Anda di halaman 1dari 7

----- AKUNTABILITAS ----- 14.

Informasi publik terbagi dalam 2 kategori yaitu:


a. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan.
1. Konsep Akuntabilitas b. Informasi yang dikecualikan (informasi publik yang perlu dirahasiakan).
Pengecualiannya tidak boleh bersifat permanen. Ukuran untuk menjadikan
1. Akuntabilitas sering disamakan dengan responsibilitas atau tanggung jawab.
suatu informasi publik dikecualikan atau bersifat rahasia adalah: (i) Undang-
a. Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab, sedangkan undang; (ii) kepatutan; dan (iii) kepentingan umum.
b. Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai.
15. Aksesibilitas Keterbukaan informasi bersandar pada beberapa 4 prinsip, yaitu:
2. Aspek-aspek akuntabilitas,yaitu:
a. Maximum Access Limited Exemption (MALE);
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan
b. Permintaan tidak perlu disertai alasan;
b. Akuntabilitas berorientasi pada hasil
c. Mekanisme yang sederhana, murah dan cepat;
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan
d. Murah dan cepat;
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi, dan
e. Informasi harus utuh dan benar;
e. Akuntabilitas memperbaiki kinerja.
f. Informasi proaktif; serta
g. Perlindungan pejabat yang beritikad baik.
3. Akuntabilitas merupakan kontrak antara pemerintah dengan aparat birokrasi,
serta antara pemerintah yang diwakili oleh PNS dengan masyarakat. Kontrak antara
16. Aturan terkait:
kedua belah pihak tersebut memiliki ciri antara lain:
a. UUD 1945 Pasal 28 F
a. Akuntabilitas eksternal yaitu tindakan pengendalian yang bukan bagian dari
b. UU No. 14 / 2008 = Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP)
tanggung jawabnya, c. UU No. 32 / 2009 = tentang Hak atas Informasi Lingkungan Hidup
b. Akuntabilitas interaksi merupakan pertukaran sosial dua arah antara yang
d. UU No. 8 / 1999 = Perlindungan Konsumen
menuntut dan yang menjadi penanggungjawabnya (dalam memberi jawaban,
e. UU No. 28 / 1999 = tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas
respon, rectification, dan sebagainya), dan
dari KKN
c. Hubungan akuntabilitas merupakan hubungan kekuasaan struktural (pemerintah
f. UU No. 36 / 1999 = Telekomunikasi
dan publik) yang dapat dilakukan secara asimetri sebagai haknya untuk g. UU No. 40 / 1999 = Pers
menuntut jawaban.
17. Pada umumnya fraud (kecurangan) terjadi karena 3 hal, yaitu:
4. Akuntabilitas publik memiliki 3 fungsi utama (Bovens, 2007):
a. Peluang untuk melakukan fraud.
a. Menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi);
b. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud.
b. Mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional);
c. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud.
dan
c. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).
18. Faktor penentu keberhasilannya pembentikan sikap anti kecurangan, yaitu :
a. Komitmen dari top manajemen dalam organisasi;
5. Akuntabilitas publik terdiri atas 2 macam, yaitu:
b. Membangun lingkungan organisasi yang kondusif:
a. Akuntabilitas vertical (vertical accountability), yaitu kepada atasan serta ke
c. Perekrutan dan promosi pegawai;
bawahan atau masyarakat; dan
d. Pelatihan nilai-nilai organisasi atau entitas dan standar-standar pelaksanaan;
b. Akuntabilitas horizontal (horizontal accountability), yaitu kepada rekan – rekan
e. Menciptakan saluran komunikasi yang efektif; dan
atau kementerian/lembaga setingkat.
f. Penegakan kedisiplinan.
6. Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan, yaitu:
19. Setiap PNS dalam penggunaan fasilitas publik harus memastikan bahwa:
a. Akuntabilitas personal, nilai yang ada pada diri seseorang
a. Penggunaannya diatur sesuai dengan prosedur yang berlaku
b. Akuntabilitas individu, antara individu dengan lingkungan kerjanya
b. Penggunaannya dilakukan secara bertanggungjawab dan efisien
c. Akuntabilitas kelompok, kinerja atas kerjasama individu di dalam kelompok
c. Pemeliharaan fasilitas secara benar dan bertanggungjawab
d. Akuntabilitas organisasi, pelaporan kinerja individu terhadap organisasi
e. Akuntabilitas stakeholder, tanggung jawab opemerintah pada masyarakat
20. Dalam penggunaan fasilitas publik, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat
membantu dalam pengambilan keputusan:
2. Mekanisme Akuntabilitas a. Apakah penggunaan fasilitas tertentu dapat merugikan instansi dan negara?
b. Apakah penggunaan fasilitas tertentu merugikan reputasi pribadi Anda dan juga
7. Mekanisme akuntabilitas organisasi, antara lain: yang lain?
a. Sistem penilaian kinerja, c. Apakah penggunaan fasilitas menguntungkan diri pribadi semata?
b. Sistem akuntansi,
c. sistem akreditasi, dan 21. Etika pelayanan publik = suatu panduan atau pegangan yang harus dipatuhi oleh
d. Sistem pengawasan (CCTV, finger prints, ataupun software untuk memonitor para pelayan publik atau birokrat untuk menyelenggarakan pelayanan yang baik
pegawaimenggunakan komputer atau website yang dikunjungi). untuk publik.
8. Mekanisme akuntabilitas mengandung 4 dimensi yaitu: 22. Informasi dan data yang disimpan dan dikumpulkan serta dilaporkan harus:
a. Akuntabilitas kejujuran dan hukum, c. Akuntabilitas program, dan a. Relevant (relevan),
b. Akuntabilitas proses, d. Akuntabilitas kebijakan b. Reliable (dapat dipercaya),
c. Understandable (dapat dimengerti), serta
9. Alat akuntabilitas ada 3 macam, yaitu: d. Comparable (dapat diperbandingkan).
a. Perencanaan Strategis, seperti RPJPN, RPJPD, SKPD, RENSTRA, dan SKP;
b. Kontrak Kinerja, berupa kesepakatan pegawai dengan atasan yang merupakan 23. Konflik kepentingan = situasi yang timbul di mana tugas publik dan kepentingan
implementasi dari PP No. 46 / 2011; dan pribadi bertentangan.
c. Laporan Kinerja, berupa Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP) yang berisi perencanaan dan perjanjian kinerja pada tahun tertentu, 24. Cara mengidentifikasi konflik kepentingan, yaitu:
pengukuran dan analisis capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan. a. Tugas publik dengan kepentingan pribadi
Apakah saya memiliki kepentingan pribadi atau swasta yang mungkin
10. Aspek lingkungan kerja akuntabel ada 9 macam yaitu: bertentangan, atau dianggap bertentangan dengan kewajiban publik?
a. Kepemimpinan, f. Kepercayaan b. Potensialitas
b. Transparansi, g. Keseimbangan Mungkinkah ada manfaat bagi saya sekarang, atau di masa depan, yang bisa
c. Integritas, h. Kejelasan, dan meragukan objektivitas saya? Bagaimana keterlibatan saya dalam mengambil
d. Tanggung Jawab, i. Konsistensi keputusan/tindakan dilihat oleh orang lain?
e. Keadilan, c. Proporsionalitas
Apakah keterlibatan saya dalam keputusan tampak adil dan wajar dalam semua
11. Pembuatan framework akuntabilitas ada 5 langkah, yaitu: keadaan?
a. Tentukan Tanggung Jawab dan Tujuan, d. Presence of Mind
b. Rencanakan Apa Yang Akan Dilakukan Untuk Mencapai Tujuan, Apa konsekuensi jika saya mengabaikan konflik kepentingan? Bagaimana jika
c. Lakukan Implementasi dan Monitoring Kemajuan, keterlibatan saya dipertanyakan publik?
d. Berikan Laporan Secara Lengkap, serta e. Janji
e. Berikan Evaluasi dan Masukan Perbaikan. Apakah saya membuat suatu janji atau komitmen dalam kaitannya dengan
permasalahan? Apakah saya berdiri untuk menang atau kalah dari
3. Akuntabilitas dalam Konteks tindakan/keputusan yang diusulkan?

