Anda di halaman 1dari 30

Akidah (Bahasa Arab: ُ‫ ;اَ ْل َع ِق ْيدَة‬transliterasi: Aqidah) dalam istilah Islam yang berarti iman.

Semua
sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah.

Etimologi

Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-'aqdu (ُ‫)العَ ْقد‬ ْ yang berarti ikatan, at-tautsiiqu
(ُ‫ )التَّ ْوثِيْق‬yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (ُ‫ )اْ ِإلحْ كَام‬yang artinya
mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (ُ‫الربْط‬ َّ ُ‫ ) ِبق َّوة‬yang berarti mengikat
dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi): 'akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak
ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.[1]

Jadi, Akidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan
segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid[2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-
malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan
mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin),
perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari Salafush
Shalih, serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah
yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma' Salaf as-
Shalih.[3]

Pembagian akidah tauhid

Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi
Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang
mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut
mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini
termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

 Tauhid Al-Uluhiyyah,
mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya
semata.
 Tauhid Ar-Rububiyyah,
mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya
Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.
 Tauhid Al-Asma' was-Sifat,
mengesakan Allah dalam asma dan sifat-Nya, artinya mengimani bahwa tidak ada
makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmad
berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat
dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang-
tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh
Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk
yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau
berdasarkan nash yang benar.[4]

Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah
ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud
dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan
Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di
muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah
dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah
pada surat Yusuf ayat 40.[5]
Tauhid: Pentingnya Akidah Dalam Kehidupan Seorang Insan

Kategori: Aqidah

23 Komentar // 11 Desember 2008

Akidah secara bahasa artinya ikatan. Sedangkan secara istilah akidah artinya keyakinan hati dan
pembenarannya terhadap sesuatu. Dalam pengertian agama maka pengertian akidah adalah
kandungan rukun iman, yaitu:

1. Beriman dengan Allah


2. Beriman dengan para malaikat
3. Beriman dengan kitab-kitab-Nya
4. Beriman dengan para Rasul-Nya
5. Beriman dengan hari akhir
6. Beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk

Sehingga akidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan
di dalam hati seseorang (lihat At Tauhid lis Shaffil Awwal Al ‘Aali hal. 9, Mujmal Ushul hal. 5)

Kedudukan Akidah yang Benar

Akidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini
sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

ُْ ‫ع َمال فَ ْليَ ْع َم‬


ُ‫ل َُر ِِّب ُِه ِلقَا َُء يَ ْرجو كَانَُ فَ َم ْن‬ َ ‫صا ِل ًحا‬ ُْ ‫أَ َحدًا َر ِِّب ُِه ِب ِعبَادَةُِ ي ْش ِر‬
َ ‫ك َوال‬

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal
shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-
Nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

ْ‫ي َولَقَ ُد‬ ِ ‫ن الَّذِينَُ َوإِلَى إِلَيْكَُ أ‬


َُ ‫وح‬ ُْ ِ‫ن أ َ ْش َر ْكتَُ لَئ‬
ُْ ‫ن قَ ْب ِلكَُ ِم‬ َُّ ‫ْالخَا ِس ِرينَُ ِمنَُ َولَتَكون‬
َ َ‫َن َع َملكَُ لَيَحْ ب‬
َُّ ‫ط‬

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila
kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk
golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri
dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan akidah
sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para
Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan
kepada selain-Nya.
Hal ini telah diberitakan oleh Allah di dalam firman-Nya:

ُْ‫ل ِفي َب َعثْنَا َولَقَد‬ ُِ َ ‫ّللاَ اعْبدوا أ‬


ُِِّ ‫ن َرسوال أ َّمةُ ك‬ َّ ‫ال‬
َُّ ‫طاغوتَُ َواجْ تَ ِنبوا‬

“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah
Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)’” (QS. An Nahl: 36)

Bahkan setiap Rasul mengajak kepada kaumnya dengan seruan yang serupa yaitu, “Wahai
kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang benar) bagi kalian selain Dia.” (lihat QS. Al
A’raaf: 59, 65, 73 dan 85). Inilah seruan yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan
seluruh Nabi-Nabi kepada kaum mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Mekkah sesudah beliau diutus sebagai Rasul
selama 13 tahun mengajak orang-orang supaya mau bertauhid (mengesakan Allah dalam
beribadah) dan demi memperbaiki akidah. Hal itu dikarenakan akidah adalah fondasi tegaknya
bangunan agama. Para dai penyeru kebaikan telah menempuh jalan sebagaimana jalannya para
nabi dan Rasul dari jaman ke jaman. Mereka selalu memulai dakwah dengan ajaran tauhid dan
perbaikan akidah kemudian sesudah itu mereka menyampaikan berbagai permasalahan agama
yang lainnya (lihat At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 9-10).

Sebab-Sebab Penyimpangan dari Akidah yang Benar

Penyimpangan dari akidah yang benar adalah sumber petaka dan bencana. Seseorang yang
tidak mempunyai akidah yang benar maka sangat rawan termakan oleh berbagai macam
keraguan dan kerancuan pemikiran, sampai-sampai apabila mereka telah berputus asa maka
mereka pun mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengenaskan yaitu dengan bunuh
diri. Sebagaimana pernah kita dengar ada remaja atau pemuda yang gantung diri gara-gara
diputus pacarnya.

Begitu pula sebuah masyarakat yang tidak dibangun di atas fondasi akidah yang benar akan
sangat rawan terbius berbagai kotoran pemikiran materialisme (segala-galanya diukur dengan
materi), sehingga apabila mereka diajak untuk menghadiri pengajian-pengajian yang membahas
ilmu agama mereka pun malas karena menurut mereka hal itu tidak bisa menghasilkan
keuntungan materi. Jadilah mereka budak-budak dunia, shalat pun mereka tinggalkan, masjid-
masjid pun sepi seolah-olah kampung di mana masjid itu berada bukan kampungnya umat
Islam. Alangkah memprihatinkan, wallaahul musta’aan (disadur dari At Tauhid Li Shaffil Awwal
Al ‘Aali, hal. 12)

Oleh karena peranannya yang sangat penting ini maka kita juga harus mengetahui sebab-sebab
penyimpangan dari akidah yang benar. Di antara penyebab itu adalah:

1. Bodoh terhadap prinsip-prinsip akidah yang benar. Hal ini bisa terjadi karena sikap tidak
mau mempelajarinya, tidak mau mengajarkannya, atau karena begitu sedikitnya
perhatian yang dicurahkan untuknya. Ini mengakibatkan tumbuhnya sebuah generasi
yang tidak memahami akidah yang benar dan tidak mengerti perkara-perkara yang
bertentangan dengannya, sehingga yang benar dianggap batil dan yang batil pun
dianggap benar. Hal ini sebagaimana pernah disinggung oleh Umar bin Khaththab
radhiyallahu ‘anhu, “Jalinan agama Islam itu akan terurai satu persatu, apabila di
kalangan umat Islam tumbuh sebuah generasi yang tidak mengerti hakikat jahiliyah.”
2. Ta’ashshub (fanatik) kepada nenek moyang dan tetap mempertahankannya meskipun
hal itu termasuk kebatilan, dan meninggalkan semua ajaran yang bertentangan dengan
ajaran nenek moyang walaupun hal itu termasuk kebenaran. Keadaan ini seperti
keadaan orang-orang kafir yang dikisahkan Allah di dalam ayat-Nya, “Dan apabila
dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada kalian!’
Mereka justru mengatakan, ‘Tidak, tetapi kami tetap akan mengikuti apa yang kami
dapatkan dari nenek-nenek moyang kami’ (Allah katakan) Apakah mereka akan tetap
mengikutinya meskipun nenek moyang mereka itu tidak memiliki pemahaman sedikit
pun dan juga tidak mendapatkan hidayah?” (QS. Al Baqarah: 170)
3. Taklid buta (mengikuti tanpa landasan dalil). Hal ini terjadi dengan mengambil
pendapat-pendapat orang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui landasan dalil
dan kebenarannya. Inilah kenyataan yang menimpa sekian banyak kelompok-kelompok
sempalan seperti kaum Jahmiyah, Mu’tazilah dan lain sebagainya. Mereka mengikuti
saja perkataan tokoh-tokoh sebelum mereka padahal mereka itu sesat. Maka mereka
juga ikut-ikutan menjadi tersesat, jauh dari pemahaman akidah yang benar.
4. Berlebih-lebihan dalam menghormati para wali dan orang-orang saleh. Mereka
mengangkatnya melebihi kedudukannya sebagai manusia. Hal ini benar-benar terjadi
hingga ada di antara mereka yang meyakini bahwa tokoh yang dikaguminya bisa
mengetahui perkara gaib, padahal ilmu gaib hanya Allah yang mengetahuinya. Ada juga
di antara mereka yang berkeyakinan bahwa wali yang sudah mati bisa mendatangkan
manfaat, melancarkan rezeki dan bisa juga menolak bala dan musibah. Jadilah kubur-
kubur wali ramai dikunjungi orang untuk meminta-minta berbagai hajat mereka.
Mereka beralasan hal itu mereka lakukan karena mereka merasa sebagai orang-orang
yang banyak dosanya, sehingga tidak pantas menghadap Allah sendirian. Karena itulah
mereka menjadikan wali-wali yang telah mati itu sebagai perantara. Padahal perbuatan
semacam ini jelas-jelas dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau
bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-
kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari). Beliau memperingatkan
umat agar tidak melakukan sebagaimana apa yang mereka lakukan Kalau kubur nabi-
nabi saja tidak boleh lalu bagaimana lagi dengan kubur orang selain Nabi ?
5. Lalai dari merenungkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun qur’aniyah. Ini
terjadi karena terlalu mengagumi perkembangan kebudayaan materialistik yang
digembar-gemborkan orang barat. Sampai-sampai masyarakat mengira bahwa
kemajuan itu diukur dengan sejauh mana kita bisa meniru gaya hidup mereka. Mereka
menyangka kecanggihan dan kekayaan materi adalah ukuran kehebatan, sampai-sampai
mereka terheran-heran atas kecerdasan mereka. Mereka lupa akan kekuasaan dan
keluasan ilmu Allah yang telah menciptakan mereka dan memudahkan berbagai perkara
untuk mencapai kemajuan fisik semacam itu. Ini sebagaimana perkataan Qarun yang
menyombongkan dirinya di hadapan manusia, “Sesungguhnya aku mendapatkan
hartaku ini hanya karena pengetahuan yang kumiliki.” (QS. Al Qashash: 78). Padahal apa
yang bisa dicapai oleh manusia itu tidaklah seberapa apabila dibandingkan kebesaran
alam semesta yang diciptakan Allah Ta’ala. Allah berfirman yang artinya, “Allah lah yang
menciptakan kamu dan perbuatanmu.” (QS. Ash Shaffaat: 96)
6. Kebanyakan rumah tangga telah kehilangan bimbingan agama yang benar. Padahal
peranan orang tua sebagai pembina putra-putrinya sangatlah besar. Hal ini
sebagaimana telah digariskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap bayi
dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya
Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari). Kita dapatkan anak-anak telah besar di
bawah asuhan sebuah mesin yang disebut televisi. Mereka tiru busana artis idola,
padahal busana sebagian mereka itu ketat, tipis dan menonjolkan aurat yang harusnya
ditutupi. Setelah itu mereka pun lalai dari membaca Al Qur’an, merenungkan makna-
maknanya dan malas menuntut ilmu agama.
7. Kebanyakan media informasi dan penyiaran melalaikan tugas penting yang mereka
emban. Sebagian besar siaran dan acara yang mereka tampilkan tidak memperhatikan
aturan agama. Ini menimbulkan fasilitas-fasilitas itu berubah menjadi sarana perusak
dan penghancur generasi umat Islam. Acara dan rubrik yang mereka suguhkan sedikit
sekali menyuguhkan bimbingan akhlak mulia dan ajaran untuk menanamkan akidah
yang benar. Hal itu muncul dalam bentuk siaran, bacaan maupun tayangan yang
merusak. Sehingga hal ini menghasilkan tumbuhnya generasi penerus yang sangat asing
dari ajaran Islam dan justru menjadi antek kebudayaan musuh-musuh Islam. Mereka
berpikir dengan cara pikir aneh, mereka agungkan akalnya yang cupet, dan mereka
jadikan dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits menuruti kemauan berpikir mereka. Mereka
mengaku Islam akan tetapi menghancurkan Islam dari dalam. (disadur dengan
penambahan dari At Tauhid li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12-13).

Dari artikel Tauhid: Pentingnya Akidah Dalam Kehidupan Seorang Insan — Muslim.Or.Id by null
Pengenalan

1. Akidah dari segi bahasa bererti simpulan iman ataupun pegangan yang kuat atau satu
keyakinan yang menjadi pegangan yang kuat
2. Akidah dari sudut istilah ialah kepercayaan yang pasti dan keputusan yang muktamat
tidak bercampur dengan syak atau keraguan pada seseorang yang berakidah sama ada
akidah yang betul atau sebaliknya
3. Akidah Islam ialah kepercayaan dan keyakinan terhadap Allah sebagai rabb dan ilah
serta beriman dengan nama-namaNya dan segala sifat-sifatNya juga beriman dengan
adanya malaikat, kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhirat dan beriman dengan taqdir Allah
sama ada baik atau buruk termasuk juga segala apa yang dating dari Allah. Seterusnya
patuh dan taat pada segala ajaran dan petunjuknya. Oleh itu, akidah Islam ialah
keimanan dan keyakinan terhadap Allah dan RasulNya serta apa yang dibawa oleh Rasul
dan dilaksanakan dalam kehidupan

Pengertian Akidah

1. Ilmu yang membicarakan perkara-perkara yang berkaitan keyakinan terhadap Allah swt
dan sifat-sifat kesempurnaanNya.
2. Setiap umat Islam wajib mengetahui, mempelajari dan mendalami ilmu akidah supaya
tidak berlaku perkara-perkara yang membawa kepada penyelewengan akidah kepada
Allah swt
3. Akidah sebenar adalah akidah yang berdasarkan pada al-Quran dan As-Sunnah

Ilmu Akidah

Ilmu Tauhid

Ilmu yang menerangkan tentang sifat Allah swt yang wajib diketahui dan dipercayai

Ilmu Usuluddin

Suatu ilmu yang kepercayaan dalam agama Islam, iaitu kepercayaan kepada Allah swt dan
pesuruhNya

Ilmu Makrifat

Suatu ilmu yang membahaskan perkara-perkara yang berhubung dengan cara-cara mengenal
Allah swt

Ilmu Kalam

Sesuatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil aqliah (ilmiah) sebagai perisai
terhadap segala tentangan daripada pihak lawan
Ilmu Akidah

Suatu ilmu yang membahas tentang perkara-perkara yang berhubung dengan keimanan kepada
Allah swt

Huraian Rukun Iman

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Umar Ibni Al-Khattab r.a bahawa di dalam
pertemuan malaikat Jibril dengan Rasulullah saw di dalam sebuah majlis yang dihadiri oleh
ramai sahabat-sahabat Rasulullah saw maka Jibril telah mengemukakan pertanyaan kepada
Rasulullah saw yang bermaksud:-

“Jibril telah berkata kepada Rasulullah, kamu terang kepadaku mengenai iman maka jawab
Rasulullah, iman itu ialah bahawa kami beriman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-
kitab, kepada rasul-rasul, kepada hari kemudian dan kamu beriman bahawa habuan dan
peruntukan bagi kamu sama ada baik atau buruk adalah semua daripada Allah swt, maka Jibril
pun berkata kamu telah berkata benar.”

Jadi, dari ayat Al-Quran dan hadith dapatlah disimpulkan bahawa iman itu ialah 6 perkara iaitu:

1. Percaya kepada Allah


2. Percaya kepada Malaikat
3. Percaya kepada Kitab
4. Percaya kepada Rasul
5. Percaya kepada Hari Kiamat
6. Percaya kepada Qada’ dan Qadar

Percaya Kepada Allah Swt

Erti beriman dengan Allah Ta’ala itu ialah mengetahui, percaya dan beriktikad dengan perkara-
perkara yang wajib, perkara-perkara mustahil dan perkara yang harus bagi Allah Ta’ala.

