Anda di halaman 1dari 17

LIFE SUPPORT

NEBULIZER
Dosen : Ansor Ibrahim Usman, ST., M.T.

Disusun Oleh :
1. Adam Rahmanu (P2.31.38.1.15.002)
2. Rahmah Nida Murbah (P2.31.38.1.15.026)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II


JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan pesat pada teknologi terapi inhalasi telah memberikan manfaat yang
besar bagi pasien yang menderita penyakit saluran pernapasan, tidak hanya pasien yang
menderita penyakit asma tetapi juga pasien bronkitis kronis, PPOK (Penyakit Paru
Obstruktif Kronik), bronkiektasis, dan sistik fibrosis. Keuntungan utama pada terapi
inhalasi bahwa obat dihantarkan langsung ke dalam saluran pernapasan langsung masuk
ke paru-paru, kemudian menghasilkan konsentrasi lokal yang lebih tinggi dengan risiko
yang jauh lebih rendah terhadap efek samping sistemik yang ditimbulkan (GINA, 2008).
Bioavailabilitas obat meningkat pada terapi inhalasi karenaobat tidak melalui
metabolisme lintas pertama (first-pass metabolism) (Ikawati, 2007). Inhaler dirancang
untuk meningkatkan kemudahan dalam cara penggunaannya, namun tingkat penggunaan
yang salah masih terdapat pada pasien asma atau PPOK meskipun mereka sudah pernah
mendapatkan pelatihan (NACA, 2008). Hal ini juga ditunjukkan bahwa sejumlah besar
layanan kesehatan tidak mampu menunjukkan teknik inhaler yang tepat (Interiano, 1993).
Inhaler dan nebulizer merupakan jenis sediaan farmasi dengan cara penggunaan yang
khusus, keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh ketepatan cara penggunaannya.
Pasien yang menggunakan nebulizer harus dilatih secara hati-hati mengenai cara
penggunaannya, karena mereka mungkin akan tergantung alat tersebut. Percobaan terapi
dengan nebulizer perlu dilakukan 3-4 minggu untuk menilai manfaat yang didapatkan
secara signifikan dan untuk dinyatakan bermanfaat, terapi ini normalnya harus dapat
memberikan perbaikan sedikitnya 15% dari nilai sebelum terapi (Cates et al., 2002).
Nebulizer dapat digunakan pada semua usia, dan untuk beberapa tingkat keparahan
penyakit tertentu (Geller, 2005). Keuntungan dari nebulizer adalah kurang diperlukannya
koordinasi pasien terhadap alat ini dibandingkan dengan metered dose inhaler (MDI).
Terapi inhalasi merupakan satu teknik pengobatan penting dalam proses
pengobatan penyakit respiratori (saluran pernafasan) akut dan kronik. Penumpukan
mukus di dalam saluran napas, peradangan dan pengecilan saluran napas ketika serangan
asma dapat dikurangi secara cepat dengan obat dan teknik penggunaan inhaler yang
sesuai.
Obat yang diberikan dengan cara ini absorpsinya terjadi secara cepat karena
permukaan absorpsinya luas, terhindar dari eliminasi lintas pertama di hati, dan pada
penyakit paru-paru misalnya asma bronkial, obat dapat diberikan langsung pada bronkus.
Tidak seperti penggunaan obat secara oral (tablet dan sirup) yang terpaksa melalui sistem
penghadangan oleh berbagai sistem tubuh, seperti eleminasi di hati. Terapi inhalasi dapat
menghantarkan obat langsung ke paru-paru untuk segera bekerja. Dengan demikian, efek
samping dapat dikurangi dan jumlah obat yang perlu diberikan lebih sedikit dibanding
cara pemberian lainnya. Tapi cara pemberian obat ini diperlukan alat dan metoda khusus
yang agak sulit dikerjakan, sukar mengatur dosis, dan obatnya sering mengiritasi epitel
paru.

1.2. Tujuan Penulisan


1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui dan mengenal alat Nebulizer serta model
terbarunya.

1.2.2. Tujuan Khusus


a. Mahasiswa mengetahui definisi Nebulizer.
b. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis Nebulizer.
c. Mahasiswa mengetahui indikasi klien yang mendapat Nebulizer.

