Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN LAPORAN KASUS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR JANUARI 2018

KONJUNGTIVITIS VERNAL

OLEH:
Andi Aswiny Putri B,S.Ked
10542 0262 11

PEMBIMBING:
dr. Yusuf Bachmid, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

N a m a : Andi Aswiny Putri B


N I M : 10542 0262 11
Judul Laporan kasus : Konjungtivitis Vernal

Telah menyelesaikan tugas Laporan Kasus dalam rangka Kepaniteraan Klinik Bagian

Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Januari 2018

Pembimbing Mahasiswa

dr.Yusuf Bachmid,Sp.M Andi Aswiny Putri B


BAB I
PENDAHULUAN

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan
bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala,
salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau
kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa.1
Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap
noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa
hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi antibodi
humoral terhadap alergen. Biasanya dengan riwayat atopi.1 Konjungtivitis alergi biasanya
mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal
ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat
berair.8
Konjungtiva banyak sekali mengandung sel dari sistem kekebalan (mast sel) yang
melepaskan senyawa kimia (mediator) dalam merespon terhadap berbagai rangsangan (seperti
serbuk sari atau debu tungau). Mediator ini menyebabkan radang pada mata, yang mungkin
sebentar atau bertahan lama. Sekitar 20% dari orang memiliki tingkat konjungtivitis alergi.5
Konjungtivitis alergi yang musiman dan yang berkelanjutan adalah jenis yang paling sering dari
reaksi alergi pada mata. Konjungtivitis alergi yang musiman sering disebabkan oleh serbuk sari
pohon atau rumput, oleh karenanya jenis ini timbul khususnya pada musim semi atau awal musim
panas. Serbuk sari gulma bertanggung jawab pada gejala alergi mata merah pada musim panas dan
awal musim gugur. Alergi mata merah yang berkelanjutan terjadi sepanjang tahun; paling sering
disebabkan oleh tungau debu, bulu hewan, dan bulu unggas.5
Konjungtivitis vernalis adalah bentuk konjungtivitis alergi yang lebih serius dimana
penyebabnya tidak diketahui. Konjungtivitis vernalis paling sering terjadi pada anak umur antara
3-25 tahun dengan prevalensi pada kedua jenis kelamin sama dan sering terjadi pada anak dengan
riwayat eksema, asma, atau alergi musiman. Konjungtivitis vernalis biasanya kambuh setiap
musim semi dan hilang pada musim gugur dan musim dingin. Banyak anak tidak mengalaminya
lagi pada umur dewasa muda.5
Penyebaran konjungtivitis vernalis merata di dunia, terdapat sekitar 0,1% hingga 0,5%
pasien dengan masalah tersebut. Penyakit ini lebih sering terjadi pada iklim panas (misalnya di
Italia, Yunani, Israel, dan sebagian Amerika Selatan) daripada iklim dingin (seperti Amerika
Serikat, Swedia, Rusia dan Jerman).6 Umumnya terdapat riwayat keluarga yang bersifat alergi
atopik (turunan). Sekitar 65% pasien yang menderita konjungtivitis vernalis memiliki satu atau
lebih sanak keluarga setingkat yang memiliki penyakit turunan (misalnya asma, hay fever, iritasi
kulit turunan atau alergi selaput lendir hidung permanen). Penyakit-penyakit turunan ini umumnya
ditemukan pada pasien itu sendiri.6
Semua penelitian tentang penyakit ini melaporkan bahwa biasanya kondisi akan memburuk
pada musim semi dan musim panas di belahan bumi utara, itulah mengapa dinamakan
konjungtivitis ”vernalis” (atau musim semi). Di belahan bumi selatan penyakit ini lebih menyerang
pada musim gugur dan musim dingin. Akan tetapi, banyak pasien mengalami gejala sepanjang
tahun, mungkin disebabkan berbagai sumber alergi yang silih berganti sepanjang tahun.6
BAB II

