Anda di halaman 1dari 11

CONCEPTS AND THEORIES OF BUSINESS ETHICS KALBE FARMA, TBK

Rudi, SE 1) , Prof. Dr. Ir. Hapzi Ali, MM, CMA 2)


1) Penulis Pertama
Email : rudi12980@yahoo.com
2) Dosen Pengampu

Etika Bisnis Kalbe merupakan pedoman berperilaku bagi seluruh jajaran Kalbe (termasuk
Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan) dalam melakukan interaksi dan hubungan dengan
segenap pemangku kepentingan. Kode Etik tersebut dikembangkan dengan mengacu pada
prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan kepada Panca Sradha Kalbe yang
merupakan nilai-nilai perusahaan yang menjiwai perkembangan sejarah Kalbe.

Panca Sradha Kalbe terdiri dari prinsip-prinsip berikut:


1. Saling percaya adalah perekat di antara kami.
2. Kesadaran penuh adalah dasar setiap tindakan kami.
3. Inovasi adalah kunci keberhasilan kami.
4. Bertekad untuk menjadi yang terbaik.
5. Saling keterkaitan adalah panduan hidup kami.

Kelima aspek ini menjadi dasar bagi setiap insan Kalbe dalam bersikap, berperilaku dan
berinteraksi dengan para stakeholders Kalbe.

Etika Bisnis Kalbe dapat menghindari terjadinya penyimpangan terhadap standar perilaku
yang ditetapkan dan menjadi pedoman dalam mendeteksi pelanggaran yang terjadi. Kepatuhan
terhadap Etika Bisnis Kalbe akan menghindari timbulnya hubungan yang tidak wajar dengan
para pemangku kepentingan yang pada kelanjutannya akan merugikan Perseroan. Pokok-pokok
Etika Bisnis Kalbe mencakup standar perilaku dan kepatuhan terhadap hukum dan perundang-
undangan, komitmen terhadap karyawan, pemegang saham, mitra usaha, prinsip-prinsip
persaingan usaha, integritas bisnis, benturan kepentingan, standar produk dan layanan,
penghargaan atas hak kekayaan intelektual, komitmen terhadap lingkungan, kemitraan dengan
masyarakat, serta aktivitas organisasi dan politik.

Penyusunan Etika Bisnis Kalbe bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan berikut:


1. Menjabarkan nilai-nilai Perusahaan ke dalam standar etika bisnis yang harus dipatuhi oleh
setiap insan Kalbe dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
2. Menjadi standar pedoman perilaku yang diharapkan atas setiap insan Kalbe, meliputi
Komisaris, Direksi dan karyawan.
3. Mengembangkan perilaku yang baik sesuai dengan standar etika yang tinggi bagi korporasi,
Komisaris, Direksi dan seluruh karyawan.
4. Mengembangkan hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan sesuai dengan
prinsip-prinsip tata kelola dan nilai-nilai Perusahaan.
5. Menunjang pelaksanaan praktek tata kelola yang baik dalam Perusahaan dalam rangka
mencapai kinerja keuangan, sosial dan lingkungan yang baik dan berkelanjutan.

Peluncuran Etika Bisnis diikuti dengan program sosialisasi bertahap yang akan
menjangkau seluruh insan Kalbe. Sosialisasi dilakukan secara berjenjang untuk memastikan
bahwa seluruh lapisan karyawan memiliki pemahaman yang sama atas prinsip Etika Bisnis
Kalbe. Selain kewajiban untuk mentaati Etika Bisnis Kalbe Perseroan, karyawan Kalbe juga
akan diwajibkan mematuhi aturan dan kebijakan Perseroan lainnya serta tidak bersikap diam
apabila menemukan atau mengetahui perbuatan atau tindakan yang merupakan pelanggaran atas
Etika Bisnis Kalbe. Karyawan wajib melaporkan pelanggaran atas Etika Bisnis Kalbe tersebut
melalui Whistleblowing System.