1.3. Metode Penulisan


Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu
dengan penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari
literatur yang ada, baik di perpustakaan maupun di internet.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1. Konsep Dasar Teori


2.7.1. Pengertian
a. Pernapasan
Pernapasan atau respirasi adalah pertukaran gas antara mahkluk
hidup (organisme) dengan ligkungannya. Secara umum, pernapasan dapat
diartikan sebagai proses menghirup oksigen dari udara serta mengeluarkan
karbon dioksida dan uap air. Dalam proses pernapasan, oksigen merupakan
zat kebutuhan utama. Oksigen untuk pernapasan diperoleh dari udara di
lingkungan sekitar.

b. Terapi Inhalasi
Terapi inhalasi adalah cara pengobatan dengan cara memberi obat
untuk dihirup agar dapat langsung masuk menuju paru-paru sebagai organ
sasaran obatnya. Pemberian per inhalasi adalah pemberian obat secara
langsung ke dalam saluran napas melalui hirupan.
Terapi inhalasi adalah sistem pemberian obat dengan cara
menghirup obat dengan bantuan alat tertentu, misalnya nebulizer. Nebulizer
adalah suatu jenis cara inhalasi dengan menggunakan alat pemecah obat
untuk menjadi bagian-bagian seperti hujan/uap untuk dihisap. Biasanya
untuk pengobatan saluran pernafasan bagian lebih bawah
Terapi inhalasi uap adalah cara pengobatan dengan alat nebulizer
dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol terus
menerus, dengan tenaga yang berasal dari udar yang dipadatkan, atau
gelombang ultrasonik. aerosol yang berbentuk dihirup penderita melalui
mouth piece atausungkup Bronkodilator yang diberikan dengan nebulizer .
memberikan efek bronkodilatasi (pelebaran bronkus) yang bermakna tanpa
menimbulkan efek samping. Hasil pengobatan dengan nebulizer lebih
banyak bergantung pada jenis nebulizer yang digunakan. Ada nebulizer
yang menghasilkan partikel aerosol terus-menerus, ada juga yang dapat
diatur sehingga aerosol hanya timbul pada saat penderita melakukan
inhalasi, sehingga obat tidak banyak terbuang.
Cara ini digunakan dengan memakai disposible nebulizer mouth
piece dan pemompaan udara (pressurizer) atau oksigen. Larutan nebulizer
diletakan di dalam nebulizer chamber. Cara ini memerlukan latihan khusus
dan banyak digunakan di rumah sakit. Keuntungan dengan cara ini adalah
dapat digunakan dengan larutan yang lebih tinggi konsentrasinya dari MDI.
Kerugiannya adalah hanya 50 – 70% saja yang berubah menjadi aerosol,
dan sisanya terperangkap di dalam nebulizer itu sendiri. Jumlah cairan yang
terdapat di dalam hand held nebulizer adalah 4 cc dengan kecepatan gas 6 –
8 liter/menit. Biasanya dalam penggunaannya digabung dalam mukolitik
(asetilsistein) atau natrium bikarbonat. Untuk pengenceran biasanya
digunakan larutan NaCl.

c. Nebulizer
Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat yang berbentuk
larutan menjadi aerosol secara terus menerus dengan tenaga yang berasal
dari udara yang dipadatkan atau gelombang. Sejak ditemukannya nebulizer
pada tahun 1859 di Perancis, nebulizer merupakan pilihan terbaik pada
kasus kasus yang berhubungan dengan masalah inflamasi atau obstruksi
bronkus pada penderita asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis).
Alat nebulizer dapat mengubah obat berbentuk larutan menjadi
aerosol secara terus-menerus, dengan tenaga yang berasal dari udara yang
dipadatkan atau gelombang ultrasonik. Aerosol merupakan suspensi
berbentuk padat atau cair dalam bentuk gas dengan tujuan untuk
menghantarkan obat ke target organ dengan efek samping minimal dan
dengan keamanan dan efektifitas yang tinggi. Partikel aerosol yang
dihasilkan nebulizer berukuran antara 2-5 μ, sehingga dapat langsung
dihirup penderita dengan menggunakan mouthpiece atau masker. Berbeda
dengan alat MDI (Metered Dose Inhaler) dan DPI (Dry Powder Inhaler)
dimana alat dan obat merupakan satu kesatuan. Ada dua jenis nebulizer
yang umumnya sering digunakan:
1) Nebulizer jet : menggunakan jet gas terkompresi (udara atau oksigen)
untuk memecah larutan obat menjadi aerosol.
2) Nebulizer ultrasonik : menggunakan vibrasi ultrasonik yang dipicu
secara elektronik untuk memecah larutan obat menjadi aerosol.
(a) (b)
Gambar 1. Jenis-jenis nebulizer (a) Nebulizer jet (b) Nebulizer ultrasonik