LAPORAN KASUS

A. Identifikasi Pasien
Nama : M.Z.J.

Umur : 8 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Makassar

Agama : Islam

Pekerjaan : Pelajar

Tanggal masuk rumah sakit : 18 Des 2017

B. Anamnesis
Keluhan Utama : Gatal ,dan Bengkak dan Merah pada mata sebelah kiri.

Anamnesis Terpimpin : Seorang pasien Laki-laki usia 8 tahun datang ke poli mata
BKMM dengan keluhan mata kiri bengkak dan gatal sejak 2 hari yang lalu. Awalnya
kelopak mata kiri terasa sangat gatal saat bangun tidur, mata merah, berair dan keesokan
harinya mata semakin gatal dan terdapat sekret kotoran mata. Mata kiri pasien sensitif
terhadap cahaya dan merasa seolah ada benda asing yang masuk di mata pasien tersebut.
Pasien pernah mengalami hal yang sama . Riwayat Alergi di sangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya (+)
Riwayat Pengobatan :
(-)
C. Riwayat penyakit sistemik
Riwayat alergi (tidak ada), DM (tidak ada), Hipertensi (tidak ada)
D. Status General
Kepala : Bentuk bulat,simetris, rambut tidak mudah dicabut
Mata : Lihat status oftalmologis
Leher : Tidak ada pembesaran KGB dan nyeri tekan (-)
Thoraks : Simetris kiri dan kanan
Pulmo : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Jantung : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas : Dalam batas normal

E. Status Lokalisasi Oftalmologis


OD OS
Palpebra Edema (-) Edema(+)
Silia Normal, sekret Normal, sekret (+)
(-)
Apparatus lakrimasi (-) lakrimasi (+)
lakrimalis
Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis(+)
Bola mata Normal Normal
Kornea Normal Normal
Bilik Mata Normal Normal
Depan
Iris Coklat, Kripte (+) Coklat, kripte (+)
Pupil Bulat, Sentral, Bulat, Sentral, RC (+)
RC(+)
Lensa Jernih Jernih
Mekanisme Ke segala arah Ke segala arah
muscular
F. Pemeriksaan Palpasi
Palpasi OD OS
Tensi Ukuler Tn Tn
Nyeri tekan (-) (-)
Massa tumor (-) (-)
Glandula Tidak ada Tidak ada
Preaurikuler Pembesaran pembesaran

G. Visus
VOD : 20/25 (tanpa dikoreksi)
VOS : 20/25 (tanpa dikoreksi)

H. SLIT LAMP
SLOD : Palpebra tampak normal, konjungtiva normal, kornea jernih, BMD kesan normal, iris
coklat kehitaman, kripte (+), pupil bulat letak sentral, refleks cahaya (+), lensa tampak jernih
SLOS : Palpebra tampak cobble stone (+), konjungtiva hiperemis, kornea jernih, BMD
kesan normal, iris coklat kehitaman, kripte (+), pupil bulat letak sentral, refleks cahaya (+),
lensa tampak jernih.

I. DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja
Konjungtivitis Vernal

Diagnosis Banding :
Konjungtivitis Viral
Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis Alergi
Glaukoma Akut
Uveitis Akut
Keratitis
J. Penatalaksanaan
 C Polynel 4dd1 gtt ODS
 Retinol 100.000 IU 1dd1
 Metilprednisolon 4mg 3dd1/2 tab

K. Prognosis
- Ad vitam : dubia bonam
- Ad functionam : dubia bonam
- Ad sanationam : dubia bonam
- Ad kosmetikam : dubia bonam

L. Resume
Seorang pasien Laki-laki usia 8 tahun datang ke poli BKMM dengan keluhan mata
kiri bengkak dan gatal sejak 2 hari yang lalu. Awalnya kelopak mata kanan terasa sangat
gatal saat bangun tidur,Mata merah,berair,keesokan harinya mata semakin Gatal dan
terdapat sekret kotoran mata. mata kiri pasien Sensitif terhadap cahaya dan Merasa seolah
ada benda asing yang masuk di mata pasien tersebut.Pasien pernah mengalami hal yang
sama . Riwayat Alergi di sangkal oleh pasien.
Pada pemeriksaan oftalmoskopi didapatkan palpebra superior dan inferior OD udem (+),
hiperemis (+), sekret (+), lakrimasi (+), nyeri tekan (-),Kemosis (-)
Gambar 1. Pasien
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi & Fisiologi Konjungtiva


Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan
mukokutan) dan dengan epitel kornea limbus.2
Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat
membasahi bola mata terutama kornea.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :
a. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari
tarsus.
b. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
c. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di
bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.1

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva8


Secara histologis, konjungtiva terdiri atas lapisan :
a. Lapisan epitel konjungtiva, terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder
bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas
karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari
sel-sel epitel skuamosa.
b. Sel-sel epitel superfisial, mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi
mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan
air mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat
daripada sel-sel superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.
c. Stroma konjungtiva, dibagi menjadi lapisan adenoid (superficial) dan lapisan fibrosa
(profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat
dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan
adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini
menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan
folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari
jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran
reksi papiler pada radang konjungitiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
d. Kelenjar air mata aksesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya
mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada
di forniks atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas
tarsus atas.2

B. Definisi dan Etiologi


Konjungtivitis vernalis adalah peradangan konjungtiva bilateral dan berulang
(recurrence) yang khas, dan merupakan suatu reaksi alergi (hipersensitivitas tipe I).
Penyakit ini juga dikenal sebagai “catarrh musim semi” dan “konjungtivitis musiman” atau
“konjungtivitis musim kemarau”. Sering terdapat pada musim panas di negeri dengan
empat musim, atau sepanjang tahun di negeri tropis (panas).2,7 Konjungtivitis vernalis
mengenai pasien usia muda 3-25 tahun dan kedua jenis kelamin sama. Namun, sering
terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai sebelum masa pubertas dan berhenti sebelum usia
20.4 Terdapat tiga tipe konjungtivitis vernalisis, antara lain tipe palpebra, tipe limbal, dan
tipe campuran.

C. Patofisiologi
Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang
insterstitial yang banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. Pada
konjungtiva akan dijumpai hiperemia dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan
diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan
jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan
menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobble stone.
Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga
konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva
tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada
konjungtiva tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat
akan disertai keratitis serta erosi epitel kornea.
Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan
hipertropi yang menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus
sering menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas
maupun kuantitas stem cells limbus. Kondisi yang terakhir ini mungkin berkaitan dengan
konjungtivalisasi pada penderita keratokonjungtivitis dan di kemudian hari berisiko
timbulnya pterigium pada usia muda. Di samping itu, juga terdapat kista-kista kecil yang
dengan cepat akan mengalami degenerasi.3
Pada bentuk palpebral, jaringan epitel membesar pada beberapa area dan menular
ke area lainnya. Kadangkala, eosinofil (warna kemerahan) tampak kuat di antara sel-sel
jaringan epitel. Perubahan yang menonjol dan parah terjadi pada substansi propria
(jaringan urat). Pada tahap awal jaringan terinfiltrasi dengan limfosit, sel plasma, eosinofil,
dan basofil. Sejalan dengan perkembangan penyakit, semakin banyak sel yang
berakumulasi dan kolagen baru terbentuk, sehingga menghasilkan bongkol-bongkol besar
pada jaringan yang timbul dari lempeng tarsal. Terkait dengan perubahan-perubahan
tersebut adalah adanya pembentukan pembuluh darah baru dalam jumlah yang banyak.
Peningkatan jumlah kolagen berlangsung cepat dan menyolok.6
Pada bentuk limbal terdapat perubahan yang sama, yaitu: perkembangbiakan
jaringan ikat, peningkatan jumlah kolagen, dan infiltrasi sel plasma, limfosit, eosinofil dan
basofil ke dalam stroma. Penggunaan jaringan yang dilapisi plastik yang ditampilkan
melalui mikroskopi cahaya dan elektron dapat memungkinkan beberapa observasi
tambahan. Basofil sebagai ciri tetap dari penyakit ini, tampak dalam jaringan epitel
sebagaimana juga pada substansi propria.
Walaupun sebagian besar sel merupakan komponen normal dari substansi propia,
namun tidak terdapat jaringan epitel konjungtiva normal.6
Walaupun karakteristik klinis dan patologi konjungtivitis vernalis telah
digambarkan secara luas, namun patogenesis spesifik masih belum dikenali.6

