Anda di halaman 1dari 67

PERBEDAAN PENATALAKSANAAN

ALVEOLEKTOMI DAN ALVEOPLASTI

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Gigi

SITTI ANNISA

J111 14 304

BAGIAN BEDAH MULUT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
PERBEDAAN PENATALAKSANAAN

ALVEOLEKTOMI DAN ALVEOPLASTI

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

SITTI ANNISA

J111 14 304

BAGIAN BEDAH MULUT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Perbedaan Penatalaksanaan Alveolektomi dan Alveoplasti

Oleh : Sitti Annisa / J111 14 304

Telah Diperiksa dan Disahkan


Pada Tanggal 13 November 2017
Oleh :
Pembimbing

drg. Netty N Kawalusan, M.kes


NIP. 19541126 198403 2 001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Hasanuddin

Dr. drg. Bahruddin Thalib, M.Kes., Sp. Pros


NIP. 19640814 199103 1 002
ABSTRAK

Latar belakang : Bedah preprostetik adalah bagian dari bedah mulut dan
maksilofasial yang bertujuan untuk membentuk jaringan keras dan jaringan lunak
yang seoptimal mungkin sebagai dasar dari suatu protesa. Salah satu kelainan
yang dapat mengganggu fungsi dari gigi tiruan adalah adanya penonjolan tulang
(eksostosis). Penonjolan ini harus dihilangkan dengan tindakan bedah. Tindakan
bedah yang dilakukan untuk persiapan pemakaian gigitiruan disebut bedah
preprostetik yaitu ALVEOLEKTOMI dan ALVEOPLASTI. Tujuan: Untuk
mengetahui perbedaan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti. Metode:
Jenis penelitian yang akan dilaksanakan studi deskriptif, dengan melihat prosedur
tindakan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti yang dilakukan di RSGMP
drg. Halimah Dg Sikati FKG Unhas, RSUD Sayang Rakyat di Departemen Bedah
Mulut. Dengan sampel 17 alveoplasti dan 2 alveolektomi Hasil: Berdasarkan
hasil penelitian dapat dilihat tindakan alveoplasti adalah suatu tindakan bedah
untuk membentuk prosesus alveolaris sehingga dapat memberikan dukungan yang
baik bagi gigi tiruan immediate maupun gigi tiruan yang akan dipasang beberapa
minggu setelah operasi dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah
perempuan lebih banyak dengan(70,5%) dan laki laki (29,5%). Selain itu sampel
berusia 60-69 tahun (35,3%) dan sampel yang berusia 20-29 dan 30-39 tahun
(5,9%). Berdasarkan regio terjadinya alveoplasti terbanyak dengan regio 41-48
(41,2%).Adapun regio terjadinya alveoplasti paling sedikit 11-18 (17,6%).
Alveolektomi dilakukan segera setelah pencabutan gigi atau sekunder. Pada
rahang di mana dijumpai neoplasma yang ganas Pada prosesus alveolaris yang
dijumpai adanya kista atau tumor. Kesimpulan : Alveoplasti diindikasikan pada
eksostosis yang mengganggu pemakaian gigi tiruan, sedangkan alveolektomi
diindikasikan pada rahang yang diradiasi sehubungan dengan perawatan
neoplasma yang ganas.
Kata Kunci : Bedah Preprostetik, Alveolektomi, Alveoplasti, Prosedur Tindakan
penatalaksanaan.
ABSTRACT

Background: Preprosthetic surgery is part of oral and maxillofacial


surgery that aims to form the optimal hard and soft tissue as the basis of a
prosthesis. One of the disorders that can interfere with the function of denture is
the presence of protrusion of bone (eksostosis). This protrusion should be
removed by surgical action. Surgical action performed for the preparation of
denture is called preprosthetic surgery ie ALVEOLEKTOMI and
ALVEOPLASTI. Objective: To determine the difference in management of
alveolectomy and alveoplasty. Method: The type of research to be carried out
descriptive study, by looking at the procedure of management of alveolectomy
and alveoplasty performed in RSGMP drg. Halimah Dg Sikati FKG Unhas,
RSUD Sayang Rakyat in Department of Oral Surgery. With a sample of 17
alveoplasty and 2 alveolectomies. Results: Based on the results of the study can
be seen alveoplasti action is a surgical action to form alveolaris process so as to
provide good support for denture immediate and artificial teeth to be installed a
few weeks after surgery performed. The results showed that the number of women
more with (70.5%) and male (29.5%). In addition, samples aged 60-69 years
(35.3%) and samples aged 20-29 and 30-39 years (5.9%). Based on the region
most alveoplasty occurred with the region 41-48 (41.2%) .The region of
alveoplasty occurred at least 11-18 (17.6%). Alveolectomy is performed
immediately after tooth extraction or secondary. In the jaw where a malignant
neoplasm is present In the alveolar process found in the presence of a cyst or
tumor. Conclusions: Alveoplasty is indicated in exostoses that interfere with
denture wear, whereas alveolectomy is indicated in irradiated jaws associated with
malignant neoplasm treatment.
Keywords: Preprostetic Surgery, Alveolectomy, Alveoplasty, Procedures
Management action.
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-

Nya lah kita masih dapat menikmati ilmu pengetahuan sehingga skripsi yang Berjudul

“perbedaan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti di rs umum dan rsgm di makassar

2017” ini dapat terselesaikan dengan penuh semangat dan doa, sekaligus menjadi syarat

untuk menyelesaikan pendidikan strata satu di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Hasanuddin.

Shalawat serta salam selalu kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Nabi yang mengajarkan kita berbagai ilmu pengetahuan dan telah membawa kita dari alam

kegelapan menuju ke alam terang benderang, beserta orang-orang yang senantiasa istiqamah

di jalannya. Pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Dr. drg. Baharuddin Thalib, M.Kes., Sp.Pros sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Hasanuddin beserta seluruh staf atas bantuan dan bimbingannya selama penulis

mengikuti pendidikan.

2. drg. Netty N Kawulusan, M.Kes selaku dosen pembibing tercinta yang telah dengan sabar

dan telaten memberi arahan, membimbing dan senantiasa memberikan nasehat kepada

penulis selama penyusunan skripsi ini.

3. Prof. Dr. drg, Hasanuddin Thahir, MS selaku Penasehat Akademik atas bimbingan,

perhatian, nasehat dan dukungan bagi penulis selama mengikuti pendidikan di jenjang pre-

klinik.
4. Teruntuk kedua orang tua tercinta, Bapak H. Muhammad Rum Andi Patu dan Mama

tercinta Hj. Aisyah Nuhung. Dan juga kakak saya dr. Mellyana Kusuma Atmanegra Rum

sp.GK , Wendy Wirajaya Kusuma, dan drg. St.Hardianti Wijaya Kusuma dan Keluarga Besar

penulis yang senantiasa memberikan doa, dukungan, dan nasehat selama penyusunan skripsi

ini.

5. Seluruh Dosen, Staf Akademik, Staf Tata Usaha, Staf Perpustakaan FKG Unhas, dan Staf

Bagian Bedah Mulut yang telah banyak membantu penulis.

6. Sahabat Muhammad Annas Sattar yang selalu memberi dukungan semangat serta motivasi

yang takkunjung henti-hentinya kepada penulis. Serta yang setia menemani penulis dalam

suka dan duka, yang senantiasa mendampingi, memberikan dukungan, mendengarkan cerita

apapun, memberikan keceriaan, semangat dan kasih sayang kepada penulis selama

penyusunan skripsi ini.

7. Teman-teman seperjuangan ku tercinta Nabilah ferry, Astihar, Ulfa, Intan, Sari, Gizcka

atas dukungan penuh dan semangat yang terus diberikan kepada penulis, serta bantuan yang

tak ternilai kepada penulis, dan juga terimakasih atas pengalaman yang sangat berharga

selama 3 tahun perkuliahan.

8. Sahabat penulis yang tersayang andi nayla irwan, alpiutami, dinda talitha, dan inchy arleta

atas doa, dan dukungan kepada penulis, yang memberikan semangat dan support kepada

penulis, yang berada disaat susah dan senang.

9. Teman-teman tersayang, ulfi, dela, noni, nafisah, fifi, ayu sebagai sahabat SMA penulis

hingga sekarang atas doa, dukungan penuh dan semangat yang tiada hentinya kepada penulis

selama penyusunan skripsi ini.


10. Keluarga besar intrusi tersayang atas motivasi dan dukungan kepada penulis yang telah

banyak membantu penulis selama masa pre-klinik.

11. Sahabat sekaligus kakak kakak penulis oji, ahmad fauzi, hari, pim-pim, agung, kak ina,

kak fammi, kak penni, kak ola, yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat bagi

penulis dan senantiasa menghibur penulis dalam suka dan duka

12. Sahabat se bimbingan skripsi dewi qalbiyani atas dukungan yang tak henti hentinya bagi

penulis, yang terus memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi

13. Semua Sahabat penulis yang selalu berada saat suka dan duka, senantiasa memberikan

motivasi, memberikan keceriaan, semangat dan kasih sayang kepada penulis selama

penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat

disebutkan satu per satu untuk semua dukungan dan motivasi yang diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat

banyak kekurangan serta kesalahan yang tidak disadari penulis. Penulis mengharapkan kritik

dan saran dari pembaca, demi perbaikan penulisan selanjutnya di masa yang akan datang.

