Anda di halaman 1dari 15

1. Apa Definisi pobia panik dan obsesifkonklusif ?

Fobia adalah bentuk kecemasan dan ketakutan yang berlebihan yang bercirikan:

 di luar proporsi tuntutan situasi;

 tidak dapat diterangkan atau dicari alasannya;

 di luar kontrol kehendak;

 menjurus ke penghindaran situasi yang ditakuti;

 menetap dalam waktu yang lama;

 tidak mampu menyesuaikan diri (tidak adaptif); dan

 tidak tergantung usia maupun tahap perkembangan tertentu.

Sumber : Marks, Miller dkk dalam De Clerq, Tingkah Laku Abnormal: Dari Sudut Pandang Perkembangan

Panic  tidak disertai dengan adanya stimulus situasional yang dapat dikenali, spontan dan tidak
diperkirakan. terjadi anxietas berat (severe attack of autonomic anxiety) selama 1 bulan, serangan
disertai (4 gejala/lebih) gejala spt palpitasi, sesak napas, nyeri dada, rasa takut mati, gemetar, mual, takut
menjadi gila dll yang terjadi tiba2 dan mencapai puncaknya dalam 10 menit (<20 menit).

(Kaplan & PPDGJ)

Obsesif kompulsif

Obsesif menunjukan pada suatu idea yang mendesak ke dalam pikiran. Sedangkan kompulsif menunjukan pada
dorongan yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif mengakibatkan
tindakan kompulsif.

Obsesif mungkin merupakan kesangsian tentang apa yang telah dikerjakan, umpamanya waktu mau tidur
berulang – ulang melihat apakah pintu sudah dikunci baik-baik.

Kompulsi ialah suatu tindakan dilakukan berkali – kali, umpamanya sering mencuci tangan, menghitung nomer
– nomer rumah atau ,mengatur barang – barang tertentu kedalam posisi tertentu.

Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa W.F. Maramis


2. Gejala fisik dari ganguna cemas ?
Gejala – gejala somatik
 Nafas sesak
 Dada tertekan
 Kepala enteng seperti mengambang
 Linu – linu
 Epigastrium nyeri
 Lekas lelah
 Palpitasi
 Kringat dingin.
Macam gejala yan lain mungki mengenai motorik, pencernaan, pernafasan, sistem kardiovaskuler,
genitourinaria, atau SSP.
Gejala – gejala psikologik
 Rasa was –was
 Khawatir
 Prihatin dengan pikiran orang mengenai dirinya
 Penderita tegang terus menerus
 Bicara cepat tapi terputus putus
Pada pemeriksaan fisik biasanya terdapat nadi yang sedikit lebih cepat, pernafasan lebih cepat, kaki dan
tangan dingin, tremor.

Disamping kecemasan terdapat juga gejala – gejala seperti depresi, amarah, perasaan tak mampu,
gangguan psikosomatik, dan sebagainya. Kadang – kadang kecemasan tidak tampak jelas dalam keadaan
bangun, tetapi dalam tidur keluar tanda – tandanya seperti mimpi yang menakutkandan sering terkejut
bangun.

Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa W.F. Maramis

3. Perbedaan cemas dan takut ?


a. Cemas  respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-
samar atau konfliktual (memiliki kualitas menyelamatkan hidup)

b. Rasa takut  respon dari suatu ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas atau bahkan
bersifat konflik.

c. Panic  tidak disertai dengan adanya stimulus situasional yang dapat dikenali, spontan dan
tidak diperkirakan. terjadi anxietas berat (severe attack of autonomic anxiety) selama 1 bulan,
serangan disertai (4 gejala/lebih) gejala spt palpitasi, sesak napas, nyeri dada, rasa takut mati,
gemetar, mual, takut menjadi gila dll yang terjadi tiba2 dan mencapai puncaknya dalam 10 menit
(<20 menit).