D. Gambaran Histopatologi
Tahap awal konjungtivitis vernalisis ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan
ini, akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh
satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta
pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma
oleh sel-sel PMN, eosinofil, basofil, dan sel mast.
Hasil penelitian histopatologik terhadap 675 konjungtivitis vernalisis mata yang
dilakukan oleh Wang dan Yang menunjukkan infiltrasi limfosit dan sel plasma pada
konjungtiva. Prolifertasi limfosit akan membentuk beberapa nodul limfoid. Sementara itu,
beberapa granula eosinofilik dilepaskan dari sel eosinofil, menghasilkan bahan sitotoksik
yang berperan dalam kekambuhan konjungtivitis. Dalam penelitian tersebut juga
ditemukan adanya reaksi hipersensitivitas. Tidak hanya di konjungtiva bulbi dan tarsal,
tetapi juga di fornix, serta pada beberapa kasus melibatkan reaksi radang pada iris dan
badan siliar
Fase vaskular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen,
hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang
secara keseluruhan. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan
terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasia
jaringan ikat meluas ke atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan
yang luas. Kolagen maupun pembuluh darah akan mengalami hialinisasi. Epiteliumnya
berproliferasi menjadi 5–10 lapis sel epitel yang edematous dan tidak beraturan. Seiring
dengan bertambah besarnya papil, lapisan epitel akan mengalami atrofi di apeks sampai
hanya tinggal satu lapis sel yang kemudian akan mengalami keratinisasi. Pada limbus juga
terjadi transformasi patologik yang sama berupa pertumbuhan epitel yang hebat meluas,
bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel (acanthosis). Horner-Trantas dot`s yang terdapat di
daerah ini sebagian besar terdiri atas eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi, namun
masih ada sel PMN dan limfosit.

E. Manifestasi Klinis
Gejala yang mendasar adalah rasa gatal, manifestasi lain yang menyertai meliputi
mata berair, sensitif pada cahaya, rasa pedih terbakar, dan perasaan seolah ada benda asing
yang masuk. Penyakit ini cukup menyusahkan, muncul berulang, dan sangat membebani
aktivitas penderita sehingga menyebabkan ia tidak dapat beraktivitas normal.6
Terdapat dua bentuk klinik konjungtivitis vernalisis, yaitu :
1. Bentuk palpebra, terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. Terdapat pertumbuhan
papil yang besar (cobble stone) yang diliputi sekret yang mukoid. Konjungtiva tarsal bawah
hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih berat dibanding bentuk limbal. Secara
klinik papil besar ini tampak sebagai tonjolan bersegi banyak dengan permukaan yang rata
dan dengan kapiler ditengahnya.
2. Bentuk limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan
hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau
eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil.1

Gambar 2. Konjungtivitis vernalis Gambar 3. Konjungtivitis vernalis


bentuk palpebral8 bentuk limbal8
F. Diagnosis dan Diagnosis Banding
Anamnesis yang teliti mengenai keluhan pasien dan riwayat terdahulu sangat
penting dalam menegakkan diagnosis konjungtivitis vernalisis. Selanjutnya diagnosis
ditegakkan sesuai dengan gejala dan tanda klinis serta hasil pemeriksaan mata.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa kerokan konjungtiva untuk mempelajari
gambaran sitologi. Hasil pemeriksaan menunjukkan banyak eosinofil dan granula-granula
bebas eosinofilik. Di samping itu, terdapat basofil dan granula basofilik bebas. 3
Tabel 1. Diagnosis Banding Penyakit Mata Merah Berdasarkan Keluhan Subjektif dan Obyektif.2
Gejala subyektif Glaukoma Uveitis Keratitis K Bakteri K. virus K. alergi
dan obyektif
akut akut
PenurunanVisus +++ +/++ +++ - - -
Nyeri ++/+++ ++ ++ - - -
Fotofobia + +++ +++ - - -
Halo ++ - - - - -
Eksudat - - -/++ +++ ++ +
Gatal - - - - - ++
Demam - - - - -/++ -
Injeksi siliar + ++ +++ - - -
Injeksi ++ ++ ++ +++ ++ +
konjungtiva
Kekeruhan +++ - +/++ - -/+ -
kornea
Kelainan pupil Midriasis Miosis Normal/ N N N
nonrekatif iregular miosis
Kedalaman Dangkal N N N N N
COA
Tekanan Tinggi Rendah N N N N
intraokular
Sekret - + + ++/+++ ++ +
Kelenjar - - - - + -
preaurikular

