Anda di halaman 1dari 5

STEP 1

- Apeksogenesis : tahapan perawatan saluran akar yang masih vital dengan kondisi apeks
masih terbuka atau belum terbentuk sempurna
- Fraktur mahkota :

STEP 2

1. Apa saja bahan yang digunakan dalam perawatan apeksogenesis?


2. Bagaimana prognosis perawatan apeksogenesis?
3. Bagaimana prosedur perawatan apeksogenesis?
4. Bagaimana apeks masih terbuka?
5. Apakah indikasi dan kontraindikasi perawatan apeksogenesis?
6. Mengapa dalam kasus ini harus dilakukan perawatan apeksogenesis?
7. Bagaimana tanda keberhasilan dan kegagalan dalam perawatan apeksogenesis?
8. Apakah perlu dievaluasi setelah perawatan apeksogenesis? Jika perlu bagaimana?

STEP 3

1. Apa saja bahan yang digunakan dalam perawatan apeksogenesis?


Bahan yang biasa digunakan Ca(OH)2 ini memiliki sifat basa kuat karena memiliki pH
12-13. Dan juga melepas ion kalsium akan membuat jaringan yang berkontak menjadi
alkalis. Ca(OH)2 memiliki 3 tahap mekanisme :
- Ion hidroksil menghancurkan phospholipids sehingga membrane sel dapat
dihancurkan
- Adanya kadar alkali yang tinggi ikatan ion sehingga protein bakteri dirubah
- Ion hidroksil bereaksi dengan DNA bakteri, dan menghabat proses replikasi

Bahan lain adalah MTA

2. Bagaimana prognosis perawatan apeksogenesis?


Prognosis perawatan apeksogenesis semakin muda usia pasien maka semakin besar
peluang kesuksesan dalam perawatannya.
3. Bagaimana prosedur perawatan apeksogenesis?
Prosedur pulp capping :
- Dilakukan anastesi, pemasangan rubber dum atau isolasi daerah kerja dan
desinfeksi daerah kerja
- Dilakukan cavity entrance menggunakan round bur
- Pembersihan pulpa yang terinflamasi menggunakan bur kecepatan rendah atau
ekskavator
- Perdarahan yang terjadi pada pulpa, dibersihkan atau dihentikan dengan
pemberian sodium hypochlorite atau saline
- Kemudian setelah pulpa terinflamasi diambil, kalsium hidroksida diaplikasikan
diatas pulpa yang tidak terinflamasi
- Kemudian diaplikasikan GIC sebagai base
- Lalu ditumpat sementara menggunakan resin komposit
4. Bagaimana apeks masih terbuka?
Karena gigi masih dalam masa pertumbuhan, maka apeks belum tumbuh sempurna.
5. Apakah indikasi dan kontraindikasi perawatan apeksogenesis?
Indikasinya :
- Gigi tetap vital
- Peradangan ringan
- Tidak ada peradangan periapikal
- Pulpa terbuka kurang dari 72 jam
- Kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radikuler dalam keadaan sehat

Kontraindikasi :

- Pada gigi sudah goyang patologis


- Pada gigi yang fraktur mahkota dan akar yang berat
- Gigi dengan fraktur akar yang horizontal yang berada dekat dengan margin
gingival
- Gigi karies yang tidak dapaat ditumpat lagi
- Pembengkakan akibat peradangan
Apabila indikasi restorasi pasak maka tidak dapat dilakukan apeksogenesis.
6. Mengapa dalam kasus ini harus dilakukan perawatan apeksogenesis?
Karena pada scenario disebutkan bahwa pasien masih berumur 9 tahun dan gigi
fraktur adalah gigi 21, sehingga dapat disimpulkan bahwa gigi 21 merupakan gigi
permanen muda. Fraktur koronal apabila tidak segera dilakukan perawatan maka akan
menyebabkan pulpa yang inflamasi menjadi bertambah parah dan dapat menimbulkan
nekrosis. Selain itu apeks gigi 21 pasien belum menutup sempurna. Kedua hal tersebut
menjadi alasan mengapa dibutuhkan apeksogenesis yaitu untuk menginduksi penutupan
akar dan mempertahankan kondisi dari bagian pulpa yang masih vital. Dan sebagai
dokter gigi bagaimana cara kita dalam mempertahankan gigi tetap berada dalam rongga
mulut tidak langsung dicabut sebagai ppertimbangan fungsi dan estetiknya.
Dilakukan perawatan apeksogenesis karena dirasa perawatan ini paling cocok.
Dan pada kondisi ini tidak dapay dilakukan apeksifikasi karena apeks belum tumbuh
sempurna.
7. Bagaimana tanda keberhasilan dan kegagalan dalam perawatan apeksogenesis?
Jika berhasil :
- Tidak ada tanda-tanda atau gejala penyakit pulpa atau periapikal
- Telah terjadi pembentukan dentin
- Bridge o calsification dibawah Ca-hydroxyl
Jika gagal :

