Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS KESALAHAN MAHASISWA DALAM EMECAHKAN MASALAH

TRIGONOMETRI

Sri Adi Widodo1) dan A. A. Sujadi2)


1), 2)
Pendidikan Matematika, FKIP
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
1)
dodok_chakep@yahoo.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan
masalah trigonometri. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, dengan subyek
penelitian adalah 80 mahasiswa yang diambil berdasarkan purposive sampling. Pengumpulan data
menggunakan teknik think out loud. Teknik analisis data yang digunakan adalah (1) menelaah
semua data yang terkumpul, (2) menelaah hasil pekerjaan mahasiswa dalam menyelesaikan
masalah trigonometri, (3) melakukan verifikasi dari data. Pengecekan keabsahan data
menggunakan derajat keterpercayaan dengan menggunakan teknik triangulasi. Kesalahan tahap
pertama dan kedua adalah kesalahan konsep, kesalahan tahap ketiga adalah kesalahan perhitungan
dan kesalahan tahap empat adalah kesalahan kebiasaan dan penegasan jawaban.

ABSTRACT

The aim of this research to know the error of problem solving in trigonometry. This research
used the qualitative descriptive, with the subject of research is 80 students who were taken be
based on purposive sampling. The procedure of the data was used by the think out louds.
Technically the analysis of the data that was used was (1) studied all the data’s that were gathered,
(2) studied results of the work of the student in resolving the problem of trigonometry, (3) carried
out the verification from the data. The checking of the legality of the data used the triangulation.
The first and second stage of error was the concept, the third stage of error was the algorithm, and
the fourth stage of error was habits and Confirmation of the answer.
Keyword: error, problem solving, trigonometry,

PENDAHULUAN untuk menyelesaikan masalah maka soal


tematika tersebut tidak menjadi masalah
Masalah dalam matematika adalah
bagi perta didik. Menyingkapi hal tersebut
suatu soal matematika yang di dalamnya
maka soal matematika yang menjadi
tidak terdapat prosedur rutin yang dengan
masalah bagi peserta didik akan berbeda
cepat dapat digunakan untuk menyelesaikan
antara individu satu dengan individu yang
masalah dimaksud. Tetapi tidak semua soal
lain. Walapun setiap individu mempunyai
matematika menjadi masalah bagi peserta
masalah matematika yang berbeda-beda
didik. Suatu soal matematika dapat menjadi
tetapi setiap peserta didik tidak dapat
masalah matematika jika peserta didik tidak
menghindar dari kesulitan-kesulitan dalam
mempunyai gambaran untuk menyelesaikan
belajar matematika.
permasalahan, tetapi peserta didik tersebut
Dalam dunia pendidikan matematika,
berkeinginan untuk menyelesaikan masalah
pemecahan masalah juga menjadi hal yang
matematika tersebut. Lain halnya jika
peserta didik tersebut mempunyai gambaran penting untuk ditanamkan pada diri peserta

Jurnal Sosiohumaniora Volume 1 No 1 April 2015 51


didik. Seperti yang diungkapkan oleh karena pada kenyataannya setiap manusia
Djamilah Bondan Widjajanti (2009: 403) tidak akan bebas dari masalah, karenanya
kemampuan pemecahan masalah menjadi manusia harus berani menghadapi dan
fokus pembelajaran matematika di semua selalu berusaha untuk memecahkan masalah
jenjang. Hal ini dikarenakan tujuan yang dihadapi dan bagaimananapun harus
pembelajaran matematika bagi peserta didik dicari jalan penyelesaiannya dengan sedikit
adalah peserta didik mampu atau trampil atau banyak pengetahuan untuk
dalam memecahkan masalah matematika, menyelesaikannya. Oleh karena itupula,
sebagai sarana untuk mengasah penalaran belajar memecahkan masalah perlu
yang cermat, logis, kritis, dan kreatif. diajarkan kepada siswa
Muhtarom menambahkan bahwa Menurut Clara Ika Sari Budayanti
pemecahan masalah dapat membantu siswa (2008) ada dua jenis pemecahan masalah
dalam mengembangkan kemampuan matematika yaitu pemecahan masalah rutin
berpikir, memecahkan masalah dan dan pemecahan masalah non rutin.
ketrampilan intelektual, sehingga proses Pemecahan masalah rutin menggunakan
berpikir dapat dijadikan sebagai salah satu prosedur standar yang diketahui dalam
prioritas dalam tujuan pembelajaran matematika. Sedangkan pemecahan
matematika. masalah non rutin masalah yang diberikan
Pemecahan masalah dalam merupakan situasi masalahyang tidak biasa
matematika adalah suatu aktivitas untuk dan tidak ada standar yang pastiuntuk
mencari penyelesaian dari masalah menyelesaikannya. Sedangkan menurut
matematika yang dihadapi dengan Bunga Suci Bintari Rindyana dan Tjang
menggunakan semua pengetahuan Daniel Chandra (2013), pemecahan
matematika yang dimiliki oleh peserta masalah dalam matematika sekolah
didik. Hal senada diungkapkan oleh biasanya diwujudkan melalui soal cerita.
Goenawan Roebyanto dan Aning Wida Polya (1973: 5 – 19) menyatakan
Yanti (2014) masalah adalah suatu situasi bahwa langkah-langkah untuk
yang memenuhi persyaratan (1) situasi menyelesaikan masalah matematika adalah:
tersebut menunjukkan adanya kesenjangan memahami masalah, membuat rencana,
antara harapan dan kenyataan, (2) situasi melaksanakan rencana, memeriksa kembali
tersebut membangkitkan motivasi bagi jawaban. Untuk memahami suatu
orang tersebut untuk berupaya menemukan permasalahan dapat dilakukan dengan
jalan keluarnya, dan (3) tidak tersedia beberapa cara, diantaranya adalah dengan
secara “instant” alat yang dapat digunakan membaca berulang-ulang, menanyakan
untuk mewujudkan keinginan orang pada diri sendiri tentang apa yang ketahui,
tersebut untuk menemukan jalan keluarnya. apa yang tidak diketahui, dan menanyakan
Pemecahan masalah dapat dipandang tujuan dari permasalahan matematika.
sebagai proses, sebab pemecahan masalah Untuk membuat rencana menyelesaikan
dalam matematika akan menemukan dan permasalahan dapat dilakukan dengan
menggunakan kombinasi serta aturan- mencari hubungan antara data (informasi)
aturan yang telah diketahui untuk yang diketahui dengan yang tidak diketahui,
digunakan dalam pemecahan masalah itu. dimungkinkan pula melakukan perhitungan
Dalam kehidupan manusia pemecahan pada variabel yang tidak diketahui tersebut.
masalah merupakan aktivitas sehari-hari, Pada tahapan melaskanakan rencana peserta

