Anda di halaman 1dari 9

1.

Berikan uraian secara sistematis tentang :


a. Hakikat Filsafat (pengertian, ciri-ciri berpikir filsafat, ciri seorang yang belajar filsafat,
tugas filsafat)
Pengertian Filsafat :
Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu
sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak
terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak
terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat
umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat
seni dan lain-lainnya
Istilah filsafat yang merupakan terjemahan dari philolophy ( bahasa inggris ) berasal
dari bahasa Yunani philo (love of) dan Sophia (wisdom). Jadi secara etimologis filsafat artinya
cinta atau gemar akan kebijakan (love of wisdom) . Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau
kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh-sungguh
akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan
kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan
kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang
bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian
kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan
laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba
segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.
Berdasarkan arti secara etimologis sebagaimana dijelaskan diatas kemudian para ahli
berusaha merumuskan defenisi filsafat. Ada yang menyatakan bahwa filsafat sebagai suatu
usaha untuk berfikir secara radikal dan menyeluruh, suatu cara berfikir dengan mengupas
sesuatu sedalam-dalamnya. Aktivitas tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu
kesimpulan universal dari kenyataan particular atau khusus , dari hal yang sederhana sampai
yang kompleks.

Ciri-ciri Berpikir Filsafat :


Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster Professional (2001),
menyatakan karakteristik filsafat sebagai berikut :
a) Filsafat adalah berfikir secara kritis
b) Filsafat adalah berfikir dalam bentuk sistematis
c) Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut
d) Filsafat adalah berfikir secara rasional
e) Filsafat bersifat komprehensif
Menurut Jujun Suriamantri (1998:20) mengatakan karakteristik berpikir filsafat adalah :
1. Bersifat menyeluruh
2. Bersifat mendasar
3. Bersifat spekulatif
Menurut Prof. Dr. Aliasar, M.Ed berfilsafat berarti :
1. Berpikir dengan akal sehat
2. Bahan atau objek yang dipikirkan adalah sesuatu yang ada
3. Mencari kebenaran yang hakiki
4. Wholesticly/extremely/radically
5. Merenung-renung (think and think over)
6. Hasil konseptual bukan operasional
Ciri Seorang Yang Belajar Filsafat :
Berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang kita ketahui.
Tugas Filsafat :
Tugas utama filsafat adalah menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin bukan
menghasilkan sesusun pernyataan filsafati (Wittgenstein dalam Jujun Sumantri,1998)
Selain itu tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis secara
mendalam dan mendasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis dan radikal (sampai
ke akar-akarnya) tentang problema hidup dan kehidupan manusia.
b. Hakikat Filasafat yang memperlihatkan keterkaitan antara filsafat dan ilmu
Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan
filsafat dimulai dari keduanya. Dalam berfilsafat kita didorong untuk mengetahui apa yang
kita tahu dan apa yang belum kita tahu.
Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin dan
menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk sistematik. Dengan demikian filsafat
memerlukan analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran sudut pandangan yang
menjadi dasar suatu tindakan.
Semua ilmu baik ilmu social maupun ilmu alam bertolak dari pengembangannya yaitu
filsafat. Pada awalnya filsafat terdiri dari tiga segi yaitu (1) apa yang disebut benar dan apa
yang disebut salah (logika); (2) mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk
(etika); (3) apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).
Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertical dan horizontal. Istilah ini
juga akan terdengar pada cabang filsafat bahkan filsafat ilmu.
Antara filsafat dan ilmu terdapat hubungan horizontal, meluas kesamping yaitu hubungan
antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan yang lain yang berbeda-beda, sehingga
merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu pada bidang kehidupan yaitu ilmu filsafat
pada penyesuaian problema-problema pendidikan dan pengajaran. Filsafat ilmu dengan
demikian merupakan pola-pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan
bidang pendidikan dan pengajaran.
Adapun filsafat ilmu menunjukkan hubungan vertical, naik ke atas atau turun ke bawah
dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain, seperti pengantar pendidikan, sejarah
pendidikan, teori pendidikan, perbandingan pendidikan dan puncaknya filsafat pendidikan.
