Anda di halaman 1dari 41

Modul

Pengembangan Kebijakan Etika Pemerintahan


Diklat Teknis
Kepemerintahan yang Baik dan Etika
Pemerintah
(Good Governance and Government Ethics)

Eselon II
SAMBUTAN DEPUTI BIDANG PEMBINAAN DIKLAT APARATUR
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA

Selaku Instansi Pembina Diklat PNS, Lembaga Administrasi Negara


senantiasa melakukan penyempurnaan berbagai produk kebijakan Diklat yang
telah dikeluarkan sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 101
Tahun 2000 tentang Diklat Jabatan PNS. Wujud pembinaan yang dilakukan di
bidang diklat aparatur ini adalah penyusunan pedoman diklat, bimbingan dalam
pengembangan kurikulum diklat, bimbingan dalam penyelenggaraan diklat,
standarisasi, akreditasi Diklat dan Widyaiswara, pengembangan sistem
informasi Diklat, pengawasan terhadap program dan penyelenggaraan Diklat,
pemberian bantuan teknis melalui perkonsultasian, bimbingan di tempat kerja,
kerjasama dalam pengembangan, penyelenggaraan dan evaluasi Diklat.

Sejalan dengan hal tersebut, melalui kerjasama dengan Departemen


Dalam Negeri yang didukung program peningkatan kapasitas berkelanjutan
(SCBDP), telah disusun berbagai kebijakan guna lebih memberdayakan
daerah seperti peningkatan kapasitas institusi, pengelolaan dan peningkatan
SDM melalui penyelenggaraan Diklat teknis, pengembangan sistem keuangan,
perencanaan berkelanjutan dan sebagainya.

Dalam hal kegiatan penyusunan kurikulum diklat teknis dan modul


diklatnya melalui program SCBDP telah disusun sebanyak 24 (dua puluh
empat) modul jenis diklat yang didasarkan kepada prinsip competency based
training. Penyusunan kurikulum dan modul diklat ini telah melewati proses yang
cukup panjang melalui dari penelaahan data dan informasi awal yang diambil
dari berbagai sumber seperti Capacity Building Action Plan (CBAP) daerah
yang menjadi percontohan kegiatan SCBDP, berbagai publikasi dari berbagai
media, bahan training yang telah dikembangkan baik oleh lembaga donor,
perguruan tinggi, NGO maupun saran dan masukan dari berbagai pakar dan
tenaga ahli dari berbagai bidang dan disiplin ilmu, khususnya yang tergabung
dalam anggota Technical Review Panel (TRP).

Disamping itu untuk lebih memantapkan kurikulum dan modul diklat ini
telah pula dilakukan lokakarya dan uji coba/pilot testing yang dihadiri oleh para
pejabat daerah maupun para calon fasilitator/trainer.

Dengan proses penyusunan kurukulum yang cukup panjang ini kami


percaya bahwa kurikulum, modul diklatnya berikut Panduan Fasilitator serta
Pedoman Umum Diklat Teknis ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
pelatihan di daerah masing-masing.

i
Harapan kami melalui prosedur pembelajaran dengan menggunakan
modul diklat ini dan dibimbing oleh tenaga fasilitator yang berpengalaman dan
bersertifikat dari lembaga Diklat yang terakreditasi para peserta yang
merupakan para pejabat di daerah akan merasakan manfaat langsung dari
diklat yang diikutinya serta pada gilirannya nanti mereka dapat menunaikan
tugas dengan lebih baik lagi, lebih efektif dan efisien dalam mengelola berbagai
sumber daya di daerahnya masing-masing.

Penyempurnaan selalu diperlukan mengingat dinamika yang sedemikian


cepat dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Dengan dilakukannya
evaluasi dan saran membangun dari berbagai pihak tentunya akan lebih
menyempurnakan modul dalam program peningkatan kapasitas daerah secara
berkelanjutan.

Semoga dengan adanya modul atau bahan pelatihan ini tujuan


kebijakan nasional utamanya tentang pemberian layanan yang lebih baik
kepada masyarakat dapat terwujud secara nyata.

ii
KATA PENGANTAR
DIREKTUR JENDERAL OTONOMI DAERAH

Setelah diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan


Daerah, yang kemudian diganti dengan UU Nomor 32 Tahun 2004, telah terjadi
perubahan paradigma dalam pemerintahan daerah, yang semula lebih
berorientasi sentralistik menjadi desentralistik dan menjalankan otonomi
seluas-luasnya. Salah satu aspek penting kebijakan otonomi daerah dan
desentralisasi adalah peningkatan pelayanan umum dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan daya saing daerah.

Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pemerintahan di banyak negara,


salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan otonomi daerah
adalah kapasitas atau kemampuan daerah dalam berbagai bidang yang
relevan. Dengan demikian, dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kepada
masyarakat dan peningkatan daya saing daerah diperlukan kemampuan atau
kapasitas Pemerintah Daerah yang memadai.

Dalam rangka peningkatan kapasitas untuk mendukung pelaksanaan


desentralisasi dan otonomi daerah, pada tahun 2002 Pemerintah telah
menetapkan Kerangka Nasional Pengembangan dan Peningkatan Kapasitas
Dalam Mendukung Desentralisasi melalui Keputusan Bersama Menteri Dalam
Negeri dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala
Bappenas. Peningkatan kapasitas tersebut meliputi sistem, kelembagaan, dan
individu, yang dalam pelaksanaannya menganut prinsip-prinsip multi dimensi
dan berorientasi jangka panjang, menengah, dan pendek, serta mencakup
multistakeholder, bersifat demand driven yaitu berorientasi pada kebutuhan
masing-masing daerah, dan mengacu pada kebijakan nasional.

Dalam rangka pelaksanaan peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah,


Departemen Dalam Negeri, dengan Direktorat Jenderal Otonomi Daerah
sebagai Lembaga Pelaksana (Executing Agency) telah menginisiasi program
peningkatan kapasitas melalui Proyek Peningkatan Kapasitas yang
Berkelanjutan untuk Desentralisasi (Sustainable Capacity Building Project for
Decentralization/SCBD Project) bagi 37 daerah di 10 Provinsi dengan
pembiayaan bersama dari Pemerintah Belanda, Bank Pembangunan Asia
(ADB), dan dari Pemerintah RI sendiri melalui Departemen Dalam Negeri dan
kontribusi masing-masing daerah. Proyek SCBD ini secara umum memiliki
tujuan untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah dalam aspek sistem,
kelembagaan dan individu SDM aparatur Pemerintah Daerah melalui
penyusunan dan implementasi Rencana Tindak Peningkatan Kapasitas
(Capacity Building Action Plan/CBAP).

iii
Salah satu komponen peningkatan kapasitas di daerah adalah Pengembangan
SDM atau Diklat bagi pejabat struktural di daerah. Dalam memenuhi kurikulum
serta materi diklat tersebut telah dikembangkan sejumlah modul-modul diklat
oleh Tim Konsultan yang secara khusus direkrut untuk keperluan tersebut yang
dalam pelaksanaannya disupervisi dan ditempatkan di Lembaga Administrasi
Negara (LAN) selaku Pembina Diklat PNS.

Dalam rangka memperoleh kurikulum dan materi diklat yang akuntabel dan
sesuai dengan kebutuhan daerah, dalam tahapan proses pengembangannya
telah memperoleh masukan dari para pejabat daerah dan telah diujicoba (pilot
test), juga melibatkan pejabat daerah, agar diperoleh kesesuaian/ relevansi
dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh para pejabat daerah itu sendiri.
Pejabat daerah merupakan narasumber yang penting dan strategis karena
merupakan pemanfaat atau pengguna kurikulum dan materi diklat tersebut
dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kurikulum dan meteri diklat yang dihasilkan melalui Proyek SCBD ini, selain
untuk digunakan di lingkungan Proyek SCBD sendiri, dapat juga digunakan di
daerah lainnya karena dalam pengembangannya telah memperhatikan aspek-
aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.
Selain itu juga dalam setiap tahapan proses pengembangannya telah
melibatkan pejabat daerah sebagai narasumber.

Dengan telah tersedianya kurikulum dan materi diklat, maka pelaksanaan


peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah, khususnya untuk peningkatan
kapasitas individu SDM aparatur daerah, telah siap untuk dilaksanakan.
Diharapkan bahwa dengan terlatihnya para pejabat daerah maka kompetensi
mereka diharapkan semakin meningkat sehingga pelayanan kepada
masyarakat semakin meningkat pula, yang pada akhirnya kesejahteraan
masyarakat dapat segera tercapai dengan lebih baik lagi.

iv
DAFTAR ISI

Sambutan Deputy IV - LAN .......................................................................................... i

Kata Pengantar Dirjen Otonomi Daerah - Depdagri ................................................iii

Daftar Isi ........................................................................................................................ v

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
A. Deskripsi Singkat ........................................................................................ 1
B. Hasil Belajar................................................................................................ 7
C. Indikator Hasil Belajar ................................................................................ 7
D. Pokok Bahasan ............................................................................................ 8

BAB II GOOD GOVERNANCE DAN KEBIJAKAN PUBLIK ............................. 11


A. Pengertian Prinsip dan Paradigma Good Governance ............................ 11
B. Peraturan dan Hukum Pendukung Good Governance .............................. 13
D. Rangkuman................................................................................................ 17

BAB III PENGEMBANGAN ETIKA ....................................................................... 19


A. Kebijakan dan Pengertian Etika dan Unsur-unsur Strategis ..................... 19
B. Masalah Etika yang Berkembang Saat ini................................................ 21
C. Latihan/Diskusi ......................................................................................... 25
D. Rangkuman................................................................................................ 26

BAB IV STRATEGI DAN LANGKAH LANGKAH YANG DIPERLUKAN


DALAM PENERAPAN ETIKA ................................................................. 28
A. Langkah-langkah Strategi Implementasi................................................... 28
B. Latihan/Diskusi ......................................................................................... 32
C. Rangkuman................................................................................................ 33

Daftar Pustaka

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat

Modul ini merupakan bagian dari bahan materi pelatihan tentang kepemerintahan
yang baik dan etika pemerintah/good governance dan goverment ethics khusus
untuk para pejabat eselon II di daerah. Secara keseluruhan sasaran dari kurikulum
good governance dan goverment ethics yang disusun dalam rangka kegiatan
SCBD, adalah para pejabat eselon II, III dan IV. Fokus pembahasan untuk masing
masing eselon disesuaikan dengan tugas, fungsi dan tanggungjawabnya masing
masing. Isi dari materi dalam modul modul untuk semua eselon saling berkaitan
dan pada beberapa modul informasi yang digunakan ada yang sama; oleh karena
itu kepada para peserta eselon II waktu diselenggarakan pelatihan, juga perlu
diinformasikan mengenai kurikulum dan modul modul pelatihan untuk para
pejabat eselon di bawahnya.

Sesuai kompetensi eselon II dan dengan mempertimbangkan kesibukan sebagai


pimpinan instansi, topik bahasan pada modul ini difokuskan pada masalah etika
dalam mengelola pemerintahan; walaupun demikian prinsip prinsip good
governance/good local governance akan selalu muncul, mengingat kedua hal
tersebut merupakan dua sisi yang harus diterapkan secara simultan.

Prinsip-prinsip good governance/good local governance bersama unsur etika


idealnya harus melandasi pewujudan kepemerintahan yang baik.

Pada sisi lain, seiring dengan kesadaran berdemokrasi, etika sudah sepatutnya
mendapat tempat terhormat, terutama di kalangan pemangku kekuasaan, sebab
disanalah potensi pelanggaran etika terbuka luas.