Beriman dengan Allah juga bermaksud:

1. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah


2. Membenarkan dengan yakin akan keEsaan Allah, baik dalam perbuatanNya menjadikan
alam dan makhluk seluruhnya mahupun dalam menerima ibadat setiap makhluk
3. Membenarkan dengan yakin bahawa Allah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan,
suci dari segala kekurangan dan suci juga dari menyerupai segala yang baharu
“Wahai sekalian manusia! Beribadatlah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang terdahulu daripada kamu supaya kamu (menjadi orang-orang yang )
bertaqwa –

(Surah Al-Baqarah:21)

Ertinya bahawa Allah itu adalah pencipta setiap benda yang ada di ala ini termasuk bumi langit
dan planet-planet yang lain, yang dapat dilihat atau tidak, semuanya adalah kepunyaan Allah
swt

Percaya kepada Allah ini adalah pokok kepada kepercayaan atau rukun-rukun iman yang lain
kerana dengan adanya Allah maka adanya yang lain-lain itu.

1. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyyah Allah swt


2. Tauhid Rububiyah bermaksud hanya Allah sahaja sebagai Rabb (pencipta, pemilik,
pemerintah, memberi rezeki dan seumpamanya). Tidak boleh dijadikan, dianggap atau
dirasakan yang lain sebagai rabb atau bersama-sama Allah menjadi Rabb.
3. Tauhid Uluhiyyah bermaksud orang Islam yang beriman dengan keimanan yang sebenar,
dia hanya mengambil Allah sebagai Ilah. Dia tidak meletakkan Allah bersama-sama yang
lain sebagai Ilah. Allah sahaja sebagai pujaan dan sembahannya. Maklud Ilah ialah
sesuatu yang dipuja dan disembah.
4. Mempelajari dan memahami ajaran Allah
5. Maksud beriman kepada Allah juga sepatutnya kita mempelajari dan memahami segala
yang datang daripada Allah melalui RasulNya sama ada dalam al-Quran atau al-Sunnah.
Maksud beriman kepada Allah bukan sekadar percaya tentang kewujudan Allah tetapi
termasuk juga segala apa yang datang daripada Allah swt

Yakin dan Melaksanakan Petunjuk Allah swt


Antara maksud dan tuntutan iman kepada Allah ialah yakin terhadap apa yang datang daripada
Allah. Yakin dengan kebenaran, kesempurnaan Islam sebagai satu Din yang shamil dan kamil
serta terbaik

Percaya kepada Malaikat

Ertinya ialah bahawa Allah telah menjadikan sejenis makhluk halus yang keadaan asalnya tidak
boleh dilihat, bukan lelaki dan bukan perempuan. Hidup mereka sentiasa taat kepada perintah
Allah tanpa sesekali menderhakainya. Malaikat dijadikan oleh Allah daripada cahaya. Sabda
Rasulullah saw (terjemahanya):
”Malaikat itu dijadikan daripada cahaya, jin dijadikan daripada api yang tidak berasap &
dijadikan nabi Allah Adam sebagaimana yang diterangkan iaitu daripada tanah”–(Hadith riwayat
Muslim)

Nama dan Tugas Malaikat

1. Jibril – Menyampaikan wahyu dan perintah Allah kepada nabi-nabi & rasul-rasulNya
untuk disampaikan kepada manusia
2. Mikail – Mengawal cekerawala termasuk matahari, bulan, bintang-bintang, hujan &
panas dan lain mengikut yang dikehendaki oleh Allah
3. Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk yang bernyawa apabila sudah sampai waktu
yang dikehendaki oleh Allah
4. Israfil – Meniup sengkekala apabila tiba masanya
5. Raqib – Mencatit amalan baik yang dilakukan oleh manusia
6. Atid – Mencatit amalan jahat yang dilakukan oleh manusia
7. Mungkar – Menyoal manusia di dalam kubur
8. Nakir – Menyoal manusia di dalam kubur
9. Ridhwan – Mengawal syurga
10. Malik – Mengawal neraka

Antara tugas-tugas Malaikat seperti:

1. Membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul


2. Bertasbih dan patuh dan sujud pada Allah
3. Memikut Arsy
4. Berdoa untuk orang-orang beriman

Peranan Malaikat di Akhirat seperti memberi salam pada ahli syurga, mengazab ahli neraka dan
seumpamanya

Hikmat Beriman Kepada Malaikat

1. Seseorang itu menyedari bahawa dia sentiasa diawasi oleh Malaikat maka dia akan
sentiasa menjaga tingkah laku yang berkelakuan baik, menjaga tutur kaya yang walau
dimana dia berada
2. Seseorang akan segera insaf dan tidak mengulangi kesalahan dan kesilapan kerana
menyedari setiap tutur kata dan gerak laku yang tidak terlepas daripada catitan
Malaikat Raqib & Atid
3. Seseorang muslim akan sentiasa melakukan apa yang disuruh Allah dan menghindar apa
yang dilarang Allah supaya selamat di alam kubur kerana dia mengetahui apabila dia
mati, dia akan ditanya dan diseksa oleh Malaikat di dalam kubur
Percaya Kepada Kitab

Orang-orang Islam wajib percaya bahawa Allah swt telah menurunkan beberapa buah kitab
kepada rasul-rasulNya. Isi pengajaran kitab-kitab itu adalah mengandungi ajaran-ajaran
mengenai amal ibadat untuk akhirat dan juga petunjuk-petunjuk untuk memperbaiki kehidupan
manusia di dunia

Kitab-kitab yang wajib diketahui ialah:

1. Zabur : Nabi Daud (dalam bahasa Qibti)


2. Taurat : Nabi Musa (dalam bahasa Ibrani)
3. Injil : Nabi Isa (dalam bahasa Suryani)
4. Al-Quran : Nabi Muhammad saw (dalam bahasa Arab)

Firman Allah swt yang bermaksud:

”Pada mulanya manusia itu adalah umat yang satu (menurut agama Allah yang satu tetapi
akhirnya mereka telah berselisih faham), maka Allah telah mengutuskan nabi-nabi sebagai
pemberi khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman dengan balasan syurga), dan
pemberi amaran (kepada yang engkar dengan balasan azab neraka), dan Allah menurunkan
bersama nabi-nabi itu kitab-kitab suci yang mempunyai keterangan-keterangan benar untuk
menjalankan hukuman di antara manusia mengenai apa yang mereka pertikaikan”

(Surah Al-Baqarah: 213)

Al-Quran merupakan kitab terakhir sekali diturunkan oleh Allah & penutup kepada segala kitab-
kitab yang terdahulu

Percaya Kepada Rasul

Seseorang Islam diwajibkan beriman bahawa Allah telah mengutuskan beberapa orang rasul
yang dipilihNya daripada jenis manusia yang cukup sempurna. Mereka membimbing manusia
kepada kehidupan yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat

Sifat-sifat yang wajib bagi Rasul:

1. Siddiq – Benar pada segala percakapan, perkhabaran & perbuatan


2. Amanah – Jujur dan tidak membuat kesalahan
3. Tabligh – Menyampaikan semua perintah Allah kepada manusia
4. Fathonah- Bijaksana
1. Erti Rasul dari segi bahasa : Utusan yang menyampaikan sesuatu perutusan seseorang
kepada orang lain
2. Erti Rasul dari segi istilah: Lelaki utusan Allah yang menerima wahyu Allah untuk dirinya
yang wajib disampaikan kepada umat manusia agar mereka dapat melalui jalan yang
lurus dan diredhai Allah
3. Dari segi keaslian : al-Quran tetap asli tidak ada perubahan dan tidak mampu dipinda
oleh manusia manakala kitab-kitab lain berubah dan tidak asli
4. Al-Quran sesuai untuk semua zaman dan tempat, manakala kitab-kitab lain untuk
tempoh-tempoh tertentu sahaja
5. Bahasa Al-Quran adalah bahasa arab yang hidup pemakainnya sepanjang masa, iaitu
sentiasa digunakan oleh ramai dan banyak negara di seluruh dunia

Hikmah Beriman Dengan Kitab-kitab

Menunjukkan bahawa agama yang dating daripada Allah adalah satu sahaja iaitu Islam yang
terkandung di dalam kitab-kitab yang datAng daripada Allah mendahului. Para Nabi semasa ke
semasa sehinggalah kitab al-Quran

Umat manusia di sepanjang zaman sebenarnya memerlukan agama yang satu iaitu Islam, yang
berteraskan akidah tauhid. Ini semua terkandung dalam semua kitab-kitab yang datAng
daripada Allah

Perbezaan dari segi syariat perkara penting berkaitan pelaksanaan dalam agama boleh berlaku.
Yang ditegah secara tegas ialah perbezaan dari segi akidah atau perkara-perkara usul. Ini
terbukti dalam syariat-syariat kitab-kitab dari satu nabi dengan nabi yang lain berbeza, tetapi
akidah dan perkara pokok yang lain semuanya sama

Semua para Nabi adalah Islam. Tidak ada percanggahan antara al-Quran dan Taurat
sebagaimana juga tidak ada pertentangan dengan Injil dan kitab-kitab lain.