52 Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri


didik akan memeriksa tiap-tiap langkah merencanakan untuk menyelesaikan
yang tertuang dalam rencana dan masalah, melaksanakan rencana dan
menuliskannya secara detail untuk memeriksa kembali hasil jawaban siswa.
memastikan bahwa tiap-tiap langkah Akan tetapi, pendidik pada jenjang sekolah
tersebut sudah benar. Sedangkan pada tahap menengah biasanya memberikan langkah-
memeriksa kembali jawaban peserta didik langkah menyelesaikan masalah yaitu (1)
akan melihat kembali jawabannya untuk Diketahui, (2) ditanyakan, dan (3) dijawab.
menyakinkan bahwa hasil jawaban dari Walalupun ketiga langkah pemecahan
permasalahan tersebut sudah benar. masalah kurang memberikan ruang
Bransford yang dikutip oleh Didi kreatifitas siswa dalam memecahkan
Suryadi (2011), langkah-langkah masalah tetapi langkah-langkah pemecahan
memecahkan masalah meliputi (1) masalah inilah yang lazim dan sangat
mengidentifikasi masalah, (2) populer di kalangan peserta didik dan
mendefinisikan masalah melalui proses pendidik di sekolah menengah. Seperti yang
berpikir tentang masalah tersebut serta diungkapkan oleh Dindin Abdul Muiz
melakukan pemilahan informasi yang Lidinilah (2012) bahwa guru hanya
relevan, (3) eksplorasi solusi melalui menggunakan sajian soal dari buku yang
pencarian alternat if, brainstorming, dan kurang memberikan ruang kreativitas siswa
melakukan pengecekan dari berbagai sudut dalam memecahkan masalah. Sehingga
pandang, (4) melaksanakan alternatif LKS yang tersedia hanya berupa langkah-
strategi yang dipilih, dan (5) meriviu langkah, seperti: ”Diketahui”;
kembali dan mengevaluasi akibat-akibat ”Ditanyakan”; dan ”Dijawab”, sementara
dari aktivitas yang dilakukan. Williams alat peraga manipulatif jarang digunakan.
dalam Goenawan Roebyanto dan Aning Menurut Dindin Abdul Muiz
Wida Yanti (2014) mengajukan langkah- Lidinilah (2012) seseorang dianggap
langkah untuk memecahkan masalah sebagai pemecah masalah yang baik jika ia
matematika adalah memahami masalah, mampu memperlihatkan kemampuan
menyelesaikan masalah, mengajukan memecahkan masalah yang dihadapi
masalah baru, merencanakan strategi, dan dengan memilih dan menggunakan berbagai
mengecek jawaban. Sedangkan menurut alternatif strategi sehingga mampu
Schoenfeld dalam Dindin Abdul Muiz mengatasi masalah tersebut. Cara berpikir
Lidinilah (2012) terdapat 5 tahapan dalam secara matematis yang efektif dalam
memecahkan masalah, yaitu Reading, memecahkan masalah meliputi tidak saja
Analisys, Exploration, aktivitas kognitif, seperti menyajikan dan
Planning/Implementation, dan Verification. menyelesaikan tugas serta menerapkan
Tahapan-tahapan dari Schoenfeld ini telah strategi untuk menemukan solusi, tetapi
dikembangkan menjadi Reading, juga meliputi pengamatan metakognisi yang
Understanding, Analisys, Exploration, digunakan untuk mengatur berbagai
Planning, Implementation, dan Verification. aktivitas serta untuk membuat keputusan
Dari pendapat tentang pemecahan sesuai dengan kemampuan kognitif yang
masalah tersebut, langkah-langkah dimiliki. dinyatakan bahwa menurut
pemecehan masalah sebenarnya bermuara berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak
pada empat langkah pemecehan masalah yang diberi banyak latihan pemecahan
Polya, yaitu memahami masalah, masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam

Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri 53


dalam tes pemecahan masalah c. Kesalahan pada langkah
dibandingkan dengan anak yang latihannya melaksanakan rencana pemecahan
sedikit. masalah atau kesalahan tahap ketiga:
Kesalahan peserta didik dalam (1) mahasiswa tidak menggunakan
menyelesaikan masalah dapat menjadi salah langkah-langkah secara benar, (2)
satu petunjuk untuk mengetahui sejauh mahasiswa tidak terampil dalam
mana peserta didik menguasai materi. Oleh algoritma dan ketepatan menjawab
karena itu, adanya kesalahan-kesalahan soal
yang dilakukan oleh peserta didik perlu d. Kesalahan pada langkah memeriksa
untuk diidentifikasi dan dicari faktor-faktor kembali jawaban atau kesalahan tahap
apa saja yang mempengaruhinya kemudian empat: mahasiswa tidak melakukan
dicari solusi penyelesaiannya. Dengan pemeriksaan jawaban soal terhadap
demikian, informasi tentang kesalahan masalah
dalam menyelesaikan masalah dapat Kesalahan dalam memecahkan
digunakan untuk meningkatkan mutu masalah dapat terjadi jika mahasiswa
kegiatan belajar mengajar dan dapat melakukan indikator kesalahan dalam
meningkatkan prestasi belajar peserta didik. tahapan-tahapan memecahkan masalah.
Selain itu kesalahan yang dilakukan siswa Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
dalam menyelesaikan soal perlu dianalisis. kesalahan dalam proses berpikir
Dengan analisis kesalahan ini guru dapat
diantaranya adalah (1) Siswa tidak
membantu siswa memperbaiki kesalahan menangkap konsep matematika dengan
dan mengatasi kesulitan yang dihadapi benar. Siswa belum sampai ke proses
siswa sehingga pada akhirnya diharapkan abstraksi, masih dalam dunia kongkrit.
dapat meningkatkan prestasi belajar Siswa baru sampai ke permasalahan
matematika siswa. instrumen, yang hanya tahu contoh-contoh
Berdasarkan langkah-langkah tetapi tidak dapat mendeskripsikannya.
pemecahan masalah Polya tersebut maka Siswa belum sampai ke pemahaman relasi,
letak kesalahan dalam menyelesaikan yang dapat menjelaskan hubungan antar
masalah matematika yaitu. konsep-konsep lain yang diturunkan dari
a. Kesalahan pada langkah memahami
konsep terdahulu yang belum dipahaminya.
masalah atau kesalahan tahap (2) Siswa tidak menangkap arti dari
pertama: (1) mahasiswa tidak dapat lambang-lambang. Siswa hanya dapat
menentukan hal-hal dalam soal melukiskan atau mengucapkan, tanpa dapat
tentang apa yang diketahui dan hal- menggunakannya. Akibatnya, semua
hal yang ditanyakan, (2) mahasiswa kalimat matematika menjadi tidak berarti
dapat menceritakan kembali tentang baginya, sehingga siswa memanipulasi
masalah dengan bahasanya sendiri. sendiri lambang-lambang tersebut. (3)
b. Kesalahan pada langkah membuat Siswa tidak memahami asal usul suatu
rencana pemecahan masalah atau prinsip. Siswa tahu apa rumusnya dan
kesalahan tahap kedua: (1) mahasiswa bagaimana menggunakannya, tetapi tidak
tidak mengetahui syarat cukup dan tahu mengapa rumus itu digunakan.
syarat perlu suatu masalah, (2) Akibatnya, siswa tidak tahu di mana atau
mahasiswa tidak menggunakan semua dalam konteks apa prinsip itu digunakan.
informasi yang telah dikumpulkan.

54 Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri


(4) Siswa tidak lancar menggunakan peserta didik tidak mampu melakukan
operasi dan prosedur. Ketidaklancaran perhitungan dengan tepat atau dengan baik.
menggunakan operasi dan prosedur Sedangkan kesalahan algoritma atau
terdahulu mempengaruhi pemahaman prosedur adalah kesalahan yang dilakukan
prosedur selanjutnya. (5) Ketidaklengkapan oleh peserta didik dikarenakan
pengetahuan. Ketidaklengkapan ketidakmampuan memanipulasi langkah-
pengetahuan dapat menghambat langkah untuk menyelesaikan masalah.
kemampuan siswa untuk memecahkan Prestasi belajar mahasiswa
masalah matematika. Sementara pendidikan matematika, terutama pada mata
pembelajaran matematika berlanjut secara kuliah trigonometri di tahun akademik 2013
berjenjang. – 2014 menunjukkan bahwa masih banyak
Menurut Subaidah (2006: 172) jenis mahasiswa yang memperoleh nilai dibawah
kesalahan terbagi menjadi tiga yaitu 56. Hal ini berdampak pada semakin
kesalahan konsep, kesalahan prinsip dan banyaknya mahasiswa yang menempuh
kesalahan operasi. Kesalahan konsep adalah matakuliah trigonometri di tahun akademik
kesalahan pemahaman terhadap konsep- berikutnya. Rendahnya prestasi belajar
konsep yang terkait dengan materi. peserta didik dipengaruhi oleh beberapa
kesalahan prinsip adalah kesalahan faktor seperti strategi pembelajaran yang
karenasalah memahami prinsip atau digunakan selama proses pembelajaran,
menerapkan prinsip yang ada dalam soal. tingkat kecemasan dan motivasi belajar.
Sedangkan Kesalahan operasi yaitu Terlepas dari faktor-faktor yang
kesalahan dalam melakukan perhitungan. mempengaruhi tersebut, pendidik perlu
Sedangkan Wiwin Sri Hidayat (2012: 2), mengetahui kesalahan-kesalahan yang
menambahkan bahwa selain ketiga jenis dilakukan oleh peserta didik. Hal ini
kesalahan tersebut masih ada satu jenis dikarenakan nilai prestasi belajar yang tidak
kesalahan yaitu kesalahan kesalahan fakta. maksimal dikarenakan proses
Kesalahan fakta adalah kesalahan yang menyelesaikan masalah terdapat kesalahan.
terkait dengan materi dan yang ada dalam Rendahnya prestasi belajar
soal. mahasiswa dikarenakan adanya kesalahan
Muhammad Zaenal Abidin (2012) selama proses berpikir untuk memecahkan
menyatakan bahwa ada empat jenis masalah. Kesalahan-kesalahan yang
kesalahan yaitu kesalahan konsep, dilakukan peserta didik seperti kesalahan
kesalahan prinsip, kesalahan teknis dan konsep, prinsip dan perhitungan
kesalahan algoritma/prosedur. Kesalahan menyebabkan skor yang diperoleh peserta
konsep adalah kesalahan yang dilakukan didik tidak mencapai skor maksimum ideal
peserta didik dikarenakan ketidakmampuan yang telah ditetapkan oleh pendidik. Untuk
peserta didik dalam emenentukan teorema mengurangi kesalahan-kesalahan yang
atau rumus yang digunakan untuk dilakukan dalam memecahkan masalah,
menyelesaikan masalah. Kesalahan prinsip peserta didik diantaranya perlu melakukan
adalah kesalahan yang dilakukan peseerta latihan soal memecahkan masalah secara
didik dikarenakan tidak menuliskan atau berulang-ulang dalam artian latihan soal
salah dalam menuliskan teorema atau berulang-ulang, mengidentifikasi kesalahan
rumus. Kesalahan teknis adalah kesalahan yang dilakukan dalam memecahkan soal,
yang dilakukan peserta didik dikarenakan mengaitkan konsep-konsep masalah

Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri 55


matematika dengan jawaban peserta didik Penelitian ini termasuk dalam
yang salah. penelitian deskriptif kualitatif. Sehingga
Tidak hanya peserta didik, pendidik penelitian ini bertujuan untuk memahami
juga perlu mengidentifikasi kesalahan- fenomena yang dialami oleh subyek
kesalahan yang dilakukan peserta didik penelitian dan memberikan gambaran dari
dalam memecahkan masalah. Hal ini suatu gejala yang ada dan menjawab
dilakukan untuk mengulang kembali konsep pertanyaan-pertanyaan yang ada yang
atau materi yang berkaitan dengan konsep berhubungan dengan status (keadaan)
atau materi yang sering dilakukan oleh subyek penelitian pada saat tertentu.
peserta didik. Dengan mengidentifikasi Menurut Suharsimi Arikunto (2002:
kesalahan dan mengulang kembali konsep 108) populasi adalah keseluruhan subyek
atau materi harapannya peserta didik dapat penelitian, sehingga populasi dalam
mengurangi kesalahan-kesalahan dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa
emecahkan maslah matematika khususnya yang mengambil mata kuliah trigonometri
trigonometri. pada tahun akademik 2014-2015, yaitu
Analisis kesalahan secara mendetail sebanyak 160 mahasiswa yang terbagi
dibutuhkan agar kesalahan-kesalahan menjadi 4 (empat kelas). Pengambilan
peserta didik dapat diminimalisisr sehngga subyek penelitian bertujuannya untuk
pada akhirnya prestasi belajar peserta didik merinci kekhususan yang ada dalam
dapat meningkat dan perlu diidentifikasi ramuan konteks yang unik dan untuk
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya menggali informasi yang menjadi dasar dari
kesalahan tersebut. Terutama pada mata rancangan serta teori yang muncul. Sampel
kuliah trigonometri. Hal ini dikarenakan, dalam penelitian penelitian ini diambil
mata kuliah trigonometri merupakan salah dengan cara proporsional cluster random.
satu matakuliah wajib lulus pada program Dimana populasi yang telah dibagi dalam
studi pendidikan matematika dan salah satu empat kelas diambil sebanyak 50% dari
cabang matematika yang diberikan kepada tiap-tiap kelas. Sehingga secara keseluruhan
peserta didik jenjang sekolah menengah. ukuran sampel yang digunakan dalam
Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini sebanyak 80 mahasiswa.
penelitian ini adalah untuk mengetahui Karena penelitian ini adalah
kesalahan mahasiswa matematika dalam penelitian kualitatif, maka peneliti berperan
menyelesaikan masalah trigonometri. sebagai instrumen utama dalam
mengumpulkan data, dibantu dengan
METODE PENELITIAN instrumen pendukung yaitu instrumen Tes
Memecahkan Masalah Trigonometri
Penelitian dilakukan di Program Studi
(TMMT). Untuk memperoleh data
Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan
penelitian, mahasiswa diminta untuk
dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
mengerjakan TMMT pada lembar jawab
Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
yang telah disediakan untuk menyampaikan
Yogyakarta. Penelitian ini berlangsung
apa yang dipikirkan ketika menyelesaikan
selama 6 (enam) bulan dan dimulai pada
masalah. Dalam hal ini metode yang
bulan Desember 2014 dan berakhir pada
digunakan untuk mengumpulkan data
bulan Juni 2015.
adalah Think Out Louds (TOL) atau juga
yang dikenal dengan sebutan Think Aloud.

