Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN ``

UNSTABLE ANGINA PECTORIS

A. Pengertian

Angina pektoris adalah rasa tidak enak di dada sebagai akibat dari suatu iskemik

miokard tanpa adanya infark. Klasifikasi klinis angina pada dasarnya berguna untuk

mengevaluasi mekanisme terjadinya iskemik.

Unstable Angina Pectoris (UAP) didefinisikan sebagai perasaan tidak enak di dada

(chest discomfort) akibat iskemia miokard yang datangnya tidak tentu, dapat terjadi pada

waktu sedang melakukan kegiatan fisik atau dalam keadaan istirahat. Perasaan tidak enak

ini dapat berupa nyeri, rasa terbakar atau rasa tertekan.Kadang-kadang tidak dirasakan di

dada melainkan di leher, rahang bawah, bahu, atau ulu hati (Kabo dan Karim, 2008).

Walaupun patogenesa angina mengalami perubahan dari tahun ke tahun, akan

tetapi pada umumnya dapat dibedakan 3 tipe angina yaitu :

1. Classical effort angina (angina klasik)

Pada nekropsi biasanya didapatkan aterosklerosis koroner. Pada keadaan ini,

obstruksi koroner tidak selalu menyebabkan terjadinya iskemik seperti waktu

istirahat. Akan tetapi bila kebutuhan aliran darah melebihi jumlah yang dapat

melewati obstruksi tersebut, akan tetapi iskemik dan timbul gejala angina. Angina

pektoris akan timbul pada setiap aktifitas yang dapat meningkatkan denyut

jantung, tekanan darah dan atatus inotropik jantung sehingga kebutuhan O2 akan

bertambah seperti pada aktifitas fisik, udara dingin dan makan yang banyak.

2. Variant angina (angina Prinzmetal)

Bentuk ini jarang terjadi dan biasanya timbul pada saat istirahat, akibat

1
penurunan suplai O2 darah ke miokard secara tiba-tiba. Penelitian terbaru

menunjukkan terjadinya obsruksi yang dinamis akibat spasme koroner baik pada

arteri yang sakit maupun yang normal. Peningkatan obstruksi koroner yang tidak

menetap ini selama terjadinya angina waktu istirahat jelas disertai penurunan

aliran darah arteri koroner.

3. Unstable angina (angina tak stabil / ATS)

Istilah lain yang sering digunakan adalah Angina preinfark, Angina dekubitus,

Angina kresendo. Insufisiensi koroner akut atau Sindroma koroner pertengahan.

Bentuk ini merupakan kelompok suatu keadaan yang dapat berubah seperti

keluhan yang bertambah progresif, sebelumnya dengan angina stabil atau angina

pada pertama kali. Angina dapat terjadi pada saat istirahat maupun bekerja. Pada

2
patologi biasanya ditemukan daerah iskemik miokard yang mempunyai ciri

tersendiri. Angina pektoris tak stabil adalah suatu spektrum dari sindroma

iskemik miokard akut yang berada di antara angina pektoris stabil dan anfark

miokard akut.

Terminologi ATS harus tercakup dalam kriteria penampilan klinis sebagai

berikut:

1. Angina pertama kali

Angina timbul pada saat aktifitas fisik. Baru pertama kali dialami oleh

penderita dalam periode 1 bulan terakhir.

2. Angina progresif

Angina timbul saat aktifitas fisik yang berubah polanya dalam 1 bulan

terakhir, yaitu menjadi lebih sering, lebih berat, lebih lama, timbul dengan

pencetus yang lebih ringan dari biasanya dan tidak hilang dengan cara yang

biasa dilakukan. Penderita sebelumnya menderita angina pektoris stabil

3. Angina waktu istirahat

Angina timbul tanpa didahului aktifitas fisik ataupun hal-hal yang dapat

menimbulkan peningkatan kebutuhan O2 miokard. Lama angina sedikitnya 15

menit.

4. Angina sesudah IMA

Angina yang timbul dalam periode dini (1 bulan) setelah IMA. Kriteria

penampilan klinis tersebut dapat terjadi sendiri-sendiri atau bersama- bersama

tanpa adanya gejala IMA. Nekrosis miokard yang terjadi pada IMA harus

disingkirkan misalnya dengan pemeriksaan enzim serial dan pencatatan EKG.