Makassar, 14 Oktober 2017

Sitti Annisa
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.....................................................................................i

SAMPUL DALAM...........................................................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................iii

SURAT PERNYATAAN................................................................................iv

ABSTRAK........................................................................................................v

ABSTRACT....................................................................................................vi

KATA PENGANTAR...................................................................................vii

DAFTAR ISI....................................................................................................x

DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xi

DAFTAR TABEL...........................................................................................xiv

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................xv

BAB 1 PENDAHULUAN...........................................................................1

1.1 Latar Belakang..........................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................5
1.3 Tujuan Penelitian.......................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitian.....................................................................................5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..................................................................6

2.1 Alveolektomi.............................................................................................6

2.1.1 Definisi Alveolektomi.....................................................................6

2.1.2 Tujuan Alveolektomi.......................................................................7

2.1.3 Indikasi dan Kontraindikasi Alveolektomi......................................7

2.1.4 Klasifikasi Alveolektomi.................................................................9

2.1.5 Prosedur Alveolektomi...................................................................11

x
2.1.6 Komplikasi Pasca Bedah Alveolektomi.........................................13

2.1.7 Perawatan Pasca Bedah Alveolektomi...........................................14

2.2 Alveoplasti................................................................................................15

2.2.1 Definisi Alveoplasti.......................................................................15

2.2.2 Tujuan Alveoplasti.........................................................................15

2.2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Alveoplasti........................................16

2.2.4 Klasifikasi Alveoplasti...................................................................17

2.2.5 Teknik Alveoplasti.........................................................................22

2.2.6 Komplikasi Pasca Bedah Alveoplasti............................................24

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KONSEP......................................25

3.1 Kerangka Teori........................................................................................25

3.2 Kerangka Konsep....................................................................................26

BAB 4 METODE PENELITIAN...........................................................28

4.1 Jenis Penelitian........................................................................................28

4.2 Lokasi Penelitian.....................................................................................28

4.3 Waktu Penelitian......................................................................................28

4.4 Populasi dan Sampel Penelitian...............................................................28

4.5 Metode Sampling.....................................................................................29

4.6 Kriteria Sampel........................................................................................29

4.7 Definisi Operasional.................................................................................29

4.8 Alat dan Bahan.........................................................................................30

4.9 Jenis Data..................................................................................................30

4.10 Analisis Data............................................................................................30

4.11 Alur Penelitian.........................................................................................31

x
BAB 5 HASIL PENELITIAN.................................................................32

5.1 Prosedur Penatalaksanaan Alveoplasti.....................................................33

5.2 Prosedur Penatalaksanaan Alveolektomi.................................................37

BAB 6 PEMBAHASAN...........................................................................40

BAB 7 PENUTUP.....................................................................................48

7.1 Kesimpulan .............................................................................................48

7.2 Saran........................................................................................................49

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................50

SURAT PERNYATAAN..................................................................................53

LAMPIRAN......................................................................................................54

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Prosedur Alveoplasti......................................................................17

Gambar 2.2 Insisi Alveoplasti............................................................................17

Gambar 2.3 Eksisi Alveoplasti...........................................................................17

Gambar 2.4 Flap Alveoplasti.............................................................................17

Gambar 2.5 Pengangkatan Tepi Mukoperiosteum.............................................18

Gambar 2.6 Pembuangan Serpihan Tulang........................................................18

Gambar 2.7 Irigasi Larutan Saline.....................................................................18

Gambar 2.8 Proses Penjahitan...........................................................................19

Gambar 2.9 Penjahitan Alveoplasti...................................................................19

Gambar 2.10 Alveoplasti.....................................................................................19

Gambar 5.1 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................33

Gambar 5.2 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................33

Gambar 5.3 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................34

Gambar 5.4 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................34

Gambar 5.5 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................35

Gambar 5.6 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................35

Gambar 5.7 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................35

Gambar 5.8 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................36

Gambar 5.9 Prosedur Penatalaksanaan Alveoloplasti.......................................36

Gambar 5.10 Prosedur Penatalaksanaan Alveolektomi.......................................39

Gambar 5.11 Prosedur Penatalaksanaan Alveolektomi.......................................39

Gambar 5.12 Prosedur Penatalaksanaan Alveolektomi.......................................39

xv
Gambar 6.1 Alveolektomi Setelah Pencabutan Satu gigi..................................43

Gambar 6.2 Alveolektomi Setelah Pencabutan Dua atau Tiga Gigi.................44

Gambar 6.3 Alveolektomi Setelah Pencabutan Multiple..................................44

Gambar 6.4 Alveolektomi Pada Edontolous Alveolar Ridge...........................45

Gambar 6.5 Alveolektomi Kelainan Kongenital Multiple................................45

xv
DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Hasil Distribusi Karakteristik Sampel Penelitian...........................46

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Nama Pasien Penelitian.................................................53

Lampiran 2 Monitoring Skripsi....................................................................54

Lampiran 3 Surat Izin Penelitian..................................................................55

Lampiran 4 Surat Izin Penugasan.................................................................56

Lampiran 5 Surat Izin Pengambilan Data.....................................................57

Lampiran 6 Undangan Seminar Proposal......................................................58

Lampiran 7 Undangan Seminar Hasil............................................................59

Lampiran 8 Daftar Nama-Nama Dosen Penerima Hasil Skripsi....................60

Lampiran 9 Daftar Hadir Seminar Hasil Skripsi............................................61

xv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bedah preprostetik adalah bagian dari bedah mulut dan maksilofasial yang

bertujuan untuk membentuk jaringan keras dan jaringan lunak yang seoptimal

mungkin sebagai dasar dari suatu protesa. Meliputi teknik pencabutan sederhana dan

bedah preprostetik lebih ditujukan untuk modifikasi bedah pada tulang alveolar dan

jaringan sekitarnya untuk memudahkan pembuatan dental protesa yang baik,

nyaman, dan estetis. Gigi geligi asli ketika hilang perubahan akan terjadi pada

alveolus dan jaringan lunak di sekitarnya. Beberapa dari perubahan ini akan

mengganggu kenyamanan pembuatan gigi tiruan. Tujuan dari bedah preprostetik

adalah untuk menyiapkan jaringan lunak dan jaringan keras dari rahang untuk suatu

protesa yang nyaman yang akan mengembalikan fungsi oral, bentuk wajah dan

estetis.

Salah satu kelainan yang dapat mengganggu fungsi dari gigi tiruan adalah

adanya penonjolan tulang (eksostosis). Eksostosis adalah suatu pertumbuhan benigna

jaringan tulang yang keluar dari permukaan tulang. Secara khas keadaan ini ditandai

dengan tertutupnya tonjolan tersebut oleh kartilago. Penonjolan di daerah midline

rahang atas disebut torus palatinus sedangkan penonjolan dilateral rahang bawah

disebut torus mandibularis.1,2 Berdasarkan hasil penelitian Aree Jainkittivong dkk.

1
(2000) yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Chulalongkorn,

Thailand didapatkan prevalensi pasien dengan penonjolan tulang sebanyak 26,9%

dari 960 subjek yang diteliti.3

Patogenesis dari eksostosis ini masih diperdebatkan, yang dapat dipengaruhi

faktor genetik misalnya umur dan jenis kelamin atau faktor lingkungan misalnya

trauma setelah pencabutan gigi dan tekanan kunyah.4 Penonjolan tulang berhubungan

dengan meningkatnya umur dan jenis kelamin, hal ini bisa dilihat dari hasil

penelitian yang dilakukan oleh Aree Jainkittivong dkk. (2000) yang menunjukkan

prevalensi penonjolan tulang tertinggi terjadi pada umur 60 tahun dan pada

kelompok umur yang lebih tua yaitu sebesar 21,7%. Distribusi penonjolan tulang

berdasarkan jenis kelamin didapat bahwasanya laki-laki lebih banyak dibandingkan

dengan perempuan dengan perbandingan 1,66:1.3 Sementara itu dari penelitian yang

dilakukan oleh Firas dkk (2006) dan Sawair dkk (2009) menunjukkan bahwa tidak

ada perbedaan prevalensi eksostosis yang signifikan antara laki-laki dan

perempuan.5,6

Eksostosis umumnya lebih banyak terjadi pada maksila dibandingkan dengan

mandibula dengan perbandingan 5,1:1.3,7 Eksostosis juga dapat terjadi setelah

pencabutan gigi. Penonjolan ini harus dihilangkan untuk persiapan pemakaian

gigitiruan. Apabila tidak dihilangkan maka akan mempengaruhi jaringan lunak,

stabilitas gigitiruan, retensi gigitiruan, adaptasi gigitiruan, dan dapat mengganjal

basis gigitiruan sehingga harus dihilangkan dengan tindakan bedah.2,8 Tindakan

bedah yang dilakukan untuk persiapan pemakaian gigitiruan disebut bedah

preprostetik yaitu alveolektomi dan alveoplasti.

2
Istilah alveolektomi dan alveoplasti kadang-kadang rancu, kadang-kadang

istilah ini dipertukarkan dan diterapkan kurang benar.

Menurut Archer9 istilah-istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:

Alveoplasti adalah suatu tindakan bedah untuk membentuk prosesus alveolaris

sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan immediate maupun

gigi tiruan yang akan dipasang beberapa minggu setelah operasi dilakukan.

Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus alveolaris,

baik sebagian maupun seluruhnya. Adapun pembuangan seluruh prosesus alveolaris

yang lebih dikenal sebagai alveolektomi diindikasikan pada rahang yang diradiasi

sehubungan dengan perawatan neoplasma yang ganas. Karena itu penggunaan istilah

alveolektomi yang biasa digunakan tidak benar, tetapi karena sering digunakan maka

istilah ini dapat diterima. Alveolektomi sebagian bertujuan untuk mempersiapkan

alveolar ridge sehingga dapat menerima gigi tiruan. Tindakan ini meliputi

pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam; mengurangi ketidakteraturan

puncak ridge atau elongasi; dan menghilangkan eksostosis

Akhir-akhir ini banyak ahli bedah mulut yang menggunakan istilah

alveoloplasti dan alveolektomi untuk menyatakan tindakan pembentukan kembali

prosesus alveolaris dibandingkan pembuangannya. Karena setiap tindakan

pencabutan gigi selalu diikuti dengan resorbsi tulang alveolar, maka dalam

melakukan tindakan alveolektomi seorang dokter gigi harus berusaha melindungi

tulang sebanyak dan sepraktis mungkin, sehingga dapat membentuk suatu jaringan

pendukung gigi tiruan yang baik.