(Kaplan & PPDGJ)


Pembeda Cemas Takut Panik
Halusinasi - - +
Waham - - +
Keinginan Bunuh - - +
diri
Objek Belum bertemu Sudah bertemu Tidak bisa
menyebutkan
Gejala somatic + + +
Disorganisasi - - +

4. Macam macam ganguan cemas apa saja ?


DSM IV

 Ggn.panik dengan atau tanpa agoraphobia


 Agoraphobia tanpa riwayat ggn.panik
 Fobia spesifik
 Fobia social
 Ggn. Stress pascatraumatik
 Ggn.stres akut
 Ggn.kecemasan umum

PPDGJ

F40 GANGGUANANXIETAS FOBIK

F40.0 Agorafobia
.00 Tanpa gangguan panik
.01 Dengan gangguan panik
F40.1 Fobia sosial.
F40.2 Fobia khas (terisolasi)
F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 Gangguan anxeitas fobik YTT
F41 GANGGUANANXIETAS LAINNYA
F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh
F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresif
F41.3 Gangguan anxietas campuran lainnya
F41.8 Gangguan anxietas lainnya YDT
F41.9 Gangguan anxietas YTT
F42 GANGGUANOBSESIF-KOMPULSIF
F42.0 Predominan pikiran obsesif atau pengulangan
F42.1 Predominan tindakan kompulsif [obsessional ritual
F42.2 campuran pikiran dan tindakan obsesif
F42.8 Gangguan obsesif-kompulsif lainnya
F42.9 Gangguan obsesif-kompulsif YTT
F43 REAKSI TERHADAP STRES BERAT dan GANGGUAN PENYESUAIAN
F43.0 Reaksi stres akut
F43.1 Gangguan stres pasca-trauma
F43.2 Gangguan penyesuaian
.20 Reaksi depresif singkat
.21 Reaksi depresif berkepanjangan
.22 Reaksi campuran anxietas dan depresif
23 Dengan predominan gangguan emosi lainnya
.24 Dengan predominan gangguan tingkah laku
.25 Dengan gangguan campuran dari emosi dan tingkah laku.
.28 Dengan gejala predominan lainnya YDT
F43.8 Reaksi stres berat lainnya
F43.9 Reaksi stres berat YTT
F44 GANGGUAN DISOSIATIF ILKONVERSII
F44.0 Amnesia disosiatif
F44.1 Fugue disosiatif
F44.2 Stupor disosiatif
F44.3 Gangguan trans dan kesurupan
F44.4 Gangguan motorik disosiatif
F44.5 Konvulsi disosiatif
F44.6 Anestesia dan kehilangan sensorik disosiatif
F44.7 Gangguan disosiatif (konversil)campuran
F44.8 Gangguan disosiatif (konversi) lainnya
.80 Sindrom Ganser
.81 Gangguan kepribadian multipel
.82 Gangguan disosiatif konversisementara terjadi pada masa kanak dan remaja

F44.9 Gangguan disosiatif (konversi] YTT


F45G ANGGU AN S O MATOFOR M
F45.0 Gangguan somatisasi
F45.1 Gangguan somatoform tak terind
F45.2 Gangguan hipokondrik
F45.3 Disfungsi otonomik somatoform
.30 Jantung dan Sistem kardiovaskular
.31 Saluran pencernaan bagian atas
.32 Saluran pencernaan bagian bawah
.33 Sistem pernafasan
.34 Sistem genitourinaria
.38 Sistem atau organ lainnya
F45.4 Gangguan nyeri somatoform menetap
F45.8 Gangguan somatoform lainnya
F45.9 Gangg-uar-, somatoform YTT

F48 GANGGUAN NEUROTIK LAINNYA


F48.0 Neurastenia
F48.1 Sindrom depersonalisasi-derealisasi
F48.8 Gangguan neurotik lainnya YDT
F48.9 Gangguan. Neurotik YTT
Macam Fobia :

 Fobia sederhana = rasa takut yg jelas terhadap obyek / situasi yg jelas


 Fobia sosial = rasa takut akan keramaian masyarakat
 Bacillofobia = takut akan kuman penyakit
 Claustrofobia = takut berada dlm ruangan tertutup
 Nekrofobia = takut mayat
 Aerofobia = takut berada di tempat yg tinggi
 Aichmofobia = takut benda2 tajam
 Planofobia = takut berada di tempat yg terbuka dan luas
 Agorafobia = takut di tempat terbuka
 Algofobia = takut terhadap rasa nyeri
 Eritrofobia = takut warna merah ( darah )
 Panfobia = takut segala sesuatu
 Xenofobia = takut orang asing
 Zoofobia = takut binatang
 Ailurofobia = takut kucing
Simtomatologi

5. Perbedaan cemas dan depresi ?


Pada depresi, dunia luar dirasakan hampa, diri sendiri tak mempunyai arti apa – apa dan hari depan
suram, tak ada harapan.
Pada nerosa cemas, dunia luar dirasakan mengancam, diri sendiri dinilai tak mampu dan masa depan tak
menentu.

Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa W.F. Maramis

6. Etiopatologi dari cemas ?


Gejala Psikis

Ada reseptor di otak yang menerima neurotransmitter GABA. Ketika GABA di transmisikan ke reseptor,
neuron diperintahkan untuk berhenti menembak/eksitsasi. Pada gangguan kecemasan terjadi ketika GABA tidak
dapat mengikat secara akurat ke sel reseptor atau ketika ada terlalu sedikit reseptor GABA. Tanpa jumlah yang
tepat dari penerimaan GABA, neuron berlebihan akan menyebabkan orang untuk tidak menerima pesan cukup
untuk berhenti maka orangnya akan terus tegang, cemas, gelisah.

Sumber : Stefen & Florian; Patofisiologi

1) Teori Psikologis

a. Teori Psikoanalitik

 Menurut Freud, kecemasan sebagai sinyal guna menyadarkan ego untuk mengambil tindakan
defensif terhadap tekanan dari dalam diri.
 Kecemasan id atau impuls berhubungan dengan ketidaknyamanan primitif dan difus dari
seorang bayi jika mereka merasa terlanda oleh kebutuhan dan stimuli dimana keadaan tidak
berdaya mereka tidak memungkinkan pengendalian.

 Kecemasan perpisahan terjadi pada anak-anak yang agak besar tapi masih dalam masa
praoedipal, yang takut kehilangan cinta atau bahkan ditelantarkan oleh orangtuanya jika
mereka gagal mengendalikan dan mengarahkan impulsnya sesuai dengan standar dan
kebutuhan orangtuanya.

 Kecemasan Kastrasi menandai anak oedipal, khususnya dalam hubungan dengan impuls
seksual anak yang sedang berkembang, dicerminkan dalam kecemasan kastrasi dari dewasa.

 Kecemasan Superego merupakan akibat langsung dari perkembangan akhir superego yang
menandai berlalunya kompleks Oedipus dan datangnya periode latensi prapubertal.

b. Teori Perilaku

 Menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli
lingkungan spesifik.

 Ex : seseorang dapat belajar untuk memiliki suatu respon kecemasan internal dengan meniru
respon kecemasan orangtuanya.

c. Teori Eksistansial

 Bahwa seseorang menjadi menyadarinya adanya kehampaan yang menonjol di dalam


dirinya, perasaan yang mungkin lebih mengganggu daripada penerimaan kematian mereka
yang tidak dapat dihindari.

 Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi dan arti yang berat
tersebut.

2) Teori Biologis

a. Sistem Saraf Otonom

 Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu (cor : takikardia, muskular :
nyeri kepala, GIT : diare, pernafasan : nafas cepat)

b. Neurotransmitter

 NE, serotonin & GABA


 NE  agonis adrenergik beta & antagonis adrenergik-alfa2  pencetus

c. Penelitian Pencitraan Otak

 Kelainan di korteks frontalis, occipital, dan temporal

d. Penelitian Genetika

 Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan
panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan

Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua

7. Faktor faktor penyebab kecemasan dan ketakutan ?


FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

1) Faktor eksternal

a. Ancaman integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap terhadap
kebutuhan dasar (penyakit, trauma fisik, jenis pembedahan yang akan dilakukan).

b. Ancaman sistem diri antara lain : ancaman terhadap identitas diri, harga diri, dan hubungan interpersonal,
kehilangan serta perubahan status atau peran (Stuart and Sundeen, 1998).

