis terletak di belakang sulcus
centralis dan di atas sulcus lateralis. Lobus occipitalis terletak di bawah sulcus parieto-
occipitalis. Di bawah sulcus lateralis terletak lobus temporalis.2 Gyri dan sulci yang ada pada
serebrum dapat dilihat pada gambar berikut (lih. Gambar 1)
Gambar 1. Serebrum tampak lateral.

Selain pembagian berdasarkan lobus, permukaan otak juga dibagi menurut area atau daerah
berdasarkan fungsinya. Brodmann membagi menjadi 47 area bernomor, di mana masing-
masing area di cortex cerebri yang ditandai mempunyai fungsi khusus, seperti: pusat sensoris,
pusat motoris, pusat penglihatan, pusat pendengaran, dan lain-lain.6 Pada lobus frontalis terdiri
dari beberapa area yaitu area 4 Brodmann yang merupakan daerah motorik utama, area 6 yang
merupakan bagian dari sirkuit traktus ekstrapiramidalis, area 8 yang berhubungan dengan
pergerakan mata dan juga perubahan pupil, serta area 9, 10, 11, dan 12 yang merupakan daerah
asosiasi frontalis. Pada lobus parietalis terdiri dari area 3, 1, dan 2 yang merupakan daerah
sensorik postsentralis yang utama, serta area 5 dan 7 yang merupakan daerah asosiasi sensorik.
Bagian lobus temporalis dari hemisferium serebri terletak dibawah fissura lateralis serebridan
berjalan kebelakang sampai fissura parietoossipitalis. Area 41 adalah daerah auditorius primer.
Area 42 merupakan korteks auditoris sekunder atau asosiatif. Area 38, 40, 21, dan 22 adalah
daerah asosiasi. Pada lobus ossipitalis terdiri dari area 17 yang merupakan korteks striata,
korteks visual yang utama, serta area 18, dan 19 yang merupakan daerah asosiasi visual.
Gambaran area Brodman secara lengkap dapat dilihat pada gambar berikut (lih. Gambar 2).

Gambar 2. Peta area Brodmann pada serebrum.


Di antara daerah primer korteks pada otak, terdapat area khusus yang khusus untuk bahasa
adalah daerah Broca dan daerah Wernicke. Daerah Broca, yang mengendalikan kemampuan
berbicara, terletak di lobus frontalis kiri berdekatan dengan daerah motorik korteks yang
mengontrol otot-otot untuk artikulasi. Daerah Wernicke, yang terletak di korteks kiri di
pertemuan antara lobus parietalis, temporalis, dan olaipitalis, berkaitan dengan pemahaman
bahasa. Bagian ini berperan penting dalam pemahaman bahasa lisan dan tulisan. Selain itu,
daerah Wernicke bertanggung jawab dalam memformulasikan pola koheren bicara yang
disalurkan melalui berkas-berkas serat ke daerah Broca, yang pada gilirannya mengontrol
artikulasi bicara. Daerah Wernicke menerima input dari korteks penglihatan di lobus
oksipitalis, suatu jalur yang penting untuk memahami tulisan dan menjelaskan benda yang
dilihat, serta dari korteks auditorius di lobus temporalis, suatu jalur yang esensial untuk
memahami bahasa lisan. Daerah Wernicke juga mendapat input dari korteks somatosensorik,
suatu jalur yang penring dalam kemampuan membaca Braille. Jalur-jalur interkoneksi antar
daerah-daerah korteks ini berperan dalam berbagai aspek bicara.8