- Adanya kontaminasi bakteri


- Gejala sakit sensitive terhadap tekanan
- Tidak terjadi penutupan pada apical
- Tanda-tanda saluran sinus bengkak, kerusakan probing, gambaran radiolusen pada
periapikal
- Pertumbuhan jaringan granuloma lebih kebawah, sehingga file yang lebih pendek
saja dapat menyebabkan perdarahan.
8. Apakah perlu dievaluasi setelah perawatan apeksogenesis? Jika perlu bagaimana?
Evaluasi diadakan untuk mengontrol hasil perawatan yang dilakukan oleh drg. Apakah
ada keluhan atau tidak. Evaluasi sendiri dilakukan sampai 2 tahun. Apabila berhasil maka
dilanjutkan dengan restorasi tetap. Jika gagal maka dilakukan retreatment.
STEP 4
Pemeriksaan

Subjektif Objektif Penunjang

Diagnosa
Indikasi dan
kontraindikasi
Rencana perawaatan
Macam-macam
perawatan
apeksogenesis
Prosedur perawatan

Kontrol atau evaluasi


TEKNIK PERAWATAN APEKSOGENESIS DENGAN BAHAN Ca(OH)2
Pulpotomi konvensional pada gigi anterior dengan fraktur mahkota mengenai pulpa lebih
dari 24 jam dan dalam keadaan apeks terbuka, dapat digolongkan ke dalam indikasi
apeksogenesis. Sebelum melakukan perawatan apeksogenesis, terlebih dahulu harus dilakukan
pemeriksaan radiografi untuk memastikan keadaan gigi baik secara fisiologis dan patologis
sehingga dapat dilakukan perawatan.
Untuk gigi yang akan dilakukan perawatan apeksogenesis harus dilakukan anestesi lokal
terlebih dahulu karena keadaan pulpa yang masih vital, lalu lakukan pemasangan isolator karet
dan desinfektan pada area kerja dengan antiseptik. Buat arah masuk ke kamar pulpa dengan bur
steril dengan pendingin air secara terus menerus, dimana semua atap pulpa dibuang tidak boleh
ada dentin yang menggantung ataupun tanduk pulpa yang tertinggal.
Bagian koronal pulpa di ambil dengan ekskavator yang besar, tajam, dan steril atau bisa
juga dengan menggunakan kuret periodontal. Pengangkatan jaringan dilakukan pada jaringan
pulpa yang lunak. Untuk gigi anterior dengan morfologi kamar pulpa yang kecil dan saluran akar
yang tidak jelas, diperlukan suatu bur untuk mengangkat jaringan pulpa bagian mahkota. Dan
sepertiga dari servikal harus diambil, usahakan sebanyak mungkin jaringan yang tertinggal
dalam saluran akar untuk memungkinkan maturasi seluruh pulpa.
Setelah selesai pengangkatan jaringan pulpa, lakukan irigasi secara perlahan dengan air
steril untuk membersihkan sisa dentin yang tertinggal, pendarahan yang terjadi dapat
dikendalikan dengan meletakan kapas basah steril diatas potongan pulpa. Ketika pendarahan
berhenti, kamar pulpa disterilkan.
Sediakan kalsium hidroksida dalam bentuk pasta yang dibuat dengan air atau pasta
komersial yang terdiri dari kalsium hidroksida dan methyl cellulose (pulpdent) kemudian
aplikasikan pada pulpa yang telah di amputasi. Padatkan dan tekan pada pulpa dengan
menggunakan gulungan kapas steril. Dapat juga menggunakan kalsium hidroksida yang dalam
bentuk pasta cepat mengeras (dycal).
Pengisian dengan kalsium hidroksida pada pulpa paling tidak 1 sampai 2 mm, lalu
aplikasikan suatu bahan dasar semen (seng-oksida-eugenol atau seng fosfat), lalu tutup dengan
restorasi sementara atau restorasi akhir bisa dengan bahan resin komposit atau GIC.