Anda di halaman 1dari 25

REFLEKSI KASUS Februari 2017

“Demam Berdarah Dengue”

Nama : Rina Nurul Qalbi


No. Stambuk : N 111 16 044
Pembimbing : dr. Winarny A., Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA
PALU
2017
PENDAHULUAN

Demam berdarah dengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan


oleh virus dengue genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe
yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, dan ditularkan melalui perantara nyamuk
Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Dari 4 serotipe dengue yang terdapat di
Indonesia, DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan banyak berhubungan
dengan kasus berat, diikuti dengan serotipe DEN-2. World Health Organization -
South-East Asia Regional Office (WHO-SEARO) melaporkan bahwa pada tahun
2009 terdapat 156052 kasus dengue dengan 1396 jumlah kasus kematian di Indonesia
dan Case-Fatality Rates (CFR) 0.79%.[1]
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, penyakit infeksi virus
dengue dapat ditemukan di seluruh propinsi di Indonesia, dan hampir setiap tahun
menyebabkan epidemi pada musim hujan. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal
ini antara lain adanya semua serotipe virus dengue di Indonesia, iklim tropis yang
mendukung kehidupan virus dan vektor nyamuk, masih adanya air bersih yang
tertampung sebagai media pertumbuhan larva nyamuk Aedes aegypti serta
peningkatan curah hujan.[2]
Infeksi virus dengue lebih sering terjadi dan bisa lebih berbahaya jika dialami
oleh anak. Secara teoritis, seorang anak dapat mengalami infeksi dengue lebih dari
satu kali, karena virus dengue mempunyai empat serotipe. Pada anak, respons imun
terhadap infeksi virus dengue belum sempurna sehingga hasil akhir infeksi adalah
kerusakan dinding pembuluh darah dan perembesan plasma darah. Manifestasi klinis
infeksi dengue sangat luas, yaitu dari infeksi tanpa gejala, gejala ringan, sampai
gejala berat bahkan kematian. Banyak faktor yang mempengaruhi berat-ringannya
manifestasi infeksi dengue, antara lain faktor usia, status gizi, serotipe virus, serta
adanya komorbiditas penyakit lain. Hal yang berbahaya dari infeksi dengue adalah
perdarahan yang berat dan renjatan (kurangnya cairan dalam pembuluh darah yang
mengganggu perfusi ke jaringan tubuh).[2]

1
Manifestasi klinis menurut kriteria diagnosis WHO 2011, infeksi dengue dapat
terjadi asimtomatik dan simtomatik. Infeksi dengue simtomatik terbagi menjadi
undifferentiated fever (sindrom infeksi virus) dan demam dengue (DD) sebagai
infeksi dengue ringan; sedangkan infeksi dengue berat terdiri dari demam berdarah
dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Perembesan plasma sebagai akibat plasma leakage merupakan tanda patognomonik
DBD, sedangkan kelainan organ lain serta manifestasi yang tidak lazim
dikelompokkan ke dalam expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Secara klinis, DD dapat disertai dengan perdarahan atau tidak; sedangkan DBD dapat
disertai syok atau tidak.Pada demam dengue, dapat ditemukan demam mendadak
tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot & sendi/tulang, nyeri retroorbital,
photophobia, nyeri pada punggung, facial flushed, lesu, tidak mau makan, konstipasi,
nyeri perut, nyeri tenggorok, dan depresi umum.[1]
Dalam perjalanan penyakit infeksi dengue, terdapat tiga fase perjalanan infeksi
dengue, yaitu fase demam (viremia menyebabkan demam tinggi), fase
kritis/perembesan plasma (onset mendadak adanya perembasan plasma dengan
derajat bervariasi pada efusi pleura dan asites), dan fase penyembuhan (perembesan
plasma mendadak berhenti disertai reabsorpsi cairan dan ekstravasasi plasma).Secara
umum patogenesis infeksi virus dengue diakibatkan oleh interaksi berbagai
komponen dari respon imun atau reaksi inflamasi yang terjadi secara terintegrasi. Sel
imun yang paling penting dalam berinteraksi dengan virus dengue yaitu sel dendrit,
monosit/makrofag, sel endotel dan trombosit. Tatalaksana infeksi dengue
inididasarkan pada fase perjalanan penyakit yang terbagi atas 3 fase yakni fase
demam, fase kritis dan fase penyembuhan.[3,4]
Berikut akan dibahas refleksi kasus mengenai pasien “Demam berdarah dengue”
yang dirawat di ruangan perawatan anak Nuri Bawah.