Meninges

Tengkorak dan columna vertebralis melindungi SSP. Di antara tulang dan jaringan saraf
terdapat membran jaringan ikat yang disebut meninges.3 Yang paling luar adalah selaput otak
keras atau dura mater yang mempunyai perlekatan erat dengan tulang tengkorak. Di lapisan
bawahnya terdapat selaput otak lunak, yang terdiri dari lapisan arachnoid(arachnoidea
mater)dan lapisan pia mater. Lapisan pia mater melekat sangat erat dan mengikuti lekukan
permukaan otak.1
Duramater terdiri dari dua lapis: lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Lapisan endosteal
tidak berbeda dengan periosteum yang meliputi permukaan dalam tulang-tulang tengkorak.
Lapisan ini tidak terbentang melewati foramen magnum untuk berlanjut ke lapisan duramater
di medula spinalis. Di sekitar pinggir semua foramina cranii lapisan ini berhubungan dengan
periosteum pada permukaan luar tulang-tulang tengkorak. Pada sutura, lapisan ini berhubungan
dengan ligamentum suturale. Lapisan ini melekat dengan erat pada tulang-tulang di basis
cranii. Lapisan meningeal adalah duramater yang sebenarnya. Merupakan membrana fibrosa
padat dan kuat yang membungkus otak dan melanjutkan diri setelah melalui foramen magnum
sebagai duramater medula spinalis. Lapisan ini juga merupakan selubung tubular bagi saraf-
saraf otak, pada saat saraf otak melalui foramina di basis cranii. Di luar tengkorak, selubung
ini menyatu dengan epineurium saraf. Banyak arteri yang mendarahi duramater, yaitu arteria
carotis interna, arteria maxillaris, arteria pharyngea ascendens, arteria occipitalis, dan arteria
vertebralis. Dari sudut klinis, yang terpenting adalah arteria meningea media, yang sedang
rusak pada cedera kepala. Arteria meningea media berasal dari arteria maxillaris di dalam fossa
infratemporalis. Pembuluh ini masuk ke rongga otak dan berjalan ke depan dan lateral di dalam
alur pada permukaan atas pars squamosa ossis temporalis. Untuk masuk cavum crania, arteri
ini berjalan melalui foramen spinosum dan terletak di antara lapisan meningeal dan endosteal
duramater. Ramus anterior (frontalis) membuat alur dalam atau terowongan pada angulus
anteroinferior ossis parietalis, dan perjalanannya kira-kira sesuai dengan garis gyrus
precentralis otak yang ada di baivahnya. Ramus posterior (parietalis) melengkung ke belakang
dan mendarahi bagian posterior duramater. Vena-vena meningea terletak di dalam lapisan
endosteal duramater. Vena meningea media mengikuti cabang-cabang arteria meningea media
dan bermuara ke dalam plexus venosus pterygoideus atau sinus sphenoparietalis. Vena-vena
terletak lateral terhadap arterinya.2

Lapisan meningeal mempunyai empat septum ke arah dalam yang membagi cavitas cranii
menjadi ruang-ruang yang saling berhubungan dengan bebas dan menampung bagian-bagian
otak, yang berfungsi untuk fiksasi otak. Falx cerebri adalah lipatan duramater yang berbentuk
bulan sabit yang terletak di garis tengah, di antara kedua hemisphere cerebri.2 Otak besar
dipisahkan otak kedl karena adanya tentorium cerebelli yang juga merupakan lipatan selaput
otak.1 Sinus sagittalis superior berjalan pada pinggir atasnya yang terfiksasi, sinus sagittalis
inferior berjalan pada pinggir bawahnya yang bebas dan cekung, dan sinus rectus berjalan
sepanjang perlekatannya pada tentorium cerebelli. Falx cerebelli melekat pada permukaan
bawah tentorium cerebelli, sedangkan sinus transversus melekat pada os occipitale.2
Arachnoid memiliki dua komponen: lapisan jaringan ikat yang berhubungan dengan dura mater
dan suatu sistem trabekula yang mengandung fibroblas dan kolagen. Sistem trabekular ini
berhubungan langsung dengan pia mater yang lebih dalam. Di sekeliling trabekula terdapat
suatu rongga besar yang menyerupai spons, rongga subarakhnoid, yang terisi cairan
serebrospinal (CSS) dan terpisah dari rongga subdural. Rongga ini membentuk bantalan
hidraulik yang melindungi susunan saraf pusat dari trauma. Rongga subarakhnoid berhubungan
dengan ventrikel-ventrikel otak. Di beberapa daerah, arakhnoid menembus dura mater, dan
membentuk tonjolan-tonjolan ke dalam sinus venosus yang terisi-darah di dalam dura mater.
Tonjolan-toniolan yang berisi CSS ini, yang dilapisi sel-sel endotel vaskular, disebut villi
arachnoidales. Fungsinya adalah mengangkut CSS dari ruang subarakhnoid ke dalam sinus
venosus.3

Piamater adalah membran vaskular yang dengan erat membungkus otak, membungkus gyrus-
gyrus dan masuk ke dalam sulcussulcus yang terdalam. Membran ini membungkus saraf otak
dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk ke dalam substansi otak juga
diliputi oleh piamater.2