12. Perwujudan transparansi tata kelola keterbukaan informasi publik → 25. Konsekuensi kepentingan konflik meliputi:
diterbitkannya UU No. 14 / 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). a. Hilangnya/berkurangnya kepercayaan pegawai dan stakeholders
b. Memburuknya reputasi pribadi atau reputasi Institusi
13. UU No. 14 / 2008 Pasal 3 = tujuan UU KIP sebagai berikut: c. Tindakan in-disipliner
a. Menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan d. Pemutusan hubungan kerja
kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan e. Dapat dihukum baik perdata atau pidana
keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik;
b. Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan 26. Ada 2 jenis umum konflik kepentingan yaitu:
publik; a. Keuangan (Penggunaan sumber daya lembaga termasuk dana, peralatan atau
c. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik sumber daya aparatur untuk keuntungan pribadi) dan
dan pengelolaan Badan Publik yang baik; b. Non-keuangan (Penggunaan posisi atau wewenang untuk membantu diri
d. Mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, sendiri dan /atau orang lain).
efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan;
e. Mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang
banyak;
f. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
dan/atau Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan
Badan Publik untuk menghasilkan layanan informasi
4. Menjadi PNS yang Akuntabel c. Ketika konflik kepentingan yang timbul antara kinerja tugas publik dan
kepentingan pribadi atau personal, maka PNS dapat memilih untuk kepentingan
27. UU No. 5 / 2014 = ASN, disebutkan bahwa penyelenggaraan kebijakan dan umum.
Manajemen ASN berdasarkan pada asas: d. PNS memahami bahwa konflik kepentingan sebenarnya, dianggap ada atau
a. Kepastian hukum; h. Efektif dan efisien; berpotensi ada di masa depan. Situasi yang dapat menimbulkan konflik
b. Profesionalitas; i. Keterbukaan; kepentingan, meliputi hubungan dengan orang-orang yang berurusan dengan
c. Proporsionalitas; j. Nondiskriminatif; lembaga-lembaga yang melampaui tingkat hubungan kerja profesional;
d. Keterpaduan; j. Persatuan dan kesatuan; menggunakan keuangan organisasi dengan bunga secara pribadi atau yang
e. Delegasi; k. Keadilan dan kesetaraan dan; berurusan dengan kerabat.
f. Netralitas; l. Kesejahteraan. e. Jika konflik muncul, PNS dapat melaporkan kepada pimpinan secara tertulis,
g. Akuntabilitas; untuk mendapatkan bimbingan mengenai cara terbaik dalam mengelola situasi
secara tepat.
28. ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut, yaitu: f. PNS dapat menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
a. Nilai dasar; tugasnya.
b. Kode etik dan kode perilaku;
c. Komitmen, integritas moral dan tanggung jawab pada pelayanan publik; 35. Pengambilan Keputusan yang Akuntabel bagi PNS:
d. Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; a. Memastikan tindakan dan keputusan yang berimbang dan tidak bias.
e. Kualifikasi akademik; b. Bertindak adil dan mematuhi prinsip-prinsip due process.
f. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas, dan; c. Akuntabel dan transparan.
g. Profesionalitas jabatan. d. Melakukan pekerjaan secara penuh, efektif dan efisien.
e. Berperilaku sesuai dengan standar sektor publik, kode sektor publik etika sesuai
29. Perilaku Individu PNS (Personal Behaviour) dengan organisasinya.
a. PNS bertindak sesuai dengan persyaratan legislatif, kebijakan lembaga dan f. Mendeklarasikan secara terbuka bila terjadi adanya potensi konflik kepentingan
kode etik yang berlaku untuk perilaku mereka .
b. PNS tidak mengganggu, menindas, atau diskriminasi terhadap rekan atau ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
anggota masyarakat.
c. Kebiasaan kerja PNS, perilaku dan tempat kerja pribadi dan profesional
hubungan berkontribusi harmonis, lingkungan kerja yang nyaman dan produktif.
d. PNS memperlakukan anggota masyarakat dan kolega dengan hormat, penuh
kesopanan, kejujuran dan keadilan, dan memperhatikan secara tepat untuk
kepentingan mereka, hak-hak, keamanan dan kesejahteraan.
e. PNS membuat keputusan adil, tidak memihak dan segera, memberikan
pertimbangan untuk semua informasi yang tersedia, undang-undang dan
kebijakan dan prosedur
f. institusi tersebut
g. PNS melayani stakeholders (lingkup pemerintah, swasta atau masyarakat)
setiap hari dengan tepat waktu, memberikan masukan informasi dan kebijakan.