2) Faktor internal :

Menurut Stuart and Sundeen (1998) kemampuan individu dalam merespon terhadap penyebab kecemasan
ditemukan oleh :

a. Potensi stressor

Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan
seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi (Smeltzer&Bare, 2001).

b. Maturitas

Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar mengalami gangguan akibat kecemasan, karena
individu yang matur mempunyai daya adaptasi yang lebih besar terhadap kecemasan (Hambly, 1995).

c. Pendidikan dan status ekonomi

Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami
kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang atau individu akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir,
semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir rasional dan menangkap informasi baru
termasuk dalam menguraikan masalah yang baru (Stuart&Sundeen, 1998).

d. Keadaan fisik

Seseorang yang akan mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi akan mudah mengalami kelelahan fisik
sehingga lebih mudah mengalami kecemasan, di samping itu orang yang mengalami kelelahan fisik mudah
mengalami kecemasan (Oswari, 1998).

e. Tipe kepribadian

Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada orang dengan
kepribadian B. Adapun ciri- ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin
serba sempurna, merasa diburu waktu, mudah gelisah, tidak dapat tenang, mudah tersinggung, otot- otot mudah
tegang. Sedang orang dengan tipe kepribadian B mempunyai ciri- ciri berlawanan dengan tipe kepribadian A.
Karena tipe keribadian B adalah orang yang penyabar, teliti, dan rutinitas (Stuart&Sundeen, 1998).

f. Lingkungan dan situasi

Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia
berada di lingkungan yang biasa dia tempati (Hambly, 1995).

g. Umur

Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan
daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya (Varcoralis, 2000).

h. Jenis kelamin

Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh kecemasan yang spontan dan episodik.
Gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria (Varcoralis, 2000).

Menurut Frued dalam Stuart and Sundeen (1998), ada 2 tipe kecemasan yaitu:

a. Kecemasan primer

Kejadian traumatik yang diawali saat bayi akibat adanya stimuli tiba- tiba dan trauma pada saat kelahiran,
kemudian berlanjut dengan kemungkinan tidak tercapainya rasa puas akibat kelaparan atau kehausan. Penyebab
kecemasan primer adalah ketegangan atau dorongan yang diakibatkan oleh faktor internal.

b. Kecemasan sub sekunder


Sejalan dengan peningkatan ego dan usia. Frued melihat ada jenis kecemasan lain akibat konflik emosi diantara
2 elemen kepribadian yaitu id dan super ego. Freud menjelaskan bila terjadi kecemasan maka posisi ego sebagai
pengembang id dan super ego berada pada kondisi bahaya.

Sedangkan menurut Rasmun (2004), kemampuan individu dalam merespon kecemasan dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Antara lain:

1) Sifat stressor dapat berubah secara tiba- tiba atau berangsur- angsur dan dapat mempengaruhi seseorang
dalam menanggapi kecemasan, tergantung mekanisme koping seseorang.

2) Jumlah stressor yang bersamaan

Pada waktu yang sama terdapat sejumlah stressor yang harus dihadapi bersama. Semakin banyak stressor yang
dialami seseorang, semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh sehingga jika terjadi stressor yang kecil dapat
mengakibatkan reaksi yang berlebihan.

3) Lama stressor

Memanjangnya stressor dapat menyebabkan menurunnya kemampuan individu mengatasi stres, karena individu
telah berada pada fase kelelahan, individu sudah kehabisan tenaga untuk menghadapi stressor tersebut.

4) Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika
menghadapi stressor yang sama karena karena individu memiliki kemampuan beradaptasi atau mekanisme
koping yang lebih baik, sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda dan dapat menunjukkan tingkat
kecemasan yang lebih ringan.

5) Tingkat perkembangan

Tingkat perkembangan individu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap
stressor. Pada tiap tingkat perkembangan terdapat sifat stressor yang berbeda sehingga resiko terjadi
stres dan kecemasan akan berbeda pula.