Sistem Vaskularisasi Otak

Sistem vaskularisasi pada otak diperankan oleh beberapa arteri, yakni arteri carotis interna,
arteri vertebralis, dan arteri basilaris, serta vena cerebri magna.2

Arteria carotis interna muncul dari sinus cavernosus pada sisi medial processus clinoideus
anterior. Kemudian arteria ini membelok ke belakang menuju ke sulcus cerebri lateralis dan
bercabang menjadi arteri cerebri anterior, serta arteri serebri media. Arteri opthalmica
dipercabangkan sewaktu arteri carotis interna keluar dari sinus cavernosus dan masuk orbita
melalui canalis opticus untuk memperdarahi mata dan struktur orbita lainnya, dan cabang-
cabang terminalnya mendarahi daerah kulit kepala sinus ethmoidalis dan frontalis, serta
dorsum nasi. Arteri communicans posterior adalah pembuluh kecil yang berjalan ke belakang
untuk bergabung dengan arteri cerebri posterior. Arteri choroidea, sebuah cabang kecil yang
berjalan ke belakang, masuk ke dalam cornu inferior ventriculus lateralis, dan berakhir di dalam
plexus choroideus. Arteri cerebri anterior berjalan ke depan dan medial dan masuk ke dalam
fissura longitudinalis. Pembuluh ini bergabung dengan arteri yang sama dari sisi yang lain
melalui arteri communicans anterior. Arteria ini membelok ke belakang di atas corpus
callosum, dan cabang-cabang corticalnya mendarahi permukaan medial cortex cerebri sampai
ke sulcus parieto-occipitalis, serta cortex selebar 1 inci pada permukaan lateral yang
berdekatan. Dengan demikian arteri cerebri anterior mendarahi area tungkai di gyrus
precentralis. Cabang-cabang central menembus substansi otak dan mendarahi massa substantia
grisea di bagian dalam hemispherium cerebri.2

Arteri cerebri media, cabang terbesar dari arteri carotis interna, berjalan ke lateral di dalam
sulcus lateralis cerebri. Cabang-cabang cortical mendarahi seluruh permukaan lateral hemisfer,
kecuali daerah sempit yang disuplai oleh arteri cerebri anterior, polus occipitalis dan
permukaan inferolateral hemisfer yang disuplai oleh arteri cerebri posterior. Dengan demikian
arteri ini mensuplai seluruh area motoris kecuali area tungkai pada hemispherium cerebri.
Cabang-cabang central masuk ke substantia perforata anterior dan mensuplai massa substantia
grisea di bagian dalam hemispherium cerebri.2

Arteria cerebri posterior pada masing-masing sisi melengkung ke lateral dan belakang di
sekeliling mesencephalon. Cabang-cabang cortical mendarahi permukaan inferolateral lobus
temporalis dan permukaan lateral dan medial lobus occipitalis. Jadi arteria ini mendarahi cortex
visual. Cabang-cabang central menembus substansi otak dan mendarahi massa substantia
grisea di dalam hemispherium cerebri dan mesencephalon.2

Arteria vertebralis, cabang dari bagian pertama arteri subclavia, berjalan ke atas melalui
foramina pada processus tranversus vertebrae cervicalis I sampai VI. Pembuluh ini masuk
tengkorak melalui foramen magnum dan berjalan ke atas, depan dan medial medulla oblongata.
Percabangannya pada cranium adalah arteria meningeae, arteri spinalis anterior dan posterior,
arteri cerebelli posteroinferior, dan arteria medullares.2

Arteria basilaris, dibentuk oleh gabungan kedua arteria vertebralis, berjalan naik di dalam alur
pada permukaan anterior pons. Pada pinggir atas pons bercabang dua menjadi arteri cerebri
posterior.2

Nervi Craniales

Terdapat dua belas pasang saraf kranial (nervi craniales) yang diberi nomor sesuai dengan
hubungannya dengan otak.9 Nervi cranialis meliputi nervus olfactorius (N. I), nervus opticus
(N. II), nervus oculomotorius (N.III), nervus trochlearis (N. IV), nervus trigeminus (N. V),
nervus abducens (N. VI), nervus facialis (N. VII), nervus vestibulocochlearis (N. VIII), nervus
glossopharyngeus (N.IX), nervus vagus (N. X), nervus accessorius (N. XI), dan nervus
hypoglossus (N. XII).2
Nervus olfactorius berasal dari sel-sel reseptor nervus olfactorius di membrana mucosa
olfactorius. Berkas serabut-serabut nervus olfactorius ini berjalan melalui lubangJubang pada
lamina cribrosa ossis ethmoidalis untuk masuk ke dalam bulbus olfactorius dalam cavitas
cranii. Bulbus olfactorius dihubungkan dengan area olfactorius cortex cerebri oleh tracfus
olfactorius.2