3
B. Penyebab

Penyebab angina pektoris antara lain adalah aterosklerosis, spasme pembuluh

koroner, latihan fisik, pajanan terhadap dingin, makan makanan berat dan stres.

1. Angina Stabil disebabkan oleh iskemia miokardium

2. Angina tidak stabil disebabkan oleh ruptur plak, trombosis dan agregat

trombosis, vasospasme dan erosi pada plak tanpa ruptur.

4
C. Pengenalan Klinis

1. Gejala

Didapatkan rasa tidak enak di dada yang tidak selalu sebagai rasa sakit, tetapi

dapat pula sebagai rasa penuh di dada, tertekan, nyeri, tercekik atau rasa terbakar.

Rasa tersebut dapat terjadi pada leher, tenggorokan, daerah antara tulang skapula,

daerah rahang ataupun lengan. Sewaktu angina terjadi, penderita dapat sesak

napas atau rasa lemah yang menghilang setelah angina hilang. Dapat pula terjadi

palpitasi, berkeringat dingin, pusing ataupun hampir pingsan.

2. Pemeriksaan fisik

Sewaktu angina dapat tidak menunjukkan kelainan. Pada auskultasi dapat

terdengar derap atrial atau ventrikel dan murmur sistolik di daerah apeks.

Frekuensi denyut jantung dapat menurun, menetap atau meningkat pada waktu

serangan angina.

3. EKG

EKG perlu dilakukan pada waktu serangan angina, bila EKG istirahat normal,

stress test harus dilakukan dengan treadmill ataupun sepeda ergometer. Tujuan

dari stress test adalah :

a. Menilai sakit dada apakah berasal dari jantung atau tidak.

b. Menilai beratnya penyakit seperti bila kelainan terjadi pada pembuluh darah

utama akan memberi hasil positif kuat.

Gambaran EKG penderita ATS dapat berupa depresi segmen ST, depresi

segmen ST disertai inversi gelombang T, elevasi segmen ST, hambatan cabang

ikatan His dan tanpa perubahan segmen ST dan gelombang T. Perubahan EKG

pada ATS bersifat sementara dan masing-masing dapat terjadi sendiri-sendiri

5
ataupun sersamaan. Perubahan tersebut timbul di saat serangan angina dan

kembali ke gambaran normal atau awal setelah keluhan angina hilang dalam

waktu 24 jam. Bila perubahan tersebut menetap setelah 24 jam atau terjadi

evolusi gelombang Q, maka disebut sebagai IMA.

4. Enzim LDH, CPK dan CK-MB

Pada ATS kadar enzim LDH dan CPK dapat normal atau meningkat tetapi

tidak melebihi nilai 50% di atas normal. CK-MB merupakan enzim yang paling

sensitif untuk nekrosis otot miokard, tetapi dapat terjadi positif palsu. Hal ini

6
menunjukkan pentingnya pemeriksaan kadar enzim secara serial untuk

menyingkirkan adanya IMA.

D. Patofisologi

Gejala angina pektoris pada dasarnya timbul karena iskemik akut yang tidak

menetap akibat ketidak seimbangan antara kebutuhan dan suplai O2 miokard.

Beberapa keadaan yang dapat merupakan penyebab baik tersendiri ataupun bersama-

sama yaitu :

1. Faktor di luar jantung

Pada penderita stenosis arteri koroner berat dengan cadangan aliran koroner

yang terbatas maka hipertensi sistemik, takiaritmia, tirotoksikosis dan pemakaian

obat-obatan simpatomimetik dapat meningkatkan kebutuhan O2 miokard

sehingga mengganggu keseimbangan antara kebutuhan dan suplai O2. Penyakit

paru menahun dan penyakit sistemik seperti anemi dapat menyebabkan tahikardi

dan menurunnya suplai O2 ke miokard.

2. Sklerotik arteri koroner

Sebagian besar penderita ATS mempunyai gangguan cadangan aliran koroner

yang menetap yang disebabkan oleh plak sklerotik yang lama dengan atau tanpa

disertai trombosis baru yang dapat memperberat penyempitan pembuluh darah

koroner. Sedangkan sebagian lagi disertai dengan gangguan cadangan aliran

darah koroner ringan atau normal yang disebabkan oleh gangguan aliran koroner

sementara akibat sumbatan maupun spasme pembuluh darah.