8. Diagnosis multiaksial dan DD ?


Aksis I : F40.00
Aksis II : F60.6
Aksis III : tidak ada
Aksis IV : masalah psikososial dan lingkungan
Aksis V : 80 – 71
9. Pemeriksaan fisik ?
Skala HARS Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang dikutip Nursalam (2003) penilaian
kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi:

1. Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tensinggung.
2. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu.
3. Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang
besar.
4. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk.
5. Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi.
6. Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak
menyenangkan sepanjang hari.
7. Gejala somatik: nyeni path otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
8. Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah.
9. Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap.
10. Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa
napas pendek.
11. Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung
sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut.
12. Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
13. Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit
kepala.
14. Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang,
tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat.

Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori:

0 = tidak ada gejala sama sekali

1 = Satu dari gejala yang ada

2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada

3 = berat/lebih dari ½ gejala yang ada

4 = sangat berat semua gejala ada


Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:

1. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.

2. Skor 7 – 14 = kecemasan ringan.

3. Skur 15 – 27 = kecemasan sedang.

4. Skor lebih dari 27 = kecemasan berat.

sistem otak yang terganggu dalam gangguan cemas adalah kondisi terkait fungsional sistem yang
melibatkan banyak faktor sistem di otak, ada sistem saraf otonom, sistem aksis hipotalamus-pituitary-
adrenal, serta sistem neurotransmitter monoamine (terkait tiga sistem lainnya yaitu serotonin,dopamin
dan norepineprine). Sistem yang terganggu ini bukan bersifat anatomis yang bisa dicek masalahnya
dengan pemeriksaan CT-Scan atau MRI. Pemeriksaan EEG juga tidak bisa mengungkapkan apa yang
terjadi di dalam tiga sistem yang saya sebutkan di atas. Paling mungkin dan yang banyak diteliti adalah
pemeriksaan dengan menggunakan f-MRI (functional MRI) dan PET-SCAN.

Diagnosis pasien depresi atau cemas sampai saat ini masih menggunakan pedoman diagnosis yang
sudah diakui secara internasional yaitu ICD-10 (WHO) atau DSM-IV TR (American Psychiatric
Association).

10. Penanganan ganguan cemas ?


Terapi pada ansietas pada umumnya dapat dilakukan dengan 2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau
terapi dengan obat-obatan (farmakoterapi). Angka-angka keberhasilan terapi yang tinggi dilaporkan pada kasus-
kasus dengan diagnosis dini. Psikoterapi sederhana sangat efektif, khususnya dalam konteks hubungan pasien
dan dokter yang baik, sehingga dapat membantu mengurangi farmakoterapi yang tidak perlu.

1. Terapi Psikologis

Penyuluhan psikiatrik atau psikologis dan manipulasi lingkungan tidak jarang pula dibutuhkan. Biasanya
terapi-terapi psikologis pada ansietas tersebut merupakan bagian dari manajemen untuk mengatasi kebanyakan
kondisi medis. Namun untuk melakukan psikoterapi semacam itu tidak selalu mungkin dapat dilakukan,
khususnya yang ada dalam rumah sakit. Jangkauan dari ketersediaan pelayanan seringkali terbatas, dan tidak
semua pasien siap untuk menyetujui sebuah skenario tertentu.

Terapi pada ansietas tidak harus dilakukan oleh seorang psikiatri, namun seharusnya dapat diterapkan oleh
semua dokter yang berkompeten, sehingga keterbatasan pelayanan dapat diatasi(House cit Stark, 2002).
Memberikan informasi selalu menjadi langkah awal dalam menolong pasien ansietas, yang mana informasi
yang diberikan harus sesuai dengan kadarnya dan selalu memberikan harapan yang besar bagi setiap individu
untuk sembuh. Kebanyakan pasien menginginkan sebuah kejelasan dan informasi mengenai kondisi yang
sedang ia alami, dengan melakukan tindakan tadi, menunjukkan kepada pasien bahwa mereka benar-benar
diperdulikan dan dirawat.