Nervus opticus merupakan kumpulan axon sel-sel lapisan ganglionik retina. Nervus opticus
muncul dari bagian belakang bola mata dan meninggalkan rongga orbita melalui canalis
opticus untuk masuk ke dalam rongga cranium. Selanjutnya menyatu dengan nervus opticus
sisi lainnya membentuk chiasma opticum. Pada chiasma, serabut-serabut dari belahan medial
masing-masing retina menyilang garis tengah dan masuk ke tractus opticus sisi kontralateral,
sedangkan serabut-serabut belahan lateral retina berjalan ke posterior di dalam tracfus opticus
sisi yang sama. Hampir seluruh serabut-serabut tractus opticus berakhir dengan bersinaps pada
sel-sel saraf di dalam corpus geniculatum laterale. Sebagian kecii serabut berialan ke nucleus
pretectalis dan colliculus superior serta berperan pada refleks cahaya. Axon sel-sel saraf dari
corpus geniculatum laterale berjalan ke posterior sebagai radiatio optica dan berakhir pada
cortex visual hemispherium cerebri.2

Nervus oculomotorius keluar dari permukaan anterior mesencephalon. Saraf ini berjalan ke
depan di antara arteria cerebri posterior dan arteria cerebelli superior. Kemudian berjalan terus
ke depan di dalam fossa cranii media pada dinding lateral sinus cavernosus. Di sini, nervus
bercabang dua menjadi ramus superiot dan ramus inferior, yang masuk ke rongga orbita
melalui fissura orbitalis superior, mepersarafi musculus levator palpebrae superioris, musculus
rectus superior, musculus rectus medialis, musculus rectus inferior, dan musculus obliquus
inferior untuk otot ekstrinsik mata; dan otot-otot intrinsik mata, yang meliputi musculus
constrictor pupillae iris dan musculus ciliaris dipersarafi oleh komponen parasimpatik nervus
oculomotorius. Serabut-serabut ini bersinaps di dalam ganglion ciliare dan mencapai bola mata
di dalam nervi ciliares breves.2

Nervus trochlearis adalah saraf cranial yang paling ramping. Saraf ini meninggalkan
permukaan posterior mesencephalon, kemudian berjalan ke depan melalui fossa cranii media
pada dinding lateral sinus cavernosus dan masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior.2

Nervus trigeminus merupakan saraf cranial terbesar. Saraf ini meninggalkan aspek anterior
pons sebagai radix motoria yang kecil dan radix sensoria yang besar, berjalan ke depan, keluar
dari fossa cranii posterior, untuk mencapai apex pars petrosa ossis temporalis di dalam fossa
cranii media, kemudian, radix sensoria membesar membentuk ganglion. Ganglion trigeminale
terletak di dalam sebuah kantong duramater disebut cavum trigeminale. Radix motoria nervus
trigeminus terletak di bawah ganglion sensorik dan terpisah darinya. Nervus ophthalmicus
(N.V1), nervus maxillaris (N.V2), dan nervus mandibularis (N.V3) berasal dari pinggir anterior
ganglion.2

Nervus abducens muncul dari permukaan anterior otak belakang di antara pons dan medulla
oblongata. Nervus abducens berjalan ke depan bersama arteria carotis interna melalui sinus
cavernosus di dalam fossa cranii media dan masuk orbita melalui fissura orbitalis superior.
Nervus abducens menyarafi musculus rectus lateralis dan memutar bola mata ke lateral.2