3. Agregasi trombosit

Stenosis arteri koroner akan menimbulkan turbulensi dan stasis aliran darah

7
sehingga menyebabkan peningkatan agregasi trombosit yang akhirnya

membentuk trombus dan keadaan ini akan mempermudah terjadinya

vasokonstriksi pembuluh darah.

4. Trombosis arteri koroner

Trombus akan mudah terbentuk pada pembuluh darah yang sklerotik sehingga

penyempitan bertambah dan kadang-kadang terlepas menjadi mikroemboli dan

menyumbat pembuluh darah yang lebih distal. Trombosis akut ini diduga

berperan dalam terjadinya ATS.

8
5. Pendarahan plak ateroma

Robeknya plak ateroma ke dalam lumen pembuluh darah kemungkinan

mendahului dan menyebabkan terbentuknya trombus yang menyebabkan

penyempitan arteri koroner.

6. Spasme arteri koroner

Peningkatan kebutuhan O miokard dan berkurangnya aliran koroner karena


2

spasme pembuluh darah disebutkan sebagai penyeban ATS. Spame dapat terjadi

pada arteri koroner normal atupun pada stenosis pembuluh darah koroner. Spasme

yang berulang dapat menyebabkan kerusakan artikel, pendarahan plak ateroma,

agregasi trombosit dan trombus pembuluh darah.

Beberapa faktor risiko yang ada hubungannya dengan proses aterosklerosis antara

lain adalah :

1. Faktor risiko yang tidak dapat diubah : Umur, jenis kelamin dan riwayat penyakit

dalam keluarga.

2. Faktor risiko yang dapat diubah : Merokok, hiperlipidemi, hipertensi, obesitas

dan DM.

E. Pemeriksaan Penunjang

Setiap penderita dengan gejala yang mengarah pada angina harus dilakukan EKG

12 lead. Namun hasil EKG akan normal pada 50 % dari penderita dengan angina

pectoris. Depresi atau elevasi segmen ST menguatkan kemungkinan adanya angina

dan menunjukkan suatu ischemia pada beban kerja yang rendah.

Foto thoraks pada penderita angina pectoris biasanya normal. Foto thoraks lebih

sering menunjukkan kelainan pada penderita dengan riwayat infark miokard atau

penderita dengan nyeri dada yang bukan berasal dari jantung. Manfaat pemeriksaan

9
foto thorak secara rutin pada penderita angina masih dipertanyakan.

Uji latih beban dengan monitor EKG merupakan prosedur yang sudah baku. Dari

segi biaya, tes ini merupakan termurah bila dibandingkan dengan tes echo. Untuk

mendapatkan informasi yang optimal, protocol harus disesuaikan untuk masing-

masing penderita agar dapat mencapai setidaknya 6 menit. Selama EKG, frekwensi,

tekanan darah harus dimonitor dengan baik dan direkam pada tiap tingkatan dan juga

pada saat abnormallitas segmen ST. metode yang dipakai pada uji beban yaitu

dengan menggunakan treadmill dan sepeda statis. Interpretasi EKG uji latih beban

10
yang paling penting adalah adanya depresi dan elevasi segmen ST lebih dari 1 mm.

Biasanya uji latih beban dihentikan bila mencapai 85% dari denyut jantung maksimal

berdasarkan umur, namun perlu diperhatikan adanya variabilitas yang besar dari

denyut jantung maksimal pada tiap individu. Indikasi absolute untuk menghentikan

uji beban adalah penurunan tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg dari tekanan

darah awal meskipun beban latihan naik jika diikuti tanda ischemia yang lain : angina

sedang sampai berat, ataxia yang meningkat, kesadaran menurun, tanda-tanda

penurunan perfusi seperti sianosis.

Pada penderita yang tidak bisa di diagnosa dengan uji latih beban berdasarkan

EKG, maka dilakukan uji latih beban dengan pencitraan. Isotop yang biasa digunakan

adalah thalium-210.

Tes uji latih ekokardiografi dianalisa berdasarkan penilaian penebalan miokard

pada saat uji latih dibandingkan dengan saat istirahat. Gambaran ekokardiografi yang

mendukung adanya ischemia miokard adalah : penurunan gerakan dinding pada 1

atau lebih segmen ventrikel kiri, berkurangnya ketebalan dinding saat sistol atau lebih

segmen pada saat uji latih beban, hiperkinesia kompensasi pada segmen dinding yang

berkaitan atau yang tidak ischemia.