Keterangan gambar (a) :


1. Mouthpiece 5. Jet Air Nebulizer
2. Tombol (On/Off) (Nebulizer medication cup)
3. Konektor tabung 6. Aliran udara
udara (air tube 7. Kabel
connector) 8. Klip nebulizer
4. Pompa penyaring 9. Kompresor

2.7.2. Klasifikasi
Beberapa contoh jenis nebulizer uap antara lain:
a. Simple nebulizer
b. Jet nebulizer, menghasilkan partikel yang lebih halus, yakni antara 2 – 8
mikron. Biasanya tipe ini mempunyai tabel dan paling banyak dipakai di
rumah sakit.
c. Ultrasonik nebulizer, alat tipe ini menggunakan frekuensi vibrator yang
tinggi, sehingga dengan mudah dapat mengubah cairan menjadi partikel
kecil yang bervolume tinggi, yakni mencapai 6 cc/menit dengan partikel
yang uniform. Besarnya partikel adalah 5 mikron dan partikel dengan
mudah masuk ke saluran pernapasan, sehingga dapat terjadi reaksi, seperti
bronkospasme dan dispnoe. Oleh karena itu alat ini hanya dipakai secara
intermiten, yakni untuk menghasilkan sputum dalam masa yang pendek
pada pasien dengan sputum yang kental.
d. Antomizer nebulizer, partikel yang dihasilkan cukup besar, yakni antara
10 – 30 mikron. Digunakan untuk pengobatan laring, terutama pada pasien
dengan intubasi trakea.
Beberapa bentuk jet nebulizer dapat pula diubah sesuai dengan keperluan,
sehingga dapat digunakan pada ventilator dan IPPB, dimana dihubungkan
dengan gas kompresor.
Kelebihan dan kekurangan dari nebulizer :
Nebulizer jet
Kelebihan Kekurangan
1. koordinasi minimal 1. mahal
2. dosis tinggi dapat diberikan 2. kemungkinan kontaminasi alat
3. tidak ada pelepasan freon 3. resiko, gangguan listrik dan mekanik
4. tidak semua obat bisa dinebulisasi
5. perlu kompresor, tidak praktis dibawa
6. perlu menyiapkan cairan obat
7. perlu waktu lebih lama

Nebulizer Ultrasonik
Kelebihan Kekurangan
1. koordinasi minimal 1. mahal
2. dosis tinggi dapat diberikan 2. kemungkinan kontaminasi alat
3. tidak ada pelepasan freon 3. resiko, gangguan listrik dan mekanik
4. tidak berisik 4. tidak semua obat bisa dinebulisasi
5. waktu relatif singkat 5. ukuran besar, tidak praktis dibawa
6. perlu menyiapkan cairan obat
7. perlu waktu lebih lama
2.2. Fungsi Nebulizer

Alat Nebulizer sangat berguna dalam dunia kesehatan sebagai fungsi alat terapi
dan pengobatan untuk penderita yang mengalami penyakit saluran pernafasan dengan
cara menghirup larutan obat yang telah diubah menjadi bentuk kabut. Nebulizer sangat
cocok digunakan anak-anak atau pun usia lanjut dan mereka yang sedang mengalami
serangan asma parah. Tidak ada kesulitan sama sekali dalam menggunakan nebulizer,
karena pasien cukup bernafas seperti biasa dan kabut obat akan terhirup masuk ke dalam
paru-paru. Beberapa contoh penderita ganguan pernafasan Asma, Bronchities, sesak
pernafasan dan lain sebagainya yang menyangkut pada ganguan pernafasan dengan
pengobatan seperti ini di harap kan pengobatan lebih efektif. Obat – obat yang akan
digunakan biasanya terlebih dahulu dicampur dengan aquades atau pelaru obat terutama
pada obat – obatan yang bukan berupa cairan dan kadar pelarut obat telah ditentukan
sesuai dosis.