3
Indresano dan Laskin10 mendefinisikan istilah alveoloplasti sebagai suatu

prosedur untuk membentuk prosesus alveolaris, dan alveolektomi adalah suatu

prosedur pembuangan prosesus alveolaris.

Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk mereduksi atau mengambil

sebagian processus alveolaris. Alveoplasti adalah tindakan bedah untuk membentuk

linger agar permukaan tulang dapat dibebani protesa dengan baik.

Definisi-definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa alveoloplasti

adalah suatu tindakan pembuangan sebagian prosesus alveolaris untuk

mempersiapkan bentuk yang dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan.

Sedangkan alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus

alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya.

Berdasarkan keterangan di atas penulis tertarik melakukan penelitian

mengenai perbedaan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti, dimana dari

definisi dan indikasi serta penatalaksanaan nya masih sering dipertukarkan dan

diterapkan kurang benar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas dan selama ini belum ada data

tentang perbedaan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti, maka didapatkan

rumusan masalah yaitu bagaimana perbedaan penatalaksanaan alveolektomi dan

alveoplasti.

4
1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui definisi, indikasi, dan penatalaksanaan alveolektomi.

2. Untuk mengetahui definisi, indikasi, dan penatalaksanaan alveoplasti.

3. Untuk mengetahui perbedaan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti.

1.4Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui perbedaan penatalaksanaan

alveolektomi dan alveoplasti yang digunakan untuk penelitian lebih lanjut

dan pengembangan kesehatan gigi dan mulut di bagian bedah mulut.

2. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberi kontribusi bagi pengembangan

ilmu pengetahuan kepada instansi kesehatan maupun menjadi bahan ajar yang

berguna bagi fakultas-fakultas kedokteran gigi di bidang bedah mulut.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alveolektomi

2.1.1 Definisi Alveolektomi

Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus

alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya. Alveolektomi juga

berarti pemotongan sebagian atau seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau

prosesus alveolaris yang tajam pada maksila atau mandibula, pengambilan torus

palatinus maupun torus mandibularis yang besar.15,17,18 Adapun pembuangan

seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau prosesus alveolaris yang tajam

yang lebih dikenal dengan alveolektomi, diindikasikan pada rahang yang

diradiasi sehubungan dengan perawatan neoplasma yang ganas. Alveolektomi

bertujuan untuk mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat memberikan

dukungan yang baik bagi gigitiruan. Tindakan ini meliputi pembuangan undercut

atau cortical plate yang tajam, mengurangi ketidakteraturan puncak ridge atau

elongasi, dan menghilangkan eksostosis. Alveolektomi dilakukan segera setelah

pencabutan gigi atau sekunder.14,15,17,18

7
2.1.2Tujuan Alveolektomi

Tujuan alveolektomi adalah:14,15,17,21-23

1. Memperbaiki kelainan dan perubahan alveolar ridge yang berpengaruh dalam

adaptasi gigitiruan.

2. Pengambilan eksostosis, torus palatinus maupun torus mandibularis yang

besar yang dapat mengganggu pemakaian gigitiruan.

3. Membuang alveolar ridge yang tajam atau menonjol.

4. Untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan

gigitiruan.

2.1.3Indikasi dan Kontraindikasi Alveolektomi

2.1.3.1 Indikasi 16

Dalam melakukan Alveolektomi ada beberapa keadaan yang harus dipertimbangkan

oleh seorang dokter gigi. Keadaan-keadaan tersebut antara lain :

1. Pada rahang di mana dijumpai neoplasma yang ganas, dan untuk

penanggulangannya akan dilakukan terapi radiasi,

2. Pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya undercut; cortical plate yang

tajam; puncak ridge yang tidak teratur; tuberositas tulang; dan elongasi,

sehingga mengganggu dalam proses pembuatan dan adaptasi gigi tiruan

3. Jika terdapat gigi yang impaksi, atau sisa akar yang terbenam dalam tulang;

maka Alveolektomi dapat mempermudah pengeluarannya,

4. Pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya kista atau tumor,

5. akan dilakukan tindakan apikoektomi,

7
6. Jika terdapat ridge prosesus alveolaris yang tajam atau menonjol sehingga

dapat menyebabkan facial neuralgia maupun rasa sakit setempat

7. Pada tulang interseptal yang terinfeksi; di mana tulang ini dapat dibuang

pada waktu dilakukan gingivektomi,

8. Pada kasus prognatisme maksila, dapat juga dilakukan Alveolektomi yang

bertujuan untuk memperbaiki hubungan antero-posterior antara maksila dan

mandibula,

9. Setelah tindakan pencabutan satu atau beberapa gigi, sehingga dapat segera

dilakukan pencetakan yang baik untuk pembuatan gigi tiruan,

10. Adanya torus palatinus (palatal osteoma) maupun torus perbaiki overbite

dan overjet.

2.1.3.2 Kontraindikasi

Kontraindikasi Alveolektomi adalah:8,15,21,25

1. Pada pasien yang memiliki bentuk prosesus alveolaris yang tidak rata, tetapi

tidak mengganggu adaptasi gigitiruan baik dalam hal pemasangan, retensi

maupun stabilitas.

2. Pada pasien yang memiliki penyakit sistemik yang tidak terkontrol yaitu

penyakit kardiovaskuler, Diabetes Mellitus (DM) dan aterosklerosis.

8
2.1.4 Klasifikasi Alveolektomi

Klasifikasi Alveolektomi

A. Simple alvolektomi

Setelah dilakukan multiple extractions, lapisan alveolar bukal dan tulang

interseptal diperiksa untuk mengetahui adanya protuberansia dan tepi yang tajam.

Incisi dibuat melintangi interseptal crest. Mukoperiosteum diangkat dengan

hati-hati dari tulang menggunakan Molt kuret no.4 atau elevator periosteal.

Kesulitan terletak pada permulaan flap pada tepi tulang karena periosteum

menempel pada akhiran tulang, tetapi hal ini harus dilatih agar flap tidak lebih

tinggidari dua per tiga soket yang kosong. Jika terlalu tinggi akan dapat melepaskan

perlekatan lipatan mukobukal dengan mudah, dengan konsekuensi hilangnya

ruang untuk ketinggian denture flange. Flap diekstraksi dengan hati-hati dan tepi dari

gauze diletakkan di antara tulang dan flap. Rongeur universal diletakkan pada

setengah soket yang kosong, dan lapisan alveolar bukal atau labial direseksi dengan

ketinggian yang sama pada semua soket. Rounger diposisikan pada sudut 45° di atas

interseptal crest, satu ujung pada masing-masing soket, dan ujung interseptal crest

dihilangkan. Prosedur ini dilakukan pada semua interseptal crest. Perdarahan

tulang dikontrol dengan merotasi curet kecil pada titik perdarahan. File ditarik

secara ringan pada satu arah pemotongan secara menyeluruh sehingga meratakan

tulang. Partikel-partikel kecil dihilangkan, gauze juga dilepaskan sehingga

awalan flap terletak pada tulang, dan jari digesek-gesekkan (dirabakan) pada

permukaan mukosa untuk memeriksa kedataran tulang alveolus. Lapisan

bukal harus dibuat kontur kurang lebih setinggi lapisan palatal dan dibuat

9
meluas dan datar. Undercut pada bagian posterior atas dan anterior bawah

perlu deperhatikan. Sisa jaringan lunak dan jaringan granulasi kronis juga

dihilangkan dari flap bukal dan palatal, kemudian dijahit menutupi area interseptal

tetapi tidak menutupi soket yang terbuka. Penjahitan secara terputus atau kontinyu

dilakukan tanpa tekanan.

B. Radical alveolektomi

Pembentukan kontur tulang bagian radiks dari tulang alveolar

diindikasikan karena terdapat undercuts yang sangat menonjol, atau dalam beberapa

hal, terdapat perbedaan dalam hubungan horizontal berkenaan dgn rahang atas dan

rahang bawah yang disebabkan oleh overjet. Beberapa pasien mungkin memerlukan

pengurangan tulang labial untuk mendapatkan keberhasilan dalam perawatan

prostetik. Dalam beberapa kasus, flap mukoperiosteal menjadi prioritas untuk

melakukan ekstraksi. Ekstraksi gigi, pertama dapat difasilitasi dengan

menghilangkan tulang labial diatas akar gigi. Penghilangan tulang ini juga akan

menjaga tulang intraradikular. Setelah itu sisa-sisa tulang dibentuk dan dihaluskan

sesuai dengan tinggi labial dan oklusal menggunakan chisel, rongeur dan file.

Sisa jaringan pada bagian flape labial dan palatal dihaluskan, yang diperkirakan akan

menganggu atau melanjutkan kelebihan sutura pada septa (continuoussutures over

the septa). Dalam penutupan flap, penting untuk menghilangkan jaringan pada area

premolar agar terjadi penuruan pengeluaran dari tulang labial. Dalam pembukaan

flap yang besar, harus dilakukan pemeliharaan yang tepat untuk memelihara

perlekatan dari lipatan mukobukal sebaik mungkin, atau selain itu penghilangan

kelebihan flap yang panjang harus dilakukan pada akhirnya. Jika flap tidak didukung

dengan gigi tiruan sementara (immediate denture) dan sisa jaringan tidak

10
dihilangkan, tinggi dari lapisan mukobukal akan berkurang secara drastis.