Tindakan untuk angiografi koroner diagnostic secara langsung pada penderita

dengan nyeri dada yang diduga karena ischemia miokard, dapat dilakukan jika ada

kontra indikasi untuk test non invasive.

Pemeriksaan laboratorium antara lain Troponin I dan T, pemeriksaan CK-MB,

kadar kolesterol, HDL, LDL dan Trigliserin serta pemeriksaan Gula Darah.

F. Penatalksanaan

Pada dasarnya bertujuan untuk memperpanjang hidup dan memperbaiki kualitas

hidup dengan mencegah serangan angina baik secara medikal atau pembedahan.

11
1. Pengobatan medikal

Bertujuan untuk mencegah dan menghilangkan serangan angina. Ada 3 jenis

obat yaitu :

a. Golongan nitrat

Nitrogliserin merupakan obat pilihan utama pada serangan angina akut.

Mekanisme kerjanya sebagai dilatasi vena perifer dan pembuluh darah

koroner. Efeknya langsung terhadap relaksasi otot polos vaskuler.

Nitrogliserin juga dapat meningkatkan toleransi exercise padapenderita

12
angina sebelum terjadi hipoktesia miokard. Bila di berikan sebelum exercise

dapat mencegah serangan angina.

b. Ca- Antagonis

Dipakai pada pengobatan jangka panjang untuk mengurangi frekwensi

serangan pada beberapa bentuk angina.

Cara kerjanya :

1) Memperbaiki spasme koroner dengan menghambat tonus vasometer

pembuluh darah arteri koroner (terutama pada angina Prinzmetal).

2) Dilatasi arteri koroner sehingga meningkatkan suplai darah ke miokard

3) Dilatasi arteri perifer sehingga mengurangi resistensi perifer dan

menurunkan afterload.

4) Efek langsung terhadap jantung yaitu dengan mengurangi denyut, jantung

dan kontraktilitis sehingga mengurangi kebutuhan O2.

c. Beta Bloker

Cara kerjanya menghambat sistem adrenergenik terhadap miokard yang

menyebabkan kronotropik dan inotropik positif, sehingga denyut jantung dan

curah jantung dikurangi. Karena efeknya yang kadiorotektif, obat ini sering

digunakan sebagai pilihan pertama untuk mencegah serangan angina pektoris

pada sebagian besar penderita.

2. Pembedahan

Prinsipnya bertujuan untuk :

a. Memberi darah yang lebih banyak kepada otot jantung

b. Memperbaiki obstruksi arteri koroner.

13
Ada 4 dasar jenis pembedahan :

a. Ventricular aneurysmectomy : Rekonstruksi terhadap kerusakan ventrikel kiri

b. Coronary arteriotomy : Memperbaiki langsung terhadap obstruksi arteri

koroner

c. Internal thoracic mammary : Revaskularisasi terhadap miokard.

d. Coronary artery baypass grafting (CABG) : Hasilnya cukup memuaskan dan

aman yaitu 80%-90% dapat menyembuhkan angina dan mortabilitas hanya 1

% pada kasus tanpa kompilasi.

Metode terbaru lain di samping pembedahan adalah :

14
a. Percutanecus transluminal coronary angioplasty (PCTA)

b. Percutaneous ratational coronary angioplasty (PCRA)

c. Laser angioplasty

3. Perawatan

Pada kasus Angina Pektoris Tidak Stabil Ada berbagai cara lain yang

diperlukan untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung antara lain : pasien

harus berhenti merokok, karena merokok mengakibatkan takikardia dan naiknya

tekanan darah, sehingga memaksa jantung bekerja keras. Orang obesitas

dianjurkan menurunkan berat badan untuk mengurangi kerja jantung. Mengurangi

stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang dapat menimbulkan vasokontriksi

pembuluh darah. Pengontrolan gula darah. Penggunaan kontra sepsi dan

kepribadian seperti sangat kompetitif, agresif atau ambisius.

15
Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokardium.

2. Penurunan curah jantung berhubungan dgn perubahan inotropik

(iskemia miokard transien/memanjang)

3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan serangan iskemia otot

jantung, berkurangnya curah jantung.

4. Ansietas berhubungan dengan respon patofisiologis dan ancaman

terhadap status kesehatan.