2
BAB II
KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
 Nama : By. ARF
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Lahir Pada tanggal : 18/07/2017
 Usia : 9 bulan 11 hari
 Berat Badan Lahir : 3200 gram
 Panjang Badan Lahir: 53 cm
 Kebangsaan : Indonesia
 Agama : Islam
 Suku Bangsa : Kaili
 Nama Ayah : Tn. M Usia: 32tahun Perkawinan ke-1
 Pekerjaan : POLRI
 Pendidikan : SMA
 Nama Ibu : Ny. W Usia: 29 tahun Perkawinan ke-1
 Pekerjaan : PNS
 Pendidikan : S1
 Alamat : Jl. Tombolotutu Atas
 Tanggal masuk ruangan /jam : 29-04-2018
 Tanggal keluar ruangan /jam : 03-05-2018
 Jumlah hari perawatan : 5 hari
 Ruangan perawatan : Catelia Bawah
 Diagnosis : Dengue Hemorrhagic Fever
 Anamnesis diberikan oleh : Kedua orang tua pasien

3
Family Tree :

Ket : : Perempuan
: Laki-laki
Ayah Ibu

Anak

Penderita

Abortus: Tidak ada

B. ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS & ALLOANAMNESIS)


a. Keluhan Utama
Demam
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien anak laki-laki usia 9 bulan masuk ke Rumah Sakit dengan
keluhan demam. Demam timbul secara tiba-tiba, dirasakan sejak 6 hari
yang lalu, demam naik turun dan demam turun dengan pemberian obat
penurun panas. Keluhan disertai batuk berlendir sejak 6 hari yang lalu,
ada beringus, mimisan disangkal. Ada sesak napas 1 hari sebelum masuk
rumah sakit, ada mual dan muntah 2 kali berisi susu 2 hari yang lalu.
Keinginan minum baik, tidur pasien baik, Buang air besar biasa dan
Buang air kecil lancar.

4
c. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Menurut keluarga pasien, anak pernah dirawat di Rumah Sakit Budi
Agung 6 hari yang lalu dengan diare.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Saat ini, di lingkungan keluarga pasien, tidak ada keluhan serupa
(demam) seperti yang dialami pasien. Ibu pasien menyangkal adanya
riwayat malaria, DM, asma, maupun hipertensi.
e. Riwayat Sosial-Ekonomi
Pasien berasal dari keluarga dengan sosial-ekonomi menengah.
f. Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan
Pasien seorang anak yang aktif. Pasien tinggal di lingkungan rumah
yang padat.
g. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Pasien lahir secara spontan di RS, cukup bulan, dan dibantu oleh
bidan. Berat badan lahir 3200 gram, panjang badan 53 cm. Selama
kehamilan, ibu pasien tidak menderita sakit ataupun masalah lainnya. Ibu
pasien rajin melakukan kontrol ke puskesmas, sebanyak 4 kali.
h. Penyakit yang Sudah Pernah dialami:
 Morbili :-
 Varicella :-
 Pertusis :-
 Diare :+
 Cacing :-
 Batuk/Pilek : -
i. Kemampuan dan Kepandaian Bayi
 Tengkurap : usia 3 bulan
 Duduk : usia 6 bulan
 Merangkak : usia 7 bulan