Visi:
Menjadi perusahaan produk kesehatan Indonesia terbaik dengan skala internasional yang
didukung oleh inovasi, merek yang kuat, dan manajemen yang prima.

Misi:
Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik.

Motto:
The Scientific Pursuit of Health for a Better Life

Dalam menunjang pelaksanaan GCG, Kalbe telah membentuk Komite GCG yang
bertugas membantu Dewan Komisaris. Komite GCG bertanggung jawab atas peningkatan dan
penyempurnaan praktik GCG sehubungan dengan tugas dan fungsi pengawasan Dewan
Komisaris. Komite GCG bertanggung jawab terhadap Dewan Komisaris.
Adapun tugas dan tanggung jawab Komite GCG adalah sebagai berikut:
1. Mengevaluasi implementasi GCG di lingkungan Perseroan.
2. Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan dan kelengkapan GCG dalam
Perseroan.
3. Memastikan kebijakan yang berlaku dalam Perseroan telah sesuai dengan budaya, etika,
nilai Perseroan dan sesuai dengan asas GCG.
4. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris terkait dengan
pengembangan dan penerapan GCG.
Per tanggal 5 Juni 2017, susunan anggota Komite GCG terdiri dari:

1. Bernadette Ruth Irawati Setiady - Ketua


2. Bernadus Karmin Winata - Anggota
Tata Kelola dan Kegiatan Usaha yang Berkelanjutan Dalam beberapa tahun terakhir,
kami telah membangun kebijakan dan struktur pendukung untuk memastikan tercapainya standar
transparansi dan akuntabilitas yang disyaratkan para pemangku kepentingan. Di tahun 2016,
kami telah melakukan pengkinian atas piagam-piagam baik di level Dewan Komisaris dan
Direksi maupun Komite-komite guna mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku serta
mengakomodasi perkembangan terakhir di bidang praktik tata kelola.
Menyusul peluncuran Kode Etik Kalbe di tahun sebelumnya, kami terus melaksanakan
program-program sosialisasi kode etik di seluruh organisasi. Selain itu, kami juga meluncurkan
inisiatif untuk mensosialisasikan Kebijakan Kualitas Korporat Perseroan yang baru ke seluruh
karyawan.
Melalui ‘Kalbe Berbagi’, kami terus bekerjasama dengan para pemangku kepentingan,
membantu masyarakat di area kesehatan masyarakat, pendidikan, lingkungan dan pengembangan
infrastruktur.
Di bidang pendidikan, kami terus memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan
ilmu hayati di Indonesia melalui berbagai program rutin, seperti ‘Kalbe Junior Scientist Award’
bagi para pelajar untuk menumbuhkan minat pada ilmu pengetahuan sejak dini, ‘Ristekdikti
Kalbe Science Award’ bagi tenaga riset profesional, serta ‘Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished
Lecture Series’ sebagai program untuk berbagi perkembangan terakhir di bidang teknologi
kesehatan.
Di bidang kesehatan masyarakat, Kalbe melaksanakan program rutin yang menyediakan
layanan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan gratis, serta pembagian obatobatan dan suplemen
ke berbagai komunitas di Indonesia.
Di bidang perlindungan lingkungan, kami berkomitmen menerapkan praktik-praktik
ramah lingkungan dengan memastikan kepatuhan pada standar kualitas lingkungan yang
ditetapkan Pemerintah, serta kepatuhan pada ISO 14001:2004 sebagai standar yang diakui secara
internasional.
Akhirnya, kami berkomitmen untuk menawarkan kesempatan karir yang setara bagi
seluruh karyawan dan melaksanakan praktik ketenagakerjaaan yang adil. Kami juga memastikan
pemberian perlindungan pada keselamatan dan kesehatan karyawan, sesuai dengan Kebijakan
Keselamatan, Kesehatan Karyawan dan Lingkungan Perseroan, yang berlaku di seluruh unit
operasional kami.
Etika Bisnis Kalbe mengacu pada prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan
Kalbe Panca Sradha sebagai nilai-nilai perusahaan yang menjiwai perkembangan Kalbe.
Kalbe menyadari bahwa pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) merupakan