5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi,

kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Intervensi

a. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokardium.

Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri pasien

berkurang/teratasi

Kriteria hasil : Pasien menyatakan/menunjukan nyeri hilang, pasien

melaporkan episode angina menurun dalam frekuensi durasi dan beratnya.

Intervensi :

1) Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi

nyeri dada.

R/ Nyeri dan penurunan curah jantung dapat merangsang sistem saraf

simpatis untuk mengeluarkan sejumlah besar norepineprin, yang

meningkatkan agregasi trombosit dan mengeluarkan trombokxane

16
A2.Nyeri tidak bisa ditahan menyebabkan respon vasovagal, menurunkan

TD dan frekuensi jantung.

2) Identifikasi terjadinya faktor pencetus, bila ada: frekuensi, durasi,

intensitas danlokasi nyeri.

R/ Membantu membedakan nyeri dada dini dan alat evaluasi

kemungkinan kemajuan menjadi angina tidak stabil (angina stabil

biasanya berakhir 3 sampai 5 menit sementara angina tidak stabil lebih

lama dan dapat berakhir lebih dari 45 menit.

3) Evaluasi laporan nyeri pada rahang, leher, bahu, tangan atau lengan

(khusunya pada sisi kiri).

R/ Nyeri jantung dapat menyebar contoh nyeri sering lebih ke permukaan

dipersarafi oleh tingkat saraf spinal yang sama.

4) Letakkan pasien pada istirahat totalselama episode angina.

R/ Menurunkan kebutuhan oksigen miokard untuk meminimalkan resiko

cidera jaringan atau nekrosis.

5) Tinggikan kepala tempat tidur bila pasien napas pendek

R/ Memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia dan napas

pendek berulang.

6) Pantau kecepatan atau irama jantung

R/ Pasien angina tidak stabil mengalami peningkatan disritmia yang

mengancam hidup secara akut, yang terjadi pada respon terhadap iskemia

dan atau stress.

7) Pantau tanda vital tiap 5 menit selama serangan angina

R/ TD dapat meningkat secara dini sehubungan dengan rangsangan

17
simpatis, kemudian turun bila curah jantung dipengaruhi.

8) Pertahankan tenang, lingkungan nyaman, batasi pengunjung bila perlu

R/ Stres mental atau emosi meningkatkan kerja miokard

9) Berikan makanan lembut. Biarkan pasien istirahat selama 1 jam setelah

makan

R/ Menurunkan kerja miokard sehubungan dengan kerja pencernaan,

manurunkan risiko serangan angina

18
10) Kolaborasi: Berikan antiangina sesuai indikasi: nitrogliserin: sublingual

R/ Nitrigliserin mempunyai standar untuk pengobatan dan mencegah nyeri

angina selama lebih dari 100 tahun

b. Penurunan curah jantung berhubungan dgn perubahan inotropik (iskemia

miokard transien/memanjang)

Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan terjadi

peningkatan curah jantung.

Kriteria hasil: Pasien melaporkan penurunan episode dipsnea, angina dan

disritmia menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas, klien berpartisipasi

pada perilaku atau aktivitas yang menurunkan kerja jantung.

Intervensi :

1) Pantau tanda vital, contoh frekuensi jantung, tekanan darah.

R/ Takikardi dapat terjadi karena nyeri, cemas, hipoksemia, dan

menurunnya curah jantung. Perubahan juga terjadi pada TD (hipertensi

atau hipotensi)

karena respon jantung

2) Evaluasi status mental, catat terjadinya bingung, disorientasi.

R/ Menurunkan perfusi otak dapat menghasilkan perubahan sensorium.

3) Catat warna kulit dan adanya kualitas nadi

R/ Sirkulasi perifer menurun bila curah jantung turun, membuat kulit

pucat dan warna abu-abu (tergantung tingkat hipoksia) dan menurunya

kekuatan nadi perifer

4) Mempertahankan tirah baring pada posisi nyaman selama episode akut

19
R/ Menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan menurunkan kerja

miokard dan risiko dekompensasi

5) Berikan periode istirahat adekuat. Bantu dalam atau melakukan aktivitas

perawatan diri, sesuai indikasi

R/ Penghematan energy, menurunkan kerja jantung.