Percaya Kepada Hari Akhirat

Beriman kepada hari Akhirat merupakan masalah yang paling berat dari segala macam akidah
dan kepercayaan manusia. Sejak zaman sebelum Islam sampailah sekarang manusia telah
memperkatakan masalah ini. Para ahli fakir selalu menempatkan persoalan ini sebagai inti
penyelidikan, sebab beriman kepada hari akhirat akan membawa manusia kepada keyakinan
adanya satu kehidupan duniawi dan penciptaan manusia. Demikianlah pentingnya masalah ini
hingga turunnya ayat-ayat Allah menerangkan kedudukan hari Akhirat.
Lima fasa pola beriman kepada hari Akhirat:

1. Tahap kehancuran makhluk yang ada di muka bumi. Terjadi gempa bumi, di mana
gunung-gunung menjadi debu, air laut mendidih meluap-luap, bintang-bintang
berguguran, langit bergulungan, sedang manusia mabuk dan pitam. Kemudian
musnahlah segala makhluk sama ada yang bernyawa mahupun tidak, hanya Allah yang
tetap kekal
2. Hari kebangkitan di mana manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan
dipadang Mahsyar
3. Diperlihatkan seluruh amal perbuatan di dunia dahulu. Tidak ada yang tersembunyi
sama ada yang jahat mahupun yang baik, sekalipun sebesar zarah
4. Hari menghisab di depan mahkamah keadilan Allah, dimana manusia akan memperolehi
keputusan yang paling adil tanpa ada penganiayaan
5. Hari keputusan di mana manusia akan menerima ganjaran yang setimpal dengan
amalannya. Di sini saat yang dijanjikan akan dipenuhi sebagai tujuan penciptaan
manusia. Mereka yang banyak amal kebajikan ditempatkan di syurga dan banyak
amalan kejahatan akan ditempatkan di neraka

Kepentingan Beriman dengan Hari Akhirat

1. Memperbaharui kesedaran tentang hakikat adanya alam akhirat yang merupakan


tempat manusia menerima balasan dan juga tempat yang kekal abadi untuk semua
manusia
2. Mempertingkatkan keimanan dengan merasai keagongan Allah Rabul-Alamin selaku
pemerintah dan penguasa serta tuan punya Alam, pencipta dan pemilikan hari Akhirat
dan segala isi kandungannya
3. Melembutkan hati manusia dengan mengingati mati dan Hari Akhirat
4. Mengalakkan orang Islam melakukan ma’ruf (kebaikan) dan meninggalkan kejahatan

Beriman Kepada Qada Dan Qadar'

Maksud Takdir

1. Takdir ataupun ketentuan Allah terhadap makhluknya khususnya manusia dapat


dibahagikan kepada dua:
2. Ketentuan tentang nature yang mengandungi sebab musabab
3. Takdir atau ketentuan Allah terhadap makhlukNya, khususnya manusia

Sikap Orang Islam Dalam Menerima Takdir Allah


1. Menerima dan redha terhadap apa yang ditakdirkan oleh Allah, kerana Allah Maha Adir
dan tidak mungkin melakukan kezaliman terhadap makhlukNya. Apa yang Allah
tentukan kepada manusia di luar dari pilihan manusia adalah kebijaksanaan dan
keadilan Allah. Ada sesuatu hikmah di sebalik ketentuan itu. Mungkin apa yang kita rasa
baik adalah buruk bagi kita dan demikianlah sebaliknya. Allah Maha Mengetahui apa
yang tidak kita ketahui
2. Mestilah bersabar sekiranya Allah takdirkan sesuatu yang buruk yang berlaku ke atas diri
kita. Mungkin di sebalik apa yang berlaku itu ada sesuatu yang baik yang Allah akan
anugerahkan kepada kita

Peringkat-Peringkat Iman

1. Iman Taqlid – Iman ikut-ikutan, hanya semata-mata mengikut pendapat orang lain
2. Iman Ilmu – Beriman semata-mata kerana berilmu dan berdasarkan pada fikiran tidak
terletak di hati
3. Iman A’yan – Iman yang terletak di dalam hati. Iman ini dimiliki oleh orang-orang soleh
4. Iman Hak – Iman sebenar yang terlepas dari nafsu syaitan. Iman ini dimiliki oleh
golongan muqarabbin, iaitu orang yang hampir dengan Allah
5. Iman Hakikat – Iman peringkat tertinggi yang boleh dicapai oleh manusia. Iman ini hidup
semata-mata untuk Allah dan Rasul serta hari Akhirat seperti para sahabat nabi

Iman Bertambah Dan Iman Berkurang

Iman manusia sentiasa bertambah dan berkurang mengikut amalan. Perkara-perkara yang perlu
dilakukan untuk meneguhkan iman:

1. Melawan hawa nafsu


2. Mengosongkan hati daripada sifat-sifat tercela
3. Membiasakan diri dengan sifat-sifat terpuji
4. Melahirkan keikhlasan berbakti & berkorban semata-mata kerana Allah
5. Memperbanyakkan amalan-amalan sunat
6. Bertafakur, iaitu memerhatikan tanda-tanda kebesaran dan kekuasan Allah

Kepentingan Mempelajari Ilmu Akidah

Antara beberapa kepentingan mempelajari ilmu akidah termasuklah:

1. Supaya terhindar daripad ajaran-ajaran sesat yang akan merosakan akidah seseorang
terhadap Allah swt
2. Meneguhkan keimanan dan keyakinan kepada sifat-sifat kesempurnaanNya
3. Memantapkan akidah seseorang supaya tidak terikut dan terpengaruh dengan amalan-
amalan yang boleh merosakan akidah
4. Audit dan Timbangan Amalan. Antaranya perkara yang akan dialami oleh manusia di
akhirat ialah hisab dan timbangan amalan
5. Balasan Syurga dan Neraka. Berdasarkan nas-nas al-Quran menunjukkan bahawa orang
yang mempunyai amalan baiknya banyak sehingga memberatkan timbangan amalan
baik ia akan dimasukan ke dalam syurga, manakala mereka yang sebaliknya akan
dimasukan ke dalam neraka
6. Dapat mengeluarkan hujah-hujah yang boleh mematahkan hujah daripada pihak lawan
yang cuba memesongkan akidah seseorang

Kepentingan Akidah Dalam Kehidupan Manusia

1. Akidah Sebagai Asas


2. Akidah Sebagai Penentu atau Pendorong

Penyelewengan Dan Kerosakan Akidah

1. Melalui Percakapan atau ucapan


2. Melalui Perbuatan
3. Melalui Iktikad dalam hati

Pembinaan Akidah

1. Memahami konsep Islam yang sebenarnya dan memahami konsep akidah secara khusus
2. Membersihkan hati dengan cara meninggalkan dosa dan melakukan perkara-perkara
yang disuruh oleh Allah
3. Sentiasa berjihad melawan nafsu dan syaitan untuk beriltizam dengan Islam
4. Bersama-sama dengan orang-orang yang soleh atau sentiasa mencari suasana yang baik
5. Sentiasa berdoa memohon pimpinan Allah
6. Bertawakal kepada Allah

Kesimpulan

Secara keseluruhannya, konsep akidah amat mudah dipelajari dan difahami secara umum
kepada sesiapa sahaja yang ingin mengamalkan akidah secara istiqamah(berterusan). Secara
tidak langsung, masyarakat yang mengamalkan konsep akidah yang betul akan melahirkan
sebuah negara yang tinggi ilmu, amal dan akhlaknya.
Pengenalan