(Kruger, 1984)2

2.1.5 Prosedur Alveolektomi

Teknik untuk alveolektomi maksila dan mandibula:

2.1.5.1 Jika kasus salah satu dari gigi yang tersisa baru dicabut,

mukoperiosteum harus dicek untuk memastikan bahwa telah terdapat

kedalaman minimum sebesar 10mm.Dari semua tepi gingival yang

mengelilingi area yang akan dihilangkan.

2.1.5.2 Pastikan bahwa insisi telah dibuka mulai dari midpoint dari puncak alveolar

pada titik di pertengahan antara permukaan buccal dan lingual dari gigi

terakhir pada satu garis, yaitu gigi paling distal yang akan dicabut, menuju ke

lipatan mukobukal pada sudut 450 setidaknya 15mm. tarik insisi ke area

dimana gigi tersebut sudah dicabut sebelumnya.

2.1.5.3 Angkat flap dengan periosteal elevator dan tahan pada posisi tersebut dengan

jari telunjuk tangan kiri atau dengan hemostat yang ditempelkan pada tepi

flap atau dengan tissue retactor.

2.1.5.4 Bebaskan tepi flap dari darah menggunakan suction apparatus, dan jaga dari

seluruh area operasi.

2.1.5.5 Letakkan bone shear atau single edge bone-cutting rongeur dengan satu

blade pada puncak alveolar dan blade lainnya dibawah undercut

yang akan dibuang, dimulai pada regio insisivus sentral atas atau

bawah dan berlanjut ke bagian paling distal dari alveolar ridge pada sisi yang

terbuka.

11
2.1.5.6 Bebaskan mukoperiosteal membrane dari puncak alveolar dan angkat menuju

lingual, sehingga plate bagian lingual dapat terlihat. Prosedur ini

akan memperlihatkan banyak tulang interseptal yang tajam.

2.1.5.7 Hilangkan penonjolan tulang interseptal yang tajam tersebut dengan end-

cutting rongeurs.

2.1.5.8 Haluskan permukaan bukal dan labial dari alveolar ridge dengan

bone file. Tahan bone file pada posisi yang sama sebagai straight

operative chisel , pada posisi jari yang sama, dan file area tersebut pada

dengan gerakan mendorong.

2.1.5.9 Susuri soket dengan small bowl currete dan buang tiap spikula kecil tulang

atau struktur gigi atau material tumpatan yang masuk ke dalam soket.

Ulangi prosedur ini pada sisi kiri atas dan lanjutkan ke tahap berikutnya.

2.1.5.10 Kembalikan flap pada posisi semula, kurang lebih pada tepi jaringan lunak,

dan ratakan pada posisi tersebut dengan jari telunjuk yang lembab.

2.1.5.11 Catat jumlah jaringan yang overlapping, yang notabene bahwa tulang

dibawahnya telah dikurangi, yang akhirnya meninggalkan tulang yang

lebih sedikit dilapisi oleh jaringan lunak.

2.1.5.12 Dengan gunting, hilangkan sejumlah mukoperiosteum yang

sebelumnya terlihat overlap.

2.1.5.13 Ratakan jaringan lunak tersebut kembali ketempatnya menggunakan

jari telunjuk yang lembab, perkirakan tepi dari mukoperiosteum, lalu catat

apakah ada penonjolan tajam yang tersisa pada alveolar ridge. Operator

dapat merasakannya dengan jari telunjuk.

12
2.1.5.14 Jika masih terdapat penonjolan dari tulang yang tersisa, hilangkan

dengan bone fie.

2.1.5.15 Jahit mukoperiosteum kembali ketempatnya. Disarankan menggunakan

benang jahitan sutra hitam kontinyu nomor 000. Walaupun demikian,

jahitan interrupted juga dapat digunakan jika diinginkan

2.1.6 Komplikasi Pasca Bedah Alveolektomi

Dalam melakukan suatu tindakan bedah, tidak terlepas dari kemungkinan

terjadinya komplikasi, demikan pula halnya dengan tindakan alveolektomi. Efek

yang dialami pasien setelah tindakan alveolektomi biasanya dapat berupa:14,15

a. Pembengkakan yang umumnya terjadi pasca operasi.

b. Rasa sakit dan ngilu pada tulang alveolar.

c. Parastesi.

d. Peradangan di daerah jahitan.

e. Lepasnya jahitan

f. Perdarahan.

g. Hematoma.

h. Resorpsi tulang berlebihan.

i. Timbulnya rasa tidak enak pasca operasi (ketidaknyamanan).

j. Proses penyembuhan yang lambat.

k. Osteomielitis

Tetapi semua hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan prosedur operasi serta

tindakan-tindakan pra dan pasca operasi yang baik.13

13
2.1.7 Perawatan Pasca Bedah Alveolektomi

Pasien yang telah menjalani bedah alveolektomi harus dilakukan perawatan pasca

bedah sebagaimana biasanya pada setiap tindakan bedah pada umumnya. Instruksi

pasca bedah yang biasa diberikan pada pasien adalah:14

2.1.7.1 Pasien dianjurkan untuk melakukan kompres dengan cairan kompres, bisa

juga air dingin selama kurang lebih 30 menit pada jam pertama untuk

mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya pembengkakan

2.1.7.2 Pasien diharapkan tidak mengganggu daerah operasi dan menjaga

kebersihan mulutnya dengan cara berkumur pelan-pelan setiap selesai

makan dengan cairan antiseptik atau obat kumur yang telah disiapkan.

2.1.7.3 Pasien diminta datang pada hari berikutnya untuk melakukan kontrol

kembali pada daerah operasinya

2.1.7.4 Lima hari pasca operasi pasien diminta datang untuk pembukaan jahitan.

Pasien yang telah melakukan alveolektomi hendaklah diberikan bekal resep

obat anti sakit (analgesik) dan vitamin untuk mempercepat penyembuhan.

Dapat juga diberikan antibiotik apabila diperlukan dan sebaiknya juga

diberikan obat kumur antiseptik. Setelah melakukan kontrol terakhir yang

diikuti dengan pembukaan jahitan, hendaklah dilakukan pemeriksaan ulang

pada daerah operasi tersebut, apakah hasil alveolektomi yang dilakukan

telah berhasil atau terjadi kegagalan. Apabila terjadi kegagalan maka

pengulangan tindakan alveoektomi dapat direncanakan setelah terjadi

penyembuhan total.24

14
2.2 Alveoplasti

2.2.1 Definisi Alveoplasti

Alveoplasti adalah suatu tindakan bedah untuk membentuk prosesus alveolaris

sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan immediate maupun

gigi tiruan yang akan dipasang beberapa minggu setelah operasi dilakukan.

Alveoplasti merupakan prosedur bedah untuk menghaluskan atau mengkontur

kembali tulang alveolar, yang bertujuan untuk memfasilitasi penyembuhan dan

meningkatkan keberhasilan pemenpatan protesa.8 Alveoplasti merupakan istilah yang

digunakan untuk menjelaskan prosedur pemotongan atau pengangkatan tulang

alveolar bagian labiobuccal serta tulang bagian interdental dan interradikular.24

2.2.2 Tujuan Alveoplasti24

2.2.1 Untuk mendapatkan kontur ridge alveolar yang optimal secara cepat.

2.2.2 Ridge alveolar dapat mendistribusikan secara maksimal tekanan mastikasi.

2.2.3 Ridge alveolar tidak harus memiliki permukaan yang halus seutuhnya,

namun ketajaman tulang yang irreguler harus dihilangkan, dan ujung

2.2.4 Mukosa yang menutupi ridge alveolar harus mempunyai ketebalan,

densitas, dan kompresibilitas yang sama ketika terjadi transmisi tekanan

kunyah pada tulang yang mendasarinya

2.2.5 Pada pasien muda, jumlah tulang yang harus dihilangkan ketika proses

resorbsi meluas untuk beberapa tahun lebih sedikit jika dibandingkan

dengan pasien dewasa.

2.2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Alveoplasti

15
Indikasi Alveoplasti : 24

1. Pasien dengan tonjolan dan densitas tulang alveolar setelah pencabutan

gigi.

2. Telah melakukan prosedur utama untuk pembuatan immediate denture.

3. Tonjolan tulang yang disertai dengan rasa nyeri

Kontra Indikasi Alveoloplasti:26

Adapun kontra indikasi dilakukannya tindakan alveoloplasti adalah :

1. Pada pasien yang masih muda, karena sifat tulangnya masih sangat elastis

maka proses resorbsi tulang lebih cepat dibandingkan dengan pasien tua. Hal ini

harus diingat karena jangka waktu pemakaian gigi tiruan pada pasien muda lebih

lama dibandingkan pasien tua.

2. Pada pasien wanita atau pria yang jarang melepaskan gigi tiruannya karena

rasa malu, sehingga jaringan pendukung gigi tiruan menjadi kurang sehat, karena

selalu dalam keadaan tertekan dan jarang dibersihkan. Hal ini mengakibatkan proses

resorbsi tulang dan proliferasi jaringan terhambat.

3. jika bentuk prosesus alveolaris tidak rata tetapi tidak mengganggu adaptasi

gigi tiruan baik dalam hal pemasangan, retensi maupun stabilitas.

2.2.4 Klasifikasi Alveoplasti

2.2.4.1 Alveoplasti tunggal

1. Gigi yang berdiri sendiri/island teeth

Gigi posterior yang hanya berdiri sendiri dapat menimbulkan beberapa kendala,

seperti mengalami ekstrusi atau supraerupsi, perkembangan yang berlebih dari tulang

dan jaringan lunak pendukung gigi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan

16
penatalaksanaan khusus. Jika gigi tersebut berada di rahang atas, sinus maksilaris

merupakan salah satu masalah yang dapat disebabkan oleh gigi yang berdiri sendiri.

Hal ini disebabkan oleh terjadinya ekstrusi yang sering disertai dengan hiperaerasi

sinus.11 Pada kasus tersebut alveoplasti tunggal merupakan salah satu perawatan

yang tepat. Alveoplasti tunggal dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan

pembedahan atau dilakukan setelah tindakan pencabutan. Langkahnya adalah sebagai

berikut:27

1) Insisi berbentuk elips meliputi leher gingival sebelah bukal dan lingual.

2) Eksisi kedua ujung insisi yang berbentuk segitiga, yang terletak di sebelah distal

dan mesial.

3) Buka flap antara mukosa bergerak dan cekat.

17
4) Angkat tepi mukoperiosteum sebelah lingual. Lakukan sesedikit mungkin agar

tepi tulang alveolar dapat diperiksa.

5) Buang serpihan tulang, reduksi undercut dan tonjolan-tonjolan tulang lainnya

dengan menggunakan bone rongeur, bone file, ataupun dengan bur tulang.

6) Irigasi dengan larutan saline.

7) Tutup flap mukoperiosteum dengan penjahitan (biasanya dilekatkan dengan dua

jahitan, yakni pada bagian mesial dan distal).

18
2. Mendapatkan ruang antar-lingir

Apabila terjadi erupsi yang berlebihan, pembentukan kembali ruang antar lingar

sering diperlukan. Hal ini dikarenakan agar mendapatkan ruang antar linggir yang

cukup untuk penepatan protesa. Tindakan ini dilakukan dengan mereduksi lingir

residual secara vertikal. Lakukan eksisi pada jaringan fibrosa yang mengalami

hiperplasia dan terletak diatas lingir. Pada umumnya reduksi lingir jarang dilakukan

pada rahang bawah, terkecuali jika diindikasikan. Hal ini disebabkan oleh

keberadaan dari Nervus Mentalis. Sedangkan jika dilakukan reduksi lingir pada

rahang atas, diperlukan perhatian yang khusus agar menghindari terbukanya sinus.

Untuk mengetahui apakah celah antar lingir telah terbentuk sempurna, maka lakukan

19
oklusi gigi atau amati relasi vertikal apabila pasien tidak bergigi. Apabila bagian

yang dioperasi cukup luas, maka jahitan sementara dapat membantu dalam

menentukan cukup atau tidaknya celah yang dibutuhkan. 27

2.2.4.2 Alveoplasti multipel

1. Alveoplasti konservatif

Idealnya, alveoplasti merupakan prosedur yang konservatif, yakni dengan

menghindari pemotongan mukoperiosteum dan pengambilan tulang yang berlebihan.

Tindakan ini biasanya dilakukan per kuadran segera setelah dilakukannya

pencabutan gigi. Langkahnya adalah sebagai berikut: 27

1) Lakukan insisi sejajar pada bagian bukal dan lingual untuk mengambil papilla

interdental. Hal ini dikarenakan daerah tersebut sering mengalami peradangan

kronis atau trauma pada tindakan pencabutan gigi.

2) Angkat flap mukoperiosteum setinggi pertemuan antara mukosa bergerak dan

cekat.

3) Lakukan pengambilan tulang dari arah posterior ke anterior pada tulang yang

mengalami trauma pada waktu pencabutan, dan penonjolan-penonjolan yang

tajam, eksostosis, ataupun daerah yang menyebabkan undercut yang besar.

4) Gunakan bone rongeur, bone file ataupun bur tulang untuk mengeksisi tulang dan

melakukan penghalusan. Biasanya bagian lingual atau oklusal merupakan daerah

yang paling sering terjadi penonjolan tulang.

5) Irigasi dengan larutan saline steril.

20
6) Periksa kembali permukaan tulang, apabila masih terdapat serpihan tulang dan

jaringan lunak yang patologis, lakukan penghisapan dengan menggunakan

suction.

7) Lakukan penjahitan untuk menutup flap (jika terdapat jaringan lunak yang

berlebihan, lakukan pemotongan).

2. Alveoplasti sekunder

Alveoplasti sekunder biasanya dilakukan untuk memperbaiki kecacatan yang terjadi

pada lingir yang masih tetap tertinggal setelah tindakan pencabutan atau yang

disebabkan karena resorbsi atau atropi yang tidak teratur. Langkahnya adalah sebagai

berikut: 27

1) Lakukan insisi pada mukoperiosteum di sebelah lingual dari lingir yang akan

diperbaiki, tebalnya meliputi mukosa dan periosteum, dan diperluas sampai

bagian posterior dan anterior, serta bagian bukal dan lingual daerah yang akan

dioperasi. Hal ini dilakukan agar dapat memperoleh jalan masuk menuju tulang.

2) Lakukan pengambilan tulang dan perbaikan kontur dengan menggunakan bone

rongeur atau bur tulang.

3) Lakukan penghalusan tulang dengan menggunakan bone file.

4) Irigasi dengan larutan saline steril.

5) Amati dengan baik. Jika sudah tidak ada penonjolan tulang, lakukan

penjahitan.

21
2.2.5 Teknik Alveoloplasti

Menurut Starshak (1971) ada 5 macam teknik alveoloplasti, yaitu : Teknik Alveolar

Kompresi, Teknik Simpel Alveoloplasti, Teknik Kortiko Labial Alveoloplasti,

Teknik Dean Alveoloplasti, dan Teknik Obwegeser Alveoloplasti.26

1) Teknik Alveolar Kompresi

Merupakan teknik alveoloplasti yang paling mudah dan paling cepat. Pada teknik

ini dilakukan penekanan cortical plate bagian luar dan dalam di antara jari-jari.

Teknik ini paling efektif diterapkan pada pasien muda, dan harus dilakukan

setelah semua tindakan ekstraksi, terutama pada gigi yang bukoversi. Tujuan

dilakukannya tindakan ini adalah untuk mengurangi lebar soket dan

menghilangkan tulang-tulang yang dapat menjadi undercut.

2) Teknik Simpel Alveoloplasti

Teknik ini dapat digunakan jika dibutuhkan pengurangan cortical margin labial

atau bukal, dan kadang-kadang juga alveolar margin lingual atau palatal.

Biasanya digunakan flep tipe envelope, Tetapi kadangkala digunakan juga flep

trapesoid dengan satu atau beberapa insisi. Pada teknik ini pembukaan flep hanya

sebatas proyeksi tulang, karena pembukaan yang berlebihan pada bagian apikal

dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan.

3) Teknik Kortiko-Labial Alveoloplasti

Teknik ini merupakan teknik alveoloplasti yang paling tua dan paling populer, di

mana dilakukan pengurangan cortical plate bagian labial. Teknik ini telah

dipraktekkan secara radikal selama bertahun-tahun, dengan hanya meninggalkan

sedikit alveolar ridge yang sempit. Dalam tindakan bedah preprostodontik teknik

22
inilah yang paling sering digunakan, karena pada teknik ini pembuangan tulang

yang dilakukan hanya sedikit, serta prosedur bedahnya yang sangat sederhana.

4) Teknik Dean Alveoloplasti

O.T. Dean menyumbangkan suatu teknik alveoloplasti yang sangat baik dalam

mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat mengadaptasi gigi tiruan dengan

baik. Thoma menggambarkan pembuangan tulang interrradicular (diantara akar)

tidak dengan istilah intraseptal (di dalam septum), tetapi dengan istilah

intercortical (di antara cortical plate). Sedangkan ahli-ahli lain

menggunakan istilah teknik “crush”.

Teknik Dean ini didasari oleh prinsip-prinsip biologis sebagai berikut :

a) Mengurangi alveolar margin labial dan bukal yang prominen,

b) Tidak mengganggu perlekatan otot

c) Tidak merusak periosteum

d) Melindungi cortical plate sehingga dapat digunakan sebagai onlay bone graft

yang hidup dengan suplai darah yang baik

e) Mempertahankan tulang kortikal sehingga dapat memperkecil resorbsi tulang

setelah operasi.

McKay memodifikasi teknik Dean ini dengan memecahkan cortical plate ke arah

labial sebelum menekannya kembali ke palatal. Modifikasi ini menjamin onlay

tulang dapat bergerak bebas dan terlepas dari tekanan.

5) Teknik Obwegeser Alveoloplasti

Pada kasus protrusi premaksilaris yang ekstrim, teknik Dean tidak akan

menghasilkan ridge anterior berbentuk U seperti yang diinginkan, tetapi

menghasilkan ridge berbentuk V. Untuk menghindari bentuk ridge seperti ini,

23
Obwegeser membuat fraktur pada cortical plate labial dan palatal. Keuntungan

teknik ini adalah dapat membentuk kedua permukaan palatal dan labial prosesus

alveolaris anterior, dan sangat tepat untuk kasus protrusi premaksilaris yang

ekstrim. Operasi dengan teknik ini harus didahului dengan proses pembuatan

model gips, kemudian splint atau gigi tiruan disusun pada model kerja gips

tersebut. Dengan dilakukannya proses ini, maka prosedur operasi yang dilakukan

di kamar praktek dokter gigi atau di ruang operasi dapat dilakukan dengan lebih

akurat.

2.2.6 Komplikasi Tindakan Alveoloplasti

Dalam melakukan suatu tindakan bedah tidak terlepas dari kemungkinan

terjadinya komplikasi, demikan pula halnya dengan alveoloplasti. Dimana

komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi antara lain: rasa sakit, hematoma,

pembengkakan yang berlebihan, timbulnya rasa tidak enak pasca operasi

(ketidaknyamanan), proses penyembuhan yang lambat, resorbsi tulang berlebihan26,

serta osteomyelitis28 . Tetapi semua hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan

prosedur operasi serta tindakan-tindakan pra dan pasca operasi yang baik.

