Anda di halaman 1dari 4

5.

PROSES TERCIPTANYA WIRAUSAHA

Munculnya para entrepreneur baik dalam masa krisis maupun dalam masa kondisi ekonomi
sedanga membaik, telah banyak menarik perhatian para pakar untuk melakukan berbagai penelitian. Para
pakar ini tidak saja dari disiplin ilmu ekonomi, namun juga dari disiplin ilmu psikologi, sosiologi,
manajemen dan lainnya. Dalam teori ekonomi, studi kewirausahaan ditekankan kepada identifikasi
[eluang yang terdapat pada pasar serta membahas fungsi inovasi dari entrepreneur dalam menciptakan
kombinasi sumberdaya ekonomis untuk menghasilkan suatu produk. Dalam bidang ilmu psikologi
mislnya, studi kewirausahaan lebih menekankan pada penelitian karakteristik kepribadian wirausaha,
sedangkan dalam ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh lingkungan sosial budaya dalam
pembentukan masyarakat wirausaha.

Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan proses terbentuknya wirausaha diantaranya adalah
sebagai berikut:

1. Teori Life Path Change

Tidak semua entrepreneur lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana
dengan baik. Banyak entrepreneur lahir tidak mengikuti proses yang direncanakan. Hal ini karena
disebabkan beberapa hal:

a. Negative displacement

Seseorang bisa saja menjadi entrepreneur karena dia berada pada tempat yang tidak
kondusif. Misalnya saja karena tertekan, merasa terhina, mengalami kebosanan
selama bekerja, dipaksa ataupun terpaksa pindah dari daerah asal. Kondisi inilah
yang membuat seseorang terpaksa harus keluar dari kebiasaan rutin yang dia sendiri
tidak merasa nyaman dengan kondisi itu. Sementara di sisi lain upaya untuk menjaga
kelangsungan hidup diri dan keluarga harus dipertahankan. Oleh karenanya menjadi
entrepreneur dalam situasi seperti ini adalah pilihan terbaik bagi dirinya.

b. Being between things

Ada orang yang merasa berada pada dua dunia yang berbeda (being between things).
Orang-orang yang baru keluar dari ketentaraan, orang yang baru keluar dari penjara,
sering kali mereka merasa berada pada dua dunia yang berbeda. Apapun perasaannya,
yang pasti mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan hidupnya. Dan
biasanya beranjak darisinilah pilihan harus dibuat. Pilihan menjadi entrepreneur
muncul karena menjadi entrepreneur mereka dapat bekerja dengan mengandalkan diri
mereka sendiri.

c. Having positif pull

Seseorang dapat menjadi entrepreneur karena mendapat dukungan positif dari mitra
kerja, investor, pelanggan, maupun relasi lain. Dukungan positif ini akan
memudahkan mereka mengantisipasi peluang usaha. Slain itu dukungan positif juga
akan menciptakan rasa aman dari berbagai resiko yang akan dihadapi dikemudian
hari.

2. Teori Goal Direct Behavior

Teori ini menggambarkan bahwa seseorang menjadi entrepreneur untuk mencapai tujuan
tertentu. Tujuannya tidak lain adalah memperbaiki kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, seseorang termotivasi dan mengarahkan tingkah lakunya secara
persisten untuk mencapai tujuan. Diawali dengan adanya dorongan need, kemudian goal direct
behavior, hingga tercapainya tujuan. Dorongan need (kebutuhan) muncul dari berbagai macam
mulai dari kebutuhan dasar sampai kepada kebutuhan untuk berprestasi. Bisa juga dorongan need
ini muncul dari adanya defisit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang
bersangkutan (entrepreneur).

3. Teori Pengambilan Keputusan

Sebelum mengambil keputusan terjun ke dalam dunia wirausaha, seseorang terlebih


dahulu melakukan pertimbangan-pertimbangan. Pengambilan keputusan tersebut tidaklah selalu
mudah, bahkan dapat menimbulkan konflik dengan dirinya sendiri bahkan dengan orang lain.
Pengambilan keputusan adalah suatu proses berfikir dan bertindak yang bermuara pada pemilihan
perilaku tertentu sesuai dengan keputusan yang diambil. Jika seseorang mengambil keputusan
menjadi wirausaha maka dia akan menyelaraskan tindakan dengan hasil keputusannya. Faktor-
faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan:
a. Faktor yang berasal dari situasi lingkungan keputusan itu sendiri (decision
environment).

Jika seseorang cukup mengenal keadaan sekarang (initial state), tujuan-tujuan yang
akan datang yang akan dicapai (desire state) dan transformasi yang dibutuhkan untuk
mencapai keadaan yang diinginkan, maka seseorang tersebut dihadapkan kepada
lingkungan keputusan yang berstruktur baik (well structured). Tetapi jika seseorang
tidak mempunyai pemahaman konprehensif, maka dia dihadapkan kepada lingkungan
keputusan berstruktur buruk (ill structured).

b. Faktor yang berasal dari dalam diri pengambil keputusan.

Ada empat atribut psiokologis yang mempengaruhi strategi-strategi keputusan:

a) Kemampuan perseptual

b) Kemampuan informasi

c) Kecenderungan untuk mengambil resiko

d) Tingkat aspirasi.

4. Teori Outcome Expectacy

Outcome expectacy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konsekuensi yang
diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu. Dari pengertian di atas Outcome
expectacy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yang akan diperoleh jika
ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Jenis
Outcome Expectacy yaitu sebagai berikut:

a. Insentif Primer

Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologis seperti makan,


minum, dan kontak fisik lainnya.

b. Insentif Sensoris

Beberapa kegiatan manusia ditujukan untuk memperolah umpan balik sensoris yang
terdapat di lingkungannya.
c. Insentif Sosial

Manusia melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari


lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan
lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman dari pada reaksi yang
berasal dari satu individu.

d. Insentif yang berupa token ekonomi

Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan


ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjangan dan lainnya.

e. Insentif status dan pengaruh

Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan


status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosialnya
memberikan kesmpatan kepadanya untuk mengontrol perilaku orang lain baik
melalui simbol atau secara nyata.

f. Insentif standar internal

Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari
pekerjaannya. Insentif bukan berasal dari luar diri, tetapi berasal dari dalam diri
seseorang. Reaksi diri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu
bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya.