Anda di halaman 1dari 40

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Abortus merupakan salah satu masalah didunia yang mempengaruhi
kesehatan, kesakitan dan kematian ibu hamil. Abortus merupakan
pengeluaran hasil konsepsi yang terjadi pada umur kehamilan <20
minggu dan berat badan janin 500 gram. Dampak dari abortus jika tidak
mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat akan menambah angka
kematian ibu yang disebabkan oleh komplikasi dari abortus yaitu dapat
terjadi perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok ( sujiatini,2009).
Abortus dapat terjadi secara tidak sengaja maupun di sengaja. Abortus
yang berlangsung tanpa tindakan di sebut abortus spontan, sedangkan
abortus yang dilakukan dengan sengaja di sebut abortus provokatus dan
abortus yang terjadi berulang 3 kali secara berturut turut di sebut habitulis
(prawirohadjo,2010).
Berdasarkan studi WHO satu dari setiap 4 kehamilan berakhir dengan
abortus (BBC,2016). Estimasi kejadian abortus tercatat oleh WHO
sebanyak 40-50 juta, sama halnya dengan 125.000 / hari. Hasil studi
Abortion Incidence And Service Avaibility In United States pada tahun
2016 menyatakan tingkat abortus telah menurun secara signifikan sejak
tahun 1990 dinegara maju tapi tidak di negara berkembang (Sedgh G et
al,2016).
Di indonesia angka kematian ibu menurut survey demogravi dan
kesehatan indonesia ( SDKI ) pada tahun 2007 adalah sebesar 228 per
100.000 kelahran hidup
B. Rumusan masalah
1. Pernyataan Masalah
Abortus merupakan salah satu masalah didunia yang mempengaruhi
kesehatan
2. Pertanyaan Masalah
Bagaimanakah penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan system musculoskeletal ; fraktur?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum

1
Penulis diharapkan mampu memahami asuhan keperawatan pada klien
abortus
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar abortus, mulai dari pengertian, penyebab,
patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, penatalaksanaan,
pemeriksaan penunjang dan komplikasi.Melakukan pengkajian pada
Klien dengan diagnosa medis abortus
b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada Klien dengan diagnosa
medis abortus
c. Menyusun rencana tindakan keperawatan pada Klien dengan
diagnosa medis abortus
d. Melakukan tindakan keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis
abortus
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis
abortus
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bidang Akademik
Dapat dipergunakan sebagai bahan bacaan ilmiah, untuk institusi
pendidikan akademi keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan keperawatan yang akan datang
2. Manfaat Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi dalam meningkatkan pengetahuan
terutama yang berkaitan dengan pengetahuan dan perawaatan abortus
3. Manfaat Bagi Penulis
Menambah pengetahuan khususnya mengenai kasus abortus
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Laporan Akhir ini meliputi 2 Bab, yaitu :
1. Bab 1 berisi tentang Pendahuluan yang menguraikan tentang latar
belakang, tujuan penulisan, tempat dan waktu serta sistematika
penulisan.
2. Bab 2 membahas tentang landasan teori yang menguraikan tentang
konsep dasar penyakit yang terdiri dari pengertian abortus, penyebab,
klasifikasi, penatalaksanaan,komplikasi dan konsep asuhan
keperawatan yang terdiri dari : pengkajian, diagnosa keperawatan,

2
rencana tindakan keperawatan, tindakan keperawatan serta evaluasi
keperawatan.
F. Metode penlitian dan pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif
studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui studi kepustakaan dan
studi kasus.
G. Tempat dan Waktu
1. Tempat
Tempat pengambilan kasus kelolaan direncanakan di Ruang Flamboyan
Rumah Sakit palagimata kota baubau.
2. Waktu
Waktu pengambilan kasus kelolaan direncanakan pada bulan april 2018

3
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi

1. Alat kelamin luar (genetalia eksterna)

a. Monsveneris

Bagian yang menonjol meliputi bagian simfisis yang terdiri dari jaringan

lemak, daerah ini ditutupi bulu pada masa pubertas.

b. Vulva

Adalah tempat bermuara sistem urogenital. Di sebelah luar vulva

dilingkari oleh labio mayora (bibir besar) yang ke belakang, menjadi satu

dan membentuk kommisura posterior dan perineam. Di bawah kulitnya

terdapat jaringan lemak seperti yang ada di mons veneris.

c. Labio mayora

Labio mayora (bibir besar) adalah dua lipatan besar yang membatasi

vulva, terdiri atas kulit, jaringan ikat, lemak dan kelenjar sebasca. Saat

pubertas tumbuh rambut di mons veneris dan pada sisi lateral.

d. Labio minora

4
Labio minora (bibir kecil) adalah dua lipatan kecil diantara labio mayora,

dengan banyak kelenjar sebasea. Celah diantara labio minora adalah

vestibulum.

e. Vestibulum

Vestibulum merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labio

minora), maka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum, dalam

vestibulum terdapat muara-muara dari liang senggama (introetus vagina

uretra), kelenjar bartholimi dan kelenjar skene kiri dan kanan.

f. Himen (selaput dara)

Lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dan liang senggama

ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar,

letaknya mulut vagina pada bagian ini, bentuknya berbeda-beda ada yang

seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan yang lunak, lubangnya

ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari.

g. Perineum

Terbentuk dari korpus perineum, titik temu otot-otot dasar panggul yang

ditutupi oleh kulit perineum.