30. Perilaku Transparansi & Akses Informasi (Transparency and Official Access):
a. PNS tidak mengungkapkan informasi resmi atau dokumen yang diperoleh selain
seperti yang dipersyaratkan oleh hukum atau otorisasi yang diberikan oleh
institusi.
b. PNS tidak menyalahgunakan informasi resmi untuk keuntungan pribadi atau
komersial untuk diri mereka sendiri atau yang lain. Penyalahgunaan informasi
resmi termasuk spekulasi saham berdasarkan informasi rahasia dan
mengungkapkan isi dari surat-surat resmi untuk orang yang tidak berwenang.
c. PNS mematuhi persyaratan legislatif, kebijakan setiapinstansi dan semua
arahan yang sah lainnya mengenai komunikasi dengan pimpinannya di tingkat
kementrian/ lembaga/daerah (menteri, kepala lembaga, kepala daerah),staf
menteri, anggota media dan masyarakat pada umumnya.

31. Menghindari Perilaku Curang dan Koruptif (Fraudulent and Corrupt


Behaviour):
a. PNS tidak terlibat dalam penipuan atau korupsi.
b. PNS dilarang untuk melakukan penipuan yang menyebabkan kerugian
keuangan aktual atau potensial untuk setiap orang atau institusinya.
c. PNS dilarang berbuat curang dalam menggunakan posisi dan kewenangan
mereka untuk keuntungan pribadinya.
d. PNS melaporkan setiap perilaku curang atau korup.
e. PNS melaporkan setiap pelanggaran kode etik.
f. PNS memahami dan menerapkan kerangka akuntabilitas yang berlaku di sektor
publik.

32. Perilaku Penggunaan Sumber Daya Negara (Use of Publik Resources):


a. PNS bertanggung jawab untuk pengeluaran yang resmi.
b. PNS menggunakan sumber daya yang didanai publik secara teliti dan efisien.
Hal ini termasuk fasilitas kantor dan peralatan, kendaraan, voucher biaya taksi,
kredit korporasi kartu dan pembelian barang dan jasa.
c. PNS hanya menggunakan pengeluaran yang berhubungan dengan pekerjaan.
d. PNS tidak menggunakan waktu kantor atau sumber daya untuk pekerjaan partai
politik atau keuntungan pribadi atau keuangan.
e. PNS mematuhi kebijakan dan pedoman dalam penggunaan setiap komputasi
dan komunikasi, fasilitas, dan menggunakan sumber daya tersebut secara
bertanggung
f. jawab.
g. PNS berhati-hati untuk memastikan bahwa setiap perjalanan dinas yang
dilakukan untuk tujuan resmi dan benar-benar diperlukan.
h. PNS menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif dan efisien.