Secara konseptual etika pemerintahan, demokrasi dan good governance sangat


erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral. Sedangkan
moral itu sendiri adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan
tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma dan sebagai
sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia.

Ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral juga berkaitan dengan ilmu yang
mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya serta
nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia.

Moral (yang artinya cara hidup atau kebiasaan) dalam pengertiannya yang umum
menaruh penekanan pada karakter dan sifat-sifat individu yang khusus di luar
ketaatan pada peraturan, maka moral merujuk pada tingkah laku yang bersifat
spontan, seperti rasa kasih, kemurahan hati, kebesaran jiwa, dan lain-lain.

1
2

Etika berkenaan dengan moralitas yang mengandung pertimbangan-


pertimbangan yang jauh lebih tinggi tentang kebenaran dan keharusan yang
mempunyai sanksi-sanksi hukum yang bersifat internal seperti isyarat-isyarat
verbal, rasa bersalah, sentimen atau rasa malu.

Etika tidak berhenti pada tataran konsep-konsep dasar moral tetapi juga berlanjut
pada bagaimana kita mengimplementasikannya. Implementasi dalam sistem politik
atau organisasi publik selalu berhubungan dengan apa yang menurut mereka benar
atau salah sehingga moral dalam mengekspresikan nilai-nilai tertentu yang
mengekspresikan komitmen mereka terhadap mana yang benar dan mana yang
salah.

Dengan demikian etika adalah suatu usaha untuk menjadikan pengalaman moral
individu dan masyarakat tertentu dengan cara tertentu untuk menentukan
aturan-aturan yang mengatur perilaku manusia.

Masalah etika dewasa ini merupakan salah satu persoalan besar yang amat
merisaukan dalam pengelolaan bangsa dan negara. Hampir dalam setiap bidang,
norma etika dilabrak sehingga orang tidak mengetahui lagi mana yang patut dan
mana yang tidak. Bidang politik kehilangan etika, ekonomi melanggar kepatutan,
profesi melanggar kemaslahatan dan keadaban. Demikian pula birokrasi kita
sebagai mesin raksasa penggerak pemerintahan pada umumnya masih bercitra
lamban, boros, korup, ruwet, bahkan makin gemuk dan tidak profesional.
Reformasi sudah berjalan sejak 1989 tetapi birokrasi justru kian tidak paham apa
makna zaman yang berubah itu. Birokrasi justru banyak dikeluhkan berbagai
kalangan termasuk oleh pemerintah sendiri.

Dalam masyarakat yang tidak beretika, kebenaran sepenuhnya diserahkan pada


wilayah yuridis. Hal ini berbahaya karena akan terjadi tirani argumen terhadap
fakta. Orang-orang pintar vokal dan berkuasa cenderung memonopoli kebenaran.
Bila hukum tidak cukup kuat, akan berlaku hukum rimba, yang kuat menguasai
segalanya, nurani dan moralitas terkubur.

Penegakan hukum, transparasi, akuntabilitas dan partisipasi publik sebagai indikator


kepemerintahan yang baik yang selalu didengung-dengungkan oleh para pakar
administrasi publik, tidak akan pernah terwujud, apabila tidak diikuti oleh
pembangunan dan pengembangan sebuah sistem etika pemerintahan yang tepat.

Pada sisi lain, seiring dengan kesadaran berdemokrasi, etika sudah sepatutnya
mendapat tempat terhormat, terutama di kalangan pemangku kekuasaan, sebab
disanalah potensi pelanggaran etika terbuka luas.

Secara konseptual etika pemerintahan, demokrasi dan good governance sangat


erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral. Sedangkan
moral itu sendiri adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan
tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma dan sebagai
sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia.
3

Ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral juga berkaitan dengan ilmu yang
mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya serta
nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia.

Moral (yang artinya cara hidup atau kebiasaan) dalam pengertiannya yang umum
menaruh penekanan pada karakter dan sifat-sifat individu yang khusus di luar
ketaatan pada peraturan, maka moral merujuk pada tingkah laku yang bersifat
spontan, seperti rasa kasih, kemurahan hati, kebesaran jiwa, dan lain-lain.

Etika berkenaan dengan moralitas yang mengandung pertimbangan-


pertimbangan yang jauh lebih tinggi tentang kebenaran dan keharusan yang
mempunyai sanksi-sanksi hukum yang bersifat internal seperti isyarat-isyarat
verbal, rasa bersalah, sentimen atau rasa malu.

Etika tidak berhenti pada tataran konsep-konsep dasar moral tetapi juga berlanjut
pada bagaimana kita mengimplementasikannya. Implementasi dalam sistem politik
atau organisasi publik selalu berhubungan dengan apa yang menurut mereka benar
atau salah sehingga moral dalam mengekspresikan nilai-nilai tertentu yang
mengekspresikan komitmen mereka terhadap mana yang benar dan mana yang
salah.

Dengan demikian etika adalah suatu usaha untuk menjadikan pengalaman moral
individu dan masyarakat tertentu dengan cara tertentu untuk menentukan
aturan-aturan yang mengatur perilaku manusia.

Masalah etika dewasa ini merupakan salah satu persoalan besar yang amat
merisaukan dalam pengelolaan bangsa dan negara. Hampir dalam setiap bidang,
norma etika dilabrak sehingga orang tidak mengetahui lagi mana yang patut dan
mana yang tidak. Bidang politik kehilangan etika, ekonomi melanggar kepatutan,
profesi melanggar kemaslahatan dan keadaban. Demikian pula birokrasi kita
sebagai mesin raksasa penggerak pemerintahan pada umumnya masih bercitra
lamban, boros, korup, ruwet, bahkan makin gemuk dan tidak profesional.
Reformasi sudah berjalan sejak 1989 tetapi birokrasi justru kian tidak paham apa
makna zaman yang berubah itu. Birokrasi justru banyak dikeluhkan berbagai
kalangan termasuk oleh pemerintah sendiri.

Dalam masyarakat yang tidak beretika, kebenaran sepenuhnya diserahkan pada


wilayah yuridis. Hal ini berbahaya karena akan terjadi tirani argumen terhadap
fakta. Orang-orang pintar vokal dan berkuasa cenderung memonopoli kebenaran.
Bila hukum tidak cukup kuat, akan berlaku hukum rimba, yang kuat menguasai
segalanya, nurani dan moralitas terkubur.

Tidak berlebihan kalau dalam modul untuk Eselon II ini, kita angkat kepermukaan
pernyataan dari Robert B Denhard yang mengatakan: It is within your power as an
administrator to undertake programs to encourage and facilitate a more ethical
climate within your organization through developing a statement of organizational
philosophy or a code of ethics, conducting an ethics audit and establishing
training program to deal with ethical issues will help your organization’s ethics
4

(Robert B Denhardt, 1995, LAN Laporan Kajian Strategi Pengembangan Etika dalam
Pemerintahan, 2002)

Dalam lingkup penyelenggaraan negara, baik di lingkungan pemerintahan maupun


di lingkungan non pemerintahan, pada umumnya tipe masyarakat Indonesia adalah
tipe masyarakat yang amat sangat bergantung pada dimensi panutan dari para
pemimpinnya.

Indikasi umum inilah yang menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam medisain
materi pelatihan yang dituangkan dalam modul diklat untuk pejabat Eselon II ini,
disesuaikan dengan tugasnya dalam membuat kebijakan serta strategi pencapaian
misi instansi yang dipimpinnya. Dalam kaitan itu para pejabat Eselon II tersebut
sesuai kompetensinya harus memiliki kemampuan untuk menetapkan strategi
terbaik dalam mencapai visi dan misi instansi yang mereka pimpin berdasarkan
etika pemerintahan maupun etika moral.

Mengingat bahwa aparatur pemerintahan merupakan sorotan masyarakat


sehubungan dengan fungsinya sebagai pelayan publik, maka dalam pelatihan untuk
Eselon II ini akan difokuskan pada bagaimana melakukan analisis dan strategi
pengembangan kebijakan etika pemerintahan dan etika moral, agar isu-isu etika
dalam pelayanan publik oleh pemerintah termasuk etika yang menyentuh dimensi
hukum, dapat diformulasikan menjadi suatu strategi tentang bagaimana etika
pemerintah tersebut dapat berlaku efektif, mempunyai mekanisme pengaturan
yang jelas, kekuatan memaksa dan penerapan sanksi yang tegas.

Dimensi mengenai etika pemerintahan dan etika moral ini perlu disimak dalam era
reformasi ini mengingat di Indonesia pada umumnya suasana birokrasi publik kita
masih menunjukkan bahwa aparatur di tingkat bawah relatif akan bertindak sesuai
dengan apa yang dicontohkan oleh para birokrat di tingkat atasnya apakah yang
ditiru itu perilaku yang buruk atau sebaliknya.

Dimensi etika harus menyentuh dimensi organisasi maupun dimensi manajemen


pemerintahan.

Dimensi organisasi yang beretika, harus mampu mewujudkan format dan desain
kelembagaan pemerintahan negara yang sesuai dengan kebutuhan, sebagai wadah
penyelenggaraan urusan pemerintahan yang merupakan amanah bangsa melalui
konstitusi, di pusat dan di daerah. Di daerah kelembagaan ini harus mampu
menjamin efektifitas pelaksanaan kebijakan desentralisasi penyelenggaraan
pemerintahan yang dijiwai semangat bangsa dalam wadah NKRI.

Dimensi manajemen pemerintahan yang beretika merupakan upaya dinamis, tertib


dan teratur dalam mengelola urusan pemerintahan beserta semua sumber daya dan
sistem pendukungnya.

Cakupan dimensi manajemen meliputi bidang yang luas antara lain meliputi:
manajemen kebijakan publik, manajemen PNS, manajemen keuangan negara,
manajemen pelayanan, manajemen hukum serta manajemen pengawasan dan
akuntabilitas, yang kesemuanya harus berlandaskan prinsip-prinsip good
5

governance dan dibantu dukungan teknologi informasi apabila mengharapkan


pelayanan prima bagi publik yang dilayaninya.
Penekanan pada kepemimpinan moral menjadi sesuatu yang harus pertama
dikedepankan bagi mereka yang berada dalam organisasi publik, terutama mereka
yang menjadi pemimpin atau kepala dari instansi, dalam hal ini para Eselon II
instansi daerah, yang menjadi sasaran pelatihan dari modul ini, karena merekalah
sebenarnya pemeran utama yang berada di depan dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara.

Biar cepat keluar,


harus pakai pelicin Pak.
Kami nikmat, Bapak puas.
Sepakat Pak?

Sumber Gambar: Sukirman & Endah Apriani, Potret Kepuasan Konsumen Pelayanan
Publik Kota Bandung, 2002.

Banyak sudah peraturan yang ditujukan untuk mendukung dan sebagai upaya
dalam pembenahan etika pemerintah seperti Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun
1980 tentang Sapta Prasetya Korpri dan Sumpah Jabatan dan Undang-Undang
43 Tahun 1999 tentang Pokok Pokok Kepegawaian. Demikian pula dukungan lain
sperti konstribusi donor (World Bank; UNDP: ADB, dan lain-lain); pertimbangan
gender equity; kebijakan desentralisasi serta teknologi informasi dan lain-lain
yang kesemua penerapannya seperti sudah tidak efektif lagi. Dalam hal ini tentu
saja andil orang-orang yang duduk dalam posisi-posisi strategis pada birokrasi
pemerintahan khususnya dalam tanggungjawab moral, menjadi sangat penting.
6

SUMBER

DAYA

ALAM

RP
PROYEK

Macam-macam hambatan dan kendala yang dihadapi dalam upaya penegakan


etika pada khususnya dan pewujudan good governance pada umumnya antara lain:
Resistensi dan inkompetensi penyelenggara pemerintahan
Menurunnya budaya mengambil pelajaran dari masa lalu
Enggan belajar dari pengalaman untuk masa depan
Kurangnya penerapan teknik dan instrumen manajemen yang telah teruji
Penegakan hukum masih memprihatinkan

Sejalan dengan kondisi tersebut diatas, kompetensi dari pembelajaran ini bagi
Eselon II perlu diarahkan pada kemampuan dalam menetapkan dan menerapkan
strategi terbaik untuk mencapai misi dari instansinya melalui pengembangan
kebijakan etika kepemerintahan dan etika moral dalam mencapai tujuan yang telah
digariskan.