1. Akidah dari segi bahasa bererti simpulan iman ataupun pegangan yang kuat atau satu
keyakinan yang menjadi pegangan yang kuat
2. Akidah dari sudut istilah ialah kepercayaan yang pasti dan keputusan yang muktamat
tidak bercampur dengan syak atau keraguan pada seseorang yang berakidah sama ada
akidah yang betul atau sebaliknya
3. Akidah Islam ialah kepercayaan dan keyakinan terhadap Allah sebagai rabb dan ilah
serta beriman dengan nama-namaNya dan segala sifat-sifatNya juga beriman dengan
adanya malaikat, kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhirat dan beriman dengan taqdir Allah
sama ada baik atau buruk termasuk juga segala apa yang dating dari Allah. Seterusnya
patuh dan taat pada segala ajaran dan petunjuknya. Oleh itu, akidah Islam ialah
keimanan dan keyakinan terhadap Allah dan RasulNya serta apa yang dibawa oleh Rasul
dan dilaksanakan dalam kehidupan

Pengertian Akidah

1. Ilmu yang membicarakan perkara-perkara yang berkaitan keyakinan terhadap Allah swt
dan sifat-sifat kesempurnaanNya.
2. Setiap umat Islam wajib mengetahui, mempelajari dan mendalami ilmu akidah supaya
tidak berlaku perkara-perkara yang membawa kepada penyelewengan akidah kepada
Allah swt
3. Akidah sebenar adalah akidah yang berdasarkan pada al-Quran dan As-Sunnah

Ilmu Akidah

Ilmu Tauhid

Ilmu yang menerangkan tentang sifat Allah swt yang wajib diketahui dan dipercayai

Ilmu Usuluddin

Suatu ilmu yang kepercayaan dalam agama Islam, iaitu kepercayaan kepada Allah swt dan
pesuruhNya

Ilmu Makrifat

Suatu ilmu yang membahaskan perkara-perkara yang berhubung dengan cara-cara mengenal
Allah swt

Ilmu Kalam

Sesuatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil aqliah (ilmiah) sebagai perisai
terhadap segala tentangan daripada pihak lawan
Ilmu Akidah

Suatu ilmu yang membahas tentang perkara-perkara yang berhubung dengan keimanan kepada
Allah swt

Huraian Rukun Iman

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Umar Ibni Al-Khattab r.a bahawa di dalam
pertemuan malaikat Jibril dengan Rasulullah saw di dalam sebuah majlis yang dihadiri oleh
ramai sahabat-sahabat Rasulullah saw maka Jibril telah mengemukakan pertanyaan kepada
Rasulullah saw yang bermaksud:-

“Jibril telah berkata kepada Rasulullah, kamu terang kepadaku mengenai iman maka jawab
Rasulullah, iman itu ialah bahawa kami beriman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-
kitab, kepada rasul-rasul, kepada hari kemudian dan kamu beriman bahawa habuan dan
peruntukan bagi kamu sama ada baik atau buruk adalah semua daripada Allah swt, maka Jibril
pun berkata kamu telah berkata benar.”

Jadi, dari ayat Al-Quran dan hadith dapatlah disimpulkan bahawa iman itu ialah 6 perkara iaitu:

1. Percaya kepada Allah


2. Percaya kepada Malaikat
3. Percaya kepada Kitab
4. Percaya kepada Rasul
5. Percaya kepada Hari Kiamat
6. Percaya kepada Qada’ dan Qadar

Percaya Kepada Allah Swt

Erti beriman dengan Allah Ta’ala itu ialah mengetahui, percaya dan beriktikad dengan perkara-
perkara yang wajib, perkara-perkara mustahil dan perkara yang harus bagi Allah Ta’ala.

Beriman dengan Allah juga bermaksud:

1. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah


2. Membenarkan dengan yakin akan keEsaan Allah, baik dalam perbuatanNya menjadikan
alam dan makhluk seluruhnya mahupun dalam menerima ibadat setiap makhluk
3. Membenarkan dengan yakin bahawa Allah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan,
suci dari segala kekurangan dan suci juga dari menyerupai segala yang baharu
“Wahai sekalian manusia! Beribadatlah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang terdahulu daripada kamu supaya kamu (menjadi orang-orang yang )
bertaqwa –

(Surah Al-Baqarah:21)

Ertinya bahawa Allah itu adalah pencipta setiap benda yang ada di ala ini termasuk bumi langit
dan planet-planet yang lain, yang dapat dilihat atau tidak, semuanya adalah kepunyaan Allah
swt

Percaya kepada Allah ini adalah pokok kepada kepercayaan atau rukun-rukun iman yang lain
kerana dengan adanya Allah maka adanya yang lain-lain itu.

1. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyyah Allah swt


2. Tauhid Rububiyah bermaksud hanya Allah sahaja sebagai Rabb (pencipta, pemilik,
pemerintah, memberi rezeki dan seumpamanya). Tidak boleh dijadikan, dianggap atau
dirasakan yang lain sebagai rabb atau bersama-sama Allah menjadi Rabb.
3. Tauhid Uluhiyyah bermaksud orang Islam yang beriman dengan keimanan yang sebenar,
dia hanya mengambil Allah sebagai Ilah. Dia tidak meletakkan Allah bersama-sama yang
lain sebagai Ilah. Allah sahaja sebagai pujaan dan sembahannya. Maklud Ilah ialah
sesuatu yang dipuja dan disembah.
4. Mempelajari dan memahami ajaran Allah
5. Maksud beriman kepada Allah juga sepatutnya kita mempelajari dan memahami segala
yang datang daripada Allah melalui RasulNya sama ada dalam al-Quran atau al-Sunnah.
Maksud beriman kepada Allah bukan sekadar percaya tentang kewujudan Allah tetapi
termasuk juga segala apa yang datang daripada Allah swt

Yakin dan Melaksanakan Petunjuk Allah swt


Antara maksud dan tuntutan iman kepada Allah ialah yakin terhadap apa yang datang daripada
Allah. Yakin dengan kebenaran, kesempurnaan Islam sebagai satu Din yang shamil dan kamil
serta terbaik

Percaya kepada Malaikat

Ertinya ialah bahawa Allah telah menjadikan sejenis makhluk halus yang keadaan asalnya tidak
boleh dilihat, bukan lelaki dan bukan perempuan. Hidup mereka sentiasa taat kepada perintah
Allah tanpa sesekali menderhakainya. Malaikat dijadikan oleh Allah daripada cahaya. Sabda
Rasulullah saw (terjemahanya):
”Malaikat itu dijadikan daripada cahaya, jin dijadikan daripada api yang tidak berasap &
dijadikan nabi Allah Adam sebagaimana yang diterangkan iaitu daripada tanah”–(Hadith riwayat
Muslim)

Nama dan Tugas Malaikat

1. Jibril – Menyampaikan wahyu dan perintah Allah kepada nabi-nabi & rasul-rasulNya
untuk disampaikan kepada manusia
2. Mikail – Mengawal cekerawala termasuk matahari, bulan, bintang-bintang, hujan &
panas dan lain mengikut yang dikehendaki oleh Allah
3. Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk yang bernyawa apabila sudah sampai waktu
yang dikehendaki oleh Allah
4. Israfil – Meniup sengkekala apabila tiba masanya
5. Raqib – Mencatit amalan baik yang dilakukan oleh manusia
6. Atid – Mencatit amalan jahat yang dilakukan oleh manusia
7. Mungkar – Menyoal manusia di dalam kubur
8. Nakir – Menyoal manusia di dalam kubur
9. Ridhwan – Mengawal syurga
10. Malik – Mengawal neraka

Antara tugas-tugas Malaikat seperti:

1. Membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul


2. Bertasbih dan patuh dan sujud pada Allah
3. Memikut Arsy
4. Berdoa untuk orang-orang beriman

Peranan Malaikat di Akhirat seperti memberi salam pada ahli syurga, mengazab ahli neraka dan
seumpamanya

Hikmat Beriman Kepada Malaikat

1. Seseorang itu menyedari bahawa dia sentiasa diawasi oleh Malaikat maka dia akan
sentiasa menjaga tingkah laku yang berkelakuan baik, menjaga tutur kaya yang walau
dimana dia berada
2. Seseorang akan segera insaf dan tidak mengulangi kesalahan dan kesilapan kerana
menyedari setiap tutur kata dan gerak laku yang tidak terlepas daripada catitan
Malaikat Raqib & Atid
3. Seseorang muslim akan sentiasa melakukan apa yang disuruh Allah dan menghindar apa
yang dilarang Allah supaya selamat di alam kubur kerana dia mengetahui apabila dia
mati, dia akan ditanya dan diseksa oleh Malaikat di dalam kubur
Percaya Kepada Kitab

