Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber daya
Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, guna
memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Posyandu memiliki beberapa kegiatan wajib yang
salah satunya adalah pemantauan tumbuh kembang balita. (1)
Balita adalah anak berusia 0-59 bulan. Masa balita merupakan periode penting dalam proses
tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu
keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh
kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang,
karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan.(2)
Program 1000 hari pertama kehidupan juga merupakan bentuk perhatian dan upaya
pemerintah dalam meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa. Namun realita di lapangan
menunjukkan, antusiasme kedatangan sangat rendah, sehingga tujuan-tujuan yang ingin
dicapai melalui program ini tidak dapat tercapai dengan baik. Hasil data Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDAS 2013) anak usia 6-59 bulan yang tidak pernah ditimbang dalam enam
bulan terakhir meningkat dari 25,5% (2007) menjadi 34,3% (2013).(3) Balita merupakan
kelompok masyarakat yang rentan gizi. Pada kelompok tersebut mengalami siklus dan
perkembangan yang membutuhkan zat-zat gizi yang lebih besar dari kelompok umur lain
sehingga balita paling mudah mengalami kelainan gizi. Kekurangan gizi pada balita dapat
menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan, rawan terhadap
penyakit, menurunnya tingkat kecerdasan, dan terganggunya mental anak. Balita merupakan
generasi penerus bangsa, apabila tidak diperhatikan kesehatannya sedini mungkin akan
mempengaruhi masa depannya kelak. Secara tidak langsung dapat pula mempengaruhi
kesejahteraan bangsa.

1.2 Perumusan masalah


a) Apa saja masalah dalam cakupan kedatangan balita di Posyandu puskesmas
Kelurahan Jagakarsa II.
b) Apa saja alternatif pemecahan masalah dalam menangani cakupan kedatangan balita
di Posyandu puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
c) Bagaimana prioritas pemecahan masalah cakupan kedatangan balita di Posyandu
puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
d) Apa saja kegiatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan rendahnya cakupan
kedatangan balita di Posyandu puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
1.3 Tujuan diagnostik komunitas
1.3.1 Tujuan umum
Tujuan dari evaluasi program ini adalah untuk meningkatkan pemantauan gizi
kesehatan balita melalui cakupan kedatangan balita di Posyandu Puskesmas Kelurahan
Jagakarsa II.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Mengetahui hasil pencapaian program cakupan kedatangan balita di Posyandu
Puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
2. Menentukan alternatif pemecahan masalah dan solusi dari cakupan kedatangan balita
di Posyandu Puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan kedatangan balita
di Posyandu Puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
4. Membuat rencana kegiatan untuk pemecahan prioritas kedatangan balita di Posyandu
Puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.

1.4 Manfaat evaluasi program


1.4.1 Manfaat untuk mahasiswa
1. Mengetahui sistem manajemen Puskesmas secara keseluruhan.
2. Melatih kemampuan analisis dan pemecahan terhadap masalah yang ditemukan
didalam program Puskesmas.
3. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai gizi balita terkait kedatangan dan
penimbangan di wilayah Puskesmas Kelurahan Jagakarsa II.
4. Mengetahui pentingnya peran Puskesmas dalam meningkatkan status gizi masyarakat
khususnya balita.
5. Meningkatkan pemahaman pentingnya data untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
bagi masyarakat.

1.4.2 Manfaat untuk Puskesmas


1. Membantu Puskesmas untuk mengetahui pencapaian yang belum maksimal.
2. Membantu Puskesmas dalam mengidentifikasi penyebab dari upaya Puskesmas yang
belum memenuhi target SPM.
3. Membantu Puskesmas dalam memberikan alternatif penyelesaian terhadap masalah
tersebut.
4. Membantu Puskesmas dalam menciptakan inovasi untuk peningkatan status gizi di
daerah tersebut.