5
 Berdiri : usia 12 bulan
 Berjalan : usia 14 bulan
 Tertawa : usia 3 bulan
 Berceloteh : usia 7 bulan
 Memanggil papa mama : usia 10 bulan
 Berbicara beberapa kata : usia 15 bulan

Tumbuh dan kembang anak sesuai dengan usianya, dan saat ini
anak tidak mengalami keterlambatan tumbuh dan kembang.

j. Anamnesis Makanan
Pasien mendapatkan ASI usia 0 bulan sampai sekarang.
k. Riwayat Imunisasi
Imunisasi dasar lengkap.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Berat Badan : 8 kg
Panjang Badan : 72 cm
Status Gizi : BB/TB (0)(-1) Gizi baik
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Denyut Nadi : 98 ×/menit, kuat angkat, irama reguler
Respirasi :30 ×/menit, pola pernapasan reguler
Suhu axilla : 39,6 0C
1. Kulit:
Warna : Sawo matang,sianosis (-)

6
Efloresensi : Petechiae tidak tampak, Rumple Leed (+)
Turgor : Segera kembali
Kelembaban : Cukup
2. Kepala:
Bentuk : Normocephalus
Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut, tebal,
alopecia (-)
3. Mata:
Konjungtiva : Anemis (-/-)
Sklera : Ikterik (-/-)
Refleks cahaya : RCL (+/+) / RCTL (+/+)
Refleks kornea : (+/+)
Pupil : Bulat, isokor
Exophthalmus : (-/-)
Cekung : (-/-)
4. Hidung:
Pernafasan cuping hidung : tidak ada
Epistaksis : tidak ada
Rhinorrhea : tidak ada
5. Mulut:
Bibir : Kering (-), sianosis (-), stomatitis (-)
Gigi : Tidak ditemukan karies
Gusi : Tidak ditemukan adanya perdarahan
6. Lidah:
Tremor :(-)
Kotor/Berselaput : (-)
Warna : Merah muda
7. Telinga:
Sekret : Tidak ditemukan

7
Serumen : Minimal
Nyeri : Tidak ada
8. Leher:
Kelenjar getah bening : Pembesaran (- /-), nyeri tekan (-)
Kelenjar Tiroid : Pembesaran (-), nyeri tekan (-)
Trake a : Posisi central
Kaku Kuduk : (-)
Faring : Hiperemis (-)
Tonsil : T1-T1
9. Toraks:
a. Dinding Dada/Paru:
Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral kanan = kiri, tampak
retraksi(-), jejas (-), bentuk normochest, pola
pernapasan kesan normal.
Palpasi : Ekspansi dada simetris, vocal fremitus simetris kanan
= kiri, nyeri tekan (-).
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Vesicular (+/+)Suara napas tambahan: Ronkhi (-/-),
Whezzing (-/-)
b. Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V arah medial
linea midclavicula sinistra
Perkusi : Batas atas: SIC II linea midclavicularis dextra et
parasternalis sinistra
Batas kiri: SIC V linea midclavicularis sinistra
Batas kanan: SIC V linea parasternalis dextra
Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler, bunyi
tambahan: murmur (-), gallop (-).

8
10. Abdomen:
Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen, dullness (+)
pada area hepar & lien. Asites (-)
Palpasi : Nyeri tekan abdomen(+), distensi (-), meteorismus (-).
Hati : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Ginjal : Tidak teraba
11. Anggota Gerak:
a. Ekstremitas superior: Akral hangat (+/+), edema (-/-)
b. Ekstremitas inferior:Akral hangat (+/+), edema (-/-)
12. Genitalia: Dalam batas normal
+/+
13. Otot-Otot: Eutrofi +/+ , kesan normal
++/++ −/−
14. Refleks: Fisiologis (++/++), patologis (−/−)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rabu, 31/1/2017
Hasil Rujukan Satuan
Hematologi Rutin
Hemoglobin 10,1 11,7 – 15,5 g/dl
Leukosit 4,08 3,6 – 11 103/uL
Eritrosit 4,2 3,8 – 5,2 106/uL
Trombosit 127 150 – 450 103/uL
Hematokrit 31,4 35 – 47 %

