Anda di halaman 1dari 19

RANGKUMAN MATERI KULIAH

AKUNTANSI KEUANGAN II
PENGUNGKAPAN DALAM LAPORAN KEUANGAN

Dosen Pengampu : Dr. I Nyoman Wijana Asmara Putra, S.E.,M.Si.,Ak

KELOMPOK : 5

(02) (1607531007) Ni Putu Mita Ardiyanti


(03) (1607531011) Ni Luh Gede Dandy Adi Pratiwi
(04) (1607521001) I G A Agung Tata Intan Tamara
(12) (1607531022) Ni Putu Novia Triana Dewi
(13) (1607531030) Putu Adhisty Prajna Putri

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA


SEMESTER GANJIL 2017/2018

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan yang dikeluarkan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia disebutkan bahwa pemakai laporan keuangan meliputi investor,
karyawan, pemerintah serta lembaga keuangan, dan masyarakat. Kemudian dalam
pengambilan keputusan ekonomi dipengaruhi banyak faktor, misalnya keadaan perekonomian,
politik dan prospek industri.

Adapun kualitas dalam pengambilan keputusan itu dipengaruhi oleh kualitas


pengungkapan perusahaan yang diberikan melalui laporan tahunan (Annual Report) agar
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami dan tidak menimbulkan salah
interpretasi, maka penyajian laporan keuangan harus disertai dengan pengungkapan yang
cukup (Adequate disclosure). Laporan keuangan terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi,
Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan yang terakhir adalah Catatan Atas Laporan
Keuangan.

Catatan atas laporan keuangan merupakan media untuk pengungkapan yang diharuskan
dalam standar akuntansi dan yang tidak dapat disajikan dalam neraca, laporan laba rugi atau
laporan arus kas. Sehingga keberadaan dari disclosure atau pengungkapan dalam perusahaan
sangat penting karena pada kondisi ketidakpastian pasar, nilai informasi yang relevan dan
realiable tercermin di dalamnya. Sedangkan dalam mekanisme pasar modal, pengungkapan
badan usaha merupakan suatu cara untuk menyalurkan pertanggung jawaban perusahaan
kepada para investor untuk memudahkan alokasi sumber daya yang menunjukkan laporan
tahunan (Annual Report) berupa media yang sangat penting untuk menyampaikan Corporate
Disclosure (pengungkapan pada laporan tahunan).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja prinsip-prinsip pengungkapan dalam laporan keuangan ?
1.2.2 Apa yang dimaksud dengan catatan atas laporan keuangan ?
1.2.3 Bagaimana pengungkapan transaksi atau kejadian khusus dalam laporan keuangan ?
1.2.4 Apa itu laporan interim dan bagaimana bentuknya ?
1.2.5 Apa yang dimaksud dengan pelaporan peramalan dan proyeksi keuangan ?

2
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui prinsip-prisnip pengungkapan dalam laporan keuangan.
1.3.2 Untuk mengetahui catatan atas laporan keuangan
1.3.3 Untuk mengetahui pengungkapan transaksiatau kejadian khusus dalam laporan
keuangan.
1.3.4 Untuk mengetahui laporan interim beserta bentuknya.
1.3.5 Untuk mengetahui pelaporan peramalan dan proyeksi keuangan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Prinsip – Prinsip Pengungkapan