1.4.3 Manfaat untuk masyarakat


Manfaat evaluasi ini bagi masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan dan
pemantauan gizi balita melalui cakupan kedatangan balita di Posyandu puskesmas Kelurahan
Jagakarsa II.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Posyandu

2.2.1 Pengertian
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Berbasis Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayan
kesehatan dasar/sosial dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB). (5)
Posyandu yang terintegrasi adalah kegiatan pelayanan sosial dasar keluarga dalam aspek
pemantauan tumbuh kembang anak. Dalam pelaksanaannya dilakukan secara koordinatif dan
integratif serta saling memperkuat antar kegiatan dan program untuk kelangsungan pelayanan
di Posyandu sesusai dengan situasi/kebutuhan lokal yang dalam kegiatannya tetap
memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat.(1)

2.2.2 Tujuan

1. Tujuan umum Posyandu:


Menunjang percepatan penurunan AKI, AKB dan Angka Kematian Anak Balita
(AKABA) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat.
2. Tujuan khusus Posyandu:
o Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan
AKABA.
o Meningkatnya peran lintas sektor penyelenggaran Posyandu, terutama
berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.
o Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar,
terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.
2.2.3 Sasaran

Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat/keluarga, utamanya:


1. Bayi
2. Anak balita
3. Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui
4. Pasangan usia subur (PUS)

2.2.4 Fungsi

1. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari
petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat
penurunan AKI, AKB dan AKABA.
2. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan
dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.
2.2.5 Manfaat
1) Bagi masyarakat:
 Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan
dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.
 Memperoleh layanan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan
terutama terkaitan kesehatan ibu dan anak.
 Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar terpadu dan pelayanan
kesehatan sosial dasar sektor lain terkait.
2) Bagi kader, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat:
 Mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan
penurunan AKI, AKB dan AKABA.
 Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan
masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.
3) Bagi Puskesmas:
 Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan perorangan
primer dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer.
 Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan
sesuai kondisi setempat.
 Mendekatkan akses pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat.
4) Bagi sektor lain:
 Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan dan
sosial dasar lainnya, terutama yang terkait dengan upaya penurunan AKI, AKB dan
AKABA seusai kondisi setempat.
 Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara terpadu sesuai dengan
tugas pokok dan fungsi masing-masing sektor.

2.2.6 Kegiatan utama Posyandu


Kegiatan di Posyandu meliputi kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita,
pelayanan kesehatan ibu dan anak seperti imunisasi untuk pencegahan penyakit,
penanggulangan diare, pelayanan KB, penyuluhan dan konseling/rujukan konseling bila
diperlukan. (1)

2.2.7 Pelayanan Posyandu untuk bayi dan anak balita


Pelayanan Posyandu untuk bayi dan anak balita harus dilaksanakan secara
menyenangkan dan memacu kreativitas tumbuh kembangnya. Adapun jenis pelayanan yang
diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup: (1,5)

1. Penimbangan berat badan:


Pertumbuhan balita dapat dipantau dengan menimbang berat badan anak setiap bulan.
Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya
gangguan pertumbuhan (growth faltering) secara dini. Hasil penimbangan balita
diterjemahkan ke dalam Kartu Menuju Sehat (KMS)/buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
yang menghasilakan status pertumbuhan balita (naik atau tidak naik).

2. Penentuan status pertumbuhan


3. Penyuluhan dan konseling:
Salah satu contoh penyuluhan untuk ibu balita adalah memantau pertumbuhan balita.
Balita yang berat badannya tidak naik 2 kali berturut-turut (2T) atau Bawah Garis Merah
(BGM) segera dirujuk ke petugas kesehatan.
Adapaun penyuluhan lainnya seperti makanan sehat untuk anak balita (ASI/MP-ASI),
pemberian vitamin A untuk anak balita, imunisasi dasar lengkap pada bayi kurang dari 1
tahun, bahaya diare bagi balita, bahaya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gejala
demam pada balita, dan perawatan gigi dan mulut.

4. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan
deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas.

