Anda di halaman 1dari 5

Nama anggota :

1. Triawati
2. Risqi Khoirurohmah
3. Nazil Restu
4. Qurrotul Aini
5. Viki Ainur Fatma
Kelas : TBIO 6 B
Tugas : Teknologi Pengelolaan Lingkungan

Kelemahan Pertanian di Indonesia


Pembangunan pertanian mempunyai beberapa kelemahan, yakni hanya terfokus
pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang
sentralistik. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai saat ini masih banyak
didominasi oleh usaha dengan: (a) skala kecil, (b) modal yang terbatas, (c) penggunaan
teknologi yang masih sederhana, (d) sangat dipengaruhi oleh musim, (e) wilayah
pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga
menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses
terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, (h) pasar komoditi pertanian yang
sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi
eksploitasi harga yang merugikan petani. Selain itu, masih ditambah lagi dengan
permasalahan-permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia
seperti pembaruan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang
semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani,
kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada beras yang tidak
meningkatkan kesejahteraan petani dan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Petani,
menuntut pemerintah untuk dapat lebih serius lagi dalam upaya penyelesaian masalah
pertanian di Indonesia demi terwujudnya pembangunan pertanian Indonesia yang lebih
maju demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Meski masuk prioritas dalam program iptek, namun nyatanya sampai saat ini
nasib para petani belum menggembirakan, bahkan pahit. Padahal tenaga kerja Indonesia
yang bekerja di sektor pertanian mencapai 34 juta orang. Sementara ketidakpastian
kebijakan pemerintah bisa membuat petani enggan bertanam padi. Baru-baru ini
pemerintah merencanakan Kredit gadai Gabah untuk para petani sebesar 2 miliar.
Pelaksananya adalah perum pegadaian. Hal ini sebenarnya dilakukan untuk membantu
memberikan kredit bagi para petani, karena macetnya sejumlah KUT (kredit usaha tani).
Namun sampai saat ini dana tersebut masih berada di Departemen Pertanian, dalam
artian belum turun.
Masalah – masalah Pokok Pertanian
1. Jarak waktu jarak antara tanam dan panen hanya 3 bulan (pada intinya petani hanya
mengelurakan uang dan saat panen raya
2. Pembiayaan pertanian; selama melakukan proses pertanian petani hanya mencari
pinjaman. Dimana kebanyakan memakai sistem ijon. Hutangnya akan dibayar
dengan panennya, sehingga petani menjadi ”price taker” bukan menjadi ”price
maker”. Hal ini akan mengakibatkan meruginya petani.
3. Tekanan penduduk (pemerataan kepadatan penduduk) yang berarti bahwa di era
sekarang kurangnya minat kalangan anak muda pada sektor pertanian
4. Usia yang bekerja pada sektor pertanian pada umunya adalah usia tua sehingga
produktivitas dapat dikategorikan masih rendah
5. Orang melakukan usaha tani pada umumnya hanya untuk dirinya sendiri dan
keluarga.

Solusi
1. Optimalisasi program pertanian organik secara menyeluruh di Indonesia serta
menuntut pemanfaatan lahan tidur untuk pertanian yang produktif dan ramah
lingkungan.
2. Regulasi konversi lahan dengan ditetapkannya kawasan lahan abadi yang
eksistensinya dilindungi oleh undang-undang.
3. Penguatan sistem kelembagaan tani dan pendidikan kepada petani, berupa program
insentif usaha tani, program perbankan pertanian, pengembangan pasar dan jaringan
pemasaran yang berpihak kepada petani, serta pengembangan industrialisasi yang
berbasis pertanian/pedesaan, dan mempermudah akses-akses terhadap sumber-
sumber informasi IPTEK.
4. Perbaikan infrastruktur pertanian dan peningkatan teknologi tepat guna yang
berwawasan pada konteks kearifan lokal serta pemanfaatan secara maksimal hasil-
hasil penelitian ilmuwan lokal.
5. Peningkatan mutu dan kesejahteraan penyuluh pertanian.
6. Membuat dan memberlakukan Undang-Undang perlindungan atas Hak Asasi Petani.
7. Memposisikan pejabat dan petugas di setiap instansi maupun institusi pertanian dan
perkebunan sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing.
8. Bimbingan lanjutan bagi lulusan bidang pertanian yang terintegrasi melalui
penumbuhan wirausahawan dalam bidang pertanian (inkubator bisnis) berupa
pelatihan dan pemagangan (retoling) yang berorientasi life skill, entrepreneurial skill
dan kemandirian berusaha, program pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda
melalui kegiatan magang ke negara-negara dimana sektor pertaniannya telah
berkembang maju, peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi pertanian, pengembangan program studi bidang pertanian yang
mampu menarik generasi muda, serta program-program lain yang bertujuan untuk
menggali potensi, minat, dan bakat generasi muda di bidang pertanian serta
melahirkan generasi muda yang mempunyai sikap ilmiah, professional, kreatif, dan
kepedulian sosial yang tinggi demi kemajuan pertanian Indonesia, seperti olimpiade
pertanian, gerakan cinta pertanian pada anak, agriyouth camp, dan lain-lain.
9. Melibatkan mahasiswa dalam program pembangunan pertanian melalui pelaksanaan
bimbingan massal pertanian, peningkatan daya saing mahasiswa dalam
kewirausahaan serta dana pendampingan untuk program–program kemahasiswaan.