6) Pantau dan catat efek atau kerugian respon obat, catat TD, frekuaensi

jantung dan irama (khususnya bila memberikan kombinasi antagonis

kalsium, betabloker, dan nitras)

R/ Efek yang diinginkan untuk menurunkan kebutuhan oksigen miokard

dengan menurunkan stress ventricular. Obat dengan kandungan inotropik

20
negative dapat menurunkan perfusi terhadap iskemik miokardium.

Kombinasi nitras dan penyekat beta dapat memberi efek terkumpul pada

curah jantung.

7) Kaji tanda-tanda dan gejala-gejala GJK

R/ Angina hanya gejala patologis yang disebabkan oleh iskemia

miokard.penyakit yang emepengaruhi fungsi jantung emnjadi

dekompensasi.

8) Kolaborasi : Berikan obat sesuai indikasi : penyekat saluran kalsium,

contoh ditiazem (cardizem); nifedipin (procardia); verapamil(calan).

R/ Meskipun berbeda pada bentuk kerjanya, penyekat saluran kalsium

berperan penting dalam mencegah dan menghilangkan iskemia pencetus

spasme arteri koroner dan menurunkan tahanan vaskuler, sehingga

menurunkan TD dan kerja jantung.

c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan serangan iskemia otot jantung,

berkurangnya curah jantung.

Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat

berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan.

Kriteria hasil : Pasien melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang

dapat diukur, pasien menunjukan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi

fisiologis.

Intervensi :

1) Kaji respons klien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari

20 kali per menit di atas frekuensi istirahat; peningkatan TD yang nyata

selama/sesudah aktivitas; dispnea atau nyeri dada; keletihan dan

kelemahan yang berlebihan; diaphoresis; pusing atau pingsan.


21
R/ Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi

terhadap stress aktivitas dan, bila ada merupakan indikator dari kelebihan

kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.

2) Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi.

R/ Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energy, juga

membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

3) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika

dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.

R/ Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba- tiba.

Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian

dalam melakukan aktivitas.

22
G. Pathway

Penimbunan Lipid & Jar Fibrosa

Atherosklerosis

Penyempitan Lumen Pemb. darah

Iskemik Miokard

Kontraksi jtg ↓
Beban kerja jtg ↑
Suplai O2 ke miokard trganggu

Suplai O2 ke jaringan ↓
Vol. Residu ventrikel ↑
Hipoksia otot jtg

Metabolisme ↓
Tek Hydrostatik kapiler paru ↑
Metabolisme anaerob

Energi yg dihasilkan sedikit


Perembesan cairan ke paru ↑
Penimbunan as. laktat

ATP ↓ Odema paru


Pelepasan mediator kimia

Kelemahan Fungsi pernapasan ↓


Merangsang nosiseptor

- Hambatan mobilitas fisik


- Intoleransi aktivitas Dyspnea
Proses Transmisi, transduksi,
modulasi

REM Menurun
Aktivitas kerja organ tubuh

Klien terjaga Persepsi nyeri hypothalamus Merangsang SSO

Krisis Situasi S.Simpatis terangsang Aktivitas Norepineprin

Ansietas/Cemas Aktivitas RAS Pola napas tidak efektif/


Gggn Pertukaran Gas

Gggn pemenuhan istirahat/tidur


Nyeri dada
Ancaman Perubahan Kesehatan

23
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M.E.,dkk., Rencana asuhan keperawatan Edisi 3, 2000, EGC,

Jakarta Herdman T.H, dkk,. Nanda Internasional Edisi Bahasa Indonesia,

Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi, 2012-2014, EGC,Jakarta

Long C,.Barbara, Perawatan Medical Bedah, Jilid 2, Yayasan Ikatan

Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, 1996 Price, S.A.,dkk,.

Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Volume 2,

2006, EGC, Jakarta

Nurjannah. I., Intan’s Sreening Diagnoses Assesment, Versi Indonesia,

2012, Mocomedia, Yogyakarta

Nurjannah. I., Fast Methods of Formulating, English version, 2012,

Mocomedia, Yogyakarta

Nurjannah I., Proses Keperawatan Nanda, Noc & Nic, 2012, Mocomedia,

Yogyakarta Smelltzer C, dkk,. Buku ajar keperawatan medikal bedah, Jakarta,

EGC, 2002 Wilkinson J .M,. Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC

dan Kriteria Hasil NOC Edisi Bahasa Indonesia, 2006, EGC, Jakarta

33