Demikian pula penegakan hukum, transparasi, akuntabilitas dan partisipasi publik


sebagai indikator good governance tersebut yang selalu didengung-dengungkan
oleh para pakar administrasi publik, kesemuanya akan terasa hambar dan hanya
menjadi ucapan penggembira belaka serta tidak akan pernah terwujud, apabila
tidak diikuti oleh pembangunan dan pengembangan sebuah sistem etika
pemerintah dan etika moral yang tepat. Kasus-kasus yang berkaitan dengan
rendahnya moral pejabat publik, semakin mengisyaratkan bahwa isu-isu etika
perlu mendapat perhatian serius untuk segera dikaji ulang.

Lingkungan politik sangat berpengaruh pada upaya pewujudan kepemerintahan


yang baik dan etika pemerintah. Sistem politik dan pemerintahan seharusnya
memberi peluang bagi pilihan kebijakan serta langkah langkah yang diperlukan
guna pewujudan good governance/good local governance dan goverment ethics.
Kebijakan yang diambili tentunya harus sesuai dengan sistem politik dan sistem
pemerintahan yang ada. Banyak contoh dan banyak kendala dihadapi bila
kebijakannya bertentangan atau tidak sesuai dengan sistem yang ada. Para
7

pengambil keputusan dalam menentukan kebijakannya perlu memanfaatkan semua


peluang yang ada dan mungkin bakal ada di dalam maupun di luar pemerintahan.

Gambaran umum mengenai etika dalam kaitannya dengan good governance serta
kebijakan pendukungnya selama ini diuraikan pada bab II; masalah etika serta
pengembangannya diuraikan pada Bab III; sedang Bab III membahas bagaimana
strategi untuk penerapan langkah langkah yang diperlukannya.

Disamping itu untuk keperluan pelatihan dalam pembelajaran ini, para pejabat
Eselon II disarankan untuk mengetahui modul-modul dari Diklat Teknis
Kepemerintahan yang baik dan etika pemerintah yang diperuntukan bagi para
pejabat Eselon IV dan Eselon III, di mana masalah etika juga telah disinggung
terutama dalam kaitannya dengan berbagai penerapan dari good governance, baik
dalam era globalisasi, maupun dalam era reformasi, bahkan dalam pelaksanaan
dari sistem dan budaya kita yang tengah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu.

Demikian pula melalui pembelajaran ini, para pejabat Eselon II perlu mengetahui
berbagai kajian reformasi administrasi publik yang telah banyak dilakukan oleh
para ahli maupun lembaga yang menanganinya. Kajian serta analisis tersebut
meliputi bermacam dimensi termasuk diantaranya dimensi kelembagaan, dimensi
pendidikan dan latihan aparatur, dimensi administrasi kepegawaian dan dimensi-
dimensi manajerial lainnya dalam upaya menciptakan kualitas aparatur publik
yang profesional serta bebas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).

It is within your power as an administrator to undertake programs to


encourage and facilitate a more ethical climate within your
organization through developing a statement of organizational
philosophy or a code of ethics, conducting an ethics audit and
establishing training program to deal with ethical issues will help
your organization’s ethics.
(Robert B Denhardt, 1995)

B. Hasil Belajar

Peserta diharapkan mampu mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur


strategis dari permasalahan etika pemerintah dalam kaitannya dengan good local
governance, serta dapat merumuskannya dalam strategi untuk pengembangan dan
penerapan kebijakan etika kepemerintahan dan etika moral

C. Indikator Hasil Belajar

1. Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami dan


menjelaskan pentingnya prinsip-prinsip good governance dan unsur-unsur
etika dalam penerapan kebijakan publik
8

2. Peserta mampu memahami dan menjelaskan pentingnya masalah etika dalam


upaya pewujudan kepemerintahan yang baik dalam proses pembangunan di
daerahnya.
3. Peserta mampu merumuskan dan memilih strategi yang tepat serta langkah
langkah yang diperlukan dalam upaya penerapan etika pemerintah dan etika
moral dalam rangka pewujudan good local governance di instansinya.

D. Pokok Bahasan

1. Good governance dan kebijakan publik


a. Pengertian prinsip dan paradigma good governance
b. Peraturan dan hukum pendukung good governance

2. Pengembangan etika.
a. Pengertian Etika dan Unsur-unsur Strategis
b. Masalah-masalah Etika yang Berkembang Saat ini

3. Strategi dan langkah langkah yang diperlukan dalam penerapan etika

Setiap pokok bahasan dilengkapi dengan latihan/diskusi serta rangkumannya


9

Diklat Teknis: Kepemerintahan yang Baik dan Etika Pemerintah (Good Governance and Goverment Ethics)
Analisis Kompetensi Eselon II
TUGAS KOMPETENSI KNOWLEDGE ATTITUDE SKILL MODUL
Membuat 1. Mampu melakasanakan tugas dan 1. Penguasaan tentang 1. Mempunyai komitmen terhadap 1. Terampil dan bijaksana dalam Modul utama (utk
kebijakan dan fungsinya berlandaskan peraturan kepemimpinan moral sebagai mekanisme pengaturan yang jelas, menyikapi isu-isu etika, moral, bahan latihan):
strategi perundang-undangan yang pemeran utama pengelolaan kekuatan memaksa dalam sosial, ekonomi, budaya dan politik Modul diklat teknis:
pencapaian misi berlaku. tugas dan fungsi di instansinya penerapan sanksi yang tegas yang berkembang dengan Pengembangan
instansi yang (Penegakan hukum, transparasi, menggunakan prinsip good Kebijakan Etika
dipimpinnya, 2. Mampu memimpin instansinya 2. Mengerti tentang masalah etika akuntabilitas dan partisipasi governance dan etika Pemerintahan,
berlandaskan mencapai tujuan sesuai misinya pemerintah dan etika moral publik) dengan pokok bahasan
penerapan kaidah tentang:
good governance,
dengan prosedur yang disusun
3. Pengetahuan ttg sistem etika 2. Terampil dalam menciptakan Good governance
etika
secara profesional
pemerintahan yang tepat yang 2. Komitmen utk menciptakan suasana kerja yang kondusif
dan kebijakan publik
pemerintahan dan berdampak pada cerminan kualitas aparatur publik yang
Pengembangan etika
etika moral 3. Mampu memberi keteladanan berbagai indikator good profesional serta bebas kolusi, 3. Terampil dan jeli dalam
yang baik dalam melaksanakan korupsi dan nepotisme (KKN) Langkah2 yang
governance. melakukan pengawasan dan solusi diperlukan dalam
tugasnya terhadap masalah yang timbul penerapan etika
4. Memahami kajian reformasi 3. Memiliki kejujuran dalam
4. Mampu memberi arahan yang berbagai dimensi etika dalam bertindak dan menjunjung tinggi 4. Terampil dalam menerapkan contohModul tambahan (utk
jelas tentang pengelolaan sumber birokrasi norma norma yang berlaku diketahui peserta) :
contoh keteladanan yang baik
daya yang dimiliki instansinya umum. Modul2 diklat teknis
berdasarkan prinsip good 5. Memahami kajian reformasi
governance dan etika yang baik kelembagaan. 5. Terampil dalam mengumpulkan kepemerintahan yang
4. Konsekuen terhadap pelaksanaan contoh-contoh penerapan etika dan baik dan etika
6. Memahami tentang perencanaan dan program good governance yang relevan pemerintah utk:
5. Mampu mengembangkan manajemen pekerjaan/tugas dengan pengelolaan pelayanan yango Eeselon III dan
kerjasama dengan instansi lain o Eselon IV
(vertikal / horizontal) serta
dan fungsi organisasi, 5. Mawas diri dan daya adaptasi baik kepada publik
termasuk kebutuhan terhadap lingkungan kerja dan
masyarakat berdasarkan prinsip
pengetahuan untuk pejabat dan masyarakat
saling mendapatkan manfaat
staf di bawahnya
sesuai proporsinya masing
masing 7. Memahami peran SDM/
pendidikan dan pelatihan
6. Mampu mengembangkan inovasi aparatur,
dan motivasi kerja berdasarkan
sistem kerja yang disepakati 8. Memahami sistem administrasi
(Reward & punishment; merit kepegawaian
system; dan lain-lain)
9. Memahami sistem administrasi
7. Mampu melakukan evaluasi diri keuangan
berdasarkan etika pemerintahan
dan etika moral.
10

KOMPETENSI PEMBELAJARAN GOOD GOVERNANCE AND GOVERNMENT


ETHICS

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta (Es II) Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta (Es III) Setelah mengikuti pelatihan ini peserta (Es
diharapkan mampu memahami dan diharapkan mampu memahami dan IV) diharapkan dapat memahami dan
menjelaskan berbagai antisipasi terhadap menjelaskan bagaimana pengembangan
menjelaskan unsur-unsur strategis dari kemungkinan terjadinya perubahan prinsip good gov. dalam Sistem Administrasi
permasalahan etika pemerintahan dalam paradigma pembangunan, yang menjadi Negara Kesatuan RI (SANKRI) serta dapat
kaitannya dengan good local governance, serta masukan dalam merencanakan dan membuat menjelaskan makna prinsip-prinsip Good
dapat merumuskannya dalam strategi dan program kerja di instansinya, dalam mencapai Gov. baik dalam penyelenggaraan Pemda
langkah langkah untuk pengembangan dan tujuannya; serta mampu menyusun rencana (good local gov) maupun dalam praktek
tindak (action plan) yang dapat dituangkan pelayanan umum berikut upaya2 pewujudan
penerapan kebijakan etika kepemerintahan dalam APBD berdasarkan prinsip good good gov dan etika aparatur publik
dan etika moral dalam rangka pencapaian misi governance
dari instansi yang dipimpinnya.