E. RESUME
Pasien anak perempuan usia 6 tahun 2 bulan, berat badan 14 kg masuk ke
RS dengan keluhan febris. Febris mendadak tinggi, dirasakan sejak ± 4 hari
yang lalu, febris tidak turun dengan antipiretik. Disertai dengan keluhan

9
cephalgia, malaise, myalgia, nausea, retro-orbital pain dan abdomen pain.
Pasien menyangkal adanya batuk, flu, sesak, nyeri tenggorokan, mimisan,
perdarahan gusi, maupun kejang. Pasien juga mengalami konstipasi selama 2
hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien tidak berkeringat dingin, serta tidak
ada riwayat berpergian 2 minggu terakhir. Keinginan minum, nafsu makan, &
tidur baik, buang air kecil lancar.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum sakit sedang,
kesadaran compos mentis, tekanan darah 110/80 mmHg, denyut nadi 98×/menit
kuat angkat, respirasi 30×/menit, suhu axilla 39,6 0C. Pada pemeriksaan sistem
lain dalam batas normal. Hasil pemeriksaan hematologi rutin leukosit
4,08×103/uL, trombosit 127×103/uL, hematocrit 31,4%, hemoglobin 10,1g/dl,
&eritrosit 4,2×106/uL.

F. DIAGNOSIS
a. Diagnosis kerja : Demam Dengue

G. TERAPI
Non-Medikamentosa
- Kompres air hangat jika demam.
- Anak diajurkan cukup minum, berikan cairan yang mengandung elektrolit
seperti jus buah, oralit atau air tajin.
Medikamentosa
- IVFD RL 20 gtt/m
- Inj. Dexametason 2,5g/ 8j/ iv
- Cefixime syr 2x½ cth
- Paracetamol syr 3×1½ cth

10
H. ANJURAN PEMERIKSAAN
- Pemeriksaan serologi dengue anti IgM dan dengue anti IgG

I. FOLLOW UP
Hari/Tanggal: Rabu, 1 Februari 2017, PH I
S Demam hari ke-5
Badan lemas (+), nyeri-nyeri sendi (+), sakit kepala (+), mual
(+), muntah (-), sakit perut (-), batuk (-), flu (-)
Belum BAB (3 hari), BAK lancar.
O Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Denyut Nadi : 100 x/menit, kuat angkat
Respirasi : 35 x/menit
Suhu Tubuh : 37,9 0C
Berat Badan : 14 kg
Tinggi Badan : 122 cm
Status Gizi : CDC 92% gizi baik
Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Vesicular +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V arah
medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (+) pada area hepar & lien.
- Palpasi : Nyeri tekan (-), meteorismus (-).
organomegaly (-).
Pemeriksaan Lain
- Kulit : efloresensi berupa petechiae tidak
ditemukan
- Lidah kotor : (-)
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera
-

11
Hasil Laboratorium:
DR: 1/2/2017
HB : 12,9g/dL
WBC : 4,7×103/uL
RBC : 4,6×106/uL
PLT : 89×103/uL
HCT : 36,9%
A Demam Dengue
P - IVFD RL 20 gtt/m
- Inj. Dexametason 2,5mg/ 8j/ iv
- Cefixime syr 2x½ cth
- Paracetamol syr 3×1½ cth
- Elkana Cl 1x1 cth
- PSIDII syr 2x1 cth

Cek DL
Observasi
Hari/Tanggal: Kamis, 2 Februari 2017, PH II
S Demam hari ke-6 (Bebas demam hari ke-1)
Badan lemas (+), nyeri-nyeri sendi (-), sakit kepala (+), mual
(-), muntah (-), sakit perut (-), batuk (-), flu (-)
Belum BAB (4 hari), BAK lancar.
O Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Denyut Nadi : 100 x/menit, kuat angkat
Respirasi : 22 x/menit
Suhu Tubuh : 36,60C
Berat Badan : 14 kg
Tinggi Badan : 122 cm
Status Gizi : CDC 90% gizi baik
Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Vesicular +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V arah
medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal

12
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (+) pada area hepar & lien.
- Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (-), meteorismus (-
). organomegaly (-).
Pemeriksaan Lain
- Kulit : Efloresensi berupa petechia tidak
ditemukan
- Lidah kotor : (-)
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera

Hasil Laboratorium:
DR: 2/2/2017
HB : 12,0g/dL
WBC : 6,9×103/uL
RBC : 4,21×106/uL
PLT : 73×103/uL
HCT : 35,3%
A Demam Dengue
P - IVFD RL 20 gtt/m
- Inj. Dexametason 2,5mg/ 8j/ iv
- Cefixime syr 2x½ cth
- Elkana Cl 1x1 cth
- PSIDII syr 2x1 cth

Cek DL
Observasi tanda vital
Hari/Tanggal: Jum’at, 3 Februari 2017, PH III
S Demam hari ke-7 (Bebas demam hari ke-2)
Badan lemas (-), nyeri-nyeri sendi (-), sakit kepala (-), muntah
(-), sakit perut (-), batuk (-), flu (-)
Belum BAB (5 hari), BAK lancar.
O Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Denyut Nadi : 98 x/menit, kuat angkat
Respirasi : 26 x/menit
Suhu Tubuh : 36,8 C
Berat Badan : 14 kg
Tinggi Badan : 122 cm
Status Gizi : CDC 92% gizi baik
Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Vesicular +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/-

13
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V arah
medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (+) pada area hepar & lien.
- Palpasi : Nyeri tekan (-), meteorismus (-).
organomegaly (-).
Pemeriksaan Lain
- Kulit : Efloresensi berupa petechiae tidak
ditemukan
- Lidah kotor : (-)
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera

Hasil Laboratorium:
DR: 3/2/2016
HB : 11,8g/dL
WBC : 8,0×103/uL
RBC : 4,21×106/uL
PLT : 89×103/uL
HCT : 35,2%
A Demam Dengue
P - IVFD RL 20 gtt/m
- Inj. Dexametason 2,5mg/ 8j/ iv
- Cefixime syr 2x½ cth
- Elkana Cl 1x1 cth
- PSIDII syr 2x1 cth

Cek DL
Observasi
Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Februari 2017, PH IV
S Demam hari ke-8 (Bebas demam hari ke-3)
Badan lemas (-), nyeri-nyeri sendi (-), sakit kepala (+), mual (-
), muntah (-), sakit perut (-), batuk (-), flu (-)
Sudah BAB tadi subuh, BAK lancar.
Keadaan Umum: Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Tekanan Darah : 100/70 mmHg

14
Denyut Nadi : 112 x/menit, kuat angkat
Respirasi : 20 x/menit
Suhu Tubuh : 36,6 C
Berat Badan : 14 kg
Tinggi Badan : 122 cm
Status Gizi : CDC 92% gizi baik
Paru
- Inspeksi : Ekspansi paru simetris bilateral
- Palpasi : Vocal Fremitus kanan = kiri
- Perkusi : Sonor +/+
- Auskultasi : Vesicular +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba pada SIC V arah
medial linea midclavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler,
bunyi tambahan: murmur (-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Tampak datar, kesan normal
- Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
- Perkusi : Bunyi timpani (+) diseluruh abdomen,
dullness (+) pada area hepar & lien.
- Palpasi : Nyeri tekan (-), meteorismus (-).
organomegaly (-).
Pemeriksaan Lain
- Kulit : Efloresensi berupa petechiaetidak
ditemukan
- Lidah kotor : (-)
- Ekstremitas : Akral hangat
- Turgor : Kembali segera

