Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

II.1. Keselamatan Kerja

Menurut Mondy (2008) keselamatan kerja adalah perlindungan karyawan dari luka-

luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Resiko keselamatan

merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan

aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan

dan pendengaran.

Keselamatan Kerja adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun

pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dalam

lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan

kerja dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian.

Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila

timbul kecelakaan kerja. Namun patut disayangkan tidak semua perusahaan memahami arti

pentingnya keselamatan kerja dan bagaimana mengimplementasikannya dalam lingkungan

perusahaan.

Keselamatan kerja adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang yang bekerja

dalam lingkungan perusahaan, terlebih yang bergerak di bidang produksi khususnya,

pentingnya memahami arti keselamatan kerja dalam bekerja kesehariannya untuk

kepentingannya sendiri atau memang diminta untuk menjaga hal-hal tersebut untuk

meningkatkan kinerja dan mencegah potensi kerugian bagi perusahaan.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa penting perusahaan berkewajiban

menjalankan prinsip K3 di lingkungan perusahaannya. Patut diketahui pula bahwa ide tentang

K3 sudah ada sejak 20 (dua puluh) tahun lalu, namun sampai kini masih ada pekerja dan

perusahaan yang belum memahami korelasi K3 dengan peningkatan kinerja perusahaan,


bahkan tidak mengetahui aturannya tersebut. Sehingga seringkali mereka melihat peralatan

K3 adalah sesuatu yang mahal dan seakan-akan mengganggu proses berkerjanya seorang

pekerja. Untuk menjawab itu kita harus memahami filosofi pengaturan K3 yang telah

ditetapkan pemerintah dalam undang-undang.

Tujuan Pemerintah membuat aturan K3 dapat dilihat pada Pasal 3 Ayat 1 UU No. 1 Tahun

1970 tentang keselamatan kerja, yaitu:

 mencegah dan mengurangi kecelakaan

 mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran

 mencegah dan mengurangi bahaya peledakan

 memberi kesempatan atau jalan menyelematkan diri pada waktu kebakaran atau

kejadian-kejadian lain yang berbahaya

 memberikan pertolongan pada kecelakaan

 memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerjaan

 mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar-luaskan suhu, kelembaban,

debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan

getaran

 mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun

psikhis, peracunan, infeksi dan penularan

 memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai

 menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik

 menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup

 memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban

 memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses

kerjanya

1
 mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau

batang;

 mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;

 mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan

penyimpanan barang

 mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya

 menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya

kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Dari tujuan pemerintah tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa dibuatnya aturan

penyelenggaraan K3 pada hakikatnya adalah pembuatan syarat-syarat keselamatan kerja

sehingga potensi bahaya kecelakaan kerja tersebut dapat dieliminir.

II. 2. Dasar Hukum Peraturan K3

Berbicara penerapan K3 dalam perusahaan tidak terlepas dengan landasan hukum

penerapan K3 itu sendiri. Landasan hukum yang dimaksud memberikan pijakan yang jelas

mengenai aturan apa dan bagaimana K3 itu harus diterapkan. Adapun sumber hukum

penerapan K3 adalah sebagai berikut:

1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

2. UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

3. PP No. 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga

Kerja.

4. Keppres No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja.

5. Permenaker No. Per-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran

Kepesertaan, pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan

Sosial Tenaga Kerja.

2
Semua produk perundang-undangan pada dasarnya mengatur tentang kewajiban

dan hak Tenaga Kerja terhadap Keselamatan Kerja untuk:

 Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli

keselamatan kerja;

 Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan;

 Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang

diwajibkan;

 Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan

kerja yang diwajibkan;

Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan kerja serta

alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus

ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat

dipertanggungjawabkan.

II.3. FaktorPenyebab Kecelakaan Kerja

1. Penyebab Langsung (Immediate Causes)

Penyebab langsung Kecelakaan Adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat

dan di rasakan langsung, yang di bagi 2 kelompok:

A. Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu Perbuatan berbahaya dari dari

manusia yang dalam bbrp hal dapat dilatar belakangi antara lain:

 Mengoperasikan alat/peralatan tanpa wewenang.


 Gagal untuk memberi peringatan.
 Gagal untuk mengamankan
 Bekerja dengan kecepatan yang salah
 Menyebabkan alat-alat keselamatan tidak berfungsi

3
 Memindahkan alat-alat keselamatan
 Menggunakan alat yang rusak
 Menggunakan alat dengan cara yang salah
 Kegagalan memakai alat pelindung/keselamatan diri secara benar
B. Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) yaitu keadaan yang akan

menyebababkan kecelakaan, terdiri dari:

 Peralatan pengaman/pelindung/rintangan yang tidak memadai atau


tidak memenuhi syarat
 Bahan, alat-alat/peralatan rusak
 Terlalu sesak/sempit
 Sistem-sistem tanda peringatan yang kurang mamadai
 Bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan
 Kerapihan/tata-letak (housekeeping) yang buruk
 Lingkungan berbahaya/beracun : gas, debu, asap, uap, dll
 Bising
 Paparan radiasi
 Ventilasi dan penerangan yang kurang

2. Penyebab Dasar (Basic causes).

Penyebab Dasar (Basic Causes), terdiri dari 2 faktor yaitu

A. Faktor manusia/personal (personal factor)

 Kurang kemampuan fisik, mental dan psikologi

 Kurangnya /lemahnya pengetahuan dan skill.

 Stres.

 Motivasi yang tidak cukup/salah

B. Faktor kerja/lingkungan kerja (job work enviroment factor)

 Faktor fisik yaitu, kebisingan, radiasi, penerangan, iklim dll.

 Faktor kimia yaitu debu, uap logam, asap, gas dst

 Faktor biologi yaitu bakteri,virus, parasit, serangga.

4
 Ergonomi dan psikososial.

Menurut Henrich faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor tindakan-

tindakan tidak aman (unsafe acts) 80 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafecondition)

20%. Faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor tindakan-tindakan tidak aman

(unsafe acts) 85 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) 15 %. Faktor utama yang

menyebabkan kecelakaan adalah:

 Lingkungan kerja

 Metode kerja

 Pekerja sendiri

Namun pada akhirnya semua kecelakaan baik langsung maupun tidak langsung, di

akibatkann kesalahan manusia. Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap

proses/ aktifitas pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun

kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini

mungkin, kecelakaan/ potensi kecelakaan kerja harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-

tidaknya dikurangi dampaknya.

Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan

secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan

sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Salah satu bentuk keseriusan itu adalah

resourcing, baik itu finansial dan MSDM.

Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut:

1. Kelelahan (fatigue)

2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe

working condition)

5
3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya

(pre-cause) adalah kurangnya training

4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.

Hubungan antara karakter pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan

yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work),

pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan

yang harus diawali dengan “pemanasan prosedural”, beban kerja (workload), dan lamanya

sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang

dimaksud. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam

sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain).

II. 4. Alat Pelindung Diri

Adalah perlengkapan wajib yang di gunakan saat bekerja sesuai bahaya danresiko

kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekitarnya

Adapun bentuk peralatan dari alat pelindung diri:

1. Safety helmet

Berfungsi sebagai pelndung kepala dari benda-benda yang dapat melukai kepala

2. Safety belt

Berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi

3. Ear plug/Ear muff

Berfungsi sebagai penutup telinga ketika bekerja di tempat bising

4. Kacamata Pengaman

Berfungsi sebagai pengaman mata ketika bekerja dari percikan

5. Pelindung wajah

Berfungsi sebagai pelindung wajah ketika bekerja

6
6. Masker

Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihisap di tempat yang kualitas udaranya

kurang bagus

7
8