kunci untuk menjadi Perusahaan yang berkelanjutan. Komitmen pada GCG direfleksikan dalam
arahan Perseroan untuk menempatkan GCG sebagai landasan dari seluruh kegiatan usaha Kalbe.
Sebagai perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), pelaksanaan
GCG Perseroan didasarkan pada ketentuan dan peraturan yang berlaku di Indonesia.
Prinsip-Prinsip Tata Kelola Perusahaan Implementasi GCG di Kalbe dilaksanakan dengan
mengaplikasikan prinsip-prinsip Transparansi, Akuntabilitas, Tanggung Jawab, Independensi dan
Kesetaraan. Hal ini dilaksanakan untuk memastikan terciptanya keseimbangan antara
kepentingan ekonomis dan sosial, kepentingan individu serta publik, internal dan eksternal,
kepentingan jangka pendek dan jangka panjang, serta kepentingan seluruh pemangku
kepentingan.
1. Transparansi: yakni transparansi dalam penyampaian informasi material dan relevan,
serta transparansi dalam proses pengambilan keputusan untuk melindungi kepentingan
pemangku kepentingan.
2. Akuntabilitas: meliputi kejelasan definisi peran, tanggung jawab dan kewajiban tiap-tiap
organ Perusahaan serta tiap posisi dalam organisasi Kalbe.
3. Tanggung Jawab: meliputi komitmen untuk mematuhi semua ketentuan yang berlaku,
serta prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat sebagai refleksi sebuah perusahaan yang
bertanggung jawab.
4. Independensi: memastikan bahwa sebagai seorang profesional, setiap karyawan dapat
bekerja secara obyektif untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan Perseroan, terlepas
dari potensi intervensi atau tekanan benturan kepentingan.
5. Kesetaraan: menjamin perlakuan yang adil dan setara kepada seluruh pemangku
kepentingan dalam berbagai hal seperti kesetaraan informasi maupun pengambilan
keputusan.
Tujuan Pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan Penerapan GCG di Kalbe bertujuan untuk: 1.
Mengarahkan dan mengendalikan hubungan kerja Organ Perseroan yaitu antara Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi; 2. Meningkatkan
pertanggungjawaban pengelolaan Perseroan kepada Pemegang Saham dengan tetap
memperhatikan kepentingan para pemangku kepentingan; 3. Menciptakan kejelasan hubungan
kerja antara Perseroan dengan para pemangku kepentingan; 4. Mendorong dan mendukung
pengembangan usaha, alokasi sumber daya Perseroan dan pengelolaan risiko yang efektif
sehingga menjamin peningkatan nilai Perseroan yang berkelanjutan; 5. Mengarahkan pencapaian
visi dan misi Perseroan; 6. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia; 7. Menjadi
dasar implementasi dan pengembangan Budaya Perseroan.
Pedoman Pelaksanaan GCG Kalbe Komitmen Kalbe pada praktik GCG dimanifestasikan
dalam berbagai kebijakan, yang ditetapkan sebagai pedoman pelaksanaan GCG Perseroan.
Pedoman GCG tersebut disusun berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia serta praktik-
praktik internasional GCG terbaik, yang meliputi:
a. Visi, Misi, Motto, serta nilai-nilai Perseroan Kalbe Panca Sradha yang telah tertanam dalam
sejarah perjalanan Kalbe dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan bisnis Perseroan;
b. Pedoman Good Corporate Governance PT Kalbe Farma Tbk, yang telah diberlakukan sejak
tahun 2001;
c. Buku Saku Panduan Pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan yang telah didistribusikan kepada
seluruh karyawan Kalbe sejak tahun 2005;
d. Piagam Komite-komite;
e. Piagam Audit Internal;
f. Kebijakan hukum Kalbe Good Legal Practice sejak tahun 2006;
g. Kebijakan Teknologi Informasi;
h. Buku Panduan Kalbe Management System yang diterbitkan tahun 2013;
i. Etika Bisnis Kalbe, yang ditetapkan pada tahun 2015;
j. Kebijakan mengenai hak dan kewajiban karyawan, termasuk Perjanjian Kerja Bersama dan
Peraturan Perusahaan;
k. Kebijakan mengenai tanggung jawab sosial Perseroan;
l. Berbagai Standar Prosedur Operasional.