2.2.1 SKDN

SKDN adalah status gizi balita yang digambarkan dalam suatu balok SKDN, dimana
balok tersebut memuat tentang sasaran balita di suatu wilayah (S), balita yang memiliki KMS
(K), balita yang ditimbang berat badannya (D), balita yang ditimbang dan naik berat
badannya (N), SKDN tersebut diperoleh dari hasil posyandu yang dimuat di KMS dan
digunakan untuk memantau pertumbuhan balita (Depkes RI, 2003).
SKDN merupakan hasil kegiatan penimbangan balita yang dilakukan setiap bulan dalam
bentuk histogram sederhana. Indikator pelayanan di Posyandu atau di Pos Penimbangan
Balita menggunakan indiktor-indikator SKDN. SKDN adalah singkatan dari pengertian kata-
katanya yaitu:
1. S adalah jumlah seluruh balita yang ada dalam wilayah kerja posyandu.
2. K adalah jumlah Balita yang ada di wilayah kerja posyandu yang mempunyai KMS
(Kartu Menujuh Sehat).
3. D adalah Jumlah Balita yang datang di posyandu atau dikunjungan rumah dan
menimbang berat badannya sesuai atau jumlah seluruh balita yang Ditimbang.
4. N adalah jumlah balita yang ditimbang bebrat badannya mengalami peningkatan
bebrat badan dibanding bulannya sebelumnya dengan garis pertumbuhan.
5. Dan O adalah jumlah anak yang tidak ditimbang bulan lalu.
Berdasarkan SKDN dari bulan ke bulan disimak untuk mengetahui kemajuan program
perbaikan gizi. Naik turunnya D atau S dapat diinterprestasikan sebagai tingkat partisipasi
masyarakat dalam kegiatan di posyandu, sedangkan naik turunnya N terhadap S dapat
diartikan sebagai keberhasilan atau kegagalan mencapai tujuan program dalam kegiatan
UPGK di posyandu.

Dari uraian SKDN dapat digabungkan satu sama lain sehingga dapat memberikan informasi
tentang perkembangan kegiatan pemantauan pertumbuhan anak di posyandu yaitu :
 Indikator K/S
K/S adalah indikator yang menggambarkan jangkauan atau liputan program. Indikator
ini dihitung dengan cara membandingkan jumlah balita yang dapat di posyandu dan
memiliki KMS dengan jumlah balita yang ada di wilayah posyandu tersebut dikalikan
100%.
 Indikator D/S
D/S adalah indikator yang menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam
kegiatan di posyandu.
 Indikator N/D
N/D adalah memberikan gambaran tingkat keberhasilan program dalam kegiatan
UPGK di posyandu. Indikator ini lebih spesifik dibanding dengan indikator lainnya
sehingga dapat digunakan sebagai gambaran dasar gizi balita.

 Indikator N/S
N/S adalah memberikan gambaran tentang tingkat keberhasilan program di posyandu.
Indikator ini menunjukkan balita yang ditimbang dan naik berat badannya.

2.2.2 Analisis SKDN


Biasanya setelah melakukan kegiatan di posyandu atau di pos penimbangan petugas
kesehatan dan kader Posyandu (Petugas sukarela) melakukan analisis SKDN. Analisisnya
terdiri dari:
1. Tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita yaitu jumlah balita yang
ditimbang dibagi dengan jumlah balita yang ada diwilayah kerja posyandu
atau dengan menggunakan rumus (D/S x 100%), hasilnya minimal harus capai 80 %
apabila dibawah 80 % maka dikatakan partisipasi mayarakat untuk kegiatan
pemantauan pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah. Hal ini
akan berakibat pada balita tidak akan terpantau oleh petugas kesehatan ataupun kader
posyandu dan memungkinkan balita ini tidak diketahui pertumbuhan berat badannya
atau pola pertumbuhan berat badannya.
2. Tingkat Liputan Program yaitu Jumlah balita yang mempunyai KMS dibagi dengan
Jumlah seluruh balita yang ada di wilayah Posyandu atau dengan menggunakan
rumus (K/S x 100%), hasil yang ducapai harus 100 %. Alasannya balita-balita yang
telah mempunyai KMS (Kartu Menujuh Sehat ) telah mempunyai alat instrumen
untuk memantau berat badannya dan data pelayanan kesehatan lainnya, Apabila tidak
digunakan atau tidak dapat KMS maka pada dasarnya program Posyandu tersebut
mempunyai liputan yang sangat rendah atau biasa juga dikatakan balita yang
seharusnya mempunyai KMS karena memang mereka (Balita) masih dalam fase
pertumbuhan ini telah kehilangan kesempatan untuk mendapat pelayanan
sebagaimana yang terdapat dalam KMS tersebut. Khusus untuk Tingkat Kehilangan
Kesempatan ini menggunakan rumus {(S-K)/S x 100%) yaitu jumlah balita yang ada
diwilayah posyandu dikurangi jumlah balita yang mempunyai KMS, hasilnya dibagi
dengan jumlah balita yang ada, semakin tinggi presentase kehilangan kesempatan
maka semakin rendah kemauan orang tua balita untuk dapat memanfaatkan KMS.
Padahal KSM sangat baik untuk memantau pertumbuhan Berat Badan Balita atau juga
Pola Pertumbuhan Berat Badan Balita.
3. Indikator-indikator lainnya adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang Naik Berat
Badannya di bandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ditimbang. Sebaiknya
semua balita yang ditimbang harus memgalami peningkatan berat-badannya.
4. Indikator lainnya dalam SKDN adalah Indikator Drop Out yaitu balita yang sudah
mempunyai KMS dan pernah datang menimbang berat badannya tetapi kemudian
tidak pernah datang lagi di posyandu untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan
rumusnya yaitu jumlah balita yang telah mendapat KMS dibagi dengan Jumlah
Balita ditimbang hasilnya dibagi dengan Balita yang punya KMS atau rumusnya
adalah (K-D)/K x 100%.
Dari kesemua indikator tersebut diatas. Indikator yang paling sederhana di posyandu adalah
ANAK SEHAT BERTAMBAH UMUR BERTAMBAH BERAT BADAN. Dan ini juga
adalah yang menjadi ikon dari keberadaan posyandu (pos penimbangan), sekaligus juga
berlaku sebagai output untuk semua kegiatan di posyandu.
Berikut adalah rumus untuk mencari persentase SKDN:
2.3 Kartu Menuju Sehat (KMS)