33. Perilaku Penyimpanan dan Penggunaan Data Informasi Pemerintah (Record


Keeping and Use of Government Information):
a. PNS bertindak dan mengambil keputusan secara transparan.
b. PNS menjamin penyimpanan informasi yang bersifat rahasia.
c. PNS mematuhi perencanaan yang telah ditetapkan.
d. PNS diperbolehkan berbagi informasi untuk mendorong efisiensi dan kreativitas.
e. PNS menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan Negara.
f. PNS memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak
lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
g. PNS tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan,
dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri
sendiri
h. atau untuk orang lain.

34. Perilaku berkaitan dengan Konflik Kepentingan (Conflicts of Interest):


a. PNS harus dapat memastikan kepentingan pribadi atau keuangan tidak
bertentangan dengan kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas resmi
mereka dengan tidak
b. memihak
----- NASIONALISME ----- c. Pemeirntah harus berdaulat, artinya harus cukup kuat untuk dapat menjalankan
pemerintahan secara efektif dan efisien.
1. Nasionalisme = pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan
negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. 23. Dengan model demokrasi permusyawaratan ini, legitimasi suatu keputusan
dalam pemerintahan tidak ditentukan oleh seberapa banyak dukungan yang
2. Nasionalisme Pancasila = pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia diperoleh, tapi melalui proses musyawarah yang intens. Menyerupai demokrasi
deliberatif.
terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
24. Dalam wacana demokrasi, secara garis besar terdapat dua model demokrasi,
3. Rasa kebangsaan = kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah
karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan yakni:
aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi a. Majoritarian democracy (demokrasi yang lebih mengutamakan suara
tantangan sejarah masa kini. mayoritas) dan
b. Consensus democracy (demokrasi yang lebih mengutamakan konsensus).
4. Wawasan kebangsaan = cara pandang bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila
25. Tiga pendekatan teoritik dalam melihat gagasan keadilan sosial dan
dan UUD 1945 tentang diri dan lingkungannya dalam mengekspresikan diri sebagai
bangsa Indonesia di tengah-tengah lingkungan nusantara itu. kesejahteraan rakyat, yaitu:
a. Pendekatan keadilan ekonomi pra merkantilis, tantangan keadilan ekonomi
5. Unsur-unsur dasar wawasan kebangsaan = wadah (organisasi), isi, dan tata terjadi ketika ada ketimpangan dalam sistem produksi dan distribusi yang
laku. merasuki dan dilegitimasikan oleh sistem sosial politik yang ada
b. Pendekatan keadilan ekonomi Merkantilis Negara harus mengatur, kalau bukan
6. Wawasan Nusantara = cara pandang Bangsa Indonesia terhadap rakyat, bangsa membatasi perdagangan internasional
c. Pendekatan keadilan ekonomi Pasca Merkantilis: mengedepankan liberalisasi
dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi darat, laut dan udara
di atasnya sebagai satu kesatuan Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pertahanan perdagangan dan mengurangi peran Negara
Keamanan.
26. Political Nationalism = negara menjadi unsur pemersatu
1. Perspektif Teoritis Nilai-nilai Ketuhanan dalam Kehidupan Bernegara 27. Cultural nationalism = semangat untuk mempertahankan warisan historis
tradisi kekuasaan dan kebudayaan sebelumnyasebagai kemajemukan etnis, budaya,
7. Modernisasi dan demokratisasi memerlukan prakondisi berupa adanya
dan agama.
kompromi antara otoritas sekuler (kebangsaan) dan otoritas agama.
28. UU No. 5 Tahun 2014 Pasal 10 = tentang Aparatur Sipil Negara, salah satu fungsi
8. Kunci menuju negara demokratis terletak pada bagaimana mengembangkan
ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik. Secara teoritis, kebijakan publik
toleransi kembar (twin tolerations) dalam konstruksi politik. Toleransi kembar adalah
dipahami sebagai apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak
situasi ketika institusi agama dan negara menyadari batas otoritasnya lalu dilakukan.
mengembangkan toleransi sesuai fungsinya masing-masing.
29. UU No. 25 Tahun 2009 = tentang Pelayanan Publik, pelayanan publik dipahami
9. Untuk mewujudkan toleransi kembar, perlu diterapkan diferensiasi yaitu
sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pembedaan bukan pemisahan.
pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang
10.Terkait keterlibatan institusi agama dalam ranah publik, ada beberapa persyaratan diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
yang harus dipenuhi.
a. Suatu agama tidak hanya dituntut membela kebebasannya sendiri melainkan
30. UU No 5 tahun 2014 pasal 66 ayat 1-2 = terkait sumpah dan janji ketika diangkat
juga kebebasan penganut agama lain.
menjadi PNS, disana dinyatakan bahwa PNS akan senantiasa setia dan taat
b. Agama-agama secara aktif mempersoalkan dunia sekuler, namun tidak dengan
sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah.
keinginan menggantikan jalannya negara, akan tetapi dengan menggugat
realitas sekuler itu secara beretika.
31. UU No 5 tahun 2014 pasal 2 ayat 1 = asas-asas dalam penyelenggaraan dan
c. Agama membela pola dan tata nilai kehidupan tradisional dari pengaruh
kebijakan manajemen ASN ada 13, salah satu diantaranya asas persatuan dan
kenegaraan yang kering nilai namun dengan cara kerja yang sesuai dengan
kesatuan.
perkembangan zaman.