Memperkuat Pelaksanaan GCG Kalbe


Inisiatif pelaksanaan GCG di Kalbe dimulai dari level manajemen puncak, berlanjut ke
seluruh unit operasional dalam organisasi. Sebagai refleksi komitmennya pada praktik GCG,
Kalbe terus berupaya memperkuat pelaksanaan GCG di dalam organisasi melalui inisiatif
berikut: 1. Proses internalisasi terus menerus atas Panca Sradha Kalbe dan Etika Bisnis Kalbe
sebagai nilainilai perusahaan dan pedoman perilaku bagi seluruh karyawan guna memastikan
pelaksanaannya di seluruh proses bisnis Perseroan. 2. Penyempurnaan rutin atas kebijakan
Perseroan guna mematuhi persyaratan peraturan yang berlaku serta dinamika dunia usaha. 3.
Pengembangan rencana kerja tahunan yang mendukung penyempurnaan pelaksanaan
prinsipprinsip GCG di seluruh Perseroan. 4. Review dan penyempurnaan pedoman GCG Kalbe
agar tetap sejalan dengan perkembangan terakhir di bidang praktik GCG. 5. Kegiatan
penyebarluasan informasi secara rutin kepada pihak-pihak eksternal tentang kinerja keuangan
dan operasional Kalbe sebagai pelaksanaan prinsip transparansi melalui: - kegiatan hubungan
investor, - public expose, - siaran pers dan - pengkinian informasi situs internet Perseroan.
Evaluasi dan Penghargaan GCG
Sejak tahun 2012, Kalbe telah berpartisipasi dalam survei GCG yang dilaksanakan oleh
Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD). Survey tersebut mengukur praktik GCG
Kalbe berdasarkan kerangka ASEAN Corporate Governance (CG) Scorecard, sebagai bagian
dari upaya mengevaluasi kesiapan praktik GCG di Indonesia menuju pelaksanaan Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) di tahun 2015. Hasil survei terakhir di tahun 2016 kembali
menempatkan Perseroan sebagai salah satu dari 50 perusahaan publik di Indonesia yang terbaik
berdasarkan ASEAN CG Scorecard, berikut penghargaan khusus dalam kategori Hak-hak
Pemegang Saham.
Kalbe juga terpilih sebagai salah satu perusahaan yang diikutsertakan dalam Indeks
Sustainable & Responsible Investment (SRI) Kehati sejak pertama kali diselenggarakan di tahun
2009. Evaluasi Indeks SRIKehati diselenggarakan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati
Indonesia (KEHATI), guna mengevaluasi praktik investasi yang berkelanjutan dan bertanggung
jawab atas perusahaan yang beroperasi di Indonesia.
Fokus GCG di Tahun 2016 Guna meningkatkan pelaksanaan GCG serta
menyempurnakan kemampuan manajemen risikonya, sepanjang tahun 2016 Kalbe
menyelesaikan inisiatifinisiatif berikut: • pengkinian piagam-piagam Komite sejalan dengan
ketentuan dan perkembangan terakhir • penyusunan Kebijakan Korporat sebagai landasan arah
dan prinsip berbagai aspek kegiatan korporasi • pengkinian risiko strategis Perusahaan
Struktur dan Hubungan Tata Kelola Perusahaan Kalbe Struktur tata kelola Kalbe
mengikuti Undang-undang Republik Indonesia No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(Undang-Undang Perseroan Terbatas). Struktur tersebut terdiri dari Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS), Dewan Komisaris, dan Direksi. Struktur ini ditetapkan guna memastikan
pelaksanaan prinsip GCG secara sistematis, serta penentuan yang jelas tentang peran dan
tanggung jawab masing-masing. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, RUPS, Dewan Komisaris
dan Direksi berpedoman pada prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi,
serta kesetaraan guna memastikan keberlanjutan usaha Perseroan dengan memperhatikan para
pemangku kepentingan.
RUPS merupakan organ tertinggi dalam struktur tata kelola Kalbe. RUPS merupakan
forum bagi para pemegang saham untuk memformulasikan keputusan-keputusan penting dengan
memperhatikan kepentingan Perseroan, serta mempertimbangkan ketentuan-ketentuan dalam
Anggaran Dasar Perseroan serta semua ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Dewan Komisaris dan Direksi secara bersama-sama bertanggung jawab atas
kelangsungan usaha Perseroan dalam jangka panjang. Pengelolaan Perseroan dilakukan oleh
Direksi, sementara Dewan Komisaris bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap
kinerja pengelolaan Perseroan.
Oleh karena itu, Dewan Komisaris dan Direksi harus memiliki kesamaan persepsi
terhadap visi, misi, dan nilainilai Perseroan.
Guna membantu Dewan Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasannya, Perseroan
telah membentuk 4 komite, yakni Komite Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi, Komite
Risiko Usaha dan Komite GCG.
Selain itu, Perseroan telah membentuk unit-unit Sekretaris Perusahaan, Hubungan
Investor, Audit Internal dan Unit Manajemen Risiko, yang bertugas membantu Direksi dalam
menjalankan tugas-tugas GCG.
Kalbe menyadari bahwa pelaksanaan sistem pengelolaan risiko yang memadai berperan
penting dalam pengelolaan berbagai risiko usaha yang dihadapi Perseroan.