2.3.1 Pengertian

KMS adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks
antropometri berat badan menurut usia. Dengan KMS gangguan pertumbuhan atau risiko
kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan
secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat.

2.3.2 Fungsi

1. Sebagai alat untuk memantau pertumbuhan anak. Pada KMS dicantumkan grafik
pertumbuhan normal anak yang dapat digunakan untuk menentukan apakah seorang
anak tumbuh normal, atau mengalami gangguan pertumbuhan. Bila grafik berat badan
anak mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS, artinya anak tumbuh baik, kecil risiko
anak untuk mengalami gangguan pertumbuhan. Sebaliknya bila grafik berat badan
tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, anak kemungkinan berisiko mengalami
gangguann pertumbuhan.
2. Sebagai catatan pelayanan kesehatan anak. Pada KMS dicatat riwayat pelayanan
kesehatan dasar anak terutama berat badan anak, pemberian kasul vitamin A,
pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan dan imunisasi.
3. Sebagai alat edukasi. Pada KMS dicantumkan pesan-pesan dasar perawatan anak
seperti pemberian makanan anak, perawatan anak bila menderita diare.
2.3.3 Penjelasan umum KMS balita

KMS balita 2008 dibedakan antara KMS anak laki-laki dengan KMS anak
perempuan. KMS untuk anak laki-laki berwarna dasar biru dan terdapat tulisan untuk laki-
laki. KMS anak perempuan berawarna dasar merah muda dan terdapat tulisan untuk anak
perempuan. KMS terdiri dari 1 lembar (2 halaman) dengan 5 bagian di dalamnya sebagai
berikut:

Gambar 1. Buku KMS, halaman 1 terdiri dari 2 bagian.


Gambar 2. Buku KMS halaman 2 terdiri dari 3 bagian.
2.2.4 Menentukan status pertumbuhan anak

Status pertumbuhan anak dapat diketahui dengan 2 cara yaitu dengan menilai garis
pertumbuhannya, atau dengan menghitung kenaikan berat badan anak dibandingkan dengan
Kenaikan Berat Badan Minimun (KBM).

Gambar 3. Kesimpulan dari penentuan status pertumbuhan.

2.4.1 Gizi
Unsur gizi merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan SDM yang
berkualitas yaitu manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Gangguan gizi pada awal
kehidupan akan mempengaruhi kualitas kehidupan berikutnya. Gizi kurang pada balita tidak
hanya menimbulkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan dan
produktivitas ketika dewasa.Berbagai upaya untuk mengatasi masalah gizi telah dilakukan
oleh pemerintah antara lain melalui program Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK),
pemberian kapsul vitamin A untuk anak 1- 4 tahun, distribusi kapsul yodium untuk penduduk
pada daerah rawan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), pemberian tablet Fe
untuk ibu hamil dan upaya pemantauan tingkat konsumsi gizi penduduk secara berkala,
Pemberian Makanan Tambahan (PMT), serta Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita.(4)