Pengungkapan Laporan Keuangan
Pengungkapan (disclosure) dalam laporan keuangan merupakan penyajian informasi
yang diperlukan untuk berlangsungnya Pasar Modal yang efisien secara optimum. Banyaknya
informasi yang diungkap tidak hanya tergantung pada keahlian pembaca tetapi juga standar
yang dianggap cukup. Ada tiga konsep pengungkapan yang umum diusulkan yaitu Hendriksen
(2002) :
a) Adequate Disclosure (pengungkapan cukup)
Konsep yang sering digunakan adalah pengungkapan yang cukup yaitu pengungkapan
minimum yang disyaratkan oleh peraturan yang berlaku, dimana angka-angka yang
disajikan dapat diinterpretasikan dengan benar oleh investor.
b) Fair Disclosure (pengungkapan wajar) Pengungkapan tidak wajar secara tidak langsung
merupakan tujuan etis agar memberikan perlakuan yang sama kepada semua pemakai
laporan dengan menyediakan informasi yang layak terhadap pembaca potensial.
c) Full Disclosure (pengungkapan penuh)
Pengungkapan penuh menyangkut kelengkapan penyajian informasi yang digunakan
secara relevan. Pengungkapan penuh memiliki kesan penyajian informasi secara
melimpah sehingga beberapa pihak menganggapnya tidak baik.
Disclosure meliputi seluruh proses pelaporan keuangan. Ada beberapa metode untuk
melakukan disclosure. Pemilihan metode yang terbaik tergantung pada sifat informasi yang
akan disampaikan dan penting atau kurang pentingnya informasi tersebut. Beberapa metode
yang lazim digunakan adalah Hendriksen (2002) :
a) Bentuk dan cara pengaturan ikhtisar-ikhtisar keuangan
b) Istilah-istilah yang digunakan adalah penyajian secara terperinci
c) Info yang disajikan dalam ikhtisar keuangan yang bersangkutan dalam bentuk tanda
kurung (parenthefical information)
d) Catatan kaki (foot notes) atas ikhtisar dan perincian atau daftar tambahan
e) Supplementary statement (informasi tambahan yang disajikan dalam bentuk yang agak
berbeda diikhtisar keuangan dasar, misalnya nama dan ikhtisar laba rugi dengan indeks
harga konsumen).

4
Prinsip pengungkapan penuh (full disclosure principle) atau prinsip keterbukaan adalah
menyajikan semua informasi dalam laporan keuangan yang dapat memengaruhi pemahaman
pembaca. Penafsiran atas prinsip ini sangat subyektif dan berpotensi menyebabkan terlalu
banyak informasi yang disajikan. Oleh karena itu, prinsip materialitas digunakan agar hanya
mengungkapkan informasi tentang peristiwa yang mungkin berdampak material terhadap
posisi atau hasil keuangan entitas.
Pengungkapan dapat mencakup hal-hal yang belum dapat dihitung secara tepat, seperti
sengketa pajak dengan Pemerintah atau litigasi dengan pihak lain. Pengungkapan penuh juga
berarti bahwa kita harus selalu melaporkan kebijakan akuntansi yang ada, serta perubahan atas
kebijakan tersebut (misalnya, perubahan metode penilaian aset atau metode
depresiasi), transaksi non-moneter yang terjadi, hubungan dengan pihak afiliasi bisnis yang
memiliki volume transaksi signifikan, jumlah aset diagunkan, jumlah kerugian material yang
disebabkan oleh biaya yang lebih rendah dari nilai pasar, uraian tentang kewajiban penghentian
pengoperasian aset, fakta dan keadaan yang menyebabkan penurunan goodwill, dll.

2.2 Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan atau daftar rinci atau analisis atas
nilai suatu pos yang disajikan dalam laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus
Kas. Setiap entitas pelaporan diharuskan untuk menyajikan Catatan atas Laporan Keuangan
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari laporan keuangan untuk tujuan umum. Catatan atas
laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap posdalam Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, Dan Laporan Arus Kas harus mempunyai referensi silangdengan informasi
terkait dalam catatan atas laporan keuangan.

Catatan atas Laporan Keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan dapat dipahami
oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk pembaca tertentu ataupun manajemen
entitas pelaporan. Oleh karena itu, Laporan Keuangan mungkin mengandung informasi yang
dapat mempunyai potensi kesalahpahaman di antara pembacanya. Untuk menghindari
kesalahpahaman, catata atas laporan keuangan harus menyajikan informasi yang dapat
menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana perkembangan posisi dan kondisi
keuangan/fiskal entitas pelaporan serta bagaimana hal tersebut tercapai sehingga memudahkan
pengguna dalam memahami laporan keuangan.