Hasil Laboratorium:
DR: 04/10/2016
HB : 15,3 g/dL
WBC : 7,4 ×103/uL
RBC : 4,8×106/uL
PLT : 110×103/uL
HCT : 39,0%

A Demam Berdarah Dengue


P - Cefixime syr 2x½ cth
- Imuno syr 1x1 cth
- Elkana Cl syr 1x1 cth
Boleh Pulang

15
BAB III
DISKUSI KASUS

Demam berdarah dengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan


oleh virus genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, dan ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes
aegypti atau Aedes albopictus. Dari 4 serotipe dengue yang terdapat di Indonesia,
DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan banyak berhubungan dengan kasus
berat, diikuti dengan serotipe DEN-2.[1]

Gambar 3.1 Skema kriteria diagnosis infeksi dengue menurut WHO 2011[1]

16
Manifestasi klinis menurut kriteria diagnosis WHO 2011, infeksi dengue dapat
terjadi asimtomatik dan simtomatik. Infeksi dengue simtomatik terbagi menjadi
undifferentiated fever (sindrom infeksi virus) dan demam dengue (DD) sebagai
infeksi dengue ringan; sedangkan infeksi dengue berat terdiri dari demam berdarah
dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Perembesan plasma sebagai akibat plasma leakage merupakan tanda patognomonik
DBD, sedangkan kelainan organ lain serta manifestasi yang tidak lazim
dikelompokkan ke dalam expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Secara klinis, DD dapat disertai dengan perdarahan atau tidak; sedangkan DBD dapat
disertai syok atau tidak.[1]

Gambar 3.2 Perjalanan penyakit infeksi dengue[1]


Dalam perjalanan penyakit infeksi dengue, terdapat tiga fase perjalanan infeksi
dengue, yaitu:[1]
1. Fase demam: viremia menyebabkan demam tinggi
2. Fase kritis/ perembesan plasma: onset mendadak adanya perembesan plasma
dengan derajat bervariasi pada efusi pleura dan asites.
3. Fase recovery/penyembuhan/convalescence: perembesan plasma mendadak
berhenti disertai reabsorpsi cairan dan ekstravasasi plasma.

17
Secara umum patogenesis infeksi virus dengue diakibatkan oleh interaksi
berbagai komponen dari respon imun atau reaksi inflamasi yang terjadi secara
terintegrasi. Sel imun yang paling penting dalam berinteraksi dengan virus dengue
yaitu sel dendrit, monosit/makrofag, sel endotel dan trombosit. Akibat interaksi
tersebut akan dikeluarkan berbagai mediator antara lain sitokin, peningkatan aktivasi
sistem komplemen, serta terjadi aktivasi limfosit T. Apabila aktivasi sel imun tersebut
berlebihan, akan diproduksi sitokin (terutama proinflamasi), kemokin dan mediator
inflamasi lain dalam jumlah banyak. Akibat produksi berlebih dari zat-zat tersebut
akan menimbulkan berbagai kelainan yang akhirnya menimbulkan berbagai bentuk
dan gejala infeksi virus dengue.[4]
Diagnosis demam berdarah dengue (DBD), berdasasrkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis dapat ditemukan
demam mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot & sendi/tulang, nyeri
retroorbital, photophobia, nyeri pada punggung, facial flushed, lesu, tidak mau
makan, konstipasi, nyeri perut, nyeri tenggorok, dan depresi umum. Pemeriksaan
fisik, didapatkan:[1]
a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan:
- Uji bendung positif
- Petekie, ekimosis, purpura
- Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
- Hematemesis dan atau melena
c. Pembesaran hati
d. Syok ditandai nadi cepat dan lemah, penyempitantekanan nadi (≤ 20 mmHg),
hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, CRT
memanjang, dan pasien tampak gelisah.
e. Laboratorium
- Trombositopenia (100000µL atau kurang)
- Adanya kebocoran plasma