24
BAB 3

KERANGKA KONSEP

3.1Kerangka Teori

Bedah Preprostetik

Alveolektomi Alveoplasti
membuang prosesus membentuk
alveolaris prosesus alveolaris

Indikasi dan Indikasi dan


Kontraindikasi Kontraindikasi

Klasifikasi Klasifikasi

Penatalaksanaan Penatalaksanaan

anastesi anastesi

Diseksi, kemudian Insisi diatas


retraksi 3-4 mm ke alveolar ridge
apikal

Keterangan : Tepi tulang yang tajam


Pengambilan eksostosis dibuang dengan tang
Variabel yang diteliti dengan cara memotong rongeur kemudian tulang
tonjolan tulang dihaluskan dengan bone file

Variabel yang tidak diteliti


Menggunakan larutan Batas batas flap dirapikan
saline untuk irigasi dengan pengguntingan

Pengonturan tulang hingga Menggunakan larutan


halus tanpa ada irregularitas saline untuk irigasi

Mengembalikan mukoperiosteal Pengonturan dan


flap ke atas tulang yang telah penghalusan tulang
dikontur

dilakukan penjahitan pengembalian flap dan


penjahitan secara continue
suture
25
3.2 Kerangka Konsep

BEDAH PREPROSTETIK

ALVEOLEKTOMI
ALVEOPLASTI

Simple Alveolektomi
Gigi yang berdiri
sendiri island teeth
Alveoplasti tunggal
Radical Alveolektomi Mendapatkan ruang

antar-lingir

Alveoplasti konservatif

Alveoplasti Multipel
Alveoplasti
sekunder

PROSEDUR - USIA
PENATALAKSANAAN - JENIS KELAMIN
- REGIO

26
Keterbatasan Penelitian :

1. Tidak mengontrol pasien pasca penatalaksanaan bedah preprostetik


alveolektomi dan alveoplasti.
2. Tidak mengambil sampel dari rumah sakit lain.
3. Kurang nya sampel karena keterbatasan waktu.

27
BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif.

4.2 Lokasi Penelitian

a. RSGMP drg. Halimah Dg Sikati FKG Unhas

b. RSUD Sayang Rakyat

c. RS Ibnu Sina

d. TJ Dent Medical Specialist Makassar.

4.3 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2017 – Mei 2017

4.4 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah pasien yang berkunjung ke RSGMP

drg. Halimah Dg Sikati FKG Unhas, RSUD Sayang Rakyat, RS Ibnu Sina, dan TJ

Dent Medical Specialist Makassar di Departemen Bedah Mulut. Sedangkan Sampel

yang digunakan adalah pasien RSGMP drg. Halimah Dg Sikati FKG Unhas,

RSUD Sayang Rakyat, RS Ibnu Sina, dan TJ Dent Medical Specialist yang

28
dilakukan tindakan bedah preprostetik alveolektomi dan alveoplasti yang

memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

4.5 Metode sampling

Metode pengambilan sampel yang akan digunakan adalah metode Purposive

Sampling.

4.6 Kriteria sample

4.6.1. Kriteria inklusi

1. Pasien yang bersedia menjadi subjek penelitian.

2. Pasien yang dilakukan tindakan alveoplasti.

3. Pasien yang dilakukan tindakan alveolektomi

4.6.2. Kriteria eksklusi

1. Pasien yang tidak bersedia menjadi subjek penelitian.

2. Pasien yang menderita penyakit sistemik.

4.7 Definisi operasional

1. Bedah preprostetik : bagian dari bedah mulut dan maksilofasial yang bertujuan

untuk membentuk jaringan keras dan jaringan lunak yang seoptimal mungkin sebagai

dasar dari suatu protesa.

2. Alveoplasti: prosedur bedah preprostetik yang bertujuan untuk menghaluskan

29
atau memotong permukaan tulang alveolar yang tajam, sehingga dapat

mempercepat prosedur penyembuhan luka dan meningkatkan keberhasilan

pemakaian gigi tiruan.

3. Alveolektomi :suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus alveolaris, baik

sebagian maupun seluruhnya. Adapun pembuangan seluruh prosesus alveolaris yang

lebih dikenal sebagai alveolektomi diindikasikan pada rahang yang diradiasi

sehubungan dengan perawatan neoplasma yang ganas.

4.8 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan berupa kartu status pasien yang melakukan tindakan

bedah preprostetik alveolektomi dan alveoplasti , sedangkan alat yang digunakan

kamera untuk mempotret tindakan bedah preprostetik alveolektomi dan alveoplasti,

bolpoin untuk mencatat prosedur alveolektomi dan alveoplasti, serta alat pelindung

diri seperti masker, jas lab, dan handscoon.

4.9 Jenis data

Jenis data yang akan didapat merupakan jenis data primer, karena data yang

diambil langsung berasal dari penelitian, bukan berasal dari penelitian yang telah ada

sebelumnya.

4.10 Analisis data

Analsis data dilakukan secara deskriftif, yaitu dengan membuat uraian dalam

bentuk gambaran penatalaksanaan.

30
4.11. Alur penelitian

Pasien datang

Peneliti meminta izin

Penjelasan kepada
subjek

Alveolektomi Alveoplasti

Tindakan Tindakan
penatalaksanaan penatalaksanaan
Alveolektomi Alveoplasti

Pengumpulan data

Hasil

31
BAB 5

HASIL PENELITIAN

Penelitian mengenai perbedaan prosedur penatalaksanaan alveoplasti dan

alveolektomi telah dilakukan dan ini untuk mengetahui perbedaan prosedur bedah

preprostetik alveoplasti dan alveolektomi yang kadang dianggap rancu dan diterapkan

kurang benar. Penelitian ini merupakan penelitian studi deskriptif. Dimana tujuan dari

penelitian ini untuk menyajikan gambaran mengenai prosedur penatalaksanaan

alveolektomi dan alveplasti. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut

Universitas Hasanuddin pada bulan februari – juni 2017.

Sampel penelitian meliputi pasien yang berkunjung ke Rumah Sakit Gigi dan

Mulut Universitas Hasanuddin di Dapartemen Bedah Mulut dan di RSUD Sayang

Rakyat. Jumlah pasien yang diperoleh sebanyak 17 orang alveolpasti dan 2 orang

alveolektomi.

Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui perbedaan dari kedua prosedur

bedah preprostetik tersebut dengan cara melihat usia, jenis kelamin, regio pasien yang

akan dilakukan alveoplasti dan alveolektomi dan melihat prosedur penatalaksanaan

alveoplasti dan alveolektomi Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil gambar

dari prosedur penatalaksanaan bedah preprostetik alveolektomi dan alveoplasti.

32
Data hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk foto dan penggambaran yang

memperlihatkan prosedur penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti.

5.1 Prosedur penatalaksanaan alveoplasti

(Gambar 5.1 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Sebelum dilakukan bedah preprostetik alveoplasti, terdapat tonjolon pada bagian

anterior mandibula.

(Gambar 5.2 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Diraba bagian eksostosis yang menonjol yang dapat mengganggu pemakaian gigi tiruan

immidiate.

33
(Gambar 5.3 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Dilakukan anastesi lokal, tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan proses
pembedahan. Pada seluruh bagian yang akan dilakukan pembedahan. Pemberian
anastesi pada area yang akan dilakukan alveolplasti

(Gambar 5.4 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Dilakukan insisi diatas alveolar ridge dengan memotong papilla interdental dan gingiva

gingiva dibuka dari prosesus alveolaris.

34
(Gambar 5.5 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Sesudah didapat ruangannya, ujung ujung tulang dibuang (tulang interseptal dan

penonjolan tulang) menggunakan ronguer. Pengambilan tulang yang berlebihan, buang

serpihan tulang, reduksi undercut dan tonjolan - tonjolan tulang yang tidak

diinginkan.proses pembuangan tulang interseptal dan ujung-ujung tulang.

(Gambar 5.6 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Setelah pengambilan tulang yang berlebihan atau eksostosis, kemudian diraba dengan

menggunakan jari apabila masih terdapat tonjolan yang dapat mengganggu penggunaan

gigi tiruan.

(Gambar 5.7 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Setelah mukoperiosteum diangkat, tulang dihaluskan dengan bone file. Daerah undercut

diambil, jika masih terdapat tonjolan tulang yang dapat mengganggu pemakaian gigi

35
tiruan. Kemudian dihaluskan (pull stroke) dengan menggunakan bone file, setelah itu

dilakukan pengecekan kembali apakah masih terdapat tonjolan tulang yang kasar yang

dapat menganggu penggunaan gigi tiruan, jika masih terdapat tonjolon maka kembali

dihaluskan dengan menggunakan bone file. Kemudian irigasi dengan larutan saline

steril yang banyak digunakan untuk mengirigasi daerah operasi, evaluasi permukaan

yang tajam atau kasar kembali.

(Gambar 5.8 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Kemudian aposisi flap dan jahit mukoperiosteum kembali ketempatnya, disarankan

menggunakan benang jahitan sutra hitam continue nomor 000

(Gambar 5.9 prosedur penatalaksanaan alveoplasti)

Hasil dari tindakan alveoplasti, pasca suturing.