2. Alat kelamin dalam (genetalia interna)

a. Vagina

Tabung, yang dilapisi membran dari jenis jenis epitelium bergaris,

khusus dialiri banyak pembuluh darah dan serabut saraf. Panjangnya dari

vestibulum sampai uterus 7½ cm. Merupakan penghubung antara introitus

vagina dan uterus. Dinding depan liang senggama (vagina) 9 cm, lebih

pendek dari dinding belakang. Pada puncak vagina sebelah dalam berlipat-

lipat disebut rugae.

5
b. Uterus

2 cm. Berat 50 gr, dan berat 30-60 gr. Uterus terdiri dari : 5 cm, tebal

Organ yang tebal, berotot berbentuk buah Pir, terletak di dalam pelvis

antara rectum di belakang dan kandung kemih di depan, ototnya disebut

miometrium. Uterus terapung di dalam pelvis dengan jaringan ikat dan

ligament. Panjang uterus 7½ cm

1) Fundus uteri (dasar rahim)

Bagian uterus yang terletak antara pangkal saluran telur. Pada

pemeriksaan kehamilan, perabaan fundus uteri dapat memperkirakan

usia kehamilan.

2) Korpus uteri

Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan, bgian ini berfungsi

sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat pada korpus

uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim.

3) Servix uteri

Ujung servix yang menuju puncak vagina disebut porsio, hubungan

antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri internum.

Lapisan-lapisan uterus, meliputi :

a) Endometrium

b) Myometrium

c) Parametrium

c. Ovarium

Merupakan kelenjar berbentuk kenari, terletak kiri dan kanan uterus

dibawah tuba uterine dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum

latum uterus.

6
d. Tuba Fallopi

Tuba fallopi dilapisi oleh epitel bersilia yang tersusun dalam banyak

lipatan sehingga memperlambat perjalanan ovum ke dalam uterus.

Sebagian sel tuba mensekresikan cairan serosa yang memberikan nutrisi

pada ovum. Tuba fallopi disebut juga saluran telur terdapat 2 saluran telur

kiri dan kanan. Panjang kira-kira 12 cm tetapi tidak berjalan lurus. Terus

pada ujung-ujungnya terdapat fimbria, untuk memeluk ovum saat ovulasi

agar masuk ke dalam tuba (Tambayong, 2002).

B. KONSEP MEDIS

1. Pengertian

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu)

pada atau sebelu kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan

belum mampu untuk hidup di luar kandungan. (Sarwono, P. 2002)

Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar disebut

abortus. Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai

1000 gram atu umur kehamilan 28 minggu. Ada juga yang mengambil sebagai

batas untuk abortus berat anak yang kurang dari 500 gram. Jika anak yang lahir

beratnya antara 500 dan 999 gram disebut partus immaturus. (Fakultas

Kedokteran UNPAD)

2. Etiologi

Walaupun terjadinya abortus habitualis berturut-turut mungkin kebetulan,

namun wajar untuk memikirkan adanya sebab dasar yang mengakibatkan

peristiwa berulang ini. Sebab dasar ini dalam kurang lebih 40% tidak diketahui;

yang diketahui, dapat dibagi dalam tiga golongan:

7
a. Kelainan pada zigote

Agar bisa menjadi kehamilan, dan kehamilan itu dapat berlangsung

terus dengan selamat, perlu adanya penyatuan antara spermatozoon yang

normal dengan ovum yang normal pula.

Kelainan genetik pada suami atau istri dapat menjadi sebab kelainan

pada zigote dengan akibat terjadinya abortus. Dapat dikatakan bahwa

kelainan kromosomal yang dapat memegang peranan dalam abortus

berturut-turut, jarang terdapat. Dalam hubungan ini dianjurkan untuk

menetapkan kariotipe pasangan suami istri apabila terjadi sedikit-sedikitnya

abortus berturut-turut tiga kali, atau janin yang dilahirkan menderita cacat.

b. Gangguan fungsi endometrium

Yang menyebabkan gangguan implantasi ovum yang dibuahi dan

gangguan dalam pertumbuhan mudigah. Malfungsi endometrium yang

mengganggu implantasi dan mengganggu mudigah dalam

pertumbuhannya.

Di bawah pengaruh estrogen, endometrium yang sebagian besar hilang

pada waktu haid, timbul lagi sesudah itu, dan dipersiapkan untuk menerima

dengan baik ovum yang dibuahi. Sesudah ovulasi glikogen yang terhimpun

dalam sel-sel basal endometrium memasuki sel-sel dan lumen kelenjar-

kelenjar dalam endometrium, untuk kelak dibawah pengaruh alkalin

fosfatase diubah menjadi glukose. Di samping zat hidrat arang tersebut

dibutuhkan pula protein, lemak, mineral, dan vitamin untuk pertumbuhan

mudigah.

Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan

endometrium adalah :

8
1) Kelainan hormonal

Pada wanita dengan abortus habitualis, dapat ditemukan bahwa

fungsi glandula tiroidea kurang sempurna. Oleh sebab itu pemeriksaan

fungsi tiroid pada wanita-wanita dengan abortus berulang perlu

dilakukan; pemerikasaan ini hendaknya dilakukan diluar kehamilan.

Selain itu gangguan fase luteal dapat menjadi sebab infertilitas dan

abortus muda yang berulang. Gangguan fase luteal dapat menyebabkan

disfungsi tuba dengan akibat transfor ovum terlalu cepat, motilitas uterus

yang berlebihan dan kesukaran dalam nidasi karena endometrium tidak

dipersiapkan dengan baik.

2) Gangguan nutrisi

Penyakit-penyakit yang mengganggu persediaan zat-zat makanan

untuk janin yang sedang tumbuh dapat menyebabkan abortus. Anemia

yang berat, penyakit menahun dan lain-lain akan mempengaruhi gizi

penderita.