Modul Es II
Pengembangan Kebijakan Etika Pemerintah

Perubahan dan Implikasinya Upaya-UpayaMewujudkan


Modul Es III dalam Mewujudkan Good Gov Kepemerintahan yang Baik
dan Etika Aparatur
Modul Es IV

Good Gov. dalam Good Gov. dalam Penyelenggaraan Good Gov. di Upaya-upaya Mewujudkan
Dalam SANKRI Penyelenggaraan Pemda Daerah dalam Praktek Pelayanan Good Gov. dan Etika
(Good L G) Umum Aparatur

Upaya pewujudan good Integrasi 5 (lima) wilayah strategi


gov./etika pembangunan regional:
Perampingan peran dan
organisasi pemerintahan o Kepemerintahan dan etika yang baik (good
governance /Good Local Governance)
Mendorong peningkatan o Pengentasan kemiskinan terutama di wilayan
pendapatan/pengeluaran perkotaan (urban poverty alleviation);
KENDALA pemerintah o Pembangunan ekonomi daerah (local economic DUKUNGAN
Meningkatkan efisiensi development);
pemberian layanan umum o Keuangan dan pembiayaan pembangunan terutama
di perkotaan (urban finance); serta
Mengembangkan peran sektor
Kendala / Kelemahan /
swasta dan masyarakat dalam
o Pelayanan publik (service delivery). Konstribusi
kekurangan donor (World
dalam usaha pelayanan umum
Bank; UNDP:
mewujudkan good governance ADB, dan lain-
lain
Tidak ada prioritas
transparansi dan keadilan
bermasyarakat, Peraturan
Program Pengawasan Program Program Peningkatan Program Per U U: 32-
KKN, Aparatur Penataan Kelembagaan Kualitas Pelayanan Peningkatan 33/2004, dan
dan Ketatalaksanaan Publik Kapasitas SDM
lain-lain
Penghamburan dana yang
dihimpun dari masyarakat
untuk hal-hal yang tidak
prioritas,
Manajemen Kebijakan Publik, Pertimbangan
Kurangnya akuntabiitas, Manajemen PNS, Gender equity
Penegakan hukum, Norma yeng berlaku
Manajemen Keuangan Negara, Universal
Ketimpangan hak-hak Manajemen Pelayanan, Transparansi,
azasi manusia, Manajemen Hukum Kejujuran
Manajemen Pengawasan Partisipasi,
Birokrasi yang berlebihan, Akuntabilitas Kebijakan
Kepatutan
desentralisasi
Kesamaan,
kemaslahatan dan
Ketanggapan, keadaban.

Dimensi manajemen Visi strategis, Kebenaran Teknologi


pemerintahan negara berdasarkan nurani informasi
Akuntabilitas dan dan moralitas
Supervisi,
Kesadaran
Efektivitas dan
Dimensi organisasi Efisiensi Keteladanan
(Mewujudkan format dan desain
kelembagaan pemerintahan negara Profesionalisme. Kepemimpinan moral
yang sesuai dengan kebutuhan)

Sistem Administrasi Negara Kesatuan RI Prinsip-prinsip Unsur – unsur Etika Pemerintahan


(SANKRI) good governance dan Etika Moral

Peserta pejabat daerah sesuai persyaratan diklat teknis good governance dan etika yang baik
BAB II
GOOD GOVERNANCE DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu
memahami dan menjelaskan pentingnya prinsip prinsip good governance
dan unsur-unsur etika dalam penerapan kebijakan publik

A. Pengertian Prinsip dan Paradigma Good Governance

Istilah good governance/good local governance itu sendiri dewasa ini sudah
marak disebut di mana-mana sehingga istilah tersebut sudah tidak asing lagi
bagi sebagian orang. Lebih dari itu, istilah good governance/good local
governance cenderung lebih populer dari pada istilah kepemerintahan yang baik.
Istilah itu mengemuka sejak 1990-an seiring dengan interaksi antara pemerintah
Indonesia dan negara serta lembaga donor seperti World Bank, ADB, ataupun
Negara pemberi bantuan seperti Ausaid, Usaid, dan banyak lagi lembaga
internasional lainnya yang menyoroti kondisi objektif perkembangan ekonomi
dan politik dalam negeri.

Istilah governance mulai banyak digunakan dalam buku-buku tentang


manajemen pemerintahan sebagai pengganti kepemerintahan. Istilah-istilah
seperti corporate governance, international governance, local governance
dan public governance merupakan perkembangan dari penggunaan istilah
governance tersebut. Namun demikian definisi yang tepat sampai saat ini masih
belum seragam.

Meskipun istilah itu sering kali terucap dalam berbagai peristiwa oleh berbagai
kalangan, pengertiannya bisa berbeda satu dengan yang lain. Sebagian mengarti-
kan good governance sebagai kinerja suatu lembaga, misalnya kinerja
pemerintahan suatu negara, perusahaan atau organisasi masyarakat yang
memenuhi prasyarat tertentu. Pendapat lain ada yang mengaitkan good governance
sebagai penopang stabilitas demokrasi itu sendiri melalui keharusan adanya civil
culture.

Bank Dunia mendefinisikan good governance sebagai suatu penyelenggaraan ma-


najemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab dan sejalan dengan
prinsip demokrasi serta pasar yang efisien.

Dalam good governance ada yang mengartikan tentang salahnya mengalokasikan


dana investasi, dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif,
atau tidak menjalankan disiplin anggaran secara benar serta penciptaan kerangka
hukum dan politik bagi tumbuhnya aktivitas usaha.

Di lain pihak ada pula yang mengartikan governance sebagai proses kegiatan
dalam memecahkan masalah bersama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam governance menurut pengertian tersebut terkandung makna adanya
hubungan kegiatan antara negara, swasta dan masyarakat. Good governance
artinya kepemerintahan/governance yang baik ditandai dengan adanya

11
12

hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara Negara, sektor Swasta dan
Masyarakat yang melibatkan seluruh pelaku (stakeholders) yang
berkepentingan tergantung dari permasalahan yang dihadapi. Para pelaku
tersebut disamping pemerintah dari berbagai tingkatan, dapat pula berasal dari
organisasi politik, LSM/NGO, dunia usaha/swasta bahkan lembaga
international, sehingga governance yang berarti administrasi Negara
mempunyai konotasi sebagai administrasi publik yang mengurusi kepentingan
masyarakat (penduduk, warga negara dan rakyatnya), dimana birokrasi
pemerintahan menerapkan berbagai disiplin. Dengan demikian publik/
pemerintah diartikan sebagai hubungan yang memerintah dengan yang
diperintah dengan penempatan sesuai proporsinya.

Prinsip dan paradigma good governance harus masuk bila administrasi publik
ingin berpredikat baik. Prinsip prinsip good governance seperti partisipasi,
penegakan hukum, transparansi, kesamaan, ketanggapan, visi strategis,
akuntabilitas dan supervisi, efektivitas dan efisiensi serta profesionalisme dengan
paradigma yang disepakati (misalnya partisipasi masyarakat dalam proses
pelayanan publik) harus benar benar bisa diwujudkan. Untuk keperluan tersebut
perlu adanya komitmen yang benar benar ditaati oleh semua pelaku pembangunan/
pelayanan yang terlibat.

Salah satu ciri karakteristik dari good governance adalah adanya ketergantungan
dan saling membutuhkan satu dengan lainnya diantara kegiatan pemerintahan
dengan kegiatan sektor swasta dan masyarakat (UNDP, Partnership for
Governance Reform in Indonesia, 2000).

1. INTERGRASI ANTARA SEKTOR PUBLIK (SP)–


SWASTA(SW) DAN MASYARAKAT(MASY)

SP SW

MASY

• Kerjasama Yang Saling Menantang


• Masing-masing Sp-sw-masy Tidak Dapat
Melakukan Kegiatan Masing-masing Secara
Sendiri Sendiri

Sebenarnya pencanangan good governance, good local governance maupun good


corporate governance kesemuanya berniat untuk menjunjung tinggi prinsip–
prinsip good governance seperti prinsip keadilan, transparansi, akuntabilitas,
responsibilitas, dan prinsip lainnya.
13

B. Peraturan dan Hukum Pendukung Good Governance

UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah telah
mengatur kerangka kerja serta struktur yang strategis untuk semua kegiatan sektor-
sektor publik. Demikian pula telah banyak Peraturan Perundang-undangan yang
dimaksudkan untuk mendukung percepatan pelayanan masyarakat kearah yang
efektif.

Implementasi untuk terciptanya kondisi pemerintahan yang baik/good governance


meliputi bidang yang luas dan boleh dikatakan melibatkan seluruh aspek
kehidupan masyarakat. Untuk pelaksanaan semua kegiatan tersebut tentu perlu
adanya acuan yang jelas dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang
mendukungnya. Disadari bahwa belum semua kegiatan telah dilatar belakangi oleh
aturan yang memadai, namun demikian disisi lain telah banyak peraturan per-
undang-undangan yang dapat mendukung terciptanya kondisi good governance,
walau dalam kenyataannya pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan
tersebut masih banyak kendala dan tantangannya, salah satunya adalah lemahnya
penegakan hukum serta pengawasan yang diperlukan.

Prinsip prinsip good governance dalam penerapannya tidaklah berdiri sendiri,


sehingga seyogyanya peraturan perundang-undangan yang ada maupun yang
masih perlu diadakan harus sudah mempertimbangkan azas-azas tersebut bila good
governance ingin direalisasikan. Mengingat masalah utama adalah pelaksanaan
yang lemah dari aturan yang telah ada, maka dalam uraian ini fokus bahasan lebih
kepada aturan dan hukum yang ada dewasa ini yang andilnya cukup besar dalam
mendukung terciptanya kepemerintahan yang baik/good governance, khususnya
yang berkaitan dengan dimensi manajemen yang bermuara pada realisasi dari
pelayanan publik yang menjadi hajat hidup masyarakat. Dimensi manajemen
merupakan bagian dari bahasan administrasi negara yang tidak berbeda dengan
administrasi publik yang semestinya terkandung paradigma good governance.

Undang-Undang Dasar 1945 dan perubahannya tentu saja harus menjadi acuan
utama peraturan perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dua istilah digunakan dalam UUD 1945, Sistem Penyelenggaraan Negara dan
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara. Sistem Penyelenggaraan
Pemerintahan Negara merupakan bagian terintegrasi dari Sistem Penyelenggaraan
Negara. Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara merupakan bagian yang
dominan dari Sistem Penyelenggaraan Negara yang pada umumnya terlibat dalam
kegiatan yang berkaitan dengan dimensi manajemen. Dari 37 pasalnya, terdapat
pasal-pasal yang diantaranya menjadi acuan dari peraturan perundang-undangan di
bawahnya yang mengatur pelaksanaan pelayanan publik. Pasal-pasal tersebut
antara lain pasal 33 dan 34 yang mengatur tentang perekonomian dan
kesejahteraan sosial; pasal 31 dan 32 mengenai pendidikan dan kebudayaan; pasal
23 mengenai keuangan.
14

TAP MPR No XI/MPR/1998 tentang penyelenggara Negara yang Bersih dan


Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, mengamanatkan tentang perlunya
penyelenggaraan Negara yang menggunakan paradigma good governance,
siapapun pelakunya pejabat publik, swasta maupun masyarakat.

UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan wujud hukum dalam menampung
paradigma tentang good governance dalam penyelengaraan negara dan
pemerintahan oleh aparatur negara. Dalam undang-undang tersebut para
penyelenggara negara dan pemerintahan diwajibkan menerapkan berbagai azas
yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan kewajiban dan tugasnya
terutama dalam memutuskan suatu kebijakan baik yang berdimensi organisasi
maupun yang berdimensi manajemen. Azas tersebut meliputi: Azas Kepastian
Hukum; Azas Kepentingan Umum; Azas Keterbukaan; Azas Profesionalitas dan
Azas Akuntabilitas.

Azas Akuntabilitas ini merupakan azas pokok dalam pencapaian good governance.
Dengan azas akuntabilitas setiap hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan Negara
harus dapat dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai
pemegang kedaulatan rakyat tertinggi negara. Sistem pertanggungjawaban yang
jelas, tepat dan legal akan menjamin terlaksananya penyelenggaraan pemerintahan
yang baik/good governance. Media pertanggungjawaban kepala pemerintahan
telah dikembangkan system pertanggungjawaban dalam bentuk LAKIP (Laporan
Akhir Kinerja Institusi Pemerintahan), yaitu laporan pertanggungjawaban setiap
akhir jabatan (biasanya lima tahunan) berdasarkan Inpres No 7 Tahun 1999.
Dengan kewajiban pembuatan laporan ini, juga dikandung maksud untuk
terwujudnya kepemerintahan yang baik.