5
Kesalahpahaman dapat saja disebabkan oleh persepsi dari pembaca laporan keuangan.
Pembaca yang terbiasa dengan orientasi anggaran mempunyai potensi kesalahpahaman dalam
memahami konsep akuntansi akrual. Pembaca yang terbiasa dengan laporan keuangan sektor
komersial cenderung melihat laporan keuangan pemerintah seperti laporan keuangan
perusahaan.

Untuk itu, diperlukan pembahasan umum dan referensi ke pos-pos laporan keuangan
menjadi penting bagi pembaca laporan keuangan. Selain itu, pengungkapan basis akuntansi
dan kebijakan akuntansi yang diterapkan akan membantu pembaca untuk dapat menghindari
kesalahpahaman dalam membaca laporan keuangan.

Kebijakan fiskal yang perlu di uangkapkan dalam catatn atas laporan keuangan adalah
kebijakan-kebijakan pemerintah dalam peningkatan pendapatan, efesiensi belanja, dan
penentuan sumber atau pengguna pembiayaan. Misalnya penjabaran rencana strategis dalam
kebijakan penyusunan APBD,sasaran, program dan prioritas anggaran, kebijakan intensifikasi
atau ekstensifikasi perpajakan, pengembangan pasar surat utang Negara.

Kondisi ekonomi makro yang perlu di uangkapkan dalam catatan atas laporan keuangan
adalah asumsi-asumsi indikator ekonomi makro yang digunakan dalam penyusunan APBD
berikut tingkat capaiannya. Indikator ekonomi makro tersebut antara lain produk domestik
bruto/produk harga minyak, tingkat suku bunga, dan neraca pembayaran.

Pengungkapan untuk masing-masing pos pada laporan keuangan mengikuti standar


berlaku yang mengatur tentang pengungkapan untuk pos-pos yang berhubungan. Misalnya,
pernyataan standar akuntansi pemerintah tentang persediaan mengharuskan pengungkapan
kebijakan akuntansi yang di gunakan dalam pengukuran persediaan.

Untuk memudahkan pembaca laporan, pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan
dapat di sajikan secara narasi, bagan, grafik, daftar, dan skedul atau bentuk lain yang lazim
yang mengiktisarkan seacara ringkas dan padatkondisi dan posisi keuangan entitas laporan.

Informasi yang Termuat Pada Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas
nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus
Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi yang
diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta

6
pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas
laporan keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen- komitmen lainnya.

Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang penjelasan pos-pos


laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai, antara lain:

a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian


target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang
dihadapi dalam pencapaian target;
b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;
c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-
kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan
kejadian-kejadian penting lainnya;
d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan
e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan
dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan
penerapan basis kas;
f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang
tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

Secara lengkap informasi yang harus di muat pada catatan Atas Laporan keuangan
sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan yang dipertegas dengan Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2006
tentang laporan keuangan dan kinerja pemerintah dan peraturan menteri dalam negeri Nomor13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

2.3 Pengungkapan Transaksi Atau Kejadian Khusus

Transaksi pihak yang terkait, kesalahan dan ketidakwajaran, serta tindakan melawan
hukum merupakan masalah yang sensitif dan sulit. Akuntan/auditor yang bertanggung jawab
atas pelaporan jenis transaksi ini harus sangat berhati-hati untuk memastikan keseimbangan
antara hak perusahaan pelapor dan kebutuhan pemakai laporan keuangan.

Transaksi pihak yang terkait terjadi apabila suatu perusahaan melakukan transaksi
dimana salah satu pihak yang melakukan transaksi itu mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi kebijakan pihak lainnya secara signifikan, atau dimana pihak yang tidak terlibat

7
dalam transaksi mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan kedua pihak yang
melakukan transaksi.

Seorang akuntan diharapkan untuk melaporkan substansi ekonomi dan bukannya


format hukum dari transaksi tersebut serta membuat pengungkapan yang memadai. FASB
Statement No. 57 mengharuskan pengungkapan berikut untuk transaksi pihak terkait yang
material :

a) Sifat hubungan pihak yang terlibat.


b) Uraian tentang transaksi untuk setiap periode dimana laporan laba rugi disajikan.
c) Jumlah uang yang terlibat dalam transaksi untuk setiap periode di mana laporan laba
rugi disajikan
d) Jumlah yang terhutang dari atau kepada pihak terkait pada setiap tanggal neraca yang
disajikan

Banyak perusahaan terlibat dalam transaksi pihak terkait. Namun, kesalahan,


ketidakseimbangan, dan aksi illegal adalah kasus luar biasa alih-alih kasus umum dalam
transaksi seperti ini.