36
5.2 Prosedur penatalaksanaan alveolektomi

A. Simple alvolektomi

Setelah dilakukan multiple extractions, lapisan alveolar bukal dan

tulang interseptal diperiksa untuk mengetahui adanya protuberansia dan tepi yang

tajam. Incisi dibuat melintangi interseptal crests. Mukoperiosteum diangkat

dengan hati-hati dari tulang menggunakan Molt curet no.4 atau elevator

periosteal. Kesulitan terletak pada permulaan flap pada tepi tulang karena

periosteum menempel pada akhiran tulang, tetapi hal ini harus dilatih agar flap tidak

lebih tinggidari dua per tiga soket yang kosong. Jika terlalu tinggi akan dapat

melepaskan perlekatan lipatan mukobukal dengan mudah, dengan konsekuensi

hilangnya ruang untuk ketinggian denture flange. Flap diekstraksi dengan hati-hati dan

tepi dari gauze diletakkan di antara tulang dan flap. Rongeur universal diletakkan pada

setengah soket yang kosong, dan lapisan alveolar bukal atau labial direseksi dengan

ketinggian yang sama pada semua soket. Rounger diposisikan pada sudut 45° di atas

interseptal crest, satu ujung pada masing-masing soket, dan ujung interseptal crest

dihilangkan. Prosedur ini dilakukan pada semua interseptal crests. Perdarahan

tulang dikontrol dengan merotasi curet kecil pada titik perdarahan. File ditarik secara

ringan pada satu arah pemotongan secara menyeluruh sehingga meratakan tulang.

Partikel-partikel kecil dihilangkan, gauze juga dilepaskan sehingga awalan flap

terletak pada tulang, dan jari digesek-gesekkan (dirabakan) pada permukaan mukosa

untuk memeriksa kedataran tulang alveolus. Lapisan bukal harus dibuat

kontur kurang lebih setinggi lapisan palatal dan dibuat meluas dan datar. Undercut

pada bagian posterior atas dan anterior bawah perlu deperhatikan. Sisa jaringan

37
lunak dan jaringan granulasi kronis juga dihilangkan dari flap bukal dan palatal,

kemudian dijahit menutupi area interseptal tetapi tidak menutupi soket yang terbuka.

Penjahitan secara terputus atau kontinyu dilakukan tanpa tekanan.

B. Radikal alveolektomi

Pembentukan kontur tulang bagian radiks dari tulang alveolar

diindikasikan karena terdapat undercuts yang sangat menonjol, atau dalam beberapa hal,

terdapat perbedaan dalam hubungan horizontal berkenaan dgn rahang atas dan rahang

bawah yang disebabkan oleh overjet. Beberapa pasien mungkin memerlukan

pengurangan tulang labial untuk mendapatkan keberhasilan dalam perawatan prostetik.

Dalam beberapa kasus, flap mukoperiosteal menjadi prioritas untuk melakukan

ekstraksi. Ekstraksi gigi, pertama dapat difasilitasi dengan menghilangkan tulang labial

diatas akar gigi. Penghilangan tulang ini juga akan menjaga tulang intraradikular.

Setelah itu sisa-sisa tulang dibentuk dan dihaluskan sesuai dengan tinggi labial

dan oklusal menggunakan chisel, rongeur dan file. Sisa jaringan pada bagian flap

labial dan palatal dihaluskan, yang diperkirakan akan menganggu atau melanjutkan

kelebihan sutura pada septa (continuoussutures over the septa). Dalam penutupan flap,

penting untuk menghilangkan jaringan pada area premolar agar terjadi penuruan

pengeluaran dari tulang labial. Dalam pembukaan flap yang besar, harus dilakukan

pemeliharaan yang tepat untuk memelihara perlekatan dari lipatan mukobukal

sebaik mungkin, atau selain itu penghilangan kelebihan flap yang panjang harus

dilakukan pada akhirnya. Jika flap tidak didukung dengan gigi tiruan sementara

(immediate denture) dan sisa jaringan tidak dihilangkan, tinggi dari lapisan

mukobukal akan berkurang secara drastis.

38
(Gambar 5.10 prosedur penatalaksanaan alveolektomi)

(Gambar 5.11 prosedur penatalaksanaan alveolektomi)

(Gambar 5.12 prosedur penatalaksanaan alveolektomi)

39
BAB 6

PEMBAHASAN

Penelitian mengenai perbedaan tindakan penatalaksanaan alveoplasti dan

alveolektomi telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan

penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti yang kadang dipertukarkan dan

dterapkan kurang benar. Pada penelitian ini sampel diambil dari pasien yang akan

dilakukan tindakan alveoplasti di Dapartemen Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan

Mulut Universitas Hasanuddin, dan melalui beberapa referensi mengenai tindakan

pentalaksanaan alveolektomi. Kriteria penelitian berupa pasien yang akan melakukan

tindakan bedah preprostetik alveoplasti yang mengalami eksostosis dan mengganggu

penggunaan gigi tiruan.

Sampel penelitian berjumlah 17 orang yang dilakukan bedah preprostetik

alveoplasti. Yang dapat dilihat prosedur penatalaksanaannya saat dilakukan bedah

preprostetik alveoplasti.

Berdasarkan penelitian dapat dilihat tindakan alveoplasti adalah suatu

tindakan bedah untuk membentuk prosesus alveolaris sehingga dapat memberikan

dukungan yang baik bagi gigi tiruan immediate maupun gigi tiruan yang akan

dipasang beberapa minggu setelah operasi dilakukan. Alveoplasti merupakan

prosedur bedah untuk menghaluskan atau mengkontur kembali tulang alveolar, yang

bertujuan untuk memfasilitasi penyembuhan dan meningkatkan keberhasilan

pemenpatan protesa.8 Sedangkan tindakan alveolektomi merupakan tindakan yang

41
meliputi pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam, mengurangi

ketidakteraturan puncak ridge atau elongasi, dan menghilangkan eksostosis.

Alveolektomi dilakukan segera setelah pencabutan gigi atau sekunder. Pada rahang

di mana dijumpai neoplasma yang ganas Pada prosesus alveolaris yang dijumpai

adanya kista atau tumor. 14,15,17,18

Pada perbedaan tindakan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti terdapat

indikasi dan kontraindikasi yang dapat membedakan kedua tindakan penatalaksanaan

bedah preprostetik alveolektomi dan alveoplasti dari kedua tindakan bedah tersebut,

dimana pada indikasi tindakan bedah preprostetik alveoplasti dimana terdapat

tonjolan tulang yang dapat mengganggu pemakaian gigi tiruan immiediate, dan

terdapat tonjolan disertai dengan rasa nyeri atau eksostosis yang ingin dihilangkan.

Adapun indikasi pada alveolektomi diindikasikan pada rahang di mana dijumpai

neoplasma yang ganas dan untuk penanggulangannya akan dilakukan terapi radiasi,

pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya undercut; cortical plate yang tajam;

puncak ridge yang tidak teratur; tuberositas tulang; dan elongasi, sehingga

mengganggu dalam proses pembuatan dan adaptasi gigi tiruan. Jika terdapat gigi

yang impaksi, atau sisa akar yang terbenam dalam tulang; maka Alveolektomi dapat

mempermudah pengeluarannya, pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya kista

atau tumor, akan dilakukan tindakan apikoektomi, Jika terdapat ridge prosesus

alveolaris yang tajam atau menonjol sehingga dapat menyebabkan facial neuralgia

maupun rasa sakit setempat pada tulang interseptal yang terinfeksi; di mana tulang

ini dapat dibuang pada waktu dilakukan gingivektomi, pada kasus prognatisme

maksila, dapat juga dilakukan Alveolektomi yang bertujuan untuk memperbaiki

hubungan antero-posterior antara maksila dan mandibula, setelah tindakan

41
pencabutan satu atau beberapa gigi, sehingga dapat segera dilakukan pencetakan

yang baik untuk pembuatan gigi tiruan, adanya torus palatinus (palatal osteoma)

maupun torus perbaiki overbite dan overjet.

Perbedaan tindakan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti memiliki

tujuan dari setiap tindakannya, adapun tujuan dari alveoplasti untuk mendapatkan

kontur ridge alveolar yang optimal secara cepat, ridge alveolar dapat

mendistribusikan secara maksimal tekanan mastikasi, ridge alveolar tidak harus

memiliki permukaan yang halus seutuhnya, namun ketajaman tulang yang irreguler

harus dihilangkan, dan ujung Mukosa yang menutupi ridge alveolar harus

mempunyai ketebalan, densitas, dan kompresibilitas yang sama ketika terjadi

transmisi tekanan kunyah pada tulang yang mendasarinya.

Perbedaan tindakan penatalaksanaan dari pada alveoplasti dan alveolektomi

dapat dilihat dari penatalaksanaannya dimana pada alveoplasti terdapat alveoplasti

tunggal dan alveoplasti multiple dimana pada alveoplasti tunggal terdapat gigi yang

berdiri sendiri atau island teeth gigi posterior yang hanya berdiri sendiri dapat

menimbulkan beberapa kendala, seperti mengalami ekstrusi atau supraerupsi,

perkembangan yang berlebih dari tulang dan jaringan lunak pendukung gigi tersebut.

Terdapat mendapatkan ruang antar lingir yaitu apabila terjadi erupsi yang berlebihan,

pembentukan kembali ruang antar lingar sering diperlukan. Hal ini dikarenakan agar

mendapatkan ruang antar linggir yang cukup untuk penepatan protesa.. Dan pada

alveolektomi terdapat simple alveolektomi dan radical alveolektomi.

42
Jika dilihat dari tindakan penatalaksanaan alveolektomi dan alveoplasti

terdapat perbedaan penatalaksanaan antara kedua tindakan tersebut. Hal ini sesuai

dengan yang dipaparkan oleh Heidelberg yang menggambarkan tindakan

alveolektomi terbagi atas alveolektomi setelah pencabutan satu gigi, alveolektomi

setelah pencabutan dua gigi atau tiga gigi dan alveolektomi setelah pencabutan

multiple, alveolektomi pada edentulous alveolar ridge, dan alveolektomi kongenital

multiple.