Masih banyak lagi peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan untuk


adanya tertib penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, sebagaimana tertera
pada daftar peraturan perundang-undangan yang dicantumkan pada Lampiran.
Namun demikian good governance dewasa ini masih nerupakan tantangan masa
depan; malahan apabila tidak hati-hati dan waspada ada kecenderungan reformasi
yang kebablasan ini bisa mengarah kepada krisis konstitusi. Untuk itu perlu ada
pemantauan terhadap berbagai bentuk kebijakan yang mengawasi aspek yang
secara yuridis legal bertentangan dengan ketentuan hukum yang sejajar, maupun
terhadap hukum yang berlaku diatasnya. Sebagai contoh dewasa ini masih terlihat
adanya kecenderungan penghimpunan kekuatan sumber daya strategis pada satu
tangan, hal mana tidak mengarah kepada terwujudnya good governance; demikian
pula kecenderungan adanya kebiasaan melakukan balas jasa secara berlebihan;
kesulitan menyampaikan dan mengontrol aspirasi; hasil-hasl berbagai pemilu
selama ini yang belum menempatkan struktur organisasi dan skema kekuasaan
dalam system yang jelas; kemiskinan; kebodohan; pengawasan dan penganggaran
yang syarat transaksi; dan lain-lain merupakan indikator-indikator masih jauhya
pewujudan kepemerintahan yang baik. Hanya dengan kesungguhan menjalankan
amanat rakyat, kondisi di Indonesia akan mengarah kepada kepemerintahan yang
baik/good governance dan good local governance.
15

Dalam Undang–Undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah yang


merupakan perubahan dari UU 22 tahun 1999, Pemerintah Daerah diberi
keleluasaan untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dalam rangka
desentralisasi pemerintahan, dimana Pemerintah Daerah menjalankan dan
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan azas otonomi
dan perbantuan yang dalam pelaksanaanya tetap berdasarkan externalitas,
akuntabilitas dan efisiensi yang serasi sebagai salah satu upaya mewujudkan
kepemerintahan daerah yang baik/good local governance.

Undang–Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sebagai perubahan atas Undang–
Undang No 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah, juga mencerminkan penerapan prinsip–prinsip
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang dirasa lebih memadai dan
lebih adil, suatu prinsip yang antara lain merupakan prinsip good governance.

PP 30 Tahun 1980, tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, dan masih banyak lagi
peraturan perundang-undangan yang mendukung pelaksanaan good governance
baik yang berkaitan dengan usaha dalam meningkatkan keadaran hukum dan
pemahaman para pengambil kebijakan publik dan berbagai kelompok masyarakat
lainnya.

Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa


pada Bab II TAP MPR ini, yaitu tentang Pokok-pokok Etika Kehidupan
Berbangsa, pada bagian 2 perihal Etika Politik dan Pemerintahan, secara eksplisit
dinyatahan bahwa "etika pemerintahan mengamanatkan agar penyelenggara negara
memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik, siap
mundur apabila dirinya telah melanggar kaidah dan sistem nilai atau pun dianggap
tidak mampu memenuhi amanat masyarakat, bangsa dan negara".

Sesuai dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah, pemerintahan yang


bersih dan demokratis, juga hendaknya dimulai dari daerah, dengan inisiatif dari
pemerintah kota dan pemerintah kabupaten, DPRD dan Masyarakat, mengingat
pengertian asal dari demokrasi yang dimulai dari bawah.

Ketaatan semua pihak terhadap hukum, akan berimplikasi pada kuatnya DPRD
dan Masyarakat dalam fungsinya sebagai pengawas eksekutif, yang berdampak
pada lahirnya PERDA dan APBD yang aspiratif, akuntabel dan transparan.

UUD 1945 yang diamandemen


TAP MPR No XI/MPR/1998, tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN
UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN
UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah
Instruksi Presiden No 9 Tahun 2000, tentang Pengarusutamaan jender dalam Pembangunan Nasional
PP 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM
Peraturan Perundang-undangan lainnya termasuk kemungkinan akan adanya peraturan baru

Beberapa contoh instrumen yang dapat dipakai sebagai arahan untuk dapat
terwujudnya ke-tata pemerintahan yang baik, kegiatan berikut perlu mendapat
16

perhatian para stakeholders pengelola khususnya di daerah (Kabupaten/Kota),


sekaligus sebagai indikator pewujudan good local governance itu sendiri

Adanya 1) Adanya promosi identitas Kabupaten/kota serta kesadaran semua warga


partisipasi itu sendiri
dan 2) Adanya pertemuan-pertemuan masyarakat serta keterlibatannya dalam
keterlibatan perencanaan dan keuangan/penganggaran
yang lebih 3) Ada pemilihan umum kabupaten/kota terhadap petisi dari masyarakat
besar 4) Struktur demokrasi yang terbudayakan dengan baik
5) Promosi terhadap sektor unggulan
6) Keterlibatan golongan minoritas dalam sistem pengelolaan
kabupaten/kota

Manajemen 1) Semua aspek diperhitungkan secara cermat untuk terwujudnya pelayanan


yang efisien terbaik dengan cara yang efisien
2) Ada hubungan komunikasi yang baik antar buruh
3) Investasi di bidang infrastruktur yang efisien
4) Pendelegasian wewenang sampai tingkat yang paling bawah
5) Terciptanya kolaborasi dan kerjasama yang baik daripada masing-masing
saling bersaing
6) Ada program dan pelaksanaan training yang cukup bagi para pegawai
7) Penggunaan teknologi informasi untuk memperoleh manfaat sebesar-
besarnya
8) Perencanaan lingkungan serta manajemen yang matang untuk bekerja
sama dengan warga
9) Kesiapan setiap saat dalam menghadapi bencana yang dibarengi dengan
pengawasan terhadap lingkungan

Akuntabilitas 1) Monitoring dan evaluasi terhadap kinerja pemerintah dan kinerja swasta
dan oleh pihak independen
transparansi 2) Prosedur ketat terhadap pengeluaran anggaran yang dilakukan pemerintah
maupun NGO
3) Panduan yang jelas bagi pengadaan pimpinan
4) Dilakukan proses tender system yang baik
5) Transparansi dalam pengaturan keuangan
6) Akses masyarakat terhadap informasi
7) Terdapat framework untuk badan regulator yang adil, terbuka dan
terencana
8) Ada prosedur penyampaian dan penanganan keluhan masyarakat
9) Keteraturan penyampaian informasi terhadap isu2 kunci
10) Terbuka lebar bagi suluruh relasi
Akssesibilitas 1) Ada struktur serta penjadwalan untuk konsultasi dengan wakil dari semua
sector
2) Keterlibatan warga dalam proses pengambilan keputusan
3) Akses yang mudah kepada pemerintah yang dilkaukan oleh masyarakat
maupun organisasi
4) Akses kepada kesempatan usaha perekonomian
5) Jaminan terhadap hak-hak masyarakat/golongan
Modifikasi dari: Building and Social Housing Research Institute, Coalville,
Leicestershire, UK, 2000
17

C. Latihan

Catatan: Latihan untuk peserta, yang tidak lain adalah para pejabat eselon II lebih diarahkan
untuk menghasilkan gagasan dan rumusan hasil pemikiran bersama. Dengan pengalaman sebagai
pejabat eselon II serta pengalaman pengalaman sebelumnya, diharapkan ada pemikiran, cara
serta langkah langkah yang bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari maupun
untuk pelaksanaan masa depan dalam rangka terwujudnya kepemerintahan yang baik dan etika
pemerintah.

Untuk keperluan tersebut latihan akan berupa diskusi kelompok.

Kelompok I:
Diskusikan apa saja hambatan dan kendala yang dihadapi pemerintah daerah
dalam mengaplikasikan program pembangunan di daerahnya dengan
menggunakan paradigma yang menekankan perlu adanya partisipasi masyarakat
dan swasta dalam implementasinya dilihat dari kaidah Good Governance serta
pencapaian tujuan dari program dimaksud. (Kasus bisa diambil salah satu program
pelayanan publik)
Rumuskan bagaimana solusi dan langkah langkah yang perlu diambil.
..............................................................................................................................

Kelompok II:
Diskusikan bagaimana dan apa saja hambatan dan kendala yang dihadapi
pemerintah daerah dalam mengaplikasikan PP 65 / 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan SPM, dilihat dari sudut pandang kepemerintahan yang baik
dan etika pemerintah.
Rumuskan bagaimana solusi dan saran untuk pelaksanaanya dalam rangka
pencapaian tujuan serta makna dari PP tersebut.
.....................................................................................................................................................

D. Rangkuman

Pengertian yang sedang marak tentang governance dewasa ini adalah adanya
hubungan kegiatan antara negara, swasta dan masyarakat sebagai proses
kegiatan dalam memecahkan masalah bersama dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat, dengan melibatkan seluruh pelaku (stakeholders) yang
berkepentingan. Tergantung dari permasalahan yang dihadapi, para pelaku
bisa dari pemerintah dari berbagai tingkatan, organisasi politik, LSM/NGO,
dunia usaha/swasta bahkan lembaga international dengan hubungan antara
pihak terkait sesuai proporsinya.

Prinsip dan paradigma good governance harus masuk untuk mencapai hasil
dari administrasi publik yang baik Prinsip prinsip good governance seperti
partisipasi, penegakan hukum, transparansi, kesamaan, ketanggapan, visi strategis,
akuntabilitas dan supervisi, efektivitas dan efisiensi serta profesionalisme dengan
paradigma yang disepakati (misalnya partisipasi masyarakat dalam proses
pelayanan publik) harus benar benar bisa diwujudkan. Untuk keperluan tersebut
perlu adanya komitmen yang benar benar ditaati oleh semua pelaku pembangunan/
pelayanan yang terlibat.
18

Beberapa peraturan pendukung good goverment dan etika antara lain:


o UUD 1945 yang diamandemen
o TAP MPR No XI/MPR/1998, tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih
dan Bebas KKN
o UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas dari KKN
o UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
o UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan
Daerah
o Instruksi Presiden No 9 Tahun 2000, tentang Pengarusutamaan jender dalam
Pembangunan Nasional
o PP 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM
o Peraturan Perundang-undangan lainnya termasuk kemungkinan akan adanya
peraturan baru
BAB III
PENGEMBANGAN ETIKA
Peserta mampu memahami dan menjelaskan pentingnya
masalah etika dalam upaya pewujudan kepemerintahan yang
baik dalam proses pembangunan

A. Kebijakan dan Pengertian Etika dan Unsur-unsur Strategis

Pernyataan tentang etika dalam berbagai pustaka dapat berlainan, tetapi pada
umumnya pengertian yang dikandungnya relatif sama yaitu tentang susunan
prinsip-prinsip moral dan nilai, yang diterima oleh individu atau kelompok sosial
sebagai sesuatu yang mengatur dan mengendalikan tingkah laku serta menentukan
hal yang baik dan hal yang buruk untuk dilakukan. Prinsip-prinsip moral dan nilai
tersebut secara konkrit diwujudkan dalam kode etik. Kode etik ini merupakan
suatu aturan, sistem atau standar yang memuat prinsip-prinsip tentang pengelolaan
moralitas dan tingkah laku yang diterima dalam suatu lingkungan masyarakat.