Kesalahan (errors) didefinisikan sebagai kesalahan yang tidak disengaja, sedangkan


ketidakwajaran adalah distorsi laporan keuangan yang disengaja. Jika kesalahan ditemukan,
maka laporan keuangan harus dikoreksi.

Tindakan melawan hukum mencakup hal-hal seperti kontribusi politik yang illegal,
praktek suap, pemberian komisi, serta pelanggaran hukum dan peraturan lainnya. Dalam situasi
ini, seorang akuntan/auditor harus mengevaluasi kelayakan pengungkapan dalam laporan
keuangan.

2.4 Laporan Interim

A. Pengertian Laporan Keuangan Interim

Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua
laporan keuangan tahunan. Laporan keuangan interim: (1) harus dipandang sebagai bagian
yang integral dari periode tahuan; dan (2) dapat disusun secara bulanan, triwulanan, atau
periode lain yang kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan
sesuai standar akuntansi keuangan. Di Indonesia, laporan keuangan interim dimuat dalam

8
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan
Interim yang terdapat dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

B. Sifat Laporan Keuangan Interim

Secara konseptual, laporan keuangan interim (interim report) menyediakan informasi


yang lebih tepat waktu, tetapi kurang lengkap dibandingkan dengan laporan keuangan tahunan
(annual report). Laporan keuangan interim menunjukkan adanya trade-off antara ketepatan
waktu dan kehandalan data-data keuangan, karena memerlukan adanya estimasi untuk
melakukan review piutang, utang dagang/usaha, persediaan, dan informasi lainnya yang
mendukung pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan. Kebutuhan
minimum pengungkapan sebagaimana diatur dalam APB Opinion Nomor 28 tidak mewajibkan
penyajian keuangan yang wajar hasil operasi dan posisi keuangan sesuai dengan PABU.

Berdasarkan APB Opinion Nomor 28, masing-masing periode interim merupakan


bagian integral dari laporan tahunan (annual report). Hasil perhitungan periode interim harus
didasarkan pada prinsip akuntansi dan praktik yang digunakan dalam tahun terakhir
penyusunan laporan keuangan. Meskipun demikian, modifikasi tetap diperbolehkan untuk
menyesuaikan periode interim dengan periode tahunan supaya memiliki informasi yang berarti.
Sebagai contoh, laporan interim memodifikasi prosedur yang digunakan untuk penghitungan
biaya produksi dan biaya-biaya yang lain yang biasanya digunakan dalam laporan tahunan.

C. Pandangan Sehubungan Dengan Laporan Keuangan Interim

Pada umumnya, laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan bisnis adalah tahun
fiskal penuh. Beberapa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan untuk periode akuntansi
interim sebagai bagian dari tahun fiskal.

Pada dasarnya, ada dua pandangan sehubungan dengan laporan keuangan interim adalah
sebagai berikut.

1. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan
menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap periode ditentukan dengan cara yang sama,
seperti pada periode tahunan.
2. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai bagian yang integral dengan
periode tahunan.

9
Di Indonesia, laporan keuangan interim dikembangkan berdasarkan pandangan yang kedua
yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan.

D. Biaya Produk

Profesi akuntansi mengindikasikan bahwa pendapatan harus diakui dalam periode


interim atas dasar yang sama dengan yang digunakan dalam periode tahunan. Selain itu, biaya-
biaya yang terkait langsung dengan pendapatan, seperti bahan, tenaga kerja serta tunjangan
khusus, dan overhead pabrik juga harus diperlukan dengan cara yang sama antara laporan
interim dan laporan tahunan.

