Anda di halaman 1dari 8

A selfie is a self-portrait photograph, typically taken with a digital camera or camera phone held in

the hand or supported by a selfie stick. Selfies are often shared on social networking services such as
Facebook, Instagram and Twitter. They are usually flattering and made to appear casual. Most selfies
are taken with a camera held at arm's length or pointed at a mirror, rather than by using a self-timer.
A selfie stick may be used to widen the angle of view, such as for group selfies. First known selfie,
taken by Robert Cornelius in 1839.

selfie itu kebanyakan berujung pada TAKABBUR, RIYA, sedikitnya UJUB

buat cewek apalagi cowok, lebih baik hindari yang namanya foto selfie, nggak ada
manfaatnya banyak mudharatnya

bila kita berfoto selfie lalu takjub dengan hasil foto itu, bahkan mencari-cari pose terbaik
dengan foto itu, lalu mengagumi hasilnya, mengagumi diri sendiri, maka khawatir itu
termasuk UJUB

bila kita berfoto selfie lalu mengunggah di media sosial, lalu berharap ianya di-komen, di-
like, di-view atau apalah, bahkan kita merasa senang ketika mendapatkan apresiasi, lalu ber-
selfie ria dengan alasan ingin mengunggahnya sehingga jadi semisal seleb, maka kita masuk
dalam perangkap RIYA

bila kita berfoto selfie, lalu dengannya kita membanding-bandingkan dengan orang lainnya,
merasa lebih baik dari yang lain karenanya, merasa lebih hebat karenanya, jatuhlah kita pada
hal yang paling buruk yaitu TAKABBUR

ketiganya mematikan hati, membakar habis amal, dan membuatnya layu bahkan sebelum ia
mekar

memang ini bahasan niat, dan tiada yang mengetahuinya kecuali hati sendiri dan Allah, dan
kami pun tiada ingin menelisik maksud dalam hati, hanya sekedar bernasihat pada diri sendiri
dan juga menggugurkan kewajiban

teringat masa lalu, kami masih merasakan masa dimana memfoto diri sendiri adalah aib,
sesuatu yang aneh, tidak biasa, dan cenderung gila, narsis di masa kami bukan sesuatu
kebiasaan

zaman sekarang malah terbalik, cewek-cewek Muslimah tanpa ada malu memasang fotonya
di media sosial, satu foto 9 frame, dengan pose wajah yang -innalillahi- segala macem, saat
malu sudah ditinggal, dimana lagi kemuliaan wanita?

alhamdulillah, sebelum Muslim apalagi sesudahnya, tak pernah sekalipun kami ber-selfie ria,
kecuali tatkala harus membuat video di Roma, dan tidak ada yang bisa mengambil gambar
sendiri, selain batu yang menjadi penolong, hehe..

alhamdulillah, nggak pernah selfie, karena selalu ada yang mau fotoin dan ada yang bisa
diajak foto >> @ummualila, andai dulu @ummualila demen selfie-an, tentu saya nggak ajak
untuk dua-duaan hehe..

jadi hati-hati yang doyan selfie, bisa-bisa selfie terus seumur-umur


saudaramu yang nulis ini karena sayang kamu,

@felixsiauw
__________________________
Beberapa sahabat tatkala membaca dan mendengar bahasan ini banyak yang meminta saya
untuk mengklarifikasi tentang urusan ini, dan terus terang saya enggan kembali memenuhi
permintaan mereka karena saya sudah mengklarifikasi berkali-kali baik pada media sosial
mapun media elektronik. Namun mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini, semua bahasan
tentang selfie dan semua problematikanya menjadi jelas.

Sebelumnya, pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa saat pembahasan selfie ini
menjadi trending topic pada tanggal 19 Januari 2014, itu bukanlah pertama kalinya saya
membahas tentang selfie. Namun jauh sebelumnya saya sudah membahasnya berkali-kali di
media sosial, salah satunya adalah tanggal 22 Juni 2014

https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/posts/10152476398336351?fref=nf

Juga pernah saya membahas ini di Instagram pribadi saya @felixsiauw

Lalu mengapa pada tanggal 19 Januari kumpulan twit ini baru menuai reaksi dari netizen?
Fakta menunjukkan banyak akun-akun yang berafiliasi sama, yang menaikkan topik ini
dengan memanfaatkan follower dan mungkin juga buzzer, dengan menggunakan pemelintiran
terhadap fakta, penipuan dan penyesatan, sehingga seolah-olah ini berita yang besar, padahal
semua adalah kedustaan belaka.

