Anda di halaman 1dari 1

KERANGKA ACUAN

SOSIALISASI KESEHATAN JIWA DAN NAPZA


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TERARA TAHUN 2016

A. Latar Belakang
Perubahan pesat dari masyarakat agraris ke industri beserta dampaknya akan sangat
rawan terjadi masalah kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa menimbulkan penderitaan
yang mendalam bagi individu dan keluarganya. Baik mental maupun materi, pengertian dan
pengetahuan masyarakat terhadap gangguan jiwa dianggap hina dan memalukan dikarenakan
kurangnya pemahaman tentang kesehatan jiwa di berbagai kalangan.
Masalah kesehatan jiwa ini juga dipicu dengan masalah kesehatan penyalahgunaan
NAPZA. Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota – kota besar saja, tapi sudah
sampai ke kota – kota kecil di seluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial
ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada,
penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur 15 – 24 tahun. Sektor ksehatan memegang
peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA.
Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan itu
sendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat di bidang kesehatan
jiwa khususnya penyalahgunaan NAPZA. Kondisi ini mengharuskan pula Puskesmas sebagai
ujung tombak pelayanan kesehatan dapat berperan lebih proaktif dalam upaya
penanggulangan penyalahgunaan NAPZA dan kesehatan jiwa di masyarakat. Sehingga
diperlukan suatu tindakan untuk mengatasi kekurang pahaman kesehatan jiwa dan
penanggulangan NAPZA, salah satunya dengan mengadakan penyuluhan tentang kesehatan
jiwa dan NAPZA.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap
kesehatan jiwa dan NAPZA.
2. Tujuan Khusus
a. Terjadinya penurunan angka penderita gangguan kesehatan jiwa dan penyalahgunaan
NAPZA.
b. Terlaksananya program kesehatan jiwa dan penanggulangan NAPZA sesuai standar.
C.