Ultrasound Nebulizer Jet Nebulizer


2.3. Bagian-Bagian Nebulizer
Nebulizer terdiri dari beberapa bagian yang terpisah yang terdiri dari generator
aerosol, alat bantu inhalasi (masker, mouthpiece) dan obatnya sendiri. Masker dan
mouthpiece pada nebulizer memiliki beberapa ukuran yang dapat disesuaikan untuk
penggunaanya pada anak-anak atau orang dewasa, sehingga diharapkan jika
menggunakan masker atau mouthpiece dengan ukuran yang tepat, larutan obat yang
melalui nebulizer berubah menjadi gas aerosol tersebut dapat dihirup/dihisap dengan
baik dan keberhasilan terapi yang didapatkan juga dirasakan optimal.

(a) (b)
Gambar 2. Alat bantu inhalasi nebulizer (a) Masker uap (b) Mouthpiece

Nebulizer lebih disukai untuk beberapa alasan, antara lain: 1) Anak-anak, orang
lanjut usia, dan pasien yang lemah mungkin kesulitan menggunakan MDI dan DPI
secara benar. 2) Beberapa pasien membutuhkan dosis yang lebih tinggi daripada yang
dapat dihantarkan oleh MDI dan DPI, misalnya pada pasien asma kronik, serangan akut
PPOK dan sistik fibrosis. 3) Untuk pengobatan sendiri di rumah, dimana pasien
membutuhkan dosis yang lebih besar daripada yang dapat diberikan menggunakan
MDI. 4) Serangan pada asma akut

2.4. Prinsip Dasar Nebulizer


Pada dasarnya alat ini bekerja dengan cara memanfaatkan proses nebuliza atau
Proses pengkabutan yang terjadi akibat penekanan udara yang cukup tinggi dari
kompresor yang kemudian masuk ke Nebulizer kit yang berfungsi sebagai pemampatan
udara dan tempat cairan obat, pemampatan udara di Nebulizer kit dari kompresor
menimbulkan panahanan udara sehingga udara tesrsebut meniupkan cairan obat pada
Nebulizer kit yang mengakibatkan pecahnya molekul-molekul air menjadi uap yang
dihasilkan dari cairan obat yang dimanfaatkan untuk pengobatan pada penderita ganguan
pernafasan dengan demikian pengobatan dapat kontak langsung dengan penyakit melalui
saluran pernafasan yang menuju ke paru-paru sehingga diharapkan dalam pengobatan ini
lebih efektif.

2.4.1. Jet Nebulizer

Jet nebulizer, menghasilkan partikel yang lebih halus, yakni antara 2 – 8


mikron. Biasanya tipe ini paling banyak dipakai di rumah sakit.
Nebulizer ini terhubung dengan kompresor yang menekan udara atau
oksigen untuk bergerak dengan kecepatan tinggi melewati cairan obat hingga
memecah cairan tersebut menjadi partikel aerosol, yang kemudian dihirup oleh
pasien.
Alat tipe ini terkadang cukup bising, kecuali pada beberapa alat yang
dilengkapi dengan peredam bising. Nebulizer jenis ini sering digunakan di
rumah sakit atau penggunaan pribadi untuk pasien yang sulit menggunakan
inhaler. Alat ini terhubung dengan listrik di setiap penggunaannya sehingga
kurang praktis untuk dibawa bepergian.
2.4.2. Ultrasonic Nebulizer