Beberapa hal yang dimanipulasi adalah

1. Dibuat oleh beberapa media online yang tidak bertanggung jawab dengan judul bombastis,
yang seolah-olah saya menyatakan bahwa selfie adalah haram. Tanpa mengkonfirmasi
sedikitpun, tanpa menyertakan sumber informasinya. Padahal tidak satu kali pun saya
menyebut dalam twit atau pernyataan saya bahwa selfie termasuk perbuatan haram.

2. Dikesankan di media-media tersebut, dan dalam gambar-gambar rekaan oleh kelompok-


kelompok tertentu, bahwa saya mengharamkan selfie di satu sisi, namun menjadi juri dalam
kontes selfie yang saya adakan sendiri bersama @HijabAlila, dan berhadiah buku
“Khilafah:Remake”. Seolah-olah saya menjilat ludah sendiri, inkonsistensi.

Maka tentu saja, hal ini menjadi makanan empuk bagi siapapun yang berniat menebar fitnah
tanpa kroscek, tanpa tabayyun. Media yang tidak etis jurnalistiknya berpadu dengan
masyarakat yang mudah terprovokasi, cocok. Dan tentu, saya akan sampaikan penjelasannya
satu-persatu.

Hukum Berfoto dalam Islam

Yang harus disepakati juga adalah bahwa selfie ini adalah salah satu teknik berfoto, yaitu
mengambil gambar dengan dirinya sendiri, baik dengan tangannya sendiri ataupun alat,
bukan difoto atau diambil oleh orang lain. Dan kembali pada hukum asal di dalam Islam,
berfoto hukum asalnya adalah boleh, dengan segala tekniknya, termasuk selfie. Maka
bahasan kita mulai dari sini.
Tentang Selfie

Bukan pertama kalinya fenomena selfie yang melanda Indonesia ini diingatkan sebagai
sesuatu yang berbahaya. Banyak ahli psikologi dan bahasan-bahasan tentang kejiwaan telah
memperingatkan hal ini.

Hasil penelitian Gwendolyn Seidman, associate professor di Albright College, menunjukkan


bahwa baik narsisme dan self-objectification (kecenderungan takjub pada diri sendiri) terkait
dengan menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial, juga kekerapan mengedit foto.
Mengunggah foto selfie secara sering juga berhubungan dengan tingginya tingkat narsisme
dan kecenderungan psikopat.

https://www.psychologytoday.com/…/are-selfies-sign-narcissi…

Dr. Pamela Rutledge, Director Media Psychology Research Centre, seperti dikutip dari
Mashable.com, malah berucap, “Berkaca dan memotret diri sendiri atauselfie adalah dua hal
yang berbeda. Dengan mematut diri di depan kaca menimbulkan pergerakan yang nyata,
sedangkan selfie lebih kepada imaji yang Anda ciptakan sendiri demi mendapatkan perhatian
dari orang lain. Hal yang demikian menunjukkan seseorang yang kesepian, butuh pengakuan,
selalu ingin menjadi pusat perhatian dan biasanya tidak terlalu pintar.”

Dr. David Veale, konsultan psikiatri di London, menyampaikan pada The Sunday Mirror: “2
dari 3 pasien yang datang kepada saya dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD) sejak
ramainya handphone berkamera, mereka secara konsisten terus-menerus mengambil gambar
secara selfie dan memgunggahnya di media sosial”

Beberapa pendapat para ahli mengenai selfie ini juga bisa dibaca di tautan-tautan berikut,

http://www.dailymail.co.uk/…/Take-lot-selfies-Then-MENTALLY…

http://www.huffingtonpost.com/…/selfie-addiction-mental-ill…

http://nationalgeographic.co.id/…/hati-hati-laki-laki-yang-…

Dari segi kejiwaan, selfie ini adalah bagian daripada perlilaku narsis, yang diambil dari
perilaku seorang Yunani bernama Narcissus, yang terobsesi pada dirinya sendiri, senantiasa
bercermin dan kagum dengan pantulan imaji dirinya sendiri di air, lama kelamaan jatuh
tercebur dan mati karenanya. Perilaku narsis inilah yang menjadi bahaya tatkala melakukan
selfie.