Hubungan vertical antara disiplin ilmu tertentu adalah hubungan tingkat penguasaan atau
keahlian dan pendalaman ata rumpun ilmu pengetahuan yang sejenis.
Maka dari itu, filsafat ilmu sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan adalah
cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan
filosofis pada bidang pendidikan dalm rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan
penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada
khususnya.

1. Conelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58) memandang filsafat ilmu sebagai berikut
: “ That philosophic discipline which is the systematic study of the nature of science,
especially of its methods, its concepts end presuppositions, and its place in the general scheme
of intellectual disciplines“.
Filsafat ilmu menurur Benjamin, merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis
menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep-konsep, dan pra anggapan-
pra anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan
intelektual.
2. Conny Semiawan at al ( 1998 : 45 ) menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah
ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan ( science of sciences ) yang kedudukannya
diatas ilmu lainnya.
3. Jujun Suriasumantri ( 2005 : 33 – 34 ) memandang filsafat ilmu sebagai bagian dari
epistemology ( filsafat pengetahuan ) yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan
mengenai hakikat ilmu sebagai berikut : Kelompok pertanyaan pertama antara lain sebagai
berikut : Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut?
Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tanggap manusia? Kelompok pertanyaan
kedua : Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapat
pengetahuan yang benar? Apa yang dimaksud dengan kebenaran? dan seterusnya. Dan
terakhir pertanyaan kelompok pertanyaan ketiga : Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu
itu? Bagaimana kaitan antara cara menggunakan ilmu dengan kaidah-kaidah moral?
Bagaimana penentuan yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? dan seterusnya.
Kelompok pertanyaan pertama merupakan tinjauan ilmu secara ontologism. Sedangkan
pertanyaan-pertanyaan kelompok ketiga sebagai tinjauan ilmu secara aksiologis.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan keterkaitan antara filsafat dan ilmu
adalah filsafat melahirkan teori yang bersifat praksis, melahirkan aturan umum, juklat, juknis
dan terakhir lahirlah ilmu yang bersifat operasional.
c. Tujuan ilmu pengetahuan
Sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapinya sehari-
hari.
d. Yang membedakan antara pengetahuan dan ilmu serta contoh konkrit
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi
tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari
proses usaha manusia untuk tahu. Dalam perkembangannya pengetahuan manusia
berdiferensiasi menjadi empat cabang utama, filsasat, ilmu, pengetahuan dan wawasan. Untuk
melihat perbedaan antara empat cabang itu, saya berikan contohnya: Ilmu kalam (filsafat),
Fiqih (ilmu), Sejarah Islam (pengetahuan), praktek Islam di Indonesia (wawasan). Bahasa,
matematika, logika dan statistika merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis,
tetapi keempatnya bukanlah ilmu. Keempatnya adalah alat ilmu.
Setiap ilmu (sains) adalah pengetahuan (knowledge), tetapi tidak setiap pengetahuan
adalah ilmu. Ilmu adalah semacam pengetahuan yang telah disusun secara sistematis.
Bagaimana cara menyusun kumpulan pengetahuan agar menjadi ilmu? Jawabnya pengetahuan
itu harus dikandung dulu oleh filsafat , lalu dilahirkan, dibesarkan dan diasuh oleh
matematika, logika, bahasa, statistika dan metode ilmiah. Maka seseorang yang ingin berilmu
perlu memiliki pengetahuan yang banyak dan memiliki pengetahuan tentang logika,
matematika, statistika dan bahasa. Kemudian pengetahuan yang banyak itu diolah oleh suatu
metode tertentu. Metode itu ialah metode ilmiah. Pengetahuan tentang metode ilmiah
diperlukan juga untuk menyusun pengetahuan-pengetahuan tersebut untuk menjadi ilmu dan
menarik pengetahuan lain yang dibutuhkan untuk melengkapinya.
Untuk berpengetahuan seseorang cukup buka mata, buka telinga, pahami realitas, hafalkan,
sampaikan. Adapun untuk berilmu, maka metodenya menjadi lebih serius. Tidak sekedar buka
mata, buka telinga, pahami realitas, hafalkan, sampaikan, secara serampangan. Seseorang
yang ingin berilmu, pertama kali ia harus membaca langkah terakhir manusia berilmu,
menangkap masalah, membuat hipotesis berdasarkan pembacaan langkah terakhir manusia
berilmu, kemudian mengadakan penelitian lapangan, membuat pembahasan secara kritis dan
akhirnya barulah ia mencapai suatu ilmu. Ilmu yang ditemukannya sendiri.