3) Penyakit infeksi

Penyakit infeksi menahun yang dapat menjadi sebab kegagalan

kehamilan ialah luwes. Disebut pula mikoplasma hominis yang

ditemukan di serviks uteri, vagina dan uretra. Penyakit infeksi akut dapat

menyebabkan abortus yang berturut-turut.

4) Kelainan imunologik

Inkomtabilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen-

antibodi dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan

histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan fragilitas kapiler.

Inkomtabilitas karena Rh faktor dapat menyebabkan abortus berulang,

9
tetapi hal itu biasanya menyebabkan gangguan pada kehamilan diatas

28 minggu.

5) Faktor psikologis

Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus berulang dan

keadaan mental, akan tetapi sebelum terang sebab musababnya. Yang

peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang

secara emosional dan sangat mengkhawatirkan risiko kehamilan; begitu

pula wanita yang sehari-hari bergaul dalam dunia pria dan menganggap

kehamilan sebagai suatu beban yang berat.

Dalam hal-hal tersebut diatas, peranan dokter untuk menyelamatkan

kehamilan sangat penting. Usaha-usaha dokter untuk mendapatkan

kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu kepadanya,

sangat membantu.

c. Kelainan anatomik pada uterus

Yang dapat menghalangi berkembangnya janin didalamnya dengan

sempurna. Kelainan bawaan dapat menjadi sebab abortus habitualis,

antara lain hipoplasia uterus, subseptus uterus bikornis dan sebagainya.

Akan tetapi pada kelainan bawaan seperti uterus bikornis, sebagian besar

kehamilan dapat berlangsung terus dengan baik. Walaupun pada abortus

habitualis perlu diselidiki dengan histerosalpingografi, apakah ada kelainan

bawaan, perlu diperiksa pula apakah tidak ada sebab lain dari abortus

habitualis, sebelum menganggap kelainan bawaan uterus tersebut sebagai

sebabnya.

10
3. Patofisiologi

Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau

seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan perdarahan sehingga janin

kekurangan nutrisi dan O2 .bagian yang terlepas dianggap benda asing,

sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.

Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian

masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu,

keguguran memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim,

terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil

konsepsi.

Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya:

a. sedikit-sedikit dan berlangsung lama

b. sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan

c. akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun; dapat

menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis

dan daerah ujung (akral) dingin.

Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi:

a. umur kehamilan dibawah 14 minggu dimana plasenta belum terbentuk

sempurna, dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

b. diatas 16 minggu, dengan pembentukan plasenta sempurna dpat didahului

dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan dilanjutkan

dengan pengeluran plasenta berdasarkan proses persalinannya dahulu

disebutkan persalinan immaturus.

c. hasil kosepsi tiak dikeluarkan lebih dari 6 minggu, sehingga terjadi

ancaman baru dalam bentuk gangguan pembekuan darah.

11
Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat

terjadi:

a. mola karnosa: hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti

daging.

b. mola tuberosa: amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma antara

amnion dan karion

c. fetus kompresus: janin mengalami mumifikasi, terjadi penyerapan kalsium,

dan tertekan sampai gepeng.

d. fetus papiraseus: kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan,

laksna kertas.

e. blighted ovum: hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin,

hanya benda kecil yang tidakberbentuk.

f. missed abortion: hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu.

4. Klasifikasi Abortus

Sarwono (2008) membagi abortus menjadi beberapa klasifikasi yaitu

a. Abortus spontan

Abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk

mengosongkan uterus, maka abortus tersebut dinamai abortus spontan.

Kata lain yang luas digunakan adalah keguguran (Miscarriage)

b. Abortus imminens (keguguran mengancam)

Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20

minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya

dilatasi serviks.

12
c. Abortus incipiene (keguguran berlangsung)

Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu

dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi

masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan

kuat, perdarahan bertambah.

5. Manifestasi Klinis

a. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu

b. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah atau kesadaran

menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau

cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.

c. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil

konsepsi

d. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri

pinggang akibat kontraksi uterus

e. Pemeriksaan ginekologi :

1) Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam, ada/tidak jaringan hasil

konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva

2) Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah

tertutup, ada atau tidak ada jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak

cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

3) Colok vagina : posio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau

tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil

dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyangkan, tidak nyeri

pada perabaan adneksia, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak

nyeri.

13
6. Penatalaksanaan

Persiapan Sebelum Tindakan

a. Pasien

1) cairan dan selang infus sudah terpasang, perut bawah dan lipat paha

sudah dibersihkan dengan air dan sabun.

2) Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner.

3) Siapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah.

4) Medikamentosa

a) Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCI 0,5 mg/kg BB,

tramadol 1-2 mg/kg BB)

b) Sedatifa (diazepan 10 mg)

c) Atropin sulfat 0,25-0,50 mg/kg

5) Larutan antiseptik (povidon iodin 10%).

6) Oksigen dengan regulator.

7) Instrumen :

a) Cunam tampon: 1

b) Klem ovum (foersters/fenster clemp) lurus : 2

c) Sendok kuret pasca persalinan : 1

d) Spekulum sim’s atau L dan kateter karet : 2 dan 1

e) Tabung ml dan jarum suntik no 23 (sekali pakai) : 2

b. Penolong (operator dan asisten)

1) Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung : 3 set

2) Sarung tangan DTT/steril : 4 pasang

3) Alas kaki (sepatu atau boot karet) : 3 pasang

14
4) Instrumen :

a) Lampu sorot : 1

b) Mangkok logam : 2

c) Penampung udara dan jaringan : 1

c. Tindakan

1) Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan analgetik.