Pandangan Islam Tentang Malu Sebagai Akhlak Islam

Pertama, Islam memandang rasa malu adalah akhlak yang sangat utama di dalam agama.
Bahkan Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu” (HR Ibnu
Majah)
Terlebih bagi wanita, rasa malu ini adalah pakaian baginya, menjadi hiasan terbaik yang bisa
dikenakan oleh seorang wanita, karena Rasulullah juga berpesan, rasa malu itu tidak
mengakibatkan kecuali kebaikan.

Rasulullah juga bersabda,

“Keimanan itu ada 70 sekian cabang atau keimanan itu ada 60 sekian cabang. Seutama-
utamanya ialah ucapan ‘La ilaha illallah’ dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan
gangguan dari jalan, dan malu itu adalah cabang dari keimanan” (HR Bukhari Muslim)

Bila seseorang betul-betul mengetahui fakta selfie, maka mereka akan memahami betul
bahwa selfie yang dilakukan kebanyakan remaja Muslimah bahkan menjangkiti ibu-ibu pun,
bukan lagi terkait dengan teknik foto, namun sudah banyak masuk ke dalam ranah perilaku
narsis tadi, benar-benar sudah berlebihan.
Bagi yang memahami betul fenomena ini, akan mengetahui tingkah polah kaum Muslimah
yang desperately terlihat cantik, mati-matian cari perhatian dan komentar dengan foto
selfienya, dengan berbagai macam pose, mimik, dan gaya, andalannya duck-face (wajah
dengan bibir yang dibuat seperti bebek).

Padahal Allah berpesan pada Muslimah,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka tundukkan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak daripadanya’…” (QS 24:31)

Perintah Allah sudah jelas, bahwa wanita harus menjaga diri mereka, menjaga rasa malu dan
kemaluan, tidak justru menampakkan perhiasannya, atau bahkan memamerkan dirinya pada
publik.

Dalam ayat yang lain Allah singgung pula tentang perilaku tabarruj, yaitu segala sesuatu
tindakan berhias yang ditujukan agar diperhatikan oleh lelaki.

“dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”
(QS 33:33)

Menurut Ibnu Mandzur, arti tabarruj adalah wanita yang memperlihatkan keindahan dan
perhiasannya dengan sengaja kepada lelaki. Imam Qatadah menambahkan tatkala
menafsirkan ayat ini, bahwa tabarruj adalah wanita yang saat berjalan keluar dari rumahnya
berlenggak-lenggok lagi menggoda lelaki.

Sampai disini saja, kita semua harus bermuhasabah, memang ini perkara amalan hati, namun
alangkah baiknya bila kita bertanya pada diri sendiri, apakah amanah yang Allah pinta untuk
kita jaga itu, rasa malu itu sudah kita tunaikan? Ataukah kita menggerusnya terus-menerus
dengan melatih memamerkan diri kita pada oranglain? Salah satunya dengan selfie?

Kedua, bila kita memperhatikan fakta secara mendalam, maka kita akan memperhatikan
bahwa fenomena selfie ini sangat berkaitan dengan materialisme. Bahwa segala sesuatu
diukur dengan kepuasan fisik, mencari perhatian dari yang fana dan tertagih untuk melakukan
hal tersebut terus-menerus. Karenanya bahaya selfie ini dikhawatirkan akan mengantarkan
kita paling banyak pada takabbur, riya, dan paling sedikir sifat ujub, yang ketiganya adalah
penghancur amal salih.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa selfie pasti ujub, riya, takabbur, tidak pernah. Kita pun
tidak membahas halal dan haramnya. Selfie kita kembalikan lagi sebagai salah satu teknik
foto, dan berfoto adalah boleh. Namun apakah salah ketika kita bernasihat bahwa hati-hati
seringnya selfie ini berujung pada ujub, riya, takabbur?

“Tiga dosa yang membinasakan, sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub
seseorang terhadap dirinya” (HR Thabrani)

Apa yang sebenarnya orang inginkan tatkala melakukan selfie? Tentu ada banyak niat. Hanya
saja bila kita perhatikan kebanyakan foto yang dihasilkan? Berbagai pose yang dibuat dengan
mimik yang tak kalah ganasnya, mengagumi diri sendiri, takjub pada diri sendiri, bukankah
ini namanya ujub?