11. Adanya nilai-nilai ketuhanan dalam Pancasila berarti negara menjamin


kemerdekaan masyarakat dalam memeluk agama dan kepercayaan masing-masing.

2. Perspektif Teoritis Nilai-nilai Kemanusiaan dalam Kehidupan


Bernegara

12. Universalisme = HAM adalah hak semua orang yang bersifat universal, tanpa
memandang di mana orang itu berada.

13. Partikularisme = HAM itu harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat di


mana orang itu berada.

14. Globalisasi menimbulkan:


a. peluang emas dalam perekonomian terutama bagi negara-negara maju.
b. penguasaan ekonomi oleh negara maju atas negara yang terbelakang
sebagai konsekuensi dari pasar bebas.

15. Sila kedua Pancasila memiliki konsekuensi ke dalam dan ke luar, berarti:
a. Ke dalam, menjadi pedoman negara dalam memuliakan nilai-nilai
kemanusiaan dan HAM. Ini berarti negara menjalankan fungsi “melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.
b. Ke luar berarti menjadi pedoman politik luar negeri bebas aktif dalam rangka,
“ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

3. Perspektif Teoritis Nilai-nilai Persatuan dalam Kehidupan Bernegara

18. Nasionalisme purba = muncul dalam masyarakat yang masih sederhana, dimana
kesadaran tersebut mengikuti struktur kesempatan politik yang dimungkinkan oleh
rezim kolonialisme, perkembangan sarana komunikasi, kapasitas agen dan
jaringan sosial. Berisifat lokal.

19. Nasionalisme Tua (Proto-Nationalism) = dilandasi oleh kemunculan gerakan


gerakan sosial yang lebih terorganisir seperti organisasi SI (Syarikat Islam)

20. Bangsa = konsep budaya tentang suatu komunitas politis yang secara
keseluruhan dibayangkan (imagined) sebagai kerabat yang bersifat terbatas dan
berdaulat.

21. Negara (state) = konsepsi politik tentang sebuah kesatuan politik yang
berdaulat yang tumbuh berdasarkan kesepakatan dan kontrak sosial yang
meletakkan individu kedalam kerangka kewarganegaraan (citizenship).

4. Perspektif Teoritis Nilai-nilai Permusyawaratan dalam Kehidupan


Bernegara

22. Tiga prasyarat dalam pemerintahan yang demokratis, yakni


a. Kekuasaan pemerintah berasal dari rakyat yang diperintah.
b. Kekuasaan itu harus dibatasi, dan
----- ETIKA PUBLIK ----- 11. Jenis Legitimasi:
a. Legitimasi kekuasaan kebanyakan bersumber dari religi atau keyakinan
1. Etika publik = refleksi kritis yang mengarahkan bagaimana nilai-nilai kejujuran, agama. Masyarakat tunduk pada kekuasaan raja-raja karena mereka percaya
solidaritas, keadilan, kesetaraan, dan lain-lain dipraktikkan dalam wujud bahwa raja adalah satu-satunya manusia yang memegang amanat Tuhan serta
keprihatinan dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Etika publik juga memiliki kekuatan kodrat yang besar.
merupakan refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk, b. Legitimasi sosiologis mendasarkan diri pada fenomena bahwa sekelompok
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik anggota masyarakat bersedia dengan sukarela menyerahkan hak kepada orang
yang terpilih untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan tertentu yang
dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.
menyangkut setiap anggota masyarakat tersebut.
c. legitimasi etis melihat kesesuaian antara dasar-dasar kekuasaan itu dari sudut
2. Kode Etik = aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu kelompok
khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk norma-norma moral. Dengan demikian legitimasi etis bukan sekadar
ketentuan-ketentuan tertulis. Kode etik juga merupakan rumusan eksplisit tentang menyangkut opini masyarakat mengenai keabsahaan seseorang dalam
kaidah-kaidah atau norma yang harus ditaati secara sukarela oleh para pegawai di kekuasaannya, bukan pula hanya berkaitan dengan tatanan hukum tertulis yang
dalam organisasi publik. berlaku di dalamnya, tetapi lebih dari itu meletakkan prinsip-prinsip moral atas
kekuasaan tadi.
3. Kode Etik Profesi = untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus
12. Kekuasaan yang memiliki legitimasi paling kuat adalah yang memenuhi landasan
dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat
dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu. legitimasi etis.:
a. landasan etis memiliki basis yang sangat kuat bagi perilaku manusia, maka
4. Konflik kepentingan = tercampurnya kepentingan pribadi dengan kepentingan keabsahan penggunaan kekuasaan akan pasti terjamin jika sudah memenuhi
organisasi yang mengakibatkan kurang optimalnya pencapaian tujuan organisasi. kaidah-kaidah etis.
b. legitimasi etis berada di belakang setiap tatanan normatif dalam perilaku
5. Berdasarkan UU ASN, kode etik dan kode perilaku ASN yakni sebagai berikut: manusia
c. etika tidak mendasarkan diri pada pandangan-pandangan moral de facto
a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas
tinggi. yang berlaku dalam masyarakat saja, legitimasi etis tidak akan pernah dibatasi
oleh ruang dan waktu
b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.
c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan.
13. Sumber kode etik dalam administrasi publik meliputi:
d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
a. PP No. 11 Tahun 1959 = Sumpah Jabatan Pegawai Negeri Sipil dan Anggota
e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat yang
berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- Angkatan Perang.
b. PP No. 21 Tahun 1975 = Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil.
undangan dan etika pemerintahan.
f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara. c. PP No. 30 Tahun 1980 = Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
d. PP No. 42 Tahun 2004 = Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai
g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,
Negeri Sipil.
efektif dan efisien.
e. PP No. 53 Tahun 2010 = Disiplin PNS.
h. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.
f. UU No. 5 Tahun 2014 = Aparatur Sipil Negara (ASN).
i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
j. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan, dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri
sendiri atau untuk orang lain.
k. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas
ASN.
l. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
pegawai ASN.

6. Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam UU ASN, yakni sebagai
berikut:
a. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
b. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia 1945.
c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah.
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat,
berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
k. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai
perangkat sistem karir.

7. Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik, yakni:


a. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
b. Sisi dimensi reflektif, Etika Publik berfungsi sebagai bantuan dalam
menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi.
c. Modalitas Etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan faktual.

8. Tiga dimensi etika publik:


a. Dimensi Kualitas Pelayanan Publik: Etika publik menekankan pada aspek nilai
dan norma, serta prinsip moral, sehingga etika publik membentuk integritas
pelayanan publik.
b. Dimensi Modalitas: Unsur-unsur modalitas dalam etika publik yakni
akuntabilitas, transparansi dan netralitas.
c. Dimensi Tindakan Integritas Publik: Integritas publik dalam arti sempit yakni
tidak melakukan korupsi atau kecurangan. Adapun maknanya secara luas yakni
tindakan yang sesuai dengan nilai, tujuan dan kewajibannya untuk memecahkan
dilema moral yang tercermin dalam kesederhanaan hidup.

9. Perubahan mindset ini merupakan reformasi birokrasi yang paling penting,


setidaknya mencakup tiga aspek penting yakni:
a. Pertama, berubah dari penguasa menjadi pelayan;
b. Kedua, merubah dari ’wewenang’ menjadi ’peranan’;
c. Ketiga, menyadari bahwa jabatan publik adalah amanah, yang harus
dipertanggung jawabkan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.