2) Bila penderita tidak berkemih, lakukan kateterisasi (lihat prosedur

kateteresasi).

3) Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan pemeriksaan bimanual.

Tentukan besar uterus dan bukaan serviks.

4) Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan

klorin 0,5%.

5) Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru.

6) Pasang spekulum sim’s atau L, masukkan bilahnya secara vertikal

kemudian putar ke bawah.

7) Pasang spekulum sim’s berikutnya dengan jalan memasukkan bilahnya

secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas sehingga porsio tampak

dengan jelas.

8) Minta asisten untuk memegang spekulum atas dan bawah, pertahankan

pada posisinya semula.

9) Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah dibasahi dengan larutan

antiseptik, kemudian bersihkan lumen vagina dan poriso. Buang kapas

tersebut dalam tempat sampah yang tersedia, kembalikan cunam ke

tempat semula.

15
10) Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio (perbatasan

antara kuadran atas kiri dan kanan atau pada jam 12).

11) Setelah porsio terpegang baik, lepaskan spekulum atas.

12) Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret pasca

persalinan dengan tangan kanan, pegang diantara ibu jari dan telunjuk

(gagang sendok berada pada telapak tangan), kemudian masukkan

hingga menyentuh fundus.

13) Minta asisten untuk memegang klem ovum, letakkan telapak tangan

pada bagian atas fundus uteri (sehingga penolong dapat merasakan

tersentuhnya fundus oleh ujung sendok kuret).

14) Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai engan lengkung cavum

uteri kemudian laukan pengerokan dinding uterus bagian depan

searah dengan jarum jam, secara sistematis.

15) Masukkan ujung sendok sesuai dengan cavum lengkung uteri setelah

sampai fundus, kemudian putar 180 derajat, lalau bersihkan dinding

belakang uterus. Kemudian keluarkan jaringan yang ada.

16) Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang klem ovum

dipegang kembali oleh operator.

17) Ambil kapas (dibasahi larutan antiseptik) dengan cunam tampon,

bersihkan darah dan jaringan pada lumen vagina.

a) Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio.

b) Lepaskan spekulum bawah.

c) Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan sarung kaki

masukkan ke dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5%.

16
d) Bersihkan cemaran darah dan cairan tubuh dengan larutan

antiseptik.

d. Dekontaminasi

e. Cuci Tangan Sebelum Pasca tindakan

f. Perawatan Pasca tindakan

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah

abortus

b. Pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih

hidup

c. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

8. Komplikasi

a. Perforasi Dalam

Melakukan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan

terjadinya perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga

peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Oleh sebab itu

letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada awal

tindakan, dan pada dilatasi serviks jangan digunakan tekanan berlebihan.

Pada kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi penarikan

kuret ke luar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar. Bahaya

perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perfora si atau

diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama

dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu,

turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan

17
atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan

dengan segera.

b. Luka pada serviks uteri

Apabila jaringan serviks kerasdan dilatasi dipaksakan maka dapat

timbul sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka

pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah

perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan

vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent

cerviks.

c. Pelekatan pada kavum uteri

Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-

sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan

sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya

perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan

dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut

dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi.

d. Perdarahan

Kerokan pada kehamilan agak tua atau pada mola hidatidosa ada

bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya

diselenggarakan transfusi darah dan sesudah kerokan selesai

dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan vagina.

e. Infeksi

Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya

infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke

seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain

18
yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur.

Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.

C. Konsep Proses Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Adapun hal-hal yang perlu dikaji pada pasien abortus adalah :

a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,

umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,

perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat.

b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya

perdarahan pervagina berulang.

c. Riwayat kesehatan yang terdiri atas:

a) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke

Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam

di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.

b) Riwayat kesehatan masa lalu

d. Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami

oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan

tersebut berlangsung.

e. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah

dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah

ginekologi/urinary, penyakit endikrin, dan penyakit-penyakit lainnya.

f. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan

dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan

dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

19
g. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus

menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya

dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan

yang menyertainya.

h. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak

klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan

kesehatan anaknya.

i. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi

yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.

Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi

oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,

eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik

sebelum dan saat sakit.

j. Pemeriksaan fisik, meliputi :

1) inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil

konsepsi,tercium bau busuk dari vulva

2) Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau

sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak

cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

3) Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau

tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil

dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada

perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

20
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan

jari.

4) Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat

kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi

uterus.

5) Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,

memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.

6) Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon

nyeri yang abnormal. Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau

tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan

informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.

7) Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang

menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.

8) Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya

refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah

ada kontraksi dinding perut atau tidak. Auskultasi adalah mendengarkan

bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan

dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.

9) Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah,

dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut

jantung janin.(Johnson & Taylor, 2005 : 39)

k. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien

l. Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan

kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

21
m. Nyeri/kenyamanan

Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber :

misalnyeripenyerta, distensi kandung kemih/ abdomen, efek-efekanestesi:

mulu tmungkin kering.

n. Pernapasan: Bunyi paru jelas dan vesikuler

o. Keamanan:Jalur parenteral bila digunakan resiko terkena infeksi karena

pemasangan infuse dan nyeri tekan.

p. Seksualitas: Fundus kontraksikuatdanterletak di umbilikus.

q. PemeriksaanDiagnostik: Jumlahdarahlengkap, hemoglobin/ hematokrit

2. Diagnosa

Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut :

a. Nyeri berhubungan dengan dilatasi servik, trauma jaringan dan kontraksi

uterus

b. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan vascular dalam

jumlah berlebih

c. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia

d. Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri

dan janin

e. Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan penahanan hasil

konsepsi

3. Intervensi

a. Nyeri berhubungan dengan dilatasi servik, trauma jaringan dan kontraksi

uterus Setelah diberikanasuhankeperawatan diharapkanpasien dapat

bertoleransiterhadap nyeriyangdialami dengan criteria hasil :

22
1) Ibu dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi

Tanda-tanda vital dalam batas normal ibu tidak meringis

a) Tentukan sifat, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji kontraksi uterus

hemoragi atau nyeri tekan abdomen

b) Kaji stress psikologis ibu /pasangan dan respon emosiol terhadap

kejadian

c) Berikan lingkungan yang tenang dan aktivitas untuk menurunkan

rasa nyeri. Instruksikan untuk menggunakan metode relaksasi,

misalnya; nafas dalam, visualisasi distraksi, dan jelaskan prosedur

d) Berikan narkotik atau sedatif berikut obat-obat praoperatif bila

prosedur pembedahan diindikasikan

e) Siapkan untuk prosedur bedah bila terdapat indikasi

b. Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat memperberat

ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan, ketakutan, dan nyeri

1) Dapat membantu dalam menurunkan tingkat ansietas dan karenanya

mereduksi ketidaknyamanan

2) Meningkatkan kenyamanan, menurunkan resiko komplikasi

pembedahan

3) Tindakan terhadap penyimpangan dasar akan menghilangkan nyeri.

c. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan vascular dalam

jumlah berlebih Setelah diberikan asuhan keperwawatan diharapkan

pasien dapat mendemonstrasikan kestabilan/ perbaikan keseimbangan

cairan dengan criteria hasil:

1) pengisian kafilari refil

pengeluaran dan berat jenis urine adekuat secara individual

23
a) Evaluasi, laporkan,serta catat jumlah dan sifat kehilangan darah,

lakukan perhitungan pembalut, kemudian timbang pembalut

b) Lakukan tirah baring, instruksikan untuk menghindari valsava

manuver dan koitus

c) Posisikan dengan tepat, terlentang dengan panggul

ditinggikanatau posisi semi fowler

d) Catat tanda-tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku,

warna membran mukosa atau kulit dan suhu. Ukur tekanan vena

sentral bila ada

e) Pantau aktivitas uterus, status janin dan adanya nyeri tekan pada

abdomen

f) Pantau masukan/keluaran cairan. Dapatkan sample urine setiap

jam, ukur berat jenis

g) Simpan jaringan atau hasil konsepsi yang keluar

Kolaborasi

h) Dapatkan pemeriksaan darah cepat; HDL jenis dan pencorakan

silang, titer Rh, Kadar fibrinogen, hitung trombosit, APTT dan

kadar LCC

i) Pasang Kateter

j) Berikan larutan intravena, ekspander plasma, darah lengkap

atau sel-sel kemasan sesuai indikasi

d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia Setelah

diberikan asuhan keperawatan pasien dapat menunjukkan perubahan

perfusi jaringan kembali normal dengan criteria hasil:

Tanda vital dalam batas normal dan Hb dalam batas normal

24
1) Perhatikan status fisiologi ibu, staus sirkulasi dan volume darah

2) Auskultasi dan laporkan DJJ. Catat bradikardi atau takikardi. Catat

perubahan pada aktivitas janin

3) Catat kehilangan darah ibu karena adanya kontraksi uteus

4) Anjurkan tirah baring pada posisi miring Kolaborasi

5) Berikan suplemen oksigen pada ibu. Lakukan sesuai indikasi

6) Ganti kejilangan darah ibu

7) Siapkan ibu untuk intervensi bedah dengan tepat

e. Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan

janin Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cemas teratasi

dengan criteria hasil:

1) Ibu mendiskusikan takut mengenai diri janin dan masa depan

kehamilan, juga mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat

2) Diskusikan tentang situasi dan pemahaman tentang situasi dengan ibu

dan pasangan

3) Pantau respon verbal dan nonverbal ibu dan pasangan

4) Dengarkan masalah ibu dengan seksama

5) Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis serta beri

kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan

6) Libatkan ibu dalam perencanaan dan berpartisipasi dalam perawatan

sebanyak mungkin

7) Jelaskan prosedur dan arti gejala

f. Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan penahanan hasil konsepsi,

tindakan invasif Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien

25
tidak menunjukkan tidak tejadi infeksi dengan criteria hasil: Tidak terdapat

tanda-tanda infeksi

Tanda vital dalam batas normal

1) Tinjau ulang kondisi faktor resiko yang ada sebelumnya

2) Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi ( misalnya peningkatan suhu,

nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/ warna secret vaginaKolaborasi

3) Lakukan persiapan kulit praoperatif, scrub sesuai protocol

4) Dapatkan kultur darah vagina dan plasenta sesuai indikasi

5) Catat Hb dan Ht catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur

pembedahan

6) Berikan antibiotik spectrum luas parenteral pada praoperasi.

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien abortus disesuaikan

dengan intervensi yang telah direncanakan.

5. Evaluasi Keperawatan

Hasil asuhan keperawatan pada klien abortus sesuai dengan tujuan yang

telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau

perubahan yang terjadi pada pasien. Adapun sasaran evaluasi pada

pasien abortus sebagai berikut :

a. Pasien dapat bertoleransi terhadap nyeri yang dialami

b. Tanda-tanda vital menunjukan dalam batas normal

c. Perubahan perfusi jaringan kembali normal

d. Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dalam batas normal dan

kebutuhan cairan pada pasien terpenuhi.

e. Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.