Perusahaan harus menggunakan metode penetapan harga persediaan yang sama untuk
laporan interim seperti halnya laporan tahunan. Tetapi, terdapat pengecualian-pengecualian
berikut dapat diterima dalam pelaporan interim:

1. Perusahaan dapat menggunakan metode laba kotor untuk penetapan harga persediaan
interim, tetapi dibutuhkan pengungkapan atas metode dan penyesuaian untuk
merekonsiliasi dengan persediaan tahunan.
2. Jika persediaan LIFO dilikuidasi pada tanggal interim dan diperkirakan akan diganti
kembali sebelum akhir tahun, maka harga pokok penjualan harus mencakup perkiraaan
biaya penggantian dasar LIFO yang dilikuidasi dan tidak mempengaruhi likuidasi
interim.
3. Penurunan harga pasar persedian tidak dapat ditangguhkan setalah periode onterim
kecuali dianggap bersifat sementara dan tidak ada kerugian yang diperkirakan untuk
tahun fiskal tersebut.
4. Varians yang direncanakan menurut sistem biaya standar yang diperkirakan akan
diserap sampai akhir tahun biasanya harus ditangguhkan.

Biaya dan beban selain biaya produk, yang sering disebut sebagai biaya periode,
seringkali dibebankan ke periode interim pada saat terjadinya. Ruang gerak yang cukup besar
diberikan dalam akuntansi untuk biaya-biaya itu selama periode interim, dan banyak pihak
yakin bahwa pedoman yang lebih definitive akan diperlukan. Berikut data interim harus
dilaporkan sebagai tingkat minimum:

1. Penjualan atau pendapatan kotor, provisi untutk pajak penghasilan, pos-pos luar biasa,
pengaruh kumulatif dari perubahan prinsip atau praktek akuntansi, dan laba bersih.
2. Laba per saham dasar dan yang didilusi jika tepat.

10
3. Pendapatan, biaya, atau beban musiman.
4. Perubahan yang signifikan dalam estimasi atau provisi untuk pajak penghasilan.
5. Pelepasan segmen bisnis dan pos-pos luar biasa, tidak biasa, atau yang jarang terjadi.
6. Pos-pos kontinjen.
7. Perubahan prinsip atau estimasi akuntansi.
8. Perubahan yang signifikan dalam posisi keuangan.

Jika informasi ini tidak disajikan, maka perubahan yang signifikan dalam pos-pos
seperti aktiva lancar, modal kerja bersih,kewajiban jangka panjang, dan ekuitas pemegang
saham harus diungkapkan.

E. Penurunan Nilai Pasar Persediaan

Penurunan nilai pasar sediaan tidak ditangguhkan selama periode interim, kecuali jika
ditentukan secara temporer tidak ada kerugian yang akan terjadi selama setahun secara
keseluruhan.

F. Sistem Biaya Standar

Rencana varian berdasarkan sistem biaya standar yang diharapkan akan diserap pada
akhir tahun sebaiknya ditangguhkan pada masa interim.

G. Biaya-Biaya Lain

Biaya Tahunan dalam Laporan Interim. Biaya yang dibebankan secara tahunan
sebaiknya dialokasikan ke periode interim. Prosedur alokasi harus konsisten dengan prosedur
untuk laporan tahunan. Biaya-biaya yang muncul dalam periode interim tidak ditangguhkan,
kecuali jika biaya-biaya tersebut akan ditangguhkan pada akhir tahun.

Biaya Iklan. Biaya iklan tidak ditangguhkan selama masa interim, kecuali jika
manfaatnya juga dapat dirasakan pada periode sesudahnya.

Pajak Penghasilan. Pajak penghasilan dalam laporan interim dibagi menjadi (a) pajak
penghasilan untuk penghasilan dari operasional tidak termasuk item-item yang bukan biaya
atau jarang terjadi, dan (b) pajak penghasilan untuk item yang tidak biasa, pemberhentian
operasi dan item luar biasa. Biaya pajak penghasilan untuk masa interim berdasarkan pada
estimasi tarif pajak efektif tahunan untuk pendapatan kena pajak (PKP) yang berasal dari
operasi tidak termasuk item-item luar biasa. Estimasi pajak penghasilan tahunan dikurangi
dengan pajak penghasilan yang telah diakui pada periode sebelumnya menjadi beban pajak

11
periode kini. Pengaruh pajak untukitem-item yang tidak biasa diperhitungkan secara terpisah
dan ditambahkan pada periode interim di mana item ini dilaporkan. Gain dan loss untuk
pemberhentian operasi dan item luar biasa dilaporkan dalam laporan tahunan.