Gambar 6.1

(alveolektomi setelah pencabutan satu gigi

Sumber : Fragiskos D. Oral surgery, 1st ed., Heidelberg: Springer)

43
Gambar 6.2

(alveolektomi setelah pencabutan dua atau tiga gigi

Sumber: Fragiskos D. Oral surgery, 1st ed., Heidelberg: Springer)

Gambar 6.3

(alveolektomi setelah pencabutan multiple

Sumber: Fragiskos D. Oral surgery, 1st ed., Heidelberg: Springer)

44
Gambar 6.4

(alveolektomi pada edontolous alveolar ridge

Sumber: Fragiskos D. Oral surgery, 1st ed., Heidelberg: Springer)

Gambar 6.4

(alveolektomi kelainan kongenital multiple

45
Sumber: Fragiskos D. Oral surgery, 1st ed., Heidelberg: Springer)

Tabel 5.1

Karakteristik Sampel Penelitian Frekuensi (n) Persen (%)


Jenis Kelamin
Laki – Laki 5 29,5 %
Perempuan 12 70,5 %
Usia
20-29 1 5,9 %
30-39 1 5,9 %
40-49 4 23,5 %
50-59 5 29,4 %
60-69 6 35,3 %
Regio
11-18 3 17,6 %
21-28 2 11,8 %
31-38 5 29,4 %
41-48 7 41,2 %
Total 17 100 %

Tabel 5.1 memperlihatkan distribusi karakteristik sampel penelitin yang

secara keseluruhan berjumlah 17 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah

perempuan lebih banyak daripada laki-laki, dengan angka 12 orang (70,5%) untuk

perempuan dan 5 orang (29,5%) untuk laki laki. Selain itu sampel berusia 60-69

tahun merupakan sampel yang paling banyak ykni berjumlah 6 orang (35,3%).

Adapun sampel yang berusia 20-29 dan 30-39 tahun merupakan sampel dengan

jumlah yang paling sedikit yakni 1 orang (5,9%). Berdasarkan regio terjadinya

alveoplasti terbanyak dengan regio 41-48 (41,2%). Adapun regio terjadinya

alveoplasti paling sedikit 11-18 (17,6%).

46
80

70

60

50

40

30

20

10

0
jenis kelamin usia regio

Diagram 5.1

Hasil penelitian Aree Jainkittivong dkk (2000) yang dilakukan di Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Chulalongkorn, Thailand di dapat prevalensi pasien

dengan penonjolan tulang sebanyak 26,9% dari 960 subjek yang diteliti

menunjukkan prevalensi penonjolan tulang tertinggi terjadi pada umur 60 tahun dan

pada kelompok umur yang lebih tua yaitu sebesar 21,7% . Distribusi penonjolan

tulang berdasarkan jenis kelamin didapat bahwasanya laki-laki lebih banyak

dibandingkan dengan perempuan dengan perbandingan 1,66:1.3 Sementara itu dari

penelitian yang dilakukan oleh Firas dkk (2006) dan Sawair dkk (2009)

menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan prevalensi penonjolan tulang yang

signifikan antara laki-laki dan perempuan.5,6 Penonjolan tulang umumnya lebih

banyak terjadi pada maksila dibandingkan dengan mandibula dengan perbandingan

5,1:1.

47
BAB 7

PENUTUP

7.1 Kesimpulan

1. Penelitian ini pasien yang mengalami eksostosis, dan adanya rasa tidak

nyaman pada pemakaian gigi tiruan dapat dilakukan tindakan bedah

preprostetik alveoplasti, dan pada kasus alveolektomi dimana terdapat

torus mandibularis maupun torus palatinus yang besar, dan termasuk

tindakan radical yaitu; pembentukan kontur tulang bagian radiks

dari tulang alveolar.

2. Alveoplasti diindikasikan pada eksostosis yang mengganggu pemakaian

gigi tiruan, sedangkan alveolektomi diindikasikan pada rahang yang

diradiasi sehubungan dengan perawatan neoplasma yang ganas.

3. Perbandingan tindakan penatalaksanaan bedah preprostetik alveoplasti

berdasarkan usia dapat diperolah pasien lansia usia 40-50 tahun yang

telah memakai gigi tiruan melakukan tindakan bedah preprostetik

alveoplasti.

4. Perbandingan tindakan penatalaksanaan bedah preprostetik alveoplasti

berdasarkan jenis kelamin dapat diperoleh pasien wanita lansia lebih

dominan melakukan tindakan bedah preprostetik alveoplasti.

5. Indikasi pada alveolektomi jika terdapat gigi yang impaksi, atau sisa akar

yang terbenam dalam tulang; maka Alveolektomi dapat mempermudah

pengeluarannya.

48
6. Istilah tindakan alveoplasti untuk menghilangkan eksostosis, namun pada

istilah alveolektomi untuk menghilangkan tonjolan tulang yang lebih

besar.

7. Tindakan alveolektomi terdapat dua klasifikasi yaitu simple alveolektomi

dan radicular alveolektomi, dimana simple alveolektomi dilakukan

setelah pencabutan gigi, dan radicular alveolektomi pembentukan

kontur tulang bagian radiks dari tulang alveolar

7.2 Saran

1. Penulis menyarankan untuk dilakukan penelitian yang lebih lanjut

mengenai perbedaan tindakan penatalaksanaan alveolektomi dan

alveoplasti dengan jumlah pasien yang lebih banyak sehingga dapat lebih

melihat perbedaan yang signifikan.

2. Penulis menyarankan untuk dilakukan penelitian yang lebih lanjut

mengenai alveolektomi dan alveoplasti untuk melihat perbedaan

berdasarkan usia, jenis kelamin, dan regio.

3. Disarankan kepada mahasiswa kedokteran gigi khususnya untuk

mahasiswa kepaniteraan untuk dapat mengetahui perbedaan tindakan,

indikasi, dan kontraindikasi antara alveolektomi dan alveoplasti yang

kada dipertukarkan dan diterapkan kurang benar.

49
DAFTAR PUSTAKA

1. Basa S, Uckan S, Kisnisci R. Preprosthetic and oral soft tissue surgery. United

Kingdom: Wiley-blackwell, 2010: 321-23.

2. Gustav O Kruger. Preprosthetic surgery. The C V Mosby Company, St Louis,

Toronto, London, 1979

3. Jainkittivong A, Langlais RP. Buccal and exostoses: Prevalence and concurrence

with tori. J Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2000; 90: 48-52.

4. Kurtzman GM, Silverstein LH. A Technique for surgical mandibular exostosis

removal. Compendium 2006; 27(10):520-5.

5. Quran FAM, Dwairi ZN. Torus palatinus and torus mandibularis in edentulous

patients. J of Contemporary Dental Practice 2006; 7(2): 1.

6. Sawair FA, Shayyab MH. Prevalence and clinical characteristics of tori and jaw

exostoses in a teaching hospital in Jordan. J Saudi Med (2009); 30(12): 1557-

1562.

7. Basha S, Dutt SC. Buccal-sided mandibular angel exostosis. Contemp Clin Dent

2011; 2(3): 237-9.

8. Fragiskos D. Oral surgery, 1st ed., Heidelberg: Springer, 2007: 243-61.

9. Archer, W. H. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Vol. I. Philadelphia:

Saunders, 1975: 135, 179-187.

50
10. Indresano, A. T. and Laskin, D. M. Procedures to Improve the Bony Alveolar

Ridge. In: Laskin, D. M., editor. Oral and Maxillofacial Surgery. St. Louis:

Mosby, 1985: 293-305.

11. Vohra P, Vohra N. Provisional prosthesis for class 1 radical mandibular

alveolectomy patient. J of Oral Health & Allied Sciences 2011; 1: 35.

12. Costello BJ, Betts NJ. Preprosthetic surgery for the edentulous patients. Dent

Clin North Am 1996; 40(1): 19-38.

13. Hillerup S. Preprosthetic surgery in the elderly. J Prosthet Dent 1994; 72(5):

551-8.

14. Pedersen GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Alih bahasa: Purwanto,

Basoeseno. Jakarta: EGC, 1996; 119-27.

15. Aditya G. Alveoloplasti sebagai tindakan bedah preprostodontik. J Kedokteran

Trisakti 1999: 18 (1); 27-33.

16. Prathap S. Alveolectomy.

<http://samsondentalclinic.com/2011/06/alveolectomy.html> (30 Januari 2017).

17. Archer H. A manual of oral surgery: A step-by-step atlas of operative technics.

Philadelphia: W.B Saunders Company, 1975: 169-72.

18. Kaweckyj N. Maxillofacial surgery basics for the dental team: part II.

http//:oralb@dentalcare.com. 3 Agustus 2012. (30 Januari 2017)

19. Figueroa R, Mogre A. Pre-prosthetic oral surgery. Germany: Blackwell, 2006:

85-90.

51
20. Hopkins R. Atlas berwarna bedah mulut preprostetik. Alih bahasa: Lilian

Yuwono. Jakarta: EGC, 1989: 9.

21. William Chong. Simple Alveolektomi. Health Grades Inc. All rights reserved.

Last Update: 23 August, 2011 (2:33)

22. Daniel B. S, Steven G. Gollehon, Dale J. Misiek. Alveolektomi. Preprosthetic

and Reconstructive Surgery

23. Gabriela Aditya. Alveolektomi Sebagai Tindakan Bedah Preprostodontik. J

Kedokter Trisakti 1999;18(1) : 27 - 33)

24. Balaji SM. Oral & maxillofacial surgery. India: Elseiver, 2009: 260-63.

25. Pintauli S, Hamada T. Menuju gigi dan mulut sehat pencegahan dan

pemeliharaan. Karies gigi: pengukuran risiko dan evaluasi. Medan: USU Press,

2010: 63.

26. Starshak, T. J. Preprosthetic Oral Surgery. St. Louis: Mosby, 1971: 59-72.

27. Purwanto dan Basoeseno. Buku ajar praktis bedah mulut. Jakarta: EGC; 2013.

120-2.

28. Guernsey, L. H. Preprosthetic Surgery. In: Kruger, G. O., editor. Textbook of

Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. St.Louis: Mosby, 1979: 111.

52