Perlunya Pengembangan Etika dicantumkan pada Ketetapan MPR Republik


Indonesia Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Ketetapan
tersebut menyatakan bahwa etika pemerintahan mengamanatkan agar
penyelenggara negara harus memiliki rasa kepedulian tinggi da!am mernberikan
pelayanan kepada publik, serta siap mundur apabila dirinya telah melanggar
kaidah dan sistem nilai etika yang disepakati. Ketetapan tersebut dimaksudkan
untuk mengkondisikan kembali rambu-rambu visi dan misi administrasi publik
dalam rangka pelayanan kepada publik. Untuk keperluan dimaksud perlu adanya
penegasan kembali tentang kode etik bagi pegawai negeri sipil sebagai
penyelenggara birokrasi publik, serta harus membuat formulasi kode etik yang
jelas dan terinci dalam satu paket regulasi berikut kodifikasinya agar dapat
dioperasionalisasikan (Bintoro Tjokroamidjojo, Reformasi Administrasi Publik, Jakarta
2004).

Dengan adanya formulasi yang jelas dalam satu regulasi yang jelas, seseorang
akan bertindak benar atau salah karena adanya konsekuensi dari tindakannya yang
berkaitan dengan reward and punishment yang ia terima baik dalam organisasi
maupun dari masyarakat. Dengan demikian diharapkan orang-orang akan
cenderung berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan takut untuk melanggarnya
karena ada efek dan sanksi sebagai konsekuensinya.

Oleh karena itu nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan rakyat, dan nilai-nilai
yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan
pembangunan dan aspek-aspek fungsional dari pemerintahan yang efektif
(kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial) dan efisien dalam
pelaksanaan tugasnya harus selalu menjadi program kerja pemerintah/pemda yang
dijabarkan pada setiap aspek pembangunan.

19
20

Yang paling ideal adalah apabila orang akan menerima prinsip-prinsip moral dan
berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut tidak hanya karena
seseorang menyatakan harus melakukannya, tetapi karena mereka tahu tentang apa
yang membuat prinsip-prinsip itu benar.

Gambar: Sukirman & Endah Apriani, Potret Kepuasan Konsumen Pelayanan Publik
Kota Bandung, 2002.

Masalahnya kemudian bagaimana kita dapat menjamin akan tegaknya pewujudan


moral ini ?

TAP MPR No. VI/MPR/1999 tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Undang-
Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas
dari KKN merupakan pewujudan aspek legal terhadap semangat reformasi yang
didengung-dengungkan masyarakat, dalam rangka membawa tuntutan pada
pemerintah untuk mewujudkan sistem kepemerintahan yang baik, bersih dan bebas
dari KKN tersebut. Pelaksanaan pewujudannya masih belum memuaskan
masyarakat luas. Pemerintah harus mampu mendukung bagi terciptanya
kelancaran dan keterpaduan pelaksanaan tugas dan fungsi penyelengaraan
pemerintahan negara dan pembangunan dengan mempraktekkan prinsip-prinsip
Good Governance.

Beberapa contoh identifikasi maupun indikator penerapannya diilustrasikan pada


tabel berikut ini. Pada uraian ini hanya disebut satu contoh saja. Contoh penerapan
lainnya dapat dikembangkan oleh fasilitator dan peserta latihan.

No Identifikasi Unsur Contoh Indikator penerapan


1) Terciptanya kelancaran dan keterpaduan
pelaksanaan tugas dan fungsi penyelengaraan
pemerintahan negara
2) Terciptanya peningkatan kesejahteraan
1 Rasa kepedulian
masyarakat
3) Terciptanya kondisi lingkungan yang bersih dan
nyaman
4) Dan seterusnya
21

No Identifikasi Unsur Contoh Indikator penerapan


1) Terciptanya tertib administrasi pelaksanaan
program kegiatan di lingkungan instansinya
maupun di lingkungan pemda pada umumnya
Kaidah dan sistem nilai
2 2) Terciptanya saling menghormati antar
Etika
stakeholder pembangunan misalnya dalam
proses pelelangan, dan lain-lain
3) dan seterusnya
1) Terpeliharanya tingkat kepuasan pelayanan
publik
3 Rambu-rambu visi dan 2) Terlaksanannya komitmen untuk melaksanakan
misi administrasi publik program sesuai rencana yang disepakati
3) dan seterusnya
1) Terciptanya penyelenggaraan birokrasi publik
yang transparan, partisipatif dan terakunkan,
terutama dalam penyelenggaraan pelayanan
4 Kode etik kepada publik
2) Terciptanya proses dan prosedur kerja yang
dapat ditaati oleh semua pihak
3) dan seterusnya
1) Terukurnya/benchmarking semua perilaku
kegiatan penyelenggara birokrasi dalam proses
operasionalisasi program dan tugas di
5 Kodifikasi etika lingkungan pemda
2) Terciptanya sistem informasi dan penyimpanan
data yang tertib dan mudah diaplikasikan
3) dan seterusnya
1) Terwujudnya pelaksanaan terhadap rasa
keadilan baik atas jasa maupun atas
pelanggaran yang dilakukan dalam
6 Reward and punishment menjalankan tugasnya
2) Terciptanya motivasi kerja serta peningkatan
kinerja
3) dan seterusnya
1) Terciptanya ketenteraman, keamanan dan
ketenangan di lingkungan kerja
2) Terciptanya rasa percaya diri di masyarakat
pada umumnya
7 Nilai-nilai/prinsip moral
3) dan seterusnya
(Kesemuanya sebagai dampak dari adanya
pengertian, kepatuhan dan penghormatan terhadap
nilai yang berlaku umum dan diterima masyarakat)
1) Terbinanya budaya kerja keras, ulet dan
profesional dalam menjalankan tugas dan
Nilai-nilai yang dapat
fungsinya
8 meningkatkan kemampuan
2) Terciptanya pelaksanaan kebutuhan publik
masyarakat
secara mandiri
3) dan seterusnya

B. Masalah Etika yang Berkembang Saat ini

Secara konseptual etika pemerintahan, demokrasi dan good governance sangat


erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral. Sedangkan
moral itu sendiri adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan
tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma dan sebagai
sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia.

Ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral juga berkaitan dengan ilmu yang
mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya serta
22

nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia.

Moral (yang artinya cara hidup atau kebiasaan) dalam pengertiannya yang umum
menaruh penekanan pada karakter dan sifat-sifat individu yang khusus di luar
ketaatan pada peraturan, maka moral merujuk pada tingkah laku yang bersifat
spontan, seperti rasa kasih, kemurahan hati, kebesaran jiwa, dan lain-lain.

Etika berkenaan dengan moralitas yang mengandung pertimbangan-


pertimbangan yang jauh lebih tinggi tentang kebenaran dan keharusan yang
mempunyai sanksi-sanksi hukum yang bersifat internal seperti isyarat-isyarat
verbal, rasa bersalah, sentimen atau rasa malu.

Etika tidak berhenti pada tataran konsep-konsep dasar moral tetapi juga berlanjut
pada bagaimana kita mengimplementasikannya. Implementasi dalam sistem politik
atau organisasi publik selalu berhubungan dengan apa yang menurut mereka benar
atau salah sehingga moral dalam mengekspresikan nilai-nilai tertentu yang
mengekspresikan komitmen mereka terhadap mana yang benar dan mana yang
salah.

Dengan demikian etika adalah suatu usaha untuk menjadikan pengalaman moral
individu dan masyarakat tertentu dengan cara tertentu untuk menentukan
aturan-aturan yang mengatur perilaku manusia.

Kode etik bagi Pegawai Negeri Sipil sebagai penyelenggara birokrasi publik perlu
ditegaskan kembali dengan formulasi yang jelas dan terinci dalam satu paket
regulasi berikut kodefikasinya agar dapat dioperasionalisasikan.

Berbagai penerapan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat


dikelompokkan pada etika-etika dibawah ini.

Kelompok Etika
Etika Sosial Budaya
Etika Politik dan Pemerintahan
Etika Ekonomi dan Bisnis
Etika Penegakkan Hukum yang Berkeadilan
Etika Keilmuan
Etika politik dan pemerintahan
Etika Lingkungan

1. Etika Sosial Budaya

Etika sosial dan budaya bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam
dengan menampilkan kembali sikap jujur, saling memahami, saling
menghargai, saling mencintai, dan saling menolong diantara sesama manusia
dan warga bangsa. Sejalan dengan itu, pedu menumbuhkembangkan kembali
23

budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan
dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Untuk itu, penting
sekali ditumbuhkembangkan kembali budaya keteladanan yang harus
diwujudkan dalam perilaku para pemimpin baik formal maupun informal pada
setiap lapisan masyarakat.

2. Etika Politik dan Pemerintahan

Etika politik dan pemerintahan dimaksudkan untuk mewujudkan


pemerintahan yang bersih, efisien dan efektif serta menumbuhkan suasana
potitik yang demokratis bercirikan keterbukaan, tanggap akan aspirasi rakyat,
menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima
pendapat yang lebih benar serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan
keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa. Etika
pemerintahan mengamanatkan agar penyelenggara negara memiliki
kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik, siap mundur
apabila merasa dirinya telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun
dianggap tidak marnpu memenuhi amanah masyarakat, bangsa dan negara
serta moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan
masyarakat.

Etika diwujudkan dalam bentuk sikap yang bertatakrama dalam perilaku


politik yang toleran, tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap munafik
serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan berbagai
tindakan yang tidak terpuji lainnya.

3. Etika Ekonomi dan Bisnis

Etika ekonomi dan bisnis mencegah terjadinya praktik-praktik monopoli,


oligopoli, kebijakan ekonomi yang mengarah kepada perbuatan korupsi,
kolusi dan nepotisme, diskriminasi yang berdampak negatif terhadap efisiensi
persaingan sehat, dan keadilan serta menghindarkan peri1aku menghalalkan
segala cara dalarn memperoleh keuntungan.

4. Etika Penegakkan Hukum yang Berkeadilan

Etika penegakkan hukum yang berkeadilan ini meniscayakan penegakkan


hukum secara adil, perlakuan yang sama dan tidak diskriminatif terhadap
setiap warga negara dihadapan hukum, dan menghindarkan penggunaan
hukum secara salah sebagai alat kekuasaan dan bentuk-bentuk manipulasi
hukum lainnya.

5. Etika Keilmuan

Etika keilmuan menegaskan pentingnya budaya kerja keras dengan


menghargai dan memanfaatkan waktu, disiplin dalam berpikir dan bererbuat,
24

serta menepati janji, dan komitmen diri untuk mencapai hasil yang terbaik.

6. Etika politik dan pemerintahan

Etika politik dan pemerintahan diharapkan mampu menciptakan suasana


harmonis antar pelaku dan antar kekuatan sosial politik serta antar kelompok
kepentingan lainnya untuk mencapai sebesar-besar kemajuan bangsa dan
negara dengan mendahulukan kepentingan bersarna daripada kepentingan
pribadi dan golongan. Etika politik dan pemerintahan mengandung misi
kepada setiap pejabat dan elit politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif,
siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap
mundur dari jabatan publik apabila terbukti melakukan kesalahan.

7. Etika Lingkungan

Etika lingkungan menegaskan pentingnya kesadaran menghargai dan


melestarikan lingkungan hidup serta penataan tata ruang secara berkelanjutan.