2.4.1 Program Gizi di Puskesmas


Program Perbaikan Gizi Masyarakat adalah salah satu program pokok Puskesmas
yaituprogram kegiatan yang meliputi peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang
EnergiProtein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang
Vitamin A,Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan Surveilans Gizi, dan Perberdayaan Usaha
Perbaikan GiziKeluarga atau Masyarakat.
Kegiatan- kegiatan program ini ada yang dilakukan harian, bulanan, semesteran (6
bulan sekali)dan tahun (setahun sekali), serta beberapa kegiatan investigasi dan intervensi
yang dilakukansetiap saat jika ditemukan masalah gizi misalnya ditemukan adanya kasus gizi
buruk. Kegiatanprogram Perbaikan Gizi Masyarakat dapat dilakukan dalam maupun di luar
gedung Puskesmas.

2.4.2 Pemeriksaan Anak Gizi Buruk di Puskesmas


Berikut penjelasan alur pemeriksaan yang dapat di gunakan untuk menentukan
langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani penemuan kasus anak gizi buruk
berdasarkan kategori yang telah ditentukan :
1. Penemuan Anak Gizi Buruk, dapat menggunakan data rutin hasil penimbangan anak
di posyandu, menggunakan hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan (Puskesmas dan
jaringannya, Rumah Sakit dan dokter/bidan praktek swasta), hasil laporan masyarakat
(media massa, LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya) dan skrining aktif
(operasi timbang anak).
2. Penapisan Anak Gizi Buruk, anak yang dibawa oleh orangtuanya atau anak yang
berdasarkan hasil penapisan Lila < 12,5 cm, atau semua anak yang dirujuk dari
posyandu (2T dan BGM) maka dilakukan pemeriksaan antropometri dan tanda klinis,
semua anak diperiksa tanda-tanda komplikasi (anoreksia, pneumonia berat, anemia
berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi, penurunan kesadaran), semua anak
diperiksa nafsu makan dengan cara tanyakan kepada orang tua apakah anak mau
makan/tidak mau makan minimal dalam 3 hari terakhir berturut-turut.
3. Bila dalam pemeriksaan pada anak didapatkan satu atau lebih tanda berikut: tampak
sangat kurus, edema minimal pada kedua punggung kaki atau tanpa edema, BB/PB
atau BB/TB < -3 SD, LiLA < 11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan), nafsu makan
baik, maka anak dikategorikan gizi buruk tanpa komplikasi dan perlu diberikan
penanganan secara rawat jalan.
4. Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: tampak sangat
kurus, edema pada seluruh tubuh, BB/PB atau BB/TB < -3 SD, LiLA < 11,5 cm
(untuk anak usia 6-59 bulan) dan disertai dari salah satu atau lebih tanda komplikasi
medis sebagai berikut: anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat,
demam sangat tinggi, penurunan kesadaran, maka anak dikategorikan gizi buruk
dengan komplikasi sehingga perlu penanganan secara rawat inap.
5. Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: BB/TB < -2 s/d -
3 SD, LiLA 11,5 s/d 12,5 cm, tidak ada edema, nafsu makan baik, tidak ada
komplikasi medis, maka anak dikategorikan gizi kurang dan perlu diberikan PMT
Pemulihan.
6. Bila kondisi anak rawat inap sudah membaik dan tidak lagi ditemukan tanda
komplikasi medis, tanda klinis membaik (edema kedua punggung tangan atau kaki),
dan nafsu makan membaik maka penanganan anak tersebut dilakukan melalui rawat
jalan.
7. Bila kondisi anak rawat inap sudah tidak lagi ditemukan tanda- tanda komplikasi
medis, tanda klinis baik dan status gizi kurang, nafsu makan baik maka penanganan
anak dengan pemberian PMT pemulihan.
8. Anak gizi buruk yang telah mendapatkan penanganan melalui rawat jalan dan PMT
pemulihan, jika kondisinya memburuk dengan ditemukannya salah satu tanda
komplikasi medis, atau penyakit yang mendasari sampai kunjungan ke tiga berat
badan tidak naik (kecuali anak dengan edema), timbulnya edema baru, tidak ada nafsu
makan maka anak perlu penanganan secara rawat inap.
Gambar 1. Alur Pemeriksaan Anak Gizi Buruk

Gambar 2. Penentuan Status Gizi Anak