26
f. Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik

dengan tanda vital dalam batas normal.

g. Infeksi tidak terjadi.

h. Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.

i. Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan

dari perawat.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

Anda saat ini bertugas di ruang post natal, terdapat klien Ny. M 34 tahun.

Status pernikahan kawin. Dx medis abortus habitualis in komplit. Masuk RS

sejak 26 Juni 17. pengkajian dilakukan tanggal 27 Juni 17. status obstetri G4

P0 A4. riwayat haid klien menarche usia 16 tahun. Haid terakhir 3 bulan yang

lalu, siklur teratur 28 hari klien mengeluh sedih terhadap hal yang

menimpanya. Riwayat perkawinan 14 tahun. Kini klien direncanakan untuk

tindakan kuretase nanti sore. TD 120/70 mmHg, N 84 x/menit, RR 24x/menit

dan T 36,90C. Nyeri hebat di perut bawah skala 4, mulas mulas bertambah

jika bergerak, berkurang bila klien tiduran. Keluaran darah pervaginam 100

cc/3 jam. Klien mengaku bingung dengan penyakitnya yang selalu mengalami

keguguran dan menanyakan pada anda bagaimana tentang penyakitnya

tersebut. Klien paham dengan tindakan yang akan dilakukan tetapi tetap

cemas dengan tindakan tersebut. Ekspresi wajah klien selama menunggu

tampak berkeringat banyak, sesekali mendesis nyeri.

A. Pengkajian

Data Subyektif

1. Biodata

27
Biodata klien Biodata penanggung jawab

Nama : Ny.M Nama : Tn.T

Umur : 34 tahun Umur : 40 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMU Pendidikan : SMU

Suku /bangsa : Jawa/ Indonesia Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia

Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pekerjaan : Swasta

Alamat : Mijen ungaran Alamat : Mijen ungaran

2. Alasan datang : Ibu ingin memeriksa kehamilannya

3. Keluhan utama : Ibu merasakan nyeri pada perut bawah dan

keluar bercak-bercak darah sejak kemarin.

4. Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronik seperti :

Hipertensi, DM, Asma, Jantung, TBC.

b) Riwayat kesehatan masa lalu

Ibu tidak sedang menderita penyakit kronik seperti : Hipertensi,

DM, Asma, Jantung, TBC, abortus berulang.

c) Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita

penyakit menurun/ turunan seperti hipertensi,DM, Asma,

Jantung,dan tidak mempuyai keturunan kembar.

5. Riwayat Obstetri

28
6. Riwayat menstruasi

Menarche : 12 tahun

Siklus : 28 hari

Lama : 7 hari

Banyak : ± 100

Warna : Merah segar

Bau : Amis

Flour albous : Kadang-kadang

HPHT : 30 Januarai 2006

Disminorhe : Tidak pernah

7. Riwayat kehamilan

Abortus berulang selama 4 kali

8. Riwayat kehamilan sekarang

a) G4 P0 A4, UK : 12 minggu 3 hari.

b) HPL : 6 November 2006

c) ANC : Belum pernah

d) Keluhan : IM I

e) TT : 1x capeng

f) Ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan

g) Ibu tidak mempunyai kebiasaan buruk seperti : merokok, minum-

minuman keras dan lain-lain yang mengganggu janin.

9. Riwayat kontrasepsi

Ibu belum pernah memakai kontrasepsi setelah melahirkan ibu ingin

memakai alat kontrasepsi (Pil KB)

10. Riwayat perkawinan

29
Menikah 1x

Lama perkawinan 14 tahun

Umur waktu menikah : 20 tahun, Suami : 24 tahun

11. Pola kebiasaan sehari-hari

a) Nutrisi

Sebelum Makan 3x sehari, porsi nasi, sayur, lauk.

hamil Minum 5-6 gelas/hari air putih dan teh

Selama Makan 3x/sehari, porsi setengah nasi

hamil sayur, lauk.

Minum 5-6 gelas/ hari air putih dan susu

b) Eliminasi

Sebelum BAB 1x/hari konsistensi lunak, kuning

hamil kecoklatan

BAK 3-4x/hari konsistensi lunak, kuning

kecoklatan .

Selama BAB 2x/hari konsistensi lunak, kuning

hamil kecoklatan .

BAK 4-5x/hari, warna kuning jernih

c) Istirahat

Sebelum Tidur malam ±8 jam jarang terbangun

hamil

Tidur siang ± 1-1,5 jam.

Selama Tidur malam ± 8 jam jarang terbangun

hamil

Tidur siang kadang-kadang

30
d) Aktifitas

Sebelum Ibu dapat melakukan pekerjaanya sendiri

hamil tanpa bantuan

Selama Ibu dapat melakukan pekerjaanya kadang-

hamil kadang dengan bantuan

e) Pola hubungan sexualitas

Sebelum 3x/minggu

hamil

Selama 2-3x/ minggu

hamil

f) Personal hygiene

Sebelum Mandi 2x/minggu, gosok gigi 3x/hari, keramas

hamil 1x/2 hari

Selama Mandi 2x/hari, gosok gigi3x/hari, keramas

hamil 1x/2hari.

12. Riwayat psikososial

Emosi ibu stabil, hubungan ibu dengan tetangga dan masyarakat

sekitar terjalin dengan baik, ibu cemas dengan keadaan

kehamilan.

