Anda di halaman 1dari 5

Sabua Vol.7, No.

1: 389 – 393, Maret 2015 ISSN 2085-7020

HASIL PENELITIAN
 
STUDI DATA BASE DAERAH RAWAN BENCANA BERBASIS GIS UNTUK
KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO PROVINSI
SULAWESI UTARA

Freddy Jansen, James A. Timboeleng, Jefferson Longdong, Theo K. Sendow

Staf Pengajar Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Abstrak. Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami


(suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan
aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya
manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang
keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan
tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan
daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana
muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan
demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di
daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak
berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena
peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan
manusia. Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro merupakan Kabupaten
Otonom yang baru dimekarkan dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten
Kepualauan Sangihe, yang secara resmi dibentuk berdasarkan UU No. 5 Tahun
2007, tanggal 2 Januari 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Siau
Tagulandang Biaro. Keadaan tanah sangat subur dan cocok untuk pertumbuhan
dan perkembangan berbagai jenis tanaman terutama tanaman pertanian dan
perkebunan. Hal ini terkait dengan jalur Sirkum Pasifik yang melintasi wilayah
ini yang ditandai dengan keberadaan sejumlah gunung berapi yaitu Gunung Api
Karangetang di Pulau Siau dan Gunung Api Ruang di Pulau Ruang yang hingga
saat ini masih aktif menyemburkan material perut bumi sebagai pupuk alami.
Secara geologi dan geografis Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang
Biaro terletak pada jalur gunung berapi dan merupakan daerah kapulauan
dengan rawan bencana Tsunami dan bencana lainnya.

Kata Kunci : disaster, data base, rawan bencana  


 
PENDAHULUAN atau menghindari bencana dan daya tahan
Bencana alam adalah konsekwensi dari mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan
kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa pernyataan: "bencana muncul bila ancaman
fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan".
tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena Dengan demikian, aktivitas alam yang
ketidakberdayaan manusia, akibat kurang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam
baiknya manajemen keadaan darurat, di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia,
sehingga menyebabkan kerugian dalam misalnya gempa bumi di wilayah tak
bidang keuangan dan struktural, bahkan berpenghuni.
sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan Konsekuensinya, pemakaian istilah
tergantung pada kemampuan untuk mencegah "alam" juga ditentang karena peristiwa

@Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK)


Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik – Universitas Sam Ratulangi Manado
Maret 2015
390 F. JANSEN, J.A. TIMBOELENG, J. LONGDONG & T.K. SENDOW
 
tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka - Nama lain : Api Siau
tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi - Tipe Gunung api : Strato
kerugian juga tergantung pada bentuk - Tinggi di atas muka laut : 1827 m
bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, - Tinggi di atas dasar laut : 2700 m (
yang mengancam bangunan individual, Kemmerling , 1923, dalam
sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang Kusumadinata, 1979 ).
berpotensi mengakhiri peradaban umat Untuk daerah – daerah yang sering
manusia. terancam oleh bahaya letusan gunung
Namun demikian pada daerah yang Karangetang, oleh Direktorat Vulkanologi (
memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta sekarang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
memiliki kerentanan/kerawanan Bencana Geologi, Badan Geologi,
(vulnerability) yang juga tinggi tidak akan Departemen Energi dan Sumber Daya
memberi dampak yang hebat/luas jika Mineral ) telah membuat suatu Peta
manusia yang berada disana memiliki Kawasan Rawan Bencana gunung
ketahanan terhadap bencana (disaster Karangetang yang dapat di bagi atas :
resilience). Konsep ketahanan bencana - Kawasan Rawan Bencana III
merupakan valuasi kemampuan sistem dan - Kawasan Rawan Bencana II
infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, - Kawasan Rawan Bencana I
mencegah & menangani tantangan-tantangan
serius yang hadir. Dengan demikian meskipun Kawasan Rawan Bencana III
daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah Kawasan Rawan Bencana III adalah
penduduk yang besar jika diimbangi dengan kawasan yang sering terlanda awan panas,
ketetahanan terhadap bencana yang cukup. lontaran dan guguran batu ( pijar ) dan
Tujuan dari penelitian Studi Data Base aliran lava. Gas beracun yang keluar
Daerah Rawan Bencana Berbasis GIS untuk dari kawah atau rekahan juga dapat
Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang mengancam jiwa pendaki . Kawasan rawan
Biaro Provinsi Sulawesi Utara adalah : bencana ini III ini meliputi daerah puncak
1) Mengumpulkan data Geologi Umum dan sekitarnya, berjarak 2 km dari kawah
berupa Fisiografi,Stratigrafi regional, utama dan pada beberapa aliran sampai
Struktur geologi regional dan Indikasi batasnya lebih ke hilir sejauh 3 km. seperti
kawasan rawan bencana alam. sungai Kahetang dan sungai Keting di
2) Menyajikan hasil survai berupa lereng utara. Luas seluruh kawasan rawan
Geomorfologi, Sturktur geologi, bencana III ini lebih kurang 18 km 2.
Stratigrafi, Sebaran kawasan rawan Berhubung tingginya tingkat kerawanan di
bencana alam. kawasn ini maka pemukiman tidak di
3) Menyajikan hasil Pemetaan berupa Peta rekomendasikan. Pada saat terjadi
Sebaran kawasan rawan bencana alam. peningkatan kegiatan / letusan, orang juga
4) Untuk menyajikan data base kawasan dilarang melakukan kegiatan apa- pun di
rawan bencana alam yang lengkap dan kawasan ini.
akurat di Kabupaten Kapulauan Siau
Tagulandang Biaro sehingga dapat Kawasan Rawan Bencana II
memberikan penyajian Data Base Daerah Kawasan rawan bencan II adalah kawasan
Rawan Bencana untuk kepentingan yang berpotensi terlanda aliran lava dan
umum dan pendidikan dapat maksimal. lahar hujan, serta kemungkinan perluasan
awan panas. Kawsan ini mencakup lereng
BENCANA ALAM LETUSAN dan aliran sampai di sebelah barat, utara,
GUNUNG API. timur laut dan tenggara G. Karangetang
Di Kabupaten Sitaro dengan luas lebih kurang 28 km 2 . Kota
terdapat gunung-gunung api seperti gunung Ulu dan desa – desa dimuara sampai
Karangetang di pulau Siau, gunung Ruang sepanjang pantai termasuk kawasan rawan
dipulau Ruang dan gunung Banua Wuhu bencana II. Di sarankan untuk membangun
yaitu gunung api dibawa laut dekat pulau rumah di tempat yang berke- tinggian 25 m
Mahangetang. Gunung api Karangetang atau lebih diatas dasar sungai. Selama musim
hujan penduduk di daerah hulu agar
STUDI DATA BASE DAERAH RAWAN BENCANA BERBASIS GIS … 391  
 