Penerapan manajemen risiko diharapkan dapat memberikan manfaat-manfaat berikut:


1. Menyediakan informasi bagi manajemen mengenai paparan risiko yang dihadapi;
2. Menyempurnakan metode dan proses pengambilan keputusan;
3. Memberikan penilaian atas risiko yang melekat pada setiap produk dan kegiatan usaha Kalbe.

Struktur Organisasi Manajemen Risiko


Kalbe telah membentuk Unit Audit Korporat dan Penasihat Risiko atau Corporate Audit
and Risk Advisory (CARA). Unit CARA bertanggung jawab memfasilitasi penyempurnaan
kemampuan pengungkapan risiko dan mendorong efektivitas pengembangan dan implementasi
strategi pengendalian risiko secara keseluruhan. Hal tersebut dilaksanakan melalui proses
konsultasi dan evaluasi, guna memastikan bahwa setiap unit kerja dalam melakukan identifikasi
faktor-faktor risiko utama dan melaksanakan kebijakan pengendalian untuk memitigasi risiko-
risiko tersebut.

Kerangka Kerja Manajemen Risiko


Perseroan terus menerapkan pendekatan Top-Down sebagai pelengkap pendekatan
Bottom-Up yang dilaksanakan tahun-tahun sebelumnya. Selain memfasilitasi setiap departemen
di dalam entitas/unit perusahaan untuk mengidentifikasi dan memahami risiko-risiko terkait
proses usaha yang dijalankannya, CARA juga membantu Manajemen dalam mengidentifikasi
risiko-risiko strategis yang dihadapi entitas.