56 Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri


Someren (2010: 41), menyatakan bahwa (dependability) dan kepastian
Think aloud adalah metode, dimana subjek (confirmability). Tidak semua kriteria
diminta untuk menyuarakan pikirannya tersebut digunakan dalam penelitian ini,
selama menyelesaikan suatu masalah dan tetapi hanya kriteria derajat keterpercayaan
memintanya untuk mengulangi lagi jika ada saja yang digunakan dalam penelitian ini.
yang perlu dikemukakan selama proses Pada kriteria derajat keterpercayaan
penyelesaian masalah, dalam hal ini (credibility), beberapa teknik pemeriksaan
memberi kesempatan kepada subjek untuk data yang dapat digunakan diantaranya
mengatakan sesuatu atau apa yang sedang adalah perpanjangan keikutsertaan,
ia pikirkan. ketekunan pengamatan, triangulasi,
Berdasarkan tahapan analisis data pengecekan sejawat, kecukupan referensi,
yang dikembangkan oleh Lexy J. Moleong kajian kasus negatif, pengecekan anggota
(2000: 190) maka analisis data dalam (Lexy J. Moleong, 2000: 173 – 181). Dalam
penelitian ini adalah (1) Menelaah semua penelitian ini teknik yang digunakan untuk
data yang terkumpul dari berbagai sumber. menetapkan keabsahan data pada kriteria
Hasil penelaahan ini berupa hasil TMMT derajat keterpercayaan adalah ketekunan
dalam menyelesaikaan masalah. (2) pengamat dan triangulasi. Ketekunan
Menelaah hasil pekerjaan mahasiswa dalam pengamat dilakukan oleh peneliti sendiri
menyelesaikan masalah trigonometri. Hal dengan cara melakukan pengamatan secara
ini dilakukan untuk membuat abstraksi atau teliti, cermat dan terus menerus selama
ringkasan kesalahan-kesalahan yang penelitian. Sedangkan triangulasi menurut
dilakukan dalam menyelesaikan TMMT. Lexy J. Moleong (2000: 178) adalah teknik
(3) Menggolongkan kesalahan-kesalahan pemeriksaan keabsahan data yang
yang dilakukan dalam menyelesaikan memanfaatkan sesuatu (data) yang lain di
TMMT. Pengolongan kesalahan-kesalahan luar data yang telah diperoleh untuk
ini mengacu pada tahapan-tahapan keperluan pengecekan atau sebagai
pemecahan masalah dari Polya. (4) pembanding terhadap data itu. Adapun
Melakukan verifikasi (penarikan teknik triangulasi dalam penelitian ini
kesimpulan) dari data dan sumber data yang adalah teknik triangulasi sumber, yaitu
sudah diklasifikasi dan ditranskripkan pada mengkonfirmasikan data yang diperoleh
penyajian/paparan data. Pada proses dari suatu sumber dengan sumber lainnya
verifikasi ini, peneliti menggunakan teknik dengan cara membandingkan data hasil tes
analisis deskriptif, yaitu menafsirkan dan tertulis.
memberi makna yang penekanannya Untuk mengklasifikasikan tingkat
menggunakan uraian mendalam dikaitkan kesalahan (P) yang dilakukan mahasiswa
dengan kajian pustaka. dalam menyelesaikan masalah trigonometri
Menurut Lexy J. Moleong (2000: digunakan tabel 1.
173), untuk menetapkan keabsahan data
(trust worthiness) diperlukan beberapa Tabel 1. Klasifikasi kesalahan
teknik pemerikasaan. teknik pemeriksaan No Persentase Klasifikasi
tersebut didasarkan atas empat kriteria. 1 0% ≤ P ≤ 20% Sangat rendah
Adapun kriteria tersebut adalah derajat 2 20% < P ≤ 40% rendah
3 40% < P ≤ 60% Cukup
keterpercayaan (credibility), keteralihan 4 60% < P ≤ 80% Tinggi
(transferability), kebergantungan 5 80% < P ≤ 100% Sangat tinggi

Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri 57


HASIL PENELITIAN
Hasil kesalahan mahasiswa dalam memecahkan masalah trigonometri dapat dilihat
pada tabel 2.

Tabel 2. Persentase kesalahan mahasiswa


Nomor item
Tahapan Memecahankan Masalah Rerata Klasifikasi
1 2 3
Memahami masalah 9,6 14,4 8,8 10,93 Sangat Rendah
Merencanakan Menyelesaikan Masalah 12,0 16,0 9,6 12,93 Sangat Rendah
Melaksanakan rencana 12,8 16,0 12,0 13,6 Sangat Rendah
Memeriksa kembali 16,0 17,6 14,4 16,00 Sangat Rendah

Pembahasan Kesalahan Tahap Pertama tersebut mampu menyelesaikan masalah P1


Untuk mengetahui kesalahan yang dengan baik dan benar. Karena keempat
terjadi pada proses berpikir mahasiswa pada mahasiswa tidak menuliskan apa yang
tahap memahami masalah digunakan diketahui dan yang ditanyakan dari masalah
indikator (1) mahasiswa tidak dapat P1 tetapi mereka mampu menyelesaikan
menentukan hal-hal dalam soal tentang apa masalah maka mereka dapat dianggap telah
yang diketahui dan hal-hal yang ditanyakan memamahi masalah P1 walaupun tidak
atau (2) mahasiswa tidak dapat menuliskan apa yang dilakukan dan yang
menceritakan kembali tentang masalah ditanyakan dari masalah P1. Hal ini
dengan bahasanya sendiri. dilakukan masahasiswa karena kebiasaan
Pada masalah P1, sebanyak 3 mahasiswa dalam menyelsaikan masalah
mahasiswa tidak menuliskan dan matematika. Sri Adi Widodo (2013: 110 –
menyampaikan apa yang diketahui dan 111) menyatakan bahwa ada kebiasaan
ditanyakan dari masalah P1. Karena peserta didik dalam menyelesaikan masalah
mahasiswa tidak menyampiakan apa yang tanpa menuliskan apa yang diketahui dan
diketahui dan ditanyakan pada masalah P1, ditanyakan tetapi mahasiswa mampu
maka mahasiswa menjadi tidak memahami menyelesaikan masalah yang diberikan.
masalah P1. Berdasarkan hal tersebut Selain itu kesalahan tahap memahami
mahasiswa ternyata tidak memahami makna masalah juga dikarenakan mahasiswa tidak
atau maksud dari masalah P1. Hal ini memahami konsep sudut elevasi. Sudut
seperti yang diungkapkan oleh mahasiswa elevasi adalah sudut yang terbentuk antara
S03, S07 dan S31 yang menyatakan bahwa seseorang yang melihat menara dengan
mereka tidak memahami masalah yang puncak menara, dipahami mahasiswa
sedang dihadapinya sehingga S03, S07 dan dengan sudut yang terbentuk antara puncak
S31 tidak menuliskan apapun pada lembar menara dengan orang yang melihat. Karena
jawab. Sehingga ketiga mahasiswa ini dapat pemahaman sudut elevasi yang keliru
disimpulkan melakukan jenis kesalahan menyebabkan letak sudut elevasi menjadi
konsep. keliru. Dikarenakan penempatan sudut
Berbeda dengan mahasiswa S05, S23, elevasi yang keliru menyebabkan sketsa
S47, dan S75 yang tidak menuliskan apa gambar yang diberikan mahasiswa menjadi
yang diketahui dan yang ditanyakan dari keliru juga. Kesalahan jenis ini dilakukan
masalah P1, tetapi keempat mahasiswa sebanyak 5 mahasiswa yaitu S08, S01,