Komunikasi yang efektif adalah esensial dalam pemberian informasi, dokter-dokter terlatih dalam
menghadapi pertanyaan-pertanyaan terbuka dari pasien, mampu memahami kondisi psikis, dan kemampuan
memberikan nasehat-nasehat yang baik sangat dibutuhkan, sehingga akan tercipta komunikasi yang efektif.
Yang mana akan mampu membantu pasien dalam mengurangi beban psikisnya(House cit Stark, 2002)

2. Terapi Religi

Terapi ini sering digolongkan sebagai sebuah terapi psikis, namun sayangnya tidak semua dokter
berkompeten mampu melakukannya, dan terapi ini biasanya hanya dapat dilakukan oleh seorang yang memang
ahli dalam bidang spiritual. Terapi religi biasanya membantu pasien untuk lebih tenang dan memberi waktu
pasien untuk memahami dirinya sendiri, sehingga menciptakan sebuah kesadaran dalam diri sendiri. Hal ini
cenderung lebih efektif karena kesadaran tersebut muncul dari diri sang pasien sendiri.

Terapi ini dilakukan melalui sharing kepada ahli religi yang dipercaya oleh penderita, dan kemudian ahli
religi tersebut memberi nasehat-nasehat untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, namun tak jarang juga
terapi semacam ini dilakukan secara invidual tanpa seorang agamawan yang membimbing. Terapi semacam ini
terkadang pada akhirnya juga membentuk sebuah karakteristik atau watak yang baru dari penderita.

3. Terapi farmakologi

Beberapa jenis obat-obatan biasanya dapat digunakan untuk mengatasi dan mengurangi ansietas, dan masing-
masing obat memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Penggunaan suatu zat dalam jangka waktu
yang lama pun tidak akan membuahkan hasil yang baik untuk kesehatan fisik sang pasien sendiri

Obat-obatan yang paling sering digunakan dalam mengatasi ansietas adalah


benzodiazepine(BDPs)(Fracchione, 2004). Adapun beberapa jenis obat yang lazim digunakan adalah :

 Diazepam

 Lorazepam

 Alprazolam

 Propanolol

 Amitriptilin
Farmakoterapi (1) : gol. benzodiazepin

 Diazepam (Valium®, Stesolid® ) : dosis anjuran 10-30 mg/hari

 Klordiazepoksida (Cetabrium® Tensinyl® ) : dosis anjuran 15-30 mg/hari

 Lorazepam (Ativan® Renaquil® ) : 2-3 x 1 mg/hari

Farmakoterapi (2) : gol. benzodiazepin

 Clobazam (Frisium® Clobazam DM® ) : 2-3 x 10 mg/ hari

 Bromazepam (Lexotan® ) : 3 x 1,5 mg/hari

 Oxazolam (Serenal-10® ) : 2-3 x 10 mg/hari

 Chlorazepate (Tranxene 5-10® ) : 2-3 x 5 mg/hari

Farmakoterapi (3) : gol. benzodiazepin

 Alprazolam (Xanax® Alganax® Frixitas® ) : 3 x 0.25 – 0,5 mg/hari

 Prazepam (Equipax® ) : 2-3 x 5 mg/hari

Farmakoterapi (4) : non-benzodiazepin

 Sulpiride (Dogmatil® ) : 100 – 200 mg/hari

 Buspirone (Buspar® Tran-Q® ) : 15 – 30 mg/hari

 Hydroxyzine (Iterax® ) : 3 x 25 mg/hari

Gangguan Panik

TERAPI
Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri
untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa
takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan
jantung, hanya panik, akan berlalu.

Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila
serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan
(imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100-150 mg malam selama 2 minggu ). Bila
serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau
alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang
tidak perlu.

Gangguan Fobik

TERAPI

Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi
yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan
konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan
lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa
menimbulkan ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik
bila rasa takut menetap

GangguanObsesif-kompulsif

TERAPI

Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat
mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan.
Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang
berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan
Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH

TERAPI

Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan
mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif.
Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas.
Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong.
Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi
anxietas : misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati
gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan
3 bulan.

Sumber : TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI GANGGUAN ANXIETAS Dr. Evalina Asnawi
Hutagalung, Sp.KJ