Anda di halaman 1dari 2

Ketangguhannya terlahir dari jam terbang dan pengalaman.

Di usianya yang semakin mapan, Jiwasraya


makin piawai memahami kebutuhan nasabah.

Berhasil mempertahankan kinerja tetap stabil di tengah kondisi makro ekonomi yang sangat menantang
seperti saat ini, tentu bukan pekerjaan mudah. Namun, Asuransi Jiwasraya mampu membuktikannya.
Dalam rating asuransi 2015 versi Infobank, kinerja keuangan perusahaan asransi jiwa nasional yang
berdiri pada 1859 ini meraih predikat sangat bagus dan menjadi perusahaan asuransi dengan kinerja
keuangan terbaik di kelasnya.

Berdasarkan rating tersebut, Jiwasraya meraih skor sempurna di beberapa kriteria penilaian, diantaranya
likuiditas, aset, rasio kecukupan investasi, pertumbuhan premi, efisiensi dan pencapaian laba. Sampai
dengan 2014, aset Jiwasraya tumbuh 22,02%. Ditengah ketatnya kompetisi dan gejolak makro yang
mempengaruhi bisnis asuransi, Jiwasraya masih membukukan pertumbuhan premi sebesar 10,20%.
Perusahaan yang dinahkodai oleh Hendrisman Rahim selaku Direktur Utama ini bahkan mampu
mengantongi pertumbuhan laba sebesar 44,86% menjadi Rp680,52 miliar.

Hendrisman mengatakan, salah satu kunci keberhasilan Jiwasraya dalam menjaga performanya adalah
fokus pada peningkatan produktifitas tenaga pemasaran, dan senantiasa meningkatkan pelayanan.
“Portofolio kami yang banyak menjual tradisional produk turut berkontribusi terhadap pertumbuhan.
Begitu juga dengan bisnis employee benefit yang ikut menopang pendapatan” terang Hendrisman.

Beberapa produk unggulan Jiwasraya yang saat ini diminati nasabah adalah produk-produk endowment,
education plan (JS Prestasi) dan annuity Pensiun Mandiri. Sementara untuk produk-produk yang dijual
melalui bancassurance diantaranya endowment, dan juga proteksi income. ”Jiwasraya memiliki tiga
produk unggulan yakn, JS Prestasi (asuransi pendidikan), JS PRO MAPAN (Unit Link) dan JS Siharta
(endowment)” imbuh De Yong Adrian, Direktur Marketing Jiwasraya.

Dari sisi jalur distribusi pemasaran, ada bebrapa hal yang kini tengah dilakukan Jiwasraya, yakn pertama,
mengoptimalkan peran Branch Office Existing sebagai salah satu kekuatan Jiwasraya yang tidak dimiliki
perusahaan asuransi jiwa yang lain. Saat ini, Jiwasraya telah memiliki 15 kantor Wilayah, 71 kantor
cabang dan 107 kantor unit kabupaten yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kedua, memaksimalkan jalur distribusi pemasaran bancassurance dengan menawarkan produk-produk


unggulan Jiwasraya. Produk yang ditawarkan melalui bancassurance khusus didesain sesuai dengan
kebutuhan nasabah, baik untuk mass market maupun nasabah premium.

Ketiga, melalui strategi aliansi, yakni menjalin kemitraan dengan sejumlah lembaga atau instansi. Saat ini
Jiwasraya sudah bekerjasama dengan Permodalan Nasional Madani(PNM) melalui layanan ULAMM-nya,
Askrindo dan Jamkrindo untuk mengcover kredit KUR (Kredit Usaha Rakyat), serta Koperasi Wanita
Indonesia.

De Yong mengatakan, dalam rangka meningkatkan perolehan premi, Jiwasraya mengusung lima strategi.
Satu, merevitalisasi productivity kantor pemasaran. Dua, menjadikan based customer dalam program
intensifikasi pasar dalam bentuk up selling atau crosselling.
Tiga, melakukan program ekstensifikasi yakni memanfaatkan personal selling dari agen untuk
menciptakan pasar baru dan menciptakan portofolio baru. Empat, meningkatkan Service Level
Agreement (SLA) yang sejak 2014 sudah didukung oleh sistem IT yang semakin canggih untuk
mendukung proses pelayanan dan kecepatan membayar klaim. Dan lima, meningkatkan layanan dalam
hal collection untuk mempermudah pembayaran premi.

Saat ini, nasabah Jiwasraya memiliki beberapa alternatif dalam membayar premi, yakni melalui
autodebet, kartu kredit, payment point, house to house, dan juga yang saat ini tengah dirintis melalui
payment gateway.

Menghadapi 2015, tantangan terasa lebih berat ketimbang tahun sebelumnya. Namun, Jiwasraya
memiliki optimisme yang tinggi untuk tetap tumbuh dan berkembang. Optimisme itu terbangun dari
sejumlah strategi yang telah disusun.

Tahun ini, Jiwasraya akan menyegmentasi kembali pasarnya untuk menentukan levering service-nya
kepada nasabah. Selain me- levering service, Jiwasraya juga akan me- levering tenaga penjualnya,
menyegmentasi produk dan meningkatkan perbaikan di support system untuk mendukung pelayanan.

Harus diakui, saat ini industri mengalami perlambatan sebagai imbas dari kondisi makro ekonomi yang
diliputi ketidakpastian. “Untuk menghadapi situasi seperti saat ini, Jiwasraya banyak melakukan cash
reserve dan memilih untuk konservatif dalam penempatan investasi. Jiwasraya juga melakukan switching
beberapa investasinya ke instrumen yang sifatnya lebih ke fixed income” terang Hary Prasetyo, Direktur
Keuangan Jiwasraya.

Hingga semester I 2015, Jiwasraya telah membukukan premi sebesar Rp 5,82 triliun. Pada periode
tersebut, laba sebelum pajak mencapai Rp 364 miliar. Dan asetnya telah mencapai Rp 22,16 triliun.

Untuk meningkatkan pendapatannya, Jiwasraya mendorong peningkatan kualitas underwriting.


Sementara, untuk mendukung bisnis, sejumlah proses telah dilakukan secara real time on line. Dengan
berbagai strategi ini, Jiwasraya optimis tahun ini dapat tumbuh positif.

Infobank, Agustus 2015 Hal 58-59