H. Penyajian Laporan Keuangan Interim

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan


Keuangan Interim berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan laporan
keuangan interim oleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya: pasar modal, dan lain-
lain. Untuk industri yang telah diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) industri yang
bersangkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus
tersebut.

Laporan keuangan interim meliputi: (1) neraca; (2) laporan laba/rugi; (3) saldo laba
interim; (4) laporan arus kas; dan (5) catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim
harus menyajikan secara komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan
laba/rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode
interim terakhir yang dilaporkan (year-to-date).

Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan
tidak lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai
laporan keuangan tahunan. Kalau suatu aktiva dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan
dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan
sebagai lancar; atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka pendek; kalau tidak aktiva
tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka
panjang.

Khusus untuk perusahan tertentu, antara lain bank dan asuransi, yang mempunyai
metode khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai
dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

I. Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim

Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan keuangan
interim, maka data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan:

12
1. Pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa
(termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif
perubahan akuntansi, perubahan akuntansi, dan laba bersih.
2. Data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan.
3. Pendapatan dan beban musiman.
4. Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan.
5. Pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa, dan tidak sering
terjadi.
6. Kewajiban kontinjen.
7. Perubahan akuntansi.
8. Perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.

Laporan keuangan interim terakhir, misalnya laporan keuangan interim triwulan keempat,
tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan
laporan keuangan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak
diterbitkan, maka penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan
tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan
selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang
bersangkutan.

2.5 Pelaporan Peramalan Dan Proyeksi Keuangan

Dalam tahun-tahun terakhir ini, tuntutan masyarakat investor akan informasi yang lebih
banyak dan baik berfokus pada pengungkapan ekspetasi perusahaan di masa depan.
Pengungkapan tersebut mengambil salah satu dari dua bentuk.

A. Peramalan Keuangan.

Peramalan keuangan adalah satu set laporan keuangan prospektif yang menyajikan
perkiraan posisi keuangan, hasil operasi, dan arus kas entitas, sesuai dengan pengetahuan serta
keyakinan terbaik dari pihak yang bertanggung jawab atas laporan keuangan tersebut.
Peramalan keuangan didasarkan atas asumsi pihak yang bertanggung jawab yang
mencerminkan kondisi-kondisi yang diyakininya akan terjadi dan arah tindakan yang
diperkirakan akan diambil.

13
B. Proyeksi Keuangan

Proyeksi keuangan adalah laporan-laporan keuangan prospektif yang menyajikan perkiraan


posisi keuangan, hasil operasi, dan arus kas entitas dengan satu atau lebih asumsi hipotesis,
sesuai dengan pengetahuan serta keyakinan terbaik dari pihak yang bertanggung jawab atas
laporan keuangan tersebut. Proyeksi keuangan didasarkan atas asumsi pihak yang bertanggung
jawab yang mencerminkan kondisi-kondisi yang diyakininya akan terjadi dan arah tindakan
yang diperkirakan akan diambil dengan memandang satu atau lebih asumsi hipotesis.

Perbedaan antara peramalan keuangan dan proyeksi keuangan adalah bahwa peramalan
keuangan mencoba memberikan informasi tentang apa yang diharapkan terjadi, sedangkan
proyeksi keuangan dapat memberikan informasi tentang apa yang mungkin terjadi, walaupun
tidak harus sesuatu yang diharapkan terjadi.

Argumen-argumen yang mendukung penerbitan peramalan :

1. Keputusan investasi berdasarkan ekspetasi atau harapan di masa depan, karena itu
informasi tentang masa depan memudahkan pengambilan keputusan yang lebih baik
2. Peramalan sudah diedarkan secara informal, tetapi tidak terkendali, seringkali
menyesatkan, dan tidak tersedia secara merata kepada seluruh investor. Situasi yang
membingungkan ini harus dikendalikan
3. Situasinya kini berubah dengan cepat sehingga informasi historis tidak lagi memadai
untuk keperluan prediksi.