58 Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri


S025 S43 dan S80. Sehingga kelima bahwa mahasiswa belum mampu
mahasiswa ini, jenis kesalahan yang memahami masalah dengan baik sehingga
dilakukan adalah kesalahan gambar dan mahasiswa tersebut tidak mampu
kesalahan konsep dalam memahami sudut menyelesaikan masalah kedua dengan
elevasi. benar.
Merujuk pada hasil penelitian Sama dengan masalah P1, ditemukan
sebelumnya yang dilakukan oleh Sri Adi juga empat mahasiswa yang tidak
Widodo (2013: 100), yang menyatakan menuliskan apa yang diketahui dan
bahwa mahasiswa yang melakukan ditanyakan dari masalah P2 tetapi
kesalahan konsep pada tahapan memahami mahasiswa tesebut mampu menyelesaikan
masalah mengakibatkan mereka tidak masalah P2 dengan jelas dan benar.
mampu menyelesaikan pada tahap Sehingga mahasiswa tersebut tidak
berikutnya. Tetapi apabila mahasiswa tidak dikelompokkan pada kesalahan konsep
menuliskan pada tahapan memahami tetapi termasuk pada kesalahan karena
masalah tetapi dapat melakukan tahapan- kebiasaan, karena mahasiswa mampu
tahapan berikutnya maka mahasiswa menyelesaikan masalah P2.
tersebut tidak melakukan kesalahan konsep, Berdasarkan hal tersebut dapat
tetapi lebih cenderung pada sebuah disimpulkan bahwa pada masalah P2
kebiasaan peserta didik dalam mahasiswa mengalami kesalahan tahap
menyelesaikan masalah. Berdasarkan pertama (kesalahan dalam memahami
pendapat ini maka empat mahasiswa masalah) diantaranya adalah kesalahan
melakukan kesalahan kebiasaan pada dalam memahami masalah atau tidak
tahapan memahami masalah P1, sedangkan memahami masalah, kesalahan dalam
sisanya (delapan mahasiswa) melakukan memahami konsep arah sudut, kesalahan
kesalahan konsep pada tahap memahami dalam menerapkan konsep gambar, dan
masalah P1. Sehingga mahasiswa yang kesalahan karenak kebiasaan. Sedangkan
melakukan kesalahan tahap pertama pada jumlah mahasiswa yang mengalami
masalah P1 sejumlah 12 mahasiswa (9,6%) kesalahan tahap pertama sebanyak 18
dengan klasifikasi sangat rendah. mahasiswa atau 14,4% dengan klasifikasi
Pada masalah P2 diperoleh sebanyak sangat rendah.
14 mahasiswa mengalami kesalahan tahap Pada masalah P3 diperoleh sebanyak
pertama. Kesalahan mahasiswa pada tahap 6 mahasiswa mengalami kesalahan tahap
pertama dikarenakan mahasiswa tidak pertama. Kesalahan mahasiswa pada tahap
memahami bahwa arah utara identik dengan pertama dikarenakan mahasiswa tidak
arah 00. Selain itu mahasiswa tidak memahami makna “tepat diseberang”, dan
memahami bahwa sudut bernilai positif gambar yang digunakan salah. Mahasiswa
apabila arah sudut searah dengan jarum tidak memahami masalah P3 dapat dilihat
jam, sebaliknya sudut bernilai negatif dari lembar jawab mahasiswa yang tidak
apabila arah sudut berlawanan dengan arah menuliskan apapun jawaban masalah P3
jarum jam. Hampir sama pada masalah pada lembar jawab. Makna “tepat
pertama, sebagian mahasiswa juga tidak diseberang” bagi mahasiswa terasa asing,
mampu menggambar dengan benar untuk sehingga mahasiswa tidak memahami
masalah kedua. Berdasarkan jenis-jenis makna kata tersebut. Sedangkan gambar
kesalahan tersebut, dapat disimpulkan yang dibuat mahasiswa pada lembar jawab

Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri 59


keliru. Selain itu pada masalah P3, sinus dan konsep cosinus yang digunakan
ditemukan lima mahasiswa yang tidak mahasiswa terbalik. Hal ini menyebabkan
menuliskan apapun pada lembar jawaban. mahasiswa juga keliru dalam memahami
Sehingga kelima mahasiswa tersebut tidak konsep tangent sudut. Sehingga pada tahap
memahami masalah P3. hal ini dapat dilihat kedua mahasiswa melakukan kesalahan
bahwa kelima mahasiswa tidak menuliskan konsep sinus, kosinus, dan tangent sudut.
apa yang diketahui dan yang ditanyakan Berdasarkan hal tersebut maka pada
dari masalah P3. masalah P1, mahasiswa yang mengalami
Berdasarkan hal tersebut dapat kesalahan tahap kedua sebanyak 15
disimpulkan bahwa pada masalah P3 mahasiswa atau 12% dengan klasifikasi
mahasiswa mengalami kesalahan tahap sangat rendah.
pertama (kesalahan dalam memahami Pada masalah P2 ditemukan sebanyak
masalah) diantaranya adalah kesalahan 20 mahasiswa mengalami kesalahan tahap
dalam memahami masalah atau tidak kedua. Permasalahan mahasiswa dalam
memahami masalah, kesalahan dalam menyelesaikan masalah pertama masih
memahami makna kata, dan kesalahan terbawa untuk menyelesaikan masalah
dalam menerapkan konsep gambar. kedua. Hal ini dapat dilihat dari jenis
Sedangkan jumlah mahasiswa yang kesalahan mahasiswa pada tahap
mengalami kesalahan tahap pertama merencanakan untuk menyelesaika masalah
sebanyak 18 mahasiswa atau 14,4% dengan kedua yaitu mahasiswa menggunakan
klasifikasi sangat rendah. konsep sinus dengan perbandingan sisi di
Pembahasan Kesalahan Tahap Kedua samping sudut dengan sisi miring atau
Untuk mengetahui kesalahan dengan kata lain konsep sinus dan konsep
mahasiswa pada tahap merencanakan untuk cosinus yang digunakan mahasiswa
menyelesaikan masalah digunakan terbalik. Begitu juga pemahaman
indikator (1) mahasiswa tidak mengetahui mahasiswa untuk konsep tangen sudut.
syarat cukup dan syarat perlu suatu Sehingga pada tahap kedua mahasiswa
masalah, (2) mahasiswa tidak menggunakan melakukan kesalahan konsep sinus,
semua informasi yang telah dikumpulkan. kosinus, dan tangen sudut. Berdasarkan hal
Pada masalah P1 diperoleh sebanyak tersebut maka pada masalah P2, mahasiswa
15 mahasiswa (12%) mengalami kesalahan yang mengalami kesalahan tahap kedua
tahap kedua. Pada suatu segitiga, konsep sebanyak 20 mahasiswa atau 16% dengan
sinus sudut didefinisikan dengan klasifikasi sangat rendah.
perbandingan antara sisi di depan sudut Sedangkan pada masalah P3
dengan sisi miring sebuah segitiga tersebut, ditemukan sebanyak 12 mahasiswa
konsep cosinus adalah perbandingan antara mengalami kesalahan tahap kedua.
sisi di samping sudut dengan sisi miring, Permasalahan mahasiswa dalam
sedangkan konsep tangent adalah menyelesaikan masalah ketiga dikarenakan
perbandingan sinus dengan cosines atau mahasiswa tidak menguasai konsep tangent
perbandingan sisi di depan sudut dengan yang digunakan untuk menyelesaikan
sisi di samping sudut. Tetapi mahasiswa masalah P3. Kesalahan konsep mahasiswa
menggunakan konsep sinus dengan dalam memahami konsep tangent adalah
perbandingan sisi di samping sudut dengan sinus dibagi cosinus, sehingga mahasiswa
sisi miring atau dengan kata lain konsep keliru dalam menentukan tangent sudut

60 Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri


tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka Pada masalah P3 diperoleh bahwa 9
pada masalah P3, mahasiswa yang mahasiswa melakukan kesalahan dalam
mengalami kesalahan tahap kedua sebanyak melaksanakan rencana. Kesalahan pada
20 mahasiswa atau 16% dengan klasifikasi masalah P3 juga terletak pada operasi
sangat rendah. hitung dasar seperti operasi pejumlahan,
Pembahasan Kesalahan Tahap Ketiga pengurangan, pembagian dan perkalian.
Untuk mengetahui kesalahan yang Begitu juga enam mahasiswa yang
terjadi pada proses berpikir mahasiswa melakukan kesalahan dalam membaca tabel
dalam menyelesaikan masalah digunakan pada masalah P1 dan P2, juga melakukan
indikator (1) mahasiswa tidak kesalahan dalam membaca tabel tangent
menggunakan langkah-langkah secara untuk masalah P3. Sehingga pada masalah
benar, (2) mahasiswa tidak terampil dalam P3, mahasiswa yang melakukan kesalahan
algoritma dan ketepatan menjawab soal. tahap ketiga sebanyak 15 mahasiswa atau
Pada masalah P1 diperoleh bahwa 10 12% dengan klasifikasi sangat rendah.
mahasiswa pada tahap ketigas melakukan Pembahasan Kesalahan Tahap Keempat
kesalahan dalam perhitungan. Kesalahan Untuk mengetahui kesalahan yang
perhitungan yang dilakukan oleh terjadi pada proses berpikir mahasiswa
mahasiswa dapat berupa kesalahan dalam dalam melihat kembali digunakan indikator
melakukan operasi hitung dasar seperti mahasiswa tidak melakukan pemeriksaan
penjumlahan, pengurangan perkalian dan jawaban soal terhadap masalah.
pembagian. Sedangkan 6 mahasiswa Pada masalah P1, ditemukan
melakukan kesalahan dalam membaca tabel sebanyak 20 mahasiswa atau 16% tidak
sinus, cosines atau tangent. Berdasarkan hal melakukan tahapan memeriksa kembali.
tersebut maka pada masalah P1, mahasiswa Pada masalah P2 sebanyak 22 mahasiswa
yang mengalami kesalahan tahap ketiga atau 17,6% tidak melakukan tahapan
sebanyak 16 mahasiswa atau 12,8% dengan memeriksa kembali jawaban. Pada masalah
klasifikasi sangat rendah. P3 sebanyak 18 mahasiswa atau 14,4%
Pada masalah P2 diperoleh bahwa 14 tidak melakukan tahapan memeriksa
mahasiswa melakukan kesalahan dalam kembali jawaban. Berdasarkan hal tersebut
melaksanakan rencana. Seperti pada maka kesalahan yang dilakukan mahasiswa
masalah P1, kesalahan pada masalah P2 dalam menyelesaikan dalam kategori sangat
juga terletak pada operasi hitung dasar rendah untuk ketiga masalah trigonometri
seperti operasi pejumlahan, pengurangan, yang diberikan.
pembagian dan perkalian, termasuk dalam Pada masalah P1, P2, dan P3,
perhitungan perbandingan senilai. Begitu mahasiswa memiliki kecenderungan cepat
juga enam mahasiswa yang melakukan puas pada hasil jawaban yang telah
kesalahan dalam membaca tabel pada diperoleh tanpa melihat kembali jawaban
masalah P1, juga melakukan kesalahan yang tekah dibuat untuk melihat adakah
dalam membaca tabel untuk masalah P2. kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
Sehingga pada masalah P2, mahasiswa Selain itu ada kecenderungan mahasiswa
yang melakukan kesalahan tahap ketiga tidak mengetahui apa yang harus dilakukan
sebanyak 20 mahasiswa atau 16% dengan oleh mahasiswa pada bagian ini, dan
klasifikasi sangat rendah. mahasiswa tidak terbiasa untuk
menggunakan tahapan melihat kembali

Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri 61


dalam pemecahan masalah. Seperti yang http://p4tkmatematika.org/file/berm
diungkapkan oleh Sri Adi Widodo (2013: utusd2008/1_Konsep_Dasar_Pemec
116) peserta didik yang tidak melakukan ahan_Masalah_Matematika.pdf.
kegiatan apapun pada tahap memriksa Didi Suryadi. 2011. Pemecahan
kembali dikarenakan mahasiswa tidak Masalah.(online). http://didi-
mengetahui apa yang harus dilakukan pada suryadi.staf.upi.edu/tulisan.
tahapan ini dan mahasiswa tidak terbiasa
melakukan tahapan memeriksa kembali Dindin Abdul Muiz Lidinillah. 2012.
dalam menyelesaikan masalah matematika. Strategi Pembelajaran Pemecahan
Masalah Di Sekolah Dasar. Online.
KESIMPULAN http://file.upi.edu/Direktori/KD-
TASIKMALAYA tanggal 30
Berdasarkan uraian pada bab-bab Agustus 2014
sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa
pada mata kuliah trigonometri (1) kesalahan Djamilah Bondan Widjajanti. 2009.
tahap pertama (memahami masalah) adalah Kemampuan Pemecahan Masalah
kesalahan konsep, (2) kesalahan tahap Matematis Mahasiswa Calon Guru
kedua (membuat rencana untuk Matematika: Apa dan Bagaimana
menyelesaikan masalah) adalah kesalahan Mengembangkannya. Prosiding
konsep, (3) kesalahan tahap ketiga Seminar Nasional Matematika dan
(melaksanakan rencana yang telah dibuat Pendidikan Matematika yang
untuk menyelesaikan masalah) adalah diselenggarakan oleh FMIPA UNY
kesalahan perhitungan, dan (4) kesalahan tanggal 5 Desember 2009.
tahap keempat (memeriksa kembali Yogyakarta: FMIPA UNY
jawaban) adalah kesalahan kebiasaan dan Endang Sulistyowati. 2009. Pemecahan
kesalahan dalam penegasan jawaban. Masalah dalam pembelajaran
SD/MI. Jurnal Al-Bidayah. Vol II
DAFTAR PUSTAKA Tahun 1, Hal 59 – 72. Yogyakarta:
UIN Sunan Kalijaga.
.2014. “Kesalahan dalam Pemecahan
Goenawan Roebyanto dan Aning Wida
Masalah Divergensi pada
Yanti. 2014. Pemecahan Masalah
Mahasiswa Matematika.” Jurnal
Matematika. (online). http://midt-
Pendidikan Matematika, Ilmu
pmm.wikispaces.com
MAtematika dan Matematika
Terapan (Admathedu). Vol 4, No 1, Lexy J. Moleong. 2000. Metodologi
Hal 67 – 78. Yogyakarta: Penelitian Kualitatif. Bandung:
Universitas Ahmad Dahlan. Remaja Rosda Karya.
Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Muhammad Zaenal Abidin. 2012.
Pendidikan. Surakarta: Sebelas Kesalahan Konseptual dan
Maret Uiversity Press Prosedural Siswa dalam Belajar
Aljabar. Diunduh dari
Clara Ika Sari Budayanti. 2008. Konsep
www.masbied.com/2012/12/08/kesa
Dasar Pemecahan Masalah
lahan-konseptual-dan-prosedural-
matematika. Konsorsium Program
PJJ S1 PGSD. Online.

62 Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri


siswa-dalam-belajar-aljabar/ pada Jurnal online UM. (online).
tanggal 31 Desember 2012 http://jurnal-online.um.ac.id.
Polya, G. 1973. How To Solve it: A New Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur
Aspect of Mathematical Method. Penelitian. Jakarta: Rineka cipta.
New Jersey, USA: Pricenton Wiwin Sri Hidayat. 2012. Analisis
University Press. Kesalahan Menyelesaikan Soal
Someren, M.W, Yvone F. Barnard, dan Program Linier Peserta Didik Kelas
Jacobijn A.C. Sandberg. 1994. The XI SMK Tribuana Jombang. E-
Think Aloud Method: A Practical journal UMM.
Guide To Modelling Cognitive Online.ejournal.umm.ac.id/index.ph
Processes. London: Academic p/penmath/article/viewFile/613/635
Press. _umm_scientific_journal.pdf pada
tanggal 5 Januari 2013
Sri Adi W. 2013. Analisis Kesalahan Dalam
Pemecahan Masalah Divergensi
Tipe Membuktikan Pada Mahasiswa
Matematika. Jurnal Pendidikan dan
pengajaran (JPP). Vol 46, No 2,
Hal 106 – 113. Denpasar:
Universitas Pendidikan Ganesha.
Sri Wardhani, dkk. 2010. Pembelajaran
Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika di SMP: Modul
Matematika SMP Program .
BERMUTU. (online).
http://p4tkmatematika.org
Subaidah. 2006. Analisis Kesalahan Siswa
Kelas VII MTs N 2 Surabaya Dalam
Menyelesaikan Soal Terapan
Persamaan Linier Satu Variabel.
MATHEDU. Vol 1 No 2. Online.
http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jur
nal/1206171178_1858-344X.pdf
pada tanggal 5 Januari 2013.
Suci Bintari Rindyana dan Tjang Daniel
Chandra. 2013. Analisis Kesalahan
Siswa Dalam Menyelesaikan Soal
Cerita Matematika Materi Sistem
Persamaan Linear Dua Variabel
Berdasarkan Analisis Newman
(Studi Kasus MAN Malang 2 Batu).

Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Emecahkan Masalah Trigonometri 63