mengawasi dan memberitahukan adanya Berbasis GIS Untuk Kabupaten
aliran lahar yang akan melanda daerah Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
hilir. Di kawasan ini penanggulangan fisik Provinsi Sulawesi Utara ini memberikan
dengan membangun sabo dan sangat di kesimpulan sebagai berikut :
utamakan pada peningkatan kegiatan atau 1. Hampir semua wilayah di kabupaten
erupsi, maka peringatan penduduk harus Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
mengungsi, tinggal ditempat, tidak layak dalah merupakan daerah rawan bencana
huni serta keadaan telah aman kembali di alam, adapun bencana alam yang rawan
putuskan oleh Pemerintah Daerah setempat terjadi dapat dilihat pada peta kawasan
atas saran dari pusat Vulkanologi dan rawan bencana.
Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi 2. Bencana yang ada diantaranya adalah
yang berkedudukan di Bandung. banjir, letusan gunung berapi, tanah
longsor, tsunami, abrasi pantai, angin,
Kawasan Rawan Bencana I gempa bumi.
Daerah ini hanya akan hanya akan 3. Posisi geografi dari lokasi yang rentan
terancam oleh hujan abu lebat, meliputi rawan bencana di kabupaten kepulauan
wilayah dengan radius 6 km dari kawah Siau Tagulandang Biaro ditentukan
utama. Kawasan ini cukup aman untuk dengan alat GPS dan berupa titik
pemukiman dan kegiatan usaha. Hujan abu koordinat UTM yang kemudian di
lebat yang membentuk setebal 4cm atau gambarkan di atas peta.
lebih dapat menyebab- kan atap rumah 4. Untuk daerah rawan bencana banjir
runtuh. Bahkan endapan abu yang basah diperoleh :
menjadi lebih berat. Pada saat hujan abu - Sebagian besar responden menjawab
penduduk harus tinggal di rumah atau penyebab dari banjir adalah karena
bangunan yang kokoh dengan memakai kerusakan hutan
topi, kaca mata, kain penutup hidung dan - Adanya curah hujan yang tinggi.
menutup bak air yang terbuka. Apabila - Untuk menanggulangi banjir
hujan abu sudah meradah mereka harus masyarakat berharap adanya
segera membersihkan endapan abu diatas penghijauan kembali hutan dan
atap rumah pembangunan bangunan pengendali
banjir.
METODE PENELITIAN 5. Untuk daerah rawan bencana longsor
Metode penelitian yang digunakan diperoleh :
adalah metode kuantitatif dengan model - Sebagian besar responden menjawab
statistik deskriptif dimana sampel diambil penyebab dari longsor adalah karena
secara acak dengan menggunakan kuesioner kerusakan hutan, adanya letusan
yang dibagikan kepada responden. Untuk gunung berapi yang memicu
mendeskripsikan model penelitian disajikan terjadinya longsor, curah hujan yang
dalam bentuk peta bencana yang tinggi.
menggambarkan interaksi spasialnya. Setelah - Untuk menanggulangi longsor
data-data diperoleh dari daerah-daerah potensi masyarakat berharap adanya
rawan bencana alam kemudian dianalisa dan penghijauan kembali hutan dan
memetakan dalam peta tematis terhadap pembangunan bangunan penahan
kawasan yang berpotensi bencana alam tanah.
tersebut. 6. Untuk daerah rawan bencana gunung api
diperoleh :
- Sebagian besar responden menjawab
untuk mengatasi bencana gunung api
HASIL DAN PEMBAHASAN maka harus ada peringatan dini dari
pos pengamatan gunung berapi.
KESIMPULAN - Masyarakat berharap adanya relokasi
Sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam pemukiman masyarakat dari lokasi
proposal penelitian, maka Penelitian Studi rawan gunung berapi.
Data Base Daerah Rawan Bencana
392 F. JANSEN, J.A. TIMBOELENG, J. LONGDONG & T.K. SENDOW
 
- Letusan gunung berapi untuk Gunung - Sebagian besar responden menjawab
Karangetang kebanyakan adalah untuk mengatasi bencana angin maka
letusan Realitik, artinya letusan akibat harus adanya peringatan dini akan
serapan air. Kondisi posisi cuaca dari pemerintah.
magmagunung api Karangetang yang - Masyarakat berharap adanya relokasi
berada di permukaan puncak gunung pemukiman masyarakat dari lokasi
sehingga menuimbulkan cahaya rawan bencana angin.
cahanya abadi.
- Posisi magma gunung api
Karangetang ini maka akan mudah DAFTAR PUSTAKA
sekali terjadinya letusan realitik. Asmoro, Djoko. 1990. Panduan Penentuan
Letusan Ralitik ini merupakan letusan Klasifikasi Fungsi Jalan di Wilayah
yang dipicu oleh adanya air hujan Perkotaan), Agung, I Gusti Ngurah.
dengan volume yang sangat tinggi. 2003. STATISTIKA : Penerapan Metode
- Letusan Realitik ini biasanya tidak Analisis untuk Tabulasi Sempurna dan
diawali dengan peningkatan kegiatan Tak Sempurna dengan SPSS. PT.
karena terjadi sebagai akibat RajaGrafindo Persada, Jakarta.
pengaruh luar yaitu air hujan, Anonimous, 1977. Geologi Strukur,
kemudian dari letusan tersebut telah Laboratorium Geologi Struktur Jurusan
menimbulkan awan panas sampai ke Teknik Geologi Fakultas Teknologi
laut. Mineral, UPN Veteran Yogyakarta.
7. Untuk daerah rawan bencana gempa bumi Anonimous, 2003. Engineering and Design
dan tsunami diperoleh : Coastal Engineering Mannual, Part 2.
- Sebagian besar responden menjawab Department of the Army A.S. Army
untuk mengatasi bencana gempa Corps of Engineers, Washington, DC
bumi dan tsunami maka harus ada 20314-1000
peringatan dini dari pemerintah, Ang, A. H-S. dan Tang, H. Wilson. 1987.
pembangunanbangunan yang tahan Konsep-konsep Probabilitas dalam
gempa, membuat tanggul pengaman Perencanaan dan Perancangan
tsunami dari hutan bakau, Rekayasa. Erlangga, Jakarta
menghindari pemukiman di tepi Birlaire, M and M. Themans. 2005.
pantai. Development of Swiss models for
- Masyarakat berharap adanya relokasi transportation demand prediction in
pemukiman masyarakat dari lokasi response to real time traffic information.
th
rawan gempa bumi baik akibat 5 Swiss Transport Researah Conference.
vulkanologi dan tektonik dan rawan Black, J. 1981. Urban Transport Planning.
tsunami. Croom Helm London.
8. Untuk daerah rawan bencana abrasi pantai Biro Pusat Statistik (BPS) 2012 Kabupaten
diperoleh : Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
- Sebagian besar responden menjawab Bowerman, O’Connel, and Koehler. 2005.
untuk mengatasi bencana abrasi Time Series and Regression Analysis,
pantai maka harus ada melakukan fourth edtion. Thomson, USA.
penghijauan hutan bakau, Cochran, W.G. 1991. penerjemah,
pembangunan bangunan pengendali Rudiansyah, Erwin R. Osman. Teknik
gelombang dan pelarangan bermukim Penarikan Sampel, Edisi Ketiga.
di tepi pantai. Kondisi saat ini hanya terjemahan Rudiansyah, Erwin R.
terdapat 5 kecamatan yang memiliki Osman. Universitas Indonesia (UI-
hutan bakau. Press).
- Masyarakat berharap adanya relokasi Dishidros TNI AL, 2003. Peta Cuaca Perairan
pemukiman masyarakat dari lokasi Indonesia. Jakarta.
rawan abrasi pantai. Dishidros TNI AL, 2009. Ramalan Pasang
9. Untuk daerah rawan bencana angin Surut tahun 2009. stasiun Ternate. Dinas
diperoleh : Hidro Oseanografi TNI. AL. Jakarta
STUDI DATA BASE DAERAH RAWAN BENCANA BERBASIS GIS … 393  
 