G. Komplikasi
Dapat menimbulkan keratitis epitel atau ulkus kornea superfisial sentral atau
parasentral, yang dapat diikuti dengan pembentukan jaringan sikatriks yang ringan.
Penyakit ini juga dapat menyebabkan penglihatan menurun. Kadang-kadang didapatkan
panus, yang tidak menutupi seluruh permukaan kornea. Perjalanan penyakitnya sangat
menahun dan berulang, sering menimbulkan kekambuhan terutama di musim panas.5

H. Penatalaksanaan
Karena konjungtivitis vernalisis adalah penyakit yang sembuh sendiri, perlu diingat
bahwa medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka pendek,
berbahaya jika dipakai jangka panjang.2 Penatalaksanaan konjungtivitis vernalisis
berdasarkan luasnya symptom yang muncul dan durasinya, yaitu :
1. Terapi Non-medikamentosa
Dalam hal ini mencakup tindakan-tindakan konsultatif yang membantu mengurangi
keluhan pasien berdasarkan informasi hasil anamnesis. Beberapa tindakan tersebut
antara lain:
- Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari tangan, karena
telah terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis dari mediator-mediator sel mast.
Di samping itu, juga untuk mencegah superinfeksi yang pada akhirnya berpotensi ikut
menunjang terjadinya glaukoma sekunder dan katarak.
- Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter;
- Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa serbuksari;
- Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak dengan alergen di
udara terbuka. Pemakaian lensa kontak justru harus dihindari karena lensa kontak akan
membantu retensi allergen;
- Kompres dingin di daerah mata;
- Pengganti air mata (artifisial). Selain bermanfaat untuk cuci mata juga berfungsi
protektif karena membantu menghalau allergen;
2. Terapi Medikamentosa
Untuk terapi topikal dapat diberikan terapi medikamentosa yakni:
- anti alergi dan vasokonstriksi mata (vernacel) 3x/hari
- asam chromoglicate tetes mata (Conver) 3x/hari
- steroid tetes mata (Xitrol, Tobroson) 3x/hari
Pada kasus yang lebih parah, bisa juga digunakan steroid sistemik seperti prednisolone
asetat, prednisolone fosfat, atau deksamethason fosfat 2–3 tablet 4 kali sehari selama 1-
2 minggu. Satu hal yang perlu diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid
adalah “gunakan dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin”.
Antihistamin, baik lokal maupun sistemik, dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain,
karena kemampuannya untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien. Apabila
dikombinasi dengan vasokonstriktor, dapat memberikan kontrol yang memadai pada
kasus yang ringan atau memungkinkan reduksi dosis.
3. Terapi Bedah
Terapi pembedahan exterpasi cobble stone apabila terdapat cobble stone yang besar dan
mengganggu. Namun, terapi ini kini sudah ditinggalkan mengingat banyaknya efek
samping dan terbukti tidak efektif, karena dalam waktu dekat akan tumbuh lagi. 3,6

I. Prognosis
Prognosis penderita konjungtivitis baik karena sebagian besar kasus dapat sembuh spontan.
Namun, kondisi ini dapat terus berlanjut dari waktu ke waktu, dan semakin memburuk
selama musim-musim tertentu.8
DAFTAR PUSTAKA

1. Staff Ilmu Penyakit Mata FK UGM, Keratokonjungtivitis Vernalis dalam


http://www.tempo.com.id/medika/042002.htm

2. Al-Ghozie, M., Handbook of Ophthalmology : A Guide to Medical Examination, FK UMY, Yogyakarta,


2002

3. Wijana, N., Konjungtiva dalam Ilmu Penyakit Mata, 1993, hal: 41-69

4. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah., Buku Pedoman Kesehatan Mata Telinga dan Jiwa, 2001

5. Vaughan, D.G, Asbury, T., Eva, P.R., General Ophthalmology, Original English Language edition, EGC,
1995

6. PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta. 2002

7. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000

8.Medicastore. Konjungtivitis Vernalis. Diunduhdarihttp://www.medicastore.com/penyakit/865/

Keratokonjungtivitis_Vernalis.html.