Naik lagi satu tingkat, selfie ini dilakukan agar bisa diunggah ke media sosial, agar
dikomentari dan di-likes, mulailah dia berbuat karena orang lain, bukan karena Allah Swt,
bukankah ini namanya riya?

Naik lagi satu tingkat, dengan mengagumi foto, dipuja-puji oleh orang lain, lalu dia
menganggap dirinya lebih dari orang lain, bukankah ini takabbur?

Bila diantara kita bebas daripada sifat-sifat begitu, tentu kita bersyukur. Dan jikalau kita tidak
memiliki hal-hal seperti itu saat melakukan selfie, maka silakan saja. Hanya saja hati-hati,
hati yang berpenyakit, seringkali tidak menyadari.

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak
menonjolkan diri” (HR Muslim)
Jadi jelas disini, tidak pernah sekalipun saya menyatakan selfie itu haram, yang ada hanya
nasihat dari seorang Muslim pada Muslim yang lainnya. Jika ada kebaikan mudah-mudahan
kita dapat menyadari, bila tidak ada kebaikan maka campakkan saja.

Tentang #Selfie with @HijabAlila dan @felixsiauw

Berikutnya, saya secara pribadi tidak pernah mengadakan lomba selfie atau menjadi juri
dalam kontes apapun, apalagi kontes selfie. Tentu ada kelompok-kelompok yang tidak
bertanggung jawab, dengan sengaja memanipulasi dan memelintir fakta, sehingga kalangan
lain yang lebih banyak jumlahnya dan sedikit perhatiannya, tanpa mengecek lagi
kebenarannya langsung meneruskan fakta manipulatif ini pada yang lainnya.
Adapun acara yang dihelat pada 15 Desember oleh @HijabAlila, adalah acara seminar
Muslimah dan launching produk hijab syar’i @HijabAlila yang bertemakan “Sebaik-baik
#Selfie adalah muhasabah diri”. Alhamdulillah, acara ini dihadiri 2500 peserta yang menjadi
saksi penyampaian bahaya selfie sebagaimana yang saya jelaskan diatas. Adapun pembagian
buku “Khilafah:Remake” bukan sebagai hadiah kontes selfie, tetapi memang bagian daripada
acara tersebut.

Video acara #Selfie by @HijabAlila ini bisa disaksikan


https://www.youtube.com/watch?v=RoymFhj7cEM&feature=youtu.be
Alhamdulillah, semua sudah saya sampaikan, mudah-mudahan bisa menjadi suatu penjelas,
agar kita lebih berhati-hati dalam meneruskan dan mempercayai suatu berita yang penuh
dengan kesimpangsiuran. Media memang tergantung kepentingan rating sehingga wawancara
kadang pun dipelintir dan dinarasikan sesuai keinginan pengarahnya.

Dan juga semoga Muslimah semakin memahami bahaya selfie ini, dan bisa menangkap
nasihat yang disampaikan ini dengan kebaikan. Bukan ingin menghakimi, namun hanya ingin
berbagi, karena kami peduli. Dia akhir bahasan ini mari kami kutipkan nasihat Rasulullah
bagi kita semua.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang
lainnya” (HR Hakim)

“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di surga. Dan perkataan kotor adalah
bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di neraka” (HR Ahmad)

Bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saat saya beraktivitas di media sosial, mengunggah
foto, berdakwah lewat tulisan, dan sebagainya lantas saya bebas dari ujub, riya dan takabbur?

Bebas dari narsisme? Tidak ada yang bisa menjamin. Karenanya saya sampaikan dari awal
bahwa ini adalah nasihat dari seorang Muslim kepada Muslim yang lainnya, itu saja. Bila
tetap suka, silakan lanjutkan, toh tugas saya hanya menasihati. Bila ada kebaikan, itu semua
dari Allah semata.

Bilapun masih ada yang bersikeras menuduh selepas penjelasan ini, maka biarlah mereka
dengan pendiriannya, toh bukan karena manusia saya menasihati diri sendiri dn berdakwah
pada ummat Muslim. Cukup kita sampaikan hadits Rasulullah padanya,

“Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi
terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!’” (HR Bukhari)

Akhukum fillah,
@felixsiauw