Argumen-argumen yang menolak penerbitan peramalan :

1. Tidak seorangpun yang dapat mengetahui masa depan. Oleh sebab itu meskipun
peramalan memberikan kesan kebenaran tentang masa depan namun tetap terbukti
salah pada akhirnya
2. Organisasi hanya akan berusaha untuk memenuhi peramalan yang telah diterbitkannya,
dan tidak berusaha untuk mencapai hasil terbaik demi kepentingan pemegang saham
3. Jika peramalan terbukti tidak akurat, maka akan muncul berbagai tuduhan dan mungkin
tindakan hokum
4. Pengungkapan peramalan akan merugikan organisasi karena memberikan informasi
tidak hanya kepada investor, tetapi juga kepada para pesaing (asing dan lokal)

SEC telah mengindikasikan bahwa perusahaan diperbolehkan (tidak diharuskan) untuk


memasukkan peramalan laba dalam pelaporan yang diajukan kepada SEC. untuk mendorong

14
manajemen mengungkapkan jenis informasi ini, SEC telah menerbitkan peraturan
perlindungan (safe-harbor rule). Peraturan tersebut memberikan perlindungan kepada
perusahaan yang menyajikan peramalan yang salah selama proyeksi tersebut disiapkan atas
dasar yang masuk akal dan diungkapkan dengan maksud yang baik. Akan tetapi, safe harbour
rule tidak bekerja dengan baik dalam prakteknya.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengungkapan laporan keuangan dalam arti luas berarti penyampaian (release)
informasi. Sedangkan menurut para akuntansi memberi pengertian secara terbatas yaitu
penyampaian informasi keunagan tentang suatu perusahaan di dalam laporan keuangan
biasanya laporan tahunan

Informasi itu sekaligus menjadi bahan untuk keperluan pengungkapan informasi kepada
pihak eksternal, sehingga tidak perlu ada tambahan biaya yang besar untuk dapat melakukan
pengungkapan dengan lebih lengkap.

Pengungkapan wajib (mandatory disclosure) informasi yang diharuskan oleh peraturan


yang berlaku, dalam hal ini peraturan dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal
(Bapepam). Sedangkan pengungkapan sukarela adalah pengungkapan informasi yang
dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku atau
pengungkapan melebihi yang diwajibkan.

Perusahaan akan melakukan pengungkapan melebihi kewajiban pengungkapan minimal


jika mereka merasa pengungkapan semacam itu akan menurunkan biaya modalnya atau jika
mereka tidak ingin ketinggalan praktik-praktik pengungkapan yang kompetitif. Sebaliknya,
perusahaan-perusahaan akan mengungkapkan lebih sedikit apabila mereka merasa
pengungkapan keuangan akan menampakkan rahasia kepada pesaing atau menampakkan sisi
buruk perusahaan di depan berbagai pihak.

16
DAFTAR PUSTAKA
LAPORAN REALISASI ANGGARAN BERBASIS KAS dalam "Akuntansi Pemerintahan"
AKUNTANSI KEWAJIBAN (PSAP NO 9) dalam "Akuntansi Pemerintahan"
http://ekonomikomiko.blogspot.co.id/2014/05/pengungkapan-dalam-laporan-keuangan.html
(Diunduh pada 25 November 2017)
http://kamusbisnis.com/arti/prinsip-pengungkapan-penuh/ (Diunduh pada 25 November 2017)
http://aguskemponk28.blogspot.co.id/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-
none_19.html (Diunduh pada 25 November 2017)

17
LAMPIRAN-LAMPIRAN
-SOAL-

1. Apakah yang mendasari ketentuan, keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai investasi
saham yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual dicatat dalam komponen ekuitas
bukan diakui sebagai laba/rugi periode berjalan ?
2. Relevance dan reliable merupakan karakteristik kualitatif laporan keuangan, namun standar
juga menyebutkan adanya keseimbangan antara karakteristik kualitatif. Jelaskan pengertian
dari ketiga karakteristik kualitatif tersebut !
-JAWABAN-