Profil Risiko
Beberapa risiko utama yang memiliki pengaruh penting terhadap kegiatan usaha Kalbe antara
lain:
1. Risiko Persaingan Usaha
Dalam era pasar terbuka sekarang ini, persaingan dalam sektor farmasi dan produk
kesehatan lainnya akan semakin ketat dengan banyaknya produsen lokal maupun internasional
yang beroperasi. Persaingan tersebut timbul dalam berbagai aspek, antara lain sumber daya
keuangan dan kemampuan operasional pesaing internasional yang lebih kuat, serta inovasi
produk, metode promosi dan pemasaran, perubahan permintaan pasar, daya beli masyarakat yang
terbatas serta kesiapan Perseroan menghadapi persaingan bisnis yang tidak sehat.
Penanganan risiko ini dilakukan antara lain dengan meningkatkan kepekaan terhadap
perubahan pasar dan kemampuan menyesuaikan diri serta menangkap peluang yang tersedia.
Disamping itu, Kalbe juga dituntut untuk mampu memberikan nilai lebih dari produk dan jasa
yang ditawarkan oleh Kalbe dibandingkan dengan yang dapat ditawarkan oleh perusahaan lain
yang sejenis.
2. Risiko Keuangan
Dalam menjalankan kegiatan bisnis, Grup Kalbe juga menghadapi risiko keuangan yang
timbul sebagai akibat fluktuasi mata uang asing, anggaran, pembiayaan, serta likuiditas. Karena
sebagian besar bahan baku Kalbe diimpor, hal ini menimbulkan dampak dalam bentuk
kerentanan terhadap fluktuasi valuta asing. Fluktuasi mata uang asing, terutama dalam Dollar
A.S. sangat berdampak pada biaya produksi.
Penanganan risiko ini dilakukan antara lain dengan melakukan pengelolaan manajemen
kas secara lebih prudent untuk menjamin kebutuhan impor, menjaga tingkat persediaan bahan
baku dan barang jadi yang mencukupi dengan selalu memperhatikan kondisi perekonomian
domestik dan global.

3. Risiko Hukum dan Regulasi


Di dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Grup Kalbe menghadapi berbagai jenis
peraturan hukum dan perubahan regulasi yang terkait serta aturan yang dibuat dalam perjanjian
dengan pihak ketiga yang mengikat grup Kalbe, sehingga dapat menimbulkan risiko hukum atau
akibat hukum lainnya. Antisipasi proses perubahan peraturan yang berkenaan dengan industri
kesehatan dan kondisi makro ekonomi dapat memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk
terus bertumbuh. Proses registrasi atas merek dan produk, termasuk perolehan hak paten, serta
kekayaan intelektual lainnya merupakan kewajiban secara hukum yang harus dijalankan secara
berkesinambungan untuk menghindari klaim atau pengakuan dari pihak luar yang dapat terjadi di
kemudian hari. Perjanjian-perjanjian yang mengikat dengan pihak ketiga dapat membawa
konsekuensi hukum, sehingga dalam proses pembuatan dan pengesahannya harus dilakukan
pemeriksaan secara legal sehingga terbentuk keseimbangan hak dan kewajiban. Selain itu,
kegiatan ekspor atau ekspansi ke luar negeri perlu dipertimbangkan dengan mempelajari dan
memahami mengenai perbedaan hukum dan peraturan yang berlaku di masing-masing negara.
Penanganan risiko ini dilakukan antara lain dengan terus melakukan pemantauan atas
perubahan peraturan dengan baik untuk mengantisipasi kesempatan atau dampak suatu risiko,
menghindari gugatan hukum dari pihak lain, dan mematuhi hukum dan regulasi lainnya yang
berlaku. Perseroan juga terus meningkatkan kompetensi sumber daya dan kesiapan dari segi
legalitas dalam menghadapi gugatan dari pihak ketiga.

4. Risiko Reputasi
Risiko reputasi ini meliputi keluhan konsumen, penarikan kembali produk dan juga
kemungkinan adanya sabotase terhadap produk, serta pencemaran nama baik. Di saat seperti
sekarang ini, dimana citra perusahaan sangatlah penting, maka pencemaran reputasi merupakan
risiko yang harus diperhatikan.
Penanganan risiko ini dilakukan antara lain dengan mempertahankan dan meningkatkan
kualitas produk yang meliputi hasil proses bisnis Perseroan yang menyeluruh, yaitu sejak tahap
riset dan pengembangan hingga masa kadaluarsa produk, termasuk kewaspadaan terhadap
pemalsuan produk yang selalu menjadi salah satu fokus utama Grup Kalbe sehingga dapat
meningkatkan rasa kepercayaan konsumen terhadap produk-produk Kalbe. Tidak hanya dari sisi
produk, Kalbe juga meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan melalui pembinaan sumber
daya manusia.

5. Risiko Sumber Daya Manusia


Keberlangsungan perkembangan Perseroan tidak lepas dari kualitas sumber daya manusia
yang dimiliki. Risiko akan tingkat pergantian karyawan, keluarnya karyawan-karyawan yang
berpotensi, permasalahan dalam perekrutan maupun hal lain akan berpengaruh dalam kebutuhan
dan ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas. Penanganan risiko ini dilakukan antara lain
dengan melakukan berbagai kegiatan pelatihan dan pengembangan kemampuan sumber daya
manusia serta memberikan kesempatan yang setara kepada karyawan dalam mengembangkan
karir dan kompetensi secara profesional.
Evaluasi akan sistem kompensasi agar senantiasa kompetitif dan sejalan dengan
perkembangan pasar juga terus dilakukan. Kalbe juga terus mengembangkan dan mengatur talent
pool sehingga selalu tersedia personil yang siap pakai untuk menjamin kelanjutan kinerja yang
baik.

6. Risiko Interupsi Bisnis


Dalam menjalankan bisnisnya Kalbe harus selalu siap untuk menghadapi dan mengatasi
risiko yang bersifat bencana alam, yang dapat berdampak pada lumpuhnya fasilitas perusahaan
dan terhentinya kegiatan produksi, seperti gempa bumi, kebakaran, banjir, dan sebagainya.
Risiko ini memiliki kemungkinan yang kecil, namun membawa akibat yang signifikan untuk
mengantisipasi kemungkinan tersebut, Kalbe senantiasa menerapkan program asuransi yang
memadai atas aset, fasilitas produksi serta persediaan.

7. Risiko Informasi Perusahaan


Di dalam era perkembangan teknologi yang semakin maju sekarang ini, di mana berbagai
informasi dapat diperoleh/ diakses melalui internet, keamanan data perusahaan merupakan
sesuatu yang mutlak. Risiko informasi ini tidak hanya berkaitan dengan permasalahan Teknologi
Informasi (hardware dan software), namun juga terkait dengan semua data informasi yang
dimiliki Grup Kalbe. Kegagalan dalam menjaga kerahasiaan informasi tersebut dapat
mengakibatkan kerugian bagi perseroan.
Penanganan risiko ini dilakukan dengan penetapan dan pengembangan Kebijakan
Teknologi Informasi dan pengadaan pusat Data (Data Center) yang memadai dengan standar
yang tinggi yang merupakan salah satu langkah mitigasi perseroan dalam menjaga keamanan
akan akses informasi-informasi penting tersebut. Risiko-risiko tersebut di atas akan selalu
dimonitor dan dievaluasi dengan memperhatikan dinamika kegiatan usaha dan peraturan-
peraturan terkait, termasuk memetakan risiko-risiko yang mungkin belum teridentifikasi.
Daftar Pustaka :
1. Anonym-1, 2018. https://www.kalbe.co.id/id/tata-kelola-perusahaan/etika, (14 September
2018, Jam 18.00)
2. Anonym-2, 2018. Laporan Keuangan PT Kalbe Farma, Tbk tahun 2016, (14 September
2018, Jam 20.00)

https://www.slideshare.net/RudiRudi11/1-be-gg-rudi-hapzi-ali-ethics-and-business-concept-and-
theory-universitas-mercu-buana-2018