Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMUA

PEMANFAAT KLT DALAM IDENTIFIKASI KURKUMIN

I. Tujuan
Mahasiswa dapat melakukan analisis dan identifikasi kurkumin dengan
kromatografi lapis tipis.

II. Dasar Teori


Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan tertentu dengan menggunakan dua
fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua
fasa ini. Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat dari fasa
gerak, yang dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa tetap berupa zat padat maka
cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan (absorption chromatography)
(Sastrohamidjojo, H., 1996).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah suatu teknik yang sederhana dan banyak
digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastic yang ditutupi
penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk silica gel, alumina, selulosa dan
poliamida. Untuk menotolkan larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada dasarnya
digunakan mikro pipet/pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dan lempeng dicelup
dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang tertutup (chamber) (Rudi, 2010). Pada KLT,
mekanisme yang terjadi adalah proses adsorpsi. Senyawa yang akan dipisahkan ikut
bergerak bersama fase gerak, selama senyawa bergerak terjadi proses adsorpsi komponen
oleh adsorben yang bertindak sebagai fase diam. Akibat adanya perbedaan koefisien
adsorpsi pada senyawa-senyawa dalam komponen yang akan dipisahkan, maka terjadi
perbedaan kecepatan gerakan senyawa-senyawa yang dibawa fase gerak, sehingga
menyebabkan terjadinya pemisahan.

III. Alat dan Bahan

a. Alat : b. Bahan :
1. Chamber 1. N-heksana
2. Lempeng kromatografi lapis tipis 2. Etil Asetat
3. Beaker glass 3. Etanol
4. Gelas ukur 4. Ekstrak Temulawak
5. Cawan uap
6. Penggaris
7. Gunting
8. Fluoresen
9. Pinset
10. Pipa kapiler
11. Pensil kayu

IV. Prsoedur
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang ekstrak temulawak 0,5 gram dengan menggunakan neraca analitik.
3. Dilarutkan ekstrak temulawak dengan 10 ml etanol.
4. Disiapkan eluen n-heksana : Etil Asetat (3:2).
5. Dimasukkan kertas saring, lalu memasukkan eluen n-heksana : Etil Asetat (3:2)
sebanyak 25 ml kedalam chamber dan biarkan hingga jenuh.
6. Ditotolkan sampel keatas lempeng kromatografi lapis tipis sebanyak 2 kali
menggunakan pipa kapiler.
7. Dimasukkan lempeng kromatografi lapis tipis kedalam chamber yang sudah jenuh
menggunakan pinset.
8. Ditunggu sampai eluen terserap sampai batas atas pada lempeng kromatografi lapis
tipis.
9. Disinari lempeng kromatografi lapis tipis dengan sinar fluoresen.
10. Diberi tanda pada spot noda yang ada.
11. Dihitung nilat Rf
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛
Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛

V. Hasil Pengamatan
1). Jarak tempuh komponen = 5,3 cm
Jarak tempuh eluen = 8 cm
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛
Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛
5,3 𝑐𝑚
Rf = = 0,66
8 𝑐𝑚

2). Jarak tempuh komponen = 1,5 cm


Jarak tempuh eluen = 8 cm
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛
Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛
1,5 𝑐𝑚
Rf = = 0,19
8 𝑐𝑚

3). Jarak tempuh komponen = 1,1 cm


Jarak tempuh eluen = 8 cm
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛
Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛
1,1 𝑐𝑚
Rf = = 0,14
8 𝑐𝑚

VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan identifikasi kurkumin menggunakan
kromatografi lapis tipis. Praktikum ini bertujuan untuk melakukan analisis dan
identifikasi kurkumin dan menghitung nilai Rf kurkumin. Eluen yang digunakan yaitu n-
heksana : Etil Asetat (3:2). Sampel yang digunakan yaitu ekstrak temulawak sebanyak
0,5 gram. Sebelum praktikum, sampel dilarutkan terlebih dahulu dalam 10 ml etanol.
Eluen yang digunakan pada praktikum ini yaitu n-heksana : Etil Asetat (3:2) sebanyak 25
ml.
Pada proses penjenuhan chamber dalam praktikum, kertas saring dimasukkan
kedalam chamber tersebut, yang bertujuan untuk melihat dan mengetahui bahwa chamber
sudah jenuh atau belum. Kertas saring yang sudah terbasahi secara keseluruhan
menunjukkan chamber sudah dalam keadaan jenuh. Dalam keadaan jeunuh tersebut eluen
dimasukkan. Tujuan dilakukan penjenuhan chamber yaitu agar tidak terjadi trailir pada
noda yang dihasilkan. Sehingga dapat diketahui nilai Rf. Lempeng kromatografi lapis
tipis yang digunakan mempunyai panjang 10 cm dan lebar 1 cm. batas atas memiliki
ukuran 1,5 cm dan batas bawah memiliki ukuran 0,5 cm. batas bawah tidak boleh di
gambar garis sampai ujung kromatografi lapis tipis, tetapi hanya ditandai dengan titik
dikarenakan titik tersebut sebagai tempat penotolan sampel, sehingga tidak trailing
karena pensil mengandung grafit yang akan ikut terangkat dengan sampel. Penotolan
sampel dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler.
Nilai Rf yang didapat pada praktikum kali in yaitu 0,66, 0,19 dan 0,14. Kurkumin
merupakan senyawa kurkuminoid yang merupakan pigmen warna kuning atau kuning
jingga dan berasa pahit. Struktur kimia kurkuminoid terdiri atas kurkumin,
demetoksikurkumin, bidesmetoksikurkumin. Intensitas kurkuminoid dari tertinggi ke
rendah berturut-turut adalah kurkumin, demetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin.
Senyawa kurkumin bersifat nonpolar sehingga akan terelusi dengan fase gerak dan
menghasilkan nilai Rf yang cukup tinggi. Sedangkan demtoksikurkumin dan
bidesmetoksikurkumin sedikit terlihat karena jumlahnya tidak terlalu banyak.

VII. Kesimpulan
1. Eluen yang digunakan n-heksana : Etil Asetat (3:2).
2. Sampel yang digunakan ekstrak temulawak.
3. Nilai Rf kurkumin yaitu 0,66, nilai Rf demtoksikurkumin yaitu 0,19 dan nilai Rf
bidesmetoksikurkumin yaitu 0,14.

VIII. Daftar Pustaka


Anonim. 2008. Buku Pintar Tanamn Obat. Jakarta : PT. Agromedia Pustaka
Rudi. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik. Kendari : Universitas Haluelo
Sastrohamidjojo, H. 1996. Sintesis Bahan AlAM. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Press