Dunne,T. 1977. Evaluation of Erosion Thornbury, 1969; Principle of
Condition and Trend. In Guidelines for Geomorphology John Wiley and Sons. Inc.
Watershed Management. FAO New York.
Conservation Guide No.1. p.53-83 Tjasyono, B. HK. 1986. Iklim dan
Harto, S. 1993. Analisis Hidrologi. Cetakan Lingkungan. Penerbit PT. Cendekia Jaya
Pertama. PT. Gramedia Pustaka Utama. Utama. Bandung.
Jakarta. Tjokroadiredjo, TR. AE, 1990. Ekonomi
Katili dan Marks, 1964, Geologi Departemen Rekayasa Transport, ITB,.
Urusan Research Nasional Jakarta.
Kramudibrata.S, 1985. Perencanaan
Pelabuhan.Penerbit Ganacea Excact
Bandung. Bandung
Kuncoro, M. 2003. Metode Riset Untuk Bisnis
dan Ekonomi. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Latania, 2007; Karakteristik Pasang Surut Di
Perairan Timur Pulau Tidore Kota Tidore
Kepulauan Provinsi Maluku Utara.
Skripsi. Fakultas Kelautan Universitas
Nuku. Tidore
Lillesand dan Kiefer, 1979. Pengideraan
Jarak Jauh. Jogyakarta.
Malik, ABD. 2001. Analisis Pasang Surut Di
Perairan Teluk Salolo Halmahera Tengah
Maluku Utara. Skripsi pada fakultas
Kelauatan Unhas. Makasar.
McGrawhill, Nash Andrew. 2006. Design of
th
Effective Public Transport Systems. 6
Swiss Transport Researah Conference
Meyer and Miller. 2001. Urban
nd
Transportation Planning, 2 Edition
Mursoedi, DS, Widagdo, Junus, D, Nata
Suharta, Darul SWP, Sarwono, H dan
Hof, J. 1994. Pedoman Klasifikasi
Landform. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimatologi Bogor.
Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology.
Third Edition. W.B. Sounders Co.
Philadelphia and London, 546 pp.
Soedjono K, 1985. Perencanaan Pelabuhan,
Ganeca Exact Bandung. Bandung.
.
Sutanto, 1985. Pengindraan Jauh Jilid II,
Gajah Mada University Prees,
Yokjakarta.
Tamin. O. Z, 2000, Perencanaan dan
Pemodelan Transportasi, Edisi kedua,
Penerbit ITB, Bandung
Tamin. O. Z, 2003, Perencanaan dan
Pemodelan Transportasi : Contoh Soal
dan Aplikasi, Edisi pertama, Penerbit
ITB, Bandung