13. Data spiritual

Sebagai pemeluk agama islam ibu rajin menjalankan sholat 5 waktu

31
Data Objektif
1 Keadaan umum : Sedang
2 Kesadaran : Composmentis
3 TTV
TD : 120/70 mmHg
N : 84x/menit
R : 24x/menit
S : 36,9ºC
4 TB : 157 cm
BB sebelum hamil : 48 kg
LILA : 24 cm
BB setelah hamil : 52 kg
5 Pemeriksaan fisik
a. Muka : Berkeringat banyak, mendesis nyeri
b. Mata : Konjungtifa tidak pucat, seclera tidak kuning
c. Genetalia : Tidak terdapat oedem, tidak terdapat varises

6 Ststus obsteri
a. Inspeksi
Muka : Tidak terdapat closma gravidarum
Perut : Tidak terdapat strie gravidarum
Vulva : Keluar darah dari jalan lahir
b. Palpasi
Adomen : Uterus teraba lunak, terdapat nyeri tekan
pada perut bawah, TFU teraba agak keras
7 Pemmeriksaan dalam
Servik : Tertutup
8 Pemeriksaan penunjang
Hb : 14 gr%

32
B. ANALISA DATA

No Data Etiologi MK

1. DS : klien mengeluh sedih Krisis situasional Berduka

terhadap hal yang menimpanya

2. DS : klien mengaku bingung Krisis situasional Cemas

dengan penyakitnya yang selalu

mengalami keguguran

DO : ekspresi wajah klien

selama menunggu tampak

berkeringat banyak

3. DS : Kontraksi uterus Gangguan rasa

P : bertambah jika bergerak yang berlebihan nyaman: nyeri

Berkurang bila klien duduk

R : nyeri di perut bawah

Skala nyeri : 4

Klien merasa mulas-mulas

DO : klien sesekali mendesis

nyeri

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang
berlebihan
2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional
3. Berduka berhubungan dengan krisis situasional

33
D. INTERVENSI

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


1. Nyeri Setelah diberikan  Berikan informasi  Meningkatan
berhubungan asuhan keperawatan dan petunjuk pemecahan
dengan selama 2 x 2 jam antisipasi masalah,
kontraksi uterus diharapkan klien mengenai membantu
yang berlebihan dapat mengontrol penyebab mengurangi nyeri
nyeri yang ketidaknyamanan berkenaan dengan
dibuktikan dengan dan intervensi ansietas dan
Criteria hasil : yang tepat ketakutan karena
 Klien  Evaluasi tekanan ketidaktahuan dan
menyatakan darah (TD) dan memberikan rasa
nyeri hilang/ nadi. Perhatikan control.
terkontrol perubahan  Pada banyak klien
 Ekspresi wajah perilaku (bedakan menyebabkan
tidak antara gelisah
menunjukkan kegelisahan  Merilekskan otot
rasa menahan karena nyeri atau dan mengalihkan
sakit kehilangan darah perhatian dari
 Kualitas nyeri akibat dari proses sensasi nyeri,
menunjukkan pembedahan. meningkatkan
skala 0-3  Ubah posisi klien, kjetidaknyaman
 Perilaku kurangi dan menurunkan
relaksasi rangsangan yang distraksi tidak
 TD 120/80 – berbahaya dan menyenangkan,
130/90 mmHg berikan gosokan meningkatkan rasa
 Nadi 90x/ menit punggung ketidaksejahteraan
 Pola nafas anjurkan .
efektif 24x/ penggunaan  Kembalinya
menit teknik pernafasan kandung kemih
dalam dan normal
relaksasi dan memerlukan 4-7
distraksi hari dan over

34
(rangsangan distena kandung
jaringan kutan) kemih menciptakan
 Palpasi kandung peranan dorongan
kemih, perhatikan dan
adanya rasa ketidaknyamanan.
penuh,  Mengangkat
memudahkan payudara kedalam
berkemih periodik dan keatas
setelah mengakibatkan
pengangkatan posisi lebih
kateter indwelling. nyaman dan
 Anjurkan menurunkan
penggunaan kelelahan otot.
dengan  Napas dalam
penyokong. meningkatkan
 Lakukan latihan upaya pernafasan,
nafas dalam, pembebatan
spirometri intensif menurunkan
dan batuk dengan regangan area
menggunakan insisi dan
prosedur- mengurangi nyeri
prosedur tepat, dan
30 menit setelah ketidaknyaman
pemberian berkenaan dengan
analgesic. gerakan otot
abdomen, baruk
diindikasikan bila
sekresi atau ronki
terdengar.
2. Cemas Setelah diberikan  Kaji respon  Makin klien
berhubungan asuhan keperawatan psikologis mengatakan
dengan krisis selama 2 x 3 jam kejadian dan ancaman makin
situasional diharapkan klien ketersediaan besar tingkat

35
dapat mengatasi system ansietas
ansietas yang pendukung.  Membantu
dibuktikan dengan  Tetap bersama membatasi
Criteria hasil : klien dan tetap transmisi ansietas
 Klien bicara perlahan, interpersonal dan
mengungkapka tunjukkan empati. mendemonstrasika
n rasa takut dari  Beri penguatan n perhatian
masalah aspek positif dari terhadap klien.
 Klien ibu  Memfokuskan
mengungkapka  Anjurkan klien pada kemungkinan
n rasa ansietas atau pasangan keberhasilan hasil
berkurang mengungkapkan akhir dan
 Menggunakan dan membantu
mekanisme mengekspresikan membawa
koping yang perasaan ancaman yang
tepat.  Dukung atau dirasakan.
 Menunjukkan arahkan kembali  Membantu
TTV normal mekanisme mengidentifikasi
koping yang perasaan atau
diekspresikan masalah negative
 Berikan masa dan memberikan
privasi, kurangi kesempatan untuk
rangsang mengatasi
lingkungan. perasaan berduka
 Mendukung
mekanisme koping
dasar otomatik,
meningkatkan
kepercayaan diri
dan penerimaan
menurunkan
ansietas.
 Memungkinkan