Identifikasi, analisis serta pengetahuan tentang aturan dan moral yang mendasari
prinsip-prinsip etika pemerintahan harus selalu digunakan sebagai acuan dalam
melaksanakan tugas yang menjadi tanggungjawabnya

Dalam kenyataanya praktik pewujudan etika ini masih sangat sulit untuk
dilaksanakan. Sebagai ilustrasi, dalam upaya reformasi pola pikir birokasi, masih
sangat sulit untuk mengubah pandangan terhadap kekuasaan yang cenderung
menjadikan birokrasi sebagai kekuatan yang sakral. Pelaksanaan otonomi daerah
dalam beberapa hal masih banyak diwarnai oleh pengaruh pemerintah pusat yang
masih menentukan besar kecilnya lembaga eksekutif di daerah maupun
eksistensinya. Demikian pula kedudukan birokrasi dihadapan pejabat politik masih
lemah. Hubungan antara pimpinan pemerintahan yang dewasa ini banyak berasal
dari kalangan parpol masih terlihat hubungan yang kuat. Hal ini terlihat bila ada
penggantian pimpinan, sering diikuti dengan pergantian pejabat yang di bawahnya.
Hal ini menunjukan bahwa kedudukan birokrasi di hadapan pejabat politik masih
lemah. Hal ini tidak mendukung prinsip etika pemerintahan yang mengamanatkan
untuk berkembangnya prinsip profesionalisme, pada mana pengisian pejabat pada
setiap jenjang maupun bidang seperti bidang ekonomi, sosial bahkan di bidang
politik sekalipun harus berdasarkan profesi yang tepat dan berpengalaman.

Demikian pula penerapan etika pemerintahan berdasarkan landasan hukum yang


jelas serta profesional diperlukan untuk reformasi di bidang organisasi dan
administrasi di pusat maupun di daerah. Di bidang organisasi reformasi tidak
hanya dilakukan di jajaran eksekutif, namun juga di lembaga legislatif dan
yudikatif. Di bidang administrasi, reformasi dimulai dari manajemen sumber daya
manusia sampai administrasi keuangan.
25

Masalah masalah etika sebagaimana pengelompokan diatas serta contoh


penerapannya merupakan dasar dalam melakukan analisis pengembangan etika
pemerintah.

Etika tidak berhenti pada tataran konsep-konsep dasar moral tetapi juga
berlanjut pada bagaimana kita mengimplementasikannya

C. Latihan/Diskusi

Para peserta Eselon II hendaknya dalam pelatihan ini fokus pada diskusi-diskusi
tentang bagaimana cara menganalisis kebijakan-kebijakan tentang etika
pemerintahan maupun etika lainnya secara tajam dan jeli, yang akan digunakan
untuk menghasilkan rumusan tentang strategi kebijakan dalam pengembangan
etika yang dapat dilaksanakan dengan cara efektif dan efisien.

Dalam diskusi dapat digunakan masukan seperti:


1. Contoh kepedulian aparatur/penyelenggara negara yang harus dimilikinya
dalam mernberikan pelayanan kepada publik
2. TAP MPR No. VI/MPR/1999 tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan
Undang-Undang No. 28 tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih
dan bebas dari KKN yang masih saja belum bisa diwujudkan dengan baik
3. Bentuk-bentuk dukungan kongkrit dari Pemerintah untuk dapat terciptanya
kelancaran dan keterpaduan pelaksanaan tugas dan fungsi penyelengaraan
pemerintahan negara dan pembangunan dengan mempraktekkan prinsip-
prinsip etika yang baik
4. Regulasi baru apa saja selain peraturan perundang-undangan yang telah ada,
guna mewujudkan kepemerintahan yang baik dan etika pemerintah
5. Pelaksanaan reward and punishment bagi aparatur pemerintah dalam
melaksanakan tugasnya sehubungan dengan akumulasi prinsip-prinsip etika
pemerintahan kedalam pelaksanaan program pembangunan dan bentuk-bentuk
yang layak diberikan
6. Dan lain-lain

Masukan-masukan tersebut kemudian diakumulasikan dalam diskusi kelompok


yang temanya bisa bervariasi sesuai kebutuhan daerah, yang dalam pelatihan ini
dikemukakan sebagai contoh antara lain:

Kelompok I:
Rencana pembangunan daerah (Jangka panjang – jangka menengah – maupun tahunan
yang disusun dalam bentuk APBD, merupakan kebijakan pemda yang telah disepakati
bersama antara pemerintah daerah dengan DPRD. Penanganannya memerlukan tertib
pelaksanaan yang bertika.
26

Diskusikan bagaimana prinsip good local governance dan unsur etika, dapat
meningkatkan sinergi dan produktivitas kerja akumulatif terhadap pelaksanaan program
pada berbagai instansi di lingkungan pemda yang pada akhirnya bermuara pada
kepuasan, kesejahteraan, kesehatan masyarakat (Kasus: Kesehatan – Air bersih –
Listrik – Pendidikan)
Rumuskan dan sebutkan langkah langkah strategis yang inovatif dan reformatif yang
diperlukan pada setiap tingkatan rencana guna mengantisipasi kondisi yang belum
kondusif .
.......................................................................................................

Kelompok II
Diskusikan manfaat, kendala/hambatan yang dihadapi dalam penerapan bila gagasan
pelaksanaan reward and punishment bagi aparat pemerintah diberlakukan dengan konsekuen.
Payung hukum mana yang mendukung atau perlu diadakan serta hal apa yang perlu dimuat
dalam peraturan tersebut agar pelaksanaannya bisa berjalan memuaskan bagi semua pihak
terkait.
.............................................................................................................................

Kelompok III
Dari hasil evaluasi terhadap berbagai kinerja aparatur birokrasi, hasi pelaksanaan program
program pembangunan di daerah masih belum optimal.
Diskusikan bagaimana cara yang efektif dan efisien untuk mewujudkan nilai-nilai yang dapat
meningkatkan kemampuan aparat maupun pemberdayaan masyarakat dalam pencapaian tujuan
pembangunan kedalam program kerja pemerintah/pemda [kemandirian, pembangunan
berkelanjutan dan keadilan sosial (pilih salah satu kasus pelayanan publik]

Rumuskan dan apa saja masukan yang diperlukan untuk mendapatkan hasil menuju optimal.
........................................................................................................................................................

D. Rangkuman

TAP MPR No. VI/MPR/1999 tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Undang-
Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas
dari KKN, dan peraturan lain yang mendukung good governance, merupakan
pewujudan aspek legal terhadap semangat reformasi yang didengung-dengungkan
masyarakat, dalam rangka membawa tuntutan pada pemerintah untuk mewujudkan
sistem kepemerintahan yang baik, bersih dan bebas dari KKN tersebut.
Pelaksanaan pewujudannya masih belum memuaskan masyarakat luas.

Oleh karena itu nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan rakyat, dan nilai-nilai
yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan
pembangunan dan aspek-aspek fungsional dari pemerintahan yang efektif
(kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial) dan efisien dalam
pelaksanaan tugasnya harus selalu menjadi program kerja pemerintah/pemda yang
dijabarkan pada setiap aspek pembangunan.
27

Dengan adanya formulasi yang jelas dalam satu regulasi yang jelas pula seseorang
akan bertindak benar atau salah karena adanya konsekuensi dari tindakannya yang
berkaitan dengan reward and punishment yang ia terima baik dalam organisasi
maupun dari masyarakat. Dengan demikian diharapkan aparatur pemerintah/orang-
orang akan cenderung berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan takut untuk
melanggarnya karena ada efek dan sanksi sebagai konsekuensinya.
BAB IV
STRATEGI DAN LANGKAH LANGKAH YANG DIPERLUKAN
DALAM PENERAPAN ETIKA

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu


merumuskan dan memilih strategi yang tepat dalam usaha
menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk penerapan
etika dalam mengelola tugas dan fungsinya di instansi yang
dipimpinnya dengan menerapkan kebijakan etika pemerintahan

A. Langkah-langkah Strategi Implementasi

Seperti disebutkan pada bab sebelumnya, kode etik pemerintahan/code of ethic,


merupakan suatu aturan, sistem atau standar yang memuat prinsip-prinsip dalam
mengelola moralitas dan tingkah laku yang diterima dalam suatu lingkungan
masyarakat.

Strategi pengembangan etika pemerintahan diartikan sebagai suatu rencana,


metode dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam rangka pengembangan
suatu susunan. prinsip-prinsip yang mengatur tentang moral dan tingkah laku
aparatur pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara sebagai bentuk
pelaksanaan undang-undang di Indonesia (Bintoro Tjokroamidjojo, Etika
Pemerintahan, Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, 2002).

Perhitungan cost and benefit; dampak positif/negatif kepada rakyat atau target
group yang akan terkena kebijakan; dan lain-lain, perlu dilakukan sebelum strategi
dilaksanakan.

Idealnya para birokrat dalam berperilaku, hendaknya bukan karena adanya kode
etik sebagai standar berperilaku dalam organisasi, atau dari kebijakan yang akan
dikeluarkan, tetapi dengan mempertanyakan pada diri sendiri apakah alternatif
kebijakan yang dipilihnya karena adanya prinsip-prinsip moral yang universal;
meskipun pada situasi yang khusus dalam menghadapi dilema dan konflik
kepentingan, mungkin hal tersebut bertentangan dengan interest organisasi.
Mereka harus percaya diri dalam bertindak sesuai prosedur dan sesuai dengan
prinsip-prinsip umum aturan moral.

Banyak tantangan dalam pengembangan etika pemerintahan antara lain bagaimana


agar standar etika pemerintahan yang telah dibuat, dapat dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya. Rumusan berbagai konsep tentang bagaimana strategi
mengimplementasikan standar etika pemerintahan dalam kegiatan pemerintahan
sehari-hari.

Hasil analisis atas bebagai pendapat narasumber mengenai strategi


pengimplementasian standar etika pemerintahan yang disusun oleh Lembaga
Adnistrasi Negara (Tim Penyusun Strategi Pengembangan Etika dalam Penyelenggaraan
Pemerintahan, Lembaga Adnistrasi Negara, 2004) menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:

28
29

o Perlu adanya Pengintegrasian Standar Etika Pemerintahan Dalam Sistem


Hukum dan Administrasi Negara.
o Perlu Operasionalisasi/Implementasi Standar Etika Pemerintahan Dalam
Kegiatan Pemerintahan Sehari-Hari.

1. Pengintegrasian Standar Etika Pemerintahan dalam Sistem Hukum dan


Administrasi Negara

Nilai-nilai yang terkandung didalamnya berupa nilai-nilai yang hidup dalam


masyarakat, yang bentuknya tidak tertulis. Apabila norma etika yang tidak
tertulis dibungkus dalam bentuk undang-undang maka norma etika tersebut
menjelma menjadi hukum/positif dan bukan semata-mata etika.

Pengkodifikasian nilai-nilai etika pemerintahan dalam suatu standar etika


pemerintahan. Merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Standar etika
pemerintahan tersebut dapat berupa apa yang disebut kode etik, manual etika
pemerintahan atau nama lainnya yang pewadahannya diakomodasi dalam
sistem hukum dan administrasi negara.

Peraturan Perundang-undangan hasil pendekatan ini memuat perintah/


mewajibkan setiap unsur pemerintah dan penyelenggara negara untuk
menjadikan standar etika pemerintahan tersebut sebagai bahan acuan perilaku,
pembanding dan atau pengujian, serta pengontrol bagi setiap tindakan
pemerintah dalam menjalankan kewenangannya tersebut; termasuk didalam
tindakan tersebut, adalah tindakan-tindakan hukum dan administratif
pemerintah dalam menjalankan sistem pemerintahan dan administrasi negara,
mulai dari tingkat yang tertinggi sampai tingkat yang terendah.
(pengiritegrasian nilai-nilai etika pemerintahan (dalam bentuk standar etika
pemerintahan), ke dalam sistem hukum dan administrasi negara yaitu sebagai
dasar pembanding dan/atau pengujian yang dapat digunakan dalam peradilan,
baik pidana, perdata, maupun administrasi.