Ultrasonik nebulizer, alat tipe ini menggunakan frekuensi vibrator yang


tinggi, sehingga dengan mudah dapat mengubah cairan menjadi partikel kecil
yang bervolume tinggi, yakni mencapai 6 cc/menit dengan partikel yang
uniform. Besarnya partikel adalah 5 mikron dan partikel dengan mudah masuk
ke saluran pernapasan, sehingga dapat terjadi reaksi.
Pada ultrasonic nebulizer prinsip kerjanya adalah dengan mengatur tebal
kabut serta mengatur waktu yang diperlukan. Pesawat ini menggunakan
piezoelektrik yang menimbulkan suatu getaran akibat adanya suatu frekuensi
untuk memecah cairan obat menjadi kabut. Frekuensi tersebut dihasilkan oleh
suatu rangkaian osilator.
a) Piezoelektrik
Piezoelektrik secara langsung mengubah energi listrik menjadi
mekanik. Tegangan input yang digunakan menyebabkan bagiian keramik
meregang dan memancarkan gelombang ultrasonik. Sensor piezoelektrik
terdiri dari bagian seperti housing, clip-type spring, crystal, dan seismic
mass. Prinsipnya yaitu ketika terdapat suatu frekuensi mengenai
piezoelektrik, maka clip-type spring yang terhubung dengan seismic mass
akan menekan crystal, sehingga menyebabkan lapisan tipis antara crystal
dengan housing akan bergetar.
b) Osilator
Osilator atau pembangkit sinyal adalah suatu rangkaian yang
menghasilkan keluaran yang amplitudonya berubah-ubah secara periodik
dengan waktu. Keluarannya bisa berupa gelombang sinusoida, gelombang
persegi, gelombang pulsa, gelombang segitiga atau gelombang gigi
gergaji.

2.5. Blok Diagram


2.7.1. Jet Nebulizer

1) Rangkaian Power Supply guna mendistribusikan tegangan DC pada setiap


blok rangkaian sesuai kebutuhan supply pada masing-masing komponen
2) Rangkaian timer sebagai pengatur dan penampil lamanya waktu Nebulisa
yang dibutuhkan
3) Rangkaian display untuk menampilkan waktu yang telah digunakan pada
rangkaian timer
4) Rangkaian buzzer,
• Untuk menandakan bahwa alat sedang bekerja
• Untuk menandakan bahwa waktu alat bekerja telah habis
• Untuk menandakan proses Nebulisa
5) Rangkaian kompresor, berfungsi untuk memberikan suplai udara pada
Nebulizer kit guna meniupkan cairan obat.
6) Rangkaian Optocoupler/sensor uap pada ujung Nebulizer kit guna membaca
Intensitas uap yang di hasilkan pada alat.

2.7.2. Ultrasound Nebulizer

Pada gambar ditunjukkan nebulizer ultrasonik untuk memproduksi


partikel kecil bervolume tinggi. Ac to DC converter menyearahkan arus ac
menjadi arus DC agar dapat memberikan tegangan DC ke rangkaian osilator.
Rangkaian osilator yang telah mendapat sumber tegangan DC akan
memproduksi sinyal osilasi dengan frekuensi lebih besar atau sama dengan
3MHz. Frekuensi yang diinginkan dalam hal ini adalah 3MHz atau 5MHz.
Penguat terhubung dengan rangkaian osilasi untuk menguatkan sinyal osilasi.
Chamber nebulasi memiliki wadah untuk menyimpan zat cair yang akan
dikabutkan. Setidaknya sebuah osilator piezoelektrik keramik, diletakkan pada
bagian bawah chamber nebulasi dan secara elektrik terhubung dengan sinyal
yang diperkuat agar dapat memberikan keluaran ultrasonik untuk menimbulkan
pengkabutan sehingga terbentuklah partikel kecil bervolume tinggi.