10. Dalam Reformasi Birokrasi ada 8 area perubahan yang harus dilakukan oleh
seluruh Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Pusat & Daerah di Indonesia yakni:
a. Manajemen Perubahan.
b. Penataan Peraturan Perundang-undangan.
c. Penataan dan Penguatan Organisasi.
d. Penataan Tatalaksana.
e. Penataan Sistem Manajemen SDM.
f. Penguatan Akuntabilitas.
g. Penguatan Pengawasan.
h. Peningkatan Pelayanan Publik.
----- KOMITMEN MUTU ----- c. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang
memberikan pelayanan (nama,jabatan serta kewenangan dan tanggung
1. Efektivitas = tingkat ketercapaian target yang telah direncanakan, baik menyangkut jawabnya);
jumlah maupun mutu hasil kerja. d. Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan
pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang
2. Efisiensi = tingkat ketepatan realisasi penggunaan sumberdaya dan bagaimana berlaku;
e. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung
pekerjaan dilaksanakan, sehingga tidak terjadi pemborosan sumberdaya,
jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan;
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur, dan mekanisme yang ke luar alur.
f. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan yang
3. Mutu = nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan (customer) dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada
masyarakat;
sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, dan bahkan melampaui harapannya.
g. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam
4. Karakteristik ideal dari tindakan yang efektif dan efisien antara lain: waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan;
h. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak
a. Penghematan,
membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani;
b. Ketercapaian target secara
i. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam
c. Tepat sesuai dengan yang direncanakan,
d. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta
e. Terciptanya kepuasan semua pihak: pimpinan, pelanggan, masyarakat, dan saling menghargai dan menghormati;
pegawai itu sendiri. j. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap
besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan;
5. Karakteristik ideal dari tindakan yang berorientasi mutu antara lain → diarahkan k. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan
untuk meningkatkan kepuasan masyarakat sebagai pelanggan, baik menyangkut dengan biaya yang telah ditetapkan;
layanan yang merujuk pada producer view maupun customer view. l. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai
dengan ketentuan yang telah ditetapkan;
6. Sepuluh strategi yang mesti dijalankan organisasi agar pelaksanaan manajemen m. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang
mutu terpadu dapat berjalan baik, yaitu: bersih, rapi, dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada
penerima pelayanan;
a. menyusun program kerja jangka panjang yang berbasis mutu;
n. Keamanan Pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit
b. membangun mindset pegawai terhadap budaya mutu;
c. mengembangkan budaya kerja yang berorientasi mutu, bukan sekedar penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga
melaksanakan tugas rutin dan sebagai formalitas menggugurkan kewajiban; masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-
d. meningkatkan mutu proses secara berkelanjutan agar dapat menampilkan resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.
kinerja yang lebih baik dari waktu ke waktu (doing something better and better
11. Proses implementasi manajemen mutu diawali dengan:
at the right time);
e. membangun komitmen pegawai untuk jangka panjang; a. Menganalisis masalah yang telah diidentifikasi,
b. Menyusun rencana mutu,
f. membangun kerjasama kolegial antarpegawai yang dilandasi kepercayaan dan
c. Melaksanakan pekerjaan berbasis rencana mutu,
kejujuran;
d. Mengawal pelaksanaan, dan mengawasi ketercapaiannya, dan
g. memfokuskan kegiatan pada kepuasan pelanggan, baik internal maupun
e. Merancang upaya peningkatannya agar dapat membangun kredibilitas lembaga
eksternal;
h. beradaptasi dengan tuntutan perubahan; pemerintah.
i. menampilkan kinerja tanpa cacat (zerodefect) dan tanpa pemborosan
12. Cara memperbaiki mutu layanan dari pegawai ASN kepada publik. Misalnya:
(zerowaste), sejak memulai setiap pekerjaan (doing the right thing right first time
and every time); a. Memahami fungsi, tugas pokok, dan peran masing masing;
j. menjalankan fungsi pengawasan secara efektif untuk mengawal keterlaksanaan b. Kompeten pada bidang pekerjaannya;
program kerja. c. Memiliki target mutu layanan;
d. Memahami karakter masyarakat yang membutuhkan layanan;
7. Keberhasilan implementasi manajemen mutu dapat diukur berdasarkan empat e. Menguasai teknik pelayani prima dengan memberikan layanan prima dan
kriteria utama yaitu: bersedia menerima kritik untuk perbaikan ke depan.
a. Program ini harus didasarkan pada kesadaran akan mutu dan berorientasi pada
13. Tanggung jawab mutu ada pada setiap level organisasi, meliputi:
mutu dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap
a. Level puncak (corporate level) bertanggung jawab atas mutu layanan institusi
proses dan produk.
secara keseluruhan untuk membangun citra kelembagaan dan keunggulan
b. Program itu harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat untuk membawa
bersaing.
mutu pada cara karyawan diperlakukan, diikutsertakan, dan diberi inspirasi.
b. Level strategic business unit level tanggung jawab mutu berkaitan dengan
c. Program ini harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan
penetapan diversifikasi mutu pada setiap unit kerja sesuai dengan target
wewenang di semua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusias
keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan, bukan hanya slogan masing-masing.
kosong. Keempat, TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua c. Level fungsional bertanggung jawab atas mutu hasil setiap layanan yang
prinsip, kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah d. diberikan di unit-unit pendukung.
e. Level unit dasar tanggung jawab mutu berkaitan dengan aktivitas/ rencana
organisasi.
aksi yang dilaksanakan di masing-masing unit kerja.
8. Nilai-nilai dasar orientasi mutu dalam memberikan layanan prima sekurang-
kurangnya akan mencakup hal-hal berikut: 14. Produktivitas merupakan rasio antara output dengan input, baik dari:
a. Sisi proses, produktivitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan
a. Mengedepankan komitmen terhadap kepuasan customers/ clients;
produk/jasa, sedangkan dari.
b. Memberikan layanan yang menyentuh hati, untuk menjaga dan memelihara agar
b. Sisi hasil, produktivitas menunjukkan capaian hasil (output) yang diperoleh
customers/clients tetap setia;
dalam kurun waktu tertentu berdasarkan target yang direncanakan.
c. Menghasilkan produk/jasa yang berkualitas tinggi: tanpa cacat, tanpa kesalahan,
dan tidak ada pemborosan;
15. Upaya peningkatan produktivitas PNS misalnya:
d. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, baik berkaitan dengan pergeseran
tuntutan kebutuhan customers/clients maupun perkembangan teknologi; a. Peningkatan kompetensi,
e. Menggunakan pendekatan ilmiah dan inovatif dalam pemecahan masalah dan b. Motivasi,
pengambilan keputusan; c. Penegakan disiplin, serta
d. Pengawasan secara profesional untuk mengawal kinerja PNS agar tetap berada
f. Melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan melalui berbagai cara, antara
di jalur yang tepat.
lain: pendidikan, pelatihan,pengembangan ide kreatif, kolaborasi, dan
benchmark.
16. Faktor-faktor penghambat upaya untuk meningkatkan kinerja aparatur antara lain:
9. Alat pemastian mutu pelanggan, meliputi: a. Perubahan pola pikir (mindset) aparatur,
a. Standar pelayanan pelanggan: Standar mutu misalnya pelanggan menunggu b. Pergeseran budaya kerja,
c. Perbaikan tata kelola pemerintahan (good corporate governance).
tidak lebih dari lima menit dalam antrian yang menjadi komitmen pemerintah dan
mempublikasikannya.
17. Inovasi dapat:
b. Ganti rugi pelanggan (customer redress): Memberi beberapa bentuk
a. Menekan biaya produksi,
kompensasi kepada pelanggan biasanya uang, ketika organisasi gagal
memenuhi standar pelayanan pelanggan. b. Meningkatkan produktivitas,
c. Jaminan mutu: Komitmen organisasi untuk mengembalikan seluruh uang yang c. Menambah keuntungan,
dikelurakan pelanggan atau memberi pelayanan pengganti gratis jika pelanggan d. Memperkuat organisasi dalam meningkatkan daya saing di era ekonomi global,
e. Meningkatkan kemampuan organsasi dalam beradaptasi dengan perubahan
tidak puas terhadap pelayanan yang diterimanya.
d. Audit mutu: Biasanya bekerja dalam tim yang mencakup profesional dan non lingkungan.
profesional, mengaudit pelayanan peme rintah dan menilai mutunya.
18. Inovasi dalam pelayanan publik sangat terkait dengan kapasitas organisasi dan
e. Penanganan Keluhan Pelanggan: Menelusuri dan menganalisis keluhan
tuntutan lingkungan eksternal untuk melakukan perubahan yang lebih baik.
pelanggan, memastikan respon segera, menciptakan metode dimana organisasi
bisa belajar dari kesalahan tersebut untuk memperbaiki pelayanan mereka.
19, Prinsip kunci dan strategi untuk inovasi dalam pemerintahan, yaitu:
f. Ombudsman: Membantu pelanggan untuk memecahkan permasalahan atau
a. Mengintegrasikan layanan;
persengketaan dan mendapatkan pelayanan atau informasi yang mereka
b. Desentralisasi pelayanan;
butuhkan ketika mereka tidak puasa dengan sistem penanganan keluhan.
c. Memanfaatkan kemitraan;
10. Kepmen PAN No. KEP/25/M.PAN/2/2004 = Pedoman Umum Penyusunan Indeks d. Melibatkan warga negara;
Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, diukur oleh 14 unsur e. Mengambil keuntungan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi, Inovasi dalam
sebagai berikut: Pemerintahan dan Administrasi Umum.
a. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan
20. Inovasi berbentuk penemuan baru atau mengandung unsur kebaruan,
kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan;
misalnya:
b. Persyaratan Pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang
a. Penyempurnaan atau perbaikan dari karya yang sudah ada,
diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya;
b. Produk imitasi (tiruan) yang memiliki nilai tambah, serta
c. Karya hasil sintesis.