Nervus facialis muncul sebagai sebuah radix motoria dan sebuah radix. Saraf muncul pada
permukaan anterior otak belakang di antara pons dan medulla oblongata. Radix berjalan ke
lateral di dalam fossa cranii posterior bersama nervus vestibulocochlearis dan masuk ke meatus
acusticus intemus pada pars petrosa ossis temporalis. Pada dasar meatus, saraf ini masuk
canalis facialis, berjalan ke lateral melintasi telinga dalam. Pada saat mencapai dinding medial
telinga tengah (cavitas tympani), saraf melebar membentuk ganglion geniculatum. Kemudian
saraf membelok secara tajam ke belakang di atas promontorium dan pada dinding posterior
telinga tengah membelok ke bawah pada sisi medial aditus ad antrum mastoideum. Nervus
facialis berjalan ke bawah di belakang pyramid, dan keluar dari os temporale melalui foramen
stylomastoideum. Nervus facialis kemudian berjalan ke depan melalui glandula parotidea ke
daerah distribusinya. Percabngannya meliputi nervus petrosus major, nervus ke musculus
stapedius, chorda tympani, nervus auricularis posterior, venter posterior musculus digastricus
dan stylohyoideus, serta lima rami terminales ke otot-otot ekspresi wajah yang meliputi ramus
temporalis, ramus zygomaticus, ramus buccalis, ramus mandibularis, dan ramus cervicalis.2

Nervus vestibulocochlearis merupakan saraf sensorik yang terdiri atas dua berkas saraf: nervus
vestibularis dan nervus cochlearis. Saraf-saraf ini meninggalkan permukaan anterior otak di
antara pons dan medulla oblongata. Saraf-saraf ini melewati fossa cranii posterior dan masuk
ke meatus acusticus internus bersama dengan nervus facialis. Serabut vestibularis berasal dari
vestibulum dan canalis semicircularis, sementara serabut-serabut cochlear berasal dari
organum spirale Corti.2

Nervus glossopharyngeus adalah saraf motorik dan sensorik. Saraf ini keluar dari permukaan
anterior medulla oblongata, di antara oliva dan pedunculus cerebellaris inferior. Nervus
glossopharyngeus berjalan ke lateral di dalam fossa cranii posterior dan meninggalkan cranium
dengan melalui foramen jugulare. Ganglion sensorium superius dan inferius terletak pada saraf
ini pada saat melalui foramen juguiare. Kemudian nervus glossopharyngeus berjalan turun
melalui bagian atas leher ke bagian posterior lidah. Percabangannya meliputi ramus
tympanicus, ramus sinus carotici, ramus musculi stylopharyngei, rami pharyngei, dan ramus
lingualis.2

Nervus vagus terdiri atas serabut-serabut motorik dan sensorik. Saraf ini keluar dari permukaan
anterior medulla oblongata di antara oliva dan pedunculus cerebellaris inferior. Nervus vagus
berjalan ke lateral melalui fossa cranii posterior dan meninggalkan tengkorak melalui foramen
jugulare. Nervus vagus mempunyai kedua ganglion sensorik superius dan inferius. Di bawah
ganglion inferius, radix cranialis nervus accessorius bergabung dengan nervus vagus dan
distribusinya terutama di dalam ramus pharyngeus dan laryngeus rekuren. Nervus vagus
berjalan furun ke leher bersama arteria carotis intema dan vena jugularis intema di dalam
selubung carotis. Berjalan melalui mediastinum di thorax, melalui posterior radix pulmonis,
dan masuk ke abdomen melalui hiatus oesophagicus di diaphragma.2

Nervus accessorius adalah saraf motorik. Nervus ini terdiri dari radix cranialis dan radix
spinalis. Radix cranialis muncul dari permukaan anterior medulla oblongata di antara oliva dan
pedunculus cerebellaris inferior. Nervus ini berjalan ke lateral di dalam fossa cranii posterior
dan bergabung dengan radix spinalis. Radix Spinalis Radix spinalis berasal dari sel-sel saraf di
dalam substantia (cornu) grlsea anterior dari lima segmen bagian atas pars cervicalis medulla
spinalis. Saraf ini naik ke atas sepanjang medulla spinalis dan masuk cranium melalui foramen
magnum. Kemudian saraf ini membelok ke lateral untuk bergabung dengan radix cranialis.
Kedua radix bersatu dan meninggalkan cranium melalui foramen jugulare. Kemudian kedua
radix memisahkan diri: radix cranialis bergabung dengan nervus vagus dan diperluas melalui
cabang-cabangnya ke otot-otot palatum molle dan pharynx (melalui plexus pharyngeus) dan
otot-otot larynx (kecuali musculus cricothyroideus). Radix spinalis berjalan ke bawah dan
lateral, dan masuk ke permukaan dalam musculus sternocleidomastoideus, yang
dipersarafinya, dan kemudian menyilang trigonum colli posterius untuk menyarafi musculus
trapezius.2