2.6. Standart Operational Procedure


Alat terapi inhalasi nebulizer harus terus dijaga kebersihannya untuk
menghindari pertumbuhan mikroba dan kemungkinan adanya infeksi. Sebaiknya alat
nebulizer dicuci setiap setiap selesai digunakan atau sedikitnya sekali sehari. Instruksi
dari pabrik pembuatnya harus diikuti secara benar untuk menghindari kerusakan plastik
pembungkusnya (Ikawati, 2007). Kelebihan terapi inhalasi menggunakan nebulizer
adalah tidak atau sedikit memerlukan koordinasi pasien, hanya memerlukan pernapasan
tidal, dan didalamnya terdapat campuran dari beberapa jenis obat (misalnya salbutamol
dan ipratropium bromida). Kekurangannya adalah alat ini cukup besar sehingga kurang
praktis, memerlukan sumber listrik, dan relatif mahal (Rahajoe, 2008).
Berikut cara penggunaan nebulizer yaitu:
2. Selalu cuci tangan sebelum menyiapkan obat untuk penggunaan nebulizer
3. Membuka tutup tabung obat nebulizer, mengukur dosis obat dengan benar
4. Memasukkan obat ke dalam tabung nebulizer
5. Menghubungkan selang dari masker uap atau mouthpiece pada kompresor
nebulizer
6. Mengenakan masker uap atau mouthpiece ke mulut, dikatupkan bibir hingga rapat
7. Menekan tombol on
8. Benapaslah dengan perlahan ketika menghirup uap yang keluar dan uap dihirup
sampai obat habis
9. Menekan tombol off

2.7. Standart Maintenance Procedure


2.7.1. Pemeliharaan Alat
a. Bila cairan obat kurang atau kosong, maka tambahkan cairan obat pd
mangkok tempat obat.
b. Periksa membran cek valve,jangan sampai tertutup dan ganti jika sudah
cacat atau kerusakan.

2.7.2. Perawatan Alat


1) Sebelum Dioperasikan
a. Sebelum digunakan periksa kelengkapan pesawat nebulizer
b. Tempatkan alat terpisah dari alat – alat lain
c. Hindarkan alat dari sinar matahari langsung, suhu tinggi, kebisingan,
kelembaban dan benturan dg benda lain
2) Pada Saat Dioperasikan
a. Alat harus dalam keadaan stabil / tidak terkena goncangan
b. Jaga jarak alat dari pasien
c. Matikan alat jika terjadi gangguan, segera lepaskan masker nebulizer
dr pasien.

3) Setelah Dioperasikan
a. Buanglah air sisa pada alat
b. Bersihkan bagian – bagian alat
c. Kalibrasilah alat
d. Simpan alat dan tutuplah dengan penutup alat

2.8. Nebulizer Terbaru


Pembaruan yang dialami oleh nebulizer tidak terlalu signifikan, hanya mengalami
inovasi dari segi bentuk dan portabilitas. Nebulizer hadir dengan wujur yang lebih unik
dan lucu ditujukan untuk pengguna anak-anak dimaksudkan agar anak-anak tidak takut
untuk melakukan terapi dengan nebulizer. Kemudian nebulizer juga hadir dalam bentuk
yang lebih kecil, dan dapat dioperasikan dengan sumber tegangan yang berasal dari
baterai, sehingga memungkinkan untuk dibawa ke mana-mana.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi
aerosol secara terus menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan atau
gelombang. Sejak ditemukannya nebulizer pada tahun 1859 di Perancis, nebulizer merupakan
pilihan terbaik pada kasus kasus yang berhubungan dengan masalah inflamasi atau obstruksi
bronkus pada penderita asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis).
Ada dua jenis nebulizer yang umumnya sering digunakan:
1) Nebulizer jet : menggunakan jet gas terkompresi (udara atau oksigen) untuk memecah
larutan obat menjadi aerosol.
2) Nebulizer ultrasonik : menggunakan vibrasi ultrasonik yang dipicu secara elektronik untuk
memecah larutan obat menjadi aerosol.
Jet nebulizer, menghasilkan partikel yang lebih halus, yakni antara 2 – 8 mikron.
Biasanya tipe ini paling banyak dipakai di rumah sakit.
Ultrasonik nebulizer, alat tipe ini menggunakan frekuensi vibrator yang tinggi, sehingga
dengan mudah dapat mengubah cairan menjadi partikel kecil yang bervolume tinggi, yakni
mencapai 6 cc/menit dengan partikel yang uniform. Besarnya partikel adalah 5 mikron dan
partikel dengan mudah masuk ke saluran pernapasan, sehingga dapat terjadi reaksi.
DAFTAR PUSTAKA

eprints.ums.ac.id/24255/3/BAB_I.pdf
https://www.medicalogy.com/blog/nebulizer-alat-terapi-pernapasan-paling-populer/
http://kima25.blogspot.co.id/2013/07/ultrasonic-nebulizer.html