21. Sifat kreatif pegawai ditandai oleh karakteristik berikut:


a. Senantiasa merasa butuh untuk terus mengembang kan kemampuannya;
b. Dinamis dan berpikir kritis terhadap situasi yang berkembang;
c. Menjadikan keterbatasan sebagai sarana untuk melakukan kreativitas dan
inovasi.

22. Faktor pendorong yang memfasilitasi lahirnya kreatifitas dan inovasi adalah:
a. Kepemimpinan yang memiliki visi dan misi untuk melakukan perubahan yang
lebih baik;
b. Lingkungan kerja yang mendorong terciptanya kreativitas kerja;
c. Budaya organisasi yang menfasilitasi terjadinya inovasi, seperti budaya kerja
dinamis, kreatif, tidak cepat puas, tidak cepat menyerah, pekerja keras, malu jika
tidak berbuat lebih baik, dan dapat mengapresiasi hasil karya orang lain.
----- ANTI KORUPSI -----
1. Penanaman nilai integritas diantaranya melalui :
a. Kesediaan,
b. Identifikasi dan
c. Internalisasi.

2. Teknik-teknik khusus untuk bawah sadar dapat dilakukan apabila kemampuan


Anchoring, Utilisasi , Rileksasi , Amplifiying, Modality, Asosiasi dan Sugesti
dikuasai dengan baik, kemampuan tersebut disingkat menjadi AURA MAS.

3. Tunas Integritas = individu yang terpilih untuk memastikan lebih banyak lagi
personil organisasi yang memiliki integritas tinggi serta berkiprah nyata dalam
membangun sistem integritas di organisasinya.

4. Jenis dan bentuk sistem integritas, diantaranya :


a. Kebijakan perekrutan dan promosi,
b. Pengukuran kinerja,
c. Sistem dan Kebijakan Pengembangan SDM,
d. Pengadaan Barang dan Jasa,
e. Kode Etik dan Pedoman Perilaku,
f. Laporan Harta Kekayaan Penyelengara Negara,
g. Program Pengendalian Gratifikasi

5. Kematangan pelaksanaan programnya lewat tahapan:


a. Not Performance (belum ada kinerja),
b. Adhoc, (sementara, reaktif , mendadak),
c. Planned (terencana dan teroganisasi dengan baik),
d. Institutionalized (menyatu dengan sistem organisasi,
e. Evaluated (telah dapat dievaluasi),\
f. Optimized (dapat dioptimalkan).

6. Sumber hukum:
a. Permen PU No. 26 / 2017 = Budaya Integritas
b. Permen PU No. 14 / 2016 = Pengendalian Gratifikasi
c. UU No. 13 / 2003 = Kompetensi ASN, meliputi Knowledge, Skill, Attitude

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------