18
Pada kasus ini, ditemukan adanya febris mendadak tinggi, dirasakan
sejak ± 4 hari yang lalu, febris tidak turun dengan antipiretik. Disertai
cephalgia, malaise, myalgia, nausea, retro-orbital pain & abdominal pain.
Konstipasi sejak 2 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan
umum sakit sedang, kesadaran compos mentis, tekanan darah 110/80 mmHg,
denyut nadi 98×/menit kuat angkat, respirasi 30×/menit, suhu axilla 39,6 0C,
rumple leed test (+). Pada pemeriksaan sistem lain dalam batas normal. Hasil
pemeriksaan hematologi rutin leukosit 4,08×103/uL, trombosit 127×103/uL,
hematokrit 31,4%, hemoglobin 10,1g/dl, dan eritrosit 4,2×106/uL, setelah
melakukan pemeriksaan darah rutin secara berkala, pada pasien ditemukan
adanya kebocoran plasma yang dinilai dari adanya peningkatan
hemokonsentrasi yang melebihi 20%. Sehingga pada kasus ini diagnosis kerja
yaitu demam berdarah dengue.

Tabel 3.1 Derajat DBD berdasarkan klasifikasi WHO 2011[1]

19
Pemeriksaan penunjang untuk membantu penegakan diagnosis demam
dengue:[1]
a. Laboratorium: pemeriksaan darah perifer, yaitu hemoglobin, leukosit, hitung
jenis, hematokrit, dan trombosit. Antigen NS1 dapat dideteksi pada hari ke-1
setelah demam dan akan menurun sehingga tidak terdeteksi setelah hari sakit
ke-5-6. Deteksi antigen virus ini dapat digunakan untuk diagnosis awal
menentukan adanya infeksi dengue, namun tidak dapat membedakan penyakit
DD/DBD.

b. Uji serologi IgM dan IgG anti dengue.


- Antibodi IgM anti dengue dapat dideteksi pada hari sakit ke-5 sakit,
mencapai puncaknya pada hari sakit ke 10-14, dan akan menurun/
menghilang pada akhir minggu keempat sakit.
- Antibodi IgG anti dengue pada infeksi primer dapat terdeteksi pada hari
sakit ke-14. dan menghilang setelah 6 bulan sampai 4 tahun. Sedangkan
pada infeksi sekunder IgG anti dengue akan terdeteksi pada hari sakit ke-
2.
- Rasio IgM/IgG digunakan untuk membedakan infeksi primer dari infeksi
sekunder. Apabila rasio IgM:IgG >1,2 menunjukkan infeksi primer
namun apabila IgM:IgG rasio<1,2 menunjukkan infeksi sekunder.

Tabel 3.2 Interpretasi uji serologi IgM dan IgG pada infeksi dengue[1]

20
Tanda kegawatan dapat terjadi pada setiap fase pada perjalanan penyakit infeksi
dengue, seperti berikut:[1]
a. Tidak ada perbaikan klinis/perburukan saat sebelum atau selama masa transisi
ke fase bebas demam/sejalan dengan proses penyakit.
b. Muntah yg menetap, tidak mau minum.
c. Nyeri perut hebat.
d. Letargi dan/atau gelisah, perubahan tingkah laku mendadak.
e. Perdarahan: epistaksis, buang air besar hitam, hematemesis, menstruasi yang
hebat, warna urin gelap (hemoglobinuria)/hematuria.
f. Giddiness (pusing/perasaan ingin terjatuh).
g. Pucat, tangan - kaki dingin dan lembab
h. Diuresis kurang/tidak ada dalam 4-6 jam
Tata laksana infeksi dengue berdasarkan fase perjalanan penyakit:[1]
1. Fase Demam
Pada fase demam, dapat diberikan antipiretik + cairan rumatan/atau cairan
oral apabila anak masih mau minum, pemantauan dilakukan setiap 12-24 jam.[1]
a) Medikamentosa:[1]
- Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol
bukan aspirin.
- Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan
(misalnya antasid, antiemetik) untuk mengurangi beban
detoksifikasi obat dalam hati.
- Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati apabila terdapat
perdarahan saluran cerna kortikosteroid tidak diberikan.
- Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.
b) Supportif:[1]
- Cairan: cairan per oral + cairan intravena rumatan per hari + 5%
deficit.