Nervus hypoglossus adalah saraf motorik. Nervus ini muncul pada permukaan anterior medulla
oblongata di antara pyramis dan oliva, melewati fossa cranii posterior, dan meninggalkan
cranium melalui canalis nervi hypoglossi. Kemudian saraf ini berjalan ke bawah dan depan di
leher untuk menyilang arteria carotis interna dan extema untuk mencapai lidah. Dalam
perjalanan bagian atasnya, nervus hypoglossus bergabung dengan serabut C1 dari plexus
cervicalis.2

Kesimpulan

Otak adalah pusat pengendali aktivitas manusia yang sangat penting. Otak dilindungi oleh ossa
cranium, yang didalamnya terdapat beberapa lapisan selaput otak yang turut membantu
melindungi otak. Ketiga lapisan tersebut adalah dura mater, arachnoid mater, dan pia mater;
ketiganya dikenal sebagai meninges. Otak sendiri terbagi menjadi beberapa bagian, salah
satunya adalah otak besar atau serebrum. Serebrum dibagi berdasarkan letak tulang yang
melindunginya, menjadi lobus frontale, lobus temporale, lobus occipitale, dan lobus parietale.
Permukaan otak yang berlekuk-lekuk menyebabkan permukaan otak semakin meluas. Lekukan
yang menonjol disebut sebagai gyrus, dan celah yang membentuk gyrus disebut sulcus. Otak
juga dibagi oleh Brodmann menjadi 47 area yang masing-masing memiliki fungsi yang
berbeda. Juga terdapat area khusus yang mengatur bahasa pada otak. Otak juga memiliki 12
pasang saraf yang menerima rangsang dan meneruskan respon terhadap rangsang kepada
organ-organ yang dituju.

Jaringan saraf merupakan jaringan kompleks yang mengatur proses penghantaran informasi di
seluruh tubuh kita. Satuan sel yang membentuk jaringan saraf disebut juga neuron. Neuron
memiliki 3 bagian utama, yakni dendrit, akson, dan juga badan sel atau perikarion. Berdasarkan
jumlah cabang pada dendrit dan juga akson, neuron dapat dibedakan menjadi unipolar atau
pseudounipolar, bipolar, dan multipolar. Sedangkan berdasarkan perannya, neuron dapat
dibagi menjadi aferen, eferen dan interneuron. Selain neuron, terdapat sel glia yang berfungsi
sebagai penyokong sel saraf. Pada sistem saraf pusat, bagian neuron yang ada adalah dendrit
dan badan sel pada substansia grisea dan akson yang bermielin berada pada substansia alba.
Sel glia yang mendukungnya meliputi astrosit dan oligodendria, sedangkan pada substansia
pada sistem saraf tepi ialah sel Schwann.
Daftar Pustaka

1. Universitas Gunadarma. Otak dan sistem saraf [pdf]. Jawa Barat: Universitas
Gunadarma [diakses pada 23 April 2016]. Tersedia dari:
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/anatomi_tubuh_manusia/bab9_otakdansist
emsaraf.pdf
2. Snell RS. Anatomi klinis berdasarkan sistem. Jakarta: EGC; 2012.Mescher AL.
3. Histologi dasar Junqueira teks & atlas. Jakarta: EGC; 2012.
4. Gartner LP, Hiatt JL. Atlas berwarna histologi. Tangerang Selatan: Binarupa Aksara;
2012.
5. Eroschenko VP. Atlas histologi diFiore dengan korelasi fungsional. Jakarta EGC;
2012
6. Chamidah AN. Neurologi [pdf]. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta; 2013
[diakses pada 24 April 2016]. Tersedia dari:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr.%20Atien%20Nur%20Chamida
h,%20M.Dist.St/materi%20kuliah%20neurologi%202013.pdf
7. Saputri OD. Bab II [pdf]. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2011
[diakses pada 24 April 2016]. Tersedia dari:
http://eprints.ums.ac.id/39694/3/BAB%20II.pdf
8. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC; 2012.
9. Elisa. Sistem saraf. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada [diakses pada 25 April
2016]. Tersedia dari:
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/50025/27781c784512b74fb706ec9d5649
4134