36
kesempatan bagi
klien/ pasangan
untuk
menginternalisasi
informasi,
menyusun sumber-
sumber dan
mengatasi dengan
efektik.
3. Berduka Setelah dilakukan Mandiri  Ansietas dan
berhubungan asuhan keperawatan  Kaji status depresimerupakan
dengan selama 1 x 24 jam emosional reaksi yang umum
kehilangan diharapkan klien  Sediakan waktu terhadap kehilangan
calon anggota mampu menerima untuk perubahan/kehilanga
keluarga keadaan yang mendengarkan n yang diasosiasikan
sebenarnya tentang pasien. Dorong dengan penyakit
kematian anaknya ekspresi perasaan jangka panjang atau
yang dibuktikan bebas, tidak kondisi yang
dengan : berdaya dan melemahkan
1. mengidentifikasi keinginan untuk  Akan lebih
dan mati membantu jika
menunjukkan  Kaji potensial mengikuti perasaan
perasaan secara untuk berdiri ini untuk di
cepat  Ikutsertakan orang ekspresikan dan
2. menunjukkan terdekat dalam kemudin diterima
perkembangan diskusi dan daripada
melalui proses aktifitas sampai menyangkalnya.
duka pada tingkat yang  Dapat dihubungkan
3. menikmati masa mereka inginkan dengan penyakit fisik
sekarang dan  Berikan sentuhan  Terdapat
rencana untuk atau pelukan kemungkinan
masa depan, bebas sesuai keberasilan lebih
hari demi hari penerimaan besar dalam

37
individu pemecahan
Kolaborasi masalah.
 Rujuk pada  Menyampaikan
sumber-sumber perasaan perhatian
lain sesuai atau keakraban
indikasi, misalnya untuk mengurangi
special klinik, perrasaan terisolasi
perawat, pekerja dan meningkatkan
social. perasaan harga diri.
Bantu dengan  Mungkin
atau rencanakan membutuhkan
dengan spesifik bantuan lebih lanjut
sesuai kebutuhan untuk memecahka
(misalnya instruksi bebebrapa masalah
lanjutan (untuk  Terpecahnya
menentukan masalah ini dapat
status kode atau membantu pasien
keinginan untuk ,atau orang terdekat
hidup), membuat berhadapan dengan
wasiat pengaturan proses berduka dan
pemakaman) dapat menimbulkan
pikiran damai

E. IMPLENTASI dan EVALUASI

No Tanggal Diagnosa Implementasi Respon


1. 27 Juli 2017 Gangguan 1) Mengajarkan klien tehnik S : - Klien menyatakan nyeri
rasa nyaman non farmakologis untuk belum berkurang
: Nyeri mengurangi nyeri yaitu - Klien dapat melakukan
tehnik relaksasi dengan nafas dalam
2) Mengajarkan tehnik untuk dapat mengurangi rasa
nafas dalam untuk nyeri
mengurangi nyeri O : TD : 120/80 mm hg
3) Membanu ibu untuk RR : 20x/menit

38
meningkatkan rasa nyaman N : 80x/menit
dengan mengambil data A : Teratasi sebagian
klien tentang karakteristik P : - Ulangi pengukuran TTV
nyeri secara periodic
4) Mengukur TD, RR dan nadi - Evaluasi rentang nyeri
setiap 1-2 menit klien
- Berikan lingkungan yang
tenang
- Berikan instruksi nafas
dalam
2. 27 Juli 2017 Cemas 1) Pantau suhu dan nadi S : - Klien kelihatan tenang
dengan rutin sesuai indikasi saat ganti balutan luka
tampak kering
2) Catat karakteristik balutan O : Kemerahan (+), Ekimosis
dan luka (-), Pus (-), Edema (-)
A : Jahitan mulai menyatu
P : berikan pendidikan
kesehtan tentang
perawatan luka bekas
insisi pembedahan
3. 27 Juli 2017 Berduka 1. Membantu klien untuk S:
mengidentifikasi reaksi awal Klien mengatakan akan
terhadap adanya suatu mencoba minum susu setiap
kehilangan akan pergi tidur
2. Mendukung ekspresi Klien mengungkapkan
perasaan tentang perasaannya.
kehilangan O : klien kelihatan lebih tenang
3. Membantu untuk A : kaji perasaan klien tentang
mengidentifikasi strategi strategi koping yang telah
koping diajarkan
4. Anjurkan klien untuk minum P : bantu klien
susu sebelum mau tidur mengungkapkan perasaannya

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Evelyn C. pearce. 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

2. Didik Tjindarbumi, Dkk. 2001. Pencegahan, Diagnosis Dini, Dan Pengobatan

Penyakit Kanker. Yayasan Kanker Indonesia : Jakarta.

3. Doengoes, M. Rencana Perawatan Maternitas / Bayi, Egc : Jakarta. 2001.

4. Suzanne C. Smeltzer. Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta : Egc.

5. Budiana, Gede Nyoman. 2009. Koriokarsinoma Pasca Abortus. Bag/SMF

Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/RSUP Sanglah : Denpasar

6. Prawirohardjo, Sarwono.2009. Ilmu Kandungan, Edisi Ketiga. Pt. Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
7. Herdman, T. Heather.2012.Buku NANDA Internasional Diagnosis

Keperawatan. Jakarta : EGC

40