21
- Diberikan untuk 48 jam atau lebih .
- Kecepatan cairan IV disesuaikan dengan kecepatan kehilangan
plasma, sesuai keadaan klinis, tanda vital, diuresis, dan hematokrit.
2. Fase Kritis
Pada fase kritis pemberian cairan sangat diperlukan yaitu kebutuhan
rumatan + deficit, disertai monitor keadaan klinis dan laboratorium setiap 4-6
jam.[1]

3. Fase Recovery
Pada fase penyembuhan diperlukan cairan rumatan atau cairan oral, serta
monitor tiap 12-24 jam.[1]
Pasien dapat dipulangkan apabila telah terjadi perbaikan klinis sebagai
berikut:[1]
a) Bebas demam minimal 24 jam tanpa menggunakan antipiretik
b) Nafsu makan telah kembali
c) Perbaikan klinis, tidak ada demam, tidak ada distres pernafasan, dan nadi
teratur
d) Diuresis baik
e) Minimum 2-3 hari setelah sembuh dari syok
f) Tidak ada kegawatan napas karena efusi pleura, tidak ada asites
g) Trombosit >50.000 /mm3. Pada kasus DBD tanpa komplikasi, pada
umumnya jumlah trombosit akan meningkat ke nilai normal dalam 3-5
hari.

Tabel 3.3. Cairan yang dibutuhkan berdasarkan berat badan[1]

22
Tabel 3.4 Kecepatan cairan intravena[1]

Diagnosis banding infeksi virus dengue:[1]


- Selama fase akut penyakit, sulit untuk membedakan DBD dari demam dengue
dan penyakit virus lain yang ditemukan di daerah tropis. Maka untuk
membedakan dengan campak, rubela, demam chikungunya, leptospirosis,
malaria, demam tifoid, perlu ditanyakan gejala penyerta lainnya yang terjadi
bersama demam. Pemeriksaan laboratorium diperlukan sesuai indikasi.
- Penyakit darah seperti trombositopenia purpura idiopatik (ITP), leukemia, atau
anemia aplastik, dapat dibedakan dari pemeriksaan laboratorium darah tepi
lengkap disertai pemeriksaan pungsi sumsum tulang apabila diperlukan.
- Penyakit infeksi lain seperti sepsis, atau meningitis, perlu dipikirkan apabila
anak mengalami demam disertai syok.
Komplikasi demam berdarah dengue dapat terjadi perdarahan pada pasien
dengan ulkus peptik, trombositopenia hebat, dan trauma[1]

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Karyanti MR. Diagnosis Dan Tata Laksana Terkini Dengue. Divisi Infeksi dan
Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUPN Cipto
Mangunkusumo, FKUI. 1-14.
2. Yolanda. Waspada Demam Berdarah Dengue. IDAI Indonesian Pediatric
Society (Serial Online). 2016 (Citied 2016 August 01); (1 Screen). Available
from: <http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/waspada-demam-
berdarah-dengue>.
3. Mulya.Diagnosis dan Tata Laksana Terkini Dengue. Jakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI; 2013.
4. IDAI. Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Virus Dengue Pada Anak.
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia;2014.
5. Dengue Haemorrhagic Fever : Diagnosis, Treatment, Prevention and Control.
Edition II. Geneva : World Health Organization. 2002. Available from
htttp://www.who.int/csr/resources/publications/dengue/Denguepublication
Accessed 20 Maret, 2012.

6. Dengue Virus Infection. Centers for Disease Control and Prevention. Division
of Vector Borne and Infectious Diseases. Atlanta : 2009

7. Hadinegoro SRH, Soegijanto S, Wuryadi S, Suroso T, editor. Tata Laksana


Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan; 2004

24