Anda di halaman 1dari 3

Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang sempurna, kesempurnaan itu terbukti bahwa agama
Islam mencakup segala peraturan dan segala aspek kehidupan manusia.
Kelengkapan agama Islam yang digambarkan Al-Qur’an adalah mencakup konsep
keyakinan (aqidah), moral, tingkah laku, perasaan, pendidikan, sosial, politik,
ekonomi, militer, hukum/perundang-undangan (syari’ah).

Kelengkapan Islam itu sendiri tentunya dijadikan pedoman hidup bagi seluruh
umat muslim di dunia. Pedoman dalam menjalankan kehidupan yang tidak hanya
berkaitan dengan hal hablumminallah saja akan tetapi juga pedoman dalam
menjalankan hablumminannaas atau muamalah. Muamalah ini salah satunya
mencakup mengenai ekonomi termasuk sektor perbankan yang merupakan roda
penggerak perekonomian. Oleh karena itu, dalam Islam dikenal perbankan yang
sesuai dengan syari’at Islam yaitu Perbankan Syari’ah.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar


di dunia menjadikan perkembangan Perbankan syariah di Indonesia berkembang
dengan pesat, walau sebelumnya berkembang dengan lamban dikarekanan hanya
ada satu Bank Syariah dan 78 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang
beroperasi. Setelah dikeluarkannya UU No. 10 Tahun 1998 yang memberikan
landasan hukum lebih kuat untuk perbankan syariah dan UU No. 23 Tahun 1999
hingga UU N0. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, perkembangan
perbankan syariah di Indonesia menjadi pesat. Perkembangan ini ditandai dengan
peningkatan jumlah bank/kantor yang menggunakan prinsip syariah dan
peningkatan jumlah aset yang dikelola. Berikut ini merupakan grafik data
perkembangan bank syariah di Indonesia.
Gambar 1.1
Daftar Perkembangan Jumlah Kantor Bank Syariah di Indonesia

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan

Berdasarkan gambar 1.1 diatas dapat diketahui perkembangan terjadi pada


Bank Syariah di Indonesia. Dari tahun ke tahun terus menunjukkan trend positif
yaitu penambahan jumlah bank syariah di Indonesia. Pesatnya perkembangan
bank syariah di Indonesia. Trend positif diatas tentunya mendorong perbankan
syariah di Indonesia untuk meningkatkan dan mengembangkan kinerja sehingga
dapat meningkatkan kepercayaan stakeholder kepada perbankan syariah dan
menarik minat stakeholder untuk terus menggunakan perbankan syariah. Kinerja
perbankan syariah dapat dilihat dari dua faktor diantaranya adalah kinerja
keuangan dan juga penerapan fungsi sosial atau corporate social responsibility
(CSR). Tujuan ekonomi Islam adalah pencapaian maqasid syariah dengan cara
mewujudkan keadilan dan keseimbangan masyarakat. Bank syariah merupakan
subsistem ekonomi Islam. Maka seharusnya tujuan bank syariah adalah
menjunjung tinggi tujuan sosial, mempromosikan nilai-nilai Islam kepada seluruh
stake holder, memberikan kontribusi kesejahteraan sosial, mendukung
keberlangsungan ekonomi, dan berusaha mengentaskan kemiskinan (Dusuki,
dalam Anton Sudrajat dan Amirus Sodiq 2016: 178).
Pengukuran kinerja bank syariah biasanya dilakukan dengan menggunakan
alat ukur bank konvensional, di antara alat ukur tersebut adalah metode FRA
(Financial Ratio Analysis), metode EVA (Economic Value Added), analisis
CAMELS (Capital, Assets, Management, Equity, Liability, Sensitivity), metode
DEA (Data Envelope Analysis) dan lain sebagainya (Antonio, Sanrego, & Taufiq,
2012). Pengukuran yang dilakukan pada perbankan syariah seharusnya
menggunakan alat ukur yang sesuai dengan ketentuan syariah, dimana alat ukur
bank konvensional hanya melihat dari laba saja, berbeda dengan perbankan
syariah yang melihat dari beberapa aspek lainnya diantaranya adalah aspek sosial
dan sumber daya manusia.
Pengukuran kinerja bank syariah dapat menggunakan Maqashid Syariah
Indeks. Maqashid syariah merupakan tujuantujuan umum yang ingin diraih oleh
syariah yang diwujudkan dalam kehidupan sehingga menjadi salah satu konsep
penting dalam kajian hukum islam (Febriadi dalam Amwaluna, 2018 : 156).
Pengukuran Sharia Maqashid Index (SMI) mengacu kepada teori maqashid
syariah oleh Abu Zahrah yang mencakup tiga tujuan syariah yaitu Tahdzib al Fard
(mendidik individu), Iqamah al-adl (menegakan keadilan) dan Jabl al-Maslahah
(mencapai kesejahteraan). Ketiga tujuan tersebut ditransformasikan kedalam rasio
kinerja untuk kemudian diinterprestasikan dalam menilai kinerja perbankan
syariah. Meskipun pengukuran kinerja yang baru dikembangkan, namun
penelitian-penelitian terkait Sharia Maqashid Index sudah mulai dilakukan.