2. Pengembangan/Pengimplementasian Standar Etika dalam Kegiatan


Pemerintahan

Setelah mengintegrasikan standar etika tersebut dalam sistem hukum dan


administrasi negara perlu ditindak lanjuti dengan menerapkan standar etika
pemerintah dalam kegiatan pemerintahan agar etika pemerintah tersebut dapat
menjadi budaya dalam setiap organisasi pemerintahan. Tindak lanjut tersebut
dapat berupa:

a. Proses Internalisasi Nilai Etika

Pengembangan etika pemerintahan merupakan proses internalisasi nilai


yang perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui proses pendidikan
dan pelatihan, pemberian teladan, pengawasan dan penciptaan kondisi di
30

lingkungan yang kondusif, termasuk memberikan perhatian yang


memadai terhadap kesejahteraan pegawai.

Proses internalisasi dilakukan dengan Sosialisasi Standar Etika dan


dengan pengembangan instrumen-instrumen pendukung lainnya agar etika
pemerintah dapat ditegakkan secara lebih komprehensif.

b. Mengembangkan Lembaga Ombudsman

Usaha lainnya dalam rangka implementasi etika adalah dengan


mengembangkan Lembaga Ombudsman yang menjalankan fungsi kontrol
terhadap perilaku penguasa. Standar Etika Pemerintah membutuhkan
bentuk kontrol eksternal agar efektif. Dewan kehormatan etika tidaklah
cukup untuk mengawasi perilaku orang dalam hukum administrasi
(perilaku penguasa).

Lembaga Ombudsman melakukan pengawasan terhadap perilaku;


sedangkan badan peradilan melakukan pengawasan terhadap penggunaan
wewenang.

c. Pengembangan Instrumen Teknis Operasional

Pengembangan instrumen teknis operasional, dilakukan antara lain dengan


mengembangkan pendekatan analisis integritas pribadi dalam proses
rekruitmen, penempatan, pendidikan dan pelatihan serta pengembangan
karier aparatur pemerintahan negara.

d. Mengembangkan Sistem Meritokrasi

Pengembangan etika seperti menggunakan merit system secara konsisten


dalam proses rekruitmen dan promosi pegawai akan membantu
operasionalisasi integritas aparat pemerintah. (Sistem meritokrasi adalah
sistem promosi kenaikan pangkat atau jabatan yang berdasarkan prestasi
kerja seseorang dan bukan atas dasar loyalitas. Pembinaan kepegawaian
seperti prospek karier, pengembangan pribadi dan manajemen sumber
daya manusia).

e. Mengembangkan Sistem Penghargaan (Reward)

Penghargaan (reward) yang jelas berupa moril maupun materiil atas


kinerja pegawainya seperti peningkatan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi atau pemberian sejumlah uang dengan nominal tertentu.
Penghargaan ini antara lain dapat diberikan atas usaha seorang aparatur
yang telah berinovasi menciptakan pelayanan yang lebih baik kepada
masyarakat pengguna jasa, sebagai salah satu bentuk nyata penegakkan
Standar Etika Pemerintahan.
31

f. Mengembangkan Sistem Sanksi (Punishment) yang Tegas

Mengembangkan sistem sanksi (punishment) yang tegas terhadap


pelanggar Standar Etika Pemerintah. Undang-undang yang mewajibkan
pegawai negeri untuk mengucapkan sumpah pada saat pengangkatannya
menjadi Pegawai Negeri atau pada saat yang bersangkutan dipercaya
memangku jabatan; namun sumpah bagi pegawai negeri tersebut
tampaknya tidak pernah ada dampaknya karena pelanggaran sumpah
jarang atau bahkan tidak, pernah dikenakan sanksi moral atau sanksi
hukum.
Dengan memberlakukan reward and punishment secara konsekuen
diharapkan. aparatur pemerintah/orang-orang, akan cenderung berpegang
teguh pada nilai–nilai moral dan takut untuk melanggarnya.karena ada
efek dan sanksi sebagai.konsekuensinya.

g. Membuka dan atau Meningkatkan Kinerja Jalur-Jalur Khusus (Hotline)

Meningkatkan kinerja jalur-jalur khusus (hotline: nomor telepon,


faksimile, atau alamat yang dapat dihubungi dengan mudah oleh
pengguna jasa, termasuk didalamnya waktu yang dibutuhkan oleh
pimpinan untuk merespon keluhan masyarakat); yang menghubungkan
pimpinan birokrasi kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi atau
menyampaikan masalah yang dihadapi berkaitan dengan Etika
Pemerintah.

h. Pendekatan Legalitas dan Pendekatan Administratif


Aspek legalitas dan profesionalisme harus dikembangkan secara bersama-
sama.

Dengan cara pendekatan tersebut diharapkan pelaksanaan dari Standar Etika


Pemerintah bagi aparatur pemeritahan negara dapat lebih mencapai sasaran,
bagi Aparatur Negara dalam penyelenggaraan SANKRI.

Aturan berperilaku atau kode etik sekarang nampaknya semakin terelaborasi


dan semakin canggih. Dengan demikian dalam pemilihan strategi
pengembangan kode etik, kiranya perlu paling tidak dipertimbangkan secara
lebih jauh hal hal yang menyangkut antara lain:

Kompleksitas: semakin kompleks permasalahan termasuk resiko yang


mungkin terjadi, semakin banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelumj
bertindak.

Kreativitas: Dalam upaya peningkatan disiplin khusunya bagi aparatur


pemerintah sangat perlu dicari kreativitas dalam mencari solusi, namun bukan
untuk merekayasa peraturan atau sistem.

Pengawasan:Pengawasan dan monitoring perlu secara terus-menerus


dilakukan.
32

Kepekaan: Rasa tanggap dan kepekaan dalam menyelesaikan hal yang pelik
perlu selalu dibangkitkan dan dipelihara.

Pilihan: pemilihan berbagai sikap perlu dikedepankan setiap saat mengingat


setiap saat pula timbul pilihan yang baik.

Dengan pertimbangan tersebut diatas diharapkan pewujudan terhadap rasa


bangga dan rasa hormat dalam birokrasi bisa selalu dipelihara.

Strategi pengembangan etika pemerintahan diartikan sebagai suatu rencana,


metode dan langkah langkah yang harus dilakukan dalam rangka
pengembangan suatu susunan prinsip prinsip yang mengatur tentang moral
dan tingkah laku aparatur pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara
sebagai bentuk pelaksanaan undang undang di Indonesia.

B. Latihan/Diskusi

Demikian juga pada bagian B ini peserta Eselon II perlu berdiskusi dalam
kelompok kecil, misalnya kelompok I, II dan III, untuk merumuskan bagaimana
strategi etika pemerintah khususnya yang dapat dilaksanakan di daerah/
instansinya masing-masing, dengan masukan-masukan seperti:
Masukan untuk diskusi Kelompok I, II, III :
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.
Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari KKN.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.
TAP MPR
Peraturan per UU lainnya
Kasus-kasus pelaksanaan yang sesuai dan yang tidak sesuai kaidah good
governance dan kode etik/etika pemerintahan
Alasan, cara dan contoh Sosialisasi Standar Etika Pemerintahan dilakukan baik
pada pihak aparatur pemerintah/negara maupun pada pihak masyarakat

Kesemuanya untuk diakumulasikan pada Diskusi Kelompok dengan tema sesuai


kebutuhan daerah.
Contoh tema diskusi antara lain:
Kelompok I:
Diskusikan instrumen apa saja yang dapat mendukung dan perlu dikembangkan serta
disusun/dibentuk untuk dapat menegakkan Standar Etika Pemerintahan?
Bagaimana rumusan strategi untuk pelaksanaannya?
……………………………………………………………………………………
33

Kelompok II:
Diskusikan dan simak manfaat, kendala dan saran anda terhadap hal hal berikut:
Sebaiknya menegakkan dulu law enforcement pelaksanaan peraturan perundang-undangan
yang telah ada, sebelum bikin Undang-Undang baru.
Membentuk Komisi Kode Etik
Bagaimana rumusan terbaik strategi untuk pelaksanaannya?
.....................................................................................................................................................

Kelompok III:
Diskusikan mengapa kewajiban mengucapkan sumpah di depan umum dewasa ini hanya
menjadi sebuah formalitas yang kehilangan daya moralnya untuk membangun komitmen yang
tumbuh dari dalam diri sendiri untuk mentaati bunyi sumpah yang diucapkan di depan publik.
Apa sarannya agar sumpah tersebut dapat dikenai sanksi bila tidak dilakukan.
Bagaimana rumusan strategi untuk pelaksanaannya
.....................................................................................................................................................

C. Rangkuman

Standar khusus tentang etika pemerintahan belum memadai. Terdapat beberapa


bentuk peraturan perundang-undangan yang dapat dikatakan sebagai standar dalam
rangka pelaksanaan dan penegakan etika pemerintahan.

Dalam kenyataannya relatif masih banyak terdapat bentuk-bentuk pelanggaran atas


standar etika yang telah ada tersebut yang terjadi, baik langsung berhadapan
dengan masyarakat (pelayanan masyarakat), maupun tidak langsung.

Terjadinya pelanggaran etika tersebut berupa pelanggaran administrasi, instrumen


hukum, dan faktor moral.

Alternatif implementasi strategi etika dapat berupa:


1) Proses internalisasi nilai etika; 2) Mengembangkan lembaga Ombudsman; 3)
Pengembangan instrumen teknis operasional; 4) Mengembangkan sistem
meritokrasi; 5) Mengembangkan sistem penghargaan (reward); 6)
Mengembangkan sistem sanksi (punishment) yang tegas; 7) Membuka dan atau
meningkatkan kinerja jalur-jalur khusus (hotline); 8) Pendekatan legalitas dan
pendekatan administratif.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. Daftar Referensi Khusus, Sumber – Sumber Pendalaman Materi (Acuan


Utama):

1. Agus Dwiyanto, mewujudkan good governance melalui pelayanan publik,


Gajah Mada Univsty Press, Mei 2006
2. Bintoro Tjokroamidjojo, etika pemerintahan, Lembaga Administrasi Negara,
Jakarta, 2002).
3. Building and Social Housing Research Institute, Community participation in
providing urban housing, Coalville, Leicestershire, UK, 2000
4. Eileen Rachman dan Sylvina Savitri, Kode Etik, Kompas, Mei 2007
5. IASTP, Indonesia-Australia Specialized Training Project Phase III, Ausaid,
Generic Module on Good Governance, Gender Awareness and Change
Management, May 2005.
6. Lembaga Administrasi Negara, Etika dalam Penyelenggaraan Negara,
Tinjauan atas strategi pengembangannya dalam Penyelenggaraan
Pemerintahan, Seri Wacana Pusat Kajian Hukum Administrasi Negara, 2004
7. Lembaga Administrasi Negara, Fokus Dan Solusi Menuju Terwujudnya Good
Governance, 2003
8. Lembaga Administrasi Negara, Laporan Kajian Strategi Pengembangan Etika
dalam Pemerintahan, 2002
9. Pakistan Development Gateway, “Good Governance”,
http://www.global.issues.net, 2006

B. Beberapa Peraturan Perundang–undangan pendukung Etika

1. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999, tentang penyelenggara negara yang bersih


dan KKN.
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Pemerintahan yang bersih
dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
3. Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2001, Etika Kehidupan Berbangsa
4. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001, tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.
5. Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999, tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
yang Memuat Etika Pegawai Negeri Sipil yang bertanggung jawab dan
profesional.
6. Peraturan Pemerintah 30/1980 tentang Panca Prasetya Korpri dan Sumpah
Jabatan.
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.