Orang-orang Islam wajib percaya bahawa Allah swt telah menurunkan beberapa buah kitab
kepada rasul-rasulNya. Isi pengajaran kitab-kitab itu adalah mengandungi ajaran-ajaran
mengenai amal ibadat untuk akhirat dan juga petunjuk-petunjuk untuk memperbaiki kehidupan
manusia di dunia

Kitab-kitab yang wajib diketahui ialah:

1. Zabur : Nabi Daud (dalam bahasa Qibti)


2. Taurat : Nabi Musa (dalam bahasa Ibrani)
3. Injil : Nabi Isa (dalam bahasa Suryani)
4. Al-Quran : Nabi Muhammad saw (dalam bahasa Arab)

Firman Allah swt yang bermaksud:

”Pada mulanya manusia itu adalah umat yang satu (menurut agama Allah yang satu tetapi
akhirnya mereka telah berselisih faham), maka Allah telah mengutuskan nabi-nabi sebagai
pemberi khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman dengan balasan syurga), dan
pemberi amaran (kepada yang engkar dengan balasan azab neraka), dan Allah menurunkan
bersama nabi-nabi itu kitab-kitab suci yang mempunyai keterangan-keterangan benar untuk
menjalankan hukuman di antara manusia mengenai apa yang mereka pertikaikan”

(Surah Al-Baqarah: 213)

Al-Quran merupakan kitab terakhir sekali diturunkan oleh Allah & penutup kepada segala kitab-
kitab yang terdahulu

Percaya Kepada Rasul

Seseorang Islam diwajibkan beriman bahawa Allah telah mengutuskan beberapa orang rasul
yang dipilihNya daripada jenis manusia yang cukup sempurna. Mereka membimbing manusia
kepada kehidupan yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat

Sifat-sifat yang wajib bagi Rasul:

1. Siddiq – Benar pada segala percakapan, perkhabaran & perbuatan


2. Amanah – Jujur dan tidak membuat kesalahan
3. Tabligh – Menyampaikan semua perintah Allah kepada manusia
4. Fathonah- Bijaksana
1. Erti Rasul dari segi bahasa : Utusan yang menyampaikan sesuatu perutusan seseorang
kepada orang lain
2. Erti Rasul dari segi istilah: Lelaki utusan Allah yang menerima wahyu Allah untuk dirinya
yang wajib disampaikan kepada umat manusia agar mereka dapat melalui jalan yang
lurus dan diredhai Allah
3. Dari segi keaslian : al-Quran tetap asli tidak ada perubahan dan tidak mampu dipinda
oleh manusia manakala kitab-kitab lain berubah dan tidak asli
4. Al-Quran sesuai untuk semua zaman dan tempat, manakala kitab-kitab lain untuk
tempoh-tempoh tertentu sahaja
5. Bahasa Al-Quran adalah bahasa arab yang hidup pemakainnya sepanjang masa, iaitu
sentiasa digunakan oleh ramai dan banyak negara di seluruh dunia

Hikmah Beriman Dengan Kitab-kitab

Menunjukkan bahawa agama yang dating daripada Allah adalah satu sahaja iaitu Islam yang
terkandung di dalam kitab-kitab yang datAng daripada Allah mendahului. Para Nabi semasa ke
semasa sehinggalah kitab al-Quran

Umat manusia di sepanjang zaman sebenarnya memerlukan agama yang satu iaitu Islam, yang
berteraskan akidah tauhid. Ini semua terkandung dalam semua kitab-kitab yang datAng
daripada Allah

Perbezaan dari segi syariat perkara penting berkaitan pelaksanaan dalam agama boleh berlaku.
Yang ditegah secara tegas ialah perbezaan dari segi akidah atau perkara-perkara usul. Ini
terbukti dalam syariat-syariat kitab-kitab dari satu nabi dengan nabi yang lain berbeza, tetapi
akidah dan perkara pokok yang lain semuanya sama

Semua para Nabi adalah Islam. Tidak ada percanggahan antara al-Quran dan Taurat
sebagaimana juga tidak ada pertentangan dengan Injil dan kitab-kitab lain.

Percaya Kepada Hari Akhirat

Beriman kepada hari Akhirat merupakan masalah yang paling berat dari segala macam akidah
dan kepercayaan manusia. Sejak zaman sebelum Islam sampailah sekarang manusia telah
memperkatakan masalah ini. Para ahli fakir selalu menempatkan persoalan ini sebagai inti
penyelidikan, sebab beriman kepada hari akhirat akan membawa manusia kepada keyakinan
adanya satu kehidupan duniawi dan penciptaan manusia. Demikianlah pentingnya masalah ini
hingga turunnya ayat-ayat Allah menerangkan kedudukan hari Akhirat.
Lima fasa pola beriman kepada hari Akhirat:

1. Tahap kehancuran makhluk yang ada di muka bumi. Terjadi gempa bumi, di mana
gunung-gunung menjadi debu, air laut mendidih meluap-luap, bintang-bintang
berguguran, langit bergulungan, sedang manusia mabuk dan pitam. Kemudian
musnahlah segala makhluk sama ada yang bernyawa mahupun tidak, hanya Allah yang
tetap kekal
2. Hari kebangkitan di mana manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan
dipadang Mahsyar
3. Diperlihatkan seluruh amal perbuatan di dunia dahulu. Tidak ada yang tersembunyi
sama ada yang jahat mahupun yang baik, sekalipun sebesar zarah
4. Hari menghisab di depan mahkamah keadilan Allah, dimana manusia akan memperolehi
keputusan yang paling adil tanpa ada penganiayaan
5. Hari keputusan di mana manusia akan menerima ganjaran yang setimpal dengan
amalannya. Di sini saat yang dijanjikan akan dipenuhi sebagai tujuan penciptaan
manusia. Mereka yang banyak amal kebajikan ditempatkan di syurga dan banyak
amalan kejahatan akan ditempatkan di neraka

Kepentingan Beriman dengan Hari Akhirat

1. Memperbaharui kesedaran tentang hakikat adanya alam akhirat yang merupakan


tempat manusia menerima balasan dan juga tempat yang kekal abadi untuk semua
manusia
2. Mempertingkatkan keimanan dengan merasai keagongan Allah Rabul-Alamin selaku
pemerintah dan penguasa serta tuan punya Alam, pencipta dan pemilikan hari Akhirat
dan segala isi kandungannya
3. Melembutkan hati manusia dengan mengingati mati dan Hari Akhirat
4. Mengalakkan orang Islam melakukan ma’ruf (kebaikan) dan meninggalkan kejahatan

Beriman Kepada Qada Dan Qadar'

Maksud Takdir

1. Takdir ataupun ketentuan Allah terhadap makhluknya khususnya manusia dapat


dibahagikan kepada dua:
2. Ketentuan tentang nature yang mengandungi sebab musabab
3. Takdir atau ketentuan Allah terhadap makhlukNya, khususnya manusia

Sikap Orang Islam Dalam Menerima Takdir Allah


1. Menerima dan redha terhadap apa yang ditakdirkan oleh Allah, kerana Allah Maha Adir
dan tidak mungkin melakukan kezaliman terhadap makhlukNya. Apa yang Allah
tentukan kepada manusia di luar dari pilihan manusia adalah kebijaksanaan dan
keadilan Allah. Ada sesuatu hikmah di sebalik ketentuan itu. Mungkin apa yang kita rasa
baik adalah buruk bagi kita dan demikianlah sebaliknya. Allah Maha Mengetahui apa
yang tidak kita ketahui
2. Mestilah bersabar sekiranya Allah takdirkan sesuatu yang buruk yang berlaku ke atas diri
kita. Mungkin di sebalik apa yang berlaku itu ada sesuatu yang baik yang Allah akan
anugerahkan kepada kita

Peringkat-Peringkat Iman

1. Iman Taqlid – Iman ikut-ikutan, hanya semata-mata mengikut pendapat orang lain
2. Iman Ilmu – Beriman semata-mata kerana berilmu dan berdasarkan pada fikiran tidak
terletak di hati
3. Iman A’yan – Iman yang terletak di dalam hati. Iman ini dimiliki oleh orang-orang soleh
4. Iman Hak – Iman sebenar yang terlepas dari nafsu syaitan. Iman ini dimiliki oleh
golongan muqarabbin, iaitu orang yang hampir dengan Allah
5. Iman Hakikat – Iman peringkat tertinggi yang boleh dicapai oleh manusia. Iman ini hidup
semata-mata untuk Allah dan Rasul serta hari Akhirat seperti para sahabat nabi

Iman Bertambah Dan Iman Berkurang

Iman manusia sentiasa bertambah dan berkurang mengikut amalan. Perkara-perkara yang perlu
dilakukan untuk meneguhkan iman:

1. Melawan hawa nafsu


2. Mengosongkan hati daripada sifat-sifat tercela
3. Membiasakan diri dengan sifat-sifat terpuji
4. Melahirkan keikhlasan berbakti & berkorban semata-mata kerana Allah
5. Memperbanyakkan amalan-amalan sunat
6. Bertafakur, iaitu memerhatikan tanda-tanda kebesaran dan kekuasan Allah

Kepentingan Mempelajari Ilmu Akidah

Antara beberapa kepentingan mempelajari ilmu akidah termasuklah:

1. Supaya terhindar daripad ajaran-ajaran sesat yang akan merosakan akidah seseorang
terhadap Allah swt
2. Meneguhkan keimanan dan keyakinan kepada sifat-sifat kesempurnaanNya
3. Memantapkan akidah seseorang supaya tidak terikut dan terpengaruh dengan amalan-
amalan yang boleh merosakan akidah
4. Audit dan Timbangan Amalan. Antaranya perkara yang akan dialami oleh manusia di
akhirat ialah hisab dan timbangan amalan
5. Balasan Syurga dan Neraka. Berdasarkan nas-nas al-Quran menunjukkan bahawa orang
yang mempunyai amalan baiknya banyak sehingga memberatkan timbangan amalan
baik ia akan dimasukan ke dalam syurga, manakala mereka yang sebaliknya akan
dimasukan ke dalam neraka
6. Dapat mengeluarkan hujah-hujah yang boleh mematahkan hujah daripada pihak lawan
yang cuba memesongkan akidah seseorang

Kepentingan Akidah Dalam Kehidupan Manusia

1. Akidah Sebagai Asas


2. Akidah Sebagai Penentu atau Pendorong

Penyelewengan Dan Kerosakan Akidah

1. Melalui Percakapan atau ucapan


2. Melalui Perbuatan
3. Melalui Iktikad dalam hati

Pembinaan Akidah

1. Memahami konsep Islam yang sebenarnya dan memahami konsep akidah secara khusus
2. Membersihkan hati dengan cara meninggalkan dosa dan melakukan perkara-perkara
yang disuruh oleh Allah
3. Sentiasa berjihad melawan nafsu dan syaitan untuk beriltizam dengan Islam
4. Bersama-sama dengan orang-orang yang soleh atau sentiasa mencari suasana yang baik
5. Sentiasa berdoa memohon pimpinan Allah
6. Bertawakal kepada Allah

Kesimpulan

Secara keseluruhannya, konsep akidah amat mudah dipelajari dan difahami secara umum
kepada sesiapa sahaja yang ingin mengamalkan akidah secara istiqamah(berterusan). Secara
tidak langsung, masyarakat yang mengamalkan konsep akidah yang betul akan melahirkan
sebuah negara yang tinggi ilmu, amal dan akhlaknya.
‘Aqdan-‘Aqidah adalah KENYAKINAN ITU TERSIMPUL DENGAN KOKOHDI DALAM HATI, BERSIFAT
MENGIKAT DAN MENGANDUNGPERJANJIAN.
2. TERMINOLOGIS:
Hasan Al Bana : “Aqa’id adalah beberapa perkara yang wajib diyakinikebenarannya oleh
hati(mu), mendatangkan ketentraman jiwa, menjadikenyakinan yang tidak bercampur sedikit
pun dengan keragu-raguan”Abu Bakar Jabir Al Jazairy: “Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang
dapatditerima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah.(Kebenaran) itu
dipatrikan (oleh manusia) didalam hati (serta) diyakinikesahihan dan keberadaannya (secara
pasti) dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan denga kebenaran itu” Catatan:Ilmu ada
dua, dhahuri (dihasilkan oleh indra, tidak memerlukan dalil), dannazhari (perlu dalil dan
pembuktian)Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran (bertuhan), indra
untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukanwahyu untuk
menjadi pedoman menentukan mana yang benar dan manayang tidak.Tentang TUHAN, setiap
manusia memiliki fitrah bertuhan, dgn indra dan akaldia bisa membuktikan adanya TUHAN,
tetapi wahyulah yangmenunjukkan kepadanya siapa Tuhan yang Sebenarnya.Kenyakinan tidak
boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan.Tingkat kenyakinan :Syak (sama kuat antara
membenarkan dan menolaknnyaZhan (Salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena
adaDALIL yang menguatkan.Ghalabatuz Zhan (Cenderung lebih menguatkan salah satu
karenasudah menyakini tingkat kebenarannya). Keyakinan yang sudahsampai ke tingkat ilmu
inilah yang disebut AQIDAH.

Aqidah harus mendatangkan ketentraman jiwa. Seseorang bisa saja secaralahir menyakini
sesuatu, tapi hal itu tidak mendatangkan ketenangan jiwa,karena dia harus melaksanakan
sesuatu yang berlawanan dengankenyakinannnya.Bila sesorang SUDAH menyakini suatu
kebenaran, dia harus menolak segalasesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu, artinya
sesorang tidak akan bisa menyakini sekaligus dua hal yang bertentangan.Tingkat kenyakinan
(aqidah) seseorang tergantung kepada tingkat pemahamanterhadap dalil : (yakin, haqqul yakin
dst)BEBERAPA ISTILAH LAIN DALAM AQIDAHAda beberapa istilah lain yang semakna dgn istilah
aqidah, yaitu Iman dan Tauhid,dan yang semakna dengan ilmu aqidah yaitu Ushuluddin, ilmu
kalam dan Fikh Akbar.ImanAda yang menyamakan iman dengan aqidah dan ada yang
membedakan.Bagi yang membedakan, aqidah hanyalah bagian dalam (aspek hati) dari
iman,sbab iman menyangkut aspek dalam (Kenyakinan) dan aspek luar (PengakuanLisan dan
pembuktian dengan amal), Mengesakan Allah. Merupakan tema sentral aqidah dan
iman.Ushuluddin, Pokok-pokok agama. Aqidah, Imam dan Tauhid disebut juga
Ushuluddinkarena ajaran aqidah merupakan pokok ajaran agama islamIlmu Kalam. Kalam
=berbicara/pembicaraanFikh Akbar,RUANG LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAHSistematika Hasan
Al Banna:Ilahiyat, Pembahasan tentang segala yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan,Allah)
seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah dll Nubuwat, Berhubungan dengan Nabi
dan Rasul (Kitab-kitab Allah, mu’jizat,Karamah dll)

Ruhaniyat, berkaitan dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, SyaithandsbSam’iyyat,
Membahas segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat Sam’I(dalil naqli berupa Al Quran
dan Sunnah) seperti alam barzkah, akhirat danAzab Kubur, tanda-tanda kiamat, Surga-Neraka
dsb. Sistematika Arkanul Iman:Iman kepada AllahIman Kepada MalaikatIman kepada Kitab-kitab
AllahIman kepada Nabi dan RasulIman Kepada Hari Akhir Iman kepada Taqdir Allah SUMBER
AQIDAH ISLAM, Quran dan SunnahApa saja yang disampaikan oleh Allah dalam Al Quran dan
Oleh Rasulullahdalam Sunnahnya wajib diimani (diyakini dan diamalkan).Akal Pikiran tidak
menjadi sumber aqidah, tapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua
sumber tersebut. Akal tidak akan mampumenjangkau hal-hal yang ghaib FUNGSI
AQIDAHAqidah adalah Dasar, fondasi.Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan
melaksanakan ibadahdengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermu’amalat dengan
baik.Ibadah seseorang tidak akan diterima Allah jika tidak dilandasi dengan aqidah.