Kelebihan pertanian saat ini


Sistem pertanian saat ini pada dasarnya memiliki kelebihan, alasannya karena selalu
diawali oleh program revolusi hijau yang mengusahakan pemuliaan tanaman untuk
mendapatkan varietas baru yang melampaui daerah adaptasi dari varietas yang ada.
Varietas tanaman yang dihasilkan merupakan varietas yang respontif terhadap
pengairan, pemupukan, adaptasi geografis yang luas, dan resisten terhadap hama dan
penyakit, sehingga yang dihasilkan adalah tanaman-tanaman yang berkualitas dan tahan
terhadap penyakit. Revolusi hijau yang lebih menekankan terhadap pengembangan
tanaman serealis seperti jagung, padi, dan gandum pada akhirnya merubah keadaan
pertanian di Indonesia, perubahan tersebut dapat dilihat dari bergesernya budidaya
tanaman dari praktik budidaya secara tradisional menjadi praktek budidaya tanaman
secara modern yang menggunakan alat-alat canggih dalam proses penggarapannya.
Di Indonesia, perkembangan teknologi pertanian sebenarnya sudah sangat lama
seperti alat pertanian cangkul, sabit, ani-ani dan alat lainnya sudah dapat menjadi contoh
teknologi pertanian, yang pada zamannya sangat membantu kehidupan petani. ada 3
jenis teknologi yang akan mampu meningkatkan omset
1. Benih Unggul
Semua proses pertanian kini hampir semua tidak lepas dari teknologi. Bahkan
perusahan benih menawarkan teknologi perbenihan dalam rangka menghasilkan
benih yang unggul. Contoh benih unggul adalah benih jagung hibrida. Jagung ini
punya rendemen tongkol yang tinggi, biji yang makin banyak, dan masa tanam yang
lebih singkat.
2. Pupuk Kimia
Perusahaan obat-obatan dan pupuk kimia menggunakan teknologi canggih akan
menawarkan berbagai macam produknya untuk membantu meningkatkan
produktifitas serta menangani hama.
3. Alat Pertanian Modern
Perusahaan-perusahaan alat pertanian pun bertebaran menawarkan produknya
mulai dari mesin pompa air hingga hand tractor. Sedangkan mesin-mesin untuk
digunakan sebagai pengolah setalah panen juga menjadi semakin bertebaran.
Contoh Alat Pertanian Modern di indonesia
a. Alat Penanam Padi Jarwo Transplanter
Alat ini direkomendasikan oleh bagian penelitian dan pengembangan (Litbang)
Kementerian Pertanian. Jarwo merupakan kependekan dari jajar legowo dari jawa
timur. Konsep alat ini adalah memberikan jarak yang pas antara satu barisan padi dan
barisan padi lainnya. menururt riset, sistem ini ternyata mampu meningkatkan
produksi sampai dengan 30%. Selain itu jarak yang lebar anatar baris juga
memudahkan untuk pemeliharaan tanaman padi.
b. Mesin Pemanen Padi Indo Combine Harvester
Alat ini juga hasil kreasi Litbang Pertanian Indonesia lho. Saking canggihnya, alat
ini setidaknya punya kelebihan seperti berikut :
 Memiliki diameter yang lebih rendah, yaitu mencapai 0,13 kg per cm persegi
 Mampu beroperasi di lahan basah
 Tusuk panen yangdihasilkan kurang lebih 1%
 Kapasitas kerja super cepat, yakni 4-6 jam per hektar