Jadi seseorang yang ingin berilmu matematika, misalnya, maka ia harus mengumpulkan dulu
pengetahuan-pengetahuan matematika yang telah disusun sampai hari kemarin oleh para ahli
ilmu tersebut dan merentang terus kebelakang sampai zaman yang dapat dicapai oleh
pengetahuan sejarah.
2. Pengertian dari beberapa sumber pengetahuan :
1) Pengalaman (empiris)
Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Dalam
hal ini ada 3 hal yaitu yang mengetahui ( subjek ), yang diketahui ( objek ), dan cara
mengetahui ( pengalaman ).
Ilmu memiliki tiga asumsi mengenai obyek empirisnya :
1) Asumsi pertama : Asumsi ini menganggap bahwa obyek-obyek tertentu mempunyai
keserupaan satu sama lain misalnya dalam hal bentuk struktur, sifat dsb. Klasifikasi
(taksonomi) merupakan pendekatan keilmuan pertama terhadap obyek.
2) Asumsi kedua: asumsi ini menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan
dalam jangka waktu tertentu (tidak absolut tapi relatif ). Kegiatan keilmuan bertujuan
mempelajari tingkah laku suatu obyek dalam keadaan tertentu. Ilmu hanya menuntut adanya
kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam jangka
waktu tertentu. Dengan demikian memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan keilmuan
terhadap obyek yang sedang diselidiki.
3) Asumsi ketiga : Asumsi ini menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian
yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan
urutan/sekuensial kejadian yang sama. Misalnya langit ,mendung maka turunlah hujan.
Hubungan sebab akibat dalam ilmu tidak bersifat mutlak. Ilmu hanya mengemukakan bahwa
“X” mempunyai kemungkinan[peluang] yang besar mengakibatkan terjadinya “Y”.
Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang
(probabilistic). Statistika adalah teori peluang.
2) Intuisi
Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran
rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain
dan diluar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca
sebuah buku. Ternyata, didalam buku itu ditemukan keterangan yang dicari-carinya selama
bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata
disana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi
berasal dari kekuatan psi.
Sebagian intuisi bisa dijelaskan sebab musababnya. Sebuah penelitian menunjukkan
bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau kaum eksekutif memiliki
skor lebih baik dalam eksperimen uji indera keenam dibandingkan dengan orang-orang biasa.
Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan
kekuatan psi dalam kehidupan keseharian mereka, halmana menunjang kesuksesan mereka.
Salah satu bentuk kemampuan psi yang sering muncul adalah kemampuan intuisi. Tidak
jarang, intuisi yang menentukan keputusan yang mereka ambil.
Sampai saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang
dapat sukses dalam bisnis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku
mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi.
3) Otoritas Keilmuan
Dalam pengertian sederhana, otoritas biasa dipahami sebagai kewenangan yang diakui
atau kekuasaan yang mempunyai keabasahan. Padaperkembangannya, konsep otoritas saklar
dan trasendental nabi pun berkembang menjadi sebuah diskursus intelektual-keagamaan yang
penuh diwarnai denagan polemik seputar apakah semua berasal dari nabi bersifat ”normatif”
atau hanya sebagiannya saja; apakah otoritas nabi sepenuhnya bersifat keagamaan ataukah
juga bersifat keduniaan. Permasalahan pertama terkait erat dengan kecenderungan untuk
”mengagamakan” budaya justifikasi teologis dan intervensi politik ke dalam pemikiran fiqih,
domain intelektual-keagamaan menjadi rentetan terhadap klaim-klaim dogmatik. Akibatnya
pemikiran keagamaan secar pelan-pelan bergeser dari corak reflektif atas realitas menuju
corak justifikatif terhadap realitas yangada dengan bungkus ideologi-teologi.
4) Wahyu
Wahyu adalah Ayat Allah yang terucap merupakan pengetahuan yang bersumber dari
tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rasul). Melalui
Wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan.