Sesorang tidak akan dinamai berahklak mulia bila tidak memiliki aqidah yang benar Seseorang
bisa saja merekayasa untuk terhindar dari kewajiban formal, misalnyazakat, tapi dia tidak akan
bisa menghindar dari aqidahAtau seseorang bisa saja berpura-pura melaksanakan ajaran formal
islam, tapiAllah tidak akam memberi nilai kalau tidak dilandasi dengan aqidah yang benar
(iman). ITULAH SEBABNYA RASULULLAH SELAMA 13 TAHUN PERIODEMEKAH MEMUSATKAN
DAKWAHNYA UNTUK MEMBANGUN AQIDAHYANG BENAR DAN KOKOH, SEHINGGA BANGUNAN
ISLAM DENGANMUDAH BISA BERDIRI DI PERIODE MADINAH DAN BANGUNAN INIAKAN
BERTAHAN TERUS SAMPAI AKHIR KIAMAT.

urgensi Aqidah Dan Peran Aqidah Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Selasa, 6 April 2004 08:59:37 WIB

MUKADDIMAH
Para pemikir-pemikir Barat mulai menyuarakan melalui mimbar-mimbar ilmiah mereka,
bahwasanya peperangan budaya dan ideologi telah dimulai. Dan peperangan antara konsep
Islami dan konsep pemikiran sekuler telah dinyatakan terang-terangan. Oleh karena itu dapat
kita simpulkan bahwa kaum muslimin harus menyatukan barisan mereka dan memadukan visi
dan misi mereka. Dan mereka harus mempelajari manhaj Islami yang benar.

Pergolakan pemikiran membangkitkan sentimen sebagian kelompok yang menggiring mereka


melakukan beberapa aksi kekerasan. Aksi tersebut bersandar kepada beberapa metodologi
berpikir yang keliru, secara tidak langsung merupakan sebab timbulnya beberapa kekacauan
dalam lembaran sejarah dunia Islam.

Oleh karena itu, maka sudah sewajarnya kita menelaah dengan seksama pola pemikiran politik
yang Islami menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan mengambil metodologi Ahlus Sunnah wal
Jama'ah sebagai solusi dalam menghadapi segala tantangan zaman dan dalam membabat habis
pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.

Sebagai konsekswensinya umat Islam harus bersatu di atas pedoman Ahlus Sunnah wal
Jama'ah. Pedoman itulah yang dapat membantu umat ini dalam mengarahkan kebangkitan
umat Islam dan memperbaiki perjalanan menuju ke arah sana.

Kebangkitan Islam telah muncul di atas dua manhaj :

Pertama : Manhaj yang memulai dengan menancapkan aqidah yang benar dan berusaha
mengamalkannya, kemudian berangkat dan situ berusaha menelurkan ide-ide politik yang
sejalan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua : Manhaj yang memulai dengan memunculkan ide-ide politik dan undang-undang
sementara masalah aqidah dikebelakangkan. Akhirnya mereka jatuh dalam tindakan-tindakan
yang salah.

Dibawah ini, akan saya salinkan secara berseri nasehat para ulama tentang masalah Politik dan
Pemikiran, yang mana para ulama mengetengahkan asas-asas yang menjadi dasar dari kaidah
bagi seluruh kafilah-kafilah dakwah Islam. Di samping mengetengahkan hubungan antara
penguasa dan rakyat, amar ma'ruf nahi mungkar dan masalah perseteruan antara yang haq dan
batil.

Ulama-ulama yang berbicara dalam kesempatan ini adalah ulama-ulama dan pemikir-pemikir
Islam yang handal. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia
merangkap ketua umum Lembaga Riset, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam. Kemudian
Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, beliau adalah anggota Lembaga Riset,
Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Saudi Arabia dan mantan Dekan Ma'had 'Ali Lil Qadha.
Beliau adalah seorang peniliti yang matang yang telah bernadzar untuk selalu berkhidmat pada
kepentingan agama dan penyebaran aqidah yang benar. Kemudian Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih
bin Ghanim As-Sadlan, seorang Guru Besar yang berpengalaman di Fakultas Syari'ah, seorang
pengamat handal yang selalu tegak di atas manhaj yang lurus.

Dan sesungguhnya para ulama tertuntut untuk menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah
dalam bidang politik dan pola pemikiran sebagaimana halnya mereka menjelaskan bidang
aqidah. [1]

URGENSI AQIDAH, PERAN AQIDAH DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM


Oleh
Fadhilatus Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan :
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Ada beberapa orang yang memandang remeh
perkara aqidah, mereka beranggapan bahwa nilai keimanan yang dimiliki sudah mencukupi bagi
seseorang. Sudikah Anda menjelaskan urgensi aqidah bagi setiap pribadi muslim serta pengaruh
yang timbul dari aqidah tersebut dalam kehidupannya dan dalam hubungannya terhadap diri
sendiri, masyarakat muslim dan non muslim ?

Jawaban.
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji hanyalah bagi Allah semata Rabb sekalian alam. Shalawat
dan salam semoga tercurah kepada rasul junjungan kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam, bagi keluarga serta sahabat beliau, wa ba'du.

Pembenahan aqidah merupakan asas dasar Dienul Islam. Tidaklah berlebihan sebab syahadat
Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah merupakan rukun Islam yang pertama. Dan para
rasul pertama kali menyeru kaumnya untuk membenahi aqidah mereka. Sebab aqidah
merupakan dasar pondasi seluruh amal ibadah dan perbuatan yang dilakukan. Tanpa
pembenahan aqidah amal menjadi tiada berguna. Allah Subhnahahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan
yang telah mereka kerjakan" [Al-An'am : 88]

Yaitu akan hapuslah seluruh amalan mereka. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti
Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-
orang zhalim itu seorang penolongpun" [Al-Maidah : 72]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu :
"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk
orang-orang yang merugi" [Az-Zumar : 65]

Dari ayat-ayat diatas dan beberapa ayat lainnya jelaslah bahwa urgensi aqidah merupakan
prioritas yang utama dan pertama dalam dakwah. Seruan dakwah pertama kali adalah kepada
pembenahan aqidah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bermukim di kota Mekkah setelah
diangkat menjadi rasul selama tiga belas tahun menyeru umat manusia kepada pembenahan
aqidah, yakni kepada tauhid. Tidaklah diturunkan kewajiban-kewajiban ibadah kecuali setelah
beliau hijrah ke Madinah. Memang benar, ibadah shalat diwajibkan ketika beliau berada di
Makkah sebelum hijrah, akan tetapi bukankah syariat-syariat lainnya diwajibkan atas beliau
setelah hijrah ke Madinah ? Hal itu menunjukkan bahwa amal ibadah itu baru dituntut setelah
pembenahan aqidah. Orang yang mengatakan "cukuplah nilai keimanan tanpa memperhatikan
perlu ambil peduli masalah aqidah" justru bertentangan dengan nilai keimanan itu sendiri.
Sebab keimanan itu akan sempurna dengan memiliki aqidah yang benar dan lurus. Adapun jika
aqidah belum benar, maka tidak akan ada tersisa iman dan nilai agama sedikitpun !

Pertanyaan :
Bagaimana pengaruh aqidah terhadap kehidupan seorang muslim dan prilakunya ?

Jawaban.
Sebagaimana yang telah disinggung diatas bahwa jika seorang muslim memiliki aqidah yang
benar maka amal ibadahnya-pun menjadi benar. Sebab aqidah yang benar akan mendorongnya
melakukan amal shalih dan mengarahkannya kepada nilai-nilai kebaikan dan perbuatan terpuji.
Apabila seseorang telah berikrar tiada Illah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah
didasari ilmu dan keyakinan serta ma'rifah, maka akan mendorongnya melakukan amal shalih.
Sebab syahadat Laa Ilaaha Illallah bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan lisan begitu saja.
Ia merupakan ikrar bagi i'tiqad dan amalan. Ikrar dan syahadat tersebut tidak akan lurus dan
berguna kecuali dengan melaksanakan segala konsekwensinya berupa amal shalih, si
pengingkar akan tergerak menegakkan rukun Islam dan Iman. Ditambah beberapa perintah-
perintah agama dan disempurnakan dengan melaksanakan sunnah-sunnah dan nilai-nilai
keutamaan lainnya.

[Disalin dari kitab Muraja'att fi fiqhil waqi' as-sunnah wal fikri 'ala dhauil kitabi wa sunnah, edisi
Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur'an & As-Sunnah,
hal 51-54 Terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]
__________
Foote Note.
[1] Diringkas secara bebas dengan sedikit perubahan dan tambahan dari Mukadimmah buku
Muraja'att fi fiqhil waqi' as-sunnah wal fikri 'ala dhauil kitabi wa sunnah, edisi Indonesia Koreksi
Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur'an & As-Sunnah oleh Dr. Anwar
Majid Asyqi [penyalin]