1. Sekuritas yang tersedia untuk dijual merupakan jenis sekuritas dengan tingkat kepemilikan
kurang dari 20%. Apabila seorang investor memiliki hak kurang dari 20% maka
diasumsikan bahwa investor mempunyai pengaruh yang kecil terhadap investee. Jadi,
perusahaan investee melaporkan laba bersih untuk tahun berjalan tetapi tidak
mengumumkan dan membayar deviden, artinya laba bersih yang dihasilkan perusahaan
investee tidak dianggap sebagai dasar yang tepat untuk mengakui laba dari investasi oleh
investor. Alasannya adalah bahwa investee bisa saja memilih untuk menahan kenaikan
aktiva bersih yang dihasilkan dari investasi yang untuk digunakan dalam bisnis. Jadi, laba
bersih bersih tidak dianggap diperoleh oleh investor sampai dividen tunai di umumkan
oleh investee. Begitu pula sebaliknya apabila terjadi penurunan nilai investasi.
2.
A. Relevan

Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya sesuai
kebutuhan pengguna, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pengguna, khususnya dalam
mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini, memprediksi masa depan, serta menegaskan
atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
Informasi dapat dikatakan relevan jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value), yaitu informasi tersebut
memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di
masa lalu.
b. Memiliki manfaat prediktif (predictive value), yaitu informasi tersebut dapat
membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan
hasil masa lalu dan kejadian masa kini.
c. Tepat waktu, yaitu jika informasi yang disajikan tersebut bertepatan pada saat
informasi tersebut dibutuhkan, sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam
pengambilan keputusan.
d. Lengkap, yaitu informasi tersebut disajikan selengkap mungkin, sehingga mencakup
semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan,
termasuk mengungkapkan dengan jelas seluruh informasi yang melatarbelakangi setiap
butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan, agar kekeliruan dalam
penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.

18
Agar informasi yang disajikan dapat relevan maka informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan harus didasarkan pada kebutuhan informasi para pengguna laporan keuangan.
B. Andal

Informasi yang andal (dapat dipercaya) dalam laporan keuangan berarti bahwa bebas dari
pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur,
serta dapat diverifikasi. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan mungkin saja
relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan
informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan dan merugikan pengguna laporan
keuangan.
Karakteristik informasi yang andal antara lain sebagai berikut:
a. Penyajian Jujur, yaitu jika informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta
peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan
untuk disajikan.
b. Dapat Diverifikasi (verifiability), yaitu jika Informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang
berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh.
c. Netralitas, yaitu informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada
kebutuhan pihak tertentu.
d. Agar informasi yang dihasilkan dapat dipercaya (andal) maka penyajian informasi
dalam laporan keuangan harus didasarkan pada standar akuntansi yang berlaku, dan
disajikan secara menyeluruh.
C. Keseimbangan antar Karakteristik Kualitatif
Keseimbangan antar karakteristik kualitatif yang diperlukan untuk mencapai suatu
keseimbangan yang tepat di antara berbagai tujuan normatif yang diharapkan dipenuhi oleh
laporan keuangan pemerintah. Bisa saja untuk mementingkan dipenuhinya keandalan suatu
informasi, menyebabkan informasi tersebut kurang relevan, begitupula sebaliknya jika
relevansinya dipentingkan, mengakibatkan informasi tersebut kurang andal.
Kepentingan relatif antar karakteristik dalam berbagai kasus mungkin akan berbeda,
terutama antara relevansi dan keandalan, adakalanya pengguna lebih membutuhkan
informasi yang andal dibandingkan informasi yang relevan, namun bisa saja pengguna
lebih mementingkan kerelavansian dari pada keandalannya. Untuk itu, dibutuhkan suatu
pertimbangan profesional dalam penentuan tingkat kepentingan antara dua karakteristik
kualitatif tersebut agar dapat menyediakan informasi sesuai dengan kebutuhan pengguna.

19