Contohnya : Alam semesta ciptaan Allah, “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi
dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.
Dikatakan “wahaitu ilaihi” atau “auhaitu” bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak
diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa
rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat
dengan anggota badan.
Al-wahyu adalah kata masdar/infinitif, dan materi kata itu menunjukkan dua dasar, yaitu
tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan
secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang yang diberitahu tanpa
diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi, kadang-kadang juga bahwa yang
dimaksudkan adalah al-muha, yaitu penger tian isim maf’ul yang diwahyukan.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi :
Ilham, sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa, “Dan kami
ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia …’.” (Al-Qashash: 7).
Ilham berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah, “Dan Tuhanmu telah
mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di
rumah-rumah yang didirikan manusia’.” (An-Nahl: 68).
Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al qur’an,
“Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka, ‘Hendaknya kamu
bertasbih di waktu pagi dan petang’.” (Maryam: 11).
Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia.
“Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu.” (Al-An’am: 121). “Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu
musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan
kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu mereka.” (Al-
An’am: 112).
Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk
dikerjakan. “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya
Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman’.” (Al-Anfal: 12).
Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar’i mereka definisikan sebagai kalam
Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul,
yaitu al muha (yang diwahyukan). Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam
Risalatut Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan
disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, melalui perantara ataupun tidak.
Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.
3. Mengapa kajian tentang ontology, epistemology dan axiology pada hakikatnya
menghantarkan pengetahuan menuju ilmu? Karena Filsafat ilmu terutama diarahkan pada
komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontology
(apa), epistemology (bagaimana) dan axiology (untuk apa).
Objek kajian dalam filsafat ilmu pendidikan dapat dibedakan dalam 4 (empat) macam yaitu :
1. Ontology ilmu pendidikan
Yaitu yang membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi ilmu pendidikan.
2. Epistemology ilmu pendidikan
Yaitu yang membahas tentang hakikat objek formal dan material ilmu pendidikan
3. Metodologi ilmu pendidikan
Yaitu yang membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pengetahuan
4. Aksiologi ilmu pendidikan
Yaitu yang membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan.
Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga
disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya
secara empiris
Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang
berbgai kejadian. Dalam usaha menemukan penjelasan ini terutama penjelasan yang bersifat
mendasar dan postulasional, maka ilmu tidak bias melepaskan diri dari penafsiran yang
bersifat rasional dan metafisis.
Lalu agar dapat mengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka penjelasan yang
masuk akal dan sekaligus menggambarkan kenyataan yang sebenarnya kemudian
berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang
hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara konseptual
metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana Muslim dan secara sosiologis
dimasyarakatkan oleh Francis Bacon.
Pengembangan metode eksperimen yang berasal dari Timur ini mempunyai pengaruh
penting terhadap cara berpikir manusia sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai
penjelasan teoritis apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan demikian
berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan induktif.
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut
ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah.
Alur berpikir/kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-
verifikasi terdiri dari :
1) perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas
batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor0faktro yang terkait didalamnya;
2) penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi
yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai factor yang saling
mengait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara
rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan
memperhatikan factor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan;
3) perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan yang
diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan;
4) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan
hipotesis yang diajukan.
5) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang
diajukan ditolak atau diterima.
4. Saya sebagai orang awam yang telah belajar filsafat memberikan pandangan terhadap
perdebatan kedua dosen tentang mata pelajaran yang lebih penting antara IPA dan IPS bahwa
pendapat kedua dosen tersebut tidak benar, karena sebagai seorang yang berpengetahuan
dosen tersebut pastinya adalah seseorang yang telah berfilsafat dan tentunya tidak akan
memandang satu pengetahuan IPA atau IPS saja yang penting, karena karakteristik berpikir
filsafat adalah bersifat menyeluruh tidak memandang dari satu sisi ilmu itu sendiri saja,
bersifat mendasar yaitu tidak percaya begitu saja bahwa salah satu ilmu itu benar, terakhir
adalah bersifat spekulatif bahwa semua pengetahuan yang ada dimulai dengan spekulasi. Dari
serangkaian spekulasi ini dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan
titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan criteria tentang apa yang disebut
benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran.